Category: Doa Hadits

  • Bacaan Wirid setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab dan Latin


    Jakarta

    Setelah melakukan sholat fardhu, umat Islam dianjurkan untuk membaca wirid. Berikut bacaan wirid setelah sholat fardhu lengkap.

    Dikutip dari buku Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali karya Abdul Mujieb, Syafi’ah, dan Ahmad Ismail, wirid artinya bacaan-bacaan zikir, doa, atau amalan-amalan lain yang biasa dibaca atau diamalkan setelah sholat.

    Hukum dari wirid yaitu sunah atau dianjurkan. Anjuran wirid dijelaskan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Ka’ab bin ‘Ajarah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan-perbuatan yang tidak akan rugi orang yang melakukan atau mengucapkannya setelah sholat wajib adalah, tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali.” (HR Muslim)


    Bacaan Wirid setelah Sholat Fardhu

    Merangkum buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah SAW karya Arif Rahman, berikut bacaan wirid berupa zikir setelah sholat fardhu.

    Bacaan Wirid Pertama

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ اللَّهُمَّ أَنتَ السَّلامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ

    Astaghfirullaah. Astaghfirullaah. Astaghfirullaah. Allahumma antassalaam, wa mingkassalaam, tabarakta ya dzaljalaali wal ikraam.

    Artinya: “Saya memohon ampun kepada Allah. (3x) Ya Allah Engkau Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah kesejahteraan, Maha Suci Engkau wahai Rabb pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

    Bacaan Wirid Kedua

    لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرُ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْت، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِ مِنْكَ الْجَدُّ

    Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir. Allahumma laa maani’a limaa a’thayta, wa laa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yamfa’u dzaljaddi min kaljaddu.

    Artinya: “Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau beri, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya dari (siksa)- Mu.”

    Bacaan Wirid Ketiga

    لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بالله ، لا إِلَهَ إلا الله ولا نَعْبُدُ إلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

    Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir. Laa hawla wa laa kuwwata illa billaah, laa ilaaha illallaah, walaa na’budu illaa iyyaahu, lahunni’matu walahul fadhlu walahuts tsanaaul hasanu, laa ilaaha illallaåh mukhlishiyna lahuddiyn walaw karihal kaafiruun.

    Artinya: “Tidak ada llah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tidak ada llah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah. Kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Baginya nikmat, anugerah, dan pujian yang baik. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.”

    Bacaan Wirid Keempat

    لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

    Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, yuhyiy wa yumiytu wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir.

    Artinya: “Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi ruh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10x setiap selesai sholat Maghrib dan Subuh).

    Bacaan Wirid Kelima

    اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

    Allahumma a-‘inniy ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika.

    Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.”

    Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir

    سُبْحَانَ اللهُ

    Subhaanaallaah (33x)

    Artinya: “Mahasuci Allah”

    الْحَمْدُ لِلَّهِ

    Alhamdulillah (33x)

    Artinya: “Segala puji bagi Allah”

    اللهُ أَكْبَرُ

    Allahu Akbar (33x)

    Artinya: “Allah Maha Besar”

    Digenapkan menjadi seratus dengan membaca:

    لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

    Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir.

    Artinya: “Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Membaca Al Ikhlas

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ٤

    qul huwallāhu aḥad allāhuṣ-ṣamad lam yalid wa lam yụlad wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

    Membaca Al Falaq

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ ٥

    qul a’ụżu birabbil-falaq min syarri mā khalaq wa min syarri gāsiqin iżā waqab wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad

    Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

    Membaca An Nas

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١ مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ ٦

    qul a’ụżu birabbin-nās malikin-nās ilāhin-nās min syarril-waswāsil-khannās allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās minal-jinnati wan-nās

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

    Membaca Ayat Kursi

    الله لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

    Allaahu laa ilaaha illaa huu, al hayyul qoyyum, la ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardh. Man djalladjii yasyfa’u ‘indahuu illa bi idjnih. Ya’lamu maa bayna aydiihim wa maa kholfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syay-im min ‘ilmihii illa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiiyyuhussamaawaati wal ardh. Walaa ya- uuduhuu hifzhuhumaa. Wa huwal’aliiyul ‘azhiim.

    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

    Bacaan ayat kursi sebagai wirid setelah sholat fardhu tersebut terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 255.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Setelah Sholat Witir, Bacaan Niat dan Tata Caranya Lengkap


    Jakarta

    Sholat witir adalah ibadah sunnah yang dilaksanakan seusai Isya atau tarawih. Setelah mengerjakannya, ada doa setelah sholat witir yang bisa diamalkan.

    Dalil mengenai sholat witir tercantum dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi SAW bersabda:

    “Sholat witirlah kalian sebelum tiba waktu Subuh.” (HR Muslim)


    Muh Hambali dalam bukunya yang berjudul Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari menjelaskan bahwa witir artinya ganjil. Oleh karena itu, sholat witir harus dikerjakan dengan jumlah rakaat ganjil.

    Doa Setelah Sholat Witir: Arab, Latin dan Artinya

    Menukil dari buku Doa & Zikir Muslimah susunan Tim Redaksi Qultummedia, doa setelah sholat witir berbunyi sebagai berikut.

    أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

    Arab latin: Allaahumma innaa nas-aluka iimaanan daa-iman. Wanas- aluka qalban khaasyi’an. Wanas-aluka ‘ilman naafi’an. Wanas-aluka yaqiinan shaadiqan. Wanas-aluka ‘amalan shaalihan. Wanas-aluka diinan qayyiman. Wanas-aluka khairan katsiiran. Wanas-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah. Wanas-aluka tamaamal ‘aafiyah. Wanas-alukasy syukra ‘alal ‘aafiyati, wanas-alukal ghinaa-a ‘anin naas. Allaahumma rabbanaa taqabbal minnaa shalaatanaa washiyaamanaa waqiyaamanaa watakhassyu’anaa watadharru’anaa wata’abbudanaa watammim taqshiiranaa yaa allaah yaa allaah yaa allaah yaa arhamar raahimiin. Wasallallaahu ‘alaa khairi khalqihii muhammadin wa ‘alaa aalihii wasahbihii ajma’iina walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiina

    Artinya: “Ya Allah, kami mohon kepada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang banyak. Kami mohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesama manusia. Ya Allah, Tuhan kami terimalah dari kami: shalat, puasa, ibadah, kekhusyu’an, rendah diri dan ibadah kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad SAW, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.”

    Hukum Sholat Witir

    Sebagai amalan sunnah, hukum pengerjaan sholat witir ialah sunnah muakkad yang artinya sangat dianjurkan. Hukum ini merujuk pada pendapat Imam Syafi’i, Hambali dan Malik.

    Meski demikian, ada pendapat lain yang menyebut wajib hukumnya mengerjakan sholat witir. Diterangkan dalam buku Panduan Sholat Wajib dan Sunnah oleh Ustaz Arif Rahman, Imam abu Hanifah berpendapat hukum sholat witir adalah wajib tetapi pendapat ini dianggap lemah daripada imam lainnya.

    Jumlah Rakaat Sholat Witir

    Masih dari sumber yang sama, jumlah rakaat sholat witir selalu ganjil. Amalan ini dapat dikerjakan paling sedikit satu rakaat atau bisa juga tiga rakaat.

    Sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari,

    “Salat witir adalah haq bagi setiap muslim. Barang siapa yang senang mengerjakan salat witir sebanyak tiga rakaat, silakan ia kerjakan. Dan barang siapa yang senang mengerjakan sholat witir sebanyak satu rakaat, silakan ia kerjakan.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, & Ibnu Majah)

    Bacaan Niat Sholat Witir

    1. Niat Sholat Witir Satu Rakaat

    اُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَ

    Arab latin: Ushalli sunnatan minal witri rak’atan mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta’ālā.

    Artinya: “Aku niat sholat sunnah witir satu rakaat karena Allah ta’ala.”

    2. Niat Sholat Witir Tiga Rakaat

    اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

    Arab latin: Ushalli sunnatal witri tsalâtsa raka’âtin mustaqbilal qiblati adâ’an lillâhi ta’âlâ

    Artinya: “Aku niat sholat sunnah witir tiga rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala,”

    Tata Cara Sholat Witir

    Masih dari buku yang sama, tata cara sholat witir sama seperti sholat sunnah pada umumnya. Yang membedakan hanyalah pada niat.

    Sholat witir dikerjakan dengan satu salam atau dua salam, baik dipisah maupun digabung antar rakaatnya. Surah yang dianjurkan untuk dibaca pada rakaat pertama sholat witir setelah Al Fatihah, yaitu surah Al A’la. Sementara di rakaat yang kedua dianjurkan untuk membaca surah Al Kafirun, lalu rakaat yang ketiga surah Al-Ikhlas.

    Anjuran tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

    Rasulullah melakukan sholat witir tiga rakaat setelah Isya. Pada rakaat pertama membaca surat Al-A’la, rakaat kedua membaca surat Al Kafirun, dan rakaat ketiga membaca surat Al-Ikhlas.” (HR At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

    Itulah bacaan doa setelah sholat witir disertai niat dan tata caranya sesuai sunnah. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Gempa Bumi, Dibaca untuk Memohon Perlindungan


    Jakarta

    Gempa bumi adalah bencana alam yang sudah terjadi sejak zaman nabi terdahulu. Ketika hal itu terjadi, ada doa gempa bumi yang dapat dipanjatkan.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al A’raf ayat 91,

    فَاَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دَارِهِمْ جٰثِمِيْنَۙ


    Artinya: “Maka, gempa (dahsyat) menimpa mereka sehingga mereka menjadi (mayat-mayat yang) bergelimpangan di dalam (reruntuhan) tempat tinggal mereka.”

    Berikut doa gempa bumi yang bisa dibaca oleh umat Islam seperti dinukil dari Kitab Al-Adzkar oleh Imam Nawawi yang diterjemahkan Ulin Nuha.

    Kumpulan Doa Gempa Bumi dan Artinya dalam Islam

    1. Doa Gempa Bumi Versi Pertama

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي ، اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ ومِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

    Allaahumma innii as-alukal ‘aafiyah fid dunya wal aakhirah, allaahumma innii as-alukal ‘afwa wal’aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii, allaahummastur ‘auraatii wa aamin rau’aatii, allaahummah fadhnii min baini yadayya wa min khalfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaali wa min fauqii wa a’udzu bi ‘adhamatika an ughtala tahtii.

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kesejahteraan di dunia dan akhirat, ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu maaf, dan kesejahteraan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, semoga Engkau menutupi keburukanku, dan amankanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, semoga Engkau jaga aku dari arah sampingku, dari arah belakangku, depanku, dan dari arah atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari tertiup keburukan dari bawahku (gempa bumi).”

    2. Doa Gempa Bumi Versi Kedua

    Ada juga doa gempa bumi versi lainnya yang dikutip dari buku Kumpulan Do’a dari Al-Quran dan As-Sunnah yang Shahih oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

    إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْه

    Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma ajirhum fii mushibatihim, wa akhlif lahum khoiran minha

    Artinya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah mereka pahala dalam musibah mereka dan gantilah dengan yang lebih baik.”

