Author: admin

  • Nabi Yaqub, Sosok Teladan yang Berbakti pada Orang Tua



    Jakarta

    Nabi Yaqub merupakan anak dari Nabi Ishaq dan cucu dari Nabi Ibrahim. Dalam beberapa riwayat, Nabi Yaqub digambarkan sebagai sosok yang berbakti kepada orang tua.

    Dalam kisah yang diceritakan melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebelum wafat, Nabi Yaqub sempat berpesan pada para putranya untuk senantiasa menjalankan perintah Allah. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 133,

    اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ


    Artinya: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

    Berikut ini adalah rangkuman dari kisah Nabi Yaqub yang perlu diketahui dan teladani oleh umat muslim.

    Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Yaqub AS

    Dikutip dari buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri diceritakan Nabi Yaqub adalah anak kandung dari Nabi Ishaq dengan Rafqa binti A’zar, seorang perempuan yang masih kerabat Nabi Ibrahim.

    Melalui surah Huud ayat 71, sebelumnya sudah terjadi peristiwa tatkala Nabi Ibrahim As beserta sang istri, Siti Sarah, didatangi malaikat utusan Allah SWT untuk menyampaikan kabar gembira.

    وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ

    Artinya: “Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Yaqub”.

    Nabi Yaqub memiliki kembaran yang bernama Ish. Mereka berdua tumbuh besar bersama meskipun dengan sifat yang bertolak belakang. Berbeda dengan Nabi Yaqub yang tenang, penyabar, baik hati, dan menghindari keburukan, saudara kembarnya Ish justru penuh dengan iri dengki dan berbuat maksiat.

    Ia selalu mengejek dan mengganggu Nabi Yaqub, akan tetapi Nabi Yaqub dengan penuh kesabarannya tidak membalas perbuatan saudara kembarnya dengan keburukan. Tatkala ia sudah tidak tahan dengan tingkah Ish, Nabi Yaqub pun mengadu pada ayahandanya.

    Akhirnya Nabi Ishaq pun berdiskusi dengan istrinya. Ia memutuskan untuk menikahkan Ish dengan harapan supaya perangai anaknya dapat berubah menjadi pribadi yang lebih tenang dan dewasa.

    Akan tetapi, Ish tidak berubah sebagaimana yang diekspektasikan. Ia justru makin sering mengganggu dan menganiaya Nabi Yaqub. Bahkan ia menyimpan dendam pada saudara kembarnya karena merasa bahwa ibu mereka lebih menyayangi Nabi Yaqub.

    Nabi Ishaq akhirnya menitipkan Nabi Yaqub pada saudara istrinya, Syekh Labban, yang bertempat tinggal di Faddan A’ram (Irak). Hal ini adalah sebagai bentuk perlindungan dari Nabi Ishaq pada Nabi Yaqub agar ia tidak lagi diganggu oleh saudara kembarnya.

    Nabi Yaqub adalah seorang yang sangat patuh pada perintah orang tuanya. Dengan segala baktinya ia pun berangkat ke Irak selepas menjalankan sholat subuh dan sang ayah berpesan agar ia dapat banyak belajar dari sang paman dan menitipkan secarik surat padanya.

    Masa Kenabian Nabi Yaqub AS

    Ujian pertama Nabi Yaqub adalah perjalanan dari Kan’an menuju Faddan A’ram dengan melewati gurun pasir yang luas, ia membawa perbekalan secukupnya dan memakannya ketika lelah. Saat siang hari, Nabi Yaqub akan beristirahat sementara ketika malam telah datang ia akan melanjutkan perjalanan.

    Dengan penuh rasa sabar, Nabi Yaqub terus menelusuri jalan panjang menuju Irak. Di tengah rasa lelahnya, ia tertidur dan bermimpi tentang kehidupannya di masa depan yang berlimpah rezeki dan penuh kedamaian. Ketika terbangun, ia memikirkan mimpinya.

    Jibril pun berbisik di telinganya bahwa ia menyampaikan wahyu dari Allah, kabar gembira bahwa Allah telah mengangkat dirinya sebagai Nabi. Rasa lelah dan penat pun menghilang. Hal ini juga diabadikan dalam QS. Al Baqarah ayat 132.

    وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

    Artinya: Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

    Dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, dikisahkan sesampainya di tempat Syekh Labban, Nabi Yaqub pun berjumpa dengan Rahil, seorang gadis cantik yang tengah menggembala kambing. Rahil adalah putri kedua dari Syekh Labban dan merupakan sepupu Nabi Yaqub.

    Setelah tinggal di sana, ia menyampaikan surat dari ayahnya pada pamannya tersebut. Ternyata, isinya adalah keinginan Nabi Ishaq untuk menikahkan Nabi Yaqub dengan salah satu putri Syekh Labban.

    Syekh Labban kemudian memberikan prasyarat pada Nabi Yaqub untuk menggembala selama tujuh tahun sebelum menikahi salah seorang putrinya, hal tersebut dianggap sebagai mas kawin. Syekh Labban pun bertanya pada Nabi Yaqub siapa yang ingin dinikahinya dan ia menjawab Rahil.

    Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa dilakukan jika Laya, sebagai putri pertama belum menikah. Hal tersebut adalah hukum adat di wilayah mereka. Akhirnya Nabi Yaqub menerima solusi dari Syekh Labban dengan menikahi kedua putrinya sekaligus dan mulai menggembala selama tujuh tahun lamanya.

    Setelah melewati ujian tersebut dan berdoa pada Allah, akhirnya Nabi Yaqub dapat menikahi Laya dan juga Rahil. Oleh karena kebaikannya sebagai suami, Laya dan Rahil pun meminta Nabi Yaqub menikahi budak mereka yang cantik parasnya, yakni Balhah dan Zulfah. Dari pernikahannya dengan empat perempuan tersebut, Nabi Yaqub dikaruniai banyak anak, salah satunya Nabi Yusuf.

    Meneladani Nabi Yaqub AS

    Melalui kisah Nabi Yaqub AS dan segala kesabaran serta keteguhannya memiliki banyak hal yang dapat dipelajari oleh umat muslim. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita teladani dari sosok Nabi Yaqub.

    1. Seorang Ayah yang Penyayang

    Dalam buku Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an yang ditulis oleh Adil Musthafa Abdul Halim, Nabi Yusuf menceritakan mimpi yang didapatnya pada ayahnya. Ia bermimpi menyaksikan sebelas bintang yang datang dari langit tunduk bersujud kepadanya.

    Menyadari tanda-tanda kenabian dari putranya, Nabi Yaqub pun menasihati Nabi Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya yang penuh iri dengki. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga Nabi Yusuf dari kejahatan saudara-saudaranya yang selalu berbuat jahat padanya.

    2. Penyabar dan Teguh Pendirian

    Meski tidak mudah, Nabi Yaqub menjalankan dan menyelesaikan ujian-ujian dari Allah SWT. Ia tidak pantang menyerah, senantiasa memanjatkan doa, dan berpikir positif. Ia juga berbesar hati dan selalu mengalah atas saudara kembarnya, Ish. Nabi Yaqub tidak mau membalas perbuatan buruk Ish dengan kejahatan.

    3. Adil dan Bijaksana

    Nabi Yaqub memiliki empat orang istri yang mana ia harus berlaku adil. Dari keempat istrinya pun ia dikaruniai belasan anak. Oleh karenanya, Nabi Yaqub selalu memperlakukan istri-istri dan anak-anaknya dengan adil tanpa ada rasa pilih kasih.

