Category: Doa Hadits

  • Doa Kebaikan Dunia Akhirat untuk Raih Kebahagiaan Hakiki


    Jakarta

    Untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, manusia diwajibkan untuk berusaha semaksimalnya. Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk mengamalkan doa kebaikan dunia-akhirat.

    Doa kebaikan dunia akhirat sering disebut dengan doa sapu jagat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam buku Dahsyatnya Doa Para Nabi karya Syamsuddin Noor.

    Doa tersebut juga termasuk bacaan yang sering diamalkan Rasulullah SAW. Hal ini dijelaskan dalam keterangan hadits dari Anas bin Malik yang berkata,


    عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Artinya: “Doa yang paling banya dibaca oleh Nabi SAW, yaitu ‘Allaahumma aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar’ (doa kebaikan dunia-akhirat).” (HR Muttafaq Alaih)

    Meneladani kebiasaan Rasulullah SAW tersebut, dalam riwayat Muslim juga ditambahkan, “Anas sendiri jika hendak berdoa, dia berdoa dengan doa ini.”

    Menurut Abduh Zulfidar Akaha dalam buku 165 Kebiasaan Nabi SAW, Rasulullah SAW menyukai bacaan doa kebaikan dunia-akhirat karena dianggap ringkas namun kaya akan keutamaan di dalamnya. Rasulullah SAW tidak ingin menyulitkan umatnya dengan bacaan doa-doa yang panjang, terutama ditujukan bagi mereka yang kesulitan menghafal. Berikut bacaannya.

    Doa Kebaikan Dunia-Akhirat dalam Arab, Latin, dan Artinya

    Berdasarkan keterangan hadits, bacaan doa kebaikan dunia-akhirat seperti yang dinukil dari Buku Saku Muslim 3 in One oleh Tim Mutiara Media adalah sebagai berikut.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab-latin: Rabbanaa aatinaa fiddun yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaa bannaar.

    Artinya: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.

    Sementara itu, ada versi lain dari doa kebaikan dunia-akhirat yang tercantum dalam Buku Pintar Doa dan Zikir Rasulullah karya Abdullah Zaedan. Doa tersebut berbunyi,

    اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لي آخِرَتِي الَّتِي فِيْهَا مَعَادِي وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةٌ لِي مِنْ كُلِّ شَرٍ

    Arab-latin: Alloohumma ashlih lii diinil ladzii huwa ‘ishmatu amriiwaashlih liidun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ashlih lii aakhirotiil latii fiihaa ma’aadii waj-‘alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin waj-‘alil mauta roohatan lii min kulli syarrin.

    Artinya: Artinya: “Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang menjadi urusan kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali. Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan.” (HR Muslim)

    Keutamaan Doa Kebaikan Dunia-Akhirat

    Keutamaan bagi yang mengamalkan doa kebaikan dunia-akhirat adalah tercapainya kebahagiaan hakiki seorang muslim.

    1. Kebaikan Agama

    Orang yang berpegang teguh pada ajaran agama dijamin termasuk orang yang baik karena agama merupakan sumber dari segala kebaikan.

    2. Kebaikan Dunia

    Orang yang memiliki kecukupan dalam masalah dunia tentu akan lebih baik dari hanya sekadar baik agamanya. Dengan meningkatnya kebaikan dunia maka mutu ibadah dan amal saleh juga akan semakin meningkat.

    Contoh kegiatan penuh kebaikan adalah dengan berbagi dan memberi. Rasulullah SAW bersabda,

    اليدُ الْعُلْيَا خَيْرُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى . (رواه البخاري)

    Artinya: Dari Hakim bin Hizam RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” (HR Bukhari dari Hakim bin Hizam dalam kitab shahihnya, 2/518)

    3. Kebaikan Akhirat

    Cara mendapatkan kebaikan yang hakiki ketiga adalah dengan mengusahakan kebaikan akhirat. Kebaikan akhirat adalah hasil akumulasi dari kebaikan agama dan kebaikan dunia. Bila keduanya digunakan untuk meraih rida Allah SWT, maka kebaikan akhiratnya juga pasti akan tercapai.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Waktu Tepat Membaca Sholawat, Yuk Amalkan!



    Jakarta

    Sholawat bisa menjadi salah satu ungkapan terima kasih sekaligus pujian kepada Rasulullah SAW. Sholawat merupakan amalan yang bisa dibaca kapanpun dan di manapun.

    Sholawat dapat mendatangkan kebaikan bagi setiap muslim yang rutin mengamalkannya. Seorang yang membaca sholawat bahkan mendapat doa dari malaikat.

    Suatu hari Rasulullah SAW datang dengan wajah berseri-seri dan bersabda, “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, ‘Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu sholawat dari seorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya dan sepuluh salam bagiku akan ku balas dengan sepuluh salam baginya.” (HR An Nasa’i)


    Waktu yang Dianjurkan Membaca Sholawat

    Dirangkum dari buku Keajaiban Sholawat oleh Kamarudin, berikut ini waktu-waktu yang dianjurkan membaca sholawat.

