Author: admin

  • Fatwa MUI Tentang Salam Lintas Agama, Sudah Tepatkah?

    Fatwa MUI Tentang Salam Lintas Agama, Sudah Tepatkah?



    Jakarta –

    Pada 28-31 Mei 2024 yang lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Kegiatan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, dengan mengangkat tema “Fatwa: Panduan Keagamaan untuk Kemaslahatan Umat”. Kegiatan tersebut diikuti oleh 654 peserta dari berbagai unsur dalam MUI, ormas-ormas Islam, para peneliti dari berbagai universitas, dan lain sebagainya.

    Di antara hal yang diputuskan dalam pertemuan tersebut adalah larangan penggabungan ajaran berbagai agama, termasuk pengucapan salam dengan menyertakan salam berbagai agama. Hal demikian karena mengucapkan salam merupakan doa yang bersifat ibadah. Penggabungan salam lintas agama yang dilakukan sementara ini bukan merupakan toleransi yang dibenarkan. (MUI.OR.ID, 04/06/2024).

    Setelah rumusan dari hasil pertemuan itu di-share ke publik, MUI segera mendapatkan reaksi dari mereka dan menuding fatwa itu sebagai fatwa kontroversial. Laman kemenag.go.id menurunkan opini bertajuk “Menimbang Fatwa Larangan Salam Lintas Agama: antara Agama dan Harmoni” karya Zaenal Mustakim, Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, (Senin, 3 Juni 2024). Sebagian Ketua PBNU dan Komisi VIII DPR juga memberikan tanggapan yang kurang lebih sama.


    Sebenarnya, apa yang diputuskan oleh MUI pada pertemuan tersebut bukan hal yang baru sama sekali. Sebab pada tahun 2019 yang silam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur telah mengeluarkan tausiyah atau himbauan dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019, agar tidak melakukan salam lintas agama, karena dinilai syubhat yang dapat merusak kemurnian dari akidah umat Islam. Bahkan, persoalan ini adalah hal klise yang terjadi setiap saat, terutama pada momen-momen perayaan agama di luar Islam, seperti Natal dan semacamnya.

    Sebetulnya, para ulama melarang umat Islam mengucapkan salam keagamaan secara campur aduk itu dalam rangka menjaga kemurnian akidah umat Islam sendiri. Jadi di sini tak ada kaitannya dengan keharusan kita bertoleransi dan berbuat baik kepada siapa saja, termasuk mereka yang berbeda agama. Lalu kenapa ulama melarang menyampaikan salam lintas agama? Setidaknya hal ini karena dua faktor berikut:

    Pertama, karena isi dari salam versi Islam itu adalah doa, sedangkan doa bagian dari ibadah, bahkan dalam sebuah hadis ditegaskan doa adalah inti dari ibadah itu sendiri. Jadi tentu sangat maklum jika kita sebagai umat Islam memiliki ibadah-ibadah khas dengan tata cara yang khas pula, sehingga tidak boleh dicampur adukkan dengan unsur-unsur ibadah atau tradisi dari agama lain. Sebagai gantinya, dalam sebuah forum yang plural, kita bisa menyapa hadirin dengan salam yang netral, seperti “salam sejahtera untuk kita semua”, dan sebagainya.

    Kedua, sebagai umat Islam kita juga tidak diperkenankan menyampaikan salam versi agama lain kepada pemeluk agama itu, karena jelas akan terjadi berserupa (tasyabbuh) yang dilarang dalam syariat Islam. Tentu sudah maklum salam suatu agama merupakan ciri khas dari agama itu, dan umat Islam dilarang berserupa dengan melakukan berbagai hal yang menjadi ciri khas suatu agama, baik berupa perkataan, perbuatan, aksesoris, tradisi, dan sebagainya.

    Itulah sebabnya dalam masalah salam, Bagian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan agar kita menyampaikan salam kepada non-Muslim dengan salam versi Islam ataupun versi agama mereka. Karena menyampaikan salam versi Islam berarti mendoakan mereka dengan doa yang khusus umat Islam, dan ini tidak diperkenankan. Sementara menyampaikan salam dengan versi non-Muslim berarti berserupa dengan non-Muslim, dan ini juga tidak diperkenankan dalam agama.

    Ketika membahas tentang hadis-hadis yang berkenaan dengan salam antara Muslim dan non-Muslim, al-Imam al-Mawardi dalam al-Hawi al-Kabir (XIV/319) memberikan rincian sebagai berikut: Pertama, jika non-Muslim mendahului menyampaikan salam kepada kita, maka kita harus menjawabnya dengan “wa alaikas-salam” tanpa tambahan “warahmatullahi wabarakatuh” karena itu adalah doa khusus umat Islam, atau dijawab dengan “wa alaika” saja.

    Kedua, jika umat Islam yang memulai mengucapkan salam terlebih dahulu, maka boleh dengan ungkapan “Assalamualaika”, bukan dengan “Assalamu’alaikum” yang memang khas untuk umat Islam. Bahkan dalam sebuah hadis, kita dilarang memulai menyampaikan salam kepada non-Muslim, dan jika mereka yang memulai terlebih dahulu, maka kita dianjurkan menjawab “Wa alaikum” saja.

    Jadi sederhananya larangan-larangan atau aturan-aturan ini ditetapkan karena terkait dengan adanya unsur ibadah, doa, dan aspek-aspek keagamaan yang khas dalam Islam. Adapun jika sapaan kita tidak ada kaitannya dengan ciri khas keagamaan, maka tentu kita bebas-bebas saja menggunakannya, baik untuk memulai menyapa maupun dalam menjawabnya, apakah itu dengan sapaan “Hey”, “Halo”, “Apa kabar?”, dan sebagainya.

    Sementara untuk urusan bertoleransi dengan non-Muslim, maka umat Islam tidak perlu diajari soal itu semua, dan harmoni umat Islam bersama non-Muslim di Indonesia selama ratusan tahun adalah fakta yang tak terbantahkan untuk itu. Di dalam ajaran Islam, dalil-dalil toleransi tidak terhitung jumlahnya. Bahkan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sirah hidup beliau penuh dengan toleransi kepada non-Muslim, yang berarti umat Islam sepanjang masa harus senantiasa meneladani beliau.

    Moh. Achyat Ahmad

    Penulis adalah Direktur Annajah Center Sidogiri

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)

    Fatwa MUI Tentang Salam Lintas Agama, Sudah Tepatkah?

    Sumber : www.detik.com

  • Kusembah Engkau Karena Kucinta

    Kusembah Engkau Karena Kucinta



    Jakarta –

    Cerita cinta. Cerita yang tak pernah ditutup bukunya. Ia dinovelkan, ia dilagukan, ia disyairkan.

    Tak terhitung jumlah judul lagu yang selalu hits, jika bertemakan cinta. Begitu juga judul film, judul novel, termasuk judul-judul puisi. Bahkan, berbagai perusahaan jasa, termasuk layanan perbankan dan perhotelan. Meninggikan kalimat cinta. Kalimat umum sebagai isyarat pelayanan unggulan. Kalimat itu bisa berujar, “Kami melayani dengan cinta”.

    Cinta, menguatkan siapa saja. Kekuatan yang bahkan di luar logika. Cinta, sulit dinarasikan dengan kata-kata!


    Orang yang sedang dimabuk cinta, tampak baginya keindahan dalam segala. Jika yang dicinta seorang wanita atau pria, maka dari seluruh detailnya, semuanya tampak memesona. Dari rasa cinta, muncul ungkapan kekaguman, pujian, ingatan tak berkesudahan, kerinduan, dan perasaan berbunga-bunga ketika berjumpa.
    Bukankah setiap kita pernah merasakannya?

    Rabi’ah al-Adawiyah. Siang itu Rabi’ah al-Adawiyah berlari-lari di Kota Baghdad. Di tangan kanannya ada setimba air. Tangan kirinya memegang obor api. Melihat yang tak biasa masyarakat betanya-tanya, ada apa?

    Tak mereka duga, Rabi’ah menjawab ‘sekenanya’, “mau membakar surga dan menyiram neraka”.
    Andai saja kita di sana, boleh jadi kita menduga Rabi’ah berbicara tanpa logika?

    Rupanya Rabi’ah mengikuti kata hatinya. Agar siapa pun yang menyembahNya bukan mengharap surga, atau sekedar takut dari siksa neraka. Menurutnya, karena itu membuat umat Islam menyembahNya tanpa dasar cinta.

    Menyembah demi cinta, pasti tak kan pernah dibutakan atas keinginan surga, atau ketakutan akan neraka.

    Sangat mungkin suasana hati Rabi’ah sesuai dengan informasi dalam Zabur, kitab yang diwahyukan Allah swt. kepada Nabi Daud as. “Siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka. Apakah jika Aku tidak membuat surga dan neraka, maka Aku tidak berhak untuk disembah.”

