Category: Doa Hadits

  • Doa Sholat Hajat, Lengkap dengan Keutamaan dan Tata Caranya



    Jakarta

    Doa sholat hajat bisa dibaca setelah mengerjakan amalan tersebut. Sholat hajat merupakan ibadah sunnah yang dilakukan ketika seorang muslim memiliki hajat tertentu dan ingin dikabulkan oleh Allah SWT.

    Ustaz Arif Rahman dalam bukunya yang bertajuk Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah SAW, hukum sholat hajat ialah sunnah. Pengerjaannya bisa dilakukan kapan saja asalkan bukan pada momen-momen dilarang untuk mengerjakan sholat.

    Jumlah rakaat sholat hajat sendiri ialah paling sedikit dua dan paling banyak 12 rakaat dengan salam setiap dua rakaatnya. Anjuran mengerjakan sholat hajat tercantum dalam sebuah riwayat, Nabi SAW bersabda,


    “Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian sholat dua rakaat dengan sempurna, maka Allah akan memberikan apa yang ia minta cepat atau lambat,” (HR Ahmad).

    Doa Sholat Hajat: Arab, Latin, dan Artinya

    Berikut ini merupakan doa sholat hajat yang dapat dibaca setelah mengerjakan ibadah sunnah tersebut seperti dikutip dari buku Doa-Doa Mustajabah tulisan Abu Qalbina.

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْم ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Arab latin: La ilaha illallahul halimul karim. Subhanallahi rabbil ‘arsyil karimil ‘azhim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. As’aluka mujibati rahmatik, wa ‘aza’ima maghfiratik, wal ghanimata min kulli birrin, was salamata min kulli itsmin. La tada’ li dzanban illa ghafartah, wa la hamman illa farrajtah, wa la hajatan hiya laka ridhan illa qadhaitaha ya arhamar rahimin.

    Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Tuhan penguasa singgasana yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku Mohon kepada-Mu segala hal yang bisa menghadirkan rahmat-Mu dan dorongan kuat untuk mendapatkan ampunan-Mu, luapan segala kebajikan, dan keselamatan dari setiap dosa. Jangan Engkau biarkan dosa menghampiriku kecuali Engkau mengampuninya, jangan biarkan kesedihan menghinggapiku kecuali Engkau memberikan jalan keluarnya, dan tiada suatu hajat yang Engkau ridhai kecuali Engkau memenuhinya, wahai Zat yang Maha Kasih di antara para pengasih,”

    Tata Cara Sholat Hajat

    Mengutip dari buku Menjemput Berkah Lewat Shalat Hajat karya Abu Khansa Al-Harits, meski sholat hajat bisa dilakukan kapan saja, waktu terbaiknya yaitu pada sepertiga malam terakhir. Ini sesuai dengan hadits Nabi SAW yang berbunyi,

    “Malam manakah yang paling didengar (dikabulkan oleh Allah SWT)?, Rasulullah bersabda, “Pada tengah malam,” (HR Imam Ahmad dan Imam Ibnu Hibban).

    Tata cara mengerjakan sholat hajat sama seperti sholat-sholat sunnah lainnya. Kita harus suci dan bersih dari kotoran, najis maupun hadats. Selain itu, kita juga harus membersihkan hati dari sifat iri, dengki, riya, takabur karena sifat tersebut menjadi penghalang terkabulnya suatu permintaan kepada Allah SWT.

    Sholat hajat dapat dilakukan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Pembeda antara sholat hajat dan sholat sunnah lainnya adalah niat dan bacaan ayat setelah surat Al Fatihah, berikut tata caranya.

    • Membaca niat sholat hajat

    اُصَلِّى سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

    Arab latin: Ushollii sunnatal haajati rok’aataini lillahi ta’ala

    Artinya: “Aku berniat sholat hajat sunnah hajat dua raka’at karena Allah Ta’ala,”

    • Takbiratul ihram
    • Membaca doa iftitah
    • Membaca surat Al Fatihah
    • Setelah membaca surat Al Fatihah, diriwayatkan dari Wahib bin Al-Ward mengatakan bahwa doa yang dikabulkan adalah doa dari seorang hamba yang sholat 12 rakaat dan membaca pada tiap rakaatnya ayat Kursi serta surat Al Ikhlas
    • Rukuk
    • I’tidal
    • Sujud
    • Duduk di antara dua sujud
    • Sujud kedua
    • Bangkit dan lakukan gerakan rakaat kedua seperti rakaat pertama
    • Duduk tasyahud akhir
    • Salam

    Keutamaan Sholat Hajat

    Sholat hajat mengandung keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam buku Shalat Tahajud dan Shalat Hajat susunan Mahmud asy-Syafrowi. Sholat hajat mampu menjadi motivator terkuat untuk mencapai kekusyukan.

    Selama ini mungkin kita banyak melakukan sholat, baik fardhu maupun sunnah namun jarang sekali khusyuk dalam sholat tersebut. Bahkan, keinginan malam yang menyimpan kekuatan konsentrasi pun sering membuat kita lengah.

    Karenanya, sholat hajat mampu menjadi pendongkrak kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Terlebih, sholat hajat dispesialkan untuk meminta hajat kepada Allah.

    Selain itu, sholat hajat juga membuat seorang hamba lebih dekat kepada Tuhannya, yaitu Allah SWT. Seringkali kita mencita-citakan sesuatu dan mengandalkan kemampuan diri kita tanpa sadar bahwa Allah menguasai segalanya. Hanya Allah SWT yang mampu menghendaki sesuatu.

    Demikian pembahasan mengenai doa sholat hajat beserta keutamaan dan tata caranya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Berangkat Kerja Menurut Islam, Yuk Amalkan!



