Author: Gak Ganti Gambar

  • Pria Bekasi Berhasil Turun 50 Kg, Punya 4 Cara Diet Tanpa Tahan Lapar Seharian


    Jakarta

    Diet seringnya dikaitkan dengan perasaan ‘menyiksa’ lantaran banyak orang merasa berat mengubah pola makan. Hal ini juga dialami Leslie Perdana Sihombing, pria 25 tahun itu bahkan sempat menjajal segala macam diet, sampai ekstremnya menahan lapar seharian.

    Namun, apa yang didapat? Bukan membuahkan hasil, keesokan harinya seperti muncul perasaan ‘balas dendam’ makan lebih banyak, lantaran menahan lapar seharian di hari sebelumnya.

    Pada akhirnya, Leslie memiliki empat cara yang membuat dietnya berhasil tanpa perlu menahan lapar. Apa saja?


    “Aku suka makan lauk lebih banyak daripada nasi, dengan makan lebih banyak terutama berasal dari hewani, tubuh akan merasa kenyang lebih lama jadinya nggak perlu terlalu banyak buat mengurangi porsi,” cerita pria asal Bekasi tersebut.

    “Tapi biar bisa lebih hemat gue biasanya masak sendiri bisa pakai dada ayam, paha ayam, daging, ikan, ataupun telur,” lanjutnya.

    Cara kedua menurutnya yang cukup ampuh adalah mengontrol tempo makan atau cara makan. Jika seringnya makan terlalu cepat, ada keinginan lebih tinggi untuk masih merasa tidak kenyang. Berbeda jika saat membiasakan diri makan dengan perlahan.

    “Makan perlahan dengan mengontrol tempo atau ritme makan hal sesimpel ini cukup membantu karena biasanya kalau makan cepet banget, malah cenderung nambah nasi,” tuturnya.

    “Akhirnya setelah nambah nasi, terus kekenyangan dan terus nyesel,” katanya.

    Ketiga, minum air putih terlebih dulu sebelum makan. Minum air putih sebelum makan membuatnya merasa lebih kenyang yang kemudian bisa mengatur porsi makan tidak menjadi lebih banyak dari biasanya.

    “Selesai makan juga dorong lagi pakai air putih,” kata dia,

    “Dan yang paling penting itu percaya proses bertahap karena diet ini bukan sehari dua hari, seminggu, jadi nikmati saja,” pungkasnya.

    (naf/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Awal Mula Diet Pria Bekasi, BB Sempat 145 Kg! Kini Turun 50 Kg Tanpa Skip Nasi


    Jakarta

    Cerita perjalanan diet pria asal Bekasi yang berhasil menurunkan bobot tubuhnya hingga 50 kg, ramai disorot netizen. Bobot tubuh pria bernama Leslie Perdana Sihombing sempat di angka 145 kg.

    Rupanya, Leslie sukses menurunkan berat badan berkat diet one meal a day, alias hanya makan satu kali selama 24 jam.

    “Jadi jendela makan besar hanya satu sampai dua jam, dan setelah itu nggak boleh ngemil, dan hanya boleh minum air putih, teh, kopi, dan harus tanpa gula,” ceritanya saat dihubungi detikcom Selasa (27/2/2024).


    Dirinya tak pernah membatasi konsumsi nasi. Asupan karbo yang dirasa mengenyangkan dan tetap dipilih selama perjalanan diet Leslie adalah nasi.

    Metode one meal a day sebetulnya mengizinkan seseorang untuk mengonsumsi jenis makanan apapun. Namun, Leslie ingin sekaligus memperbaiki pola hidup dengan membiasakan mengonsumsi makanan sehat.

    “Metodeomad ini sebenarnya boleh makan apa saja dalam satu kali makan, tapi karena gue in

    gin menjalaninya sebagai pola hidup, jadi sangat menjaga makan kecuali lagi cheating,” sambungnya.

    Leslie membatasi cheating dalam seminggu minimal tidak lebih dari dua hari. Sebab, bila lebih dari waktu tersebut dan dilakukan berturut-turut, diet menjadi lebih mudah gagal dan sulit untuk kembali ‘on-track’.

    Apa Saja Sih yang Dikonsumsi?

    “Dalam satu piring itu ada protein hewani, karbo, serat, dan kadang ada protein nabati,”
    beber dia.