    1. Sesudah Azan

    Diriwayatkan dalam Hadits Imam Ahmad dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    “Apabila kamu mendengar muadzin menyerukan azan, maka jawablah dengan jawaban yang sama ia baca. Setelah selesai maka bersholawatlah kepadaku.” (HR Muslim)

    Dalam hadits senada, Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir, Rasulullah SAW bersabda:

    “Siapa saja yang ketika mendengar Azan atau Iqamat berdoa,’Ya Allah, ya Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, pemilik sholat yang akan dilaksanakan, limpahkanlah sholawat kepada Muhammad SAW, hamba sekaligus utusan-Mu, berikanlah kepadanya wasilah, keutamaan, derajat tinggi, dan syafaat pada hari kiamat.”

    2. Ketika masuk dan keluar masjid

    Disunnahkan juga membaca sholawat ketika masuk ataupun keluar masjid. Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadits.

    Rasulullah SAW bersabda, “Apabila masuk ke masjid, ucapkanlah ‘salam’ kepadaku. Sesudah itu, hendaklah membaca, ‘Allahummaftah li abwaba rahmatik (Wahai Tuhanku, bukakanlah untukku segala pintu rahmatmu). Dan apabila hendak keluar, hendaklah membaca (sesudah bersholawat) ‘Allahumma inni asaluka min fadhlika (Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu limpahan Rahmat-Mu)’. HR Abu Dawud)

    3. Sesudah membaca tasyahud akhir

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika seseorang dari kamu bertasyahud dalam sholat, maka hendaklah dia membaca: Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Kama Sholaita ala ibrahim, wa ala ali Ibrahim. Innaka hamidummajid.” (HR Al-Baihaqi)

    4. Ketika sholat jenazah

    Menurut Imam Syafi’i, “Sunnah Nabi SAW dalam melaksanakan sholat jenazah ialah bertakbir pada permulaannya, sesudah itu membaca Al-Fatihah dengan tidak mengeraskan suara, kemudian sesudah takbir kedua membaca sholawat, sesudah bersholawat bertakbir lagi, takbir ketiga. Sesudah takbir yang ketiga ini membaca doa dengan penuh keikhlasan untuk jenazah itu. Dalam sholat jenazah tidak dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah itu bertakbir lalu memberi salam dengan suara yang tidak dikeraskan.”

    5. Pada permulaan dan akhir doa

    Salah satu adab dalam berdoa yaitu mengucapkan sholawat di awal dan akhirnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya doa itu berhenti antara langit dan bumi, tiada naik barang sedikit juga dari padanya sehingga engkau bersholawat atas nabimu.” (HR Tirmidzi).

    6. Ziarah ke makam Nabi Muhammad

    Sebagaimana sabda Rasulullah: “Tiadalah seseorang dari pada kamu yang mengucapkan salam kepadaku yaitu di sisi kuburku melainkan Allah mengembalikan ruhku padaku untuk menjawab salammu itu.” (HR Abu Daud).

    7. Ketika hendak memulai urusan penting

    Rasulullah SAW bersabda: “Setiap pekerjaan baik jika tidak dimulai dengan bersholawat maka pekerjaan atau urusan itu terputus dan hilang keberkahannya.”

    8. Pada malam dan hari Jumat

    Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah membaca sholawat pada malam Jumat dan siangnya, karena sholawat itu dikemukakan kepadaku.” (HR At Thabrani)

    9. Setiap memulai majelis

    Dalam haditsnya, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak duduk suatu kaum dalam suatu majelis, sedang mereka tidak berdzikir dan tidak bersholawat melainkan akan menderita kekurangan maka jika Allah Menghendaki, niscaya Allah akan mengazab mereka dan jika Allah menghendaki, niscaya akan mengampuni mereka.” (HR At Tirmidzi dan Abu Dawud)

    10. Ketika dilanda kesulitan

    Dari Ubay bin Ka’ab bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu sekiranya saya jadikan sholawat saya untuk engkau semua? Beliau menjawab, “Kalau demikian, Allah akan memelihara engkau dari segala yang membimbangkanmu, baik mengenai duniamu maupun akhiratmu.” (HR Ahmad)

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Menanam Tanaman di Atas Makam Dapat Meringankan Siksa? Ini Haditsnya


    Jakarta

    Makam menjadi tempat istirahat terakhir untuk orang-orang yang telah wafat. Mungkin tak sedikit umat Islam yang menancapkan tanaman di makam.

    Berkaitan dengan hal itu, terdapat beberapa hadits tentang tanaman di makam beserta amalan yang bermanfaat bagi mayat. Berikut hadits dan penjelasannya.

