Category: Doa Hadits

  • 3 Doa Hujan Lebat Lengkap dengan Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Doa hujan lebat bisa dipanjatkan untuk memohon perlindungan Allah SWT. Hujan yang lebat dapat memicu terjadinya bencana alam.

    Hujan sendiri sebetulnya merupakan rahmat yang Allah SWT berikan kepada makhluk hidup, termasuk manusia. Disebutkan dalam buku Indahnya Doa Rasulullah Bagiku karya Masriyah Amva, hujan turut menjadi tanda kebesaran.

    Ketika hujan turun, pikiran dan perasaan seseorang dapat mengalami perubahan. Contohnya seperti mengingat Tuhan, kebesaran-Nya, dan menjadi lebih banyak bersyukur.


    Hujan juga disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya surah Al Baqarah ayat 164:

    إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

    Artinya: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.”

    Doa Hujan Lebat: Arab, Latin dan Arti

    Mengutip buku Fikih Sunnah oleh Sayyid Sabiq, berikut sejumlah doa yang dapat dibaca ketika hujan lebat.

    1. Doa Hujan Lebat Versi Pertama

    اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

    Arab latin: Allahumma haawalaina wa laa ‘alaina. Allahumma ‘alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari.

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkan lah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR Bukhari)

    2. Doa Hujan Lebat Versi Kedua

    Doa hujan lebat versi kedua dapat dibaca jika hujan disertai petir dan kilat. Doa ini didasarkan dari hadits riwayat Imam Malik, berikut bunyinya.

    سُبْحاَنَ الَّذِي يُسْبِحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ والْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

    Arab latin: Subhaanalladzi yusabbihur ra’du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatihi

    Artinya: “Maha Suci Allah, petir dan para malaikat memuji Allah dan menyucikan-Nya karena takut kepada-Nya.” (HR Imam Malik)

    3. Doa Hujan Lebat Versi Ketiga

    اَللهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَمَا اُرْسِلَتْ بِهِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّمَا اُرْسِلَتْ بِهِ

    Arab latin: Allaahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih. Wa-a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarrimaa ursilat bihi

    Artinya: “Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya.”

    Hujan sebagai Waktu Mustajab untuk Berdoa

    Merujuk pada sumber yang sama, waktu turunnya hujan disebut sebagai salah satu momen mustajab untuk berdoa. Dalam sebuah hadits dengan sanad mursal dikatakan,

    “Carilah oleh kalian doa yang dikabulkan: di saat kedua pasukan bertemu (di jalan Allah), ketika salat diiqamahkan, dan ketika hujan turun.”

    Sementara itu, terkait mustajabnya doa ketika hujan turut disebutkan dalam hadits dari Sahll bin Sa’ad RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Dua doa yang tidak pernah ditolak, yaitu pada waktu adzan dan doa pada waktu hujan.” (HR Hakim)

    Itulah doa hujan lebat yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa untuk Orang Meninggal Perempuan Sesuai Sunnah Rasulullah


    Jakarta

    Salah satu tata cara salat jenazah adalah membaca doa untuk si mayat. Doa untuk orang meninggal perempuan dalam salat jenazah secara keseluruhan sama dengan doa untuk jenazah laki-laki. Hanya saja kata gantinya diubah menjadi dhomir perempuan.

    Doa untuk orang meninggal perempuan dalam salat jenazah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW adalah sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Auf ibnu Malik dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam an-Nasa’i.

    Disebutkan dalam buku Fikih Ibadah: Panduan Lengkap Beribadah sesuai Sunnah Rasul karya Hasan Ayyub, doa jenazah tidak hanya bisa diucapkan ketika salat saja. Melainkan bisa dilakukan kapan pun tanpa batasan waktu tertentu.


    “Boleh mengulang-ulang doa untuk mayit meski dilakukan di atas kubur,” tulis buku tersebut. Begitu pun dengan salat jenazah yang bisa dilakukan meski mayit sudah berada di dalam liang lahad dan waktu sudah berlalu lama.

    Tidak ada dalil yang membatasi hal-hal ini. Sebaliknya, terdapat hadits yang menuntunkan salat gaib, yakni salat jenazah tanpa adanya jenazah di depannya.

    Adapun dalam hadits yang disebutkan di atas berisi doa untuk jenazah laki-laki. Sedangkan doa untuk orang meninggal perempuan cukup diganti dhomir atau kata gantinya saja. Berikut lafal selengkapnya.

    Doa untuk Orang Meninggal Perempuan

    Sebagaimana dikutip dari buku Majmu’ Syarif (Perempuan) karya Ibnu Wathiniyah, berikut bacaan doa untuk orang meninggal perempuan:

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِعْ مَدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

    Bacaan latin: Allahummaghfir lahaa warhamhaa wa ‘aafihaa wa’fu ‘anhaa wa akrim nuzulahaa wa wassi madkhalahaa waghsilhaa bil maa-i wats tsalji wal baradi wa naqqihaa minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danas wa abdilhaa daaran khairan min daarihaa wa ahlan khairan min ahlihaa wa zaujan khairan min zaujihaa wa adkhilhal jannata wa a’idzhaa min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin nar

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik daripada ahli keluarganya yang dahulu, dan gantilah pasangan hidupnya yang lebih baik daripada pasangan hidupnya yang dahulu, masukkanlah ia ke dalam surga, dan peliharalah ia dari siksa kubur dan azab api neraka.”

    Bacaan doa untuk orang meninggal perempuan ini dibaca pada saat takbir ketiga dalam salat jenazah.

    Doa untuk Orang Meninggal Perempuan Versi Singkat

    Dikutip dari buku Kitab Terlengkap Bersuci, Shalat, Puasa, Shalawat, Surat-Surat Pendek, Hadits Qudsi dan Hadits Arba’in Pilihan, serta Dzikir & Doa karya Ustadz Rusdianto, doa untuk orang meninggal perempuan dalam salat jenazah yang singkat adalah sebagai berikut:

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

    Bacaan latin: Allahummaghfir lahaa warhamhaa wa ‘aafihaa wa’fu ‘anhaa

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah ia, kasihanilah ia, sejahterakan ia, dan ampunilah dosa dan kesalahannya.”

    Doa untuk Orang Meninggal Perempuan di Takbir Keempat

    اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرُهَا وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

    Bacaan latin: Allaahumma laa tahrimnaa ajrahaa, wa laa taftinnaa ba’dahaa, waghfir lanaa walahaa

    Artinya: “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), janganlah Engkau memberi fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghira: Tulisan Arab dan Artinya


    Jakarta

    Doa untuk kedua orang tua berbunyi rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Tulisan Arabnya tidak begitu sulit untuk dicontoh.

