Category: Doa Hadits

  • Isyarat Rasulullah Bakal Terjadi Huru-hara yang Harus Diwaspadai


    Jakarta

    Rasulullah SAW mengisyaratkan bakal terjadinya kerusuhan dahsyat yang harus diwaspadai dan dihindari. Kerusuhan ini berkaitan dengan datangnya hari kiamat.

    Isyarat Rasulullah SAW ini disebutkan Ibnu Katsir dalam An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan. Ibnu Katsir menyandarkan hal ini pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

    Rasulullah SAW bersabda,


    سَتَكُونُ فِتَنَّ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأَ أَوْ مَعَادًا فَلْيعُد به

    Artinya: “Akan terjadi huru-hara di mana orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari. Barang siapa mendekatinya, maka huru-hara itu akan menariknya lebih dekat. Maka dari itu, barang siapa mendapatkan di sana suatu benteng atau tempat berlindung lainnya, maka berlindunglah di situ.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Al Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab Al Fitan, bab Takunu Fitnatun al-Qa’idu Minha Khairun Minal Qa’im. Hadits tersebut juga terdapat dalam kitab Sunan At-Tirmidzi.

    Isyarat terkait datangnya huru-hara dan banyak terjadi kerusuhan juga disebutkan dalam hadits lain. Menurut hadits ini, kerusuhan yang dimaksud adalah pembunuhan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda,

    يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّمَ هُوَ قَالَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

    Artinya: “Waktu saling berdekatan, ilmu berkurang, kikir tak mau hilang, huru-hara merajalela, dan banyak terjadi kerusuhan. Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasul Allah kerusuhan apakah itu?’ Beliau menjawab, ‘Pembunuhan, pembunuhan’.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Al Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab al-Fitan bab Zhuhur Al Fitan.

    Huru-hara Berasal dari Arah Timur

    Ibnu Katsir dalam kitabnya juga memaparkan hadits yang menyebut bahwa huru-hara akan muncul dari arah timur. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri di sebelah mimbar sambil menghadap ke timur, lalu bersabda,

    أَلَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ أَوْ قَرْنُ الشَّمْسِ

    Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya huru-hara (akan timbul) dari sini, dari tempat munculnya tanduk setan–atau kata beliau: tanduk matahari.”

    Hadits serupa juga terdapat dalam kitab Sunan At-Tirmidzi dan At-Tirmidzi mengatakannya shahih. Diriwayatkan dari Abd bin Humaid, dari Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkhutbah di atas mimbar lalu bersabda, “Di negeri itulah tempat fitnah,” seraya menunjuk ke timur (yaitu tempat munculnya tanduk setan atau tanduk matahari.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Shalat Istisqa dan Tata Caranya Sesuai Syariat


    Jakarta

    Doa shalat istisqa dibaca untuk memohon turunnya hujan. Amalan sunnah ini dilakukan ketika suatu wilayah mengalami kekeringan atau kemarau panjang.

    Menukil buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 2 karya Prof Wahbah Az-Zuhaili, secara bahasa istisqa artinya meminta hujan. Sementara itu, menurut syariat istisqa berarti meminta hujan dari Allah SWT ketika semua orang membutuhkannya.

    Terkait shalat istisqa ini juga dijelaskan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan dari Abbad bin Tamim, ia berkata:


    “Sesungguhnya Rasulullah mengajak orang-orang keluar untuk memohon turunnya hujan. Beliau shalat dua rakaat bersama mereka, dan beliau membaca dengan suara keras. Setelah memindahkan kain selendang, beliau mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa memohon diturunkan hujan sambil menghadap kiblat.” (HR Bukhari)

    Doa Shalat Istisqa: Arab, Latin dan Terjemahnya

    Terdapat berbagai versi doa shalat istisqa yang dapat dibaca oleh kaum muslimin. Dikutip dari buku Super Lengkap Shalat Sunnah susunan Ubaidurrahim El-Hamdy, berikut bacaannya.

    1. Doa Shalat Istisqa Versi Pertama

    Doa shalat istisqa versi pertama ini merujuk pada hadits Abu Dawud, Hakim, dan Baihaqi.

    اللَّهمَّ اسْقِنَا عَيْنَا مُغْنِنَا رَبَّنَا نَافِعًا غَيْرُ ضَارِ عَاجِلا غَيْرُ آحِلٍ.

    Arab latin: Allaahumasqinaa ghaitsan mughiitsan naafi’an ghairu dhaarin ‘aajilan ghairu aajilan. marii-an

    Artinya: “Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan yang menyejukkan, menggembirakan dan membawa manfaat serta tidak membawa mudharat, dengan segera tanpa ditunda.” (HR Abu Dawud, Hakim, dan Baihaqi)

    2. Doa Shalat Istisqa Versi Kedua

    Selanjutnya, doa shalat istisqa versi kedua merujuk pada hadits Abu Dawud,

    اللهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِكَ، وَاشْرُ رَحْمَكَ وَأَحْيِ بَلْدَكَ البَيتِ

    Arab latin: Allaahumas qi ‘ibaadaka wa bahaa-imika, wan syur rah- mataka wa ahyi baldakal mayyit.

    Artinya: “Ya Allah, hujanilah hamba-hamba-Mu dan juga binatang-binatang-Mu, tebarkanlah kasih sayang-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati (gersang) ini.” (HR Abu Dawud)

    3. Doa Shalat Istisqa Versi Ketiga

    Sementara itu, doa shalat istisqa versi ketiga didasarkan pada hadits Abu Dawud dan Hakim.

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ لاإِلَهَ إِلَّا اللَّهَ فَعَلَ مَا يُرِيدُ اللَّهُم أَتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَّكَ أَنتَ الْغَنِي وَبَحْنُ الْفُقَرَاءَ، أُنزِلَ عَلَيْنَا الْغَيْتَ، وَاجْعَلْ مَا أَنزَلْتَ لنَا قُوةً وبلاغا إِلَى حِينٍ.