    Hadits tentang Tanaman di Makam

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِحَائِط مِنْ حِيْطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذِّبَانِ فِي قُبُوْرِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَذِّبَانِ وَمَا يُعَذِّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أَوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا


    Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan di pinggir salah satu tembok Kota Madinah atau Makkah. Beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di kuburnya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian bersabda, ‘Keduanya disiksa dan tidak disiksa karena sesuatu yang besar. Ya, salah satunya tidak menutup (aurat) saat kencing dan orang lain berjalan mengadu domba.’ Nabi lalu meminta pelepah pohon dan beliau membaginya menjadi dua. Tiap satu belahan pelepah itu beliau letakkan di kuburan kedua orang itu. Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan ini?’ Nabi menjawab, ‘Semoga diringankan siksa untuk keduanya selama kedua bagian pelepah itu masih basah’.” (HR Bukhari)

    Dirangkum dari Majalah Nadhlatul Ulama: Aula terbitan Aula Media Nahdlatul Ulama, hadits tersebut menjelaskan bahwa pelepah atau ranting pohon dapat meringankan siksa orang dalam makamnya. Tidak harus berupa ranting kurma, namun tumbuhan yang mudah didapatkan di suatu daerah tertentu. Misalnya, bunga yang terkadang diberi air dengan tujuan agar tidak cepat mengering.

    Amalan yang Bermanfaat bagi Mayat

    Dirangkum dari buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, berikut beberapa amalan yang bermanfaat bagi mayat:

    1. Doa dan Istighfar yang Ditujukan untuk Mayat

    Para ulama sepakat bahwa doa dan istighfar yang ditujukan kepada mayat dapat memberi manfaat kepadanya. Hal ini berdasarkan pada firman Allah SWT yang termaktub dalam surah Al-Hasyr ayat 10,

    وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ١٠

    Artinya: “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.”

    2. Sedekah

    Imam Nawawi berpendapat bahwa sedekah dapat bermanfaat kepada orang yang sudah meninggal dunia dan pahala dari sedekah tersebut sampai kepadanya. Perlu diketahui bahwa tidak disyariatkan mengeluarkan sedekah di makam dan dimakruhkan bersedekah bersamaan dengan proses pemakaman.

    3. Puasa

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang lelaki yang menemui Rasulullah SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia dan dia masih memiliki tanggungan berpuasa selama satu bulan apakah saya diperbolehkan berpuasa untuknya?”

    Rasulullah SAW bertanya, “Seandainya ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?” Perempuan itu menjawab, “Iya.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Utang kepada Allah SWT lebih berhak untuk dipenuhi.”

    4. Haji

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya ada seorang perempuan dari Junainah yang menemui Rasulullah SAW, lalu bertanya, “Sesungguhnya ibuku telah bernazar untuk melaksanakan haji, tapi nazar tersebut belum terlaksana sampai ia meninggal dunia, apakah saya boleh berhaji untuknya?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Iya. Berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu jika ibumu mempunyai hutang, apakah engkau akan melunasinya?” Dia menjawab, “Iya.” Rasulullah SAW melanjutkan, “Penuhi hutangnya kepada Allah, sebab hutang Allah SWT lebih berhak untuk dipenuhi.”

    5. Salat

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bentuk berbuat baik kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah hendaknya engkau melakukan salat untuknya sebagaimana salat yang engkau lakukan dan hendaknya engkau berpuasa untuknya sebagaimana puasa yang engkau lakukan.”

    6. Membaca Al-Qur’an

    Ulama Ahlus-Sunnah berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an merupakan amalan yang bermanfaat bagi seseorang yang sudah meninggal dunia.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa untuk Kedua Orang Tua dan Adabnya yang Harus Dipahami Muslim


    Jakarta

    Doa kedua orang tua menjadi bentuk bakti seorang anak. Berdoa menjadi cara berterima kasih kepada orang tua karena telah merawat dan membesarkan kita.

    Allah SWT berfirman dalam surah Luqman ayat 14,

    وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ


    Arab latin: wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhụ fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr

    Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

    Syaikh Bakar Abdul Hafizh dalam karyanya, Al-Ad’iyah fi Al-Qur’an Al-Karim, Tafsiruha wa Ma’aniha, mendefinisikan kata doa secara bahasa berarti memanggil dengan suara, dan ucapan.

    Doa Kedua Orang Tua: Arab, Latin dan Terjemahannya

    Doa untuk kedua orang tua tercantum dalam surah Al Isra ayat 24 yang berbunyi,

    رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً

    Arab latin: Rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

    Artinya: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

    Selain itu, ada juga doa kedua orang tua versi lainnya yang dapat dibaca. Berikut lafaznya yang dirangkum dari arsip detikHikmah,

    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

    Arab latin: Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā

    Artinya: “Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.”

    Adab pada Kedua Orang Tua

    Mengutip buku Pelajaran Adab Islam 2 oleh Ahmad dan Abdul Fatah, berikut sejumlah adab yang harus diperhatikan pada kedua orang tua.

    1. Taat kepada Kedua Orang Tua

    Seorang muslim harus taat kepada kedua orang tua yang membesarkannya selama mereka tidak mendurhakai Allah SWT. Bahkan, hukum menaati kedua orang tua menjadi kewajiban bagi seorang muslim.

