Author: admin

  • Daftar 147 Negara yang Mengakui Negara Palestina, Lengkap Waktu Pengakuannya



    Jakarta

    Negara Palestina telah mendapat pengakuan lebih dari 140 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Terbaru, Prancis berencana mengumumkan di Majelis Umum PBB pada September mendatang.

    Inggris juga akan menyusul jika Israel tak penuhi syarat: mengambil tindakan untuk mengizinkan lebih banyak bantuan ke Gaza, tak ada aneksasi Tepi Barat, dan berkomitmen pada solusi dua negara.


    (kri/erd)


    Sumber : www.detik.com

  • Sejarah Bangunan Asrama Haji Medan yang Alami Kebakaran


    Jakarta

    Gedung Asrama Haji Medan, Sumatera Utara mengalami kebakaran. Dikabarkan, area yang terbakar adalah gedung Madinah Al Munawwarah di area Asrama Haji Kota Medan. Bagaimana sejarah bangunan yang jadi tempat transit jemaah haji asal Sumut ini?

    Kompleks Unit Pelaksana Teknis (UPT) Asrama Haji Embarkasi Medan telah mengalami berbagai transformasi sejak awal berdirinya. Fungsinya yang utama sebagai tempat singgah sementara bagi jamaah haji sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci kini telah diperluas menjadi pusat kegiatan keislaman dan pengembangan budaya religi di Sumatera Utara.

    Salah satu tonggak penting dari perkembangan ini adalah pembangunan Gedung Revitalisasi Asrama Haji yang dinamai Madinah Al-Munawwarah.


    Revitalisasi Asrama Haji Medan

    Dilansir dari laman Kementerian Agama (Kemenag), salah satu sudut kompleks Asrama Haji Medan kini berdiri megah sebuah gedung lima lantai yang diresmikan langsung oleh Menteri Agama saat itu, Lukman Hakim Saifuddin pada Jumat, 13 Mei 2016.

    Gedung ini dibangun sebagai bagian dari upaya revitalisasi fasilitas asrama, dengan standar layanan setara hotel bintang tiga, sehingga para jamaah haji dan masyarakat umum dapat menikmati kenyamanan dan pelayanan yang maksimal.

    Dalam laporannya saat peresmian, Kepala UPT Asrama Haji Medan, Sutrisno, menjelaskan bahwa pembangunan gedung ini dibiayai dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan total anggaran sebesar Rp74 miliar. Proyek pembangunan dimulai pada tahun 2014 dan rampung pada Februari 2015.

    Gedung Madinah Al-Munawwarah memiliki luas total 10.120 meter persegi dan dilengkapi berbagai fasilitas modern, termasuk 4 unit lift untuk mendukung akses vertikal. Setiap lantai dirancang untuk memenuhi kebutuhan penginapan dan kegiatan sosial keagamaan.

    Detail Fasilitas Gedung Madinah Al-Munawwarah

    Gedung yang terdiri dari lima lantai ini menawarkan berbagai tipe kamar dan fasilitas, sebagai berikut:

    Lantai 1:

    Kamar VIP (1 unit)

    Superior (1 unit)

    Standard (46 unit)

    Ruang fitnes

    Restoran

    Lantai 2:

    VVIP (1 unit)

    VIP (2 unit)

    Superior (1 unit)

    Standard Plus (3 unit)

    Standard (46 unit)

    Lantai 3:

    VIP (3 unit)

    Superior (1 unit)

    Standard Plus (3 unit)

    Standard (47 unit)

    Lantai 4:

    Standard (31 unit)

    Aula berkapasitas 500 orang

    Lantai 5:

    Aula dengan kapasitas 200 orang

    Keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut menjadikan gedung ini tidak hanya representatif untuk penginapan jamaah haji, tetapi juga cocok digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pelatihan, seminar, dan acara keagamaan lainnya.

    Dari Tempat Transit Menjadi Pusat Kegiatan Umat

    Menariknya, meskipun gedung telah rampung sejak 2015, namun pada musim haji tahun itu belum dapat digunakan karena belum teraliri listrik. Baru pada awal Februari 2016, aliran listrik mulai menyuplai gedung tersebut, dan pertama kali digunakan pada 30 Maret 2016 dalam kegiatan Rapat Evaluasi Peningkatan Asrama Haji yang juga bertepatan dengan Milad Pertama UPT Asrama Haji Embarkasi Indonesia.

    Menurut Sutrisno, keberadaan Asrama Haji Medan kini telah melampaui fungsinya sebagai tempat transit jamaah semata. Gedung ini telah menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial, seperti pelestarian haji mabrur, syiar dakwah Islam, dan pengembangan budaya Islam di Sumatera Utara.