    Arab latin: Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmaanir rahiim. Maaliki yaumid diin. Laa ilaaha illaallaahu yaf’alu maa yuriid, allaahumma antallaahu laa ilaaha illaa anta, antal ghaniyyu wa nahnul fuqaraa’, anzil ‘alainal ghait- sa, waj’al maa anzalta lanaa quwwatan wa ballaaghan ilaa hiinin.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan, (Al-Fatihah 2-4). Tiada Tuhan selain Allah Yang Melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ya Allah, Engkau Allah yang tiada Tuhan selain Engkau. Engkau kaya dan kami tidak memiliki apa-apa. Turunkanlah hujan kepada kami. Dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan kepada kami sebagai kekuatan yang menembus waktu.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)

    Tata Cara Shalat Istisqa

    Menukil buku Fikih Sunnah susunan Sayyid Sabiq, tata cara shalat istisqa ialah sebagai berikut.

    • Mengerjakan sholat dua rakaat secara berjamaah
    • Rakaat pertama membaca surah Al Fatihah dan surah Al A’la
    • Rakaat kedua membaca surah Al Fatihah dan surah Al Ghasyiyah
    • Imam membaca khutbah. Pada khutbah pertama khatib membaca istighfar sebanyak sembilan kali dan pada khutbah kedua membaca istighfar tujuh kali.
    • Setelah selesai berkhutbah, imam menghadap kiblat seraya mengubah (memutar) pakaiannya. Yang kanan diputar ke sebelah kiri dan yang kiri diputar ke sebelah kanan, diikuti oleh semua jemaah yang hadir. Untuk kemudian bersama-sama berdoa
    • Membaca doa kepada Allah SWT

    Demikian doa shalat istisqa dan tata caranya yang bisa dipahami oleh kaum muslimin. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Dzikir Nabi Ayub AS saat Sakit untuk Meminta Kesembuhan


    Jakarta

    Sakit merupakan suatu ujian yang tidak dapat kita hindari. Dzikir Nabi Ayub AS adalah doa yang dipanjatkan ketika sedang ditimpa ujian dari Allah SWT dalam bentuk penyakit.

    Semasa hidupnya, tubuh Nabi Ayub AS diselimuti rasa sakit yang tak terhingga, tapi hatinya teguh dalam kesabaran. Dalam keterpurukan, dia berdzikir, “Hanya pada-Mu aku memohon kesembuhan”.

    Ujian dalam bentuk penyakit tersebut tidak pernah membuat Nabi Ayub AS menyerah pada imannya kepada Allah SWT. Ujian tersebut melahirkan kesabaran yang luar biasa sehingga Allah SWT mendengar doanya dan memberikan kesembuhan sebagai balasan atas ketabahan dan kepercayaannya.


    Nah, dalam artikel ini, kita akan mempelajari tentang dzikir Nabi Ayub AS yang dilantunkan saat memohon kesembuhan dari penyakit yang sedang menimpa. Untuk memahaminya, simak pembahasannya sebagai berikut.

    Penyakit Dalam Islam

    Dikutip dari buku Bahagia Ketika Sakit: Meraih Kemuliaan di Tengah Ujian Iman oleh Abu Muhammad Rafif Triharyanto, banyak yang masih salah paham tentang penyakit yang diberikan oleh Allah SWT.

    Masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyakit adalah wujud murka dan laknat Allah SWT. Bahkan, beberapa orang kemudian menggugat dan memprotes Allah SWT terkait dengan penyakit yang menimpanya.

    Sebenarnya, rasa sakit justru merupakan ujian yang menunjukkan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Sakit merupakan sarana untuk bisa lebih dekat dengan Allah SWT dan penghapusan dosa-dosa.

    Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka, menguji dengan musibah. Siapa yang ridho dengan musibah itu dengan ujian Allah SWT, maka Allah SWT akan ridho kepadanya. Sebaliknya siapa yang marah dengan musibah itu, maka dia akan mendapatkan murka dari Allah SWT.” (Hr. Ahmad dan Tirmidzi).

    Maka dari itu, bagi hamba Allah SWT yang beriman, datangnya musibah berupa penyakit perlu disikapi dengan rasa sabar dan ikhlas. Karena Allah SWT sedang menunjukkan cinta dan kasih sayang-Nya. Betapa mulia dan istimewanya orang yang sedang ditimpa sakit karena sakitnya itu menjadi bukti dan kasih sayang Allah SWT padanya.

    Bacaan Dzikir Nabi Ayub

    Bagi umat Islam yang sedang dilanda dengan sebuah penyakit, maka sebaiknya sabar dan tetap berdoa meminta kesembuhan kepada Allah SWT. Kita harus tetap bertawakat dan berprasangka kepada Allah SWT sambil terus berdoa memohon kesembuhan.

    Berikut ini adalah dzikir Nabi Ayub AS yang tertulis dalam Al Quran Surat Al-Anbiya ayat 83: https://www.detik.com/hikmah/quran-online/al-anbiya

    … رَبَّهٗٓ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

    Bacaan latin: … Rabbahu anni massaniyad-durru wa anta ar-hamur-rahimin.

    Artinya: “… Ya Rabb, sesungguhnya aku telah ditimpa suatu penyakit, padahal Engkau Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.”

    Keteladanan Nabi Ayub AS

    Meski mengalami ujian dengan penyakit yang luar biasa, Nabi Ayub AS tidak pernah meragukan takdir Allah SWT. Dzikir yang dilantunkan oleh Nabi Ayub AS mencerminkan tawakal dan keimanan yang tidak tergoyahkan.

    Dalam situasi yang sangat buruk, Nabi Ayub AS tetap berbaik sangka kepada Allah SWT. Sikapnya yang tidak tergoyahkan dalam ujian mengajarkan kita sebagai umat Islam tentang pentingnya bersabar dalam menghadapi cobaan.

