Author: admin

  • Kumpulan Hadits Keutamaan Membaca Al-Qur’an, Salah Satunya Dikelilingi Oleh Malaikat


    Jakarta

    Sebagai kaum muslimin, sudah sepatutnya kita membaca kitab suci Al-Qur’an dan memaknainya. Dengan begitu, banyak keutamaan yang terkandung dan bermanfaat bagi kehidupan di dunia maupun akhirat kelak.

    Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Nu’man bin Basyir mengatakan,

    “Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Al-Qur’an.” (HR Baihaqi)


    Abdul Hamid, Lc., M.A melalui karyanya yang bertajuk Pengantar Studi Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi undang-undang bagi umat manusia. Selain itu, Al-Qur’an juga dijadikan sebagai petunjuk, tanda atas kebesaran Rasul, serta penjelasan atas kenabian dan kerasulannya.

    Pun, dalam sejumlah hadits Rasulullah SAW menerangkan terkait keutamaan yang terkandung dari membaca Al-Qur’an. Apa saja? Simak bahasannya berikut ini yang dinukil dari arsip detikHikmah dan buku Kunci Praktis Membaca Al-Qur’an Baik dan Benar terbitan Metode Insani.

    Hadits yang Membahas Keutamaan Membaca Al-Qur’an

    1. Sebagai Syafaat pada Hari Kiamat Kelak

    Keutamaan dari membaca Al-Qur’an yang pertama ialah dapat menjadi syafaat atau penolong di hari kiamat kelak. Rasulullah SAW bersabda:

    “Bacalah olehmu sekalian Al-Qur’an karena sesungguhnya Al-Qur’an itu akan menjadi syafaat/penolong bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR Muslim)

    2. Mendapat Kebaikan Berlipat Ganda

    Siapapun yang membaca Al-Qur’an maka akan diganjar pahala dan kebaikan yang berlipat ganda, sebagaimana bunyi sabda Nabi Muhammad,

    “Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran) maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf.” (HR At-Tirmidzi)

    3. Sebagai Ibadah yang Paling Utama

    Membaca Al-Qur’an disebut sebagai ibadah yang paling utama. Diriwayatkan oleh an-Nu’man ibn Basyir, Rasulullah SAW bersabda:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Al-Qur’an.” (HR Al-Baihaqi)

    4. Dikelilingi oleh Para Malaikat

    Kelebihan yang dimiliki oleh orang yang gemar membaca Al-Qur’an adalah dikelilingi para malaikat. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda:

    Dari Aisyah RA ia berkata,

    “Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala.”

    5. Mendapat Balasan Terbaik

    Diriwayatkan Abu Sa’id dari Rasulullah SAW, Allah berfirman:

    “Siapa saja yang disibukkan oleh membaca Al-Qur’an, hingga tak sempat dzikir yang lain kepada-Ku dan meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya balasan terbaik orang-orang yang meminta. Ingatlah, keutamaan Al-Qur’an atas kalimat-kalimat yang lain seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya,” (HR Al-Baihaqi)

    6. Diibaratkan Seperti Orang yang Bersedekah

    Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah SAW berkata:

    “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terbuka, sedangkan orang yang membaca Alquran dengan perlahan seperti orang yang bersedekah secara sembunyi.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bolehkah Berdoa saat Sujud Terakhir dalam Salat?


    Jakarta

    Sujud merupakan momen di mana hamba berada sangat dekat dengan Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam buku Pengobatan dan Doa Mustajab oleh Muhammad Hasan Husen. Bolehkah berdoa saat sujud terakhir dalam salat?

    Saat sujud adalah waktu yang sangat mulia. Sebab Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa di saat-saat seperti ini adalah waktu seorang hamba lebih dekat dengan Tuhannya dengan bermunajat kepada-Nya dengan serendah-rendahnya dan hina. Rasulullah SAW bersabda,

    أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا مِنَ الدُّعَاءِ


    Artinya: “Kondisi terdekat seorang hamba dari Allah adalah ketika sujud, maka berdoalah kalian yang banyak.” (HR Muslim)

    Terdapat juga sebuah hadits pendukung sebagai berikut, “Adapun (di waktu) sujud maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa padanya, karena pantas untuk dikabulkan doamu (pada waktu itu).” (HR Muslim)

    Bolehkah Berdoa saat Sujud Terakhir dalam Salat?

    Syaikh Abdullah Al-Jabreen dalam Fatwa Islamiyyah mengatakan, tidak ada dalil anjuran memperpanjang sujud terakhir dalam salat. Namun ia berpendapat, ada kemungkinan imam melakukan hal itu sebagai penanda gerakan sujud terakhir dalam salat yang setelahnya dilanjutkan dengan duduk tasyahud akhir.

    Meski demikian, tidak ada salahnya bagi muslim untuk melafalkan doa saat sujud terakhir, baik doa itu menyangkut kebahagiaan ukhrawi maupun kebahagiaan duniawi.