    2. Tidak Mendahului dalam Berkata-kata

    Mempersilakan serta membiarkan orang tua untuk berkata-kata terlebih dahulu dapat menyenangkan hati orang tua. Hal ini dicontohkan dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar RA, ia berkata:

    “Kami pernah bersama Nabi SAW di Jummar, kemudian Nabi bersabda: ‘Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang muslim’ Ibnu Umar berkata: ‘Sebetulnya aku ingin menjawab pohon kurma. Namun karena aku yang paling muda di sini maka aku diam,’ Lalu Nabi SAW pun memberi tahu jawabannya (kepada orang-orang): ‘ia adalah pohon kurma.” (HR Bukhari)

    3. Selalu Mendoakan

    Sebagai seorang anak, hendaknya kita selalu mendoakan orang tua sebagaimana yang telah diajarkan Allah melalui Al-Qur’an. Jasa mereka yang besar tentu tidak dapat diukur dengan materi.

    Itulah doa kedua orang tua beserta adabnya yang harus dipahami oleh kaum muslimin. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Keutamaan Doa Nabi Yunus, Salah Satunya Dikabulkan Hajat


    Jakarta

    Nabi Yunus AS memanjatkan sebuah doa kepada Allah SWT ketika ia ditelan di dalam perut paus. Doa yang diamalkannya tersebut mengandung banyak keutamaan dan hikmah yang bisa diteladani muslim.

    Dikisahkan oleh Ibnu Katsir dalam buku Kisah Para Nabi, kisah bermula saat Nabi Yunus AS sedang berdakwah kepada kaumnya yang melenceng dari ajaran tauhid agar mereka kembali kepada Allah SWT.

    Singkat cerita, kaum tersebut tidak mau mendengarkan Nabi Yunus AS sehingga membuatnya kesal dan meninggalkan kaum itu. Nabi Yunus AS pun meninggalkan kaumnya dengan menggunakan kapal bersama dengan beberapa orang yang lain.


    Di tengah perjalanan, terjadilah badai yang amat dahsyat sehingga awak kapal terpaksa menurunkan sebagian beban kapal ke dalam laut. Namun, beban kapal masih juga belum berkurang dan kapal masih akan tenggelam.

    Berakhirlah Nabi Yunus AS yang terpilih untuk dilemparkan ke dalam laut. Seketika itu pula, muncul paus yang sangat besar dan langsung melahap Nabi Yunus AS ke dalam perutnya.

    Di dalam keadaan yang gelapnya malam dan gelapnya perut paus, Nabi Yunus AS memanjatkan doa kepada Allah SWT. Doa ini termakub dalam potongan surah Al Anbiya ayat 87. Berikut lafal doanya.

    لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

    Arab-latin: Allā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn(a)

    Artinya: “Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”

    5 Keutamaan Doa Nabi Yunus AS

    1. Dikabulkan Segala Permintaannya

    Mengutip buku Zikir-zikir Pembersih dan Penentram Hati karya M. Rojaya, keutamaan doa Nabi Yunus AS yang pertama adalah dapat melancarkan permintaan seseorang.

    Dalam sebuah hadits disebutkan, “Doanya Dzun Nun (Nabi Yunus AS) saat berdoa di dalam perut ikan, laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minal zalimin. Tidaklah seorang muslim berdoa dalam hal apa pun, melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR Al Hakim)

    2. Dimudahkan Hadapi Kesulitan

    Keutamaan doa Nabi Yunus AS yang selanjutnya adalah dapat mempermudah seseorang dalam menghadapi masalah dan kesulitan.

    Apabila seseorang sedang dihadapkan dengan sebuah masalah, hendaknya ia memperbanyak membaca doa Nabi Yunus AS dengan harapan Allah SWT akan membukakan jalan keluarnya.

    3. Berserah Diri kepada Allah SWT

    Dinukil dari arsip detikJatim, keutamaan doa Nabi Yunus AS selanjutnya adalah dapat dimudahkan ketika menghadapi ujian dan sebagai bentuk berserah diri kepada-Nya.

    4. Diampuni Dosa-dosa

    Ketika melakukan kesalahan, maka hendaknya seseorang segera bertobat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yunus AS. Seseorang bisa berharap dengan doa ini Allah SWT akan segera mengampuni dosa-dosa yang diperbuat dan menerima tobatnya.

    5. Pujian pada Allah SWT

    Setelah mendapat nikmat yang begitu besar, maka sebaiknya ia bersyukur atas nikmat tersebut.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits tentang Pentingnya Menjaga Silaturahmi


    Jakarta

    Silaturahmi mengandung banyak keutamaan. Dalam Islam, silaturahmi memiliki peran penting bagi kehidupan sehari-hari.

    Mengutip buku Keajaiban Shalat, Sedekah dan Silaturahmi oleh Amirulloh Syarbini, para ulama mengartikan silaturahmi sebagai hubungan keluarga yang bertalian darah. Sementara itu, makna dari silaturahmi secara umum ialah menghubungkan sesuatu yang memungkinkan terjadinya kebaikan, serta menolak sesuatu yang memungkinkan terjadinya keburukan dalam batas kemampuan.

    Dalil mengenai silaturahmi tercantum dalam surah An Nisa ayat 36,


    وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

    Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

    Bahkan dalam sejumlah hadits juga ditekankan mengenai pentingnya menjaga silaturahmi bagi kaum muslimin.

    Hadits tentang Pentingnya Menjaga Silaturahmi

    Berikut sejumlah hadits mengenai pentingnya menjaga silaturahmi yang dikutip dari buku Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1 karya Syaikh Mahmud Al-Mishri.