    Simak artikel ini untuk mengetahui tulisan Arab, terjemahan, hingga keutamaan membaca doa ini.

    Tulisan Arab Doa untuk Kedua Orang Tua

    Ada dua versi doa untuk kedua orang tua yang biasa diajarkan. Versi pertama menggunakan Rabbighfirli, sedangkan yang kedua menggunakan Allahummaghfirli. Keduanya sama saja. Fungsinya adalah untuk mendoakan kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.


    Dilansir dari buku Ayah Ibu Kubangunkan Surga Untukmu (2019) oleh Muh. Abdul Had dan Muhammad Abdul Hadi, berikut ini tulisan Arab dan tulisan latin dari doa untuk kedua orang tua:

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

    “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira”

    Atau kata Rabbighfirli bisa diganti dengan Allahummaghfirli. Tulisan Arabnya menjadi seperti ini:

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا.

    “Allahummaghfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa.”

    Arti dari kedua versi doa tersebut sama, yaitu:

    “Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”

    Keutamaan Mendoakan Orang Tua

    Mendoakan orang tua adalah salah satu cara berbakti kepada mereka, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Berikut ini beberapa keutamaan mendoakan kedua orang tua sesuai dengan hadist Rasulullah SAW:

    1. Sebagai Amalan Utama

    Berbakti kepada orang tua adalah salah satu amalan utama yang bisa dipraktikkan oleh setiap muslim. Cara yang paling mudah adalah mendoakan mereka.

    عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه سألتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قلتُ يَا رسولَ الله أَيُّ العملِ أفضَلُ قال الصلاةُ على مِيْقاتِها قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قال ثُمَّ بِرُّ الوالِدَيْنِ قلتُ ثُمَّ أَيٌّ قال الجِهادُ في سبيلِ اللهِ

    Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, ia bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal paling utama?’ ‘Shalat pada waktunya,’ jawab Rasul. Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ ‘Lalu berbakti kepada kedua orang tua,’ jawabnya. Ia lalu bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawabnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    2. Mendapatkan Ridha Allah SWT

    Untuk mendapatkan ridha Allah, kita bisa mencari ridha dari orang tua. Maka berbaktilah kepada orang tuamu dan jangan menyia-nyiakan keduanya.

    Hal ini sesuai hadist Nabi yang artinya: “Ridha Allah tergantung ridha kedua orang tuanya dan murka Allah tergantung murka keduanya.” (HR. Thabrani).

    Orang tua adalah jalan kita menuju surga, sebab surga berada di telapak kaki ibu. Ini sesuai dengan hadis berikut ini:

    عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السُّلَمِيِّ، أَنَّ جَاهِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ مَعَكَ وَجِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ قَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلِهَا

    Artinya: Dari Muawiyah bin Jahimah As-Sulami, Jahimah ra mendatangi Nabi Muhammad saw dan berkata, ‘Aku ingin berperang bersamamu dan aku datang untuk meminta petunjukmu.’ Rasul bertanya, ‘Apakah kamu mempunyai ibu?’ ‘Ya,’ jawabnya. ‘Lazimkanlah ibumu karena surga berada di bawah telapak kakinya,’” (HR An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

    4. Sebagai Amal Jariyah

    Doa anak kepada orang tua juga bisa berfungsi sebagai amal jariyah. Doa anak kepada orang tua selalu diterima meski orang tua sudah meninggal.

    Bagi yang sudah berkeluarga, ajarkan doa ini kepada anak agar mendapatkan kebaikan dari doa yang anak panjatkan.

    Dalam hadits berikut ini, doa kepada orang tua menghubungkan anak dengan orang tua yang sudah meninggal dunia.

    عن أبي بردة قال قَدِمْتُ المَدينَةَ فأَتَانِي عبدُ اللهِ بنُ عمَرَ فقال أَتَدْرِي لِمَ أَتَيْتُكَ قال قُلْتُ لَا قال سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصِلَ أَبَاهُ فِي قَبْرِهِ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيْهِ بَعْدَهُ وَإِنَّهُ كَانَ بَيْنَ أَبِي عُمَرَ وَبَيْنَ أَبِيْكَ إِخَاءٌ وَوُدٌّ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَصِلَ ذَاكَ

    Artinya: Dari sahabat Abu Burdah ra, ia bercerita, suatu hari ia mengunjungi Madinah. ‘Abdullah bin Umar menemuiku,’ kata Abu Burdah. ‘Tahukah kamu, mengapa aku menemuimu?’ ‘Tidak,’ jawab Abu Burdah. Abdullah bin Umar mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa yang ingin menghubungi ayahnya di alam kuburnya, hendaklah ia menyambung persahabatan dengan teman ayahnya sepeninggalnya.’ Sungguh, antara ayahku Umar dan ayahmu terdapat hubungan persahabatan yang hangat. Kini aku ingin menyambungnya.’ (HR Ibnu Hibban).

    Itulah tadi doa untuk kedua orang tua yang berbunyi rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Tulisan Arabnya juga telah kita ulas lengkap dengan arti dan keutamaannya. Wallahu a’lam.

    (bai/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Tahiyat Akhir dan Posisi Duduknya yang Benar Sesuai Sunnah


    Jakarta

    Doa tahiyat akhir dibaca pada penghujung salat, tepatnya sebelum salam. Doa tersebut berisi permohonan agar mendapat pertolongan dari Allah SWT.

    Menukil buku Sifat Shalat Nabi SAW susunan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, tahiyat akhir merupakan bagian dari rukun salat yang tidak boleh tertinggal menurut pendapat mazhab Syafi’i. Posisi duduk tahiyat akhir ini disebut dengan duduk tawaruk.

    Tahiyat akhir juga disebut sebagai wasiat sang rasul. Dari Mu’adz RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:


    “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap salat, ‘Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.’” (HR Abu Daud dan an-Nasa’i. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan hadits ini sanadnya shahih)

    Lantas, bagaimana bunyi bacaan doa tahiyat akhir?

    Bacaan Doa Tahiyat Akhir

    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ , أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

    Arab latin: At tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thoyyibaatulillaah. As salaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wabarakaatuh, assalaamu’alaina wa’alaa ibaadillaahishaalihiin. Asyhaduallaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh. Allaahumma shalli’alaa muhammad, wa’alaa aali muhammad. Kamaa shallaita alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim. Wabaarik’alaa muhammad wa alaa aali muhammad. Kamaa baarakta alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim, fil’aalamiina innaka hamiidum majiid.

