Category: Doa Hadits

  • Inilah 5 Doa Iftitah yang Diajarkan Rasulullah SAW


    Jakarta

    Doa iftitah adalah doa dalam salat yang dibaca di rakaat pertama setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al-Fatihah. Doa ini dibaca dalam setiap salat fardhu maupun salat sunnah.

    Ada beberapa bacaan doa iftitah yang diajarkan oleh Rasullullah SAW. Selain itu, doa iftitah juga memiliki sejumlah keutamaan. Namun sebelum itu, sebaiknya ketahui terlebih dahulu bagaimana hukum membaca doa iftitah dalam salat.

    Hukum Membaca Doa Iftitah

    Hukum membaca doa iftitah adalah sunnah, baik untuk imam, makmum, atau seseorang yang melakukan salat sendiri.


    Apabila seseorang berniat membaca doa iftitah, tetapi ia tidak sengaja melupakannya, maka seseorang tersebut tidak perlu melakukan sujud syahwi. Seseorang yang tidak membaca doa ini salatnya tetap dianggap sah.

    Namun dalam kasus salat jenazah, doa ini tidak disunnahkan untuk dibaca lantaran salat jenazah dianjurkan untuk dilakukan secara singkat.

    Meskipun hukum doa iftitah adalah sunnah, seorang Muslim tetap dianjurkan membaca doa tersebut sebab Rasulullah SAW biasa membacanya ketika sholat. Hal tersebut tertuang dalam sebuah hadits berikut:

    Dari Abu Hurairah RA,

    كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت وأمي؛ أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة؛ ما تقول؟ قال: ” أقول: … ” فذكره

    Artinya: “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika salat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:… (beliau menyebutkan doa iftitah).” (HR Muttafaqun).

    Bacaan Doa Iftitah

    Kusnadi S.Ag M.Ag M.AHum dalam buku QnA Persoalan Islam menjelaskan doa iftitah memiliki banyak shighat (bentuk) berdasarkan beberapa riwayat hadits, yaitu sebagai berikut:

    Doa Iftitah 1

    Doa iftitah ini umumnya sering dipakai umat Muslim lantaran seringkali tertera dalam buku panduan salat sekaligus diajarkan di bangku sekolah.

    الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا.

    (Allahu akbar, kabirau walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukrotaw washila)

    Artinya: Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyak pujian. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore.

    أنى وجهت وجهي للذى فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين

    (inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal arha hanifam muslimaw wa ma ana minal musyrikin)

    Artinya: Kuhadapkan wajahku kepada zat yang mencipta langit dan bumi dalam keadaan lurus dan pasrah. Dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan Allah.

    ان صلاتى ونسكى ومحياي ومماتى لله رب العالمين لاشريك له وبذلك امرت وانا من المسلمين

    (inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin la syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin)

    Artinya: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan Semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan begitulah aku diperintahkan dan aku dari golongan orang muslim.

    Doa Iftitah 2

    Berdasarkan hadist riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW juga membaca doa iftitah pendek lainnya seperti berikut ini.

    اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

    (Allahumma baaid baynii wa bayna khotoyaaya kamaa baa’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii min khotoyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silnii min khotoyaaya bil maa-iwats tsalji wal barod)

    Artinya: Ya Allah, jauhkan lah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkan lah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cuci lah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.

    Doa Iftitah 3

    Menurut hadist riwayat Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi berikut ini bacaan doa iftitah.

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

    (Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaajadduka wa laa ilaha ghoiruk)

    Artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.

    Doa Iftitah 4

    Hadist riwayat Muslim menyebutkan bahwa doa iftitah ini dibaca ketika Rasulullah SAW melakukan sholat malam.

    اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

    (Allahumma robba jibroo-iila wa mii-ka-iila wa isroofiila, faathiros samaawati wal ardhi ‘aliimal ghoibi wasy syahaadah anta tahkumu bayna ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun, ihdinii limakhtulifa fiihi minal haqqi bi-idznik, innaka tahdi man tasyaa-u ilaa shirootim mustaqiim)

    Artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkan lah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki

    Doa Iftitah 5

    Rasulullah pernah mengamalkan doa iftitah berikut ini sebagaimana tertuang dalam hadist riwayat Abu Daud.

    اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

    (Allahu akbar kabiiro, allahu akbar kabiiro, allahu akbar kabiiro, walhamdulillahi katsiiro, walhamdulillahi katsiiro, walhamdulillahi katsiiro, wa subhanallahi bukrotaw washilaa, wa subhanallahi bukrotaw washilaa, wa subhanallahi bukrotaw washilla a’udzu billahi minasy syaithooni min nafkhihi, wa naftshihi, wa hamzih)

    Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan.

    Keutamaan Doa Iftitah

    Doa iftitah memiliki sejumlah keutamaan yang diriwayatkan dari beberapa hadits. Berikut ini keutamaan doa iftitah.

    1. Dibukanya Pintu-pintu Langit

    Salah satu keutamaan doa iftitah adalah dibukanya pintu-pintu langit. Pendapat tersebut merujuk pada salah satu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA,

    “Ketika kami salat bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba seseorang mengucapkan ‘Allahuakbar kabira walhamdu lillahi katsira wasubhanalla hibukratawwa ashiilan’. Selesai salat, Rasulullah SAW bertanya, ‘Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?’ Seorang sahabat menjawab, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Beliau lalu bersabda, ‘Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu’ Kata Ibnu Umar, ‘Maka aku tak pernah lagi meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah SAW mengucapkan hal itu.’” (HR Muslim).

