Author: admin

  • Kisah Amalan Sederhana Imam Ghazali Lewat Seekor Lalat



    Jakarta

    Ada amalan sederhana yang dilakukan ulama besar Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ath-Thusi asy-Syafi’i al-Ghazali atau yang masyhur dikenal dengan Imam Ghazali. Amalan sederhana ini menjadi bekalnya saat menghadap Allah SWT yang dikabarkan lewat mimpinya.

    Kisah ini termaktub dalam Nashaihul ‘Ibad karangan Syekh Nawawi Al Bantani yang diterjemahkan A R Shohibul Ulum. Imam Ghazali menceritakan mimpinya menerima deretan pertanyaan tentang keimanannya.

    Hingga akhirnya sang ahli tasawuf ini ditanyai bekal apa yang dibawanya sebelum menghadap Allah SWT. Ia pun ini lantas menyebutkan seluruh amal kebaikan yang pernah diperbuatnya selama di dunia.


    Pengarang kitab Ihya’ Ulumuddin mengatakan ternyata amalan-amalan tersebut tertolak Allah SWT sampai ia menyebutkan satu amal sederhana yang pernah dilakukannya. Amalan itu adalah menolong seekor lalat.

    M Ghofur Al Lathif dalam buku Hujjatul Islam Al Ghazali menjelaskan, pertolongan yang dimaksud kepada lalat tersebut adalah tidak membunuh hewan itu saat hewan itu sedang minum.

    Saat itu, Imam Ghazali tengah menulis sebuah kitab. Tiba-tiba ada seekor lalat yang hinggap di ujung pena yang digunakannya untuk menulis.

    Imam Ghazali lantas menghentikan kegiatannya. Ia menunggu dan membiarkan lalat tersebut hingga benar-benar puas meminum dan menyerap isi tinta miliknya.

    “Al Ghazali pun merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya,” demikian keterangan buku terbitan Araska tersebut.

    Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menyayangi hewan. Orang-orang yang menyayangi hewan pada posisi yang mulia di sisi Allah SWT.

    Landasan ini bersumber dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ

    Artinya: “Orang-orang yang ada rasa Rahim akan dirahmati oleh Tuhan yang maha Rahman, yang memberikan berkat dan Mahatinggi, sayangilah makhluk yang ada di muka bumi, niscaya engkau akan disayangi makhluk yang ada di langit.” (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan al Hakim)

    (rah/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketika Allah Memberikan Wahyu pada Lebah



    Jakarta

    Surah An-Nahl merupakan surah yang membahas mengenai lebah yang mendapat wahyu dari Allah SWT. Sehingga para lebah bisa hidup berkoloni dan membangun markas.

    Melansir dalam buku Qadha dan Qadar yang ditulis Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menceritakan bahwa petunjuk atau insting yang diberikan Allah pada lebah benar-benar sangat menakjubkan. Sekawanan lebah memiliki raja yaitu seekor lebah jantan yang memiliki tubuh besar dibandingkan dengan lebah lainnya.

    Tempat pertama yang dibangun oleh sekelompok lebah adalah singgasana sang raja. Lebah-lebah itu membangun sarangnya dengan ukuran yang sangat seimbang dalam bentuk heksagonal tanpa menggunakan alat ukur.


    Betapa Mahabesar Allah yang telah memberikan insting pada binatang lebah ini untuk mengembara ke tempat jauh tanpa tersesat. Mereka dapat makan sari-sari bunga kemudian kembali ke rumahnya yang masih kosong dan mengisinya dengan madu segar.

    Allah SWT memerintahkan kepada para lebah untuk membuat sarang melalui surah An-Nahl ayat 68:

    وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ ٦٨

    Artinya: “Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di pegunungan, pepohonan, dan bangunan yang dibuat oleh manusia.”

    Serta Surah An-Nahl ayat 69:

    ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْۢ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ ۖفِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٦٩

    Artinya: “Kemudian, makanlah (wahai lebah) dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perutnya itu keluar minuman (madu) yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

    Surah An-Nahl Artinya Lebah

    Menurut buku Al Qur’an Terjemah dan Tafsir karya Maulana Muhammad Ali, Surah An-Nahl artinya lebah, karena lebah mempunyai naluri yang terpimpin.

    Lebah bisa mengumpulkan madu dari segala macam bunga dengan mengambil kandungan nektar yang terbaik, sehingga lebah bisa menghasilkan minuman (madu) yang amat berkhasiat bagi kesehatan manusia.

    Wahyu Para Lebah

    Menurut tafsir Ibnu Katsir dalam tafsirnya Lubaabut Tafsir min Ibni Katsir terjemahan Abdul Ghoffar, Abdurrahim Mu’thi dan Abu Ihsan Al Ansari, lebah dianugerahkan beberapa kelebihan daripada hewan lainnya.

    1. Ilham Lebah

    Dimaksud wahyu adalah lebah yang mendapatkan ilham, petunjuk, dan bimbingan, supaya mereka menjadikan gunung-gunung, pohon-pohon, dan buatan manusia sebagai sarang/rumah tempat tinggal.

    Para lebah pun menyusun bagian demi bagian rumah dengan penuh ketekunan, sehingga tidak ada satupun yang rusak.

    2. Allah Mengizinkan Lebah Memakan Segala Bunga

    Allah mengizinkan para lebah dalam bentuk qadariyyah (Sunnatullah) dan pengarahan, untuk memakan segala macam buah-buahan, berjalan di berbagai medan yang sudah dimudahkan oleh Allah SWT.

