Category: Doa Hadits

  • 5 Doa agar Ujian Lancar dan Mendapat Nilai Bagus, Yuk Amalkan!


    Jakarta

    Doa agar ujian lancar dan mendapat nilai bagus dapat dibaca oleh pelajar yang tengah melangsungkan ulangan. Pada dasarnya, setiap umat Islam dianjurkan untuk mengawali segala sesuatu dengan berdoa.

    Dalam surah Gafir ayat 60, Allah SWT berfirman:

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


    Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

    Meski seseorang telah mempelajari materi yang akan diujikan dengan sungguh-sungguh, usahanya tetap harus diiringi oleh doa. Sebab, segala sesuatu yang terjadi tentu atas kehendak Allah SWT.

    Menukil dari Kitab Doa Mustajab Terlengkap oleh Ustaz H Amrin Ali Al-Kasyaf dan Kitab Al-Adzkar oleh Imam Nawawi, berikut doa yang bisa dibaca untuk agar ujian lancar dan mendapat nilai bagus.

    Doa agar Ujian Lancar dan Mendapat Nilai Bagus

    1. Doa agar Ujian Lancar Versi Pertama

    اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

    Arab latin: Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

    Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.”

    2. Doa agar Ujian Lancar Versi Kedua

    رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

    Arab latin: Rabbanaa aatinaa mil ladunka rahmatan wa hayyi’ lanaa min amrinaa rasyadaa

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami berilah kami di sisi-Mu suatu rahmat, dan persiapkan kami mengenai urusan kami dengan petunjuk-Mu.”

    3. Doa agar Ujian Lancar Versi Ketiga

    رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

    Arab latin: Rabbisy rahlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatam mil lisaanii yafqahu qawli

    Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

    4. Doa agar Ujian Lancar Versi Keempat

    اللَّهُمَّ لَا سَهُلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا

    Arab latin: Allaahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan, wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlaa

    Artinya: “Ya Allah! Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya.”

    5. Doa agar Ujian Lancar Versi Kelima

    اللَّهُمَّ الْطُّفْ بِنَا فِي تَيْسِيرِ كُلِّ عَسِيرٍ فَإِنَّ تَيْسِيرُ الْعَسِيْرِ عَلَيْكَ يَسِيرٌ وَنَسْتَلُكَ الْيَسِيرُ وَالْمُعَافَةَ فِي الدُّنيا وَالآخِرَة

    Arab latin: Allaahummalthuf binaa fii taisiiri kulli ‘asiirin fa inna taisiiral ‘asiiri ‘alaika yasiirun wa nas-alukal yasiira walmu’aafaata fiddunya wal aakhirati.

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami taufiq dalam mempermudah segala sesuatu yang sukar, karena sesungguhnya mempermudah yang sukar amatlah mudah bagi Engkau, dan kami memohon kepada Engkau sesuatu yang mudah dan ampunan di dunia dan akhirat.”

    Demikian sejumlah doa yang dapat dibaca untuk melancarkan ujian. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Hasbunallah Wanikmal Wakil, Bacaan Dzikir Memohon Pertolongan Allah SWT



    Jakarta

    Hasbunallah wanikmal wakil dibaca agar mendapat banyak keutamaan dan manfaat. Umat Islam memegang teguh kalimat ini sebagai penguat iman di berbagai kesulitan yang menghadang.

    Orang yang beriman kepada Allah SWT tidak akan pernah putus asa dalam menghadapi cobaan yang diberikan-Nya. Mereka akan selalu yakin bahwa pertolongan dan perlindungan akan datang dari-Nya apabila mau bersabar.

    Sebagai penguat iman dan semangat, orang-orang mukmin memiliki sebuah kalimat yang selalu mereka pegang teguh bahkan di situasi yang sangat sulit.


    Kalimat tersebut adalah hasbunallah wanikmal wakil. Dalam arsip detikHikmah disebutkan kalimat ini biasa disebut dengan “doa tawakal.”

    Lalu bagaimanakah lafal kalimat hasbunallah wanikmal wakil dalam Bahasa Arab ini? Berikut penjelasan selengkapnya.

    Hasbunallah Wanikmal Wakil Arab, Latin, dan Terjemahan

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ

    Arab-latin: Hasbunallah wa ni’mal wakiil

    Terjemahan: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”

    Sejatinya, kalimat ini juga tertera di dalam kitab suci Al-Qur’an. Tepatnya, kalimat ini difirmankan Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 173 yang berbunyi,

    اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ١٧٣

    Arab-latin: Al-lażīna qāla lahumun-nāsu innan-nāsa qad jama’ū lakum fakhsyauhum fa zādahum īmānā(n), wa qālū ḥasbunallāhu wa ni’mal-wakīl(u).