    Dalam buku Rahasia agar Doa Mustajab yang ditulis oleh Ustaz Cinta menyebutkan, Rasulullah SAW berdoa pada sujud terakhirnya. Sebagai umatnya yang taat, kita hanya perlu mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh beliau.

    Salah satu doa yang sering beliau panjatkan tertulis dalam buku Sifat Salat Rasulullah SAW yang Terabaikan karya Iwan Muliawan. Doa tersebut berbunyi,

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجَلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ.

    Arab-latin: Allâhummaghfirlî dzambî kullahu diqqahu wa jallahu wa awwalahu wa âkhirahu wa alâ niyatahu wa sirrahu

    Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang awal dan yang akhir, yang ter- sembunyi dan terang-terangan.” (HR Muslim dan Abu Dawud dari Abu Hurairah RA).

    Di samping itu, di sumber yang lain menyebutkan bahwa berdoa tidak hanya dapat dilakukan saat sujud terakhir. Hal ini dijelaskan dalam buku Fiqih Kontroversi Jilid 1: Beribadah antara Sunnah dan Bid’ah yang ditulis oleh H. M. Anshary.

    Pernyataan tersebut didasarkan pada hadits yang sudah disebutkan di atas. Di mana hadits tersebut tidak menyebutkan kata terakhir melainkan hanya sujud saja.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 9 Cabang Ulumul Hadits dan Kitab yang Jadi Rujukan


    Jakarta

    Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Setidaknya ada sembilan cabang ulumul hadits yang menjadi fokus para ahli hadits.

    Mengutip buku Ulumul Hadits karya Abdul Majid Khon, hadits adalah sesuatu bersumber dari Nabi SAW atau disandarkan pada beliau SAW. Hadits terdiri dari tiga komponen, yakni hadits perkataan (qauli), hadits perbuatan (fi’li), dan hadits persetujuan (taqriri).

    Ada juga ulama yang menambahkan sifat (washfi) baik fisik (khalqiyah) maupun perangai (khuluqiyah), sejarah (tarikhi), dan cita-cita (hammi) Rasulullah SAW sebagai komponen dalam mendefinisikan hadits.


    Para ahli hadits mengkaji berbagai hal-hal dari Rasulullah SAW tersebut menggunakan sejumlah ilmu. Ilmu yang mempelajari hadits ini dikenal dengan istilah ulumul hadits. Berikut penjelasan selengkapnya.

    Pengertian Ulumul Hadits

    Ulumul hadits awal mulanya adalah beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri yang secara umum membahas tentang segala hal yang berkaitan dengan hadits Nabi Muhammad SAW, seperti dijelaskan dalam buku Ulumul Hadis karya Muhammad Nuh Siregar.

    Beberapa ilmu ini lalu dibakukan menjadi sebuah disiplin ilmu. Ulumul hadits disebut juga dengan ulum al-hadis (ilmu hadis), mustalah al-hadis, atau usul hadis. Ilmu ini tentunya sangat luas cakupannya karena di awal memang sudah memiliki banyak cabang.

    Kitab Rujukan Ulumul Hadits

    Masih diambil dari sumber yang sama, buku atau kitab hadits dibagi dalam beberapa periode. Di antaranya:

    1. Periode Pertama

    Contohnya adalah Al-Muhaddis al-Fasil Bain ar-Rawi wa Al-Wa’i karya Al-Qadi Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi (w. 360 H), Masyariq Al-Anwar karya Al-Qadi ‘Iyad bn Musa ibn ‘Iyad (w. 544 H), dan lain-lain.

    2. Periode Pertengahan

    Contohnya adalah Ma’rifah ‘Ulum al-Hadis karya Abu ‘Amr ibn ‘Usman ibn Salah (w. 643 H), Al-Ifshah ‘ala Nukat Kitab ibn Salah; Nukhbat al-Fikr dan Nuzat an-Nazar karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, dan lain-lain

    3. Periode Modern

    Contohnya adalah ‘Umul al-Hadis karya Jamal ad-Din al-Qasimi, Taisir Mustalah al-Hadis karya Mahmud at-Tahhan, dan lain sebagainya.

    4. Kitab ‘Ulum al-Hadis di Indonesia

    Contohnya Pengantar Ilmu Hadis, Metodologi Penelitian Hadis dan Kaedah Kesahihan Sanad Hadis karya M. Syuhudi Ismail, Ikhtisar Musthalahul Hadis karya Fatchur Rahman, Ilmu Hadis karya Utang Ranuwijaya, dan lain sebagainya.

    Cabang Ulumul Hadits

    Ulumul hadits atau ilmu yang mempelajari tentang hadits Rasulullah SAW dibagi dalam beberapa cabang dengan fokusnya masing-masing.