    Kemudian, masing-masing dari lebah yang mencari makanan ini, kembali lagi ke sarang-sarang mereka tanpa ada satupun yang keliru memasuki rumahnya baik sebelah kanan atau kiri.

    Lebah membangun sarang dari bahan yang ada dikedua sayapnya, lalu memuntahkan madu dari dalam mulutnya, dan bertelur dari duburnya.

    3. Lebah Menghasilkan Madu

    (يَخْرُجُ مِنْۢ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ ۖفِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ), artinya, “Dari perutnya itu keluar minuman (madu) yang beraneka warnanya.”

    Madu ada yang berwarna putih, kuning, merah, dan warna-warna lainnya yang indah sesuai dengan makanannya.

    4. Madu Obat Penyakit

    (اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ), artinya, “Di dalamnya terdapat obat bagi manusia.”

    Sebagian orang yang berbicara tentang thibbun Nabawi (ilmu kedokteran Nabi) mengatakan, jika Allah mengatakan, “fubisy-syifa’ linnas”, berarti madu itu menjadi obat bagi segala macam penyakit.

    Dia mengatakan, “fiibi syifa’ linnas”, yang berarti bahwa madu itu bisa dipergunakan untuk obat penyakit kedinginan, karena madu itu panas.

    Dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala “Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia,” yaitu madu.

    Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash Shahihain dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwasanya ada seseorang yang datang kepada Rasulullah.

    lalu orang itu berkata, “Sesungguhnya saudaraku sakit perut.”

    Maka beliau bersabda: “Berilah dia minum madu.” Kemudian orang itu pergi dan memberinya minum madu.

    Setelah itu orang tersebut datang dan berkata, “Ya Rasulullah, aku telah memberinya minum madu dan tidak bereaksi kecuali bertambah parah.”

    Maka beliau berkata, “Pergi dan beri dia minum madu lagi.” Kemudian orang itu pun pergi dan memberi- nya minum madu.

    Setelah itu orang tersebut datang lagi dan berkata, “Ya Rasulullah, dia semakin bertambah parah.”

    Maka Rasulullah bersabda, “Maha Benar Allah dan perut saudaramu yang berdusta. Pergi dan berilah dia minum madu.” Kemudian dia pun pergi dan memberinya minum madu hingga akhirnya saudaranya itu sembuh.

    Dalam kitab ash-Shahihain juga disebutkan, dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah pernah tertarik oleh manisan dan madu. Ini adalah lafazh al-Bukhari.

    Dalam kitab Shahih al-Bukhari disebutkan dari Ibnu ‘Abbas, di mana dia bercerita, Rasulullah bersabda:

    ( الشفاء في ثلاثة: فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَو شُربَةِ عَسَلٍ، أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الكَي )

    Artinya: “Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu pada pembekaman, pada minum madu, atau pembakaran dengan api. Aku melarang umatku dari kayy (pengobatan dengan cara pembakaran).”

    Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah dari Jabir.

    Imam Ahmad meriwayatkan, Ali bin Ishaq memberitahu kami, ‘Abdullah memberitahu kami, Sa’id bin Abi Ayyub memberitahu kami, dari ‘Abdullah bin al-Walid, dari Abul Khair, dari ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhni, dia bercerita, Rasulullah bersabda:

    ( ثَلَاثَ إِنْ كَانَ فِي شَيْ شِفَاءُ: فَشَرْطَةُ مِحْجَمٍ، أَوْ شُرْبَةُ عَسَلٍ، أَوْ كَيَّةٌ تُصِيبُ أَلَمًا وَأَنَا أَكْرَهُ الْكَيَّ وَلَا أُحِبُّهُ )

    Artinya: “Ada tiga hal (obat) jika orang terkena sesuatu (penyakit); hijam (pembekaman), minum madu, atau pembakaran pada bagian yang terkena penyakit, dan aku membenci pembakaran dan tidak menyukainya.”

    Demikian pembahasannya, lebah dengan segala keteraturan dan manfaat yang mereka hasilkan, menunjukkan kebesaran Allah SWT melalui wahyu-Nya dalam Surah An-Nahl.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rasulullah SAW Hendak Diracun Lewat Hidangan Paha Kambing



    Jakarta

    Kisah ini terjadi setelah peristiwa penaklukan Khaibar. Seseorang hendak meracuni dan mencelakai Rasulullah SAW lewat makanan berbahan paha kambing.

    Hidangan olahan paha kambing ini dibawa kepada Rasulullah SAW oleh seorang wanita Yahudi. Ternyata hidangan ini telah dibubuhi racun.

    Dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW oleh Abdurrahman bin Abdul Karim, Anas bin Malik menuturkan, “Ada seorang wanita Yahudi yang datang menemui Rasulullah SAW dengan membawa seekor kambing yang telah diracun. Lalu, beliau memakannya. Kemudian wanita itu ditangkap dengan bukti daging kambing tersebut. Sejak saat itu, aku senantiasa melihat bekas racun tersebut pada langit-langit mulut Rasulullah SAW.”


    Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 2 menuliskan kisah ini lewat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA.

    Hadits ini menceritakan peristiwa buruk yang hampir terjadi pada Rasulullah SAW.

