All posts by Gak Ganti Gambar

Cara Terbaik Minum Teh Hijau untuk Menurunkan Berat Badan

Jakarta

Teh hijau memiliki banyak manfaat kesehatan karena kaya kandungan nutrisi dan antioksidan. Salah satu manfaatnya adalah penurunan berat badan.

Teh hijau mengandung kafein dan sejenis flavonoid yang disebut katekin, yang merupakan antioksidan. Penelitian menunjukkan bahwa kedua senyawa ini dapat mempercepat metabolisme. Katekin dapat membantu memecah lemak berlebih, sementara katekin dan kafein dapat meningkatkan jumlah energi yang digunakan tubuh.

Dikutip dari Medical News Today, sebuah tinjauan yang diterbitkan pada tahun 2010 menemukan bahwa suplemen teh hijau, yang mengandung katekin atau kafein, memiliki dampak kecil tetapi positif pada penurunan berat badan dan pengelolaan berat badan. Tinjauan yang lebih baru menyelidiki penggunaan klinis teh hijau untuk merangsang penurunan berat badan pada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas.


Minum antara 2 dan 3 cangkir teh hijau panas sepanjang hari seharusnya cukup untuk melengkapi penurunan berat badan. Jumlah pastinya akan bervariasi dari orang ke orang, tergantung pada seberapa banyak kafein yang mereka konsumsi dan metabolisme alami mereka.

Dikutip dari National Library of Medicine, suhu ideal untuk menyeduh teh hijau tidak lebih dari 90 derajat celcius. Jika melewati batas itu, kandungan katekin dalam teh hijau bisa rusak sehingga mengurangi khasiatnya untuk menurunkan berat badan.

Meski bermanfaat untuk kesehatan dan penurunan berat badan, konsumsi teh hijau tetap harus dibatasi. Teh hijau mengandung kafein, yang jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan.

Berolahraga secara teratur dan mengonsumsi makanan sehat dengan banyak sayuran merupakan strategi penurunan berat badan yang sangat efektif. Teh hijau yang dikonsumsi bersamaan dengan metode ini dapat meningkatkan hasil positif terkait penurunan berat badan.

(kna/kna)



Sumber : health.detik.com

Pejuang Diet Merapat, Ini 6 Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Agar Sukses Pangkas BB

Jakarta

Nutrisi merupakan unsur pembangun tubuh yang berperan penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan. Terlebih, kebutuhan nutrisi sangat penting dipenuhi oleh seseorang yang ingin menurunkan berat badan.

Dikutip dari Healthshots, terdapat beberapa jenis nutrisi yang berperan penting dalam penurunan berat badan, seperti protein, serat, dan antioksidan. Nutrisi ini tidak hanya membantu mengurangi asupan kalori dan menekan nafsu makan, tetapi juga mendukung laju metabolisme yang penting untuk menghilangkan kelebihan berat badan.

Selain itu, terdapat beberapa nutrisi lainnya yang perlu dipenuhi bagi pejuang diet. Berikut penjelasannya.


1. Protein

Protein merupakan salah satu nutrisi makro yang penting untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan, termasuk otot, organ, dan kulit. Lantas, apa kaitan antara protein dan berat badan?

Protein adalah nutrisi yang lama dicerna dalam tubuh. Untuk mencerna protein, tubuh perlu membakar lebih banyak energi. Proses ini dapat meningkatkan metabolisme untuk sementara waktu, dan membakar lebih banyak kalori.

Studi yang diterbitkan oleh American Journal of Clinical Nutrition mengungkapkan konsumsi protein dapat mengurangi asupan kalori harian secara keseluruhan, serta meningkatkan rasa kenyang. Hal ini membantu dalam mengendalikan nafsu makan dan mencegah makan berlebihan. Asupan protein yang cukup juga dapat membantu menjaga massa otot, yang penting untuk meningkatkan metabolisme dan membantu menurunkan berat badan.

2. Serat

Makanan berserat memainkan peran yang signifikan dalam program diet. Ahli gizi dr Ronihi Patil mengatakan serat dapat membantu meningkatkan rasa kenyang dan mengurangi nafsu makan. Tak hanya itu, serat dapat mencegah lonjakan dan penurunan kadar gula darah yang dapat menyebabkan keinginan makan berlebihan.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Journal of Nutrition juga menunjukkan konsumsi serat dapat membantu menurunkan berat badan. Sebaliknya, pola makan yang kurang serat dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

3. Lemak Sehat

Lemak sering dianggap sebagai pemicu berat badan meningkat. Padahal, beberapa jenis lemak dapat bermanfaat untuk menurunkan berat badan.

