Category: Doa Hadits

  • Doa Orang Terzalimi Disebut Mustajab, Begini Bacaannya


    Jakarta

    Ada sejumlah doa yang disebut mustajab atau kecil kemungkinan tak dikabulkan. Salah satunya doa orang terzalimi.

    Mustajabnya doa orang terzalimi disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aslam bahwa Umar RA menjadikan seorang budaknya yang bernama Hunay untuk menjaga himaa (tempat penggembala ternak). Umar berkata, “Wahai Hunay, janganlah kau menzaimi orang-orang muslim dan takutlah dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya doa orang yang dizalimi terkabulkan.”

    Umar RA melanjutkan bicaranya, “Izinkanlah orang-orang yang hanya memiliki sedikit unta dan sedikit domba untuk masuk ke dalam himaa tersebut. Jangan utamakan ternak Ibnu Auf dan ternak Ibnu Affan. Karena jika ternak keduanya rusak, mereka dapat kembali kepada pohon-pohon kurma dan tanaman mereka.


    Dan sesungguhnya, jika ternak milik orang-orang yang memiliki sedikit unta dan sedikit domba rusak, maka mereka mendatangi saya dengan membawa anak-anak mereka, seraya berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, wahai Amirul Mukminin, apakah saya biarkan mereka terlunta-lunta?’

    Menyediakan air dan rerumputan lebih ringan bagi saya daripada memberikan emas dan perak. Demi Allah, sesungguhnya mereka melihat saya telah menzalimi saya. Sesungguhnya ini adalah negeri mereka. Pada masa jahiliah, mereka berperang melindunginya dan mereka masuk Islam agar tetap di dalamnya.

    Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya bukan karena harta (unta ternak lainnya) yang saya siapkan fi sabilillah, pasti saya tidak akan menjadikan sejengkal tanah mereka sebagai himaa.” (HR Bukhari)

    Hadits tersebut terdapat dalam kitab Mukhtashar Shahih Bukhari yang disusun M. Nashiruddin Al-Albani (Syekh Al-Albani) dan diterjemahkan Abdul Hayyie al-Kattani dan A. Ikhwani.

    Ada hadits lain yang menyebut doa orang terzalimi termasuk satu dari tiga yang mustajab. Dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi, Allah akan mengangkatnya di bawah naungan awan pada hari kiamat, pintu-pintu langit akan dibukakan untuknya seraya berfirman: Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski setelah beberapa saat.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

    Doa Orang Terzalimi: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya

    Ada sejumlah bacaan doa orang terzalimi yang terdapat dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Al Qasas ayat 21.

    رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

    Rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn(a).

    Artinya: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

    Ada juga bacaan doa agar terhindar dari orang zalim. Doa ini terdapat dalam surah Al Mu’minun ayat 94.

    رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِيْ فِى الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

    Rabbi falā taj’alnī fil-qaumiẓ-ẓālimīn(a).

    Artinya: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku termasuk kaum yang zalim.”

    Anjuran Menolong orang yang Dizalimi

    Ulama terkemuka asal Mesir Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Al-Jihad yang diterjemahkan Irfan Maulana Hakim dkk menyebutkan sebuah hadits shahih yang berisi anjuran menolong saudara yang dizalimi.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami menolongnya karena ia dizalimi, lalu bagaimana kami menolong orang zalim?” Beliau menjawab, “Mencegahnya dari kezaliman, karena itu adalah pertolongan untuknya.”

    Melawan kezaliman juga termasuk jihad dalam Islam. Dalam beberapa hadits dikatakan jihad semacam ini adalah jihad yang paling utama, sebagaimana diriwayatkan Thariq ibn Syihab Al-Bajali RA bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apa jihad yang paling utama?” Beliau menjawab, “Menyampaikan kalimat kebenaran kepada penguasa yang zalim.”

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketentuan Fidyah dalam Islam, Bagaimana Cara Membayarnya?


    Jakarta

    Ramadhan tinggal menghitung bulan. Pada bulan yang mulia itu, seluruh umat Islam diwajibkan untuk berpuasa.

    Dalil puasa Ramadhan disebutkan dalam surah Al Baqarah ayat 183,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

    Meski termasuk ibadah wajib, ada sejumlah golongan yang dikecualikan dan boleh membayar fidyah. Dalam Islam, fidyah adalah pengganti atau tebusan yang membebaskan seorang mukallaf dari perkara hukum yang berlaku padanya seperti disebutkan dalam buku Kupas Tuntas Fidyah susunan Sutomo Abu Nashr Lc.

    Terkait fidyah termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 184 yang berbunyi,

    وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

    Artinya: “…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin…”

    Ketentuan Membayar Fidyah

    1. Bisa Dibayar dengan Makanan Pokok

    Mengacu pada sumber yang sama, para ulama sepakat bahwa fidyah dapat dibayarkan dengan makanan pokok. Imam Malik dan Imam As-Syafi’i menyebut ketentuan fidyah yang harus dibayar sebesar 1 mud gandum atau sama dengan 0,75 kilogram. Setara telapak tangan yang ditengadahkan saat berdoa.

    Adapun, mazhab Hanafi berpandangan fidyah yang dikeluarkan ialah sebesar 2 mud atau 1/2 sha’ gandum setara dengan 1,5 kg. Biasanya aturan ini digunakan untuk kaum muslimin yang membayar fidyah beras.

    2. Besaran Fidyah dalam Bentuk Uang

    Fidyah dengan uang ini didasarkan dari pendapat mazhab Hanafi. Pembayaran fidyah dengan uang harus sebanding dengan harga makanan pokok yang dikonsumsi.

    Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Terjemah Fiqhul Islam wa Adillatuhu mengatakan bahwa menurut mazhab Hanafi, pemberian makanan untuk fakir miskin adalah memenuhi kebutuhan mereka. Tujuan tersebut bisa tercapai dengan membayar qimah atau nominal harta yang sebanding dengan makanan.