    “Keberadaan asrama haji ini tidak hanya untuk kepentingan jamaah haji sebelum masa maupun saat operasional, tetapi juga di luar musim haji,” ujar Sutrisno.

    Pusat Pengembangan Islam di Sumut

    Sutrisno menaruh harapan besar agar Asrama Haji Medan menjadi pusat pengembangan Islam di Sumatera Utara. Ia juga menyampaikan bahwa peresmian Gedung Madinah Al-Munawwarah merupakan bentuk sosialisasi perubahan citra terhadap Asrama Haji Medan, dari sekadar tempat bermalam yang “ala kadarnya” menjadi fasilitas pelayanan berstandar hotel bintang tiga.

    Gedung ini juga menjadi simbol perubahan pelayanan haji yang semakin profesional dan manusiawi, sejalan dengan meningkatnya jumlah jamaah dan tuntutan pelayanan yang lebih baik dari tahun ke tahun.

    Gedung Madinah Al-Munawwarah, Asrama Haji Medan tidak hanya hadir sebagai tempat persinggahan bagi para tamu Allah, tetapi juga sebagai simbol kemajuan pelayanan umat Islam di bidang penyelenggaraan haji dan umrah. Tempat ini pun kini menjadi lokasi strategis untuk menyelenggarakan berbagai acara keagamaan, pelatihan, hingga pertemuan organisasi Islam.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ruben Onsu Jadi Mualaf, Jadikan Waktu Isya untuk Curhat dengan Allah SWT



    Jakarta

    Keputusan berpindah keyakinan bukanlah hal mudah, apalagi jika dilakukan secara sadar, tenang, dan penuh keikhlasan. Itulah yang dirasakan oleh Ruben Onsu, publik figur yang belakangan ini terbuka mengenai keputusannya menjadi mualaf.

    Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Comic 8 Revolution, Ruben membagikan kisah perjalanan hijrahnya dengan Ivan Gunawan.


    Melalui video berjudul Ivan dan Ruben: Persahabatan Till Jannah! Butik Haji Igun jadi Saksi, Ruben menceritakan perasaan ketika ia pertama kali memantapkan diri mengucap kalimat Syahadat.

    “Gue pengennya masuk Islam, jalanin aja” Ruben mengawali ceritanya dengan mengingat kembali momen ia mengucap dua kalimat syahadat di hadapan Habib Usman bin Yahya.

    Ruangan itu sederhana, hanya ada Habib Usman di sana. Tapi anehnya, Ruben merasa hangat, seolah punya keluarga besar yang menyambutnya, meski secara fisik hanya berdua.

    “Setelah ucapan kalimat syahadat, gue kayak punya keluarga Islam… padahal yang ada cuma Habib Usman,” kenangnya penuh haru.

    Yang tak pernah ia sangka, setelah menjadi mualaf, 80 persen keluarganya yang ternyata muslim pun seolah turut hadir. Bahkan saat pertama kali ia bertemu kembali dengan keluarga besar itu, semua hanya bisa menangis. Tak ada kata-kata. Hanya pelukan dan air mata yang jadi bahasa cinta.

    “Pertama kali ketemu keluarga itu nangis. Nggak ada kata apa pun… cuma nangis,” ucap Ruben.

    Bagi Ruben, momen itu terasa seperti kehadiran sang ibunda yang telah tiada. Ia bahkan merasa bahwa keputusan ini adalah sesuatu yang diam-diam diimpikan oleh almarhumah mamanya.

    “Cuma nangis dan bilang, ini yang mamaku impi-impikan,” ujarnya lirih.

    Untuk diketahui, ibunda Ruben Onsu, Helmiah Chalifah adalah seorang muslim.

    Menemukan Kedamaian dalam Salat dan Tahajud

    Sebagai seorang muslim baru, Ruben tak hanya berhenti pada pengakuan lisan. Ia mulai menjalani salat lima waktu, dan menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

    “Kalau lagi kesel sama orang, gue salat. (Sholat) Isya gue selalu di rumah. Jam 9-10 (malam) udah di rumah,” katanya.

    Bagi Ruben, salat Isya adalah waktu untuk “menumpahkan semua”. Sedangkan saat tahajud, ia benar-benar jujur dalam doa. Menceritakan segalanya pada Allah SWT, tanpa takut ditertawakan seperti saat curhat pada manusia.

    “Kalau menurut gue, cerita ke manusia nggak akan selesai, malah jadi tertawaan. Tapi kalau ke Allah, gue cerita semuanya, nanti ada solusinya,” ucap Ruben.

    Dengan ikhlas, ia belajar memaafkan dan berdamai. “Dulu gue bisa marah. Sekarang nggak. Ikhlas aja, kayak, yaudah,” katanya, menggambarkan ketenangan baru yang ia temukan.