    Jakarta

    Doa berangkat kerja bisa dibaca sebelum pergi ke kantor. Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita mengamalkan doa ketika hendak bepergian atau melakukan aktivitas harian.

    Abu Hafsh Umar melalui Kitab Al Lubab mengemukakan doa sebagai seruan kepada Allah, memohon bantuan hingga pertolongan-Nya. Selain itu, doa juga menjadi perintah dari Allah sekaligus sarana penghubung antara hamba dan Tuhan.

    Karenanya, doa penting dilakukan khususnya ketika berangkat kerja. Ini dimaksudkan agar mendapat ketetapan Allah yang selalu baik, sehingga kita perlu mengingat dan mengharap ridha-nya, termasuk dalam urusan kerja.


    Menukil dari buku Penakluk Subuh tulisan Muhammad Iqbal, dijelaskan bahwa manusia yang tidak memanfaatkan waktu paginya untuk bekerja termasuk ke dalam golongan merugi. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda,

    “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan,” (HR Thabrani dan Al-Bazzar).

    Dalam Al-Qur’an sendiri, ada beberapa dalil yang membahas tentang pekerjaan. Salah satunya pada surat At Taubah ayat 105 Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk selalu bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

    وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

    Arab latin: wa quli’malụ fa sayarallāhu ‘amalakum wa rasụluhụ wal-mu`minụn, wa saturaddụna ilā ‘ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

    Artinya: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan,” (QS At Taubah: 105).

    Kumpulan Doa Berangkat Kerja

    Berikut ini merupakan doa berangkat kerja berbagai versi yang dikutip dari buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki dan Kesuksesan susunan Deni Lesmana S Pd, Doa-Doa Melejitkan Karier yang ditulis oleh Komarudin Ibnu Mikam dan buku Pasti Terkabul Koleksi Doa untuk Berbagai Kesulitan karya Thoriq Anwar.

    1. Doa Berangkat Kerja Versi Pertama

    بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

    Arab latin: Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illaa billaahi

    Artinya: “Dengan nama Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,”

    2. Doa Berangkat Kerja Versi Kedua

    اَللّهُمَّ ارْزُقْنِيْ رِزْقًا حَلاَلاً طَيِّباً, وَاسْتَعْمِلْنِيْ طَيِّباً. اَللّهُمَّ اجْعَلْ اَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ عِنْدَ كِبَرِ سِنِّيْ وَانْقِطَاعِ عُمْرِيْ. اَللّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ, وَاَغِْننِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ رِزْقًا وَاسِعًا نَافِعًا. اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ نَعِيْمًا مُقِيْمًا, اَلَّذِيْ لاَ يَحُوْلُ وَلاَ يَزُوْلُ.

    Arab latin: Allahummarzuqnii rizqan halaalan thayyibaan wasta’milnii thayyibaan. Allahummaj’al ausa’a rizqika ‘alayya ‘inda kibari sinnii wanqithaa’i ‘umrii. Allahummakfinii bihalaalika ‘an haraamika. wa aghninii bifadhlika ‘amman siwaaka. Allahumma in nii as-aluka rizqan waasi’an naafi’an. Allahumma innii as-alukan na’iimaan muqiiman, alladzii laa yahuulu wa laa yazuulu.

    Artinya: “Ya Allah, berilah kepadaku rezeki yang halal dan baik, serta pakaikanlah padaku segala perbuatan yang baik. Ya Tuhanku, jadikanlah oleh-Mu rezekiku itu paling luas ketika tuaku dan ketika lemahku. Ya Allah, cukupkanlah bagiku segala rezeki-Mu yang halal daripada yang haram dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari yang lain. Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu rezeki yang luas dan berguna. Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu nikmat yang kekal yang tidak putus-putus dan tidak akan hilang,”

    3. Doa Berangkat Kerja Versi Ketiga

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمُ

    Arab latin: Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim, laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim, laa ilaaha illallahu rabbus samaawaatis sab’i wa rabbul ardhi rabbul ‘arsyil kariim

    Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Agung. Tiada Tuhan selain Allah Penguasa ‘Arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah Penguasa langit, Bumi, dan ‘Arsy yang agung,”

    Adab dalam Bekerja yang Penting Diketahui

    Setelah mengetahui tentang doa berangkat kerja, ada sejumlah adab yang harus diperhatikan. Apa saja? Berikut pembahasannya yang dinukil dari buku Akidah Akhlak tulisan H Aminudin dan Harjan Syuhada.

    1. Bekerja dengan niat ikhlas karena mengharap ridha Allah SWT
    2. Memegang prinsip bahwa bekerja adalah ibadah
    3. Bekerja keras dan sungguh-sungguh
    4. Bekerja dengan cara yang halal
    5. Mengutamakan pekerjaan yang bermanfaat
    6. Menghargai waktu
    7. Bertanggung jawab atas pekerjaannya
    8. Bekerja dengan percaya diri, kreatif, dan optimis
    9. Jujur, sabar, dan amanah
    10. Memperhatikan pergaulan dan batasan antara wanita dan pria
    11. Menjaga silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah
    12. Mengedepankan nilai-nilai yang sesuai dengan syariat Islam

    Itulah pembahasan mengenai doa berangkat kerja beserta informasi terkaitnya. Jangan lupa diamalkan ya detikers!

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Bekerja dalam Ajaran Islam, Pahalanya Sama Seperti Perang di Jalan Allah



    Jakarta

    Bekerja dalam perspektif ajaran Islam sangatlah penting dalam keberlanjutan hidup seorang muslim di dunia. Betapa pentingnya bekerja, Allah bahkan menilai bekerja sebagai ibadah. Oleh karena itu, setiap muslim diwajibkan untuk bekerja, mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bekerja untuk anak dan istrinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR Bukhari).