    Merujuk pada SK Ketua BAZNAS Nomor 7 Tahun 2023 mengenai Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, nilai fidyah dalam bentuk uang setara dengan Rp 60.000/hari/jiwa.

    3. Golongan yang Boleh Membayar Fidyah

    Mengutip Kitab Fiqh Sunnah oleh Sayyid Sabiq, ada empat golongan yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa tetapi wajib membayar fidyah, yakni memberi makan orang miskin setiap hari yang ditinggalkannya.

    Yang termasuk golongan ini adalah orang tua renta, perempuan yang lemah, orang sakit menahun yang sulit harapan sembuhnya, dan para pekerja berat. Ibnu Abbas RA mengatakan,

    “Orang tua diperbolehkan untuk berbuka. Sebagai gantinya, ia memberikan makanan kepada satu orang miskin untuk setiap harinya. Ia tidak wajib mengqadhanya.” (HR Daruquthni dalam Sunan Daruquthni dan Hakim dalam Mustadrak Hakim. Keduanya mengatakan hadits ini memiliki sanad yang shahih)

    Adapun, yang dimaksud perempuan lemah ialah ibu hamil dan menyusui. Dikhawatirkan kondisi mereka atau anaknya akan terdampak bila berpuasa.

    Sementara itu, terkait orang yang sakit menahun dan sulit diharapkan kesembuhannya maka ia dia dihukumi seperti orang tua yang renta. Oleh sebab itu, wajib baginya membayar fidyah sebagaimana merujuk pada pendapat ulama Syafi’iyyah.

    Mengenai pekerja berat ini merujuk pada pekerja yang melakukan pekerjaan berat dan bila tidak bekerja maka tidak akan mendapat penghasilan. Artinya, pekerjaan berat itu menjadi satu-satunya mata pencaharian mereka.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Kesembuhan untuk Orang Sakit



    Jakarta

    Kesehatan adalah anugerah berharga yang harus dijaga dengan baik. Ketika sakit, doa adalah salah satu cara untuk memohon dan meminta kesembuhan kepada Allah SWT.

    Sembuh dari penyakit adalah keinginan setiap orang yang sedang sakit. Berikut beberapa doa kesembuhan orang sakit.

    Doa Kesembuhan untuk Orang Sakit

    Doa yang Dibaca Orang yang Sakit

    Dikutip dari buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan oleh Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil, berikut bacaan doa kesembuhan yang bisa dibaca oleh orang yang sakit:


    Doa Pertama

    بِسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَ أَحَاذِرُ

    Bacaan latin: Bismillaah (3 kali), a’uudzu bi ‘izzatillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (7 kali).

    Artinya: “Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari kejahatan yang menimpaku dan yang aku takuti.” (HR. Muslim)

    Doa Kedua

    بِسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ مِنْ وَجَعِي هَذَا.

    Bacaan latin: Bismillaah a’uudzu bi ‘izzatillaah wa qudratihi min syarri maa ajidu min waja’ii haadzaa.

    Artinya: “Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah, dari kejahatan penyakit yang aku derita ini.” (HR Tirmidzi)

    Doa Kesembuhan yang Dibaca oleh Orang yang Menjenguk

    Dikutip dari kitab Al-Adzkar oleh Al-Imam An-Nawawi, Rasulullah SAW telah mengajarkan beberapa doa kesembuhan orang sakit yang dibaca oleh orang yang menjenguk. Beberapa di antaranya yaitu:

    Doa Pertama

    Membaca ta’awudz pada sebagian keluarga, sambil mengusap dengan tangan kanan, lalu berucap,

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءٌ لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    Bacaan latin: Allahumma rabbannaasi adzhibil ba’sa isyfihi wa antas syafi laa syifaa’an laa yughadiru saqaman

    Artinya: “Ya Allah, Tuhannya manusia, hilangkanlah rasa sakit, sembuhkanlah, Engkau-lah Dzat Yang Menyembuhkan. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.”

    Doa Kedua

    Meletakkan tangan pada bagian tubuh yang sedang sakit, sambil membaca,

    بِسْمِ اللّهِ

    Bacaan latin: Bismillah (3x)

    Artinya: “Dengan Nama Allah”

    Kemudian membaca doa ini sebanyak tujuh kali,

    أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    Bacaan latin: A’udzu bi ‘izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir

    Artinya: “Aku berlindung dengan keperkasaan dan kuasa Allah dari keburukan apa yang aku rasakan dan apa yang aku khawatirkan.”

    Doa Ketiga

    Ketika Rasulullah SAW menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau membaca,

    اَللّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اَللّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اَللّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا

    Bacaan latin: Allahummasyfi Sa’dan. Allahummasyfi Sa’dan. Allahummasyfi Sa’dan

    Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad.”

    Doa Keempat

    Jika menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya, ucapkan doa ini tujuh kali,

    أَسْأَلُ الله العَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

    Bacaan latin: As’alullāhal azhīma rabbal ‘arsyil ‘azhīmi an yassfiyaka

    Artinya: “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhannya Awasy yang agung, semoga Dia menyembuhkanmu,”

    Doa Kelima

    Doa malaikat Jibril untuk Rasulullah SAW yang sedang sakit,

    بِاسْمِ اللهِ، أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ

    Bacaan latin: Bismillahi arqika min kulli syai’in yu’dzika min syarri kulli nafsin aw ainin haasidin, Allahu yasyfika bismillahi arqika

    Artinya: “Dengan Nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dan dari keburukan segala jiwa atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan Nama Allah aku meruqyahmu.”

