Category: Doa Hadits

  • Doa Setelah Sholat Witir Lengkap dengan Tata Cara Pelaksanaannya


    Jakarta

    Sholat Witir merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Usai mendirikan sholat sunnah ini, Rasul SAW juga mengajarkan doa setelah sholat Witir yang dapat dibaca umat Islam.

    Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dalam Kitab Ash-Shalat menjelaskan sholat Witir adalah sunnah yang paling ditekankan (sunnah muakkad).

    Bahkan ada sebagian ulama yang menyebutkan bahwa hukum sholat Witir yaitu wajib. Meski demikian, Witir bukanlah sholat wajib. Jumhur ulama mengungkapkan Witir sebatas sholat sunnah yang begitu dianjurkan untuk dilaksanakan.


    Untuk waktu pelaksanaannya, sholat Witir bisa mulai dikerjakan setelah sholat Isya hingga sebelum terbit fajar. Jika seorang muslim meyakini bahwa dirinya mampu mengerjakan sholat Witir di akhir malam atau di sepertiga malam terakhir, maka itu merupakan waktu lebih utama baginya.

    Namun bila seseorang tidak yakin bisa melaksanakan Witir di sepertiga malam terakhir, maka baginya lebih baik mendirikan sholat Witir sebelum tidur.

    Adapun jumlah rakaat sholat Witir paling sedikitnya adalah satu rakaat, dan yang paling banyak sejumlah 11 atau 13 rakaat.

    Bagi detikers yang mau mendirikan sholat Witir tapi tidak tahu cara pelaksanaannya, simak tata cara dan doa setelah sholat Witir di uraian bawah ini.

    Tata Cara Pelaksanaan Sholat Witir

    Masih dari Kitab Ash-Shalat, cara pelaksanaan sholat Witir utamanya dilakukan per dua rakaat sejumlah rakaat Witir yang ingin dikerjakan. Baru kemudian melaksanakan sholat satu rakaat di akhir sebagai bilangan ganjil atau Witir penutupnya.

    Berikut tata cara sholat Witir per dua rakaat dan satu rakaat:

    Tata Cara Sholat Witir Dua Rakaat

    1. Berniat dalam hati, dengan bacaan; أَصَلَّى سُنَّةَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلَّهِ تَعَالَى. Latin: Ushalli sunnatal witri rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’aala. Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat sunnah Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
    2. Dimulai dengan takbiratul ihram, seraya mengucap “Allaahu Akbar”.
    3. Membaca Surat Al-Fatihah.
    4. Membaca Surat Al-Qur’an lainnya.
    5. Rukuk dengan tuma’ninah, sambil membaca doanya.
    6. I’tidal dengan tuma’ninah dan melafalkan doanya.
    7. Sujud pertama dengan tuma’ninah, sembari membaca doa.
    8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah, juga membaca doanya.
    9. Sujud kedua dengan tuma’ninah, dan membaca doa.
    10. Bangun atau berdiri untuk melanjutkan rakaat kedua.
    11. Rakaat kedua dilakukan dengan mulai membaca Surat Al-Fatihah hingga sujud kedua seperti urutan di atas.
    12. Kemudian duduk tasyahud akhir, dan membaca doanya.
    13. Terakhir salam dengan menoleh ke kanan dan kiri dengan membaca “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh”.

    Tata Cara Sholat Witir Satu Rakaat

    Setelah melakukan sholat per dua rakaat, kamu bisa lanjut melaksanakan sholat satu rakaat sebagai penutup Witir-nya. Berikut tata cara sholat Witir satu rakaat:

    1. Berniat dalam hati, dengan bacaan; أَصَلَّى سُنَّةَ الْوِتْرِ رَكْعَةَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اللَّهِ تَعَالَى. Latin: Ushali sunnatal witri rak’atan mustaqbilal qiblati lillaahi ta’aala. Artinya: “Saya berniat sholat sunnah Witir satu rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
    2. Dimulai dengan takbiratul ihram, seraya mengucap “Allaahu Akbar”.
    3. Membaca Surat Al-Fatihah.
    4. Membaca Surat Al-Qur’an lainnya.
    5. Rukuk dengan tuma’ninah, sambil membaca doanya.
    6. I’tidal dengan tuma’ninah dan melafalkan doanya.
    7. Sujud pertama dengan tuma’ninah, sembari membaca doa.
    8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah, juga membaca doanya.
    9. Sujud kedua dengan tuma’ninah, dan membaca doa.
    10. Lalu duduk tasyahud akhir, dan membaca doanya.
    11. Terakhir, salam.

    Doa Setelah Sholat Witir: Arab, Latin, dan Arti

    Setelah melaksanakan sholat Witir, berikut bacaan doa yang bisa detikers amalkan sebagaimana dikutip dari kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi:

    سُبْحَانَ المَلِكِ القُدَّوْسِ 3x

    سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ

    اللَّهُم إِنِّي أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوْذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِينًا قَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ. اللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيرَنَا يَا اللَّهُ يَا اللَّهُ يَا اللَّهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Latin: Subhaanal malikil qudduus 3x

    Subbuuhun qudduusun rabbunaa wa rabbul malaaikatu war ruuh

    Allahumma innii a’uudzu bi ridhaaka min sakhathika wa a’uudzu bi mu’aafaatika wa a’uudzu bika laa uhshii tsanaa-an ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘ala nafsika

    Allaahumma innaa nas-aluka iimaanan daa-iman. Wanas- aluka qalban khaasyi’an. Wanas-aluka ‘ilman naafi’an. Wanas-aluka yaqiinan shaadiqan. Wanas-aluka ‘amalan shaalihan. Wanas-aluka diinan qayyiman. Wanas-aluka khairan katsiiran. Wanas-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah. Wanas-aluka tamaamal ‘aafiyah. Wanas-alukasy syukra ‘alal ‘aafiyati, wanas-alukal ghinaa-a ‘anin naas. Allaahumma rabbanaa taqabbal minnaa shalaatanaa washiyaamanaa waqiyaamanaa watakhassyu’anaa watadharru’anaa wata’abbudanaa watammim taqshiiranaa yaa allaah yaa allaah yaa allaah yaa arhamar raahimiin. Wasallallaahu ‘alaa khairi khalqihii muhammadin wa ‘alaa aalihii wasahbihii ajma’iina walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiina

    Artinya: “Maha Suci Raja yang Maha Kudus 3x.”

    “Maha Suci Tuhan kami, Tuhan segala malaikat dan roh.”

