Author: admin

  • Metode Dakwah Sunan Muria yang Mudah Diterima Masyarakat

    Metode Dakwah Sunan Muria yang Mudah Diterima Masyarakat


    Jakarta –

    Wali songo adalah sembilan ulama penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Setiap dari mereka memiliki metode dakwah yang khas, begitu pula dengan Sunan Muria.

    Daerah dakwah Sunan Muria cukup luas dan tersebar mulai lereng-lerang Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juwana, sampai pesisir utara Jawa Tengah.

    Metode Dakwah Sunan Muria

    Dirangkum dari buku Sejarah Islam Indonesia karya Rizem Aizid dan buku Seri Jejak Para Wali: Sunan Kalijaga karya Lilis Suryani, Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Sunan Muria mengikuti jejak ayahnya sebagai juru dakwah di tanah Jawa. Ia juga adalah penyokong Kerajaan Demak Bintara yang setia dan juga berpartisipasi dalam pembangunan Masjid Agung Demak.


    Sunan Muria berdakwah dengan cara yang halus. Cara tersebut digunakannya dalam menyiarkan Islam di sekitar Gunung Muria.

    Metode dakwah Sunan Muria yaitu dengan menggunakan kesenian dan tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dina (tiga harian), sampai nyewu (seribu hari) yang tidak diharamkannya. Hanya tradisi yang berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau sholawat.

    Sunan Muria juga berdakwah dengan menggunakan gamelan dan wayang. Hal ini dilakukan oleh Sunan Muria sebagai upaya mempertahankan metode dakwah ayahnya terdahulu.

    Selain itu, Sunan Muria juga menciptakan beberapa tembang. Tembang Sunan Muria yang terkenal adalah tembang Sinom dan Kinanthi. Melalui lagu-lagu inilah Sunan Muria mengajak masyarakat untuk mengamalkan ajaran Islam.

    Cara dakwah yang dilakukan Sunan Muria tersebut membuatnya dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah “tapa ngeli”, yaitu dengan “dengan menghanyutkan diri” dalam masyarakat.

    Keterampilan Sunan Muria

    Disebutkan dalam buku Seri Jejak Para Wali: Sunan Kalijaga, Sunan Muria adalah wali yang sakti dan kuat. Keterampilan yang dimiliki oleh Sunan Muria adalah bercocok tanam, berdagang, dan melaut.

    Sunan Muria sering kali diminta menjadi penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan permasalahan yang sangat rumit sekalipun.

    Ajaran Sunan Muria yang Masih Dilestarikan

    Dirangkum dari buku Walisongo: Sebuah Biografi karya Asti Musman, ajaran Sunan Muria masih dilestarikan hingga saat ini. Beberapa di antaranya yaitu:

    1. Bidang Kesenian

    Sunan Muria menciptakan beberapa tembang. Di antara tembangnya yang terkenal yaitu tembang Kinanthi dan Sinom.

    2. Tradisi Bancakan

    Sunan Muria tidak menghilangkan tradisi masyarakat Jawa sebelumnya, justru ia memberikan warna Islam pada tradisi tersebut. Tradisi bancakan dan tumpeng yang biasa dipersembahkan ke tempat-tempat yang angker diubah menjadi kenduri, yaitu mengirim doa kepada leluhur.

    3. Tradisi Syukuran

    Colo Muria adalah salah satu tradisi syukuran sebagai bentuk rasa syukur kepada alam dan Tuhannya yang secara massal dilaksanakan oleh masyarakat Colo Muria. Tradisi tersebut ditujukan untuk menghormati dan mensyukuri dengan apa yang ada di bumi, khususnya untuk masyarakat sekitar Muria.

    4. Pantangan Bekerja Tiap Kamis Legi

    Pantangan bekerja setiap Kamis Legi merupakan tradisi dari masyarakat Colo yang masih berlaku hingga saat ini. Jika masyarakat Colo ingin melakukan pekerjaan atau hajat tertentu, maka mereka harus ziarah ke makam Sunan Muria dan melakukan selamatan agar tidak mendapatkan malapetaka maupun sesuatu yang tidak baik.

    5. Melestarikan Lingkungan

    Sunan Muria meninggalkan situs yang dikeramatkan seperti buah parijoto, kayu pakis haji, air gentong yang terdapat di lokasi pemakaman, ngebul bulusan, pohon kayu adem ati, serta pohon jati keramat.

    Sampai saat ini, situs tersebut masih dipercayai oleh masyarakat. Pengeramatan situs ini sebenarnya merupakan upaya Sunan Muria untuk mendukung kelestarian lingkungan.

    (kri/kri)

    Metode Dakwah Sunan Muria yang Mudah Diterima Masyarakat

    Sumber : www.detik.com

  • Islam Sebagai Agama Publik di AS

    Islam Sebagai Agama Publik di AS



    Jakarta –

    Islam sejak awal menjadi sebuah agama publik. Nabi Muhammad diutus bukan hanya untuk menjadi pembimbing bagi umat Islam tetapi juga untuk umat manusia secara keseluruhan, bahkan untuk segenap alam semesta, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. al-Anbiya’/21:107). Lebih khusus lagi Islam sebagai agama akhir zaman dan Nabi Muhammad Saw sebagai akhir sebagai Nabi dan Rasul, sudah barang tentu Islam harus menjadi isu utama di dalam mewujudkan kemanusiaan yang lebih bermartabat.

    Tantangan umat Islam selanjutnya ialah bagaimana menjadikan Islam sebagai sebuah agama publik, yang dapat dipahami dan diterima semua pihak tanpa menimbulkan ketegangan dan gesekan. Bagaimana mewujudkan Islam sebagai agama publik yang paralel dengan nilai-nilai lokal yang sudah hidup dan berkembang sebelum kedatangannya di suatu negeri. Khusus untuk AS, sebuah negara besar yang sudah memiliki karakter dan kepribadian sendiri dan dipegang teguh oleh rakyat AS. Bagaimana menjadikan Islam sebagai sebuah agama yang bisa saling mendukung antara kearifan lokal AS dan nilai-nilai dasar universal Islam.

    Seperti yang pernah dijelaskan di dalam artikel terdahulu bahwa nilai-nilai dasar universal Islam tumpang tindih (overlapped) dengan karakter dan kepribadian AS yang realitas sosial masyarakatnya pluralistik. Islam juga mengakui adanya kemajemukan dan pluralitas umat manusia, di manapun dan kapan pun, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. al-Hujurat/49:13).


    Watak dasar masyarakat AS ialah sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), sama dengan Islam juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bahkan sudah jadi mayat sampai kuburan pun Islam memberikan pengaturan. Membunuh satu nyawa sama dengan membunuh semua nyawa dan menghidupkan satu nyawa sama dengan menghidupkan semua nyawa lainnya. Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maidah/5:32). Allah SWT juga menegaskan bahwa semua anak manusia, anak cucu Adam (bani Adam) wajib dimuliakan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S. Al-Isra’/17:70).

