Category: Doa Hadits

  • 3 Doa Naik Kendaraan: Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Ada beberapa doa yang bisa dibaca sebelum bepergian menggunakan kendaraan. Doa ini ditujukan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar selamat selama perjalanan.

    Menjelang Idul Fitri, masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mudik atau pulang ke kampung halaman. Kebiasaan ini menjadi tradisi di kalangan para perantau.

    Perjalanan mudik ditempuh dengan berbagai cara, ada yang berkendara menggunakan moda transportasi darat, laut dan juga udara. Setiap perjalanan mudik Idul Fitri, tentu memiliki tujuan yang sama yakni agar bisa silaturahmi dengan orang tua ataupun sanak keluarga.


    Untuk memohon diberikan perjalanan yang lancar dan aman, seorang muslim bisa memanjatkan doa sebelum naik kendaraan. Berdoa menjadi sebuah anjuran yang bisa dikerjakan kapanpun.

    Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan orang yang sedang melakukan perjalanan. Orang-orang yang bepergian menjadi salah satu golongan yang doanya mustajab,

    روينا في كتب أبي داود والترمذي وابن ماجه عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن دعوة المظلوم، ودعوة المسافر، ودعوة الوالد على ولده

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Ada tiga doa mustajabah yang tidak disangsikan lagi, yaitu doa orang teraniaya, doa orang dalam perjalanan, dan doa orang tua untuk anaknya,” (HR Abu Dawud, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah).

    Doa Naik Kendaraan

    Merangkum buku Kumpulan Dzikir dan Doa Shahih: Tuntunan Hidup 24 Jam oleh Anshari Taslim dijelaskan bahwa Rasulullah SAW senantiasa membaca doa sebelum melakukan perjalanan dan berkendara.

    Di zaman Rasulullah SAW, kendaraan itu adalah kuda atau unta yang dimanfaatkan sebagai kendaraan darat. Ada pula kendaraan kapal sebagai moda transportasi air, baik di sungai maupun di laut.

    Berdoa ketika hendak naik kendaraan menjadi salah satu amalan sunnah. Berikut beberapa doa naik kendaraan yang bisa dilafalkan saat hendak melakukan perjalanan.

    1. Doa Naik Kendaraan Darat

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبَّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab Latin: Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamun qolibuun

    Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak akan mampu menguasainya, dan sungguh kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

    2. Doa Naik Kendaraan Laut

    بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا، إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

    Arab Latin: Bismillaahi majreehaa wa mursaahaa, inna robbii laghofuurur rohiim

    Artinya: “Dengan nama Allah, kami berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

    3. Doa Naik Kendaraan Udara

    اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِعَنَّابُعْدَهُ اَللّٰهُمَّ اَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِوَالْخَلِيْفَةُفِى الْاَهْلِ

    Arab Latin: Allaahumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa wathwi ‘annaa bu’dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl.

    Artinya: “Ya Allah, mudahkanlah kami bepergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam bepergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.”

    Bisa juga membaca doa berikut,

    للهُ أَكْبَر، اللهُ أكْبر، الله أكْبَر، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

    Arab latin: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibun, allahumma inna nas’aluka fii safarinaa hadzal birro wat taqwa wa minal ‘amal maa tardho, allahumma hawwin ‘alaina safarona hadza wa athwi ‘annaa bu’dahu, allahumma antash shohibu fis safari wal kholifatu fil ahli, allahumma inni a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabatil mandzhori wa suuil munqolibi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menundukkan (pesawat) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Allah lah kami kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai.

    Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.”

    Selain membaca doa naik kendaraan, usahakan juga untuk senantiasa melafalkan doa keselamatan dan memperbanyak dzikir.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Anjuran Mencari Lailatul Qadar pada Malam ke-27 Ramadan


    Jakarta

    Lailatul Qadar adalah malam yang istimewa pada bulan puasa karena keutamaan yang terdapat di dalamnya. Sejumlah hadits menyebut Lailatul Qadar terletak pada 10 malam terakhir Ramadan, spesifiknya malam 27.

    Hadits yang menyebut Lailatul Qadar terjadi pada malam 27 Ramadan berasal dari riwayat Ubay bin Ka’ab. Dikatakan dalam Shahih Muslim, Zirr bin Hubaisy RA mengatakan pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, “Saudaramu Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Barang siapa beribadah di malam hari sepanjang tahun, maka dia mendapat Lailatul Qadar’.”

    Kata Ubay bin Ka’ab, “Maka, maksud Ibnu Mas’ud adalah agar orang-orang tidak mengandalkan ibadah pada hari-hari tertentu saja. Sebenarnya Ibnu Mas’ud sudah tahu bahwa Lailatul Qadar itu adalah di bulan Ramadan pada 10 malam yang akhir, yaitu pada malam ke-27.” Kemudian Ubay bin Ka’ab bersumpah tanpa kata-kata pengecualian bahwa Lailatul Qadar itu ada pada malam ke-27.


    Lalu aku (Zirr bin Hubaisy RA) katakan, “Atas dasar apa kau katakan itu, hai Abul Mundzir (Ubay bin Ka’ab)?” Jawabnya, “Dengan adanya tanda yang telah diberitahukan kepada kami oleh Rasulullah, bahwa langit pada malam tersebut tampak cerah.” (HR Muslim 3/174)

    Ulama Syafi’iyah Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah-nya yang diterjemahkan Abu Aulia dan Abu Syauqina memaparkan sebuah hadits yang berisi anjuran Rasulullah SAW agar mencari Lailatul Qadar pada malam 27 Ramadan. Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ

    Artinya: “Siapa saja yang berupaya untuk mendapati Lailatul Qadar, hendaklah ia berupaya untuk mendapatinya pada malam ke-27.” (HR Ahmad dalam Musnad Ahmad)

    Ulama hadits Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Qiyam ar-Ramadhan yang diterjemahkan Khoeruddin Ulama juga mengatakan Lailatul Qadar terjadi pada malam 27 Ramadan berdasarkan riwayat yang paling kuat.