    3. Doa Gempa Bumi Versi Ketiga

    Umat Islam juga bisa membaca doa yang dipanjatkan Nabi Nuh AS ketika memohon kepada Allah SWT untuk diselamatkan dari bencana alam. Berikut bunyi doanya yang termaktub dalam surah Hud ayat 47.

    قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    Rabbi innii ‘a’uu dubika ann as alaka maa laisa lii bihi ‘ilmun wa illaa tag firlii wa tar ham nii akum minal khaa siriin

    Artinya: “Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepadaMu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Sekiranya Engkau tidak memberi ampunan serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.”

    4. Doa Gempa Bumi Versi Keempat

    Doa gempa bumi versi lain yang dapat dibaca juga disebutkan dalam buku Tiket ke Surga (Doa-doa Mustajab) oleh Abdul Majid dan Isfa’udin, berikut bunyinya.

    ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢّ ﺇِﻧّﻲْ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﻓِﻴْﻬَﺎ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﺑِﻪِ؛ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻫَﺎ، ﻭَﺷَﺮِّﻣَﺎﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭَﺷَﺮِّﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﺑِﻪِ

    Allâhumma innî asaluka khairaha wa khaira mâ fîhâ, wa khaira mâ arsalta bihi, wa a’ûdzubika min syarrihâ, wa syarri mâ fîhâ wa syarri mâ arsalta bihi.

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon kehadiratMu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepadaMu dari keburukan atas apa yang terjadi dan keburukan atas apa yang terjadi di dalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepadaMu atas apa-apa yang Engkau kirimkan.” (HR An Nasa’i)

    Itulah doa yang bisa dibaca ketika gempa bumi. Semoga bermanfaat.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • “Allahumma Laka Shumtu” Doa Buka Puasa dan Artinya


    Jakarta

    “Allahumma laka shumtu” adalah penggalan doa buka puasa yang dianjurkan dibaca ketika hendak berbuka. Membaca doa ini menjadi amalan yang penting. Untuk itu, simak bacaannya di bawah ini.

    Doa Berbuka Puasa

    Bacaan allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ala rizqika afthartu adalah salah satu doa buka puasa yang sering dibaca. Berikut tulisan Arab, latin, dan artinya:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ


    Latin: “Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa’ala rizqika afthartu.”

    Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, dan atas rezeki-Mu aku berbuka.”

    Ada juga versi doa lebih lengkapnya, seperti berikut:

    اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Arab latin: Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ala rizqika aftartu birahmatika yaa arhamar-roohimiina.

    Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepadamu-Mu aku beriman, dan atas rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu Ya Allah Tuhan Maha Pengasih.”

    Menurut buku Pelajaran Adab Islam oleh Suhendri, Ahmad Syukri, doa tadi berasal dari hadits dho’if (lemah), meskipun arti dari bacaan tersebut benar dan baik.

    Namun, kita dianjurkan untuk berdoa yang sesuai sunnah Rasulullah SAW. Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Abu Daud yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW membacakan doa ini saat buka puasa:

    · ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

    Arab-latin: Dzahabadh dhoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru insyaa-allah.

    Artinya: “Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap insya Allah.”

    (khq/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Iftitah Pendek Sesuai Sunnah dan Artinya


    Jakarta

    Doa iftitah merupakan bacaan pembuka sholat. Doa ini dilafalkan setelah takbiratul ihram dan sebelum surat Al-Fatihah pada rakaat pertama sholat.

    Pembacaan doa iftitah dalam sholat ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasul SAW. Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Sifat Shalat Nabi SAW menuturkan, “Rasulullah memulai sholat dengan membaca berbagai macam doa.”

    “Dalam doa tersebut, beliau memuji Allah SWT, mengagungkan, dan menyanjung-Nya. Beliau memerintahkan orang yang tidak benar sholatnya untuk melakukan hal itu,” lanjut Syaikh Al-Albani.


    Doa inilah yang dikenal dengan doa iftitah. Berikut bacaan doa iftitah pendek sesuai sunnah Nabi SAW.

    Doa Iftitah Pendek: Arab, Latin, dan Artinya

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

    Latin: Subhaanakallaahumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghairuka.

    Artinya: “Maha Suci Engkau, ya Allah dengan segala puji-Mu (aku mensucikan-Mu), Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu; dan tidak ada Ilah (Tuhan) selain Engkau.”

    Keterangan: Syaikh Said bin Ali Al-Qahthani dalam kitab Shalatul Mu’min menjelaskan bahwa doa Iftitah tersebut sesuai hadits yang diriwayatkan Muslim, Abdurrazaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, dan Hakim dari sejumlah sahabat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Anas, Abu Sa’id, dan Abdullah bin Mas’ud.

    Hadits tersebut dishahihkan Hakim dan disepakati Adz-Dzahabi. Ibnu Taimiyah berkata, “Disebutkan dalam riwayat shahih dari Umar bin Khattab bahwasanya dia pernah membaca doa iftitah: ‘Subhaanakallaahumma wa bihamdika…’ secara jahr dengan maksud untuk mengajari banyak orang. Sekiranya hal ini bukan merupakan Sunnah masyru’ah (yang disyariatkan), tentu dia tidak mengajarkannya…”

    Abu Bakar dan Utsman bin Affan dikatakan juga pernah membaca doa iftitah tersebut dalam sholat mereka.

    Tata Cara Membaca Doa Iftitah

    Menurut jumhur ulama, membaca doa iftitah dalam sholat hukumnya sunnah. Doa ini disunnahkan untuk dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum melafalkan surat Al-Fatihah pada rakaat pertama sholat, baik sholat fardhu maupun sholat sunnah yang dilakukan munfarid atau berjamaah .

    Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar yang diterjemahkan oleh Ulin Nuha, menjelaskan jika seseorang tidak membaca doa iftitah pada rakaat pertama sholat karena lupa maupun sengaja, maka tidak dianjurkan untuk membacanya pada rakaat kedua atau selanjutnya lantaran itu sudah bukan pada waktunya lagi.