    Demikian beberapa doa yang dapat dibaca untuk memohon kesembuhan dari sakit. Lafalkan doa dengan ikhlas dan hanya berharap kesembuhan datangnya dari Allah SWT.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Ya Jabbar Ya Qahhar, Keutamaan, dan Tata Cara Mengamalkannya


    Jakarta

    Ya Jabbar Ya Qahhar artinya wahai Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Menaklukkan.

    Keduanya merupakan bagian dari 99 Asmaul Husna (nama-nama baik dan indah Allah SWT), yang juga sering dijadikan sebagai bacaan dzikir umat Islam.

    Makna Ya Jabbar & Ya Qahhar

    Dikutip dari ebook KH. Hasyim Asy’ari – Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri oleh Ahmad Baso, dkk., terbitan Museum Kebangkitan Nasional, arti Ya Jabbar dan Ya Qahhar sejatinya sama.


    Ya Jabbar (الْجَبَّارُ)

    Al Jabbar atau Ya Jabbar artinya Maha Perkasa/Gagah. Di mana, kehendak-Nya akan pasti terjadi dan tidak bisa dihalangi oleh siapa pun.

    Asma Ya Jabbar memiliki makna keagungan sifat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun. Allah Maha Tinggi, sehingga semua yang rendah harus tunduk dan patuh kepada-Nya.

    Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr Ayat 23:

    هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

    Artinya:

    “Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Al-Hasyr:23).

    Ya Qahhar (القهار)

    Al Qahhar atau Ya Qahhar artinya Maha Menaklukkan/Menundukkan segala sesuatu. Sebagai Al Qahhar, Allah SWT senantiasa tidak bisa dikalahkan atau dihalangi oleh siapa pun.

    Al Qahhar bermakna menundukkan untuk mencapai tujuan, merendahkannya, dan mencegah lawan dari mencapai tujuan.

    Tata Cara Mengamalkan Ya Jabbar Ya Qahhar

    Dikutip dari ebook bertajuk Ibadah Para Juara oleh Rizem Aizid, cara untuk mengamalkan Ya Jabbar yaitu dengan berdzikir sebanyak 226 kali setiap pagi hari dan sore hari. Insya Allah hal ini akan membuat kita diselamatkan dari kezaliman penguasa maupun orang-orang yang kejam, dan membuat musuh tunduk.

    Dalam e-book Ibadah Para Juara karya Rizem Aizid, disebutkan bahwa barang siapa mengamalkan Ya Qahhar, dengan membacanya sebanyak 306 kali setiap hari, Insya Allah ia akan dibersihkan dari sifat serakah. Sementara yang membaca Ya Qahhar 1000 kali setiap malam dan senantiasa memohon kepada Allah, maka insya Allah ia akan dipenuhi semua kebutuhannya.

    Keutamaan Ya Jabbar Ya Qahhar

    Dirangkum dari ebook bertajuk Ya Allah… Akalku Terhadap Ilmuku Dangkal oleh Sofiyah Satuyah Rasin, Ya Jabbar Ya Qahhar memiliki keutamaan, diantaranya untuk:

    • Membuat seorang hamba senantiasa untuk diberi kekuatan dan petunjuk dari Allah SWT.
    • Agar takut berbuat dosa dan hanya mengharap ampunan dari segala ketidakmampuan.
    • Agar tidak sombong ketika mampu berbuat kebaikan.
    • Membuat kita selalu dan menghargai kedisiplinan.

    Ya Jabbar Ya Qahhar Jadi di Balik Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama (NU)

    Dijelaskan dalam buku tersebut, kedua asma Allah SWT ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan kekuatan/wibawa musuh yang melakukan hal yang sewenang-wenang.

    Setelah menerima bacaan tasbih dan amalan ini, membuat tekad KH Hasyim Asy’ari (salah satu pendiri NU) dalam mendirikan jam’iyah (organisasi) semakin yakin.

    Dilansir dari laman NU Online, dalam proses lahirnya NU, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan ketaatasasan dengan Kiai Cholil Bangkalan lewat santri As’ad Syamsul Arifin.

    Setelah melalui beberapa kali perjalanan dari Tebuireng ke Bangkalan, Madura, Kiai Hasyim Asy’ari akhirnya petunjuk tongkat dari tasbih yang diberikan Kiai Cholil kepada santri As’ad Syamsul Arifin.

    Setelah petunjuk tasbih diberikan As’ad ke Kiai Hasyim Asy’ari, ia bertanya kepada As’ad: “Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?”

    As’ad kemudian hanya menjawab: “Ya Jabbar, Ya Qahhar”, yang diulang hingga 3 kali oleh As’ad sesuai pesan sang guru.

    Kiai Hasyim Asy’ari lalu berkata, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah”. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

    Pada 16 Rajab 1344 tepatnya tanggal 31 Januari 1926 Masehi lahirlah NU, jamiyah yang didirikan para ulama pesantren Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) di Surabaya, Jawa Timur.

    Itu tadi penjelasan seputar Ya Jabbar Ya Qahhar yang artinya Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Menaklukkan. Semoga dengan memahami makna asma Allah SWT tersebut, membuat kita lebih dekat dengan Tuhan Semesta Alam. Amin.

    (khq/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Saat Mendengar Petir Sesuai Ajaran Rasulullah SAW



    Jakarta

    Petir adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Suara petir yang menggelegar kerap kali membuat orang yang mendengarnya akan merasa takut dan khawatir. Dalam Islam, terdapat anjuran untuk berdoa ketika mendengar petir.

    Termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 20 , Allah SWT berfirman,

    يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَارَهُمْ ۗ كُلَّمَآ اَضَاۤءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِذَآ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوْا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَبْصَارِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ࣖ ٢٠


    Artinya: “Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

    Petir merupakan bentuk tasbih kepada Allah SWT. Termaktub dalam surah Ar Ra’d ayat 13, Allah SWT berfirman,

    وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهٖ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖۚ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَّشَاۤءُ وَهُمْ يُجَادِلُوْنَ فِى اللّٰهِ ۚوَهُوَ شَدِيْدُ الْمِحَالِۗ ١٣

    Artinya: “Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya. Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Mahakeras hukuman-Nya.”