    2. Bacaan Rasulullah SAW Saat Salat Malam

    Syekh Irfan bin Sulaim al-Asya Hasunah al-Dimasyqiy dalam Kitab Adzkaar al-Muttaqin min Kitaabillah wa Shahih al-Haditsi Imam menyebutkan, doa iftitah menjadi bacaan Rasulullah SAW ketika memulai salat malamnya.

    Dari Abu Salmah bin Abdurrahman bin Auf ia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah Ummul Mukminin. Dengan bacaan apa Nabi memulai salatnya apabila ia bangun dari tidur di malam hari?” Aisyah berkata, “Apabila bangun dari tidur malam, maka Rasulullah membaca doa iftitah dalam salatnya.”

    Itulah beberapa bacaan doa iftitah disertai dengan hukum dan keutamaannya. Semoga bermanfaat.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Ada Peran Cicak saat Terbakarnya Baitul Maqdis, Ini Haditsnya


    Jakarta

    Baitul Maqdis atau Masjid Al Aqsa adalah salah satu tempat suci bagi umat Islam yang bersejarah dengan dinamika yang panjang. Masjid ini pernah menjadi titik keberangkatan Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Mi’raj bahkan pernah menjadi kiblat salat sebelum berpindah ke Makkah.

    Tidak diketahui kapan tepatnya masjid ini dibangun karena ada beragam versi yang menyatakan pendapatnya. Namun, masjid ini pernah mengalami kehancuran hingga kebakaran di masa lalu yang menyebabkan dilakukan renovasi beberapa kali.

    Terakhir, peristiwa tragis lagi-lagi terjadi di Baitul Maqdis pada 21 Agustus 1969. Saat itu, Yahudi melakukan kejahatan besar yakni membakar tempat ibadah bersejarah dalam Islam tersebut.


    Dikutip dari buku Sejarah & Keutamaan Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds oleh Mahdy Saied Rezk Karisem, seorang Yahudi bernama Dennis Michael Rohan menyalakan api di tiga tempat dengan bahan-bahan kimia yang mudah terbakar hingga api pun berkobar dengan sangat besar. Insiden ini pun melenyapkan mimbar kuno bernama Shalahuddin Al Ayyubi’.

    Peristiwa ini lalu mengundang murka umat Islam dunia hingga terlahir ide pembentukan organisasi negara-negara Islam atau negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam yakni Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

    Peran Cicak saat Baitul Maqdis Terbakar

    Diriwayatkan dalam salah satu hadits, ada satu hewan yang turut membantu dalam berkobarnya peristiwa kebakaran di Baitul Maqdis. Hewan yang dimaksud adalah cicak.

    Dikutip dari laman Organisasi Islam di Arab Saudi, Al Durar Al Sunni, keterangan hadits tersebut bersumber dari Kitab Al Sunan Al Kubra (9/318) dengan hadits mauquf yang rantai penyebarannya shahih. Dari Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr yang mengutip perkataan Aisyah RA menyebutkan,

    عن عائشةَ رضِيَ اللهُ عنها أنَّها قالتْ: كانتِ الأَوْزاغُ يَومَ أُحرِقتْ بَيتُ المَقدِسِ جعَلتْ تَنفُخُ النارَ بأفواهِها، والوَطواطُ تُطفِئُها بأجنِحَتِها

    Artinya: Dari Aisyah RA, dia berkata: “Pada hari Tempat Suci terbakar, cicak mengobarkan api dengan mulutnya dan kelelawar memadamkannya dengan sayapnya.” (HR Al Baihaqi [19863])

    Dijelaskan dalam laman tersebut, hadits di atas menjelaskan peran cicak meniup-niupkan api untuk memperbesar kobaran api tersebut. Riwayat ini pula yang menjadi landasan perintah untuk membunuh cicak dalam Islam.

    Riwayat serupa juga bersumber dari bekas budak Al Fakih bin Al Mughirah yang saat itu menemui Aisyah RA dan melihat ada tombak tergeletak di rumahnya. Ia pun bertanya pada Aisyah, “Wahai ummul mukminin, apa yang engkau lakukan dengan tombak ini?”

    Aisyah menjawab, “Kami menggunakannya untuk membunuh cicak. Karena Rasulullah SAW memberitahu kami bahwa tatkala Ibrahim RA dilemparkan ke dalam api, semua binatang di atas bumi berusaha memadamkan kobaran api kecuali cicak. Ia justru meniup-niupkan apinya supaya berkobar semakin besar. Maka Rasulullah pun memerintahkan untuk membunuhnya.” (HR Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, Syaikh Syu’aib menyatakan bahwa sanadnya shahih)

    Rasulullah SAW bahkan pernah menyebutkan dalam hadits keutamaan dari membunuh cicak. Dikisahkan oleh Abu Hurairah RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW,

    مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ

    Artinya: Barang siapa membunuh cicak dengan sekali pukulan, maka dia mendapat kebaikan sekian dan sekian. Barang siapa membunuh cicak dengan dua kali pukulan, maka dia memperoleh kebaikan sekian dan sekian, yang lebih sedikit daripada yang pertama. Jika dia membunuh cicak dengan tiga kali pukulan, maka dia memperoleh kebaikan sekian dan sekian, yang lebih sedikit daripada yang kedua. (HR Muslim)

    Imam Nawawi dalam Syarh An Nawawi ‘ala Shahih Muslim menafsirkan, pahala kebaikan yang berbeda tingkatannya itu merupakan balasan Allah SWT pada kecermatan dalam kesulitan membunuh cicak. Tingkat kesulitan tersebut dimaknai sebagai perbuatan yang ikhlas mengerjakan karena Allah SWT.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits tentang Iman dan Ihsan, Saat Jibril Mendatangi Rasulullah SAW


    Jakarta

    Secara bahasa, iman artinya membenarkan. Dalam Islam, iman dikatakan sebagai satu dasar kepercayaan kaum muslimin.