    Para ulama yang meyakini pendapat ini bersandar dengan hadits yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab. Ia berkata,

    “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya Lailatul Qadar itu berada dalam bulan Ramadan. Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui malam ke berapakah dia? Dia adalah malam yang kita diperintahkan untuk menghidupkannya, yaitu malam ke-27. Tandanya, matahari pada pagi harinya tampak putih tak bersinar.”

    Hadits tersebut dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih Muslim, Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, Ahmad dalam Musnad Ahmad, dan At Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi. Adapun, Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

    Pendapat Para Sahabat tentang Malam Lailatul Qadar

    Imam Baihaqi dalam Kitab Fadha ‘Ilul Quqat yang diterjemahkan Muflih Kamil mengeluarkan riwayat tentang pendapat para sahabat mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadar. Ibnu Abbas RA berkata,

    “Umar RA memanggil para sahabat Rasulullah SAW dan bertanya kepada mereka tentang malam Lailatul Qadar. Mereka sepakat bahwa Lailatul Qadar itu ada di 10 terakhir Ramadan. Aku berkata kepada Umar, ‘Sungguh aku mengetahui pada malam ke berapa Lailatul Qadar itu.’

    Umar berkata, ‘Pada malam ke berapa?’ Aku berkata, ‘Pada tujuh malam pertama atau tujuh malam terakhir dari sepuluh malam terakhir Ramadan.’

    Ia berkata, ‘Bagaimana engkau mengetahuinya?’ Aku menjawab, ‘Allah SWT telah menciptakan tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, tujuh tujuh hari, masa berulang tujuh kali, manusia makan dan sujud dengan tujuh anggota tubuh, tawaf tujuh putaran dan jumrah tujuh kali.’ Umar berkata, ‘Sungguh engkau mengetahui apa yang tidak kami ketahui’.”

    Pendapat Para Ulama tentang Terjadinya Lailatul Qadar

    Para ulama berbeda pendapat terkait waktu terjadinya Lailatul Qadar. Selain pendapat yang menyebut terjadi pada malam 27, sebagian ulama menyebut Lailatul Qadar jatuh pada malam 21, 23, 25, atau 29. Sebab, Rasulullah SAW bersabda,

    تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

    Artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam Mukhtashar Shahih Muslim yang disusun Al Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-‘Azhimn Al-Mundziri dan diterjemahkan Syinqithi Djamaluddin dan H.M. Mochtar Zoerni, terdapat hadits yang menyebut anjuran Rasulullah SAW agar mencari Lailatul Qadar pada 10 malam terakhir Ramadan. Diriwayatkan dari Ibn Umar RA, Rasulullah SAW bersabda,

    الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، يَعْنَى لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجْزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبع البواقي

    Artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam terakhir. Kalau kamu tidak mampu, jangan tertinggal tujuh malam terakhirnya.”

    Rasulullah Sempat akan Sampaikan Waktu Lailatul Qadar

    Rasulullah SAW mulanya sempat akan memberitahukan kapan terjadinya Lailatul Qadar. Hal ini diceritakan dalam riwayat Abu Sa’id Al Khudri RA yang terdapat dalam Shahih Muslim. Ia berkata, “Rasulullah SAW pernah beriktikaf pada 10 malam pertengahan bulan Ramadan untuk mencari Lailatul Qadar sebelum dijelaskan kepada beliau.”

    Kata Abu Sa’id, “Setelah 10 malam pertengahan itu berlalu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk dibuatkan bilik, tetapi kemudian dibongkar. Kemudian dijelaskan kepada beliau bahwa malam Lailatul Qadar ada pada 10 malam terakhir di bulan Ramadan, lalu beliau memerintahkan untuk dibuatkan bilik lagi, akan tetapi dibongkar kembali.”

    Kemudian beliau keluar menemui orang-orang dan berkata, ‘Saudara-saudara! Sungguh telah dijelaskan kepadaku tentang Lailatul Qadar, dan aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang hal itu. Namun datang dua orang yang sama-sama mengaku benar sedangkan mereka ditemani setan. Sehingga Lailatul Qadar terlupakan olehku. Maka carilah Lailatul Qadar pada 10 malam terakhir di bulan Ramadan, carilah Lailatul Qadar pada malam ke-9, ke-7, dan ke-5 (dalam 10 malam terakhir itu).’

    Seseorang berkata, ‘Hai Abu Sa’id! Kamu tentu lebih mengetahui bilangan itu daripada kami.’ Ia menjawab, ‘Tentu kami lebih mengetahui tentang hal itu daripada kalian.’

    Orang itu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan malam ke-9, ke-7, dan ke-5?’ Ia menjawab, ‘Jika malam ke-21 telah lewat, maka yang berikutnya adalah malam ke-22 dan itulah yang dimaksud malam ke-9. Apabila malam ke-23 telah berlalu, maka berikutnya adalah malam ke-7, jika malam ke-25 telah berlalu, maka berikutnya adalah malam ke-5’.” (HR Muslim 3/173)

    Wallahu a’lam.

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Malam Lailatul Qadar Sesuai Sunnah Rasulullah


    Jakarta

    Salah satu malam istimewa yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya memperbanyak doa malam Lailatul Qadar.

    Anjuran membaca doa malam Lailatul Qadar bersandar pada hadits yang terdapat dalam kitab At-Tirmidzi, kitab An-Nasa’i, dan kitab Ibnu Majah. Imam At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih.

    Dalam riwayat tersebut diceritakan, Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?”


    Rasulullah SAW menjawab, “Ucapkanlah: ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah daku.” (HR Ibnu Majah)

    Berikut bacaan doa malam Lailatul Qadar yang dimaksud dalam hadits di atas.

    Doa Malam Lailatul Qadar Arab, Latin dan Artinya

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni. Karena itu, ampunilah aku.”

    Hadits yang memuat doa malam Lailatul Qadar tersebut dinukil Imam an-Nawawi dalam kitab Al Adzkar sebagaimana diterjemahkan Ulin Nuha.

    Para ulama mazhab berpendapat dianjurkan memperbanyak doa ini pada malam Lailatul Qadar. Selain itu, umat Islam dianjurkan membaca Al-Qur’an, semua zikir, dan doa-doa yang dianjurkan dalam tempat-tempat yang suci dan terhormat.