    Terjemahan: (yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

    Keutamaan Hasbunallah Wanikmal Wakil

    Sebagaimana yang diambil dari buku Berlimpah Harta dengan Beragam Dzikir, Shalat, dan Puasa Khusus karya Muhammad Arifin Rahman, terdapat 13 keutamaan dalam doa tawakal ini, di antaranya:

    1. Allah SWT akan memberikan pertolongan kepadanya dan ia akan mendapatkan cinta dari banyak orang

    2. Allah SWT akan memberikan perlindungan dari perlindungan yang terbaik

    3. Seorang muslim yang mengucapkannya akan mendapat kemuliaan yang langgeng, berkecukupan dalam kehidupan, serta mendapat pertolongan di saat mendesak

    4. Membuat dirinya memiliki banyak pengikut

    5. Ditolong oleh Allah SWT dengan melumpuhkan kekuatan orang zalim

    6. Selalu mendapat solusi bahkan pada masalah yang berat dan buntu

    7. Mendamaikan perselisihan

    8. Allah SWT akan memberinya banyak rezeki dan pendapatan

    9. Menolong bila diremehkan karena miskin

    10. Orang-orang akan tunduk patuh kepadanya

    11. Dapat meredam berbagai demonstrasi

    12. Melindungi harta benda, tempat tinggal, dan barang berharga dari hama dan pencuri

    13. Bermanfaat untuk keberhasilan melobi para pejabat

    14. Diberi kemudahan mendapat kekayaan

    15. Terlindung dari kejelekan semua makhluk, termasuk manusia

    Waktu Mengamalkan Hasbunallah Wanikmal Wakil

    Mengambil dari arsip detikHikmah, bacaan doa tawakal atau hasbunallah wanikmal wakil bisa dibaca setiap saat selagi memungkinkan.

    Hasbunallah wanikmal wakil lebih utama diucapkan saat seorang muslim hendak bertawakal kepada Allah SWT, meminta pertolongan dan perlindungan dari-Nya.

    Diharapkan, dengan membaca doa ini, Allah SWT akan mendengar permohonan hamba-Nya dan mau memberi pertolongan dan perlindungan-Nya.

    Oleh sebab itu, doa hasbunallah wanikmal wakil bisa dibaca saat seorang muslim berjuang menghadapi masalah atau ditimpa kesulitan hidup. Contohnya adalah saat terpuruk, menderita, kesusahan, ketakutan, dan menghilangkan kekhawatiran.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bolehkah Mendoakan Keburukan untuk Orang Lain karena Zalim?


    Jakarta

    Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Biasanya doa-doa ini berkaitan dengan kebaikan dunia dan akhirat. Lantas, bolehkan mendoakan keburukan untuk orang lain yang zalim?

    Perintah untuk berdoa kepada Allah SWT termaktub dalam surah Al Mu’min (Gafir) ayat 60. Allah SWT berfirman,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ ٦٠


    Artinya: “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, perintah ayat tersebut merupakan sebagian dari karunia dan kemuliaan Allah SWT. Allah SWT menganjurkan para hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya dan Dia menjamin akan memperkenankan permintaan mereka, sebagaimana dikatakan Sufyan Ats-Tsauri dalam riwayat Ibnu Abu Hatim.

    Dianjurkan Berdoa untuk Kebaikan

    Dalam kitab Syarah Hisnul Muslim karya Syaikh Majdi Abdul Wahab Al-Akhmadi terdapat hadits yang berisi anjuran berdoa untuk kebaikan. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang sudah sangat kurus seperti seekor anak ayam.

    Beliau bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah berdoa memohon sesuatu atau meminta kepada-Nya?”

    Orang itu menjawab, “Ya, aku telah mengatakan, ‘Ya Allah, apa yang telah Engkau tentukan hukumanku di akhirat, tolong segerakanlah hal itu untukku di dunia.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Mahasuci Allah. Bukankah sebaiknya kamu berdoa saja, ‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhriat, serta jagalah kami dari azab neraka.’”

    Setelah itu, Rasulullah SAW mendoakan orang itu kepada Allah SWT dan orang itu kemudian sembuh. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim.