    “Ketika Khaibar takluk, Rasulullah SAW diberi hadiah berupa daging kambing yang sudah diracuni. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan, “Kumpulkan semua orang-orang Yahudi yang ada di sini.”

    “Mereka pun berkumpul lalu Rasulullah SAW berkata, “Aku akan menanyakan sesuatu pada kalian, apakah kalian akan menjawab dengan jujur?” Mereka menjawab, “Ya wahai Abu Qasim.”

    Rasulullah SAW bertanya, “Siapa ayah kalian?” Mereka menjawab, “Ayah kami fulan.” Rasulullah SAW berkata, “Kalian dusta, ayah kalian adalah fulan.” Mereka berkata, “Kau benar dan bagus.”

    Rasulullah SAW berkata, “Aku akan menanyakan sesuatu pada kalian apakah kalian akan menjawab dengan jujur?” Mereka menjawab, “Ya, Abu Qasim. Jika kami berdusta engkau pasti tahu seperti halnya engkau mengetahui ayah kami yang sebenarnya.”

    Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, “Siapa penghuni neraka itu?” Mereka menjawab, “Kami berada di sana selang beberapa lama setelah itu kalian menggantikan kami.”

    Rasulullah SAW berkata, “Masuklah kalian ke sana, demi Allah kami tidak akan menggantikan kalian di sana selamanya.”

    Rasulullah SAW kembali berkata, “Aku akan menanyakan sesuatu pada kalian apakah kalian akan menjawab dengan jujur?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Abu Qasim.”

    Beliau bertanya, “Apa kalian meracuni daging kambing ini?” Mereka menjawab, “Ya”

    Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang mendorong kalian melakukan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami ingin istirahat darimu jika kau berdusta, dan jika kau memang Nabi, itu tidak membahayakanmu.”

    Dalam buku 55 Kisah dari hadis oleh Ad-Dien Abdul Kadir disebutkan bahwa peristiwa ini membuat Rasulullah SAW memaafkan Yahudi tersebut dan tidak menghukumnya.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Jahal dan Unta dari Raja Habib untuk Rasulullah SAW



    Jakarta

    Abu Jahal namanya, lelaki yang satu ini merupakan salah satu orang yang paling menentang Rasulullah SAW. Abu Jahal merupakan julukan yang artinya Bapak Kebodohan.

    Mengutip buku Cerita Al Qur’an susunan M Zaenal Abidin, nama asli Abu Jahal adalah ‘Amir Ibnul Hasyim. Allah SWT berfirman dalam surah Al Hajj ayat 8,

    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ۙ


    Artinya: “Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang memberi penerangan.”

    Abu Jahal Al Makhzumi merupakan satu dari sekian banyak tokoh yang berpengaruh di Quraisy pada masanya. Namun, ia dikenal dengan sikapnya yang sangat menentang memusuhi Rasulullah SAW.

    Selain menentang ajaran Islam, Abu Jahal juga bersikap sombong. Ia merasa lebih unggul dari yang lain hingga sosoknya digambarkan sebagai orang yang zalim.

    Abu Jahal tidak pernah setuju dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Sebisa mungkin dirinya selalu mengajak masyarakat Makkah untuk mengingkari apa yang disampaikan sang rasul.

    Dikisahkan dalam Buku Dahsyatnya Tobat: 42 Kisah Orang yang Bertobat oleh Isnaeni Fuad, suatu hari ada seorang raja di Makkah yang berterimakasih kepada Rasulullah SAW karena telah membuatnya beriman. Ini dikarenakan sang nabi menunjukkan mukjizatnya yaitu membelah dan menyatukan bulan.

    Raja tersebut lantas memberikan Nabi SAW hadiah berupa lima ekor unta dengan bawaan emas, perak, dan kain serta beberapa budak. Tetapi, ketika rombongan itu mendekati kota Makkah, Abu Jahal menghadang dan ingi merebutnya hingga terjadi perkelahian.

    Keributan tersebut baru reda ketika warga Makkah dan paman-paman Rasulullah SAW turun tangan. Namun, Abu Jahal bersikeras bahwa hadiah itu ditujukan kepadanya.

    Akhirnya, Nabi Muhammad SAW mengusulkan agar masalah tersebut diselesaikan dengan cara menanyakan kepada unta-unta yang membawa hadiah. Bila benar hadiah itu untuk sang rasul, maka mereka akan memberi jawaban jujur.

    Abu Jahal menolak usulan tersebut, ia meminta agar masalah ditunda hingga esok hari. Mendengar itu, Nabi Muhammad SAW setuju akan usulannya seperti diceritakan dalam buku Kisah Hewan-Hewan pada Zaman Nabi dan Rasul susunan Aifa Syah.

    Singkat cerita, hari berganti. Abu Jahal pergi ke kuil berhala dan berdoa sampai pagi hari berharap mendapat dukungan dari para berhala itu.

    Ketika matahari terbit, penduduk Makkah berkumpul di tempat hadiah-hadiah yang diberikan sang raja. Begitu pula Rasulullah SAW dan Abu Jahal.

    Dengan penuh percaya diri, Abu Jahal meminta unta-unta tersebut berbicara atas nama berhalanya yaitu Latta, Uzza dan Manat. Namun, tak satu pun dari hewan berpunuk itu memberi jawaban seperti yang diminta Abu Jahal.