    Ketika mendengar petir, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berdoa. Hal ini bertujuan untuk melindungi diri dan mengurangi rasa takut.

    Lantas, bagaimana doa mendengar petir? Berikut beberapa doa mendengar petir sesuai ajaran Rasulullah SAW.

    Doa Mendengar Petir

    Dikutip dari kitab Al-Adzkar oleh Al-Imam An-Nawawi, berikut beberapa doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika mendengar petir:

    Doa Pertama

    Jika mendengar suara guruh dan petir, Rasulullah SAW berucap,

    اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ، وَلَا تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ، وَعَافِنَا قَبْلَ ذُلِكَ

    Bacaan latin: Allahumma laa taqtulnaa bighadhabika wala tuhlikna biadzabika waafina qobla dzalika

    Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan murka-Mu, dan jangan binasakan kami dengan azab-Mu, serta selamatkanlah kami sebelum itu” (HR Ahmad dan lainnya)

    Doa Kedua

    Jika mendapati petir, kilat, dan hujan lalu mengucapkan doa ini tiga kali, maka ia akan selamat dari petir tersebut.

    سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ.

    Bacaan latin: Subhaanalladzii yusabbikhurra’du bihamdihii wal malaa-ikatu min khiifatih

    Artinya: “Mahasuci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya dan juga para malaikat karena takut kepada-Nya.” (HR Thabrani)

    Doa Ketiga

    سُبْحَانَ مَنْ سَبَّحَتْ لَهُ.

    Bacaan latin: Subhaana man subhatlahu

    Artinya: “Mahasuci Allah yang petir itu bertasbih kepada-Nya.” (HR Asy-Syafi’i dan lainnya)

    Dirangkum dari buku Pasti Terkabul oleh Thoriq Anwar, menurut sains, petir merupakan gejala alam karena pelepasan medan listrik yang menembus lapisan-lapisan udara sehingga menimbulkan listrik. Petir terbentuk dari muatan-muatan yang dibawa oleh awan.

    Dalam pandangan Islam, petir memiliki banyak istilah, seperti Ar Ra’d, Ash Shawa’iq, dan Al Barq. Ar Ra’d digunakan untuk menyebut geledek atau suara petir, sedangkan Ash Shawa’iq dan Al Barq digunakan untuk menyebut kilatan petir.

    Terdapat perbedan dalam pembentukan petir antara sains dan Islam.Dalam hadits marfu’, Rasulullah SAW mengatakan bahwa Ar Ra’d adalah malaikat pengatur awan dan bersamanya ada pengoyak api yang bertugas memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah SWT.

    Meski berbeda pendapat, keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama suara yang ditimbulkan karena sebuah gerakan. Sebagai seorang beriman, hendaknya membaca doa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

    Petir juga bertasbih kepada Allah SWT. Artinya, petir merupakan ciptaan Allah SWT, sama seperti manusia. Maka tidak dibenarkan jika petir dianggap sebagai Yang Maha Adidaya, apalagi menjadikan petir sebagai sesembahan.

    Wa’allahu a’lam.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Niat Berpengaruh pada Kehidupan Dunia dan Akhirat, Ini 10 Hadits tentang Niat



    Jakarta

    Niat yang terlintas ketika seseorang hendak melakukan perbuatan ternyata memiliki pengaruh besar. Dalam Islam, semua niat akan memberi pengaruh dalam kehidupan seorang muslim di dunia dan akhirat.

    Mengutip buku Hadits Pilihan (Materi Hafalan, Kultum dan Ceramah Agama) karya Muh. Yunan Putra, Lc., M.HI. dijelaskan niat secara bahasa adalah keinginan. Niat juga berarti sengaja untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut istilah niat adalah keinginan yang kuat untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah SWT.

    Niat terletak dalam setiap hati seorang hamba. Rasulullah SAW berpesan kepada seluruh muslim untuk menjaga hati agar senantiasa bersih dari niat buruk. Karena segala perbuatan dinilai berdasarkan niatnya.


    Dari Umar bin Khattab radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits tentang Niat

    Sangat banyak hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang hubungan niat perbuatan. Setiap niat baik akan mendapatkan balasan keutamaan yang bisa dirasakan di dunia dan akhirat. Demikian juga setiap niat buruk yang akan berbalas dosa.

    Merangkum buku Keikhlasan Niat dan Tentang Ketaqwaan oleh Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarif An-Nawawi Ad-Dimsyaqi, berikut beberapa hadits Rasulullah SAW tentang niat.

    1. Niat baik membawa kebaikan dunia akhirat

    Dari Ibnu Mas’ud, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Siapa yang menjadikan seluruh tujuannya menjadi satu cita-cita, yaitu cita-cita akhirat, Allah mencukupi tujuan dunianya. Siapa yang tujuannya bercabang-cabang dalam berbagai masalah dunia, Allah tidak akan peduli di lembah mana ia meninggal.” (HR Ibnu Majah, sanad haditsnya hasan li ghairih)

    2. Niat buruk akan berbalas keburukan

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbesit dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana.”

    3. Niat lebih penting daripada amal

    Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda:

    “Niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya.” (HR Al-Baihaqi)

    4. Niat dapat meluaskan rezeki

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan maksud mengembalikannya, maka Allah akan membayarkannya. Siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud untuk merusaknya, maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari)

    5. Niat baik akan mendapat pahala berlipat

    Dari Ibnu ‘Abbas RA, Nabi Muhammad bersabda:

    “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat sampai kelipatan yang banyak.