    “Kalau menurut gue gini, ntar juga Allah kasih yang indah, yang baik,” ungkapnya.

    Ia pun tetap dikelilingi orang-orang yang setia mendukung, termasuk sahabatnya Ivan Gunawan. Dalam momen ini, Ivan juga hadir dan menjadi saksi perubahan besar dalam hidup Ruben.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Tahukah Kamu Siapa Nabi Pertama yang Menulis Bismillahirrahmanirrahim?


    Jakarta

    Sering kita ucapkan saat memulai aktivitas, kalimat Bismillahirrahmanirrahim adalah doa pembuka penuh makna. Basmalah, begitu kita mengenalnya, adalah pujian kepada Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Lebih dari sekadar ucapan, Bismillahirrahmanirrahim adalah permohonan pertolongan dari Dzat Yang Maha Agung dan Mulia. Tapi tahukah Anda, siapa nabi pertama yang menuliskan kalimat mulia ini? Jawabannya ada dalam Al-Qur’an!


    Sejarah Basmalah dalam Surat-surat Rasulullah SAW

    Menukil buku Dakwah bi Al-Qalam Nabi Muhammad SAW karya Mustafirin, disebutkan bahwa setiap surat Rasulullah SAW selalu diawali dengan basmalah. Menariknya, kebiasaan ini berlaku bahkan untuk surat yang ditujukan kepada orang-orang kafir, bahkan ada yang turut menyertakan ayat-ayat Al-Qur’an. Sebuah kebiasaan mulia yang kini menjadi sunnah bagi umat Islam.

    Kalimat basmalah yang kita kenal sekarang tidak langsung sempurna. Menukil Suf Kasman, Al-Sya’bi menuturkan bahwa awalnya Rasulullah SAW hanya menuliskan “Bismikallahumma” (dengan menyebut asma-Mu wahai Allah). Perubahan terjadi secara bertahap seiring turunnya surat Hud ayat 41, yang berbunyi:

    ۞ وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Rasulullah SAW mulai menulis “Bismillahi”.

    Kemudian, setelah turun surat Al Isra ayat 110,

    قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

    Artinya: “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”

    Rasulullah SAW mulai menulis “Bismillahirrahman” (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah).

    Puncaknya, setelah turun surat an-Naml ayat 30, yang berbunyi:

    إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Artinya: “Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

    Barulah kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” sempurna dan digunakan secara konsisten.

    Ibnu Katsir, dalam Kitab Tafsirnya, menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman AS adalah sosok pertama yang menulis kalimat Bismillahirrahmanirrahim secara lengkap. Kisah ini tertuang dalam surat yang ia kirimkan kepada Ratu Balqis, penguasa negeri Saba’.

    Ceritanya, Nabi Sulaiman AS mengetahui keberadaan Ratu Balqis dan kaumnya melalui burung hudhud. Setelah memastikan kebenaran informasi tersebut, Nabi Sulaiman AS memerintahkan hudhud untuk membawa surat kepadanya.

    Isi surat Nabi Sulaiman AS kepada Ratu Balqis dimulai dengan “Bismillahirrahmanirrahim”, dilanjutkan dengan perintah agar mereka tidak berlaku sombong dan datang kepadanya sebagai orang-orang yang berserah diri. Burung hudhud menjatuhkan surat itu tepat di hadapan Ratu Balqis, sontak membuatnya terkejut dan diliputi kebingungan. Setelah membacanya, Ratu Balqis pun akhirnya memutuskan untuk tunduk.

    Jadi, meskipun penyempurnaan lafal basmalah secara bertahap terjadi pada masa Rasulullah SAW, Nabi Sulaiman AS-lah yang tercatat dalam Al-Qur’an sebagai nabi pertama yang menuliskan kalimat Bismillahirrahmanirrahim secara lengkap.

    Sejak turunnya ayat tersebut, sebagaimana dirangkum dalam buku Misteri Basmallah oleh Samsurrohman Al-Kalanji, Rasulullah SAW menjadikan “Bismillahirrahmanirrahim” sebagai pembuka setiap surat-suratnya. Kebiasaan ini kemudian menjadi sunah dan teladan yang patut kita ikuti sebagai umat Islam.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Daftar 5 Pedang Milik Rasulullah SAW, Salah Satunya Warisan dari Sang Ayah


    Jakarta

    Pedang merupakan salah satu senjata penting dalam sejarah perjuangan umat Islam, khususnya pada masa Rasulullah SAW. Tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan atau serangan dalam peperangan, pedang-pedang yang pernah dimiliki Rasulullah SAW juga menyimpan nilai sejarah dan simbolik yang sangat besar.

    Beberapa di antaranya bahkan memiliki kisah menakjubkan dan diwariskan kepada para sahabat dan keluarganya.