    “Makannya normal, tapi makannya sehari sekali proporsi nasinya jadi lebih sedikit dari lauk,” terang dia.

    Pria berusia 25 tahun tersebut juga perlahan mulai mengurangi asupan tepung-tepungan, makanan dengan proses digoreng, hingga makanan manis.

    “Kalaupun digoreng pakai minyak hewani dan kelapa,” jelasnya.

    NEXT: Awal mula konsisten diet

    Sebelum diet, Leslie mulai mengeluhkan nyeri di nyaris seluruh bagian tubuh. Setiap kali beraktivitas, ada rasa sakit di lutut, mudah mengantuk, sampai keluhan asam lambung.

    “Kalau dicek mungkin banyak penyakit-penyakit lainnya,” kata dia.

    Dirinya mengaku bobot tubuhnya berada di level obesitas karena ‘binge eating’, stres setelah putus cinta membuatnya tak bisa mengontrol berapa banyak makanan yang masuk ke tubuh.

    Dirinya juga terbiasa selalu mengonsumsi alkohol sebelum tidur. Porsi makan Leslie sebelum diet bisa sampai empat kali dalam sehari.

    “Tantangan terbesar selama diet, semuanya berat karena mengubah kebiasaan 180 derajat, paling berat setop ngemil, dari biasanya pagi makan nasi uduk, siang nasi padang, malam ngemil, makan nasi goreng, untuk setop nasi goreng saja dulu susah di awal,” pungkasnya.

    (naf/naf)



    Sumber : health.detik.com

  • Awal Mula Diet Pria Bekasi, BB Sempat 145 Kg! Kini Turun 50 Kg Tanpa Skip Nasi


    Jakarta

    Cerita perjalanan diet pria asal Bekasi yang berhasil menurunkan bobot tubuhnya hingga 50 kg, ramai disorot netizen. Bobot tubuh pria bernama Leslie Perdana Sihombing sempat di angka 145 kg.

    Rupanya, Leslie sukses menurunkan berat badan berkat diet one meal a day, alias hanya makan satu kali selama 24 jam.

    “Jadi jendela makan besar hanya satu sampai dua jam, dan setelah itu nggak boleh ngemil, dan hanya boleh minum air putih, teh, kopi, dan harus tanpa gula,” ceritanya saat dihubungi detikcom Selasa (27/2/2024).


    Dirinya tak pernah membatasi konsumsi nasi. Asupan karbo yang dirasa mengenyangkan dan tetap dipilih selama perjalanan diet Leslie adalah nasi.

    Metode one meal a day sebetulnya mengizinkan seseorang untuk mengonsumsi jenis makanan apapun. Namun, Leslie ingin sekaligus memperbaiki pola hidup dengan membiasakan mengonsumsi makanan sehat.

    “Metodeomad ini sebenarnya boleh makan apa saja dalam satu kali makan, tapi karena gue in

    gin menjalaninya sebagai pola hidup, jadi sangat menjaga makan kecuali lagi cheating,” sambungnya.

    Leslie membatasi cheating dalam seminggu minimal tidak lebih dari dua hari. Sebab, bila lebih dari waktu tersebut dan dilakukan berturut-turut, diet menjadi lebih mudah gagal dan sulit untuk kembali ‘on-track’.

    Apa Saja Sih yang Dikonsumsi?

    “Dalam satu piring itu ada protein hewani, karbo, serat, dan kadang ada protein nabati,”
    beber dia.

    “Makannya normal, tapi makannya sehari sekali proporsi nasinya jadi lebih sedikit dari lauk,” terang dia.

    Pria berusia 25 tahun tersebut juga perlahan mulai mengurangi asupan tepung-tepungan, makanan dengan proses digoreng, hingga makanan manis.

    “Kalaupun digoreng pakai minyak hewani dan kelapa,” jelasnya.

    NEXT: Awal mula konsisten diet

    Sebelum diet, Leslie mulai mengeluhkan nyeri di nyaris seluruh bagian tubuh. Setiap kali beraktivitas, ada rasa sakit di lutut, mudah mengantuk, sampai keluhan asam lambung.

    “Kalau dicek mungkin banyak penyakit-penyakit lainnya,” kata dia.

    Dirinya mengaku bobot tubuhnya berada di level obesitas karena ‘binge eating’, stres setelah putus cinta membuatnya tak bisa mengontrol berapa banyak makanan yang masuk ke tubuh.