    Keutamaan Malam Lailatul Qadar

    Lailatul Qadar adalah satu malam yang memiliki keutamaan yang tidak terdapat pada malam-malam lainnya. Disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al Qadr, malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman,

    اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ ٥

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5)

    Dijelaskan dalam buku Mukjizat Lailatul Qadar Menemukan Berkah pada Malam Seribu Bulan ditulis oleh Arif M. Riswanto Lailatul Qadar terdiri dari dua kata lailah dan al-qadar.

    Lailah artinya malam atau waktu yang terbentang sepanjang tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Sedangkan Al-qadar berarti ukuran, penghormatan, takdir, sempit yang melapangkan, kekuatan, menyempurnakan, dan mempersiapkan.

    Dikatakan, pada malam Lailatul Qadar malaikat turun untuk menuliskan takdir untuk tahun berikutnya. Sebab itulah umat Islam dianjurkan membaca doa-doa, memohon supaya Allah SWT menuliskan takdir yang baik.

    Qadar berarti kemuliaan, keagungan. Sebab pada malam itu terjadi 3 peristiwa mulia, yaitu: turun kitab suci Al-Qur’an, Al-Qur’an turun kepada mulia Nabi Muhammad SAW, dan kemuliaan juga bagi mereka yang menghidupkan malam Lailatul Qadar.

    Waktu Malam Lailatul Qadar

    Sejumlah hadits menyebut malam Lailatul Qadar terletak pada malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

    تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

    Artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam Shahih Muslim juga terdapat hadits serupa yang diriwayatkan dari

    Ibn Umar RA, Rasulullah SAW bersabda,

    الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، يَعْنَى لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجْزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبع البواقي

    Artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam terakhir. Kalau kamu tidak mampu, jangan tertinggal tujuh malam terakhirnya.”

    Meski demikian, hanya Allah SWT yang mengetahui kapan jatuhnya malam Lailatul Qadar. Rasulullah SAW sendiri menganjurkan untuk memperbanyak ibadah pada waktu-waktu tersebut.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa di Kampung Halaman, Dibaca Sebagai Ucapan Syukur


    Jakarta

    Bagi para perantau, melihat kampung halaman dan sanak keluarga adalah kebahagiaan yang tak terbendung. Sebagai ungkapan syukur, seorang muslim bisa mengamalkan doa.

    Idul Fitri menjadi momen untuk kumpul keluarga di kampung halaman. Saling berkunjung untuk silaturahmi seolah menjadi tradisi yang sudah mendarah daging.

    Kebahagiaan Hari Raya harus diungkapkan dengan syukur karena semua terjadi atas kehendak dan nikmat dari Allah SWT. Oleh karenanya seorang muslim dianjurkan untuk berdoa saat tiba di kampung halaman sebagai bentuk ucapan syukur.


    Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur. Dengan syukur, Allah SWT akan tambahkan nikmatnya.

    Allah SWT berfirman,

    وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

    Dalam hadits dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba kemudian ia mengatakan, ‘Alhamdulillah’ melainkan apa yang ia berikan itu lebih baik daripada yang ia ambil.” (HR Ibnu Majah)

    Doa ketika Tiba di Kampung Halaman

    Ungkapan syukur bisa dipanjatkan ketika tiba dengan selamat di kampung halaman.

    Mengutip buku Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu: Panduan Doa dan Ibadah oleh Freddy Rangkuti dan Siti Haniah menjelaskan, sesampainya di kampung halaman, seorang muslim dianjurkan melaksanakan salat sunah 2 rakaat sebagai tanda syukur telah kembali dengan selamat. Salat ini disunnahkan untuk didirikan di masjid yang berada di dekat rumah.

    Setelah selesai salat 2 rakaat, hendaklah mengucapkan doa.

    Doa ini diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat agar kampung halaman itu memberikan keberkahan bagi penduduknya. Berikut bacaan doa Rasulullah SAW ketika melihat kampung halaman.

    Doa ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar.

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا

    Arab Latin: Allâhummaj’al lanâ bihâ qarârâ, wa rizqan hasanâ

    Artinya, “Tuhanku, jadikan kampung ini tempat tinggal kami dan jadikan desa ini sebagai rezeki yang baik.”

    Kemudian bisa dilanjutkan dengan doa berikut z sebagaimana dijelaskan dalam buku Doa & Dzikir Umrah Amisya: Kumpulan Doa dan Dzikir Ibadah Umrah,

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَصَرَنِي بِقَضَاءِ نُسُكِي وَحَفَظَنِيْ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ حَتَّى أعُوْدَ إِلَى أَهْلِ . اَللهُمَّ بَارِكْ فِي حَيَاتِي بَعْدَ الْعُمْرَةِ وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ.

    Arab latin: Alhamdulillaahil ladzzii nasharanii bi qadhaa’I nusukii wa hafadzanii min wa’tsaa’is safari hattaa a’uuda ilaa ahlii. Allaahummaa baarik fii hayaatii ba’dal umrati waj’alnii minash shaalihiin

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku untuk melaksanakan ibadah dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian sehingga aku dapat kembali lagi. Ya Allah, berkatilah dalam hidupku setelah melaksanakan umrah dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang saleh.”

    Umat Islam juga dianjurkan untuk membaca doa begitu mulai memasuki kampung halaman. Mengutip Kitab Al-Fiqhu al-Islamiyyuu wa Adilatuhu karya Wahbah az-Zuhaili doa ketika melihat perbatasan kampung halaman,

    باسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ أهلها وَخَيْرَ ما فِيها وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ أهلها وَشَرّ مَا فِيهَا

    Arab Latin: Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a’ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon Engkau memberiku kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa saja yang ada di dalamnya; dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan negeri ini, kejahatan penduduknya, serta kejahatan apa pun yang ada di dalamnya.”