    Demikian penjelasan dari kisah Nabi Yaqub yang sangat berbakti pada orang tuanya. Ketika menjadi ayah, Nabi Yaqub pun senantiasa memberikan nasihat pada anak-anaknya untuk selalu beriman kepada Allah SWT. Dari kisahnya, kita sebagai umat muslim bisa mempelajari dan mengambil sisi positif untuk kita amalkan di kehidupan sehari-hari.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Firaun Membantai Seluruh Anak Laki-laki tapi Adopsi Nabi Musa



    Jakarta

    Nabi Musa lahir ketika Firaun berkuasa. Atas kehendak Allah SWT, ia bisa lahir dengan selamat. Tak hanya itu, Nabi Musa juga diangkat sebagai anak oleh Asiyah, istri Firaun.

    Nabi Musa adalah keturunan Nabi Yakub dan Nabi Ishak. Nabi Musa diutus sebagai nabi untuk Bani Israil. Ia hidup di masa pemerintahan Firaun di Mesir.

    Kisah tentang Nabi Musa juga banyak diceritakan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Nama Nabi Musa juga disebutkan sebanyak 136 kali di dalam Al-Qur’an yang tersebar di 30 surat.


    Mengutip buku Kisah Para Nabi: Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi sejak Nabi Adam Alaihissalam hingga Nabi Isa Alaihissalam oleh Ibnu Katsir, dikisahkan sejarah kelahiran Nabi Musa hingga ia diangkat sebagai anak oleh Asiyah, istri Firaun.

    Nabi Musa Lahir saat Firaun Berkuasa

    Nabi Musa lahir di tengah Bani Israil yang merupakan bagian dari kelompok masyarakat terbaik. Bani Israil dipimpin oleh seorang raja yang zalim, durhaka, melampaui batas, dan kafir.

    Raja yang zalim itu memerintahkan rakyatnya untuk selalu patuh dan menyembah kepadanya. Firaun juga memerintahkan para prajuritnya untuk membunuh setiap anak laki-laki yang ada di wilayah kekuasaannya.

    Raja melakukan tindakan sangat keji itu karena dilatarbelakangi oleh realita yang terjadi pada Bani Israil yang aktif mempelajari Kitab yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim . Di dalam Kitab itu dinyatakan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari keturunan Ibrahim yang akan menghancurkan raja Mesir yang sedang berkuasa.

    Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 4:

    إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْىِۦ نِسَآءَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ

    Artinya: “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

    Nabi Musa dilahirkan oleh ibunya pada tahun diberlakukannya peraturan kerajaan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir.

    Hal ini membuat ibunda Musa merasa was-was dan ketakutan sehingga ia sangat berhati-hati ketika hendak melahirkan anaknya. Setelah melahirkan anak laki-lakinya, ibunda Musa mendapatkan ilham untuk menaruh anaknya itu di dalam peti. la pun segera meletakkan anaknya di dalam peti dan mengikatnya dengan tali.

    Tempat tinggal ibunda Nabi Musa ini diketahui berada di dekat Sungai Nil.

    Setelah melahirkan anak laki-lakinya itu, ibunda Musa masih sempat menyusuinya hingga ketika situasi dan kondisinya sangat mengkhawatirkan, ia segera meletakkan anak laki-lakinya itu ke dalam peti yang sudah dipersiapkan olehnya. Setelah itu, ia menghanyutkan peti yang berisi anaknya itu ke Sungai Nil.

    Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qashash Ayat 7

    وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا تَحْزَنِىٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ

    Artinya: “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”

    Nabi Musa Diangkat sebagai Anak oleh Istri Firaun

    Para ahli tafsir berkata, “Para dayang memungut Musa dari tepi Sungai Nil dalam peti tertutup, tetapi mereka tidak berani membukanya. Akhirnya, mereka meletakkannya di hadapan istri Firaun yang bernama Asiyah binti Muzahim bin Ubaid bin ar-Rayyan bin Walid.

    Sebagian ulama mengatakan bahwa istri Firaun berasal dari kalangan Bani Israil yang masih satu rumpun dengan Nabi Musa. Ada juga yang berpendapat bahwa Asiyah adalah bibi Nabi Musa sebagaimana dikatakan oleh as-Suhaili.
    Wallahu alam.

    Ketika Asiyah membuka penutup peti tersebut dan menyingkap kain penutupnya, ia melihat wajah bayi lelaki yang tidak lain adalah Musa. Wajah polosnya terlihat cerah memancarkan cahaya kenabian dan keagungan.

    Saat melihat bayi itu, Asiyah langsung menyukai dan mencintainya hingga Firaun datang dan bertanya, “Siapa anak ini?” Bahkan, ketika Firaun memerintahkan agar menyembelih anak itu, Asiyah langsung menolak dan meminta suaminya itu agar tidak membunuh anak tersebut. Asiyah berkata, “la adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.”

    Perkataan Asiyah ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 9

    وَقَالَتِ ٱمْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّى وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوْ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

    Artinya: Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.

    Dalam ayat ini Allah SWT berfirman yang artinya, “Sedangkan mereka tidak menyadarinya.” Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat ini, mereka tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah bahwa di tangan anak itulah terjadinya kehancuran masa depan Firaun dan bala tentaranya.

    Nabi Musa Kembali pada Ibunya

    Ketika Musa berada di rumah Firaun, para wanita yang berada di rumah itu ingin menyusuinya, tetapi Musa tidak mau menyusu pada mereka dan tidak pula mau makan. Mereka kebingungan dan berusaha keras untuk menyuapi Musa, tetapi Musa tetap saja tidak mau makan.

    Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman dalam surat Al-Qashash ayat 12

    ۞ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ ٱلْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰٓ أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُۥ لَكُمْ وَهُمْ لَهُۥ نَٰصِحُونَ

    Artinya: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.

    Pada akhirnya, diutuslah beberapa orang untuk membawa Musa sambil mencari para perempuan dari berbagai kabilah dan yang ada di pasar-pasar untuk menyusui bayi itu, dengan harapan mereka mendapatkan perempuan yang cocok sehingga bayi itu mau menyusu.

    Seorang saudara perempuan Musa mengetahui kabar itu dan ia berpura-pura tidak mengenal bayi yang sebenarnya adalah adiknya. Ia berkata, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian keluarga yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”

    Para utusan kerajaan pun mengikuti saudara perempuan Musa itu menuju rumah ibunya Musa. Setibanya di rumah yang dituju, ibunya Musa segera menggendong untuk menyusui bayi itu. Bayi yang tiada lain adalah anaknya sendiri itu pun langsung mau menyusu dengan lahap.

    Melihat hal itu, mereka merasa sangat puas dan gembira. Mereka pun melaporkan peristiwa yang sangat menggembirakan itu kepada Asiyah.

    Selanjutnya, Asiyah meminta agar perempuan yang tidak lain adalah ibunya Musa itu untuk menetap bersamanya dan memohon kebaikan serta kesediaanya. Namun, perempuan itu menolaknya seraya berkata, “Sesungguhnya, aku mempunyai suami dan anak-anak yang tidak bisa aku tinggalkan. Akan tetapi, aku siap melakukannya jika bayi itu dibawa kepadaku (ke rumahku).”

    Akhirnya, Asiyah mengutus ajudan kerajaan untuk menyerahkan bayi itu kepada ibunya Musa untuk disusui secara rutin.

    Asiyah kemudian memberikan berbagai macam fasilitas kepada ibu Musa berupa biaya nafkah sehari-hari, pakaian-pakaian bagus, dan beberapa hadiah istimewa lainnya sebagai kompensasi upah menyusui bayi itu. Akhirnya, Musa kembali ke pangkuan ibunya dan berada di bawah asuhannya. Allah telah menyatukan kembali bayi yang bernama Musa itu dengan ibunya sendiri.