    Dikutip dari buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim, sebagai seorang panglima perang, Nabi Muhammad SAW tercatat memiliki beberapa buah pedang.

    Pedang Milik Rasulullah SAW

    1. Pedang Al Ma’tsur

    Dikutip dari buku Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW: Memahami Kemuliaan Rasulullah Berdasarkan Tafsir Mukjizat Al-Qur’an karya Yoli Hemdi, pedang milik Rasulullah SAW yang pertama adalah pedang Al-Mathur atau dikenal juga sebagai Ma’thur al-Fijar.

    Ini adalah pedang pertama yang dimiliki Rasulullah SAW, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi.

    Al Ma’tsur merupakan warisan dari ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib. Pada bagian dekat pegangan pedang ini, terdapat ukiran nama ayah Nabi Muhammad SAW dalam huruf Arab, yang menambah nilai sejarah dan emosional pedang tersebut.

    Pedang ini menemani Rasulullah SAW dalam berbagai perjalanan penting, termasuk saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Setelah itu, pedang ini dikumpulkan kembali bersama peralatan perang lainnya dan disimpan oleh Ali bin Abi Thalib.

    2. Pedang Dzulfikar

    Pedang Dzulfikar ini memiliki sejarah panjang dan menjadi simbol keberanian dan keadilan. Dzulfikar diperoleh Rasulullah SAW dari harta rampasan perang Badar, salah satu pertempuran besar pertama umat Islam.

    Menurut riwayat, pedang ini kemudian diberikan kepada menantu sekaligus sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib RA, yang dikenal sebagai sosok pemberani dalam banyak pertempuran. Pedang Dzulfikar pun kemudian melekat dengan sosok Ali RA dan keluarganya. Namun, pada masa Perang Uhud, pedang ini dikembalikan oleh Ali kepada Rasulullah SAW.

    Nama Dzulfikar berasal dari kata fiqar, yang berarti “pembeda” atau “pembagian”. Hal ini menggambarkan karakteristik pedang tersebut yang memiliki dua ujung tajam atau dua belahan di bagian ujungnya, seperti simbol keadilan yang membedakan antara yang benar dan yang batil.

    Dalam buku Terperangkap di Dimensi Lain karya Iyhan Samudera, bahkan disebutkan bahwa pedang ini pernah digunakan oleh Nabi Musa AS untuk membelah Laut Merah, meski tentu pernyataan ini tidak disebut dalam sumber-sumber hadis sahih, namun menjadi bagian dari legenda yang mengiringi pedang tersebut.

    3. Pedang Hatf

    Pedang selanjutnya yang dimiliki Rasulullah SAW adalah Hatf, pedang yang konon berasal dari zaman Nabi Daud AS. Sebagaimana diketahui dalam Al-Qur’an, Nabi Daud diberi mukjizat oleh Allah berupa kemampuan untuk melunakkan besi. Dengan mukjizat itu, beliau dapat membuat baju besi dan senjata perang, termasuk pedang.

    Pedang Hatf ini kemudian menjadi rampasan perang dari Bani Qainuqa, salah satu suku Yahudi yang menentang umat Islam di Madinah, dan akhirnya dimiliki oleh Rasulullah SAW. Keberadaan pedang ini menambah kekayaan sejarah Islam yang berakar dari para nabi terdahulu.

    Saat ini, pedang Hatf disimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki, bersama dengan peninggalan suci Rasulullah dan para sahabat lainnya.

    4. Pedang Al Qadib

    Tidak semua pedang yang dimiliki Rasulullah SAW digunakan dalam medan perang. Salah satunya adalah pedang Al Qadib, yang lebih berfungsi sebagai alat pertahanan pribadi ketika bepergian, bukan untuk berperang.

    Menurut catatan sejarah, tidak ditemukan riwayat yang menyebutkan pedang ini digunakan Rasulullah dalam peperangan. Pedang ini disimpan di rumah Rasulullah SAW dan kemudian digunakan oleh kalangan Khalifah Fatimiyah setelah beliau wafat.

    Ciri khas dari pedang Al Qadib adalah bentuknya yang ramping seperti tongkat, serta adanya ukiran dari perak yang bertuliskan kalimat syahadat di bagian bilahnya. Hal ini menambah nilai spiritual dari senjata tersebut, sekaligus menunjukkan identitas pemiliknya sebagai seorang Muslim.

    5. Pedang Al Mikhdzam

    Pedang berikutnya adalah Al Mikhdzam, pedang yang memiliki riwayat berbeda-beda mengenai kepemilikannya. Sebagian sejarawan menyebut bahwa pedang ini adalah milik Rasulullah SAW, yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diwariskan kepada keturunannya.