    1. Perintah untuk Silaturahmi

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orang tua dan saudara.” (HR Bukhari)

    2. Silaturahmi Mengandung Banyak Manfaat

    Banyak keutamaan yang terkandung dalam silaturahmi, hal ini disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang berbunyi:

    “Ketika tamu datang pada suatu kaum, maka ia datang dengan membawa rezekinya. Ketika ia keluar dari kaum, maka ia keluar dengan membawa pengampunan dosa bagi mereka.” (HR Ad-Dailami)

    3. Melapangkan Rezeki

    Silaturahmi dapat melapangkan rezeki sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Barangsiapa yang senang agar dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari)

    4. Jadi Penghapus Dosa

    Dosa manusia yang melakukan silaturahmi akan terhapus. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud,

    “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali keduanya diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)

    5. Diganjar Surga oleh Allah SWT

    Nabi SAW bersabda,

    “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR Bukhari)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Sholat Syuruq, Kapan Sebaiknya Dipanjatkan?


    Jakarta

    Sholat syuruq adalah ibadah sunnah yang dikerjakan ketika matahari terbit. Seperti sholat pada umumnya, ada bacaan yang dipanjatkan yaitu doa sholat syuruq.

    Dalil terkait pengerjaan sholat syuruq tercantum dalam sebuah hadits yang berbunyi,

    “Siapa yang sholat Subuh berjamaah, lalu duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian sholat dua rakaat, ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna (diulang tiga kali).” (HR Tirmidzi)


    Mengutip dari buku Super Lengkap Shalat Sunah oleh Ubaidurrahim El-Hamdy, isyraq atau syuruq berasal dari kata syarq yang artinya timur, terbit dan menerangi. Secara sederhana, sholat syuruq diartikan sebagai sholat dua rakaat setelah matahari terbit dan meninggi, kurang lebih satu tombak dalam pandangan mata.

    Doa Sholat Syuruq dan Waktu Membacanya

    Dijelaskan oleh Ibnu Watiniyah dalam Kitab Lengkap Shalat, Shalawat, Zikir, dan Doa bahwa doa sholat syuruq dipanjatkan setelah mengerjakan amalan tersebut. Berikut bacaannya,

    أَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عَافِيَةً وَجَاءَالشَّمْسُ مِنْ مَطْلَعِهَا.اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ خَيْرَهَذَا الْيَوْمِ وَادْفَعْ عَنِّيْ شَرَّهُ. اَللَّهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِيْ بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ اْلأَرْضَ بِنُوْرِ شَمْسِكَ اَبَدًا. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Arab latin: Alhamdulillahil ladzi ja’alal yauma ‘afiyataw waja-‘asy syamsu min mathla’iha. Allahummar-zuqni khaira hadzal yaumi wadfa’ ‘annii syarrah. Allahumma nawwir qalbi binuri hidayatika kama nawwartal ardla binuri syamsika abada. Birahmatika ya arhamar rahimin.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan hari ini sejahtera dan telah terbit matahari dari tempatnya. Ya Allah, beri lah aku kebaikan hari ini dan jauhkan lah dariku keburukan hari ini. Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya hidayah-Mu, sebagaimana telah Engkau terangi bumi dengan cahaya matahari-Mu terus-menerus. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Paling Pengasih di antara semua yang mengasihi.”

    Apakah Sholat Syuruq Sama dengan Sholat Dhuha?

    Sejumlah ulama menyamakan sholat syuruq dengan sholat Dhuha. Namun, sebagian lainnya menilai keduanya berbeda.

    Masih dari buku yang sama, Imam Al Ghazali berpendapat bahwa sholat syuruq berbeda dengan Dhuha. Sebab, waktunya berbeda meski berdekatan. Ia menyebut waktu sholat syuruq adalah sejak matahari terbit yang mana terlewatnya waktu yang dilarang untuk sholat.

    Penamaan syuruq sendiri merujuk pada waktu pelaksanaannya yaitu ketika matahari terbit atau ketika matahari memancarkan sinar. Artinya, sholat syuruq adalah amalan sunnah yang dikerjakan setelah sholat Subuh.

    Tata Cara Sholat Syuruq

    Berikut tata cara sholat syuruq yang dikutip dari buku Rahasia Kedahsyatan Shalat Sunah Setahun Penuh oleh Ustaz M Kamaluddin S Pd I MM.

    1. Membaca niat sholat syuruq dua rakaat dengan lafal berikut,

    Usalli Sunnata Isyraq Rak’ataini Lillaahi Ta’aalaa, Allahu Akbar.

    Artinya: “Aku niat sholat sunnah syuruq dua rakaat karena Allah ta’aalaa, Allah Maha Besar.”