    “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada ridha-Mu dari murka-Mu, dan aku berlindung kepada ampunan-Mu dari siksaan-Mu, serta aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian kepada-Mu, Engkau adalah seperti pujian yang Engkau tujukan untuk diri-Mu.”

    “Ya Allah Tuhan kami, kami memohon kepada-Mu iman yang kekal, dan kami memohon kepada-Mu agar hati kami khusyuk, dan kami mohon kepada-Mu berikan ilmu yang bermanfaat, tetapkan keyakinan kami, amal yang sholeh, tetapkan agama Islam di hati kami, limpahkan kebaikan, ampunilah kami, berilah kesehatan, dan rasa cukup kepada kami. Ya Allah Tuhan kami, terimalah sholat kami, puasa kami, ruku’ kami, khusyuk kami, dan pengabdian kami. Sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama sholat, ya Allah, ya Allah, ya Allah, Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang! Limpahkanlah kesejahteraan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan kepada semua sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

    Doa sholat Witir di atas berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud [1423] dan Ibnu Sinni [711] dari sahabat Ubay bin Ka’ab. Serta berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud [1427], Tirmidzi [3561], dan Nasa’i [3/249] dari sahabat Ali bin Abi Thalib.

    Demikian dzikir dan doa setelah sholat Witir lengkap dengan tata cara pelaksanaan sholat Witir.

    (fds/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa sebelum Adzan dan Artinya, Bolehkah Diamalkan?


    Jakarta

    Sebagian umat Islam mungkin masih ada yang bingung dengan dasar hukum pengamalan membaca doa sebelum adzan. Apakah sah-sah saja dilakukan oleh seorang muazin?

    Dikutip dari buku Terbakar Kumandang Azan tulisan Tusni A. Ghazali, terdapat sebuah hadits dalam Kitab Sunan Abu Dawud yang bercerita tentang Ummu Zaid bin Tsabit, seorang wanita suku Bani Najjar.

    Ia memiliki rumah tertinggi di sekitar Masjid Nabawi di Madinah. Setiap pagi menjelang subuh, Bilal RA, muazin Rasulullah SAW, naik ke rumahnya dan menunggu terbitnya fajar.


    Setelah melihat fajar terbit, Bilal RA membaca doa, “Ya Allah, saya memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu agar orang-orang Quraisy dapat menegakkan agama-Mu.” Doa ini selalu dibaca oleh Bilal sebelum mengumandangkan azan subuh, dan dia tidak pernah meninggalkannya.

    Imam Abu Dawud menyatakan bahwa hadits ini shahih, dan menurut ulama hadis, kisah ini dapat menjadi dalil kebolehan melafalkan doa sebelum adzan.

    Sebab, jika membaca doa seperti yang dilakukan oleh Bilal RA dianggap salah atau bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, tentu Beliau akan menegur Bilal RA. Namun, dalam kisah ini, Rasulullah SAW tidak mengingkari atau menyalahkan Bilal RA.

    Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Bilal RA dibolehkan oleh Rasulullah SAW. Adapun bacaan doa yang dapat diamalkan sebelum adzan dikutip dari buku Panduan Praktik Ibadah tulisan Yudi Irfan Daniel dan Shabri Shaleh Anwar adalah sebagai berikut.

    Doa sebelum Adzan dalam Arab, Latin, dan Artinya

    سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلهَ إلا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللهُ يَا كَرِيم.

    Arab Latin: “Subhanallah walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin. Allahumma ya Karim.”

    Artinya: “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga junjungan kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, wahai Yang Maha Mulia.”

    Ibnu Hajar Al Haitsami dalam Kitab Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubro menambahkan, tidak ada anjuran langsung dari Rasulullah SAW untuk bersholawat sebelum adzan. Tidak pula para tokoh menyebutkan hal itu sebagai sesuatu yang disunnahkan secara khusus.

    Sebaliknya yang lebih diutamakan pengamalannya adalah membaca doa setelah adzan. Bahkan waktu antara adzan dan iqamah dianggap sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk seorang muslim memanjatkan doa.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Terhindar dari Fitnah Dajjal Sesuai Sunnah Rasulullah SAW


    Jakarta

    Ada doa yang bisa dibaca agar terhindar dari fitnah Dajjal. Doa ini sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW dan selalu dibaca ketika beliau masih hidup.

    Banyak tanda-tanda yang bermunculan jelang datangnya kiamat. Termasuk salah satunya yakni datangnya Dajjal.

    Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah akan tersisa dari dunia ini melainkan cobaan dan fitnah.” (HR Ibnu Majah).


    Mengutip buku Setapak Akhir Zaman oleh Thoriq Aziz Jayana dijelaskan bahwa fitnah Dajjal adalah fitnah besar yang dapat merusak tatanan kehidupan manusia, termasuk juga iman seseorang. Rasulullah SAW bahkan telah mengingatkan bahwa Dajjal adalah cobaan yang sangat besar.

    “Semenjak Adam diciptakan sampai datangnya hari Kiamat, tidak ada cobaan yang lebih besar daripada Dajjal.” (HR Imam Ahmad)

    Doa Terhindar dari Fitnah Dajjal

    Untuk menghindari fitnah Dajjal, ada beberapa doa yang dapat dibaca. Berikut doanya:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

    Latin-Arab : Allahumma inni audzubika min ‘adzabi jahannama wa min adzabil qabri wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid dajjal.

    Artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-masikh ad-Dajjal” (Hadits riwayat Imam Muslim dari Anas dan Abu Hurairah).

    Kemudian bisa dilanjutkan dengan membaca doa sebagaimana dianjurkan Abu Hurairah RA setelah selesai membaca bacaan dalam tahiyat akhir. Doa ini ditujukan untuk memohon perlindungan pada Allah SWT dari siksa neraka, azab kubur, bencana, dan fitnah Dajjal.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Latin: Rabbana atinaa fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami kebaikan dalam kehidupan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksaan api neraka,” (HR Bukhari).

    Surat Al Kahfi ayat 1-10

    Selain dua doa tersebut, umat muslim juga dapat membaca 10 ayat pertama Surat Al Kahfi.

    Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa di antara kalian yang mendapati zamannya Dajjal, maka bacalah awal-awal surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim)

    Bacaan lengkap surah Al Kahfi ayat 1-10

    1. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ

    Latin: al-ḥamdu lillāhillażī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba wa lam yaj’al lahụ ‘iwajā

    Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok;

    2. قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

    Latin: qayyimal liyunżira ba`san syadīdam mil ladun-hu wa yubasysyiral-mu`minīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran ḥasanā

    Artinya: sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik,

    3. مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

    Latin: mākiṡīna fīhi abadā

    Artinya: mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

    4. وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

    Latin: wa yunżirallażīna qāluttakhażallāhu waladā

    Artinya: Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.”

