Category: Doa Hadits

  • Anak Kecil yang Meninggal Disebut Jadi Syafaat Orang Tua, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Meninggalnya seorang anak tentu menjadi duka yang mendalam bagi orang tua maupun kerabatnya. Akan tetapi, dalam hadits disebutkan bahwa anak-anak yang meninggal kelak jadi syafaat orang tua.

    Anak yang dimaksud dalam hal ini adalah mereka yang belum baligh. Dikatakan, mereka kelak akan membawa orang tuanya masuk surga.

    Menukil kitab At-Tadzkirah Jilid 2 karya Imam Syamsuddin Al-Qurthubi yang diterjemahkan oleh Anshori Umar Sitanggal, menurut riwayat Muslim, dari Abu Hassan, ia berkata, “Saya pernah berkata kepada Abu Hurairah RA, ‘Sesungguhnya dua orang anakku telah meninggal dunia. Maka, apa yang bisa Anda ceritakan dari Rasulullah SAW, agar hati kami menjadi tenang atas meninggalnya keluarga kami itu?’


    ‘Ya,’ jawab Abu Hurairah RA, ‘Anak-anak kecil, mereka bagaikan jentik-jentik air dalam surga. Salah seorang dari mereka menjemput bapaknya (atau dia katakan: kedua orang tuanya). Maka, anak itu memegang pakaian ayahnya itu (atau ia katakan: tangannya) sebagaimana aku memegang pakaianmu yang bagus ini. Anak itu tidak menghentikan (atau ia berkata: tidak berhenti) sehingga Allah memasukkan dia bersama kedua orang tuanya ke dalam surga’.” (Shahih Muslim)

    Terdapat pula hadits yang diriwayatkan dari Abu Dawud Ath-Thayalisi. Ia berkata,

    “Telah menceritakan kepada kami, Syu’bah, dari Mu’awiyyah bin Qurrah, dari ayahnya, bahwasanya ada seorang Anshar yang sering datang bolak-balik kepada Rasulullah SAW bersama seorang anaknya. Pada suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu mencintainya, hai Fulan?’ Orang itu menjawab, ‘Ya.’

    Rasulullah SAW pun berkata, ‘Semoga Allah mencintaimu, sebagaimana kamu mencintainya.’

    Pada suatu ketika Rasulullah SAW merasa kehilangan orang tersebut. Beliau pun menanyakan dia. Para sahabat mengabarkan, ‘Ya Rasulullah, anaknya telah meninggal.’

    Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Tidakkah kamu rela (atau bukankah kamu ridha) bahwa tidak satu pun pintu yang kamu datangi di antara pintu-pintu surga, melainkan anakmu itu akan datang bergegas membukakannya untukmu?’

    Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah ini bagi dia sendiri, ataukah bagi kami semua?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Bahkan, untuk kamu semua’.” (Shahih Musnad Ath-Thayalisi)

    Dalam Musnad-nya, Abu Dawud Ath-Thayalisi juga mengisahkan hadits yang diceritakan dari Hisyam, dari Qatadah, dari Rasyid, dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Para wanita yang (mati pada saat) melahirkan, pada hari kiamat akan ditarik anaknya dengan tali pusatnya menuju ke surga.” (Musnad Ath-Thayalisi)

    Anak-anak yang meninggal mendahului orang tuanya kelak membawa syafaat bagi ayahnya untuk masuk dalam surga. Hal ini dikatakan dalam sebuah hadits yang terdapat dalam buku Adab Kehidupan Berumah Tangga Sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah karya Syaikh Khalid Abd Ar-Rahman, Rasulullah SAW bersabda,

    “Dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian semua ke dalam surga.’ Mereka berkata, ‘Sampai ayah-ayah kami memasukinya.’ Maka dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian semua dan ayah-ayah kalian semua’.” (HR An-Nasa’i)

    Dikisahkan pula dalam Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah RA, seorang wanita berkata kepada Rasulullah SAW, “Aku telah memakamkan tiga orang anak.”

    Rasulullah SAW pun bersabda, “Engkau telah memelihara diri dengan benteng yang sangat kuat dari neraka.”

    Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggal sedangkan ia memiliki tiga orang anak yang meninggal sebelum baligh, maka pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga karena keutamaan rahmat dari-Nya untuk dirinya.”

    Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, dan juga dua anak?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Dan dua anak.” (HR Al-Bukhari dan Ahmad)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Nabi Yunus dalam Perut Ikan untuk Bertobat pada Allah SWT


    Jakarta

    Nabi Yunus AS dikisahkan pernah ditegur langsung oleh Allah SWT hingga ditelan oleh ikan nun. Pada saat itulah, Nabi Yunus AS memanjatkan doa untuk melakukan tobat dan meminta ampunan Allah SWT.

    Dinukil dari buku Cerita 25 Nabi Dan Rasul karya Kak Yudho P, sebelumnya di negeri Syam, ada seorang utusan Allah SWT bernama Nabi Yunus AS, hingga suatu hari Nabi Yunus AS mendapatkan perintah untuk pergi ke negeri Niniwe yang berada di Muasil, Irak. Negeri ini mempunyai kaum bernama Ninawa, kaum yang suka menyembah benda, menyembah patung, dan menganggap tempat tertentu sebagai karamat.