    Atas izin Allah SWT, unta-unta tersebut berbicara dengan suara yang nyaring dan dapat dipahami oleh seluruh orang yang hadir saat itu bahwa mereka adalah hadiah dari Raja Habib bin Malik untuk Rasulullah SAW. Mendengar hal itu, Abu Jahal malu bukan kepalang.

    Setelah Abu Jahal menjauh dan pergi, Rasulullah SAW lantas membawa unta-unta tersebut ke Gunung Abu Qubais. Seluruh muatan emas, perak, dan kain dielu-elukan menjadi satu tumpukan.

    Rasulullah SAW menyatakan kepada tumpukan hadiah yang berharga itu, “Jadilah kalian tanah,”

    Dengan mukjizat yang dianugerahi Allah SWT tumpukan emas, perak, dan kain yang merupakan hadiah dari Habib bin Malik berubah menjadi pasir.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Rasulullah SAW Pertama Hijrah ke Madinah Bersama Abu Bakar, Ini Kisahnya



    Jakarta

    Perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah perjalanan yang mudah. Beliau ditemani sang sahabat, Abu Bakar ash Shiddiq menyusuri jalan menuju Madinah.

    Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dilakukan pada 12 Rabiul Awal 1 Hijriyah atau 622 Masehi. Pendapat lain ada yang menyebut 2 Rabiul Awal.

    Merangkum buku Hijrah Rasulullah ke Madinah oleh Muhammad Ridha dkk, hijrah dimulai ketika para pemuda dari setiap kabilah mengintai dari luar rumah Rasulullah SAW, lalu beliau keluar. Bahkan beliau sempat mengambil segenggam tanah, lalu beliau taburkan ke atas kepala mereka sambil membaca surah Yasin, dari awal sampai dengan firman-Nya: “Fa aghsyainaahum fahum laa yubshiruun.”(QS Yasin [36]: 9)


    Kemudian beliau pergi meninggalkan rumah tanpa disadari para pengintai. Ketika mereka sadar dari kelalaian mereka, maka mereka segera mengintip, dan dilihatnya seseorang sedang tidur berselimut mantel Rasulullah SAW. Mereka berkata, “Ah, Muhammad masih tidur.”

    Oleh karena itu, mereka tetap bersiap-siaga di depan pintu, menjaga orang yang sedang tidur itu, yang mereka sangka Nabi SAW, sampai orang itu bangun di pagi hari. Tapi nyatanya, dia bukanlah Rasulullah SAW, melainkan Ali bin Abu Thalib.

    Pagi itu Ali bangun dari tempat tidur Rasulullah SAW. Para pengintai itu pun bertanya, “Mana temanmu?”

    ‘Ali menjawab, “Tidak tahu,”

    Dengan jawaban itu, mereka pun sadar bahwa Nabi telah lolos.

    Hijrah Bersama Abu Bakar RA

    Nabi SAW menuju rumah Abu Bakar, lalu memberi tahu bahwa Allah SWT telah mengizinkannya berhijrah.

    Abu Bakar berkata, “Aku temani, ya Rasul Allah?”

    “Ya, kamu temani,” jawab Rasul. Maka Abu Bakar menangis gembira mendengar perkataan Rasulullah SAW.

    Dalam perjalanan hijrah ini, Abu Bakar membawa semua hartanya sekitar 6.000 dirham.

    Perjalanan ini tidak melewati jalan utama untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Sebagai penunjuk jalan, Abu Bakar meminta bantuan ‘Abdullah bin Uraigith Ad-Dailami.

    Saat itu tidak ada seorang pun yang mengetahui ke mana keluarnya Rasulullah SAW selain Abu Bakar, Ali, dan keluarga Abu Bakar.

    Perjalanan Hijrah

    Rasulullah SAW bersama Abu Bakar menuju sebuah gua di atas bukit Tsur, yang terletak 3 mil di sebelah barat-daya Makkah.

    Sebelumnya, Abu Bakar telah menyuruh anaknya, ‘Abdullah, supaya mendengarkan berita-berita yang beredar di Makkah, untuk selanjutnya datang menemui mereka pada malam hari. Selain itu, Abu Bakar juga telah menyuruh Amir bin Fuhairah supaya menggembalakan kambing-kambingnya pada siang hari. Kemudian datang kepada mereka berdua pada malam hari dengan membawa kambing-kambing itu untuk diambil susunya.

    Sementara itu, Asma’ binti Abu Bakar bertugas membawakan makanan.

    Demikianlah, persembunyian dalam gua itu dijalani oleh Rasulullah SAW dan Abu Bakar selama tiga hari.

    Orang-orang Quraisy yang menyadari mereka telah kehilangan Rasulullah SAW segera mencarinya disertai seorang pelacak. Pelacakan pun dilakukan, hingga akhirnya sampailah mereka itu di depan gua.

    Maka berkatalah pelacak itu, “Di sini jejak berakhir!” Tapi ternyata di mulut gua itu ada sarang laba-laba dan ada dua ekor burung merpati yang bersarang.

    Melihat hal tersebut, orang-orang Quraisy pun berkata, “Tidak ada apa-apa di balik sana.”

    Dalam keadaan putus asa, orang-orang Quraisy berseru akan memberi hadiah 100 ekor unta bagi siapa pun yang bisa mengembalikan Rasulullah SAW kepada mereka.

    Masyarakat Makkah pun berlomba-lomba mencari tahu keberadaan Rasulullah SAW. Termasuk Suraqah bin Malik bin Ju’syam.

