Category: Doa Hadits

  • Doa Mau Tidur Beserta Ajaran Sunnahnya dari Rasulullah SAW


    Jakarta

    Saat tidur di malam hari, umat muslim dianjurkan untuk membaca doa terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar detikers senantiasa dilindungi oleh Allah SWT hingga bangun di esok hari.

    Ternyata, ada sejumlah bacaan doa yang dapat dibaca sebelum tidur agar tidak diganggu oleh setan yang terkutuk. Selain itu, ada juga beberapa sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebelum istirahat di malam hari.

    Ingin tahu bacaan doa mau tidur lengkap dengan latin dan artinya? Simak pembahasannya secara lengkap di bawah ini.


    Bacaan Doa Mau Tidur

    Ada dua versi doa sebelum tidur, yakni doa pendek dan panjang. Mengutip buku 100 Doa Harian Untuk Anak karya Kak Nurul Ihsan, doa mau tidur yang umum dibaca adalah sebagai berikut:

    بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ

    Bacaan latin: “Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut.”

    Artinya: “Dengan namaMu ya Allah, aku hidup dan aku mati.” (Sahih Bukhari, At-Tauhid: 6845).

    Selain itu, detikers juga bisa membaca doa mau tidur dalam versi panjang. Simak doanya di bawah ini:

    للَّهُمَّ أَسْلَمْتُ إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلَا مَنْحَى مِنْكَ إِلا إِلَيْكَ، أَمَنْتُ بكتابكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

    Bacaan latin: Allahuma aslamtuilaika wawajjahtuwajhii ilaika, wafawwadhtuamrii ilaika waalja’tudzahrii ilaika raghbatan waraghbatan ilaika laa maljaawalaa manjaa minka illa ilaika amantu bikitaabikalladzii anzaita wabinabiyyikalladzi arsalta

    Artinya : “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu. Aku menghadapkan wajahku kepada-Mu. Aku menyerahkan segala urusanku kepada-Mu. Aku menyandarkan punggungku kepadaMu lantaran mengharap dan takut kepadaMu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari ancamanMu kecuali hanya kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Kau turunkan juga (aku beriman) kepada nabiMu yang Kau utus.” (HR, Muslim, Bukhari dan Abu Dawud).

    Diriwayatkan dari Hadist Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan doa mau tidur sebagai berikut:

    بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

    Bahasa latin: “arsaltaha fahfadzha bimaa tahfadzu bihi ibaadakas shaalihin.”

    Artinya: Ya Allah, dengan nama-Mu aku meletakkan lambungku. Dan dengan nama-Mu aku bangun darinya. Jika Engkau menahan ruhku, berilah rahmat kepadanya. Dan jika Engkau melepasnya, maka peliharalah sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh. (HR. Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714).

    Sunnah yang Diajarkan Rasulullah Sebelum Tidur

    Selain membaca doa, ada sejumlah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Cara ini dilakukan agar umat muslim mendapat perlindungan dan pahala ketika beristirahat.

    Mengutip dari berbagai sumber, simak beberapa ajaran sunnah sebelum tidur yang disampaikan Rasulullah SAW berikut ini.

    1. Berwudhu

    Dalam buku yang bertajuk Sunnah Rasulullah Sehari-hari oleh Syaikh Abdullah bin Hamoud Al Furaih, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan untuk berwudhu sebelum tidur. Hal ini telah diriwayatkan dalam sebuah hadist berikut ini:

    إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

    Artinya: “Jika engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, hendaklah engkau berwudhu seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu,” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).

    2. Mengibas Kasur

    Setelah berwudhu dan masuk ke dalam kamar, sebelum berbaring di kasur Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengibas kasur dengan bagian dalamnya sebanyak tiga kali. Dalam hadits Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Jika salah seorang di antara kamu hendak mendatangi tempat tidurnya, hendaknya ia mengibas kasurnya dengan bagian dalam sarungnya, karena ia tidak mengetahui apa yang ada padanya, kemudian mengucapkan:

    بِاسْمِكَ رَبِّى وَضَعْتُ جَنْبِى

    Bacaan latin: Bismika rabbi wadha’tu janbii

    Artinya: “Dengan nama-Mu Wahai Tuhanku, aku baringkan punggungku,” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).

    Selain menggunakan sarung, detikers juga bisa memakai sapu lidi berukuran kecil untuk mengibas-ngibas tempat tidur.

    3. Membaca Doa Sebelum Tidur

    Ketika tidur di malam hari, Rasulullah SAW selalu membaca doa. Tak hanya itu, ketika bangun tidur Nabi Muhammad SAW juga membaca doa. Hal ini tercantum dalam sebuah hadist sebagai berikut:

    “Apabila kamu ingin tidur maka berwudhulah lebih dulu sebagaimana wudhu untuk sholat, kemudian berbaringlah ke kanan dan bacalah doa doa sebelum tidur. Rasulullah SAW bersabda: ‘Jadikanlah doa itu sebagai akhir dari semua perkataanmu,” (HR Bukhari Muslim).