    Surat Al-Qashash ayat 13 menjelaskan peristiwa ini,

    فَرَدَدْنَٰهُ إِلَىٰٓ أُمِّهِۦ كَىْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

    Artinya: Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

    Demikian kisah kelahiran Nabi Musa dan masa-masa kecilnya yang selamat dari kekejaman Firaun. Kelak Nabi Musa-lah yang akan membinasakan kekuasaan Firaun yang zalim.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sejarah Kota Thaif dan Kisah Kedatangan Rasulullah SAW



    Jakarta

    Kota Thaif adalah kota besar ketiga setelah Kota Makkah dan Madinah. Kota ini berada di sebelah tenggara Makkah yang berjarak sekitar 75 mil. Kota Thaif didiami oleh suku Tsaqif atau Bani Tsaqif menyimpan sejarah keislaman sebab Rasulullah SAW pernah mendatangi kota tersebut untuk berdakwah.

    Sejarah Kota Thaif

    Mengutip dari buku Sirah Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi, nama Thaif diambil dari keberadaan pagar atau tembok yang mengelilingi kota tersebut. Kota Thaif dihuni oleh orang-orang kaya dan para pemuka kaum Quraisy yang membangun istana-istana di sana.

    Namun, kekayaan yang melimpah tersebut justru mengakibatkan kerusakan moral masyarakat. Orang kaya yang tinggal di Kota Thaif dikenal gemar melakukan perbuatan riba, zina, dan meminum khamr.


    Kota Thaif memiliki sumber air yang melimpah, tanah yang subur, pepohonan yang berbuah lebat sehingga di kota itu banyak pembuatan khamr atau minuman anggur. Keadaan tersebut masih ada dan berlangsung hingga sekarang.

    Orang-orang dari suku Bani Tsaqif memegang kepemimpinan di Kota Thaif. Suku Bani Tsaqif juga menjadi salah satu suku terbesar di Jazirah Arab yang diakui kekuatan dan kekayaannya.

    Di zaman Rasulullah SAW, orang-orang di Kota Thaif yang berasal dari suku Bani Tsaqif bermusuhan dengan kaum Quraisy dalam bidang spiritual dan sosial politik.

    Kota Thaif pada saat itu menjadi tempat penyembahan Lata, yaitu patung yang disembah dan dijadikan tujuan ritual tahunan. Sementara itu, kaum Quraisy memandang patung Lata sebagai pesaing patung Hubal atau patung milik kaum Quraisy yang paling besar.

    Keadaan penduduk kota Thaif kurang lebih hampir sama dengan penduduk Quraisy yang menyembah patung. Hal tersebut membuat Rasulullah SAW memilih Kota Thaif sebagai tujuan dakwahnya setelah ia dihina dan mendapat kekerasan dari kaum Quraisy di Makkah.

    Kisah Kedatangan Rasulullah SAW ke Kota Thaif

    Dalam buku 114 Al-Qur’an Stories karya Vanda Arie, diceritakan bahwa kedatangan Rasulullah SAW ke Kota Thaif bertujuan untuk menyampaikan dakwah dan memohon perlindungan kepada suku Tsaqif dari tekanan yang beliau terima di Makkah.

    Kedatangan Rasulullah SAW ke Kota Thaif untuk berdakwah bisa jadi disebabkan karena Kota Thaif merupakan pusat kekuatan dan kepemimpinan yang kedua setelah Makkah atau sebab paman-paman beliau berasal dari Bani Tsaqif.

    Setelah tiba di Kota Thaif, Rasulullah SAW kemudian menemui tiga pembesar Bani Tsaqif, yaitu Mas’ud, Abdu Yalail, dan Habib. Beliau duduk bersama mereka dan mengajak mereka untuk beriman kepada Allah SWT.

    Ternyata, Rasulullah SAW justru menghadapi penolakan yang sangat keras dari suku Tsaqif. Mereka menghina Rasulullah, membujuk orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk meneriaki beliau, kemudian melempari beliau dengan batu.

    Zaid bin Haritsah, seorang sahabat yang menemani Rasulullah ke Kota Thaif, sudah berusaha melindungi beliau dari lemparan batu. Namun, batu tersebut tetap mengenai tubuh Rasulullah hingga berdarah-darah.

    Rasulullah SAW bersama Zaid kemudian duduk beristirahat di bawah pohon kurma dalam keadaan menderita. Ternyata, apa yang ditemuinya di Kota Thaif jauh lebih berat daripada yang diterimanya dari orang-orang kafir Quraisy di Makkah.

    Pada akhirnya, Zaid bin Haritsah bersama Rasulullah SAW kembali lagi ke Kota Makkah. Peristiwa itu menjadi awal pergerakan hijrah Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan penduduk muslim Makkah lainnya menuju Madinah.

    Penduduk Kota Thaif Memeluk Agama Islam

    Dikisahkan dalam buku Dakwah Rasulullah karya Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Penduduk Kota Thaif yang terdiri dari suku Tsaqif kemudian memeluk agama Islam sesudah Fathu Makkah, tepatnya setelah berakhirnya perang Hunain pada tahun kedelapan Hijriah.

    Sejak saat itulah, Kota Thaif dan penduduknya dari suku Tsaqif menjadi kaum yanng beriman. Mereka melaksanakan ajaran Islam dengan ikhlas, tulus, dan sukarela.

    Demikianlah sejarah Kota Thaif yang didiami oleh Suku Tsaqif. Kota Thaif sebagai kota yang subur dan sejuk semakin memperkuat posisi Islam sebagai agama yang membawa rahmat (rahmatan lil ‘alamin).

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Mukjizat Nabi Isa AS yang Menghidupkan Orang Mati Atas Izin Allah, Ini Kisahnya



    Jakarta

    Sebagai utusan Allah SWT, Nabi Isa AS diberi sejumlah mukjizat yang mampu membuktikan kenabiannya kepada mereka yang meragukan. Di antara peristiwa luar biasa yang dialaminya adalah dapat menghidupkan orang mati. Bagaimana kisahnya?

    Mengutip buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul susunan Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, Alah SWT mengutus Isa AS untuk menerima wahyu berupa Injil dan bertanggung jawab untuk mengajarkannya kepada Bani Israil.

    Ibunya adalah Maryam, seorang wanita sholehah yang Dia pelihara kesucian dan kemuliaannya. Dengan melahirkan Nabi Isa, itulah salah satu ujian baginya. Mengapa? Lantaran Allah SWT memilih Maryam untuk menjadi ibu dan melahirkan Isa AS tanpa disentuh seorang ayah (laki-laki).


    Yang demikian tentu mungkin saja dilakukan dengan kehendak-Nya, karena Dialah sang Pencipta. Dalam Surat Ali Imran ayat 47 berbunyi:

    “Dia (Maryam) berkata, ‘Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.’ Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata padanya, ‘Jadilah!’ Maka, jadilah sesuatu itu.”

    Kelahiran yang demikian termasuk sebagai satu mukjizat yang diterima oleh Nabi Isa, di antara berbagai mukjizat lainnya.

    Kisah Singkat Nabi Isa AS Menghidupkan Orang Mati

    Selain lahir tanpa peran seorang ayah, Isa AS diberi mukjizat lain yakni dapat menghidupkan orang yang telah meninggal dunia. Hal ini tentu atas izin dan kuasa-Nya dan jangan sampai disalahartikan. Mukjizat ini juga diabadikan dalam Surat Ali Imran ayat 49:

    “(Allah akan menjadikannya) sebagai seorang rasul kepada Bani Israil. (Isa berkata,) ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit buras (belang) serta menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu jika kamu orang-orang mukmin.’