    Kemudian, Yunus AS segera pergi ke Niniwe dan beliau berdakwah disana, memerintahkan kaum tersebut untuk mencegah yang munkar dan menyeru terhadap kebaikan. Namun, Nabi Yunus AS malah mendapatkan sambutan yang tidak ramah, mereka menyombongkan diri akan kekayaan mereka, bahkan sampai mengolok-olok beliau.


    Perlakuan yang buruk dari kaumnnya, tidak membuat Nabi Yunus AS putus asa, dia terus berdakwah hingga 33 tahun lamanya. Namun, sudah selama itu dia menyebarkan agama Allah SWT, dia hanya mendapatkan dua orang pengikut, yaitu Rubil dan Tanukh.

    Barulah setelah selama ini Nabi Yunus AS hampir putus asa, kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Yunus AS untuk berdakwah 40 hari lagi. Bila selama 40 hari umatnya belum beriman, Allah SWT akan turunkan siksaan.

    Setelah 40 hari berlalu ternyata kaum tersebut masih belum mengakui keesaan Allah SWT, hingga Allah SWT menurunkan azabnya. Hari itu awan di kota menjadi tebal seakan bergulung-gulung di langit, Nabi Yunus AS segera meninggalkan mereka.

    Kaum tersebut kemudian ketakutan dan hatinya menjadi sempit, mereka secara serentak keluar rumah dan berkumpul di satu tempat. Mereka pun menyatakan tobat kepada Allah SWT. Kisah ini diabadikan dalam surah Yunus ayat 98 :

    فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَآ اِيْمَانُهَآ اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَۗ لَمَّآ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ ٩٨

    Artinya: “Mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang segera beriman sehingga imannya itu bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami berikan kesenangan hidup (sementara) kepada mereka sampai waktu yang ditentukan.”

    Doa Nabi Yunus AS Ditelan Ikan Nun

    Nabi Yunus AS pun pergi dengan menaiki perahu, di tengah perjalanan perahu yang ditumpangi beliau ditimpa angin topan dan badai. Dalam kondisi yang mendesak itu, nahkoda kapal akan mengundi, dan barang siapa yang terpilih tiga kali berturut-turut akan mengorbankan diri mencebur ke laut.

    Ternyata sesudah diundi tiga kali berturut-turut, Nabi Yunus AS mendapatkan semua undian tersebut. Kemudian, Nabi Yunus AS meloncat dari kapal, dan dalam sekejap tubuhnya ditelan lautan badai. Namun, dalam lautan itu Nabi Yunus AS didatangi oleh ikan besar yang langsung menelan dirinya.

    Dilansir dari buku Kado Terindah untuk Orang yang Berdosa Saiful Hadi El-Sutha dijelaskan ketika Nabi Yunus AS terjebak dalam perut ikan. Nabi Yunus AS pun memanjatkan doa yang termaktub dalam surah Al Anbiya ayat 87 :

    وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ ٨٧

    Arab-latin: wa dzan-nûni idz dzahaba mughâdliban fa dhanna al lan naqdira ‘alaihi fa nâdâ fidh-dhulumâti al lâ ilâha illâ anta sub-ḫânaka innî kuntu minadh-dhâlimîn

    Artinya: “(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim’.”

    Demikianlah kisah Nabi Yunus AS yang meninggalkan kaumnya hingga ditegur Allah SWT melalui ikan yang besar menelan beliau. Serta doa Nabi Yunus AS dalam perut ikan bisa ditiru detikers untuk berdoa dan meminta ampun.

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Iftitah Lengkap Tulisan Arab, Latin, Arti dan Maknanya


    Jakarta

    Doa iftitah adalah doa yang memiliki makna mulia. Ada beberapa versi terkait bacaan doa tersebut. Berikut ini bacaan doa iftitah Arab, arti, dan maknanya.

    Dijelaskan dalam buku Tuntunan Shalat Sesuai Al-Qur’an & Hadits Sahih karya Redaksi Qultum Media dkk, hukum membaca doa iftitah adalah sunah. Kesunahan ini bersandar pada hadits berikut,

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرِ الْمُقَدَّمِيُّ، حَدَّثَنَا يُوسُوْفُ الْمَاجِسُوْنَ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ابْنِ أَبِي رَافِعُ، عَنْ عَلِيّ ابْنِ أَبِي طَالِبٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ: وَخَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ.. إِلَى أخره.


    Artinya: “Muhammad bin Bakr Al-Muqaddami menceritakan kepada kami, Yusuf Al-Majisun menceritakan kepada kami, Ayahku mencertikan kepadaku, dari Abdurrahman Al-A’raj, dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah SAW, “Apabila Rasulullah SAW berdiri salat, beliau membaca: Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha… sampai akhir hadits.” (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibu Majah dan Ad-Darimi)

    Doa Iftitah Arab, Latin, dan Artinya

    اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ”

    Latin: Allaahu akbar kabiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa’ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wa maa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

    Artinya: “Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, segala puji hanya kepunyaan Allah. Maha Suci Allah pagi dan petang. Sesungguhnya aku hadapkan wajahku (hatiku) kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan-Nya. Dan aku adalah termasuk orang-orang muslim.”

    Bacaan doa iftitah tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Ali bin Abi Thalib RA. Bacaan ini dipakai oleh Imam Al- Syafi’i dan Ibn Mundzir.

