Category: Doa Hadits

  • Anjuran Menulis Wasiat ketika Sakit atau Dekati Ajal


    Jakarta

    Wasiat merupakan perkara penting bagi ahli waris. Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang menulis wasiat, baik ketika sakit maupun sehat.

    Anjuran menulis wasiat ini termaktub dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA sebagaimana dinukil Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin yang diterjemahkan Solihin. Ibnu Umar RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ. يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ


    Artinya: “Tiada hak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkannya, melainkan dalam dua malam wasiatnya itu tertulis di sisinya.” (Muttafaq ‘alaih. Ini redaksi Bukhari)

    Dalam riwayat Muslim dikatakan, “Dalam tiga malam.” Terkait hal ini, Ibnu Umar RA berkata, “Sejak aku mendengar Rasulullah SAW bersabda demikian, setiap malam aku menulis wasiat.”

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits tersebut dalam Shahih-nya pada kitab Wasiat.

    Menurut penjelasan dalam Syarah Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi yang disyarah Musthafa Dib al-Bugha dkk dan diterjemahkan Misbah, hadits tersebut berisi anjuran menulis wasiat karena seseorang tidak tahu kapan ajal menjemputnya. Anjuran ini berlaku untuk wasiat yang sifatnya sukarela, sedangkan wasiat tentang membayar utang serta mengembalikan atau mengambil amanah hukumnya wajib.

    Lebih lanjut dijelaskan, menulis wasiat tidak terbatas bagi orang yang sakit. Sebab, sudah sepantasnya seorang mukmin senantiasa mengingat mati dan bersiap menyambutnya.

    Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya menjelaskan betapa dekatnya seseorang dengan ajalnya. Diriwayatkan dari Anas RA, ia berkata,

    خَطَّ النَّبِيُّ ﷺ خُطُوطًا فَقَالَ: هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ . فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَ الْخَطَّ الْأَقْرَبُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

    Artinya: “Nabi SAW membuat beberapa garis, lalu beliau bersabda, ‘Ini adalah seseorang, dan ini adalah ajalnya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, maka tiba-tiba datang garis yang terpendek.” (HR Bukhari)

    Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan anjuran menulis wasiat ketika sakit atau mendekati ajal. Buya Hamka mengatakan hal ini saat menafsirkan firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 180.

    Allah SWT berfirman,

    كُتِبَ عَلَيْكُمْ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا ۖ ۨالْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ ۗ ١٨٠

    Artinya: “Diwajibkan kepadamu, apabila seseorang di antara kamu didatangi (tanda-tanda) maut sedang dia meninggalkan kebaikan (harta yang banyak), berwasiat kepada kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang patut (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.”

    Anjuran menulis wasiat ketika mendekati ajal juga tertuang dalam surah Al Maidah ayat 106. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, persaksian di antara kamu, apabila telah datang kepada salah seorang (di antara) kamu (tanda-tanda) kematian, sedangkan dia akan berwasiat, adalah dua orang yang adil di antara kamu…”

    Maksud ayat tersebut, kata Buya Hamka, apabila diri sudah merasa sakit dan merasa bahwa itu adalah panggilan maut, hendaklah segera membuat wasiat dan disaksikan oleh dua orang saksi yang adil.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits tentang Anak Yatim dan Anjuran Menyantuninya


    Jakarta

    Dalam ajaran Islam, memuliakan anak yatim akan diganjar berbagai keutamaan. Pengertian yatim sendiri merujuk pada seseorang yang ditinggal wafat oleh sang ayah.

    Menukil dari buku Mari Mencintai Anak Yatim karya Muhsin M K, ada berbagai cara memuliakan anak yatim. Salah satunya mengangkat harkat dan martabat hidup mereka.

    Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 8,


    وَاِذَا حَضَرَ الۡقِسۡمَةَ اُولُوا الۡقُرۡبٰى وَالۡيَتٰمٰى وَالۡمَسٰكِيۡنُ فَارۡزُقُوۡهُمۡ مِّنۡهُ وَقُوۡلُوۡا لَهُمۡ قَوۡلًا مَّعۡرُوۡفًا

    Artinya: “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”

    Selain ayat Al-Qur’an, dalam sejumlah hadits juga disebutkan terkait anak yatim. Mengutip buku 1100 Hadits Terpilih oleh Muhammad Faiz Almath.

    Hadits tentang Anak Yatim

    1. Menyantuni Anak Yatim akan Mendapat Jaminan Surga

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa mengikutsertakan seorang anak yatim di antara dua orang tua Muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.” (HR Thabrani)

    2. Orang yang Merawat Anak Yatim Dekat Kedudukannya dengan Nabi SAW

    Orang yang merawat anak yatim niscaya kedudukannya dekat dengan Nabi Muhammad SAW di surga kelak. Kedekatan ini bahkan diibaratkan seperti jari telunjuk dan jari tengah.

