Category: Doa Hadits

  • Amalkan agar Selamat sampai Tujuan


    Jakarta

    Doa berpergian jauh penting untuk diamalkan agar seorang muslim selamat selama perjalanan hingga tujuan. Ada dua versi doa berpergian jauh, versi pendek dan panjang.

    Dalam sebuah riwayat yang disadur dari buku Semua Ada Haknya karya Syaikh Sa’ad Yusuf Mahmud Abu Aziz, orang yang tengah bepergian niscaya doanya dikabulkan oleh Allah SWT. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Tiga doa yang pasti akan dikabulkan: doa orang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian, dan doa orang tua kepada anaknya,” (HR Abu Dawud)


    Oleh karenanya, penting sekali berdoa saat melakukan perjalanan jauh, memohon perlindungan dari segala hal yang membahayakan. Dalam riwayat Abdullah bin Sarjis RA, beliau berkata,

    “Jika Rasulullah SAW melakukan perjalanan jauh, beliau meminta perlindungan dari beratnya perjalanan, buruknya tempat kembali dan kebengkokan setelah lurus, doanya orang-orang yang dizalimi, serta buruknya pandangan dan harta,” (HR Muslim)

    Doa Berpergian Jauh

    Menukil buku Doa dan Dzikir Mustajab untuk Muslimah karya H. Muhammad Rahmatullah, Lc, Abdullah bin Sarjis berkata bahwa apabila Rasulullah SAW bersabar (berpergian jauh), beliau berdoa:

    اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

    Arab latin: Allahumma antash-shohibu fissafar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari waka-aabatil manzhori wasuu-il munqolabi filmaali wal ahli.”

    Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Teman dalam perjalanan, dan Pengganti dalam keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, dan kesedihan saat kembali, serta dari kekafiran setelah iman, dan dari doa orang yang dizalimi dari keburukan pemandangan dalam keluarga dan harta.” (HR Tirmidzi)

    Sedangkan dalam buku Doa Harian Pengetuk Pintu Langit karya H. Hamdan Hamedan, MA., doa berpergian lebih panjang,

    (3x) الحَمْدُ للِه

    Arab latin: Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar

    Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

    سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab latin: Subhanalladzi sakh-khorolanaa hadza wamaa kunna lahu muqrinin. Wa inna ila robbina lamun-qolibuun

    Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali.” (QS. Az-Zukhruf: 13-14)

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

    Arab latin: Allahumma innaa nas’aluka fii safarinaa hadza al birro wattaqwa waminal ‘amali ma tardho. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma antash-shoohibu fissafar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari waka-aabatil manzhori wasuu-il munqolabi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga)” (HR. Muslim)

    Adab-Adab Berpergian Jauh

    Saat melakukan perjalanan ada adab-adab yang harus diperhatikan seorang muslim. Adab-adab ini mencerminkan nilai-nilai etika, tata krama yang diperlukan untuk memastikan perjalanan yang lancar, bermakna dan berkesan bagi semua pihak yang terlibat.

    Merujuk dari buku Al-Adzkar oleh Imam Nawawi yang diterjemahkan Masturi Irham dan Muhammad Aniq serta buku Ringkasan Kitab Adab oleh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, berikut ini adalah beberapa adab-adab saat berpergian jauh:

    1. Orang yang Hendak Berpergian Dianjurkan Berpamitan

    Seorang yang akan berpergian dianjurkan berpamitan kepada keluarganya, kerabatnya, dan saudara-saudaranya. Ibnu Abdul Baar berkata,

    “Apabila salah seorang dari kalian hendak berpergian, maka berpamitanlah kepada saudara-saudaranya. Karena sesungguhnya Allah menjadi keberkahan pada doa-doa mereka “

    2. Makruh Berpergian Seorang Diri

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَنَّ النَّاسَ يَعْلَمُوْنَ مِنَ الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ، مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلِ وَحْدَهُ

    Artinya: “Dari Ibnu Umar, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, “Jika semua orang mengetahui kesendirian dalam bepergian sebagaimana yang aku ketahui, maka tidak akan ada satu orang penunggang pada malam hari seorang diri.” (HR Bukhari)

    مَا خَلَّفَ أَحَدٌ عِنْدَ أَهْلِهِ أَفْضَلَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يَرْكَعُهُمَا عِنْدَهُمْ حِيْنَ يُرْيْدُ سَفَرًا

    Artinya: “Tiada seseorang meninggalkan hal yang lebih baik kepada keluarganya daripada melakukan shalat dua rakaat ketika hendak bepergian.” (HR Thabrani, dari Muth’im bin Al-Miqdam)

    4. Berpergian pada Hari Kamis

    عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِي غَزْوَةِ تَبُوْكَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ

    Artinya: “Dari Ka’ab bin Malik, bahwa Nabi SAW berangkat perang Tabuk pada hari Kamis. Dan beliau suka berangkat pada hari Kamis.” (Muttafaq Alaih)

    5. Larangan Seorang Perempuan Berpergian Jauh, kecuali Bersama Mahramnya

    Syariat Islam yang suci melarang seorang perempuan berpergian jauh tanpa ada mahram yang menyertainya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh seorang perempuan melakukan safar yang jarak tempuhnya sehari semalam, kecuali jika bersama mahramnya.” (Muttafaq Alaih)

    6. Berdoa Ketika Meninggalkan Rumah

    بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أَضِلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أَزِلَّ

    Latin: Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaah walaa hawla walaa quwwata illa billaahi Allahumma innii a’uudzu bika an adhilla aw adhilla aw azilla aw azilla

    Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya upaya atau pun kekuatan selain dengan Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menjadi sesat atau disesatkan, atau tergelincir atau digelincirkan, atau menjadi bodoh atau dibodohi.”

    7. Berdoa saat Berkendara

    Diriwayatkan Ibnu Umar, “Apabila Rasul SAW di atas punggung untanya untuk bepergian, beliau bertakbir tiga kali, kemudian mengucapkan doa:

    سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

    Latin: Subhaanalladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunna lahu muqriniina wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun

    Artinya: “Mahasuci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami.” (HR Muslim)

    8. Senantiasa Berdoa Selama Perjalanan

    Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Tiga doa yang dikabulkan dan tidak perlu disangsikan lagi adalah doa orang yang didzhalimi, doa musafir (orang yang bepergian), dan kutukan orang tua terhadap anaknya.” (HR Ahmad)

    كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبّحْنَا

    Artinya: Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Ketika kami bepergian, kami bertakbir bila berjalan menanjak, dan bertasbih apabila berjalan menurun.” (HR Bukhari)

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa ketika Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya


    Jakarta

    Salah satu cara yang sering dilakukan umat Muslim untuk merayakan Maulid Nabi, atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, adalah dengan berdoa. Doa menjadi wujud syukur dan penghormatan atas hadirnya sosok yang membawa risalah Islam ke dunia.

    Dalam momen ini, umat Muslim di berbagai belahan dunia memperbanyak ibadah, mengingat kembali perjuangan dan keteladanan Rasulullah, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT melalui berbagai doa.

    Doa Maulid Nabi

    Doa yang bisa kita panjatkan saat momen Maulid Nabi terkumpul dalam sebuah kitab yang disebut dengan Maulid Al-Barzanji.


    Menurut buku Maulid al Barzanji: Untaian Syair Indah untuk Berbagai Acara yang ditulis oleh Ustad M Syukron Maksum, kitab ini berisi kumpulan pujian, doa, dan kisah-kisah tentang Nabi Muhammad SAW yang disusun dalam bentuk prosa dan syair.

    Berikut ini adalah doa maulid Nabi Muhammad SAW yang tercantum dalam kitab Maulid Al-Barzanji lengkap dalam tulisan Arab, Latin, dan artinya.

    1. Abtadi-ul Imla-a

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. أَبْتَدِئُ الْإِمْلَاءَ بِاسْمِ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ. مُسْتَدِرًّا فَيْضَ الْبَرَكَاتِ عَلَى مَا أَنَالَهُ وَأَوْلَاهُ. وَأُثَنِّيْ بِحَمْدٍ مَوَارِدُهُ سَائِغَةٌ هَنِيَّةٌ. مُمْتَطِيًا مِنَ الشُّكْرِ الْجَمِيْلِ مَطَايَاهُ. وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى النُّوْرِ الْمَوْصُوْفِ بِالتَّقَدُّمِ وَالْأَوَّلِيَّةِ.

    اَلْمُنْتَقِلِ فِي الْغُرَرِ الْكَرِيْمَةِ وَالْجِبَاهِ. وَأَسْتَمْنِحُ اللهَ تَعَالَى رِضْوَانًا يَخُصُّ الْعِتْرَةَ الطَّاهِرَةَ النَّبَوِيَّةَ. وَيَعُمُّ الصَّحَابَةَ وَالْأَتْبَاعَ وَمَنْ وَالَاهُ. وَأَسْتَجْدِيْهِ هِدَايَةً لِسُلُوْكِ السُّبُلِ الْوَاضِحَةِ الْجَلِيَّةِ. وَحِفْظًا مِنَ الْغَوَايَةِ فِيْ خِطَطِ الْخَطَاءِ وَخُطَاهُ. وَأَنْشُرُ مِنْ قِصَّةِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ بُرُوْدًا حِسَانًا عَبْقَرِيَّةً.

    نَاظِمًا مِنَ النَّسَبِ الشَّرِيْفِ عِقْدًا تُحَلَّى الْمَسَامِعُ بِحُلَاهُ. وَأَسْتَعِيْنُ بِحَوْلِ اللهِ تَعَالَى وَقُوَّتِهِ الْقَوِيَّةِ. فَإِنَّهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

    Latin: Bismillâhirraḫmânirraḫîm. Abtadi’ul-imlâ’a bismidz-dzâtil-‘aliyyah. mustadirran faidlal-barâkâti ‘alâ mâ anâ lahu wa aulâh, wa utsannî biḫamdin mawâriduhu sâ’ighatun haniyyah. mumtathiyan minasy-syukril-jamîli mâ thâyâh, wa ushallî wa usallimu ‘alan-nûril-maushûfi bit-taqaddumi wal-awwaliyyah.

    Al-muntaqili fil-ghuraril-karîmati wal-jibâh, wa astamniḫullâha ta’âlâ ridlwânan yakhushshul-‘itratath-thâhiratan-nabawiyyah. wa ya’ummush-shaḫâbata wal-atbâ’a wa man wâlâh, wa astajdîhi hidâyatan lisulûkis-subulil-wâdliḫatil-jaliyyah. wa ḫifdhan minal-ghawâyati fî khithathil-khathâ’i wa khuthâhu, wa ansyuru min qishshatil-maulidin-nabawiyyi burûdan ḫisânan ‘abqariyyah.

    Nâdhiman minan-nasabisy-syarîfi ‘iqdan tuḫallal-masâmiḫu biḫulâh, wa asta’înu biḫaulillâhi ta’âlâ wa quwwatihil-qawiyyah, fa innahu lâ ḫaula wa lâ quwwata illâ billâhi.

    2. Wa Ba’du Fa Aqûlu

    وَبَعْدُ؛ فَأَقُوْلُ هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ ࣙ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةُ. ابْنِ هَاشِمٍ وَاسْمُهُ عَمْرُو بْنُ عَبْدِ مَنَافٍ وَاسْمُهُ الْمُغِيْرَةُ الَّذِيْ يَنْتَمِي الْاِرْتِقَاءُ لِعُلْيَاهُ. اِبْنِ قُصَيٍّ وَاسْمُهُ مُجَمِّعٌ سُمِّيَ بِقُصَيٍّ لِتَقَاصِيْهِ فِيْ بِلَادِ قُضَاعَةَ الْقَصِيَّةِ.

    إِلَى أَنْ أَعَادَهُ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْحَرَمِ الْمُحْتَرَمِ فَحَمَى حِمَاهُ. اِبْنِ كِلَابٍ وَاسْمُهُ حَكِيْمُ ابْنُ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ وَاسْمُهُ قُرَيْشٌ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ الْبُطُوْنُ الْقُرَشِيَّةُ. وَمَا فَوْقَهُ كِنَانِيٌّ كَمَا جَنَحَ إِلَيْهِ الْكَثِيْرُ وَارْتَضَاهُ. اِبْنِ مَالِكِ ابْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ أَهْدَى الْبُدْنَ إِلَى الرِّحَابِ الْحَرَمِيَّةِ.

    وَسُمِعَ فِيْ صُلْبِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى وَلَبَّاهُ. اِبْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ وَهٰذَا سِلْكٌ نَظَّمَتْ فَرَآئِدَهُ بَنَانُ السُّنَّةِ السَّنِيَّةِ. وَرَفْعُهُ إِلَى الْخَلِيْلِ إِبْرَاهِيْمَ أَمْسَكَ عَنْهُ الشَّارِعُ وَأَبَاهُ. وَعَدْنَانُ بِلَا رَيْبٍ عِنْدَ ذَوِي الْعُلُوْمِ النَّسَبِيَّةْ. إِلَى الذَّبِيْحِ إِسْمَاعِيْلَ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَمَاهُ. فَأَعْظِمْ بِهِ مِنْ عِقْدٍ تَأَلَّقَتْ كَوَاكِبُهُ الدُّرِّيَّةُ. وَكَيْفَ لَا وَالسَّيِّدُ الْأَكْرَمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسِطَتُهُ الْمُنْتَقَاهُ.

    Latin: Wa ba’du, fa aqûlu huwa sayyidunâ muhammadubnu ‘abdillâhib-ni ‘abdil muththalibi wasmuhu syaibatul-ḫamdi ḫumidat khishâluhus-saniyyah, ibni hâsyimin wasmuhu ‘amrub-nu ‘abdi manâfin wasmuhul-mughîratul-ladzî yantamil-irtiqâ’u li ‘ulyâh, ibni qushayyin wasmuhu mujammi’un summiya biqushayyin litaqâshîhi fî bilâdi qudlâ’atal qashiyyah.

    Ilâ an a’âdahullâhu ta’âlâ ilal-haramil-muḫtarami faḫama ḫimâh, ibni kilâbin wasmuhu ḫakîmub-ni murratab-ni ka’bib-ni luayyib-ni ghâlibib-ni fihrin wasmuhu quraisyun wa ilaihi tunsabul-buthûnul-qurasyiyyah. wa mâ fauqahu kinâniyun kamâ janaḫa ilaihil katsîru wartadlâh, ibni mâlikib-nin-nadlrib-ni kinânatab-ni khuzaimatab-ni mudrikatab-ni ilyâsa wa huwa awwalu man ahdal-budna ilar-riḫâbil haramiyyah.

    Wasumi’a fî shulbihin-nabiyyu shallallâhu alaihi wa sallama dzakarallâha ta’âlâ wa labbâh, ibni mudlarabni nizâribni ma’addib-ni ‘adnâna wa hâdzâ silkun nadhdhamat farâ’idahu banânus-sunnatis-saniyyah. wa raf’uhu ilal-khalîli ibrâhîma amsaka ‘anhusy-syâri’u wa abâh, wa ‘adnânu bilâ raibin ‘inda dzawil ‘ulûmin-nasabiyyah. iladz-dzabîhi ismâ’îla nisbatuhu wa muntamâh, fa a’dhim bihi min ‘iqdin ta’allaqat kawâkibuhud-durriyyah, wa kaifa lâ was-sayyidul-akramu shallallâhu ‘alaihi wa sallama wâsithatuhul-muntaqâh.

    حَـبَّذَا عِقْدُ سُوْدَدٍ وَفَخَـــــارٍ ۞ أَنْتَ فِيْهِ الْيَتِيْمَةُ الْعَصْمَاءُ

    Latin: Ḫabbadzâ ‘iqdu sûdadin wa fakhârin. Anta fîhil yatîmatul ‘ashmâ’u.

    وَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ نَسَبٍ طَهَّرَهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ. أَوْرَدَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِيُّ وَارِدَهُ فِيْ مَوْرِدِهِ الْهَنِيِّ وَرَوَاهُ

    Latin: Wa akrim bihi min nasabin thahharahullâhu ta’âlâ min sifâḫil-jâhiliyyah. Auradaz-zainul ‘irâqiyyu wâridahu fî mauridihil-haniyyi warawâh.

    حَفِظَ الْإِلـٰهُ كَرَامَــــةً لِمُحَـمَّدٍ ۞ آبَاءَهُ الْأَمْجَادَ صَوْنًا لاِسْمِهِ

    Latin: Ḫafidhal-ilâhu karâmatan limuḫammadin. Abâ’ahul-amjâda shaunan lismihi.

    تَرَكُوا السِّفَاحَ فَلَمْ يُصِبْهُمْ عَارُهُ ۞ مِنْ آدَمٍ وَإِلَى أَبِيْهِ وَأُمِّــهِ

    Latin: Tarakus-sifâḫa falam yushibhum ‘âruhu min âdamin wa ilâ abîhi wa ummihi.

    سَرَاةٌ سَرَى نُوْرُ النُّبُوَّةِ فِيْ أَسَارِيْرِ غُرَرِهِمُ الْبَهِيَّةِ. وَبَدَرَ بَدْرُهُ فِيْ جَبِيْنِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَابْنِهِ عَبْدِ اللهِ

    Latin: Sarâtun sarâ nûrun-nubuwwati fî asârîri ghurarihimul-bahiyyah. Wa badarabadruhu fî jabîni jaddihi ‘abdil muththalibi wabnihi ‘abdillâh.