    Menurutnya, apabila doa iftitah dibaca pada rakaat kedua atau setelahnya, maka hukumnya menjadi makruh tapi tidak membatalkan sholat.

    Bacaan doa iftitah terdapat beberapa macamnya. Dalam sholat, muslim cukup membaca salah satunya saja. Adapun doa iftitah hendaknya dibaca dengan suara pelan (sirr) karena sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

    (row/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa dan Zikir setelah Sholat Hajat


    Jakarta

    Sholat hajat adalah sholat sunah yang dapat dikerjakan umat Islam yang memiliki hajat atau keinginan. Ibadah ini bisa ditutup dengan membaca doa dan zikir setelah sholat hajat.

    Sholat hajat dikerjakan sebanyak dua hingga 12 rakaat, dikerjakan dengan satu kali salam setiap dua rakaat. Dinukil dari buku Menjemput Berkah Lewat Shalat Hajat karya Abu Khansa Al-Harits, sholat hajat dapat dilakukan kapan saja, tetapi lebih utama dikerjakan pada sepertiga malam terakhir.

    Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tuhan kita ‘Azza wajalla tiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir, pada saat itu Dia berfirman: Barang siapa yang berdoa kepadaku, pasti Aku kabulkan, barang siapa yang memohon kepadaku pasti Aku beri, dan barang siapa yang meminta ampun kepadaku pasti Aku ampuni.” (Diriwayatkan oleh jama’ah)


    Gerakan dan bacaan sholat hajat dilakukan seperti sholat fardhu, perbedaan terletak pada niatnya. Adapun setelah melakukan sholat hajat, terdapat doa dan zikir yang bisa diamalkan.

    Zikir setelah Sholat Hajat

    Dikutip dari Amalan Praktis Shalat Hajat Wanita karya Deden, berikut bacaan zikir sholat hajat yang dilakukan setelah salam.

    Pertama, dianjurkan membaca istighfar sebanyak 100 kali.

    اسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ

    Astaghfirullaahal ‘azhiim.

    Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung.”

    Bisa juga membaca istighfar yang lebih lengkap berikut.

    اسْتَغْفِرُ اللَّهَ رَبِّي مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَاتُوبُ إِلَيْهِ

    Astaghfirullaha rabbii min kulli dzanbin waatuubuilaihi.

    Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah, Tuhanku, dari dosa-dosa dan aku bertaubat kepada-Mu.”

    Berikutnya, membaca sholawat sebanyak 100 kali dengan bacaan sebagai berikut.

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةَ الرِّضَا وَارْضَ عَنْ أَصْحَابِهِ رِضَا الرِّضَا

    Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin shalaat ar ridha wardha ‘an ashaabihir ridha ridha.

    Artinya: “Ya Allah, berilah karunia kesejahteraan atas junjungan kami Nabi Muhammad, kesejahteraan yang diridhai dan ridhailah para sahabat sekalian.”

    Doa setelah Sholat Hajat

    Setelah membaca zikir, dilanjutkan membaca doa sholat hajat sebagai berikut seperti dikutip dari 300 Doa dan Zikir Pilihan dari penerbit Gema Insani.

    لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَكِيمُ الْكَرِيمُ . سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِاالْعَظِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرِّ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمِ لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا هَمَّا إِلَّا فَرَجَتَهُ وَلَا حَاجَةً إِلَّاهِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَالرَّاحِمِينَ .

    Laa ilaaha illall aahul hakiimul karii-mu. Subhanallahi rabbil ‘arsyil ‘adhiim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin as-aluka muujibaatii rahmatika wa’azaai-ma maghfiratika wal-ghaniimata min kulli birri wassalaamata min kulli ismin laa tada’ lii dzanban illa gha-fartahu walaa hamman illa farrajtahu walaa haajatan illa hiya laka ridhan illa qadhaitahaa yaa arhamar raahimiin.

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah Yang Mahahalim (bijak-sabar) lagi Mahamulia. Mahasuci Allah Tuhan Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada-Mu kepastian rahmat-Mu, perolehan dari tiap-tiap kebaikan dan keselamatan dari dosa (Ya Alllah) jangan Engkau biarkan diriku berdosa melainkan Engkau ampuni, tiada ada kesusahan melainkan Engkau bukakan jalan keluar dan tiada sesuatu yang diridhai oleh-Mu melainkan Engkau luluskan ya Allah Yang Maharahim dari semua yang rahim.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majad)

    Berikutnya, memohon apa yang menjadi hajat sembari bersujud dan memperbanyak bacaan berikut.

    لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

    Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin.

    Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau ya Allah. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Doa untuk Orang Sakit Supaya Cepat Sembuh Sesuai Sunah


    Jakarta

    Menjenguk orang sakit dan mendoakannya termasuk dalam anjuran Rasulullah SAW. Berikut lima doa yang untuk orang sakit yang dapat dipanjatkan.

    Keadaan sakit termasuk dalam ujian Allah SWT. Akan tetapi, sakit juga dapat menjadi berkah sebagaimana Nabi Ayyub AS yang bertambah ketaatannya kepada Allah SWT setelah diuji sakit.

    Menjenguk orang sakit mengandung banyak keutamaan. Dikutip dari buku Samudra Keteladanan Muhammad karya Nurul H. Maarif, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ahmad bin Hanbal, Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang menjenguknya seakan-akan tengah berjalan sembari memetik buah-buahan surga, lalu duduk dan rahmat Allah SWT diturunkan dengan deras.