    Adapun Ahmad Bahjat dalam bukunya Nabi-Nabi Allah terjemah Anbiya Allah menceritakan secara singkat kisah mukjizat ini.

    Dikatakan oleh para ahli tafsir bahwa Nabi Isa telah menghidupkan kembali tiga orang dari kematiannya: Lazarus, salah seorang temannya pada masa lalu; anak perempuan dari seorang lelaki tua; dan anak lelaki seorang janda yang sebatang kara. Ketiga orang ini baru meninggal pada hari itu juga.

    Saat mengetahui itu, orang-orang Bani Israil berkata kepada Isa AS, “Engkau hanya mampu menghidupkan orang-orang yang baru mati. Bisa jadi mereka masih belum mati, melainkan hanya mati suri.”

    Mereka meminta Isa AS untuk membangkitkan jenazah Sam bin Nuh, dan kemudian beliau minta ditunjukkan makamnya tersebut. Bersama kaumnya, beliau berangkat ke kubur Sam bin Nuh.

    Sesampainya di sana, Nabi Isa lalu berdoa kepada Allah SWT agar Dia menghidupkan kembali Sam bin Nuh. Dan seketika itu juga Sam ibn Nuh keluar dari kuburnya, dengan rambut kepalanya telah beruban.

    Isa AS bertanya kepadanya, “Bagaimana rambut di kepalamu bisa beruban, sementara pada zaman kalian belum ada uban?”

    Sam bin Nuh menjawab, “Wahai Ruhullah, engkau telah memanggilku. Maka aku mendengar suara, ‘Jawablah panggilan Ruhullah!’ Aku menduga hari kiamat sudah tiba. Karena rasa takut akan hari kiamat, rambutku menjadi beruban.”

    Sam bin Nuh lalu menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia juga menceritakan mengenai peristiwa banjir besar yang terjadi pada masa dakwah ayahnya itu, Nabi Nuh AS.

    Setelah mengabarkannya, Nabi Isa lantas berdoa kembali kepada Allah SWT hingga akhirnya Sam bin Nuh kembali menjadi tanah dalam kubur.

    Dalam buku Kisah Para Nabi terjemah Qashash Al-Anbiya oleh Ibnu Katsir dicantumkan pula riwayat Ibnu Abbas yang menceritakan Isa AS menghidupkan kembali seorang penguasa Bani Israil.

    Diriwayatkan, “Ketika salah seorang raja dari bangsa Israil meninggal dunia dan dibawa di atas kerandanya, datanglah Nabi Isa dan beliau berdoa kepada Allah SWT untuk menghidupkannya kembali. Lalu Allah mengabulkan doanya dan raja itu pun hidup kembali. Bani Israil yang melihat kejadian itu terkejut dan kagum terhadap Isa AS.”

    Wallahu a’lam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ilyasa AS, Sosok Penerus Dakwah Nabi Ilyas



    Jakarta

    Nabi Ilyasa merupakan satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui. Ilyasa AS merupakan rasul dari kalangan Bani Israil sekaligus berasal dari garis keturunan yang sama dengan Harun, Musa dan Ilyas.

    Mengutip dari buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul yang ditulis oleh Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, Nabi Ilyasa AS berdakwah usai Nabi Ilyas wafat dan berpegang teguh pada metode Nabi Ilyas ketika berdakwah.

    Dalam kitab Taurat disebutkan bahwa Nabi Ilyasa mendapat mukjizat menghidupkan orang yang telah mati. Di Al-Qur’an, Nabi Ilyasa dijelaskan dalam surat Al-An’am ayat 86, berikut bunyinya:


    وَإِسْمَٰعِيلَ وَٱلْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

    Arab latin: Wa ismā’īla walyasa’a wa yụnusa wa lụṭā, wa kullan faḍḍalnā ‘alal-‘ālamīn

    Artinya: “Dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),”

    Kisah Nabi Ilyasa tidak terlepas dari Nabi Ilyas, karena ketika Ilyasa masih muda beliau kerap mengikuti kemanapun Nabi Ilyas berdakwah. Dalam buku Menengok Kisah 25 Nabi dan Rasul karya Ahmad Fatih SPd, Nabi Ilyas sudah menganggap Ilyasa sebagai putranya sendiri hingga berbagai rintangan dirasakan oleh keduanya ketika mensyiarkan ajaran Allah SWT.

    Adapun, mengenai kelahiran Nabi Ilyasa tidak banyak sumber yang menceritakannya. Namun, Nabi Ilyasa diketahui lahir dari keluarga sederhana.

    Menurut buku Nabi Ilyasa AS: Penerus Dakwah di Negeri Ba’labak tulisan Olman Dahuri, Nabi Ilyasa sempat menderita sakit keras dan hanya ditemani oleh sang ibu yang terus berusaha untuk kesembuhannya. Badannya kurus kering karena penyakit yang dideritanya.

    Sepanjang hari, Nabi Ilyasa hanya terbujur lemah di kasur. Sang ibu bahkan hampir putus asa karena putranya tak kunjung sembuh, namun Ilyasa tetap tabah dan percaya dirinya bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya.

    Nama Ilyasa disebut dalam kisah Ilyas saat beliau dikejar oleh kaumnya dan bersembunyi di rumah Ilyasa. Kemungkinan besar, Ilyasa tinggal di sekitar lembah Sungai Yordania.

    Saat Nabi Ilyas bersembunyi di rumah Ilyasa, usia Nabi Ilyasa masih sangat belia dan menderita sakit. Atas izin Allah, Nabi Ilyas membantu menyembuhkan penyakit Nabi Ilyasa hingga akhirnya beliau terus mendampingi Ilyas dalam berdakwah.

    Dikutip dari buku Nabiku Teladanku oleh Lutfiya Cahyani, wafatnya Nabi Ilyasa AS ketika dirinya berpindah dari Damaskus ke Palestina dan menetap di sana. Saat usianya menginjak 90 tahun, Nabi Ilyasa wafat dan dikuburkan di Palestina.

    Nabi Ilyasa membimbing kaum Bani Israil dengan baik hingga mereka hidup damai dan taat kepada Allah. Sayangnya, ketika beliau wafat, kaum tersebut kembali ke kufur terhadap Allah SWT.

    Allah kemudian mengutus nabi-nabi lainnya untuk memperingatkan mereka, sayangnya mereka tidak mengindahkan ajakan tersebut. Kaum Bani Israil banyak melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran, akhirnya Allah mencabut rezeki, nikmat, hingga kesenangan mereka.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Luth dalam Al-Qur’an, Azab Allah SWT kepada Kaum Homoseksual



    Jakarta

    Nabi Luth AS adalah nabi yang diutus untuk berdakwah kepada kaum yang tinggal di negeri Sadum, Syam, Palestina. Ia juga merupakan anak keponakan dari Nabi Ibrahim AS dan menjadi orang pertama yang beriman kepada Nabi Ibrahim AS.

    Nabi Luth AS diutus oleh Allah SWT untuk memperbaiki iman dan akhlak Kaum Sadum atau biasa dikenal sebagai Kaum Sodom. Kaum Sodom adalah kaum dengan iman dan akhlak yang rusak sebab maksiat dan kemungkaran telah merajalela dalam kehidupan sehari-hari mereka.

    Mengutip dari buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi karya Rizem Aizid, kisah Nabi Luth AS dalam Al-Qur’an terdapat pada 85 ayat di 12 surat, yaitu beberapa di antaranya surat Al-Anbiyaa’, surat Asy-Syu’ara, surat Hud, dan surat Al-Qamar. Berikut kisah selengkapnya.