    Di dalam memilih dan menetapkan pemimpin, termasuk Kepala Negara, AS mengacu kepada sistem demokrasi, yang mengacu kepada pilihan rakyat. Siapapun yang terpilih maka dialah yang harus dihormati sebagai pemimpin. Berbeda dengan sistem monarki yang memberikan kewenangan lebih kepada raja untuk menentukan Kepala Negara. Semangat Islam sesungguhnya lebih condong ke semangat demokrasi daripada ke semangat monarki. Islam mengedepankan musyawarah dan dialog di dalam menentukan hal-hal yang prinsip, termasuk penentuan Kepala Negara, sebagaimana dijelaskan dalam ayat: Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. (Q.S. Ali ‘Imran/3:159). Atas dasar persamaan nilai-nilai dasar ajaran Islam dan karakter masyarakat AS, maka wajar jika Islam sebagai agama sebagaimana dikatakan oleh Hillary Clinton: “Islam is the fastest growing religion in USA” (Islam adalah agama paling cepat perkembangannya di AS).

    (lus/lus)

    Islam Sebagai Agama Publik di AS

    Sumber : www.detik.com

  • Membandel

    Membandel



    Jakarta –

    mem-ban-del itu bersikap kepala batu; tidak mau menurut (mendengar, memperhatikan) nasihat atau perintah orang lain. Sering kita jumpai seseorang bersikap kepala batu, ini terjadi karena merasa diri yakin akan sikapnya meski banyak orang telah memberikan masukan. Orang yang membandel bukan di monopoli orang yang mempunyai kekuasaan besar, ada kalanya orang awam, bisa juga akademisi. Oleh karena itu, perlunya membuka hati dengan jernih agar kita bisa menilai sesuatu dengan tepat.

    Berdasarkan sifatnya, akhlak dalam Islam dapat dibagi menjadi dua yakni akhlak baik (akhlaqul-karimah) dan akhlak buruk (akhlaqul-mazmumah). Contoh akhlak buruk adalah sifat keras hati, munafik, sombong, serta keras kepala. Pembahasan kali ini akan berfokus pada sifat keras kepala menurut Islam. Adapun pengertian keras kepala adalah sikap seseorang yang menolak untuk mengubah pendirian, bahkan dengan bantuan pengaruh dan nasihat orang lain sekalipun. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-A’raf ayat 71 yang artinya, “Dia [Hud] berkata, ‘Sungguh, sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan Aku tentang nama-nama [berhala] yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah tidak menurunkan sedikit pun hujah [alasan pembenaran] untuk itu? Maka, tunggulah [azab dan kemarahan itu]! Sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu,”

    Makna ayat di atas adalah Hud menjawab ucapan mereka dengan mengatakan, “Kalian benar-benar pantas menerima azab dan murka dari Allah. Azab itu pasti akan datang kepada kalian, bukan sesuatu yang mustahil. Apakah kalian hendak berdebat denganku tentang berhala-berhala yang kalian dan leluhur kalian sebut sebagai tuhan, padahal sebenarnya tidak nyata? Karena Allah tidak pernah menurunkan hujah yang bisa kalian jadikan landasan untuk penyebutan berhala-berhala tersebut sebagai tuhan. Maka tunggulah azab yang kalian minta itu. Dan aku pun menunggu bersama kalian. Azab itu pasti datang.”


    Sikap bandel tidak hanya dialami kaum Nabi Hud as. Juga orang Quraisy pada saat naskah boikot telah dimakan rayap. Dikisahkan waktu itu Abu Thalib berada di dekat Ka’bah. Dia datang karena Allah SWT. telah memberitahu Rasul-Nya tentang naskah perjanjian itu, bahwa Allah SWT. telah mengirimkan rayap yang telah melumatkan seluruh kelaliman dan memutus silaturahmi yang terkandung di dalam naskah itu, kecuali tulisan Allah SWT. Rasulullah SAW. memberitahukan kepada pamannya, hingga sang paman menemui kaum Quraisy untuk memberitahu mereka bahwa keponakannya berkata begini dan begini. Kemudian Abu Thalub berkata, “Jika ia berdusta, kami serahkan ia kepada kalian. Tapi jika ia benar, kalian harus menghentikan upaya mengucilkan dan menzalimi kami.”
    Mereka menjawab, “Tawaran yang adil.”

    Kemudian terjadi dialog diantara orang-orang yang ingin merobek naskah sahifah itu. Sebelum dirobek, mereka menyaksikan rayap telah memakannya, kecuali tulisan ” Dengan nama-Mu ya Allah.” Ini menunjukkan tulisan yang mengandung nama-Nya tidak dimakan oleh rayap tersebut. Kemudian Rasulullah SAW. dan orang-orang yang bersamanya meninggalkan syi’ib. Disini kaum musyrikin telah menyaksikan salah satu bukti besar kenabian Muhammad SAW. akan tetapi mereka tetap keras kepala. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Qamar ayat 2 yang artinya, “Dan jika mereka ( orang-orang musyrikin ) melihat suatu tanda ( mukjizat ), mereka berpaling dan berkata, ‘( Ini adalah ) sihir yang terus menerus.’”

    Kebandelan mereka makin menjadi dan makin kafir. Adapun ide merobek naskah ini bermula dari ide mereka ( musuh-musuh Islam ). Namun, Allah SWT. berkehendak naskah itu tidak dirobek kecuali dengan sebuah mukjizat-Nya agar tak ada seorangpun yang menyimpan jasa kepada Nabi Muhammad SAW.

    Hal yang sama juga tampak pada sikap Bangsa Yahudi ( Israel ) terhadap bangsa Palestina. Kebandelan mereka untuk menghabisi suku bangsa ini sudah berlangsung cukup lama dan korban yang hampir mencapai 10.000 orang pada akhir Oktober 2023. Kesombongan mereka ini semata karena ada dukungan nyata dari negara besar seperti USA dan beberapa negara Eropa, mereka lupa dan mengesampingkan kekuatan yang sangat besar pada Sang Pencipta. Memang kekuatan dan kekuasaan bisa menjadikan seorang pemimpin “merasa” dirinya bisa menjadikan/mengangkat seseorang. Hal ini sering menjadikan seseorang yang berkekuatan bersikap keras kepala, nasihat kiri dan kanan hanya angin lalu. Ujian dunia bisa lulus ( tidak terkena azab ) dan bisa juga terjerambab, namun rapor akhirat yang kekal menjadi kepastian bagi dirinya menerima hasil dari perbuatannya.

    Bagaimana untuk menghadapi orang yang bersikap keras kepala menurut Islam ? Orang keras kepala sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, diperlukan cara yang tepat menghadapi orang yang keras kepala sehingga tidak menimbulkan permasalahan. Berikut ini cara menghadapi orang yang keras kepala menurut Islam:
    1. Bersabar. Orang yang menghadapi orang yang keras kepala harus bersabar mulai menerima dan berusaha melihat lebih dulu sudut pandangnya. Setelah itu, jelaskan dengan tegas argumen yang mematahkan pendapat orang tersebut.
    2. Menghindari konfrontasi. Saat menghadapi orang yang keras kepala, usahakan menghindari konfrontasi langsung. Jika dilawan secara langsung, orang keras kepala akan semakin bersikeras dengan pandangannya dan biasanya marah. 3. Berbicara jelas dan tegas. Untuk menghadapi orang yang keras kepala dengan pendapatnya, kita harus menjawab secara jelas dan tegas, disertai fakta-fakta serta argumen yang mendukung.