    Artinya: “Segala ucapan selamat, keberkahan, sholawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Ya Allah aku sampai sholawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad, serta kepada keluarganya. Sebagaimana Engkau sampaikan sholawat kepada Nabi Ibrahim AS, serta kepada para keluarganya. Dan, berikanlah keberkahan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, serta kepada keluarga. Sebagaimana, Engkau telah berkahi kepada junjungan kita Nabi Ibrahim, serta keberkahan yang dilimpahkan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Engkaulah Yang Maha Terpuji lagi Maha Kekal.”

    Posisi Duduk Tahiyat Akhir atau Tawarruk yang Benar

    Selain membaca doa tahiyat akhir, kaum muslimin juga harus memperhatikan posisi duduknya karena berbeda dengan tahiyat awal. Syaikh Bin Baz dalam bukunya yang berjudul Sifat Wudhu & Shalat Nabi mengatakan bahwa duduk tawaruk pada tasyahud terakhir sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

    Posisi duduk tawarruk yang benar sesuai sunnah Rasulullah SAW disebutkan dalam sebuah hadits yang berbunyi,

    “Beliau meletakkan pinggulnya ke tanah, yaitu membebankan pada pinggul kirinya, dan menjulurkan setengah telapak kaki kirinya dari bawah betis yang kanan sekadarnya.” (HR Abu Dawud)

    Lalu, terkait posisi tangannya turut dijelaskan dalam hadits lain yang diriwayatkan Ahmad.

    “Nabi SAW membentangkan hasta tangan kanannya di atas paha yang kanan dan tidak memalingkan (menjauhkan) darinya, sehingga batas sikunya berada di pangkal paha. Lalu beliau menggenggam dua jarinya, yaitu jari kelingking dan jari manisnya serta melingkarkan jari tengah dan jempolnya seraya berdoa.” (HR Ahmad)

    “Adapun, tangan yang kiri, jari jemarinya terbuka di atas paha kiri. Beliau menghadapkan jari-jarinya ke kiblat dalam tasyahud, mengangkat tangan, rukuk serta sujud. Juga di dalam sujudnya, beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke kiblat.” (HR Muslim)

    Demikian bacaan doa tahiyat akhir dan posisi duduknya yang benar sesuai sunnah.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Doa Rezeki Tak Putus, Amalkan Setiap Hari agar Mendapat Kemudahan dari Allah!


    Jakarta

    Rezeki setiap makhluk sudah diatur oleh Allah SWT. Manusia hanya perlu berusaha dengan maksimal dan mengamalkan doa rezeki tak putus agar senantiasa dilimpahi kemudahan oleh-Nya.

    Setelah berusaha dengan maksimal, seseorang hanya perlu bertawakal atas hasil yang didapat. Yakin bahwa apa yang diberikan oleh Allah SWT itu adalah yang terbaik baginya.

    Mengutip dari buku Mengetuk Pintu Rezeki oleh Irwan Kurniawan, Majma’ Al-Bahrain membagi rezeki menjadi dua macam, yakni lahiriah dan batiniah.


    Rezeki lahiriah adalah rezeki yang berkaitan dengan badan atau berupa materi. Bisa saja bentuk fisik, tenaga, kesehatan, atau harta yang melimpah.

    Rezeki batiniah adalah rezeki yang hanya dirasakan atau berkaitan dengan hati. Misalnya pengetahuan, kebahagiaan, ketenangan, dan perasaan nyaman.

    Dalam arsip detikHikmah disebutkan bahwa Allah SWT sudah menjamin rezeki setiap makhluk dengan kadarnya masing-masing. Dialah yang berkuasa atas banyak sedikitnya rezeki seseorang.

    Allah SWT berfirman dalam surah Saba’ ayat 36 yang berbunyi,

    قُلْ إِنَّ رَبِّى يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

    Artinya: Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

    Meski demikian, tentunya semua orang ingin jika rezekinya lancar dan tidak putus-putus. Untuk itu, terdapat beberapa doa yang bisa diamalkan agar rezeki tak putus.

    Doa agar Rezeki Lancar dan Tak Putus

    1. Surah Al-Qasas Ayat 24

    فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

    Bacaan latin: fa saqâ lahumâ tsumma tawallâ iladh-dhilli fa qâla rabbi innî limâ anzalta ilayya min khairin faqîr

    Artinya: “Maka, dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu. Dia kemudian berpindah ke tempat yang teduh, lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.”

    2. Surah Al-Maidah Ayat 114

    قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

    Bacaan latin: qâla ‘îsabnu maryamallâhumma rabbanâ anzil ‘alainâ mâ’idatam minas-samâ’i takûnu lanâ ‘îdal li’awwalinâ wa âkhirinâ wa âyatam mingka warzuqnâ wa anta khairur-râziqîn

    Artinya: Isa putra Maryam berdoa, “Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu. Berilah kami rezeki. Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”

    3. Doa agar Rezeki Tak Putus

    Dikutip dari buku 5 Shalat Pembangun Jiwa oleh Nasrudin Abd. Rohim, doa agar rezeki tak putus adalah:

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَزَقَنِي هَذَا مِنْ خَيْرٍ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ، اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ.

    Bacaan latin: Alhamdu lillaahil ladzii rozaqonii haadzaa min ghoiri haulin minnii wa laa quwwatin. Alloohumma baarik fiihi.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberi rezeki kepadaku dengan tidak ada daya dan kekuatan bagiku. Ya Allah, semoga Engkau berkahi rezekiku.”

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَعِيمًا مُقِيمًا الَّذِي لَا يَحُولُ وَلَا يَزُولُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ.

    Bacaan latin: Alloohuma innii as-alukan naʼiimal muqiimal ladzii laa yahuulu wa laa yazuulu. Alloohumma innii as- alukal amna yaumal khouf.

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu nikmat yang kekal, yang tidak berpindah dan hilang. Ya Allah, aku memohon kepada- Mu keamanan pada hari ketakutan.”

    4. Doa agar Rezeki Halal Mudah Didapat

    Ditambahkan oleh Nasrudin dalam buku Amalan-Amalan untuk Mempercepat Datangnya Rezeki, terdapat doa yang bisa diamalkan oleh seorang muslim agar mendapat rezeki yang halal dengan mudah. Doa itu berbunyi,

    اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مَا يَكْفِينِي وَامْنَعْنِي مَا يُطْعِيْنِي.

    Alloohummarzuqnii maa yakfiinii wamna’ ‘annii maa yuthghiinii.

    “Ya Allah, berikanlah aku rezeki yang cukup dan baik, cegahlah diriku dari rezeki yang mencelakakan aku.”

    5. Doa agar Mendapat Rezeki Halal dan Terhindar dari Rezeki yang Buruk

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقًا حَلَالاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلَا مَشَقَّةٍ وَلَأَضَيْرٍ وَلَا نَصَبِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

    Alloohumma innii as-aluka an tarzuqonii rizqon halaalan waasi’an thoyyiban min ghoiri ta’abin wa laa masyaqqotin wa laa dhoirin wa laa nashobin innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir.