    Demikian beberapa bacaan doa yang bisa dipanjatkan ketika tiba di kampung halaman. Semoga nikmat Allah SWT tercurah kepada seluruh hamba-Nya.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Keluar Rumah, Bepergian dan Naik Kendaraan untuk Pemudik



    Jakarta

    Doa adalah penghubung antara hamba dan Allah SWT. Karena dalam doa terdapat harapan, keinginan dan tujuan supaya dikabulkan. Dalam kondisi apapun sebaiknya berdoa, misalnya seperti sekarang musim mudik, sebelum keluar rumah dan melakukan perjalanan alangkah baiknya terlebih dahulu berdoa.

    Jangan pernah remehkan doa, sebab doa adalah senjata bagi umat Islam. Allah SWT juga berfirman mengenai doa ini.

    Surah Gafir Ayat 60 :


    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ ٦٠

    Artinya:Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Berikut ini doa keluar rumah, bepergian dan naik kendaraan:

    Doa Keluar Rumah

    Dari buku 24 Jam Hidup Dengan Doa dan Amal Harian Rasulullah karya Abu Bakar bin As Sina terdapat tiga doa keluar rumah.

    Doa Pertama:

    Abu’Abdurrahman memberitahukan kepada kami, Mahmud bin Ghailan memberitahukan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Manshur, dari Asy-Sya’bi, dari Ummi Salamah r.a. bahwasanya apabila Nabi Saw. keluar rumah, maka beliau berdoa:

    بسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نَزِلَ أَوْ نُزَلَ أَوْ نَظْلِمَ أَوْ نظْلَمَ أَوْ تَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيْنَا

    Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari diserang atau menyerang, dizalimi atau menzalimi, dan diolok-olok atau mengolok-olok.”

    Doa Kedua:

    Abu Khalifah menceritakan kepada kami, Ya’la bin Muhammad Ash-Shalut An-Nuri memberitahukan kepada kami, Hatim bin Isma’il memberitahukan kepada kami dari ‘Abdullah bin Husain, dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya apabila Nabi Saw. keluar dari rumahnya, maka beliau berdoa:

    بسمِ اللهِ التَّلَانِ عَلَى اللَّهِ لَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Artinya: “Dengan nama Allah, kami berserah diri kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah.”

    Doa Ketiga:

    Abu ‘Arubah memberitahukan kepada kami, Al-Musayyab bin Wadhih menceritakan kepada kami, Hajaj bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Ishak bin ‘Abdullah bin Abi Thalhah, dari Anas bin Malik, dia berkata:

    Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu hendak keluar dari rumahnya, maka berdoalah:

    بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Artinya: Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah. Maka pada saat itu dikatakan, ‘Kamu dijaga, ditunjukkan, dan dipenuhi.’ Nabi bersabda: Maka setan pun menjauhinya. Lalu setan itu bertemu dengan setan lain dan berkata, ‘Bagaimana mungkin kamu dapat menggoda orang yang telah dijaga, di cukupi, dan ditunjukkan?.”

    Doa Keselamatan

    Dari buku 101 Doa Anak Saleh karya Tim Darul Ilmi terdapat doa keselamatan, doa naik kendaraan, dan doa bepergian.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَائَةِ الْأَعْدَاءِ

    Arab-Latin: Alloohumma innii a’uudzu bika min jahdil balaa-i wa darkisy syaqoo-i wa suu-il qodoo-i wa syamaatatil a’daa-i.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kengerian musibah, menemui kesengsaraan, qadha yang buruk dan merasa senangnya musuh.”

    Doa Naik Kendaraan Laut

    بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Arab-Latin: Bismillaahi majraahaa wa mursaahaa inna robbii laghofuurur rohiim.

    Artinya: “Dengan nama Allah, yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh, sesungguhnya Tuhanku Pemaaf lagi Pengasih.” (Imam Nawawi, Al-Adzkar, hal: 190)

    Doa Naik Kendaraan Darat

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هُذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لمُنقَلِبُونَ .

    Arab-Latin: Subhaanal ladzii sakh-khoro lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun.

    Artinya: “Mahasuci Tuhan yang memudahkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan kepada Allah kami kembali.” (Sunan Abu Daud, Al-Jihad: 2235. Sunan At-Tirmidzi, Ad-Da’awat ‘an Rasulillah: 3368)

    Doa Ketika Bepergian

    أمِنْتُ بِاللهِ اعْتَصَمْتُ بِاللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ الا بالله .

    Arab-Latin: Aamantu billaahi, i’tashomtu billaahi, tawakkaltu ‘alalloohi walaa haula wa laa quwwata illaa billaah.

    Artinya: “Aku beriman kepada Allah, berlindung kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya (pula). Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.” (Sunan Tirmidzi, Ad-Da’awat ‘an Rasulillah: 3348)

    Doa Ketika Singgah di Suatu Tempat

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

    Arab-Latin: Alloohumma innii a’uudzu bikalimaatillaahit taammaati min syarri maa kholaq.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kalimat- kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala apa yang terjadi.”

    Doa Setelah Sampai di Tujuan

    الْحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي سَلَّمَنِي وَالَّذِي آفَانِي وَالَّذِي جَمَعَ الشَّمْلَ بِي.

    Arab-Latin: Alhamdulillaahil ladzi sallamanii walladzii aawaanii wal ladzii jama’asy syamla bii.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menyelamatkan aku dan yang telah melindungiku dan yang mengumpulkan ku dengan keluargaku.”

    Demikian doa keluar rumah, doa bepergian, dan doa naik kendaraan. Untuk mendapatkan perlindungan Allah SWT perbanyaklah berdoa.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Mohon Rezeki Jelang Hari Raya yang Dipanjatkan Nabi Isa


    Jakarta

    Rezeki seorang manusia sudah diatur oleh Allah SWT. Meski demikian, muslim tetap harus memanjatkan doa meminta rezeki kepada-Nya, salah satunya pada momen jelang hari raya.

    Rezeki tersebut bukan hanya dalam bentuk harta benda semata melainkan juga kesehatan, nikmat iman, hingga keluarga yang harmonis termasuk ke dalam rezeki yang Allah SWT berikan.

    Irwan Kurniawan dalam buku Mengetuk Pintu Rezeki menjelaskan, rezeki itu tidak datang sendiri melainkan harus dijemput. Ada salah satu doa memohon rezeki yang dibaca oleh Nabi Isa AS menjelang hari raya.