    1. Ilmu Rijal Al-Hadis

    Cabang ulumul hadits yang pertama adalah rijal al-hadits. Ilmu ini mempelajari tentang para perawi hadits dan kapasitas mereka sebagai perawi hadits.

    2. Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil

    Ilmu al-jahr adalah ilmu yang mempelajari kecacatan para perawi, seperti keadilan dan tabiatnya, sedangkan at-ta’dil adalah mempelajari perawi untuk menyucikannya dan membuktikannya bahwa ia adalah adil dan dabit.

    3. Ilmu Tarikh Ar-Ruwah

    Ilmu tarikh ar-ruwah mempelajari tentang para perawi hadits yang berkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadits.

    4. Ilmu ‘Ilal Al-Hadis

    Ulumul hadits yang keempat ini membahas tentang sebab-sebab yang tersembunyi, yang dapat mencacatkan kesahihan hadits.

    Seperti contohnya mengatakan muttasil terhadap hadits yang munqati’, menyebut marfu’ terhadap hadits yang mauquf, memasukkan hadits ke dalam hadits lain, dan hal yang berkaitan dengan itu.

    5. Ilmu Nasikh Wa Al-Mansukh

    Ilmu ini membahas tentang hadits-hadits yang berlawanan yang tidak dapat dipadukan dengan ketetapan bahwa yang datang terdahulu disebut mansukh dan yang datang setelahnya disebut nasikh.

    6. Ilmu Asbad Al-Wurud

    Ilmu asbad al-wurud adalah ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang sebab-sebab Nabi SAW menuturkan sabdanya.

    7. Ilmu Garib Al-Hadis

    Pengertian dari ilmu garib al-hadis adalah ilmu yang digunakan untuk mengetahui serta menerangkan makna yang terkandung dalam lafaz-lafaz hadits yang jauh dan sulit dipahami, karena lafaz tersebut jarang digunakan.

    8. Ilmu At-Tashif Wa At-Tahrif

    Ilmu ini adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menerangkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah titik atau syakalnya (musahhaf) dan bentuknya (muharraf).

    9. Ilmu Mukhatalif Al-Hadis

    Ilmu mukhatalif al-hadis adalah ilmu yang membahas hadits-hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan atau berlawanan, agar pertentangan tersebut dapat dihilangkan antara keduanya, sebagaimana membahas hadis-hadis yang sulit dipahami ini atau kandungannya, dengan menghilangkan kemusyrikan atau kesulitannya serta menjelaskan hakikatnya.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir Laqod Jaakum dalam Surah At Taubah dan Keutamaannya


    Jakarta

    Dzikir laqod jaakum merupakan salah satu dzikir yang terdapat dalam surah At Taubah. Dzikir ini memiliki keutamaan yang mendalam.

    Dzikir merupakan suatu bacaan yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 152,

    فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ ١٥٢


    Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

    Allah SWT juga berfirman dalam surah Thaha ayat 130,

    فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا ۚوَمِنْ اٰنَاۤئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى ١٣٠

    Artinya: “Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari agar engkau merasa tenang.”

    Salah satu bacaan dzikir yang dapat dibaca oleh umat Islam yaitu dzikir laqod jaakum. Dzikir laqod jaakum merupakan potongan bacaan yang terdapat dalam surah At Taubah ayat 128-129.

    Dengan membaca dzikir laqod jaakum, umat Islam akan mendapatkan banyak keutamaan.

    Bacaan Dzikir Laqod Jaakum

    لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٢٨ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ࣖ ١٢٩

    Bacaan latin: Laqod jaakum rosuulun min anfusikam ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum, harrishun ‘alaikum bil mu’miniina ro-uufurrohim. Fa in tawallau faqul hadbiyallohu laa ilaaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa robbul ‘arsyil ‘adzim.

    Artinya: “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Nabi Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.”

    Keutamaan Dzikir Laqod Jaakum

    Dikutip dari buku Rahasia Keajaiban Ayat-ayat Seribu Dinar: Bikin Orang Jadi Kaya karya Imam Ghazali, dzikir laqod jaakum yang terdapat dalam dua surah terakhir surah At Taubah merupakan lafaz dzikir yang sangat istimewa.

    Rasulullah SAW pernah memberikan penjelasan bahwa turunnya ayat ini dikawal oleh 70.000 barisan malaikat, sungguh betapa mulianya ayat ini.

    Atas mulianya dzikir laqod jaakum ini, para ulama menjadikannya sebagai penghubung dalam berdoa kepada Allah SWT. Mereka berdoa dengan harapan dikaruniai kenikmatan hidup lahir dan batin. Dzikir laqod jaakum dilakukan setelah sholat dan dibaca sebanyak tujuh kali secara istiqamah.