    “Bahwa aku dan orang-orang yang memelihara anak yatim dengan baik akan berada di surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah, lalu Nabi mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu ia renggangkan.” (HR Bukhari)

    3. Ketentuan Zakat Harta Benda Anak Yatim

    Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hanifah, Rasulullah SAW bersabda:

    “Harta benda anak yatim tidak terkena zakat sampai dia baligh.” (HR Abu Hanifah)

    4. Wali Harta Anak Yatim

    Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits,

    “Barangsiapa menjadi wali atas harta anak yatim hendaklah diperkembangkan (diperdagangkan) dan jangan dibiarkan harta itu susut karena dimakan sodaqoh (zakat).” (HR Baihaqi)

    5. Menyayangi Anak Yatim akan Diselamatkan pada Siksa Kiamat

    Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman,

    “Demi yang Mengutusku dengan Hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya.” (HR Thabrani)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Doa Rabbighfirli Waliwalidayya untuk Orang Tua


    Jakarta

    Sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua, potongan lafal doa “rabbighfirli waliwalidayya” tentu saja tidak asing di telinga. Namun, apa arti doa rabbighfirli waliwalidayya tersebut?

    Mendoakan kedua orang tua merupakan salah satu kewajiban bagi anak. Doa ini tidak hanya dipanjatkan ketika keduanya masih hidup di dunia, namun juga ketika mereka sudah meninggal.

    Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk mendoakan dan berbakti kepada orang tua, sebagaimana termaktub dalam surah Al-Isra’ ayat 24 yang berbunyi,


    وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

    Artinya: Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

    Salah satu doa yang sering dipanjatkan untuk kedua orang tua memiliki potongan lafal yang berbunyi “rabbighfirli waliwalidayya”. Lantas apa artinya? Berikut lafal selengkapnya dan artinya.

    Arti Doa Rabbighfirli Waliwalidayya

    Sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Rasyid dalam bukunya yang berjudul Zikir Lengkap Pagi-Sore, lafal “rabbighfirli waliwalidayya” adalah potongan dari doa untuk kedua orang tua.

    Berikut adalah lafal doa untuk kedua orang tua beserta Arab, latin, dan artinya.

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

    Latin: Rabbighfirli waliwalidayya war-ham-humaa kamaa rabbayaanii shagiiraa.

    Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Kasihilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil.”

    Sebagai anak hendaknya senantiasa mengucapkan doa untuk kedua orang tua ini setiap hari sebagai bentuk kebaktiannya kepada kedua orang tua. Terlebih lagi, agar keduanya selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT dan diri sendiri mendapat pahala dari-Nya.

    Selain doa di atas, terdapat doa lain yang bisa dipanjatkan untuk kedua orang tua dan orang yang beriman di seluruh dunia. Doa tersebut berbunyi,

    رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِي مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

    Latin: Rabbigh-firlii wa liwaalidayya wa liman dakhala baytiya mu minan wa lilmu`miniina wal-mu`minaati wa laa tazidizh- zhaalimiina ‘illa tabaaraa.

    Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki serta perempuan. Dan, janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.”

    Perintah Berbakti dan Bersyukur kepada Kedua Orang Tua

    Mendoakan kedua orang tua, salah satunya dengan doa “rabbighfirli waliwalidayya,” merupakan kewajiban setiap muslim yang beriman.

    Selain itu, Mutia Mutmainnah dalam bukunya Keajaiban Doa & Ridho Ibu menyebutkan, bersyukur kepada Allah SWT dan kepada kedua orang tua juga tak kalah penting.

    Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Luqman ayat 14 yang berbunyi,

    وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤

    Artinya: Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.) (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.

    Menurut tafsir Al Qur’an Kemenag, ayat ini menjelaskan tentang perintah Allah SWT kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berusaha melaksanakan perintah-perintahnya dan mewujudkan keinginannya.

    Terdapat beberapa cara untuk berbakti kepada kedua orang tua yang disebutkan oleh Harjan Syuhada dan Fida’ Abdilah dalam Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII, yaitu:

    1. Memperlakukan kedua orang tua dengan baik, sopan, hormat, dan penuh kasih sayang

    2. Mematuhi semua perintahnya selama tidak bertentangan dengan agama

    3. Wajib mengikuti semua nasihat yang telah diberikan keduanya kepada kita

    4. Membantu pekerjaan kedua orang tua sehari-hari

    5. Anak memiliki kewajiban untuk memelihara kedua orang tua, terutama ketika mereka sudah tidak bisa menjaga diri lagi, seperti saat sakit atau sudah tua

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 30 Hadits Tentang Kehidupan, Jadi Penyemangat untuk Jalani Hidup



    Jakarta

    Ada banyak hadits yang mengajarkan tentang kehidupan. Hadits yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW ini bisa menjadi petunjuk dalam kehidupan sehari-hari.

    Nabi Muhammad SAW adalah sosok panutan bagi umat Islam. Setiap perilaku dan ucapannya merupakan tuntunan dalam menjalani hidup di dunia sekaligus bekal di akhirat kelak.

    Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi pintu masuk bagi setiap muslim yang ingin menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (suri teladan) dalam kehidupan.


    Mengutip buku 60 Hadits Shahih oleh Faqihuddin Abdul dijelaskan bahwa hadits Rasulullah SAW tersebar dalam puluhan kitab hadits induk yang mendokumentasikan ratusan ribu hadits, baik ucapan, perbuatan, penetapan maupun sifat-sifat beliau.