    4. Membaca Ayat Kursi

    Setelah membersihkan kasur, Rasulullah SAW melanjutkannya dengan membaca ayat kursi. Hal ini dilakukan untuk terhindar dari gangguan setan saat tidur hingga esok pagi.

    Dalam suatu hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW membenarkan hal tersebut dengan berkata:

    فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

    Artinya: “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al-Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari).

    5. Membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

    Seusai membaca Ayat Kursi, Nabi Muhammad SAW melanjutkannya dengan membaca tiga surat pendek, yaitu Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dari Aisyah RA berkata:

    كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

    Artinya: “Rasulullah SAW apabila hendak beranjak ketempat tidurnya setiap malam, Beliau menyatukan kedua telapak tangannya lalu meniupkan keduanya dan membacakan keduanya surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. Kemudian beliau mengusap dengan keduanya bagian mana saja semampunya. Beliau memulainya dari atas kepala dan wajahnya serta bagian belakang dari badannya. Beliau melakukan perkara itu tiga kali.” (HR. Muslim).

    6. Segera Tidur Setelah Sholat Isya

    Amalan terakhir yang diajarkan Rasulullah SAW adalah menyegerakan tidur setelah melaksanakan sholat Isya. Dalam hal ini, waktu tidur yang disunnahkan, tidak terlalu malam atau pun tidak terlalu cepat.
    Dalam sebuah riwayat dari Abi Barzah, ia berkata:

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

    Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari).

    Itu dia pembahasan mengenai bacaan doa mau tidur serta amalan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan tentang islam.

    (ilf/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Jenis Wewangian yang Disukai Rasulullah Menurut Hadits


    Jakarta

    Wewangian atau parfum menjadi salah satu penunjang penampilan agar lebih segar dan wangi. Penggunaan wewangian digunakan untuk menghindari aroma yang tidak enak yang berasal dari keringat.

    Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memakai wewangian, terutama dalam melaksanakan ibadah. Berikut jenis wewangian yang disukai Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits.

    Wewangian dalam Sunnah Rasulullah SAW

    Dikutip dari Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah karya Raghib As-Sirjani, Rasulullah SAW senang jika umatnya berpenampilan indah karena hal itu memberikan kesan yang baik untuk agamanya dan orang-orang di sekitarnya.


    Memakai wewangian adalah sunnah Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Diriku dibuat menyukai dua hal dari dunia; wanita dan wewangian. Dan, dijadikan kesejukan mataku ada pada salat.” (HR An Nasa’i dan Ahmad. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hadits ini sanadnya hasan. Al-Albani men-shahihkannya dalam Shahih Al Jami’)

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai hak atas setiap muslim untuk mandi setiap tujuh hari. Jika ia mempunyai wewangian, hendaklah dipergunakan.” (HR Bukhari)

    Aisyah RA mengatakan, “Aku memakaikan wewangian kepada Rasulullah dengan parfum wangi yang beliau dapatkan hingga aku melihat kilauan wewangian di kepala dan janggutnya.” (HR Bukhari dalam kitab Al-Libas)

    Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Thibbun Nabawi mengungkapkan bahwa para malaikat menyukai wewangian, sedangkan setan membencinya. Setan menyukai bau yang busuk, sedangkan jiwa-jiwa yang baik menyukai bau yang harum.

    Sunnah Memakai Wewangian ketika Beribadah

    Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memakai wewangian ketika beribadah. Samsul Munir Amin dan Haryanto Al-Fandi dalam buku Etika Beribadah: Berdasarkan Alquran dan Sunnah menyatakan bahwa Rasulullah SAW suka memakai wewangian ketika hendak menghadiri salat Jumat.

    Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang mandi pada hari Jumat, bersuci menurut kemampuannya, memakai minyak rambut atau memakai minyak harum keluarganya, kemudian keluar (dalam satu riwayat pergi) serta tidak memisahkan antara dua orang yang duduk, lantas ia salat sebanyak yang dapat ia kerjakan, kemudian diam apabila imam berkhutbah; sungguh ia diampuni dosanya antara Jumat yang satu dan Jumat yang lain.” (HR Bukhari)

    Rasulullah juga bersabda, “Mandi pada hari Jumat adalah keharusan bagi orang yang sudah baligh dan hendaknya bersiwak dan memakai wewangian semampunya.” (HR Muslim)

    Jenis Wewangian yang Disukai Rasulullah SAW

    Dalam hadits, terdapat catatan tentang jenis-jenis wewangian yang disukai dan sering digunakan oleh Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bersabda, “Minyak wangi bagi laki-laki adalah yang jelas wanginya, namun warnanya lembut. Sedangkan minyak wangi perempuan adalah yang warnanya jelas, namun wanginya lembut.” (HR At Tirmidzi)

    1. Aroma Ud (Kayu Gaharu)

    Menurut sebuah hadits yang terdapat dalam kitab Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu karya Abu asy-Syaikh al-Ashbahani, Aisyah RA menuturkan, “Wewangian yang paling disukai oleh Rasulullah SAW adalah ud (kayu gaharu).”