    Membaca dzikir laqod jaakum diyakini akan mendatangkan kebahagiaan dan kenikmatan hidup, baik kemudahan mencari rejeki, kesehatan lahir dan batin, dan kemudahan segala urusan.

    Aprilia Kartika dalam buku Jodohku, It’s You menambahkan keutamaan dari bacaan dzikir laqod jaakum yaitu merupakan bacaan dzikir yang dapat menumbuhkan keimanan kepada Allah SWT, akan dilindungi oleh Allah SWT, serta memperpanjang umur.

    Kisah tentang Dzikir Laqod Jaakum

    Abah Salma Alif Sampayya dalam buku Keseimbangan Matematika Dalam Al Qur’an menyatakan bahwa terdapat kisah tentang dua ayat terakhir surah At Taubah yang merupakan dzikir laqod jaakum.

    Dalam hadits riwayat Bukhari diceritakan, Zaid bin Tsabit melaporkan bahwa ketika dia mengumpulkan Al-Qur’an pada zaman pemerintahan Abu Bakar, dia tidak mendapatkan dua ayat terakhir surah At Taubah sehingga dia bertemu dengan Abu Khuzaimah al Andhari, dengan tiada seorang pun yang memiliki salinan utama (tangan pertama). Suhuf yang sudah lengkap disimpan di bawah penjagaan Abu Bakar sampai dia meninggal.

    Kharijah bin Zaid bin Tsabit meriwayatkan dari bapaknya Zain Bin Tsabit, ‘Ketika kami menulis Mushaf, saya tidak mendapatkan satu ayat (nomor 23 dari surah Al Ahzab) yang selalu saya dengar dari bacaan Rasulullah SAW. Kami mencarinya sehingga kami dapatkan dari Khuzaimah bin Tsabit al Anshari, lalu kami masukkan ke dalam surah yang tepat dalam Mushaf.” (HR Bukhari)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Menyebarkan Salam, Amalan Ringan yang Bernilai Pahala Besar


    Jakarta

    Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita menyebarkan salam kepada sesama. Salam adalah amalan sunnah berpahala besar.

    Hukum menyebarkan salam ialah sunnah, sementara menjawabnya wajib. Salam adalah media untuk saling bertegur sapa dan menghilangkan prasangka buruk.

    Kepada sesama muslim, kita dianjurkan untuk mengucapkan salam. Ucapan salam yang lengkap berbunyi “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”, sedangkan pendeknya cukup mengucapkan “Assalamualaikum.”


    Mengutip buku Akidah Akhlak Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV oleh Fida’ Abdilah, ucapan salam memiliki pengertian doa dan harapan. Terlebih, As-Salam termasuk ke dalam salah satu dari banyaknya nama Allah SWT.

    Hadits tentang Menyebarkan Salam

    Dijelaskan dalam buku Syarah Hisnul Muslim oleh Syaikh Majdi Abdul Wahab Al-Ahmad, ada sebuah hadits yang menganjurkan kaum muslimin untuk menyebarkan salam. Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:

    “Kalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kalian tidaklah beriman sebelum saling menyayangi. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang kalau kalian kerjakan niscaya kalian akan saling sayang menyayangi? Yaitu sebar luaskan salam di antara kalian.” (HR Muslim)

    Dalam hadits lainnya dengan redaksi yang berbeda, dari Abdullah bin Salam, Rasulullah SAW bersabda:

    “Wahai manusia tebarkan salam di antara kalian, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan sholatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

    Keutamaan Menyebarkan Salam

    1. Masuk Surga

    Menyebarkan salam kepada sesama muslim mengandung sejumlah keutamaan, salah satunya mengantarkan seseorang masuk surga dengan selamat.

    Dalam sebuah hadits yang diambil dari buku Tanya & Jawab Bersama Nabi: Kitab Ihsan karya Lingkar Kalam disebutkan bahwa:

    “Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah Yang Maha Pengasih, berikanlah makan, sebarkanlah salam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR At-Tirmidzi)”

    2. Mendapat Keselamatan, Rahmat, dan Keberkahan dari Allah SWT

    Selanjutnya, keutamaan lain yang terkandung dari mengucapkan salam adalah mendapat keselamatan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT. Pada dasarnya salam adalah sebuah doa.

    Dengan demikian, apabila salam diucapkan kepada seseorang dan mendapat balasannya, maka di situ kedua belah pihak sama-sama saling mendoakan keselamatan, rahmat dan keberkahan.

    3. Di Hari Kiamat akan Mendapat Pahala dan Penghormatan dari Allah SWT

    Dengan menyebarkan salam niscaya seorang muslim memperoleh pahala yang banyak serta mendapat penghormatan dari Allah SWT kelak di hari kiamat.