    Mengutip buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki karya Sulaeman bin Muhammad Bahri doa ini termuat dalam surah Al Maidah ayat 114.

    Doa Memohon Rezeki Jelang Idul Fitri oleh Nabi Isa

    قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً مِّنكَ ۖ وَٱرْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

    Qāla ‘īsabnu maryamallāhumma rabbanā anzil ‘alainā mā`idatam minas-samā`i takụnu lanā ‘īdal li`awwalinā wa ākhirinā wa āyatam mingka warzuqnā wa anta khairur-rāziqīn

    Artinya: Isa putra Maryam berdoa, “Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu. Berilah kami rezeki. Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”

    Menurut Tafsir Tahlili Kementerian Agama (Kemenag) RI, Nabi Isa AS memanjatkan doa tersebut agar Allah SWT menurunkan hidangan dari langit untuk ia dan kaum Hawariyyun. Hidangan pun turun dari langit dan menjadi hari raya bagi mereka dan generasi yang akan datang seperti Nabi Isa AS harapkan.

    Nabi Isa AS lantas mengakhiri doanya dengan ucapan, “Berilah kami rezeki, karena Engkau adalah Pemberi Rezeki yang paling utama,”. Turunnya hidangan di hari raya itu menjadi hari untuk mereka mengenang rahmat dan mengagungkan kebesaran Allah SWT.

    Hukum Mengamalkan Doa Mohon Rezeki Jelang Hari Raya

    Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang dikutip dari laman resminya, muslim diperbolehkan membaca ayat tersebut dalam bentuk doa asalkan permohonan yang dimaksud untuk mendapat berkah dari Allah bukan untuk meminta hidangan dari langit.

    Sebab, turunnya hidangan itu termasuk bentuk mukjizat Nabi Isa AS yang diberikan oleh Allah SWT. Kala itu, kaum Hawariyyun meminta bukti nyata mukjizat kepada Nabi Isa AS apakah ia merupakan rasul Allah SWT yang sesungguhnya.

    Keutamaan Doa Mohon Rezeki Jelang Hari Raya

    Dikutip dari buku Mukjizat Doa-doa yang Terbukti Dikabulkan Allah karya Yoli Hemdi, dijelaskan jika musim membaca doa tersebut niscaya dapat membebaskan diri dari bencana kelaparan, melepaskan diri dari krisis ekonomi ataupun membuka pintu rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka.

    Adapun doa tersebut dapat dibaca kala muslim sedang dalam kondisi dilanda kelaparan sementara bahan pangan yang bisa diperoleh tidak ada, ketika krisis ekonomi terasa berat melilit kehidupan. Bahkan doa tersebut dapat diamalkan, apabila rezeki yang diterima terasa kurang dari kebutuhan dan kalau ditambah Allah SWT akan membuka kesempatan kita untuk beramal baik.

    Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Akhir Ramadan Shahih yang Diajarkan Rasulullah SAW


    Jakarta

    Ada doa akhir Ramadan shahih yang diajarkan Rasulullah SAW menjelang masuknya bulan Syawal. Doa tersebut berisikan permohonan dan pengampunan pada Allah SWT.

    Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan terdapat banyak sekali kemuliaan, sehingga Rasulullah SAW pun menganjurkan kita untuk banyak beribadah dan berdoa.

    Dikutip dari buku 100 Hujjah Aswaja Yang Dituduh Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir oleh Ma’ruf Khozin, keutamaan terbesar bulan Ramadan tidak terdapat di awal-awal bulan Ramadan, namun di akhir. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Aisyah RA yang berbunyi,

    “Jika Nabi SAW telah masuk ke 10 terakhir Ramadan maka Nabi mengencangkan ikat sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari)


    Selain itu, pada hari-hari terakhir Ramadan, terdapat malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kemuliaan yang selalu dinanti oleh setiap muslim yang beriman.

    Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Menurut buku Itikaf Penting dan Perlu karya Ahmad Abdurrazaq Al-Kubaisi, anjuran tersebut disampaikan pada sebuah hadits. Rasulullah SAW bersabda,

    “Carilah Lailatul Qadar itu pada tanggal ganjil dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadan.” (HR Bukhari)

    Setelah sebulan penuh puasa Ramadan dan mendapatkan malam Lailatul Qadar, Rasulullah SAW menganjurkan muslim mengamalkan salam perpisahan dengan bulan Ramadan dengan membaca doa berikut.

    Doa Akhir Ramadan Sesuai Sunah dari Rasulullah SAW

    Doa akhir Ramadan dapat dibaca seperti yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA dari Muhammad al Mustafa,

    “Beliau bersabda, ‘Siapa yang membaca doa ini pada hari terakhir Ramadan, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan di antaranya menjumpai Ramadan mendatang atau pengampunan dan rahmat Allah’.”

    Berikut bacaan doa akhir Ramadan yang dimaksud hadits tersebut.

    اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْع لْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

    Allahuma laa taj’alhu aakhiril’ahdi min shiyaminaa iyyaahu, fain ja’altahu faj’alnii marhuuman walaa taj’alnii mahruuman.

    Artinya: Ya Allah, janganlah Kau jadikan puasa ini yang terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikan sebaliknya (sebagai puasa terakhir), jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku sebagai orang yang Engkau jauhi.

    Dinukil dari buku Mafatih Al Jinan Jilid 2 (Kunci-kunci Surga edisi Indonesia) karya Syekh Abbas Al Qummi, terdapat riwayat lain mengenai bacaan doa perpisahan bulan Ramadan yang dapat dibaca di akhir Ramadan.

    Sayyid Ibnu Tawis meriwayatkan dari Imam Shadiq bahwa barang siapa yang mengucapkan salam perpisahan dengan bulan Ramadan seraya membaca doa berikut yang artinya, “Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan ini sebagai masa terakhirku untuk berpuasa dalam bulan Ramadan dan aku berlindung kepada-Mu supaya fajar malam ini terbit kecuali Engkau telah mengampuniku.”