    5. مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

    Latin: mā lahum bihī min ‘ilmiw wa lā li`ābā`ihim, kaburat kalimatan takhruju min afwāhihim, iy yaqụlụna illā każibā

    Artinya: Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.

    6. فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا

    Latin: fa la’allaka bākhi’un nafsaka ‘alā āṡārihim il lam yu`minụ bihāżal-ḥadīṡi asafā

    Artinya: Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).

    7. اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

    Latin: innā ja’alnā mā ‘alal-arḍi zīnatal lahā linabluwahum ayyuhum aḥsanu ‘amalā

    Artinya: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.

    8. وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

    Latin: wa innā lajā’ilụna mā ‘alaihā ṣa’īdan juruzā

    Artinya: Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.

    9. اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا

    Latin: am ḥasibta anna aṣ-ḥābal-kahfi war-raqīmi kānụ min āyātinā ‘ajabā

    Artinya: Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?

    10. اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا

    Latin: iż awal-fityatu ilal-kahfi fa qālụ rabbanā ātinā mil ladungka raḥmataw wa hayyi` lanā min amrinā rasyadā

    Artinya: (Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Baca QS Al Kahfi lebih lengkap DI SINI-https://www.detik.com/hikmah/quran-online/al-kahf)

    Doa Memohon agar Tidak Dihinakan saat Kiamat

    Doa ini termaktub dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 87-89

    وَلَا تُخْزِنِى يَوْمَ يُبْعَثُونَ . يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

    Latin: Wa lā tukhzinī yauma yub’aṡụn. Yauma lā yanfa’u māluw wa lā banụn. Illā man atallāha biqalbin salīm.

    Artinya: “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

    (dvs/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Susunan Bacaan Tahlil Singkat: Arab, Latin, dan Artinya


    Jakarta

    Bacaan tahlil mungkin sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Pasalnya, bacaan-bacaan ini kerap diamalkan dalam berbagai situasi, seperti pada malam Jumat, mendoakan orang yang telah meninggal dunia, hingga dalam menyambut kepemilikan rumah baru.

    HM. Hanif Muslih dalam buku Kesahihan Dalil Tahlil Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadis menjelaskan tahlil atau tahlilan sudah menjadi tradisi bagi masyarakat luas di Indonesia. Terlebih bagi muslim yang tinggal di Pulau Jawa lantaran sering melakukan tahlilan dalam berbagai kondisi atau acara.

    Meski bacaan tahlil dibaca dalam sejumlah situasi, umumnya orang-orang mengadakan tahlilan untuk mendoakan muslim yang telah wafat.


    Demikian yang dimaksud tahlil di sini, adalah bacaan-bacaan tertentu yang mengandung banyak keutamaan (fadilah). Di mana pahala dari membaca bacaan tersebut dihadiahkan kepada muslim yang telah wafat.

    Menukil buku Hidangan Ilahi, M. Quraish Shihab turut mengemukakan bahwa tahlil berisi kumpulan doa yang bersumber dari ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW yang diperuntukkan sebagai doa bagi orang yang telah meninggal dunia.

    Selain ditujukan untuk mendoakan muslim yang wafat, masyarakat juga membaca tahlil di berbagai situasi dan acara. Tahlilan dalam kondisi ini dimaksudkan ingin mengambil keberkahan dari bacaan tahlil yang dilafalkan. Berkah yang diambil diharapkan sampai kepada tujuan diadakannya tahlil itu sendiri.

    Seperti mengadakan tahlil dalam rangka memiliki rumah baru. Di mana berharap rumah baru yang dimiliki memperoleh keberkahan Allah SWT.

    Sebagaimana penjelasan di atas, bacaan tahlil berasal dari ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang termuat dalam hadits Nabi SAW. Simak uraian di bawah untuk mengetahui bacaan tahlil yang biasa dibaca.

    Susunan Doa dan Bacaan Tahlil

    Mengutip buku Hidangan Ilahi dan laman NU Online, berikut susunan bacaan dan doa tahlil yang bisa diamalkan:

    1. Pengantar Surat Al-Fatihah

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – 1 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – 2 الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – 3 مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – 4 اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ – 5 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ – 6 صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – 7

    Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Shirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    2. Surat Al-Ikhlas (3X)

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ – 1 اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ – 2 لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ – 3 وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ – 4

    Latin: Qul huwallāhu aḥad(un). Allāhuṣ-ṣamad(u). Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad(un).

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

    3. Surat Al-Falaq

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ – 1 مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ- 2 وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ – 3 وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ – 4 وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ – 5

    Latin: Qul a’ụżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad.

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

    4. Surat An-Nas

    قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ- 1 مَلِكِ النَّاسِ – 2 إِلَهِ النَّاسِ -3 مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاس – 4 الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – 5 مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ – 6

    Latin: Qul a’ụżu birabbin-nās. Malikin-nās. Ilāhin-nās. Min syarril-waswāsil-khannās. Allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās. Minal-jinnati wan-nās.

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

    5. Surat Al-Fatihah

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – 1 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – 2 الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – 3 مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – 4 اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ – 5 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ – 6 صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – 7

    Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Shirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    6. Surat Al-Baqarah Ayat 1-5

    الۤمّۤ ۚ – 1 ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ – 2 الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ – 3 وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ – 4 اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ – 5

    Latin: Alif lām mīm. Żālikal-kitābu lā raiba fīh(i), hudal lil-muttaqīn(a). Al-lażīna yu’minūna bil-gaibi wa yuqīmūnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn(a). Wal-lażīna yu’minūna bimā unzila ilaika wa mā unzila min qablik(a), wabil-ākhirati hum yūqinūn(a). Ulā’ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā’ika humul-mufliḥūn(a).

    Artinya: “Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

    7. Surat Al-Baqarah Ayat 163

    وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ – 163

    Latin: Wa ilāhukum ilāhuw wāḥid(un), lā ilāha illā huwar-raḥmānur-raḥīm(u).

    Artinya: “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

    8. Surat Al-Baqarah Ayat 255 (Ayat Kursi)

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ – 255

    Latin: Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm.

    Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

    9. Surat Al-Baqarah Ayat 284-286

    لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ ۗ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ – 284 اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ – 285 لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ -286

    Latin: Lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa in tubdū mā fī anfusikum au tukhfūhu yuḥāsibkum bihillāh(u), fayagfiru limay yasyā’u wa yu’ażżibu may yasyā'(u), wallāhu ‘alā kulli syai’in qadīr(un). Āmanar-rasūlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu’minūn(a), kullun āmana billāhi wa malā’ikatihī wa kutubihī wa rusulih(ī), lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih(ī), wa qālū sami’nā wa aṭa’nā, gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr(u). Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu’ākhiżnā in nasīnā au akhṭa’nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahū ‘alal-lażīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih(ī), wa’fu ‘annā, wagfir lanā, warḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal qaumil-kāfirīn(a).

    Artinya: “Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.” Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”

    10. Istighfar (3X)

    اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ

    Latin: Astaghfirullaahal ‘adzhiim

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung.”

    الَّذِيْ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

    11. Bacaan Hadits Keutamaan Tahlil

    اَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ اَنَّهُ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ، حَيٌّ مَوْجُوْدٌ

    Latin: Afdhaludz dzikri fa’lam annahu laa ilaaha illallaah, hayyun maujuud

    Artinya: “Sebaik-baik dzikir-ketahuilah-adalah lafal ‘La ilāha illallāh’, tiada tuhan selain Allah, Dzat yang hidup dan ujud.”

    لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ، حَيٌّ مَعْبُوْدٌ

    Latin: Laa ilaaha illallaahu hayyun ma’buud.

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah, dzat yang hidup dan disembah.”

    لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ، حَىٌّ بَاقٍ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ

    Latin: Laa ilaaha illallaahu hayyun baaqil ladzii laa yamuut.

    Artinya, “Tiada tuhan selain Allah, dzat kekal yang takkan mati.”

    12. Tahlil (100X)

    لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ

    Latin: Laa ilaaha illallaah

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah.”

    13. Dua Kalimat Syahadat

    لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Latin: Laa ilaaha illallaahu muhammadar rasuulullahi shallallaahu ‘alaihi wa sallama.

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.”

    14. Sholawat Nabi (3X)

    اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

    Latin: Allahumma shalli ‘ala sayyidinaa muhammad, Allahumma shalli ‘alaihi wa sallim.

    Artinya, “Ya Allah, limpahkan shalawat untuk Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam untuknya (Nabi Muhammad SAW). (2 kali)”

    اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

    Latin: Allahumma shalli ‘ala sayyidinaa muhammad yaa rabbi shalli ‘alaihi wa sallim.

    Artinya, “Ya Allah, limpahkan shalawat untuknya (Nabi Muhammad SAW). Tuhanku, limpahkan shalawat dan salam untuknya (Nabi Muhammad SAW).”

    15. Tasbih

    سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ 10X

    Latin: Subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahi wa bihamdihi.

    Artinya: “Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya. Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya.”

    سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

    Latin: Subhaanallaahi wa bihamdihi, subhaanallaahil ‘adzhiimi wa bihamdihi.

    Artinya: “Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya. Maha suci Allah yang maha agung dan dengan memuji-Nya.”

    16. Sholawat Nabi (3X)

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ

    Latin: Alahumma shalli ‘alaa habiibika sayyidinaa muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim ajma’iin.

    Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah rahmat dan kesejahteraan untuk kekasih-Mu, yaitu pemimpin kami, Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya semua.”

    17. Doa Tahlil

    أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدَا الشَّاكِرِينَ حَمْدَ النَّاعِمِينَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِحَلالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اللهُمَّ صَلّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّلهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَا اسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةٌ وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةٌ وَبَرَكَةٌ شَامِلَةٌ وَصَدَقَةٌ مُتَقَبَّلَةٌ نُقَدِّمُ ذَلِكَ وَنُهْدِيهِ إِلَى حَضَرَاتِ حَبِينَا وَشَفِيعِنَا وَقُرَّة أَعْيُنِنَا سَيِّدنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ وَإِلَى جَمِيعِ إِخْوَانِهِ مِنَ الأَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْعُلَمَاءِ وَالْعَامِلِينَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ وَالْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيلِ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمَلَائِكَة الْمُقَرَّبِينَ ثُمَّ إِلَى جَمِيعِ أَهْلِ القُبُوْرِ مِنَ المسلمينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِينَ والْمُؤْمِنَات مِنْ مَشارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرْهَا وَبَحْرِهَا خُصُوصًا إِلَى أَبَاتِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوصًا إِلَى مَنِ اجْتَمَعْنَا هُهُنَا بِسَبَبِهِ وَلأَجْلِهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيْنَا وميتنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغَيْرنَا وَكَبِيْرنَا وَذَكَرنَا وَأَنْتَانَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيْمَانِ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةٌ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا أَحْرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُل خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرِّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي كُل خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرِّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ . اَلْفَاتِحَةُ

    Latin: A’uudzubillaahiminasyaithaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Hamdan syaakriin, hamdan naa’imiin. Hamdan yuwaafii ni’amahu wayukaafi`u maziidah. Yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yanbagii lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthaanik. Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘ala aali sayyidinaa Muhammad. Allaahumma taqobbal wa aushil tsawaba maa qoro’naahu minal qur’aanil ‘azhiimi wamaa hallalnaa wa maa sabbahnaa wa mastaghfarnaa wa maa shollainaa ‘alaa sayyidinaa muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallama hadiyyatan waashilatan wa rohmatan naazilatan wa barokatan syaamilatan ilaa hadhrotin habiibinaa wa syafii’inaa wa qurroti a’yuninaa sayyidinaa wa maulaanaa muhammadin shollallaahu ‘alaihi wa sallam, wa ilaa jamii’i ikhwaanihii minal anbiyaa’i walmursaliina wal auliyaa’i wasy-syuhadaa’i wash-shoolihiina wash shohaabati wattaabi’iina wal ‘ulamaa’il ‘aalimiina wal mushonnifiinal mukhlishiina wa jamii’il mujaahidiina fii sabiilillaahi robbil’aalamiin, wa malaa’ikatil muqorrobiin. tsumma ilaa jamii’i ahlil qubuur minal muslimiina walmuslimaati walmu`miniina walmu`minaati min masyaariqil ardhi wamaghaaribihaa barrihaa wa bahrihaa, khushushan abaa`naa wa`ummahaatinaa wa`ajdaadanaa wajaddaatinaa wanakhushu khushushan manijtama’naa hahunaa bisababihi wali ajlihi. Allaahummagh firlahum warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum. Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaa ibinaa washaghiirinaa wakabiirinaa wadzakarinaa wauntsaanaa Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa-‘ahyihi ‘alal islaam, waman tawafaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaan. Allaahumma ashlih lanaa diinanal ladzii huwa ‘ishmatu amrinaa, wa ashlih lanaa dun-yaanal latii fiihaa ma’aasyunaa, wa ashlih lanaa akhiratanaal latii ilaihaa ma’aadunaa, waj-‘alil hayaata ziyaadatan lanaa fii kulli khairin, waj-‘alil mauta raahatan lanaa min kulli syarrin. Rabbanaa aatinaa fiddun- yaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar. Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam. Subhaanaka rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wasalaamun ‘alal mursaliin, walhamdu lillaahir rabbil ‘aalamiin. Alfaatihah.

    Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah. Tuhan semesta alam. Sebagaimana orang-orang yang bersyukur, dan orang-orang yang memperoleh nikmat sama memuji, dengan puji yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana apa yang patut bagi keluhuran Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu. Ya Allah, berilah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami, Nabi Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala Al-Qur’an yang kami baca, tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan sholawat kami kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadiah yang menjadi penyambung, sebagai rahmat yang turun dan sebagai berkah yang menyebar kepada kekasih kami, penolong kami dan buah hati kami, pemuka dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad SAW, juga kepada seluruh sahabat baginda dalam kalangan para Nabi dan Rasul, para wali, para syuhada, orang soleh, para sahabat, para tabi’in, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan orang yang berjihad di jalan Allah Tuhan semesta alam, serta para malaikat yang selalu beribadah. Kemudian juga kepada seluruh ahli kubur dari kaum muslimin, muslimat, mukminin, mukminat dari belahan bumi sebelah timur dan barat, baik yang di daratan maupun yang di lautan, khususnya, kepada bapak dan ibu kami, kakek dan nenek kami, dan kepada orang yang menyebabkan kami semua dapat berkumpul di sini dan untuk keperluannya. Ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka, selamatkanlah dan maafkanlah kesalahan mereka. Ya Allah, ampunilah yang hidup di antara kami dan yang telah wafat, yang hadir (di tempat ini) dan yang tidak hadir, yang kecil maupun yang besar, laki- laki maupun perempuan. Ya Allah, siapa yang hidup di antara kami, maka hidupkanlah ia dalam keislaman dan yang wafat, wafatkanlah dalam keadaan iman. Ya Allah, luruskanlah kehidupan beragama kami, karena itulah pegangan kami dalam segala persoalan, sejahterakanlah dunia kami, karena di sanalah kehidupan kami (serta sarana pengabdian kami). Bahagiakanlah kehidupan akhirat kami karena ke sanalah tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan (kami) bersinambung di dalamnya segala macam kebajikan, dan kematian kami (kelak setelah usia yang panjang) akhir dari segala petaka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka. Semoga rahmat dan kesejahteraan selalu tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, para keluarga, dan sahabat beliau. Maha Suci Tuhanku, Tuhan yang bersih dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Dan kesejahteraan semoga senantiasa dilimpahkan kepada para utusan Allah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Baca Surat Al-Fatihah)

    18. Surat Al-Fatihah

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – 1 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – 2 الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – 3 مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – 4 اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ – 5 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ – 6 صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – 7

    Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Shirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    Demikian susunan doa dan bacaan tahlil yang bisa dibaca saat tahlilan.

    (fds/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Robbi Habli Minassholihin, Doa Nabi Ibrahim agar Dapat Keturunan


    Jakarta

    Robbi habli minassholihin adalah satu bacaan doa yang dipanjatkan oleh salah seorang nabi. Doa ini berasal dari Nabi Ibrahim AS ketika ia meminta kepada Allah SWT agar diberikan keturunan yang saleh.

    Bacaan doa tersebut dinukil dari salah satu firman-Nya yakni Al-Qur’an surah As-Saffat ayat ke 100,

    رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ


    Arab Latin: “Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn(a).”

    Artinya: (Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”

    Dikutip dari Tafsir Quran Kemenag, ayat ini menggambarkan kisah Nabi Ibrahim AS yang memohon dengan tulus kepada Tuhan untuk diberikan seorang anak yang saleh, taat, serta bisa menjadi pendampingnya dalam menyampaikan dakwah dan menghadapi kesulitan perjalanan hidup.

    Bagi Nabi Ibrahim AS, kehadiran anak menjadi hal istimewa karena dapat menggantikan keluarga dan kaum yang telah ditinggalkannya.

    Setelah doa yang tulus dan penuh harapannya, Allah SWT dengan penuh rahmat mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim AS. Berita gembira datang bahwa Allah SWT akan memberikan anugerah seorang putra yang memiliki sifat kesabaran yang luar biasa.

    Ketika putra tersebut tumbuh dewasa, sifat sabar yang sangat diinginkan Nabi Ibrahim AS pun mulai muncul. Memang, pada masa kanak-kanak jarang kita temui sifat-sifat seperti kesabaran, ketabahan, dan ketenangan batin. Namun, saat putranya mencapai masa baligh, kelebihan sifat tersebut semakin tampak nyata.

    Anak remaja yang dimaksud adalah Nabi Ismail AS, putra pertama Nabi Ibrahim AS dari Hajar, istri kedua beliau. Nabi Ismail AS tumbuh menjadi sosok pemuda yang sabar dan tegar, siap menjalani kehidupan dengan ketabahan hati yang luar biasa.

    Kedewasaannya dan dedikasinya dalam menyebarkan dakwah mengikuti jejak ayahnya, menjadikannya sosok yang penuh inspirasi bagi muslim.

    Nabi Ibrahim AS, tak hanya memiliki Nabi Ismail AS, namun juga memiliki putra kedua bernama Nabi Ishak AS. Nabi Ishak AS lahir dari istri pertamanya, Sarah.

    Kehadiran kedua putranya ini menjadi berkah bagi Nabi Ibrahim AS dan keluarganya, serta menjadi bukti nyata atas kemurahan Allah SWT dalam mengabulkan doa hamba-Nya yang tulus.

    Selain doa meminta keturunan yang saleh dari contoh doa Nabi Ibrahim AS di atas, terdapat beberapa doa lain yang dapat muslim amalkan. Adapun beberapa doa tersebut adalah sebagai berikut yang dikutip dari buku Berdoa dengan Ayat Al-Qur’an: Indahnya Memanjatkan Permohonan Dengan Bahasa Tuhan oleh M. Mas’udi Fathurrohman.

