Author: admin

  • detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Etika dalam Berdoa



    Jakarta

    Doa merupakan permohonan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam berdoa, ada etika yang perlu diperhatikan, tidak hanya sekadar memohon.

    Pada detikKultum detikcom, Jumat (14/4/2023), Prof Nasaruddin Umar menerangkan mengenai etika berdoa sekaligus waktu mustajabnya saat Ramadan.

    “Doa di dalam bulan suci Ramadan sangat ampuh bapak ibu, maka itu mari kita banya berdoa terutama pada detik-detik menjelang buka puasa dan imsak,” katanya menjelaskan.


    Meski mustajab, dalam berdoa tentu harus ada etika dan akhlaknya. Prof Nasaruddin mengutip dari pendapat Imam Al-Ghazali terkait etika doa yang baik.

    “Yang pertama disunnahkan berwudhu, kemudian kita juga menutup aurat, dan menghadap ke kiblat,” ujarnya.

    Setelahnya, seorang hamba yang hendak berdoa jangan langsung memohon kepada Allah. Namun, pastikan bahwa batin sudah tenang agar tidak tergesa-gesa dalam berdoa.

    Selanjutnya, angkatlah kedua tangan setinggi-tingginya. Rasulullah SAW sendiri setiap berdoa mengangkat tangannya hingga terlihat kedua ketiaknya.

    “Lanjutkan dengan alhamdulillah hamdan syakirin, sesudah itu sholawat kepada Nabi SAW. Jangan langsung berdoa, lakukan dulu munajat,” urai Prof Nasaruddin.

    Munajat, lanjutnya, merupakan sikap merendahkan diri di hadapan Allah. Usai bermunajat, barulah panjatkan doa.

    “Tapi hati-hati, jangan sampai doa kita dipadati oleh doa-doa yang didikte pada hawa nafsu,” kata Prof Nasaruddin mengingatkan.

    Maksud dari didikte hawa nafsu seperti doa yang hanya berlaku untuk jangka pendek, seperti meminta kekayaan, kesehatan, dan lain sebagainya. Padahal, alangkah baiknya kita juga menyelipkan doa mengenai Allah dan Rasulnya.

    Enggak ada tuh permohonan orang berdoa agar langgeng mencintai Allah, pernahkan kita berdoa seperti ini? Enggak. Doa kita terlalu didikte dengan hawa nafsu, banyak resikonya,” paparnya.

    Prof Nasaruddin juga mengimbau agar kita berdoa dengan semestinya. Jangan sampai seorang hamba berdoa kepada Allah tapi melecehkan karena terkesan memerintah Tuhan. Dengan demikian, etika berdoa perlu diperhatikan.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Kekuatan Doa bisa disaksikan DI SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Zakat Membuat Hidup Lebih Berkah



    Jakarta

    Zakat menjadi salah satu perintah Allah SWT yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim. Dengan menunaikan zakat, artinya kita membersihkan harta dan jiwa sehingga hidup akan menjadi lebih berkah.

    Dalam Mutiara Ramadan detikcom, Kamis (13/4/2023) Adiwarman A. Karim menjelaskan tentang zakat yang mampu membuat hidup lebih berkah.

    “Zakat ini macam-macam bentuknya, tapi yang penting itu zakat diwajibkan oleh Allah bagi umatnya untuk membersihkan jiwa kita,” kata Adiwarman yang merupakan praktisi ekonomi syariah.


    Lebih lanjut, Adiwarman menjelaskan hakikat dari zakat yang dikeluarkan oleh umat muslim ini. Harta yang diperoleh dengan kerja keras ini harus dikeluarkan zakatnya.

    “Kita bayar zakat, yang kita keluarkan harta tapi sebenarnya yang kita bersihkan adalah jiwa kita. Karena dengan jiwa yang bersih ini maka dengan demikian harta kita akan jadi barokah, hidup kita jadi barokah,” lanjut Adiwarman.

    Ia juga menegaskan bahwa harta yang kita peroleh sebenarnya tidak sepenuhnya menjadi hak kita. Terdapat hak orang lain yang wajib diberikan.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menjelaskan tentang pertolongan yang datang karena seseorang berbuat baik terhadap sesama.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian (layak) ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki, kecuali karena adanya orang-orang lemah diantara kalian?” (HR. Al-Bukhari).