    Semoga Allah SWT. selalu mengingatkan kita agar bersikap tahu diri, rendah hati dan jauh dari sikap keras kepala.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)

    Membandel

    Sumber : www.detik.com

  • 3 Strategi Dakwah Sunan Gunung Jati saat Sebarkan Islam

    3 Strategi Dakwah Sunan Gunung Jati saat Sebarkan Islam


    Jakarta –

    Sunan Gunung Jati adalah satu dari sembilan wali songo yang berdakwah di wilayah Jawa. Setidaknya ada tiga strategi dakwah Sunan Gunung Jati yang pada akhirnya berhasil menarik minat masyarakat untuk masuk Islam.

    Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Maulana Syarif Hidayatullah. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memiliki nama lain yang terkenal seperti Fatahillah, Syekh Nuruddin Ibrahim bin Maulana Ismail, Said Kamil, dan Maulana Syekh Makhdum Rahmatullah, sebagaimana disebutkan dalam buku Metode Dakwah Masyarakat Multikultur karya Rosidi.

    Sunan Gunung Jati memiliki jasa yang sangat besar untuk agama Islam dan Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama salah satu universitas, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


    Perjalanan Hidup Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati merupakan seorang ulama dan kesatria yang memasuki kawasan Jawa Barat. Ia berhasil menaklukkan kerajaan Hindu Pajajaran dan mendirikan dua kerajaan Islam, yaitu Banten dan Cirebon.

    Sunan Gunung Jati juga adalah pendiri dari Jayakarta, yang kini menjadi Jakarta. Ia membentuk kerajaan itu demi melawan bangsa Portugis yang menjajah Indonesia.

    Saat sudah menginjak usia dewasa, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah pergi ke Makkah untuk menimba ilmu agama Islam secara detail selama tiga tahun.

    Tiga tahun kemudian, Ia merantau ke tanah Jawa, tepatnya di daerah Demak. Ia menikah dengan adik kandung Sultan Trenggono yang saat itu berkuasa dari 1521-1546.

    Kala itu, Belanda berniat untuk menginvasi Jawa Barat dan melancarkan rencana ekspansinya. Hal ini pun membuat Sultan Trenggono marah. Saat itulah, Sunan Gunung Jati diutus untuk membendung pasukan Portugis.

    Sunan Gunung Jati berhasil mengendalikan Sunda Kelapa pada tahun 1527. Kemudian beliau memindahkan Sunda Kelapa ke Cirebon. Kerajaan Banten diserahkan kepada putranya, Sultan Maulana Hasanuddin.

    Sunan Gunung Jati kemudian menetap di Cirebon untuk berdakwah menyiarkan agama Islam hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada tahun 1570 di Gunung Jati. Makanya, ia dijuluki sebagai Sunan Gunung Jati.

    Metode Dakwah Sunan Gunung Jati

    Terdapat beberapa macam metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati. Berikut adalah metode dakwah Sunan Gunung Jati.

    1. Pendekatan Budaya

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang pertama adalah dengan pendekatan kultural dan menghormati budaya lokal. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus dan murid-muridnya.

    Penghormatan terhadap budaya lokal dipraktikkan dengan membuat menara masjid yang menggabungkan seni arsitektur Islam dengan arsitektur budaya Jawa.

    Tak hanya dari segi arsitektur, metode dakwah Sunan Gunung Jati juga merambah pada pemanfaatan kesenian tradisional seperti wayang dan gamelan sebagai salah satu sarana menyentuh hati masyarakat sehingga mereka mau menerima ajaran Islam.

    Sunan Gunung Jati juga menciptakan tembang-tembang yang berisi nasihat agama yang bersumber dari kitab suci dan hadits nabi. Ada juga nasihat yang berisi etika kehidupan untuk menuju keselamatan dunia dan akhirat serta ridha Allah SWT.

    Penggunakan seni budaya sebagai wasilah atau media dakwah Islam bertujuan agar masyarakat bisa menyerap ajaran Islam dengan lebih mudah dan akhirnya bisa digunakan sebagai pedoman kehidupan.

    2. Toleransi Tinggi terhadap Agama Lain

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang kedua adalah dengan meninggikan toleransi dengan agama lain yang ada di lingkungan masyarakat. Di mana saat itu mayoritas orang Jawa beragama Hindu atau Buddha.

    Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus dan murid-muridnya, Sunan Gunung Jati juga menerapkan sikap toleransi yang tinggi terhadap ajaran atau hukum-hukum yang dianut oleh agama Hindu-Buddha.

    Toleransi ini ditunjukkan dengan perilaku tidak menyembelih dan memakan sapi karena sapi adalah binatang yang dihormati oleh para pemeluk Hindu.

    3. Dimulai dari Lingkup Terdekat lalu Meluas

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang ketiga adalah dengan memulai dakwah dari lingkup terkecil hingga meluas sampai luar daerah.

    Disebutkan dalam buku Islam Abangan & Kehidupannya karya Rizem Aizid, proses dakwah Sunan Gunung Jati di tanah Pasundan membutuhkan waktu yang lama.

    Pada periode awal, Sunan Gunung Jati memulai dakwahnya di kawasan tempat tinggalnya saja, yakni Cirebon. Ia menyebarkan agama Islam sekaligus menjadi guru agama.

    Saat itu, Sunan Gunung Jati menggantikan Syekh Datuk Kahfi sebagai guru agama dan mengambil tempat di Gunung Sembung, Pasambangan (dekat Giri Amparan Jati).

    Setelah sukses, Sunan Gunung Jati pun melanjutkan dakwahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari sana, yakni di Dukuh Babadan. Kemudian meluas lagi sampai daerah Banten.

    (kri/kri)

    3 Strategi Dakwah Sunan Gunung Jati saat Sebarkan Islam

    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Tema 9 Alasan Umat Islam Harus Bela Palestina

    Khutbah Jumat Tema 9 Alasan Umat Islam Harus Bela Palestina



    Jakarta –

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) minta juru dakwah sampaikan khutbah tentang peristiwa Palestina untuk membangun solidaritas umat Islam. Untuk itu, khatib Jumat bisa mengisi khutbah Jumat pekan ini dengan sederet alasan mengapa umat Islam harus membela Palestina.

    Anjuran MUI tersebut disampaikan langsung oleh Ketua MUI bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh usai menyampaikan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina pada 10 November 2023 lalu.

    “Pesan ini harus disampaikan agar muncul sensitivitas, muncul solidaritas, dan juga muncul perasaan saling memiliki ketika saudara-saudara kita di Palestina dalam situasi duka dan kita mengalami duka yang sama,” kata Niam seperti dilansir Antara.