    Doa Memohon Diberikan Keturunan yang Saleh dan Baik

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُن وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    Arab Latin: “Robbanâ hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyâtinâ qurrota a’yunin waj’alnâ lil muttaqîna imâma”

    Artinya: “”… Ya, Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan: 74)

    Lalu ada doa lain yaitu,

    رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةٌ إنك سَمِيعُ الدُّعَاءِ

    Arab Latin: “Robbi hab li min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka sami’ud du’âi”

    Artinya: “… Ya, Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS Ali Imran: 38)

    Demikian pembahasan mengenai, “Robbi habli minassholihin,” atau bacaan doa Nabi Ibrahim AS untuk memohon keturunan yang sholeh. Semoga bermanfaat ya detikers!

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Aqiqah untuk Anak Laki-laki dan Hikmah Pelaksanaannya


    Jakarta

    Aqiqah merupakan sembelihan atas nama bayi yang dilahirkan. Istilah aqiqah ini dimaksudkan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.

    Mengutip dari buku Fikih Sunnah susunan Sayyid Sabiq, secara bahasa makna aqiqah ialah menyembelih atau memotong. Hukum dari pelaksanaan aqiqah sendiri ialah sunnah muakkad bagi orang tua yang memiliki anak, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda:

    “Seorang anak laki-laki itu tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, pada hari itu ia diberi nama dan dicukur rambutnya.” (HR Tirmidzi)


    Hewan yang disembelih untuk aqiqah bisa berupa kambing, domba atau biri-biri. Bagi anak laki-laki disyariatkan dua ekor kambing, sementara anak perempuan seekor kambing.

    Adapun, terkait waktu pelaksanaan aqiqah berlaku bagi anak kecil saja. Namun, sebagian ulama berpendapat aqiqah juga boleh dilakukan setelah orang tersebut dewasa, ketentuan ini mengacu pada sebuah hadits dari Anas RA yang berbunyi,

    “Sesungguhnya Rasulullah SAW mengaqiqahkan dirinya setelah diangkat menjadi Nabi (setelah umur 40 tahun).” (HR Baihaqi)

    Ketika aqiqah berlangsung, ada doa yang bisa dipanjatkan bagi orang tua maupun wali dari sang bayi. Apa saja? Berikut bacaannya seperti dinukil dari buku Panduan Muslim Sehari-hari oleh Dr KH M Hamdan Rasyid MA dan Saiful Hadi El-Sutha.

    Bacaan Doa Aqiqah untuk Anak Laki-laki

    …. بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] هَذِهِ عَقِيْقَةُ

    Arab latin: Bismillâhi wallâhu akbar allahumma minka wa laka hadzihi ‘aqiqatu (sebutkan nama bayi yang hendak dilakukan aqiqah)

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, milikmulah hewan aqiqah ini. Inilah aqiqahnya (sebutkan nama bayi yang hendak dilakukan aqiqah),”

    Di samping itu, bacaan doa aqiqah anak laki-laki sesuai sunnah lain melalui niatnya yang dapat dilafalkan yakni di antaranya:

    … اللهم لك وإليك عقيقة

    Arab latin: Allahumma laka wailaika ‘aqiqatu

    Artinya: “Ya Allah, milik-Mu dan untuk-Mulah aqiqah (nama bayi yang hendak dilakukan aqiqah),”

    Hikmah Pelaksanaan Aqiqah

    Merangkum dari arsip detikHikmah, ada sejumlah hikmah yang diperoleh dari pelaksanaan aqiqah. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Samurah bin Jundub, ia berkata Rasulullah SAW bersabda:

    “Setiap anak yang dilahirkan tergantung pada aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ketujuhnya, sementara dia dicukur dan diberi nama.” (HR Abu Dawud)

    Maksud dari hadits tersebut ialah pertumbuhan dan perlindungan yang baik pada anak tergantung makna aqiqah yang dimaksud. Dengan demikian, alangkah baiknya untuk menyegerakan aqiqah dengan mengharap doa kebaikan dan ridha Allah SWT.

    Selain itu, pada hadits lainnya yang diriwayatkan dari Salman bin Amir adh-Dhabbi, Rasulullah SAW bersabda:

    “Anak lahir bersama aqiqahnya. Maka, tumpahkanlah darah untuknya dan hilangkanlah gangguan darinya.” (HR Bukhari)

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Doa agar Terhindar dari Siksa Kubur, Baca usai Tasyahud Akhir


    Jakarta

    Doa agar dihindarkan dari siksa kubur dapat diamalkan umat Islam sebagai bekal kelak di alam kubur. Menurut sejumlah riwayat, siksa kubur adalah hukuman dari Allah SWT yang akan dihadapi manusia ketika masuk ke alam barzah setelah meninggal dunia.

    Dikutip dari buku Ketika Ruh Dikembalikan karya Rizem Aizid, siksa kubur itu diperuntukkan bagi mereka yang selama hidup di dunia telah berbuat zalim dan tidak mau mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.

    Dalil yang Menjelaskan Pedihnya Siksa Kubur

    Pedihnya siksa kubur turut ditegaskan dalam Al-Qur’an, sebagaimana termaktub dalam surah Al An’am ayat 93, Allah SWT berfirman,


    وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ

    Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyukan kepada saya,’ padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata, ‘Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.’ Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu’ di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”

    Sementara itu, dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW pernah bersabda,

    الْقَبْرُ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أشَدُّ مِنْه رَوَاهُ التَّرْمُذِيُّ

    Artinya: “Kuburan ialah tempat pertama dari beberapa tempat akhirat, jika ia selamat darinya, maka sesudahnya lebih mudah darinya, dan jika tidak selamat, maka sesudahnya lebih berat darinya.” (HR. Tirmidzi)

    Maka dari itu, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar terhindar dari pedihnya siksa kubur.

    Doa agar Dihindarkan dari Siksa Kubur

    Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu Juz 2 menyebutkan doa yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dibaca setelah membaca doa tasyahud akhir dalam salat agar terhindar dari siksa kubur.

    1. Bacaan Doa Versi Pertama

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Bacaan latin: Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami kebaikan dalam kehidupan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksaan api neraka,” (HR Bukhari dan Muslim)

    Doa tersebut dinukil berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah RA yang redaksinya berbunyi, “Jika kalian telah selesai membaca tasyahud akhir, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari empat perkara, dari siksa neraka Jahannam, dari azab kubur, dari bencana kehidupan dan kematian, dan dari bencana Dajjal.”