    3. Wa Lammā Arâdallahu Ta’ala

    وَلَمَّا أَرَادَ اللهُ تَعَالَى إِبْرَازَ حَقِيْقَتِهِ الْمُحَمَّدِيَّةِ. وَإِظْهَارَهُ جِسْمًا وَرُوْحًا بِصُوْرَتِهِ وَمَعْنَاهُ. نَقَلَهُ إِلَى مَقَرِّهِ مِنْ صَدَفَةِ آمِنَةَ الزُّهْرِيَّةِ. وَخَصَّهَا الْقَرِيْبُ الْمُجِيْبُ بِأَنْ تَكُوْنَ أُمًّا لِمُصْطَفَاهُ. وَنُوْدِيَ فِي السَّمَوَتِ وَالْأَرْضِ بِحَمْلِهَا لِأَنْوَارِهِ الذَّاتِيَّةِ. وَصَبَا كُلُّ صَبٍّ لِهُبُوْبِ نَسِيْمِ صَبَاهُ. وَكُسِيَتِ الْأَرْضُ بَعْدَ طُوْلِ جَدْبِهَا مِنَ النَّبَاتِ حُلَلًا سُنْدُسِيَّة.

    وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ وَأَدْنَى الشَّجَرُ لِلْجَانِي جَنَاهُ. وَنَطَقَتْ بِحَمْلِهِ كُلُّ دَابَّةٍ لِقُرَيْشٍ بِفِصَاحِ الْأَلْسُنِ الْعَرَبِيَّة. وَخَرَّتِ الْأَسِرَّةُ وَالْأَصْنَامُ عَلَى الْوُجُوْهِ وَالْأَفْوَاهَ. وَتَبَاشَرَتْ وُحُوْشُ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ وَدَوَابُّهَا الْبَحْرِيَّةُ.

    وَاحْتَسَتِ الْعَوَالِمُ مِنَ السُّرُوْرِ كَأْسَ حُمَيَّاهْ. وَبُشِّرَتِ الْجِنُّ بِإِظْلَالِ زَمَنِهِ وَانْتَهَكَتِ الْكَهَانَةُ وَرَهِبَتِ الرَّهْبَانِيَّة. وَلَهِجَ بِخَبَرِهِ كُلُّ حِبْرٍ خَبِيْرٍ وَفِيْ حُلَا حُسْنِهِ تَاه. وَأُتِيَتْ أُمُّهُ فِي الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهَا إِنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ الْعَالَمِيْنَ وَخَيْرِ الْبَرِيَّة. وَسَمِّيْهِ إِذَا وَضَعْتِهِ مُحَمَّدًا لِأَنَّهُ سَتُحْمَدُ عُقْبَاهُ

    Latin: Wa lammâ aradallâhu ta’lâ ibrâza ḫaqîqatihil-muḫammadiyyah. wa idhhâruhu jisman wa rûḫan bishûratihi wa ma’nâh, naqalahu ilâ maqarrihi min shadafati âminataz-zuhriyyah. wa khashshahal-qarîbul-mujîbu bi an takûna umman limushthafâh, wa nûdiya fis-samawâti wal-ardli biḫamlihâ li’anwârihidz-dzâtiyyah. wa shabâ kullu shabbin lihubûbi nasimi shabâh. wa kusiyatil-ardlu ba’da thûli jadbihâ minan-nabâti ḫulalan sundusiyyah.

    Wa aina’atits-tsimâru wa adnasy-syajaru lil-jânî janâh, wa nathaqat biḫamlihi kullu dâbbatin liquraisyin bifisâḫil-alsunil-‘arabiyyah. wa kharratil-asirratu wal-ashnâmu ‘alal-wujûhi wal-afwâh, wa tabâsyarat wuḫûsyul-masyâriqi wal-maghâribi wa dawâbbuhal-baḫriyyah.

    Waḫtasatil-‘awalimu, minas-surûri ka’sa ḫumayyah. wa busysyiratil-jinnu bi idhlâli zamanihi wantahakatil-kahânatu wa rahibatir-ruhbâbiyyah. wa lahija bikhabarihi kullu ḫibrin khabîrin wa fî ḫulâ ḫusnihi tâh, wa utiyat ummuhu fil-manâmi faqîla lahâ innaki qad ḫamalti bisayyidil-‘âlamîna wa khairil-bariyyah. wa sammîhi idzâ wadla’tihi muḫammadan li annahu satuḫmadu ‘uqbâh.

    4. Wa Lamma Tamma

    وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ شَهْرَانِ عَلَى مَشْهُوْرِ الْأَقْوَالِ الْمَرْوِيَّة. تُوُفِّيَ بِالْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ أَبُوْهُ عَبْدُ الله. وَكَانَ قَدِ اجْتَازَ بِأَخْوَالِهِ بَنِيْ عَدِيٍّ مِنَ الطَّائِفَةِ النَّجَّارِيَّة. وَمَكَثَ فِيْهِمْ شَهْرًا سَقِيْمًا يُعَانُوْنَ سُقْمَهُ وَشَكْوَاه. وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ عَلَى الرَّاجِحِ تِسْعَةُ أَشْهُرٍ قَمَرِيَّة.

    وَآنَ لِلزَّمَانِ أَنْ يَنْجَلِيَ عَنْهُ صَدَاه. حَضَرَ أُمَّهُ لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ آسِيَةُ وَمَرْيَمُ فِيْ نِسْوَةٍ مِنَ الْحَظِيْرَةِ الْقُدْسِيَّة. وَأَخَذَهَا الْمَخَاضُ فَوَلَدَتْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُوْرًا يَتَلَأْلَأُ سَنَاه.

    Latin: Wa lammâ tamma min ḫamlihi syahrâni ‘alâ masyhûril-aqwâlil-marwiyyah. tuwuffiya bil-madînatil-munawwarati abûhu ‘abdullâh, wa kâna qadij-tâza bi’akhwâlihi banî ‘adiyyin minath-thâ’ifatin-najjâriyyah. wa makatsa fîhim syahran saqîman yu’ânûna suqmahu wa syakwâh, walamma tamma min ḫamlihi ‘alar-râjiḫi tis’ati asyhurin qamariyyah.

    Wa âna liz-zamâni an yanjila ‘anhu shadâh, ḫadlara ummahu lailata maulidihi âsiyatu wa maryamu fî niswatin minal-hadhîratil-qudsiyyah. wa akhadzahal-makhâdlu fawaladathu shallallâḫu ‘alaihi wa sallama nûran yatala`la`u sanâh.

    وَمُحَيًّـا كَالشَّمْسِ مِنْكَ مُضِيْءُ ۞ أَسْفَرَتْ عَنْهُ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ

    Latin: Wa muḫayyan kasy-syamsi minka mudlî’u. Asfarat ‘anhu lailatun gharrâ’u.

    لَيْــــــلَةُ الْمَــوْلِدِ الَّذِيْ كَانَ لِلدِّيـْـ ۞ ـنِ سُرُوْرٌ بِيَوْمِهِ وَازْدِهَاءُ

    Latin: Lailatul-maulidil-ladzî kâna lid-di-ni surûrun biyaumihi wazdihâ’u

    يَوْمَ نَالَتْ بِوَضْعِهِ ابْنَــةُ وَهْبٍ ۞ مِنْ فَخَارٍ مَا لَمْ تَنَلْهُ النِّسَآءُ

    Latin: Yauma nâlat biwadl’ihib-natu wahbin. Min fakhârin mâ lam tanalhun-nisâ’u

    وَأَتَتْ قَوْمَهَـــــا بِأَفْضَـــــلَ مِمَّـــــا ۞ حَمَلَتْ قَبْلُ مَرْيَمُ الْعَذْرَاءُ

    Latin: Wa atat qaumahâ bi afdlala mimmâ. Hamalat qablu maryamul-‘adzrâ’u

    مَوْلِدٌ كَانَ مِنْـــهُ فِيْ طَالِعِ الْكُفْـ ۞ ـرِ وَبَالٌ عَلَيْهِمُ وَوَبَاءُ

    Latin: Maulidun kâna minhu fî thâli’il-kuf-ri wa bâlun ‘alaihim wa wabâ’u

    وَتَوَالَتْ بُشْرَى الْهَوَاتِفِ أَنْ قَد ۞ وُلِدَ الْمُصْطَفَى وَحَقَّ الْهَنَاءُ

    Latin: Wa tawâlat busyral-hawâtifi an qad wulidal-mushthafâ wa ḫaqqal-hanâ’u

    هَذَا، وَقَدِ اسْتَحْسَنَ الْقِيَامَ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ أَئِمَّةٌ ذَوُوْ رِوَايَةٍ وَرَوِيَّة. فَطُوْبَى لِمَنْ كَانَ تَعْظِيْمُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَايَةَ مَرَامِهِ وَمَرْمَاهُ

    Latin: Hâdzâ, wa qadis-taḫsanal-qiyâma ‘inda dzikri maulidihisy-syarîfi a’immatun dzawû riwâyatin wa rawiyyah. fathûbâ liman kâna ta’dhîmuhu shallallâhu ‘alaihi wa sallama ghâyata marâmihi wa marmâh.

    5. Wa Baraza Shallallahu ‘Alayhi Wasallama

    وَبَرَزَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ الْعَلِيَّةِ. مُوْمِيًا بِذٰلِكَ الرَّفْعِ إِلَى سُوْدَدِهِ وَعُلَاهُ. وَمُشِيْرًا إِلَى رِفْعَةِ قَدْرِهِ عَلَى سَائِرِ الْبَرِيَّةِ. بِأَنَّهُ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ حَسُنَتْ طِبَاعُهُ وَسَجَايَاهُ. وَدَعَتْ أُمُّهُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ يَطُوْفُ بِهَاتِيْكَ الْبَنِيَّةِ. فَأَقْبَلَ مُسْرِعًا وَنَظَرَ إِلَيْهِ وَبَلَغَ مِنَ السُّرُوْرِ مُنَاهُ.

    وَأَدْخَلَهُ الْكَعْبَةَ الْغَرَّاءَ وَقَامَ يَدْعُوْ بِخُلُوْصِ النِّيَّــــةِ. وَيَشْكُرُ اللهَ تَعَالَى عَلَى مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ. وَوُلِدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظِيْفًا مَخْتُوْنًا مَقْطُوْعَ السُّرِّ بِيَدِ الْقُدْرَةِ الْإِلٰهِيَّةِ. طَيِّبًا دَهِيْنًا مَكْحُوْلَةً بِكُحْلِ الْعِنَايَةِ عَيْنَاهُ. وَقِيْلَ خَتَنَهُ جَدُّهُ بَعْدَ سَبْعِ لَيَالٍ سَوِيَّةٍ. وَأَوْلَمَ وَأَطْعَمَ وَسَمَّاهُ مُحَمَّدًا وَأَكْرَمَ مَثْوَاهُ

    Latin: Wa baraza shallallâhu ‘alaihi wa sallama wâdli’an yadaihi ‘alal-ardli râfi’an ra’sahu ilas-samâ’il-‘aliyyah. mûminan bidzâlikar-raf’i ilâ sûdadihi wa ‘ulâh. wa musyîran ilâ rif’ati qadrihi ‘alâ sâ’iril-bariyyah. bi annahul-ḫabîbul-ladzî ḫasunat thibâ’uhu wa sajâyâh. wa da’at ummuhu ‘abdal-muthallibi wa huwa yathûfu bihâtîkal-baniyyah. fa aqbala musri’an wa nadhara ilaihi wa balagha minas-surûri munâh.

    Wa adkhalahul-ka’batal-gharrâ’a wa qama yad’û bikhulûshin-niyyah. wa yasykurullâha ta’âlâ ‘alâ mâ manna bihi ‘alaihi wa a’thâh. wa wulida shallallâhu ‘alaihi wa sallama nadhîfan makhtûnan maqthû’as-surri biyadil-qudratil-ilâhiyyah. Thayyiban dahînan makḫûlatan bikaḫlil-‘inâyati ‘ainâh. wa qîla khatanahu jadduhu ba’da sab’i layâlin sawiyyah. wa aulama wa ath’ama wa sammâhu muḫammadan wa akrama matswâh.

    6. Wa Zhahara ‘Inda Wiladatihi

    وَظَهَرَ عِنْدَ وِلَادَتِهِ خَوَارِقُ وَغَرَائِبُ غَيْبِيَّةٌ. إِرْهَاصًا لِنُبُوَّتِهِ وَإِعْلَامًا بِأَنَّهُ مُخْتَارُ اللهِ تَعَالَى وَمُجْتَبَاهُ. فَزِيْدَتِ السَّمَاءُ حِفْظًا وَرُدَّ عَنْهَا الْمَرْدَةُ وَذَوُا النُّفُوْسِ الشَّيْطَانِيَّةِ.

    وَرَجَمَتِ النُّجُوْمُ النـَّــيِّرَاتُ كُلَّ رَجِيْمٍ فِيْ حَالِ مَرْقَاهُ. وَتَدَلَّتْ إِلَيْهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَنْجُمُ الزُّهْرِيَّةُ. وَاسْتَنَارَتْ بِنُوْرِهَا وِهَادُ الْحَرَمِ وَرُبَاهُ. وَخَرَجَ مَعَهُ نُوْرٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُوْرُ الشَّامِ الْقَيْصَرِيَّةُ. فَرَآهَا مَنْ بِبِطَاحِ مَكَّةَ دَارُهُ وَمَغْنَاه. وَانْصَدَعَ الْإِيْوَانُ بِالْمَدَائِنِ الْكِسْرَوِيَّةِ. الَّذِيْ رَفَعَ أَنُوْشَرْوَانَ سَمْكَهُ وَسَوَّاهُ. وَسَقَطَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِنْ شُرَفَاتِهِ الْعُلْوِيَّةِ.

    وَكُسِرَ مُلْكُ كِسْرَى لِهَوْلِ مَا أَصَابَهُ وَعَرَاهُ. وَخَمَدَتِ النِّيرَانُ الْمَعْبُودَةُ بِالْمَمَالِكِ الْفَارِسِيَّة. لِطُلُوعِ بَدْرِهِ الْمُنِيْرِ وَإِشْرَاقِ مُحَيَّاهُ. وَغَاضَتْ بُحَيْرَةُ سَاوَةَ وَكَانَتْ بَيْنَ هَمَذَانَ وَقُمٍّ مِنَ الْبِلَادِ الْعَجَمِيَّة. وَجَفَّتْ إِذْ كَفَّ وَاكِفُ مَوْجِهَا الثَّجَّاجِ يَنَابِيعُ هَاتِيكَ الْمِيَاهِ. وَفَاضَ وَادِى سَمَاوَةَ وَهِيَ مَفَازَةٌ فِي فَلَاةٍ وَبَرِيَّة.

    لَمْ يَكُنْ بِهَا مِنْ قَبْلُ يَنْقَعُ لِلظَّمْاٰنِ اللَّهَاةَ. وَكَانَ مَوْلِدُهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَوْضِعِ الْمَعْرُوفِ بِالْعِرَاصِ الْمَكِيَّةِ. وَالْبَلَدِ الَّذِي لَا يُعْضَدُ شَجَرُهُ وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهُ. وَاخْتُلِفَ فِي عَامِ وِلَادَتِهِ وَفِي شَهْرِهَا وَفِي يَوْمِهَا عَلَى أَقْوَالٍ لِلْعُلَمَاءِ مَرْوِيَّةٍ. وَالرَّاجِحُ أَنَّهَا قُبَيْلَ فَجْرٍ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ ثَانِي عَشَرِ شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ مِنْ عَامِ الْفِيلِ الَّذِي صَدَّهُ اللّٰهُ عَنِ الْحَرَمِ وَحَمَاهُ

    Latin: Wa dhahara ‘inda wilâdatihi khawâriqu wa gharâ`ibu ghaibiyyah. irhâshan linubuwwati wai’lâman bi annahu mukhtârullâhi ta’âlâ wa mujtabâh. fazîdatis-samâ`u ḫifdhan wa rudda ‘anhal-mardatu wa dzawun-nufûsisy-syaithâniyyah.

    Wa rajamatin-nujûmun-nayyirâtu kulla rajîmin fî ḫâli marqâh. wa tadallat ilaihi shallallâḫu ‘alaihi wa sallamal-anjumuz-zuhriyyah. wastanârat binûrihâ wa hâdul-ḫarami wa rubâh. wa kharaja ma’ahu nûrun adlâ`at lahu qushûrusy-syâmil-qaishariyyah. fara`âhâ man bibithâḫi makkata dâruhu wa maghnâh. wanshada’al-îwânu bil-madâ`inil-kisrawiyyah. alladzî rafa’a anûsyarwâna samkahu wa sawwâh. wa saqatha arba’a ‘asyrata min syurafâtihil-‘ulwiyyah.

    Wa kusira mulku kisrâ lihauli mâ ashâbahu wa ‘arâh. wa khamadatin-nîrânul-ma’bûdatu bil-mamâlikil-fârisiyyah. lithulû’i badrihil-munîri wa isyrâqi maḫayyâh. wa ghâslat buḫairatu sâwata wa kânat baina hamadzâna wa qummin minal-bilâdil-‘ajamiyyah. wa jaffat idz kaffa wâkifu maujihats-tsajjâji yanâbî’u hâtîkal-miyâh. wa fâdlâ wâdî samâwata hiya mafâzatun fî falâtin wa bariyyah.