    Dirinya juga terbiasa selalu mengonsumsi alkohol sebelum tidur. Porsi makan Leslie sebelum diet bisa sampai empat kali dalam sehari.

    “Tantangan terbesar selama diet, semuanya berat karena mengubah kebiasaan 180 derajat, paling berat setop ngemil, dari biasanya pagi makan nasi uduk, siang nasi padang, malam ngemil, makan nasi goreng, untuk setop nasi goreng saja dulu susah di awal,” pungkasnya.

    (naf/naf)



    Sumber : health.detik.com

  • Pengin Punya ‘Body Goals’ Tapi Ogah Olahraga, Bisa Nggak Ya? Begini Kata Ahli


    Jakarta

    Obesitas merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang berbahaya. Penyakit yang umumnya disebabkan oleh permasalahan gaya hidup ini bisa menjadi penyebab berbagai penyakit mematikan lain. Misalnya seperti penyakit jantung, stroke, hingga diabetes.

    Salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah atau mengatasi obesitas adalah perubahan gaya hidup sehat secara total. Perubahan gaya hidup itu meliputi diet dan juga olahraga.

    Muncul pertanyaan di tengah masyarakat, apakah bisa menurunkan berat badan secara sehat tanpa berolahraga? Dokter spesialis olahraga dr Elyse, SpKO menuturkan bahwa olahraga tetap dibutuhkan dalam proses penurunan berat badan.


    Menurutnya, diet dan olahraga menjadi faktor yang dapat mendukung satu sama lain dalam proses menurunkan berat badan.

    “Jadi nggak bisa ya menurunkan berat badan dengan sehat tanpa olahraga. Jadi kalau kita melakukan aktif harus juga melakukan hidup yang sehat dari faktor nutrisi,” kata dr Elyse dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan, Senin (4/3/2024).

    “Jadi makanan itu berperan penting. Biasanya faktor dari diet itu sekitar 70 persen berkontribusi untuk melakukan gaya hidup yang sehat, terus 30 persennya itu olahraga,” sambungnya.

    Ketika seseorang ingin menurunkan berat badan dengan lebih sehat, maka keduanya faktor tersebut harus berjalan beriringan tanpa hanya memilih salah satu saja. Kebiasaan diet tanpa olahraga juga dapat menyebabkan berat badan yoyo atau lebih mudah naik kembali.

    “Kalau kita mau punya berat badan yang ideal, tetap sehat dan bugar. Nggak bisa tuh cuma sebelah-sebelah doang. Kalau kita misalnya melakukan dari diet saja, biasanya gampang terjadi yang namanya berat badan yoyo. Gampang turun, tapi juga gampang naik,” ungkap dr Elyse.

    “Tapi kalau kita melakukan latihan fisik yang teratur disertai dengan diet yang sehat itu akan terjadi berat badan yang ideal,” pungkasnya.

    (avk/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Dokter Gizi Beberkan Kesalahan saat Diet Ketat, Bisa Berujung Masuk IGD


    Jakarta

    Memiliki berat badan ideal menjadi mimpi banyak orang. Sejumlah cara bahkan dilakukan demi diet agar memiliki bentuk tubuh impian.

    Hanya saja diet tak melulu soal mengurangi porsi makan. Pada orang dengan kondisi tertentu, terlalu mengatur pola makan dengan ketat bisa berujung fatal.

    “Ada juga yang beranggapan kalau niat kurangin makan, pasti bisa turun berat badannya. Lalu apa dampak dari stigma kalo makan pasti turun? Ada yang puasa, nggak makan,” kata spesialis gizi klinik dr Gaga Irawan Nugraha, SpGK(K) kepada media di Jakarta Selatan, Jumat (1/3/2024).


    “Intermittent fasting sampai masuk emergency karena maag-nya kambuh,” sambungnya.

    Dia menambahkan masalah obesitas tak bisa ditangani hanya dengan diet dan olahraga. Beberapa hal yang juga penting dilakukan pengidap obesitas adalah memperhatikan faktor pemicu mereka mengalami kegemukan.

    Obesitas menurutnya juga dipengaruhi faktor lingkungan. Jika seseorang berada di lingkungan yang gemar menyantap makanan cepat saji, misalnya, maka akan sulit untuk mengatur dan menetapkan pola makan yang baik.

