Author: admin

  • Istimewanya Waktu Malam saat Lailatul Qadar

    Istimewanya Waktu Malam saat Lailatul Qadar



    Jakarta –

    Lailatul Qadar disebut sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Saking istimewanya malam itu, Allah SWT mengabadikannya dalam surah Al Qadr di Al-Qur’an.

    Banyak umat Islam bertanya-tanya alasan di balik mulianya malam Lailatul Qadar. Sebagian berpikir, kenapa hanya pada waktu malam?

    Dalam kaitannya, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Sabtu (30/3/2024) menerangkan alasan di balik itu.


    “Malam itu memang jarak antara hamba dengan Tuhannya lebih dekat. Kemudian malam itu lebih terbuka langit, malam itu yang aktif batin kita,” katanya.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Muzzammil ayat 6,

    إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْـًٔا وَأَقْوَمُ قِيلًا

    Artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”

    Lebih lanjut Prof Nasaruddin menuturkan, pembagian waktu siang dan malam memiliki fungsinya masing-masing. Pada siang hari rasionalitas manusia lebih aktif, sedangkan ketika malam hari manusia lebih melibatkan emosi keagamaan.

    “Itulah yang dimaksud bahwa malam itu sangat penting karena energi spiritualnya lebih kencang naik ke langit,” terang Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

    Prof Nasaruddin menjelaskan, aktifnya emosi keagamaan seseorang di malam hari juga menjadi sebab banyak salat dan ibadah yang disyariatkan ketika matahari terbenam. Mulai dari salat Magrib, Isya, witir, Tarawih, tahajud, dan qiyamul lail.

    “Maknai malam Lailatul Qadar dengan memperbanyak ibadah seperti salat dan itikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir,” pungkasnya.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar bisa disaksikan DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (rah/rah)

    Istimewanya Waktu Malam saat Lailatul Qadar

    Sumber : www.detik.com

  • Jodoh Sudah Ditentukan tapi Harus Dijemput

    Jodoh Sudah Ditentukan tapi Harus Dijemput



    Jakarta –

    Jodoh termasuk bagian dari rezeki. Allah SWT telah menentukan jodoh bagi makhluk ciptaan-Nya, namun jodoh perlu dicari dan dijemput.

    Jodoh merupakan salah satu takdir Allah SWT yang telah tercatat dalam Lauhul Mahfuz. Meskipun demikian, diperlukan usaha untuk menjemputnya.

    Perkara jodoh yang harus dijemput dijelaskan oleh Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Sabtu (30/3/2024).


    “Rezeki apapun bentuknya, itu sudah tertakar karenanya dia tidak akan tertukar. Termasuk jodoh di dalamnya, jodoh artinya pasangan,” kata Habib Ja’far.

    Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa setiap orang sudah memiliki jodohnya masing-masing. Jodoh yang kemudian menjadi pasangan dalam ikatan pernikahan itu merupakan cerminan dari diri sendiri.

    “Setiap orang sudah memiliki pasangan yang pasangan itu dari dirinya sendiri sebagai satu kesatuan jiwa. Perlu kita sadari bahwa jodohmu itu seperti kamu yang kadang punya salah, punya khilaf, punya kebiasaan buruk, punya kekurangan, maka ia juga memiliki,” lanjut Habib Ja’far.

    Oleh karenanya, dalam kehidupan rumah tangga harus mengedepankan sikap dan sifat toleransi. Karena setiap pasangan harus saling melengkapi dan harus saling menutupi kekurangan.

    “Toleransi dalam hubungan perjodohan itu menjadi kunci,” tegas Habib Ja’far.

    Jodoh adalah hal yang pasti karena telah tertulis dalam lauhul mahfuz. Namun Habib Ja’far juga menyinggung tentang sebagian orang yang melajang hingga akhir hayatnya.

    Kenapa masih ada orang yang tidak bertemu jodohnya, bahkan hingga wafat. Atau dia menikah tapi cerai atau tidak menikah hingga wafat. Apakah berarti dia tidak memiliki jodoh?

    “Ketentuan tentang jodoh telah ditentukan oleh Allah SWT. Apakah jodoh itu kita jemput atau tidak, itu kembali kepada kita. Persis seperti Allah SWT berikan tangan kepada kita, apakah tangan ini akan digunakan, itu kembali lagi ke kita,” jelas Habib Ja’far.