    Lam yakun bihâ min qaablu yanqa’u lidhdham`ânil-lahâh. wa kâna mauliduhu shallallâhu ‘alaihi wa sallama bil-maudli’il-ma’rûfi bil-‘irâshil-makiyyah. wal-baladil-ladzî lâ yu’dladu syajaruhu wa lâ yukhlâ khalâh. wakhtulifa fî ‘âmi wilâdatihi wa fî syahrihâ wa fî yaumihâ ‘alâ aqwâlinil-‘ulamâ`i marwiyyah. war-râjiḫu annahâ qubaila fajrin yaumal-itsnaini tsânî ‘asyara rabî’il-awwali min ‘âmil-fîlil-ladzî shaddahullâhu ‘anil-ḫarami wa ḫamâh.

    7. Wa Ardha’at-hu Ummuhu

    وَأَرْضَعَتْهُ أُمُّهُ ﷺ أَيَّامًا ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ ثُوَيْبَةُ الْأَسْلَمِيَّةُ. اَلَّتِي أَعْتَقَهَا اَبُو لَهْبٍ حِينَ وَافَتْهُ عِنْدَ مِيلَادِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِبُشْرَاهُ. فَأَرْضَعَتْهُ مَعَ ابْنِهَا مَسْرُوحٍ وَأَبِي سَلَمَةَ وَهِيَ بِهِ حَفِيَّةٌ.

    وَأَرْضَعَتْ قَبْلَهُ حَمْزَةَ الَّذِي حُمِدَ فِي نُصْرَةِ الدِّينِ سُرَاهُ. وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْعَثُ إِلَيْهَا مِنَ الْمَدِينَةِ بِصِلَةٍ وَكِسْوَةٍ هِيَ بِهَا حَرِيَّةٌ. إِلَى أَنْ اَوْرَدَ هَيْكَلَهَا رَائِدُ الْمَنُونِ الضَّرِيحَ وَوَارَاهُ. قِيلَ عَلَى دِينِ قَوْمِهَا الْفِئَةِ الْجَاهِلِيَّةِ. وَقِيْلَ أَسْلَمَتْ أَثْبَتَ الْخِلَافَ ابْنُ مَنْدَهَ وَحَكَاهُ. ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ الْفَتَاةُ حَلِيمَةُ السَّعْدِيَّةُ.

    وَكَانَ قَدْ رَدَّ كُلُّ الْقَوْمِ ثَدْيَهَا لِفَقْرِهَا وَأَبَاهُ. فَأَخْصَبَ عَيْشُهَا بَعْدَ الْمَحْلِ قَبْلَ الْعَشِيَّة. وَدَرَّ ثَدْيَاهَا بِدُرٍّ دَرٍّ أَلْبَنَهُ الْيَمِينُ مِنْهُمَا وَأَلْبَنَ الْآخَرُ أَخَاهُ. وَأَصْبَحَتْ بَعْدَ الْهُزَالِ وَالْفَقْرِ غَنِيَّةً. وَسَمِنَتِ الشَّارِفُ لَدَيْهَا وَالشِّيَاهُ. وَانْجَابَ عَنْ جَانِبِهَا كُلُّ مُلِمَّةٍ وَرَزِيَّةٍ. وَطَرَّزَ السَّعْدُ بُرْدَ عَيْشِهَا الْهَنِيِّ وَوَشَّـــاهُ

    Latin: Wa ardla’athu ummuhu shallallâhu ‘alaihi wa sallama ayyâman tsumma ardla’athu tsuwaibatul-aslamiyyah. allatî a’taqahâ abû lahbin ḫîna wâfathu ‘inda mîlâdihi ‘alaihish-shalâtu was-salâmu bibusyrâh. fa ardla’athu ma’ab-nihâ masrûḫin wa abî salamata wa hiya bihi ḫafiyyah.

    Wa ardla’at qablahu ḫamzatal-ladzî ḫumida fî nushratid-dîni surah. wa kâna shallallâhu ‘alaihi wa sallama yab’atsu ilaihâ minal-madînati bishilatin wa kiswatin hiya bihâ ḫariyyah. ilâ an aurada haikalahâ râ’idul-manûnidl-dlarîḫi wa wârâh. qîla ‘alâ dîni qaumihal-fi’atil-jâhiliyyah. wa qîla aslamat atsbatal-khilâfab-nu mundaha wa ḫakâh. tsumma ardla’athul-fatâtu ḫalîmatus-sa’diyyah.

    Wa kâna qad radda kullul-qaumi tsadyahâ lifaqrihâ wa abâh. fa akhshaba ‘aisyuhâ ba’dal-maḫli qablal-‘asyiyyah. wa darra tsadyâhâ bidurrin darrin albanahul-yamînu minhumâ wa albanal-âkharu akhâhu. Wa ashbaḫât ba’dal-huzâli wal-faqri ghaniyyah. wasaminatisy-syârifu ladaihâ wasy-syiyâh. wa anjâba ‘an jânibihâ kullu mulimmatin wa raziyyah. wa tharrazas-sa’du burda ‘aisyihal-haniyyi wa wasysyâh.

    8. Wa Kâna Shallallahu ‘Alayhi Wasallama

    وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشِبُّ فِي الْيَوْمِ شَبَابَ الصَّبِيِّ فِي الشَّهْرِ بِعِنَايَةٍ رَبَّانِيَّة. فَقَامَ عَلَى قَدَمَيْهِ فِي ثَلَاثٍ وَمَشَى فِي خَمْسٍ وَقَوِيَتْ فِي تِسْعٍ مِنَ الشُّهُورِ بِفَصِيحِ النُّطْقِ قَوَاهُ. وَشَقَّ الْمَلَكَانِ صَدْرَهُ الشَّرِيفَ لَدَيْهَا وَأَخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَةً دَمَوِيَّةً.

    وَأَزَالَا مِنْهُ حَظَّ الشَّيْطَانِ وَبِالثَّلْجِ غَسَلَاهُ. وَمَلَآهُ حِكْمَةً وَمَعَانِيَ إِيْمَانِيَّةً. ثُمَّ خَاطَاهُ وَبِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ خَتَمَاه. وَوَزَنَاهُ فَرَجَحَ بِأَلْفٍ مِنْ أُمَّتِهِ الْخَيْرِيَّةِ. وَنَشَأَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَ كْمَلِ الْأَوْصَافِ مِنْ حَالِ صِبَاه. ثُمَّ رَدَّتْهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُمِّهِ وَهِيَ بِهِ غَيْرُ سَخِيَّةٍ.

    حَذَرًا مِنْ أَنْ يُصَابَ بِمُصَابٍ حَادِثٍ تَخْشَاهُ. وَوَفَدَتْ عَلَيْهِ حَلِيْمَةُ فِي أَيَّامِ خَدِيْجَةَ السَّيِّدَةِ الْوَضِيَّةِ. فَحَبَاهُ مِنْ حِبَائِهِ الْوَافِرِ بِحِبَاه. وَقَدِمَتْ عَلَيْهِ يَوْمَ حُنَيْنٍ فَقَامَ إِلَيْهَا وَأَخَذَتْهُ الْأَرْيَحِيَّـــةُ. وَبَسَطَ لَهَا مِنْ رِدَائِهِ الشَّرِيفِ بِسَاطَ بِرِّهِ وَنَدَاهُ. وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا أَسْلَمَتْ مَعَ زَوْجِهَا وَالْبَنِينَ وَالذُّرِّيَّةِ. وَقَدْ عَدَّهُمْ فِي الصَّحَابَةِ جَمْعٌ مِنْ ثِقَاتِ الرُّوَاةِ.

    Latin: Wa kâna shallallâhu ‘alaihi wasallama yasyibbu fil-yaumi syabâbash-shabiyyi fisy-syahri bi’inâyatin rabbâniyyah. faqâma ‘alâ qadaimihi fî tsalâtsin wa masyâ fî khamsin wa qawiyat fî tis’in minasy-syuhûri bifashîḫin-nuthqi qawâh. wa syaqqal-malakâni shadrahusy-syarîfa ladaihâ wa akhrajâ minhu ‘alaqatan damawiyyah.

    Wa azâlâ minhu ḫadhdhasy-syaithâni wa bits-tsalji ghasalâh. wa malâhu ḫikmatan wa ma’âniya îmâniyyah. tsumma khâthâhu wa bikhâtamin-nubuwwati khatamâh. wa wazanâhu farajaḫa bi alfin min ummatihil-khairiyyah. wa nasya’a shallallâhu ‘alaihi wa sallama ‘alâ akmalil-aushâfi min ḫâli shibâh. tsumma raddathu shallallâhu ‘alaihi wa sallama ilâ ummihi wa hiya bihi ghairu sakhiyyah.

    Hadzaran min an yushâba bimushâbin ḫâditsin takhsyâh. wa wafadat ‘alaihi ḫalîmatu fî ayyâmi khadîjatas-sayyidatil-wadliyyah. faḫabâhu min ḫabâ’ihil-wâfiri biḫibâh. wa qadimat ‘alaihi yauma ḫunainin faqâma ilaihâ wa akhadathul-aryaḫiyyah. wa basatha lahâ min ridâ’ihisy-syarîfi bisâtha birrihi wa nadâh. wash-shaḫîḫu annahâ aslamat ma’a zaujihâ wal-banîna wadz-dzurriyah. wa qad ‘adda hum fish-shaḫâbati jam’un min tsiqâtir-ruwâh.

    9. Wa lamma balagha ʾṯsnatay ʿašraẗa sanaẗá

    وَلَمَّا بَلَغَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً رَحَلَ بِهِ إِلَى الْبِلَادِ الشَّامِيَّةُ، وَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ بَحِيرًا بِمَا حَازَهُ مِنْ وَصْفِ النُّبُوَّةِ وَحَوَاهُ، وَقَالَ إِنِّي أَرَاهُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ وَرَسُوْلَ الله وَنَبِيَّهُ، وَقَدْ سَجَدَ لَهُ الشَّجَرُ وَالْحَجَرُ وَلَا يَسْجُدَانِ إِلَّا لِنَبِيٌّ أَوَّاهُ، وَإِنَّا لَنَجِدُ نَعْتَهُ فِي الْكُتُبِ الْقَدِيمَةِ السَّمَاوِيَّةُ، وَبَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ قَدْ عَمَّهُ النُّوْرُ وَعَلَاهُ، وَأَمَرَ عَمَّهُ بِرَدِّهِ إِلَى مَكَّةَ تَخَوفاً عَلَيْهِ مِنْ أَهْلِ دِيْنِ الْيَهُودِيَّة، فَرَجَعَ بِهِ وَلَمْ يُجَاوِزُ مِنَ الشَّامِ الْمُقَدَّسِ بُصْرَاهُ.

    Latinnya: Wa lammaʾ balaġa ʾṯnatay ʿašraẗa sanaẗá raḥala bihi ʾiilaỳ ʾalbilaʾdi ʾalššaʾmiyyaẗu، waʿarafahu ʾalrraʾhibu baḥiyráʾ bimaʾ ḥaʾzahu min waṣfi ʾalnnubuwwaẗi waḥawaʾhu، waqaʾala ʾiinniy ʾˈaaraʾhu sayyida ʾalʿaʾalamiyna warasuwla ʾallh wanabiyyahu، waqad saǧada lahu ʾalššaǧaru waʾalḥaǧaru walaʾ yasǧudaʾni ʾiillaʾ linabiyyú ʾˈaawwaʾhu، waʾiinnaʾ lanaǧidu naʿtahu fiy ʾalkutubi ʾalqadiymaẗi ʾalssamaʾwiyyaẗu، wabayna katifayhi ẖaʾtamu ʾalnnubuwwaẗi qad ʿammahu ʾalnnuwru waʿalaʾhu، waʾˈaamara ʿammahu biraddihi ʾiilaỳ makkaẗa taẖawfʾá ʿalayhi min ʾˈaahli diyni ʾalyahuwdiyyaẗ، faraǧaʿa bihi walam yuǧaʾwizu mina ʾalššaʾmi ʾalmuqaddasi buṣraʾhu

    10. Wa Lammå Balagha Shallallahu ‘Alayhi Wasallama Arba’a Sinîna

    وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَ سِنِيْنَ خَرَجَتْ بِهِ أُمُّهُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ النَّبَوِيَّةِ. ثُمَّ عَادَتْ فَوَافَتْهَا بِالْأَبْوَاءِ أَوْ بِشِعْبِ الْحَجُوْنِ الْوَفَاة. وَحَمَلَتْهُ حَاضِنَتُهُ أُمُّ أَيْمَنَ الْحَبَشِيَّةُ الَّتِيْ زَوَّجَهَا بَعْدُ مِنْ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ مَوْلَاهُ. وَأَدْخَلَتْهُ عَلَى جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَرَقَّ لَهُ وَأَعْلَى رُقِيَّهُ.

    وَقَالَ: إِنَّ لاِبْنِيْ هٰذَا لَشَأْنًا عَظِيْمًا فَبَخٍ بَخٍ لِمَنْ وَقَّرَهُ وَوَالَاهُ. وَلَمْ تَشْكُ فِيْ صِبَاهُ جُوْعًا وَلَا عَطَشًا قَطُّ نَفْسُهُ الْأَبِيَّةُ. وَكَثِيْرًا مَا غَدَا فَاغْتَذَى بِمَاءِ زَمْزَمَ فَأَشْبَعَهُ وَأَرْوَاهُ. وَلَمَّا أُنِيْخَتْ بِفِنَاءِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مَطَايَا الْمَنِيَّة. كَفَلَهُ عَمُّهُ أَبُوْ طَالِبٍ شَقِيْقُ أَبِيْهِ عَبْدِ الله. فَقَامَ بِكَفَالَتِهِ بِعَزْمٍ قَوِيٍّ وَهِمَّةٍ وَحَمِيَّةٍ. وَقَدَّمَهُ عَلَى النَّفْسِ وَالْبَنِيْنَ وَرَبَّاهُ.

    وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِثْنَى عَشَرَ سَنَةً رَحَلَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمُّهُ إِلَى الْبِلَادِ الشَّامِيَّةِ. وَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ بَحِيْرَا بِمَا حَازَهُ مِنْ وَصْفِ النُّبُوَّةِ وَحَوَاهُ. وَقَالَ: إِنِّيْ أَرَاهُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ وَرَسُوْلَ اللهِ وَنَبِيَّهُ. قَدْ سَجَدَ لَهُ الشَّجَرُ وَالْحَجَرُ وَلَا يَسْجُدَانِ إِلَّا لِنَبِيٍّ أَوَّاهُ.

    وَإِنَّا لَنَجِدُ نَعْتَهُ فِي الْكُتُبِ الْقَدِيْمَةِ السَّمَاوِيَّةِ. وَبَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ قَدْ عَمَّهُ النُّوْرُ وَعَلَاهُ. وَأَمَرَ عَمَّهُ بِرَدِّهِ إِلَى مَكَّةَ تَخَوُّفًا عَلَيْهِ مِنْ أَهْلِ دِيْنِ الْيَهُوْدِيَّةِ. فَرَجَعَ بِهِ وَلَمْ يُجَاوِزْ مِنَ الشَّامِ الْمُقَدَّسِ بُصْرَاهُ.

    Latin: Wa lamma balagha shallallâḫu ‘alaihi wa sallama arba’a sinîna kharajat bihi ummuhu ilal-madînatin-nabawiyyah. tsumma ‘âdat fawâfathâ bil-abwâ’i au bisyi’bil-ḫujûbil-wafâh. wa ḫamalathu ḫâdlinatuhu ummu aimanal-ḫabasyiyyatul-latî zawwajahâ ba’du min zaidib-ni ḫâritsata maulâh. wa adkhalathu ‘alâ jaddihi ‘abdil-muththalibi fadlammahu ilaihi wa raqqa lahu wa a’lâ ruqiyyah.

    Wa qâla: inna libnî hâdzâ lasyâ’nan ‘adhîman fabakhin bakhin liman waqqara wa wâlâh. wa lam tasyku fî shibâhu jû’an wa lâ ‘athasyan qaththu nafsuhul-abiyyah. wa katsîran mâ ghadâ faghtadzâ bimâ’i zamzama fa asyba’ahu wa arwâh. wa lammâ unîkhat bifinâ’i jaddihi ‘abdil-muththalibi mathâyal-maniyyah. kafalahu ‘ammuhu abû thâlibin syaqîqu abîhi ‘abdillâh. faqâma bikafâlatihi bi’azmin qawiyyin wa himmatin wa ḫamiyyah. wa qaddama ‘alan-nafsi wal-banîna wa rabbâh.

    Wa lammâ balagha shallallâhu ‘alaihi wa sallama itsnâ ‘asyara sanatan raḫala bihi shallallâhu ‘alaihi wa sallama ‘ammuhu ilal-bilâdisy-syâmiyyah. wa ‘arafahur-râhibu baḫiran bimâ ḫâzahu min washfin-nubuwwati wa ḫawâh. wa qâla: innî arâhu sayyidal-‘âlamîna wa rasûlallâhi wa nabiyyah. qad sajada lahusy-syajaru wal-ḫajaru wa lâ yasjudâni illâ linabiyyin awwâh.

    Wa innâ lanajidu na’tahu fil-kutubil-qadîmatis-samâwiyyah. wa baina katifaihi khâtamun-nubuwwati qad ‘ammahun-nûru wa ‘alâh. wa amara ‘ammahu biraddihi ilâ makkata takhawwufan ‘alaihi min ahli dînil-yahûdiyyah. faraja’a bihi wa lam yujâwiz minasy-syâmil-muqaddasi bushrâh.