American Heart Association mengungkapkan lemak merupakan nutrisi penting yang menyediakan energi, mendukung fungsi sel, dan membantu penyerapan nutrisi. Selain itu, lemak dapat membuat tubuh merasa lebih kenyang, yang kemudian berkontribusi dalam mengendalikan nafsu makan dan menurunkan berat badan.

Daripada menghindari lemak sama sekali, cobalah untuk memasukkan sumber lemak sehat ke pola makan sehari-hari, seperti alpukat, kacang-kacangan, biji-bijian, dan ikan berlemak.

4. Antioksidan

Antioksidan berperan penting untuk melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Efek radikal bebas dapat menyebabkan munculnya tanda penuaan serta meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Beberapa jenis antioksidan, seperti katekin dan flavonoid, dapat membantu mengurangi peradangan dan meningkatkan metabolisme tubuh secara keseluruhan. Metabolisme yang efisien memungkinkan penyerapan nutrisi yang lebih optimal, sehingga mendukung upaya penurunan berat badan.

Adapun contoh makanan yang kaya antioksidan antara lain teh hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, buah beri, kangkung, kubis merah, dan coklat hitam.

5. Karbohidrat

Karbohidrat juga sering dianggap sebagai pemicu berat badan naik. Faktanya, karbohidrat merupakan salah satu nutrisi terpenting untuk menurunkan berat badan.

Terdapat dua jenis karbohidrat, yaitu karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana. Karbohidrat kompleks menyediakan sumber energi yang stabil dan nutrisi penting, seperti vitamin, mineral, dan serat. Studi yang dipublikasikan di jurnal Nutrients pada 2019 menunjukkan konsumsi karbohidrat kompleks dikaitkan dengan risiko kenaikan berat badan yang lebih rendah.

Berbeda dengan karbohidrat sederhana, karbohidrat kompleks dicerna lebih lama dalam tubuh. Hal ini mencegah terjadinya lonjakan kadar gula darah yang diikuti dengan penurunan secara drastis, yang dapat memicu keinginan makan berlebihan.

6. Magnesium

Magnesium adalah mineral yang bekerja dengan lebih dari 300 enzim berbeda dalam tubuh untuk menjalankan fungsi vital, seperti produksi energi, fungsi otot, hingga mencapai kualitas tidur yang lebih baik.

Dalam hal penurunan berat badan, magnesium berperan penting dalam mengatur kadar gula darah dan insulin, yang dapat memengaruhi nafsu makan dan penyimpanan lemak.

Selain itu, ulasan yang diterbitkan di jurnal Nutrients pada 2021 menunjukkan kekurangan magnesium lebih umum terjadi pada pengidap obesitas. Artinya, sangat penting mencukupi kebutuhan magnesium jika ingin menurunkan berat badan.

Magnesium dapat diperoleh dari makanan seperti sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, dan polong-polongan.

(ath/suc)



Sumber : health.detik.com

Diet Ini Tak Cuma Perpanjang Umur, Tapi Juga Cegah Pikun di Usia Tua


Jakarta

Diet Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay (MIND) menggabungkan diet Mediterania dan DASH untuk menargetkan otak yang menua. Diet ini penuh dengan makanan yang kaya akan vitamin, karotenoid, dan flavonoid tertentu, yang dianggap mampu melindungi otak dengan mengurangi stres oksidatif dan peradangan.

Sayuran seperti bayam, kangkung, dan sawi hijau, serta biji-bijian utuh, minyak zaitun, unggas, ikan, kacang-kacangan, dan kacang-kacangan semuanya menjadi pusat perhatian dalam diet MIND. Buah beri lebih disukai daripada buah-buahan lainnya, dan Anda disarankan untuk mengonsumsi satu atau lebih porsi ikan dan dua atau lebih porsi unggas per minggu.

Sementara itu, daging merah dan makanan manis harus dibatasi masing-masing empat dan lima kali seminggu, dan keju, makanan yang digoreng, dan mentega juga harus dibatasi.


“Dengan meningkatnya jumlah pengidap demensia seiring bertambahnya populasi yang menua, penting untuk menemukan perubahan yang dapat kita lakukan untuk menunda atau memperlambat perkembangan masalah kognitif,” kata penulis studi Dr Russell P. Sawyer, dari University of Cincinnati di Ohio dan anggota American Academy of Neurology, dalam sebuah pernyataan.

“Kami sangat tertarik untuk melihat apakah pola makan memengaruhi risiko gangguan kognitif,” ujar Russel dikutip dari IFL Science.