    Allah SWT berfirman,

    تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهٗ سَلٰمٌ ۚوَاَعَدَّ لَهُمْ اَجْرًا كَرِيْمًا

    Artinya: “Ucapan penghormatan (Allah kepada) mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari ketika mereka menemui-Nya ialah, “Salam,” dan Dia siapkan untuk mereka pahala yang mulia.” (QS Al Ahzab: 44)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sesudah Wudhu dan Keutamaan Membacanya


    Jakarta

    Wudhu termasuk ke dalam salah satu syarat sah salat. Wudhu sama artinya dengan membasuh air ke sejumlah anggota tubuh yang ditentukan.

    Wudhu sama artinya dengan bersuci yang berarti menghilangkan hadats kecil. Perintah bersuci ini tercatat dalam sejumlah ayat Al-Qur’an salah satunya surah Al Maidah ayat 6,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.”

    Setelah wudhu, ada sebuah doa yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin. Anjuran ini merujuk pada Kitab Al-Adzkar susunan Imam Nawawi yang bersandar pada hadits dari Umar bin Khattab RA, Nabi SAW bersabda:

    “Barang siapa berwudhu lalu mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya’, maka dibukakanlah baginya kedelapan pintu surga, di mana dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan dalam Al-Kubra dan Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, Ibnu Majah dan Lainnya)

    Doa Sesudah Wudhu: Arab, Latin dan Arti

    Mengutip dari buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan susunan Ali Akbar bin Aqil, berikut doa setelah wudhu yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin.

    أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    Arab latin: Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, wa asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, allaahummaj’alnii minat tawwaabiin, waj’alnii minal mutathahhiriin, subhanakallahumma wa bi hamdika, asy- hadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk golongan yang menyucikan diri. Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.”

    Selain doa di atas, ada juga bacaan lain yang dapat dilafalkan dengan singkat dan mudah. Berikut bunyinya,

    اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

    Arab latin: Allahummaj-‘alnii minat-tawwaabiina waj-‘alnii minal- mutathahhiriin.

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri.” (HR Tirmidzi)

    Keutamaan Membaca Doa Sesudah Wudhu

    Membaca doa sesudah wudhu ternyata mengandung keutamaan. Dijelaskan oleh DR H Sagiran melalui buku Gantung Wudhu, kalimat اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ, kata مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ adalah orang-orang yang bertobat.

    Dari tobat tersebut artinya menyucikan kita dari dosa-dosa dengan perantara wudhu. Karenanya, dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa tetesan air wudhu ibarat bergugurannya dosa-dosa kita. Dengan memanjatkan doa tersebut, Allah SWT menjadikan kita sebagai orang-orang yang suci.

    Nah, itulah bahasan mengenai doa sesudah wudhu dan keutamaan membacanya. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa ketika Panas Terik yang Dibaca Rasulullah SAW, Yuk Amalkan Hari Ini



    Jakarta

    Cuaca panas memang menjadi tantangan tersendiri, apalagi ketika kita sedang menjalankan puasa sunnah. Tidak hanya di Arab Saudi, cuaca Indonesia akhir-akhir ini juga panas, suhunya mencapai 40 derajat celcius.

    Dalam menghadapi cuaca yang panas, ada beberapa doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah SAW agar dapat beraktifitas dengan normal. Berikut doa-doa yang dapat dipanjatkan ketika cuaca sedang panas dan matahari terik.

    Cuaca dan panas terik matahari juga pernah dialami oleh Rasulullah SAW. Kala itu, beliau berdoa kepada Allah SWT agar selalu dilindungi oleh-Nya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan agar bumi kembali dingin adalah meminta hujan yang bermanfaat kepada Tuhan.


    Rasulullah SAW mengajari umatnya untuk meminta diturunkan hujan dengan salat istisqa. Selain itu, ada beberapa doa yang bisa dipanjatkan agar Allah SWT mau mencurahkan nikmat-Nya kepada kita.

    Doa ketika Panas Terik sehingga Meminta Diturunkan Hujan

    Dilansir dari buku Doa Dzikir Muslimah oleh Abu Ayyub El-Faruqi, berikut doa meminta hujan tersebut.

    اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْئًا مُغِينَّا مَرِيئًا نَافِعًا غَيْرِ ضَاءٍ عَاجِلًا غَيْرَ أَجِلٍ.

    Arab-latin: Allâhummas qinâ ghaitsam mughîtsam mari`am nâfi’an ghaira dhârrin, ‘âjilan ghaira âjilin.

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh, dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan dengan segera, tidak ditunda-tunda.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

    Doa ketika panas terik lalu meminta hujan selanjutnya adalah:

    اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَ, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَ

    Arab Latin: Allāhumma agitsnā, allāhumma agitsnā, allāhumma agitsnā.