    11. Wa Lamma Balagha Shallallahu ‘Alayhi Wasallama Khamsan Wa ‘Isyrîna Sanatan

    وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ سَنَةً سَافَرَ إِلَى بُصْرَى فِيْ تِجَارَةٍ لِخَدِيْجَةَ الْفَتِيَّةِ. وَمَعَهُ غُلَامُهَا مَيْسَرَةُ يَخْدِمُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَيَقُوْمُ بِمَا عَنَاهُ. وَنَزَلَ تَحْتَ شَجَرَةٍ لَدَى صَوْمَعَةِ نَسْطُوْرَا رَاهِبِ النَّصْرَانِيَّةِ. فَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ إِذْ مَالَ إِلَيْهِ ظِلُّهَا الْوَارِفُ وَأَوَاهُ.

    وَقَالَ: مَا نَزَلَ تَحْتَ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ قَطُّ إِلَّا نَبِيٌّ ذُوْ صِفَاتٍ نَقِيَّةٍ. وَرَسُوْلٌ قَدْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِالْفَضَائِلِ وَحَبَاهُ. ثُمَّ قَالَ لِمَيْسَرَةَ: أَفِيْ عَيْنَيْهِ حُمْرَةٌ ࣙاسْتِظْهَارًا لِلْعَلَامَةِ الْخَفِيَّةِ؟ فَأَجَابَهُ بِنَعَمْ فَحَقَّ لَدَيْهِ مَا ظَنَّهُ فِيْهِ وَتَوَخَّاهُ.

    وَقَالَ لِمَيْسَرَةَ: لَا تُفَارِقْهُ وَكُنْ مَعَهُ بِصِدْقِ عَزْمٍ وَحُسْنِ طَوِيَّةٍ، فَإِنَّهُ مِمَّنْ أَكْرَمَهُ اللهُ تَعَالَى بِالنُّبُوَّةِ وَاجْتَبَاهُ. ثُمَّ عَادَ إِلَى مَكَّةَ فَرَأَتْهُ خَدِيْجَةُ مُقْبِلاً وَهِيَ بَيْنَ نِسْوَةٍ فِيْ عِلِّيَّةٍ. وَمَلَكَانِ عَلَى رَأْسِهِ الشَّرِيْفِ مِنْ وَهَجِ الشَّمْسِ قَدْ أَظَلَّاهُ.

    وَأَخْبَرَهَا مَيْسَرَةُ بِأَنَّهُ رَأَى ذٰلِكَ فِي السَّفَرِ كُلِّهِ وَبِمَا قَالَ لَهُ الرَّاهِبُ وَأَوْدَعَهُ لَدَيْهِ مِنَ الْوَصِيَّةِ. وَضَاعَفَ اللهُ فِيْ تِلْكَ التِّجَارَةِ رِبْحَهَا وَنَمَّاهُ. فَبَانَ لِخَدِيْجَةَ بِمَا رَأَتْ وَمَا سَمِعَتْ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ تَعَالَى إِلَى الْبَرِيَّةِ، الَّذِيْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِقُرْبِهِ وَاصْطَفَاه. فَخَطَبَتْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهَا الزَّكِيَّةِ.

    لِتَشُمَّ مِنَ الْإِيْمَانِ بِهِ طِيْبَ رَيَّاهُ. فَأَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْمَامَهُ بِمَا دَعَتْهُ إِلَيْهِ هٰذِهِ الْبَرَّةُ التَّقِيَّةُ. فَرَغِبُوْا فِيْهَا لِفَضْلٍ وَدِيْنٍ وَجَمَالٍ وَمَالٍ وَحَسَبٍ وَنَسَبٍ كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ يَهْوَاهُ. وَخَطَبَ أَبُوْ طَالِبٍ وَأَثْنَى عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ حَمِدَ اللهُ بِمَحَامِدَ سَنِيَّةٍ.

    وَقَالَ: هُوَ وَاللهِ بَعْدُ لَهُ نَبَأٌ عَظِيْمٌ يُحْمَدُ فِيْهِ مَسْرَاهُ. فَزَوَّجَهَا مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُوْهَا وَقِيْلَ عَمُّهَا وَقِيْلَ أَخُوْهَا لِسَابِقِ سَعَادَتِهَا الْأَزَلِيَّةِ. وَأَوْلَدَهَا كُلَّ أَوْلَادِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا الَّذِيْ بِاسْمِ الْخَلِيْلِ سَمَّاهُ.

    Latin: Wa lamma balagha shallallâḫu ‘alaihi wa sallama khamsan wa ‘isyrîna sanatan sâfara ilâ bushrâ fî tijâratin likhadîjatal-fatiyyah. wa ma’ahu maisaratu yakhdimuhu ‘alaihish-shalâtu was-salâmu wa yaqûmu bimâ ‘anâh. wa nazala taḫta syajaratin ladâ shauma’ati nasthûrâ râhibin-nashrâniyyah. fa’arafahur-râhibu idz mâla ilaihi dhilluhâl-wârifu wa awâh.

    Wa qâla: mâ nazala taḫta hâdzihisy-syajarati qaththu illâ nabiyyun dzû shifâtin naqiyyah. wa rasûlun qad khashshahullâhu ta’alâ bil-fadlâ’ili wa ḫabâh. tsumma qâla limaisarata: afî ‘ainaihi ḫumratunis-tidhhâran lil-‘alâmatil-khafiyyah? fa ajâbahu bina’am faḫaqqa ladaihi mâ dhannahu fîhi wa tawakhkhâh.

    Wa qâla limaisarata: lâ tufâriqhu wa kun ma’ahu bishidqi ‘azmin wa ḫusni thawiyyah. fa innahu mimman akramallâhu ta’âlâ bin-nubuwwati wajtabâh. tsumma ‘âda ilâ makkata fara’athu khadîjatu muqbilan wa hiya baina niswatin fî ‘illiyyah. wa malakâni ‘alâ ra’sihisy-syarîfi min wahajisy-syamsi qad adhallâh.

    Wa akhbarahâ maisaratu bi annahu ra’â dzâlika fis-safari kullihi wa bimâ qâla lahur-râhibu wa auda’ahu ladaihi minal-washiyyah. wa dlâ’afaallâhu fî tilkat-tijârati ribḫahâ wa nammâh. fabâna likhadîjata bimâ ra’at wa mâ sami’at annahu rasûlullâhi ta’âlâ ilal-bariyyah. alladzî khashshahullâhu ta’âlâ biqurbihi washthafâh. fakhathabathu shallallâhu ‘alaihi wa sallama linafsihâz-zakiyyah.

    Litasyumma minal-îmâni bihi thîba rayyâh. fa akhbara shallallâhu ‘alaihi wa sallama a’mâmahu bimâ da’athu ilaihi hâdzihil-barratut-taqiyyah. faraghibû fîhâ lifadllin wa dînin wa jamâlin wa mâlin wa ḫasabin wa nasabin kullun minal-qaumi yahwâh. wakhathaba abû thâlibin wa atsnâ ‘alaihi shallallâhu ‘alaihi wa sallama ba’da an ḫamidallâhu bimaḫâmida saniyyah.

    Wa qâla: huwa wallâhi ba’du lahu naba’un ‘adhîmun yuḫmadu fîhi masrâh. fazawwajahâ minhu shallallâhu ‘alaihi wa sallama abûhâ wa qîla ‘ammuhâ wa qîla akhûhâ lisâbiqi sa’âdatihal-azaliyyah. wa auladahâ kulla aulâdihi shallallâhu ‘alaihi wa sallama illal-ladzî bismil-khalîli sammâh.

    12. Wa Lamma Balagha Shallallahu ‘Alayhi Wasallama Khamsan Wa Tsalatsina Sanatan

    وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَثَلَاثِيْنَ سَنَةً بَنَتْ قُرَيْشٌ ࣙالْكَعْبَةَ لاِنْصِدَاعِهَا بِالسُّيُوْلِ الْأَطْبَحِيَّةِ. وَتَنَازَعُوْا فِيْ رَفْعِ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَكُلٌّ أَرَادَ رَفْعَهُ وَرَجَاهُ. وَعَظُمَ الْقِيْلُ وَالْقَالُ وَتَحَالَفُوْا عَلَى الْقِتَالِ وَقَوِيَتِ الْعَصَبِيَّةُ.

    ثُمَّ تَدَاعَوْا إِلَى الْإِنْصَافِ وَفَوَّضُوْا الْأَمْرَ إِلَى ذِيْ رَأْيٍ صَائِبٍ وَأَنَاهُ. فَحَكَمَ بِتَحْكِيْمِ أَوَّلِ دَاخِلٍ مِنْ بَابِ السَّدَنَةِ الشَّيْبِيَّةِ. فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ دَاخِلٍ فَقَالُوْا: هٰذَا الْأَمِيْنُ وَكُلُّنَا نَقْبَلُهُ وَنَرْضَاهُ. فَأَخْبَرُوْهُ بِأَنَّهُمْ رَضُوْهُ أَنْ يَكُوْنَ صَاحِبَ الْحُكْمِ فِيْ هٰذَا الْمُلِمِّ وَوَلِيَّهُ.

    فَوَضَعَ الْحَجَرَ فِيْ ثَوْبٍ ثُمَّ أَمَرَ أَنْ تَرْفَعَهُ الْقَبَائِلُ جَمِيْعًا إِلَى مُرْتَقَاهُ. فَرَفَعُوْهُ إِلَى مَقَرِّهِ مِنْ رُكْنٍ هَاتِيْكَ الْبَنِيَّةِ. وَوَضَعَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الشَّرِيْفَةِ فِيْ مَوْضِعِهِ الْأٰنَ وَبَنَاهُ.

    Latin: Wa lamma balagha shallallâḫu ‘alaihi wa sallama khamsan wa tsalâtsîna sanatan banat quraisyunil-ka’bata lingshidâ’ihâ bis-suyûlil-athbaḫiyyah. wa tanâza’û fî raf’il-ḫajaril-aswadi fakullun arâda raf’ahu wa rajah. wa ‘adhumal-qîlu wal-qâlu wa taḫâlafû ‘alal-qitâli wa qawwiyatil-‘ashabiyyah.

    Tsumma tadâ’au ilal-inshâfi wa fawwadlul-amra ilâ dzî ra’yin shâ’ibin wa anâh. faḫakama bitaḫkîmi awwali dâkhilin min bâbis-sadanatisy-syaibiyyah. fakânan-nabiyyu shallallâhu ‘alaihi wa sallama awwala dâkhilin faqâlû: hâdzal-âmînu wakullunâ naqbaluhu wa nardlâh. fa akhbarûhu bi annahum radlûhu an yakûna shâḫibal-ḫukmi fî hâdzal-mulimmi wa waliyyah.

    Fawadla’al-ḫajara fî tsaubin tsumma amara an tarfa’ahul-qabâ’ilu jamî’an ilâ murtaqâh. farafa’ûhu ilâ maqarrihi min ruknin hâtîkal-baniyyah. wa wadla’ahu shallallâhu ‘alaihi wa sallama biyadihisy-syarîfati fî maudli’ihil-âna wa banâh.

    13. Wa Lammā Kamula Lahu Shallallahu ‘Alayhi Wasal-lama Arba’ûna Sanatan

    وَلَمَّا كَمُلَ لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً عَلَى أَوْفَقِ الْأَقْوَالِ لِذَوِي الْعَالِمِيَّةِ، بَعَثَهُ اللهُ تَعَالَى لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا فَعَمَّهُمْ بِرُحْمَاهُ. وَبُدِئَ إِلَى تَمَامِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بِالرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ الْجَلِيَّةِ. فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَائَتْ مِثْلَ فَلَقِ صُبْحٍ أَضَاءَ سَنَاهُ. وَإِنَّمَا ابْتُدِئَ بِالرُّؤْيَا تَمْرِيْنًا لِلْقُوَّةِ الْبَشَرِيَّةِ.

    لِئَلَّا يَفْجَأَهُ الْمَلَكُ بِصَرِيْحِ النُّبُوَّةِ فَلَا تَقْوَاهُ قُوَاهُ. وَحُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ فَكَانَ يَتَعَبَّدُ بِحِرَاءَ اللَّيَـــالِيَ الْعَدَدِيَّةَ. إِلَى أَنْ أَتَاهُ فِيْهِ صَرِيْحُ الْحَقِّ وَوَافَاهُ. وَذٰلِكَ فِيْ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ لِسَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ اللَّيْلَةِ الْقَدْرِيَّةِ. وَثَمَّ أَقْوَالٌ لِسَبْعٍ أَوْ ِلأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ مِنْهُ أَوْ لِثَمَانٍ مِنْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ الَّذِيْ بَدَا فِيْهِ بَدْرُ مُحَيَّاهُ. فَقَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَغَطَّهُ غَطَّةً قَوِيَّةً.

    ثُمَّ قَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَغَطَّهُ ثَانِيَةً حَتَّى بَلَغَ مِنْهُ الْجَهْدَ وَغَطَّاهُ. ثُمَّ قَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَغَطَّهُ ثَالِثَةً لِيَتَوَجَّهَ إِلَى مَا سَيُلْقَى إِلَيْهِ بِجَمْعِيَّةٍ. وَيُقَابِلَهُ بِجِدٍّ وَاجْتِهَادٍ وَيَتَلَقَّاهُ.

    ثُمَّ فَتَرَ الْوَحْيُ ثَلَاثَ سِنِيْنَ أَوْ ثَلَاثِيْنَ شَهْرًا لِيَشْتَاقَ إِلَى انْتِشَاقِ هَاتِيْكَ النَّفَحَاتِ الشَّذِيَّةِ. ثُمَّ أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ: ﴿يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ﴾ فَجَاءَهُ جِبْرِيْلُ بِهَا وَنَادَاهُ. فَكَانَ لِنُبُوَّتِهِ فِيْ تَقَدُّمِ ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ﴾ شَاهِدٌ عَلَى أَنَّ لَهَا السَّابِقِيَّةَ وَالتَّقَدُّمَ عَلَى رِسَالَتِهِ بِالْبِشَارَةِ وَالنِّذَارَةِ لِمَنْ دَعَاهُ.

    Latin: Wa lammâ kamula lahu shallallâhu ‘alaihi wa sallama arba’ûna sanatan ‘alâ aufaqil-aqwâli lidzawil-‘âlimiyyah. ba’atsahullâhu ta’âlâ lil-‘âlamîna basyîran wa nadzîran fa’ammahum biruḫmâh. wa budi’a ilâ tamâmi sittati asyhurin bir-ru’yash-shâdiqatil-jaliyyah. Fakâna lâ yarâ ru’yâ illâ jâ’at mitslu falaqi shubḫin adlâ’a sanâh. wa innamâb-tudi’a bir-ru’yâ tamrînan lil-quwwatil-basyariyyah.

    Li’allâ yafja’ahul-malaku bisharîḫin-nubuwwati falâ taqwâhu quwâh. wa ḫubbiba ilaihil-khalâ’u fakâna yata’abbadu biḫirâ’al-layâliyal-‘adadiyyah. ilâ an atâhu fîhi sharîḫul-ḫaqqi wa wâfâh. wa dzâlika fî yaumil-itsnaini lisab’a ‘asyrata lailatan khalat min syahril-lailatil-qadriyyah. wa tsamma aqwâlul lisab’i au li’arba’i wa ‘isyrîna minhu au litsamânin min syahri maulidihil-ladzî badâ fîhi badru muḫayyâh. faqâla lahu iqra’. faqâla: mâ anâ biqâri’in. faghaththahu ghaththatan qawiyyah.

    Tsumma qâla lahu: iqra’. faqâla: mâ anâ biqâri’in. faghaththahu tsâniyatan ḫattâ balagha minhul-jahda wa ghaththâh. tsumma qâla lahu: iqra’. faqâla: mâ anâ biqâri’in. faghaththahu tsâlitsatan liyatawajjaha ilâ mâ sayulqâ ilaihi bijam’iyyah. wa yuqâbilahu bijiddin wajtihâdin wa yatalaqqâh.

    Tsumma fataral-waḫyu tsalâtsa sinîna au tsalâtsîna syahran liyasytâqa ilang-tisyâqi hâtîkan-nafaḫâtisy-syadziyyah. tsumma unzilat ‘alaihi: ﴾yâ ayyuhal-muddatstsir﴿ faja’ahû jibrîlu bihâ wa nâdâh. fakâna linubuwwatihi fî taqaddumi ﴾iqra’ bismi rabbika﴿ syâhidun ‘alâ ainna lahâs-sâbiqiyyata wat-taqadduma ‘alâ risâlatihi bil-bisyârati wan-nidzârati liman da’âh.

    14. Wa Awwalu Man mana Bihi Minar-Rijali

    وَأَوَّلُ مَنْ اٰمَنَ بِهِ مِنَ الرِّجَالِ أَبُوْ بَكْرٍ صَاحِبُ الْغَارِ وَالصِّدِّيْقِيَّةِ. وَمِنَ الصِّبْيَانِ عَلِيٌّ وَمِنَ النِّسَاءِ خَدِيْجَةُ الَّتِيْ ثَبَّتَ اللهُ بِهَا قَلْبَهُ وَوَقَاهُ. وَمِنَ الْمَوَالِيْ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ وَمِنَ الْأَرِقَّاءِ بِلَالٌ ࣙالَّذِيْ عَذَّبَهُ فِي اللهِ أُمَيَّة. وَأَوْلَاهُ مَوْلَاهُ أَبُوْ بَكْرٍ مِنَ الْعِتْقِ مَا أَوْلَاهُ.