    Di sisi lain, otak juga memainkan peran penting dalam mengatur nafsu makan dan metabolisme tubuh. Kemampuan untuk mengeksekusi keinginan makan atau tidak, keinginan untuk olahraga atau tidak merupakan salah satu peran otak bagi tubuh manusia.

    “Kan yang membuat seseorang menolak tawaran makan atau minum itu otak. Yang menyebutkan ‘nggak’ itu kan yang nyuruh otak. Termasuk ketersediaan bahwa saya ingin bangun pagi untuk berolahraga walau semalam bedagang, itu semua kan ada peran dari otak,” tandasnya.

    (Haifa Nur Raidah/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Berat Badan Saykoji Turun 40 Kg Tanpa Pantang Nasi, Begini Tipsnya


    Jakarta

    Ignatius Rosoinaya Penyami alias Igor Saykoji dalam beberapa tahun terakhir sering membagikan aktivitas diet yang Ia jalani di akun Instagram pribadinya. Rapper hitz tanah air itu lagi rajin-rajinnya olahraga dan mengatur pola makan untuk menurunkan berat badan.

    Igor mengaku kalau pola makannya jauh berbeda dengan yang dulu. Konsumsi makanan lebih dijaga dan tidak asal-asalan. Sekarang, dia harus melakukan kalori defisit yakni jumlah kalori yang masuk harus lebih banyak yang dikeluarkan.

    “Untuk kalori itu bukan berarti kita harus makan sedikit loh, ternyata harus mengurangi makanan yang kalorinya tinggi. Saya hindarin gula dan karbohidrat berlebih. Tapi, bukan berarti nggak boleh dimakan ya. Ukurannya yang ditakar,” kata Igor saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Minggu (3/3/2024).


    Dia mengaku tidak menghindari konsumsi nasi, tapi memang lebih banyak konsumsi serat, seperti buah dan sayur. Tidak kalah penting juga untuk konsumsi protein karena otot di dalam tubuh akan berkembang oleh protein.

    “Otot itu bisa dibangun dengan modal protein, makanya paling banyak konsumsi protein. Saya bisa lebih banyak ngenyangin diri dengan makan dada ayam dibanding makan lauk sedikit terus nasinya banyak, apalagi makan snack manis,”

    Selama menjalankan diet dengan menjaga pola makan salah satunya, Igor berhasil turun sekitar 40 kg. Semula berada di angka hampir 150 kg, sekarang sudah berada di sekitar 100 kg.

    Tentunya dengan berat badannya yang turun jauh, Dia mengaku sudah berganti size baju. Sekarang sudah bisa di size XL atau XXL. Sedangkan dulu, paling kecil di XXXL dan itu ngepress di badan.

    (up/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Begini Kriteria Orang yang Bisa Jalani Operasi Bariatrik demi Turun BB


    Jakarta

    Operasi bariatrik kerap menjadi pilihan untuk penurunan berat badan mereka yang mengidap obesitas. Padahal, tidak semua orang dengan berat badan berlebih bisa menjalani prosedur tersebut.

    Operasi bariatrik merupakan prosedur medis untuk membantu menurunkan berat badan pada orang dengan obesitas morbid, yakni obesitas dengan indeks massa tubuh di atas 40.

    Namun, ternyata tidak semua orang bisa menjalaninya. Pakar gizi masyarakat Dr dr Tan Shot Yen, MHum, mengungkap indikasi dari prosedur tersebut.


    “Tentu saja bariatrik itu adalah tindakan invasif. Jadi, kita tidak akan menganjurkan pasien melakukan tindakan invasif kalau yang konvensional belum dijalankan,” jelasnya dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan, Senin (4/3/2024).

    Indikasi yang menandakan seseorang bisa melakukan prosedur operasi bariatrik, yakni:

    • Indeks massa tubuh harus di atas 32,5
    • Memiliki penyakit penyerta

    dr Tan menegaskan orang yang bisa melakukan operasi bariatrik memang memiliki kondisi lain atau komorbid yang mengganggu kehidupannya. Misalnya seperti diabetes hingga gangguan metabolisme yang harus dalam kondisi stabil.

    “Pokoknya amburadul deh, sudah gangguan metabolisme, ada hipertensi, hiperkolesterol, arthritis, yang mana sebelum dioperasi itu semua harus distabilkan dulu,” tegas dr Tan.