    2. Aroma Misk dan Anbar

    Aroma misk dan anbar juga menjadi wewangian yang disukai Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Muhammad bin Ali, dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah, apakah Rasulullah memakai wewangian?” Dia menjawab, “Rasulullah SAW memakai wewangian dengan misk dan anbar.” (HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Dzikir sebelum Tidur Sesuai Sunnah


    Jakarta

    Dzikir adalah tindakan mengingat Allah SWT yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Salah satu waktu yang dianjurkan untuk berdzikir adalah sebelum tidur.

    Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Adzkar, anjuran membaca dzikir sebelum tidur terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.

    Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 191-192,


    الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١ رَبَّنَآ اِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ اَخْزَيْتَهٗ ۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ١٩٢

    Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka Engkau benar-benar telah menghinakannya dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim.”

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa ketika hendak ke tempat tidurnya mengucapkan, ‘Aku memohon ampun kepada Allah, Yang tiada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya,’ sebanyak tiga kali, maka Allah mengampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan, meskipun sejumlah bintang di langit, meskipun sejumlah butir-butir pasir Alij, meskipun sejumlah masa di dunia.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

    Dalam buku edisi Indonesia Shahih dan Dhaif: Kitab al-Adzkar Jilid 1 karya Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali juga terdapat hadits tentang anjuran membaca dzikir sebelum tidur. Rasulullah SAW bersabda,

    “Apabila kalian berdua akan berbaring di atas tempat tidur kalian, atau apabila kalian telah berbaring di atas tempat tidur kalian, maka bertakbirlah 33 kali, bertasbihlah 33 kali dan bertahmidlah 33 kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bacaan Dzikir sebelum Tidur

    Berikut bacaan dzikir yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW menurut hadits yang termuat dalam kitab Al Adzkar karya Imam an-Nawawi.

    1. Membaca Takbir 33 Kali

    اللَّهُ أَكْبَرُ

    Bacaan latin: Allahu Akbar

    Artinya: “Allah Maha Besar.”

    2. Membaca Tasbih 33 Kali

    سُبْحَانَ الله

    Bacaan latin: Subhaana Allah

    Artinya: “Maha Suci Allah.”

    3. Membaca Tahmid 33 Kali

    الْحَمْدُ للهِ

    Bacaan latin: Alhamdulillah

    Artinya: “Segala puji bagi Allah.”

    4. Membaca Surah Al Ikhlas

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ٤

    Bacaan latin: qul huwallāhu aḥad. allāhuṣ-ṣamad. lam yalid wa lam yūlad. wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.””

    5. Membaca Surah Al Falaq

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ ٥

    Bacaan latin: Qul a’ūżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.””

    6. Membaca Surah An Nas

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١ مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ ٦

    Bacaan latin: Qul a’ūżu birabbin-nās. Malikin-nās. Ilāhin-nās. Min syarril-waswāsil-khannās. Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās. Minal jinnati wan-nās

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.””

    7. Membaca Ayat Kursi/ Surah Al-Baqarah Ayat 255

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ٢٥٥

    Bacaan latin: Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta’khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa’u ‘indahuu illai bi idznih. Ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum. Walaa yuhiithuuna bisyai-in min ‘ilmihii illaa bimaa syaa-a. Wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha. Walaa ya-uuduhuu hifdzuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘azhiim

    Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Waktu Istimewa Hari Jumat yang Sebentar Tapi Mustajab



    Jakarta

    Jumat adalah hari raya pekanan bagi umat Islam. Ada satu waktu di hari Jumat yang istimewa. Menurut hadits, berdoa pada waktu tersebut besar kemungkinan untuk dikabulkan.

    Waktu istimewa pada hari Jumat ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA yang mendengar dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

    إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا يُزَرِّدُهَا


    Artinya: “Di dalam hari Jumat ada suatu saat yang apabila tepat pada saat itu seorang muslim berdiri melakukan salat lalu memohon kebaikan kepada Allah, pasti akan diberikan padanya.” Beliau memberi isyarat dengan jari tangannya bahwa saat tersebut sangat singkat.” (HR Muslim dalam kitab Salat Jumat. Imam an-Nawawi turut menukilnya dalam Riyadhus Shalihin)

    Pensyarah kitab Riyadhus Shalihin, Musthafa Dib al-Bugha, menjelaskan bahwa waktu istimewa pada hari Jumat tersebut sangat pendek.

    Ada suatu riwayat yang menyebut bahwa waktu tersebut terletak di antara duduknya imam hingga selesai salat.

    عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيٌّ قَالَ قَالَ لِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ سَاعَةِ الْجُمُعَةِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

    Artinya: “Abdullah bin Umar berkata kepadaku, ‘Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW mengenai waktu (terkabulnya doa) pada hari Jumat?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku pernah mendengarnya dan ayahku mengatakan sebagai berikut, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Waktu tersebut adalah antara duduknya imam hingga selesai salat.” (HR Muslim dalam kitab Salat Jumat)

    Sementara itu, Raghib As-Sirjani dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah menyebut sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa waktu mustajab hari Jumat yang apabila seseorang berdoa besar kemungkinan terkabulkan terletak di antara Ashar dan Maghrib.

    Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Sebaik-baiknya hari di mana matahari terbenam adalah hari Jumat; di dalamnya Adam Alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan dari surga. Pada hari tersebut terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim salat dan berdoa melainkan Allah akan mengabulkannya.”

    Abu Hurairah RA bertemu dengan Abdullah bin Salam RA dan menyebutkan hadits tersebut kepadanya. Abdullah bin Salam RA mengatakan mengetahui waktu tersebut. Ia berkata, “Waktu itu antara Ashar dan Maghrib.”

    Lalu, Abu Hurairah RA berkata, “Bagaimana bisa waktu itu setelah Ashar sedangkan Rasulullah telah berkata, ‘Tidaklah seorang muslim bertepatan dengannya sedang ia dalam salat,’ sedang waktu tersebut tidak diperbolehkan salat?”

    Abdullah bin Salam RA kemudian berkata, “Bukankah Rasulullah telah berkata, ‘Barang siapa duduk menunggu salat maka ia seperti sedang salat.”

    Abu Hurairah RA pun berkata, “Betul.” Maka Abdullah bin Salam RA berkata, “Itulah yang dimaksud.”

    Hadits tersebut diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Abwab Al-Jumuah dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih dan Dhaif Sunan At-Tirmidzi.

    Para ulama berselisih pendapat terkait kapan waktu mustajab pada hari Jumat tersebut. Namun, pendapat di atas dianggap yang paling kuat. Wallahu a’lam.

    Doa Hari Jumat setelah Salat Ashar

    Dalam kitab Syuabul Iman dan kitab Nurul Lum’ah terdapat bacaan doa yang bisa dipanjatkan selepas salat Ashar di hari Jumat. Berikut bacaannya.

    اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ خَلَقْتَنِي ، وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ أَمَتِكَ ، وَفِي قَبْضَتِكَ ، وَناصِيَتِي بِيَدِكَ ، أَمْسَيْتُ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ بِنِعْمَتِكَ ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبُ إِلا أَنْتَ

    Arab latin: Allahumma Anta Rabbi laa ilaaha illa Anta khalaqtani, wa ana abduka wabnu amatika wafi qabdhotika wa nasiyati bi yadika. Amsaitu ala ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzu bika min syarri ma shona’tu. Abu’u bi ni’matika wa abu’u bidzanbi faghfirly dzunubi. Innahu la yaghfirudz dzunuba illa Anta.

    Artinya: “Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada tuhan yang aku sembah kecuali Engkau yang telah menciptakanku. Menciptakanku sebagai hamba-Mu dan anak dari hamba sahaya-Mu. Hidupku ada dalam genggaman-Mu. Aku hidup atas janji dan ancaman-Mu. Selama aku bisa, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat. Aku telah menyia-nyiakan nikmat-Mu. Dan aku berbuat dosa. Maka ampunilah dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.”

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Meminta Hujan Lengkap dengan Arab, Latin dan Arti


    Jakarta

    Doa meminta hujan dapat diamalkan oleh kaum muslimin jika hujan tak kunjung turun. Sebagaimana yang kita ketahui, hujan merupakan anugerah sekaligus rahmat yang dilimpahkan Allah SWT kepada makhluk hidup.

    Bahkan, hujan disebut sebagai salah satu tanda atas kebesaran dan rahmat Allah SWT. Turunnya hujan bahkan membuat pikiran dan perasaan seseorang berubah dan lebih mengingat Tuhan serta bersyukur, seperti dijelaskan dalam buku Indahnya Doa Rasulullah oleh Masriyah Amva.

    Belakangan ini, panas matahari cukup terik dan menyengat kulit. Kondisi tanah juga kering dan hujan jarang turun.


    Berkaitan dengan itu, ada sebuah doa yang dapat dipanjatkan untuk meminta hujan. Seperti apa bacaannya?

    Doa Meminta Hujan: Arab, Latin, dan Arti

    Mengutip buku 5 Shalat Pembangun Jiwa susunan Nasrudin Abd Rohim, berikut doa meminta hujan yang dapat diamalkan oleh kaum muslimin.

    اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا سرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

    Arab latin: Allahummasqinaa ghoitsan mughiitsan mariyyan sarii’an naafi’an ghoiro dhoorrin, ‘aajilan ghoiro aajilin.