    Menjemput jodoh menjadi bagian dari usaha setiap orang. Habib Ja’far mengingatkan jodoh harus dijemput, bukan hanya dinanti.

    “Mentang-mentang Allah SWT sudah menentukan jodoh kita, kemudian kita menanti doang. Enggak gitu. Jodoh sebagaimana rezeki yang harus dijemput,” tegas Habib Ja’far

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Jodoh Sudah Ditentukan tapi Harus Dijemput bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

    (dvs/lus)

    Jodoh Sudah Ditentukan tapi Harus Dijemput

    Sumber : www.detik.com

  • Ramadan Jadi Momen Meningkatkan Kecintaan terhadap Allah SWT

    Ramadan Jadi Momen Meningkatkan Kecintaan terhadap Allah SWT



    Jakarta –

    Selain disebut sebagai bulan suci, Ramadan juga dikatakan bulan cinta. Pada momen istimewa ini, umat Islam diajak untuk lebih mencintai sesamanya serta Tuhannya, Allah SWT.

    Saat berpuasa, tanpa disadari umat Islam menumbuhkan rasa kecintaan terhadap fakir miskin. Sebab, secara tidak langsung kita merasakan bagaimana menjadi mereka dengan berpuasa.

    Selain itu, Ramadan juga menjadi momen meningkatkan rasa cinta terhadap Allah SWT. Ketika berpuasa, umat Islam membersihkan diri dengan melakukan taubat dan memperbanyak ibadah.


    “Dengan demikian kita menambahkan rasa cinta antar sesama. Di samping itu juga cinta secara vertikal kita dengan Allah SWT,” kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Minggu (29/3/2024).

    Membayar zakat fitrah juga termasuk ke dalam bentuk rasa cinta terhadap Allah SWT. Begitu pun dengan menyayangi sesama makhluk hidup seperti binatang dan tumbuhan.

    “Sayangi binatang, sayangi tumbuh-tumbuhan, sayangi alam semesta. Karena kalau kita mencintai sang pencipta, cintai juga makhluknya,” tambah Prof Nasaruddin.

    Ia juga mengimbau agar umat Islam senantiasa selalu melihat ke bawah, bukan sebaliknya. Selalu mendongak ke atas dan melihat mereka yang diberi lebih tak akan ada habisnya.

    “Semoga bulan suci Ramadan ini menciptakan rasa cinta, rasa iba terhadap sesama sehingga dengan demikian kalau kita mencintai makhluk Allah SWT, otomatis sang penciptanya juga mencintai kita,” pungkasnya.

    detikKultum Nasaruddin Umar dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (dvs/dvs)

    Ramadan Jadi Momen Meningkatkan Kecintaan terhadap Allah SWT

    Sumber : www.detik.com

  • Tips Mendidik Anak sesuai Ajaran Islam

    Tips Mendidik Anak sesuai Ajaran Islam



    Jakarta –

    Setiap orang tua tentu ingin memiliki buah hati yang soleh dan soleha. Untuk mendapatkan anak yang demikian, tentu ada usaha yang harus dilakukan.

    Anak adalah anugerah bagi keluarga. Mendidik anak dengan cara yang baik merupakan tugas orang tua. Termasuk mendidik anak secara Islami.

    Habib Ja’far menjelaskan tips mendidik anak sesuai ajaran Islam. Semua ditayangkan dalam detikKultum detikcom, Minggu (31/3/2024).


    Keluarga adalah salah satu perhiasan terindah dalam hidup, bahkan harta yang paling berharga adalah keluarga. Hal ini menjadi sesuatu yang tercatat dalam Al-Qur’an.

    “Di dalam Al-Qur’an, tidak sedikit cerita tentang keluarga, bahkan ada surat yang bercerita tentang keluarga. Contohnya keluarga Imran, dalam surat Ali Imran. Kemudian surat Al-Kahfi yang menceritakan keluarga Ashabul Kahfi. Kemudian surat Luqman, bercerita tentang keluarga Luqman Al Hakim,” jelas Habib Ja’far.

    Adanya surat-surat dalam Al-Qur’an yang secara khusus membahas tentang keluarga menjadikan keluarga sebagai sesuatu yang penting dalam Islam.

    Dalam Islam, menjaga diri sendiri dan keluarga adalah hal yang paling penting dilakukan.

    “Menjaga umat, menjaga rakyat, dan sebagainya itu boleh dilakukan setelah menjaga keluargamu,” jelas Habib Ja’far.