    Setidaknya ada 6 rukun iman yang wajib diyakini seperti dikatakan dalam surah An Nisa ayat 136,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا


    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada kitab (Al Quran) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

    Mengutip dari buku Islamologi: Arti Iman susunan Maulana Muhammad Ali, iman juga diartikan sebagai percaya. Akar katanya berasal dari amana yang berarti percaya.

    Pengertian Iman juga disebutkan dalam hadits dari Umar bin Khatthab, ia berkata pada suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh Malaikat Jibril, Jibril bertanya pada Rasulullah,

    “Beritahukanlah kepadaku apa itu iman.” Rasulullah menjawab, “Iman itu artinya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim)

    Selain iman, ada juga yang dinamakan ihsan. Ihsan diartikan sebagai kebaikan secara bahasa, sebagaimana dikutip dari buku Aqidah Akhlak oleh Taofik Yusmansyah.

    Ilmuwan abad pertengahan, Al-Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa ihsan lebih tinggi dari keadilan (keseimbangan antara memberi dan mengambil). Ihsan dikatakan sebagai sifat yang menjadikan pemiliknya memperlakukan orang lain dengan baik meskipun orang tersebut memperlakukannya dengan buruk.

    Terkait iman dan ihsan ini juga tersemat dalam sebuah hadits. Seperti apa? Simak bahasannya berikut ini yang dirangkum dari arsip detikHikmah.

    Hadits tentang Iman dan Ihsan

    Dari Abu Hurairah RA, dia berkata:

    “Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, maka datanglah malaikat Jibril (dalam rupa seorang laki-laki) dan bertanya, apa iman itu? Nabi menjawab: engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, dan hari kebangkitan. Kemudian ia bertanya lagi, apa Islam itu? Nabi menjawab: engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, engkau mendirikan salat, menunaikan zakat, saum di bulan Ramadan dan menunaikan ibadah haji. Kemudian ia bertanya lagi, apa ihsan itu? Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihatmu,” (HR Bukhari).

    Hadits serupa dengan redaksi yang berbeda juga terdapat dalam riwayat Muslim. Dari Umar RA, ia berkata:

    “Ketika kami berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

    Lalu, dia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya di atas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata, ‘Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam!’

    Rasulullah menjawab, ‘Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.’

    Orang itu berkata, ‘Engkau benar.’ Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang iman!’

    Rasulullah menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

    Orang tadi berkata, ‘Engkau benar.’ Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan!’

    Rasulullah menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.’

    Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang kiamat!’

    Rasulullah menjawab, ‘Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Selanjutnya orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!’

    Rasulullah menjawab, ‘Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan putrinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lombalah mendirikan bangunan.’

    Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?’ Saya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

    Rasulullah berkata, ‘Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu,” (HR Muslim)

    Apa Hubungan Iman dan Ihsan?

    Selain iman dan ihsan, ada juga Islam. H Masan dalam buku Pendidikan Agama Islam mengatakan hubungan antara iman, Islam dan ihsan layaknya segitiga sama sisi.

    Antara sisi satu dan lainnya memiliki hubungan yang sangat erat. Ia mengibaratkan takwa sebagai segitiga sama sisi, yang masing-masing sisinya terdiri dari iman, Islam, dan ihsan.

    Demikian pembahasan mengenai hadits iman dan ihsan. Semoga bermanfaat.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Tobat 100 Kali Sehari, Ternyata Ini Istighfar yang Rasulullah SAW Baca


    Jakarta

    Setiap manusia tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Karena itu, hendaknya kita tobat dan memohon ampunan Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW yang memiliki sifat maksum saja senantiasa bertobat kepada-Nya setiap hari.

    Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Jami’us Sirah mengemukakan bahwa Nabi SAW adalah manusia yang paling banyak tobatnya. Beliau juga adalah manusia yang paling sering beristighfar. Para sahabat mendengar beliau membaca istighfar lebih dari 100 kali dalam sekali duduk.

    Dalam sejumlah hadits disebutkan pula kalau Rasul SAW bertobat dan meminta ampun lebih dari 70 kali atau sebanyak 100 kali setiap harinya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA bahwa beliau SAW bersabda:


    “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah SWT. Karena sesungguhnya aku (sendiri) bertobat kepada-Nya sebanyak 100 kali dalam sehari.” (HR Ahmad [4/211] dan Muslim [2702])

    Abu Hurairah RA mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah SWT dan bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak lebih dari 70 kali.’” (HR Bukhari)

    Nabi SAW selalu bertobat dan memohon ampunan Allah SWT setiap harinya sekalipun dosa-dosa beliau di masa lalu maupun di masa mendatang telah diampuni oleh-Nya. Beliau SAW bersabda: “Sesungguhnya, qalbuku tidak akan terhibur kecuali setelah aku beristighfar kepada Allah SWT dalam satu hari 100 kali.” (HR Muslim)

    Dari hadits-hadits di atas dapat diketahui jelas bahwa Nabi SAW bertobat dan memohon ampunan Allah SWT hingga 100 kali setiap harinya. Beliau melakukan itu karena hatinya merasa tenang setelah beristighfar.

    Sebagai manusia biasa tentu kita harus malu dengan Rasul SAW. Lantaran kita tidak seperti beliau yang dosanya telah diampuni dan maksum (terhindar dari perbuatan dosa), serta kita hanyalah manusia biasa yang sering melakukan dosa dan kesalahan.

    Karenanya marilah kita bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Kita bisa mulai dengan cara termudah, yakni mengikuti bacaan istighfar yang Nabi SAW baca. Seperti apa redaksi istighfar yang beliau lafalkan dalam tobat hariannya?