Russel dan rekannya merekrut 14.145 orang dengan usia rata-rata 64 tahun, 70 persen di antaranya berkulit putih dan 30 persen berkulit hitam dan mengikuti mereka selama rata-rata 10 tahun. Peserta diminta untuk melengkapi Kuesioner Frekuensi Makanan dalam studi REasons for Geographic and Racial Differences in Stroke (REGARDS), yang digunakan para peneliti untuk menilai seberapa dekat pola makan mereka dengan pola makan MIND.

Mereka juga mengukur keterampilan berpikir dan ingatan di awal dan akhir studi dan membandingkan kepatuhan pola makan MIND dengan gangguan kognitif yang terjadi dan lintasan kognitif, dengan menyesuaikan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, ras, kondisi kesehatan yang mendasarinya, dan faktor gaya hidup.

Peneliti menemukan bahwa mengonsumsi pola makan yang sangat mirip dengan pola makan MIND dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan kognitif pada peserta perempuan, tetapi tidak pada peserta laki-laki; tidak ada perbedaan antara peserta berkulit hitam dan putih. Mengalihkan perhatian mereka ke penurunan kognitif, para peneliti menemukan bahwa pada orang yang lebih dekat mengikuti diet MIND, kognisi memburuk lebih lambat daripada mereka yang tidak, dan bahwa kepatuhan terhadap diet MIND merupakan prediktor penurunan kognitif yang lebih baik pada peserta kulit hitam daripada peserta kulit putih.

“Temuan ini memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama untuk memeriksa dampak yang bervariasi ini di antara pria dan wanita serta orang kulit hitam dan kulit putih,” pungkasnya.

(kna/kna)



Sumber : health.detik.com

Diet Ini Tak Cuma Perpanjang Umur, Tapi Juga Cegah Pikun di Usia Tua


Jakarta

Diet Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay (MIND) menggabungkan diet Mediterania dan DASH untuk menargetkan otak yang menua. Diet ini penuh dengan makanan yang kaya akan vitamin, karotenoid, dan flavonoid tertentu, yang dianggap mampu melindungi otak dengan mengurangi stres oksidatif dan peradangan.

Sayuran seperti bayam, kangkung, dan sawi hijau, serta biji-bijian utuh, minyak zaitun, unggas, ikan, kacang-kacangan, dan kacang-kacangan semuanya menjadi pusat perhatian dalam diet MIND. Buah beri lebih disukai daripada buah-buahan lainnya, dan Anda disarankan untuk mengonsumsi satu atau lebih porsi ikan dan dua atau lebih porsi unggas per minggu.

Sementara itu, daging merah dan makanan manis harus dibatasi masing-masing empat dan lima kali seminggu, dan keju, makanan yang digoreng, dan mentega juga harus dibatasi.


“Dengan meningkatnya jumlah pengidap demensia seiring bertambahnya populasi yang menua, penting untuk menemukan perubahan yang dapat kita lakukan untuk menunda atau memperlambat perkembangan masalah kognitif,” kata penulis studi Dr Russell P. Sawyer, dari University of Cincinnati di Ohio dan anggota American Academy of Neurology, dalam sebuah pernyataan.

“Kami sangat tertarik untuk melihat apakah pola makan memengaruhi risiko gangguan kognitif,” ujar Russel dikutip dari IFL Science.

Russel dan rekannya merekrut 14.145 orang dengan usia rata-rata 64 tahun, 70 persen di antaranya berkulit putih dan 30 persen berkulit hitam dan mengikuti mereka selama rata-rata 10 tahun. Peserta diminta untuk melengkapi Kuesioner Frekuensi Makanan dalam studi REasons for Geographic and Racial Differences in Stroke (REGARDS), yang digunakan para peneliti untuk menilai seberapa dekat pola makan mereka dengan pola makan MIND.

Mereka juga mengukur keterampilan berpikir dan ingatan di awal dan akhir studi dan membandingkan kepatuhan pola makan MIND dengan gangguan kognitif yang terjadi dan lintasan kognitif, dengan menyesuaikan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, ras, kondisi kesehatan yang mendasarinya, dan faktor gaya hidup.

Peneliti menemukan bahwa mengonsumsi pola makan yang sangat mirip dengan pola makan MIND dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan kognitif pada peserta perempuan, tetapi tidak pada peserta laki-laki; tidak ada perbedaan antara peserta berkulit hitam dan putih. Mengalihkan perhatian mereka ke penurunan kognitif, para peneliti menemukan bahwa pada orang yang lebih dekat mengikuti diet MIND, kognisi memburuk lebih lambat daripada mereka yang tidak, dan bahwa kepatuhan terhadap diet MIND merupakan prediktor penurunan kognitif yang lebih baik pada peserta kulit hitam daripada peserta kulit putih.