    Pada hakikatnya, bekerja tidak hanya untuk memenuhi tuntutan di dunia, tetapi juga di akhirat. Segala aktivitas di dunia yang positif dan sejalan dengan nilai-nilai keislaman pastinya memiliki nilai tersendiri di mata Allah. Terlebih, semangat untuk mencukupkan nafkah telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul.


    Anjuran Bekerja dan Mencari Rezeki

    Anjuran bekerja dan mencari rezeki telah tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hadits Rasulullah SAW. Salah satunya, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Insyirah ayat 7,

    فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

    Arab-Latin: Fa iżā faragta fanṣab

    Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

    Ayat tersebut menegaskan tentang keseimbangan urusan dunia dan akhirat, yakni di sela beribadah seorang muslim juga harus tetap bekerja. Di sisi lain, pentingnya bekerja juga disebutkan dalam sebuah hadits yang dikutip dari buku berjudul Kerja Berbuah Surga yang ditulis oleh Arip Purkon.

    Dari anas bin Malik RA, dari Muhammad SAW, beliau bersabda: “Seandainya hari kiamat datang di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, jika memungkinkan untuk menanamnya sebelum kiamat itu terjadi maka laksanakanlah (menanam bibit tersebut). (HR Imam Ahmad).

    Hadits tersebut menjelaskan tentang pentingnya bekerja, sehingga disebutkan bahwa seandainya besok akan terjadi kiamat maka harus tetap bekerja. Maksud harus tetap bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri selagi masih memiliki kekuatan lahir dan batin.

    Apabila seseorang tidak memiliki suatu halangan atau kendala dalam mencari nafkah, sesungguhnya Allah mencintai pekerja dan membenci penganggur.

    Dari Ibnu Umar RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai setiap orang beriman yang bekerja (mencari nafkah), yang merupakan ayah dari keluarga (tulang punggung keluarga). Dan (Allah) tidak suka kepada penganggur (tidak bekerja) yang sehat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.”

    Bahkan, Rasulullah juga memberitahu umatnya tentang larangan menjadi penganggur.

    Dari Makhul RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Kalian jangan menjadi orang yang suka mencari aib orang lain, orang yang terlalu banyak memuji (penjilat), orang yang suka mencela, dan orang yang seperti mayat (yaitu orang yang menjadikan dirinya seperti mayat yaitu tidak bekerja.”

    Bekerja Lebih Baik Daripada Meminta-Minta

    Imam an-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin jilid 1 menyebutkan, dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

    “Sungguh tindakan salah seorang dari kalian yang seikat kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya itu lebih baik baginya, daripada meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolak permintaannya.” (Muttafaq ‘alaih).

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Zakat bab “Menahan Diri dari Meminta-Minta” dan bab “Tafsir: Dan Mereka tidak Meminta kepada Manusia dengan Memaksa” (3/265, 4/260) dan Imam Muslim dalam kitab Zakat bab “Makruhnya Meminta kepada Manusia” dan dalam bab “Jual Beli dan Minuman” (1042).

    Adapun dalam riwayat yang lain, Rasulullah mencontohkan Nabi Dawud yang tidak suka makan sesuatu kecuali dari hasil tangannya sendiri dan juga Nabi Zakariya yang seorang tukang kayu, yakni pekerja yang memproduksi barang-barang dari buah tangannya.

    قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

    Artinya: Dari Rafi’ bin Khadij RA, ia berkata: Pernah ditanyakan, “Ya Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?” Beliau menjawab: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual-beli yang baik.” (HR Ahmad bin Hanbal).

    Hadits tersebut mengingatkan sekaligus menyadarkan manusia tentang betapa mulianya seorang yang bekerja, karena Allah mengkategorikan seseorang yang bekerja sama saja sedang berjuang di jalan Allah (sabilillah). Hal ini diperkuat dalam hadits berikut.

    Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dia berkata: Nabi Muhammad SAW biasa pergi ke pasar dan membeli kebutuhan keluarganya. Lalu beliau ditanya tentang hal tersebut, maka beliau bersabda: “Jibril AS datang kepadaku dan berkata: Siapa saja yang berusaha (bekerja) untuk keluarganya maka agar mereka terhindar dari (meminta-minta) kepada orang lain, maka dia berada di jalan Allah SWT.”

    Itulah beberapa hadits Rasulullah tentang keutamaan bekerja. Hadits-hadits tersebut dapat menjadi pengingat sekaligus penyemangat dalam bekerja. Semoga bermanfaat.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Wudhu sebelum Tidur akan Didoakan oleh Malaikat, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Wudhu sebelum tidur termasuk amalan sunnah yang bisa dikerjakan umat Islam. Menurut sebuah hadits, malaikat akan mendoakan orang yang tidur dalam keadaan suci.

    Hal tersebut dijelaskan dalam Kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq melalui hadits yang berasal dari al-Barra’ bin ‘Azib RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

    إذا أَنتَ مَضْجَعَكَ فَوَضَّأَ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَلَّكَ الأَيْمَنِ ثُمَّ قُل: اللَّهُم أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَالحَاتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا ملحاً ولا منجا منك إلا إلَيْكَ اللهم انت بكتابك الَّذِي أَنزَلْتَ وَبَيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ


    Artinya: “Jika kamu hendak tidur, hendaknya kamu berwudhu sebagaimana kamu berwudhu ketika hendak mengerjakan salat. Kemudian, berbaringlah ke arah sebelah kanan dan bacalah doa berikut: “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan rasa senang dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat perlindungan dan keselamatan melainkan hanya berharap kepada-Mu. Ya Allah aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

    Sayyid Sabiq menjelaskan, jika seseorang ditakdirkan mati pada malam itu, maka ia dalam keadaan bersih (dari dosa). Sayyid Sabiq menganjurkan untuk menjadikan doa tersebut sebagai akhir bacaan menjelang tidur.