    Dalam buku Shalat for Character Building Buat Apa Shalat Kalau Akhlak Tidak Menjadi Lebih Baik karya M. Fauzi Rachman terdapat bacaan doa iftitah yang lebih pendek. Doa iftitah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA. Berikut bacaannya,

    اللهم باعد بينِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَا عَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ تقْنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنقى الثوبُ الْأَرْضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

    Latin: Allahumma baa’id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii minal khathaayaa kamaa yunaqqatsawbul abyadlu minaddanasi. Allahummaghsil khathaayaaya bil maai watstsalji walbaradi.

    Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana telah Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana telah Engkau bersihkan baju putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah diriku dari kesalahan-kesalahan-ku dengan air, es dan embun.”

    Makna Doa Iftitah

    Menurut penjelasan dalam buku Sudah Shalat, Kok Tetap Maksiat? karya Muhammad Mawaidi terdapat kalimat, “Sungguh kuhadapkan wajahku kepada Allah SWT yang menjadikan langit dan bumi dengan keadaan suci lagi berserah diri.” memiliki arti mengenai seorang hamba yang meyakini kekuasaan Allah SWT. Kalimat ini juga bermakna seorang yang berserah melalui salat.

    Kemudian, ia menghadapkan wajahnya kepada Allah SWT artinya sebagai orang yang mewujudkan atau menunaikan semua gerakan salat. Arti lainnya bisa juga upaya menghadirkan-Nya ketika salat.

    Kalimat, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya semata-mata bagi Allah SWT.” Artinya semua hal yang ada di alam semesta ini terjadi karena Allah SWT. Termasuk diciptakannya manusia untuk beribadah kepada Allah SWT, dan menjauhkan larangan-Nya.

    Maka dari itu, apa pun yang manusia perbuat di dunia harus berdasarkan ketentuan dan ketetapan Allah SWT.

    Demikianlah bacaan doa iftitah sesuai sunah. Doa iftitah tersebut dapat dibaca setelah takbiratul ihram sebelum membaca surah Al Fatihah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Tahiyat Akhir Lengkap dengan Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Ketika posisi duduk akhir pada salat, muslim dapat membaca doa tahiyat akhir. Doa ini berisi sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

    Mengutip buku Kitab Lengkap Panduan Shalat karya M. Khalilurrahman Al-Mahfani dkk, doa tasyahud mengandung tahiyat (ucapan penghormatan) kepada Allah SWT dan salam kepada kepada Nabi Muhammad SAW, serta syahadatain (dua kalimat syahadat).

    Doa Tahiyat Akhir Lengkap Arab, Latin dan Artinya

    Diambil dari buku Pedoman dan Tuntunan Shalat Lengkap karya Abdul Kadir Nuhuyanan dkk, berikut bacaan doa tahiyat akhir:


    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

    اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي مُحَمّدْ وعلى آلِ مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلعَلَي مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

    اَلْلَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَجَّالِ

    Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibatul lillaah, Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, Assalaamu’alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadar rasuulullaah.

    Allahhumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Wabaarik ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

    Allaahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wamin ‘adzaabil qabri wamin fitnatil mahyaa wamamaati wamin fitnatil masiihid dajjaal.

    Artinya: “Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah, salam, rahmat, dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang saleh-saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

    Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad. Sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia di seluruh alam.

    Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahanam dan siksa kubur serta dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari kejahatan fitnahnya Dajjal.”

    Muslim disunahkan menegakkan jari telunjuk seperti gerakan menunjuk setelah menyebut “la-ilaha illallah”. Gerakan ini mengisyaratkan bahwa Allah SWT itu yang Esa.

    Posisi Duduk Tahiyat Akhir yang Benar

    Ustaz Ahmad Baei Jaafar dalam buku Terapi Shalat Sempurna menjelaskan, duduk tawaruk untuk melakukan tasyahud akhir dilakukan ketika salat hendak selesai dikerjakan setelah sujud yang kedua. Duduk tawaruk adalah duduk dengan cara menyilangkan kaki kiri di bawah kaki kanan, sedangkan kaki kanan bertumpu pada ujung jari yang dilipat ke bawah menghadap ke kiblat.

    Setelahnya, muslim meletakkan kedua tangan di atas paha seperti yang dilakukan ketika duduk antara dua sujud, tetapi tiga jari tangan kanan sunnah digenggam sedangkan ibu jari dan jari telunjuk dibiar lurus.

    Dinukil dari buku Tuntunan Shalat Lengkap dan Benar karya Neni Nuraeni, posisi duduk tahiyat akhir sesuai sunnah tersebut didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Humaid. Ia berkata,

    “Setelah selesai dua rakaat, Rasulullah SAW duduk di atas kaki kiri beliau dan kaki kanan ditegakkan. Tetapi, ketika beliau duduk tasyahud akhir beliau memajukan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Jadi beliau duduk di atas tanah tempat beliau duduk.” (HR Bukhari)

    Kemudian dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Zubair, ia berkata, “Ketika Rasulullah SAW duduk tasyahud, beliau meletakkan tangan kanan di atas paha kanan, dan meletakkan tangan kiri di atas paha kiri. Beliau menunjuk dengan jari telunjuk (kanan), sementara pandangan beliau tidak lebih dari arah jari telunjuk itu.” (HR Ahmad, Muslim, dan Nasa’i)

    Doa setelah Tahiyat Akhir agar Terhindar dari Fitnah Dajjal

    Setelah kita membaca doa tahiyat akhir, muslim sudah bisa mengakhiri salat dengan salam. Namun, Rasulullah SAW menganjurkan untuk membaca doa berikut sebelum salam, berikut bacaannya:

    اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر ومن عذاب النار ومن فتنة المحيا والممات ومن فتنة المسيح الدجال

    Allaahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabinnaari jahannama wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Dajjal.”