    “Jadi, nggak bisa tiba-tiba lambungnya digunting setengah. Tentu ada indikasi dan indikasi setiap orang itu tidak sama,” sambungnya.

    NEXT: Kapan bisa menjalani operasi bariatrik?

    Kapan Bisa Operasi Bariatrik?

    Pada kesempatan yang sama, dokter spesialis kedokteran olahraga dr Elsye, SpKO, mengungkapkan soal kapan seseorang bisa melakukan operasi bariatrik. Menurutnya, pasien harus terlebih dulu dilihat dari faktor fisik dan aktivitas fisiknya.

    Pasien yang akan menjalani operasi bariatrik perlu menjalani pola makan dan aktivitas fisik sesuai arahan dokter dalam waktu 3-6 bulan. Jika metode itu tidak berhasil dan tidak ada perubahan pada penyakit penyerta yang diidapnya, dianjurkan untuk konsultasi ke dokter untuk proses operasi.

    Setelah operasi bariatrik, pasien akan dianjurkan untuk konsultasi ke dokter spesialis kedokteran olahraga. Ini dilakukan agar pasien bisa tetap aktif secara fisik pasca operasi.

    “Setelah operasi bukan berarti harus duduk diam saja. Bukan alasan jadi malas bergerak,” beber dr Elsye.

    “Tapi, kita harus tetap melakukan olahraga dan biasanya kita pantau dan tetap bekerja sama dengan dokter bedah,” pungkasnya.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Viral Tren Diet Pakai Obat Diabetes, Aman Nggak Sih?


    Jakarta

    Diet menjadi salah satu cara yang dilakukan para pemilik berat badan berlebih untuk mengurangi berat badannya. Ada banyak cara diet yang dilakukan, mulai dari membatasi jumlah makanan yang masuk hingga aktivitas fisik yang cukup berat.

    Namun, belakangan sedang ramai mengenai pola diet yang dilakukan hanya dengan suntik obat, termasuk menggunakan obat diabetes seperti Ozempic. Obat ini belakangan jadi primadona bagi pengidap diabetes setelah dipakai pesohor seperti Elon Musk sampai Julia Fox.

    “Obat suntik Ozempic itu kan sebenarnya untuk diabetes, tapi memang berfungsi juga untuk mengurangi nafsu makan. Namun, tetap saja kita tidak boleh mengandalkan obat karena itu hanya membantu merubah gaya hidup untuk jaga pola makan,” jelas dokter gizi dr Gaga Irawan Nugraha kepada detikcom saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (1/2/2024).


    Dikutip dari laman UCDavis Health, Ozempic bekerja dengan meniru hormon alami. Ketika kadar hormon meningkat, molekul-molekul tersebut menuju ke otak dan memberi tahu bahwa sudah kenyang. Dengan menggunakan obat suntik ini juga dapat mengurangi risiko terkena penyakit serius, seperti masalah jantung.

    Namun, tetap saja tingkat penurunan berat badan yang dicapai dengan obat tidak seinstan saat dilakukan pembedahan. Ibaratnya, obat-obatan hanya bekerja sebagai terapi saja.

    Adapun untuk kasus obesitas dan sedang menjalankan diet, dr Gaga menyarankan 3 hal, yakni terapi antiobesitas dengan menggunakan obat-obatan, tindakan pembedahan, dan intervensi perilaku dan psikologis.

    “Kalau dilakukan tindakan pembedahan itu contohnya memotong lambung. Nantinya lambung nggak bisa nampung banyak makanan. Bisa juga sedot lemak, tapi itu biasanya untuk mereka punya bagian yang bergelambir saat sudah berhasil diet. Nah, itu bisa sedot lemak,” jelas dr Gaga.

    Penggunaan obat diabetes untuk diet bukan tanpa risiko. penelitian baru dari University of British Columbia memberikan lebih banyak bukti yang menghubungkan penggunaan agonis GLP-1 dengan peningkatan risiko masalah pencernaan serius, termasuk kelumpuhan lambung, pankreatitis, dan obstruksi usus.

    Dalam jurnal yang dipublikasikan di laman JAMA, peneliti menemukan efek GLP-1 pada sistem gastrointestinal setelah memperhatikan seseorang di ruang gawat darurat mengalami mual dan muntah signifikan yang tidak dapat dijelaskan.