    Bacaan Istighfar 100 Kali Rasulullah SAW

    Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memberi tahu bacaan istighfar yang dibaca Nabi SAW dalam tobat hariannya. Dia menukil riwayat dari Ibnu Umar RA dalam kitab Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

    Ibnu Umar RA mengatakan bahwa Rasul SAW membaca istighfar sebanyak 100 kali setiap harinya dengan redaksi berikut:

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    Latin: Raabbighfir lii watub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim.

    Artinya: “Ya Allah Tuhanku, ampunilah aku dan berikanlah tobat atasku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengasih.”

    Imam Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini hasan.

    Keutamaan Istighfar

    Bertobat dan memohon ampunan Allah SWT dengan istighfar bukanlah perkara yang sepele. Pasalnya, dosa dan kesalahan yang dimiliki pembaca istighfar akan terampuni.

    Sayyidah Aisyah RA pernah menuturkan: “Nabi SAW bersabda kepadaku, ‘Apabila engkau melakukan sebuah dosa, mohon ampunlah kepada Allah SWT dan segera bertobatlah kepada-Nya. Niscaya akan diterima serta engkau akan diampuni dari dosa tersebut.’” (HR Nasa’i)

    Bukan hanya dosa dan kesalahannya diampuni, istighfar juga punya keistimewaan lain. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Siapa saja yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah SWT akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalah, melapangkan kesempitannya, dan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

    Demikian, marilah kita semua bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT, minimal dengan melafalkan bacaan istighfar. Bisa dengan membaca redaksi istighfar Rasulullah SAW di atas.

    (fds/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Qunut Nazilah untuk Keselamatan Umat Islam


    Jakarta

    Qunut nazilah merupakan doa yang dipanjatkan untuk keselamatan umat Islam. Doa ini biasa dibaca saat terjadi bencana, musibah, perang, dan keadaan tidak menyenangkan lainnya yang menimpa umat Islam.

    Dalil pelaksanaan qunut nazilah ini bersandar pada beberapa hadits shahih yang termuat dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab hadits lainnya, sebagaimana diterangkan dalam Mausu’at Ad-Du’a karya Syaikh Hamid Ath-Thahir Al-Basyuni.

    Dalam salah satu hadits Muslim disebutkan,


    مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ عَلَى سَرِيَّةٍ مَا وَجَدَ عَلَى السَّبْعِيْنَ الَّذِينَ أُصِيبُوا يَوْمَ بِثْرِ مَعُونَةَ كَانُوا يُدْعَوْنَ الْقُرَّاءَ فَمَكَثَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى قَتَلَتِهِمْ

    Artinya: “Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW berduka atas musibah yang menimpa delegasi beliau sebagaimana rasa duka beliau atas musibah yang telah menimpa delegasi beliau berjumlah 70 orang yang dibunuh di Bi’ru Ma’unah, yang mana mereka semua biasanya disebut dengan qurroo’. Karenanya, beliau melakukan qunut selama sebulan guna mendoakan kecelakaan atas orang-orang yang telah membunuh mereka.” (HR Muslim)

    Imam an-Nawawi dalam Shahih Muslim bi Syarhi An-Nawawi mengatakan, menurut pendapat yang shahih dan populer, umat Islam harus membaca qunut nazilah setiap salat fardhu tatkala kaum muslim sedang dilanda bencana, seperti kedatangan musuh atau kekeringan atau banjir atau gempa dan lain sebagainya.

    Doa Qunut Nazilah Arab dan Artinya

    Berikut bacaan doa qunut nazilah sebagaimana dinukil dari buku Fiqh Wabah yang disusun oleh LPBKI MUI Pusat.

    Qunut nazilah dalam situasi perang:

    للهُم أَنْج سَلَمَة بن هِشَامٍ، اللهُمَّ أَنْجِ الوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْج عَيَّاسَ بْنَ أبِي رَبِيعَة، اللهُمَّ أَنْجِ المُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطَأتَكَ عَلَى مُضَرَ، اللَّهُمَّ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ

    Artinya: “Ya Allah, tolonglah ‘Ayyash bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah Walid bin Al Walid. Ya Allah, tolonglah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, tolonglah orang-orang lemah dari kaum mukminin. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka. Ya Allah, jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati ibarat tahun-tahun yang dilewati Yusuf.”

    Qunut nazilah saat nabi dikhianati Yahudi dan Nasrani:

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلْفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ اللَّهُمُ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاتكَ اللَّهُم خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي : لا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ

    Artinya: “Ya Allah ampunilah kami, kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat. Persatukanlah hati mereka. Perbaikilah hubungan di antara mereka dan menangkanlah mereka atas mushu-Mu dan musuh mereka. Ya Allah laknatlah orang-orang kafir ahli kitab yang senantiasa menghalangi jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, dan memerangi para wali-Mu.

    Ya Allah cerai-beraikanlah persatuan dan kesatuan mereka. Goyahkanlah langkah-langkah mereka, dan turunkanlah atas mereka siksa-Mu yang tidak akan Engkau jauhkan dari kaum yang berbuat jahat. (Dengan nama-Mu Ya Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Tuhan kami, kami memohon bantuan-Mu.”

    Cara Melakukan Qunut Nazilah

    • Membaca qunut nazilah setiap salat fardhu pada rakaat terakhir setelah rukuk
    • Membaca qunut nazilah dengan suara keras sebagaimana dikatakan Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar. Ini mengacu pada hadits shahih dari Abu Hurairah RA yang menyebut, “Rasulullah SAW membaca qunut dengan suara keras dalam qunut nazilah (adanya bencana). Adapun, jika salat sendirian maka bisa membacanya dengan suara pelan.
    • Mengangkat tangan saat membaca doa qunut.