    Sambil berserah kepada Allah SWT dengan melantunkan dzikir Nabi Ayub AS, kita juga tentu harus melakukan berbagai macam usaha untuk bisa sembuh. Usaha tersebut bisa dilakukan dengan cara mendatangi dokter untuk mendapatkan perawatan yang sesuai.

    Kisah Nabi Ayub AS ini memberikan kita pelajaran berharga bawah ujian penyakit merupakan bagian dari rencana-Nya, dan dengan bersabar, kita bisa mendapatkan keberkahan dan kesembuhan. Keteladanan ini mengajarkan bahwa dalam kesulitan, tawakal dan kesabaran membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Setelah Sholat Tahajud, Dibaca agar Keinginan Cepat Terkabul


    Jakarta

    Setelah sholat Tahajud hendaknya memanjatkan doa kepada Allah SWT. Kita bisa meminta apapun yang diinginkan ketika berada di sepertiga malam.

    Deni Lesmana dalam bukunya Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki dan Kesuksesan, mengatakan sholat tahajud di sepertiga malam adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Waktunya adalah mendekati waktu Subuh atau di waktu sahur.

    Informasi ini merujuk pada firman-Nya dalam surah Az-Zariyat ayat 18, di mana Allah berfirman,


    وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

    Artinya: “dan pada akhir malam, mereka memohon ampunan (kepada Allah SWT).”

    Rasulullah SAW pun menyampaikan tentang keutamaan sholat tahajud dalam hadisnya, “Puasa paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, sementara sholat paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR Muslim).

    Dalam riwayat lain mengatakan bahwa waktu sepertiga malam ini adalah waktu di mana Allah SWT turun ke langit dunia, Rasulullah SAW bersabda, “Tuhan kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya, kemudian berfirman, ‘Orang yang berdoa kepadaKu akan Kukabulkan. Orang yang meminta sesuatu kepadaKu akan kuberikan. Orang yang meminta ampunan dariKu akan Kuampuni,” (HR Bukhari dan Muslim).

    Walaupun pada dasarnya doa tidak terikat oleh waktu dan tempat tertentu, bagi seorang Muslim, penting untuk memperhatikan waktu-waktu yang dianggap istimewa (musjatab) dalam berdoa, dengan harapan doanya dapat lebih mudah dikabulkan.

    Doa Setelah Sholat Tahajud: Arab, Latin, Artinya

    Menukil Kitab Induk Doa & Dzikir Terlengkap karya Nasrullah dan Tim Shahih, berikut doa setelah sholat tahajud yang bisa dipanjatkan.

    اَللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ واْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْلِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ

    Bacaan latin: Allahumma rabbana lakal hamdu. Anta qayyimus-samawati wal ardhi wa man fi hinna, wa lakal hamdu anta malikus-samawati wal ardhi wa man fi hinna, wa lakal hamdu anta nurus samawati wal ardhi wa man fi hinna. Wa lakal hamdu antal haq. Wa wa’dukal haq. Wa liqa’uka haq. Wa qauluka haq. Wal jannatu haq. Wan naru haq. Wan nabiyyuna haq. Wa Muhammadun shallallahu alaihi wasallama haq. Was sa’atu haq. Allahumma laka aslamtu. Wa bika amantu. Wa alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khashamtu. Wailaika hakamtu, fagfirli maqaddamtu, wama akhkhartu, wama asrartu, wama a’lantu, wama anta a’lamu bihi minni, antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. La ilaha illa anta, wala haula wa la quwwata illa billah.

    Artinya: “Wahai Rabb, Tuhan kami. Segala puji bagiMu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagiMu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagiMu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagiMu, Engkau Maha Benar. JanjiMu benar, pertemuan denganMu kelak itu benar, firmanMu benar adanya, surga itu nyata, neraka pun demikian, para nabi itu benar demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar, hari Kiamat itu benar.

    Ya Tuhanku, hanya kepadaMu aku berserah, hanya kepadaMu juga aku beriman. KepadaMu aku pasrah, hanya kepadaMu aku kembali. KarenaMu aku rela bertikai, hanya padaMu dasar putusanku. Karena itu ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian, tiada Tuhan selain Engkau, tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah SAW.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Keutamaan Sholat Tahajud

    Terdapat berbagai keutamaan dan manfaat yang dapat diperoleh dengan menunaikan sholat tahajud. Menyitir buku Shalat Tahajud Cara Rasulullah SAW Sesuai Al-Quran dan Hadist karya Ust. Hamdi El-Natary, berikut keutamaannya.

    • Mendapat pahala berlimpah
    • Termasuk golongan orang beriman
    • Mendapat kedudukan terpuji di dunia dan akhirat
    • Mendapat ampunan dari Allah SWT

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Orang yang Pertama Keluar dari Neraka lalu Masuk Surga



    Jakarta

    Ada penghuni neraka yang kelak dikeluarkan darinya untuk dimasukkan ke surga. Peristiwa ini disebut terjadi ketika Allah SWT telah selesai memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya.

    Hal tersebut dijelaskan melalui sebuah hadits dalam Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah RA sebagaimana dinukil Ibnu Katsir dalam kitab An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan.

    Mulanya Abu Hurairah RA menceritakan bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW terkait apakah bisa melihat Allah SWT pada hari kiamat. Rasulullah SAW kemudian menjawab bahwa manusia akan melihat Tuhannya dengan jelas.


    Sahabat bertanya, “Ya Rasul Allah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita pada hari kiamat?”

    Maka Rasulullah SAW balik bertanya, “Apakah kamu merasa samar ketika melihat bulan pada malam purnama?”

    Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasul Allah.”

    Rasulullah SAW kembali bertanya, “Apakah kamu merasa samar ketika melihat matahari yang tidak terhalang awan?”