    2. Bacaan Doa Versi Kedua

    Bacaan doa agar dihindarkan dari siksa kubur kedua dinukil berdasarkan hadits dari Aisyah, istri Rasulullah SAW. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW dalam salatnya membaca doa:

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِجَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

    Bacaan latin: Allaahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naari jahannama wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjal

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Dajjal.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Membaca Surah Al Mulk sebelum Tidur

    Selain membaca doa tersebut di akhir salat, membaca surah Al Mulk sebelum tidur juga akan menghindarkan dari siksa kubur. Hal ini diterangkan dalam sebuah hadits sebagaimana dinukil Mahir Ahmad Ash-Shufiy dalam kitabnya, Al-Maut wa ‘Alam Al-Barzakh.

    Ia menceritakan, “Salah seorang sahabat Rasulullah SAW memasang kemah di atas kuburan karena dia tidak menyangka tempat tersebut tanah kuburan.

    Tiba-tiba dia mendengar dari dalam kuburan ada yang membaca surah Al Mulk sampai selesai. Maka datanglah dia kepada Nabi SAW untuk menghadap seraya bertanya, ‘Ya Rasulullah, aku memasang kemahku pada satu kuburan, aku tidak menyangka jika di sana terdapat kuburan, ternyata kuburan tersebut membaca surah Al Mulk hingga selesai.’

    Kemudian Nabi SAW bersabda, “Itu surat Al Mulk yang dapat menjaga pembacanya dari siksa kubur.” (HR Tirmidzi. Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah RA tentang keutamaan surat Al Mulk sebagai penyelamat siksa kubur dan ia mengatakannya hasan)

    Abdullah bin Mas’ud RA juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    من قَرَأَ ( تبَارك الَّذِي بِيَدِهِ الْملك ) كل لَيْلَة مَنعه الله بهَا من عَذَاب الْقَبْر

    Artinya: “Siapa yang membaca surah Al Mulk setiap malam, Allah SWT akan menghindarkannya dari siksa kubur dengan surat tersebut.” (HR An Nasa’i)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Sholat Hajat agar Terkabul dan Waktu Mustajabnya


    Jakarta

    Doa setelah sholat hajat bisa diamalkan muslim agar keinginannya cepat terkabul. Sholat hajat adalah ibadah yang dilakukan ketika menginginkan sesuatu.

    Arif Rahman, dalam bukunya yang berjudul Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah SAW, menyatakan bahwa hukum sholat hajat adalah sunnah. Sholat ini dapat dilakukan kapan saja selama bukan pada waktu yang dilarang untuk melaksanakan sholat.

    Jumlah rakaat dalam sholat hajat minimal dua dan maksimal dua belas, dengan salam pada setiap dua rakaatnya. Anjuran untuk melaksanakan sholat hajat juga terdapat dalam sebuah riwayat, di mana Nabi SAW bersabda,


    “Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian sholat dua rakaat dengan sempurna, maka Allah akan memberikan apa yang ia minta cepat atau lambat.” (HR Ahmad

    Waktu Mustajab Sholat Hajat

    Berdasarkan kutipan dari buku Menjemput Berkah Lewat Shalat Hajat karya Abu Khansa Al-Harits, meskipun sholat hajat dapat dilakukan kapan saja, waktu yang paling baik untuk melaksanakannya adalah pada sepertiga malam terakhir. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW yang menyatakan,

    “Malam manakah yang paling didengar (dikabulkan oleh Allah SWT)?”, Rasulullah bersabda, “Pada tengah malam.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,

    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

    Artinya: “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman, ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku-kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Ku-berikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Ku-ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Niat dan Tata Cara Sholat Hajat

    Tata cara pelaksanaan sholat hajat sama seperti sholat-sholat sunnah lainnya. Sholat ini bisa dikerjakan secara sendiri. Berikut tata cara sholat hajat seperti dinukil dari buku Shalat Hajat karya Ghaida Halah Ikram.

    Mengutip buku Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik karya Titi Suwarni, berikut bacaan niat sholat hajat.

    اُصَلِّى سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

    Ushollii sunnatal haajati rok’aataini lillahi ta’ala

    Artinya: “Aku berniat sholat hajat, dua rakaat, karena Allah Ta’ala.”

    • Takbiratul ihram (takbir pembuka).
    • Membaca doa iftitah (doa pembuka).
    • Membaca surat Al Fatihah.
    • Membaca salah satu surah di dalam Al-Qur’an.
    • Melakukan rukuk.
    • I’tidal (berdiri tegak setelah rukuk).
    • Sujud (sujud pertama).
    • Duduk di antara dua sujud.
    • Sujud kedua.
    • Bangkit dan lakukan gerakan rakaat kedua seperti rakaat pertama.
    • Duduk tasyahud akhir.
    • Salam.

    Jika mengerjakan empat rakaat dengan satu salam, maka setelah dua rakaat langsung berdiri tanpa memakai tasyahud awal dan melanjutkan rakaat ketiga dan keempat hingga salam.

    Umat Islam bisa membaca doa setelah sholat hajat agar Allah SWT mengabulkan apa yang diminta. Berikut doa setelah sholat hajat sebagaimana dinukil dari buku Doa-Doa Mustajabah tulisan Abu Qalbina.

    Doa setelah Sholat Hajat

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْم ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Arab Latin: La ilaha illallahul halimul karim. Subhanallahi rabbil ‘arsyil ‘azhim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. As’aluka mujibati rahmatik, wa ‘aza’ima maghfiratik, wal ghanimata min kulli birrin, was salamata min kulli itsmin. La tada’ li dzanban illa ghafartah, wa la hamman illa farrajtah, wa la hajatan hiya laka ridhan illa qadhaitaha ya arhamar rahimin

    Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Tuhan penguasa singgasana yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku mohon kepada-Mu segala hal yang bisa menghadirkan rahmat-Mu dan dorongan kuat untuk mendapatkan ampunan-Mu, luapan segala kebajikan, dan keselamatan dari setiap dosa. Jangan biarkan dosa menghampiriku kecuali Engkau mengampuninya, jangan biarkan kesedihan menghinggapiku kecuali Engkau memberikan jalan keluarnya, dan tiada suatu hajat yang Engkau ridhai kecuali Engkau memenuhinya, wahai Zat yang Maha Kasih di antara para pengasih.”