    Dari banyaknya hadits tersebut, terdapat beberapa hadits yang bisa menjadi pelajaran sekaligus motivasi dalam menjalani hidup. Setiap manusia pasti memiliki ujian dan masalah hidup yang sebenarnya ditetapkan Allah SWT untuk menguji keimanan seseorang.

    Hadits Tentang Kehidupan

    Berikut beberapa hadits tentang kehidupan, cinta dan hubungan sehari-hari.

    1. “Ketahuilah bahwasannya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan”. (HR Tirmidzi).
    2. “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    3. “Katakanlah yang benar walau pahit sekalipun.” (HR. Abu Daud)
    4. “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orangtua dan saudara.” (HR Bukhari).
    5. “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad)
    6. “Sesungguhnya ku ucapkan kalimat, ‘Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallaaha wallahu akbar; Maha Suci Allah segala puji bagi-Nya, tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, lebih aku cintai dari pada semua yang disinari oleh matahari.’” (HR. Muslim)
    7. “Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
    8. “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman karena perbuatannya.” (HR. Muslim)
    9. “Surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu,” (diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan disahihkan oleh Al-Hakim).
    10. “Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari)
    11. “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR Ath-Thabrani).
    12. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    13. “Iman yang utama adalah sabar dan pemaaf,” (HR Bukhari dan Ad Dailami).
    14. “Senyum engkau di hadapan saudaramu adalah sedekah,” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
    15. “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)
    16. “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allāh kecuali Dia akan meninggikan (derajat) nya” (HR. Muslim)
    17. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim)
    18. “Setengah dari bukti kebaikan Islamnya seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)
    19. “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perempuan dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah perempuan yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR Bukhari)
    20. “Tak pernah kulihat bagi dua orang yang saling mencintai semisal (cinta dalam) pernikahan.” (HR. Baihaqi)
    21. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, berbelas kasih terhadap sesama, ibarat satu jasad. Apabila anggota badan ditimpa sakit, seluruh badan lainnya akan merasakan sakit.”
    22. “Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
    23. “Janganlah engkau saling membahayakan dan jangan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni)
    24. “Sesungguhnya kamu mempunyai dua akhlak yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu sifat al-hilm (mampu menahan emosi) dan al-anah (sikap tenang dan tidak tergesa-gesa).” (HR.Muslim)
    25. “Barang siapa yang keluar (rumah) untuk mencari ilmu maka dia termasuk orang yang berada di jalan Allah sampai dia pulang.” (HR. At-Tirmidzi)
    26. “Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah),”

    27. “Orang yang paling penyantun di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf walaupun ia sanggup untuk membalasnya,”

    28. “Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan masukkan ke dalam surga kecuali ia melakukan dosa yang tidak diampuni.” (HR Tirmidzi)

    29. “Bahwa aku dan orang-orang yang memelihara anak yatim dengan baik akan berada di surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah, lalu nabi mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu ia renggangkan.” (HR Bukhari)

    30. “Jika manusia mati, terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim)

    Demikian beberapa hadits Rasulullah SAW tentang kehidupan. Semoga kita dapat meneladani sifat dan sikapnya yang takwa dan penuh cinta.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Emosi! Ini 7 Keutamaan Menahan Marah Sesuai Hadits



    Jakarta

    Marah terjadi jika emosi yang dialami oleh setiap manusia meluap. Namun dalam Islam, menahan marah dianggap sebagai tindakan luhur yang membawa keberkahan dan pahala.

    Seorang muslim juga akan mendapatkan keutamaan yang mulia jika ia mampu menahan marahnya. Lantas, bagaimana cara menahan marah? Dan apa saja keutamaan menahan marah?

    Keutamaan Menahan Marah

    Merujuk pada buku Ihya Ulumiddin: Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama oleh Imam Al-Ghazali, berikut beberapa keutamaan menahan marah sesuai dengan hadits:


    1. Allah SWT akan Menahan Siksa-Nya

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menahan kemarahannya, niscaya Allah menahan siksa-Nya daripadanya, dan siapa saja yang mengemukakan alasannya kepada Rabbnya, niscaya Allah menerima alasannya, dan siapa saja yang menyimpan lidahnya, niscaya Allah menutupi auratnya (segala sesuatu, yang dianggap malu). (HR Thabrani dan lainnya)

    2. Termasuk Orang yang Kuat

    Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang kuat di antara kalian adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya ketika marah, dan orang yang paling santun di antara engkau adalah orang yang memaafkan ketika mampu.” (HR Ibnu ad-Dunya dan lainnya)

    3. Mendapat Ridha dari Allah SWT pada Hari Kiamat

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menahan marah di mana seandainya ia mau melaksanakannya, maka ia dapat melaksanakannya, niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan keridhaan pada hari Kiamat.”

    Dalam riwayat lain dinyatakan, “Niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan rasa aman, dan keimanan.” (HR Ibnu ad-Dunya dan lainnya)

    4. Mendapatkan Pahala yang Besar

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba meneguk tegukan yang lebih besar pahalanya daripada seteguk kemarahan yang ditahannya karena mengharapkan keridhaan Allah.” (HR Ibnu Majah)

    5. Terlindung dari Neraka Jahannam

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya neraka Jahannam mempunyai pintu yang tidak memasukinya kecuali orang yang sembuh kemarahannya dengan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala.”