    Fajar Kurnianto menerangkan dalam bukunya Menyelami Makna Bacaan Shalat, doa ini dapat dibaca doa untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT dari siksa kubur, siksa neraka, fitnah-fitnah selama hidup dan setelah mati, serta fitnah dari Dajjal di hari kiamat kelak.

    Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir Asmaul Husna untuk Mendapatkan Keturunan


    Jakarta

    Keturunan yang baik dan saleh merupakan karunia terindah bagi orang tua. Terdapat amalan yang bisa dilakukan untuk memperoleh keturunan, salah satunya membaca dzikir Asmaul Husna untuk mendapatkan keturunan.

    Keturunan berupa anak yang baik dan saleh dapat menjadi pelengkap keluarga. Selain berikhtiar untuk mendapat keturunan, pasangan kaum muslim bisa membaca doa dan dzikir untuk memperoleh keturunan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Gafir ayat 60.

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ


    Artinya: “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina’.”

    Dzikir Asmaul Husna untuk Mendapatkan Keturunan: Ya Mushawwir

    Mengutip buku Manfaat Dahsyat Dzikir Asmaul Husna karya Syaifurrahman El-Fati, Asmaul Husna yang dapat dibaca sebagai wirid atau zikir untuk mendapatkan keturunan yaitu Al-Mushawwiru atau Maha Membentuk Rupa. Cara mengucapkan dzikirnya dengan lafaz “Ya Mushawwir”.

    Al-Mushawwiru sendiri berasal dari kata shawwara yang berarti memberi rupa bagi sesuatu, sehingga menjadi berbeda dengan yang lainnya. Sehingga maksud dari sifat ini yaitu Allah Maha Membentuk Rupa pada semua ciptaan-Nya.

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Tin ayat 4.

    لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْم

    Artinya: “sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

    Masih mengacu sumber yang sama, orang yang memperbanyak membaca “Yaa Mushawwiru”, maka insyaallah akan dikaruniai keturunan. Dzikir ini dibaca ketika hendak berbuka puasa sunah dan ketika hendak jima’ (berhubungan badan).

    Doa untuk Mendapatkan Keturunan

    Selain dzikir tersebut, ada beberapa doa yang bisa diamalkan untuk mendapatkan keturunan. Berikut di antaranya.

    Doa untuk Mendapatkan Keturunan yang Saleh

    Mengutip buku Doa & Zikir Muslimah karya Tim Redaksi Qultummedia, salah satu doa yang bisa dibaca untuk mendapatkan keturunan yang saleh terdapat pada Al-Qur’an surah Al-Furqan ayat 74.

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

    Rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yuniw waj’alnā lil-muttaqīna imāmā.

    Artinya: “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

    Doa Nabi Zakaria AS untuk Mendapatkan Keturunan

    Masih dari sumber yang sama, doa yang dapat dibaca untuk dikaruniai momongan terdapat pada Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 38. Doa ini dibaca Nabi Zakaria AS ketika beliau memohon untuk diberi keturunan yang saleh.

    رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤء

    Rabbi hab lī mil ladunka żurriyyatan ṭayyibah(tan), innaka samī’ud-du’ā’.

    Artinya: “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

    Adapun dikutip dari Doa Ajaran Ilahi karya Anis Masykhur dan Jejen Musfah, doa Nabi Zakaria AS juga termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya’ ayat 89.

    رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ

    Rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn.

    Artinya: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang Engkau adalah sebaik-baik waris.”

    Doa Nabi Ibrahim AS untuk Mendapatkan Keturunan

    Mengutip buku Jangan Lelah Berdoa karya Nasrudin Abd. Rohim, berikut doa yang dibaca Nabi Ibrahim AS ketika beliau belum dikaruniai keturunan. Doa ini terdapat pada Al-Qur’an surah As-Saffat ayat 100.

    رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

    Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn.

    Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Doa untuk Orang Meninggal, Arab, Latin dan Artinya Lengkap


    Jakarta

    Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mendoakan setiap saudara muslim yang telah meninggal dunia. Berikut ini doa untuk orang yang meninggal.

    Berdoa untuk diri sendiri atau berdoa untuk orang lain adalah perintah langsung dari Allah SWT. Justru orang yang tidak mau berdoa akan dihukum oleh Allah SWT. Sesuai Al-Qur’an surah Al-Gafir ayat 60 Allah SWT berfirman:

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ ٦٠


    Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Doa untuk Orang Meninggal

    Dari Buku Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi karya Imam an-Nawawi ada doa-doa yang bisa diucapkan untuk orang meninggal. Berikut bacaannya:

    1. Doa Ketika Ada Seseorang yang Meninggal

    Pada kitab Shahih Muslim, dari Ummu Salamah RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika kalian mendatangi orang yang sakit, atau takziah pada kematian, maka doakanlah untuk mereka dengan doa yang baik, karena para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.”