    Kemudian, dalam hadits lain, dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ بَات طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظُ إِلَّا قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

    Artinya: “Barang siapa tidur di malam hari dalam keadaan suci (berwudhu) maka malaikat akan tetap mengikuti, kemudian pada saat ia bangun niscaya malaikat itu akan berucap: ‘Ya Allah ampunilah hamba-Mu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci.’” (HR Ibnu Hibban)

    Rizem Aizid dalam buku Mukjizat 13 Sunnah Harian Nabi turut menjelaskan mengenai manfaat menjaga wudhu sebelum tidur.

    Pertama, ketika sebelum tidur berwudhu terlebih dahulu maka dapat merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Meskipun tidak terlalu banyak penjelasan mengenai hal ini, namun dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendurkan otot-otot yang kaku karena lelahnya dalam beraktivitas.

    Kedua, wudhu dapat mencerahkan kulit wajah. Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena dengan berwudhu berarti menghilangkan noda dan kotoran yang menempel pada kulit wajah. Rasulullah SAW pernah bersabda,

    “Sesungguhnya, umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya karena bekas wudhu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Ketiga, akan didoakan malaikat yang akan senantiasa memberikan doa perlindungan kepada umat muslim. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang disebutkan dalam shahihain dari sahabat al-Bara’bin Azib RA,

    “Apabila kamu hendak mendatangi pembaringan (tidur). Maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhu mu untuk melakukan salat.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Disunnahkan Wudhu sebelum Tidur bagi Orang yang Junub

    Orang yang dalam keadaan junub disunnahkan untuk wudhu sebelum ia tidur. Termasuk ketika ia ingin mengulangi jimak untuk yang kedua kalinya, maka antara jimak satu dan berikutnya sunnah baginya untuk wudhu.

    Hal itu dijelaskan dalam Kitab Shalatul Mu’min karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani dengan bersandar pada riwayat Aisyah RA yang mana ketika ditanya apakah Rasulullah SAW pernah tidur dalam keadaan junub, dia menjawab,

    “Ya, namun beliau berwudhu terlebih dahulu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Sunnah ini juga bersandar pada riwayat Ibnu Umar RA yang menyebut bahwa Umar pernah ditanya kepada Nabi SAW: “Bolehkah seseorang dari kita tidur dalam keadaan junub?” Nabi SAW bersabda,

    “Hendaklah dia berwudhu terlebih dahulu, kemudian tidur, kemudian dia mandi (setelah bangun) kapan saja dia mau.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Wudhu juga disunnahkan bagi orang yang mengulangi jimak. Hal ini didasarkan pada riwayat Abu Sa’id RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    “Jika seseorang dari kalian ‘mendatangi’ istrinya, lalu ingin mengulangi lagi, hendaklah dia berwudhu.” (HR Muslim)

    Wudhu akan Menghapuskan Dosa-dosa

    Keutamaan wudhu turut dijelaskan dalam Kitab Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi. Banyak hadits yang menjelaskan mengenai keutamaan wudhu, di antaranya hadits dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa kalian dan meninggikan derajat kalian?” Mereka menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sempurnakanlah wudhu dalam situasi-situasi sulit (misalnya cuaca sangat dingin), memperbanyak langkah menuju masjid (untuk salat jamaah), menunggu salat berikutnya setelah mengerjakan salat (di masjid), maka semua itu adalah a-ribath.” (HR Muslim)

    Sementara itu, Asep Safa’at Siregar dalam buku Khutbah Jum’at Pilihan di Era Millenial, menjelaskan beberapa hikmah dibalik wudhu. Salah satunya, wudhu sebagai pengampun dosa dan pemberi syafa’at.

    Dikatakan, wudhu ternyata lebih dari sekedar hikmah untuk membersihkan diri dari segala kotoran dan hadats kecil yang menempel.

    Bukan hanya itu, wudhu juga dapat menjadi pengampun dosa yang telah kita lakukan dan juga memberi syafaat untuk kita nanti. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

    ما مِن امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وحُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَلقَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ ما لَمْ سيات كبيرة وذلكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

    Artinya: “Tidaklah seorang muslim mendapati salat wajib, kemudian dia menyempurnakan wudhu, khusyu dan ruku’nya, kecuali akan menjadi penghapus bagi dosa-dosanya yang telah lalu, selama tidak melakukan dosa besar, dan ini untuk sepanjang masa.” (HR Muslim)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Melepas dan Menggunakan Pakaian, Yuk Amalkan!



    Jakarta

    Doa melepas pakaian termasuk ke dalam salah satu adab berpakaian dalam Islam. Membaca doa saat hendak mengerjakan aktivitas menjadi hal yang dianjurkan agar kegiatan yang dilakukan diridhai oleh Allah SWT.

    Doa melepas pakaian perlu diamalkan oleh umat Islam sebagai bentuk syukur atas nikmat dan rezeki berupa pakaian yang menjadi pelindung tubuh yang diberikan Allah SWT. Dalam surat Al A’raf ayat 26, Allah berfirman:

    يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ


    Arab latin: Yā banī ādama qad anzalnā ‘alaikum libāsay yuwārī sau`ātikum warīsyā, wa libāsut-taqwā żālika khaīr, żālika min āyātillāhi la’allahum yażżakkarụn

    Artinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat,”

    Doa Melepas Pakaian

    Terdapat beberapa versi doa melepas pakaian. Apa saja? Berikut pembahasannya sebagaimana dinukil dari buku Tuntunan Doa & Zikir Sehari-hari terbitan Redaksi Qultum Media, Kumpulan Doa Mustajab Sepanjang Hayat oleh Drs Nurdin Hasan M Ag, dan 24 Jam Hidup dengan Doa dan Amal Harian Rasulullah tulisan Abu Bakar bin As-Sina.