“Temuan ini memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama untuk memeriksa dampak yang bervariasi ini di antara pria dan wanita serta orang kulit hitam dan kulit putih,” pungkasnya.

(kna/kna)



Sumber : health.detik.com

Green Tea Jadi ‘Obat Diet Alami’ Penahan Lapar-Bakar Lemak? Ini Kata Para Pakar

Jakarta

Green tea atau teh hijau dikenal sebagai minuman diet selama berabad-abad. China misalnya, sejak 2.000 tahun lalu orang-orang di sana menganggap minuman ini paling ideal diminum saat ingin menurunkan berat badan.

Sementara di zaman modern, asupan teh hijau juga kerap tercantum dalam buku diet dan pola makan seseorang. Belakangan, khasiat teh hijau disebut setara ‘ozempic’, obat yang sebenarnya ditujukan untuk pengidap diabetes dan obesitas dalam menjaga bobot tubuh, tetapi kerap disalahgunakan banyak orang sebagai obat diet.

Terlepas dari itu, banyak yang menyarankan untuk meminum lima cangkir teh hijau sehari demi mencapai berat badan ideal. Apa kata pakar?


“Meskipun ada beberapa penelitian tentang teh hijau dan berat badan, bukti tentang apakah secangkir (atau beberapa cangkir) teh hijau dapat membakar berat badan masih belum jelas,” kata Dr Jyotsna Ghosh, seorang dokter pengobatan obesitas di Universitas Johns Hopkins.

Banyak video TikTok mengklaim teh hijau meningkatkan produksi GLP-1, hormon usus yang mendorong pankreas melepaskan insulin setelah makan. Insulin itu, pada gilirannya, menurunkan gula darah. GLP-1 juga memperlambat laju makanan meninggalkan lambung, serta memengaruhi area otak yang mengatur rasa lapar.

Ozempic dan obat-obatan sejenisnya memberikan senyawa yang meniru GLP-1, membuat orang merasa lebih cepat kenyang. Banyak orang berhenti mengalami keinginan kuat untuk makan.

Beberapa peneliti berteori teh hijau dapat menstimulasi GLP-1, sebagian karena penelitian telah menemukan ekstrak teh hijau menurunkan gula darah pada tikus pengidap diabetes. Namun, hanya ada beberapa penelitian kecil pada manusia, dan hasilnya tidak meyakinkan.

Salah satu dari sedikit uji klinis pada subjek tersebut, yang mengamati 92 orang dengan diabetes tipe 2, menunjukkan tidak ada perbedaan yang mencolok dalam produksi GLP-1 antara orang yang mengonsumsi ekstrak teh hijau maupun mereka yang mengonsumsi pil plasebo.

Para ahli mengatakan, efek apa pun yang mungkin ditimbulkan teh hijau pada GLP-1 kemungkinan kecil. “Makanan atau minuman apa pun dapat sedikit meningkatkan kadar GLP-1,” kata Dr. Ghosh.

Namun, kadar GLP-1 dalam aliran darah menurun beberapa menit setelah makan atau minum sesuatu. Itulah salah satu alasan mengapa seseorang merasa kembali lapar, dan mengapa meningkatkan hormon untuk sementara tidak menjamin penurunan berat badan.

Sebaliknya, Ozempic dan obat-obatan sejenisnya, bertahan di dalam tubuh selama berhari-hari, dan jauh lebih kuat daripada hormon alami, yang membuatnya sangat ampuh dalam menekan nafsu makan.

Teh Hijau Betulan Ampuh Pangkas BB?

Banyak klaim tentang teh hijau dan penurunan berat badan menyebutkan dua komponen minuman tersebut, yakni kafein dan antioksidan.

“Secara teori, kafein mungkin sedikit mempercepat metabolisme seseorang. Namun, kecil kemungkinan efek tersebut akan langsung menghasilkan penurunan berat badan yang substansial,” kata Dr Ghosh.

Teh hijau juga mengandung senyawa yang disebut polifenol, antioksidan yang dapat membantu melindungi sel dari kerusakan dan mengurangi peradangan. Penelitian pada hewan dan sel manusia menunjukkan senyawa ini dapat meningkatkan metabolisme dan mengurangi penyerapan lemak dari usus. Namun, uji coba pada manusia menghasilkan hasil yang beragam.