    Niam kemudian bilang, khutbah soal Palestina harus terus digencarkan hingga kemerdekaan Palestina tercapai.

    Saat ini Palestina tengah menghadapi serangan Israel yang memanas sejak 7 Oktober 2023 lalu. Belasan ribu nyawa dilaporkan melayang. Umat Islam juga kesusahan untuk menjalankan ibadah salat Jumat di Masjidil Aqsa karena penjagaan ketat dari polisi pendudukan Israel, meskipun gencatan senjata tengah diperpanjang.

    Tanah Palestina sendiri menyimpan sejarah dakwah para nabi terdahulu dan keistimewaan bagi umat Islam. Masjidil Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Islam dan tempat awal Rasulullah SAW melakukan perjalanan suci–Isra Mi’raj– juga terdapat di bumi Palestina.

    Berikut naskah khutbah Jumat tentang alasan mengapa umat Islam harus membela Palestina yang disusun oleh Ustaz Nur Rohmad, Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, seperti dilansir NU Online, Kamis (30/11/2023).

    Khutbah I

    الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّـدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلا (الأحزاب: ٢٣)

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan senantiasa berupaya melakukan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan.

    Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

    Hari-hari terakhir ini, kita disuguhi tontonan yang begitu menyayat dan mengiris hati kita. Bagaimana tidak. Di era modern yang katanya penjajahan di atas muka bumi telah dihapuskan, kaum Zionis dengan leluasa seenaknya saja menjajah bumi Palestina dan menindas rakyat di sana. Serangan demi serangan terus dilancarkan kepada rakyat yang tidak berdosa. Ratusan nyawa rakyat Palestina telah menjadi korban kekejian dan kebiadaban mereka. Sebagai umat Islam tentu kita mencintai dan membela Palestina. Palestina bukanlah negeri biasa. Palestina memiliki sejarah panjang yang menjadikannya selalu bersemayam di hati setiap Mukmin. Ada sembilan alasan kenapa kita harus mencintai dan membela Palestina.

    Pertama, di sana terdapat Masjid al-Aqsha, masjid tertua di dunia setelah Masjid al-Haram. Dibangun pertama kali oleh Nabi Adam ‘alaihis salam empat puluh tahun setelah beliau membangun Masjid al-Haram.

    Kedua, Masjid al-Aqsha yang berada di kota Baitul Maqdis, Palestina pernah menjadi kiblat shalat selama tujuh belas bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaih wasallam berhijrah dari Makkah ke Madinah.

    Ketiga, Masjid al-Aqsha yang berada di kota Baitul Maqdis, Palestina adalah titik akhir perjalanan Isra’ dan titik awal perjalanan Mi’raj. Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di sanalah Baginda Nabi melakukan shalat berjamaah mengimami seluruh nabi dan rasul, mulai Nabi Adam ‘alaihis salam hingga Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

    Keempat, Palestina adalah negeri para nabi dan rasul. Banyak sekali para nabi dan rasul yang pernah tinggal dan berdakwah menyebarkan Islam di sana. Di antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Luth, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakariyya, Nabi Yahya, Nabi ‘Isa dan nabi-nabi yang diutus oleh Allah untuk Bani Israil yang jumlahnya sangat banyak.

    Kelima, di sana terdapat Kota Baitul Maqdis, ardhul mahsyar wal mansyar, tempat dikumpulkannya seluruh manusia menjelang hari kiamat yang masih hidup kala itu.

    Keenam, di sanalah Dajjal akan terbunuh di tangan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.

    Ketujuh, Palestina adalah bagian dari daratan Syam yang didoakan berkah oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya:

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا

    “Ya Allah, berkahilah negeri Syam dan Yaman.”

    Kedelapan, banyak sekali para sahabat yang pernah berdakwah, menyebarkan dan mengajarkan Islam di sana. Di antara mereka adalah ‘Ubadah bin ash Shamit, Syaddad bin Aus, Usamah bin Zaid bin Haritsah, Watsilah bin al Asqa’, Dihyah al Kalbiy, Aus bin ash Shamit, Mas’ud bin Aus dan masih banyak lagi yang lain.

    Kesembilan, Palestina telah melahirkan ribuan ulama dan tokoh-tokoh Islam terkemuka yang berkhidmah untuk Islam. Tercatat para ulama yang lahir atau pernah tinggal di Palestina adalah Imam Malik bin Dinar, Imam Sufyan ats-Tsauri, Imam Ibnu Syihab az-Zuhri, Imam asy-Syafi’I, dan masih banyak lagi yang lain.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Oleh karena itulah, Sultan Mahmud Nuruddin Zanki pernah mengucapkan sebuah perkataan yang fenomenal: “Aku malu kepada Allah untuk tersenyum sedangkan Baitul Maqdis masih terjajah.”

    Sultan Abdul Hamid II bahkan pernah mengatakan: “Saya tidak akan menjual sejengkal tanah pun dari bumi Palestina.” Beliau katakan itu dengan tegas dan penuh keberanian pada saat menolak sogokan uang dalam jumlah sangat besar dari orang-orang Zionis Yahudi yang ingin menempati sebagian wilayah Palestina.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Tidak kalah fenomenal adalah Sultan Shalahuddun al-Ayyubi. Didorong oleh kecintaannya yang mendalam kepada bumi Palestina, pada tanggal 27 Rajab 583 H, beliau berhasil membebaskan Baitul Maqdis, Palestina. Ketika ingin membebaskan Baitul Maqdis, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tidak langsung menyiapkan tentara dan peralatan perang. Akan tetapi yang mula-mula beliau lakukan adalah mempersatukan umat Islam dalam satu ikatan aqidah yang benar, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurut beliau, kesatuan aqidah akan melahirkan kesatuan hati. Kesatuan hati antarumat Islam adalah kekuatan dahsyat yang tidak akan dikalahkan oleh siapa pun. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu, beliau memerintahkan setiap juru adzan di semua wilayah yang beliau kuasai untuk mengumandangkan aqidah Asy’ariyyah setiap hari sesaat sebelum adzan shubuh.

    Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi adalah penganut mazhab Syafi’i dalam fiqih dan pengikut mazhab Asy’ari dalam aqidah. Sang sultan memiliki perhatian yang sangat besar dalam penyebaran aqidah Asy’ariyyah. Beliau adalah seorang sultan yang hafal Al-Qur’an, hafal kitab at-Tanbih, sebuah kitab yang menjelaskan tentang fiqih mazhab Syafi’i, dan hafal kitab al-Hamasah, sebuah kitab himpunan bait-bait syair. Sultan Shalahuddin, sebagaimana dijelaskan Imam as-Suyuthi dalam al-Wasa’il fi Musamarah al-Awa’il adalah seorang yang memegang teguh ajaran agama, wara’, pejuang, mujahid dan seorang yang bertakwa.