    Barangsiapa berniat berbuat buruk tetapi dia tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    6. Balasan pahala sesuai niat

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Allah telah memberikan balasan kepadanya sesuai dengan kadar niatnya.”

    Hadits ini disabdakan ketika beberapa orang sahabat tertinggal pada Perang Tabuk, mereka sangat ingin ikut berperang bersama Rasulullah SAW dalam peperangan itu, akan tetapi mereka mendapatkan rintangan, sebagian di antara mereka tidak memiliki perbekalan dan tidak mempunyai unta.

    Rasulullah SAW tidak dapat membawanya, ada di antara mereka yang mungkin sakit, ada di antara mereka yang tidak dapat ikut karena mengatur urusan di Madinah, dia menjaga Madinah. Rasulullah SAW memberitahukan bahwa mereka yang tidak dapat ikut berperang karena ada halangan, mereka tetap mendapatkan balasan pahala.

    7. Niat berbalas kebaikan

    Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Ma’n bin Yazid dia berkata,”Yazid ayahku mengeluarkan beberapa Dinar untuk bersedekah, dia memberikannya kepada seseorang di masjid, aku datang dan mengambilnya dan memberikannya kembali kepada ayahku, dia berkata, “Demi Allah, apakah yang engkau inginkan”.

    Ia mengadukanku kepada Rasulullah, beliau berkata, “Engkau memperoleh apa yang engkau niatkan wahai Yazid, dan engkau mendapatkan apa yang telah engkau ambil wahai Ma’n.”

    Sang ayah tidak berniat memberikan harta yang telah dia keluarkan itu untuk anaknya, akan tetapi Allah SWT membalasnya dengan niatnya yang benar, dia mendapatkan balasan meskipun hartanya kembali.

    8. Niat dapat mengubah yang buruk menjadi baik

    Rasulullah SAW berkata, bahwa seseorang berkata, “Aku akan bersedekah malam ini, dia pun keluar dan memberikan sedekah ke tangan pezina. Orang banyak berkata, ‘Malam ini dia bersedekah untuk seorang wanita pezina.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu atas pezina ini.’

    Kemudian dia berkata lagi akan bersedekah malam ini. Ia memberikan sedekah pada orang kaya. Mereka berkata, ‘Dia telah bersedekah kepada orang kaya.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu atas orang kaya.

    Selanjutnya ia berkata ‘Aku akan bersedekah.’ Dia keluar untuk bersedekah, dia bersedekah kepada seorang pencuri, dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu, atas pezina, orang kaya dan pencuri.’

    Ada yang berkata kepadanya, “Pezina itu, semoga dia menjaga dirinya dari perbuatan zina dengan sedekah itu, semoga orang kaya itu mengambil pelajaran darinya hingga dia mau menginfakkan harta yang telah diberikan Allah SWT kepadanya, dan semoga pencuri itu berhenti mencuri.”

    9. Niat seperti ruh dalam jasad

    Ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dilakukan seseorang tidak akan diterima kecuali dengan dua perkara. Pertama, ada niat yang tulus dan benar. Kedua, perbuatan yang dilakukan tersebut sesuai menurut syariat.

    Dalam masalah ini Ibnu Mas’ud berkata, “Ucapan tidak memberikan manfaat kecuali dengan amal, ucapan dan perbuatan tidak bermanfaat kecuali dengan niat, ucapan, perbuatan dan niat tidak bermanfaat kecuali sesuai dengan sunnah.”

    Setiap ibadah yang kosong dari niat maka tidak bernilai sama sekali, sama halnya seperti jasad tanpa ruh.

    10. Niat adalah amalan yang paling afdhal

    Niat itu merupakan amal yang paling afdhal, dalam sebuah hadits disebutkan, “Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya dan perbuatan orang munafik lebih baik daripada niatnya, semua manusia berbuat berdasar niatnya.”

    Dalam hadits yang lain disebutkan, “Niat seorang mukmin itu lebih sampai daripada amalnya.”

    Itulah beberapa hadits yang menjelaskan tentang niat. Semoga dengan penjelasan ini bisa membuat kita menjadi seorang muslim yang senantiasa istiqomah dan memiliki niat baik dalam segala amal perbuatan.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Lengkap dan Isi Kandungannya


    Jakarta

    Doa kamilin umumnya dibaca setelah salat tarawih pada bulan Ramadhan. Doa dimaksudkan untuk memohon kesempurnaan iman kepada Allah SWT.

    Abu Maryam Kautsar Amru melalui karyanya yang berjudul Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan menjelaskan bahwa setelah salat tarawih dan memasuki witir, ada jeda di antara keduanya. Jeda itulah yang menjadi waktu pembacaan doa kamilin dan dipimpin oleh seorang bilal.

    Ulama Muhammad bin Muhammad Al-Maghribi dalam kitab Jamul Fawaid menyatakan para ulama salafush shalih menyusun doa kamilin untuk dibaca setelah salat tarawih karena pada zaman Nabi SAW, shalat tarawih disebut dengan qiyam Ramadhan. Hal ini dijelaskan dalam buku Misteri Kedua Belah Tangan susunan Badruddin Hasyim Subky.


    Lantas seperti apa bacaan doa kamilin?

    Doa Kamilin: Arab, Latin dan Terjemahnya

    Merujuk pada sumber yang sama, berikut bacaan doa kamilin yang disertai arab latin dan terjemahnya.

    اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِالإيْمَانِ كَامِلِيْن وَلِلفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنِ وَلِلصَّلاةِ حَافِظِيْنِ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْن وَلَمِا عِنْدَكَ طَالِبِيْنِ وَلِعَفْوكَ رَاجِيْنِ وَبِالْهُدَي مُتَمَسِّكِين وَعَن اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنِ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْن وَفِي الآخِرَةِ رَاغِيين وبالقضَاءِ رَاضِينِ وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنِ وَعَلي البَلَاءِ صَابِريْن وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنِ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنِ وَإِلَى الجَنَّةِ دَاخِلِيْن وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنِ وَعَلَى سَرِيْرِ الكَرَامَةِ قَاعِدِيْنِ وَمِنْ حُوْرٍ عِينٍ مُتَزَوِّحِينِ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاج مُتَلبِّسِيْن وَمِنْ طَعَامِ الجَنَّةِ آكِلِينِ وَمِنْ لَّبَن وَعَسَلٍ مُصَفًّى شاريين بأكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ مَعَ الَّذِي أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّين وَالصَّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِوَالصَّالِحِيْن وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بالله عَلِيْمًا اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي لَيْلَةِ هَذا الشَّهْرِ الشَّرِيفَةِ المُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقْبُوْلِيْن وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينِ

    Arab latin: “Allâhummaj’al bil îmâni kâmilîn wa lilfarâidhi muaddîn wa lishshalâti hâfidzîn wa lizzakâti fâ’ilîn wa limâ ‘indaka thâlibîn wa li’afwika râjîn wa bil hudâ mutamassikîn wa ‘anillaghwi muʼridhîn wa fid-dunyâ zâhidîn wa fîl âkhirati râghibîn wa bil gadhâ’i râdhîn wa lin-na’mâ’i syâkirîn wa ‘alâl balâ’i shâbirîn wa tahta liwâ’i Muhammadin shallallahu ‘alayhi wa sallama yawmal qiyâmati sâirin wa ilâlhawdhi wâridîn wa ilâl-jannati dâkhilîn wa minan-nâri nâjîn wa ‘alâ sarîr al-karâmati qâ’idîn wan hûrin “în mutazawwijîn wa min sundusin wastabraqin wa dîbâjin mutalabbisin wa min tha’âmil jannati âkilîn wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn bi akwâbin wa abârîqa wa kaʼsin min maʼîn ma’alladzî an’amta ‘alayhim minannabiyyîn wash-shiddîqîn wasy-syuhâdâ’ wash-shâlihîn wa hasuna ulâ’ika rafîqan dzâlikal fadhlu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîma. Allâhummaj’alnâ fî laylati hâdzasyahr syarîfatil mubârakati min al-syu’âdâ’il maqbûlîn wa lâ taj’alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma’în birahmatika ya ar-hamar-râhimîn.”

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang senantiasa menyempurnakan iman kami, melaksanakan perintah menjalankan kewajiban-Mu, menjalandakan sholat, menunaikan zakat, memohon serta mengharap ampunan-Mu, yang berpegang teguh kepada petunjuk (yang Kau berikan), meninggalkan kemungkaran, hidup dengan sederhana di dunia, mengharap surga di akhirat, berpasrah pada takdir, bersyukur pada nikmat dan bersabar atas cobaan di bawah bendera syariat Muhammad SAW pada hari kiamat. Dari ajarannya kami datang, ke surga kami menuju, dan juga kami selamat dari api neraka. Kami duduk di atas kain sutra kemuliaan, kami menikahi bidadari yang cantik dan jelita. Kami memakai pakaian yang terbuat dari permadani, sutra, dan perhiasan mewah lainnya. Kami makan dari masakan yang telah tersedia di surga. Kami meminum madu dan susu dengan menggunakan gelas mewah bersama para nabi, orang jujur, syuhada, orang sholeh, dan mereka akan menjadi teman setia di surga kelak. Demikianlah keutamaan dari Allah. Allah Maha Mengetahui atas segala yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ya Rabb, jadikan kami pada malam yang mulia dan penuh berkah ini sebagai orang-orang yang senantiasa bahagia dan engkau ampuni. Serta janganlah masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersedih dan tertolak. Kami senantiasa bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabat-sahabatnya secara keseluruhan dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang dari yang penyayang.”

    Isi Kandungan Doa Kamilin

    Dijelaskan dalam buku Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun oleh A R Shohibul Ulum, nama kamilin diambil dari salah satu kalimat awal dalam doa tersebut. Doa kamilin banyak mengandung permintaan dan harapan, lima di antaranya ialah sebagai berikut:

    1. Kesempurnaan Iman

    Cara meraih kesempurnaan iman dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang berlaku baik kepada istrinya.” (HR At-Tirmidzi)

    Kandungan selanjutnya yang terdapat dalam doa kamilin ialah dapat menunaikan segala kewajiban. Hal ini dimaknai dengan bertakwa kepada Allah SWT dan menjauhi apapun yang dilarang oleh-Nya.

    3. Salat yang Terpelihara

    Selanjutnya adalah harapan agar salat yang dikerjakan terpelihara. Yang perlu dipahami adalah Allah SWT tidak hanya memerintahkan salat, melainkan juga meminta kaum muslimin untuk memelihara dan menegakkannya.

    Salat kaum muslimin harus lurus, tegak dan terpelihara. Dengan begitu, insyaAllah kita akan dijauhi dari perbuatan keji dan mungkar.

    Zakat fitrah wajib hukumnya untuk dikeluarkan pada bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih orang yang berpuasa dari ucapan yang tidak berfaedah dan jelek.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

    5. Ikhlas Mencari Ridha Allah SWT

    Ikhlas mencari ridha Allah menjadi harapan penyempurna. Artinya, semua amal ibadah harus ditujukan semata-mata hanya karena mengharap ridha Allah SWT.

    Demikian bacaan doa kamilin dan isi kandungannya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 8 Hadits tentang Kebersihan yang Jadi Anjuran Rasulullah


    Jakarta

    Kebersihan merupakan hal penting dalam Islam sebagaimana diterangkan dalam sejumlah hadits. Bahkan sebelum beribadah kaum muslimin harus suci dari kotoran, baik itu hadats kecil maupun besar.