    Bila menjenguknya di pagi hari, maka 70 ribu malaikat mendoakannya supaya ia mendapatkan rahmat hingga waktu sore. Bila menjenguknya sore hari, maka 70 ribu malaikat mendoakannya agar ia mendapatkan rahmat hingga pagi harinya.

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang-orang yang menjenguk orang sakit akan berada di kebun-kebun surga sampai ia pulang.” (HR. Muslim)

    Rasulullah SAW pun sering menjenguk sahabat-sahabatnya yang sakit. Beliau bahkan terkadang menjenguk orang yang membencinya. Akhlak yang sangat luhur dan terpuji ini hendaknya menjadi teladan seluruh umat Islam.

    Ketika menjenguk orang sakit, Rasulullah SAW tidak lupa membaca doa. Berikut 5 doa untuk orang sakit sesuai anjuran Rasulullah SAW.

    Doa untuk Orang Sakit

    Berdasarkan hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, berikut doa yang dapat dibaca ketika menjenguk orang sakit.

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syifā’a illā syifā uka. Syifā’an lā yughādiru saqaman

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkan penyakit ini. Sembuhkanlah. Engkau Yang Maha menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.”

    Doa Menjenguk Orang Sakit

    Dikutip dari buku Doa-doa Terbaik Sepanjang Masa karya Ahmad Zacky El-Syafa, doa ini dipanjatkan Rasulullah SAW ketika menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash yang tengah berbaring sakit.

    اللَّهُمَّ اِشْفِ سَعْدًا ، اَللَّهُمَّ اِشْفِ سَعْدًا، اَللَّهُمَّ اِشْفِ سَعْدًا

    Allaahumma isyfi sa’dan. allaahumma isyfi sa’dan. allaahumma isyfi sa’dan

    “Ya Allah… sembuhkanlah ia dalam keadaan bahagia. Ya Allah… sembuhkanlah ia dalam keadaan bahagia. Ya Allah… sembuhkanlah ia dalam keadaan bahagia.” (HR. Muslim)

    Doa Menjenguk Orang Sakit 2

    Doa ini diriwayatkan oleh Abud Dawud dan Tirmidzi. Menurut hadits Rasulullah SAW, “Barang siapa yang menjenguk orang sakit yang belum datang ajalnya, kemudian membaca doa “As-Alullaaha rabbal ‘arsyil ‘adziimi an-yasyfiyaka” sebanyak tujuh kali, maka Allah akan menyembuhkan dari penyakit tersebut.” Berikut bacaannya,

    أَسْأَلُ اللَّهِ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيْكَ

    As-Alullaaha rabbal ‘arsyil ‘adziimi an-yasyfiyaka (7 x)

    Artinya: “Aku memohon kepada Allah Tuhan Yang Maha Agung Penguasa Arasy agar berkenan menyembuhkanmu (7x).” (HR Abu Dawud dan Tirmizi)

    Doa Menjenguk Orang Sakit 3

    Dikutip dari buku Doa Andalan Para Nabi karya Musthafa Murad, doa berikut juga dapat dibacakan ketika menjenguk orang sakit.

    لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

    Lā ba’sa thahūrun insyā’allāhu.

    Artinya: “Tidak apa-apa. Insya Allah ia menjadi pembersih dosa.”

    Doa Rasulullah SAW ketika Menjenguk Sahabat yang Sakit

    يَا سَلْمَانُ، شَفَى اللَّهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِينِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ

    Ya salmaanu syafallaahu saqamaka, waghafara dzanbaka, wa ‘aafaaka fii dii- nika wa jismika ila muddati ajalika

    Artinya: “Wahai Salman… semoga Allah menyembuhkan penyakitmu dan mengampuni dosamu, memberikan kesehatan dalam agamamu, juga badan mu sampai kelak tiba ajalmu.” (HR Ibnu Sunni)

    Adab Menjenguk Orang Sakit

    Terdapat beberapa adab yang perlu diperhatikan ketika menjenguk orang sakit, sebagaimana dijelaskan al-Qismul Ilmi Bi Madaril Wathan dalam bukunya Adab Muslim Sehari Semalam.

    1. Tidak Berlama-lama Duduk di Samping Orang Sakit

    Selain itu, hendaknya memilih waktu yang tepat untuk menjenguk dan tidak membebani orang yang dijenguk.

    2. Menanyakan Keadaan

    Hal ini dapat dilakukan dengan bertanya “Bagaimana kabarmu?” sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW.

    3. Mendoakan Kesembuhan

    Diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah SAW berdoa ketika menjenguk orang yang tengah sakit. Hal ini dapat dilakukan dengan mengusap tangan kanan orang yang sakit sembari berdoa.

    4. Mengingatkan Agar Bersabar atas Ketetapan Allah SWT

    Hal ini juga bisa dilakukan dengan memberi semangat kepada orang yang sakit.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Kamilin Pendek dan Terjemahannya, Dibaca Saat Salat Tarawih


    Jakarta

    Tarawih adalah salat yang hanya dikerjakan di malam bulan Ramadan. Tarawih bisa dikerjakan sendiri maupun berjamaah.

    Dilansir dari buku Pintar Shalat karya M. Khalilurrahman Al Mahfani inilah dalil mengenai keutamaan bulan Ramadan:

    “Siapa saja yang melaksanakan qiyamu Ramadan (Salat tarawih) karena iman dan hanya mengaharap pahal dari Allah. Maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (HR. Jamaah dari Abu Hurairah).


    Selain itu, biasanya ketika melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid, ketika di sela-sela antara sesudah Tarawih dan sebelum Witir, imam atau bilal akan membacakan doa. Berikut ini doa kamilin pendek dan lengkap.

    Doa Kamilin

    Doa Kamilin Pendek

    Dilansir dari buku Tuntunan Shalat Lengkap dan Benar ditulis oleh Dra. Neni Nuraeni M.Ag berikut ini bacaan doa kamilin pendek.