    “Ya Allah, aku minta pada Engkau rezeki yang halal, luas, baik, tanpa kerepotan, kemelaratan, dan tanpa keberatan. Sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Doa agar Sembuh dari Sakit dalam Islam


    Jakarta

    Jika diri sendiri atau kerabat terdekat sakit, umat muslim biasanya akan mendoakan dan berdoa untuk meminta kesembuhan kepada Allah SWT.

    Salah satu Asmaul Husna (nama baik Allah SWT), Allah memiliki sifat Asy Syifa yang artinya Maha Penyembuh.

    Ketahui adab dan beberapa doa yang bisa dipanjatkan untuk meminta kesembuhan orang yang sakit. Berikut ulasannya.

    Adab Muslim terhadap Orang yang Sakit

    Dalam buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 oleh Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, syariat Islam memperlakukan orang sakit yaitu memberi perhatian di antaranya dengan menjenguk dan mendoakan kesembuhan baginya.


    Hal tersebut dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat. Diriwayatkan Ibnu Abbas dalam sebuah hadits, ia berkata:

    “Sesungguhnya Nabi SAW masuk ke rumah seorang Arab Badui untuk menjenguknya. Adapun beliau apabila masuk ke tempat orang sakit untuk menengoknya, maka beliau mengucapkan, ‘ Tidak mengapa, pembersih insya Allah.’

    Pria Badui mengatakan, ‘Engkau mengatakan pembersih? Sekali-kali tidak, bahkan ia merupakan demam yang menggoncang pada orang tua renta yang hampir masuk kubur.’ Maka Nabi SAW berkata, ‘Baiklah kalau begitu,” (HR Bukhari)

    Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr mengungkapkan bahwa makna ‘pembersih’ yang Rasulullah SAW maksudkan itu, yakni penyakit menjadi pembersih bagi seseorang atas dosa-dosanya.

    Ibnu Abbas pernah dalam sebuah atsar (bekas sesuatu yang datangnya dari selain Rasulullah SAW), mengatakan suatu hal kepada Umar bin Khaththab yang pada saat tu menjabat khalifah dan sedang merasakan sakit karena ditikam.

    Ibnu Abbas berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tiada beban atas hal tersebut, sesungguhnya engkau telah menemani Rasulullah SAW dan ternyata engkau menemaninya dengan baik, kemudian beliau berpisah denganmu dalam keadaan ridha kepadamu”

    Lanjut Ibnu Abbas, “Kemudian engkau menemani kaum muslim dan ternyata engkau perlakukan mereka dengan baik. Jikalau engkau meninggalkan mereka, engkau benar-benar meninggalkan mereka dalam keadaan ridha kepadamu, (hingga akhir)”

    Lalu, Umar bin Khaththab menjawab, “Hal tersebut merupakan anugerah dari Allah SWT.”

    Doa Memohon Kesembuhan untuk Orang Sakit

    1. Doa untuk Orang Sakit

    Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendoakan orang sakit dengan bacaan berikut:

    اللَّهُمَّ رَبِّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ ، أَنْتَ الشَّافِيْ لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاء لَا يُغَادِرُ سَقَماً

    Allaahuma rabbin naas, adzhibil ba’sasyfii, antasy syaafi laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqamaa

    Artinya:

    “Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah. Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”

    2. Doa Kesembuhan untuk Orang Sakit

    اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوّاً أَوْ يَمْشِيْ لَكَ إِلَى صَلَاةٍ

    Allaahummasy fii ‘abdaka yanka-u laka ‘aduwwan au yamsyii laka ilaa shalaatin

    Artinya:

    “Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini, sehingga dia bisa menyembuhkan musuh untuk-Mu atau dapat berjalan untuk menunaikan sholat.”

    3. Doa Meminta Kesembuhan untuk Diri Sendiri

    اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ أَجَلِيْ قَدْ حَضَرَ فَأَرِحْنِي وَإِنْ كَانَ مُتَأَخِّراً فَارْفَعْنِيْ وَإِنْ كَانَ بَلَاء فَصَبِّرْنِي

    Allaahumma in kaana ajalii qad hadlara fa arihnii wa in kaana mutaakhkhiran far fa’nii wa in kaana balaa-an fashabbirnii

    Artinya:

    “Ya Allah, jika ajalku telah tiba, maka senangkanlah aku, jika ajalku masih lama, maka angkatlah penyakit ini, dan jika memang ini adalah sebuah musibah, maka anugerahkanlah kesabaran untukku.”

    4. Doa Meminta Kesembuhan

    أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

    As’alullaaha al-‘adzhiima rabbal ‘arsyil ‘adzhiimi an yasyfiyaka (7x)

    Artinya:

    “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb Arsy yang Agung, untuk menyembuhkan.”

    5. Doa untuk Segala Penyakit

    بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيْمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا

    Bismillahi turbatu ardhinaa biriiqati ba’dhinaa yusyfaa saqiimunaa bi-idzni rabbinaa.

    Artinya:

    “Dengan nama Allah, tanah bumi kita, dengan ludah sebagian kita disembuhkan orang sakit kita dengan izin Rabb kita.”

    Itu tadi beberapa doa untuk orang sakit yang bisa kaum muslimin panjatkan. Semoga dengan membaca doa tersebut, Allah SWT senantiasa mengangkat penyakit kita. Amin.

    (khq/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Tahlil Singkat, Lengkap dengan Susunan Bacaannya



    Jakarta

    Doa tahlil bisa dibaca ketika menggelar acara tahlilan. Tahlilan umum dilakukan masyarakat Indonesia ketika memperingati acara keagamaan ataupun untuk mendoakan orang yang meninggal dunia.

    Tahlilan merupakan sebuah kebiasaan, bukan amalan atau sunnah yang dianjurkan secara syariat. Kegiatan tahlilan sebenarnya adalah sebuah tradisi bagi masyarakat Indonesia.

    Mengutip buku Kumpulan Ceramah dan Doa untuk Berbagai Acara oleh Gamal Komandoko dijelaskan, makna tahlil secara bahasa adalah membaca lafal Laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan sesembahan melainkan hanya Allah semata). Sementara dalam istilah sosio-kultural di Indonesia, tahlil merupakan sebuah acara seremoni sosial keagamaan untuk memperingati dan sekaligus mendoakan orang yang telah meninggal dunia.


    Tahlil memang bukan syariat tetapi sebagai besar bacaan yang dibaca diambil dari Al-Qur’an dan hadits. Berikut susunan bacaan dan doa tahlil yang bisa diamalkan.