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan deras yang penuh ketentraman, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak terlambat.”

    Selain doa di atas, ada juga versi lainnya yang mengacu pada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

    اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

    Arab latin: Allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.”

    Kapan Sebaiknya Doa Turun Hujan Dibaca?

    Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf melalui karyanya yang berjudul Panduan Lengkap Shalat, Doa, Zikir & Shalawat mengatakan hendaknya doa meminta hujan dibaca sebanyak-banyaknya usai melakukan salat istisqa. Salat tersebut merupakan ibadah memohon turunnya hujan.

    Lalu, doa meminta hujan dapat dibaca pada waktu-waktu mustajab doa. Ketika hujan sudah turun, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam membaca doa lainnya sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT yang berbunyi,

    قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ ‏.‏ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

    Artinya: “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, maka orang itu beriman kepada-Ku (Allah SWT) dan tidak beriman kepada bintang-bintang. Sebaliknya orang yang berkata, ‘Kita diberi hujan oleh binatang ini atau bintang itu’, maka orang tersebut kafir terhadap-Ku (Allah SWT) dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR Muslim).

    Demikian bacaan doa meminta hujan dan informasi terkaitnya. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Tahiyat Akhir sebelum Salam Wasiat dari Rasulullah


    Jakarta

    Rasulullah SAW mewasiatkan sebuah doa tahiyat akhir sebelum salam. Doa ini berisi permohonan seorang hamba kepada Rabbnya agar mendapat pertolongan.

    Wasiat Rasulullah SAW ini disampaikan kepada sahabat beliau, Mu’adz RA, dan berlaku bagi umat Islam secara keseluruhan. Rasulullah SAW bersabda,

    يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيْكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرٍ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ


    Artinya: “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap salat, ‘Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.’” (HR Abu Daud dan an-Nasa’i. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan hadits ini sanadnya shahih)

    Berikut bacaan doa tahiyat akhir sebelum salam yang dimaksud dalam hadits di atas dalam tulisan Arab, latin, dan artinya.

    Doa Tahiyat Akhir sebelum Salam

    اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

    Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik

    Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku dalam berzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu.”

    Doa tersebut dibaca setelah tahiyat akhir dan sebelum salam. Adapun, saat tahiyat akhir, umat Islam bisa membaca sholawat Nabi. Imam an-Nawawi mengatakan dalam kitab Al-Adzkar, membaca sholawat Nabi saat tahiyat akhir hukumnya wajib menurut pendapat Imam Syafi’i.

    Adapun, membaca sholawat atas keluarga Nabi hukumnya sunnah dan sebagian ulama Syafi’iyah ada yang mengatakan wajib. Kata Imam an-Nawawi, bacaan sholawat yang lebih utama adalah sebagai berikut,

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي العَالَمينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

    Allaahumma shalli ‘alaa muhammadin ‘abdika wa rasuulikan nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aali muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyatih, kamaa shallayta ‘alaa ibraahiima wa ‘alaa aali ibraahiim, wa baarik ‘alaa muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aali wa ‘alaa aali muhamma- din wa azwaajihi wa dzurriyyaatih, kamaa baarakta ‘alaa ibraahiima wa ‘alaa aali ibraahiima fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid

    Artinya: “Ya Allah, semoga kesejahteraan untuk Nabi Muhammad, yaitu hamba-Mu dan utusan-Mu, Nabi yang (ummi) tidak bisa baca-tulis, dan untuk keluarga Nabi Muhammad, istri-istrinya dan para dzuriyah-nya. Sebagaimana kesejahteraan yang telah Engkau limpahkan untuk Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Semoga keberkahan untuk Nabi Muhammad, Nabi yang (ummi) tidak bisa baca-tulis, dan untuk keluarga Nabi Muhammad, istri-istrinya, dan para dzuruyah-nya, sebagaimana keberkahan yang Engkau limpahkan untuk Nabi Ibrahim, dan keluarga Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mulia seru sekalian alam.”

    Hukum Membaca Doa Tahiyat Akhir sebelum Salam

    Imam an-Nawawi juga menjelaskan, membaca doa setelah tahiyat akhir sebelum salam hukumnya boleh. Para ulama tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.

    Hal tersebut mengacu pada sejumlah hadits yang salah satunya termuat dalam kitab Shahih Bukhari-Muslim dari riwayat Abdullah bin Mas’ud RA. Dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan bacaan tasyahud kemudian pada akhir kalimat beliau bersabda, kemudian memilih membaca bacaan doa.

    Ada banyak doa tahiyat akhir sebelum salam yang bisa dibaca oleh umat Islam selain seperti doa yang diwasiatkan Rasulullah SAW dalam hadits Mu’adz di atas. Dalam kitab Shahih Bukhari-Muslim, Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika kalian telah selesai membaca tasyahud akhir, maka bacalah doa memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara; dari pedihnya siksa neraka jahannam, dari pedihnya siksa kubur, dari kerasnya fitnah hidup dan mati, dan dari keburukan perbuatan Dajjal.”