    ثُمَّ أَسْلَمَ عُثْمَانُ وَسَعْدٌ وَسَعِيْدٌ وَطَلْحَةُ وَابْنُ عَوْفٍ وَابْنُ عَمَّتِهِ صَفِيَّةَ، وَغَيْرُهُمْ مِمَّنْ أَنْهَلَهُ الصِّدِّيْقُ رَحِيْقَ التَّصْدِيْقِ وَسَقَاهُ. وَمَا زَالَتْ عِبَادَتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ مَخْفِيَّةً حَتَّى أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ ﴿فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ﴾ فَجَهَرَ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ. وَلَمْ يَبْعُدْ مِنْهُ قَوْمُهُ حَتَّى عَابَ أَلِهَتَهُمْ وَأَمَرَ بِرَفْضِ مَا سِوَى الْوَحْدَانِيَّةِ، فَتَجَرَّؤُوْا عَلَى مُبَارَزَتِهِ بِالْعَدَاوَةِ وَأَذَاهُ.

    وَاشْتَدَّ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ الْبَلَاءُ فَهَاجَرُوْا فِيْ سَنَةِ خَمْسٍ إِلَى النَّاحِيَةِ النَّجَاشِيَّةِ، وَحَدَبَ عَلَيْهِ عَمُّهُ أَبُوْ طَالِبٍ فَهَابَهُ كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ وَتَحَامَاهُ. وَفُرِضَ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيَامُ بَعْضٍ مِنَ السَّاعَاتِ اللَّيْلِيَّةِ، ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿فَاقْرَؤُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيْمُوا الصَّلَاةَ﴾.

    وَفُرِضَ عَلَيْهِ رَكْعَتَانِ بِالْغَدَاةِ وَرَكْعَتَانِ بِالْعَشِيَّة. ثُمَّ نُسِخَ بِإِيْجَابِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِيْ لَيْلَةِ مَسْرَاهُ. وَمَاتَ أَبُوْ طَالِبٍ فِيْ نِصْفِ شَوَّالٍ مِنْ عَاشِرِ الْبِعْثَةِ وَعَظُمَتْ بِمَوْتِهِ الرَّزِيَّةُ، وَتَلَتْهُ خَدِيْجَةُ بَعْدَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَشَدَّ الْبَلَاءُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ عُرَاهُ. وَأَوْقَعَتْ قُرَيْشٌ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ أَذِيَّةٍ. وَأَمَّا الطَّائِفَ يَدْعُوْ ثَقِيْفًا فَلَمْ يُحْسِنُوْا بِالْإِجَابَةِ قِرَاهُ. وَأَغْرَوْا بِهِ السُّفَهَاءَ وَالْعَبِيْدَ فَسَبُّوْهُ بِأَلْسِنَةٍ بَذِيَّةٍ.

    فَرَمَوْهُ بِالْحِجَارَةِ حَتَّى خُضِّبَتْ بِالدِّمَاءِ نَعْلَاهُ. ثُمَّ عَادَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَكَّةَ حَزِيْنًا فَسَأَلَهُ مَلَكُ الْجِبَالِ فِي إِهْلَاكِ أَهْلِهَا ذَوِي الْعَصَبِيَّةِ. فَقَالَ: إِنِّيْ أَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَتَوَّلَّاهُ

    Latin: Wa awwalu man âmana minar-rijâli abû bakrin shâḫibul-ghâri wash-shiddîqiyyah. wa minash-shibyâni ‘aliyyun wa minan-nisâ’i khadîjatul-latî tsabbatallâhu bihâ qalbahu wa wâqâh. wa minal-mawâlî zaidub-nu ḫâritsata wa minal-ariqqâ`i bilâlunil-ladzî ‘adzdzabahu fillâhi umayyah. wa aulâhu maulâhu abû bakrin minal-‘itqi mâ aulâh.

    Tsumma aslama ‘utsmânu wa sa’dun wa sa’îdun wa thalḫatu wabnu ‘aufin wabnu ‘ammatihi shafiyyah. wa ghairuhum mimman anhalahush-shiddîqu raḫîqat-tashdîqi wa saqâh. wa mâ zalat ‘ibâdatuhu shallallâhu ‘alaihi wa sallama wa ashḫâbihi makhfiyyatan ḫattâ unzilat ‘alaihi ﴾fashda’ bimâ tu’maru﴿ fajahara bidu’â’il-khalqi ilallâḫ. wa lam yab’ud minhu qaumuhu ḫattâ ‘âba alihatahum wa amara birafdli mâ siwal-waḫdâniyyah. Fatajarra’û ‘alâ mubârazatihi bil-‘adâwati wa adzâh.

    Wasytadda ‘alal-muslimînal-balâ’u fahâjarû fî sanati khamsin ilan-nâḫiyatin-najâsyiyyah. wa ḫadaba ‘alaihi ‘ammuhu abû thâlibin fahâbahu kullun minal-qaumi wa taḫâmâh. wa furidla ‘alaihi shallallâhu ‘alaihi wa sallama qiyâmu ba’dlin minas-sâ’atil-lailiyyah.tsumma nusikha biqaulillâhi ta’âlâ ﴾faqrâ’û mâ tayassara minhu wa aqîmush-shalâh﴿.

    Wa furidla ‘alaihi rak’atâni bil-ghadâti wa rak’atâni bil-‘asyiyyah. tsumma nusikha bi îjâbish-shalawâtil-khamsi fî lailati masrâh. Wa mâta abû thâlibin fî nishfi syawwalin min ‘âsyiril-bi’tsati wa ‘adhumat bimautihir-raziyyah. wa talat hu khadîjatu ba’da tsalâtsati ayyâmin wasyaddal-balâ’u ‘alal-muslimîna ‘urâh. wa auqa’at quraisyun bihi shallallâhu ‘alaihi wa sallama kulla adziyyah. wa ammath-thâ’ifa yad’û tsaqîfan falam yuḫsinû bil-ijâbati qirâh. wa aghrau bihis-sufahâ’a wal-‘abîda fasabbûhu bi’alsinatin badziyyah.

    Faramauhu bil-ḫijârati ḫattâ khudldlibat bid-dimâ’i na’lâh. tsumma ‘âda shallallâhu ‘alaihi wa sallama ilâ makkata ḫazînan fasa’alahu malakul-jibâli fî ihlâki ahlihâ dzawil-‘ashabiyyah. faqâla: innî arjû an yukhrijallâhu min ashlâbihim man yatawwallâh.

    15. Tsumma Usriya Birûhihî Wa Jasadihî

    ثُمَّ أُسْرِيَ بِرُوْحِهِ وَجَسَدِهِ يَقَظَةً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَرِحَابِهِ الْقُدْسِيَّةِ. وَعُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَوَاتِ فَرَأَى آدَمَ فِي الْأُولَى وَقَدْ جَلَّلَهُ الْوَقَارُ وَعَلَاهُ. وَرَأَى فِي الثَّانِيَةِ عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ الْبَتُولِ الْبَرَّةِ التَّقِيَّة. وَابْنَ خَالَتِهِ يَحْيَى الَّذِي أُوتِيَ الْحُكْمَ فِي حَالِ صِبَاهُ. وَرَأَى فِي الثَّالِثَةِ يُوسُفَ الصِّدِّيقَ بِصُورَتِهِ الْجَمَالِيَّةِ.

    وَفِي الرَّابِعَةِ إِدْرِيسَ الَّذِي رَفَعَ اللّٰهُ مَكَانَهُ وَأَعْلَاهُ. وَفِي الْخَامِسَةِ هَارُونَ الْمُحَبَّبَ فِي الْأُمَّةِ الْإِسْرَائِيْلِيَّةِ. وَفِي السَّادِسَةِ مُوسَى الَّذِي كَلَّمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى وَنَاجَاهُ. وَفِي السَّابِعَةِ إِبْرَاهِيمَ الَّذِي جَاءَ رَبَّهُ بِسَلَامَةِ الْقَلْبِ وَالطَّوِيَّةِ. وَحَفِظَهُ اللّٰهُ مِنْ نَارِ النَّمْرُودِ وَعَافَاهُ. ثُمَّ رُفِعَ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى إِلَى أَنْ سَمِعَ صَرِيفَ الْأَقْلَامِ بِالْأُمُورِ الْمَقْضِيَّةِ. إِلَى مَقَامِ الْمُكَافَحَةِ الَّذِي قَرَّبَهُ اللّٰهُ فِيهِ وَأَدْنَاهُ.

    وَأَمَاطَ لَهُ حُجُبَ الْأَنْوَارِ الْجَلَالِيَّةِ. وَأَرَاهُ بِعَيْنَيْ رَأْسِهِ مِنْ حَضْرَةِ الرُّبُوبِيَّةِ مَا أَرَاهُ. وَبَسَطَ لَهُ بُسُطَ الْإِدْلَالِ فِي الْمَجَالِي الذَّاتِيَّةِ. وَفَرَضَ عَلَيْهِ وَعَلَى أُمَّتِهِ خَمْسِينَ صَلَاةً ثُمَّ انْهَلَّ سَحَابُ الْفَضْلِ فَرُدَّتْ إِلَى خَمْسٍ عَمَلِيَّةٍ.

    وَلَهَا أَجْرُ الْخَمْسِينَ كَمَا شَاءَهُ فِي الْأَزَلِ وَقَضَاهُ. ثُمَّ عَادَ فِي لَيْلَتِهِ فَصَدَّقَهُ الصِّدِّيقُ بِمَسْرَاهُ. وَكُلُّ ذِي عَقْلٍ وَرَوِيَّةٍ. وَكَذَّبَتْهُ قُرَيْشٌ وَارْتَدَّ مَنْ أَضَلَّهُ الشَّيْطَانُ وَأَغْوَاهُ.

    Latin: Tsumma usriya birûḫihi wa jasadihi yaqadhatan minal-masjidil-ḫarâmi ilal-masjidil-aqshâ wa riḫâbihil-qudsiyyah. wa ‘urija bihi ilas-samawâti fara’a âdama fil-ûlâ wa qad jallalahul-waqâru wa ‘alâh. wa ra’a fits-tsâniyati ‘Îsab-na maryamal-batûlil-barratit-taqiyyah. wabna khâlatihi yaḫyal-ladzî ûtiyal-ḫukma fî ḫâli shibâh. wa ra’â fits-tsâlitsati yûsufash-shiddîqa bishûratihil-jamâliyyah.

    Wa fir-râbi’ati idrîsal-ladzî rafa’allâhu makânahu wa a’lâh. wa fil-khâmisati hârûnal-muḫabbaba fil-ummatil-isrâ’îliyyah. wa fis-sâdisati mûsal-ladzî kallamahullâhu ta’âlâ wa najâh. wa fis-sâbi’ati ibrâhîmal-ladzî jâ’a rabbahu bisalâmatil-qalbi wath-thawiyyah. wa ḫafidhahullâhu min nârin-namrûdi wa ‘âfâh. tsumma rufi’a ilâ sidratil-muntahâ ilâ an sami’a sharîfal-aqlâmi bil-umûril-maqdliyyah. ilâ maqâmil-mukâfaḫatil-ladzî qarrabahullâhu fîhi wa adnâh.

    Wa amâtha lahu ḫujubal-anwâril-jalâliyyah. wa arâhu bi’ainai ra’sihi min ḫadlratir-rubûbiyyati mâ arâh. wa basatha lahu busuthal-idlâli fil-majâlidz-dzâtiyyah. wa faradla ‘alaihi wa ‘alâ ummatihi khamsîna shalâtan tsumma anhalla saḫâbul-fadlli faruddat ilâ khamsin ‘amaliyyah.

    Wa lahâ ajrul-khamsîna kamâ syâ’ahu fil-azali wa qadlâh. tsumma ‘âda fî lailatihi fashaddaqahush-shiddîqu bimasrâh. wa kullu dzî ‘aqlin wa rawiyyah. wa kadzdzabat quraisyun wartadda man adlallahusy-syaithânu wa aghwâh.

    16. Tsumma ‘Aradha Nafsahů ‘Alal Qabâ-ili

    ثُمَّ عَرَضَ نَفْسَهُ عَلَى الْقَبَائِلِ بِأَنَّهُ رَسُولُ اللّٰهِ فِي الْأَيَّامِ الْمَوْسِمِيَّةـ فَأٰمَنَ بِهِ سِتَّةٌ مِنَ الْأَنْصَارِ اخْتَصَّهُمُ اللّٰهُ تَعَالَى بِرِضَاهُ. وَحَجَّ مِنْهُمْ فِي الْقَابِلِ اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا وَبَايَعُوهُ بَيْعَةً حَقِيَّةً. ثُمَّ انْصَرَفُوْا وَظَهَرَ الْإِسْلَامُ بِالْمَدِينَةِ فَكَانَتْ مَعْقِلَهُ وَمَأْوَاهُ. وَقَدِمَ عَلَيْهِ فِي الثَّالِثَةِ سَبْعُونَ أَوْ خَمْسَةٌ أَوْ ثَلَاثَةٌ وَامْرَأَتَانِ مِنَ الْقَبَائِلِ الْأَوْسِيَّةِ وَالْخَزْرَجِيَّةِ.

    فَبَايَعُوهُ وَأَمَّرَ عَلَيْهِمُ اثْنَي عَشَرَ نَقِيْبًا جَـحَاجِـحَةً سُرَاه. وَهَاجَرَ إِلَيْهِمْ مِنْ مَكَّةَ ذَوُو الْمِلَّةِ الْإِسْلَامِيَّة، وَفَارَقُوا الْأَوْطَانَ رَغْبَةً فِيْمَا أُعِدَّ لِمَنْ هَجَرَ الْكُفْرَ وَنَاوَاهُ. وَخَافَتْ قُرَيْشٌ أَنْ يَلْحَقَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَصْحَابِهِ عَلَى الْفَوْرِيَّةِ، فَأْتَمَرُوا بِقَتْلِهِ فَحَفِظَهُ اللّٰهُ تَعَالَى مِنْ كَيْدِهِمْ وَنَجَّاهُ.

    وَأُذِّنَ لَهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْهِجْرَةِ فَرَقَبَهُ الْمُشْرِكُونَ لِيُوْرِدُوهُ بِزَعْمِهِمْ حِيَاضَ الْمَنِيَّةِ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ وَنَثَرَ عَلَى رُؤُوْسِهِمُ التُّرَابَ وَحَثَاهُ. وَأَمَّ غَارَ ثَوْرٍ وَفَازَ الصِّدِّيقُ بِالْمَعِيَّةِ، وَأَقَامَا فِيْهِ ثَلَاثًا تَحْمِي الْحَمَائِمُ وَالْعَنَاكِبُ حِمَاهُ.

    ثُمَّ خَرَجَا مِنْهُ لَيْلَةَ الْإِثْنَيْنِ وَهُوَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَيْرِ مَطِيَّةٍ. وَتَعَرَّضَ لَهُ سُرَاقَةُ فَابْتَهَلَ فِيْهِ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى وَدَعَاهُ. فَسَاخَتْ قَوَائِمُ يَعْبُوْبِهِ فِي الْأَرْضِ الصُّلْبَةِ الْقَوِيَّةِ. وَسَأَلَهُ الْأَمَانَ فَمَنَحَهُ إِيَّاهُ.

    Latin: Tsumma ‘aradla nafsahu ‘alal-qabâ’ili bi annahu rasûlullâhi fil-ayyâmil-mausimiyyah. Fa âmana bihi sittatun minal-anshârikh-tashshahumullâhu ta’âlâ biridlâh. wa ḫajja minhum fil-qâbilits-nâ ‘asyara rajulan wa bâya’ûhu bai’atan ḫaqiyyah. tsumman-sharafû wa dhaharal-islâmu bil-madînati fakânat ma’qilahu wa ma’wâh. wa qadima ‘alaihi fits-tsâlitsati sab’ûna au khamsatun au tsalâtsatun wamra’atâni minal-qabâ’ilil-ausiyyati wal-khazrajiyyah.

    Fabâya’ûhu wa ammara ‘alaihimuts-nai ‘asyara naqîban jaḫâjiḫatan surâh. wa hâjara ilaihim min makkata dzawul-millatil-islâmiyyah. wa fâraqul-authâna raghbatan fîmâ u’idda liman hajaral-kufra wa nâwâh. wa khâfat quraisyun an yalḫaqa shallallâhu ‘alaihi wa sallama bi ashḫâbihi ‘alal-fauriyyah. Fa’tamarû biqatlihi faḫafidhahullâhu ta’âlâ min kaidihim wa najâh.

    Wa udzdzina lahu shallallâhu ‘alaihi wa sallama fil-hijrati faraqabahul-musyrikûna liyûridûhu biza’mihim ḫiyâdlal-maniyyah. fakharaja ‘alaihim wa natsara ‘alâ ru’ûsihimut-turâba wa ḫatsâh, wa amma ghâra tsaurin wa fâzash-shiddîqu bil-ma’iyyah. wa aqâmâ fîhi tsalâtsan taḫmil-ḫamâ’imu wal-‘anâkibu ḫimâh.