Ada juga beberapa penelitian kecil yang mendalami secara langsung apakah teh hijau terkait dengan penurunan berat badan. Satu makalah tinjauan, yang meneliti lebih dari selusin uji coba terkontrol acak tersebut, menemukan orang yang mengonsumsi ekstrak teh hijau sering kali kehilangan sedikit berat badan yang. Penelitian lain juga menemukan orang yang mengonsumsi teh hijau cenderung kehilangan sedikit berat badan, biasanya di bawah empat pon.

“Orang yang beralih ke teh hijau untuk menurunkan berat badan tidak dapat mengharapkan efek yang besar, dan tentu saja tidak ada yang mendekati obat-obatan seperti Ozempic,” kata Rob van Dam, seorang profesor ilmu olahraga dan nutrisi di Milken Institute School of Public Health di George Washington University.

Julia Zumpano, ahli diet terdaftar di Cleveland Clinic di Ohio, menambahkan bahwa berfokus pada satu makanan atau minuman mengabaikan banyak faktor lain yang berperan dalam penurunan berat badan sebetulnya tidak ideal. Faktor-faktor diet yang utama adalah pola makan seseorang yang lebih luas, kebiasaan olahraga, genetika, stres, kesehatan metabolisme, dan bahkan kualitas tidur yang didapatkan seseorang.

“Lihatlah bagaimana seseorang merubah gaya hidup, jika penurunan berat badan adalah tujuannya,” katanya. “Tidak hanya secara khusus satu makanan, obat, suplemen, apa pun itu.”

(naf/naf)



Sumber : health.detik.com

Transformasi Sukses Pria Inggris usai BB Sempat Sentuh 140 Kg


Jakarta

Pandemi COVID-19 pada 2020 silam membawa perubahan besar dalam hidup Ben Keatley. Akibat lockdown pandemi, pria Inggris itu mengalami kenaikan berat badan signifikan hingga 140 kilogram.

Semua berawal ketika kantor tempat Keatley bekerja memberlakukan aturan work from home (WFH). Saat bekerja dari rumah, Keatley sering melampiaskan kebosanannya dengan melahap makanan yang ada di dapur.

Lambat laun, Keatley mulai merasakan perubahan pada dirinya. Pekerjaan rumah yang ringan pun mulai terasa semakin berat. Bahkan untuk memangkas rumput di pekarangan rumah Keatley harus mengumpulkan tenaga selama seminggu penuh.


“Itu membuat saya merasa stres dan tidak nyaman, dan saya mengerjakannya selama setengah hari. Saya berkeringat sangat banyak,” ujar Keatley dikutip dari Wales Online, Kamis (1/8/2024).

Meskipun begitu, Keatley masih merasa dirinya baik-baik saja dan tidak obesitas. Namun, dia tersadarkan saat bergabung dengan Man V Fat, klub sepakbola pria khusus untuk menurunkan berat badan.

Saat bermain bersama klub tersebut, Keatley sudah kehabisan tenaga dalam lima menit pertama.

“Saya bermain dengan orang-orang yang badannya seukuran saya, tapi saya merasa sangat kelelahan. Saya kehabisan tenaga setelah lima menit, dan saya hampir tidak bisa bergerak,” ucapnya.

Sadar akan kondisi kesehatannya, Keatley berkomitmen untuk tetap berlatih dan menurunkan berat badannya. Selang setahun rutin berlatih sepakbola bersama Man V Fat, Keatley berhasil menurunkan hingga 10 persen massa tubuhnya.

Namun pada awal 2023, Keatley mengalami cedera yang membuatnya harus beristirahat dari aktivitas fisik. Akibatnya, berat tubuhnya kembali membengkak.

Untuk memangkas kelebihan berat badan tersebut, Keatley meningkatkan intensitas olahraganya dengan berolahraga tiga kali seminggu di gym, sembari tetap berlatih sepakbola bersama Man V Fat.

Akhirnya pada Juli 2024, Keatley sukses menurunkan berat badan menjadi 86,4 kilogram, atau sekitar 35 persen dari berat badan awalnya.

“Olahraga juga memberikan saya ruang tersendiri, di luar pekerjaan dan waktu bersama istri. Itu benar-benar membantu meningkatkan kesehatan mental saya dan saya benar-benar menikmatinya,” imbuhnya.

Untuk semakin mendukung proses menurunkan berat badan, Keatley pun mulai mengadopsi diet puasa intermiten.