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Doa ketika Panas Terik saat Khotbah Salat Istisqa

    Dinukil dari arsip detikhikmah, berikut lafal doa yang bisa dipanjatkan ketika panas terik melanda sebuah wilayah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ

    Arab Latin: Alhamdulillāhi rabbil ālamīn. Arrahmānir rahīm. Māliki yaumid dīn. Lā ilāha illallāhu yaf’alu mā yurīd. Allahumma antallāhu. Lā ilāha illā anta. Antal ghaniyyu wa nahnul fuqara`. Anzil ‘alainal ghaitsa waj’al mā anzalta ‘alainā quwwatan wa balaghan ilā hīn.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Kau adalah Allah. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Engkau. Kau Maha Kaya. Sementara kami membutuhkan-Mu. Maka turunkanlah hujan kepada kami. Jadikanlah apa yang telah Kau turunkan sebagai kekuatan dan bekal bagi kami sampai hari yang ditetapkan,” (HR Abu Dawud).

    Doa ketika Panas Terik

    Doa ketika panas terik melanda yang terakhir dikutip dari buku Kitab Doa Mustajab Terlengkap: Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahannya karya Ustadz H. Amrin Ali Al-Kasyaf.

    لاَ إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ مَا أَشَدَّ حَرُّ هَذَ الْيَوْمِ، اَللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ حَرِّ خَهَنَّمَ.

    Arab-latin: laa ilaaha illallaahu wahdahu, maa asyadda harru haadzal yaum, allahumma ajirni min harri jahannama.

    Artinya: “Tidak ada Tuhan, kecuali Allah Yang Maha Esa. Alangkah panasnya hari ini. Ya Allah, lindungi aku dari panasnya api neraka.”

    Demikianlah doa ketika panas terik yang bisa diamalkan hari ini. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Memohon Turunnya Hujan, Muslim Amalkan Yuk!


    Jakarta

    Hujan termasuk ke dalam anugerah yang Allah SWT berikan. Turunnya hujan menjadi rahmat bagi bumi dan seisinya.

    Karenanya, jika musim kemarau melanda tak jarang kaum muslimin yang berdoa memohon agar diturunkan hujan. Terlebih, hujan juga membawa rezeki dan keberkahan bagi seluruh makhluk hidup di bumi.

    Saat hujan, doa-doa yang dilantunkan oleh kaum muslimin juga dianggap mustajab, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:


    “Dua doa yang tidak akan ditolak, doa ketika adzan, dan doa ketika turunnya hujan.” (HR Al-Hakim)

    Dikutip dari buku Indahnya Doa Rasulullah Bagiku tulisan Masriyah Amva, ketika hujan turun, pikiran dan perasaan seseorang bisa mengalami perubahan seperti mengingat Tuhan, kebesaran-Nya, dan menjadi lebih banyak bersyukur.

    Doa Memohon Turunnya Hujan

    Berikut bacaan doa memohon turunnya hujan seperti dinukil dari buku 5 Shalat Pembangun Jiwa oleh Nasrudin Abd Rohim,

    اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا سرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

    Arab latin: Allahummasqinaa ghoitsan mughiitsan mariyyan sarii’an naafi’an ghoiro dhoorrin, ‘aajilan ghoiro aajilin.

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan deras yang penuh ketentraman, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak terlambat,”

    Ada juga bacaan versi lain yang mengacu pada hadits Rasulullah SAW, yaitu:

    اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

    Arab latin: Allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan,”

    Anjuran Membaca Doa Turun Hujan Sebanyak-banyaknya

    Dijelaskan dalam buku Panduan Lengkap Shalat, Doa, Zikir & Shalawat karya Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf, dianjurkan membaca doa memohon turun hujan sebanyak-banyaknya usai mengerjakan salat istisqa.

    Salat istisqa ini disebut juga sebagai amalan memohon turunnya hujan. Selain itu, doa memohon turunnya hujan juga dapat dipanjatkan pada waktu-waktu mustajabnya doa.

    Setelah hujan turun, Rasulullah SAW menganjurkan kaum muslimin untuk membaca doa berikut,

    مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِه

    Arab latin: Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih

    Artinya: “Diturunkan kepada kami hujan berkat anugerah Allah dan rahmat-Nya.”

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Surat untuk Orang Meninggal Selain Yasin


    Jakarta

    Surat untuk orang meninggal selain Yasin ada banyak macamnya. Mulai dari Al-Fatihah hingga Al-Ahzab bisa digunakan untuk mentahlilkan seseorang.

    Diambil dari buku Ayah Ibu Kubangunkan Surga Untukmu: Amalan-Amalan Dahsyat untuk Orangtua yang Sudah Meninggal karya Muhammad Abdul Hadi, memulai sebuah tahlil untuk orang yang sudah meninggal bisa dengan membaca pengantar Al-Fatihah atau tawassul.

    إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ


    Kemudian, hendaknya melanjutkan dengan membaca surat-surat yang lainnya. Surat untuk orang meninggal selain Yasin adalah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq, Al-Baqarah, Hud, dan Al-Ahzab. Berikut bacaannya.