    Cinta hamba, dalam lirik lagu. “Jika surga dan neraka tak pernah ada”.
    Lebih sepuluh tahun lalu. Lagu tentang cinta tulus hamba kepada Tuhannya menempati papan atas tangga lagu hits di Indonesia. Perhatikanlah sebagian liriknya:

    “Apakah kita semua
    Benar-benar tulus
    Menyembah padaNya
    Atau mungkin kita hanya
    Takut pada neraka
    Dan inginkan surga

    Jika surga dan neraka tak pernah ada

    Masihkan kau bersujud kepadaNya
    Jika surga dan neraka tak pernah ada
    Masihkah kau menyebut namaNya”.

    Di hati seorang hamba. “Sungguh tak peduli aku. Ke manakah yang Engkau rela. Yang kuberatkan jika aku masuk neraka, karena aku durhaka. Betapa nestapanya?

    Bukankah perintahMu adalah nikmat. Bukankah melanggarmu adalah kerugian yang fakta. Bagaimana bisa memilih celaka daripada bahagia, jika aku memiliki logika.

    Betapa maksiyat kepadaMu adalah pengkhianatan kasat mata. Atas sejati cintaMu kepadaku. Tidak tahu malu, jauh dari kata setia. Tak pantas menjadi manusia!

    Andai memilih taat daripada durhaka tak pernah ada pahalanya. Logika sehatku pasti memaksa untuk memilih taat kepadaMu. Betapa tidak, karena taat itu keuntungan yang sangatlah berbukti fakta.

    Maha Suci Engkau dari memerintahkan untuk celaka. Pastilah perintahMu untuk selamat dan bahagia. Maha Suci Engkau dari melarang untuk bahagia. Pastilah laranganMu untuk menghindar dari bahaya nyata. Celaka tak ada duanya.

    Lalu apa kepentinganku terhadap pahala. Kecuali itu hanya karena anugerah rahmatMu saja kepada siapa pun hambaMu. Duh, hanyalah Dia yang benar-benar haq untuk dicinta, dengan segala puja.

    Kalimat Maha Puja Menandai Puncaknya Cinta. Kalimat puja

    dan puji untuk hamba-hambaNya. Diuntai berjalin dalam kekaguman tak berhingga. Inikah dia?

    1. Bismillaahirrahmaanirraahiim
    Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
    2. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin
    Segala puji hanya bagi Engkau Tuhan seru sekalian alam
    3. Ar-Rahmaanirraahiim
    Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
    4. Maaliki yaumiddiin
    Maha Raja di hari pembalasan

    Nabi Daud as. menerima wahyu dalam Zabur, “Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasihi adalah orang yang beribadah bukan karena imbalan. Tapi semata, karena Aku berhak untuk disembah.”

    Duhai Allah. Hamba berdoa dan berdoa. Agar setiap masa yang sedang dan akan tiba. Tak ada secelah pun padanya. Kecuali hamba menyembahMu sedang hati selalu dimabuk cinta. Cinta hanya kepadaMu saja.
    Kabulkanlah Rabb!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)

    Kusembah Engkau Karena Kucinta

    Sumber : www.detik.com

  • AlQuran Adalah Cermin, alFurqan dan Shafa’ah

    AlQuran Adalah Cermin, alFurqan dan Shafa’ah



    Jakarta –

    Cermin, ‘pasti’ selalu bersama para kaum hawa. Sulit para mereka hidup tanpa cermin. Di kamar mandi, kamar rias, kamar tidur, dalam mobil, kaca spion. Bahkan kaca spion mobil orang yang belum tentu ia kenal, entah mobil siapa. Satu fungsi utamanya agar bisa tampil prima.

    Dalam bahasa Inggris cermin adalah mirror. Bahasa Arab cermin adalah mir-ah. Dan bahasa Arab nya kaum hawa adalah mar-ah. Dalam bahasa Arab, cermin dan wanita memiliki kesamaan huruf penyusunnya, mim, ra, alif, ta’.

    Cermin membuat seseorang bisa mengevaluasi dirinya secara mandiri. Tidak harus di depan umum. Bahkan cermin lebih baik dilihat di kala sendiri. Tampil menawan adalah harapan setiap insan. Lega rasanya bisa tampil percaya diri di mana pun.


    Jika raga kita butuh cermin untuk evaluasi. Maka jiwa pun butuh. Bahkan jiwa ini lebih butuh dievaluasi untuk bisa tampil menawan. Iya, karena jiwa yang menawan melahirkan raga yang menarik.

    Bertebaran informasi di media sosial yang menghubungkan kekuatan hafalan alQuran para penghafal dengan perilakunya. Perilaku taat mengokohkan hafalan, perilaku keliru memudarkannya. Jangankan keliru besar seperti ghibah dengan mulut. Bahkan baru terlintas ghibah (menduga orang lain buruk) dalam hati saja sudah bisa membuat penghafal alQuran luntur hafalannya, sedikit atau banyak.

    Jika dikaitkan dengan cermin, maka alQuran berfungsi mirip dengan cermin, yang segera akan memberitahu para penghafalnya jika wajah batinnya keliru. Ialah berbuat dosa.

    Tidak hanya bagi penghafal alQuran, bagi Muslim yang biasa membaca alQuran, kekeliruan atau dosa akan segera membuatnya merasa malas membacanya.

    Ibnu Abbas pernah berkata: “Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada keburukan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada hati, gulita di alam kubur, dan kelemahan pada badan (malas membaca alQuran), kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.”

    AlQuran sebagai cermin jiwa mengevaluasi wajah batin. Demi peran alQuran yang demikian itu, maka alQuran menjadi petunjuk, penerang agar pembacanya tidak keliru jalan. Gelapnya keadaan membuat siapa pun kesulitan memilih, yang mana pisau yang mana penggaris. Bahkan kegelapan yang sangat, menyebakan orang tidak hanya kesulitan memilih, bergerak pun sulit.

    Fungsi alQuran sebagai nur, penerang membuat orang mudah memilah mana yang manfaat dan mana yang membahayakan. Kemampuan demikian adalah kemampuan cerdas untuk tepat memilih mana yang benar, mana mana yang keliru.

    Kemampuan cerdas alQuran agar si pembaca mampu membedakan yang benar dan yang keliru dengan jelas adalah fungsi alQuran sebagai alFurqan. Pembeda dengan jelas mana yang diperlukan dan mana yang membahayakan.

    Kemampuan ini antara lain penting bagi para hakim. Pada waktu kesulitan memutuskan kasus hukum karena berbagai keadaan.

    Pada saat Nabi Daud as. menjadi raja, datang dua perempuan yang sedang berperkara. Satu orang bayi diakui oleh dua orang ibu. Masing-masing tidak mau mengalah. ”Itu adalah bayiku, seorang ibu selalu tahu dan mengenal bayinya,” ujar perempuan muda.
    ”Tidak! Ini bayiku. Bayimu telah tewas dimakan serigala,” ujar yang lain.

    Nabi Daud pun kesulitan memutuskan. Hampir saja Nabi Daud as. percaya bahwa Ibu yang kedua adalah orang tua asli bayi itu. Nabi Sulaiman as. putra beliau yang masih sangat belia mencoba membantu sang ayah. ”Ambilkan aku pedang untuk membelah dua bayi ini untuk kalian berdua,” ujar Sulaiman.

    Sontak perempuan muda berteriak, ”Tidak jangan, tolong jangan lakukan itu. Kau akan membunuhnya. Oh rajaku, berikan saja bayi itu padanya,” teriak sang ibu muda dengan deraian air mata.

    Teriakan tersebut mengantar Nabi Sulaiman mengerti bahwa pemilik bayi sebenarnya adalah Ibu muda itu.

    Nabi Daud as. adalah seorang raja yang juga hakim agung. Masih kesulitan memutuskan perkara yang pelik, samar, dan tidak bisa diselesaikan hanya berdasar perasaan dan hasil rekayasa perdebatan.

    Inilah contoh kasus di bidang hukum. Kasus ini memerlukan kecerdasan dan ketelitian yang tinggi, agar hakim mampu membedakan dengan tegas mana yang ibu asli, mana yang sekedar mengaku-ngaku.

    Kebijakan metode Sulaiman as. memintas jalan adil. Itulah makna furqan. Memisah mana yang benar dan mana yang keliru betapa pun tipisnya perbedaan.

    Bagi dosen, alFurqan adalah kemampuan untuk menuntun mahasiswa kepada obyektifitas ilmu. Bagi para ibu-ibu yang sedang bereblanja di mall, adalah kemampuan mudah menentukan pilihan baju kesayangan. Sehingga para suami yang mengantarnya bisa senang, karena baju lekas terbeli, bisa segera pulang. Bagi para remaja, mudah memilih pasangan yang ‘pasti’ membahagiakan.

    AlQuran sebagai alFurqan pasti sangat diperlukan para mahasiswa terutama untuk menggapai nilai tinggi dalam evaluasi ujian.
    Pernah ketika masih di Jerman, pak Habibie merasa kewalahan mengejar prestasi kawannya yang keturunan Yahudi. Laki dan perempuan. Mereka selalu berada di peringkat atas. Habibie ingin sekali menempati prestasi puncak.
    Lalu Habibie dengan rasa kepo bertanya,”Dengan cara apa kalian belajar sehingga sulit bagi saya untuk menduduki posisi kalian?”
    Mereka berdua menjawab singkat,”kami membaca alQuran”.