    Tsumma kharajâ minhu lailatal-itsnaini wa huwa shallallâhu ‘alaihi wa sallama ‘alâ khairi mathiyyah. wa ta’arradla lahu surâqatu fabtahala fîhi ilallâhi ta’âlâ wa da’âh. fasâkhat qawâ’imu ya’bûbihi fil-ardlish-shulbatil-qawiyyah. wasa’alahul-amâna famanaḫahu iyyâh.

    17. Wa Marra Shallallahu ‘Alayhi Wasallama

    وَمَرَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدِيدٍ عَلَى أُمِّ مَعْبَدٍ ࣙالْخُزَاعِيَّةِ، وَأَرَادَ بْتِيَاعَ لَحْمٍ أَوْ لَبَنٍ مِنْهَا فَلَمْ يَكُنْ لِشَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ خِبَاؤُهَا قَدْ حَوَاهُ. فَنَظَرَ إِلَى شَاةٍ فِي الْبَيْتِ قَدْ خَلَّفَهَا الْجَهْدُ عَنِ الرَّعِيَّةِ، فَاسْتَأْذَنَهَا فِي حَلْبِهَا فَأَذِنَتْ وَقَالَتْ لَوْ كَانَ بِهَا حَلَبٌ لَأَصَبْنَاهُ.

    فَمَسَحَ ضَرْعَهَا مِنْهَا وَدَعَا اللّٰهَ مَوْلَاهُ وَوَلِيَّهُ. فَدَرَّتْ فَحَلَبَ وَسَقَى كُلًّا مِنَ الْقَوْمِ وَأَرْوَاهُ. ثُمَّ حَلَبَ وَمَلَأَ الْإِنَاءَ وَغَادَرَهُ لَدَيْهَا آيَةً جَلِيَّةً. وَجَآءَ أَبُو مَعْبَدٍ وَرَأَى اللَّبَنَ فَذَهَبَ بِهِ الْعَجَبُ إِلَى أَقْصَاهُ. وَقَالَ أَنَّى لَكِ هٰذَا وَلَا حَلُوبَ بِالْبَيْتِ تَبِضُّ بِقَطْرَةٍ لَبَنِيَّةٍ. فَقَالَتْ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ وَكَذَا جُثْمَانُهُ وَمَعْنَاهُ.

    فَقَالَ لَهَا هٰذَا صَاحِبُ قُرَيْشٍ وَأَقْسَمَ بِكُلِّ أَلِيَّةٍ، بِأَنَّهُ لَوْ رَآهُ لَأٰمَنَ بِهِ واتَّبَعَهُ وَدَانَاهُ. وَقَدِمَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ ثَانِيَ عَشَرَ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَأَشْرَقَتْ بِهِ أَرْجَاؤُهَا الزَّكِيَّةُ، وَتَلَقَّاهُ الْأَنْصَارُ وَنَزَلَ بِقُبَاءَ وَأَسَّسَ مَسْجِدَهَا عَلَى تَقْوَاهُ

    Latin: Wa marra shallallâhu ‘alaihi wa sallama biqadîdin ‘alâ ummi ma’banib-nil-khuzâ’iyyah. wa arâdab-tiyâ’a laḫmin au labanin minhâ falam yakun lisyai’in min dzâlika khibâ’uhâ qad ḫawâh. fanadhara ilâ syâtin fil-baiti qad khallafahal-jahdu ‘anir-ra’iyyah. Fasta’dzanahâ fî ḫalbihâ fa’adzinat wa qâlat lau kâna bihâ ḫalabun la’ashâbnâh.

    Famasaḫa dlar’ahâ minhâ wa da’allâha maulâhu wa waliyyah. fadarrat faḫalaba wa saqâ kulan minal-qaumi wa arwâh. tsumma ḫalaba wa malâ’al-inâ’a wa ghâdarahu ladaihâ âyatan jaliyyah. wa jâ’a abû ma’badin wa ra’al-labana fadzahaba bihil-‘ajabu ilâ aqshâh. wa qâla annâ laki hâdzâ wa lâ ḫalûba bil-baiti tabidldlu biqathratin labaniyyah. faqâlat marra binâ rajulun mubârakun wa kadzâ jutsmânuhu wa ma’nâh.

    Faqâla lahâ hâdzâ shâḫibu quraisyin wa aqsama bikulli aliyyah. bi annahu lau ra’âhu la’âmana bihi wattaba’ahu wa dânâh. Wa qadima shallahu ‘alaihi wa sallamal-madînata yaumal-itsnaini tsâniya ‘asyara rabî’il-awwali wa asyraqat bihi arjâ’uhaz-zakiyyah. wa talaqqâhul-anshâru wa nazala biqubâ’a wa assasa masjidahâ ‘alâ taqwâh.

    18. Wa Kâna Shallallahu ‘Alayhi Wasallama Akmalan-nâsi

    وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَ كْمَلَ النَّاسِ خَلْقًا وَخُلُقًا ذَا ذَاتٍ وَصِفَاتٍ سَنِيَّةٍ. مَرْبُوعَ الْقَامَةِ أَبْيَضَ اللَّوْنِ مُشْرَبًا بِحُمْرَةٍ وَاسِعَ الْعَيْنَيْنِ أَكْحَلَهُمَا أَهْدَبَ الْأَشْفَارِ قَدْ مُنِحَ الزَّجَجَ حَاجِبَاهُ. مُفَلَّجَ الْأَسْنَانِ وَاسِعَ الْفَمِ حَسَنَهُ وَاسِعَ الْجَبِينِ ذَا جَبْهَةٍ هِلَالِيَّةٍ، سَهْلَ الْخَدَّيْنِ يُرَى فِي أَنْفِهِ بَعْضُ احْدِيْدَابٍ حَسَنَ الْعِرْنِيْنِ أَقْنَاهُ.

    بَعِيْدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ سَبْطَ الْكَفَّيْنِ ضَخْمَ الْكَرَادِيسِ قَلِيلَ لَحْمِ الْعَقِبِ كَثَّ اللِّحْيَةِ عَظِيمَ الرَّأْسِ، شَعْرُهُ إِلَى الشَّحْمَةِ الْأُذُنِيَّةِ. وَبَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ قَدْ عَمَّهُ النُّورُ وَعَلَاهُ. وَعَرَقُهُ كَاللُّؤْلُؤِ وَعَرْفُهُ أَطْيَبُ مِنَ النَّفَحَاتِ الْمِسْكِيَّةِ.

    وَيَتَكَفَّأُ فِي مِشْيَتِهِ كَأَنَّمَا يَنْحَطُّ مِنْ صَبَبٍ نِارْتَقَاهُ. وَكَانَ يُصَافِحُ الْمُصَافِحَ بِيَدِهِ الشَّرِيفَةِ فَيَجِدُ مِنْهَا سَائِرَ الْيَوْمِ رَائِحَةً عَبْهَرِيَّةً. وَيَضَعُهَا عَلَى رَأْسِ الصَّبِيِّ، فَيُعْرَفُ مَسُّهُ لَهُ مِنْ بَيْنِ الصِّبْيَةِ وَيُدْرَاهُ. يَتَلَأْلَأُ وَجْهُهُ الشَّرِيفُ تَلَأْلُؤَ الْقَمَرِ فِي اللَّيْلَةِ الْبَدْرِيَّةِ، يَقُولُ نَاعِتُهُ لَمْ أَرَ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَلَا بَشَرٌ يَرَاهُ

    Latin: Wa kâna shallallâhu ‘alaihi wa sallama akmalan-nâsi khalqan wa khuluqan dzâ dzâtin wa shifâtin saniyyah. marbû’al-qâmati abyadlal-launi musyraban biḫumratin wâsi’al-‘ainaini akḫalahumâ ahdabal-asyfâri qad muniḫaz-zajaja ḫâjibâh. mufallajal-asnâni wâsi’al-fami ḫasanahu wâsi’al-jabîni dzâ jabhatin hilâliyyah. Sahlal-khaddaini yurâ fî anfihi ba’dluḫ-dîdâbin ḫasanal-‘irnîni aqnâh.

    Ba’îda mâ bainal-mankibaini sabthal-kaffaini dlakhmal-karâdîsi qalîla laḫmil-‘aqibi katstsal-liḫyati ‘adhîmar-ra’si. sya’ruhu ilasy-syaḫmatil-udzuniyyah. wa baina katifaihi khâtimun-nubuwwati qad ‘ammahun-nûru wa ‘alâh. wa ‘araquhu kal-lu’lu’i wa ‘arfuhu athyabu minan-nafaḫâtil-miskiyyah.

    Wa yatakaffa’u fî misyyatihi ka’annamâ yanḫaththu min shababinir-taqâh. wa kâna yushâfiḫul-mushâfiḫa biyadihisy-syarîfati fayajidu minhâ sâ’iral-yaumi râ’iḫatan ‘abhariyyah. wa yadla’uhâ ‘alâ ra’sish-shabbiyyi. fayu’rafu massuhu lahu min bainish-shibyati wa yudrâh. Yatala’la’u wajhuhusy-syarîfu tala’lu’al-qamari fil-lailatil-badriyyah. yaqûlu nâ’ituhu lam ara qablahu wa lâ ba’dahu mitslahu wa lâ basyarun yarâh.

    19. Wa Kâna Shallallahu ‘Alayhi Wasallama Syadidal-haya-i

    وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَدِيْدَ الْحَيَاءِ وَالتَّوَاضُعِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيَرْقَعُ ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شَاتَهُ وَيَسِيْرُ فِيْ خِدْمَةِ أَهْلِهِ بِسِيْرَةٍ سَرِيَّةٍ. وَيُحِبُّ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ وَيَجْلِسُ مَعَهُمْ وَيَعُوْدُ مَرْضَاهُمْ وَيُشَيِّعُ جَنَائِزَهُمْ وَلَا يَحْقِرُ فَقِيْرًا أَدْقَعَهُ الْفَقْرُ وَأَشْوَاهُ. وَيَقْبَلُ الْمَعْذِرَةَ وَلَا يُقَابِلُ أَحَدًا بِمَا يَكْرَهُ وَيَمْشِيْ مَعَ الْأَرْمَلَةِ وَذَوِي الْعُبُوْدِيَّةِ.

    وَلَا يَهَابُ الْمُلُوْكَ وَيَغْضَبُ لِلّٰهِ تَعَالَى وَيَرْضَى لِرِضَاهُ. وَيَمْشِيْ خَلْفَ أَصْحَابِهِ وَيَقُوْلُ خَلُّوْا ظَهْرِيْ لِلْمَلَائِكَةِ الرُّوْحَانِيَّةِ. وَيَرْكَبُ الْبَعِيْرَ وَالْفَرَسَ وَالْبَغْلَةَ وَحِمَارًا بَعْضُ الْمُلُوْكِ إِلَيْهِ أَهْدَاهُ. وَيَعْصِبُ عَلَى بَطْنِهِ الْحَجَرَ مِنَ الْجُوْعِ وَقَدْ أُوْتِيَ مَفَاتِيْحَ الْخَزَائِنِ الْأَرْضِيَّةِ، وَرَاوَدَتْهُ الْجِبَالُ بِأَنْ تَكُوْنَ لَهُ ذَهَبًا فَأَبَاهُ.

    وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقِلُّ اللَّغْوَ وَيَبْدَأُ مَنْ لَقِيَهُ بِالسَّلَامِ وَيُطِيْلُ الصَّلَاةَ وَيَقْصُرُ الْخُطَبَ الْجُمُعِيَّةَ. وَيَتَأَلَّفُ أَهْلَ الشَّرَفِ وَيُكْرِمُ أَهْلَ الْفَضْلِ وَيَمْزَحُ وَلَا يَقُوْلُ إِلَّا حَقًّا يُحِبُّهُ اللّٰهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ. وَهَهُنَا وَقَفَ بِنَا جَوَادُ الْمَقَالِ عَنِ الطِّرَادِ فِي الْحَلْبَةِ الْبَيَانِيِّةِ، وَبَلَغَ ظَاعِنُ الْإِمْلَاءِ فِيْ فَدَافِدِ الْإِيْضَاحِ مُنْتَهَاهُ

    Latin: Wa kâna shallallâhu ‘alaihi wa sallama syadîdal-ḫayâ’i wat-tawâdlu’i yakhshifu na’lahu wa yarqa’u tsaubahu wa yaḫlubu syâtahu wa yasîru fî khidmati ahlihi bisîratin sariyyah. wa yuḫibbul-fuqarâ’a wal-masâkîna wa yajlisu ma’ahum wa ya’ûdu mardlâhum wa yusyayyi’u janâ’izahim wa lâ yaḫqiru faqîran adqa’ahul-faqru wa asywâh. wa yaqbalul-ma’dzirata wa lâ yuqâbilu aḫadan bimâ yakrahu wa yamsyî ma’al-armalati wa dzawil-‘ubûdiyyah.

    Wa lâ yahâbul-mulûka wa yaghdlabu lillâhi ta’âlâ wa yardlâ liridlâh. wa yamsyî khalfa ashḫâbihi wa yaqûlu khallû dhahrî lil-malâ’ikatir-rûḫâniyyah. wa yarkabul-ba’îra wal-farasa wal-baghlata wa ḫimâran ba’dlul-mulûki ilaihi ahdâh. wa ya’shibu ‘alâ bathnihil-ḫajara minal-jû’i wa qad ûtiya mafâtiḫal-khazâ’inil-ardliyyah. Wa râwadathul-jibâlu bi an takûna lahu dzahâban fa abâh.

    Wa kâna shallallâhu ‘alaihi wa sallama yuqillul-laghwa wa yabda’u man laqiyahu bis-salâmi wa yuthîlush-shalâta wa yaqshurul-khuthabal-jumu’iyyah. wa yata’allafu ahlasy-syarafi wa yukrimu ahlal-fadlli wa yamzaḫu wa lâ yaqûlu illâ ḫaqqan yuḫibbuhullâhu ta’âlâ wa yardlâh. wa hahunâ waqafa binâ jawâdul-maqâli ‘anith-thirâdi fil-ḫalbatil-bayâniyyah. wa balagha dhâ’inul-imlâ’i fî fadâfidil-îdlâḫi muntahâh.

    (hnh/hnh)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Doa Setelah Belajar dan Keutamaan Menuntut Ilmu


    Jakarta

    Dalam Islam, belajar dan menuntut ilmu adalah bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Menimba ilmu adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk meningkatkan pengetahuan, baik mengenai urusan dunia maupun akhirat.

    Setelah menyelesaikan kegiatan belajar, umat Muslim dianjurkan untuk berdoa agar ilmu yang telah dipelajari mendapatkan berkah dan manfaat. Doa setelah belajar bukan hanya sebagai penutup, tetapi juga sebagai pengingat bahwa segala sesuatu yang kita pelajari berasal dari Allah SWT.

    Dengan memanjatkan doa, kita berharap ilmu yang didapat dapat membawa kebaikan dalam setiap aspek kehidupan.


    Doa Setelah Belajar

    Mengacu pada buku Kumpulan Doa Mustajab Sepanjang Hayat karya Nurdin Hasan, terdapat beberapa doa setelah belajar yang bisa dipanjatkan oleh Muslim. Doa-doa ini dapat dibacakan sebagai permohonan agar ilmu yang telah dipelajari diberkahi dan bermanfaat.

    Berikut ini adalah 5 doa setelah belajar:

    1. Doa Setelah Belajar Versi Pertama

    اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتَّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

    Arab latin: Allahumma arinal haqqa-haqqa warzugnattiba’ah wa arinal batila-batila warzuqajtinabah.

    Artinya: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sehingga kami dapat selalu mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami sesuatu yang salah (batil) sehingga kami dapat selalu menjauhinya.”

    2. Doa Setelah Belajar Versi Kedua

    اللهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلَّمْنَا الَّذِي يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

    Arab latin: Allaahumman fa’naa bimaa ‘allamtanaa wa ‘allimnaalladzii yanfa’unaa wazidnaa ‘ilmaan walhamdulillaahi ‘alaa kulli haalin.

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami kemanfaatan bagi apa yang telah Engkau ajarkan pada kami. Ya Allah ajarkanlah pada kami sesuatu yang bermanfaat bagi kami dan tambahkanlah ilmu pada kami segala puji hanya milik Allah pada setiap saat.”

    3. Doa Setelah Belajar Versi Ketiga

    اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَوْدَعْتُكَ مَا عَلَّمْتُهُ فَرْدُدُهُ لِي عِنْدَ حَاجَتِيْ إِلَيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

    Arab latin: Allaahummainnii istauda’tukamaa ‘allamtuhuu faarduduhu lii ‘indaa haajatii ilaihi yaa rabbal ‘aalamiin.

    Artinya: “Ya Allah, aku titipkan kepada-Mu apa yang telah aku pelajari, maka aku mohon kembalikanlah kepadaku ketika aku membutuhkannya, wahai Tuhan semesta alam.”

    4. Doa Setelah Belajar Versi Keempat

    اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

    Arab latin: Alllaahumma innii as-aluka ‘ilmannaafi’an warizqon toyyiban wa ‘amalan mutaqobbalan.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang tidak tertolak.”

    5. Doa Setelah Belajar Versi Kelima

    سُبْحَنَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ اسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ الَيْكَ

    Arab latin: Subhaanaka allaahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.

    Artinya: “Maha suci Engkau, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

    Belajar dan menuntut ilmu adalah suatu kegiatan yang sangat terpuji dan agama Islam mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu.