    Mengutip buku Pendidikan Akhlak Berbasis Arba’in An-Nawawiyah susunan Dr Saifudin Amin MA, kebersihan adalah tolak ukur kehidupan umat Islam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan.

    Menjaga kebersihan sama artinya dengan menjaga kesehatan. Dengan begitu, kaum muslimin akan terhindar dari berbagai penyakit.


    Terkait kebersihan juga dijelaskan dalam sejumlah hadits. Seperti apa? Berikut bahasannya yang dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin susunan Imam Al Ghazali yang diterjemahkan oleh ‘Abdul Rosyad Siddiq.

    Kumpulan Hadits tentang Kebersihan

    1. Tempat Bersih Disukai Allah SWT

    Allah SWT menyukai tempat-tempat yang bersih. Hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

    إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ , نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ , كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ , جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ , فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Mahabersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Mahaindah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR Tirmidzi)

    2. Kebersihan Diri saat Hendak Salat

    Sebelum melaksanakan salat Jumat, para laki-laki disunnahkan untuk mandi dan memakai wewangian. Rasulullah SAW bersabda:

    إِنَّهَذَايَوْمُعِيدٍجَعَلَهُاللَّهُلِلْمُسْلِمِينَ،فَمَنْجَاءَإِلَىالْجُمُعَةِفَلْيَغْتَسِلْ،وَإِنْكَانَطِيبٌفَلْيَمَسَّمِنْهُ،وَعَلَيْكُمْبِالسِّوَاكِ

    Artinya: “Hari ini (Jumat) adalah hari raya yang dijadikan Allah SWT untuk umat Islam. Bagi siapa yang ingin melaksanakan salat Jumat, hendaklah mandi, memakai wangi-wangian kalau ada, dan menggosok gigi (siwak).” (HR Ibnu Majah)

    3. Pahala Menjaga Kebersihan

    Mengutip buku Fiqih Thaharah karya Ibnu Abdullah, Rasulullah mengatakan bahwa Allah SWT menjanjikan surga bagi yang membersihkan dahan pohon di jalanan,

    مرَّ رجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ : وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يُؤْذِيْهُمْ، فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

    Artinya: “Ada seorang lelaki yang membuang dahan pohon yang menghalangi jalan, lalu ia berkata, ‘Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini agar tidak mengganggu dan menyakiti kaum muslimin,’ maka Allah pun memasukkannya ke surga.” (HR Muslim)

    4. Kebersihan Sebagian dari Iman

    Rasulullah SAW menjadikan kebersihan separuh dari keimanan, sebagaimana bunyi sabdanya:

    الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

    Artinya: “Kesucian itu adalah setengah dari iman.” (HR Muslim)

    5. Anjuran Membersihkan Halaman

    Riwayat lainnya mengenai hadits tentang kebersihan ialah anjuran membersihkan halaman rumah. Berikut haditsnya:

    طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا ” . أخرجه الطبراني في “المعجم الأوسط” (4057) ، وحسنه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة”

    Artinya: “Sucikanlah halamanmu, karena orang Yahudi tidak menyucikan halamannya.” (HR Thabrani dalam Al Mu’jam Al-Awsat) (4057), digolongkan sebagai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Sahihah

    6. Pentingnya Menjaga Kebersihan Tempat Ibadah

    Selain menjaga kebersihan lingkungan, penting sekali untuk kita menjaga kebersihan tempat ibadah seperti masjid dan musala. Sebagai tempat untuk beribadah, sudah seharusnya dalam keadaan bersih dan bebas dari najis.

    Adapun bunyi hadits kebersihan ini adalah sebagai berikut:

    أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسلم ببنيان المساجد في الدور ، وأمر أن تنظف وتطيب “. أخرجه أحمد في “المسند” (26386) ، وصححه الشيخ الألباني في السلسة الصحيحة (2724)

    Artinya: “Rasulullah SAW memerintahkan agar masjid-masjid dibangun di dalam rumah-rumah, dan beliau memerintahkan agar rumah-rumah tersebut dibersihkan dan diberi wewangian.” (HR Ahmad dalam Al Musnah) (26386) dan disahkan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Sahihah (2724)

    7. Islam Dibangun dari Kebersihan

    Dalam sebuah riwayat, Aisyah Radhiallahu Anha menyebutkan bahwa, Rasulullah pernah bersabda, “Agama itu dibangun berasaskan kebersihan.” (HR Muslim)

    Rasulullah SAW juga pernah berkata, untuk membersihkan segala sesuatu karena Islam dibangun atas kebersihan.

    تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

    Artinya: “Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah Ta’ala membangun Islam ini di atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.” (HR Ath-Thabrani)

    8. Menjaga Kebersihan Tubuh

    Kaum muslimin juga berkewajiban menjaga kebersihan tubuhnya, salah satunya dalam hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa kaum Muslim hendaknya memuliakan rambut dengan cara merawatnya.

    “Siapa yang memiliki rambut, maka muliakanlah ia.” (HR Abu Dawud)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sapu Jagat Latin Lengkap dengan Tulisan Arab dan Terjemahnya


    Jakarta

    Doa sapu jagat merupakan bacaan yang mengandung banyak makna. Doa ini bahkan dianjurkan dan sering dipanjatkan oleh Rasulullah SAW.

    Mengutip buku 165 Kebiasaan Nabi SAW oleh Zulfidar Akaha, bacaan doa sapu jagat cukup singkat. Hal ini disebabkan sang rasul tidak ingin menyulitkan umatnya.

    Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah 2 turut menjelaskan mengenai doa sapu jagat sebagaimana bersandar pada sejumlah riwayat. Aisyah berkata, “Nabi Muhammad SAW menyukai doa-doa yang singkat dan padat dan meninggalkan doa-doa lainnya.”