    2. Pada rakaat pertama usai membaca surat Al-Fatihah, bacalah surat An Nur ayat 35,

    ۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

    Arab latin: Allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun ‘alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

    Artinya: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

    3. Saat rakaat kedua setelah membaca Al-Fatihah, dilanjutkan membaca surat An nur ayat 36-38

    فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

    Arab latin: Fī buyụtin ażinallāhu an turfa’a wa yużkara fīhasmuhụ yusabbiḥu lahụ fīhā bil-guduwwi wal-āṣāl

    Artinya: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS An Nur: 36)

    رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ

    Arab latin: Rijālul lā tul-hīhim tijāratuw wa lā bai’un ‘an żikrillāhi wa iqāmiṣ-ṣalāti wa ītā`iz-zakāti yakhāfụna yauman tataqallabu fīhil qulụbu wal-abṣār

    Artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS An Nur: 37)

    لِيَجْزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

    Arab latin: Liyajziyahumullāhu aḥsana mā ‘amilụ wa yazīdahum min faḍlih, wallāhu yarzuqu may yasyā`u bigairi ḥisāb

    Artinya: “(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An Nur: 38)

    4. Setelah melaksanakan sholat syuruq, dianjurkan membaca Al-Quran untuk mendapat petunjuk yang akan diperoleh dengan membacanya secara tadabbur. Selain itu, baca juga doa sholat syuruq seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Allahumma La Tahrimna, Doa Salat Jenazah Takbir ke-4


    Jakarta

    Salat jenazah terdiri dari empat takbir dan setiap takbirnya memiliki bacaan tertentu. Salah satu bacaan takbir itu adalah doa dengan lafaz allahumma la tahrimna ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu wagfirlanaa walahu.

    Bacaan allahumma la tahrimna ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu wagfirlanaa walahu adalah doa yang dibaca setelah takbir keempat saat salat jenazah. Ini merupakan doa takbir keempat versi pendek.

    Arti Allahumma La Tahrimna

    Mengutip buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah karya Ustadz Arif Rahman, berikut arti bacaan allahumma la tahrimna pada takbir keempat salat jenazah.


    اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

    Arab-latin: Allahumma la tahrimna ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu wagfirlanaa walahu

    Artinya: “Ya Allah janganlah Engkau rugikan kami atas pahalanya dan janganlah Engkau beri kami fitnah setelah meninggalnya serta ampunilah kami dan dia.”

    Perlu diketahui, bacaan doa di atas harus dibedakan antara jenazah perempuan dan jenazah laki-laki.

    Apabila jenazah yang disalatkan adalah laki-laki, maka bacaan doa setelah takbir keempat sesuai dengan yang sudah dijelaskan di atas. Sementara itu, apabila jenazah yang disalatkan berjenis kelamin perempuan, maka orang-orang yang menyalatkannya harus mengganti kata ganti hu menjadi ha.

    Berikut bacaan doa setelah takbir keempat untuk jenazah perempuan.

    اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

    Arab-latin: Allahumma la tahrimna ajrohaa walaa taftinnaa ba’dahaa wagfirlanaa walahaa

    Artinya: “Ya Allah janganlah Engkau rugikan kami atas pahalanya dan janganlah Engkau beri kami fitnah setelah meninggalnya serta ampunilah kami dan dia.”

    Doa Takbir ke-4 Versi Panjang

    Ada versi bacaan doa salat jenazah takbir keempat ini yang lebih panjang. Dikutip dari buku Dirasah Islamiyah karya Al Mubdi’u dkk, berikut bacaannya.

    Jenazah laki-laki

    اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

    Arab-latin: Allahumma la tahrimna ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu wagfirlanaa walahu wa ikhwaaninaa-lladziina sabaquunaa bil iimaani wa laa taj’al fii quluubinaa ghillaa lilladziina aamanuu robbanaa innaka rouufurrahiim

    Artinya: “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia, dan bagi saudara-saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah Engkau menjadikan unek-unek/gelisah dalam hati kami dan bagi orang- orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Jenazah perempuan

    اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

    Arab-latin: Allahumma la tahrimna ajrohaa walaa taftinnaa ba’dahaa wagfirlanaa walahaa wa ikhwaaninaa-lladziina sabaquunaa bil iimaani wa laa taj’al fii quluubinaa ghillaa lilladziina aamanuu robbanaa innaka rouufurrahiim

    Artinya: “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia, dan bagi saudara-saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah Engkau menjadikan unek-unek/gelisah dalam hati kami dan bagi orang- orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Kriteria Memilih Pasangan dalam Islam Menurut Hadits


    Jakarta

    Ada empat kriteria memilih pasangan dalam Islam. Rasulullah SAW menjelaskan empat hal tersebut dalam hadits kriteria memilih pasangan berikut ini.

    Menikah adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu (edisi Indonesia terbitan Darul Fikir) menyebutkan sebuah hadits yang berisi sunnah ini. Rasulullah SAW bersabda,

    يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ


    Artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu kebutuhan pernikahan maka menikahlah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga alat vital. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaknya dia berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut ijma kaum muslimin, menikah merupakan hal yang disyariatkan dalam Islam.

    Kriteria dalam Memilih Pasangan

    Ada beberapa kriteria yang disampaikan Rasulullah SAW dalam memilih pasangan. Kriteria tersebut termuat dalam hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,

    تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعِ : لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرُ بِذَاتِ الدَيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

    Artinya: “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR Bukhari)

    Berikut penjelasan selengkapnya seperti dirangkum dari buku Pendidikan Agama Islam: Fiqh Munakahat dan Waris karya Muhiyi Shubhie.