    Dan di dalam riwayat lain dengan redaksi: “Sungguh kalian dimenangkan (ditolong) dan diberi rezeki, adalah berkat orang-orang lemah dari kalian” (HR. Ahmad).

    Lalu dalam riwayat lain lagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menolong (memenangkan) ummat ini, adalah karena orang-orang lemahnya, berkat doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka” (HR. An-Nasai).

    Adiwarman juga mengutip hadits Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa di bulan Ramadan dan juga membayar zakat fitrah.

    “Bulan Ramadan, ada zakat fitrah. Bulan Ramadan ini Allah SWT menggugurkan dosa kita. Siapa-siapa yang berpuasa di bulan ramadan karena iman maka Allah ampuni dosanya,” ujar Adiwarman.

    Penjelasan ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni” . (HR. Bukhari dan Muslim).

    Mau tahu lebih lanjut tentang keutamaan zakat fitrah? Simak video selengkapnya di Mutiara Ramadan: Zakat, Cara Hidup Lebih Berkah tonton DI SINI.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Seseorang Tergantung Siapa Circle-nya, Selektiflah!



    Jakarta

    Lingkaran pertemanan, atau yang dalam bahasa Inggris disebut circle, turut mempengaruhi kepribadian seseorang. Hal itu juga memungkinkan akan menentukan puncaknya agama.

    Hal tersebut dikatakan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Sabtu (15/4/2023). Habib menyebut, circle dapat menentukan berbagai hal. Mulai dari hobi, pekerjaan, kuliner yang disukai, nasib, hingga agama. Circle dalam hal ini bisa berupa teman atau lingkungan.

    “Dan puncaknya adalah apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad dalam riwayat Abu Hurairah, “Agama seseorang itu tergantung kepada teman dekatnya.” Maka selektiflah dalam memilih teman atau menentukan lingkungan di mana kita tinggal,” pinta Habib Ja’far.


    Habib Ja’far menerangkan hal ini dengan memberikan perumpamaan sebagaimana disebut dalam sabda Nabi SAW bahwasanya seseorang dengan temannya itu adalah seperti pandai besi dan penjual minyak wangi.

    Rasulullah SAW bersabda,

    مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

    Artinya: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut Habib Ja’far, perumpamaan dalam hadits tersebut mengajarkan kepada kita agar berhati-hati dalam memilih lingkungan pertemanan supaya tidak membawa pengaruh buruk bagi kita.

    Di sisi lain, kata Habib Ja’far, hadits tersebut juga mengajarkan bahwa ketika kita memiliki keimanan yang kuat, ekonomi yang mapan, dan kesadaran yang tinggi, seharusnya kita juga berkumpul dengan orang-orang yang lemah ekonominya, lemah imannya, dan lemah kesadarannya.

    Mengapa demikian? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Seseorang Tergantung Siapa Circle-nya, Selektiflah! tonton DI SINI.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kunci Mencari Pendapatan untuk Akhirat



    Jakarta

    Mencari pendapatan dunia harus diiringi juga dengan tabungan akhirat. Ada cara yang bisa dilakukan agar bisa mendapatkan penghasilan di dunia sekaligus tabungan penghasilan di akhirat.

    Ustaz Oni Sahroni dalam Mutiara Ramadan detikcom, Sabtu (15/4/2023), menyebutkan beberapa kunci mencari pendapatan untuk akhirat.

    “Berbagai aktivitas sosial penuh dengan dinamika. Bahkan faktanya, tidak sedikit orang yang bekerjasama dengan pihak lain tapi setelah selesai usaha bukannya tambah akrab tapi runtuh, selesai persahabatan. Oleh karena ituu, dalam bisnis, butuh sosok investor, saudagar, pebisnis yang soleh,” ujar Ustaz Oni.


    Lebih lanjut, Ustaz Oni menjelaskan tentang pentingnya seorang pengusaha atau saudagar yang komitmen dengan keislaman, komitmen dengan iman kepada Allah SWT.

    “Titik poinnya saudagar itu kudu baik, soleh, orang yang bisa merawat iman,” lanjut Ustaz Oni.