    Hadits tersebut diriwayatkan Imam Muslim. Berikut bacaan doa tahiyat akhir sebelum salam versi Arab, latin, dan artinya.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرَفِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ.

    Allaahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabi jahannam, wa min ‘adzaabil qabri, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min syarri fit- natil masiihid dajjaal

    Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari pedihnya siksa neraka jahannam, dari pedihnya siksa kubur, dari kerasnya fitnah hidup dan mati, dan dari keburukan perbuatan Dajjal.”

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits tentang Bahaya Riya, Salah Satunya Dapat Membatalkan Amal Saleh


    Jakarta

    Riya atau pamer adalah perbuatan tercela yang harus dihindari oleh manusia. Kata riya berasal dari bahasa Arab ra’a-yara-ruyan-wa ru’yatan yang artinya melihat.

    Menukil Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 4 tulisan Syaikh Muhammad al-Utsaimin, riya dalam Islam identik dengan mereka yang beribadah kepada Tuhannya agar dilihat orang lain dan menuai pujian. Mereka yang riya tidak ikhlas semata mengharap ridha Allah SWT dalam mengerjakan amalnya.

    Padahal, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah dengan hati yang tulus sebagaimana dikatakan dalam surah Al Bayyinah ayat 5,


    وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

    Artinya: “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”

    Adapun, terkait larangan riya juga disebutkan dalam surah Al Baqarah ayat 264 dengan bunyi sebagai berikut,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.”

    Selain surah Al-Qur’an, ada juga sejumlah dalil dari Al-Hadits yang menyebutkan tentang riya. Ini menunjukkan betapa bahayanya riya bagi umat manusia.

    Hadits tentang Bahaya Riya

    Mengutip buku Kumpulan Hadits Qudsi Pilihan oleh Syaikh Fathi Ghanim, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang riya.

    1. Hadits Riya Lebih Bahaya dari Fitnah Dajjal

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut bahwa riya lebih berbahaya ketimbang fitnah dajjal. Beliau berkata,

    “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata, “Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya.” (HR Ibnu Majah)

    2. Hadits Riya Adalah Perbuatan yang Merusak

    Perbuatan riya dikatakan lebih merusak daripada serigala menyergap domba. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi,

    “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak daripada ketamakan seorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Darimi, dan yang lainnya dari Ka’ab bin Malik)

    3. Hadits Riya Dapat Menghapus dan Membatalkan Amal Saleh

    Riya dapat menghapus hingga membatalkan amal saleh yang telah dikerjakan oleh seorang muslim. Salat mereka dikatakan tidak akan diganjar pahala oleh Allah SWT.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

    Bagaimana Cara Menghindari Perbuatan Riya?

    Mengutip buku Aqidah Akhlak tulisan Taofik Yusmansyah, berikut sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghindari sifat riya.

    • Selalu berbuat baik di hadapan orang banyak maupun tidak ada orang sama sekali. Yakin bahwa Allah SWT Maha Mengetahui
    • Meminta perlindungan dan selalu berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sifat riya
    • Jangan merasa bangga dengan kelebihan yang dimiliki, jadikan hal tersebut sebagai alasan untuk lebih bersyukur kepada Allah SWT
    • Berbuat sewajarnya dalam berbagai hal, tidak dilebih-lebihkan ataupun dikurangi
    • Tidak membicarakan perbuatan yang pernah dilakukan kepada orang lain, terlebih jika hanya ingin mendapat pujian

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir Lailahaillallah al Malikul Haqqul Mubin dan Keutamaannya


    Jakarta

    Rasulullah SAW telah menganjurkan umatnya untuk membaca dzikir setiap waktu. Salah satu bacaan dzikir yang bisa diamalkan adalah dzikir la ilaha illallah al malikul haqqul mubin.

    Anjuran berdzikir setiap waktu ini termuat dalam hadits yang menyebut bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah.” (HR At Tirmidzi)

    Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 41-42,


    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ ٤١ وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا ٤٢

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

    Dalam Islam, kalimat la ilaha illallah al malikul haqqul mubin merupakan salah satu bacaan dzikir. Bacaan ini memiliki makna yang mendalam dan penting. Dengan membacanya, seorang muslim akan mendapatkan banyak keutamaan.

    Bacaan La ilaha illallah al Malikul Haqqul Mubin Arab dan Artinya

    Berikut merupakan bacaan la ilaha illallah al malikul haqqul mubin arab, latin, dan artinya yang dapat dibaca oleh setiap muslim.

    لا إلها الله. الملكل حقول مبينا.

    Bacaan latin: la ilaha illallah al malikul haqqul mubin

    Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan yang maha benar dan nyata.”