“Saya makan dalam rentang waktu enam jam, jadi saya makan camilan sore dan makanan sehat, tidak berlebihan. Saya tidak tahu apakah ini berhasil untuk semua orang, tapi ini membantu saya,” tuturnya.

Berat badan yang lebih ideal memberikan banyak perubahan dalam hidup Keatley. Salah satu yang paling dia rasakan adalah saat memilih pakaian.

“Saya masih merasa aneh karena saya bisa membeli pakaian berukuran sedang setelah sekian lama. Saya terbiasa memakai baju dan jeans ukuran XXXL dan saya terus memakainya sampai mereka melar,” katanya.

“Beberapa waktu lalu saya membeli skinny jeans dan sebelumnya saya tidak pernah melakukan itu. Saya biasanya akan mengenakan celana jeans longgar untuk menutupi ukuran paha saya, akan tetapi sekarang saya merasa lebih percaya diri,” tandasnya.

(ath/naf)



Sumber : health.detik.com

Pria Ini Sukses Pangkas BB 45 Kg Sambil Tetap Makan Enak, Ini Rahasia Dietnya

Jakarta

Orang yang sedang diet biasanya dituntut untuk tidak mengonsumsi makanan atau camilan yang digemari. Namun, influencer Benji Xavier berhasil menurunkan berat badan hingga 45 kg sambil tetap menyantap makanan kesukaannya. Apa rahasianya?

Perjalanan diet Xavier bisa dibilang penuh tantangan. Saat masih duduk di sekolah menengah atas, Xavier sempat berhasil menurunkan berat badan sekitar 45 kg. Namun, hal tersebut membuatnya merasa sengsara.

“Saya menjadi korban tren diet yang toksik. Itu adalah sebuah obsesi karena Anda terus memikirkan tentang apa yang tidak bisa Anda makan,” ujar Xavier dikutip dari Business Insider, Rabu (21/8/2023).


“Dan ketika Anda membolehkan diri untuk makan makanan tersebut, Anda malah makan terlalu banyak,” sambungnya.

Beberapa tahun setelahnya, berat badan Xavier kembali membengkak. Fisik yang tambun membuat pria asal New Jersey itu kesulitan dalam memilih pakaian, serta menjadi kurang percaya diri.

Akhirnya pada Agustus 2021, Xavier bertekad untuk kembali melakukan diet. Namun, kali ini dia tidak ingin mengulang pengalaman tidak mengenakkan yang dia lalui saat duduk di bangku sekolah menengah atas.

Tetap Makan Makanan Favorit

Salah satu perubahan yang dilakukan Xavier adalah tidak membatasi makanan favoritnya. Xavier tetap menyantap makanan kesukaannya, hanya saja dia memodifikasi makanan tersebut agar lebih sehat. Dia juga mengurangi jumlah makanan berkalori tinggi yang biasa dikonsumsi.

“Saya muak dengan semua itu. Saya tidak mau kembali menyiksa diri. Saya hanya akan mencoba untuk makan dengan lebih sehat,” katanya.

“Anda masih bisa mengonsumsi makanan yang disukai dan tetap menurunkan berat badan,” imbuh Xavier.

Untuk menunjang penurunan berat badannya, Xavier juga bergabung dengan gym, serta rutin berolahraga kardio dan angkat beban.

Alhasil, Xavier berhasil menurunkan berat badan sebanyak 45 kg hanya dalam waktu setahun setelah melakukan perubahan gaya hidup tersebut. Dia pun sukses mempertahankan bobot tubuh ideal selama dua tahun.

Dalam waktu dekat, Xavier juga akan meluncurkan buku masak berjudul ‘The Rebel Diet’ yang berisikan resep masakan yang membantunya menurunkan berat badan.

(ath/kna)



Sumber : health.detik.com

Pria Ini Sukses Pangkas BB 45 Kg Sambil Tetap Makan Enak, Ini Rahasia Dietnya

Jakarta

Orang yang sedang diet biasanya dituntut untuk tidak mengonsumsi makanan atau camilan yang digemari. Namun, influencer Benji Xavier berhasil menurunkan berat badan hingga 45 kg sambil tetap menyantap makanan kesukaannya. Apa rahasianya?

Perjalanan diet Xavier bisa dibilang penuh tantangan. Saat masih duduk di sekolah menengah atas, Xavier sempat berhasil menurunkan berat badan sekitar 45 kg. Namun, hal tersebut membuatnya merasa sengsara.

“Saya menjadi korban tren diet yang toksik. Itu adalah sebuah obsesi karena Anda terus memikirkan tentang apa yang tidak bisa Anda makan,” ujar Xavier dikutip dari Business Insider, Rabu (21/8/2023).