    Dia berkata: “Ketika kematian Abu Salamah, aku mendatangi Rasulullah SAW dan berkata kepadanya: ‘Wahai Rasulullah, sungguh Abu Salamah telah meninggal,’ kemudian beliau ber- sabda: ‘Bacalah:

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَأَعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً

    Arab-latin: Allaahummaghfir lii wa lahuu wa ‘aqibnii minhu ‘uqba hasanata.

    Artinya : “Ya Allah ampunilah aku, dan dia dan anugerahkanlah akhir yang baik kepadaku dan kepadanya.”

    “Maka Allah menggantikan orang yang lebih baik darinya, yakni Muhammad SAW.”

    2. Doa untuk Keluarga Mayit

    Kami riwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Ummu Salmah RA, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidaklah seorang hamba muslim yang tertimpa musibah, kemudian membaca:

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اَللَّهُمَّ أَجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْهَا

    Arab-latin: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Allaahumma’jurnii fii mushi- ibatii wakhlif lii khairan minhaa.

    Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah, dan sungguh kepada-Nya dikem- balikan, ya Allah berilah pahala kepadaku atas musibah yang menim- paku, dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya.”

    Kecuali Allah SWT akan memberikan pahala dan menggantikan yang lebih baik darinya.

    Pada kitab Sunan Abu Dawud, dari Ummu Salamah RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian tertimpa musibah, maka bacalah:

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اَللَّهُمَّ عِنْدَكَ احْتَسِبُ مُصِيبَتِي فَأْجُرْنِي فِيهَا وَأَبْدِلْنِي بِهَا خَيْراً مِنهَا

    Arab-latin: Innaa lil laahi wa innaa ilaihi raaji’uun, allaahumma ‘indaka mushi- ibatii fa’jurnii fiiha wa abdil nii bihaa khairan minhaa.

    Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah SWT, dan kepadanyalah kami kembali, ya Allah hanya kepada-Mu aku memohon pahala, maka beri- kanlah pahala dalam musibah ini, dan gantikanlah untukku yang lebih baik darinya.”

    3. Doa ketika Melihat Jenazah

    Dari buku 100 Doa Harian untuk Anak karya Nurul Ihsan inilah beberapa doa untuk orang meninggal.

    سُبْحَانَ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِهَذَ الْمَيْتِ وَارْحَمْهُ وَإِنسَ فِي القَبْرِ وَحْدَتَهُ وَغَرَبَتَهُ وَنَوْرْ قَبْرَهُ.

    Arab-latin: Subhaanal hayyil ladzii laa yamuutu. Alloohummaghfir lihaadzal mayyiti warhamhu wa anis fil qobri wahdatahu wa ghurbatahu wa nawwir qobroh.

    Artinya: “Mahasuci Allah Zat Yang Hidup yang tidak akan mati. Ya Allah, ampunilah mayat ini dan sayangilah ia, dan temanilah ia di dalam kesendirian dan keasingannya di dalam kubur, dan terangilah kuburannya.”

    4. Doa ketika Mendengar Kematian Kerabat

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَإِنَّا إِلَى رَبَّنَا لَمُنْقَلِبُونَ ، اللَّهُمَّ اكْتُبُهُ عِنْدَكَ فِي الْمُحْسِنِينَ ، وَاجْعَلْ كِتَابَهُ فِي علِيِّينَ، وَا خَلْفٌ فِي أَهْلِهِ فِي الْغَابِرِينَ .

    Arab-latin: Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uuna wa inna ilaa robbinaa lamunqolibuun. Alloohummaktubhu ‘indaka fil muhsiniina waj’al kitaabahuu fii ‘illiyyiina wakhluf fii ahlihii fil ghoobiriin.

    Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya dan kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami, Ya Allah! Tulislah dia (yang meninggal dunia) termasuk golongannya orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi Engkau dan jadikanlah tulisannya itu dalam tingkatan yang tinggi serta gantilah ahlinya dengan golongan orang-orang yang pergi.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Mengusir Semut yang Bisa Dilafalkan Kaum Muslimin


    Jakarta

    Doa mengusir semut adalah bacaan yang bisa dipanjatkan kaum muslimin. Doa ini dilafalkan oleh Nabi Sulaiman AS dan termaktub dalam ayat suci Al-Qur’an.

    Dalam Islam, semut termasuk hewan yang dilarang untuk dibunuh. Imam Nawawi & Imam Qasthalani melalui bukunya Hadis Qudsi terjemahan Abu Firly Bassam Taqiy, menyebutkan sejumlah hadits yang menerangkan hal tersebut.

    Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW melarang membunuh empat binatang, yaitu semut, lebah, (burung) hud-hud, dan (burung) shurad).” (HR Abu Dawud)


    Meski demikian, diperbolehkan untuk membunuh semut yang ukurannya besar dan membahayakan manusia. Cara membunuhnya pun tidak asal, melainkan harus diinjak atau dipukul bukan dibakar.