    Kisah Kaum Sodom

    Dalam buku 25 Kisah Nabi & Rasul karya Woro Lestari, dkk., kaum Sodom digambarkan memiliki sikap yang sangat kasar dan tidak memiliki sopan santun. Mereka terkenal sangat keji, gemar merampok, menindas yang lebih lemah, dan melakukan kemungkaran di mana saja.

    Kaum Sodom bahkan melakukan perbuatan yang sangat kotor dan belum pernah dilakukan oleh penduduk di bumi sebelumnya, yaitu saling menyukai sesama jenis. Allah SWT sangat membenci perbuatan ini dan melarang umatnya untuk menyukai sesama jenis.

    Allah SWT telah menyebutkan dalam firmannya pada Al-Qur’an surat Al Anbiya ayat 74-75 bahwa semua penduduk di negeri Sodom melakukan perbuatan keji, kecuali orang-orang yang tinggal di rumah Nabi Luth AS.

    وَلُوْطًا اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا وَّنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ كَانَتْ تَّعْمَلُ الْخَبٰۤىِٕثَ ۗاِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمَ سَوْءٍ فٰسِقِيْنَۙ وَاَدْخَلْنٰهُ فِيْ رَحْمَتِنَاۗ اِنَّهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ࣖ

    Artinya: “Kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya, mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik. Kam memasukkannya (Nabi Luth) ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya dia termasuk golongan orang-orang yang saleh.” (QS Al-Anbiyaa’: 74-75).

    Banyak pendatang di Kota Sadum yang seringkali menjadi korban perbuatan buruk mereka. Mereka yang berani melawan, tak segan-segan akan dibunuh. Jika orang yang menjadi pendatang merupakan pria tampan, maka ia akan menjadi rebutan penduduk pria, begitupun sebaliknya pada kaum perempuan.

    Dakwah Nabi Luth kepada Kaum Sodom

    Nabi Luth AS dengan sabar membimbing mereka agar menyadari perbuatannya, tetapi tak seorang pun ada yang mau mendengar. Bahkan kaum Sodom mengancam dan melakukan kejahatan kepada Nabi Luth hingga berniat untuk mengusir Nabi Luth dari kota tersebut. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 160-167:

    كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوْطِ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۖ اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ لُوْطٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ اَتَأْتُوْنَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعٰلَمِيْنَ ۙ وَتَذَرُوْنَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُوْنَ قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰلُوْطُ لَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِيْنَ

    Artinya: “Kaum Luth telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul terpercaya (yang diutus) kepadamu. Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. imbalanku tidak lain hanyalah dari tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)? Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas.” Mereka menjawab, “Wahai Luth, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.” (Asy-Syu’ara: 160-167).

    Nabi Luth AS kemudian berdoa kepada Allah SWT agar kaumnya mendapat azab atas perbuatan buruk mereka. Akhirnya, Allah SWT mengirimkan malaikat sebagai tamu yang menyamar dalam bentuk para pemuda tampan. Hal ini membuat kaum Sodom berbondong-bondong mendatangi rumah Nabi Luth dan meminta untuk menyerahkan para pemuda tampan tersebut kepada mereka.

    Kemudian para malaikat itu pun mengungkapkan siapa mereka sebenarnya dan mengabarkan bahwa Allah SWT akan segera menurunkan azab di waktu subuh. Nabi Luth AS dan para pengikutnya diminta untuk meninggalkan Kota Sadum di malam hari. Selama keluar dari Kota Sadum, mereka tidak boleh menoleh ke belakang supaya tidak melihat siksaan yang akan terjadi.

    Kisah kedatangan para malaikat ini digambarkan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 77-81 sebagai berikut:

    وَلَمَّا جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَّقَالَ هٰذَا يَوْمٌ عَصِيْبٌ وَجَاۤءَهٗ قَوْمُهٗ يُهْرَعُوْنَ اِلَيْهِۗ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِۗ قَالَ يٰقَوْمِ هٰٓؤُلَاۤءِ بَنَاتِيْ هُنَّ اَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُوْنِ فِيْ ضَيْفِيْۗ اَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَّشِيْدٌ قَالُوْا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِيْ بَنٰتِكَ مِنْ حَقٍّۚ وَاِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيْدُ قَالَ لَوْ اَنَّ لِيْ بِكُمْ قُوَّةً اَوْ اٰوِيْٓ اِلٰى رُكْنٍ شَدِيْدٍ قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْ ۗاِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ

    Artinya: “Ketika para utusan Kami (malaikat) datang kepada Luth, dia merasa gundah dan dadanya terasa sempit karena (kedatangan) mereka. Luth berkata, “Ini hari yang sangat sulit.” Kaumnya bergegas datang menemuinya. Sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji. Luth berkata, “Wahai kaumku, inilah putri-putri (negeri)-ku. Mereka lebih suci bagimu (untuk dinikahi). Maka, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)-ku di hadapan tamuku ini. Tidak adakah di antaramu orang yang berakal sehat?” Mereka menjawab, “Sungguh, engkau pasti tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu dan engkau tentu mengetahui apa yang (sebenarnya) kami inginkan.” Dia (Luth) berkata, “Sekiranya aku mempunyai kekuatan untuk menghalangi (perbuatan)-mu atau aku dapat berlindung kepada kerabat yang kuat (tentu aku lakukan).” Mereka (para malaikat) berkata, “Wahai Lut, sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu. Mereka tidak akan dapat mengganggumu (karena mereka akan dibinasakan). Oleh karena itu, pergilah beserta keluargamu pada sebagian malam (dini hari) dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu (janganlah kamu ajak pergi karena telah berkhianat). Sesungguhnya dia akan terkena (siksaan) yang menimpa mereka dan sesungguhnya saat (kehancuran) mereka terjadi pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS Hud: 77-81).

    Azab Allah SWT kepada Kaum Sodom

    Di kala subuh tiba, Allah SWT menurunkan azab yang sangat dasyat berupa longsor dan hujan batu di negeri Sadum. Bebatuan besar menimpa para Kaum Sodom secara berturut-turut hingga mereka binasa.

    Kisah diturunkannya azab kepada Kaum Sodom disebutkan dalam firman Allah SWT pada surat Al-Qamar ayat 33-39:

    كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوْطٍ ۢبِالنُّذُرِ اِنَّآ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا اِلَّآ اٰلَ لُوْطٍ ۗنَجَّيْنٰهُمْ بِسَحَرٍۙ نِّعْمَةً مِّنْ عِنْدِنَاۗ كَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ شَكَرَ وَلَقَدْ اَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ وَلَقَدْ رَاوَدُوْهُ عَنْ ضَيْفِهٖ فَطَمَسْنَآ اَعْيُنَهُمْ فَذُوْقُوْا عَذَابِيْ وَنُذُرِ وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُّسْتَقِرٌّۚ فَذُوْقُوْا عَذَابِيْ وَنُذُرِ

    Artinya: “Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya). Sesungguhnya, Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing. Sebagai nikmat dari kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan, sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami. Maka, mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. Dan, sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka. Maka, rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan, sesungguhnya pada esok harinya, mereka ditimpa azab yang kekal. Maka, rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS Al-Qamar: 33-39)

    Itulah kisah Nabi Luth dan kaumnya di Negeri Sodom yang diberi azab oleh Allah SWT karena menyukai sesama jenisnya. Semoga umat muslim dapat memetik hikmah dari kisah ini dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Putri Rasulullah SAW yang Jalani Cinta Beda Agama



    Jakarta

    Kisah cinta beda agama sudah terjadi sejak zaman nabi. Salah satu putri Rasulullah SAW pun pernah mengalaminya.