    Susunan Doa dan Bacaan Tahlil

    1. Surat Al-Fatihah

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – 1 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – 2 الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – 3 مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – 4 اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ – 5 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ – 6 صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – 7

    Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Shirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    2. Surat Al-Ikhlas (3X)

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ – 1 اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ – 2 لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ – 3 وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ – 4

    Latin: Qul huwallāhu aḥad(un). Allāhuṣ-ṣamad(u). Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad(un).

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya’.”

    3. Surat Al-Falaq

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ – 1 مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ- 2 وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ – 3 وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ – 4 وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ – 5

    Latin: Qul a’ụżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad.

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki’.”

    4. Surat An-Nas

    قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ- 1 مَلِكِ النَّاسِ – 2 إِلَهِ النَّاسِ -3 مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاس – 4 الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – 5 مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ – 6

    Latin: Qul a’ụżu birabbin-nās. Malikin-nās. Ilāhin-nās. Min syarril-waswāsil-khannās. Allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās. Minal-jinnati wan-nās.

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia’.”

    5. Surat Al-Fatihah

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – 1 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – 2 الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – 3 مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – 4 اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ – 5 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ – 6 صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – 7

    Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Shirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    6. Surat Al-Baqarah Ayat 1-5

    الۤمّۤ ۚ – 1 ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ – 2 الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ – 3 وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ – 4 اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ – 5

    Latin: Alif lām mīm. Żālikal-kitābu lā raiba fīh(i), hudal lil-muttaqīn(a). Al-lażīna yu’minūna bil-gaibi wa yuqīmūnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn(a). Wal-lażīna yu’minūna bimā unzila ilaika wa mā unzila min qablik(a), wabil-ākhirati hum yūqinūn(a). Ulā’ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā’ika humul-mufliḥūn(a).

    Artinya: “Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

    7. Surat Al-Baqarah Ayat 163

    وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ – 163

    Latin: Wa ilāhukum ilāhuw wāḥid(un), lā ilāha illā huwar-raḥmānur-raḥīm(u).

    Artinya: “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

    8. Surat Al-Baqarah Ayat 255 (Ayat Kursi)

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ – 255

    Latin: Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm.

    Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

    9. Surat Al-Baqarah Ayat 284-286

    لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ ۗ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ – 284 اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ – 285 لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ -286

    Latin: Lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa in tubdū mā fī anfusikum au tukhfūhu yuḥāsibkum bihillāh(u), fayagfiru limay yasyā’u wa yu’ażżibu may yasyā'(u), wallāhu ‘alā kulli syai’in qadīr(un). Āmanar-rasūlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu’minūn(a), kullun āmana billāhi wa malā’ikatihī wa kutubihī wa rusulih(ī), lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih(ī), wa qālū sami’nā wa aṭa’nā, gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr(u). Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu’ākhiżnā in nasīnā au akhṭa’nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahū ‘alal-lażīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih(ī), wa’fu ‘annā, wagfir lanā, warḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal qaumil-kāfirīn(a).

    Artinya: “Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Mereka juga berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.’ Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) ‘Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.’

    10. Istighfar (3X)

    اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ

    Latin: Astaghfirullaahal ‘adzhiim

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung.”

    11. Bacaan Hadits Keutamaan Tahlil

    اَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ اَنَّهُ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ، حَيٌّ مَوْجُوْدٌ

    Latin: Afdhaludz dzikri fa’lam annahu laa ilaaha illallaah, hayyun maujuud

    Artinya: “Sebaik-baik dzikir-ketahuilah-adalah lafal ‘La ilāha illallāh’, tiada tuhan selain Allah, Dzat yang hidup dan ujud.”

    لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ، حَيٌّ مَعْبُوْدٌ

    Latin: Laa ilaaha illallaahu hayyun ma’buud.

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah, dzat yang hidup dan disembah.”

    لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ، حَىٌّ بَاقٍ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ

    Latin: Laa ilaaha illallaahu hayyun baaqil ladzii laa yamuut.

    Artinya, “Tiada tuhan selain Allah, dzat kekal yang takkan mati.”

    12. Tahlil (100X)

    لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ

    Latin: Laa ilaaha illallaah

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah.”

    13. Dua Kalimat Syahadat

    لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Latin: Laa ilaaha illallaahu muhammadar rasuulullahi shallallaahu ‘alaihi wa sallama.

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.”

    14. Sholawat Nabi (3X)

    اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

    Latin: Allahumma shalli ‘ala sayyidinaa muhammad, Allahumma shalli ‘alaihi wa sallim.

    Artinya, “Ya Allah, limpahkan sholawat untuk Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, limpahkan sholawat dan salam untuknya (Nabi Muhammad SAW).”

    اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

    Latin: Allahumma shalli ‘ala sayyidinaa muhammad yaa rabbi shalli ‘alaihi wa sallim.

    Artinya, “Ya Allah, limpahkan sholawat untuknya (Nabi Muhammad SAW). Tuhanku, limpahkan sholawat dan salam untuknya (Nabi Muhammad SAW).”

    15. Tasbih

    سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ 10X

    Latin: Subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahi wa bihamdihi.

    Artinya: “Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya. Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya.”

    سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

    Latin: Subhaanallaahi wa bihamdihi, subhaanallaahil ‘adzhiimi wa bihamdihi.

    Artinya: “Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya. Maha suci Allah yang maha agung dan dengan memuji-Nya.”

    16. Sholawat Nabi (3X)

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ

    Latin: Alahumma shalli ‘alaa habiibika sayyidinaa muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim ajma’iin.

    Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah rahmat dan kesejahteraan untuk kekasih-Mu, yaitu pemimpin kami, Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya semua.”

    Doa Tahlil Singkat

    Setelah membaca susunan tahlil, bisa dilanjutkan dengan bacaan doa. Dalam Kitab Lengkap Shalat, Shalawat, Zikir, dan Doa Yasin, Tahlil, Doa Haji & Umrah Ibnu Watiniyah memaparkan doa tahlil versi singkat.

    Berikut bacaannya:

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ لَا تُحْصِي ثَنَاءَ عَلَيْكَ أَنْتَ وَعَظِيمٍ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ قَبْلَ الرّضَى وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرّضَى وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ عَنَّا دَابِما أَبَدًا

    Arab latin: Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin hamday yuwaafii ni-amahu wa yukaafi-u maziidah. Yaa rabaanaa lakal hamdu kamaa yambaghii lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthaanik. Subhaanaka laa nuhshii tsanaa-a ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika falakal hamdu qablar ridha wa lakal hamdu badar ridha wa lakal hamdu idzaa radhiita annaa daa-iman abadaa.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana orang-orang yang bersyukur dan orang yang memperoleh nikmat sama memuji, dengan pujian yang sesuai dengan nikmatnya dan memungkinkan di tambah nikmatnya. Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji sebagaimana pujian yang layak bagi kemuliaan dan keagungan kekuasaan-Mu

    Bacaan Doa Tahlil Lengkap

    Dalam buku Surat Yasin dan Tahlil karya Muhammad Abdul Karim dijelaskan doa tahlil juga bisa dibaca dalam versi lengkap.