    1. Al-Fatihah

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

    Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm(i).

    Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

    Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn(a).

    Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan) semesta alam

    الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ

    Ar-raḥmānir-raḥīm(i).

    Artinya: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

    مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

    Māliki yaumid-dīn(i).

    Artinya: Pemilik hari Pembalasan)

    اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

    Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn(u),

    Artinya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

    اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

    Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm(a).

    Artinya: Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,)

    صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ

    Ṣirāṭal-lażīna an’amta ‘alaihim, gairil-magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn(a).

    Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

    2. Al-Ikhlas

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

    Qul huwallāhu aḥad(un).

    Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

    اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

    Allāhuṣ-ṣamad(u).

    Artinya: Allah tempat meminta segala sesuatu.

    لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

    Lam yalid wa lam yūlad.

    Artinya: Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

    وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ

    Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad(un).

    Artinya: serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

    3. Al-Falaq

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ

    Qul a’ūżu birabbil-falaq(i).

    Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh)

    مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ

    Min syarri mā khalaq(a).

    Artinya: dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

    وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ

    Wa min syarri gāsiqin iżā waqab(a).

    Artinya: dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

    وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ

    Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad(i).

    Artinya: dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

    وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ

    Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad(a).

    Artinya: dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

    4. An-Nas

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

    Qul a’ūżu birabbin-nās(i).

    Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

    مَلِكِ النَّاسِۙ

    Malikin-nās(i).

    Artinya: raja manusia,

    اِلٰهِ النَّاسِۙ

    Ilāhin-nās(i).

    Artinya: sembahan manusia

    مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

    Min syarril-waswāsil-khannās(i).

    Artinya: dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi

    الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ

    Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās(i).

    Artinya: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

    مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ

    Minal jinnati wan-nās(i).

    Artinya: dari (golongan) jin dan manusia.”

    5. Al-Baqarah Ayat 255 (Ayat Kursi)

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

    Allāhu lā ilāha illā huw(a), al-ḥayyul-qayyūm(u), lā ta’khużuhū sinatuw wa lā naum(un), lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), man żal-lażī yasyfa’u ‘indahū illā bi’iżnih(ī), ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭūna bisyai’im min ‘ilmihī illā bimā syā'(a), wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ(a), wa lā ya’ūduhū ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm(u).

    Artinya: Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

    6. Hud Ayat 7

    وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ وَّكَانَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَاۤءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗوَلَىِٕنْ قُلْتَ اِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَٓا اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

    Wa huwal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmiw wa kāna ‘arsyuhū ‘alal-mā’i liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā(n), wa la’in qulta innakum mab’ūṡūna mim ba’dil-mauti layaqūlannal-lażīna kafarū in hāżā illā siḥrum mubīn(un).

    Artinya: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa serta (sebelum itu) ʻArasy-Nya di atas air. (Penciptaan itu dilakukan) untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) berkata, “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang-orang kafir akan berkata, “Ini (Al-Qur’an) tidak lain kecuali sihir yang nyata.”

    7. Al-Ahzab Ayat 33

    وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ

    Wa qarna fī buyūtikunna wa lā tabarrajna tabarrujal-jāhiliyyatil-ūlā wa aqimnaṣ-ṣalāta wa ātīnaz-zakāta wa aṭi’nallāha wa rasūlah(ū), innamā yurīdullāhu liyużhiba ‘ankumur-rijsa ahlal-baiti wa yuṭahhirakum taṭhīrā(n).

    Artinya: Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

    Bacaan surat untuk orang meninggal selain Yasin tersebut juga diambil dari buku Majmu’ Syarif yang disusun oleh Tim Turos Pustaka. detikers juga bisa membaca surat tersebut melalui Al-Qur’an digital detikHikmah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa ketika Masuk Area Pemakaman Sesuai Sunnah


    Jakarta

    Seorang muslim hendaknya membaca doa ketika masuk area pemakaman. Ada beberapa doa yang bisa dibaca sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

    Anjuran untuk membaca doa ketika masuk area pemakaman bersandar pada hadits yang berasal dari Buraidah RA, ia berkata,

    “Nabi SAW mengajarkan kepada mereka berziarah ke kubur supaya mengucapkan, ‘Semoga keselamatan senantiasa tercurah pada kalian, hai para penghuni perkampungan kaum Mukminin dan Muslimin. Sesungguhnya kami insya Allah menyusul kalian. Aku memohon afiyah kepada Allah untuk kami dan untuk kalian.” (HR Muslim)


    Imam Muslim mengeluarkan riwayat tersebut dalam kitab Jenazah. Hadits ini turut dinukil Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin.