    1. Doa Melepas Pakaian Versi Pertama

    Dari Anas bin Malik, dia berkata Rasulullah bersabda, “Tirai penghalang antara mata jin dan aurat Bani Adam ialah doa yang diucapkan tatkala dia melepas pakaian, doa itu ialah:

    بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ

    Arab latin: Bismillaahil ladzii laa ilaaha illaa huwa

    Artinya: “Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia,”

    2. Doa Melepas Pakaian Versi Kedua

    Doa Melepas PakaianDoa Melepas Pakaian Versi Kedua

    Arab latin: Allahummanza’ annii robqotan nifaaqi wa tsabbitnii ‘alal iimaan

    Artinya: “Ya Allah, lepaskanlah dariku ikatan sifat munafik dan tetapkanlah aku pada keimanan,”

    Artinya:

    3. Doa Melepas Pakaian Versi Ketiga

    Doa Melepas PakaianDoa Melepas Pakaian Versi Ketiga

    Arab latin: Bismil laahil ladzii laa ilaaha illaa anta

    Artinya: Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Engkau,” (HR Ibnu Sunni)

    Doa Mengenakan Pakaian

    اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَ خَيْرِ مَا هُوَ لَهُ، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَ شَرِّ مَا هُوَ لَهُ

    Arab latin: Allahumma innii as’aluka khairii wa khairi ma huwa lahu, wa a’udzu bika min syarrihi wa khairi ma huwa lahu.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan baju ini dan kebaikan apapun untuknya. Dan aku berlindung dari keburukan baju ini serta keburukan apapun untuknya,”

    Manfaat Melafalkan Doa Melepas Pakaian

    Menurut buku terbitan Haura Utama yang bertajuk Living Hadis, ada sejumlah manfaat yang diperoleh dari melafalkan doa memakai dan melepas pakaian, antara lain ialah sebagai berikut:

    • Melindungi tubuh ketika aurat terbuka
    • Malu dan hormati selalu malaikat yang bersama kita
    • Melindungi tubuh dari pandangan jin

    Rasulullah menjelaskan bagaimana bahayanya ‘ain atau pandangan mata yang dapat menyebabkan kerusakan. Tidak hanya manusia, pandangan jin terhadap aurat manusia juga memiliki dampak buruk.

    Selain itu, jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia hanya karena mereka suka terhadap manusia. Ini terjadi karena jin melihat indahnya bentuk tubuh manusia sehingga mereka tertarik.

    Demikian pemaparan tentang doa melepas pakaian. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Allah Catat Pahala Amal Orang Sakit, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Orang yang sakit memiliki sejumlah keistimewaan di sisi Allah SWT. Menurut sebuah riwayat, Allah SWT akan mencatat satu pahala baginya dan menghapuskan satu dosanya serta meninggikannya satu derajat.

    Hadits tersebut diriwayatkan Al-Hakim dalam al-Mustadrak sebagaimana dinukil Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Kitab ‘Uddat ash-Shabirin. Rasulullah SAW bersabda,

    “Setiap kali orang mukmin tertimpa suatu rasa sakit, pasti dengannya Allah mencatat baginya satu pahala dan menghapuskan dengannya satu dosa, serta meninggikan dengannya satu derajat.” (Dinilai shahih oleh adz-Dzahabi. Al-Haitsami mengatakan dalam Majma’ az-Zawaid bahwa sanadnya hasan)


    Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, pahala sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas hanya diperoleh berkat kesabaran si sakit yang ia lakukan atas pilihannya sendiri. Itulah amal saleh baginya.

    Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menceritakan, ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin menjenguk orang sakit seraya berkata, “Orang yang sakit itu memiliki empat hal: Pertama, diangkat darinya pena (dari mencatat dosanya) dan dicatat baginya pahala amal perbuatan, seperti pahala amal perbuatan yang biasa dia lakukan semasa sehatnya.

    Kedua, penyakitnya memburu setiap dosa dari sendi-sendiri tubuhnya lalu menyingkirkannya. Ketiga, apabila dia sembuh maka dia hidup dalam keadaan dosa-dosanya diampuni. Dan keempat, apabila dia meninggal dunia maka dia meninggal dunia dalam keadaan dosa-dosanya telah diampuni.”

    Mendengar itu, si sakit langsung berucap, “Ya Allah, ini aku masih terbaring sakit.”

    Dalam al-Musnad terdapat suatu riwayat dari Nabi SAW,

    “Demi Dia yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Allah hanya menetapkan bagi orang mukmin suatu ketetapan yang lebih baik baginya. Apabila mendapatkan sesuatu yang menyenangkan maka dia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Dan apabila tertimpa kesulitan maka dia bersabar, itu pun lebih baik baginya. Itu semua hanya ada pada diri orang mukmin.”

    Riwayat lain menyebut, “Semua kondisi orang mukmin mengagumkan. Apabila mendapat kesenangan maka dia bersyukur, itu baik baginya. Dan apabila tertimpa kesulitan maka dia bersabar, itu pun baik baginya.” (HR Muslim dalam az-Zuhud dan Ahmad)

    Hadits tentang Allah SWT mencatat pahala amal orang sakit turut disebutkan Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah-nya. Dari Abu Musa Al-Asy’ari RA, dia berkata, Nabi SAW bersabda,

    إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

    Artinya: “Jika seorang hamba sakit atau dalam perjalanan, Allah menulis baginya pahala seperti halnya dia beramal dalam keadaan tinggal menetap dan dalam keadaan sehat.” (HR Bukhari)

    Dalam kitabnya yang lain, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, orang yang dalam kondisi sakit tidak mampu melaksanakan kewajiban, seperti salat dan puasa, dengan sempurna. Meskipun demikian, jika orang yang bersangkutan tetap mengerjakannya walau hanya mampu dalam hati, maka Allah tetap mencatat amalnya itu dengan sempurna.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Sujud Sajadah, Lengkap dengan Hukum Pengerjaan dan Tata Caranya



    Jakarta

    Bacaan sujud sajadah dilakukan ketika mendengar ayat-ayat sajdah dalam Al-Qur’an. Sujud sajadah bisa dikerjakan sewaktu salat maupun di luar salat.