    Sebagai bagian dari keluarga, menjaga anak juga menjadi hal yang sangat penting. Anak merupakan sesuatu yang terindah.

    “Dalam Al-Qur’an dikatakan, anak beserta harta itu adalah perhiasan bagi dunianya seorang ibu, seorang ayah,” kata Habib Ja’far.

    Dalam Surat Al-Furqan ayat 74, Allah SWT berfirman,

    وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًاā

    Artinya: Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

    “Mendidik anak menjadi sangat penting, saking pentingnya kata Nabi SAW, kalau Fatimah putriku, mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya,” jelas Habib Ja’far menyebutkan sebuah hadits.

    Mendidik anak dengan baik menjadi tanggung jawab orang tua.

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Tips Mendidik Anak sesuai Ajaran Islam bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

    (lus/lus)

    Tips Mendidik Anak sesuai Ajaran Islam

    Sumber : www.detik.com

  • Perbanyak Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

    Perbanyak Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan



    Jakarta –

    Kini, umat Islam telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Pada momen tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah.

    Dari Aisyah RA, ia berkata:

    “Rasulullah sangat bersungguh-sungguh beribadah pada 10 hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim)


    Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom menyampaikan bahwa sepuluh terakhir Ramadan menjadi inti dari bulan suci. Terlebih, pada sepuluh terakhir Ramadan Allah SWT menurunkan malam Lailatul Qadar bagi umat Nabi SAW.

    “Turunnya Lailatul Qadar itu justru kita diminta menanti-nanti pada sepuluh (malam) terakhir Ramadan khususnya itu malam-malam ganjil misalnya 21, 23, 25, 27, 29,” ujarnya dalam detikKultum yang tayang, Senin (1/4/2024).

    Malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang luar biasa yaitu dikatakan lebih baik dari seribu bulan. Keistimewaan itu hanya diberikan kepada umat Rasulullah SAW.

    “Kita (umat Rasulullah SAW) pendek-pendek umurnya tapi Lailatul Qadar lebih panjang daripada orang yang hidup 1000 tahun kan (umat nabi terdahulu). Nah inilah kesyukuran kita menghadapi kenyataan hidup menjadi umat Nabi Muhammad,” lanjut Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

    Meski demikian, jangan sampai ibadah-ibadah yang kita laksanakan justru ditujukan untuk malam Lailatul Qadar. Sebab, Ramadan dan Lailatul Qadar termasuk makhluk Allah SWT.

    Sebagai muslim yang taat, hendaknya amalan-amalan tersebut ditujukan kepada Allah SWT. Pastikan ibadah yang kita laksanakan ikhlas semata karena sang Khalik.

    “Lakukan semaksimal mungkin ibadah dalam bulan suci Ramadan lillahi ta’ala, Tuhan-lah yang punya hak untuk berikan yang terbaik buat kita,” pungkasnya.

    detikKultum Nasaruddin Umar dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (lus/lus)

    Perbanyak Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Habib Ja’far: Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

    detikKultum Habib Ja’far: Meneladani Akhlak Rasulullah SAW



    Jakarta –

    Setiap manusia diutus sebagai khalifah, dan setiap khalifah wajib menjaga akhlaknya. Akhlak yang baik dan mulia dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW merupakan Nabi sekaligus Rasul yang diutus Allah SWT untuk membawa ajaran Islam. Sebagai pribadi yang mulia, Rasulullah SAW memiliki akhlak yang baik dan agung.

    Akhlak mulia Rasulullah SAW telah dijelaskan dalam banyak dalil. Hal ini menjadi topik yang dibahas Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Senin (1/4/2024).


    Habib Ja’far menjelaskan alasan diutusnya Rasulullah SAW adalah salah satunya yakni untuk mengajak umat manusia menuju akhlak yang mulia.

    “Misi pertama dan utama diutusnya Nabi Muhammad adalah untuk mempertontonkan dan mengajak umat manusia kepada akhlak yang mulia,” kata Habib Ja’far.

    Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an melalui surah Al-Qalam ayat 4,

    وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

    Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

    Sebelum diutus menjadi Nabi dan Rasul, Rasulullah SAW telah dikenal sebagai sosok yang memiliki akhlak mulia.

    “Akhlak yang baik di masa lalu, Nabi SAW pertahankan. Akhlak yang kurang baik, Nabi SAW perbaiki dan akhlak yang buruk, Nabi SAW ubah menjadi akhlak yang baik,” lanjut Habib Ja’far.