    Larangan Mendoakan Keburukan

    Rasulullah SAW juga melarang umatnya berdoa untuk keburukan diri sendiri. Beliau juga melarang mendoakan kecelakaan atas anak-anak, para pelayan, dan harta benda. Beliau bersabda,

    “Janganlah kamu sekalian berdoa yang tidak baik terhadap dirimu sendiri, janganlah kamu sekalian berdoa yang tidak baik terhadap anak-anakmu, jangan berdoa yang tidak baik terhadap pelayananmu, dan janganlah kamu sekalian berdoa yang tidak baik terhadap harta bendamu. Janganlah kalian menempatkan waktu di mana pemberian diperoleh dari sisi Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, lalu Dia mengabulkan doa kalian itu.” (HR Abu Dawud dan Muslim)

    Bolehkan Mendoakan Orang Zalim?

    Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam kitab Al-Halal wa Al-Haram, mendoakan orang zalim tidak diperbolehkan kecuali sekedar ucapan, “Semoga Allah menjadikan Anda orang baik” atau “Semoga Allah menolong Anda dalam berbuat baik” atau “Semoga Allah memanjangkan umur Anda dalam ketaatan kepada-Nya” dan doa-doa semacam itu.

    Menurut keterangan dalam Syarah Al Adzkar sebagaimana dinukil Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam Tashhih Ad-Du’a, seorang muslim boleh mendoakan orang kafir dzimmi yang biasa melakukan kebaikan. Harapannya mereka mendapatkan hidayah atau petunjuk sehingga bersedia masuk Islam.

    Kafir dzimmi adalah orang kafir yang hidup berdampingan dengan umat Islam. Mereka juga bukan orang yang memusuhi muslim.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Turunnya Hujan Disebut Waktu Mustajab, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Hujan adalah rahmat sekaligus berkah yang Allah SWT limpahkan kepada makhluk hidup di muka bumi. Apabila hujan tak kunjung turun, maka bumi akan mengalami kekeringan.

    Mengutip buku Indahnya Doa Rasulullah Bagiku oleh Masriyah Amva, hujan adalah salah satu tanda atas kebesaran dan rahmat Allah SWT. Ketika hujan turun, pikiran dan perasaan seseorang bisa mengalami perubahan seperti mengingat Tuhan, kebesaran-Nya, dan menjadi lebih banyak bersyukur.

    Bahkan, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa momen turunnya hujan menjadi waktu mustajab untuk berdoa. Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm meriwayatkan hadits dengan sanad mursal, Nabi SAW bersabda:


    “Carilah oleh kalian doa yang dikabulkan: di saat kedua pasukan bertemu (di jalan Allah), ketika sholat diiqamahkan, dan ketika hujan turun.”

    Dalam hadits lainnya dari Sahl bin Sa’ad RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Dua doa yang tidak pernah ditolak, yaitu doa pada waktu azan dan doa pada waktu hujan.” (HR Hakim, disahihkan oleh Adz-Dzahabi 1/113-114).

    Dalam buku Fiqih Doa dan Dzikir Jilid 2 susunan Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr, ada doa yang disunnahkan untuk dibaca ketika hujan turun, berikut bunyinya:

    اللَّهُمَّصَيِّباًنَافِعاً

    Arab latin: Allahumma shoyyiban nafi’an’

    Artinya: “Ya Allah, turunkan lah pada kami hujan yang bermanfaat.”

    Sementara itu, bila hujan sudah berhenti maka kaum muslimin bisa memanjatkan doa lainnya dengan bunyi sebagai berikut,

    اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الأَكَامِ وَالظِرَابِ وَبُطُوْنِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

    Arab latin: Allaahumma hawaa lainaa wa laa ‘alainaa, Allaahumma ‘alal-aakaami wazh-zhiroobi, wa buthuunil-awdiyati wa manaabitisy-syajari.

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan ini di sekitar kami, jangan kepada rumah-rumah kami. Ya Allah, berilah hujan ini pada daratan-dataran tinggi, bukit-bukit, dasar lembah, dan tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.”

    Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia menceritakan bahwa saat ada sekelompok orang datang kepada Rasulullah SAW, mereka meminta agar beliau berdoa supaya hujan berhenti.

    “Pasalnya, hujan tersebut turun terus menerus selama satu minggu, sehingga membuat hewan ternak mereka terancam mati dan jalanan pun terputus. Kemudian, Rasulullah SAW pun membaca doa tadi, dengan doa ini dan hujan pun berhenti.” (HR Bukhari no. 1014).

    Selain itu, Rasulullah SAW menganjurkan kita juga untuk membaca doa berikut:

    اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

    Arab latin: Allaahumma innii a’uudzu bi ridhaaka min sakhathik, wa bi mu’aafaatika min ‘uquubatik, wa a’uudzu bika minka, laa ahshii tsanaa’a ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik

    Artinya: “Ya Allah aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu dan dengan penyelamatan-Mu dari siksa-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak bisa menghitung pujian untuk-Mu, Engkau sebagaimana engkau menyanjung diri-Mu.”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Hadits tentang Fitnah, Pelakunya Diganjar Siksaan Pedih


    Jakarta

    Fitnah termasuk ke dalam perilaku buruk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fitnah diartikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan seseorang (seperti menodai nama baik dan merugikan kehormatan orang).