    Ada beberapa cara yang bisa dilakukan para pengusaha agar bisa merawat iman. Dengan demikian, selain sukses dalam pendapatan di dunia, sukses juga di akhirat.

    1. Tunaikan Ibadah Kepada Allah
    Jadilah orang yang paling dekat dengan Allah SWT. Caranya dengan menunaikan ibadah-ibadah wajib, penuhi rukun, fikih dan adabnya.

    2. Mudah Membantu Orang Lain
    Selanjutnya yakni jadilah orang yang mudah membantu orang lain, dengan demikian iman kita terawat karena kita dekat dengan Allah SWT.

    Seorang pengusaha harus bisa bertawasul kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77

    وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

    Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

    “Begitulah cara pandang saudagar yang baik, yang sholeh. Seimbang antara dunia dan akhirat,” ujar Ustaz Oni.

    3. Komitmen dengan Perjanjian

    Jika seorang pengusaha terlibat perjanjian maka ia komitmen dengan janjinya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dari sahabat ‘Amr bin ‘Ash bahwa Nabi bersabda:

    نِعِمَّا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ)

    Artinya: “Sebaik-baik harta yang baik adalah harta yang dimiliki oleh orang yang shalih” (HR Ahmad).

    Seperti apa penjelasan selanjutnya tentang pendapatan di dunia dan akhirat? Simak selengkapnya dalam video Mutiara Ramadan: Kunci Mencari Pendapatan untuk Akhirat bersama Ustaz Oni Sahroni di SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Keistimewaan Salat Tahajud



    Jakarta

    Sholat tahajud tergolong ke dalam sholat sunnah yang dikerjakan oleh muslim. Biasanya, ibadah ini dilaksanakan seusai salat Isya hingga terbitnya fajar setelah bangun dari tidur.

    Menurut penuturan Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom pada Sabtu (15/4/2023), salat tahajud sangatlah penting. Ia mengimbau, kaum muslimin untuk lebih memanfaatkan waktu saat terbangun di tengah malam.

    “Seandainya ada kemampuan untuk bangun salat tahajud pemirsa, terutama bapak ibu yang tidak punya pekerjaan apapun, manfaatkanlah waktu-waktu yang bagus itu untuk bangun di tengah malam,” ujarnya.


    Perintah mengenai salat tahajud disematkan dalam surat Al Isra ayat 79, Allah SWT berfirman:

    وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

    Arab latin: Wa minal-laili fa taḥajjad bihī nāfilatal laka ‘asā ay yab’aṡaka rabbuka maqāmam maḥmụdā

    Artinya: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji,”

    Kekuatan tahajud sangatlah dahsyat. Salah satunya, lanjut Prof Nasaruddin, yaitu bisa menggantikan posisi salat fardhu yang lalai kita kerjakan.

    “Mari kita perbanyak salat tahajud. Salat tahajud itu gunanya banyak antara lain juga untuk menggantikan posisi salat fardhu yang di masa muda kita pernah lalai, absen, batal. Nah, sekarang dengan salat tahajud ini, salat-salat fardhu (yang lalai) bisa ditutupi,” ujarnya memaparkan.

    Lebih lanjut, Prof Nasaruddin mengatakan salat di tengah malam juga menjadi upaya kita untuk bertaubat dengan meratapi dosa-dosa masa lampau. Aktivitas tersebut dapat menghapus dosa yang telah lalu.

    “Ingat, meratapi dosa masa lampau di malam hari itu akan membakar dosa-dosa masa lampau kita. Air mata taubat itu nanti yang akan memadamkan api neraka kita,” tuturnya menjelaskan.

    Prof Nasaruddin juga mengimbau kaum muslim untuk tidak lebih memanfaatkan malam hari dengan bermuhasabah. Dengan demikian, hidup akan terasa lebih bermakna.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Kekuatan Tahajud dapat disaksikan DI SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Rezeki Tak Pernah Tertukar, Maksimalkan Usaha & Doa



    Jakarta

    Allah SWT telah menjamin rezeki setiap hamba-Nya. Bahkan dalam salah satu firman-Nya, Dia juga menjamin rezeki semua makhluk, termasuk hewan melata sekalipun.

    ۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ٦

    Artinya: “Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS Hud: 6)


    Menurut Habib Ja’far, rezeki tidak melulu bersifat materi. Melainkan bisa berbentuk apa saja yang mana ketika kita mendapatkannya, kita akan merasakan kedamaian, kesenangan, kecukupan, dan menghadirkan rasa syukur kepada Allah SWT.

    “Rezeki itu tidak hanya bersifat materi. Ia bisa berwajah apa saja yang pada intinya ketika engkau mendapatkannya maka engkau akan merasakan kedamaian, kesenangan, kecukupan, dan kesyukuran kepada Allah,” ucap Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Minggu (16/4/2023).

    Habib Ja’far menjelaskan, rezeki yang berupa materi adalah level rezeki terendah. Adapun, level rezeki tertinggi adalah iman dan Islam. Baru kemudian diikuti oleh rezeki berupa kesehatan.

    “Karena orang yang sehat ia akan bisa menikmati hidupnya meskipun uangnya sedikit. Tapi orang yang tidak sehat dia sulit menikmati hidupnya meskipun duitnya banyak,” jelasnya.

    Bahkan, kata Habib Ja’far, menurut firman Allah SWT dalam surah An Najm ayat 48, rezeki bukan hanya kekayaan tapi juga perasaan cukup. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

    وَاَنَّهٗ هُوَ اَغْنٰى وَاَقْنٰىۙ

    Artinya: “Bahwa sesungguhnya Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan.”

    Lebih lanjut Habib Ja’far menjelaskan, dengan kita merasa cukup, kita tidak akan iri terhadap rezeki yang Allah SWT berikan kepada orang lain. Sebab, rezeki tidak akan pernah tertukar.

    Lantas, bagaimana caranya agar kita senantiasa merasa cukup atas rezeki yang diberikan Allah SWT? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Rezeki Tak Pernah Tertukar, Maksimalkan Usaha & Doa tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Mutiara Ramadan Ustaz Oni Sahroni: Hikmah Zakat dan Berbagi



    Jakarta

    Salah satu amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah berbagi dan membantu menyelesaikan kesusahan orang lain. Hal ini diungkapkan Ustaz Oni Sahroni dalam Mutiara Ramadan detikcom, Minggu (16/4/2023).

    Sebagaimana hadits Rasulullah SAW,

    أَحَبُّ الناسِ إلى اللهِ أنفعُهم للناسِ


    Artinya: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia” (HR Thabrani)

    Ustaz Oni kemudian melanjutkan hadits Rasulullah SAW ini dengan pembahasan bahwa Rasulullah memberikan contoh orang-orang yang paling bermanfaat. Mereka adalah yang membantu kesusahan orang lain, berzakat, berinfak dan sebagainya.

    Masih dalam hadits yang sama, Rasulullah berkata “Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani)

    “Hadits ini dengan tegas memberikan pesan kepada kita betapa mulia orang yang berzakat, berinfak dan membantu saudaranya,” ujar Ustaz Oni.

    Baik pemberi zakat maupun orang yang menerima, keduanya memiliki keutamaan masing-masing.

    “Bagi orang yang berbagi, ia akan mendapatkan keberkahan, untuk dirinya sendiri, untuk orang tuanya, untuk keluarganya, bagi semuanya,” jelas Ustaz Oni.

    Sementara keutamaan dan manfaat bagi mustahik, yakni orang-orang yang menerima zakat adalah bisa menyelesaikan sebagian masalahnya.

    “Masalahnya terselesaikan, terminimalisir kesenjangan antara dhuafa dan hartawan. Mereka akan berterima kasih, memberikan apresiasi, misalnya lewat doa. Doa para dhuafa mustajab, dikabulkan oleh Allah SWT,” jelas Ustaz Oni.

    Seperti apa penjelasan selanjutnya tentang berzakat dan berbagi dengan sesama? Simak selengkapnya dalam video Mutiara Ramadan: Hikmah Zakat dan Berbagi bersama Ustaz Oni Sahroni di SINI.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Kemuliaan Salat Berjamaah



    Jakarta

    Salat lebih utama jika dilakukan secara berjamaah ketimbang sendirian. Meski terlihat sebagai amalan yang mudah, faktanya banyak yang lebih memilih salat sendiri dengan berbagai alasan, seperti ingin cepat menyelesaikan salat karena ada kesibukan.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Salat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada sholat sendiri,” (HR Bukhari).


    Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom pada Minggu (16/4/2023) menjelaskan bahwa salat berjamaah perbandingannya 1 : 27 jika di luar Ramadan.

    “Tapi kalau dalam Ramadan itu dikali 10,” katanya menjelaskan.

    Allah SWT pun kagum kepada hambanya yang mengerjakan salat berjamaah, ini sesuai dengan Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Abdullah bin Amru RA, beliau berkata:

    “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sungguh Allah Ta’ala kagum pada salat yang dikerjakan secara berjamaah,’” (HR Thabrani).

    Selain itu, mereka yang menunggu salat berjamaah akan dianggap berada dalam salat. Para malaikat bahkan memohon ampunan baginya dan mendoakan rahmat untuknya. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:

    “Salah seorang di antara kalian jika duduk menunggu waktu sholat, selama tidak berhadats, maka malaikat akan berdoa baginya: ‘Wahai Allah, ampunilah ia, wahai Allah rahmatilah ia,’” (HR Muslim).

    Pada bulan suci Ramadan, segala sesuatu dilakukan secara berjamaah atau bersama. Tidak hanya salat, bahkan buka puasa dan sahur sekali pun.

    Karenanya, Ramadan disebut sebagai bulan penuh berkah. Sebab, ada kebahagiaan tersendiri dengan mengerjakan segala sesuatu secara bersama.

    “Bulan suci Ramadan ini masyaAllah, bulan kebersamaan, bulan keberkahan,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Sholat Berjamaah dapat disaksikan DI SINI.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Suka Umbar Aib Orang Efeknya Berat di Akhirat



    Jakarta

    Membicarakan aib orang lain tak hanya berdampak buruk bagi kehidupan dunia. Tapi, balasan kelak di akhirat jauh lebih berat karena orang tersebut harus menebus dosanya dengan pahala yang ia kumpulkan.

    Hal tersebut diungkapkan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Senin (17/4/2023). Habib menjelaskan, orang yang membicarakan aib orang lain ibarat memakan daging saudaranya sendiri.

    Sebagaimana Allah SWT berfirman,


    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujurat: 12)

    Habib Ja’far menjelaskan, ada sejumlah hal yang membuat seseorang lebih mudah membicarakan aib orang lain ketimbang aibnya sendiri. Pertama, karena ada masalah pada kemanusiaan kita yang mana kita tidak bisa memahami perintah Allah SWT dalam surah Al Hujurat ayat 12 tersebut.

    “Karenanya kita dijelaskan dalam ayat itu bahwa kalau lu nggak bisa memahami perintah Allah agar jangan gibahin orang lain, paling nggak lu bayangin bahwa gibahin orang lain itu seperti makan daging saudara lu sendiri. Pertama itu daging orang lain, yang kedua orang lain itu saudara lu sendiri,” ujar Habib Ja’far.

    “Jadi, lu nggak jijik dan lu tega. Artinya ada masalah pada kemanusiaan kita kalau kita suka bergunjing atau bergosip baik secara langsung di tongkrongan ataupun secara tidak langsung di media sosial,” tambahnya.

    Habib Ja’far menukil pendapat Imam Al Ghazali bahwasanya memikirkan aib orang lain di pikiran dan hati saja sudah termasuk suatu kekotoran bagi pikiran dan hati kita. Apalagi sampai membicarakannya bahkan melakukan tindakan-tindakan lantaran kita tidak suka terhadap pencapaian orang lain.

    Selain itu, ditinjau dari sisi psikologis, kata Habib Ja’far, hal yang membuat seseorang suka membicarakan aib orang lain adalah karena dirinya sendiri memiliki aib yang mungkin lebih besar. Sehingga hal itu dilakukan untuk menutupi aibnya.