“Dan ketika Anda membolehkan diri untuk makan makanan tersebut, Anda malah makan terlalu banyak,” sambungnya.

Beberapa tahun setelahnya, berat badan Xavier kembali membengkak. Fisik yang tambun membuat pria asal New Jersey itu kesulitan dalam memilih pakaian, serta menjadi kurang percaya diri.

Akhirnya pada Agustus 2021, Xavier bertekad untuk kembali melakukan diet. Namun, kali ini dia tidak ingin mengulang pengalaman tidak mengenakkan yang dia lalui saat duduk di bangku sekolah menengah atas.

Tetap Makan Makanan Favorit

Salah satu perubahan yang dilakukan Xavier adalah tidak membatasi makanan favoritnya. Xavier tetap menyantap makanan kesukaannya, hanya saja dia memodifikasi makanan tersebut agar lebih sehat. Dia juga mengurangi jumlah makanan berkalori tinggi yang biasa dikonsumsi.

“Saya muak dengan semua itu. Saya tidak mau kembali menyiksa diri. Saya hanya akan mencoba untuk makan dengan lebih sehat,” katanya.

“Anda masih bisa mengonsumsi makanan yang disukai dan tetap menurunkan berat badan,” imbuh Xavier.

Untuk menunjang penurunan berat badannya, Xavier juga bergabung dengan gym, serta rutin berolahraga kardio dan angkat beban.

Alhasil, Xavier berhasil menurunkan berat badan sebanyak 45 kg hanya dalam waktu setahun setelah melakukan perubahan gaya hidup tersebut. Dia pun sukses mempertahankan bobot tubuh ideal selama dua tahun.

Dalam waktu dekat, Xavier juga akan meluncurkan buku masak berjudul ‘The Rebel Diet’ yang berisikan resep masakan yang membantunya menurunkan berat badan.

(ath/kna)



Sumber : health.detik.com

5 Alasan Berat Badan Nggak Turun Meski Sudah Diet Ketat

Jakarta

Menurunkan berat badan tidak cukup dengan sekadar mengurangi porsi makan saja. Terkadang, berat badan bisa tidak berkurang meski sudah melakukan diet ketat. Apa penyebabnya?

Memang, cara menurunkan berat badan tidak jauh dari yang namanya diet. Namun, ada sejumlah faktor lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan.

Misalnya, sering stres atau kurang tidur. Meski terkesan sepele, hal-hal tersebut bisa menghambat proses penurunan berat badan.


Lalu, apa saja penyebab berat badan tidak turun meski sudah diet? Dikutip dari Livestrong, berikut pembahasannya.

1. Tidak Menghitung Kalori yang Dikonsumsi

Kalori adalah salah satu aspek penting dalam proses penurunan berat badan. Jika seseorang terus menerus mengonsumsi kalori lebih dari apa yang dibutuhkan tubuh, tentu akan semakin sulit mencapai berat badan ideal.

Untuk bisa menurunkan berat badan, seseorang perlu mencapai defisit kalori. Defisit kalori adalah kondisi ketika jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian.

Sebagai gantinya, tubuh akan membakar timbunan lemak untuk memenuhi kebutuhan energi. Hal inilah yang kemudian berdampak terhadap penurunan berat badan.

Namun perlu diingat, jangan mengurangi asupan kalori terlalu drastis. Mengonsumsi kurang dari 1.200-1.500 kalori harian sebenarnya dapat menghambat penurunan berat badan dan bahkan membahayakan kesehatan.

2. Memilih Makanan yang Kurang Bergizi

Diet bukan hanya soal jumlah makanan saja. Jenis makanan yang dikonsumsi pun harus diperhatikan.

Gagal diet dapat disebabkan oleh asupan makanan yang kurang bergizi. Makanan seperti roti tawar, makanan ringan kemasan, olahan daging, gorengan, dan minuman bersoda sebenarnya dapat mendorong seseorang untuk mengonsumsi lebih banyak makanan pada waktu makan berikutnya.

Sebuah studi yang dilakukan pada 2019 menemukan orang yang mengonsumsi makanan ultra proses cenderung mengonsumsi 500 kalori lebih banyak, dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi makanan tersebut. Inilah yang dapat menghambat proses penurunan berat badan dan bahkan memicu obesitas.

3. Sering Stres

Stres dapat memberikan dampak signifikan terhadap proses penurunan berat badan.