    “Sebagai catatan, dia baru-baru ini memulai Ozempic untuk menurunkan berat badan,” jelas Mohit Sodhi, peneliti dan mahasiswa kedokteran tahun keempat di Universitas British Columbia dan penulis pertama studi baru ini kepada Medical News Today.

    (kna/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Mau Diet Tapi Tetap Makan Nasi? Ini 3 Alternatifnya

    Jakarta

    Diet adalah aturan makan khusus untuk kesehatan. Salah satu tujuan diet adalah menurunkan berat badan. Orang-orang yang berdiet biasanya mengontrol pola dan porsi makanan mereka.

    Salah satu makanan yang kerap dihindari saat berdiet adalah nasi. Mengutip Hello Doctor, nasi sering dihindari karena tinggi akan karbohidrat dan kalori. Karena rasanya yang hambar, nasi umumnya dimakan bersama berbagai lauk lain. Sehingga dalam satu porsi makanan berisi nasi dan lauk, kita cenderung mendapat asupan kalori yang lebih banyak dari yang dibutuhkan.

    Bagi orang Indonesia yang terbiasa memakan nasi sebagai makanan pokok, menjalani diet tanpa nasi mungkin merupakan hal yang sulit. Namun jangan khawatir, ada berbagai alternatif diet yang bisa menurunkan berat badan meski tetap memakan nasi.


    Alternatif Diet Tetap Makan Nasi

    Jika detikers ingin berdiet tetapi tetap makan nasi, berikut beberapa alternatif diet yang bisa dicoba.

    1. Diet Rendah Lemak

    Mengutip Banner Health, ada beberapa jenis lemak dan tidak semuanya baik untuk tubuh. Misalnya, ada lemak jenuh yang terkandung dalam daging merah, keju, mentega, susu, dan lain-lain. Ada juga lemak trans yang rata-rata terbentuk dari makanan yang digoreng menggunakan minyak.

    Lemak jenuh dan lemak trans mampu meningkatkan kadar kolesterol sehingga sebaiknya detikers mengurangi makanan yang mengandung kedua jenis lemak tersebut.

    Tetapi, ada juga lemak yang baik untuk tubuh, seperti lemak tak jenuh yang terkandung alpukat, minyak zaitun, dan ikan salmon.

    Ketika menjalani diet rendah lemak, sebaiknya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Roti, sereal, nasi, dan pasta juga boleh dikonsumsi. Daging dan susu tetap boleh dikonsumsi, tetapi pilihlah bagian daging yang mengandung sedikit lemak, seperti daging ayam. Pilihlah juga susu atau yoghurt rendah lemak.

    2. Diet Vegan

    Diet vegan berarti tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari hewan. Ini mencakup daging, susu, telur, keju, sampai madu. Protein tetap bisa didapatkan dari berbagai produk nabati seperti tahu, biji-bijian, dan susu kedelai atau susu almond. Tentu saja, nasi tetap bisa dikonsumsi.

    Mengutip Healthline, diet vegan sangat efektif dalam menurunkan berat badan sebab makanan yang dikonsumsi sangat rendah akan lemak dan tinggi akan serat, sehingga detikers akan merasa kenyang lebih lama. Selain mampu mengurangi berat badan, diet vegan mampu mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes.

    3. Puasa Selang-seling (Intermittent Fasting)

    Ada alternatif diet lain bagi detikers yang tidak ingin membatasi jenis makanan yang bisa dimakan, yaitu puasa selang-seling atau intermittent fasting. Ada beberapa pola puasa yang populer, yaitu:

    • Metode 16/8: Berpuasa selama 16 jam sehari dan hanya boleh makan siang dan makan malam dalam periode 8 jam sisanya.
    • Metode eat-stop-eat: Tidak makan selama 24 jam setiap 1 atau 2 kali seminggu.
    • Diet 5:2: 2 kali seminggu, kurangi konsumsi kalori hingga 500-600 kalori sehari. Untuk 5 hari sisanya, detikers tidak perlu membatasi konsumsi kalori. Perlu diingat, 2 hari yang dipilih tidak boleh berturut-turut.
    • Warrior diet: Konsumsi buah dan sayur dalam porsi kecil pada siang hari, lalu makan kenyang pada malam hari.

    Intermittent fasting mampu mengurangi berat badan karena metode diet ini mengurangi konsumsi kalori keseluruhan. Tetapi ingat, diet ini tidak akan efektif jika detikers makan terlalu banyak demi mengkompensasi kalori yang dibatasi saat berpuasa.