    Suraqah bin Malik bin Ju’syam bertemu dengan Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Dia lantas mengejar dan berseru supaya kembali.

    Rasulullah SAW pun berdoa supaya pengejar itu celaka dan benar, tiba-tiba kaki kuda yang dikendarainya terperosok, masuk ke dalam tanah yang keras. Suraqah memohon, “Hai Muhammad, berdoalah untukku agar Allah melepaskan aku! Biarlah aku tidak akan mengejarmu lagi.”

    Rasulullah SAW pun berdoa untuk Suraqah, dan dia pun terlepas dari himpitan tanah tadi. Tapi tiba-tiba dia kembali mengejar, maka beliau pun mendoakan lagi supaya dia celaka. Tiba-tiba kaki kudanya terperosok lagi ke dalam tanah, lebih dalam dari yang pertama tadi.

    Suraqah pun lagi-lagi memohon, “Hai Muhammad, aku tahu, ini adalah akibat doamu atas diriku. Karena itu, berdoalah kepada Allah supaya melepaskan aku dari keadaanku ini. Aku berjanji kepadamu, demi Allah, aku takkan mengejarmu lagi.”

    Maka beliau pun berdoa untuknya, dan Suraqah pun terlepas. Kali ini Suraqah benar-benar berjanji kepada Rasulullah SAW untuk tidak memerangi mereka dan tidak akan menceritakan mereka kepada siapa pun.

    Suraqah pun pulang dan dia mengatakan, “Muhammad sudah tidak ada lagi di sini.”

    Wallahu a’lam.

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Usil dan Buat Rasulullah Tertawa



    Jakarta

    Rasulullah SAW semasa hidupnya dikelilingi oleh para sahabat yang selalu setia menemani beliau. Salah satu sahabat Nabi SAW adalah Nu’aiman, pria yang dikenal jahil dan jenaka.

    Nu’aiman merupakan sosok yang suka bercanda dan humoris. Karena kepribadiannya ini, tak jarang Nabi Muhammad SAW tertawa dibuatnya.

    Mengutip buku Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi tulisan Muhammad Nasrulloh, tingkah lucu Nu’aiman juga membuat siapapun didekatnya tersenyum. Nama lengkap Nu’aiman adalah Nu’aiman bin Ibnu Amr bin Raf’ah.


    Kisah mengenai jahilnya Nu’aiman diceritakan dalam beberapa riwayat. Salah satunya diceritakan Abu as-Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlaq an-Nabi wa Abdabuhu yang diterjemahkan Abdullah Mu’alim dengan bersandar pada riwayat Hisyam ibn Urwah dari ayahnya.

    Kala itu, ada salah seorang Arab pedalaman yang berkunjung ke Masjid Nabawi dengan mengendarai unta. Ia lalu masuk menemui sang Rasul sementara itu, Hamzah ibn Abdul Muthalib yang juga berada di sana tengah duduk bersama Nu’aiman serta beberapa Muhajirin dan Anshar.

    Mereka berkata kepada Nu’aiman, “Hebat, untanya itu gemuk. Maukah kamu menyembelihnya karena kita benar-benar ingin makan daging? Andaikan kamu melakukannya, pastilah Rasulullah SAW akan berutang untuk membayarnya, dan kita pun bisa makan daging,”

    Mendengar itu Nu’aiman menjawab, “Tapi jika aku melakukannya dan kalian memberitahukan perbuatanku kepada Rasulullah SAW, pastilah beliau memarahiku,”

    “Kamu (kami anggap) tidak melakukan apa-apa!” timpal mereka.

    Nu’aiman kemudian bangkit dari duduknya dan tanpa pikir panjang menyembelih unta tersebut. Setelahnya, ia pergi dengan terburu-buru dan melewati seseorang bernama Miqdad bin Amru yang baru selesai menggali lubang.

    “Wahai Miqdad, sembunyikanlah aku di dalam lubang ini. Tutupilah aku dan jangan tunjukkan tempatku kepada siapa pun karena aku telah melakukan sesuatu,” kata Nu’aiman.

    Miqdad yang mendengar itu lalu menuruti Nu’aiman. Lalu, ketika orang Arab pedalaman itu selesai dengan urusannya dan keluar, dia berteriak histeris melihat untanya sudah mati.

    Teriakan itu didengar oleh Rasulullah SAW. Beliau kemudian bertanya siapa yang melakukan hal tersebut.

    Para sahabat kompak menjawab bahwa Nu’aiman yang melakukannya. Nabi SAW lalu bertanya lagi, “Ke manakah dia pergi?”

    Setelah itu, Rasulullah SAW, Hamzah dan para sahabatnya yang lain pergi mencari Nu’aiman. Mereka juga mendatangi Miqdad dan bertanya di mana keberadaan Nu’aiman.

    Miqdad hanya diam, Nabi Muhammad SAW lalu bersabda, “Beritahukanlah kepadaku di mana dia?”

    “Aku tidak tahu apa-apa tentangnya,” jawab Miqdad sambil menunjuk ke tempat persembunyian Nu’aiman.

    Maka beliau mengungkap persembunyian Nu’aiman dan bersabda, “Wahai musuh bagi dirinya sendiri, apakah yang telah mendorongmu melakukan perbuatanmu itu?”

    Nu’aiman menjawab, “Demi Dia yang mengutusmu membawa kebenaran yang telah menyuruhku melakukannya adalah Hamzah dan teman-temannya. Mereka mengatakan begini dan begitu.”