    Keutamaan Membaca La ilaha illallah al Malikul Haqqul Mubin

    Dikutip dari buku Amalan Para Wali Allah karya Shabri Shaleh Anwar, bacaan lailahaillallah al malikul haqqul mubin adalah amalan yang dapat dibaca setelah salat Zuhur.

    Bacaan la ilaha illallah al malikul haqqul mubin memiliki keutamaan seperti memperlancar rezeki.

    Para ulama telah meriwayatkan dalam beberapa hadits bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabatnya untuk membaca la ilaha illallah al malikul haqqul mubin setiap hari sebanyak 100 kali untuk memperlapang rezeki.

    Abu Bakar bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam kitabnya, Hasyiyah I’anatut Thalibin ala Fathil Mu’in, sebagaimana dilansir NU Online mengtakan,

    وردت عن النبي صلى الله عليه وسلم في أحاديث صحيحة كثيرة، أمر بها بعض أصحابه لتوسعة الرزق، وقال بعض العارفين: وهي مجربة لبسط الرزق الظاهر والباطن، وهي هذه: لا إله إلا الله الملك الحق المبين، كل يوم مئة مرة. سبحان الله وبحمده، سبحان الله العظيم، أستغفر الله، كل يوم مئة مرة. واستحسن كثير من الأشياخ أن تكون بين سنة الصبح والفريضة، فإن فاتت في ذلك فبعد صلاة الصبح وقبل طلوع الشمس، وإن فاتت في ذلك فعند الزوال. فلا ينبغي للعبد أن يخلي يومه عنها.

    Artinya: “Tersebut dalam banyak hadits shahih sebuah riwayat di mana Nabi Muhammad SAW memerintahkan sejumlah sahabatnya untuk mengamalkan bacaan ini demi memperlapang rezeki. Sebagian ‘arifin mengatakan, amalan ini teruji dalam melapangkan rezeki lahir maupun batin. Bacaan yang dimaksud ialah “la ilaha ilallah. Almalikul haqqul mubin” setiap hari 100 kali. “Subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil adzim, astaghfirullahal aszim” setiap hari 100 kali. Banyak guru besar menganggap baik melazimkan bacaan ini saat di antara salat Subuh.”

    Rezeki yang dimaksud mencakup rezeki lahir maupun batin. Bacaan ini dapat diamalkan oleh siapa pun karena akan mengubah kebiasaan buruk yang dimiliki oleh seseorang menjadi baik. Atas izin Allah SWT, amalan ini akan menambah pahala bagi yang mengamalkannya.

    Melansir dari sumber yang sama, kalimat la ilaha illallah almalikul haqqul mubin Muhammadur Rasulullah Ash-shadiqul Wa’dimil Amin merupakan kalimat yang tertera di pintu Ka’bah. Dengan membacanya, seseorang akan mendapatkan pahala yang besar.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Niat Puasa Senin Kamis dan Doa Berbukanya


    Jakarta

    Umat Islam tidak hanya diperintahkan untuk melakukan puasa wajib sebagaimana puasa Ramadan, namun juga dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Salah satu puasa sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah puasa Senin Kamis.

    Sebagaimana namanya, puasa Senin Kamis adalah puasa sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW yang dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

    Abu Aunillah Al-Baijury dalam bukunya yang berjudul Buku Pintar Agama Islam: Panduan Lengkap Berislam Secara Kafah mengatakan bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling sering melaksanakan puasa Senin Kamis.


    Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, “Sesungguhnya, segala amal perbuatan dipersembahkan pada hari Senin dan Kamis, maka Allah akan mengampuni dosa setiap orang muslim atau setiap orang mukmin, kecuali dua orang yang bermusuhan. Maka Allah berfirman, ‘Tangguhkan keduanya.’” (HR Ahmad)

    Niat Puasa Senin Kamis

    Sumber yang sama mengatakan bahwa niat puasa Senin Kamis dibaca terpisah sesuai harinya. Niat masih bisa dilakukan meski sudah tengah hari dengan syarat belum melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa sejak terbitnya fajar.

    Ketentuan ini diambil dari apa yang pernah Rasulullah SAW lakukan, bahwasanya pada suatu waktu beliau mendatangi Aisyah RA bertepatan selain bulan Ramadan, kemudian beliau bersabda,

    هَلْ عِنْدَكُمْ غَدَاء ؟ وَ إِلَّا فَإِنِّي صَائِمٌ

    Artinya: “Apakah engkau punya santapan siang? Maka jika tidak ada aku akan berpuasa.” (HR Muslim)

    Menurut buku Puasa Senin-Kamis karya Mahmud Ahmad Mustafa, perlu diingat bahwa niat itu tempatnya di hati bukan di lidah karena niat adalah pekerjaan hati. Oleh karena itu, apabila seseorang mengucapkan niat puasa namun di hati tidak disertai dengan niat dan keinginan yang kuat untuk puasa, maka niat puasa itu tidaklah sah.