    Jawaban mereka seolah menampar wajah Habibie. Bagaimana tidak, bukankah alQuran merupakan kitab suci Muslim. Mengapa teman Yahudi yang justru memilihnya sebagai jalan menuju puncak? Serentak dia mencontoh laku mereka itu. Terbukti setelah ia membaca alQuran, dia benar-benar menggapai puncak teratas prestasi mahasiswa, menggeser dua orang kawan Yahudinya.

    Keunggulan Habibie di peringkat tertinggi ini, membawanya pada prestasi fenomenal. Dia mampu mengatasi masalah retaknya ekor pesawat Boeing ketika naik pada ketinggian tertentu. Belakangan, atas keberhasilannya itu ia sangat terkenal dengan sebutan Mr. Crack, berkat alQuran.

    Itulah sekelumit syafa’ah alQuran!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)

    AlQuran Adalah Cermin, alFurqan dan Shafa’ah

    Sumber : www.detik.com

  • Rahasia 100.000 Pahala di Masjidil Haram

    Rahasia 100.000 Pahala di Masjidil Haram



    Jakarta –

    Salat itu ibadah unggulan. Begitu tinggi maqamnya, hingga banyak ibadah lain “sepertinya” bersifat derivatif dari salat. Nyaris semua kegiatan harian kita, ada “penawarnya” lewat salat. Selain salat sunah rawatib, ada banyak ibadah maknawiyah yang menggandeng salat.

    Contoh; wudhu ada salatnya, hajat ada salatnya, mohon petunjuk ada salatnya, safar ada salatnya. Ada salat sunah ihram, salat tawaf, minta hujan, salat gerhana, salat taubat, dan salat lainnya.

    Bahkan, ada salat yang tidak bergantung pada momentum apa pun. Kapan saja (selain waktu terlarang) dan di mana saja, kita bisa langsung salat. Namanya salat mutlaq.


    Dus, salat adalah fasilitas paling formal yang didisain oleh agama agar umat dapat setiap saat berasyik masyuk dengan Tuhan. Konon, salat pula yang pertama-tama akan dihitung di Yaumil Hisab sebelum jenis ibadah lain. Jika salatnya baik, ibadah lain diyakini akan beroleh “syafaat” dari salat.

    Nah, salat juga merupakan salah satu peluang investasi terbesar kita. Ia menampung keuntungan sangat besar. Keuntungan berupa pahala. Pahala adalah manfaat dari perbuatan yang bisa dipetik. Ibarat perusahaan, agama Islam menyediakan dua formula untuk menghitung benefit.

    Ia menyediakan pahala bagi yang amal ibadahnya baik dan menyiapkan dosa bagi yang sebaliknya. Pahala berupa manfaat, sedang dosa memberinya mudarat. Inilah reward dan punishment.

    Pahala dan dosa berimplikasi pada wujudnya manfaat dan mudarat bagi kita. Bukan bagi Allah. Setiap amar-Nya akan mendatangkan manfaat dan tiap nahyun–larangan-Nya, jadi penyebab kemudaratan bagi kita.

    Maka, siapa yang salatnya baik, memenuhi rukun, syarat wajib, syarat sah dan syarat diterimanya, maka ia akan beroleh manfaat, yaitu selalu ingat Allah dan jauh dari mungkar serta fakhsya’. Yang lalai akan beroleh sebaliknya; lupa kepada Allah dan diancam dengan kenistaan hidup.

    Meditasi Energi

    Kini, mari mencoba menyimak “dalil” alam semesta lewat postulat fisika. Dengan rumus ini, kita berharap dapat memandang salat dari sisi lain. Yaitu salat sebagai sebuah meditasi energi. Kenapa disebut meditasi, karena salat yang “benar” akan meniscayakan suasana khusyu’.

    Persis meditasi. Khusyu’ (dalam salat) dan meditasi adalah safar hati. Kian sublim hati seseorang, akan kian jernih hatinya. Jika mencapai kejernihan tertentu, hati akan mampu beresonansi.

    “Dalil” lain dari ilmu pengetahuan alam menyebutkan bahwa jika sebuah benda mengandung listrik–dan begitu juga tubuh manusia, bergerak-gerak dengan cara berputar, dalam waktu tertentu akan bisa memproduksi energi.

    Dan kaifiyat salat terdiri atas gerakan berputar yang dimaksud. Takbiratul ihram adalah gerakan tangan dari pinggang hingga telinga. Ia bergerak 180 derajat. Rukuk juga gerakan berputar 90 derajat. I’tidal ke sujud bergerak 180 derajat. Dan sujud ke duduk juga gerakan 90 derajat.

    Lebih dari itu, salat adalah kegiatan yang tidak pernah berhenti hingga Hari Kiamat. Siang ini salat duhur di Makkah, semenit lalu duhur yang sama di tempat lain. 9 jam lalu duhur itu juga di Jakarta. 10 jam sebelumnya di Bali. Sejam lalu di Papua.

    Demikianlah sepanjang 24 jam, duhur berputar berganti asar, lalu salat maghrib, lalu isya, dan akhirnya subuh. Kondisi ini akan terus berlanjut, sebab matahari tak pernah berhenti mengitari bumi. Miliaran orang melakukan salat.

    “Waktu” bertambah padat dan tebal jika banyak orang melengkapinya dengan salat sunnah. Kini kita dapat membayangkan, betapa telah terjadi ketegangan medan elektromagnetik pada satu titik.

    Di mana ‘kah titik itu? Di ka’bah. Mengapa? Sebab semua gerakan salat mengarah pada satu titik, yaitu ka’bah. Rumah Tuhan itu membara karena menjelma konduktor raksasa. Titik itu menjadi kiblat hati dari miliaran manusia.

    Dalam satu waktu, miliaran hati berkirim resonansi cahaya. Sebab, hati yang yang menampung doa, ayat-ayat Alquran, selawat, wirid, dzikir, bacaan talbiyah dan bersatu dalam susunan kalimah tayyibah yang sakral, akan memunculkan cahaya/nur.

    Allah juga menyebut Alquran sebagai “nuron mubina”–cahaya yang nyata. Nur itu adanya di hati yang lembut. Jika sampai pada kejernihan tertentu, hati akan menularkan cahaya ke sekitar. Sebab, hati yang yang lembut, mengandung frekuensi tinggi dan amplitudo rendah.

    Dari mana rumusnya? Saat mengisi pengajian di kantor daerah kerja (daker) Makkah tempo hari, konsultan ibadah di PPIH Arab Saudi, KH Abdul Moqsith Ghazali berkisah soal Nabi Ibrahim.

    Katanya, sangat bisa jadi tempat “ngaji” itu adalah jalan-jalan yang dulu pernah dilalui Nabi Ibrahim As. Dan Ibrahim As dikonstatasi Allah sebagai nabi berhati jernih dan lembut. “Inna Ibraahima La’awwaahun haliim–Sungguh (Nabi) Ibrahim itu lembut hati dan penyantun.”

    Maka, kata Kiai Moqsith, salat di tanah suci (di mana pun di Makkah) berarti salat di Tanah Haram. Salat di tanah haram juga berarti salat di Masjidil Haram. Salat di Masjidil Haram berarti salat di sekitar ka’bah. Sebuah locus yang menapaktilasi jejak Ibrahim, Ismail, Siti Sarah.

    Disinari Multazam, hijir dan maqam, diselimuti jejak spiritual jutaan orang tawaf berputar, miliaran kaum muslimin salat di seluruh punggung bumi, maka miliaran hati itu berkirim cahaya ke satu titik, yakni ka’bah. Dan, terbentuklah Gelombang Cahaya!

    Cahaya itu sudah tertanam dalam waktu sangat panjang, puluhan ribu tahun lamanya. Cahaya itu membilas hati jemaah haji, pelaku salat, jemaah tawaf. Jiwa dan hati yang lembut dan jernih, akan berkonsekuensi pada terciptanya batin yang tenang.

    Cahaya itu akan mengantarkan bisikan jiwa, suara batin, dan munajat menuju Robbil Izzati. Secepat cahaya. Secepat 300.000 km perdetik. Itulah batas kecepatan cahaya. Kecepatan tercepat di alam semesta ini. Mengalahi kecepatan suara.

    100.000 Pahala

    Doa yang tiba cepat. Super ekspres. Secepat kilat. Tahu-tahu sudah di tangan malaikat. Tahu-tahu malaikat sudah menyerahkannya kepada Tuhan YME.

    Jika Baginda Rasul diriwayatkan pernah bersabda bahwa salat di Masjidil Haram akan beroleh pahala berkelipatan 100.000 kali, itu amat ma’qul alias masuk akal. Bahkan, kita bisa meyakini itu cara Nabi menjelaskan betapa besar nilai dan derajatnya sehingga beliau sampai pada angka 100.000. Amboooi!!!