    Dalam bahasa Arab sendiri, fitnah memiliki banyak arti. Dalam buku Fitnah Akhir Zaman: Majalah Tebuireng Edisi 40 susunan Tim Redaksi Majalah Tebuireng, kata fitnah dalam bahasa Arab memiliki arti dasar yang berkaitan dengan ujian atau cobaan.

    Dalam surah Al Buruj ayat 10, Allah SWT berfirman:


    اِنَّ الَّذِيْنَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوْبُوْا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيْقِۗ

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam, dan bagi mereka azab neraka yang membakar.”

    Kumpulan Hadits yang Membahas tentang Fitnah

    Mengutip buku Fatwa-Fatwa Kontemporer 2 karya Yusuf Al Qardhawi, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang fitnah.

    1. Pelaku Fitnah Mendapat Siksaan Pedih

    Pelaku fitnah akan mendapat siksaan yang pedih di alam kubur nanti, Nabi SAW bersabda:

    “Sesungguhnya dua orang ahli kubur itu disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Ya, benar. Sesungguhnya dosa itu amatlah besar. Salah seorang di antara keduanya ialah (mereka) yang berjalan di muka bumi dengan menyebarkan fitnah (mengumpat). Sementara yang lain tidak bertirai ketika kencing.” (HR Bukhari dan Muslim)

    2. Manfaat Bagi Orang yang Tidak Berbuat Fitnah

    Dari al Miqdad bin al Aswad RA, beliau berkata: Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya.” (HR Abu Dawud)

    3. Hadits tentang Fitnah

    “Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barang siapa yang mencari fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung.” (HR Bukhari dan Muslim)

    4. Fitnah Wanita dan Harta Dunia

    Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.” (HR Muslim, Ahmad, An Nasa’i)

    5. Fitnah Dajjal

    “Tidak ada ujian di muka bumi sejak Allah ciptakan Adam, yang lebih besar melebihi fitnah Dajjal. Dan sungguh, setiap Allah mengutus seorang nabi, pasti dia akan mengingatkan umatnya dari bahaya Dajjal.” (HR Ibnu Majah)

    Itulah deretan hadits yang membahas tentang fitnah. Semoga kita terhindar dari dosa tersebut, naudzubillah min dzaalik.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Pagi Hari bagi Kaum Muslimin, Dibaca agar Hari-hari Penuh Keberkahan


    Jakarta

    Islam mengajarkan umatnya untuk mengawali dan mengakhiri segala sesuatu dengan doa. Berkaitan dengan itu, ada sejumlah doa pagi hari yang dapat dipanjatkan untuk mengawali hari.

    Pagi hari juga disebut sebagai waktu berkah, hal ini sesuai dalam sebuah hadits Nabi SAW yang berbunyi:

    “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR Abu Daud)


    Bahkan, berdoa di pagi hari adalah kebiasaan Rasulullah SAW. Hal ini diterangkan Imam Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar.

    Dari Abu Iyasy, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barang siapa ketika pagi hari mengucapkan, ‘Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, hanya bagi-Nya kekuasaan dan hanya bagi-Nya segala puji. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu,’ maka dia berhak mendapatkan pahala sebesar memerdekakan hamba sahaya dari keturunan Ismail, dituliskan sepuluh kebaikan baginya, dihapuskan sepuluh keburukan darinya, diangkat sepuluh derajat baginya, dan dia senantiasa terjaga dari setan hingga petang. Apabila dia mengucapkannya menjelang petang, maka dia berhak mendapatkan pahala yang sama hingga menjelang pagi.” (Hadits ini dianggap shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud)

    3 Doa Pagi Hari yang Dapat Dipanjatkan

    1. Doa Pagi Hari Memohon Kesejahteraan Dunia dan Akhirat

    Dalam Kitab Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah ada sebuah doa yang dapat dipanjatkan di pagi hari untuk memohon kesejahteraan dunia dan akhirat. Dari Ibnu Umar RA. Berikut bunyinya,

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ في الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَآمِنْ رَوْعَاتِي. اللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيَّ وَعَنْ يَمِيْنِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْق وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