    Saking mulianya akhlak Rasulullah, Allah SWT sampai memujinya sebagai pembawa akhlak yang agung. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21,

    لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

    Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

    “Akhlak yang agung bukan hanya untuk diketahui tapi juga dipelajari dan diteladani semaksimal mungkin,” tegas Habib Ja’far.

    Lebih lanjut, Habib Ja’far menjabarkan cara menjaga akhlak. Salah satunya adalah dengan sholat, sebagaimana termaktub dalam surah Al-‘Ankabut ayat 45,

    ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

    Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Selin sholat, ada banyak amalan lain yang bisa menjaga dan memperbaiki akhlak. Apa saja amalan itu?

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Meneladani Akhlak Rasulullah SAW bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

    (dvs/lus)

    detikKultum Habib Ja’far: Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

    Sumber : www.detik.com

  • Zakat Fitrah Itu Wajib, Jangan Terlewat

    Zakat Fitrah Itu Wajib, Jangan Terlewat



    Jakarta –

    Jelang penghujung Ramadan, umat Islam mulai menunaikan zakat fitrah. Amalan ini tergolong wajib bagi setiap muslim.

    Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, dikatakan zakat fitrah menjadi pembersih orang-orang yang berpuasa. Berikut bunyi haditsnya,

    “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dan untuk memberi makan orang miskin. Siapa yang membagikan zakat fitrah sebelum salat Id maka zakatnya itu diterima dan siapa yang membagikan zakat fitrah setelah salat Id maka itu termasuk sedekah biasa.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)


    Waktu yang diutamakan untuk membayar zakat fitrah yakni, setelah salat Subuh pada 1 Syawal sebelum salat Idul Fitri. Sementara itu, waktu diwajibkannya sejak terbenamnya matahari malam Idul Fitri.

    “Zakat fitrah itu wajib. Siapa yang wajib zakat fitrah? Semua orang yang berkecukupan memberi makan fakir miskin,” jelas Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Selasa (2/4/2024).

    Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, apabila seorang muslim lalai dalam menunaikan zakat fitrah padahal ia mampu maka tergolong melakukan pelanggaran berat. Hal ini menunjukkan seberapa pentingnya zakat fitrah bagi setiap muslim.

    Adapun, ketentuan membayar zakat fitrah bisa dilakukan selama khatib belum turun dari mimbar ketika ceramah Idul Fitri. Untuk itu, dianjurkan bagi para khatib untuk memanjangkan ceramah agar memberi kesempatan muslim yang belum membayar zakat fitrah.

    Selain dengan uang, zakat fitrah bisa berupa makanan pokok. Terkait hal ini menyesuaikan dengan makanan pokok di setiap daerah.

    “Kalau makanan kita nasi, ya zakat kita beras. Tapi, kalau makanan pokok kita itu jagung, kita keluarkan jagung,” kata Nasaruddin Umar menjelaskan.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Makna, Aturan, dan Ketentuan tentang Zakat Fitrah bisa ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/rah)

    Zakat Fitrah Itu Wajib, Jangan Terlewat

    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Iktikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan

    Keutamaan Iktikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan



    Jakarta –

    Ada amalan khusus yang dianjurkan dikerjakan pada sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni iktikaf. Iktikaf dikerjakan Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, dan sekaligus menjadi contoh agar dikerjakan oleh umat Islam.

    Dalam sebuah hadits riwayat Aisyah RA,

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشَرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. [رواه مسلم]


    Artinya: “Bahwa Nabi SAW melakukan iktikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan iktikaf setelah beliau wafat.” (HR Muslim)

    Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom yang tayang Selasa (2/4/2024) menjelaskan bahwa iktikaf merupakan salah satu sunnah di 10 hari terakhir Ramadan.

    “Apa itu iktikaf? Secara bahasa, maknanya berdiam diri, dan secara makna hukum artinya berdiam diri di dalam masjid,” kata Habib Ja’far.

    Lebih lanjut, Habib Ja’far menjelaskan tujuan dari iktikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Terdapat beberapa makna dan hikmah dari iktikaf. Habib Ja’far merinci beberapa maknanya.

    1. Iktikaf mengajarkan untuk menghargai sepi

    “Bahwa tidak ada istilah kesepian ataupun sedang sepi bagi orang beriman. Iktikaf mengajarkan bahwa kalau sudah ada Allah SWT, tidak akan ada istilah kesepian,” jelas Habib Ja’far.