    Seratus ribu kali lipat pahala adalah 100.000 lipat manfaat. Manfaat sebagai akibat dari pahala salat. Manfaat itu berupa kesempatan “ingat Allah” selama 100.000 kali dalam sekali salat. Dan salat kita adalah 5 kali sehari semalam plus salat sunnah rawatib dan salat-salat sunnah pelengkap lainnya.

    Maka, siapa gerangan yang tidak merasa beruntung ingat dan diingat Allah sepanjang usia di dunia menuju akhiratnya? Ia akan dijaga agar terhindar dari munkar-fakhsya’.

    100.000; deretan angka yang tak akan mampu dilampaui ukuran usia manusia mana pun!!!

    Ishaq Zubaedi Raqib

    Petugas PPIH Arab Saudi sublayanan MCH Daker Makkah Al Mukarramah

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis

    (erd/erd)

    Rahasia 100.000 Pahala di Masjidil Haram

    Sumber : www.detik.com

  • Saatnya Memperbarui Fikih Haji

    Saatnya Memperbarui Fikih Haji


    Jakarta –

    Saya memulai mendiskusikan tema di atas dengan sebuah “disclaimer” bahwa saya bukan ahli fikih. Saya pernah belajar fikih di madrasah, tetapi tidak membuat saya menjadi “faqih”. Saya tidak mengambil jurusan hukum Islam dan tidak pernah duduk khusus mengaji kitab-kitab fikih.

    Ketertarikan saya pada tema di atas dasarnya adalah pengalaman saya menyelami proses dan dinamika penyelenggaraan haji pada tahun 2024 dengan menjadi anggota Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) penyelenggaraan haji yang dibentuk oleh Kementerian Agama. Dengan menjadi Tim Monev, saya memiliki kesempatan berharga untuk menyelami ragam dinamika haji di lapangan.

    Jadi diskusi tema di atas dipicu oleh kesadaran empirik saya sebagai petugas haji, bukan sebagai “specialist” dalam dunia fikih. Karenanya saya hanya ingin mencermati tataran sosiologisnya, bukan membedah fikih haji secara substantif.


    Setelah saya menyerap informasi dari berbagai pihak yang terkait dengan haji, saya mengajukan sebuah klaim bahwa penyelenggaraan haji tahun ini sangat baik dan diyakini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, atau lebih ekstremnya, yang terbaik sepanjang sejarah penyelenggaraan haji.

    “Murur” untuk “Hifzh al-Nafs”

    Salah satu isu penting yang menjadi pendorong bagi suksesnya pelaksanaan haji tahun ini adalah keputusan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag), untuk memaksimalkan ikhtiar bagi keselamatan jiwa para jemaah.

    Yang melatari ikhtiar kuat pemerintah adalah kesadaran bahwa untuk mendapatkan “ruang gerak” yang lebar bagi jemaah di Tanah Suci adalah sebuah kemustahilan. Misalnya, untuk mendapatkan ruang yang lebih di Muzdalifah sebagai tempat “mabit” tidak mungkin karena Muzdalifah adalah tempat yang kondisinya yang tidak bisa lagi diperluas.

    Demikian pula Mina sebagai tempat mabit malam-malam “tasyriq,” juga tidak mungkin lagi diperluas. Dibuatnya kawasan baru, “Mina Jadid” yang masih menjadi bagian dari kawasan Muzdalifah tidak bisa menyelesaikan tumpukan jemaah dari seluruh dunia yang akan menempuh proses mabit.

    Atas kesadaran itu, Kementerian Agama mengambil kebijakan bahwa hal yang perlu dilonggarkan untuk mengurai sesaknya Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) bukan dari ruang-ruang fisiknya tetapi dilonggarkannya pemahaman fikih yang terkait dengan proses haji di Armuzna. Pelonggaran ini tujuannya adalah untuk mewujudkan cita tertinggi dari hadirnya hukum Islam, yakni “hifzh al-nafs” (terjaganya jiwa).

    Yang pertama ditelisik adalah titik krusial terpenting dari Armuzna, yaitu mabit di Muzdalifah, karena tempat itu di samping sempit, waktunya juga sangat terbatas. Pengalaman tahun sebelumnya juga memberi pelajaran penting bahwa Muzdalifah adalah titik yang sangat rawan bagi para jemaah.

    Atas dasar itu, penyelenggara haji mengambil kebijakan “murur” bagi jemaah yang memiliki uzur atau halangan tertentu (lansia, resiko tinggi, dan disabilitas). Murur adalah melintaskan kendaraan para jemaah di Muzdalifah menuju ke Mina bagi yang sudah terdata memiliki uzur. Jumlahnya sangat signifikan untuk melonggarkan ruang jemaah yang mengambil mabit secara normal.

    Tentu keputusan murur ini didasari oleh kajian fikih yang sangat serius dari ulama-ulama otoritatif kita. Terurainya jemaah secara lancar dari Muzdalifah menuju ke Mina faktor penentunya adalah kebijakan murur.

    Formalisasi “Tanazul”

    Pertanyaannya adalah bagaimana dengan Mina, karena semua jemaah, baik yang mabit secara normal maupun murur tentu semua menuju ke Mina.

    Mina adalah kawasan yang tidak cukup luas meskipun sudah termasuk Mina Jadid. Berbeda dengan kawasan Arafah yang selama ini masih relatif bisa menampung seluruh jemaah, dan masih bisa terkondisikan dengan baik. Saya berkeyakinan bahwa kesesakan yang terjadi di Mina, termasuk keterbatasan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang dikeluhkan jemaah, faktornya karena keterbatasan ruang.

    Dari situasi ini, saya melihat bahwa penyelenggara perlu berikhtiar kuat untuk memberlakukan sebuah langkah solutif penguraian jemaah yang didasari oleh pelonggaran tafsiran fikih. Sekali lagi tujuannya adalah untuk keselamatan jiwa jemaah.

    Salah satu yang telah diinisiasi oleh penyelenggara haji–dan saya duga memberi pengaruh terhadap berkurangnya kesesakan di tenda Mina–adalah banyaknya jemaah yang mengambil “tanazul” setelah dari Muzdalifah. Tanazul di sini bermakna jemaah tidak tinggal di tenda Mina, namun pulang-pergi dari hotel mereka untuk melakukan lontaran di Jamarat. Namun, aktivitas tanazul ini masih bersifat imbauan dan dilakukan secara mandiri oleh para jemaah yang memiliki kesanggupan.

    Saya berasumsi bahwa bila murur bisa dijadikan dasar bagi kelancaran pengaturan jemaah, maka sebaiknya tanazul juga perlu dipertimbangkan untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan haji pada tahun depan. Adapun yang mengiringi diskusi tentang tanazul ini adalah dua hal, yaitu tanazul bagi yang sehat seperti gambaran di atas, dan tanazul bagi yang memiliki uzur.

    Apakah diskusi bisa dikembangkan pada bisa atau tidaknya jemaah yang mengambil murur, langsung saja di-tanazul-kan. Artinya, mereka dilewatkan di Mina dan tidak perlu lagi tinggal di sana karena mereka memiliki uzur. Dan ketika mereka ingin melakukan lontaran, mereka bisa diwakilkan (badal). Karena menempatkan mereka di Mina untuk ikut melontar, risikonya juga cukup tinggi.

    Diskusi berikutnya adalah bila tanazul dijadikan kebijakan, perlu diikuti oleh kebijakan lainnya, bagaimana menentukan syarat mabit bagi orang sehat yang mengambil tanazul, dan berapa lama mereka berdiam di kawasan Mina? Bisakah mereka melontar jumrah dengan rentetan waktu yang saling berdekatan dengan pertimbangan pergantian waktu untuk memudahkan pergerakan mereka?

    Interpretasi Kreatif

    Hal yang bersifat fiqhiyah di atas sebenarnya sudah dipraktikkan oleh beberapa jemaah sebagai bagian dari langkah nyata mereka untuk meminimalisasi potensi kerawanan. Namun untuk bisa menjadi panduan bagi jemaah ke depan, perlu ada kebijakan resmi dari penyelenggara yang didasari oleh pandangan fikih dari ulama seperti yang dilakukan terhadap lahirnya kebijakan murur.

    Saya optimis, bahwa kesuksesan pelaksanaan haji tahun ini yang didasari pada interpretasi kreatif tentang fikih haji, akan semakin memotivasi penyelenggara lebih memaksimalkan celah untuk menemukan interpretasi fikih yang memastikan bahwa “hifzh al-nafs” adalah segalanya. Saya meyakini, dua hal yang saling menopang untuk hadirnya kebijakan baru berhaji dari interpretasi fikih: keseriusan pemerintah dan kepatuhan para jemaah.

    —

    *) Hamdan Juhannis
    Anggota Tim Monev Haji 2024, Rektor UIN Alauddin Makassar

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (rah/rah)

    Saatnya Memperbarui Fikih Haji

    Sumber : www.detik.com

  • Kusembah Engkau Karena Kucinta

    Pasti Ditolong Asal Mau Menolong



    Jakarta –

    Malam masih menyelimuti siang, matahari masih senyap di peraduan. Seorang ibu sepuh mengirim WA audio kepada adiknya yang dirasa memiliki kedudukan nyaman di suatu instansi. Ia bercerita tentang pejabat yang menjadi atasan dari anaknya. Putra pejabat itu hendak masuk suatu institusi pendidikan tertentu. Pendidikan dokter spesialis dalam bidang yang banyak diminati.