    Lebih lanjut Habib Ja’far menjelaskan, kelak di akhirat orang tersebut harus menebus dosa membicarakan aib orang lain dengan semua pahala yang telah ia kumpulkan di dunia. Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Suka Umbar Aib Orang Efeknya Berat di Akhirat tonton DI SINI.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kultum Malam 27 Ramadan: Keistimewaan Lailatul Qadar



    Jakarta

    Umat Islam akan memasuki malam 27 Ramadan bakda Magrib nanti. Malam ke-27 adalah malam yang istimewa dalam bulan Ramadan karena termasuk malam ganjil waktu datangnya lailatul qadar.

    Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mencari malam lailatul qadar, pada malam ini Allah SWT melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang khusyuk beribadah.

    Menurut riwayat paling kuat, sebagaimana dikatakan Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah, lailatul qadar terletak pada malam 27 Ramadan. Menyambut datangnya malam penuh kemuliaan tersebut, penceramah Tarawih bisa menyampaikan kultum malam 27 Ramadan.


    Berikut contoh kultum malam 27 Ramadan bertema Keistimewaan Malam Lailatul Qadar sebagaimana dinukil dari buku Kumpulan 101 Kultum tentang Islam karya M Quraish Shihab.

    Kultum Malam 27 Ramadan

    Lailat al-Qadr merupakan kata majmu yang secara harfiah, kata lailat berarti malam, sedangkan qadr artinya kemuliaan, sempit, atau takdir.

    Malam lailatul qadar dapat diartikan sebagai malam yang mulia, hal itu dikarenakan malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu Al-Qur’an pertama kali ditampakkan Allah SWT melalui kehadiran Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira.

    Kalau qadar diartikan sempit, maka hal itu oleh sebagian ulama dipahami bahwa ilustrasi dari banyak dan silih bergantinya malaikat-malaikat yang turun pada malam itu sehingga bumi “seakan-akan sempit” karena kehadiran makhluk-makhluk suci tersebut.

    Sedangkan, apabila qadar diartikan ukuran dan ketetapan, maka itu dipahami dalam arti pada malam itu Allah SWT menetapkan ukuran dan takdir setiap makhluk untuk setahun atau mengisyaratkan bahwa turunnya Al-Qur’an menjadi ketetapan Allah SWT untuk menjadikan manusia yang “ditemui” lailatul qadar memperoleh keselamatan dan kedamaian sepanjang hayatnya.

    Jadi, dapat disimpulkan bahwa semua makna mengenai lailatul qadar bisa jadi benar.

    Banyak sekali uraian dan riwayat yang berkaitan dengan malam lailatul qadar, baik mengenai maknanya, tanda-tandanya, maupun dugaan waktu kehadirannya.

    Namun, satu hal yang harus digarisbawahi bahwa hakikat malam itu dan keistimewaannya amat sangat agung sehingga tidak dapat terjangkau oleh nalar manusia. Hal ini oleh pakar-pakar tafsir Al-Qur’an yang dipahami sebagai “pertanyaan” yang diajukan Al-Qur’an ketika membahas mengenai malam lailatul qadar.

    Pada ayat kedua surah al-Qadr, وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ (Wa mā adrāka mā lailatul-qadr(i)). Kalimat ma adraka ini diartikan sebagai hal-hal yang tidak terjangkau oleh nalar manusia, kecuali menyangkut hal-hal yang tidak dapat dinalar oleh manusia. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa lailatul qadar dan keistimewaan-keistimewaannya tidak dapat terjangkau, kecuali melalui penjelasan Allah SWT dan Rasul-Nya.

    Dari sekian banyak riwayat yang ditemukan dalam literatur agama dan dinisbahkan kepada Rasulullah SAW tentang malam mulia tersebut baik shahih maupun lemah.

    Seperti hadis berikut yang diriwayatkan oleh Muslim,

    Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa paginya malam lailatul qadar agar seorang muslim mengetahuinya dari Ubai RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.”

    Tapi yang pasti menurut Al-Qur’an, bahwa pada malam itu para malaikat bergantian turun dan bahwa kedamaian terasa hingga terbit fajar.

    Terlepas dari itu, muncul pertanyaan baru apakah lailatul qadar hanya terjadi sekali, yakni pada malam turunnya Al-Qur’an saja atau ia terjadi setiap tahun?

    Jika menurut dari mayoritas ulama mengatakan bahwa, malam ini terjadi di setiap tahun di bulan Ramadan. Lantas, kapan tepatnya di bulan Ramadan itu? Pada awal, pertengahan, atau akhirnya?