    Doa setelah sholat hajat tersebut bisa diawali dengan membaca istighfar 100 kali atau minimal 33 kali kemudian dilanjutkan membaca sholawat Nabi SAW dengan jumlah yang sama, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Ta’Jul Jamil Lil Ushul.

    Sementara itu, dalam Kitab Jami’ al-Tirmidzi terdapat hadits dari Abu Hurairah RA yang menyebut bahwa ketika Nabi SAW risau dalam sebuah persoalan, beliau menengadah ke langit dan berdoa dengan sungguh-sungguh, beliau SAW mengucap,

    يَاحَيُّ يَا قَيُّومُ

    Ya Hayy ya Qayyum

    Artinya: “Wahai Sang Maha Hidup dan Sang Maha Mandiri.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Memohon Hujan Berhenti: Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Ada bacaan doa yang bisa dipanjatkan agar hujan berhenti atau reda. Hujan sendiri tergolong sebagai rahmat yang Allah SWT berikan.

    Namun, hujan yang turun dengan deras dan terus-menerus tak jarang membuat orang khawatir. Sebab, hujan juga bisa jadi pemicu musibah seperti banjir, terlebih juga disertai oleh angin kencang.

    Terkait hujan, Allah SWT menyebutkan dalam surat An Nahl ayat 10.


    هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ۖ لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

    Artinya: “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu,”

    Selain itu, dalam surat Az Zukhruf ayat 11 Allah SWT menyebut hujan dapat menghidupkan negeri yang mati. Berikut bunyinya,

    وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

    Artinya: “Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur),”

    Doa Hujan Berhenti: Arab, Latin dan Artinya

    Berikut merupakan bacaan doa yang bisa dipanjatkan agar hujan berhenti seperti dinukil dari Kitab Al-Adzkar susunan Imam Nawawi.

    اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابَةِ الشَّجَرِ

    Arab latin: Allaahumma hawaalainaa wala ‘alainaa, Alaahumma ‘alal aakaa- mi wadzhdzhiraabi wa buthuunil awdiyati wa manaabatisy syajari

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, bukan hujan di sekitar kami. Ya Allah turunkanlah hujan di atas tanah yang gersang, lahan tandus, dasar lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan,” (HR Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik)

    Doa agar Hujan yang Diturunkan Bermanfaat

    Adapun, doa yang bisa dibaca agar hujan yang turun jadi bermanfaat dijelaskan dalam satu riwayat Aisyah RA. Menukil dari Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq, ia pernah mendengar Nabi SAW membaca doa berikut:

    اللَّهُمَّصَيِّباًنَافِعاً

    Arab latin: Allahumma shoyyiban nafi’an

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat,”

    Doa saat Hujan Disertai Angin Kencang

    Merujuk pada sumber yang sama, Imam Muslim dalam sebuah hadits meriwayatkan Rasulullah SAW membaca doa ini saat hujan disertai angin kencang.

    اَللهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَمَا اُرْسِلَتْ بِهِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّمَا اُرْسِلَتْ بِهِ

    Arab latin: Allaahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih. Wa-a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih

    Artinya: “Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya,”

    Demikian bacaan doa memohon hujan berhenti. Jangan lupa dipanjatkan ya!

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Sujud Syukur yang Bisa Dipanjatkan, Lengkap dengan Arab, Latin dan Arti


    Jakarta

    Sujud syukur dilakukan seorang muslim sebagai wujud rasa terima kasih atas nikmat dan karunia yang Allah SWT berikan. Dalil mengenai sujud syukur sendiri tercantum dalam sebuah hadits dari Abdurrahman bin Auf RA ia berkata,

    “Nabi SAW keluar menuju bangunan tinggi lalu masuk ke dalam, menghadap kiblat, dan bersujud. Beliau memanjangkan sujudnya lalu mengangkat kepalanya. Beliau bersabda, ‘Jibril telah mendatangiku dengan membawa kabar gembira; ‘Sesungguhnya Allah telah bersabda untukmu: siapa saja yang bersholawat kepadamu, maka ia akan menyelamatkannya,’ Maka aku bersujud sebagai ungkapan terima kasihku kepada-Nya,” (HR Ahmad)

    Menurut buku Rahasia Dahsyat di Balik Kata Syukur susunan Yana Adam, hukum dari sujud syukur sendiri sebagaimana pendapat mazhab Syafi’i dan Hambali ialah sunnah. Selain wujud rasa terima kasih, sujud syukur juga bisa dilakukan karena selamat dari musibah yang sifatnya khusus dialami seorang muslim.


    Saat sujud syukur, ada doa yang bisa dipanjatkan seorang muslim. Berikut bacaannya seperti dinukil dari buku Panduan Muslim Sehari-hari karangan Dr KH M Hamdan Rasyid dan Saiful Hadi El-Sutha.

    Bacaan Doa Sujud Syukur

    1. Doa Sujud Syukur Versi Pertama

    سُبْحَانَ اللهِ والْحَمْدُ لِلَّهِ ولا إِلَهَ إِلَّا اللهُ واللهُ أَكْبَرُ

    Arab latin: Subhaanallaah wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar.

    Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha besar,”

    2. Doa Sujud Syukur Versi Kedua

    Dalam buku Doa dan Zikir Harian Nabi karya Imam Abu Wafa, ada juga doa sujud syukur lainnya yang bisa dipanjatkan. Bacaannya seperti ketika melakukan sujud pada salat wajib.

    سُبحانَ ربِّيَ الأعلَى وبحمدِه

    Arab latin: Subhaana rabbiyal a’la wa bihamdihi

    Artinya: “Maha Suci Tuhanku yang tinggi dan pujian-Nya,”

    3. Doa Sujud Syukur Versi Ketiga

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

    Arab latin: Subhaanaka allahumma rabbanaa wa bihamdika allahummaghfirli

    Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, wahai tuhan kami, dengan memuji-Mu ya Allah, ampunilah aku,”

    Tata Cara Sujud Syukur

    Merujuk pada sumber yang sama, tata cara sujud syukur sama seperti sujud tilawah. Artinya, ketika akan sujud, kaum muslimin harus dalam keadaan suci, menghadap ke arah kiblat seraya beratkbir.

    Sujud dilakukan sebanyak satu kali dan bacaan yang dibaca seperti sujud ketika salat. Ada juga bacaan lainnya sebagaimana yang dibahas sebelumnya.

    Setelah itu, bertakbir kembali dan mengangkat kepala. Perlu diketahui, pada sujud syukur tidak ada salam dan tasyahud.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com