    Mereka menjawab, “Tidak.”

    Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Sesungguhnya kamu akan melihat-Nya dalam keadaan seperti itu.”

    Rasulullah SAW lalu menceritakan peristiwa yang terjadi pada hari kiamat nanti. Dikatakan, Allah SWT akan mengumpulkan seluruh umat manusia lalu berfirman, “Barang siapa yang dulu menyembah sesuatu, maka ikutilah dia.”

    Para penyembah matahari kemudian mengikuti matahari, para penyembah bulan kemudian mengikuti bulan, dan para penyembah berhala lainnya mengikuti berhalanya.

    Lalu, tinggallah sekelompok umat yang termasuk orang-orang munafik. Allah SWT mendatangi mereka dalam wujud yang tidak mereka kenal seraya berfirman, “Aku Tuhanmu.”

    Tetapi mereka menjawab, “Kami berlindung kepada Allah darimu. Biarlah kami tetap di sini, sampai Tuhan kami datang menemui kami. Jika Tuhan kami datang, kami pasti bisa mengenal-Nya.”

    Maka Allah SWT pun datang dalam wujud yang mereka kenal seraya berfirman, “Akulah Tuhanmu.”

    Mereka pun menjawab, “Engkaulah Tuhan kami.” dan mengikuti-Nya.

    Setelah menceritakan hal itu, Rasulullah SAW kemudian menceritakan tentang shirath (jembatan) yang dibentangkan di antara dua pinggir neraka Jahannam. Orang yang pertama kali melewatinya adalah Rasulullah SAW dan umatnya.

    Rasulullah SAW bersabda, “Pada waktu itu tidak ada yang berbicara kecuali para Rasul dan doa yang selalu mereka ucapkan pada waktu itu adalah ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah’!”

    Rasulullah SAW juga menceritakan bahwa dalam Jahannam muncul kait-kait seperti duri-duri pohon sa’dan. Kait-kait itu menyambar orang-orang sesuai amal mereka masing-masing. Oleh karena itu, ada manusia yang binasa karena perbuatannya dan ada yang berhasil melewatinya.

    Setelah Allah SWT selesai memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya, Allah SWT hendak mengeluarkan beberapa orang penghuni neraka yang dikehendaki-Nya atas rahmat-Nya. Dia memerintahkan para malaikat mengeluarkan orang yang-orang yang dulu tidak menyekutukan Allah SWT, yang mendapat rahmat-Nya. Mereka ini adalah orang yang mengucapkan “La Ilaha Illallah.”

    Para malaikat dapat mengenali orang yang dimaksud Allah SWT meskipun mereka berada dalam api. Dikatakan, malaikat mengenalnya dari adanya bekas sujud pada anggota tubuh mereka.

    Demikianlah Allah SWT mengeluarkan penghuni neraka dalam keadaan hangus. Menurut sabda Rasulullah SAW, mereka disiram air kehidupan (Maa’ Al-Hayat) dan mereka pun tumbuh bagaikan biji-biji yang tumbuh di antara sampah-sampah yang terbawa arus.

    Itulah golongan orang pertama yang keluar dari neraka lalu masuk surga atas rahmat-Nya. Mereka adalah orang-orang yang yang dulunya tidak menyekutukan Allah SWT.

    Abu Hurairah RA menceritakan riwayat yang cukup panjang terkait orang yang dikeluarkan dari neraka ini. Keputusan ini berlangsung hingga tinggallah seorang lelaki yang wajahnya menghadap ke neraka. Dia adalah penghuni neraka yang paling akhir masuk surga.

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Di Mana Dajjal Berada Sekarang? Ini Penjelasan Hadits



    Jakarta

    Banyak hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa keberadaan Dajjal menjadi salah satu tanda datangnya kiamat. Sebuah hadits bahkan menjelaskan tentang keberadaan Dajjal.

    Lahirnya Nabi Muhammad SAW menjadi tanda akhir zaman. Nabi Muhammad SAW menjadi nabi penutup sekaligus nabi terakhir yang diutus Allah SWT.

    Diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad ra,


    “Aku melihat Rasulullah SAW mengisyaraatkaan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan, seraya berkata: “Aku diutus sedangkan jarak antaaraku dan kiamat seperti dua jari ini.” (HR Bukhari)

    Selain kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanda datangnya kiamat adalah hadirnya Dajjal. Seperti yang diriwayatkan oleh Samurah, bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya sewaktu terjadi gerhana matahari, “Demi Allah SWT! Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul 30 orang pendusta, yang diakhiri oleh pendusta bermata satu (Dajjal).” (HR Ahmad)

    Di Mana Dajjal Berada?

    Mengenai keberadaan Dajjal saat ini, dinukil dari buku Kiamat: Tanda-tandanya Menurut Islam, Kristen, dan Yahudi oleh Manshur Abdul Hakim, Nabi SAW pernah menyebut bahwa makhluk itu berlokasi di suatu pulau, sekitar Laut Yaman.

    Kabar tentang tempat berdiam dirinya Dajjal ini diketahui dalam sebuah hadits dari Fatimah binti Qais, yang menceritakan bahwa seorang sahabat nabi yakni Tamim Ad-Dari pernah bertemu Dajjal dan Al-Jassasah pada masa Rasulullah.

    Ketika itu, Dajjal sedang dibelenggu kedua tangan hingga lehernya, sementara kedua lutut sampai mata kakinya terikat dengan rantai besi.

    Hadits mengenai Tamim Ad-Dari ini dikenal oleh kalangan ulama dengan sebutan ‘hadits al-Jasaasah’. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyraath us-Saa’ah, Bab ‘Ibnu Shayyaad’.