    Arab latin: Allaahumma innii as-alukal ‘aafiyah fid dunya wal aakhirah, allaa- humma innii as-alukal ‘afwa wal’aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii, allaahummastur ‘auraatii wa aamin rau’aatii, allaahummah fadhnii min baini yadayya wa min khalfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaali wa min fauqii wa a’udzu bi ‘adhamatika an ughtala min tahtii

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kesejahteraan di dunia dan akhirat, ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu maaf, dan kesejahteraan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, semoga Engkau menutupi keburukanku, dan amankanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, semoga Engkau jaga aku dari arah sampingku, dari arah belakangku, depanku, dan dari arah atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari tertiup keburukan dari bawahku (gempa bumi),”

    2. Doa Pagi Hari sebagai Rasa Syukur

    Imam Nawawi melalui Kitab Induk Doa menyebut sebuah doa yang dibaca Rasulullah dan dipanjatkan setiap pagi.

    اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِيَمِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لا شَرِيكَ لَكَ، لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشكر

    Arab latin: Allaahumma maa ashbaha bii, min ni’matin fa minka wahdaka laa syariikalak, lakal hamdu wa lakasy-syukru

    Artinya: “Ya Allah, aku tidak menjumpai pagi hari kecuali karena nikmat-Mu, Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Mu, bagimu segala puji dan syukur,”

    Membaca doa tersebut di pagi hari tergolong sebagai rasa syukur kepada Allah. Lalu, jika kembali dibaca pada sore hari, maka terhitung rasa syukurnya sampai malam hari.

    3. Doa Pagi Hari untuk Memohon Kesehatan

    Ada juga doa pagi hari yang dibaca untuk memohon kesehatan dan terhindar dari kefakiran. Imam Nawawi meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, bahwa doa tersebut berasal dari Abdurrahman bin Abu Bakrah,

    اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.

    Arab latin: Allahumma afini fi badani allahumma afini fi sam’i allahumma afini fi bashari Allahumma inni a’udzu bika minal kufri wal faqri. Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabil qabri. La ilaha illa anta.

    Artinya: “Ya Allah, sehatkanlah tubuhku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah pandangan mataku. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tiada tuhan selain Engkau,”

    Keutamaan Waktu Pagi

    Mengutip buku Penakluk Subuh susunan Muhammad Iqbal, ada sejumlah keutamaan dari waktu pagi. Pertama, mudah mendapat rezeki.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Berpagi-pagilah mencari rezeki karena sesungguhnya berpagi-pagi itu membawa berkah dan menghasilkan kemenangan.”

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Shakhar, seorang sahabat sekaligus saudagar. Selain itu, pagi hari juga disebut sebagai waktu yang penuh berkah. Keutamaan ini disebutkan Nabi SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud.

    “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR Abu Daud)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits-Hadits Menahan Pandangan, Muslim Wajib Tahu!



    Jakarta

    Allah SWT memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk selalu menundukkan matanya. Rasulullah SAW juga menjelaskan hal ini dalam beberapa hadits menahan pandangan.

    Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya. Kasih sayang itu Dia tuangkan salah satunya dalam bentuk perintah. Allah SWT membuat aturan sedemikian rupa demi melindungi dan menjauhkan kita dari segala kemungkinan yang buruk.

    Dalam hal berpandangan dengan lawan jenis, Allah SWT juga telah mengaturnya. Terdapat beberapa dalil tentang menjaga pandangan, baik yang tertera di dalam Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah SAW.


    Dalil Al-Qur’an tentang Menahan Pandangan

    Allah SWT berfirman dalam surah An-Nur ayat 30-31, yang berbunyi,

    قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ (٣٠ ) وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ (٣١)

    Artinya: Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

    Hadits-Hadits Menahan Pandangan

    Perintah untuk menundukkan dan menjaga pandangan terhadap lawan jenis juga diterangkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya.

    Rasulullah SAW mengumpamakan pandangan terhadap lawan jenis bagaikan panah iblis yang bisa membawa kepada hal yang mungkar. Beliau mengatakannya sebagaimana dalam sebuah hadits yang dinukil dari buku Ensiklopedi Hal-Hal yang Haram bagi Muslimah karya Khalid Sayyid Ali.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    النَّظْرَةُ سَهُمْ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ، فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهُ تَعَالَى، أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيْمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي

    “Pandangan adalah panah dari panah-panah Iblis, siapa yang meninggalkannya (menjaga pandangannya) karena takut kepada Allah Ta’ala, Allah akan memberinya keimanan yang akan dirasakannya manis dan indah dalam hatinya.” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani.)