    1. Memilih Pasangan yang Baik Hartanya

    Pertama, seorang laki-laki boleh memilih seorang wanita yang akan menjadi istrinya kelak dari banyaknya harta yang ia miliki. Tidak dapat dipungkiri, harta memang salah satu aspek yang penting dalam menunjang keberhasilan kehidupan rumah tangga.

    Dijelaskan dalam kitab Fath Al-Bari, Ibnu Hajar menafsirkan kriteria ini sebagai pertimbangan kafa’ah (kesetaraan kondisi calon suami dan calon istri) dalam aspek finansial.

    2. Memilih Pasangan yang Baik Keturunannya

    Hadits kriteria memilih pasangan tersebut juga menyebutkan seorang laki-laki boleh memilih calon istri yang baik keturunan atau nasabnya. Misalnya memilih pasangan dari anak ulama, bangsawan, pejabat, maupun pengusaha.

    Ibnu Hajar mengatakan bahwa laki-laki yang baik nasabnya hendaknya juga memilih seorang perempuan yang baik nasabnya pula. Seorang laki-laki bangsawan dianjurkan menikahi wanita bangsawan juga.

    Namun apabila wanita bangsawan itu tidak baik agamanya, maka pilih wanita biasa yang baik agamanya, sebab agama yang baik harus didahulukan dari semua kriteria yang lain. Hal ini juga berlaku untuk wanita yang hendak memilih seorang laki-laki sebagai imam dalam rumah tangganya.

    3. Memilih Pasangan yang Cantik Wajahnya

    Seorang laki-laki yang hendak menikah boleh memilih calon pasangan dari segi kecantikan atau ketampanannya.

    Ibnu Hajar berkomentar bahwa hadits ini menganjurkan seseorang untuk menikahi pasangan yang memiliki paras rupawan. Namun juga harus memiliki agama yang tak kalah rupawannya.

    Apabila ada dua orang perempuan, perempuan pertama cantik, namun agamanya tidak baik dan perempuan kedua memiliki wajah yang biasa saja namun agamanya baik maka seorang laki-laki hendaknya memilih perempuan yang biasa saja wajahnya namun baik akhlak dan agamanya. Lagi-lagi paras pun bukan patokan utama, karena cantik atau tampan itu relatif.

    4. Memilih Pasangan yang Baik Agamanya

    Kriteria keempat inilah yang paling penting, yakni seorang laki-laki harus memilih pasangan hidup yang baik agamanya. Inilah kriteria mutlak yang harus ada pada calon pendamping hidup.

    Hadits ini juga menganjurkan seseorang untuk memiliki relasi dan persahabatan dengan orang yang baik agamanya dalam segala hal. Siapa saja yang bersahabat dengan mereka, maka ia akan mendapatkan manfaat dari akhlak, keberkahan, dan kebaikan jalan hidup, serta aman dari mafsadah ketika berada di sisi mereka.

    Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah yang meskipun kualitasnya dhaif (lemah), namun dapat dijadikan i’tibar selama bukan perkara aqidah maupun hukum (halal/haram), Rasulullah SAW bersabda,

    لَا تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلَا تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينِ أَفْضَلُ

    Artinya: “Janganlah kalian menikahi perempuan karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka. Janganlah menikahi mereka karena harta-harta mereka, bisa jadi harta-harta mereka itu membuat mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang budak perempuan berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama.” (HR Ibnu Majah)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Sholawat Nabi yang Benar Sesuai Sabda Rasulullah


    Jakarta

    Ada banyak macam sholawat nabi baik yang berasal dari Rasulullah SAW langsung maupun gubahan para ulama. Lantas, bagaimana bacaan sholawat nabi yang benar?

    Nabi Muhammad SAW merupakan junjungan, kekasih, panutan, dan nabi besar bagi umat Islam. Wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk mengimaninya dan mengikuti setiap ajarannya.

    Selain agar mendapat rida Allah SWT dan pahala dari-Nya, mengikuti perintah rasul juga bertujuan untuk menambah kecintaan kepada beliau sehingga kita termasuk dalam umat yang mendapat syafaatnya kelak di hari akhir.


    Salah satu cara untuk menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah dengan memperbanyak membaca sholawat nabi. Allah SWT telah memerintahkan hal ini dalam surah Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi,

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ٥٦

    Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir seperti diterjemahkan M. Abdul Ghoffar, maksud sholawat dari Allah SWT dalam ayat tersebut adalah pujian-Nya kepada Nabi SAW di kalangan malaikat dan sholawat dari malaikat adalah doa mereka untuknya. Demikian pendapat abul aliyah seperti dikatakan Imam Bukhari.

    Ibnu Katsir turut menyebut riwayat yang berisi bacaan sholawat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Berikut bacaannya.