    Diambil dari buku Fikih yang ditulis oleh Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah, berikut adalah niat puasa Senin dan Kamis.

    Niat Puasa Senin

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ فِي يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Arab-latin: Nawaitu sauma gadin fi yaumil-isnaini sunnatal lillāhi ta’ālā.

    Artinya: Saya niat puasa besok pada hari Senin sunnah karena Allah Ta’ala.

    Niat Puasa Kamis

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ فِي يَوْمِ الْحَمِيْسِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Arab-latin: Nawaitu sauma gadin fi yaumil-khamisi sunnatan lillāhi ta’ālā.

    Artinya: Saya niat puasa besok pada hari Kamis sunnah karena Allah Ta’ala.

    Doa Berbuka Puasa Senin Kamis

    Sebelum memasukkan makanan ke dalam mulut, umat Islam yang menjalani puasa Senin Kamis terlebih dahulu diperintahkan untuk mengucapkan doa berbuka puasa.

    Diambil dari buku Koreksi Tuntas Buku 37 Masalah Populer oleh Abdurrahman Al-Mukaffi, berikut doa berbuka puasa yang terdapat dalam hadits shahih.

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

    Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

    Artinya: “Telah hilang dahaga, telah basah urat (tenggorokan), dan telah tetap pahala, insya Allah.” (HR Abu Dawud dalam Kitab Sunan Abu Dawud)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits, Sumber Hukum Islam yang Kedua setelah Al-Qur’an



    Jakarta

    Ada empat sumber hukum Islam yang disepakati ulama. Sumber hukum Islam yang kedua adalah hadits.

    Sumber hukum Islam adalah suatu rujukan atau dasar yang utama dalam pengambilan hukum Islam yang selanjutnya akan menjadi pokok dari ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan dalam buku Pendidikan Agama Islam yang ditulis oleh Bachrul Ilmy.

    Sumber hukum Islam memiliki sifat dinamis, benar, dan mutlak. Sumber hukum ini juga tidak akan pernah mengalami kemandegan, kefanaan, ataupun kehancuran. Sumber hukum Islam menurut kesepakatan ulama ada empat, yaitu Al-Qur’an, hadits, dan ijma dan qiyas. Ijma dan qiyas sering juga disebut ijtihad para ulama.


    Sedikit pembahasan mengenai Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam yang pertama. Al-Qur’an adalah wahyu yang datangnya dari Allah SWT dan disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disebarkan sebagai pedoman hidup manusia.

    Sumber Hukum Islam yang Kedua: Hadits

    Sumber hukum Islam yang kedua adalah hadits Rasulullah SAW. Secara bahasa hadits didefinisikan sebagai ucapan atau perkataan, sedangkan menurut istilah, hadits adalah ucapan, perbuatan, atau takrir Rasulullah SAW yang dicontoh oleh umatnya dalam menjalani kehidupan.

    Hadits sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an dijelaskan Allah SWT dalam surah Al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi,

    وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ

    Artinya: “…Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

    Hal ini semakin diperkuat dengan sabda Rasulullah SAW,

    تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْن لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكُتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه مالك)

    Artinya: “Telah aku tinggalkan untukmu dua perkara: kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunah Nabi- Nya.” (HR Malik)

    Adapun beberapa fungsi hadits yang perlu diketahui antara lain:

    1. Penjelas Ayat Al-Qur’an (Bayan At-Tafsir)

    H. Aminudin dan Harjan Syuhada dalam bukunya yang berjudul Al-Qur’an Hadis menjelaskan fungsi hadits adalah untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang belum jelas dan rinci, serta menafsirkan ayat yang umum, menjelaskan maknanya, memberi batas atau syarat ayat Al-Qur’an yang mutlak, dan mengkhususkan yang umum.

    2. Penguat Ayat Al-Qur’an (Bayan At-Taqrir)

    Fungsi hadits sebagai sumber hukum Islam yang kedua bukan berarti menambahkan atau menjelaskan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an, namun hanya sekadar menetapkan, memperkokoh, dan mengungkapkan kembali apa yang terdapat di dalamnya.

    3. Penetapan Hukum (Bayan At-Tasyri’)

    Hadits juga berfungsi sebagai penetapan hukum. Artinya, hadits berguna untuk menetapkan hukum baru yang belum diatur dalam Al-Qur’an secara terperinci.

    Hadits dalam segala bentuknya (qauli, fi’li, dan taqriri) juga dinyatakan sebagai suatu kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang muncul dan tidak dapat ditemukan dalam Al-Qur’an.

    Contohnya adalah hadits yang menjelaskan zakat fitrah, di mana hal ini tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an.

    أَن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعَامِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرِ عَلَى كُلِّ حَرٍ أَوْ عَبْدِ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ (رواه مسلم)

    Artinya: “Bahwasanya Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan Ramadan satu sukat (sha’) kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan muslim.” (HR Muslim)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com