    Doa tersebut dipanjatkan agar Allah SWT akan mengampuninya sebelum pagi tiba dan ia akan menganugerahkan kepadanya tobat dan kembali ke haribaan-Nya.

    Amalan Hari Terakhir Bulan Ramadan

    Masih merujuk pada buku yang sama, selain membaca doa di atas, ada beberapa amalan yang dapat dilakukan pada malam akhir Ramadan seperti berikut.

    1. Mandi

    2. Membaca surah Al-An’am, Al- Kahfi, Yasin dan bacaan “Astagfirullah waatubuilaih” sebanyak 100x

    3. Lalu, membaca doa yang dinukil oleh Syekah Kulaini RA dari Imam Ja’far Shadiq berikut bacaan doanya:

    اللهُمَّ هَذَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أَنزَلْتَ فِيهِ الْقُرْآنَ وَقَدْ تَصَرَّمَ وَأَعُوذُ بِوَجْهِكَ الكَرِيمِ يَا رَبِّ أَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ مِنْ لَيْلَتِيْ هَذِهِ أَوْ يَتَصَرَّمَشَهْرُرَمَضَانَ وَ لَكَ قِبَلِي تَبِعَةُ أَوْ ذَنْبُ تُرِيدُ أَنْ تُعَذِّبَنِي بِهِ يَوْمَ أَلْقَاكَ

    Allahumma hadzaa syahru ramadhaanaladzii anzalta fiihil quraana wa qadtasharrma wa a’udzubiwajhikalkariimi yaa rabbi anyathlu’al fajru min laylatii hadzihi auyatasharrama syahru ramadhan wa laka qibalii tabi’atun aw dzanbun turiidu an tu’adzibanii bihi yauma alqaaka

    Artinya: Ya Allah, ini adalah bulan Ramadan yang Engkau telah menurunkan Al-Qur’an di dalamnya dan ia telah berlalu. Aku berlindung kepada Zat-Mu yang Mulia, ya Rabbi supaya fajar malamku ini tidak terbit atau bulan Ramadan ini berlalu sedangkan aku masih memiliki tanggungan untuk-Mu atau dosa yang dengannya Engkau akan menyiksa pada hari aku berjumpa dengan-Mu.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Ziarah Kubur Hari Raya Idul Fitri untuk Orang Tua


    Jakarta

    Salah satu tradisi Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri yang dilakukan umat Islam di Indonesia adalah ziarah kubur. Sembari berziarah, umat Islam dianjurkan membaca doa ziarah kubur.

    Selain bersilaturahmi dan berkumpul dengan sanak saudara, hari Raya Idul Fitri banyak dijadikan umat Islam yang tinggal jauh dari tempat asal sebagai kesempatan untuk melakukan ziarah kubur.

    Hukum Ziarah Kubur saat Hari Raya Idul Fitri

    Mengutip buku Gaya Selingkung Beda Mazhab karya Mukhlis Lubis, ziarah kubur di bulan Ramadan ataupun di Hari Raya Idul Fitri telah menjadi tradisi. Perlu dipahami bahwa tidak ada perintah yang menganjurkannya secara eksplisit, tetapi tidak ada pula dalil yang melarangnya.


    Adapun hukum ziarah kubur bagi laki-laki adalah sunah atau dianjurkan, seperti dijelaskan Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dalam Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq.

    Hal tersebut bersandar pada hadits. Diriwayatkan dari Abdulah bin Buraidah, Rasulullah SAW bersabda,

    “Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, (adapun sekarang) berziarahlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur itu dapat mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR Muslim dan Ashabus Sunan)

    Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hukum ziarah kubur bagi wanita. Imam Malik dan sebagian pengikut mazhab Hanafi membolehkan ziarah kubur bagi wanita.

    Terdapat pula riwayat dari Ahmad dan mayoritas ulama mengenai ziarah kubur bagi wanita, berdasarkan hadits Aisyah RA ketika beliau bertanya pada Rasulullah SAW, “Bagaimana aku mengatakan kepadanya (penghuni kubur), wahai Rasulullah?”

    Dari hadits tersebut, jika Aisyah RA bertanya mengenai ucapan saat ziarah kubur, berarti beliau (sebagai wanita) diperbolehkan ziarah kubur.

    Adapun ulama yang memakruhkan ziarah kubur bagi wanita berpendapat wanita biasanya kurang sabar dan gampang sedih. Ini bersandar pada sabda Rasulullah SAW, “Allah melaknat para wanita yang suka berziarah kubur.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

    Doa Ziarah Kubur untuk Orang Tua

    Menukil kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi yang diterjemahkan oleh Ulin Nuha, berikut beberapa doa ziarah kubur yang dapat dipanjatkan.

    Doa Ziarah Kubur Riwayat Muslim

    Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Aisyah RA, ia berkata, “Jika pada malam gilirannya bersama, Rasulullah SAW keluar pada akhir malam menuju Baqi’ dan berkata,

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُوْنَ، وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

    Assalaamu ‘alaikum daara qaumin mu’miniina wa ataakum maa tuu’aduuna ghadan muajjaluuna wa innaa in syaa allaahu bikum laa-hiquun, Allaahummagh fir liahli baqii’il gharqad.

    Artinya: “Keselamatan semoga atas kalian wahai kaum Mukminin, telah datang apa yang telah dijanjikan kepada kalian. Esok nasib kalian telah ditentukan. Sesungguhnya kami apabila Allah menghendaki akan bertemu dengan kalian. Ya Allah, ampunilah penghuni Baqi’ul Ghardaq.”

    Doa Ziarah Kubur dalam Shahih Muslim

    Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim, sungguh dia mengatakan, “Ya Rasulullah, yaitu ketika ziarah kubur.” Beliau bersabda, “Bacalah,

    السَّلامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

    Assalaamu ‘alaa ahlid diyaar minal mu’miniina wal muslimiin wa yarhamul laahul mustaqdimiin minkum wa minnaa wal musta’khiriina. Wa innaa in syaa allaahu bikum laahiquun.

    Artinya: “Keselamatan semoga atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin, semoga Allah merahmati orang-orang yang terdahulu kalian dan juga kepada kami yang akan datang berikutnya, dan kami jika Allah berkehendak akan bertemu dengan kalian.”