    2. Iktikaf mengajarkan bahwa diam adalah sikap

    “Seringkali diam dianggap enggak bersikap, enggak punya pendirian, padahal diam itu sikap. Kita sering ketika dihina, difitnah, dighibah, seolah-olah yang kita lakukan adalah membalas. Padahal sesekali kita butuh diam. Terkadang diam adalah cara mengatasi masalah yang diperlukan,” lanjut Habib Ja’far.

    3. Iktikaf membiasakan diri beribadah

    “Iktikaf mengajarkan bahwa kita diciptakan untuk berada di masjid. Dalam semua tindak tanduk kita bernilai pahala dan semua tempat kita beraktivitas seperti masjid karena dijadikan tempat beribadah,” ujar Habib Ja’far.

    Selain itu, iktikaf juga bermakna mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW yakni berdiam di sepuluh hari terakhir Ramadan.

    “Iktikaf juga pada dasarnya adalah muhasabah diri, iktikaf jadi momentum untuk introspeksi diri,” sambung Habib Ja’far.

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Keutamaan Iktikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan menjelang waktu berbuka puasa pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!

    (dvs/lus)

    Keutamaan Iktikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan

    Sumber : www.detik.com

  • Jadikan Ramadan Momen Menyucikan Diri

    Jadikan Ramadan Momen Menyucikan Diri



    Jakarta –

    Ramadan menjadi momen yang tepat memohon ampunan kepada Allah SWT. Terlebih, pada bulan yang mulia ini segala kebaikan dilipatgandakan.

    Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Rabu (2/4/2024) mengatakan bahwa Ramadan menjadi waktu mustajab untuk berdoa, salah satunya jelang buka puasa.

    “Sangat bagus untuk melakukan introspeksi, serahkan diri kepada Allah SWT. Inilah hamba-Mu yang bergelimang dosa selama ini,” ujarnya.


    Allah SWT Maha Pengampun. Ampunan-Nya begitu luas dan tak bertepi, Dia mengampuni siapapun yang memohon ampun kepada-Nya.

    Dalam surah Az Zumar ayat 53, Allah SWT berfirman:

    ۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Menurut Nasaruddin Umar, Ramadan juga menjadi momen untuk menyucikan diri. Karenanya umat Islam dianjurkan memohon ampunan dan berserah diri kepada Allah SWT.

    “Maka itu bulan Ramadan kali ini kami akan bertekad berikrar untuk menyucikan diri kami ya Allah. Bantulah kami untuk menjalani kehidupan ini dengan normal dengan taat kepadamu,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal itu seraya berdoa.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Mengejar Kesucian di Bulan Ramadan dengan Kesadaran Lingkungan dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/lus)

    Jadikan Ramadan Momen Menyucikan Diri

    Sumber : www.detik.com

  • Pilih Waktu dan Tempat Mustajab agar Doa Terkabul

    Pilih Waktu dan Tempat Mustajab agar Doa Terkabul



    Jakarta –

    Sebagai umat Islam, sudah sepantasnya kita berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surah Gafir ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

    Artinya: “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”


    Meski demikian, umat Islam dianjurkan untuk memilih waktu dan tempat yang mustajab agar doa cepat terkabul. Hal ini turut disampaikan oleh Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Kamis (4/4/2024).

    “Cari tempat yang mustajabah, cari waktu juga yang mustajabah,” katanya.

    Imam Besar Masjid Istiqlal itu menuturkan, sebaiknya muslim mulai membiasakan diri untuk berdoa di tempat dan waktu yang mustajab. Sebab, banyak keutamaan yang terkandung salah satunya doa jadi cepat terkabul.

    Ia mencontohkan, berdoa di dalam masjid yang sudah berdiri ratusan tahun tentu berbeda khasiatnya dengan masjid yang baru dibangun.

    “Ratusan tahun masjid itu dipakai sujud, malaikatnya banyak. Tembus langitnya tuh gampang kita terobos (doanya) naik ke atas (langit),” lanjut Nasaruddin Umar.

    Waktu yang mustajab itu salah satunya saat Ramadan. Pada bulan yang mulia ini, Allah SWT bermurah hati mengabulkan doa-doa hamba-Nya.

    “Jadi jangan memandang enteng waktu dan tempat untuk berdoa,” ujarnya.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Waktu, Tempat dan Cara yang Mustajab untuk Berdoa dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/lus)

    Pilih Waktu dan Tempat Mustajab agar Doa Terkabul

    Sumber : www.detik.com