    Putri Rasulullah SAW yang mengalami cinta beda agama adalah Zainab RA. Sayyidah Zainab menikah dengan Abul Ash bin Rabi’. Dalam Kelengkapan Tarikh Muhammad SAW karya Moenawar Chalil disebutkan, Abul Ash bin Rabi’ adalah salah seorang pemuka Quraisy.

    Melansir buku Rumah Tangga Seindah Surga karya Ukasyah Habibu Ahmad, cinta putri Rasulullah SAW ini sangatlah dalam dan keduanya saling mencintai. Namun, perbedaan keyakinan sempat memisahkan keduanya.


    Setelah turunnya wahyu kenabian kepada Rasulullah SAW, Abul Ash tetap kukuh pada kepercayaan nenek moyangnya. Ia tetap menyembah berhala, sebagaimana orang-orang kafir Quraisy.

    Pertemuan Zainab dan Abul Ash

    Zainab RA adalah putri sulung dari Rasulullah SAW dari pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid RA. Saat itu, Zainab dilahirkan saat Rasulullah SAW berusia 30 tahun atau sekitar 23 tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah.

    Sebagai anak pertama, Zainab RA terbiasa untuk membantu dan meringankan tugas ibunya dalam urusan rumah tangga serta mengasuh adik-adiknya. Dari kebiasaan inilah, ia belajar hidup dalam kesabaran dan keteguhan.

    Sementara itu, Abul Ash bin Rabi’ bin Abdil Uzza bin Abdisy Syams bin Abdi Manaf bin Qushay al-Qurasyi merupakan pemuda terhormat dengan kekayaan melimpah. Ia merupakan putra Halah bin Khuwailid yang tak lain merupakan saudara Khadijah RA. Dengan kata lain, Abul Ash merupakan keponakan dari Khadijah RA.

    Setelah dewasa, Abul Ash menjadi seorang pemuda yang kaya, rupawan, dan mempesona. Kehidupannya bergelimang kenikmatan hingga setelah cukup usia ia menikahi Zainab RA. Pernikahan ini berlangsung sebelum masa kenabian Rasulullah SAW.

    Kisah Perjuangan Cinta Zainab dan Abul Ash

    Merangkum dalam buku Rumah Tangga Seindah Surga karya Ukasyah Habibu Ahmad dan buku Kisah Nabi Muhammad SAW karya Yoyok Rahayu Basuki, hingga pada akhirnya Rasulullah SAW memutuskan untuk hijrah dan Zainab RA tidak diperbolehkan oleh sang suami dan keluarganya untuk meninggalkan Makkah.

    Bahkan hingga Perang Badar meletus, Zainab RA menjadi satu-satunya muslimah yang tinggal bersama kafir Quraisy di Makkah.

    Pada saat itu Abul Ash turut serta dalam pertempuran untuk memerang kaum muslimin dan mertuanya, Rasulullah SAW.

    Peperangan tersebut jelas membuat Zainab RA merasa gelisah. Bagaimana tidak, saat itu sang suami berada di pihak musuh yang melawan ayahandanya padahal keduanya merupakan orang yang sangat dicintai oleh Zainab RA.

    Zainab RA hanya bisa berdoa semoga Allah SWT memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, namun ia juga berharap suaminya dijauhkan dari bahaya dan mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam.

    Pada akhirnya, kaum muslimin memenangkan peperangan dan Abul Ash menjadi salah satu tawanan. Ia digiring menuju Madinah dan Rasulullah SAW mewajibkan setiap tawanan menebus diri mereka jika ingin bebas.

    Rasulullah SAW menetapkan uang tebusan antara 1.000-4.000 dirham sesuai dengan kedudukan dan kekayaan para tawanan di kaumnya.

    Akhirnya, Zainab RA mengirimkan uang tebusan dan sebuah kalung pemberian ibunya, Khadijah binti Khuwailid. Ketika Rasulullah SAW melihat Zainab RA beserta dengan kalung tersebut beliau terharu, air mata pun menetes di pipi beliau.

    Melihat duka Rasulullah SAW, para sahabat setuju untuk membebaskan Abul Ash bin Rabi’ tanpa harus membayar tebusan. Kemudian Rasulullah SAW mengembalikan kalung tersebut dan meminta Abul Ash untuk menceraikan Zainab RA.

    Pada dasarnya, menurut hukum Islam seorang wanita mukmin tidak boleh menikahi laki-laki kafir. Abul Ash yang mendengarnya kemudian menyetujui hal tersebut. Ketika kembali ke Makkah keluarga Abul Ash berkata, “Biarlah engkau menceraikan istrimu itu, dan kami akan mencarikan bagimu gadis yang jauh lebih cantik daripadanya.”

    Namun, Abul Ash sangat mencintai Zainab sehingga ia berkata, “Di suku Quraisy tidak ada gadis yang dapat menandingi istriku.” Meskipun dihalang-halangi orang Quraisy pada akhirnya Abul Ash melepaskan Zainab ke Madinah.

    Hingga di tengah perjalanan, beberapa orang Quraisy mengganggu unta Zainab RA sehingga putri Rasulullah SAW tersebut jatuh. Pada saat itu, Zainab tengah mengandung karena hal tersebut ia harus kehilangan bayinya karena keguguran.

    Disebutkan dalam buku 40 Putri Terhebat, Bunda Terkuat karya Tethy Ezokanzo setelah kejadian itu Zainab RA terus sakit-sakitan dan lukanya sulit untuk diobati. Hingga pada akhirnya, Abul Ash diberi hidayah oleh Allah SWT dan masuk Islam.

    Ia menyusul Zainab RA pada tahun ke 7 Hijriah. Rasulullah SAW sangat senang menerima menantunya kembali. Zainab RA pun bahagia, hari-hari terakhir hidupnya ditemani suami tercinta, hingga akhirnya wafat pada tahun 8 Hijriah.

    Demikianlah cerita dari Zainab RA, putri Rasulullah SAW yang pernah mengalami cinta beda agama dengan salah seorang Quraisy, penyembah berhala.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Mukjizat Nabi Ibrahim AS, Tidak Terbakar oleh Api



    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS adalah nabi yang diutus Allah SWT untuk membimbing kaum Kaldan yang saat itu menyembah berhala. Nabi Ibrahim memiliki mukjizat yang dikaruniai Allah SWT kepadanya.

    Suatu mukjizat dijelaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya pada Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara ayat 4 yang berbunyi:

    اِنْ نَّشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ اٰيَةً فَظَلَّتْ اَعْنَاقُهُمْ لَهَا خٰضِعِيْنَ


    Artinya: “Jika berkehendak, niscaya Kami turunkan bukti (mukjizat) kepada mereka dari langit sehingga tengkuk mereka selalu tunduk kepadanya.”

    Dalam buku Mukjizat Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab dijelaskan unsur-unsur yang menyertai mukjizat. Unsur-unsur tersebut adalah:

    • Peristiwa yang luar biasa
    • Terjadi atau dipaparkan oleh seseorang yang mengaku nabi
    • Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian
    • Tantangan tersebut tidak mampu dilayani (dikalahkan)

    Setelah memahami apa itu mukjizat maka kita akan membahas mukjizat yang dimiliki Nabi Ibrahim. Seperti apa mukjizatnya?

    Nabi Ibrahim AS Tidak Terbakar Api

    Kisah Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh panasnya api dan tetap selamat adalah salah satu kisah mukjizat Allah SWT yang paling terkenal. Dikutip dari buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul karangan Aifa Syah, Nabi Ibrahim merupakan anak cerdas yang merupakan keturunan Nabi Nuh.