    Doa Masuk Area Pemakaman

    Dikutip dari buku Kelengkapan Tarikh Muhammad Jilid 6 karya Moenawar Chalil, berikut doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika masuk area pemakaman:

    • Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Ibnu Mas’ud RA, “Apabila masuk ke pemakaman, Rasulullah SAW mengucapkan,

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَيَّتُهَا الأَرْوَاحُ الْقَانِيَةُ. وَالأَبْدَانُ الْبَالِيَةُ وَالْعِظَامُ النَّخِرَةُ الَّتِى خَرَجَتْ مِنَ الدُّنْيَا وَهِيَ بِاللَّهِ مُؤْمِنَةٌ. أَللهُمَّ أَدْخِلْ عَلَيْهِمْ رَوْحًا مِنْكَ وَسَلَامًا مِنا

    Bacaan latin: Assalamu’alaikum ayyatuhaal ‘arwaahul qaaniyat. Wal abdaanul baaliyatu wal’ithomunnakhiratul ti kharajat minaddunyaa wa hiyabillahi mu’minat. Allahumma adkhil ‘alaihim rawkhaan minka wa salaaman minna.

    Artinya: “Kesejahteraan semoga dilimpahkan atas kamu, hai semua roh yang rusak tubuhnya dan badan-badan yang busuk serta tulang-tulang yang hancur, yang telah keluar dari dunia, padahal ia beriman kepada Allah. Ya Allah, masukkanlah kepada mereka itu kelapangan dari Engkau dan kesejahteraan dari kami.”

    • Ibnus Sunni meriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah jika berjalan melalui pemakaman, beliau mengucapkan,

    السَّلامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ كَانَ رَسُولُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّالِحَاتِ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحِقُوْنَ

    Bacaan latin: Assalaamu’alaikum ahladdiyari mina kaana rasuulul mu’miniina wal mu’minaati wal muslimina wal muslimaati wassholihiina wassholihaat, wa inna insyaa allahu bikum laa khiquun

    Artinya: “Semoga kesejahteraan dilimpahkan atas kamu, hai para ahli kubur yang beriman laki-laki dan wanita, yang Islam laki-laki dan wanita, dan yang saleh laki-laki dan wanita. Sesungguhnya kami jika dikehendaki oleh Allah akan menyusul kamu.”

    • Ibnu Abbas RA berkata dalam riwayat At Tirmidzi, “Rasulullah SAW pernah berjalan melalui kuburan di Madinah. Beliau menghadapkan mukanya kepada mereka (ahli kubur), lalu beliau mengucapkan,

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ، يَغْفِرُ الله لَنَا وَلَكُمْ ، أَنْتُمْ سَلَفْنَا وَنَحْنُ بِالأَثَرِ

    Bacaan latin: Assalaamu’alaikum yaa ahlal qubuur, yaghfirullahu lanaa walakum, antum salafnaa wa nakhnu bil ‘atsari

    Artinya: “Semoga kesejahteraan dilimpahkan atas kamu, wahai ahli kubur. Mudah-mudahan Allah mengampuni kami dan kamu. Kamu mendahului kami dan kami menyusul kamu di belakang.”

    Adab Ziarah Kubur

    Ada beberapa adab dalam ziarah kubur. Disebutkan dalam buku Panduan Fardu Kifayah Beserta Doa karya Sopian Riduan, berikut tujuh adab ziarah kubur menurut Islam.

    Sangat dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum pergi berziarah dan menyucikan niat dalam menjalankan ziarah kubur.

    • Mengucapkan doa ketika masuk area pemakaman

    Rasulullah SAW telah mengajarkan umatnya untuk mengucapkan doa ketika masuk area pemakaman. Seseorang dapat membaca salah satu doa ketika masuk area pemakaman di atas.

    • Menghadap ke arah kiblat saat berdoa untuk almarhum dan berdzikir

    Ketika berdoa dan berdzikir untuk almarhum, seseorang hendaknya mengarah ke kiblat.

    Doa ziarah yang dapat dibaca yaitu,

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ

    Bacaan latin: Assalaamu’alaikum ahladdiyaari minal mu’miniina wal muslimiin, wa innaa insyaa allahu bikum laahiquun, as’alullahal ‘aafiyata lanaa wa lakum.

    Artinya: “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah SWT merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

    • Berdoa untuk almarhum kepada Allah SWT

    Setelah berdoa untuk almarhum kepada Allah SWT, umat muslim sangat dianjurkan untuk membaca surah Al Fatihah.

    Setelah membaca Al Fatihah, hendaknya membaca ayat-ayat pendek seperti surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas.

    • Tidak duduk atau menginjak bagian atas kuburan

    Dalam sebuah hadits berkata bahwa, “Janganlah kalian salat (berdoa) kepada kuburan, dan janganlah kalian duduk di atasnya.” (HR Muslim)

    • Tidak melakukan hal yang berlebihan

    Contoh dari tidak melakukan hal yang berlebihan yaitu menjadikan makam menjadi masjid, mencium batu nisan, atau menangis sambil meratapi makam di depannya.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com