    6. Hatinya Dipenuhi dengan Keimanan

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada tegukan yang lebih disukai oleh Allah SWT daripada tegukan kemarahan yang ditahan oleh seorang hamba. Dan tidaklah seorang hamba menahannya, kecuali Allah memenuhi kalbunya dengan keimanan.” (HR Ibnu ad-Dunya)

    7. Mendapatkan Bidadari

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja menahan kemarahan, sedang ia mampu melaksanakannya, maka Allah memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk dan Dia menyuruhnya memilih mana bidadari yang dikehendaki.”

    Cara Menahan Marah

    Agar mendapatkan keutamaan dari menahan marah, maka setiap muslim harus mampu menahan perasaan marah dari dirinya. Merujuk pada Buku Ajar Akidah Akhlak oleh Syafiuddin dan Machnunah Ani Zulfah, berikut cara menahan marah:

    1. Menahan marah dengan beristighfar

    Jika seseorang sedang marah dalam keadaan berdiri, maka cara meredamnya dengan duduk. Namun jika marah dalam keadaan duduk, maka berusaha untuk tiduran atau berbaring sambil membaca istighfar.

    2. Meredam marah dengan menahan diri

    Pada suatu saat, datanglah seorang laki-laki yang meminta wasiat Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memberinya wasiat agar jangan marah.

    3. Meredam marah dengan berwudhu

    Wudhu menjadi salah satu cara untuk meredam rasa marah. Sebab, wudhu mampu mensucikan semua tindakan yang kurang suci, seperti rasa marah.

    4. Meredam marah dengan berdiam diri

    Obat yang sangat ampuh ketika marah muncul adalah diam. Sebab, jika sedang marah pasti kata-kata kasar akan keluar karena tidak bisa mengontrol. Maka dari itu, alangkah baiknya diam ketika sedang marah.

    5. Meredam marah dengan membaca ta’awudz

    Dengan membaca ta’awudz, maka seseorang memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan yang selalu membangkitkan rasa marah. Melalui syari’at Allah SWT yang agung, Allah SWT melindungi hamba-Nya dari segala kelicikan dan keburukan setan jika hamba-Nya membaca ta’awudz.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Akhir dan Awal Tahun, Bisa Dibaca Jelang Pergantian Tahun Baru 2024



    Jakarta

    Ada doa yang bisa dibaca saat melewati pergantian tahun. Doa ini berisi ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT sekaligus berisi harapan agar diberi kemudahan dalam menjalani hidup.

    Doa akhir dan awal tahun dapat dibaca jelang pergantian tahun baru 2024. Usahakan agar menanamkan sikap dan sifat tawakal kepada Allah SWT, Sang Maha Kuasa.

    Merangkum dari buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan karya Ali Akbar bin Aqil dijelaskan bahwa doa berasal dari bahasa Arab da’aa-yad’uu. Doa memiliki banyak arti dan makna yang berbeda. Dalam setiap arti ini terdapat hikmah dan pelajaran.


    Abu Qasim Al-Qusyairi dalam bukunya yang berjudul Al-Asmaaa Al Husnaa, menjelaskan doa memiliki beberapa pengertian. Doa dapat bermakna ibadah kepada Allah SWT, doa juga dapat bermakna memohon bantuan dan pertolongan. Tak hanya itu, doa juga bermakna percakapan, memanggil dan memuji.

    Anjuran berdoa pun sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Quran surat Gafir ayat 60.

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ

    Artinya: Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Doa menjadi amalan yang bisa dikerjakan oleh seluruh muslim dan dapat dilakukan dalam berbagai kondisi. Doa juga dianjurkan untuk dibaca ketika momen pergantian tahun.

    Doa Akhir dan Awal Tahun

    Dikutip dari buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun oleh Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, doa akhir tahun bisa dibaca dengan harapan dapat terhindar dari godaan atau tipu daya setan dan diampuni dosanya setahun sebelumnya.

    1. Doa Akhir Tahun

    اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

    Arab latin: “Allahumma ma ‘amiltu min ‘amalin fi hadzihis sanati ma nahaitani ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fiha ‘alayya bi fadhlika ba’da qudratika ‘ala ‘uqubati, wa da’autani ilat taubati min ba’di jara’ati ‘ala ma’shiyatik. Fa inni astaghfiruka, faghfirlî wa ma ‘amiltu fiha mimma tardha, wa wa’attani ‘alaihits tsawaba, fa’as’aluka an tataqabbala minni wa la taqtha’ raja’i minka ya karim.”

    Artinya: “Ya Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini termasuk yang Engkau larang sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Engkau maklumi karena kemurahanMu sementara Engkau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Engkau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakaiMu. Karenanya aku memohon ampun kepadaMu, ampunilah aku. Ya Tuhanku, aku berharap Engkau menerima perbuatanku yang Engkau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahalaMu. Janganlah pupuskan harapanku, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

    2. Doa Awal Tahun

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِه، وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

    Arab latin: “Allahumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘ala fadhlikal ‘azhimi wa karimi judikal mu’awwal. Hadza ‘amun jadidun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fihi minas syaithani wa auliya’ih, wal ‘auna ‘ala hadzihin nafsil ammarati bis su’i, wal isytighala bima yuqarribuni ilaika zulfa, ya dzal jalali wal ikram.”