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا وَوَالِدَيْنَا وَعَنْ جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ والمُسْلِمَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

    Allahumma inná nas-aluka ridhaka wal jannata wa na’ûdzu bika min sakhathika wan näri, Allahumma innaka ‘afuwwun karimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anná wa walidaina wa ‘an jami’il muslimina wal muslimáti birahmatika yá arhamar rahimina.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keridhaan-Mu dan surga, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia, Engkau suka ampunan, maka ampunilah kami, dan ampunilah ibu bapak kami, serta semua kaum muslimin dan muslimat dengan kasih sayang-Mu, wahai Tuhan yang Maha Penyayang.”

    Doa Kamilin Panjang

    اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِالإيْمَانِ كَامِلِيْن وَلِلفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنِ وَلِلصَّلاةِ حَافِظِيْنِ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْن وَلَمِا عِنْدَكَ طَالِبِيْنِ وَلِعَفْوكَ رَاجِيْنِ وَبِالْهُدَي مُتَمَسِّكِين وَعَن اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنِ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْن وَفِي الآخِرَةِ رَاغِيين وبالقضَاءِ رَاضِينِ وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنِ وَعَلي البَلَاءِ صَابِريْن وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنِ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنِ وَإِلَى الجَنَّةِ دَاخِلِيْن وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنِ وَعَلَى سَرِيْرِ الكَرَامَةِ قَاعِدِيْنِ وَمِنْ حُوْرٍ عِينٍ مُتَزَوِّحِينِ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاج مُتَلبِّسِيْن وَمِنْ طَعَامِ الجَنَّةِ آكِلِينِ وَمِنْ لَّبَن وَعَسَلٍ مُصَفًّى شاريين بأكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ مَعَ الَّذِي أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّين وَالصَّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِوَالصَّالِحِيْن وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بالله عَلِيْمًا اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي لَيْلَةِ هَذا الشَّهْرِ الشَّرِيفَةِ المُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقْبُوْلِيْن وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينِ

    Arab latin: “Allâhummaj’al bil îmâni kâmilîn wa lilfarâidhi muaddîn wa lishshalâti hâfidzîn wa lizzakâti fâ’ilîn wa limâ ‘indaka thâlibîn wa li’afwika râjîn wa bil hudâ mutamassikîn wa ‘anillaghwi muʼridhîn wa fid-dunyâ zâhidîn wa fîl âkhirati râghibîn wa bil gadhâ’i râdhîn wa lin-na’mâ’i syâkirîn wa ‘alâl balâ’i shâbirîn wa tahta liwâ’i Muhammadin shallallahu ‘alayhi wa sallama yawmal qiyâmati sâirin wa ilâlhawdhi wâridîn wa ilâl-jannati dâkhilîn wa minan-nâri nâjîn wa ‘alâ sarîr al-karâmati qâ’idîn wan hûrin “în mutazawwijîn wa min sundusin wastabraqin wa dîbâjin mutalabbisin wa min tha’âmil jannati âkilîn wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn bi akwâbin wa abârîqa wa kaʼsin min maʼîn ma’alladzî an’amta ‘alayhim minannabiyyîn wash-shiddîqîn wasy-syuhâdâ’ wash-shâlihîn wa hasuna ulâ’ika rafîqan dzâlikal fadhlu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîma. Allâhummaj’alnâ fî laylati hâdzasyahr syarîfatil mubârakati min al-syu’âdâ’il maqbûlîn wa lâ taj’alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma’în birahmatika ya ar-hamar-râhimîn.”

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang senantiasa menyempurnakan iman kami, melaksanakan perintah menjalankan kewajiban-Mu, menjalankan sholat, menunaikan zakat, memohon serta mengharap ampunan-Mu, yang berpegang teguh kepada petunjuk (yang Kau berikan), meninggalkan kemungkaran, hidup dengan sederhana di dunia, mengharap surga di akhirat, berpasrah pada takdir, bersyukur pada nikmat dan bersabar atas cobaan di bawah bendera syariat Muhammad SAW pada hari kiamat. Dari ajarannya kami datang, ke surga kami menuju, dan juga kami selamat dari api neraka. Kami duduk di atas kain sutra kemuliaan, kami menikahi bidadari yang cantik dan jelita. Kami memakai pakaian yang terbuat dari permadani, sutra, dan perhiasan mewah lainnya. Kami makan dari masakan yang telah tersedia di surga. Kami meminum madu dan susu dengan menggunakan gelas mewah bersama para nabi, orang jujur, syuhada, orang sholeh, dan mereka akan menjadi teman setia di surga kelak. Demikianlah keutamaan dari Allah. Allah Maha Mengetahui atas segala yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ya Rabb, jadikan kami pada malam yang mulia dan penuh berkah ini sebagai orang-orang yang senantiasa bahagia dan engkau ampuni. Serta janganlah masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersedih dan tertolak. Kami senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabat-sahabatnya secara keseluruhan dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang dari yang penyayang.”

    Demikian bacaan doa kamilin pendek dan panjang, semoga detikers bisa mengamalkannya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Doa Nuzulul Quran Arab Beserta Artinya pada 17 Ramadan


    Jakarta

    Peristiwa Nuzulul Quran menandai waktu Al-Qur’an pertama kali diturunkan ke dunia pada 17 Ramadan. Ada bacaan doa yang dapat diamalkan pada malam Nuzulul Quran tersebut.

    Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW yang melalui Malaikat Jibril. Dinukil dari Tafsir Salman susunan Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB, Nabi Muhammad SAW yang tengah menyendiri di Gua Hira pada 17 Ramadan 610 M menerima wahyu pertama berupa surah Al-Alaq ayat 1-5.