    Dalam buku 40 Hadits tentang Pendidikan Islam yang disusun oleh Roudlatun Nasikah dan rekan-rekan, disebutkan bahwa terdapat keutamaan bagi seorang Muslim yang menuntut ilmu. Hadits tersebut menjelaskan bahwa seorang Muslim yang mencari ilmu akan memperoleh berbagai keutamaan dan manfaat.

    عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيْتَانُ فِيجَوْفِ الْمَاءِ

    Artinya: Dari Abu Darda’ berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut’.”

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Doa agar Terhindar dari Utang dan Selalu Berkecukupan Rezeki


    Jakarta

    Utang-piutang sudah biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Namun sebagian orang mengalami kesulitan hingga terlilit utang karena tidak bisa membayarnya.

    Dalam Islam, Rasulullah pernah mengajarkan sejumlah doa yang bisa diamalkan agar kita terhindar dari utang. Simak artikel ini untuk mengetahui hukum utang piutang dalam Islam. Ketahui juga 5 doa terhindar dari utang dan selalu mendapatkan kecukupan rezeki dalam hidup.

    Hukum Utang Piutang dalam Islam

    Dalam Islam, kita diperbolehkan untuk melakukan kegiatan utang-piutang. Namun tetap ada hal-hal yang perlu diperhatikan.


    1. Boleh Berutang

    Dalam buku Buku Pintar Hadits Edisi Revisi oleh Syamsul Rijal Hamid, dijelaskan Rasulullah pernah berutang kepada seorang Yahudi untuk membeli bahan pangan.

    ‘Aisyah RA menuturkan, “Rasulullah Saw pernah membeli pangan dari seorang Yahudi dengan cara utang dalam jangka waktu tertentu. Untuk itu beliau menggadaikan baju besinya.” (HR Muslim).

    2. Harus Berniat Mengembalikan

    Meski utang diperbolehkan, peminjam harus memiliki niat untuk mengembalikannya. Jika niatnya buruk, maka orang tersebut akan mendapat pembalasan dari Allah.

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW pernah bersabda, “Siapa saja yang meminjam harta orang lain dengan niat mengembalikannya, niscaya Allah akan melunasi utangnya. Siapa yang meminjam harta orang lain untuk dia habiskan maka Allah akan memusnahkannya.” (HR Bukhari dan Ibn Majah).

    3. Tidak Boleh Mengandung Riba

    Dikutip dari situs Jakarta Islamic Center, utang diperbolehkan asal tidak mengandung riba. Nabi Muhammad SAW melaknat orang yang berlaku riba. Hal ini sesuai hadits dari Jabir yang berbunyi:

    “Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang memberi, yang mencatat dan dua saksinya. Beliau bersabda: mereka semua sama (dilaknat).” (HR Imam Muslim).

    4. Utang Dibawa Mati

    Utang juga jangan disepelekan, sebab utang seseorang akan dibawa mati jika belum dilunasi. Utang ini harus dipertanggungjawabkan di akhirat.

    Maka utang harus dilunasi sebelum meninggal. Jika sudah meninggal, keluarga harus menanggung utang tersebut dan melunasinya.

    Dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih punya utang, maka kelak (di hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham untuk melunasinya. Namun yang ada hanyalah kebaikan atau keburukan (untuk melunasinya).” (HR Ibnu Majah, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah).

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Ruh seorang mukmin (yang sudah meninggal) terkatung-katung karena utangnya sampai hutangnya dilunasi.” (HR At Tirmidzi disahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

    5 Doa agar Terhindar dari Utang

    Mengutip buku Ada Orang Utang oleh Ammi Nur Baits, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah mengajarkan doa agar dijauhkan dari utang. Doa ini juga bisa dipanjatkan agar dimudahkan membayar utang.

    1. Doa agar Tidak Terlilit Utang

    Berikut ini doa agar tidak terlilit utang yang diajarkan Rasulullah saw. Doa ini dapat dibaca sebagai zikir pagi dan sore.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

    Arab latin : Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid dain wa qahrir rijal.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”

    2. Doa Minta Perlindungan dari Utang dan Dosa

    Rasulullah mengajarkan doa agar diberi perlindungan dari utang dan tindakan dosa, seperti diriwayatkan dalam Hadits Bukhari nomor 5891.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ، وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ عَنِّي خَطَايَاىَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا، كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

    Arab latin: Allahumma inni A’uudzubika minal kasali wal harami wal ma’tsami wal maghrami wamin fitnatil qabri wa’adzaabil qabri wamin fitnatin naari wa’azaabin naari wamin syarri fitnatil ghina wa a’uudzubika minal fitnatil faqri wa a’uudzubika min fitnatil masiyhid dajjal, allahummaghsil ‘annii khathaayaya bimaais salji walbaradi wanaqqi qalbi minal khthaayaya kamaa naqqaitats tsaubal abyadho minad danas wabaa’id baini wabaina khathaayaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghribi

    Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, kepikunan, kesalahan dan terlilit hutang, dan dari fitnah kubur serta siksa kubur, dan dari fitnah neraka dan siksa neraka dan dari buruknya fitnah kekayaan dan aku berlindung kepada-Mu dari buruknya fitnah kefakiran serta aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al Masih Ad Dajjal. Ya Allah, bersihkanlah kesalahan-kesalahanku dengan air salju dan air embun, sucikanlah hatiku dari kotoran-kotoran sebagaimana Engkau menyucikan baju yang putih dari kotoran. Dan jauhkanlah antara diriku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat.”

    3. Doa agar Selalu Dicukupkan

    Dikisahkan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa ada seorang budak mukatab yang mendatangi beliau. Budak ini berkata bahwa dia tidak sanggup melunasi cicilan tanggungan utang, maka dia meminta bantuan kepada Ali.

    Ali pun berkata: “Maukah kuajarkan beberapa kalimat yang pernah diajarkan Rasulullah SAW, Andaikan engkau memiliki utang sebesar gunung Tsabir, maka Allah akan membantu melunasinya. Bacalah: Allahummak finii bi balaalika…dst.” (HR Ahmad dan Tarmidzi).

    Doanya adalah sebagai berikut:

    اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

    Arab-latin: Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak.”

    Artinya: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkan lah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selainMu.”

    4. Doa Dibebaskan dari Utang dan Diberi Kebahagiaan

    Doa lain yang bisa dibaca adalah doa agar dibebaskan dari hutang dan dicukupkan dari kemelaratan, serta diberi kebahagiaan.

    اللَّهُمَّ فَالِقَ الْإِصْبَاحِ، وَجَاعِلَ اللَّيْلَ سَكَنًا، وَالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ حُسْبَانًا اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ، وَامْتَعْنَا بِسَمْعِ وَبَصَرِنَا، وَقُوَّتِنَا فِي سَبِيلِكَ

    Arab latin: Allaahumma faaliqol ishbaahi wa ja’ilal laili sakanan, wasy syamsi wal qamari husbaanan iqdhii annad daina, wa aghnina minal faqri, wa imta’naa bisam’ii wa bashari naa, wa quwwati naa fii sabiilika.

    Artinya: “Ya Allah, Zat yang menampakkan cahaya subuh, yang menjadikan malam sebagai waktu tenang, dan (yang menjadikan) matahari dan rembulan berjalan dengan hitungan tertentu, bebaskanlah utang dari diriku, cukupkanlah aku dari kemelaratan, dan bahagiakan aku dengan pendengaranku, pandanganku, dan kekuatanku dalam jalan-Mu.”

    5. Doa Minta Perlindungan dari Dosa dan Utang

    Dilansir dari laman Muhammadiyah, sebuah hadits dari ‘Urwah, ‘Aisyah ra mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW berdo’a dalam sholat untuk meminta perlindungan dari utang.

    Seseorang lantas bertanya: “Mengapa engkau banyak meminta perlindungan dari utang, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya seseorang apabila sedang berutang ketika dia berbicara biasanya berdusta dan bila berjanji sering tidak menepatinya”. (HR Bukhari).

    Berikut ini bacaan doa minta perlindungan dari dosa dan utang:

    اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

    Arab latin: Allahuma innii a’uudzubika minal ma’tsami wal maghram

    Artinya: Ya Allah aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan terlilit hutang.

    Bacaan doa agar terhindar dari utang ini tentu bisa menjadi solusi bagi semua muslim yang ahrus segera melunasi kewajibannya. Selain berdoa, tiap muslim juga wajib berusaha sekeras mungkin dengan cara yang halal untuk membayar utangnya.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Doa Nabi Sulaiman untuk Hewan yang Bisa Diamalkan Muslim


    Jakarta

    Doa Nabi Sulaiman AS untuk hewan termaktub dalam salah satu ayat suci Al-Qur’an. Sebagaimana diketahui, Sulaiman AS termasuk satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui umat Islam.

    Nabi Sulaiman AS dikaruniai banyak mukjizat, salah satunya mampu berbicara dengan hewan dan mengerti bahasa mereka. Diterangkan dalam buku Rahasia Kekayaan Nabi Sulaiman: Amalan-amalan Pelimpah Rezeki Nabi Sulaiman yang ditulis Muhammad Gufron Hidayat, Sulaiman AS mengerti bahasa burung dan menjadikan mereka sebagai pembantu.

    Selain itu, Nabi Sulaiman AS juga mampu berbicara dalam bahasa semut. Ini diterangkan dalam surah An Naml ayat 18-19.


    Dikatakan, semut menjadi salah satu hewan yang dilarang untuk dibunuh. Menukil kitab Hadis Qudsi oleh Imam An-Nawawi dan Imam Qasthalani terjemahan Abu Firly Bassam Taqiy, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Ibnu Abbas RA berkata:

    “Sesungguhnya nabi melarang membunuh empat binatang, yaitu semut, lebah, burung hudhud, dan burung shurad.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Doa Nabi Sulaiman AS untuk Hewan

    Berikut doa yang dibaca Nabi Sulaiman AS untuk hewan seperti dinukil dari buku Dahsyatnya Doa Para Nabi oleh Syamsuddin Noor.

    1. Doa Nabi Sulaiman AS Mengusir Semut

    حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

    Arab latin: Hattaa idzaa atau ‘alaa waadin-namli qaalat namlatuy yaa ayyuhan-namludkhulụ masaakinakum, laa yahṭimannakum sulaimaanu wa junuduhụ wa hum laa yasy’urụn

    Artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS An Naml: 18)

    Doa Nabi Sulaiman AS untuk hewan lainnya dimaksudkan untuk membuat tunduk binatang tersebut. Berikut bunyinya sebagaimana tersemat dalam surah An Naml ayat 30,

    اِنَّهٗ مِنۡ سُلَيۡمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡم بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْماَلَّا تَعْلُوا عَلَىَّ وَاْتُونِى مُسْلِمِيْنَ

    Arab latin: Innahuu min Sulaimaana wa innahuu bismil laahir rahmaanir rahiim. Bismillah hirrahmani rahiim, allaa ta’luu alayya wa’tuunii muslimin.

    Artinya: “Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bahwa janganlah kamu berlaku sombong kepadaku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS An Naml ayat 30)

    Kisah Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud

    Ada sejumlah riwayat yang menceritakan kisah Nabi Sulaiman AS dengan hewan selain semut, yakni burung hudhud.

    Menukil dari Qashashul Anbiya oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid, dalam riwayat Ibnu Abbas dan lainnya dikatakan burung hudhud bertugas mencari tempat keberadaan air. Saat Nabi Sulaiman AS dan pasukannya tidak menemukan air di tengah padang pasir dalam perjalanan, burung hudhud lah yang biasanya datang dan mencarikan tempat tersebut.

    Hudhud dikaruniai kemampuan mendeteksi keberadaan air dalam tanah. Ketika burung hudhud menunjukkan keberadaan air di suatu tanah, pasukan nabi Sulaiman AS langsung menggali air tersebut dan digunakan sesuai keperluan.

    Suatu ketika, Nabi Sulaiman AS mencari burung hudhud namun ia tidak ada. Mengetahui itu, Nabi Sulaiman AS berkata, “Mengapa aku tidak melihat hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?”

    “Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat,” lanjut Sulaiman AS.

    Tak lama kemudian, burung hudhud datang dan berkata bahwa mereka menyampaikan sebuah berita tentang kerajaan besar Saba di Yaman. Kerajaan itu beralih ke tangan putri raja yang diangkat sebagai penggantinya yaitu Ratu Balqis.

    Kerajaan Ratu Balqis menyembah matahari seperti dilaporkan oleh burung hudhud. Mendengar hal itu, Nabi Sulaiman AS lalu mengirim surat berisi seruan agar taat kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Sang nabi juga memerintahkan Ratu Balqis dan seluruh rakyatnya tunduk serta menyerahkan kekuasaan kepada Sulaiman AS dan tobat dari kemusyrikan.

    Setelah surat Sulaiman AS itu sampai kepada Ratu Balqis, sang ratu mengumpulkan para amir, menteri dan pembesar kerajaan untuk bermusyawarah mengenai surat dari Nabi Sulaiman AS. Burung hudhud memiliki peran penting di sini, ia menjadi pengantar surat yang menghubungkan Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis.

    Ratu Balqis menawarkan jalan damai kepada Sulaiman AS setelah menerima surat tersebut. Ia ingin memberikan sang nabi sebuah hadiah, namun Nabi Sulaiman AS menolaknya.

    Nabi Sulaiman AS menjelaskan dirinya hanya ingin Ratu Balqis dan rakyatnya menyembah Allah SWT dan meninggalkan kemusyrikan. Terlebih, Sulaiman AS sudah memiliki kerajaan yang sangat megah dan besar.

    Mendengar hal itu, Ratu Balqis tertarik untuk datang. Nabi Sulaiman AS lalu menanyakan kepada salah satu pekerjanya siapa yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis ke kerajaannya sebelum ratu tersebut datang. Mendengar hal itu, jin ifrit menyanggupinya dan dengan kecepatan kedipan mata.

    Setibanya di kerajaan Nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis pun amat tercengang melihat kemegahan serta kekayaan yang dimiliki beliau. Lebih terkejutnya Ratu Balqis saat tahu bahwa singgasananya sudah berada di sana.

    Lalu, dirinya mengakui kekalahannya pada Nabi Sulaiman AS dan bersaksi akan beriman kepada Allah SWT. Setelah itu Nabi Sulaiman AS menikah dengan Ratu Balqis.

    Wallahu a’lam

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Iftitah Pendek dan Hukum Membacanya, Apakah Wajib?


    Jakarta

    Doa iftitah adalah bacaan yang dipanjatkan ketika salat. Muslim dapat membaca doa ini sebelum melafalkan surah Al Fatihah.

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kali seseorang salat, maka hendaklah ia membaca ‘Allahu Akbar’ (takbiratul ihram), kemudian membaca apa yang mudah baginya dari Al-Qur’an, kemudian membaca (doa) iftitah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut buku Tafsir Shalat yang ditulis Ammi Nur Baits, iftitah juga disebut sebagai doa pembuka karena dilafalkan setelah takbiratul ihram. Berikut doa iftitah pendek dan ringkas yang bisa diamalkan muslim.


    Doa Iftitah Pendek: Arab, Latin dan Artinya

    Berikut doa iftitah pendek yang dikutip dari Fiqhul Ibadat oleh Hasan Ayub terjemahan Abdurrahim.

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

    Latin: Subhaanakallaahumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghairuka.

    Artinya: “Maha Suci Engkau, ya Allah dengan segala puji-Mu (aku mensucikan-Mu), Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu; dan tidak ada Ilah (Tuhan) selain Engkau.”

    Hukum Membaca Doa Iftitah

    Menurut buku 77 Tanya Jawab Seputar Sholat susunan Ustaz Abdul Somad, mazhab Maliki berpendapat makruh hukumnya membaca doa fititah. Muslim yang mengerjakan salat hendaknya langsung bertakbir dan membaca Al Fatihah sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik,

    “Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar mengawali salat dengan Alhamdulillahi Rabbil’alamin.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Sementara itu, jumhur ulama mengatakan sunnah hukumnya membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama. Ustaz Abdul Somad mengungkapkan bahwa pendapat jumhur ulama ini menjadi yang paling rajih atau kuat.

    Itulah bacaan doa iftitah dan hukum membacanya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Ketika Bangun Tengah Malam Sesuai Anjuran Rasulullah SAW


    Jakarta

    Sebagian dari kita mungkin pernah terbangun di tengah malam karena berbagai alasan, seperti mendengar suara, mimpi, atau berubah posisi tidur.

    Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk membaca doa ketika terbangun di malam hari, guna menghindari bahaya dan godaan setan.

    Selain itu, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa dalam berbagai situasi. Rasulullah SAW membaca dzikir ketika terbangun dari tidur dan memuji Allah SWT yang telah menjaga kesehatan dan mengembalikan roh saat terbangun.


    Doa Bangun Tengah Malam

    Doa ketika bangun di tengah malam adalah amalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk menghadapi berbagai situasi saat terjaga di malam hari. Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa ini sebagai cara untuk memohon perlindungan dari bahaya dan godaan setan yang mungkin muncul saat malam.

    Dengan membaca doa ini, umat Islam diharapkan dapat merasa tenang dan terjaga dari gangguan, serta memuji Allah SWT yang telah menjaga kesehatan dan mengembalikan roh mereka setelah tidur.

    1. Doa Nabi Muhammad Ketika Terbangun di Tengah Malam

    Berdasarkan Kitab Ad Da’awat yang dinyatakan dalam hadis Ubadah bin Shamit r.a., Rasulullah SAW mengajarkan doa untuk dibaca saat terbangun di malam hari. Berikut adalah doa tersebut beserta bacaan latinnya dan terjemahannya:

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ.