Hormon kortisol yang memicu stres memiliki efek untuk meningkatkan keinginan makan. Alhasil, orang yang sedang stres cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan, khususnya makanan yang tinggi gula, karbohidrat, dan lemak tidak sehat. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah ’emotional eating’ atau ‘stress eating’.

4. Kurang Tidur

Kualitas tidur dan berat badan memiliki kaitan yang sangat erat. Sebuah ulasan penelitian yang dipublikasikan di Nutrition Reviews Universitas Oxford menemukan tidur malam kurang dari tujuh hingga delapan jam dikaitkan dengan risiko obesitas yang lebih tinggi.

Hal ini dikarenakan kurang tidur meningkatkan jumlah hormon penambah nafsu makan. Akibatnya, orang yang kurang tidur akan memiliki keinginan untuk makan lebih banyak keesokan harinya.

5. Memiliki Kondisi Medis Tertentu

Jika berat badan tak kunjung turun meski sudah diet dan berolahraga, maka ada baiknya untuk memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, ini bisa saja disebabkan oleh kondisi medis yang selama ini tidak disadari, seperti gangguan tiroid, sindrom Cushing, atau sindrom Prader-Will.

Konsumsi obatan-obatan tertentu, seperti antidepresan, obat antikejang, obat diabetes, dan beta-blocker juga dapat membuat penurunan berat badan menjadi lebih sulit.

(ath/kna)



Sumber : health.detik.com

6 Pilihan Ikan yang Mengandung Protein Tinggi, Cocok untuk Diet

Jakarta

Protein merupakan salah satu nutrisi yang berperan penting dalam penurunan berat badan. Zat ini memiliki sejumlah fungsi yang bisa mendukung penurunan berat badan, mulai dari memberi energi saat sedang diet, meningkatkan rasa kenyang, menekan nafsu makan, serta membantu mempertahankan massa otot.

Nutrisi makro ini bisa didapat dari berbagai macam makanan, salah satunya ikan. Selain punya kandungan protein tinggi, daging ikan umumnya mengandung lemak yang lebih sedikit dibandingkan daging merah.

Meski kebanyakan ikan mengandung protein, ada beberapa jenis ikan yang kandungan proteinnya lebih tinggi dari yang lain. Apa saja jenis ikan yang mengandung protein tinggi itu? Berikut daftarnya.


1. Ikan Teri

Siapa sangka, ikan berukuran cilik ini ternyata termasuk jenis ikan yang mengandung protein tinggi. Dikutip dari laman Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), 100 gram ikan teri mentah mengandung sekitar 20 gram protein.

Selain itu, ikan teri juga kaya akan zat besi, kalsium, kalium, zinc, selenium, dan vitamin D.

2. Ikan Tuna

Tuna adalah salah satu jenis ikan yang dikenal kaya akan protein. Dalam 100 gram ikan tuna (skipjack), terdapat sekitar 28 gram protein.

Tuna juga mengandung sejumlah kalium, zat besi, kalsium, magnesium, vitamin C, B6, dan B12.

3. Ikan Sarden

Ikan yang banyak tersedia dalam bentuk kalengan ini juga termasuk jenis ikan yang mengandung protein tinggi. Menurut Data Komposisi Pangan Indonesia, 100 gram ikan sarden segar mengandung sekitar 19,9 gram protein.

Sarden juga kaya akan vitamin A, mineral, dan asam lemak omega-3 yang baik untuk kesehatan.

4. Ikan Kakap

Ikan kakap juga menjadi pilihan yang ideal untuk orang yang ingin menurunkan berat badan. Pasalnya, 100 gram ikan kakap mengandung sekitar 20 gram protein.

Ikan kakap juga mengandung kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, B1, dan C.

5. Ikan Patin

Ikan asli perairan Indonesia ini juga merupakan salah satu jenis ikan yang mengandung protein tinggi. Dalam 100 gram ikan patin, terdapat sekitar 17 gram protein.

Ikan ini juga tinggi akan kalsium, zat besi, beta karoten, dan vitamin B3.

6. Ikan Lele

Kabar baik untuk pencinta ikan lele. Pasalnya, ikan ini termasuk ikan yang tinggi akan protein. Dikutip dari Healthline, 100 gram ikan lele segar mengandung sekitar 18 gram protein. Hal ini menjadikan ikan lele sebagai salah satu sumber protein yang ideal untuk menurunkan berat badan.

Tak hanya itu, ikan lele juga kaya akan vitamin B12, asam lemak omega-3, asam lemak omega-6, fosfor, kalium, dan selenium.

(ath/kna)



Sumber : health.detik.com