    Nabi Ibrahim sudah mempertanyakan penyembahan kaumnya kepada berhala sedari kecil. Hingga memasuki masa dakwah kenabiannya, Nabi Ibrahim pada suatu masa menghancurkan patung-patung berhala yang disembah oleh kaumnya.

    Nabi Ibrahim pun mendapatkan kecaman dari kaumnya. Kemudian, Nabi Ibrahim mendapatkan hukuman dari kaumnya sendiri untuk dibakar diatas kayu-kayu yang telah dikumpulkan.

    Nabi Ibrahim pada saat peristiwa tersebut terjadi selalu mengingat Allah SWT serta berdoa kepadaNya. “Ya Allah, lindungilah hamba dari kejamnya kaumku,” kurang lebih doa Nabi Ibrahim. Doa Nabi Ibrahim pun dijawab Allah SWT melalui firman-Nya pada Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 69 yang berbunyi:

    قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ

    Artinya: “Kami (Allah) berfirman, “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!””

    Api yang terus membesar tidaklah terasa panas bagi Nabi Ibrahim atas kehendak Allah SWT. Hal ini membuat kaum Nabi Ibrahim terkejut. Meskipun begitu, kaum Nabi Ibrahim masih belum tersadar dan mengingkari kenabian Nabi Ibrahim serta keesaan Allah SWT.

    Nabi Ibrahim AS Diganjar Gelar Ulul Azmi

    Ulul Azmi merupakan gelar yang diberikan Allah SWT kepada nabi dan rasul pilihannya yang teguh hatinya. Nabi Ibrahim mendapatkan gelar ini berkat keteguhan hati dan kesabarannya yang luar biasa ketika berdakwah untuk kaumnya.

    Mukjizat tidak terbakar Nabi Ibrahim juga merupakan hasil ketabahannya dalam menghadapi kekejaman kaumnya. Selain itu, Nabi Ibrahim menunjukan sikap ulul azmi-nya ketika mendapatkan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.

    Allah SWT berfirman melalui Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102, yang berbunyi:

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

    Artinya: “Ketika anak itu (Ismail AS) sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim AS) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail AS) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.””

    Itulah kisah Nabi Ibrahim yang luar biasa mengenai mukjizat serta gelar ulul azmi-nya. Semoga kita dapat meniru keteguhan dan kesabarannya selama masa hidup.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Yunus AS yang Selamat dari Kegelapan Perut Ikan Paus



    Jakarta

    Saat mendengar nama Nabi Yunus AS, banyak dari kaum muslim yang langsung teringat peristiwa ditelannya beliau oleh ikan besar yang diduga paus. Seperti apa kisah lengkapnya?

    Ibnu Katsir dalam Kitab Qashash Al-Anbiyaa yang diterjemahkan oleh Saefullah MS menyebut bahwa Nabi Yunus AS diutus oleh Allah SWT kepada negeri Ninawa dekat Kota Mosul, Irak. Ia ditugaskan untuk mengajak penduduk Ninawa kepada jalan lurus dan beriman kepada Allah SWT serta meninggalkan sesembahan berhala mereka.

    Namun setelah sekian lama beliau berdakwah, kaumnya itu lebih memilih tetap dalam kekafiran daripada petunjuk yang dibawa Nabi Yunus AS, bahkan mereka menghina dan mengolok utusan Allah SWT itu.


    Sekian lama mendapat perlakuan demikian dari penduduk Ninawa, Nabi Yunus AS yang tak tahan kemudian pergi meninggalkan mereka sambil memperingatkan akan datangnya hukuman Allah SWT. Dan benar setelah kepergian Nabi Yunus AS, kaumnya mendapati azab.

    Tapi kemudian, penduduk Ninawa bertaubat dan kembali ke jalan kebenaran. Mereka bermunajat, menyesali kekhilafan, serta memohon ampunan Allah SWT di tengah azab yang melanda. Dia yang Maha Mendengar lantas mengabulkan doa para hamba yang memohon itu dengan menghentikan hukuman-Nya.

    Nabi Yunus AS Pergi Tinggalkan Kaumnya

    Masih dari Qashash Al-Anbiyaa, Nabi Yunus AS akhirnya meninggalkan kaumnya karena terus saja mendustakan dakwahnya. Dengan amarah yang memuncak, Nabi Yunus AS pergi dengan menaiki kapal laut yang penumpangnya melebihi kapasitas maksimal.

    Akibatnya, kapal menjadi oleng juga hampir tenggelam. Mereka yang di atas kapal lalu berunding untuk mengurangi beban muatan, dan terbesit ide dengan melemparkan orang tertentu melalui undian.

    Ketika berlangsung undian, ternyata Nabi Yunus AS lah yang mendapatkannya. Tetapi karena dia adalah Nabi Yunus AS yang merupakan utusan Allah SWT, kemudian mereka mengulanginya lagi. Hingga ketiga kalinya undian, nama Nabi Yunus AS lah yang terpilih dan mereka pun melemparkannya ke laut. Hal ini memang sudah menjadi takdir yang ditetapkan-Nya.

    Kemudian Allah SWT mengutus ikan besar (diduga ikan paus) untuk menelan Nabi Yunus AS yang dilempar ke laut. Tetapi Dia memerintahkan ikan itu supaya tak memakan dan tidak menghancurkan daging beserta tulangnya.

    Perihal berapa lama Nabi Yunus AS berada di perut ikan, para ulama berbeda pendapat. Ada yang menyebut selama kurang dari sehari, ada juga yang mengatakan tiga hari, tujuh hari bahkan 40 hari. Namun hanya Allah SWT yang mengetahui lamanya Nabi Yunus AS di sana.

    Nabi Yunus AS yang berada dalam kegelapan perut ikan itu dibawa mengarungi lautan. Dikatakan, Nabi Yunus AS mendengar ikan-ikan lainnya bertasbih dengan memuji Allah SWT. Telur-telur ikan yang tak terhingga banyaknya juga turut bertasbih dengan mengagungkan kekuatan dan kebesaran-Nya.

    Lantaran Nabi Yunus AS adalah hamba-Nya yang bertakwa, taat beribadah, dan cepat menyadari perbuatannya dengan bertaubat, ia langsung bertasbih, bertahlil, beristighfar kepada-Nya seraya berdoa dengan bacaan yang diabadikan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Anbiya 87.

    لآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

    Latin: Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn

    Artinya: “Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”

    Pada ayat setelahnya, Allah SWT nyatakan bahwa Dia mendengar doa hamba-Nya itu dan mengabulkannya dengan menyelamatkan Nabi Yunus AS keluar dari kegelapan berlapis dalam perut ikan paus.

    Demikian kisah Nabi Yunus AS yang juga diabadikan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, semoga bisa diambil hikmahnya ya, detikers!

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kala Cucu Rasulullah Tak Dapat Kain Kafan dari Malaikat Jibril



    Jakarta

    Ada suatu riwayat yang menceritakan tentang kain kafan dari surga yang dibawakan Malaikat Jibril untuk Rasulullah SAW dan orang-orang tersayang beliau. Namun, salah satu cucu Rasulullah SAW tidak mendapatkannya.

    Kain kafan tersebut hanya untuk Rasulullah SAW, istri pertama Rasulullah SAW Khadijah RA, putri Rasulullah SAW Fatimah Az-Zahra, menantu Rasulullah SAW Ali bin Abi Thalib, dan cucu Rasulullah SAW yang bernama Hasan.

    Adapun, cucu Rasulullah SAW yang bernama Husain tidak mendapatkannya. Melansir buku Mulut yang Terkunci: 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi karya Siti Nurlaela, Husain merupakan saudara Hasan. Keduanya adalah putra Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.