    Ulama Syafi’iyah berbeda pendapat dalam masalah mengangkat tangan. Ada yang berpendapat mengangkat tangan dan mengusap kedua tangan pada wajah, ada yang menyebut mengangkat tangan tapi tidak mengusap kedua tangan pada wajah, dan pendapat ketiga tidak mengangkat tangan dan tidak mengusapkannya ke wajah. Imam an-Nawawi menyebut pendapat pertama yang paling benar.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Dzikir Penghapus Dosa yang Bisa Diamalkan Seorang Muslim


    Jakarta

    Manusia yang hidup di dunia ini tak lepas dari kesalahan dan perbuatan dosa, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Dalam Islam, membaca dzikir penghapus dosa bisa menjadi salah satu upaya untuk memohon ampunan Allah SWT.

    Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dia akan mengampuni hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meminta ampunan-Nya.

    Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 110 yang berbunyi,


    وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

    Artinya: “Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan untuk meminta ampunan kepada Allah SWT. Salah satunya dengan berzikir.

    Dzikir Penghapus Dosa

    1. Istighfar

    Zikir penghapus dosa yang pertama adalah istighfar. Dijelaskan dalam Buku Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa karya Ali Amrin Al-Qurawy, dzikir adalah wujud permohonan maaf (ampun) kita kepada Allah SWT.

    Rasulullah SAW pernah bersabda,

    “Barang siapa mengucapkan ‘Aku meminta ampunan kepada Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia, yang hidup dan berdiri sendiri, mengatur makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya,’ maka dosanya akan diampuni meskipun ia pernah melarikan diri dari medan perang.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim)

    Saking pentingnya dzikir istighfar, Imam Qatadah juga berkata, “Sesungguhnya, Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kalian tentang penyakit dan obatnya. Adapun penyakit itu adalah dosa-dosa, dan istighfar adalah obat bagi kalian.”

    Berikut bacaan istighfar penghapus dosa yang dimaksud dalam hadits tersebut,

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْمِ الَّذِيْ لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

    Arab-latin: Astaghfirullah hal’adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih

    Artinya: “Aku meminta ampunan kepada Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia, yang hidup dan berdiri sendiri, mengatur makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya.”

    2. Dzikir La Illahaa Illallah

    Disebutkan dalam buku Berbuat Dosa tapi Masuk Surga yang ditulis oleh Muhammad Akrom, apabila seorang muslim ingin meminta ampunan atas dosanya kepada Allah SWT, maka ia bisa mengucapkan:

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ

    Arab-latin: Laa Illaaha illallah Wallahu Akbar, Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billahi

    Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah SWT, Allah Maha Besar, Tiada daya dan kekuatan kecuali (datangnya dari) Allah SWT.”

    Dalam hadits dikatakan, “Barang siapa yang membaca lafal ini, maka baginya diampuni kesalahannya meskipun kesalahannya seperti buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

    3. Dzikir Subhanallahi wa Bihamdihi

    Muhammad Auli dalam bukunya yang berjudul Risalah Doa & Zikir Keluarga, menuliskan salah satu hadits yang menjelaskan tentang dzikir penghapus dosa adalah dengan membaca subhanallahi wa bihamdihi.

    Hadits itu berbunyi,

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثلَ زَبَدِ الْبَحْرِ.

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang mengucapkan subhanallahi wa bihamdihi dalam sehari sebanyak seratus kali, niscaya akan dihapus semua dosa-dosa (kecil)-nya, meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Bukhari)

    Berikut bacaan yang dimaksud dalam hadits tersebut,

    سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ

    Arab-latin: Subhanallah wa bi hamdih

    Artinya: “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya.”

    4. Dzikir Rabbanaaghfir lana Watub ‘Alainna

    Dzikir penghapus dosa yang keempat tertulis dalam buku 10 Amalan Inti Penghapus Dosa karya Ahmad Zacky El-Syafa. Dzikir ini berbunyi:

    رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    Arab-latin: Rabbanaaghfir lanaa watub ‘alainaa innaka antat tawwabur rahiimu

    Artinya: “Duhai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha menerima tobat lagi Maha Kasih sayang.”

    Rasulullah SAW selalu membaca dzikir penghapus dosa ini sebelum beranjak dari sebuah majelis atau halaqah (pertemuan) sebanyak seratus kali. Hal ini terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Abu Dawud yang berasal dari Ibnu Umar RA.

    5. Dzikir Sayyidul Istighfar

    Rasulullah SAW pernah bersabda, bahwa siapa saja yang membaca sayyidul istighfar pada waktu siang dengan penuh keyakinan, lalu meninggal sebelum petang, maka ia termasuk penghuni surga. Apabila seseorang membacanya pada waktu petang hari dengan penuh keyakinan, kemudian ia meninggal dunia sebelum pagi, maka ia juga termasuk penghuni surga. (HR Bukhari)

    Dzikir tersebut berbunyi,

    اَللّٰهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنِبِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ اِلَّا اَنْتَ

    Arab-latin: Allaahumma anta Rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wawa’dika wastatha’tu a’uudzubika min syarri maa shana’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya wa abuu u laka bidzanbii fainnahuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta

    Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang ku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Sholat Isya dan Bacaan Dzikirnya


    Jakarta

    Ada bacaan doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah menyelesaikan sholat. Termasuk bacaan doa setelah sholat Isya.

    Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berdoa kepada-Nya. Hal tersebut terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, salah satunya surah Al A’raf ayat 55,

    اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ ٥٥


    Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

    Dzikir dan doa setelah sholat Isya dapat di amalkan oleh setiap muslim karena terdapat keutamaan yang mulia. Rasulullah SAW pernah ditanya, “Doa macam apakah yang paling didengarkan?” Beliau menjawab: “Bagian malam yang akhir setelah sholat fardu.” (HR Tirmidzi)

    Bacaan Doa setelah Sholat Isya

    Dikutip dari buku Panduan Lengkap Shalat Wajib dan Sunnah Serta Doa Sehari-hari karya Muhammad Fakhri, berikut bacaan doa setelah sholat isya yang dapat di amalkan oleh seorang muslim.

    أَسْتَغْفِرُ الله العظيم x٣

    Bacaan latin: Astaghfirullah 3x

    Artinya: “Aku minta ampun kepada Allah.” (3x)

    اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

    Bacaan latin: Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

    Artinya: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدَّ مِنْكَ الجد.

    Bacaan latin: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allahumma laa maani’a limaa a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

    Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya, Allah. Tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”

    لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النَّعْمَةُ وَ لَهُ الْفَضْلُ وَ لَهُ التَّنَاءُ الحَسَنُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينُ وَ لَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.

    Bacaan latin: Laa ilaha wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa hawla laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyaah. Lahun ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaaul hasan. Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

    Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir benci.”

    سُبْحَانَ اللهِ ۳۳× . الْحَمْدُ لِلهِ ۳۳× اللهُ أَكْبَرُ ۳۳× . لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلَّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

    Bacaan latin: Subhanallah (33x) Alhamdulillah (33x) Allahu akbar (33 x) Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

    Artinya: “Mahasuci Allah (33x), segala puji bagi Allah (33x), Allah Maha Besar (33x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

    اللهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلُ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَ رُكُوعَنَا وَ سُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَ تَضَرُّعَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَعَبُدَنَا وَثَمُمْ تَقْصِيرَنَا يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيمُ.

    Bacaan latin: Allaahumma rabbana taqabbal minnaa shalaatanaa washiyaamanaa warukuu’anaa wasujuudanaa waqu’uudanaa watadharru’anaa wa takhasysyu’anaa wata’abbudanaa wa tammim taqshiiranaa yaa Allaah yaa rahmaanu yaa rahiim,

    Artinya: “Ya, Allah. Terimalah sholat kami, puasa kami, rukuk kami, sujud kami, duduk rebah kami, khusyuk kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama sholat, Ya, Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارَ، وَأَدْخِلْنَا الْجُنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

    Bacaan latin: Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanataw wafil aakhirati hasanataw waqinaa ‘adzaabannaar. Wa adkhilnal jannata ma’al abraari yaa ‘aziizu gaffaar.

    Artinya: “Ya, Allah kami. Berilah kami kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat dan jauhkan kami dari siksa api neraka. Dan masukanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Pengampun.”

    Neni Nuraeni dalam buku Tuntunan Shalat Lengkap dan Benar menyatakan bahwa dengan membaca zikir dan doa setelah sholat, seseorang akan mendapatkan keutamaan seperti diberikan ketenangan hatinya oleh Allah SWT.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Ra’d ayat 28,

    الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ٢٨

    Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Hadits Ini Jelaskan Keutamaan Sholat Jumat


    Jakarta

    Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang keutamaan sholat Jumat. Sholat sunnah di hari Jumat ini mendatang pahala dan berkah jika dikerjakan dengan niat tulus semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT.

    Bagi umat muslim, Jumat merupakan hari yang istimewa. Banyak amalan yang mendatangkan pahala berlimpah ketika dikerjakan di hari Jumat.

    Mengutip buku Superberkah Shalat Jumat: Menggali dan Meraih Keutamaan dan Keberkahan di Hari Paling Istimewa karya Firdaus Wajdi dan Luthfi Arif dijelaskan bahwa Jumat menjadi simbol hari berkumpul dalam sosialisasi umat Islam.


    Hal ini sesuai dengan makna “Jumat” itu sendiri yang secara etimologis berasal dari kata jama’a – yajmau- jama’ah yang berarti “berkumpul”. Dalam Al-Mu’jam Al-Wasith, kata al-jum’atu berarti al-majmu’atu yang bermakna “kumpulan”.

    Menurut Ibnu Sirin, yang pertama kali menyebut ‘Jumat’ adalah kaum Anshar. Ketika itu, penduduk Madinah (Anshar) berkumpul di hari ‘Arubah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah). Mereka berkata, “Dalam satu minggu umat Yahudi memiliki satu hari khusus untuk berkumpul, yaitu hari Sabtu. Umat Nasrani juga memiliki hari khusus, yakni hari Ahad. Mari kita berkumpul untuk menciptakan satu hari khusus, yang pada hari itu kita berzikir dan berdoa kepada Allah.”

    Mereka berkata, “Sabtu adalah harinya umat Yahudi. Ahad adalah harinya umat Nasrani. Maka, mari jadikan ‘Arubah hari khusus bagi kita’. Mereka lalu berkumpul untuk menemui As’ad bin Zurarah atau yang dikenal dengan sebutan Abu Umamah. Mereka shalat dua rakaat dengan As’ad bin Zurarah sebagai imam.

    Dalam pertemuan itu, Asad juga menyembelih seekor kambing untuk hidangan makan siang setelah shalat. Sejak saat itulah ‘Arubah dinamakan Jumat, yang secara harafiah berarti ‘hari berkumpul’.

    Hadits tentang Keutamaan Sholat Jumat

    Buku Rahasia Kedahsyatan Hari Jumat Berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah karya Nur Aisyah Albantany menjelaskan sholat Jumat memiliki banyak keutamaan. Sebut saja mulai dari cara bersuci yang sangat dianjurkan untuk mandi besar sebagaimana mandi janabat, cara berpakaian yang dianjurkan memakai pakaian terbagus dan menggunakan wewangian.