    Melihat perhatian khusus Sultan Shalahuddin terhadap penyebaran aqidah Asy’ariyyah, Syekh Muhammad bin Hibatillah al-Barmaki lalu menyusun kitab yang berisi bait-bait nazham dalam ilmu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang ia beri judul Hada’iq al-Fushul wa Jawahir al-Ushul. Kitab itu lalu dihadiahkan oleh pengarangnya kepada Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Shalahuddin lantas memerintahkan kepada semua madrasah untuk mengajarkan kitab tersebut. Sebab itu, kitab itu kemudian terkenal dengan sebutan al-‘Aqidah ash-Shalahiyyah.

    Di antara yang tertulis dalam kitab tersebut adalah beberapa bait berikut ini:

    وصانعُ العــالمِ لا يحويهِ # قطرٌ تعالى اللهُ عـن تشبيهِ قد كانَ موجودًا ولا مكانَا # وحكمهُ الآن على ماكـانَ سُبحانهُ جلّ عن المكـانِ # وعـزّ عن تغيُرِ الزمانِ فقد غَـلا وزادَ في الغُـلوِ # مــن خصهُ بجهةِ العـلو

    Sang Pencipta Alam tidak diliputi tempat, Allah Mahasuci dari penyerupaan terhadap makhluk
    Allah ada sebelum adanya tempat, dan Dia sekarang tetap seperti sedia kala, ada tanpa tempat
    Mahasuci Allah dari tempat, dan Dia Mahasuci dari peredaran masa
    Sungguh telah melampaui batas, orang yang mengkhususkan-Nya di arah atas

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Apa yang dapat kita lakukan untuk saudara-saudara kita di Palestina? Berjihad membantu mereka secara fisik melawan para penjajah, jelas kita tidak mampu. Yang dapat kita lakukan adalah mengulurkan bantuan dana untuk meringankan penderitaan mereka. Minimal, kita bantu mereka dengan doa. Karena doa adalah senjata seorang Mukmin.

    Hadirin yang dirahmati Allah,

    Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

    Khutbah II

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    (kri/erd)

    Khutbah Jumat Tema 9 Alasan Umat Islam Harus Bela Palestina

    Sumber : www.detik.com

  • Mengapa Islam Begitu Menarik di AS?

    Mengapa Islam Begitu Menarik di AS?



    Jakarta –

    Hasil penelitian Pew Research Center menemukan bahwa pemeluk Islam diperkirakan meningkat 70 persen dari 1,8 miliar pada 2015 menjadi tiga miliar pada 2050. Hal senada juga pernah dinyatakan oleh Menlu dan Cawapres AS, Hillary Clinton, ketika berkunjung di ndonesia menyatakan “Islam is fastest growing religion USA”. Hal senada juga pernah dibayangkan oleh Prof. John L. Esposito, Director of Center for Muslim-Critian Understanding, CMCU, Georgetown University.

    Menurut Michael Lipka, Editor senior Pew Research Center, USA, ada dua faktor utama yang berpengaruh pada pertumbuhan agama Islam di AS ialah, Pertama, umat Islam memiliki lebih banyak anak daripada anggota kelompok agama lainnya. Penelitiannya menemukan di seluruh dunia, setiap perempuan Muslim memiliki rata-rata 2,9 anak, dibandingkan dengan 2,2 untuk semua kelompok agama lainnya.

    Kedua, umat Islam merupakan kelompok agama termuda. Angka ini menunjukkan adanya banyak pemeluk agama Islam berusia muda dibandingkan agama-agama besar lain. Ia menemukan usia pemeluk agama Islam 24 tahun pada 2015, berarti tujuh tahun lebih muda dari usia rata-rata non-Muslim.” Lebih lanjut Pew-RS menemukan umat Islam di di dunia, khususnya di AS, berada pada usia produktif. Usia produktif bisa berkontribusi lahirnya anak-anak baru mungkin leih dari dua orang.


    Pew Research Center menemukan hal ini pada 2015. Ia menyimpulkan bahwa dari sebuah fakta bahwa ada 1,8 miliar Muslim di dunia (24%) dari populasi terbesar kedua atau Islam akan menjadi agama terbesar kedua di dunia.

    Populasi umat Islam di seluruh dunia (62%) tinggal di wilayah Asia Pasifik, termasuk populasi terbesar di Indonesia, lalu disusul India, Pakistan, dan Bangladesh. Indonesia saat ini merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, namun Pew Research Center memproyeksikan bahwa India akan menjadi negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbanyak pada 2050. Tidak lama lagi India akan memiliki penduduk muslim sekitar 300 juta, meskipun agama Hindu tetap akan menjadi agama mayoritas di negeri ini.

    Selain itu, Lipka menyebutkan bahwa populasi Muslim di Eropa juga tumbuh. Pew memproyeksikan jumlah Muslim di seluruh Eropa mencapai 10 persen dari keseluruhan populasi pada 2050. Ini jumlah yang sangat fantastik. Dalam temuan Pew menemukan bahwa kendati tidak mengubah populasi global, migrasi membantu meningkatkan populasi Muslim di sejumlah wilayah, termasuk Amerika Utara dan Eropa,” Lebih lanjut Pew juga melaporkan hasil survei terbaru terkait persepsi umat Islam terhadap ISIS. Hasilnya, kebanyakan orang di beberapa negara dengan populasi Muslim yang signifikan memiliki pandangan bahwa ISIS merupakan organisasi yang merugikan. Kehadiran ISIS bagi umumnya masyarakat AS lebih banyak merugikan dunia Islam.

    Penemuan lainnya, hampir semua responden di Lebanon (94%) Yordania. Namun, di beberapa negara, sebagian besar penduduk tidak punya pendapat tentang ISIS, termasuk 62 persen Muslim di Pakistan. Secara umum, kebanyakan Muslim juga mengatakan bom bunuh diri dan bentuk kekerasan lainnya terhadap warga sipil atas nama Islam jarang atau tidak pernah dibenarkan.

    Survei ini termasuk 92 persen di Indonesia dan 91 persen di Irak. Di beberapa negara, tindakan kekerasan ini setidaknya kadang-kadang dapat dibenarkan, termasuk 40 persen di wilayah Palestina, 39 persen di Afghanistan, 29 persen di Mesir dan 26 persen di Bangladesh. Namun, Umat Islam di seluruh dunia hampir secara universal dipersatukan oleh keyakinan. “Keyakinan satu Allah dan Nabi Muhammad SAW, serta praktik ritual keagamaan tertentu seperti puasa selama Ramadhan,”

    (lus/lus)

    Mengapa Islam Begitu Menarik di AS?

    Sumber : www.detik.com

  • Kekuasaan dan Keadilan

    Kekuasaan dan Keadilan



    Jakarta –

    Sang Pencipta memilih dua kelompok manusia. Pertama, para Nabi dan Rasu. Mereka mempunyai tugas untuk menyerukan kepada hamba-hamba-Nya untuk beribadah, memberi petunjuk untuk mengenal Allah SWT.

    Kedua, Allah SWT. memilih dari hamba-hamba-Nya untuk menjadi penguasa dengan tujuan agar dapat menjaga umat manusia dari saling bermusuhan.