    Al-Qur’an juga diturunkan secara berangsur-angsur dan dikisahkan dalam Al-Qur’an surah Al Isra ayat 106. Allah SWT berfirman,


    وَقُرْءَانًا فَرَقْنَٰهُ لِتَقْرَأَهُۥ عَلَى ٱلنَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَٰهُ تَنزِيلًا

    Artinya: ” Al-Qur’an Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap .”

    Dikutip dari buku Sukses Berburu Lailatul Qadar karya Muhammad Adam Hussein, terdapat sebuah riwayat yang mengatakan Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dalam kurun waktu 23 tahun.

    Hal ini berlandaskan pada riwayat dari Ibnu Abbas yang berbunyi, “Al-Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur- angsur kepada Rasulullah SAW sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.” (HR Thabari An Nasai)

    Sebagai muslim yang berpedoman teguh pada kitab suci Al-Qur’an, sudah sepatunya memperingati malam Nuzulul Quran dengan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an pada kehidupan sehari-hari. Adapun bacaan doa Nuzulul Quran yang muslim dapat amalkan pada malam Nuzulul Quran adalah sebagai berikut.

    Kumpulan Doa Malam Nuzulul Quran 17 Ramadan

    1. Bacaan Doa Malam Nuzulul Qur’an Versi Pertama

    اللهم نور قلوبنا بنور هدايتك كما نورت الارض بنور شمسك ابدا ابدا برحمتك يا ارحم الراحمين

    Allahumma nawwir quluubanaa bi tilaawatil qur’an, wa zayyin akhlaa qonaa bijaahil qur’an, wa hassin a’maalanaa bi dzikril qur’an, wa najjinaa minan naari bi karoo matil qur’an, wa adkhilnal jannata bi syafaa’til qur’an.

    Artinya: “Ya Allah sinari hati kami sebab membaca Al-Qur’an, hiasi akhlak kami dengan kemuliaan Al-Qur’an, baguskanlah amalan kami karena berdzikir lewat Al-Qur’an, selamatkanlah kami dari api neraka karena kemuliaan Al-Qur’an, masukkanlah kami ke dalam surga dengan syafa’at Al-Qur’an.”

    2. Bacaan Doa Malam Nuzulul Qur’an Versi Kedua

    اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

    Allahummagfir lii wa liwaalidayya arhamhumaa kamaa robbayaani shoghiiroo

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku semenjak kecil.”

    3. Bacaan Doa Malam Nuzulul Qur’an Versi Ketiga

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

    Allahumma innaka ‘aufuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

    Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.”

    4. Bacaan Doa Khatam Al-Qur’an saat Malam Nuzulul Quran

    Doa ini dapat dibaca saat setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Berikut bacaanya.

    اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لِي إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً، اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نُسِّيتُ وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْتُ وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

    Allahumarhamni bil qur’an. Waj’alhu lii imaman wa nuran wa hudan wa rohman. Allahumma dzakkirni minhu maa nasiitu wa ‘allimni minhu maa jahiltu. Warzuqnii tilawatahu aana allaili wa athrofannahar waj’alhu li hujatan ya rabbal ‘alamin.

    Artinya: “Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur’an. Jadikanlah ia sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku atas apa yang terlupakan darinya. Ajarilah aku atas apa yang belum tahu darinya. Berikanlah aku kemampuan membacanya sepanjang malam dan ujung siang. Jadikanlah ia sebagai pembelaku, wahai tuhan semesta alam.”

    Keistimewaan Malam Nuzulul Qur’an

    Menurut Abdurrazzaq Ash-Shadr dalam buku Berzikir Cara Nabi, ada beberapa keutamaan yang bisa yang terkandung di dalam Nuzulul Quran.

    1. Bertepatan dengan Ramadan

    Ibnu Abu Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya oleh ‘Atiyah bin Al-Aswad, “Ada keraguan dalam hatiku tentang firman Allah, ‘Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, begitu juga firman-Nya, ‘Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi’, dan firman-Nya, ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Al-Qadar.’ Sedangkan, Al-Qur’an ada yang diturunkan pada bulan Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Safar, dan bulan Rabi’?”

    Ibnu Abbas menjawab, “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan sekaligus pada bulan Ramadan di malam Qadar, malam yang diberkahi. Kemudian Al-Qur’an yang terpisah-pisah di beberapa tempat bintang diturunkan secara tartil dalam beberapa bulan dan hari.”

    2. Karunia Besar dari Allah SWT

    Berkaitan dengan poin sebelumnya, pada bulan Ramadan umat Islam akan mendapatkan karunia yang besar dari Allah berupa wahyu dan petunjuk-petunjuk, hal ini disampaikan di dalam surah Al Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman,

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَات ٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

    Artinya: Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil).

    3. Diampuni Dosanya yang Telah Lalu

    Malam Nuzulul Quran juga bertepatan dengan Lailatul Qadar. Turut dijelaskan juga dalam sebuah hadits bahwa segala dosanya akan diampuni oleh Allah SWT. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia mengatakan Nabi Muhammad SAW bersabda,

    مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Artinya: “Barang siapa melaksanakan salat pada malam Lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari)

    4. Malam Keberkahan

    Malam Nuzulul Quran atau malam diturunkannya Al-Qur’an ke bumi disebut sebagai malam yang penuh berkah. Allah SWT berfirman dalam surat Ad Dukhan ayat 3,

    إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan,”

    5. Dicatatnya Takdir Tahunan

    Malam Nuzulul Quran juga disebut sebagai malam di mana takdir tahunan dicatat. Dijelaskan dalam surah Ad Dukhan ayat 4 yang berbunyi,

    وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

    Artinya: “Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,”

    Dilansir dari laman IAIN Madura, urusan yang dimaksud dalam ayat di atas meliputi urusan takdir terkait rezeki, hidup, mati, untung, dan sebagainya. Artinya, dengan mengerjakan amalan kebaikan selama malam Nuzulul Quran diharapkan juga mendapat takdir yang berkah selama setahun penuh.

    Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Makna ‘Hamba Sahaya Melahirkan Tuannya’ yang Jadi Tanda Kiamat


    Jakarta

    Hamba sahaya melahirkan tuannya adalah salah satu tanda kiamat sugra (kecil). Hamba sahaya merupakan seseorang yang tengah diperbudakkan.

    Hal ini pernah disebutkan Rasulullah SAW. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Umar bin Khattab r.a, tentang kedatangan Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW. Jibril datang dalam bentuk seorang laki-laki berpakaian putih, berambut hitam tebal.

    Jibril menanyakan tentang Islam, iman dan ihsan. Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW. Selanjutnya, Jibril bertanya mengenai kiamat.


    Rasulullah SAW menjawabnya “Tidakkah yang ditanya lebih tahu dari yang menanya.”
    Jibril berkata, “Kalau begitu, beri tahu aku apa tanda-tandanya.”
    Rasulullah SAW menjawab, “Hamba sahaya melahirkan tuannya, dan kau melihat orang yang tidak beralas kakinya, telanjang, serta pengembala kambing yang berlomba-lomba membangun gedung-gedung tinggi.”

    Kemudian Ibn Abbas meriwayatkan jawaban rasulullah SAW tersebut. Ia bertanya, “Ya Rasulullah, siapa penggembala kambing dan orang-orang tak beralas kaki, lapar dan miskin itu?”

    “Orang Arab.” jawab Rasulullah SAW.

    Maksud Hamba Sahaya Melahirkan Tuannya

    Ada beberapa pendapat mengenai maksud dari hamba sahaya yang melahirkan tuannya. Simak penjelasannya berikut ini.

    Anak Menjadi Tuan Atas Ibunya Sendiri

    Dikutip dari Ensiklopedia Kiamat oleh Dr. Umar Sulaiman al Asygar, menurut para ulama, maksud “hamba sahaya melahirkan tuannya” adalah sebuah pemberitahuan akan banyaknya hamba sahaya serta anak-anaknya.

    Dalam hal ini, anak hamba sahaya dari tuannya berarti anak tersebut sederajat dengan tuannya. Pasalnya, harta seseorang akan jatuh ke anaknya.

    Ada juga pendapat lain, bahwa para hamba sahaya melahirkan raja-raja. Lalu, ibunya jadi pengasuhnya dan si anak jadi tuan atas ibunya dan tuan selain ibunya.

    Hal ini telah terjadi, di mana banyak hamba sahaya menjadi merdeka dengan milkul yamin (orang-orang yang pernah hidup bersama kaum muslimin dan disebut kaum budak).

    Secara syariat, anak-anak yang lahir dari hamba sahaya menjadi orang yang merdeka.

    Tanda Maraknya Praktik Perbudakan

    Dalam buku 6 Pilar Keimanan oleh Syaikh Nawawi, disebutkan bahwa ada berbagai pendapat yang menafsirkan salah satu tanda hari kiamat pada hadits sebelumnya.

    Menurutnya, hadits tersebut itu membahas perihal gambaran kekacauan pada akhir zaman. Kala itu, ramainya penjualan ibu hingga kerap terjadi pembelian ibu sendiri oleh anaknya.

    Pendapat lainnya datang dari Syarah An Nawawi ‘ala Muslim, yang menjelaskan bahwa secara bahasa, “al amah” dalam hadits tersebut berarti budak perempuan yang ditawan di medan perang.

    Sehingga, para ulama tersebut berpendapat bahwa kalimat hamba sahaya melahirkan tuannya sebagai tanda kiamat adalah sebagai tanda menjalarnya praktik perbudakan di masa mendatang. Sampai lahirlah anak-anak hasil dari hubungan antara budak dan tuan/majikannya.

    Maraknya penjualan ibu dan anak-anak di akhir zaman, sampai di antara para pembeli dibeli oleh putranya tanpa mengetahui bahwa dia adalah ibunya sendiri.

    Tafsir al-Azhar Jilid 3 karya Hamka, juga berpendapat bahwa ada kemungkinan hadits tersebut memiliki makna seorang petualang yang tanpa diketahui asal usulnya. Kemudian ia diadopsi oleh seorang budak.

    Namun, seiring berjalannya waktu, anak tersebut justru menjadi sombong. Terlebih setelah ia meraih kekuasaan.

    Arti Budak sebagai Kiasan

    Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menentang pendapat sebelumnya. Menurutnya, perbudakan sudah banyak terjadi dan budak perempuan yang melahirkan anak untuk majikannya sudah terjadi pada zaman Rasulullah SAW.

    Syeikh Mustofa Dib al-Bugha dan Syeikh Muhyiddin Mistu dalam Kitab al-Wafi fi Syarh al-Arba’in al-Nawawiyyah, mendukung pendapat tersebut. Hadits hamba sahaya melahirkan tuannya adalah bentuk kiasan dari banyaknya perbuatan durhaka pada orang tua.

    Akibat kedurhakaan kepada orang tua marak di anak-anak, sang anak pun memperlakukan ibunya dengan perlakuan tuan kepada hamba sahayanya. Mereka berani menghina dan memarahi ibunya sendiri.

    Perbuatan durhaka sebagai tanda kiamat dalam hal tersebut, digambarkan sampai seorang ibu atau bapak menjadi takut pada anaknya sendiri (layaknya hamba sahaya yang takut pada tuannya).

    (khq/inf)



    Sumber : www.detik.com