    Berikut bacaan doa tahlil lengkap Arab, latin, dan artinya:

    أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدَا الشَّاكِرِينَ حَمْدَ النَّاعِمِينَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِحَلالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اللهُمَّ صَلّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّلهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَا اسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةٌ وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةٌ وَبَرَكَةٌ شَامِلَةٌ وَصَدَقَةٌ مُتَقَبَّلَةٌ نُقَدِّمُ ذَلِكَ وَنُهْدِيهِ إِلَى حَضَرَاتِ حَبِينَا وَشَفِيعِنَا وَقُرَّة أَعْيُنِنَا سَيِّدنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ وَإِلَى جَمِيعِ إِخْوَانِهِ مِنَ الأَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْعُلَمَاءِ وَالْعَامِلِينَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ وَالْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيلِ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمَلَائِكَة الْمُقَرَّبِينَ ثُمَّ إِلَى جَمِيعِ أَهْلِ القُبُوْرِ مِنَ المسلمينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِينَ والْمُؤْمِنَات مِنْ مَشارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرْهَا وَبَحْرِهَا خُصُوصًا إِلَى أَبَاتِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوصًا إِلَى مَنِ اجْتَمَعْنَا هُهُنَا بِسَبَبِهِ وَلأَجْلِهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيْنَا وميتنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغَيْرنَا وَكَبِيْرنَا وَذَكَرنَا وَأَنْتَانَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيْمَانِ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةٌ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا أَحْرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُل خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرِّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي كُل خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرِّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ . اَلْفَاتِحَةُ

    Arab latin: A’uudzubillaahiminasyaithaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Hamdan syaakriin, hamdan naa’imiin. Hamdan yuwaafii ni’amahu wayukaafi`u maziidah. Yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yanbagii lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthaanik. Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘ala aali sayyidinaa Muhammad. Allaahumma taqobbal wa aushil tsawaba maa qoro’naahu minal qur’aanil ‘azhiimi wamaa hallalnaa wa maa sabbahnaa wa mastaghfarnaa wa maa shollainaa ‘alaa sayyidinaa muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallama hadiyyatan waashilatan wa rohmatan naazilatan wa barokatan syaamilatan ilaa hadhrotin habiibinaa wa syafii’inaa wa qurroti a’yuninaa sayyidinaa wa maulaanaa muhammadin shollallaahu ‘alaihi wa sallam, wa ilaa jamii’i ikhwaanihii minal anbiyaa’i walmursaliina wal auliyaa’i wasy-syuhadaa’i wash-shoolihiina wash shohaabati wattaabi’iina wal ‘ulamaa’il ‘aalimiina wal mushonnifiinal mukhlishiina wa jamii’il mujaahidiina fii sabiilillaahi robbil’aalamiin, wa malaa’ikatil muqorrobiin. tsumma ilaa jamii’i ahlil qubuur minal muslimiina walmuslimaati walmu`miniina walmu`minaati min masyaariqil ardhi wamaghaaribihaa barrihaa wa bahrihaa, khushushan abaa`naa wa`ummahaatinaa wa`ajdaadanaa wajaddaatinaa wanakhushu khushushan manijtama’naa hahunaa bisababihi wali ajlihi. Allaahummagh firlahum warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum. Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaa ibinaa washaghiirinaa wakabiirinaa wadzakarinaa wauntsaanaa Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa-‘ahyihi ‘alal islaam, waman tawafaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaan. Allaahumma ashlih lanaa diinanal ladzii huwa ‘ishmatu amrinaa, wa ashlih lanaa dun-yaanal latii fiihaa ma’aasyunaa, wa ashlih lanaa akhiratanaal latii ilaihaa ma’aadunaa, waj-‘alil hayaata ziyaadatan lanaa fii kulli khairin, waj-‘alil mauta raahatan lanaa min kulli syarrin. Rabbanaa aatinaa fiddun- yaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar. Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam. Subhaanaka rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wasalaamun ‘alal mursaliin, walhamdu lillaahir rabbil ‘aalamiin. Alfaatihah.

    Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah. Tuhan semesta alam. Sebagaimana orang-orang yang bersyukur, dan orang-orang yang memperoleh nikmat sama memuji, dengan puji yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana apa yang patut bagi keluhuran Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan- Mu. Ya Allah, berilah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami, Nabi Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala Al-Qur’an yang kami baca, tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan sholawat kami kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadiah yang menjadi penyambung, sebagai rahmat yang turun dan sebagai berkah yang menyebar kepada kekasih kami, penolong kami dan buah hati kami, pemuka dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad SAW, juga kepada seluruh sahabat baginda dalam kalangan para Nabi dan Rasul, para wali, para syuhada, orang soleh, para sahabat, para tabiin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan orang yang berjihad di jalan Allah Tuhan semesta alam, serta para malaikat yang selalu beribadah. Kemudian juga kepada seluruh ahli kubur dari kaum muslimin, muslimat, mukminin, mukminat dari belahan bumi sebelah timur dan barat, baik yang di daratan maupun yang di lautan, khususnya, kepada bapak dan ibu kami, kakek dan nenek kami, dan kepada orang yang menyebabkan kami semua dapat berkumpul di sini dan untuk keperluannya. Ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka, selamatkanlah dan maafkanlah kesalahan mereka. Ya Allah, ampunilah yang hidup di antara kami dan yang telah wafat, yang hadir (di tempat ini) dan yang tidak hadir, yang kecil maupun yang besar, laki- laki maupun perempuan. Ya Allah, siapa yang hidup di antara kami, maka hidupkanlah ia dalam keislaman dan yang wafat, wafatkanlah dalam keadaan iman. Ya Allah, luruskanlah kehidupan beragama kami, karena itulah pegangan kami dalam segala persoalan, sejahterakanlah dunia kami, karena di sanalah kehidupan kami (serta sarana pengabdian kami). Bahagiakanlah kehidupan akhirat kami karena ke sanalah tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan (kami) bersinambung di dalamnya segala macam kebajikan, dan kematian kami (kelak setelah usia yang panjang) akhir dari segala petaka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka. Semoga rahmat dan kesejahteraan selalu tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, para keluarga, dan sahabat beliau. Maha Suci Tuhanku, Tuhan yang bersih dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Dan kesejahteraan semoga senantiasa dilimpahkan kepada para utusan Allah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Danau Thabariyah Disebut Mengering Jelang Kiamat karena Ya’juj dan Ma’juj


    Jakarta

    Danau Thabariyah disebut akan mengering karena diminum rombongan Ya’juj dan Ma’juj. Peristiwa ini disebut-sebut dalam hadits tentang kiamat.