    Bacaan Sholawat Nabi yang Benar

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكَتْ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

    Allaahumma shalli ‘alaa muhammadin ‘abdika wa rasuulikan, kamaa shallayta ‘alaa ibraahiima, wa baarik ‘alaa muhammadin, wa ‘alaa aali muhammadin, kamaa baarakta ‘alaa ibraahiima

    Artinya: “Ya Allah limpahkanlah sholawat buat Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, sebagaimana telah Engkau limpahkan sholawat buat keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah limpahkan berkah buat keluarga Ibrahim.” (HR Bukhari)

    Bacaan Sholawat Lainnya

    Selain bacaan sholawat di atas, berikut beberapa bacaan sholawat menurut hadits yang diambil dari buku Mari Bersholawat sesuai Tuntunan Nabi: Mengupas Seluk Beluk Sholawat dalam Tinjauan Syariat karya Abu Utsman Kharisman.

    1. Hadits Abu Mas’ud Al-Anshoriy

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد

    Arab-latin: allaahumma sholli ‘ala muhammad an- nabiyyil ummiy wa ‘alaa aali muhammad

    Artinya: “Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad, seorang Nabi yang ummiy (tidak bisa membaca dan menulis), demikian juga untuk keluarga/pengikut Muhammad.” (HR Abu Dawud)

    2. Hadits Kaab bin Ujroh

    لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – – فَقُلْنَا قَدْ عَرَفْنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ « قُولُوا:

    “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

    Artinya: “Ka’ab bin Ujroh -semoga Allah meridhainya- bertemu dengan aku. Beliau berkata: Maukah engkau aku beri hadiah (hadits). Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah keluar kepada kami dan kami berkata: Kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepada anda. Bagaimana sholawat untuk anda? Nabi menyatakan: Ucapkanlah:

    ‘Allaahumma sholli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa shollayta ‘alaa aali ibrahim innaka hamiidun majiid. allaahumma baarik ‘ala muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali ibrahim, innaka hamiidun majiid’

    Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad dan untuk keluarga/pengikut Muhammad sebagaimana Engkau telah bersholawat untuk keluarga/pengikut Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi keluarga/pengikut Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. (HR Bukhari dan Muslim)

    3. Hadits Abu Humaid As Sa’idy

    أَنَّهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ « قُولُوا:

    “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

    Artinya: “Mereka (para Sahabat Nabi) berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana bersholawat kepada anda? Nabi bersabda: Ucapkanlah:

    ‘Allaahumma sholli ‘ala muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyatihi kamaa shollayta ‘alaa aali ibrahim wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyaatihi kamaa baarokta ‘alaa aali ibrahim innaka hamiidun majiid’

    Ya Allah bersholawatlah untuk Muhammad dan kepada istri-istri beliau dan keturunan beliau sebagaimana Engkau bersholawat untuk pengikut Ibrahim dan berkahilah Muhammad dan para istri beliau serta keturunan beliau sebagaimana Engkau memberkahi pengikut Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

    4. Hadits Abu Said Al-Khudriy

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا السَّلَامُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي قَالَ قُولُوا

    “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ”

    Artinya: “Dari Abu Said al-Khudriy ia berkata: Kami berkata: Wahai Rasulullah, ucapan salam kepada anda ini (telah kami ketahui). Bagaimana kami bersholawat? Nabi bersabda, Ucapkanlah:

    ‘Allaahumma sholli ‘alaa muhammad ‘abdika wa rosulika kamaa shollayta ‘alaa ibrahim wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘ala aali muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibrahim wa aali Ibrahim’

    Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad, hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau telah bersholawat untuk Ibrahim. Berkahilah Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga/pengikut Ibrahim.” (HR Bukhari)

    5. Hadits Tholhah bin Ubaidillah

    قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ قُلْ “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

    Artinya: “Aku (Tholhah bin Ubaidillah) berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana bersholawat kepada anda? Nabi bersabda: ucapkanlah:

    ‘Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa shollayta ‘ala Ibrahim innaka hamiidun majiid. Wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali ibrahim innaka hamiidun majiid’

    Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad, sebagaimana Engkau bersholawat untuk Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berkahilah Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR Ahmad)

    6. Hadits Zaid bin Khorijah

    إِنِّي سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَفْسِي فَقُلْتُ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ صَلُّوا وَاجْتَهِدُوا ثُمَّ قُولُوا

    “اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

    Artinya: “Sesungguhnya aku bertanya langsung kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku berkata: Bagaimana (bacaan) sholawat untuk anda? Nabi bersabda: Bersholawatlah dan bersungguh-sungguhlah. beliau bersabda: Ucapkanlah:

    ‘Allaahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibrahim innaka hamiidun majiid’

    Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad. Sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia.” (HR Ahmad)

    7. Hadits Abu Hurairah

    قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ قُوْلُوْا

    “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

    وَالسَّلَامُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ

    Artinya: “Kami berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana bersholawat untuk anda? Nabi bersabda: Ucapkanlah:

    ‘Allaahumma sholli ‘ala muhammad wa ‘alaa aali muhammad wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa shollayτα wa baarokta alaa ibrohim wa aali ibrohim innaka hamiidun majiid’

    Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad. Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau telah bersholawat dan memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga/pengikut Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

    Sedangkan bacaan salam, sebagaimana yang telah kalian ketahui.” (HR At-Thohawiy)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com