    Seorang mujahid mengatakan, “Jika seorang wanita menghadapmu, setan akan duduk di kepalanya dan akan menghiasi wanita itu bagi orang yang memandangnya. Jika wanita membelakangimu, dia akan menghiasi bagian belakang wanita itu untuk orang yang memandangnya.”

    Begitu dahsyat pengaruh dari memandang lawan jenis yang bukan mahram. Rasulullah SAW bahkan mengatakan bahwa pandangan yang disengaja untuk kedua kalinya adalah musibah.

    Rasulullah SAW berkata kepada Ali RA,

    يَا عَلِيُّ، لا تتبع النظرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

    “Wahai Ali, pandangan pertama janganlah diteruskan dengan pandangan selanjutnya. Karena pandangan pertama bagimu (nikmat), sedangkan pandangan kedua atasmu (musibah).” (HR oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

    Lalu, bagaimana jika ketika berjalan, seorang muslim tidak sengaja melihat atau berpandangan dengan lawan jenis? Apakah hal tersebut juga merupakan hal yang dilarang?

    Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Anhu, dia berkata,

    سَأَلْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفَجْأَةِ فَقَالَ: اصْرِفْ بَصَرَكَ وَفِي رِوَايَةٍ: اطْرُقْ بَصَرَكَ وَفِي رِوَايَةٍ : فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي

    Terjemahan: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang pandangan yang tiba-tiba. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Palingkanlah pandanganmu.” Dan pada sebuah riwayat, “Tundukkanlah pandanganmu.” Dan pada riwayat yang lain, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan aku untuk memalingkan pandanganku.” (HR Muslim. [14/138-139])

    Islam adalah agama yang adil. Larangan memandang lawan jenis yang bukan mahram tidak hanya diberikan kepada laki-laki saja. Namun, perintah ini juga dibebankan kepada para wanita.

    Hadits yang diriwayatkan Az-Zuhri, dari Nabhan dari Ummu Salamah, dia berkata,

    كُنْتُ عِنْدَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ مَيْمُونَةُ فَأَقْبَلَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ، وَذَلِكَ بَعْدَ أَنْ أُمِرْنَا بِالْحِجَابِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: احْتَجِبَا مِنْهُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ الله أَلَيْسَ أَعْمَى لَا يُبْصِرُنَا وَلَاَ يَعْرِفُنَا؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفَعَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا أَلَسْتُمَا تُبْصِرَانِهِ؟

    Artinya: “Aku sedang duduk di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan ketika itu Hafshah juga bersama kami. Lalu Ibnu Ummi Maktum meminta izin untuk masuk. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Berhijablah kalian di hadapannya.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dia seorang yang buta, dia tidak melihat kami. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apakah kalian berdua juga buta dan tidak melihatnya?”” (HR Abu Dawud)

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa & Dzikir Setelah Sholat Istikharah



    Jakarta

    Sholat Istikharah adalah bentuk ibadah sunnah yang dilakukan oleh umat Islam ketika menghadapi pilihan atau keputusan besar dalam hidup. Rasulullah SAW telah menganjurkan umatnya untuk melakukan sholat istikharah.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan menyesal orang yang mengerjakan sholat istikhrah dan tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah serta tidak akan kekurangan orang yang berhemat.”

    Setelah melakukan sholat istikharah, dianjurkan untuk membaca doa dan dzikir karena terdapat banyak keutamaan. Berikut bacaan doa dan dzikir setelah sholat istikharah.


    Dzikir setelah Sholat Istikharah

    Dikutip dari buku Panduan Shalat Malam Praktis dan Lengkap karya M. Amrin Rauf, berikut bacaan dzikir setelah sholat istikharah,

    1. Membaca Yaa Qadiir 336 kali

    يَا قَدِيرُ.

    Bacaan latin: Yaa Qadir

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Berkuasa.”

    2. Membaca Yaa Muqtadiir 775 kali

    يَا مُقْتَدِرُ

    Bacaan latin: Yaa Muqtadir

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Menentukan.”

    3. Membaca Yaa Hadi 251 kali

    يَا هَدِى.

    Bacaan latin: Yaa Hadi

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk.”

    4. Membaca Yaa Rahmaan 330 kali

    يَا رَحْمَنُ.

    Bacaan latin: Yaa Rahmaan

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Pengasih.’

    5. Membaca Yaa Rahiim 289 kali

    يَا رَحِيمُ

    Bacaan latin: Yaa Rahiim

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Penyayang.”