    Artinya: “Ya Tuhanku, Engkau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karuniaMu yang besar dan kemurahanMu yang mulia, Engkau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepadaMu dari bujukan iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolonganMu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. KepadaMu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmatMu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

    Demikian bacaan doa akhir dan awal tahun yang bisa dibaca muslim. Selain berdoa, lakukan amalan lain seperti memperbanyak dzikir dan sholawat agar bisa meraih banyak keutamaan. InsyaAllah!

    Ada sejumlah pendapat terkait pembacaan doa akhir dan awal tahun. Di antaranya ada yang menyebut bahwa membaca doa itu termasuk dianjurkan, ada juga yang berpandangan bahwa doa tersebut bukan anjuran Nabi SAW.

    Sebagaimana penelusuran detikHikmah, belum ditemukan dalil shahih dari Al-Qur’an dan hadits mengenai anjuran membaca doa akhir dan awal tahun. Namun, sebagian ulama menyandarkan dalil doa ini terhadap dalil tentang berdoa secara umum.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Doa agar Keluarga Dilindungi dari Mara Bahaya



    Jakarta

    Keluarga adalah pondasi utama dalam kehidupan setiap individu. Setiap orang tentu ingin keluarganya aman dan selamat dimanapun berada.

    Namun, di tengah-tengah kehidupan yang penuh kehangatan dan cinta pasti akan ada rintangan dan bahaya yang bisa datang kapan saja. Allah SWT memang sudah menetapkan takdir kita. Akan tetapi doa keselamatan yang selalu kita baca akan mengiringi setiap langkah kita agar selamat dunia dan akhirat.

    Oleh karena itu, doa menjadi sarana yang penting untuk memohon perlindungan dari mara bahaya kepada Allah SWT. Lantas, bagaimana doa agar keluarga dilindungi dari mara bahaya?


    Doa agar Keluarga Dilindungi dari Bahaya

    1. Doa agar Keluarga Dilindungi dari Kejahatan

    Mengutip buku Doa Rindu Jodoh dan Momongan oleh Mohammad Irsyad, berikut doa agar keluarga dilindungi dari kejahatan,

    اَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَعَظَمَتِهِ وَبِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ وَبِعِزَّةِ اللَّهِ مِنْ شَرِّ وَسُلْطَانِهِ وَبِعِزِّ جَلَالِ اللَّهِ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا تَحْتَ الثَّرَى وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ رَبِّي أَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيمُ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ مَلْجَأَ كُلِّ هَارِبٍ وَمَأْوَى كُلِّ خَائِفٍ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. أَقِي بِهَا نَفْسِيْ وَدِيْنِي وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ وَجَمِيعِ نَعَمِ الهِيْ وَمَوْ لَايَ وَسَيِّدِي عِنْدِي

    Bacaan latin: A’udzu bi’izzatillaahi wa ‘azhamatihi wa bi’izzatillaahi wa qudratihi wa bi’izzatillaahi min syarri wa sulthaanihi wa bi’izzi jalaalillahi maa khalaqa wa dzara-a wa min syarri kulli daabbatin rabbi akhidzun binaashiyatihaa inna rabbi ‘alaa shiraathil mustaqiim. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi malja-a kulli haaribin wa ma’ waa kulli khaa-ifin laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim. Aqii bihaa nafsi wa dii-nii wa ahlii wa maalii wa jamii’i na’ami ilahii wa mau laaya wa sayyidii ‘indii.

    Artinya: “Aku berlindung dengan kekuasaan Allah dan ke- besaran-Nya, dengan keperkasaan Allah dan kerajaan-Nya, serta dengan kemuliaan, keagungan dan dengan keperkasaan Allah, dari kejahatan apa saja yang diciptakan, yang meniup dan mengadakan dari kejahatan yang timbul (dari bawah bumi, serta kejahatan segala yang melata, yang kesemuanya itulah Tuhanku-lah yang menguasai urusannya. Se- sungguhnya, Tuhanku mengajak kepadamu jalan yang lurus). Tiada daya dan upaya, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, tempat berlindung semua pelarian, tempat pengungsi semua orang yang takut. Tiada daya dan upaya, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, dengan itulah aku melindungi diriku, agamaku, keluargaku dan harta kekayaanku, serta seluruh karunia yang telah dika- runiakan Tuhanku sebagai Pelindung dan Tuan di sisiku.”

    2. Doa agar Keluarga Selamat dari Penipuan

    عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

    Bacaan latin: Alallaahi tawakkalna robbanaa laa taj’alnaa fitnatan lilqoumidz dzholimiina wa najjanaa birohmatika minal qoumil kaafiriina

    Artinya: “Kepada Allah kami bertawakal. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari tipu daya orang-orang kafir.”

    3. Doa agar Keluarga Selamat dari Keburukan

    Mengutip buku Risalah Doa & Zikir Keluarga oleh Tim Madinatul Ilmi, berikut doa agar keluarga selamat dari keburukan,

    اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَمِنْ رَوَعَاتِي، وَأَقِلَّ عَثَرَانِي وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَغْتَالَ مِنْ تَحتِي

    Bacaan latin: Allaahummastur ‘auraatii wa min row-‘aatii. Wa aqilla ‘atsarooti wahfazhnii min baini yadayya wa min kholfii, wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fauqii. Wa ‘auudzu bikaa an ughtaala min tahtii.