    “Kalau seandainya harus menghadap, ia akan menghadap kepadamu”. Itu sekelumit permohonan yang dimajukannya di suatu akhir malam.

    Beraneka bentuk pengharapan dan permohonan model seperti ini. Entah di negeri ini atau entah di mana saja. Boleh jadi menggunakan kalimat yang sedikit berbeda. Tapi maksudnya sama, ingin ditolong.


    Sejak jaman dahulu sudah beruntun kisah tentang bagaimana pertolongan kepada seseorang menghadirkan pertolongan serupa kepada si penolong.

    Di masa bepergian jauh masih lebih umum menggunakan kapal laut daripada pesawat udara. Pada masa itu, beberapa Kyai yang menerima banyak santri di pondoknya, memberangkatkan putra penerus mereka ke Arab Saudi, Yaman, maupun Mesir.

    Sementara putra-putra para Kyai itu mengikuti pendidikan agama di negara-negara teluk, sementara orang tua mereka berada di Indonesia. Sering terjadi uang kiriman belanja bulanan, baik untuk biaya pendidikan maupun biaya belanja harian mengalami kendala. Entah karena cuaca yang bertepatan dengan banyak angin kencang, atau orang yang akan dititipi uang belum ada yang bepergian ke arah negara tujuan.

    Lalu apa yang mereka para Kyai itu lakukan. Mereka sengaja memberikan santunan kepada para santri di pondoknya. Dengan keyakinan bahwa apa yang mereka perbuat akan dibalas Tuhan.

    Lalu apa yang mereka ceritakan selanjutnya. Entah dari mana datangnya. Entah siapa yang berkenan membantu. Tapi yang jelas para putra beliau di negeri nun jauh di sana ditolong orang (baca ditolong Tuhan) melalui jalan yang bukan perlu logika normal.

    Kisah di atas sebenarnya terjadi berulang, acak dan tersebar bahkan di seluruh dunia. Sering orang memberikan stigma kebetulan. Padahal, ada beberapa periset yang membuktikan bahwa hal itu terjadi melalui proses. Bukan sekedar kebetulan.

    Tentang hal itu, ada dua orang periset terkenal (Stephen Post dan Jill Neimark) yang menemukan jawaban dari hal-hal yang sering diberi stigma kebetulan di atas. Hasil temuan mereka dinarasikan dalam bentuk buku. Buku tersebut sangat terkenal. Buku itu menjadi best seller internastional. Ia menjadi sumber inspirasi sangat baik selama beberapa tahun bahkan sampai sekarang. Buku itu berjudul “Why Good Things Happen to Good People”. Mengapa hal-hal baik selalu mengejar orang-orang yang baik.

    Dalam buku itu dipaparkan mengenai fakta bahwa mereka yang hidup panjang umur. Hidup lebih bahagia. Hidup lebih sehat. Hidup berkah. Mereka meninggal setelah sempurna melakukan pengabdian. Mereka hanya memerlukan satu modal saja. Apakah satu modal utama itu? Ialah hidup dengan cara suka menolong!

    Dr. Stephen G. Post dan Jill Neimark telah melakukan riset dengan mengumpulkan penelitian di universitas-universitas terbaik di negara Amerika Serikat untuk membuktikan manfaat hidup yang meningkat dari perilaku suka menolong. Penelitian menarik ini menunjukkan bahwa ketika siapa pun kita, yang menyiapkan diri untuk selalu memberikan pertolongan. Apalagi dilakukan sejak muda. Maka hidup akan serasa mudah. Gampang puas, gampang bahagia, segar fisiknya, berbeda secara signifikans daripada hidupnya orang yang enggan memberikan pertolongan.

    Orang-orang yang suka menolong orang lain, diri mereka menjadi panjang umur. Tidak mudah depresi. Kesehatan fisik menjadi prima. Kesuksesan mudah diraih.

    Post dan Niemark melakukan riset ini selama 50 tahun. Risetnya menemukan bukti bahwa orang-orang yang biasa memberikan pertolongan, apalagi sudah dimulai sejak SMA, mereka memiliki kesehatan fisik dan mental prima sepanjang hidup mereka. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang tua yang menyediakan diri untuk menolong orang lain, mereka panjang umur.

    Perilaku suka menolong orang lain telah menunjukkan dukungan kualitas kesehatan kepada para penolong. Hasil ini lebih tampak nyata pada para penderita penyakit kronis, termasuk HIV AIDS, multipel sclerosis, dan penderita penyakit jantung. Riset juga menunjukkan bahwa orang-orang dari semua usia yang senang menolong orang lain secara teratur, bahkan dalam cara-cara kecil, mereka memiliki kehidupan paling bahagia.

    Nabi Muhammad SAW memberikan konsep dasar tentang bagaimana cara, agar seseorang bisa memperoleh pertolongan dengan mudah. Ialah menolong orang lain.
    Sabda beliau, “Wallahu fii aunil abdi maakaanal abdu fii auni akhiihi” (Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya).

    Bahkan di dalam Islam, orang yang enggan menolong orang lain masuk dalam kriteria orang yang tidak pantas menyebut diri sebagai orang yang beragama (QS al-Ma’uun 107:7). Mereka yang termasuk pendusta agama adalah mereka yang enggan melakukan pertolongan kepada orang lain, walau hanya sekedar menolong hal-hal yang remeh-temeh.

    Pertolongan yang pasti bisa hanyalah pertolongan Tuhan. Dan Tuhan berjanji akan menolong siapa pun yang suka memberikan pertolongan kepada orang lain.

    Mulai sekarang hayo siapkan diri untuk senantiasa siap menolong siapa pun di jalan Tuhan. Setidaknya agar hidup panjang umur, sulit sakit, mudah sukses, hidup bahagia sejahtera! Itu setidaknya sudah dibuktikan melalui riset ilmiah, di samping fakta empiris yang jumlahnya sulit dihitung.

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)

    Kusembah Engkau Karena Kucinta

    Sumber : www.detik.com

  • Masuklah Surga, Mengapa Enggan?

    Masuklah Surga, Mengapa Enggan?



    Jakarta –

    Surga biasa dibayangkan baru bisa dinikmati setelah mati. Nanti jauh di alam sana. Benarkah?

    Boleh jadi sebagian orang, atau bahkan sebagian besar orang melihat surga dari sisi pandang seperti itu. Apa sebenarnya hakikat surga? Bukankah surga suatu perlambang kebahagiaan sempurna? Di surga orang tidak perlu gaduh-gelisah, semua kebutuhan sempurna terpenuhi. Surga menyiratkan gambaran teduh, sejuk, semilir angin, kicau burung, gemericik suara air , pepohonan rindang, taman-taman bunga dan para pelayan yang santun dan good looking.

    Ada dipan-dipan sofa berkasur empuk, berbantal tebal, tempat duduk, tempat bertelekan dan bersandar. Ruang pertemuan dilapisi permadani tebal. Mereka yang di dalam surga memakai pakaian yang serba mewah serta perhiasan serba mahal. Di hadapan mereka ada minuman yang tidak pernah memabukkan. Termuat dalam gelas-gelas indah yang harganya sulit dirupiahkan. Tersedia berbagai makanan yang lezat dan tidak pernah membuat kekenyangan.


    Duduk di sana dalam perjumpaan yang saling berhadapan. Beradu pandang membicarakan percakapan yang berisikan pujian, syukur dan kepuasan. Ridlo atas setiap keputusan Tuhan. Sungguh suasana kehidupan yang setiap orang pasti inginkan.

    Apakah yang demikian hanya di surga akhirat sana? Tidakkah kebahagiaan itu justru dibutuhkan sejak di dunia ini? Sejatinya surga yang sebenarnya memang menunggu pergantian alam. Setelah alam dunia ini berganti dengan alam akhirat nanti. Tapi itu surga akhirat.

    Namun, bukankah hakikat surga itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan kebahagiaan fatamorgana akibat psikotropika dan yang sejenisnya. Gambaran surga dunia mestinya mendekati gambaran surga sesungguhnya di akhirat nanti. Ialah kehidupan yang menyenangkan. Sukses gampang diraih. Kebutuhan serba tersedia secara lapang. Hidup tenang dan selalu senang. Kebahagiaan yang sungguh menjadi idaman setiap insan.

    Kalau begitu mengapa harus nanti menunggu di akhirat, bukankah kebahagiaan itu dibutuhkan di dunia ini. Sebelum kebahagiaan yang kekal nanti di akhirat sana?

    Lalu bagaimana caranya supaya seorang mampu memperoleh kehidupan surga di dunia ini? Seberapa mahal, seberapa sulit?

    Semestinya tidak mahal, juga tidak sulit jika mau. Kecuali enggan. Lalu bagaimana caranya? Gampang! Sempurnakan bakti siapa pun kepada orang tuanya. Kepada mereka berdua Ayah-Ibu kalau mereka masih lengkap. Atau salah satunya jika satunya sudah wafat.

    Bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua itu? Gampang, lakukan kebalikan dari sikap durhaka, itulah sikap bakti kepada orang tua!

    Bertumpuk fakta empiris menyediakan bukti nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Siapa pun di antara sejumlah saudara seayah-seibu yang paling bagus bakti kepada orang tuanya, dialah yang paling nyaman hidupnya. Kalau dia masih pelajar atau mahasiswa, maka prestasi di sekolahnya bagus. Mudah menangkap materi kuliah, gampang lulus. Kalau dia pebisnis. Maka bisnisnya lancar, untung berlipat, usahanya melesat sesuai dengan kualitas baktinya kepada orang tuanya. Beberapa perusahaan nomor satu di Indonesia dikendalikan oleh orang-orang yang bakti kepada orang tuanya sulit ditandingi.

    Akan tetapi, bisa jadi ada beberapa anak yang malah durhaka, tetapi terlihat seperti cemerlang, bisa dipastikan kecemerlangannya hanyalah nisbi. Boleh jadi tampilan fisik kelihatan bagus, sedang jiwanya parah menderita.

    Sikap durhaka bisa meliputi:
    Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.
    Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
    Membentak atau menghardik orang tua.
    Bakhil (pelit), lebih mementingkan yang lain dari pada orang tuanya.
    Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
    Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, merendahkan orang tua.
    Mencaci atau menjadi sebab orang tua dicaci orang.
    Membelalakkan mata.

    Kesulitan yang mereka peroleh di dunia sebenarnya hanyalah sedikit, sebagai pengantar kesulitan yang akan menyambutnya di akhirat. Mereka yang durhaka: shalatnya tidak diterima, dibenci Allah, diharamkan masuk surga, segala amal perbuatannya dihapus, dosa-dosanya tidak diampuni, bahkan mendapatkan azab di dunia”

    Fakta empiris anak-anak yang berbakti kepada orang tuanya.
    Tak kurang sejumlah besar konglomerat Indonesia menempati papan atas nama-nama terkenal. Mereka memiliki dan memimpin perusahaan-perusahaan ternama bukan karena bekal kuliahan. Bukan karena produk pendidikan Universitas Paman Sam. Tapi lebih karena mereka memuliakan para orang tuanya melebihi siapa pun. Kisah mereka bertebaran di kanal You Tube atau media sosial yang lain.

    Sikap mereka kepada para karyawan pun terkenal menawan. Akibat santun dan sopan kepada para orang tuanya, berimbas kepada kebaikan sikapnya pada para karyawan.

    Tokoh-tokoh dunia internasional yang serupa dengan mereka pun tak kurang hitungan. Di seluruh dunia, global. Mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat berbakti kepada para orang tuanya. Bakti itu menjadi pemantik sukses siapa pun di seluruh dunia. Tidak terkait suku, ras atau tidak terkait atribut apa pun.

    Ada bimbingan Rasulullah yang memang bersifat universal, bimbingan kepada siapa pun yang menginginkan hidup di dunia ini laksana hidup di surga. Hidup bahagia sejahtera, selalu mendapat kemudahan menuju sukses, sukses berlimpah, hati tenang dan selalu senang. Selalu puas dalam ridlo Tuhan.

    “Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga [berkehidupan surgawi-terjemah].” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA.

    Melalui hadits ini, rupanya bakti anak kepada orang tua merupakan indikator apakah dia termasuk orang yang benar shalih atau hanya fatamorgana. Bagaimana tidak, jika kepada orang yang paling berjasa saja di dalam hidupnya dia tidak mampu berterimakasih, kepada siapa lagi yang dia pantas melakukannya. Andai dia mendahulukan berterimakasih selain kepada orang tuanya, maka di manakah letak logika sehatnya? Mendahulukan yang bukan pantas daripada yang pantas.

    Wajar kalau Rasulullah mengingatkan dosa besar durhaka kepada orang tua itu nomor dua setelah dosa syirik, menyekutukan Allah. “Maukah kalian kuberi tahu tentang dosa paling besar? Yaitu, syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Hadits diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Bakar RA

    Semoga setiap kita berebut menikmati kehidupan surgawi dunia-akhirat. Buktikan bahwa kita bukan yang enggan, melalui menyempurnakan bakti kepada orang tua!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.

    (erd/erd)

    Masuklah Surga, Mengapa Enggan?

    Sumber : www.detik.com

  • Masjid

    Masjid



    Jakarta –

    Masjid adalah rumah Allah SWT. yang memiliki kedudukan istimewa dengan banyak manfaat yang telah dipersiapkan oleh-Nya bagi kaum muslimin dan muslimat yang senang ke masjid. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW. memberikan motivasi untuk gemar datang ke masjid. Dari Abu Hurairah RA: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah(masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.”

    Hal ini diperkuat dengan firman-Nya surah at-taubah ayat 18 yang terjemahannya, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah SWT. ialah orang yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) kecuali kepada-Nya, maka semoga mereka menjadi golongan yang mendapatkan petunjuk.”

    Makna ayat ini adalah : Sesungguhnya yang berhak memakmurkan dan mengurus masjid-masjid Allah SWT. hanyalah orang-orang yang beriman kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat, membayar zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah SWT. Mereka itulah orang-orang yang diharapkan mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.


    Hijrah Rasulullah SAW. ke Madinah telah menandakan terbentuknya wilayah Islam pertama di muka bumi. Hal ini juga menandakan telah berdirinya negara Islam. Setiba di Madinah, pertama kali dilakukan Rasulullah SAW. adalah membangun komunitas yang terdiri atas Muslim Muhajirin dan Anshar, setelah itu langkah berikutnya adalah membangun masjid. Tidaklah heran bahwa mendirikan masjid merupakan langkah penting dalam pembentukan komunitas Muslim.

    Masyarakat Muslim bisa berdiri kukuh jika sistem Islam, akidah dan etikanya, semuanya bersumber dari spiritualitas masjid, dipatuhi dan dipegang erat-erat. Diantaranya adalah adanya ikatan tali persaudaraan antar jamaah/antar Muslim. Ingatlah bahwa tali persaudaraan tak akan bisa terwujud kecuali melalui masjid. Jika kaum muslim tak pernah berjumpa satu sama lain di rumah Allah SWT. tidaklah mungkin terjalin persaudaraan. Mereka akan dihalangi oleh sekat-sekat kedudukan, kekayaan dan status sosial. Oleh karena itu, masjid adalah tempat kebersamaan, persamaan dan persaudaraan.

    Di masjid, kita bisa berbaris dalam satu barisan yang kukuh setiap hari, berdiri bersama menghadap Sang Khalik. Hati mereka ( jamaah ) terpaut satu sama lain dalam ruang penghambaan kepada Allah Yang Mahamulia. Inilah ruh yang mewujudkan kebersamaan dan bersatu, timbul rasa saling bantu membantu dan bahu membahu. Oleh sebab itu, jadikanlah masjid menjadi pusat pembentuk karakter Islami dalam kehidupan bermasyarakat.

    Beberapa keutamaan masjid sebagai berikut :
    O. Berkumpul dalam masjid untuk belajar al-Qur’an memberikan ketenangan, turunnya rahmat Allah SWT. dan dikelilingi para Malaikat. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan Abu Daud. Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah diantara rumah-rumah Allah SWT. membaca kitab-Nya, dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah SWT. menyebut-nyebut mereka diantara malaikat yang ada di sisi-Nya.”

    Hal ini menunjukkan bahwa masjid adalah tempat yang sangat baik untuk membaca al-Qur’an, mempelajarinya sampai memahami maksud yang terkandung di dalamnya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Memahami isi firman-firman-Nya dan melaksanakan merupakan bentuk keimanan yang paripurna. Mengundang ilmuwan ke masjid diajak membedah beberapa surah yang terkait mayat Fir’aun, membahas sujudnya shalat karena sebagian syaraf di otak yang akan dialiri darah ( oksigen ) kecuali saat sujud, mengungkap lebah dan madu pada surah an-Nahl. Ingatlah bahwa isi al-Qur’an tidak konfrontatif dengan ilmu pengetahuan teknologi.

    O. Orang yang hatinya terikat dengan masjid mendapat naungan Allah SWT. pada hari kiamat. Mereka adalah orang yang senang berada di masjid, selalu berusaha memakmurkannya, menjaganya dalam keadaan yang sebaik-baiknya, dan menjaga hak-haknya. Ia senantiasa melaksanakan shalat secara berjamaah. Bila melihat masjidnya kotor, ia mengusahakan agar segera bersih. Bila melihat ada bagian yang rusak, ia berusaha memperbaiki. Bila ada yang tak layak, ia mengusahakan agar menjadi layak. Bila ada yang tak sedap dipandang mata, ia berusaha merapikannya. Ia sangat mencintai rumah Allah SWT. tesebut dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.

    Itulah masjid sebagai tempat menempa karakter jamaahnya, dengan harapan umat Muslim bisa memberikan kontribusi lebih dalam masyarakat maupun negara. Semoga Allah SWT. membimbing kita semua dalam keteguhan iman untuk menjaga, merawat dan memakmurkan masjid.