    Berikut ini beberapa dalil hadits Rasulullah SAW yang menunjukkan keutamaan sholat Jum’at.

    1. Pahala besar bagi yang datang awal ke masjid

    Diriwayatkan dari Aus bin Aus r.a, berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa mandi pada hari Jumat, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585).

    2. Amalan yang dicatat malaikat

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda:
    “Jika tiba hari Jumat, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jumat adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164)

    3. Diampuni dosa di antara dua Jumat

    Diriwayatkan dari Salman r.a, Rasulullah SAW bersabda:
    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak wangi yang di rumahnya, kemucian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan khutbah dengan seksama ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan Jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya, no. 859)

    4. Pahala mendengarkan khutbah

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum’at, “diamlah!” sewaktu imam berkhutbah, berarti kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘Alaih, lafadz milik Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 859)

    Dalam riwayat Ahmad, dari lbnu ‘Abbas r.a, Rasulullah SAW bersabda:
    “Siapa yang berbicara pada hari Jumat, padahal imam sedang berkhutbah, maka dia seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Dan orang berkata kepada (saudara)-nya, “diamlah!”, tidak ada Jumat baginya.” (HR. Ahmad).

    Hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa sholat Jumat memiliki pahala besar. Barangsiapa melaksanakannya sesuai dengan syarat-syaratnya, tata tertibnya, sunnah-sunnahnya, maka dia akan memperoleh banyak pahala dan keutamaan sebagai berikut:

    – Setiap langkah dari rumahnya menuju ke masjid mendapatkan pahala seperti pahala puasa dan pahala sholat malam setahun penuh.

    – Mendapatkan pahala seperti orang yang berqurban unta, atau sapi, atau kambing, atau ayam, atau telur, sesuai seberapa awal ia berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat.

    – Mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang telah ia lakukan hingga tiba shalat Jumat berikutnya dan tambahan tiga hari menurut sebagian riwayat.

    – Malaikat mencatat pahala shalat Jumatnya di dalam catatan mereka, selain catatan malaikat yang bertugas menuliskan amal.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa untuk Palestina dan Masjidil Aqsa, Bisa Dibaca Tiap Salat


    Jakarta

    Umat Islam di Palestina khususnya di jalur Gaza dan kawasan Masjidil Aqsa masih harus berhadapan dengan konflik setiap harinya. Bagi muslim yang hendak mengirim doa untuk Palestina dan Masjidil Aqsa dapat mengamalkan doa qunut nazilah.

    Doa qunut nazilah adalah doa yang biasa diamalkan saat terjadi bencana, musibah, perang, dan keadaan tidak menyenangkan lainnya yang menimpa umat Islam. Prof Wahbah Az-Zuhaili dalam buku Fiqhul Islam wa Adillathuhu mengatakan, disebut qunut nazilah karena maknanya adalah bencana atau musibah yang melanda kaum muslimin.

    Dikisahkan dalam suatu riwayat hadits bahkan Rasulullah SAW pernah membaca doa qunut nazilah selama sebulan karena tragedi terbunuhnya para qurra’ atau ahli Al-Qur’an.


    مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ عَلَى سَرِيَّةٍ مَا وَجَدَ عَلَى السَّبْعِيْنَ الَّذِينَ أُصِيبُوا يَوْمَ بِثْرِ مَعُونَةَ كَانُوا يُدْعَوْنَ الْقُرَّاءَ فَمَكَثَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى قَتَلَتِهِمْ

    Artinya: “Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW berduka atas musibah yang menimpa delegasi beliau sebagaimana rasa duka beliau atas musibah yang telah menimpa delegasi beliau berjumlah 70 orang yang dibunuh di Bi’ru Ma’unah, yang mana mereka semua biasanya disebut dengan qurra’. Karenanya, beliau melakukan qunut selama sebulan guna mendoakan kecelakaan atas orang-orang yang telah membunuh mereka.” (HR Muslim)

    Di samping itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya mengajak masyarakat muslim untuk mengamalkan doa qunut nazilah. Doa tersebut ditujukan untuk memohon keselamatan, kekuatan, dan kemampuan bagi bangsa Palestina.

    “Semoga Allah SWT memberi kekuatan dan kemampuan dalam mewujudkan kemerdekaan penuh dan perdamaian abadi,” tulis keterangan MUI dalam kesepakatan 7 tausiyah tentang perang Israel-Palestina, dikutip Jumat (13/10/2023).

    Doa untuk Palestina dan Masjidil Aqsa

    Doa tersebut dapat diamalkan dengan bacaan doa qunut nazilah. Doa ini dianjurkan untuk dibaca setiap salat fardhu pada rakaat terakhir sehabis rukuk.

    Merujuk pada redaksi qunut nazilah yang tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW, berikut bacaannya yang diriwayatkan Umar RA:

    اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَات بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْ عَلَى عَدُوّكَ وَعَدُوِّهِمْ اللَّهُمْ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ. اللَّهُمْ خَالِفٌ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ

    Arab latin: Allahum maghfirlilmu’miniina wal mu’minati, wal muslimiina wal muslimaati, wal alifa bayna quluubihim, wa ashlih dzaat baynihim, wanshur alaa a’uduwka wa aduwwihim lahumul an kafarati ah lil kitaabi ladziina yukadzibuuna rasulaka, wa yuqaa tiluuna aw liyaa aka. allahumma khoolifun bayna kalimatihim, wa zalzil aqdaa mahum, wa anzil bihim ba’salkaldzii laa yurdun anilqowmil mujrimiina. bismillahirrahmanirrahiiim. allahumma innanasta’iinuka.