    Danau Thabariyah atau juga dikenal Danau Tiberias dan Danau Galilea adalah danau di Israel. Danau ini menjadi muara Sungai Yordania.

    Keberadaan Danau Thabariyah yang diceritakan dalam hadits disebut akan menjadi salah satu tanda kiamat. Tepatnya saat peristiwa yang terjadi antara Nabi Isa AS dan munculnya Ya’juj dan Ma’juj.


    Mengutip buku Isa dan Al-Mahdi di Akhir Zaman karya Muslih Abdul Karim, hadits yang menceritakan Nabi Isa AS dan Ya’juj Ma’juj ini berasal dari Nawas bin Sam’an RA tentang keluarnya Dajjal yang sebagian riwayatnya disebutkan,

    “Kemudian Isa AS datang dan Allah melindungi mereka dari Dajjal. Dan mengusap wajah mereka lalu menceritakan tingkatan mereka di surga. Sementara di dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Allah ta’ala memerintahkan Isa, ‘Kami (Allah) telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak ada seorang pun yang mampu memerangi mereka. Maka bawalah hamba-hamba-Ku ke Thursina.’

    Allah mengeluarkan Ya’juj dan Ma’juj, sedangkan mereka keluar dari setiap dataran tinggi dengan cepat. Barisan pertama melewati Danau Thabariyah dan meminum seluruh airnya, sehingga ketika barisan terakhir melewati danau itu mereka berkata, ‘Dulu danau ini ada airnya’.”

    Dalam Ma’a Qashashi as-Sabiqin fi Al-Qur’an karya Shalah Abdul Fattah al-Khalidy yang diterjemahkan Setiawan Budi Utomo, rombongan tersebut mengepung Nabi Isa AS dan orang-orang mukmin yang mengikutinya di Gunung Thur di Sinai. Pengepungan ini berlangsung lama dan terasa berat bagi para mukmin.

    Allah SWT lantas memberikan jalan keluar. Dia menurunkan ulat di daerah pertahanan Ya’juj dan Ma’juj yang membuat mereka mati dalam sekejap. Kemudian, Allah SWT menurunkan hujan sehingga ulat-ulat itu terbawa air dan menghanyutkan jasad-jasad Ya’juj dan Ma’juj ke laut. Kejadian ini sekaligus mengakhiri kehidupan Ya’juj dan Ma’juj sebagai balasan atas onar yang mereka sebarkan.

    Sosok Ya’juj dan Ma’juj

    Yazid bin Abdul Qadir Jawas mengatakan dalam Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (edisi Indonesia terbitan Pustaka Imam Syafi’i), Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia biasa seperti kebanyakan manusia lainnya. Mereka adalah orang kafir yang mirip dengan orang bangsa at-Turk dengan mata sipit, berhidung pesek, berambut pirang, dan kulit yang bervariasi.

    Ahlus Sunnah meyakini Ya’juj dan Ma’juj akan muncul di akhir zaman. Hal ini terjadi setelah Nabi Isa AS membunuh Dajjal dan Allah SWT membinasakan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) dalam satu malam berkat doa Nabi Isa AS.

    Keberadaan Ya’juj dan Ma’juj juga dikisahkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Anbiyaa ayat 96-97,

    حَتّٰىٓ اِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ وَهُمْ مِّنْ كُلِّ حَدَبٍ يَّنْسِلُوْنَ ٩٦ وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَاِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ اَبْصَارُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ يٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا بَلْ كُنَّا ظٰلِمِيْنَ ٩٧

    Artinya: “hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibuka dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (Apabila) janji yang benar (yakni hari Kiamat) telah makin dekat, tiba-tiba mata orang-orang yang kufur terbelalak. (Mereka berkata,) “Alangkah celakanya kami! Kami benar-benar lengah tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang zalim.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Dzikir yang Berat Timbangannya Melebihi Gunung Uhud


    Jakarta

    Rasulullah SAW pernah mengajarkan bacaan dzikir yang memiliki keutamaan besar. Dzikir ini berat timbangannya melebihi Gunung Uhud.

    Gunung Uhud adalah gunung yang terletak di sebelah utara Madinah. Gunung ini memiliki kedudukan tersendiri dalam Islam. Daerah ini menjadi terkenal setelah Perang Uhud era Rasulullah SAW.

    Dalam buku Tapak Sejarah Seputar Mekah-Madinah karya Muslim Nasution terdapat sejumlah riwayat yang menyebut tentang keistimewaan Gunung Uhud. Rasulullah SAW bersabda, “Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Thabrani)


    Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Gunung Uhud adalah salah satu gunung surga.” (HR Baihaqi)

    Menurut sebuah riwayat, Uhud artinya ‘satu’. Dinamakan demikian karena Gunung Uhud menyatukan gunung-gunung kecil yang ada di sekelilingnya, sehingga gunung itu merupakan satu kesatuan (uhud) dari beberapa gunung.

    Rasulullah SAW beberapa kali menyebut Gunung Uhud dalam sabdanya untuk memberikan perumpamaan beratnya timbangan amal perbuatan. Salah satunya saat Rasulullah SAW mengajarkan bacaan dzikir kepada para sahabat yang apabila ditimbang berat pahalanya melebihi Gunung Uhud.

    Hal tersebut diterangkan dalam riwayat yang termuat dalam kitab Sunan An-Nasa’i dan Musnad Al-Bazzar. Hadits ini turut dinukil Brilly El-Rasheed dalam buku Al-Bait: Misteri Sejarah Ka’bah dan Hilangnya di Akhir Zaman.

    Diriwayatkan dari ‘Imran bin Husain RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apakah seseorang di antara kalian setiap hari tidak mampu mengamalkan suatu amalan sebesar Gunung Uhud?”

    Para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, siapa yang mampu melakukan amalan sebesar Gunung Uhud setiap hari?”

    Nabi SAW bersabda, “Kalian semua mampu.”

    Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana caranya?”

    Beliau SAW bersabda, “Ucapan Subhanallah lebih besar (pahalanya) daripada Gunung Uhud, ucapan Laa ilaaha illallah lebih besar daripada Gunung Uhud, ucapan Alhamdulillah lebih besar daripada Gunung Uhud, dan ucapan Allahu Akbar lebih besar daripada Gunung Uhud.”

    Bacaan Dzikir yang Beratnya Melebihi Gunung Uhud

    Berikut bacaan dzikir yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits tersebut tulisan Arab, latin, dan artinya.