    (erd/erd)

    Masjid

    Sumber : www.detik.com

  • Ziarah Madinah dan Tradisi Arba’in

    Ziarah Madinah dan Tradisi Arba’in



    Jakarta –

    Salah satu tahapan dari penyelenggaraan ibadah haji adalah ziarah kota Madinah. Agenda di kota Madinah memang bersifat komplementer atau melengkapi agenda utama haji di kota Mekah. Destinasi utama dari fase ritual Madinah adalah Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam Rasulullah dan tempat mustajab untuk berdoa, yakni Raudah atau rawdhah min riyadh al-jannah, demikian kata Rasulullah menunjuk space antara posisi mimbar dan kediaman beliau.

    Sensasi Ziarah Nabawi

    Rasanya tidak ada jemaah yang tidak tertarik untuk menziarahi makam Rasulullah. Ziarah makam Rasulullah pastinya akan melepas kerinduan kita terhadap insan agung pilihan Allah. Bagi jemaah yang terbiasa dengan tradisi wisata ziarah di tanah air ziarah Madinah menjadi momentum sangat istimewa. Tentu sensasinya jauh lebih dahsyat dan syahdu melebihi suasana ziarah makam wali atau ulama-ulama saleh lainnya. Air mata akan mudah bercucuran karena kerinduan yang membuncah.


    Menziarahi makam Rasulullah adalah impian setiap Muslim Indonesia. Meski tak lagi mungkin berjumpa secara visual dengan Rasulullah, paling tidak, hadir di dekat pusaranya menjadi penanda bahwa kita berkesempatan untuk berdekatan dengan beliau. Tentu, kita jangan membayangkan bisa duduk sila berlama-lama sembari merapal semua wirid dan doa di hadapan makam Rasulullah, seperti halnya ketika berzikir di sejumlah destinasi wisata ziarah di tanah air. Otoritas keamanan masjid Nabawi sangat membatasi pergerakan dan gerak-gerik peziarah yang melintas area makam Rasulullah.

    Kita tidak bisa berlama-lama berdiam atau berdoa di sekitar makam Rasulullah. Kita pasti akan segera digiring oleh para Askar bertampang sangar, lantas diarahkan untuk bergeser meninggalkan area makam Rasulullah menuju sisi utara masjid Nabawi. Walhasil kita hanya bisa melintas, atau sejenak menyapa Rasulullah dan sejumlah Sahabat yang juga dikubur di samping beliau, menyampaikan selawat sebisanya, dan semua permohonan yang dipanjatkan.

    Beberapa tahun terakhir, otoritas Nabawi membuat terobosan baru dalam rangka mengurai kepadatan jemaah yang berkerumun atau berebut mendapatkan tempat berdoa di Raudah. Untuk dapat menikmati syahdunya “taman surga” Nabawi, jemaah harus mendapatkan tasrih atau semacam legalitas mendapatkan tempat atau kuota berdoa di Raudah. Tanpa itu, jangan berharap bisa masuk dan berdoa di arena masjid berkarpet warna hijau, sebagai penciri area antara mimbar dan rumah Rasulullah.

    Dengan kebijakan ini maka jemaah tak perlu lagi berdesakan, berebut antar sesama jemaah, memonopoli kesempatan di Raudah, atau sebaliknya jemaah dengan keterbatasan fisik atau risiko tinggi tak bisa menikmati spiritualitas Raudah. Panitia haji Indonesia bersama otoritas Nabawi tentu sudah mengatur dan menyiapkan tasrih Raudah untuk para jemaah. Tinggal diatur jadual kedatangan ke lokasi secara bersamaan. Tentu harus disiplin mengikuti jadual yang ditentukan. Jika tidak maka kesempatan emas itu akan berlalu begitu saja. Jadi jemaah haji juga tak perlu risau karena semua akan diberi kesempatan untuk berdoa di Raudah.

    Kebijakan ini patut diapresiasi karena memenuhi asas keadilan dan pemerataan kesempatan. Saya pun berpikir, andaikan kebijakan ini diberlakukan untuk jemaah yang ingin mencium “Hajar Aswad”. Mungkin tidak akan terjadi ‘anarkisme’ di seputaran Kakbah. Saya termasuk yang menyimpan perasaan risih bahkan miris menyaksikan ketidaktertiban dan gesekan keras yang terjadi untuk sekadar mencium “Hajar Aswad”. Tentu kita berharap otoritas masjid Haram memikirkan solusi terbaik mengatasi sengkarut mencium “Hajar Aswad” sehingga jemaah bisa menikmati ritual ini dengan aman dan damai.

    Berburu Salat 40 Waktu

    Halawah lain yang masih dalam lingkup ziarah Madinah adalah salat “Arba’in”. Ini popular di kalangan jemaah haji Indonesia, meski saat ini tidak lagi menjadi agenda prioritas. Jemaah haji Indonesia bisa melakukan ritual Arba’in jika situasi dan skema jumlah hari memungkinkan. Jika tidak maka tentu jemaah tidak perlu risau atau galau. Tidak mendapatkan Arba’in tidak lantas mendegradasi kualitas ibadah haji. Sama sekali tidak.

    Salat Arba’in adalah menunaikan salat fardu lima waktu secara berjamaah di masjid Nabawi di Madinah. Salat berjamaah tersebut dijaga sampai 40 kali salat berturut-turut secara konsisten. 40 kali salat berjamaah lima waktu kurang lebih selama 8 hari (5 salat/hari X 8 hari = 40 hari). Ini tentu tidak mudah. Perlu kesiagaan penuh dan komitmen tinggi. Dibutuhkan kesehatan prima mengingat mobilitas hotel-mesjid cukup tinggi dan kontinou.

    Salat berjamaah 40 kali ini memiliki keutamaan, seperti terekam dalam sebuah Hadis yang sejatinya masih diperdebatkan kesahihannya. Hadis ini menyebutkan bahwa salat tersebut menjadi sebab seseorang selamat dari neraka, siksa, dan kemunafikan. Seperti ini redaksi Hadisnya:

    عن أنس بن مالك رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “مَنْ صَلَّى في مَسجدِيْ أَرْبَعين صلاةً لَا يَفُوْتُهُ صلاةٌ؛ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِن النَّارِ، ونَجَاةٌ من الْعذَابِ، وَبَرِيئٌ مِنَ النِّفَاقِ”. رواه الإمام أحمد والطبراني في معجمه الأوسط.

    Dalam Kitab Hadis al-Musnad karya Imam Ahmad ibn Hanbal dan juga dalam Mu’jam al-Awsath karya al-Thabrani (Juz III/h. 325, No. Hadis: 5444) diriwayatkan suatu Hadis dari jalur Anas ibn Malik, dari Nabi Saw. bahwasanya beliau bersabda, “Siapa saja yang salat di masjidku sebanyak 40 salat, dan tidak luput darinya satu salatpun, maka dia dicatat terbebas dari api neraka, selamat dari azab dan terbebas dari kemunafikan.”

    Imam al-Haitami dalam kitabnya, al-Majma’, menyatakan bahwa perawi Hadis ini adalah termasuk orang-orang yang tsiqqah. Imam al-Mundziri menyatakan dalam kitabnya, at-Targhib, bahwa Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui para perawinya yang shahih. Namun, di sisi lain, Hadis ini dianggap dha’if, sebab dalam rangkaian perawinya terdapat sosok Nubayth yang dianggap majhul.

    Dengan begitu, kekuatan Hadis ini diperdebatkan oleh para ulama. Sebagian menyatakan Hadis ini shahih, sementara yang lain mengatakan tidak. Namun, kalaupun di anggap dha’if, perlu diingat penjelasan Imam al-Nawawi dalam kitabnya, al-Taqrib, bahwa Hadis dha’if dapat diamalkan dalam ranah fadha’il al-a’mal (untuk amaliah tambahan) dengan beberapa syarat. Pertama, Hadis tersebut tidak terlalu lemah. Kedua, Hadis tersebut tidak berkaitan dengan akidah, hukum halal dan haram, dan bukan untuk menetapkan hukum yang mengikat. Ketiga, Hadis tersebut tidak bertentangan dengan Hadis shahih atau prinsip dasar syariah.

    Dalam pandangan para ahli, Hadis tersebut tidak bertentangan dengan Hadis shahih dan tidak terlalu dha’if karena ada ulama yang menganggapnya shahih dan Hadis tersebut dalam kerangka fadha’il al-a’mal. Oleh karena itu, Hadis tersebut secara substansial dapat diamalkan, sehingga melaksanakan salat Arba’in adalah masyrū’ atau memiliki legalitas berdasarkan Hadis tersebut.

    Tak Perlu Ngoyo

    Namun perlu dicatat bahwa salat Arba’in bukan salat khusus atau berbeda dari salat lainnya. Salat Arba’in adalah salat fardu biasa. Perbedaannya terletak pada komitmen dan kesungguhan untuk menunaikannya secara berjamaah, di suatu tempat yang afdal, yaitu di masjid Nabawi. Komitmen itu dijaga selama 40 kali salat berturut-turut.