    Berikut bunyi bacaan doa sapu jagat lengkap dengan arab, latin dan artinya.

    Bacaan Doa Sapu Jagat yang Bisa Diamalkan

    Masih dari buku yang sama, doa sapu jagat yang dapat dipanjatkan kaum muslimin ialah sebagai berikut.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab latin: Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār

    Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

    Keutamaan Membaca Doa Sapu Jagat

    Mengutip buku Rahasia Dahsyat Energi Sapu Jagat susunan M Ghofur Khalil, doa sapu jagat mengandung banyak keutamaan. Bahkan, doa tersebut disebut sebagai sebaik-baiknya doa bagi kaum muslimin.

    Menurut pendapat Ibnu Katsir, khasiat doa sapu jagat mengandung permohonan kebaikan di dunia seluruhnya serta agar terhindar dari segala bentuk keburukan. Maksud dari kebaikan dunia bisa dimaknai kesehatan, rumah yang lapang, kelancaran rezeki, ilmu yang bermanfaat, dan lainnya.

    Adapun, kebaikan akhirat berupa dimasukkan ke dalam surganya Allah, dibebaskan dari rasa khawatir atau takut, diberi kemudahan dalam hisab, dan semacamnya. Disebutkan dalam buku Doa-doa Terbaik Sepanjang Masa tulisan Ustaz Ahmad Zacky El-Syafa, setidaknya ada sejumlah keutamaan membaca doa sapu jagat, yaitu:

    • Mendapat ketentraman, keselamatan dan harta yang cukup
    • Dijauhkan dari seluruh keburukan
    • Selamat dari bencana besar di Padang Mahsyar, diringankan hisabnya, dipermudah menyeberang shirath al-mustaqim
    • Mendapat kemudahan di dunia dalam menjalankan segala perintah Allah SWT
    • Mendapat surga dan ampunan dari Allah SWT

    Itulah bacaan doa sapu jagat latin dan keutamaannya. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Menghapus Dosa Sebanyak Buih di Lautan, Lakukan 2 Amalan Ini


    Jakarta

    Meskipun dosa seseorang sangat banyak sampai tak terhitung jumlahnya, tetapi Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Pengampun dan Pemaaf. Dirinya hanya perlu melakukan amalan penghapus dosa sebanyak buih di lautan dan memperbanyak kebaikan.

    Manusia adalah tempatnya kesalahan dan dosa. Hampir setiap saat manusia melakukan kesalahan, mulai dari yang kecil maupun yang besar. Tak jarang, kita juga melakukannya secara sadar.

    Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menyadari tentang kekurangan itu, dan kemudian selalu berusaha meminta ampunan kepada Allah SWT. Yakinlah bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Bahwa diri-Nya tetap berkenan untuk mengampuni dosa-dosa hamba-Nya walaupun sebanyak buih di lautan.


    Rasulullah SAW berjanji bahwa terdapat dua amalan yang bisa menghapus dosa seseorang meskipun sebanyak buih di lautan. Apa saja amalan tersebut? Berikut selengkapnya!

    Amalan Penghapus Dosa Sebanyak Buih di Lautan

    1. Bertasbih (Subhanallahi wa Bihamdihi) Sebanyak Seratus Kali

    Disebutkan dalam buku 10 Amalan Inti Penghapus Dosa oleh Ahmad Zacky El-Syafa, apabila seseorang ingin diampuni dosanya meskipun sebanyak buih di lautan oleh Allah SWT, hendaknya ia membaca tasbih sebanyak 100 kali.

    Berikut bacaan tasbih tersebut:

    سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ

    Arab-latin: Subhanallah wa bi hamdih

    Artinya: “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya.”

    Dalam buku Risalah Doa & Zikir Keluarga oleh Tim Madinatul Ilmi dan Muhammad Auli disebutkan, amalan ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda,

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثلَ زَبَدِ الْبَحْرِ.

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang mengucapkan subhanallahi wa bihamdihi dalam sehari sebanyak seratus kali, niscaya akan dihapus semua dosa-dosa (kecil)-nya, meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Bukhari)

    Dalam hadits lain, Rasulullah SAW menegaskan bahwa dengan mengucapkan zikir tasbih, maka seseorang akan mendapat seribu kebaikan dan dihapus seribu keburukannya.

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَعْجِرُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ ، كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ ؟ قَالَ: يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ.

    “Rasulullah saw bersabda, ‘Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” Salah seorang di antara yang duduk bertanya, ‘Bagaimana di antara kita bisa memperoleh seribu kebaikan (dalam sehari)?” Rasulullah saw bersabda, ‘Hendaklah ia membaca seratus tasbih, maka ditulis seribu kebaikan baginya atau seribu kejelekannya dihapus.” (HR Muslim)

    2. Salat Dhuha

    Amalan penghapus dosa sebanyak buih di lautan yang kedua adalah melakukan salat dhuha sesering mungkin.

    Haris Priyatna dan Lisdy Rahayu dalam buku mereka yang berjudul Amalan Pembuka Rezeki menjelaskan bahwa salah satu keutamaan dari salat dhuha adalah dihapuskannya segala dosa-dosanya yang telah lampau.

    Abu Hurairah RA berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa menjaga dua rakaat salat dhuha, dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

    Selain itu, Rasulullah SAW juga menekankan bahwa salat dhuha ini merupakan salatnya orang-orang yang bertobat kepada Allah SWT.

    Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan salat dhuha kecuali dia adalah orang yang bertobat.” (HR Thabrani)

    Selain itu, dalam kesempatan lain beliau juga menjelaskan bahwa, “Salat dhuha adalah salatnya orang-orang yang bertobat.” (HR Al-Hakim)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com