    “Dari ‘Amir bin Syarahil bahwa dia bertanya kepada Fatimah binti Qais, saudari Adh-Dhahhak bin Qais, wanita itu termasuk orang yang berhijrah pertama kali. Fathimah berkata,

    “Aku mendengar suatu seruan untuk menunaikan sholat berjamaah. Kemudian aku berangkat ke masjid untuk mendirikan sholat bersama Rasulullah. Aku berada di barisan kaum wanita yang letaknya di belakang kaum laki-laki. Seusai sholat, Rasulullah duduk di mimbar sambil tertawa, lalu bersabda:

    “Setiap orang hendaknya diam di tempatnya masing-masing. Tahukah kalian, mengapa aku mengumpulkan kalian sekarang?”

    Kaum muslim kala itu menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.’

    “Aku bukan mengumpulkan kalian karena untuk memotivasi atau memberi peringatan. Aku mengumpulkan kalian karena Tamiim Ad-Daari, yang dulunya merupakan seorang penganut Nasrani, datang ke sini dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku sesuatu yang pernah aku sampaikan kepada kalian mengenai al-Masih ad-Dajjal.”

    Nabi SAW melanjutkan, “Dia bercerita bahwa dirinya bersama 30 orang dari suku Lakhm dan Jadzam, berlayar dengan sebuah kapal. Mereka dipermainkan ombak besar selama satu bulan di tengah laut . Kemudian mereka berlabuh ke sebuah pulau di tengah laut, hingga matahari tenggelam.”

    Lanjut Rasulullah, “Mereka duduk-duduk di dekat kapal, kemudian memasuki pulau itu. Mereka bertemu seekor binatang besar yang berbulu lebat, sedemikian lebatnya bulu hewan tersebut sehingga mereka tidak dapat membedakan mana bagian depan dan mana yang belakang. Mereka bertanya, ‘Siapa kamu?’

    Binatang itu menjawab, ‘Aku adalah al-Jassaasah (mata-mata).’

    Mereka bertanya, ‘Apakah al-Jassaasah itu?’

    Dia menjawab, ‘Wahai orang-orang. Temuilah orang yang ada di dalam gua itu, sebab dia sangat menanti-nantikan berita dari kalian.’

    Tamim berujar, ‘Ketika binatang itu menyebut keberadaan seseorang, kami khawatir, jangan-jangan binatang tersebut adalah setan. Kami pun cepat-cepat pergi memasuki gua. Dan ternyata di dalamnya kami lihat ada seorang manusia bertubuh sangat besar, merupakan pria terbesar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Tangannya terbelenggu ke lehernya. Kedua kakinya juga terikat dengan besi.’

    Mereka lalu bertanya, ‘Apa sebenarnya kamu ini?’

    Dia menjawab, ‘Kalian telah mendapat kabar tentang aku. Siapa kalian ini?’

    Mereka menjawab: ‘Kami adalah bangsa Arab. Kami berlayar dengan kapal. Kami dipermainkan ombak yang sangat besar selama sebulan. Lalu kami berlabuh ke pulaumu ini. Kami duduk-duduk tidak jauh dari kapal kami. Lalu kami memasuki pulau dan bertemu seekor hewan yang berbulu sangat lebat, dan dia menyuruh kami untuk mendatangi istana ini karena orang yang di dalamnya sangat ingin mendengar berita dari kami. Kami segera menemuimu di sini, padahal kami tidak tahu apakah kamu setan atau bukan.’

    Lelaki tersebut bertanya, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang Nukhail Bisan (sebuah kampung di Syam, tepatnya Palestina, sebelah sungai Thabriyah).’

    Kami bertanya, “Apanya yang kamu tanyakan?’

    Dia kembali bertanya, ‘Aku bertanya tentang kurmanya, apakah berbuah?’

    Kami jawab, ‘Ya, masih berbuah.’

    Dia berkata, ‘Ketahuilah, kurma di sana nanti tidak berbuah.’

    Dia berkata lagi, ‘Lalu bagaimana keadaan Danau Thabariyyah?’

    Kami balik bertanya,’Apanya yang ingin kamu ketahui?’

    Pria itu bertanya,’Apakah danau itu ada airnya?’

    Kami menjawab, ‘Ya, airnya berlimpah.’

    Dia berkata, ‘Air danau itu nanti akan habis.’

    Lelaki itu bertanya, ‘Lalu bagaimana dengan mata air Zughar?’

    Kami bertanya, ‘Apanya yang kamu tanyakan?’

    Dia menjawab, ‘Apakah mata air tersebut memancarkan air? Dan apakah penduduk disana bercocok tanam dengan memanfaatkan air dari mata air itu?’

    Kami menjawab, ‘Ya. Airnya banyak, dan penduduk di sana bercocok tanam dengan airnya.’

    Dia bertanya, ‘Ceritakanlah kepadaku, apa yang dilakukan oleh nabi yang diutus kepada bangsa yang buta huruf (bangsa Arab)?’

    Kami menjawab, ‘Dia telah keluar dari Mekah, dan tinggal di Yatsrib.’

    Pria itu bertanya, ‘Apakah orang-orang Arab memeranginya?’

    Kami menjawab, ‘Ya.’

    Tanya dia kembali, ‘Bagaimana dia melawan mereka?”

    Kami menjawab, ‘Dia telah menang atas orang-orang Arab, dan sekarang mereka tunduk, taat kepadanya.’

    Dia berkata, ‘Begitukah?’

    Kami berkata, ‘Ya, memang begitu.’

    Dia berkata, ‘Ketahuilah, memang lebih baik mereka menaatinya.’

    Lelaki itu melanjutkan, ‘Sekarang aku beri tahu kalian tentang diriku. Aku adalah al-Masih. Telah hampir tiba waktunya aku diizinkan keluar. Kalau aku telah keluar, aku menjelajahi bumi, tidak satu pun perkampungan yang tidak aku singgahi selama empat puluh hari, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah). Kedua kota itu diharamkan bagiku memasukinya. Setiap kali aku mau memasuki keduanya, aku dihadang malaikat yang memegang pedang terhunus, menghalangiku memasukinya. Di setiap jalan dari kedua kota itu terdapat malaikat yang menjaganya.’