    سُبْحَانَ اللَّهِ

    Subhanallah

    Artinya: “Maha Suci Allah.”

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

    Laa ilaaha illallah

    Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah.”

    اَلْحَمْدُلِلَّهِ

    Alhamdulillah

    Artinya: “Segala puji bagi Allah.”

    اللَّهُ أَكْبَرُ

    Allahu Akbar

    Artinya: “Allah Maha Besar.”

    Dalam Shahih Muslim juga terdapat riwayat yang berisi keutamaan empat bacaan dzikir tersebut. Riwayat ini berasal dari Samurah ibnu Jundub RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَرْبَع: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إلا الله، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيْهِنَّ بَدَأْتَ

    Artinya: “Ucapan yang paling disukai Allah ada empat kalimat, yaitu: ‘Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar‘ (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tidak membahayakanmu dengan yang mana pun di antaranya kamu memulainya)” (HR Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

    Allah Menyukai Hamba yang Memuji-Nya

    Bacaan dzikir yang berat timbangannya melebihi Gunung Uhud ini termasuk kalimat pujian kepada Allah SWT. Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam kitab adz-Dzikru wa ad-Du`a` fi Dhau`il Kitab wa as-Sunnah (edisi Indonesia terbitan Griya Ilmu) menjelaskan, Allah SWT menyukai puji-pujian yang dilakukan oleh hamba-Nya.

    Allah SWT juga meridai hamba-Nya yang makan sesuatu lalu memuji-Nya dan yang minum minuman lalu memuji-Nya. Menurut Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Allah SWT meridai hamba-Nya dari sanjungan tersebut sebagai wujud kesyukuran atas pemberian-Nya. Meskipun pada dasarnya semua itu merupakan anugerah yang berasal dari Allah SWT.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Bacaan Sholat dari Niat hingga Salam Lengkap Arab & Arti


    Jakarta

    Doa bacaan sholat sudah sepatutnya dipanjatkan oleh kaum muslimin. Terlebih, sholat menjadi rukun Islam kedua dan disebut sebagai tiang agama.

    Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 103,

    فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ١٠٣


    Artinya: “Apabila kamu telah menyelesaikan sholat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah sholat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.”

    Ibnu Rusyd menjelaskan dalam Kitab Bidayatul Mujtahid terjemahan Al-Mas’udah, semua ulama sepakat bahwa sholat wajib hukumnya bagi seorang muslim yang sudah baligh. Ia menjelaskan, orang yang memiliki kewajiban sholat namun meninggalkannya secara sengaja maka dihukumi sama dengan orang kafir.

    Lantas, seperti apa doa bacaan sholat fardhu?

    Doa Bacaan Sholat Lima Waktu

    Mengutip buku Bimbingan Shalat Fardhlu: Thaharah dan Tata Cara Shalat susunan AW Publisher, bacaan doa sholat fardhu ialah sebagai berikut.

    1. Membaca niat terlebih dahulu. Niat yang dibaca sesuai dengan sholat yang dikerjakan, entah itu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib ataupun Isya.

    a.) Niat sholat Subuh

    أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى.

    Arab latin: Ushalli fardlash shub-hi ra’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku sengaja sholat fardhu Subuh dua rakaat menghadap kiblat (ma’mum/imam) karena Allah.”

    b.) Niat sholat Dzuhur

    اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى

    Arab latin: Ushalli fardhadh dhuhri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku sengaja sholat fardhu Zuhur empat rakaat menghadap kiblat (mak’mum/imam) karena Allah.”

    c.) Niat sholat Ashar

    أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى.

    Arab latin: Ushalli fardhal ‘asri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku sengaja sholat fardhu Asar empat rakaat mengadap kiblat (ma’mum/imam) karena Allah.”

    d.) Niat sholat Maghrib

    أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى.

    Arab latin: Ushalli fardhal maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku sengaja sholat fardhu Maghrib tiga rakaat menghadap kiblat (ma’mum/imam) karena Allah.”

    e.) Niat sholat Isya

    أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى.

    Arab latin: Ushalli fardhal isya-i arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku sengaja sholat fardhu Isya empat raaat menghadap kiblat (ma’mum/imam) karena Allah.”

    2. Setelah membaca niat, lanjutkan dengan takbiratul ihram seraya membaca,

    اللهُ أَكْبَرُ

    Arab latin: Allahu Akbar

    Artinya: “Allah Maha Besar.”

    3. Membaca doa iftitah dengan bunyi sebagai berikut,

    اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا . اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .

    Arab latin: Allahu Akbar Kabiroo walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallahi bukratan wa’ashillaa, inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wamaa anaa minal musyrikiin. Inna shalaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ‘aalamiin. Laa syarikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

    Artinya: “Allah Mahabesar lagi Sempurna Kebesaran-Nya, segala puja bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Kuhadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan akur diperintahkan untuk tidak menyukutan bagi-Nya. Dan aku dari golongan orang muslimin.”
    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku dan cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajat kami dan berilah rezeki kepadaku dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.”

    10. Sujud kedua dengan membaca doa yang sama seperti sujud sebelumnya.

    11. Duduk tasyahud atau tasyahud awal. Doa yang dapat dibaca ialah,

    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِاَ . للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ

    Arab latin: At-tahiyyaatul-mubaarakaatush-shalawaatuth-thayyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.

    Artinya: “Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah. Salam rahmat dan berkah-Nya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam (keselamatan) semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah. Limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad.”

    12. Tasyahud akhir

    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ , أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

    Arab latin: At tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thoyyibaatulillaah. As salaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wabarakaatuh, assalaamu’alaina wa’alaa ibaadillaahishaalihiin. Asyhaduallaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh. Allaahumma shalli’alaa muhammad, wa’alaa aali muhammad. Kamaa shallaita alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim. Wabaarik’alaa muhammad wa alaa aali muhammad. Kamaa baarakta alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim, fil’aalamiina innaka hamiidum majiid.

    Artinya: “Segala ucapan selamat, keberkahan, sholawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Ya Allah aku sampai sholawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad, serta kepada keluarganya. Sebagaimana Engkau sampaikan sholawat kepada Nabi Ibrahim AS, serta kepada para keluarganya. Dan, berikanlah keberkahan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, serta kepada keluarga. Sebagaimana, Engkau telah berkahi kepada junjungan kita Nabi Ibrahim, serta keberkahan yang dilimpahkan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Engkaulah Yang Maha Terpuji lagi Maha Kekal.”

    13. Salam

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

    Arab latin: Assalaamu alaikum wa rahmatullah.

    Artinya: “Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian.”

    Bacaan doa sholat fardhu tersebut dibaca secara berurutan.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com