    Artinya: “Ya Allah ampunilah dosa orang mukmin, dan mukminat, muslimin, dan muslimat, satukaniah hati-hati mereka, damaikanlah di antara mereka. Tolonglah mereka untuk mengalahkan musuhmu, dan musuh mereka. Ya Allah timpakanlah laknat kepada orang kafir ahli kitab yang telah mendustakan para utusan-Mu, dan memerangi para wali-Mu. Ya Allah, gagapkanlah ucapan mereka, pecah belahkan kekuatan mereka, dan timpakan siksa-Mu yang tidak mungkin mampu dicegah mereka. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, dan Penyayang. Ya Allah sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu.”

    Bacaan doa qunut nazilah lainnya dinukil dari buku Fiqh Wabah oleh LPBKI MUI Pusat. Doa ini diamalkan dalam situasi perang yang dapat dijadikan doa untuk Palestina dan Masjidil Aqsa.

    للهُم أَنْج سَلَمَة بن هِشَامٍ، اللهُمَّ أَنْجِ الوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْج عَيَّاسَ بْنَ أبِي رَبِيعَة، اللهُمَّ أَنْجِ المُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطَأتَكَ عَلَى مُضَرَ، اللَّهُمَّ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ

    Artinya: “Ya Allah, tolonglah ‘Ayyash bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah Walid bin Al Walid. Ya Allah, tolonglah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, tolonglah orang-orang lemah dari kaum mukminin. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka. Ya Allah, jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati ibarat tahun-tahun yang dilewati Yusuf.”

    Doa untuk Palestina dan Masjidil Aqsa ini dapat diamalkan dengan pelan (sirr) jika pada waktu Zuhur dan Ashar, namun dibaca dengan keras apabila diamalkan ketika Subuh, Maghrib, dan Isya dalam salat berjamaah. Dianjurkan pula mengangkat tangan saat berdoa dan mengusapkannya ke wajah seperti pendapat Imam An Nawawi.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Pulang dari Bepergian, Muslim Amalkan Yuk!


    Jakarta

    Kaum muslimin dianjurkan untuk berdoa dalam segala kondisi. Begitu pula ketika hendak memulai aktivitas maupun mengakhirinya.

    Manusia sebagai makhluk sosial tentu memiliki kegiatan sehari-hari yang mengharuskan mereka untuk bepergian keluar rumah. Ketika hendak pergi ada doa yang dapat dipanjatkan oleh umat Islam, begitu pun setelah pulang dari bepergian.

    Selekas pulang dari bepergian, seorang muslim dianjurkan untuk membaca doa dan memperhatikan beberapa adab. Salah satunya adalah dengan membaca doa masuk rumah ketika pulang dari bepergian.


    Lantas, seperti apa bunyi doa pulang dari bepergian yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin?

    Doa Pulang dari Bepergian: Arab, Latin dan Arti

    Mengutip buku Kumpulan Doa Makbul oleh Dra Neni Nuraeni M Ag, berikut doa pulang bepergian yang dapat dibaca.

    آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَاحَامِدُوْنَ

    Arab latin: Aaibuuna taaibuuna ‘aabiduuna lirobbina haamiduun

    Artinya: “Kami adalah orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertaubat, orang-orang yang beribadah kepada Rabb kami, kami memanjatkan segala puji.” (HR Muslim)

    Selain doa di atas, ada juga doa yang dinukil dari kitab Al-Adzkar min Kalam Sayyid Al-Abrar karya Imam An-Nawawi, bahwa dalam Kitab Ibnu As-Sunni dari Ibnu Abbas beliau mengatakan saat Rasulullah SAW pulang dari bepergian lalu menemui keluarganya, beliau membaca doa:

    تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حَوْبًا

    Arab latin: Tauban, tauban, li rabbinâ, lâ yughâdiru hauban

    Artinya : “Aku bertaubat kepada Tuhan kami, dan kepada-Nya aku kembali.”

    Kemudian, ada sebuah doa versi panjang yang dapat dipanjatkan selain dua doa di atas. Berikut bunyinya sebagaimana dikutip dari buku Doa Dzikir Muslimah tulisan Abu Ayyub El-Faruqi.

    لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ, وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. آيِبُوْنَا, تَاءِبُوْنَا عَابِدُوْنَالِرَبِّنَاحَامِدُوْنَ, صَدَقَ اللّٰهُ وَعْدَهُ, وَنَصَرَعَبْدَهُ وَهَزَمَ الْاَ حْزَابَ وَحْدَهُ

    Arab latin: Laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syai in qadiirun. Aayibuunaa, taaibuuna ‘aabiduunaa lirabbinaa haamiduuna, shadaqallaahu wa’dahu, wanashara ‘abdahu wahazamal ahzaba wahdahu

    Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali dengan bertobat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami. Allah telah menepati janji-Nya, membela hamba-Nya (Muhammad) dan mencerai beraikan golongan musuh dengan sendirian.”

    Merujuk pada buku tersebut, setelah bepergian kaum muslimin dapat bertakbir tiga kali, di atas tempat yang tinggi kemudian membaca doa di atas.

    Adab Pulang dari Bepergian

    Ibnu Watiniyah melalui bukunya Tuntutan Lengkap 99 Salat Sunnah Superkomplet menjabarkan sejumlah adab yang perlu diperhatikan kaum muslimin setelah pulang dari bepergian. Pertama, ketika hendak memasuki rumah, dianjurkan mendahulukan kaki kanan seraya mengucapkan, “Assalamu’alaina wa ‘ala ibadillahish shalihin.”

    Kedua, saat tiba di rumah, selanjutnya membaca doa yang disebutkan oleh Imam An Nawawi dengan bunyi berikut, “Tauban, tauban, lirabbina, auban la yughadiru hauban”

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com