    Fatimah berkata, ‘Sambil menekan tongkatnya pada mimbar, Rasulullah bersabda, “Ini (yakni Madinah) adalah Thayyibah. Ini adalah Thayyibah. Bukankah sebelumnya aku telah menyampaikan hal itu kepada kalian?”

    Orang-orang muslim pada saat itu menjawab, ‘Benar!’

    Beliau melanjutkan sabdanya:

    فَإِنَّهُ أَعْجَبَنِي حَدِيثُ تَمِيمٍ أَنَّهُ وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أَحَدِتْكُمْ عَنْهُ وَعَنِ الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ أَلا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّامِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ

    Artinya: “Cerita Tamim sangat menakjubkan hatiku, sangat sesuai dengan apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah, dia (Dajjal) ada di Laut Syam atau Laut Yaman. Tidak, melainkan dari arah timur. Dia dari arah timur, dari arah timur.”

    Fatimah binti Qais berkata, ‘Aku hafalkan ini dari Rasulullah sendiri.’ (HR Muslim)

    Hadits Tentang Fitnah yang Akan Menimpa Umat Islam

    Merangkum buku Tanda-tanda Kiamat karya Mahmud Rajab disebutkan beberapa hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang fitnah serta ujian bagi umat Islam. Ujian ini bahkan dijelaskan asalnya.

    Diriwayatkan dari Usamah ibn Zaid, Rasulullah SAW melepas pandangan ke dataran tinggi pinggiran Madinah, kemudian beliau bersabda, “Sungguh aku melihat tempat terjadinya fitnah dari sela-sela rumah kalian seperti turunnya hujan.” (HR Bukhari Muslim)

    Imam Nawawi mengatakan, “Perumpamaan dengan tempat turunnya hujan menunjukkan fitnah itu akan menimpa setiap kaum muslimin, bukan hanya satu golongan saja. Ini isyarat akan terjadinya pertempuran di antara sesama muslim seperti perang Jamal dan Shiffin.”

    Diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Fitnah akan muncul dari sini (beliau menunjukkan arah timur, arah munculnya dua tanduk syaitan) dan kalian akan saling membunuh. Sesungguhnya Musa membunuh keluarga Fir’aun karena tidak sengaja.” (HR Muslim)

    Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah! berkahilah negeri Syam dan Yaman” (2x), lalu seorang sahabat berkata: “Daerah Timur, ya Rasulullah!”, Rasulullah SAW bersabda, “Dari sana munculnya tanduk syaitan dan dari sana timbulnya 9/10 kejahatan.” (HR Ahmad)

    Di riwayat lain, sahabat berkata: “Daerah Irak, ya Rasulullah!”, Rasulullah SAW bersabda, “Dari sana sumber goncangan dan munculnya tanduk syaitan.”

    Wallaahu alam.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Pelunas Utang, Panjatkan agar Diberi Kemudahan


    Jakarta

    Syariat Islam mengatur segala aspek kehidupan sehari-hari, termasuk soal utang piutang. Kewajiban membayar utang turut dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 283,

    وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا۟ كَاتِبًا فَرِهَٰنٌ مَّقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ ٱلَّذِى ٱؤْتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ وَلْيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا۟ ٱلشَّهَٰدَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُۥٓ ءَاثِمٌ قَلْبُهُۥ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

    Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


    Sebetulnya konsep utang piutang bertujuan untuk memberi kemudahan bagi orang yang sedang kesulitan. Dikatakan dalam buku Panduan Muslim Sehari-Hari karya Dr. KH. M. Hamdan Rasyid dan Saiful Hadi El-Sutha, memberi utang dianjurkan sebagai hadiah berpahala karena menolong saudara sesama muslim.

    Syariat Islam memberikan hak kepada orang yang memberi utang untuk menagih harta yang dipinjamkannya apabila orang yang berutang dalam keadaan mampu dan memiliki harta yang cukup untuk membayar utangnya. Meski demikian, Islam mengharamkan (tidak diperkenankan) untuk menagih utang kepada orang yang sedang berada dalam keadaan tidak mampu untuk membayar utang. Pemberi pinjaman wajib menunggu sampai orang yang berutang dalam kondisi lapang.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 280,

    surat Al-Baqarah ayat 280, Allah SWT berfirman:

    وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

    Berkaitan dengan itu, ada juga doa pelunas utang yang dapat dibaca. Berikut bacaannya yang dikutip dari buku Jihad Keluarga: Membina Rumah Tangga Sukses Dunia Akhirat susunan A Fatih Syuhud.

    Kumpulan Doa Pelunas Utang

    1. Doa Pelunas Utang Versi Pertama

    اللَّهُمَّ يَا فَارِجَ الْهَمِّ ، كَاشِفَ الْغَمِّ ، مُجِيبَ دَعْوَةَ الْمُضْطَرِّينَ ، رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَرَحِيمَهُمَا ، أَنْتَ تَرْحَمُنِي ، فَارْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ

    Arab latin: Allahumma ya farijal ham kasyifal gham mujiba da’watal mudhthorriin rahmanad dunya wal akhirah warahimahuma anta tarhamuni farhamni rahmatan tughnini biha rahmati man siwak.

    Artinya: “Ya Allah, yang menghilangkan kerisauan, Maha Mengikis gundah gulana, Maha mengabulkan doa orang yang menderita. Engkau Maha Pengasih kepada seisi dunia dan akhirat dan menyayangi keduanya. Engkau mengasihiku, berilah aku rahmat yang membuatku tidak memerlukan lagi pertolongan selain dari-Mu.