    Namun, pendapat lain menyatakan bahwa pedang ini merupakan hasil rampasan perang yang diperoleh oleh Ali RA sendiri dalam sebuah serangan ke wilayah Syria. Karena itu, kepemilikan pedang Al Mikhdzam ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah.

    Meskipun demikian, kehadiran pedang ini tetap menambah daftar senjata-senjata penting yang terkait dengan perjuangan Islam masa awal.

    Pedang-pedang Rasulullah SAW bukanlah sekadar senjata fisik untuk berperang, namun juga simbol keteguhan, keberanian, keadilan, dan warisan spiritual. Masing-masing menyimpan kisah luar biasa yang memperlihatkan perjalanan dakwah Islam yang penuh tantangan. Melalui pedang-pedang tersebut, kita bisa memahami betapa besar perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan kebenaran, serta bagaimana beliau mempersiapkan dan melindungi umatnya dengan strategi yang bijaksana.

    Wallahu a’lam bishawab.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 40 Kata Bijak Abu Bakar Ash-Shiddiq, Inspirasi Hidup dari Sahabat Nabi



    Jakarta

    Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu tokoh mulia dalam sejarah Islam. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi Quhafah, dan ia dikenal dengan gelar “Ash-Shiddiq” karena selalu membenarkan dan mempercayai Nabi Muhammad SAW, termasuk saat peristiwa Isra’ Mi’raj yang sulit diterima logika banyak orang.

    Abu Bakar adalah sahabat paling dekat Rasulullah SAW, orang pertama dari kalangan laki-laki dewasa yang masuk Islam, serta pendamping setia Nabi SAW dalam berbagai peristiwa penting, termasuk saat hijrah ke Madinah.


    Ia juga dikenal sebagai khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah SAW, memimpin umat Islam dengan bijaksana, adil, dan penuh ketakwaan.

    Dikutip dari buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Abu Bakar Ash Shiddiq adalah pimpinan golongan Ash Shiddiqun dan sebaik-baik orang saleh setelah para nabi dan rasul. Rasulullah SAW pernah bersabda tentang dirinya, “Seandainya aku ingin mengambil seorang khalil, niscaya Abu Bakar lah orangnya, akan tetapi ia adalah saudaraku dan sahabatku.” (HR Bukhari)

    Semasa hidupnya, Abu Bakar dikenal sebagai sosok zuhud, lemah lembut namun tegas, sangat mencintai kebenaran dan rela mengorbankan hartanya demi Islam. Ia wafat pada usia 63 tahun dan dimakamkan di samping makam Rasulullah SAW di Madinah.

    Kata Bijak Abu Bakar Ash-Shiddiq

    Berikut 40 kata bijak Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat paling dekat Rasulullah SAW sekaligus khalifah pertama. Kalimat ini penuh hikmah dan menjadi inspirasi hidup umat Islam:

    1. “Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”
    2. “Kematian lebih ringan dari bulu, namun dosa lebih berat dari gunung.”
    3. “Tidak ada kebaikan dalam diam dari kebenaran, sebagaimana tidak ada kebaikan dalam bicara tanpa ilmu.”
    4. “Bertakwalah kepada Allah, karena takwa adalah perisai.”
    5. “Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.”
    6. “Tidak ada kelebihan atas orang lain kecuali dalam takwa dan amal saleh.”
    7. “Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, walau dosamu sebanyak buih di lautan.”
    8. “Hendaklah setiap amal disertai dengan niat yang benar.”
    9. “Jangan memandang kecil sebuah kebaikan, karena gunung tersusun dari kerikil.”
    10. “Sungguh, aku merasa berat memikul amanah ini, tetapi aku takut kepada Allah jika menolaknya.”
    11. “Orang berilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah.”
    12. “Kesabaran adalah pondasi bagi segala urusan.”
    13. “Jadilah seperti pohon yang rindang, memberi manfaat meski dilempari batu.”
    14. “Kebenaran itu amanah, dan dusta itu khianat.”
    15. “Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya.”
    16. “Tiada kebaikan pada dunia jika di dalamnya tidak ada akhirat.”
    17. “Lakukanlah kebaikan meski engkau tak dikenal, karena Allah mengenalmu.”
    18. “Orang yang paling kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.”
    19. “Kehidupan dunia hanyalah ujian, bukan tempat untuk menetap.”
    20. “Janganlah engkau merasa aman dari makar Allah, walau kau berada di puncak kebaikan.”
    21. “Kematian datang tiba-tiba, maka persiapkan bekal sebelum ajal tiba.”
    22. “Takutlah kepada Allah saat sendiri, sebagaimana engkau takut saat dilihat manusia.”
    23. “Ilmu tanpa amal adalah kegagalan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan.”
    24. “Carilah sahabat yang mengingatkanmu kepada Allah.”
    25. “Jangan sombong dengan dunia, karena ia cepat pergi dan menipu.”
    26. “Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tapi hati yang merasa cukup.”
    27. “Lidah bisa menyelamatkanmu atau membinasakanmu, maka jagalah ia.”
    28. “Berpeganglah pada kebenaran meski sedikit orang yang mengikutinya.”
    29. “Jangan engkau sakiti orang lain, karena luka hati lebih lama sembuhnya.”
    30. “Tegakkan keadilan walau terhadap dirimu sendiri.”
    31. “Pemimpin yang baik adalah yang paling takut kepada Allah.”
    32. “Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi.”
    33. “Hiduplah dengan sederhana, meski kau mampu hidup mewah.”
    34. “Kelembutan dalam berbicara lebih tajam daripada pedang.”
    35. “Ucapkan yang baik atau diamlah.”
    36. “Ketakwaan adalah pakaian terbaik seorang mukmin.”
    37. “Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
    38. “Orang yang ikhlas tidak peduli pujian atau cacian manusia.”
    39. “Jangan biarkan dunia masuk ke hatimu, biarlah ia hanya di tanganmu.”
    40. “Siapkan akhiratmu seolah mati besok, dan bekerjalah untuk duniamu seolah hidup selamanya.”