    Beliau pun meminta orang Arab pedalaman itu untuk merelakan untanya. Beliau bersabda, “Unta ini menjadi urusan kalian (harus kalian bayar),” Dan mereka pun memakannya.

    Apabila Rasulullah SAW mengingat kelakuan Nu’aiman itu maka beliau tertawa sampai-sampai gigi gerahamnya terlihat.

    Kisah tentang sosok Nu’aiman lainnya juga diceritakan dalam buku M Quraish Shihab Menjawab: 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui dikisahkan. Nu’aiman bin Rufa’ah kerap pergi ke pasar untuk mengambil makanan atau buah yang disenanginya.

    Lalu, tiba-tiba ia datang kepada Rasulullah SAW untuk memberikannya sambil berkata, “Ini hadiah dari saya untukmu,”

    Tak lama setelahnya, penjual itu datang dan menagih uang atas makanan atau buah yang diambilnya. Nu’aiman lalu meminta Nabi SAW membayarnya, sang rasul lalu berkata, “Bukankah engkau telah menghadiahkannya kepadaku?”

    Nu’aiman menjawab, “Benar, tetapi saya tidak memiliki harganya dan saya ingin agar engkau membayarnya (dan aku memakannya).”

    Mendengar jawaban Nu’aiman, Rasulullah SAW tertawa. Lalu, ia membayar apa yang Nu’aiman ambil.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Adam AS Saat Turun ke Bumi, Diingatkan Waktu Sholat oleh Ayam



    Jakarta

    Ketika Nabi Adam AS turun ke bumi, ia merasa bingung karena semuanya gelap. Berbeda dengan di surga yang terang benderang. Beliau pun berdoa kepada Allah cara supaya dibangunkan untuk ibadah. Berikut ini cerita ayam dalam kisah nabi Adam AS.

    Allah SWT menciptakan Adam AS sebagai khalifah di bumi. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 30 :

    وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠


    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Cerita Ayam dalam Kisah Nabi Adam AS

    Menurut buku 25 Kisah Hewan Bersama Para Nabi karya Dian Noviyanti, mengisahkan pertama kalinya Nabi Adam AS menginjakan kakinya di bumi.

    Pada saat pertama kali Nabi Adam turun ke bumi, dunia masih diliputi oleh suasana gelap gulita, berbeda dengan surga yang terang benderang.

    Lalu, Adam mulai bertanya, “Bagaimana aku tahu kapan waktu ibadah ku kepada Allah?”

    Mendengar permohonan Adam, Allah turunkan seekor hewan ke bumi, binatang tersbeut ialah ayam jago.

    Disebutkan bahwa ayam bukanlah hewan yang baru diciptakan, melainkan binatang yang sudah lama tinggal di surga.

    Wujud asli ayam tersebut adalah malaikat Ad-dik (berbentuk mirip seperti ayam jago) di langit. Malaikat yang berada di pintu rahmat, bertubuh besar, saking besarnya kedua kakinya mencapai dasar bumi, serta sepasang sayap yang memenuhi jagat raya.

    Ketika malaikat itu bertasbih menyerukan nama Allah, maka diwaktu bersamaan ayam-ayam di bumi ikut bertasbih. Setan pun lari menyembunyikan diri dan menutup telinga rapat-rapat saat mendengar tasbih dikumandangkan.

    Pada saat waktu sholat tiba, malaikat akan bertasbih yang diiringi oleh ayam-ayam di bumi, maka Adam pun bangkit dari tidurnya, berwudhu, dan berdoa kepada Allah SWT.

    Sebagaimana hadits di bawah ini:

    “Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat. Dan apabila kamu mendengar (suara) kuda meringkik (di malam hari), maka mohonlah perlindungan Allah, karena dia melihat setan (iblis).” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Larangan Mencela Ayam Jago

    Menurut buku 77 Pesan Nabi untuk Anak Muslim karya Abu Alkindie Ruhul Ihsan, seorang muslim dilarang untuk mencela ayam jago ketika ia berkokok.

    Ayam berkokok karena ikut membantu membangunkan orang beribadah pada saat malam dan di waktu Subuh.

    Imam Nawawi dalam karyanya Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi, menuliskan sebuah hadits. Kami telah meriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih, dari Zaid bin Khalid RA dia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Janganlah kalian mencela ayam jantan, karena dia membangunkan orang untuk sholat.”

    Demikian pembahasannya, kisah ayam dalam kehidupan Nabi Adam AS mengajarkan kita betapa pentingnya menjaga waktu ibadah. Sejak awal penciptaan, Allah SWT telah memberikan tanda-tanda dan petunjuk bagi manusia melalui alam dan makhluk-Nya.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nasihat Rasulullah SAW soal Keimanan dan Amal yang Utama



    Jakarta

    Rasulullah SAW diutus Allah SWT untuk membawa ajaran Islam. Banyak pesan yang disampaikan Rasulullah SAW untuk dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalankan kehidupan.

    Kepada para sahabat, Rasulullah SAW menyampaikan beberapa nasihat yang mengandung makna mendalam. Termasuk nasihat kepada Muadz bin Jabal soal kewajiban setiap manusia dan nasihat kepada Abu Dzarr soal amalan yang paling utama.