    Artinya: “Ya Allah, tutuplah cacat, hilangkanlah kekhawatiran, dan kurangilah kesalahan-kesalahanku. Peliharalah diriku dari segala kejelekan, baik dari arah muka, belakang, kanan, kiri, atas, maupun bawah yang datang secara tiba-tiba.”

    4. Doa agar Keluarga Selamat dari Musibah dan Kecelakaan

    اللهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلاءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

    Bacaan latin: Allaahumma inni a’uudzu bika min jahdil balaa-i wa darkisy syaqoo-i wa suu-il qodhoo-i wa syamaatatil a’doo-i

    Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari musibah yang berat, kecelakaan yang menimpa, ketentuan yang jelek, dan kejahatan musuh yang zalim.”

    5. Doa agar Keluarga Terhindar dari Ancaman Pencuri

    اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ اللَّهُ حَفِيظٌ قَدِيمٌ أَزَلِيٌّ قَيُّوْمٌ لَا يَنَامُ

    Bacaan latin: Allaahuu lathiifun bi’ibaadihi. Allaahu hafiizhun qodiimun azaliyyun qoyyumun laa yanaamu.

    Artinya: “Allah Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya. Allah Maha Penjaga. Allah Mahadahulu, Azali, Hidup, Mahaberdiri Sendiri, dan tidak tidur.”

    6. Doa agar Keluarga Jauh dari Bahaya dan Kesengsaraan

    بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Bacaan latin: Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa-al wa huwas samii’ul ‘aliim

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada yang bisa membahayakan bersama nama-Nya sesuatu apa pun yang ada di bumi dan di langit. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    7. Doa agar Keluarga Diberi Keselamatan Lahir Batin

    اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللهُمَ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اَللَّهُمَ عَافِنِي فِي بَصَرِي ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ ، اللهُم إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

    Bacaan latin: Allaahumma aa’finii fii badanii. Allaahumma ‘aafinii fii sam’ii. Allaahumma ‘aafinii fii bashorii. Allaahumma inni a’uudzu bika minal kufri. Allaahumma inni a’udzubika minal ‘adzaabil qubri. Laa ilaaha illaa anta.

    Artinya: “Ya Allah, berilah keselamatan pada badanku, pendengaranku, dan penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan yang pantas disembah, kecuali Engkau.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Versi Doa Sebelum Wudhu, Muslim Amalkan Yuk!



    Jakarta

    Doa sebelum wudhu dapat dibaca ketika hendak memulai wudhu. Pelaksanaan wudhu dimaksudkan untuk bersuci sebelum melakukan salat.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Maidah ayat 6,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.”

    Dijelaskan dalam buku Sifat Wudhu & Shalat Nabi oleh Syaikh Muhammad Fahd dan Syaikh bin Baz, wudhu berarti menggunakan air suci ke atas anggota tubuh tertentu yang telah dijelaskan dan disyariatkan oleh Allah SWT.

    Adapun, terkait doa sebelum wudhu terdiri dari berbagai versi. Menukil dari buku Kumpulan Dzikir dan Doa Shahih oleh Anshari Taslim, berikut bacaannya yang dapat diamalkan.

    3 Versi Doa Sebelum Wudhu

    1. Doa Sebelum Wudhu Versi Pertama

    Sebelum wudhu, hendaknya kaum muslimin membaca basmalah. Sebagaimana merujuk dari hadits, Nabi SAW bersabda:

    “Tidak ada salat tanpa wudhu dan tidak ada wudhu tanpa membaca nama Allah padanya.” (HR Abu Daud)

    Lafaz basmalah ialah sebagai berikut,

    سْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Arab latin: Bismillahirrahmanirrahim

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

    2. Doa Sebelum Wudhu Versi Kedua

    Setelah membaca basmalah, kaum muslimin bisa melafalkan doa sebelum wudhu yang juga disebut sebagai niat.

    نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

    Arab latin: Nawaitul whuduua liraf’il hadatsil asghari fardal lillaahi ta’aalaa

    Artinya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta’ala.”

    3. Doa Sebelum Wudhu Versi Ketiga

    Selain doa di atas, ada doa sebelum wudhu versi lain yang dapat dipanjatkan seperti dikutip dari buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan karya Ali Akbar bin Aqil.

    doa wudhu

    Arab latin: Bismillaahir rohmaanir rohiim, robbi a’uudzu bika min hamazaatisy syayaathiin wa a’uudzu bika robbi an yahdhuruun

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan dan aku berlindung kepada-Mu pula dari kehadiran mereka di sisiku.”

    Doa Setelah Wudhu: Arab, Latin dan Arti

    Merujuk pada sumber yang sama, usai melaksanakan wudhu ada doa yang bisa dibaca dengan bunyi sebagai berikut,

    اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

    Arab latin: Allahummaj ‘alnii minattawwaabiina waj ‘alnii minal mutathahhiriin.