    Doa setelah Sholat Istikharah

    اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ

    Bacaan latin: Allahumma inni astakhiruka bi ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa talamu wa laa alamu, wa anta allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta talamu hadzal amro (menyebutkan persoalannya) khoiron lii fii aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa maaasyi wa aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta talamu annahu syarrun lii fii diini wa maaasyi wa aqibati amrii (fii aajili amri wa aajilih) fash-rifnii anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon sesuatu kepada-Mu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa, sedang aku tidak kuasa; Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya; dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang gaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebut di sini keperluan Anda) lebih baik dalam agamaku dan akibatnya terhadap diriku (di dunia atau akhirat), sukseskanlah untukku, mudah- kan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian, dan akibatnya kepada diriku maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku darinya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku.”

    Keutamaan Doa dan Dzikir setelah Sholat Istikharah

    Sholat istikharah biasanya dilakukan ketika seorang muslim memiliki sebuah hajat atau niat akan sesuatu. Berikut keutamaan doa dan dzikir setelah sholat istikharah:

    1. Semua masalah menemukan solusinya

    Masalah adalah malapetaka bagi kehidupan seseorang. Dengan melaksanakan istikharah dan membaca doa serta dzikir setelah sholat istikharah, maka semua masalah akan menemukan solusinya.

    2. Terbebas dari kesulitan hidup

    Kemungkinan besar kesulitan hidup terjadi karena tingkat ketakwaan dan keimanan seseorang kepada Allah SWT tidak total. Agar terbebas dari kesulitan hidup, maka dapat melakukan sholat istikharah serta mengamalkan doa dan dzikir setelah sholat istikharah.

    3. Mendapatkan pertolongan dan petunjuk Allah SWT

    Pertolongan Allah SWT adalah impian setiap orang. Allah SWT akan menolong hati dan hidup hamba-Nya jika mereka melakukan sholat istikharah, doa, dan dzikir setelah sholat istikharah.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa 10 Menit sebelum Berbuka Puasa agar Berkah


    Jakarta

    Waktu berbuka puasa termasuk waktu mustajab sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadits. Umat Islam bisa mengisi waktu tersebut dengan berdoa, sekitar 10 menit sebelum berbuka puasa.

    Hadits yang menyebut keutamaan waktu berbuka puasa tersebut berasal dari Abu Hurairah RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi, Allah akan mengangkatnya di bawah naungan awan pada hari kiamat, pintu-pintu langit akan dibukakan untuknya seraya berfirman: Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski setelah beberapa saat.” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Hadits hasan)


    Ada juga riwayat lain yang berasal dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash RA. Ia mengatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, bagi orang yang berpuasa, pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak.” (HR Ibnu Majah)

    Abdullah bin ‘Amr RA sendiri biasa mengumpulkan anak-anaknya ketika akan berbuka puasa dan mengajaknya berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana diceritakan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam Fi Rihabis Sunnah. Imam Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman turut mengeluarkan riwayat mengenai hal ini.

    Doa Abdullah bin ‘Amr RA ini disebutkan dalam sejumlah kitab hadits dan dinukil oleh para ulama. Salam satunya dalam kitab Ash-Shiyam karya Ibnu Majah. Doa ini juga dinukil Raghib As-Sirjani dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa thuruq wa Amaliyah. Berikut bacaan doanya.

    Doa 10 Menit sebelum Buka Puasa

    اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْئٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

    Bacaan latin: Allahumma inni as’aluka birahmatika allati wasi’at kulla sya’i an taghfira lii

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni aku.” (HR Ibnu Majah. Al-Bushiri mengatakan sanadnya shahih. Ibnu Asakir meng-hasankan hadits ini dalam Mu’jam Asy-Syuyukh)

    Dalam riwayat lain, Ibnu Umar RA memanjatkan doa permohonan ampun lainnya ketika hendak berdoa. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab RA bahwa ia mengucapkan,

    “Sesungguhnya setiap mukmin memiliki doa yang tidak tertolak ketika ia hendak berbuka puasa; dengan dipercepat untuknya di dunia atau ditabung untuknya di akhirat kelak.”

    Dan Al-Baihaqi berkata, “Adalah Ibnu Umar RA berdoa ketika ia berbuka, ‘Ya wasi’a al-maghfirah; ighfir lii (Wahai Pemilik ampunan yang luas, ampunilah aku.’” (Al Baihaqi dalam Syu’ab Iman)

    Keutamaan Berdoa kepada Allah

    Keutamaan berdoa kepada Allah SWT telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 186,

    وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦

    Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

    Menurut Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT menyuruh hamba-Nya agar berdoa kepada-Nya, serta Dia berjanji akan memperkenankan doa itu. Pada akhir ayat, Allah SWT menekankan agar hamba-Nya memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya agar mereka senantiasa mendapat petunjuk.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Sholat Adalah Tiang Agama, Ini Keutamaan Sholat



    Jakarta

    Sholat menjadi ibadah yang wajib dikerjakan umat muslim. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menjelaskan bahwa sholat adalah tiang agama.