    Perlu diingat juga bahwa metode diet ini tidak cocok untuk semua orang. Ibu hamil dan menyusui, anak-anak, remaja, dan orang-orang yang underweight tidak disarankan mengikuti pola diet ini.

    Itu dia beberapa alternatif diet untuk menurunkan berat badan bagi detikers yang tetap ingin makan nasi. Namun, jangan lupa untuk tetap mengontrol porsi nasi yang dikonsumsi, ya! Perlu juga diingat bahwa tidak semua jenis diet cocok untuk semua orang. Berkonsultasilah dengan ahli gizi untuk mengetahui jenis diet yang cocok untuk detikers.

    Simak Video ‘Mitos atau Fakta: Obesitas Berpotensi Sulit Hamil’:

    [Gambas:Video 20detik]

    (fds/fds)



    Sumber : health.detik.com

  • Lebih Sehat Putih atau Kuning Telur? Begini Faktanya

    Jakarta

    Telur kaya akan nutrisi yang banyak manfaatnya untuk kesehatan. Makanan satu ini mengandung protein, vitamin, dan lemak sehat.

    Kebanyakan orang juga sangat suka sarapan dengan telur. Misalnya telur dadar, telur orak-arik, hingga telur rebus.

    Meski diolah dengan banyak cara, telur tetap bermanfaat untuk tubuh. Sebab, semua protein berkualitas tinggi, vitamin, dan mineral penting ada di dalam telur.


    Tapi, yang jadi pertanyaan sebenarnya lebih sehat putih atau kuning telur ya?

    Dikutip dari Times of India, ada perbedaan jumlah kalori yang signifikan pada kuning telur dan putih telur. Kuning telur berukuran besar mengandung sekitar 55 kalori, sedangkan bagian putihnya hanya 17 kalori.

    Kuning telur

    Kuning telur mungkin kerap dihindari karena mengandung lemak jenuh dan kolesterol. Itu bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh dan membuat seseorang rentan terhadap penyakit jantung.

    Namun, dari fakta yang ada, ternyata kuning telur mengandung lebih banyak nutrisi dibandingkan putih telur. Nutrisi pada kuning telur lebih padat.

    Bagian itu mengandung nutrisi penting seperti vitamin B6, B12, A, D, E, dan K. Kuning telur juga kaya akan kalsium, magnesium, zat besi, dan selenium.

    Karotenoid dalam kuning telur juga membantu meningkatkan penglihatan. Itu berperan sebagai antioksidan dan melindungi mata dari radikal bebas yang bisa menyebabkan kerusakan pada retina.

    Kolin, vitamin yang larut dalam air yang terdapat dalam kuning telur memiliki sifat anti-inflamasi dan juga mengatur fungsi kardiovaskular tubuh.

    NEXT: Bagaimana dengan putih telur?

    Putih telur

    Albumen atau yang biasa disebut putih telur merupakan lapisan luar telur. Kebanyakan orang yang sadar kesehatan cenderung hanya makan bagian ini karena bebas lemak dan rendah kalori.

    Putih telur memberikan protein sehat bagi tubuh tanpa menambah kalori ekstra. Itu juga dikenal karena kemampuannya membantu membangun otot dan menambah berat badan, serta membuat kenyang untuk jangka waktu yang lebih lama.

    Kehadiran mineral kalium dalam putih telur dapat membantu menurunkan dan menjaga tekanan darah. Vitamin riboflavin yang ada dalam putih telur juga membantu mencegah katarak dan sakit kepala migrain.

    Dalam telur utuh, zat besi terbesar sebanyak 93 persen dipegang oleh kuning telur, dan 7 persen sisanya di putihnya. Meski kedua bagian telur itu sehat, jika dilihat dari kandungan nutrisinya disimpulkan bahwa kuning telur tampaknya lebih banyak manfaatnya.

    Namun, karena mengandung kolesterol yang dapat menyebabkan risiko penyakit, sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah sedang. Tapi, disarankan juga untuk tidak membuangnya karena banyak nutrisi berharga di dalamnya.

    Jadi, sebaiknya konsumsilah telur secara utuh. Dengan begitu, semua nutrisi dari kedua bagian tersebut bisa didapatkan tubuh.

    (sao/up)



    Sumber : health.detik.com