    Artinya: “Ya Allah, jagalah agar aku termasuk dalam golongan yang bertaubat dan yang menyucikan diri.” (HR Tirmidzi)

    Ada juga doa setelah wudhu versi panjang,

    أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    Arab latin: Asyhadu anlaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu, allaahummaj’alnii minat tawwaabiina, waj’alnii minal mutathahhiriina, subhanakallahumma wa bi hamdika, asyhadu anlaa ilaahaillaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam orang-orang yang bertaubat dan yang menyucikan diri. Engkau Maha Suci, ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

    Itulah doa sebelum wudhu dan sesudahnya yang dapat diamalkan kaum muslimin. Jangan lupa dibaca ya!

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Haqqul Muslim Alal Muslim, Anjuran Penuhi Hak Sesama Muslim


    Jakarta

    Haqqul muslim alal muslim adalah potongan dari hadits yang menjelaskan tentang hak seorang muslim terhadap muslim yang lain. Hak apa saja yang dimaksud dalam hadits tersebut?

    Disebutkan dalam buku Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 1 oleh Sheikh Muhammad Al-Utsaimin terjemahan Munirul Abidin, haqqul muslim alal muslim atau hak seorang muslim terhadap sesama muslim sebetulnya tak terhitung jumlahnya. Namun, Rasulullah SAW hanya menyebutkan beberapa karena pentingnya masalah tersebut. Hal ini tertuang dalam beberapa hadits sahih.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, haqqul muslim alal muslim ada lima perkara, “Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima, yaitu membalas salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangannya, dan menjawab (mendoakan) apabila ia bersin’.” (HR Bukhari dan Muslim)


    Sementara itu, menurut kitab Bulughul Maram: Hadis-hadis Pilihan Tentang Hukum oleh Aidh Al-Qarni terjemahan M. Zaky Mubarak dan Iffah Syarifah, haqqul muslim alal muslim ada enam perkara. Perkara-perkara itu tercantum pada hadits yang berbunyi sebagaimana berikut ini.

    حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتْ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَحِبُهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهُ فَسَمِّتَهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

    Bacaan latin: Haqqu muslimi alal muslimi sittun qiila maa hunna yaa rasuulullahi qaala idzhaa laqiitahu fasallim ‘alaihi wa idzhaa da’aka faajibhu wa idzhas tanshohaka fanshohlahu wa idzhaa ‘athosa fahamidallahi fasammithu wa idzhaa marizdhaa fa’udhu wa idzhaa maa ta fattabi’hu

    Artinya: “Kewajiban muslim terhadap muslim lainnya ada enam: jika engkau berjumpa dengannya, ucapkanlah salam; jika ia mengundangmu, penuhilah; jika dia meminta nasihatmu, nasehatilah, jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah, ucapkanlah yarhamukallâh (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); jika dia sakit, jenguklah; dan jika dia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya.”

    6 Haqqul Muslim Alal Muslim atau Hak Sesama Muslim

    1. Mengucapkan dan Membalas Salam

    Diambil dari buku Al-Islam karya Said Hawwa, haqqul muslim alal muslim yang pertama adalah mengucapkan salam dan menjawab salam apabila bertemu sesama muslim. Meskipun mengucapkan salam adalah sunah, namun menjawab salam hukumnya wajib. Bahkan Rasulullah SAW bersabda,

    “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian telah beriman dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mengasihi. Apakah kalian ingin saya beri tahu hal yang apabila kalian melakukannya maka kalian akan saling mengasihi: Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

    2. Datang Bila Mendapat Undangan

    Haqqul muslim alal muslim yang kedua adalah memenuhi undangan seorang muslim apabila diundang. Hal ini didasarkan juga pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,

    “Barang siapa yang diundang kemudian ia tidak memenuhi undangan tersebut maka ia telah melakukan maksiat kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Dan barang siapa datang dalam suatu undangan padahal ia tidak diundang, maka ia masuk bagai seorang pencuri dan keluar bagaikan orang yang membawa lari harta orang lain.” (HR Abu Dawud)

    3. Mendoakan yang Bersin

    Haqqul muslim alal muslim yang ketiga adalah mendoakan ketika mendengar muslim lain bersin. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

    “Apabila kalian bersin, ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah dalam segala kondisi (Alhamdulillahi ‘ala kulli haal).’ Dan hendaknya saudara atau kawannya mendoakannya, ‘Semoga Allah SWT mengasihimu (yarhamukallah).’ Apabila saudara atau kawannya tersebut telah mendoakannya, ia (orang yang tadinya bersin) hendaknya berkata, ‘Semoga Allah SWT memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu’.” (HR Bukhari)

    4. Menjenguk

    Haqqul muslim alal muslim atau hak muslim terhadap muslim lain yang keempat adalah menjenguk apabila sakit. Ketika menjenguk orang sakit, hendaknya seorang muslim mendoakan agar segera diberi kesembuhan oleh Allah SWT dan memotivasi hatinya.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barang menjenguk orang sakit, maka ia masih berada di pinggir surga hingga ia pulang.” (HR Muslim)

    5. Mengantarkan Jenazah

    Haqqul muslim alal muslim yang kelima adalah mengantar jenazah yang meninggal dunia. Hal ini didasarkan dengan sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa mengantar jenazah dan mengangkatnya tiga kali maka ia telah memenuhi hak jenazah tersebut.” (HR Tirmidzi)

    6. Memberi Nasihat

    Haqqul muslim alal muslim yang terakhir adalah memberikan nasihat apabila ada seorang muslim meminta nasihat kepada kita. Nasihat ini hendaknya berisi pesan yang baik yang sesuai dengan perintah Allah SWT dan bukan nasihat yang mengandung keburukan.