    Sholat adalah salah satu rukun Islam. Sholat menjadi ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim. Perintah sholat juga termaktub dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

    Demikian pula melalui hadits, Rasulullah SAW menegaskan pentingnya sholat dan menyebut sholat adalah tiang agama.


    Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi SAW bersabda:

    رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

    Artinya: “Inti segala perkara adalah Islam dan tiangnya yang merupakan sholat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973.)

    Ada juga hadits yang menegaskan bahwa sholat menjadi pembeda antara seorang muslim dengan orang kafir. “Perjanjian antara kami dengan orang kafir adalah sholat. Barangsiapa yang meninggalkan sholat maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).

    Mengutip buku Ulumul Hadist oleh Wahyu Khafidah dkk, dijelaskan bahwa sholat merupakan salah satu kewajiban umat Islam yang telah baligh. Allah SWT memberlakukan kewajiban sholat lima waktu bedasarkan waktu yang telah ditetapkan masing-masing mulai dari terbitnya matahari hingga datangnya malam.

    Sebagaimana dinuklilkan dari kitab at-targhib wat at-tarhib karya at-mundziri, terdapat sebuah hadist yang di riwayatkan imam Ad Daruquthni sebagai berikut.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “(Sholat) awal waktu itu diridhoi Allah SWT dan (sholat) di akhir waktu itu diampuni Allah SWT.”

    Dalam redaksi hadist lainnya yang diriwayatkan Imam Ahmad dijelaskan sebagai berikut:

    Rasulullah SAW bersabda, “Seutama-utamanya amal adalah sholat pada waktunya, dan berbakti pada orangtua, dan juga berjihad. “

    Keutamaan Sholat Tepat Waktu

    Beberapa hadits Rasulullah SAW menegaskan pentingnya sholat tepat waktu. Seorang muslim yang mendirikan sholat diawal waktu akan mendapatkan banyak keutamaan.

    Setiap sholat fardhu memiliki batasan waktu, ada awalnya dan ada juga pula akhirnya. Rincian waktu sholat terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan dijelaskan lebih rinci dalam hadist-hadist Rasulullah SAW.

    Berikut beberapa keutamaan sholat dan mengerjakannya di awal waktu:

    1. Merupakan amalan yang terbaik

    Dari Abdullah ibnu Mas’ud Ra, berkata,

    “Aku bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang amalan apakah yang paling di sukai oleh Allah Ta’ala? Beliau menjawab, “Sholat pada tepat waktu. ” Kemudian apa? Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada kedua orangtua”. Kemudian apa? Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    2. Mencegah dari api neraka

    Dari Hanzhalah Al Katib dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa selalu menjaga sholat wajib yang lima, baik ruku, sujud, wudhu atau waktu-waktunya. Dan dia mengetahui bahwa semua itu merupakan kewajiban dari sisi Allah, maka dia akan masuk surga”. atau beliau mengatakan, “Wajib baginya surga” (HR. Ahmad).

    3. Sholatnya membawa pada keselamatan

    “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila sholatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila sholatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari sholat wajibnya, Allah SWT mengatakan, “Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan sholat sunnah? maka sholat sunnah tersebut akan menyempurnakan sholat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.

    4. Sholat di usia yang panjang

    Dari Abu Hurairah ra beliau berkata:

    “Ada dua laki-laki dari sebuah perkampungan dari suku Qudha’ah. keduanya berislam bersama Nabi Muhammad SAW, salah seorang dari keduanya mati syahid, sedangkan seorang yang lain masih diakhirkan (hidup) hingga setahun (setelah itu).

    Thalhah bin Ubaidilah berkata, “Surga diperlihatkan kepadaku (Dalam Mimpi), maka saya melihat bahwa orang yang terakhir (wafat) dari keduanya dimasukkan ke surga sebelum yang mati syahid. Saya sangat heran dengan hal tersebut. Pada pagi hari, saya menyebutkan hal tersebut kepada Nabi Muhammad SAW atau hal tersebut disebutkan kepada Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bersabda:
    “Bukankah dia telah berpuasa Ramadhan setelah (meninggalnya orang yang mati syahid tersebut)? Dan (bukankah) dia telah mengerjakan enam ribu rakaat atau sekian dan sekian rakaat sholat sunnah?” (HR. Ahmad).

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com