    Menurut Zakaria R Rachman dalam Buku Tuntunan Lengkap Salat Wajib, Sunah, Doa dan Zikir, sujud sajadah juga disebut sebagai sujud tilawah. Selain dilakukan saat mendengar ayat-ayat sajdah, sujud sajadah juga dikerjakan ketika membaca atau menghafal sendiri.

    Ketika seseorang mengerjakan sujud sajadah, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Nabi SAW bersabda,


    “Jika anak Adam membaca ayat sajdah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata; ‘Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka,” (HR Muslim).

    Bacaan Sujud Sajadah Arab, Latin, dan Artinya

    Mengutip dari buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq oleh Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, berikut ini merupakan bacaan sujud sajadah lengkap dengan latin dan artinya.

    سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

    Arab latin: Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu bi khaulihi wa kuuwatihi fatabarakallahu ahsanul kholiqiin

    Artinya: “Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakannya, yang membentuknya, dan yang memberi pendengaran dan penglihatan, Maha berkah Allah sebaik-baiknya pencipta.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Tirmidzi & Nasa’i).

    Ayat-ayat Sajdah

    Terdapat 15 ayat dalam Al-Qur’an yang termasuk ke dalam ayat sajdah. Sujud sajadah atau sujud tilawah bisa dilakukan ketika mendengar atau membaca ayat-ayat di bawah ini.

    1. Al A’raf ayat 206
    2. Ar Ra’d ayat 15
    3. An Nahl ayat 50
    4. Al Isra ayat 109
    5. Maryam ayat 58
    6. Al Hajj ayat 18
    7. Al Hajj ayat 77
    8. Al Furqan ayat 60
    9. An Naml ayat 26
    10. As Sajdah ayat 15
    11. Sad ayat 24
    12. Fussilat ayat 38
    13. An Najm ayat 62
    14. Al Insyiqaq ayat 21
    15. Al Alaq ayat 19

    Hukum Pengerjaan Sujud Sajadah

    Hukum pengerjaan sujud sajadah atau sujud tilawah yaitu sunnah. Merujuk pada sumber yang sama, yaitu buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, hukum ini didasarkan dari riwayat Ibnu Umar, beliau berkata,

    “Rasulullah SAW membacakan kepada kami Al-Qur’an. Apabila beliau melewati ayat sajdah, maka beliau takbir, lalu sujud. Dan kami pun ikut sujud,” (HR Dawud, Baihaqi & Hakim).

    Selain itu, diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa ketika di atas mimbar pada hari Jumat, ia membaca surat An-Nahl sampai tiba di ayat sajdah, maka ia turun dan sujud, kemudian orang-orang pun ikut sujud. Pada Jumat berikutnya, ia membaca lagi dan sampai di ayat sajdah ia menuturkan,

    “Wahai manusia sesungguhnya kita tidak diwajibkan sujud tilawah. Siapa yang mau sujud, maka dia benar dan tepat, sedang siapa yang tidak mau sujud, tak ada dosa baginya,” (HR Bukhari).

    Tata Cara Sujud Sajadah

    Adapun, tata cara mengerjakan sujud sajadah ialah sebagai berikut seperti dikutip dari buku Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII karya H Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah.

    1. Sujud Sajadah saat Salat

    • Mengucapkan takbir untuk sujud sajadah
    • Sujud sebanyak satu kali dan membaca bacaan sujud sajadah
    • Mengucapkan takbir saat bangun dari sujud
    • Selesai sujud, berdiri tegak kembali kemudian meneruskan bacaan salat kalau masih ada ayat yang hendak dibaca. Kalau tidak ada, maka bisa melakukan rukuk dan melanjutkan salat

    2. Sujud Sajadah di Luar Salat

    Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan ketika ingin mengerjakan sujud sajadah di luar salat. Salah satunya menghadap kiblat dan takbir dengan niat sujud tilawah, berikut bacaannya:

    Bacaan niat sujud tilawahBacaan niat sujud tilawah (Foto: Dok. Buku Pendidikan Agama Islam karya Rosidin)

    Arab latin: Nawaitu sajdata tilawati sunnatan lillahi ta’ala

    Artinya: “Aku berniat sujud tilawah, (yang hukumnya) sunnah karena Allah Ta’ala,”

    Selanjutnya, sujud sebanyak satu kali sebagaimana sujud dalam salat. Kemudian duduk dengan membaca takbir dan diakhiri dengan memberi salam, simak tata cara lengkapnya di bawah ini.

    • Membaca takbir dengan mengangkat kedua tangan untuk melaksanakan sujud sebagaimana cara mengangkat tangan saat sujud takbiratul ihram (takbir pertama) saat salat
    • Melakukan sujud tanpa mengangkat kedua tangan saat turun hendak sujud
    • Melakukan sujud satu kali dan membaca bacaan sujud sajadah
    • Mengangkat kepala dari sujud dengan membaca takbir
    • Mengambil posisi duduk dan diakhiri dengan mengucapkan salam

    Sujud sajadah yang dilakukan di luar salat tidak perlu untuk didahului dengan berwudhu dan menukar pakaian dengan yang bersih, ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Bukhari.