    Perintah ini juga tercantum dalam surah Al Asr ayat 1-3 yang berbunyi,
    وَالْعَصْرِۙ

    Artinya: Demi masa

    اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

    Artinya: sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian

    اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

    Artinya: kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Masuk Rumah Sesuai Sunnah, Yuk Baca agar Berkah!



    Jakarta

    Rasulullah SAW menganjurkan untuk membaca doa setiap memasuki rumah. Doa ini dilafalkan dengan harapan agar rumah tersebut membawa keberkahan.

    Selain membaca doa, dianjurkan juga untuk mengucapkan salam dan memperbanyak dzikir. Salam ketika memasuki rumah bisa dilafalkan baik saat di rumah tersebut ada orang ataupun tidak ada.

    Dalam kitab Al-Adzkar: Doa dan Dzikir dalam Al-Qur’an dan Sunnah oleh Imam Nawawi dijelaskan ketika masuk rumah dianjurkan untuk berdoa, “Bismillah (Dengan nama Allah).”


    Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An Nur ayat 61,

    لَّيْسَ عَلَى ٱلْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَن تَأْكُلُوا۟ مِنۢ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ ءَابَآئِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَٰنِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَٰمِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَٰلِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَٰلَٰتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُم مَّفَاتِحَهُۥٓ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَأْكُلُوا۟ جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

    Artinya: Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.

    Doa Masuk Rumah dan Artinya

    Diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, dari Anas bin Malik, dia mengatakan; Rasulullah SAW berkata kepadaku, “Wahai putraku, apabila engkau menemui keluargamu, maka ucapkanlah salam sehingga menjadi berkah bagimu dan bagi keluargamu.”

    Berikut bacaan doa masuk rumah:

    اللّٰهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ المَوْلِجِ وَ خَيْرَ المَخْرَجِ, بِاسْمِ اللّٰهِ وَ لَجْنَا، بِاسْمِ اللّٰهِ خَرَجْنَا، وَ عَلَى اللّٰهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

    Arab latin: Allahumma innii as-aluka khairal mauliji, bismillahi wa lajnaa, wa bismillahi kharajnaa, wa ‘alallahi rabbanaa tawakkalnaa

    Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan tempat masuk dan kebaikan tempat keluar, dengan menyebut nama-Mu kami masuk, dengan menyebut nama-Mu kami keluar, dan hanya kepada Allah, Tuhan kami, kami bertawakal.

    Doa ini sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, dari Abu Malik Al-Asy’ari, yang bernama asli Al-Harits, ada pula yang mengatakan Ubaid, ada juga yang mengatakan Ka’ab atau Amr. Rasulullah SAW bersabda,

    “Apabila seseorang masuk rumahnya, maka hendaklah dia berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu kebaikan tempat masuk dan kebaikan tempat keluar. Dengan nama Allah kami masuk, dengan nama Allah kami keluar, hanya kepada Allah kami bertawakal,’ lalu hendaklah dia mengucapkan salam kepada keluarganya.”

    Dari Abu Umamah Al-Bahili yang bernama asli Shadayyu bin Ajlan, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,

    “Ada tiga orang yang kesemuanya mendapat jaminan dari Allah: Seseorang yang berjuang di jalan Allah, maka dia mendapat jaminan dari Allah hingga Allah mewafatkannya lalu memasukkan ke dalam surga-Nya atau menolaknya tergantung pahala yang diperoleh dan ghanimahnya; seseorang yang pergi ke masjid, maka dia berhak mendapat jaminan dari Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkan surga-Nya atau menolaknya tergantung pahala yang dịperoleh dan ghanimahnya; dan seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka dia berhak mendapatkan jaminan dari Allah yang Mahasuci dan Mahaluhur”

    Hadits lain yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, dia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila seseorang masuk rumahnya lalu berdzikir kepada Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata, “Tiada tempat menginap bagi kalian dan tidak pula makan malam.’

    Apabila dia masuk lalu tidak berdzikir kepada Allah ketika masuk, setan berkata, ‘Kalian dapat menginap di tempat ini.’ Jika dia tidak berdzikir ketika makan, setan berkata, ‘Kalian dapat menginap dan makan malam di tempat ini’.” (HR Muslim)

    Dalam Kitab lbnu As-Sunni, dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dia mengatakan; Apabila Rasulullah kembali ke rumah pada siang hari, beliau berdoa, “Segala puji bagi Allah yang mencukupi kebutuhanku dan memberikan tempat tinggal kepadaku. Segala puji bagi Allah yang memberiku makan dan minum. Segala puji bagi Allah yang melimpahkan anugerah kepadaku. Aku memohon kepada-Mu agar menjauhkanku dari api neraka.”

    Wallahu a’lam.

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com