    Nasihat-nasihat tersebut diceritakan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW oleh Fuad Abdurahman dengan bersandar pada sejumlah hadits.


    Dikisahkan, sahabat Rasulullah SAW, Muadz ibn Jabal pernah duduk berboncengan dengan Rasulullah SAW sehingga jarak antara keduanya hanya seujung pelana.

    Ketika itu Rasulullah SAW berkata,”Hai Muadz ibn Jabal.”

    “Labbaika, ya Rasulullah,” jawab Muadz.

    Kemudian Rasulullah SAW berjalan sesaat dan memanggil lagi, “Hai Muadz ibn Jabal.”

    “Labbaika, ya Rasulullah,” jawab Muadz lagi.

    Beliau berjalan sesaat, kemudian berkata lagi, “Hai Muadz ibn Jabal.”

    Muadz pun menjawab, “Labbaika, ya Rasulullah.”

    “Apakah kau mengetahui kewajiban manusia terhadap Allah?” tanya Rasulullah SAW.

    “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Muadz.

    “Sesungguhnya kewajiban manusia terhadap Allah adalah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

    Beliau berjalan sesaat, lalu kembali menyeru, “Hai Muadz ibn Jabal.”

    Muadz menjawab, “Labbaika, ya Rasulullah.”

    “Apakah kamu tahu apa hak yang pasti dipenuhi oleh Allah terhadap manusia apabila mereka telah melakukan kewajibannya?”

    “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak menyiksa mereka.”

    Amalan Paling Mulia

    Dalam hadits lain, dikisahkan suatu saat Abu Dzarr bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?”

    “Iman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya,” jawab Rasulullah SAW.

    Abu Dzarr bertanya lagi, “Budak apa yang paling utama dimerdekakan?”

    Beliau menjawab, “Budak yang paling bernilai menurut pemiliknya dan paling tinggi harganya.”

    “Seandainya aku tidak bisa melakukan itu?”

    “Kau bantu kaum buruh atau kau menolong orang bodoh.”

    Abu Dzarr masih bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Tuan jika aku tidak mampu dalam beberapa amal perbuatan itu?”

    Rasulullah SAW bersabda, “Cegahlah dirimu dari berbuat buruk kepada orang lain. Itu adalah sedekahmu terhadap dirimu sendiri.”

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kala Nabi Ibrahim AS Mencari Keberadaan Tuhan Semesta Alam



    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS adalah satu dari 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Meski merupakan utusan Allah SWT, rupanya terdapat kisah mengenai dirinya yang sedang mencari Tuhan.

    Menukil dari buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul yang ditulis Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, Nabi Ibrahim AS adalah keturunan dari Azar. Sosok Azar dikenal sebagai pemahat sekaligus menjajakan patungnya untuk dijadikan berhala sesembahan.

    Meski demikian, ada pendapat yang menyebut nama ayah Ibrahim adalah Tarikh bin Nahur bin Sarugh bin Raghu bin Faligh bin ‘Abir bin Syalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS, seperti diterangkan dalam Qashash Al-Anbiya karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan Dudi Rosyadi.


    Nabi Ibrahim AS hidup di masa kepemimpinan Raja Namrud bin Kan’an. Kala itu, kerajaan yang letaknya di Babilonia tersebut terkenal akan kemakmurannya. Begitu juga dengan rakyatnya yang sejahtera dan senang.

    Walau begitu, mereka hidup dengan menyembah berhala. Naasnya, mereka juga yang membuat sendiri berhala itu dari lumpur serta tanah.

    Setelah dewasa, Nabi Ibrahim AS berpikir bahwa dunia pasti ada penciptanya dan itu bukanlah berhala. Sebab, ia berpikir bahwa berhala-berhala itu tidak dapat makan, minum dan berbicara.

    Perjalanan Nabi Ibrahim AS dalam mencari Tuhan dimulai ketika ia melihat bintang yang bercahaya. Awalnya, ia sempat berpikir itu adalah Tuhan namun ketika bintang tersebut menghilang, Nabi Ibrahim AS lalu menghempaskan pikirannya.

    Begitu pula dengan bulan yang sempat Nabi Ibrahim AS anggap sebagai Tuhan. Ketika pagi datang, bulan menghilang sehingga Nabi Ibrahim AS berpikir tidak mungkin itu adalah Tuhan.

    Lalu, sang nabi melihat matahari dan sempat meyakini itu adalah Tuhan. Namun, ia berhenti meyakini itu ketika matahari terbenam dan malam tiba.

    Sampai akhirnya Nabi Ibrahim AS berpikir bahwa tidak mungkin sesuatu yang tampak mata adalah Tuhan. Menurutnya, Tuhan tidak pernah hilang.

    Kisah Nabi Ibrahim AS mencari Tuhan termaktub dalam surah Al An’am ayat 76-79. Setelah mendapatkan hidayah, Nabi Ibrahim AS lalu meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan semesta alam. Dia juga yang menciptakan bulan, bintang dan matahari.

    Meski begitu, Nabi Ibrahim AS sempat meminta Allah SWT untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya untuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati. Terkait hal ini dikisahkan dalam surah Al Baqarah ayat 260,

    وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ ٱلطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ ٱجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ٱدْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَٱعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    Setelah diperlihatkan kekuasaan Allah SWT, Nabi Ibrahim AS semakin beriman kepada-Nya. Hatinya menjadi tentram dan keraguannya hilang.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Nama Ibu Nabi Muhammad SAW, Ini Kisah Hidup dan Teladannya



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah panutan utama umat Islam karena teladan mulia dalam segala aspek kehidupan. Untuk lebih mengenal sosok beliau, sangat penting memahami silsilah keluarganya, termasuk ibunya.