    2. Doa Pelunas Utang Versi Kedua

    Menukil buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki oleh KH Sulaeman bin Muhammad Bahri, doa pelunas utang versi kedua ini dapat dibaca agar Allah SWT membuka pintu rezeki. Berikut bunyinya,

    اَللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ اَنْ تَرْزُقَنِىْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَمَشَقَّةٍ وَلاَضَيْرٍ وَلاَنَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

    Arab latin: Alllhumma innii as’aluka antarzuqunii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’abin walaa musyaqqotin walaa dhairin wala nashabin innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir

    Artinya: “Ya Allah, aku minta kepada-Mu akan pemberian rezeki yang halal, luas, baik tanpa repot, dan kemelaratan dan tanpa keberatan dan sesungguhnya Engkau maha atas segala sesuatu.”

    3. Doa Pelunas Utang Versi Ketiga

    Selain itu, doa pelunas utang versi lainnya dibaca agar terhindar dari utang.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

    Arab latin: Allaahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazan, wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’uudzu bika min qahrir rijaal.

    Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesumpekan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari ketakutan dan kekikiran, dari lilitan hutang dan kezaliman orang-orang.”

    4. Doa Pelunas Utang Versi Keempat

    اَللَّهُمَّ يَسِّرْ وَ لَا تُعَسِّرْ

    Arab latin: Allahumma yassir walaa tu’assir

    Artinya: “Ya Zat yang memudahkan segala yang sulit, mudahkanlah jangan Engkau persulit.”

    Setelah ikhtiar dan membaca doa pelunas utang, kaum muslimin harus memperhatikan sejumlah hal agar doa terkabul. Mengutip buku Pintar Doa dan Zikir Rasulullah tulisan Abdullah Zaedan, hendaknya doa dibaca dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

    Selain itu, doa diawali dengan pujian terhadap Allah SWT dan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW. Ketika berdoa sebaiknya tidak tergesa-gesa, usahakan dibaca dalam keadaan lapang maupun susah.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Attahiyatul Mubarakatus, Doa Tahiyat Awal yang Dibaca ketika Salat


    Jakarta

    Attahiyatul mubarakatus adalah penggalan doa tahiyat awal dalam salat. Umumnya, tahiyat awal dikerjakan pada rakaat kedua.

    Menukil buku Sifat Shalat Nabi susunan Nashiruddin al-Albani, jumhur ulama beserta Imam Syafi’i, Maliki dan Abu Hanifah menyatakan bahwa tahiyat awal termasuk ke dalam sunnah salat. Mazhab Syafi’i berpandangan apabila seseorang meninggalkan tasyahud awal secara sengaja atau lupa maka ia harus melakukan sujud sahwi.

    Lantas, seperti apa bacaan tahiyat awal yang berlafaz attahiyatul mubarakatus?


    Lafaz Attahiyatul Mubarakatus

    Berikut bacaan attahiyatul mubarakatus atau tahiyat awal yang dikutip dari buku Menyelami Makna Bacaan Shalat tulisan Fajar Kurnianto.

    اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهدُ اَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

    Arab latin: Attahiyatul mubaarakatush shalawaatuth thayyibaatulillaahi. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiina. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi.”

    Artinya: “Segala kehormatan, keberkahan, rahmat dan keselamatan, serta kebaikan hanyalah kepunyaan Allah. Keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah semoga tetap tercurah atasmu, wahai Nabi (Muhammad). Keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah semoga juga tercurah atas kami, dan juga atas seluruh hamba Allah yang sholeh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

    Posisi Duduk Tahiyat Awal yang Benar

    Merujuk pada sumber yang sama, duduk tahiyat awal dikenal dengan duduk iftirasy. Posisinya ialah duduk di atas mata kaki kiri, meletakkan punggung kaki di atas tanah, menegakkan kaki kanan, dan menghadapkan ujung jari kaki ke arah kiblat. Secara singkat, kaki kiri dijadikan sebagai alas duduk.

    Menukil buku Kitab Shalat Empat Madzhab karya Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, dalam sebuah riwayat diterangkan terkait posisi duduk iftirasy.

    “Beliau (Nabi SAW) meletakkan tangan yang kiri di atas paha kirinya dan tangan kanan di atas paha kanannya serta menggenggam dua jarinya (tangan kanan) yaitu: jari kelingking dan jari manisnya. Dan melingkarkan jari tengah dengan jempolnya sehingga membentuk lingkaran kecil serta mengangkat jari telunjuknya tidak tegak, akan tetapi sedikit merundukkan seraya berdoa dengan memusatkan pandangan ke jari telunjuknya.

    Dan membentangkan (membuka telapak tangan kirinya di atas paha kiri). Adapun gambaran duduknya dalam tasyahud ini (tasyahud awal) sebagaimana diterangkan pada sifat duduknya antara dua sujud, yaitu: “Beliau duduk di atas kaki kirinya dan menghujamkan (menegakkan) kaki yang kanan.” (HR Nasa’i)

    Itulah lafaz attahiyatul mubarakatus lengkap yang merupakan doa ketika tahiyat awal salat. Jangan lupa dibaca ya!

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa agar Dimudahkan Segala Urusan: Arab, Latin dan Arti


    Jakarta

    Doa agar dimudahkan segala urusan bisa dipanjatkan kaum muslimin ketika memiliki hajat tertentu. Allah SWT bahkan menganjurkan umat Islam untuk senantiasa berdoa kepada-Nya sebagaimana tercantum dalam surah Al Mukmin ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

    Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”


    Rasulullah SAW turut menyebut dalam haditsnya bahwa Allah SWT menyukai orang-orang yang berdoa. Dari Aisyah RA, Nabi SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa.” (HR Hakim)

    3 Doa agar Dimudahkan Segala Urusan

    Menukil dari buku Doa Mengundang Rezeki karya Islah Susmian, berikut sejumlah doa yang dapat dibaca agar dipermudah segala urusan.