    “Bahwasanya Ibnu Umar melakukan sujud tilawah (di luar salat) tidak berwudhu lebih dahulu,” (HR Bukhari)

    Itulah pembahasan mengenai bacaan sujud sajadah dan informasi terkaitnya. Semoga membantu.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Meminta Anak Laki-Laki dalam Islam, Bisa Diamalkan Suami-Istri



    Jakarta

    Memiliki keturunan merupakan hal yang paling dinantikan dan diharapkan dalam keluarga. Terlebih bagi pasangan suami istri baru yang menantikan kehadiran anak di tengah-tengah keluarga kecilnya.

    Mendapatkan anak laki-laki maupun perempuan hakikatnya sama saja sebab utamanya kelak ia dapat lahir dengan sehat, sempurna, dimudahkan selama masa kehamilan dan kelahirannya, dan menjadi generasi yang sholeh sholehah.

    Meskipun demikian, beberapa orang biasanya memiliki harapan agar memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu. Sebagai seorang muslim, pasangan suami istri dapat berikhtiar dengan memohon doa kepada Allah SWT sebagai Sang Maha Pemberi.


    Lantas, bagaimana doa meminta anak laki-laki? Berikut bacaan, arti, dan penjelasannya.

    Bacaan Doa Meminta Anak Laki-Laki

    Dilansir dari NU Online, Imam Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairami dalam kitab Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib mengemukakan doa untuk mendapatkan seorang anak laki-laki dengan bacaan sebagai berikut:

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أُسَمِّيْ مَا فِيْ بَطْنِهَا مُحَمَّدًا فَاجْعَلْهُ لِيْ ذَكَرًا فَإِنَّهُ يُولَدُ ذَكَرًا إنْ شَاءَ اللّٰهُ تَعَالَى

    Latin: Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma inni usammi ma fi bathniha Muhammadan faj’alhu li dzakaran fainnahu yuladu dzakaran insya Allahu ta’ala.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku akan menamai apa yang ada di dalam kandungannya dengan nama Muhammad, maka jadikanlah ia anak laki-laki bagiku, karena Muhammad dilahirkan sebagai seorang laki-laki, insya Allah.”

    Tata cara memanjatkan doa tersebut, yaitu dengan menaruh tangan di atas perut sang ibu yang sedang hamil. Hal ini dijelaskan dalam kitab Tuhfatul Habib bahwa bacaan doa meminta anak laki-laki dapat dipanjatkan pada masa-masa awal kehamilan.

    Imam Bujairami menyatakan doa ini telah berkali-kali dipraktikkan oleh banyak orang dan terbukti benar, mereka berhasil melahirkan anak laki-laki sesuai harapan, wallahu a’lam bishawab.

    Doa agar Diberi Keturunan yang Sholeh Sholehah

    Pasangan suami istri juga dapat memanjatkan doa agar diberi keturunan yang sholeh sholehah, sebagaimana dikutip dari buku Keutamaan Doa & Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera karya M. Khalilurrahman Al Mahfani.

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    Latin: Rabbana hablana min azwajina wa dzurriiyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqina imama.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

    Selain itu, bisa juga membaca doa Nabi Zakaria agar diberi anak yang baik sebagai berikut.

    رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

    Latin: Rabbi hab lī mil ladungka żurriyyatan ṭayyibah, innaka samī’ud-du’ā`

    Artinya: “Ya Allah, berilah aku seorang anak yang baik. Sungguh Engkau Maha Mendengar semua doa.” (QS Ali Imran: 38).

    Bagi pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, dapat membaca amalan doa berikut untuk memohon keturunan, sebagaimana dikutip dari buku Doa dan Zikir Khusus Wanita karya Muhammad Alcaff.

    رَبِّي لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَ أَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا يَبَرُّ فِي حَيَاتِي وَيَسْتَغْفِرُ لِي بَعْدَ وَفَاتِي وَاجْعَلْهُ خَلْقًا سَوِيًّا وَ لَا تَجْعَلُ للشَّيْطَانِ فَيهِ شِرْكًا وَلا نَصِيبًا. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ

    Latin: Rabbi la tadzarni fardan wa anta khairul waritsin. Waj’al li min ladunka waliyyan yabarru fi hayati wa yastaghfiru li ba’da wafati waj’alhu khalqan sawiyyan wa la taj’al lisy-syaithai fihi syirkan wala nashiban. Allahumma inni astaghfiruka wa atubu ilaika, innaka antal ghafurur rahim.

    Artinya: “Tuhanku, janganlah tinggalkan aku sendirian dan Engkau sebaik-baik yang mewariskan, dan jadikanlah untukku dari sisi-Mu seorang wali yang berbakti kepadaku di masa hidupku dan memintakan ampunan untukku setelah wafatku, dan jadikanlah ia ciptaan yang sempurna serta janganlah Engkau jadikan setan mempunyai andil di dalamnya. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Itulah doa meminta anak laki-laki dan keturunan sholeh sholehah yang bisa diamalkan oleh pasangan suami istri, semoga bermanfaat.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir yang Ringan di Lisan tapi Beratkan Timbangan Amal



    Jakarta

    Rasulullah SAW mengajarkan dzikir yang ringan di lisan tapi berat di timbangan amal. Dzikir tersebut terdiri dari dua kalimat saja.

    Bacaan dzikir sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW ini termuat dalam Kitab Shahih Bukhari, tepatnya pada hadits yang terakhir. Imam an-Nawawi turut menukil hadits ini dalam Kitab Riyadhus Shalihin dan Kitab Al-Adzkar.