    Doa Mengusir Semut: Arab, Latin dan Artinya

    Doa mengusir semut termaktub dalam surah An Naml ayat 18,

    حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

    Arab latin: Hattā iżā atau ‘alā wādin-namli qālat namlatuy yā ayyuhan-namludkhulụ masākinakum, lā yahṭimannakum sulaimānu wa junụduhụ wa hum lā yasy’urụn

    Artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

    Alasan Larangan Membunuh Semut

    Mengacu pada buku yang sama, Imam Nawawi mengutip pendapat sejumlah ulama bahwa diperbolehkan membunuh semut dan membakarnya. Allah SWT juga tidak mencela nabi yang disebutkan pada riwayat tersebut atas perlakuannya.

    Hanya saja, ia menegur nabi lantaran malah membunuh sekelompok semut, bukan seekor semut yang menggigitnya. Terlebih, dalam hadits lainnya Nabi SAW melarang untuk membakar binatang.

    Akhirnya, timbul perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukum membunuh semut. Imam Qasthalani mengemukakan, “Larangan membunuh semut itu dikhususkan kepada semut yang besar, dan semut kecil diperbolehkan membunuhnya.”

    Sementara Imam Malik berpandangan, “Bahwa makruh hukumnya membunuh semut kecuali jika ia membahayakan dan tidak dapat menolaknya kecuali dengan membunuhnya.”

    Ulama Ad-Damiri turut menyatakan pendapatnya, “Firman Allah (pada hadits qudsi riwayat Abu Hurairah di atas) ‘Mengapa tidak membunuh seekor semut saja?’ merupakan alasan bagi diperbolehkannya membunuh hewan yang membahayakan. Membunuh hewan jika ada manfaatnya atau karena menolak bahaya, maka tidak berdosa menurut para ulama.”

    Para ulama mengartikan semut yang dilarang untuk dibunuh dalam sabda Nabi SAW, bukanlah mencakup seluruh jenis semut melainkan semut besar dan panjang yang termuat di kisah Nabi Sulaiman AS. Sehingga semut jenis lain boleh dibunuh, apabila mengganggu manusia.

    Bahkan bila semut besar dan panjang itu menyakiti manusia, maka larangan untuk dibunuhnya menjadi hilang. Dengan demikian, semut itu boleh saja dibunuh.

    Kisah Nabi Sulaiman dan Tentara Semut

    Syofyan Hadi dalam Tafsir Qashashi Jilid III mengisahkan tentang Nabi Sulaiman AS yang bertemu semut. Suatu hari, ia mengumpulkan pasukannya dari berbagai golongan, mulai dari jin, manusia, serta burung untuk melakukan parade.

    Melihat rombongan Nabi Sulaiman AS yang sangat banyak, ratu semut memerintahkan pasukannya untuk menghindar dan memberi jalan. Semut-semut itu lantas bersembunyi di dalam lubang-luang agar tidak terinjak oleh rombongan Nabi Sulaiman AS.

    Sebagai seorang nabi yang dikaruniai mukjizat berbicara dengan hewan, Nabi Sulaiman AS mendengar perkataan semut-semut tersebut. Lalu ia membaca doa agar hewan mungil itu diberi petunjuk oleh Allah SWT.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Rasulullah Larang Duduk di Antara Tempat Teduh dan Terik


    Jakarta

    Terdapat sebuah riwayat yang melarang seorang muslim duduk di antara tempat teduh dan terik matahari. Lantas, mengapa ada larangan tersebut?

    Disebutkan dalam kitab At-taujiih wa irsyaadun nafsi minal Qur’aanil karim was-Sunnatin Nabawiyyah karya Musfir bin Said Az-Zahrani yang diterjemahkan Sari Narulita dan Miftahul Jannah, Rasulullah SAW melarang seseorang duduk di antara tempat teduh (bayangan) dan terik panas karena itu tempatnya setan.

    Hal tersebut bersandar pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kamu di bawah sinar matahari lalu kau terkena bayangan hingga sebagian terkena matahari dan sebagiannya di bawah bayangan (tempat teduh), maka hendaknya ia bangun.”


    Selain larangan duduk di antara tempat teduh dan terik, terdapat juga sebuah riwayat yang melarang seseorang tidur di kondisi tempat tersebut. Dari Barra’ bin Azib, Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika kau akan mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah untuk salat, kemudian berbaringlah di sisi kanan dan ucapkanlah, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan diriku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan permasalahan kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, takut dan memohon kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan tempat mengadu kecuali kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan nabi-Mu yang Engkau utus, dan jadikanlah mereka kalam terakhirmu, maka jika aku meninggal dari malam-Mu, aku meninggal dengan fitrah’.” (HR Bukhari Muslim)

    Diterangkan oleh Jamil bin Habib Al-Luwaihiq dalam bukunya berjudul Tasyabbuh yang Dilarang dalam Fikih Islam, menyikapi larangan tegas tersebut, ulama mazhab Hambali berpendapat bahwa hukumnya makruh.

    Pada kitab Mushannaf Ibnu Syaibah, Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Bagian tepi naungan adalah tempat tidur setan.” Lalu, Ibnu Umar juga mengatakan jika duduk di antara tempat teduh dan terik matahari sama dengan menduduki tempat duduk setan.

    Akan tetapi, Nabi SAW menyebutkan alasan secara tertulis, yaitu ‘merupakan tempat duduk setan’. Yang paling utama adalah mengambil alasan sebagaimana telah ditetapkan oleh penetap syariat itu sendiri.