    Alasan Husain Tak Mendapat Kain Kafan dari Jibril

    Masih dalam buku yang sama diceritakan, ujian yang dialami oleh Sayyidina Husain sangatlah berat. Ia ditinggalkan satu demi satu orang yang disayanginya menghadap Allah SWT.

    Kakeknya, Rasulullah SAW, wafat karena sakit. Ibunya, Fatimah Az-Zahra juga wafat karena sakit. Sementara ayahnya, Ali bin Abi Thalib, wafat karena dibunuh saat sedang menunaikan salat subuh. Kakaknya, Hasan bin Ali wafat sebagai syuhada.

    Semua ujian kehidupan itu Sayyidina Husain lalui dengan penuh kesabaran. Tatkala Yazid bin Mu’awiyyah dinobatkan menjadi khalifah, Sayyidina Husain tidak menyetujuinya.

    Pemimpin umat Islam seharusnya dipilih oleh rakyat. Kaum Muslim marah terhadap Yazid, karena ia merupakan seorang yang korup. Di samping itu, ia juga seorang peminum khamar dan menyenangkan dirinya dengan kera dan anjing-anjingnya.

    Namun, Yazid memperoleh kedudukan karena warisan ayahnya, Mu’awiyyah bin Abu Sufyan. Hal itu bertentangan dengan prinsip dari Rasulullah SAW.

    Di Makkah, Sayyidina Husain mendapat banyak surat dari penduduk Kufah. Surat-surat itu berisi dukungan mereka kepada Sayyidina Husain. Mereka meminta dukungan kepada Sayyidina Husain dan memintanya untuk datang ke Kufah dan dinobatkan menjadi khalifah.

    Saat itu, Sayyidina Husain berada di Madinah dan ia tidak bersumpah setia kepada Yazid karena kelakuan buruknya. Lalu, Sayyidina Husain mengutus saudara sepupunya, Muslim bin Aqil ke Kufah sebagai duta atau wakilnya. Sayyidina Husain meminta saudara sepupunya untuk tinggal bersama orang yang paling setia di Kufah.

    Pada akhirnya, Muslim bin Aqil tinggal bersama Al Mukhtar. Rakyat Kufah pun mendengar kedatangannya. Orang-orang berkumpul di sekitar rumah Al Mukhtar untuk bertemu utusan Sayyidina Husain dan bersedia menegakkan pemerintahan ilahi. Namun, ternyata hal itu hanya kepalsuan semata.

    Menurut buku Sejarah Agung Hasan dan Husain karya Ukasyah Habibu Ahmad, Sayyidina Husain tetap pada pendiriannya untuk menuju Kufah. Setelah tiba di daerah Bathnur Rummah, ia menulis surat kepada penduduk Kufah untuk memberitahukan bahwa dirinya sudah sampai di Bathnur Rummah.

    Ia mengutus Qais bin Mashar as-Saidawi, namun nahas Qais bin Mashar as-Saidawi tertangkap oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad lalu ia dibunuh. Kemudian Sayyidina Husain melanjutkan perjalanan hingga tiba di Zarud.

    Ketika hendak bertolak dari wilayah tersebut, ia baru mendapatkan informasi mengenai terbunuhnya Muslim bin Aqil dan Hani’ bin Urwah, serta pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang Kufah.

    Menyadari hal tersebut, Sayyidina Husain pun memutuskan untuk pulang. Akan tetapi seperti yang disebutkan dalam Al-Akhbar ath-Thiwal bahwa orang-orang bani Aqil berkata, “Bagi kami, tidak ada gunanya hidup setelah Muslim bin Aqil terbunuh. Kami tidak akan kembali sampai kami mati.”

    Mendengar hal tersebut, Sayyidina Husain pun berkata, “Lantas, apa gunanya aku hidup setelah mereka mati?”

    Akhirnya Sayyidina Husain melanjutkan perjalanannya dan memperbolehkan apabila rombongannya berkeinginan untuk pulang atau terus bersamanya. Ketika sampai di Zubalah, ia dan rombongannya bertemu dengan Umar bin Sa’ad dan Ibnul Asy’ats yang membawa surat dari Muslim bin Aqil yang isinya menyampaikan ketidakpedulian penduduk Kufah terhadap dirinya.

    Meskipun sempat dihadang oleh al-Hurru bi Yazid at-Tamimi atas perintah Ubaidillah bin Ziyad, Husain akhirnya tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharram 61 H. kedatangannya disambut dingin oleh penduduk setempat yang konon mencapai 100.000 orang yang siap menyatakan janji setia kepada Sayyidina Husain. Ternyata benarlah, kekhawatiran dari keluarga dan sahabat Sayyidina Husain.

    Masih dalam buku yang sama, pada akhirnya Sayyidina Husain beserta dengan rombongan dikepung selama beberapa hari, tepat pada tanggal 10 Muharram 61 H. Sebanyak 5.000 pasukan yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad bin Abi Waqash menyerbu rombongan Sayyidina Husain.

    Tujuan pengepungan ini ialah atas perintah Ubaidillah bin Ziyad memaksa Sayyidina Husain untuk mengakui kekuasaan Khalifah Yazid bin Mu’awiyyah.

    Menurut sejarawan, rombongan Sayyidina Husain hanya berjumlah 72 orang yang terdiri dari 32 orang prajurit berkuda dan 40 orang pejalan kaki, selebihnya terdiri atas anak-anak dan perempuan. Dengan jumlah yang tidak seimbang inilah tentu membuat pasukan Sayyidina Husain kalah telak.

    Dalam pertempuran itu, akhirnya hanya menyisakan dirinya dan sebagian keluarganya yang terdiri atas wanita dan anak-anak.

    Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wan Nihayah mengisahkan, pada 10 Muharram pasukan Ubaidillah bin Ziyad memukul kepala Sayyidina Husain dengan pedang hingga berdarah. Lalu, Sayyidina Husain membalut luka di kepalanya dengan merobek kain jubahnya.

    Dengan cepat, balutan kain terlihat penuh dengan darah. Saat itu ada pula dengan teganya melepaskan panah dan mengenai leher Sayyidina Husain. Namun, ia masih hidup sambil memegangi lehernya ia menuju ke arah sungai karena kehausan.

    Kemudian pasukan itu mengepung dan tidak membiarkan Sayyidina Husain untuk minum. Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa yang membunuh Sayyidina Husain dengan tombak adalah Sina bin Anas bin Amr Nakhai, lalu ia menggorok leher Sayyidina Husain dan menyerahkannya kepada Khawali bin Yazid.

    Para ulama berselisih pendapat tentang waktu terbunuhnya Sayyidina Husain. Akan tetapi mayoritas menguatkan bahwa Sayyidina Husain wafat pada hari Asyura bulan Muharram tahun 61 H. Ibnu Hajar al-Asqalani juga menguatkan bahwa umur Sayyidina Husain saat wafat ialah 56 tahun.

    Rizem Aizid dalam buku Mahar Bidadari Surga menjelaskan mengenai mati syahid seperti yang terjadi pada Sayyidina Husain. Bagi para muslim yang meninggal di medan perang dan berjuang tanpa maksud tertentu sudah termasuk pada jihad fisabilillah.

    Oleh karena itu, seseorang yang mati syahid jenazahnya tidak perlu dimandikan. Bahkan tidak perlu diberi kain kafan dan di salatkan. Cukuplah baginya dikuburkan saja dengan pakaian lengkap yang dipakainya ketika jihad fi sabilillah.

    Karena wafatnya tersebut Sayyidina Husain menjadi cucu Nabi Muhammad SAW yang tidak mendapatkan kain kafan dari Malaikat Jibril.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com