    Penulis akan membahas pada kelompok kedua, yaitu penguasa. Hal ini sangat penting karena baik buruknya suatu negara dipengaruhi “sikap pemimpin/penguasa.”
    Mu’awiyah bertanya kepada Ahnaf ibn Qais, “Hai Abu Yahya, bagaimana situasi masa kini?”


    Jawabnya, “Zaman adalah engkau, jika engkau baik, zaman pun baik, jika engkau rusak, zamanpun rusak.”
    Kemudian ia melanjtkan, “Sesungguhnya dunia menjadi maju karena keadilan, dan ia bisa hancur karena tindak kezaliman. Sebab cahaya keadilan itu terang, dan sinarnya dapat menjangkau jarak seribu farsakh. Sedang gelapnya aniaya dapat menggumpal dan menyelimuti perjalanan seribu farsakh.”

    Fudha ibn Iyadh pun berkata, “Sekiranya do’a saya terkabul aku tak akan berdo’a kepada selain penguasa yang adil.” Penguasa yang adil itu akan mendapatkan tempat yang istimewa. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Muslim. Rasulullah SAW. bersabda, “Orang-orang yang adil bakal duduk di mimbar kehormatan di hari kiamat.”

    Sikap adil menjadi landasan utama dalam memimpin, terutama memimpin suatu negeri. Ketamakan ingin menguasai dan membumi hanguskan Gaza oleh Rezim Yahudi saat ini, adalah tindakan yang brutal dan mencederai rasa kemanusiaan. Sangat berbeda jika mereka menerapkan keadilan dalam bertetangga untuk hidup bersama.

    Allah SWT. telah memilih Nabi dan Rasul serta memilih hamba-Nya untuk mewakilinya di bumi sebagai pengayom dengan posisi sebagai penguasa. Sebagaimana firman-Nya dalam surah an-Nisa ayat 59 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil al-amri di antara kamu.”
    Siapakah ulil amri itu? Ulil amri artinya orang-orang yang memegang kekuasaan di antara mereka. Apabila mereka telah sepakat dalam suatu hal, maka umat muslim berkewajiban melaksanakannya. Tentunya dengan catatan bahwa keputusan mereka tidak bertentangan dengan Al Quran dan hadis. Maka setiap Muslim yang mempunyai pengetahuan agama, hendaknya ia simpati kepada para penguasa, dan wajib mematuhi segala perinta mereka. Maka yang memerintah dan yang diperintah meski menyadari bahwa kekuasaan itu diberikan oleh Allah SWT.

    Ingatlah bahwa Allah SWT. mempunyai kekuasaan sepenuhnya untuk menentukan siapa yang akan dipilih menjadi ulil amri ( penguasa ), bukan makhluk yang ikut-ikutan mengatur untuk menentukan seseorang akan menjadi pemimpin. Dalam firman-Nya surah ali-Imran ayat 26 yang artinya, “Engkau memberikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki dan Engkau menghinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”
    Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang lemah, maka janganlah menyombongkan diri atas kekuasaanmu untuk ikut campur urusan-Nya.

    Jadilah penguasa yang adil. Penguasa yang berlaku adil terhadap hamba-hamba Allah SWT. dan menjauhkan diri dari kecurangan dan kerusakan. Sedangkan penguasa yang zalim adalah orang yang menimbulkan keburukan, kesengsaraan. Kekuasaan itu bersifat fana tidak kekal dan abadi, mudah berganti sekehendak-Nya sesuai ayat diatas. Kekuasaan akan berlangsung lama dan dikenang sepanjang masa tatkala penguasa tersebut menerapkan “Keadilan.”
    Sebagai contoh kisah kaum Majusi. Dalam sejarah kaum ini dapat menguasai dunia selama empat abad. Kekuasaan itu tetap berada di tangan mereka saat menerapkan keadilan kepada rakyatnya dan perhatian penguasa secara merata. Mereka memandang kezaliman dan keculasan sebagai hal yang dilarang dan harus dijauhinya. Oleh karena itu, mereka ( para pemimpin Majusi ) berhasil memakmurkan negeri dengan keadilan dan berlaku jujur terhadap rakyatnya.

    Jika penulis simpulkan atas kepemimpinan kaum Majusi diatas ada dua hal pokok yaitu : Pertama, mereka menjalankan pemerintahan dengan adil, sehingga rakyatnya merasakan kenikmatan dari buah keadilan. Rakyat menjadi makmur, aman dan kehidupan yang harmonis. Kedua, mereka bersikap jujur terhadap rakyatnya. Jujur ini merupakan landasan untuk menjalankan pemerintahan dengan penuh tanggung jawab dan sadar kalau kekuasaan itu dipertanggung- jawabkan.

    Ingatlah selalu bahwa yang akan tinggal pada manusia setelah mereka meninggal hanya riwayat dan sejarahnya. Setiap pemimpin akan dikenang sesuai dengan apa yang telah dilakukan, dan akan disandarkan kepadanya segala yang diperbuatnya. Maksudnya adalah menjadi pemimpin itu bukan semaunya sendiri apalagi untuk kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya. Semua tindakannya menjadi sandarannya, apakah nanti ada terkait dengan urusan hukum atau tidak. Jika yang diperbuat baik, maka harumlah namanya. Tapi jika buruk, maka buruk pula kenangan dan nama yang ditinggalkannya. Maka setiap orang wajib menanamkan benih kebaikan dan menghilangkan semua aib dan keburukan, apalagi sebagai penguasa. Penguasa yang beriman akan meninggalkan nama baik dan menghindarkan nama buruk saat ia sudah masuk liang lahat.

    Kekuasaan itu mempesona, maka jadikanlah kekuasaan itu untuk membahagiakan rakyat bukan diri dan keluargamu. Tatkala rakyat bahagia, do’a mereka selalu mengalir untuk kebaikan pemimpinnya yang bersikap adil dan jujur pada rakyatnya. Dalam waktu dekat kita akan memilih pemimpin, maka pilihlah calon pemimpin yang berkeadilan dan jujur pada rakyatnya. Semoga Allah SWT. memberikan pemimpin yang membawa negeri ini makmur dan harmonis.

    AR, Puri Cinere, 29.11.23

    —

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (lus/lus)

    Kekuasaan dan Keadilan

    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Wali Songo yang Menyebarkan Agama Islam di Demak?

    Siapa Wali Songo yang Menyebarkan Agama Islam di Demak?



    Jakarta –

    Wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Ajarannya mudah diterima oleh masyarakat Jawa karena sangat toleran pada budaya lokal. Bagaimana cara beliau dalam menyebarkan agama Islam? Berikut ulasannya.

    Kerajaan Demak dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Pendiri kerajaan ini adalah Raden Patah pada akhir Abad ke-15 di Bintoro,Demak. Hal ini bersumber dari buku Kanjeng Sunan Kalijaga, Jejak-Jejak Sang Legenda karya Conie Wishnu W.

    Dalam mengatur Kerajaan Demak, pemerintahan dibantu oleh Dewan Penasihat yang bernama Wali Songo. Dewan ini bertugas memberikan masukan kepada raja serta menyelesaikan persoalan di masing-masing bidangnya.