    Munculnya masalah di sini adalah dari aspek penetapan illah-nya oleh Rasulullah SAW ketika melarang bahwa tempat tersebut adalah tempat duduk setan. Apalagi terdapat perintah untuk wajib berdiri tentunya jika tetap duduk maka sebuah hal yang dilarang. Hal ini membuat larangan tersebut kemudian dihukumi haram.

    Pendapat Ulama soal Larangan Duduk di Antara Tempat Teduh dan Terik

    Masih merujuk sumber yang sama, sebagian ulama memberikan alasan mengapa ada larangan duduk di antara tempat teduh dan terik matahari.

    Mereka mengatakan jika seseorang duduk di antara tempat teduh dan terik matahari akan membahayakan badan, karena jika manusia duduk di tempat dengan kondisi tersebut bisa mengacaukan kerja sirkulasi dalam tubuh sebab mengalami dua keadaan yang memberikan pengaruh yang saling bertentangan.

    Ketika seseorang duduk di antara tempat teduh dan terik, Rasulullah SAW mengajarkan untuk meletakkan salah satu tangannya di atas tangan lain. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, ia berkata,

    “Aku menyaksikan Rasulullah SAW duduk di beranda Ka’bah sebagian tubuhnya di bawah naungan dan sebagian yang lain di bawah panas terik matahari dengan meletakkan salah satu tangannya di atas yang lain.” (HR Al-Baihaqi)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Salat Dhuha yang Dianjurkan Nabi, Ini Haditsnya


    Jakarta

    Salat dhuha adalah amalan sunnah yang dianjurkan bagi kaum muslimin. Ibadah yang dikerjakan pada pagi hari itu dikatakan dapat mendatangkan rezeki dan menjadi amalan penghapus dosa.

    Setelah salat dhuha, umumnya umat Islam mengamalkan doa dengan lafaz Allahumma innad-duhaa’a duhaa’uka. Namun, tidak dilarang pula bagi kaum muslimin mengisi amalan lain dengan zikir atau tahmid.

    Berkaitan dengan itu, terdapat doa yang bisa dibaca setelah salat dhuha sesuai hadits shahih Rasulullah SAW dari Aisyah RA.


    Doa setelah Salat Dhuha sesuai Hadits Shahih

    Mengutip buku Keberkahan Sholat Dhuha, Raih Rezeki Sepanjang Hari Plus Ayat & Doa-Doa Pembuka Rezeki susunan Ustaz Arif Rahman, berikut bunyi doa setelah salat dhuha sesuai hadits shahih.

    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ‏:‏ صَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الضُّحَى ثُمَّ قَالَ‏:‏ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، حَتَّى قَالَهَا مِئَةَ مَرَّةٍ

    Artinya: Aisyah berkata, “Rasulullah SAW melaksanakan salat dhuha, kemudian beliau mengucapkan: Allahummaghfirli wa tub ‘alayya innaka antat tawwabur rahim (Ya Allah, ampuni dosa saya dan terimalah tobat saya. Sesungguhnya Engkau maha penerima tobat dan Maha Pengampun) hingga 100 kali.” (HR Bukhari)

    Bacaan Doa setelah Salat Dhuha Innad Duha’a Duhaa’uka

    Mengutip buku Bertambah Kaya & Berkah Dengan Shalat Dhuha karya Ustaz Khalillurahman El-Mahfani, berikut doa setelah salat dhuha yang dapat diamalkan.

    اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ

    اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

    Arab latin: Allahumma innad-duhaa’a duhaa’uka wal bahaa’a bahaa’uka wal jamaala jamaaluka wal quwwata quwwatuka wal-qudrota qudratuka wal ‘ismata ‘ismatuka.

    Allaahumma in kaana rizqii fis-samaa’i fa anzilhu, wa in kaana fil ardi fa akhrijhu, wa in kaana mu’assiran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa tahhirhu wa in kaana ba’iidan fa qarribhu bi haqqi duhaa’ika wa bahaa’ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa ataita ‘ibaadakash-shalihiin.

    Artinya: “Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, kekuatan itu kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu”.

    “Ya Allah, jika rezekiku masih diatas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Sebelum Belajar Beserta Adabnya, Yuk Amalkan!


    Jakarta

    Doa sebelum belajar dipanjatkan ketika seseorang hendak menuntut ilmu. Biasanya, amalan ini dibaca oleh siswa sekolah.

    Dalam Islam, muslim yang menuntut ilmu memiliki kedudukan tinggi. Karenanya, pada sebuah hadits dikatakan menuntut ilmu adalah kewajiban.

    Mengutip buku 1100 Hadits Terpilih susunan Muhammad Faiz Almath, berikut bunyi haditsnya:


    “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR Muslim)

    Adapun, membaca doa sebelum belajar termasuk adab menuntut ilmu. Doa tersebut diharapkan memudahkan otak dalam menerima dan menyerap setiap pelajaran yang diberikan guru.

    Bacaan Doa Sebelum Belajar

    Mengutip buku Kitab Doa Mustajab Terlengkap susunan Ustaz Amrin Ali Al-Kasyaf dan buku Al-Ma’tsurat & Doa-Doa Pilihan susunan Syeikh Hasan Al-Bana berikut sejumlah doa sebelum belajar yang bisa diamalkan kaum muslimin.

    1. Doa Sebelum Belajar Versi Pertama

    رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا

    Arab latin: Rodlitu billahi robba, wabi islaamidina, wabimuhammadin nabiyya warasulla Robbi zidni ilman nafi’a warzuqni fahma

    Artinya: “Aku ridha Allah SWT sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku, dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulku. Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pemahaman yang baik.”