    Laa ilaahaillallahu wahdahulaa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli sya’in qadir. Alhamdulillah wa subhaanallaah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illa billaah.

    Artinya: “Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan hanya Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian dan Dialah Dzat yang Maha Kuasa, segala puji bagi Allah, Maha suci Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan upaya melainkan karena Allah.”

    Setelah mengucapkan doa tersebut, Rasulullah SAW melanjutkan dengan doa: “Ya Allah, ampunilah aku.” Selanjutnya, beliau bangun, berwudhu, dan melaksanakan salat malam.

    Berdasarkan keterangan hadits dalam buku Doa-doa Rasulullah SAW karya Ibnu Taimiyah, Rasulullah SAW menganjurkan untuk berdzikir dan berdoa ketika terbangun di malam hari.

    Selain itu, beliau juga sering mengambil air wudhu dan melaksanakan salat malam. Abdullah ibnu Abbas RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah terbangun di tengah malam, lalu beliau segera mengambil air wudhu sebelum kembali melanjutkan tidurnya.

    “Suatu ketika di tengah malam, Rasulullah terbangun karena ingin membuang hajat. Kemudian setelah itu, beliau berwudhu dan tidur kembali.” (HR Bukhari)

    2. Zikir Ketika Terbangun Malam Hari

    Selain membaca doa seperti yang telah disebutkan, Rasulullah SAW juga membaca dzikir, sebagaimana diriwayatkan oleh Ummi Salamah r.a. Berikut adalah bacaan dzikir tersebut:

    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ، وَاهْدِ السبيل الأقوم

    Rabbigfir waar ham, wahdi lissabiil al-‘aquum.

    Artinya: “Ya Tuhan, ampuni dan kasihanilah kami serta tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.”

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Catat! Ini Amalan Doa yang Bisa Dibaca saat Puasa Senin Kamis


    Jakarta

    Puasa Senin Kamis menjadi amalan sunah yang bisa dikerjakan rutin oleh setiap muslim. Sambil mengerjakan puasa, amalkan juga beberapa doa yang membawa kebaikan.

    Puasa Senin Kamis adalah sunnah yang dikerjakan Rasulullah SAW semasa hidupnya. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda,

    “Amal perbuatan manusia akan diperlihatkan pada setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku ingin amalku diperlihatkan saat aku sedang berpuasa.” (HR Tirmidzi).


    Amalan Doa saat Puasa Senin Kamis

    Merangkum buku Super Jenius Dengan Mukjizat Puasa Senin Kamis oleh Rizem Aizid, berikut beberapa amalan doa yang bisa dibaca saat puasa Senin Kamis:

    1. Membaca Doa Memohon Perlindungan

    لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

    Arab Latin: Laa ilaaha ilaa anta subhaanaka innii kuntu munazh zhaalimiin

    Artinya: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Anbiya ayat 87).

    Doa ini dapat dibaca sebanyak 21 kali sehabis makan sahur dan berbuka puasa. Doa ini berisi harapan agar senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT dari segala mara bahaya dan kesulitan hidup.

    2. Doa Memohon Ilmu Bermanfaat dan Rezeki Halal

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

    Latin: Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima.”

    Doa ini dapat dibaca sebanyak 313 kali setelah mengerjakan salat fardhu. Doa ini berisi permohonan agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan juga kesehatan.

    3. Doa agar Dijauhkan dari Mati Su’ul Khatimah

    Doa ini diambil dari surat Ali Imran ayat 193,

    رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ

    Arab latin: Rabbanā innanā sami’nā munādiyay yunādī lil-īmāni an āminụ birabbikum fa āmannā rabbanā fagfir lanā żunụbanā wa kaffir ‘annā sayyi`ātinā wa tawaffanā ma’al-abrār

    Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”

    4. Doa Memohon Rezeki

    Doa ini sebagaimana termaktub dalam surat Al Maidah ayat 114,

    اللهم رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

    Bacaan latin: Allaahumma rabbanaa anzil ‘alainaa maa’idatam minas samaa’i takunu lana ‘iidal li’awwalinaa wa aakhirinaa wa aayatam mingka warzuqnaa wa anta khairur raaziqiin.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rezeki dan Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki.”

    5. Doa Memohon Diberikan Keimanan

    Doa ini sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 193-194

    رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَاد

    Bacaan latin: Rabbanā innanā sami’nā munādiyay yunādī lil-īmāni an āminū birabbikum fa āmannā, rabbanā fagfir lanā żunūbanā wa kaffir ‘annā sayyi’ātinā wa tawaffanā ma’al-abrār. Rabbanā wa ātinā mā wa’attanā ‘alā rusulika wa lā tukhzinā yaumal-qiyāmah(ti), innaka lā tukhliful-mī’ād

    Artinya: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kalian kepada Rabb kalian, maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuslah kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti (shalih). Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui Rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat kelak. Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.”

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Sehari-hari Lengkap untuk Anak-anak, Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Manusia adalah makhluk lemah yang jika tanpa pertolongan dari Allah ia tidak bisa berbuat apa-apa. Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala makhluk-Nya. Sehingga kita harus memanjatkan doa kepada Allah SWT, baik dalam himpitan kesulitan maupun kelapangan hidup, baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan kekurangan maupun kelebihan.

    Imam al-Ghazali dalam buku Agar Keinginan Cepat Terkabul dijelaskan doa menurut syari’at adalah memohon dan meminta pertolongan kepada Allah SWT atas sesuatu yang kita inginkan serta memohon sesuatu yang bermanfaat dan memohon terbebas atau tercegah dari sesuatu yang mencelakakan.

    Allah SWT dalam surah Al-Mu’min ayat 60:


    وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

    Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

    Doa juga disebut sebagai pintu besar di antara pintu-pintu ibadah yang lain, dari sana akan terbuka jalan bagi seluruh aktivitas manusia. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, “Doa adalah otaknya ibadah.” (HR Tirmidzi)

    Disebut otaknya ibadah karena ia adalah bentuk ibadah yang jelas sekali menunjukkan penghambaan kepada Allah SWT.

    Anak-anak sejak dini bisa diajarkan untuk berdoa dalam memulai aktivitas. Berikut kumpulan doa-doa harian yang mudah dihafal dan ajarkan untuk anak-anak.

    Kumpulan Doa Sehari-hari

    1. Doa sebelum Tidur

    Menukil buku Berdzikir di dalam Halqah dan Doa Ketika Bangun Tidur: Seri Doa dan Dzikir oleh Imam Nawawi, berikut doa sebelum tidur:

    بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ

    Arab latin: “Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut.”

    Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati.” (Sahih Bukhari, At-Tauhid: 6845).

    2. Doa setelah Bangun Tidur

    Masih dalam buku yang ditulis oleh Imam Nawawi, berikut bacaan doa setelah bangun tidur:

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

    Arab latin: Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.”

    3. Doa sebelum Makan

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab-latin: Allaahumma baarik lanaa fiima rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban nar.

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami dengan rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”

    4. Doa sesudah Makan

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

    Arab-latin: Alhamdulillaahil ladzii ath’amanaa wa saqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan telah menjadikan kami sebagai seorang muslim.”

    5. Doa sebelum Belajar

    Mengutip buku Doa Harian Pilihan untuk Anak tulisan Muhammad Rayhan, inilah doa pendek sebelum belajar:

    رَبِّي زِدْنِي عِلْمًا وَارْزُقْنِي فَحْمًا.

    Arab-latin: Robbii zidnii ‘ilman warzuqnii fahman

    Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu dan berilah aku kepahaman.”

    6. Doa untuk Kedua Orang Tua

    Dikutip dari buku Proyek Kehidupan Sesuai Ketentuan Al-Qur’an karya Aziz Amnan berikut doa untuk kedua orang tua:

    اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

    Arab-latin: Allahumma firlii wa liwaa lidhayya warham humaa kamaa rabbayaa nii shaghiraa.

    Artinya: “Wahai Tuhanku. ampunilah aku dan kedua orang tuaku (ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil.”

    7. Doa Masuk Kamar Mandi

    Menurut buku Kumpulan Doa Mustajab Sepanjang Hajat karya Nurdin Hasan, berikut doa masuk kamar mandi:

    اَللّٰهُمَّ اِنّىْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَآئِثِ

    Arab-latin: Allahumma innii a’uudzubika minal khubutsi wal khabaaitsi.

    Artinya:”Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari (godaan) setan laki-laki dan setan perempuan.”

    8. Doa Keluar Kamar Mandi

    الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنّى اْلاَذَى وَعَافَانِىْ

    Arab-latin: Alhamdulillahilladzi azhaba ‘annil adzaa wa’aafaanii.

    Artinya: “Dengan mengharap ampunan-Mu, segala puji milik Allah yang telah menghilangkan kotoran dari badanku dan yang telah menyejahterakan.”

    9. Doa ketika Berwudhu

    نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

    Arab-latin: Nawaitul whuduua liraf’il hadatsil ashghari fardal lillaahi ta’aalaa

    Artinya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta’ala.”

    10. Doa setelah Berwudhu

    أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

    Arab-latin: Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu Allahummaj ‘alnii mina attawwaabiina waj’alnii minal mutathohhiriina

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut untuk disembah selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikan pula aku termasuk golongan orang-orang yang menyucikan diri.” (HR Muslim & Tirmidzi, dari Uqbah bin Amir & Umar bin Khaththab)

    11. Doa Keluar Rumah

    بِسْمِ الله تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّه لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِِلاَّ بِاللهِ

    Arab-latin: Bismillahi tawakkaltu ‘ala Allah laa hawlaa wa laa quwwata illa billahi

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya serta kekuatan apapun tanpa pertolongan Allah.” (HR Tirmidzi, dari Anas bin Malik)

    12. Doa Masuk Rumah

    بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ

    Arab-latin: Bismillahi walajnaa wa bismillah kharajnaa wa ‘ala Allahi rabbinaa tawakkalnaa tsumma liyusallim ‘ala ahlihi

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah kami masuk, dan dengan menyebut nama Allah kami keluar. Dan kepada Allah lah kami bertawakal. “Selanjutnya ia mengucapkan salam kepada keluarganya. ” (HR Abu Dawud, dari Abu Malik Al-Asy’ari)

    13. Doa setelah Adzan

    اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ اِنَكَ لاَ تُخْلِفُ اْلمِيْعَاد

    Arab-latin: Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah. Wash shalaatil qaa-imah. Aati muhammadal wasiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqoomam mahmuudal ladzii wa’adtahu innaka la tukhliful mi’ad.

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan memiliki sholat yang didirikan. Berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah dia ke tempat yang terpuji sebagaimana yang Engkau telah janjikan.”

    14. Doa Pergi ke Masjid

    اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْرًا وَفِيْ لِسَانِي نُوْرًا وَفِي سَمْعِيْ نُوْرًا وَفِي بَصَرِي نُوْرًا وَمِنْ فَوْقِي نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِي نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِي نُوْرًا وَعَنْ شِمَالِي نُوْرًا وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا وَمِنْ خَلْفِيْ نُورًا وَاجْعَلْ لِي فِي نَفْسِي وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا وَعَظِّمْ لِي نُوْرًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا وَاجْعَلْنِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي عَصَبِيْ نُوْرًا وَ فِي لَحْمِي نُوْرًا وَفِي دَمِيْ نُوْرًا وَفِي شَعْرِيْ نُورًا وَفِي بَشَرِيْ نُورًا.

    Arab-latin: Allahummaj’al fii qalbii nuuran wa fii lisaanii nuuran wa fii sam’ii nuuran wa fii basharii nuuran wa min fawqii nuuran wa min tahtii nuuran wa ‘an yamiinii nuuran wa ‘an syimaalii nuuran wa min amaamii nuuran wa min khalfii nuuran waj’al lii fii nafsii wa a’dzim lii nuuran wa ‘adzdzim lii nuuran waj’al lii nuuran waj’alnii nuuran. Allahumma a’thinii nuuran waj’al fii ‘ashabii nuuranwa fii lahmii nuuranwa fii damii nuuranwa fii sya’rii nuuran wa fii basyarii nuuran

    Artinya: “Ya Allah, ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untukku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku.” (HR Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Abbas

    15. Doa Masuk Masjid

    أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ. بسْمِ اللهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

    Arab-latin: A’uudzu billahil ‘adziimi wa bi wajhihi al-kariimi wa sulthaanihi al-qadiimi minasy syaithaani arrajiim. Bismillah wassalaamu ‘ala rasuulillahi Allahummaghfir lii dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatika

    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah SWT dan semoga keselamatan terlimpahkan atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.” (HR Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah, & Thabrani)

    (lus/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa dan Dzikir Pagi untuk Pembuka Pintu Rezeki



    Jakarta

    Doa dan dzikir menjadi amalan yang dapat dikerjakan pagi hari. Ini termasuk ibadah yang mengundang datangnya rezeki.

    Rezeki bisa datang dari pintu mana saja yang dikehendaki Allah SWT. Namun, manusia tetap harus melakukan usaha dan upaya untuk menjemputnya. Usaha ini meliputi bekerja, berdoa dan tawakal.

    Allah SWT memerintahkan manusia untuk berusaha mencari rezeki dengan cara-cara yang diridhai-Nya. Kemudian berdoa memohon hasil yang terbaik dan selanjutnya bertawakal yaitu menyerahkan semua hadil usaha tersebut hanya kepada Allah SWT.


    Mengutip buku Amalan-amalan Pembuka Pintu Rezeki oleh Nasrudin dan Husnul Akib, dijelaskan bahwa rezeki yang banyak atau sedikit tetaplah merupakan karunia dari Allah SWT yang wajib disyukuri.

    Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7,

    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

    Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

    Dalam hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Doa dan Dzikir Pembuka Pintu Rezeki

    Sebagai salah satu usaha untuk menjemput rezeki adalah dengan berdoa dan memohon kepada Allah SWT.

    Rasulullah SAW mengajarkan doa pembuka rezeki, berikut bacaannya,

    بِسْمِ اللهِ عَلَى نَفْسِي وَمَالِي وَدِيْنِيْ. اَللَّهُمَّ رَضِّنِيْ بِقَضَائِكَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا قُدِّرَ لِيْ حَتَّى لَا أُحِبَّ تَعْجِيْلَ مَا أَخَّرْتَ وَلَا تَأْخِيْرَ مَا عَجَّلْتَ

    Arab latin: Bismillâhi ‘ala nafsî wa mâlî wa dînî. Allâhumma radhdhinî bi qadhâ’ika, wa bârik lî fîmâ quddira lî hattâ lâ uhibba ta’jîla mâ akhkharta, wa lâ ta’khîra mâ ‘ajjalta.

    Artinya: Dengan nama Allah yang menguasai diri, harta, dan agamaku. Tuhanku, kondisikan batinku agar rela menerima ketentuan-Mu. Berkatilah aku pada semua yang ditakdirkan untukku sehingga aku enggan menyegerakan apa yang Kautunda dan enggan menunda apa yang Kausegerakan.

    Kemudian bisa juga dilanjutkan dengan membaca doa berikut yang termaktub dalam Al-Qur’an surat At Talaq ayat 3,

    وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

    Artinya: Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

    Dzikir Pagi Pembuka Pintu Rezeki

    Selain memanjatkan doa, umat Islam juga bisa mengamalkan dzikir pagi untuk membuka pintu rezeki. Merangkum buku Koleksi Lengkap Dzikir Pagi Petang karya Ustaz Abdul Wahhab, berikut susunan dzikir pagi.

    1. Ayat Kursi

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ٢٥٥

    Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm

    Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

    2. Surat Al Ikhlas, Surat Al Falaq, dan Surat An Nas Masing-Masing 3 Kali

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ٤

    qul huwallāhu aḥad allāhuṣ-ṣamad lam yalid wa lam yụlad wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (QS Al Ikhlas: 1-4)

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ ٥

    qul a’ụżu birabbil-falaq min syarri mā khalaq wa min syarri gāsiqin iżā waqab wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS Al Falaq: 1-5)

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١ مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ ٦

    qul a’ụżu birabbin-nās malikin-nās ilāhin-nās min syarril-waswāsil-khannās allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās minal-jinnati wan-nās

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS An Nas: 1-6)

    3. Zikir

    أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

    Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

    Artinya: “Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur.”

    Lanjutkan dengan bacaan dzikir berikut,

    اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

    Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.

    Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).”

    4. Sayyidul Istighfar

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

    Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.

    Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

    Lanjutkan dengan membaca dzikir berikut,

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

    Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah, Shahih Ibnu Majah)

    5. Membaca Subhaanaallaahi wabihamdih 100 kali
    سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

    Subhaanaallaahi wabihamdih

    Artinya:”Maha Suci Allah sambil memuji-Nya”

    6. Membaca Zikir

    لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُi

    Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir

    Artinya:”Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.”

    7. Membaca Zikir Berikut 3 Kali

    .سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

    Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.

    Artinya: “Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.”

    8. Membaca Zikir Berikut
    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

    Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).”

    9. Membaca Istighfar 100 Kali

    أَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

    Astaghfirullaaha waatuubu ilaiih

    Artinya:”Aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”

    Dzikir ini bisa diamalkan setiap hari setelah salat subuh atau diamalkan pagi hari sebelum berangkat menjemput rezeki.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com