    Doa Ziarah Kubur Riwayat At Tirmidzi

    Telah diriwayatkan dalam kitab At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, “Rasulullah SAW melewati pekuburan penduduk Madinah, kemudian beliau menghadapkan mukanya dan mengucap,

    السَّلامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ القُبُورِ، يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ أَنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ

    Assalaamu’alaukum yaa ahlal qubuur, yaghfirullaahu lanaa wala-kum antum salafunaa wanahnu bil atsar.

    Artinya: “Keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian. Kalian adalah terdahulu kami dan kami akan menyusul.”

    Doa Ziarah Kubur Riwayat Muslim

    Imam Muslim mengeluarkan hadits dengan redaksi yang lebih panjang tentang bacaan doa ziarah kubur. Berikut lafaznya.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ

    وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

    Allahummaghfìrlahu war hamhu wa ‘aafìhìì wa’fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì’ madholahu, waghsìlhu bìl maa’ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì

    Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì

    Artinya : “Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.

    Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR Muslim)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Larangan Puasa 1 Syawal, Ini Dalil Hadits dan Alasannya


    Jakarta

    Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal adalah satu dari dua hari raya umat Islam. Rasulullah SAW melarang puasa pada hari tersebut.

    Larangan puasa 1 Syawal disebutkan dalam sejumlah hadits sebagaimana dikeluarkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya. Salah satunya dari Abu ‘Ubaid. Saat itu, ia mengikuti salat Id bersama Umar bin Khaththab RA lalu dia berkata,

    هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَالْيَوْمُ الْآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ.


    Artinya: “Dua hari ini hari yang dilarang Rasulullah untuk berpuasa, yaitu Hari Raya Idul Fitri setelah kalian berpuasa (Ramadan) dan hari raya lain setelah manasik kalian.”

    Dalam redaksi lain dikatakan, Umat salat sebelum khotbah. Kemudian dia berkhotbah di hadapan manusia dengan menyatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang kalian berpuasa di dua hari raya ini. Yang pertama hari kalian berbuka (1 Syawal) setelah berpuasa (Ramadan). Sedangkan hari berikutnya adalah hari kalian memakan daging kurban kalian.”

    Abu Said Al-Khudri turut meriwayatkan hal serupa. Ia berkata,

    عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا صَوْمَ فِي يَوْمَيْنِ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى.

    Artinya: “Rasulullah bersabda, ‘..dan tidak patut berpuasa pada dua hari tertentu, yakni Hari Idul Fitri dan Hari Adha’.”

    Larangan puasa 1 Syawal juga disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Umar yang berbunyi,

    عَنْ زِيَادِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقَالَ رَجُلٌ نَذَرَ أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَالَ أَظُنُّهُ قَالَ الاِثْنَيْنِ فَوَافَقَ ذَلِكَ يَوْمَ عِيدٍ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ أَمَرَ اللَّهُ بِوَفَاءِ النَّذْرِ وَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ.

    Artinya: “Ziyad bin Jubair berkata, ‘Seorang laki-laki datang kepada Ibnu Umar dan mengatakan bahwa dirinya pernah bernazar untuk berpuasa pada suatu hari.’ Ziyad bin Jubair berkata, ‘Aku mengira dia berkata hari Senin, ternyata hari Id.’ Ibnu Umar berkata, ‘Allah memerintahkan untuk menepati nadzar, dan Rasulullah SAW melarang puasa pada hari ini’.”

    Hadits-hadits tersebut dihimpun dalam kitab Al-Lu’lu’ Wal Marjan, kitab kumpulan hadits shahih dari kitab Shahih Bukhari dan Muslim.

    Dijelaskan dalam Fiqh Puasa Wajib dan Sunnah (Syarh Kitabus Shiyaam min Bulughil Maram) karya Abu Utsman Kharisman, para ulama sepakat puasa pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha itu adalah terlarang. Para ulama menghukumi puasa pada dua hari raya haram, baik itu puasa wajib maupun sunah.

    Alasan Larangan Puasa 1 Syawal

    Ulama Syafi’iyyah Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh Sunnah yang diterjemahkan Abu Aulia dan Abu Syauqina menjelaskan, alasan larangan puasa 1 Syawal sebab Hari Raya Idul Fitri adalah hari untuk berbuka setelah sebelumnya berpuasa Ramadan.

    Hal itu bersandar pada perkataan Umar RA, “Rasulullah SAW melarang puasa pada dua hari ini (Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha). Sebab, Hari Raya Idul Fitri merupakan hari di mana kalian harus berbuka setelah puasa, sedangkan Hari Raya Idul Adha agar kalian memakan hasil ibadah kurban.” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan an-Nasa’i)

    Jadwal 1 Syawal 1445 H/2024 M

    Pemerintah RI menetapkan 1 Syawal 1445 H/2024 M jatuh pada Rabu, 10 April 2024. Ketetapan ini diputuskan dalam sidang isbat penetapan awal Syawal yang digelar pada Selasa (9/4/2024) kemarin petang.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa untuk Orang Meninggal dan Keutamaan yang Terkandung



    Jakarta

    Doa untuk orang meninggal adalah amalan sunnah Rasulullah SAW. Bacaan ini dipanjatkan kepada sesama muslim yang wafat, baik keluarga maupun kerabat.

    Mengutip Buku Induk Doa dan Zikir oleh Imam Nawawi yang diterjemahkan Abu Firly Bassam Taqiy, doa untuk seseorang yang meninggal unia bertujuan agar Allah SWT mempermudah jalan mereka menuju akhirat dan mendapat ampunan atas dosa-dosanya. Mereka yang bertakziah dan mendoakan saudaranya akan diganjar pahala.

    Pada dasarnya, takziah atau berbelasungkawa artinya menasihati untuk sabar dan menceritakan hal-hal yang menghibur hati orang yang ditinggal mati serta meringankan kesedihannya. Nabi SAW bersabda,


    “Barangsiapa yang berbelasungkawa kepada wanita yang ditinggal mati anaknya, kelak dia diberi pakaian burdah di dalam surga.” (Imam Tirmidzi)

    Diriwayatkan dari Abu Musa RA dalam hadits At-Tirmidzi, umat Islam dianjurkan mengucap istirja saat seseorang meninggal dunia. Kalimat istirja itu berbunyi sebagai berikut,

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

    Arab latin: Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun

    Artinya: “Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.”