    Oleh karena itu, jika seseorang atau jemaah haji memiliki kesempatan atau kelonggaran tinggal di Madinah selama 8 sampai 9 hari, ada baiknya mengupayakan salat berjamaah setiap waktu salat di Masjid Nabawi, sehingga mendapatkan keutamaan Arba’in. Namun, jika dalam kondisi tertentu hal mana tidak memiliki kesanggupan secara fisik maupun waktu yang tidak memungkinkan maka tentu tidaklah mengapa. Tak perlu merasa risau atau berdosa karena tidak mampu melaksanakan ritual salat Arba’in.

    Berdasarkan evaluasi penyelenggara haji Indonesia, aktivitas padat di Madinah ternyata cukup signifikan menyumbang angka kematian jemaah haji Indonesia. Ini tentu harus menjadi perhatian para jemaah haji. Energi yang terkuras selama pelaksanaan puncak haji di Armuzna menyebabkan penurunan stamina dan daya tahan tubuh jemaah haji, terlebih pada saat cuaca ekstrem seperti musim haji tahun ini.

    Beraktivitas padat tanpa kendali pasca Armuzna seringkali membuat jemaah tidak menyadari keterbatasan imunitas dan daya tahan tubuhnya sehingga berdampak buruk pada kesehatannya hingga berujung kematian. Oleh karena itu, jemaah haji perlu bijak dan mampu mengukur kesiapan fisik untuk menghadapi aktivisme ziarah Madinah. Kita nikmati suasana Madinah yang syahdu dengan ibadah yang khusyuk dan tenang. Tidak perlu memaksakan diri berburu kuantitas ibadah. Yang lebih penting adalah menciptakan spiritualitas yang bermutu meski kuantitas tidak harus selalu banyak.

    Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie
    Guru Besar dan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Anggota Tim Monev Haji Indonesia 2024

    (erd/erd)

    Ziarah Madinah dan Tradisi Arba’in

    Sumber : www.detik.com

  • Fakta Akhlak Mulia, Semoga Kita Bisa!

    Fakta Akhlak Mulia, Semoga Kita Bisa!



    Jakarta –

    Di sebuah gang sempit. Gang yang hanya membolehkan motor lewat, itu pun harus dituntun. Tidak boleh dikendarai. Di sana ada rumah yang juga sempit. Namun di rumah itu ada 5 orang mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama di sebuah propinsi. Di dalamnya ada lima orang mahasiswa tinggal bersama. Semuanya pria. Empat orang mahasiswa dari fakultas paling bergengsi. Satu lagi dari program D3 dari universitas yang sama.

    Menariknya di rumah itu hanya ada satu ruangan utama. Satu ruangan cukup untuk mereka berlima. Cukup bukan lebih. Di ruang itu mereka memasak, menyetrika pakaian, juga belajar. Mereka mengisi waktu di antara beberapa kegiatan dengan berbincang. Ruangan itu pula digunakan untuk tidur. Mirip suasana berhaji di salah satu maktab kloter di era 90-an.

    Suatu sore di penghujung ashar. Hari itu hari Kamis. Datang kepada mereka kawan kuliah satu angkatan semester. Karena mobil tidak bisa diparkir dekat kontrakan. Kawan itu terpaksa memarkir mobilnya jauh di jalan raya. Di lokasi terdekat menuju kontrakan itu. Kawan itu sedang membawa susunan rantang ukuran besar. Isinya nasi, ikan, sayur tak lupa buah-buahan. Untuk makan 5 orang kawan, kapasitas susunan rantang besar itu cukup atau bahkan lebih.


    Dia berjalan membawa rantang itu menuju kontrakan. Terlihat badannya agak miring ke sebelah rantang. Karena untuk membawa rantang sepertinya cukup membutuhkan kekuatan. Pertanda rantang berisi cukup banyak makanan.

    Sesampainya di kontrakan, dilihatnya sejumlah lima orang kawannya sedang membungkus bihun dalam lima paket styrofoam. Sambil mengunci styrofoam dengan staples mereka menyambut hangat penuh gembira kawan yang datang membawa rantang. Rupanya mereka tahu bahwa yang di rantang isinya makanan.

    Kawan yang datang dengan rasa kepo bertanya, “Apa itu yang kalian bungkus?”
    “Bihun goreng,” jawab mereka singkat.
    “Untuk siapa?”. Lanjutnya penasaran.
    “Ini untuk lima orang anak yatim,” jawab mereka tenang.
    “Lah ini aku bawa makanan untuk kalian,” ujar kawan yang membawa rantang.
    “Alhamdulillah, pas,” jawab mereka hampir serempak. “Kami semua hari ini puasa sunnah hari Kamis.”
    “Terus untuk buka, apa yang sudah kalian siapkan?” tanya kawan tadi sedikit heran.
    “Ya ini, yang sedang kamu bawa. Tuhan mengirimkannya kepada kami melalui kamu kan?” serempak mereka berderai tawa.

    Subhaanallah. Lima orang berkawan. Melakukan puasa sunnah di rumah kontrakan yang terbilang pas-pas san. Sedang menyiapkan makanan anak yatim. Sedang persiapan untuk buka buat diri mereka sendiri belum ada. Mereka pasti bukan dari kalangan yang berkecukupan. Namun perhatiannya kepada selain dirinya terbilang di luar perhitungan.

    Dalam kesulitan mereka berpuasa. Pada saat menjelang buka mereka mempersiapkan makanan untuk anak yatim. Sedang diri mereka sendiri belum ada makanan untuk buka. Allah mengantarkan kepada mereka perlengkapan buka melalui seorang kawan. Benar-benar peristiwa sulit dinarasikan dengan logika normal.

    Memang belum banyak yang bisa ditemukan. Satu kasus dramatis seolah ringan, tetapi belum mudah dilakukan semua orang. Memperhatikan orang lain dan menekan kebutuhan diri sendiri. Sikap altruist yang sulit dicari bandingannya.

    Pernah di suatu keadaan yang bukan sederhana. Tetapi dalam kondisi kelelahan puncak. Di sekelompok prajurit perang. Ketika perang berakhir, sebagian prajurit terluka parah. Darah mengalir tanpa bisa ditahan. Wajar kalau tubuh kehabisan persediaan cairan.

    Satu orang prajurit meminta diberikan minum kepada seseorang yang datang. Si penolong bersegera datang membawakan hanya seteguk air yang dibutuhkan. Maklum, jumlah air yang tersedia sangat terbatas karena perang dilakukan di daerah padang pasir yang sangat gersang. Tak ada sumur apalagi sungai. Semuanya hanya hamparan pasir kering. Andai saja ada sejumlah besar air pun, jika sampai terjatuh ke tanah. Bisa dipastikan akan segera hilang. Diserap pasir yang memang sehari-harinya sudah terlalu ‘kehausan’.

    Setibanya air seteguk itu di dekat mulut prajurit yang sudah hampir tak tahan berucap kata, kawan tak jauh dari tempatnya berteriak minta minum. Mendengar teriakan itu, prajurit pertama tadi segera memberi kode kepada pembawa air untuk segera pergi kepada kawannya.
    Melihat ketulusan prajurit pertama, si penolong bergegas untuk menuju prajurit ke-2. Sekali lagi, sesampainya di si peminta air tadi, kawan yang lain pun berseru kehausan. Anehnya, prajurit yang ke-2 ini pun segera menunjukkan kode agar air dibawa kepada prajurit ke-3.

    Namun sayang, sampai di prajurit yang ke-3 ternyata dia sudah tidak membutuhkan air lagi. Nyawanya tidak tertolong. Dia meninggal. Segeralah si penolong pergi kepada prajurit yang pertama. Sekali lagi sayang, dia pun menyusul kawannya menghadap Sang Maha Pencipta. Tinggal satu harapan barangkali prajurit ke-2 masih membutuhkan minum. Yang terakhir ini pun ditemukan dalam kondisi sudah berpulang. Menghadap Yang Maha Mulia Tuhan sekalian alam. Innaalillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun.

    Tidak pada masa dahulu. Pada jaman peperangan hanya bersenjatakan pedang, tombak dan panah. Sekarang pun pesona orang-orang yang memperlihatkan indahnya jiwa-jiwa mulia. Mampu mendahulukan kepentingan orang lain walau diri sendiri sangat membutuhkan. Masih tampak terang walau para beliau pemilik jiwa-jiwa indah itu ‘bersembunyi’ di gang-gang sempit yang jarang terjangkau media pemantau.

    Andai kita tulus membandingkan. Seberapa dekat jiwa-jiwa kita sekalian. Kepada akhlak mulia yang memantik rasa. Sampai sulit pandangan ini menahan tetes air mata haru?
    Boleh jadi kita tulus tengadah wajah dan tangan. Kita berdoa agar setiap diri kita dianugerahiNya kemuliaan akhlak. Setidaknya dua gambaran akhlak mulia di atas bisa menjadi bayang-bayang tujuan doa!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)

    Fakta Akhlak Mulia, Semoga Kita Bisa!

    Sumber : www.detik.com