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Innalillahi, Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali Meninggal Dunia



    Jakarta

    Kabar duka kembali menyelimuti Tanah Air. Mantan Menteri Agama Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si., berpulang ke Rahmatullah pada hari ini, Kamis (31/7/2025), pukul 04.25 WIB.

    Kabar tersebut dibenarkan oleh Staf Khusus Menteri Agama Nasaruddin Umar, Astri Nasution.

    “iya benar,” kata Astri kepada detikHikmah, Kamis (31/7/2025).


    Kabar duka ini awalnya beredar di WhatsApp. Almarhum menghembuskan napas terakhir di RS Mayapada Kuningan, Jakarta Selatan.

    Dalam pesan yang beredar dikatakan, jenazah Suryadharma Ali akan disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Jl. Cipinang Cempedak I No.30, Cipinang Cempedak, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur.

    Mendiang rencananya akan dimakamkan di Pondok Pesantren Miftahul’Ulum, Jl. KH. Ahmad, Kp. Mariuk, Rt 002/008, Ds Gandasari, Kec. Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Prosesi pemakaman akan dilaksanakan setelah waktu Zuhur.

    Saksikan Live DetikPagi:

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Eks Menteri Agama Suryadharma Ali Akan Dimakamkan di Ponpes Miftahul Ulum Cikarang


    Jakarta

    Eks Menteri Agama Suryadharma Ali meninggal dunia. Jika tak ada halangan, almarhum akan dimakamkan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Cikarang Barat, setelah salat Zuhur.

    “Akan dimakamkan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Jl. KH. Ahmad. Kampung Mariuk, RT 002/008, Desa Gandasari. Kec. Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Ba’da Zuhur,” tulis pesan berantai yang diterima oleh detikHikmah, Kamis (31/7/2025).

    Kini, jenazah disemayamkan di rumah duka, Jl. Cipinang Cempedak I No.30, Cipinang Cempedak, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Ia menghembukkan napas terakhir di RS Mayapada Kuningan, Jakarta Selatan, hari ini pukul 04.25 WIB.


    “Kami dari segenap keluarga Almarhum, memohon doa dan keikhlasan dari Bapak/Ibu/Saudara/i agar Almarhum diampuni segala dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” tukas pesan tersebut.

    Profil Suryadharma Ali

    Suryadharma Ali adalah seorang politikus yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama Indonesia. Ia menjabat posisi tersebut selama lima tahun pada 2009-2014.

    Beliau lahir pada tanggal 19 September 1956. Artinya, ia wafat diusia 68 tahun.

    Suryadharma Ali adalah Alumni dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarief Hidayatullah. Ia lulus dan mendapat gelar Sarjana pada 1984.

    Semasa kuliah, Suryadharma Ali aktif di organisasi mahasiswa. Ia pun mulai menjadi aktivis pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), cabang Ciputat. Pada 1985, Suryadharma Ali menjadi ketua umum PB PMII hingga tahun 1988.

    Setelah lulus Suryadharma mengawali karirnya dengan bekerja di PT. Hero Supermarket. Ia menjadi Deputi Direktur pada 1985 hingga tahun 1999.

    Setelah itu Suryadharma Ali terjun ke politik. Ia menduduki jabatan Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

    Jabatan tersebut akhirnya mengantarkannya menjadi wakil rakyat. Suryadharma Ali terpilih menjadi anggota DPR dua periode, 1999-2004 dan 2004-2009.