    Dari Abu Hurairah RA ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,


    كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

    Artinya: “Ada dua kalimat, yang ringan di lisan tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh ar-Rahman, ‘Subhanallah wa bi hamdih (Maha Suci Allah dan Segala puji hanya bagi-Nya)’, dan ‘Subhanallahil ‘azhim’ (Maha Suci Allah yang Maha Agung).” (HR Muttafaq ‘Alaih)

    Imam an-Nawawi juga menukil sebuah riwayat di dalam Kitab Shahih Muslim yang menyebut bahwa dzikir subhanallah wa bi hamdih adalah dzikir yang paling disukai Allah SWT. Dari Abu Dzar RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya,

    أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى؟ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

    Artinya: “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang kalam (zikir) yang paling disukai oleh Allah? Sesungguhnya kalam yang paling disukai oleh Allah ialah, ‘Subhanallah wa bi hamdih’ (Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya).”

    Dalam riwayat lain dikatakan,

    سُئِلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْكَلَامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : مَا اصْطَفَى اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

    Artinya: “Rasulullah SAW pernah ditanya, ‘Dzikir apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Dzikir yang dipilihkan oleh Allah buat para malaikat-Nya atau hamba-Nya yaitu Subhanallah wa bi hamdih (Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya).” (HR Muslim dan At-Tirmidzi)

    Dalam Shahih Muslim juga terdapat riwayat yang berasal dari Samurah ibnu Jundub RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَرْبَع: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إلا الله، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيْهِنَّ بَدَأْتَ

    Artinya: “Ucapan yang paling disukai Allah ada empat kalimat, yaitu: ‘Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar’ (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tidak membahayakanmu dengan yang mana pun di antaranya kamu memulainya)” (HR Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

    Selain itu, ada sebuah hadits yang menyebut tentang bacaan dzikir yang memenuhi timbangan, langit, dan bumi. Dzikir tersebut adalah Alhamdulillah dan Subhanallah wal hamdulillah. Dari Abu Malik Al-Asy’ari RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحانَ والحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَانِ، أَوْ تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الله

    Artinya: “Bersuci merupakan sebagian dari iman. Ucapan, ‘Alhamdulillah’ (Segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan; dan ucapan ‘Subhanallah wal hamdulillah’ (Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah) keduanya dapat memenuhi timbangan atau kalimat tersebut dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi.” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Dzikir yang Pahalanya Setara Memerdekakan 10 Budak



    Jakarta

    Dzikir merupakan amalan yang memiliki sejumlah keutamaan. Dalam salah satu hadits disebutkan, ada bacaan dzikir yang pahalanya setara memerdekakan sepuluh budak.

    Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar mengatakan, kalimat dzikir yang pahalanya sama dengan memerdekakan 10 orang budak ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah RA.

    Selain setara memerdekakan 10 budak, orang yang membaca dzikir ini akan diampuni dari keburukan dan dijadikan sebagai penangkal godaan setan.


    Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عِدْلَ عَشْرِ رِقَابِ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ، ومحِيَتْ عَنْهُ مِئَةٌ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْةٌ. قَالَ: وَمَنْ قَالَ الْيَوْمِ مِئَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

    Artinya: “Barang siapa mengucapkan kalimat, “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” dalam sehari sebanyak seratus kali, maka baginya pahala yang sama dengan memerdekakan sepuluh orang budak. Dan dicatatkan baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, serta kalimat tersebut baginya merupakan penangkal dari godaan setan sepanjang siang hari itu hingga petang harinya. Dan tiada seorang pun melakukan amal yang lebih baik dari apa yang dikerjakannya kecuali hanya seseorang yang melakukan amal lebih banyak darinya. Rasulullah pernah bersabda pula: Barang siapa mengucapkan, “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya,” dalam sehari sebanyak seratus kali, maka semua dosanya dihapuskan sekalipun banyaknya seperti buih laut.” (HR Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan dalam Kitab Muwatha’)

    Bacaan dzikir yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir.

    Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits mengenai keutamaan dzikir tersebut apabila dibaca sepuluh kali, yakni pahalanya setara dengan memerdekakan empat orang budak bani Ismail. Hadits ini berasal dari jalur Abu Ayyub Al-Anshari RA, bahwa Nabi SAW pernah bersabda,

    مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسِ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ

    Artinya: “Barang siapa yang mengucapkan kalimat, Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir (Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sebanyak sepuluh kali, maka seakan-akan ia memerdekakan empat orang budak dari keturunan Nabi Ismail AS.” (HR Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi)

    Kalimat Laa Ilaha Illallah Adalah Dzikir Paling Utama

    Dalam sejumlah riwayat dikatakan bahwa kalimat Laa Ilaha Illallah adalah lafaz dzikir yang paling utama. Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dalam kitabnya meriwayatkannya melalui Jabir ibnu Abdullah RA yang menceritakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّ

    Artinya: “Dzikir yang paling utama adalah kalimat Laa Ilaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).” (Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan)

    Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari menyebut bahwa perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah SWT dan orang yang tidak berzikir mengingat-Nya seperti orang yang hidup dan orang yang mati.

    Dzikir dapat dilakukan kapan pun, baik pada waktu pagi dan petang. Adapun, menurut sebuah hadits, Allah SWT begitu dekat dengan hamba-Nya pada sepertiga malam terakhir.

    Dari Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

    Artinya: “Tuhan kami, Maha Berkah dan Maha Tinggilah Dia, yang turun setiap malam ke langit yang terdekat di saat sepertiga malam yang terakhir (dan) berfirman: ‘Adakah seseorang yang menyeru kepada-Ku sehingga Aku dapat mengabulkan doanya, yang memohon kepada-Ku sehingga Aku bisa memberinya, yang mohon ampunan kepada-Ku hingga aku bisa memaafkannya?’” (HR Bukhari dan Muslim)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com