    Seluruh Wali Songo ini memiliki peran yang sangat besar untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa dan Demak. Berikut nama wali yang memperluas agama Islam di Demak.

    a. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

    b. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

    c. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim

    d. Sunan Drajat atau Raden Qasim

    e. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq

    f. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

    g. Sunan Kalijaga atau Raden Sahid

    h. Sunan Muria atau Raden Umar Said

    i. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

    Salah satu wali yang paling banyak dibicarakan apabila membicarakan tentang perluasan agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Muria.

    Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Nana Supriatna dalam bukunya yang berjudul Sejarah untuk Kelas XI SMA Program Bahasa.

    Tulisan kali ini akan membahas tentang sosok Sunan Kalijaga sebagai salah satu wali yang paling berpengaruh di Demak. Lantas, bagaimana sosoknya dan cara dakwahnya?

    Sosok Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga memiliki nama kecil Raden Said. Beliau adalah seorang wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Hal ini sebagaimana dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas IX oleh Murodi.

    Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Arya Wilatikta, adipati Tuban. Nama lain beliau yang banyak diketahui adalah Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

    Mengenai nama Kalijaga ada banyak versi yang menjelaskannya. Ada yang berpendapat nama ini diambil dari hobinya berendam di sungai (kungkum kali), sehingga orang-orang menyebutnya “jaga kali” atau Kalijaga.

    Sebagian yang lain menyebutkan nama ini diambil dari istilah Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan Demak kala itu.

    Menurut catatan sejarah Indonesia, Sunan Kalijaga termasuk dalam jajaran wali yang popular di kalangan masyarakat khususnya Jawa. Peran dan cara penyebaran Islam yang menggunakan pendekatan budayalah yang menjadikannya banyak dikenal oleh masyarakat.

    Lantas, bagaimana cara dakwah Sunan Kalijaga sebagai wali yang memperluas agama Islam di Demak?

    Dakwah Sunan Kalijaga

    Salah satu wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Dakwah yang dilakukannya tergolong mudah diterima oleh masyarakat sehingga bisa berkembang pesat.

    Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga mempunyai pola yang sama seperti guru sekaligus sahabat dekatnya, yaitu Sunan Bonang. Beliau memiliki paham keagamaan yang cenderung sufistik berbasis salaf.

    Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan budaya lokal untuk media berdakwah. Oleh sebab itu, beliau dinilai sebagai wali yang toleran pada budaya lokal.

    Sunan Kalijaga berpendapat, jika pendirian atau budaya yang sudah melekat pada mereka dihilangkan atau diserang, maka mereka tidak akan mau mempelajari agama Islam. Oleh karena itu, beliau menyebarkan ajaran Islam secara bertahap sambil terus mempengaruhi mereka.

    Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta suluk sebagai media dakwahnya. Beliau yakin, apabila masyarakat sudah mengerti tentang agama Islam, maka kebiasaan lama mereka akan hilang dengan sendirinya. Karena inilah, ajaran beliau terkesan sinikretis.

    Terdapat beberapa peninggalan Sunan Kalijaga yang masih ada sampai sekarang. Beliau merupakan perancang Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang Tatal yang ada di masjid merupakan kreasi beliau.

    Selebihnya, Sunan Kalijaga juga merupakan pencipta dari baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja, lanskap pusat kota berupa keratin, dan alun-alun dengan dua beringin serta masjid.

    (lus/lus)

    Siapa Wali Songo yang Menyebarkan Agama Islam di Demak?

    Sumber : www.detik.com

  • Mengenal Ormas Islam di AS: Zaituna Institute

    Mengenal Ormas Islam di AS: Zaituna Institute



    Jakarta –

    Salah satu organisasi komunitas muslim yang menarik untuk dipelajari ialah Zaituna Institute (ZI)yang juga biasa dikenal dengan Zaituna College, sebuah organisasi komunitas moderat muslim yang erusaha menawarkan peradaban Islam (islamic civilizations) di dalam masyarakat luas, khususnya di AS. Bentuk kegiatannya lebih banyak bergerak dalam dunia kependidikan. Zaituna College mengelola pendidikan yang berperspektif Islam. Ia mengelola program undergraduate (s1) dan mungkin yang pertama kali program undergraduate yang memperoleh akreditasi resmi di AS. Salahsatu konsentrasinya ialah program Bachelor of Arts in Islamic Law and Theology. Menariknya, ZI berkolaborasi dengan the American Baptist Seminary of the West (ABSW) in Berkeley, CA.

    ZI didirikan pada tahun 1996 muballig terkenal Amerika, Hamzah Yusuf bersama dengan Zaid Shakir dan Hisyam al-Alusi. ZI berusaha untuk mengimplementasikan nilai-nilai universal Islam ke dalam masyarakat global, namun tetap melestarikan tradisi intelektual Pendidikan Islam sebagaimana yang pernah melahirkan ilmuan besar di abad pertengahan. ZI mengajarkan ilmu-ilmu tradisional Islam seperti hukum Syari’ah yang paralel dengan nilai-nilai dasar keamerikaan yang hidup di dalam masyarakat. IZ juga mengajarkan Bahasa Arab, seni sastra Arab, teologi, dan studi Al-Qur’an dan Hadis. Unsur-unsur sejarah AS dan nilai-nilai dasar keamerikaan dikolaborasikan di dalam kurikulum pendidikan. Ternyata para pembina ZI mampu menciptakan kohesi keislaman dan keamerikaan di dalam sebuah institut, tentu saja hal ini menjadi jawaban terhadap kegelisahan intelektual warga AS tentang Islam dan Komunitas Islam tentang nilai-nilai dasar AS.

    ZI berusaha untuk menjembatani apa yang oleh Hungtington persoalkan di dalam tesisnya Colflic of Civilization. Jika ZI ini berhasil maka boleh jadi menjadi model pendidikan untuk komunitas muslim di negera-negara minoritas muslim. ZI berlokasi di Berkeley, california, AS. Dekade terakhir ini banyak mendapatkan perhatian dari kelas menengah muslim dan pemerintah AS. Belum lama ini, kami juga diajak pemerintah AS untuk mengunjungi IZ, kiranya menjadi sumber inspirasi untuk dunia pendidikan Islam di masa depan. Tentu saja tidak ada lembaga pendidikan Islam yang betul-betul perfect, tetapi sepintas melihat lembaga ini, terutama memperhatikan wawasan keilmuan yang dimiliki para mahasiswanya, mereka lebih mudah memahami dan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Islam dan sekaligus sebagai orang AS. Selama ini lembaga pendidikan keislaman di AS dirasakan terlalu berbau Timur Tengah, sehingan anak-anak muslim yang lahir dan besar di barat. Khususnya di AS (The western-born/second-generation muslims) tidak lagi mengalami semacam kepribadian ganda (split personality) sebagai seorang muslim dan sebagai seorang Amerika.