    Mengenai hal tersebut ada riwayat yang menyatakan bahwa Rasul SAW sengaja tidak menyampaikan persisnya kapan. Konon sahabat Nabi SAW, Abdullah bin Anas, pernah bertanya tentang hal tersebut kepaada Nabi SAW, lalu beliau bersabda,

    لولا أن يترك الناس الصلاة إلا تلك الليلة لأخبرتك

    Artinya: “Seandainya manusia tidak meninggalkan salat, kecuali pada malam itu, maka tentu aku akan memberitahukanmu” (HR Abd ar-Rahaim al-Iraqy)

    Sementara itu, sahabat Nabi Muhammad SAW yang lain, Ibnu Mas’ud pernah berucap, “Siapa yang melaksanakan dengan baik tuntunan agama selama setahun, ia akan bertemu dengan lailatul qadar.”

    Sahabat Nabi SAW yang ditanyai tentang pendapat Ibnu Mas’ud, yakni Ubay bin Ka’ab menjawab: “Semoga Allah SWT mengampuni Ibnu Mas’ud. Ia sebenarnya mengetahui bahwa itu pada malam 27 Ramadan, tetapi beliau tidak mau orang hanya berkonsentrasi dalam beribadah pada malam itu.”

    Pada riwayat lain juga menyebutkan,

    “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh terakhir Ramadan.” (HR Bukhari).

    Pada dasarnya tidak ada informasi yang pasti pada malam ke berapa di sepuluh malam terakhir itu. Ada riwayat yang menyatakan bahwa malam lailatul qadar terjadi pada malam 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan.

    Namun, jika berdasarkan pendapat yang populer adalah bahwa lailatul qadar diduga terjadi pada malam 27 Ramadan. Hal ini dijelaskan oleh ulama besar sekaligus pakar hukum Islam dan tafsir Al-Qur’an, yakni al-Qurthuby.

    Ia mengemukakan aneka pendapat tentang lailatul qadar dalam tafsirnya pandangan shufi Abu Bakar al-Warraq yang menyatakan bahwa: “Allah mengisyaratkan malam lailatul qadar dalam kata-kata yang terdapat dalam surah al-Qadr. Beliau membacanya kata demi kata sembari menghitung dan ketika sampai hiya/dia, yakni lailatul qadar kata tersebut berada di urutan ke-27.

    Memang, sesudah kata hiya, terdapat tiga kata lagi, yaitu hatta mathla’ il-fajr sehingga kata-kata itu berjumlah 30 kata yang mengisyaratkan jumlah hari dalam sebulan.

    Lebih lanjut al-Qurthuby menulis bahwa kata يْلَةُ الْقَدْرِۗ Lailat al-qadr terulang tiga kali dalam surah ini, sedang jumlah hurufnya ada sembilan. Jadi, dapat disimpulkan 3 x 9 = 27.

    Entah kapan datangnya malam lailatul qadar, sudah semestinya kita mempersiapkan diri untuk menyambut malam yang mulia itu bagaikan tamu yang agung. Malam itu tidak akan datang menemui seseorang, kecuali yang ia ketahui persis bahwa ia akan disambut dengan baik dan bahwa yang menyambutnya telah mempersiapkan penyambutan yang layak baginya.

    Betapapun, ciptakanlah kedamaian dalam diri anda dengan orang lain, bahkan seluruh lingkungan anda. Insya Allah, ia akan menyapa anda. Lalu sesuai jawaban Nabi SAW kepada istri beliau, as-Sayyidah Aisyah RA yang bertanya:

    Kami meriwayatkan dengan sanad-sanad shahih, dalam Kitab At-Tirmidzi, Kitab An-Nasa’I, dan Kitab Ibnu Majah, serta yang lain, dari Sayyidah Aisyah RA dia mengatakan; Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui datangnya lailatul qadar, apa yang harus kuucapkan?” Beliau menjawab,

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Arab latin: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

    Artinya: “Ucapkanlah, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni. Karena itu, ampunilah aku.”

    Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini adalah hasan shahih”

    Demikian, wa Allah A’lam

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com