    1. Doa Dimudahkan Segala Urusan Versi Pertama

    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

    Arab latin: Ya hayyu ya qayyumu birahmatika astaghitsu, ashlih li sya’ni kullahu wala takilni ila nafsi tharfata ‘ainin abadan

    Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmatMu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dariMu selamanya.” (HR Tirmidzi).

    2. Doa Dimudahkan Segala Urusan Versi Kedua

    رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

    Arab latin: Robbanaa laa tuaa khidznaa innasiinaa au akhtho’na, robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘ala al ladziina min qoblinaa, robbana walaa tuhammilnaa maa laa thoo qatalanabih, wa’ fuanna waghfirlanaa warhamnaa, anta maulana fansurnaa ‘ala al qaumilkaafiriin

    Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kamu memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir,” (QS Al Baqarah 286).

    3. Doa Dimudahkan Segala Urusan Versi Ketiga

    اللهم الطف بي في تيسير كل عسير، فإن تيسير كل عسير عليك يسير، وأسألك اليسر والمعافاة في الدنيا والآخرة

    Arab latin: Allaahummalthuf bii fii taisiiri kulli ‘asiirin, fa inna taisiira kulli ‘asiirin ‘alaika yasiir, as ‘alukal yusra wal mu’aafaata fid dun-yaa wal aakhirati

    Artinya: “Ya Allah, berilah taufik, kebajikan, atau kelembutan kepadaku dalam hal kemudahan pada setiap kesulitan, karena sesungguhnya kemudahan pada setiap yang sulit adalah mudah bagiMu, dan aku mohon kemudahan serta perlindungan di dunia dan di akhirat.” (HR Thabrani).

    Itulah beberapa versi doa dimudahkan segala urusan yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin. Semoga bermanfaat.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Hadits tentang Puasa Ayyamul Bidh dan Keutamaannya


    Jakarta

    Puasa Ayyamul Bidh merupakan salah satu amalan yang memiliki banyak keutamaan. Hal ini dijelaskan dalam sejumlah hadits puasa Ayyamul Bidh.

    Merujuk pada buku Sukseskan Bisnismu dengan 21 Amalan Sunah yang Terbukti Dahsyat karya Ahmad Jarifin, puasa Ayyamul Bidh adalah salah satu puasa sunnah yang dikerjakan Rasulullah SAW pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan kamariah. Tanggal tersebut bertepatan dengan waktu rembulan bersinar sempurna.

    Terdapat beberapa hadits puasa Ayyamul Bidh. Hadits-hadits ini berisi anjuran untuk tidak meninggalkan puasa Ayyamul Bidh hingga keutamaan bagi yang menjalankannya.


    Hadits Puasa Ayyamul Bidh

    Menukil Syarah Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi yang disyarah Musthafa Dib al-Bugha dkk dan diterjemahkan Misbah, berikut beberapa hadits puasa Ayyamul Bidh.

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Pertama

    أَوْصَانِي خَلِيْلِيْ ﷺ بِثَلَاثٍ صِيَامُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى وَأَنْ أُوَتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

    Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, dan salat Witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Kedua

    أَوْصَانِي حَبِيبِيِّ ﷺ بِثَلَاثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَاعِشْتُ : بِصِيَامٍ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَبِأَنْ لَا أَنَامَ حَتَّى أُوَتِرَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

    Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku agar tidak sekali-kali meninggalkan tiga hal selama hidupku, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, salat Dhuha, dan supaya aku tidak tidur sebelum mengerjakan salat Witir. (HR Muslim)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Ketiga

    صَوْمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

    Artinya: “Puasa tiga hari setiap bulan itu seperti puasa sepanjang tahun.” (Muttafaq ‘alaih)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Keempat

    أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَقُلْتُ: مِنْ أَيِّ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ ؟ قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّ الشَّهْرِ يَصُومُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Artinya: “Apakah Rasulullah SAW biasa berpuasa tiga hari setiap bulan? Aisyah menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya lagi, ‘Pada tanggal berapa beliau berpuasa?’ Aisyah menjawab, ‘Beliau tidak menaruh perhatian pada tanggal berapa beliau berpuasa dari satu bulan’.” (HR Muslim)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Kelima

    إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثًا، فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.

    Artinya: “Apabila kau berpuasa tiga hari dalam suatu bulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” (HR At-Tirmidzi)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Keenam

    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ أَيَّامِ الْبِيضِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ.

    Artinya: “Rasulullah SAW menyuruh kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh yakni tanggal 13, 14, dan 15.” (HR Abu Dawud)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Ketujuh

    كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ رَوَاهُ النَّسَائِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

    Artinya: “Rasulullah SAW tidak pernah berbuka (selalu berpuasa) pada Ayyamul Bidh, baik beliau berada di rumah maupun sedang bepergian.” (HR An-Nasa’i)

    Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

    Puasa Ayyamul Bidh memiliki sejumlah keutamaan. Merujuk pada sumber sebelumnya, berikut beberapa keutamaan puasa Ayyamul Bidh.

    Puasa Ayyamul Bidh seperti Puasa Sepanjang Masa

    Meskipun hanya melaksanakan puasa selama tiga hari dalam satu bulan, pahala puasa Ayyamul Bidh seperti puasa sepanjang masa. Bahkan, nilainya sama dengan setiap hari seorang muslim berpuasa sepanjang hidupnya.

    Melaksanakan Wasiat Rasulullah SAW

    Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk dan anjuran menuju kebaikan untuk para umatnya. Salah satu petunjuk itu adalah melaksanakan puasa tiga hari dalam satu bulan, yaitu puasa Ayyamul Bidh.

    Mengikuti Kebiasaan Rasulullah SAW

    Tidak hanya memberikan saran kepada para sahabatnya untuk melaksanakan puasa tiga hari dalam satu bulan, Rasulullah SAW juga menjalankannya sepanjang hidupnya. Sebagai umatnya, setiap muslim juga hendaknya mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com