    Karir Suryadharma Ali semakin meroket. Beliau pernah juga menjabat sebagai Bendahara Fraksi PPP MPR RI.

    Belum tuntas menjadi wakil rakyat, Ia diminta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Menteri Negara Koperasi dan UKM RI, periode 2004-2009.

    Presiden SBY kemudian memintanya untuk menjadi Menteri Agama periode 2009-2014.

    Di sisi lain, Suryadharma Ali berkesempatan menjadi Ketua Umum PPP yang sebelumnya diduduki oleh Hamzah Haz dua periode, 2007-2011 dan 2011-2015.

    Suryadharma Ali meninggalkan satu orang istri yang bernama Wardatul Asriah. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak yang bernama Kartika Yudistira Suryadharma, Sherlita Nabila Suryadharma, Abdurrahman Sagara Prakasa dan Nadia Jesica Nurul Wardani.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ternyata Sunnah! Tata Cara Menyiram Air di Kuburan dan Doanya


    Jakarta

    Ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam sebagai pengingat akan kematian dan kehidupan akhirat. Salah satu tradisi yang sering dilakukan saat ziarah kubur adalah menyiram air di atas makam.

    Ziarah menjadi hal yang umum dilakukan masyarakat muslim Indonesia. Biasanya ketika ziarah, diiringi juga dengan menyiram kuburan dengan air. Benarkah hal ini salah satu sunnah Rasulullah SAW?


    Dalil Menyiram Kuburan

    Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatu az-Zain menerangkan bahwa hukum menyiram kuburan dengan air dingin adalah sunnah. Kesunnahan ini bersandar pada sejumlah hadits.

    Dalam hadits diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad SAW menyiram kubur putranya, Ibrahim.” (HR Thabrani)

    Dalam riwayat lain dari sahabat, Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata:

    أَنَّ النَّبِيّ رَشَّ عَلَى قَبْرِ ابْنِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَوَضَعَ عَلَيْهِ حِصْبَاءَ

    Artinya: “Bahwasanya Nabi SAW menyiramkan air di atas kuburan putranya, Ibrahim, dan meletakkan batu (sebagai tanda) di atasnya.” (HR Asy-Syafi’i)

    Dalam riwayat lain dari Baihaqi, Ja’far bin Muhammad menuturkan, “(Kebiasaan) menyiramkan air di atas kubur itu telah ada sejak masa Rasulullah SAW.”

    Nabi SAW pun pernah menyiram makam sahabat Sa’ad bin Mu’adz dengan air. Dan beliau juga memerintahkannya pada makam Utsman bin Mazh’un.

    Dalil menyiram air di atas kuburan lainnya disandarkan pada tradisi para sahabat. Jabir bin Abdullah mengatakan, “Disiramkan di atas kubur Nabi SAW air yang banyak. Adapun yang menyiramkannya adalah Bilal bin Rabah. Dimulai dari kepalanya sebelah kanan sampai selesai ke arah kaki, dia menyiramkan air sampai ke tembok, dan tidak mampu mengitari tembok.” (HR Baihaqi)

    Mengutip keterangan Syekh Khatib al-Syarbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj Juz II halaman 55 yang dikutip dari laman Tebu Ireng Online,

    وَيُنْدَبُ أَنْ يُرَشَّ الْقَبْرُ بِمَاءٍ؛ لِأَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَعَلَهُ بِقَبْرِ وَلَدِهِ إبْرَاهِيمَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد فِي مَرَاسِيلِهِ وَتَفَاؤُلًا بِالرَّحْمَةِ وَتَبْرِيدًا لِمَضْجَعِ الْمَيِّتِ؛ وَلِأَنَّ فِيهِ حِفْظًا لِلتُّرَابِ أَنْ يَتَنَاثَرَ

    Artinya: “Disunnahkan menyiram kuburan dengan air karena Rasulullah SAW sendiri melakukannya kepada kuburan putranya Ibrahim. Selain itu, tindakan ini merupakan pengharapan agar kondisi mayit tetap dingin dan mendapat limpahan rahmat. Serta untuk menjaga tanah agar tidak bertaburan.”

    Terkait air yang digunakan untuk menyiram, menurut Imam al-Romli dalam kitabnya Nihayatu al-Muhtaj, yang paling utama adalah menggunakan air dingin lagi suci.

    Tata Cara Menyiram Air di Kuburan

    Sebagaimana pernah dicontohkan Rasulullah SAW terhadap makam anaknya, Ibrahim, maka Bilal bin Rabah juga melakukan hal yang sama terhadap kuburan Rasulullah SAW.

    Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:

    وعنه، قال: (رُش قبر النبي – صلى الله عليه وسلم -، وكان الذي رش الماء على قبره بلال بن رباح بقربة، بدأ من قبل رأسه حتى انتهى إلى رجليه). رواه البيهقي

    Artinya: Dari sahabat Jabir RA beliau berkata, “Kuburan Nabi Muhammad SAW disiram dengan air yang dimulai dari arah kepala sampai kedua kakinya nabi dan orang yang melakukannya adalah Bilal bin Ra’bah.”

    Hukum Menyiram Air Mawar ke Kuburan

    Dalam kitab al-Bajuri sebagaimana dikutip dari buku Merayakan Khilafiyah Menuai Rahmat Ilahiah karya Zikri Darussamin disebutkan hukum menyiram kuburan dengan air mawar.

    “Disunnahkan menyiram kubur dengan air, terutama air dingin sebagaimana pernah dilakukan Rasulullah SAW terhadap pusara anaknya, Ibrahim. Hanya saja hukumnya menjadi makruh apabila menyiramnya degan air mawar dengan alasan menyia-nyiakan (barang berharga). Meski demikian, menurut Imam Subki tidak mengapa kalau memang penyiraman air mawar itu mengharapkan kehadiran malaikat yang menyukai bau wangi.”

    Menyiram air di atas makam bukanlah bagian dari ibadah wajib atau sunnah yang berdiri sendiri, tetapi boleh dilakukan dengan tujuan praktis dan adab selama tidak menyertakan keyakinan yang menyimpang.

    Doa Ziarah Kubur

    Rasulullah SAW mencontohkan bacaan salam ketika berziarah kubur sebelum membaca doa.

    السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ

    Bacaan Latin: Assalâmu’alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû’adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn.

    Artinya: “Assalamu’alaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian.”

    Setelah mengucapkan salam, dapat dilanjutkan dengan membaca doa ziarah kubur pendek.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ

    الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

    Bacaan Latin: Allahummaghfìrlahu war hamhu wa ‘aafìhìì wa’fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì’ madholahu, waghsìlhu bìl maa’ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì.

    Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì.

    Artinya: “Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.

    Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR Muslim)

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Negara yang Warganya Paling Rajin Berdoa, Indonesia Teratas


    Jakarta

    Pew Research Center melakukan survei terhadap tingkat doa harian di berbagai negara. Menurut data terbaru, Indonesia menempati posisi pertama untuk kategori ini.

    Dalam laporan yang dilihat pada Minggu (3/8/2025), 95 persen penduduk Indonesia mengatakan berdoa setiap hari. Angka ini disusul Kenya dan Nigeria yang 84 persen warganya berdoa setidaknya setiap hari.

    Negara tetangga yang mayoritas berpenduduk muslim, Malaysia, menempati posisi keempat dengan persentase mencapai 80 persen. Selanjutnya disusul Filipina (79 persen), Brasil (76 persen), Bangladesh (75 persen), Ghana (73 persen), Sri Lanka (72 persen), dan Kolombia (71 persen).

    10 Negara Paling Rajin Berdoa

    1. Indonesia (95 persen)
    2. Kenya (84 persen)
    3. Nigeria (84 persen)
    4. Malaysia (80 persen)
    5. Filipina (79 persen)
    6. Brazil (76 persen)
    7. Bangladesh (75 persen)
    8. Ghana (73 persen)
    9. Sri Lanka (72 persen)
    10. Kolombia (71 persen)

    Berikut 20 teratas selengkapnya:

    Indonesia Jadi Negara Paling Religius di Dunia

    Survei-survei kategori serupa yang dipublikasikan Pew Research Center mendapuk Indonesia sebagai negara paling religius di dunia. Hampir seluruh warga Indonesia mengatakan agama penting bagi mereka.

    Dalam laporan pada 6 Agustus 2024, doa harian cukup umum di Asia Timur dan Eropa dengan Indonesia sebesar 95 persen. Peringkat ini disusul Nigeria, Senegal, Irak, Niger, Chad, Kamerun, Djibouti, Guatemala, dan Guinea-Bissau.

    Negara paling religius di dunia, survei dipublikasikan 2024.Negara paling religius di dunia, survei dipublikasikan 2024. Foto: Pew Research Center

    Data memperlihatkan tak satu pun negara di Asia Timur yang disurvei menunjukkan lebih dari 21 persen orang dewasa mengaku berdoa setiap hari. Ini termasuk 13 persen warga Hong Kong dan 19 warga Jepang.

    Sementara itu, menurut survei majalah CEOWORLD pada 2024, negara paling religius di dunia diduduki oleh Somalia dengan stok 99,8. Setelahnya disusul Niger (99,7), Bangladesh (99,5), Ethiopia (99,3), dan Yaman (99,1). Indonesia sendiri menempati posisi ketujuh dengan skor 98,7.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com