    Lantas, apa doa untuk orang meninggal yang bisa dipanjatkan?

    Doa untuk Orang Meninggal

    Merujuk pada sumber yang sama, berikut sejumlah doa yang bisa dipanjatkan ketika ada seseorang yang meninggal.

    1. Doa untuk Orang Meninggal Versi Pertama

    Doa untuk orang meninggal versi pertama ini bisa dipanjatkan ketika mendengar kabar duka. Berikut bacaannya,

    إنَّا ِللهِ وإنَّا إلَيْهِ رَاجِعُوْن وَإِنَّا إليَ رَبِّنِا َلمُنْقَلِبُون الَلهُمَّ اكْتُبْهُ عِنْدَكَ ِفي اُلمحِسنِينِ وِاجْعَلْ ِكتابَهُ ِفي ِعلّيِّين وَاْخلُفْهُ في أَهْلِهِ في الغَابِرين وَلا تحَرِْمْنا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ

    Arab latin: Innalillahi wa inna ilahi raji’un, wa inna ila rabbina lamunqalibun, allahummaktubhu indaka fil muhsinin, waj’al kitabahu fi’illiyyin, wakhlufhu fi ahlihi fil ghabirin, wa la tahrimnaa ajrahu wala taftinna ba’dahu.

    Artinya: “Sesungguhnya kamu milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami kembali. Ya Allah, tuliskan-lah ia di sisi-Mu termasuk golongan orang-orang yang baik. Jadikan-ah catatannya di illiyyin. Ganti-lah ia di keluarganya dari orang-orang yang meninggalkan. Jangan-lah Engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya.”

    2. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kedua

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ القُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ، أَنْتُمْ سَلَفْنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ

    Arab latin: Assalaamu ‘alaikum yaa ahlal qubuur yaghfirullaahu lanaa wa lakum antum salafnaa wa nahnu bil atsar

    Artinya: “Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai ahli kubur. Semoga Allah SWT mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami akan menyusul kalian.” (HR Tirmidzi, dari Ibnu Abbas)

    3. Doa untuk Orang Meninggal Versi Ketiga

    Apabila seseorang yang meninggal adalah wanita, maka bisa membaca doa untuk orang meninggal berikut ini,

    للَّهُمَّ اغْفِرْلَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

    Arab latin: Allaahummaghfir lahaa warhamhaa wa’aafi haa wa’fu anha wa akrim nuzula hu wa wassi’madkhola hu wahgsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa’aidz hu min’adzaabil qobri wa fitnati hi wa min’adzaabin naar.

    Artinya: “Ya Allah, ampuni-lah, rahmati-lah, bebaskan-lah, dan lepaskan-lah dia. Dan, muliakan-lah tempat tinggalnya, luaskan-lah dia. Dan, muliakan-lah tempat tinggalnya, luaskan-lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkan-lah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran.

    Dan ganti-lah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik dari yang ditinggalkan, serta suami yang lebih baik dari yang ditinggalkan pula. Masukkanlah dia ke dalam surga dan lindungi-lah dari siksa kuburnya serta fitnahnya, dan dari siksa api neraka.”

    4. Doa untuk Orang Meninggal Versi Keempat

    Jika saudara muslim yang meninggal berjenis kelamin pria, maka doa yang dapat dipanjatkan ialah sebagai berikut.

    لَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

    Arab latin: Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu wa akrim nuzula hu wa wassi’madkhola hu wahgsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa’aidz hu min’adzaabil qobri wa fitnati hi wa min’adzaabin naar.

    Artinya: “Ya Allah, ampuni-lah, rahmati-lah, bebaskan-lah dan lepaskan-lah dia. Dan muliakan-lah tempat tinggalnya, luaskan-lah dia. Dan muliakan-lah tempat tinggalnya, luaskan-lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkan-lah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran.

    Dan ganti-lah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik dari yang ditinggalkan, serta istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungi-lah dari siksa kubur serta fitnahnya, dan dari siksa api neraka.”

    5. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kelima

    Doa untuk orang meninggal versi kelima ini bisa dipanjatkan saat melakukan takziah. Bacaannya sebagai berikut,

    أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لمَيِّتِكَ

    Arab latin: A’dlamallahu ajraka wa ahsana aza’aka wa ghafaraka li mayyitika

    Artinya: “Semoga Allah memperbesar pahalamu, dan menjadikan baik musibahmu, dan mengampuni jenazahmu.”

    إِنَّ لِلهِ تَعَالى مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى فمُرْهَا فَلْتَصْبرْ وَلْتَحْتَسِبْ

    Arab latin: Inna lillahi taala ma akhadza wa lahu ma a’tha wa kullu syai-in ‘indahu bi ajalin musamma famurha faltashbir wa tahtasib

    Artinya: “Sesungguhnya Allah maha memiliki atas apa yang dia ambil dan dia berikan. Segala sesuatu mempunyai masa-masa yang telah ditetapkan di sisi-Nya. Hendaklah kamu bersabar dan mohon pahala dari Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Keutamaan Membaca Doa untuk Orang Meninggal

    Diterangkan dalam buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 susunan Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr terbitan Griya Ilmu, Nabi Muhammad SAW berkunjung ke makam para sahabatnya. Ia mendoakan mereka, meminta rahmat, serta memohon ampunan atas dosa para sahabat.

    Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali melalui Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 2 terjemahan M Abdul Ghoffar, menyebut sebuah hadits yang menunjukkan Nabi SAW menganjurkan umat Islam mendoakan sesamanya yang sudah meninggal dunia.

    “Nabi SAW mengajarkan kepada mereka berziarah ke kubur supaya mengucapkan, ‘Semoga keselamatan senantiasa tercurah pada kalian, hai para penghuni perkampungan kaum mukmin dan muslim. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon afiyah kepada Allah SWT untuk kami dan untuk kalian.” (HR Muslim)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com