    ZI sering menyelenggarakan ‘Summer Camp’, semacam Pesantren Kilat, untuk memberikan pencerahan kepada anak-anak muslim di AS. Mereka mengajarkan tentang nilai-nilai universal Islam yang diparalelkan dengan nilai-nilai kemerdekaan yang dijunjung tinggi di AS. Mereka diperkenalkan bahwa nilai-nilai dan ajaran Islam lebih campatibel dengan nilai-nilai dasar AS, sebagaimana tertuang di dalam lambang AS: The one is made up of all things, and all things issue from the one (Dari yang satu terjadi segala sesuatu, dan segala sesuatu itu berasal dari yang satu). Kesan ini juga pernah dilukis oleh Iamam Faisal Abdul Rauf, Imam Masjid Al-Farah, dalam bentuk buku: “What’s Right With Islam Is What’s Right With America” (Apa Yang Benar Menurut Islam itu juga Yang Benar Menurut Amerika).

    (lus/lus)

    Mengenal Ormas Islam di AS: Zaituna Institute

    Sumber : www.detik.com

  • Bercanda

    Bercanda



    Jakarta –

    Badruddin Abul Barakat Muhammad Al-Ghizzi seorang penulis menyebutkan, “dianjurkan agar bercanda diantara pada saudara-saudara dan teman, karena itu menghibur hati dan mempermudah tujuan. Dengan syarat tidak melontarkan suatu tuduhan, tidak menjatuhkan wibawa atau mengurangi kehormatan seseorang, tidak keji sehingga menyebabkan permusuhan dan dengki.”

    “Canda itu dicela apabila sampai pada tahap menjadi kebiasaan dan berlebihan,” kata Badruddin.

    Tidaklah diragukan bahwa bercanda itu bisa membuat rasa senang, gembira dan bahagia untuk mengusir kebosanan dan rasa lelah. Orang boleh membuat suasana senang dalam bertemu orang dengan sedikit gurauan ringan asalkan tidak banyak atau tidak memperbanyak tertawa sampai berlebihan. Rasa senang itu merupakan kondisi psikologis atau suasana hati, hal ini akan mempengaruhi hormon yang dihasilkan otak. Kalau kita sedang bahagia (senang), maka otak akan memproduksi zat endorfin yang sangat berguna bagi tubuh. Sebaliknya jika kita sedang stres, marah, maka zat yang dihasilkan otak adalah dopamine, cortisol, dan adrenalin, yang bisa mengganggu keseimbangan sistem tubuh.


    Dalam buku karangan Syeikh Mahmud Al-Mishri yang diterjemahkan oleh Ustad Abdul Somad dengan judul Semua Ada Saatnya, menjelaskan tiga kelompok manusia berdasarkan candaannya:

    Pertama, orang yang menghabiskan waktu malam dan siangnya hanya dengan tawa dan senda gurau. Kondisi ini berlebihan karena dengan banyaknya tertawa dilarang oleh utusan-Nya. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Jangan perbanyak tawa, karena banyaknya tawa itu mematikan hati,” (HR. Ibnu Majah).

    Kelompok kedua, yakni orang yang bermuka masam dan tidak pernah menunjukkan senyum di wajahnya. Ini termasuk hal yang tercela karena menyebabkan orang lain menjauh bahkan membencinya. Rasulullah SAW. bersabda, “senyumanmu ke wajah saudaramu adalah sedekah bagimu,” (HR. Bukhori). Sebenarnya sangat mudah merubah wajah yang masam menjadi wajah yang suka senyum. Selalu ingatlah sabda Rasulullah SAW. dan hilangkan hati yang keruh (penyebab wajah masam).

    Kelompok terakhir, adalah mereka yang berasa di pertengahan antara dua golongan sebelumnya. Rasulullah SAW. sendiri termasuk dalam golongan ini, beliau sesekali bercanda dan dalam candaannya hanya melontarkan hal yang benar saja, tanpa perlu mengada-ngada atau menjelekkan seseorang demi mengundang tawa orang lain. Kelompok ini menjadi dambaan kita semua agar bisa menyeimbangkan dan di posisi pertengahan. Bercanda untuk melepaskan kepenatan batin adalah kebutuhan, namun Islam memberikan teladan dengan bercanda gaya Rasulullah SAW.

    Dalam suatu riwayat, seorang wanita tua mendatangi Rasulullah SAW. Ia menanyakan perihal surga. “Wanita tua tidak ada di surga,” sabda Rasulullah SAW.

    Mendengar ucapan itu, si nenek pun menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW. segera menghiburnya dan menjelaskan makna sabdanya tersebut itu. “Sesungguhnya ketika masa itu tiba, Anda bukanlah seorang wanita tua seperti sekarang.”

    Rasulullah pun kemudian membacakan ayat, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.” (QS al-Waaqi’ah ayat 35-36). Akhirnya, si nenek tua tadi pun tersenyum.

    Model yang diajarkan Rasulullah SAW, sangat jauh dari fenomena yang terjadi di masyarakat. Seperti, tontonan-tontonan yang semata bertujuan membuat pemirsanya tertawa. Di antaranya, lawakan yang penuh dengan materi bohong, mengada-ada, dan berpura-pura bodoh.
    Bahkan, ada yang menyalahi kodrat illahi, seperti berpura-pura menjadi banci agar orang tertawa. Padahal, laki-laki yang berpura-pura menjadi wanita atau sebaliknya mendapat laknat yang keras disisi Allah SWT.

    Kebanyakan dunia televisi menyajikan lawakan yang kasar. Kerap ditemui materi lawakan berupa olok-olokan yang merendahkan orang lain. Mereka sengaja menghina kekurangan rekan mereka hingga membuka aibnya.

    Acara komedi seperti ini jelas bertentangan dengan firman Allah-Nya. “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(QS al- Hujuraat :11).

    Ada beberapa contoh bercanda yang merugikan, seperti seseorang memperolok sahabatnya sehingga menjadi bahan tertawaan sahabat lainnya. Kemarin hari Rabu 6.12.23 siang penulis merasakan sendiri sebagai penumpang Pelita Air dari Juanda tujuan Cengkareng, karena ulah seorang yang berkata tasnya ada bom pada salah seorang pramugari. Hal ini berakibat “drama sekitar 3 jam” di dalam pesawat dan berakibat buruknya baginya ( yang bercanda ). Kerugian yang terjadi sangat besar, dalam kurun waktu tertentu tidak pesawat yang pergi maupun datang dan menyebabkan rentetan penundaan penerbangan.

    Jelas sekali tuntunan bagi orang yang beriman jika bercanda dengan teman maupun saudaranya. Bercandalah dengan materi yang benar, bukan mengada-ada atau memperolok-olok, dan menyebar kebohongan (kasus Pelita Air) karena hal itu jelas dilarang seperti firman-firman Allah SWT. tersebut di atas. Semoga Allah SWT. selalu memberikan keteguhan agar kita semua tidak keluar jalur dalam bercanda dan mengikuti yang dicontohkan Rasul-Nya.

    —

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (kri/kri)

    Bercanda

    Sumber : www.detik.com