    2. Doa Sebelum Belajar Versi Kedua

    اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي ، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي ، وَزِدْنِي عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

    Arab latin: Allahummanfa’ni bima ‘allamtani wa ‘allimni ma yanfa’uni wa zidni ‘ilman walhamdulillahi ‘ala kulli halin

    Artinya: “Ya Allah, berilah kemanfaatan atas segala ilmu yang Engkau ajarkan pada saya. Berilah saya ilmu yang bermanfaat dan tambahkanlah ilmu pada saya. Segala puji bagi Allah dalam setiap waktu.”

    3. Doa Sebelum Belajar Versi Ketiga

    اَللّٰهُمَّ اخْرِجْنَا مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ وَاَكْرِمْنَا بِنُوْرِالْفَهْمِ وَافْتَحْ عَلَيْنَا بِمَعْرِفَتِكَوَسَهِّلْ لَنَآ اَبْوَابَ فَضْلِكَ يَآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Arab latin: Allahumma akhrijnaa min dhulumaatil wahmi, wa akrimnaa binuuril fahmi, waftah ‘alainaa bima’rifatil ilmi, wasahhil lanaa abwaaba fadhlika yaa arhamar raahimin

    Artinya: “Ya Allah, keluarkanlah kami dari gelapnya keraguan, dan muliakanlah kami dengan cahaya kepahaman. Bukakanlah untuk kami dengan kemakrifatan ilmu dan mudahkanlah pintu karuniaMu bagi kami, wahat Dzat yang Maha Pengasih.”

    4. Doa Sebelum Belajar Versi Keempat

    اَللّٰهُمَّ اَلْهِمْنَاعِلْمًانَفْقَهُ بِهِ اَوَامِرَكَ وَنَوَاهِيَكَ وَارْزُقْنَافَهْمًانَعْلَمُ بِهٖ كَيْفَ نُنَاجِيْكَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَا. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَافَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ وَاِلْهَامَ الْمَلاَءِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Arab latin: Allaahumma alhimnaa ‘ilman nafqatu bihi awaa miraka wa nawaahiyaka warzuqnaa fahman na’lamu bihii kaifa nunaa jiika birahmatika yaa arhamar raahimiina

    Allaahummar zuqnaa fahman nabiyyiina wa hifdhal mursaliina wa ilhaamal malaa ikatil muqarrabiina birahmatika yaa arhamar raahimiina.

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami ilham berupa ilmu, yang dengannya aku dapat memahami segala perintah dan larangan-Mu, dan karuniailah kami pemahaman, yang dengannya kami dapat mengetahui bagaimana kami bermunajat kepada-Mu, Wahai Dzat yang Paling Pengasih.

    Ya Allah, karuniakanlah kepada kami pemahaman seperti pemahaman para Nabi, daya hapal seperti daya hafal para Rasul, dan ilham seperti ilham para malaikat yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, berkat rahmat Engkau, wahai Dzat yang Paling Pengasih di antara para pengasih.”

    5. Doa Sebelum Belajar Versi Kelima

    اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ, وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ, وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

    Arab latin: Allahumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’u wa min qolbin laa yakhsya’u wa minnafsi la tasy’u, wamin da’watin la yustajhabu laha

    Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak didengar, dan amal yang tidak diterima.”

    6. Doa Sebelum Belajar Versi Keenam

    رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ

    Arab latin: Robbi zidnii ‘ilmaa, warzuqnii fahmaa, waj’alnii minash-sholihiin

    Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkan lah ilmu kepadaku, dan berilah aku karunia untuk dapat memahaminya, Dan jadikan lah aku termasuk golongannya orang-orang yang soleh.”

    Ketika menuntut ilmu, ada sejumlah adab yang harus diperhatikan oleh muslim. Berikut bahasannya yang dinukil dari Buku Teks Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum susunan Furqon Syarief Hidayatulloh.

    1. Berdoa

    Sebelum menuntut ilmu, hendaknya muslim membaca doa agar diberi keberkahan oleh Allah SWT dalam menyerap ilmu. Doa-doa di atas dapat menjadi referensi bacaan yang dipanjatkan.

    2. Husnuzan

    Husnuzan artinya berprasangka baik. Dalam menuntut ilmu, muslim harus berhusnuzan kepada Allah SWT atas ketetapan-Nya. Hendaknyai hal ini diterapkan meskipun hasil dari proses pembelajarna dan pengembangan ilmu tidak sesuai dengan yang direncanakan.

    3. Ihsan

    Ihsan adalah usaha terbaik yang harus dilakukan muslim ketika menuntut ilmu. Ihsan akan mendapat hasil yang baik juga sebagaimana bunyi hadits Nabi SAW,

    “Sungguh Allah SWT telah menetapkan ihsan dalam segala hal. Jika kalian berperang maka lakukanlah yang terbaik. Jika sedang menyembelih hewan maka lakukan juga usaha terbaik. Salah satu dari kalian mengasah pisaunya, sedangkan yang lain menenangkan hewan yang akan disembelih.” (HR Tirmidzi)

    Itulah sejumlah doa yang dapat dibaca sebelum belajar beserta adabnya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com