    Ibu Nabi Muhammad SAW adalah sosok istimewa karena telah melahirkan manusia paling mulia di bumi, yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Melalui peran pentingnya sebagai ibu, beliau membawa ke dunia seorang nabi yang menjadi panutan dan teladan bagi umat manusia.

    Nama Ibu Nabi Muhammad SAW

    Nama ibu Nabi Muhammad SAW adalah Siti Aminah binti Wahab, yang memiliki nama lengkap Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah.


    Sementara ibunya bernama Labirah binti Abdil Uzza bin Utsman bin Abd ad-Dar bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr.

    Siti Aminah adalah wanita yang sangat dihormati pada masanya. Menurut buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim, Siti Aminah adalah putri dari Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab, pemimpin bani Zuhrah, salah satu dari kaum Quraisy yang berperan dalam menjaga Ka’bah.

    Bani Zuhrah berasal dari Zuhrah bin Kilab, saudara Qushay bin Kilab, pemimpin pertama Makkah dan penjaga Ka’bah, serta kakek buyut Siti Aminah.

    Kehidupan Siti Aminah

    Mengutip dari buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam karya Bassam Muhammad Hamami, Siti Aminah adalah wanita terbaik di Quraisy berdasarkan nasab dan kedudukannya.

    Ia lahir pada pertengahan abad ke-6 Masehi, berasal dari keluarga yang dihormati dan memiliki kemuliaan yang dibanggakan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang disampaikan dalam sabda beliau,

    “Allah terus-menerus memindahkanku dari rusuk yang baik ke rahim yang suci, terpilih, dan terdidik. Tiada jalan yang bercabang menjadi dua, kecuali aku berada di jalan yang terbaik.”

    Pada suatu malam setelah menikah dengan Abdullah, Siti Aminah terbangun dengan tubuh bergetar akibat mimpi yang dialaminya. Dia kemudian menceritakan kepada suaminya bahwa dalam mimpinya, dia didatangi oleh cahaya terang yang tampak menyinari seluruh dunia dan isinya.

    Siti Aminah bahkan melihat istana-istana dari negeri Syam dan dalam keadaan tersebut, ia mendengar sebuah suara yang berkata, ‘Sesungguhnya engkau sedang mengandung pemimpin umat ini.”

    Setelah itu, Siti Aminah teringat perkataan seorang peramal bernama Sauda binti Zahrah al-Kilabiyyah yang pernah berkata kepada Bani Zahrah, “Di antara kalian akan lahir seorang pembawa peringatan.”

    Saat itu, Sauda menunjuk ke arah Aminah ketika para ibu di Bani Zahrah memperlihatkan anak-anak mereka.

    Menurut buku Biografi Muhammad Bin Abdullah yang ditulis oleh Zulkifli Mohd. Yusoff, sebelum melahirkan Nabi Muhammad SAW, Siti Aminah bermimpi melahirkan seorang anak laki-laki yang dilahirkan bersamaan dengan cahaya yang menyelimuti Bumi.

    Dalam mimpinya, Siti Aminah juga melihat dirinya berdoa kepada Allah SWT, “Aku berlindung kepada Tuhan yang Maha Esa agar menyelamatkan anak ini dari semua orang yang dengki.”

    Nabi Muhammad SAW kemudian lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal pada tahun Gajah, sekitar 50 hari setelah peristiwa tentara gajah. Siti Aminah pernah menyampaikan bahwa selama mengandung Rasulullah SAW, ia tidak pernah merasakan lelah atau sakit.

    Singkat cerita, mengutip dari buku Sejarah Terlengkap Peradaban Islam karya Abdul Syukur al-Azizi, Siti Aminah merawat Nabi Muhammad SAW sendirian setelah suaminya, Abdullah bin Abdul Muthalib, meninggal dunia.

    Setelah beberapa waktu di bawah asuhan Siti Aminah, Rasulullah SAW kemudian diasuh oleh ibu susunya, Halimah Sa’diyyah dari suku Bani Sa’ad, hingga usia 4 tahun, meskipun ada riwayat yang menyebut sampai usia 6 tahun, sebelum dikembalikan kepada Siti Aminah.

    Setelah kembali kepada Siti Aminah, Rasulullah SAW diasuh oleh ibunya selama kurang lebih 2 tahun lagi hingga mencapai usia 7 tahun. Saat itulah, Siti Aminah meninggal dunia, menjadikan Rasulullah SAW yatim piatu.

    Keteladanan Siti Aminah

    Dalam buku Mengais Berkah di Bumi Sang Rasul karya Ahmad Hawassy, dijelaskan bahwa Siti Aminah memiliki berbagai sifat mulia, seperti ketakwaan, tutur kata lembut, sikap santun, dan jiwa sosial, yang diwarisinya dari ayahnya.

    Selain itu, Siti Aminah dikenal sebagai sosok yang hidup dengan sederhana dan menghindari gemerlap dunia. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Aku adalah putra seorang perempuan Quraisy yang memakan daging kering.”

    Bintu Syathi juga pernah bercerita tentang Siti Aminah, “Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat bangsawan yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com