Category: Khazanah

  • Tata Cara dan Niat Sholat Hajat Lengkap dengan Doanya


    Jakarta

    Tata cara dan niat sholat hajat perlu dipahami muslim sebelum mengerjakannya. Sebagaimana diketahui, sholat hajat adalah amalan agar Allah SWT mengabulkan hajat seseorang.

    Menukil dari kitab Al Wajiz fi Fiqh As-Sunnah Sayyid Sabiq susunan Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al Faifi terjemahan Tirmidzi, dalil terkait sholat hajat bersandar pada riwayat dari Abu Darda RA.

    “Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian dia sholat dua rakaat dan disempurnakannya, maka Allah akan memberikan kepadanya apa yang dia inginkan, baik segera atau ditunda.” (HR Ahmad)


    Selain itu, para ulama menguatkan dalil tentang sholat hajat sesuai dengan firman Allah SWT pada surah Al Baqarah ayat 45.

    وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

    Artinya: “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”

    Tata Cara Mengerjakan Sholat Hajat

    Menurut buku Kitab Lengkap Panduan Shalat yang ditulis M Khalilurrahman Al Mahfani dan Abdurrahim Hamdi, cara pengerjaan sholat hajat mengacu pada hadits dari At Tirmidzi. Sholat sunnah ini dapat dilaksanakan dua hingga dua belas rakaat dengan salam setiap dua rakaat.

    Berikut tata cara mengerjakannya,

    1. Berniat sholat hajat dua rakaat
    2. Takbiratul ihram
    3. Membaca doa iftitah
    4. Membaca surah Al Fatihah dan surah pendek, dianjurkan surah Al Kafirun dan surah Al Ikhlas satu kali
    5. Rukuk
    6. I’tidal dan tuma’ninah
    7. Lakukan sujud sambil membaca tasbih tiga kali
    8. Duduk di antara dua sujud
    9. Sujud kedua kalinya dengan bacaan yang sama
    10. Bangun dari sujud dan lakukan rakaat kedua seperti cara di atas
    11. Salam untuk mengakhiri sholat
    12. Membaca doa setelah sholat hajat

    Niat Sholat Hajat: Arab, Latin dan Artinya

    Berikut bacaan niat sholat hajat yang dikutip dari buku Shalat Tahajud dan Shalat Hajat oleh Mahmud asy-Syafrowi.

    اُصَلِّى سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

    Ushollii sunnatal haajati rok’aataini lillahi ta’ala.

    Artinya: “Aku berniat sholat hajat sunnah hajat dua raka’at karena Allah Ta’ala.”

    Doa setelah Sholat Hajat yang Dapat Diamalkan

    Usai mengerjakan sholat hajat, ada bacaan yang bisa diamalkan muslim. Menukil dari buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah SAW yang ditulis ustaz Arif Rahman, muslim bisa membaca zikir dan istighfar terlebih dahulu sampai 100 kali.

    Berikut bacaannya,

    أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوبُ إِلَيْه

    Astaghfirullahal ‘azhim rabbi min kulli dzanbin wa atubu ilaih

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dari setiap dosa dan aku bertobat kepada-Nya.”

    Setelah itu, lanjutkan dengan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW minimal 100 kali. Lafaznya sebagai berikut,

    اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاةَ الرِّضا وَارْضَ عَنْ اَصْحَابِه رِضَاءَ الرِّضا

    Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin shalatar-ridha wardha’an ashhabihir riddhar-ridha

    Artinya: “Wahai Tuhanku, limpahkan kesejahteraan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, kesejahteraan yang diridai, dan ridailah sahabat-sahabat beliau semuanya.”

    Lalu, baca doa sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi dan Ibnu Abu Aufa. Berikut bunyinya,

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْم ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

    Laa ilaaha illallaahul haliimul kariim. Subhaanallahi rabbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. As aluka muujibaati rahmatika wa ‘aazaaima maghfiratika wal ghaniimata min kulli birri wassalaamata min kulli itsmin laa tada’ lii dzamban illa ghafartah walaa hamman illaa farajtah walaa haajatan hiya laka ridhan illa qadhaitah yaa arhamar raahimiin.

    Artinya: “Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Niat Tayamum, Dalil dan Tata Caranya Lengkap Sesuai Sunnah


    Jakarta

    Tayamum adalah salah satu bentuk keringanan dalam syariat Islam yang diberikan Allah SWT kepada umat-Nya ketika tidak bisa bersuci dengan air. Dalam kondisi tertentu, tayamum menjadi pengganti wudhu atau mandi wajib, sehingga seorang muslim tetap dapat menunaikan ibadah dengan sah.

    Merujuk buku Fikih Empat Madzhab Jilid 1 karya Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, tayamum menurut etimologi bahasa Arab berarti bermaksud. Sedangkan menurut terminologi para ulama, tayamum adalah mengusap wajah dan kedua tangan dengan debu atau permukaan bumi yang suci sebagai pengganti bersuci menggunakan air, baik untuk menghilangkan hadas kecil (pengganti wudhu) maupun hadas besar (pengganti mandi wajib).

    Tayamum merupakan bentuk rukhsah (keringanan) yang menunjukkan kemudahan ajaran Islam bagi umatnya, tanpa mengurangi kesucian ibadah.


    Dalil Disyariatkannya Tayamum

    Perintah tayamum terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 6, Allah SWT berfirman,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

    Ayat ini menegaskan bahwa tayamum adalah pengganti bersuci saat tidak ada air atau ada halangan untuk menggunakannya.

    Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,

    “Tanah yang suci adalah alat bersuci bagi seorang muslim, meskipun ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

    Dalam hadits lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki yang sedang menyendiri, ia tidak melaksanakan sholat bersama-sama dengan jemaah lain seperti biasanya. Lalu, Nabi SAW pun bertanya, “Hai Fulan, apa alasanmu sehingga tidak melaksanakan sholat bersama-sama dengan jemaah lain hari ini?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku sedang dalam keadaan junub, dan tidak ada air yang dapat aku gunakan untuk mandi.” Maka Rasulullah SAW berkata, “Tayamumlah kamu. Itu sudah cukup bagimu.” (HR Muslim)

    Bacaan Niat Tayamum

    Berikut ini bacaan niat tayamum dalam bahasa Arab dan artinya.

    نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ للهِ تَعَالَى

    Latin: “Nawaytu tayammuma li istibaakhati sholati lillahi ta’ala”

    Artinya: Aku berniat tayamum agar diperbolehkan sholat karena Allah.

    Tata Cara Tayamum

    Mengutip kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali, berikut tata cara tayamum sesuai syariat.

    1. Siapkan tanah berdebu atau debu yang bersih. Ulama memperbolehkan menggunakan debu yang berada di tembok, kaca, atau tempat lain yang dirasa bersih.

    2. Disunnahkan menghadap kiblat, lalu letakkan kedua telapak tangan pada debu, dengan posisi jari-jari kedua telapak tangan dirapatkan.

    3. Dalam keadaan tangan masih diletakan di tembok atau debu, lalu ucapkan basmallah dan bacaan niat tayamum.

    4. Kemudian, usapkan kedua telapak tangan pada seluruh wajah. Berbeda dengan wudhu, dalam tayamum tidak diharuskan untuk mengusapkan debu pada bagian-bagian yang ada di bawah rambut atau bulu wajah, baik yang tipis maupun yang tebal. Yang dianjurkan adalah, berusaha meratakan debu pada seluruh bagian wajah. Dan itu cukup dengan satu kali menyentuh debu, sebab pada dasarnya lebar wajah tidak melebihi lebar dua telapak tangan. Sehingga “meratakan debu” di wajah, cukup mengandalkan dugaan yang kuat (ghalibuzhan).

    5. Selanjutnya bagian tangan, letakkan kembali telapak tangan pada debu, kali ini jari tangan direnggangkan. Lalu tengadahkan kedua telapak tangan, dengan posisi telapak tangan kanan di atas tangan kiri. Rapatkan jari-jari tangan, dan usahakan ujung jari kanan tidak keluar dari telunjuk jari kiri, atau telunjuk kanan bertemu dengan telunjuk kiri.

    6. Telapak tangan kiri mengusap lengan kanan hingga ke siku. Kemudian, tangan kanan diputar untuk diusapkan juga sisi lengan kanan yang lain, dan telapak tangan mengusap dari siku hingga dipertemukan kembali jempol kiri mengusap jempol kanan. Lakukan hal yang sama pada tangan kiri seperti tadi.

    7. Terakhir, pertemukan kedua telapak tangan dan usap-usapkan di antara jari-jarinya.

    8. Setelah tayamum, dianjurkan juga oleh sebagian ulama untuk membaca doa bersuci, seperti halnya doa berikut ini.

    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

    Artinya: Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku sebagai orang-orang yang bertaubat, jadikanlah aku sebagai orang-orang yang bersuci, dan jadikanlah aku sebagai hamba-hamba-Mu yang saleh. Mahasuci Engkau, ya Allah. Dengan kebaikan-Mu, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Dan dengan kebaikan-Mu, aku memohon ampunan dan bertaubat pada-Mu.
    untuk kebutuhan pokok seperti minum untuk bertahan hidup.

    (dvs/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Makna Surat Al Baqarah Ayat 155-156 tentang Kesabaran


    Jakarta

    Surat Al Baqarah ayat 155-156 membahas tentang sifat sabar saat menghadapi ujian dari Allah SWT. Sebagai umat Islam, sudah sepantasnya kita yakin ada kabar gembira di balik ujian yang diberikan Sang Khalik.

    Al Baqarah sendiri merupakan surat kedua dalam mushaf Al-Qur’an. Surat ini menjadi yang terpanjang karena terdiri dari 286 ayat.


    Surat Al Baqarah Ayat 155-156: Bacaan Lengkap

    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦

    (155) Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-jū’i wa naqaṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a). (156) Allażīna iżā aṣābathum muṣībah(tun), qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn(a).

    Artinya: (155) “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (156) “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)”

    Surat Al Baqarah Ayat 155-156 Membahas tentang Kesabaran saat Diuji Allah SWT

    Menurut Tafsir Kementerian Agama, surat Al Baqarah ayat 155 membahas bahwa Allah akan menguji umat Islam dengan banyak cobaan. Misalnya seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan bahan makanan.

    Melalui ujian tersebut, kaum muslimin ditempa mentalnya hingga keyakinannya menjadi kukuh dan jiwanya tabah. Mereka akan kuat dan tahan dalam menghadapi ujian yang diberikan Sang Khalik.

    Umat Islam yang diuji dan tahan menghadapi cobaan akan mendapatkan predikat sabar. Mereka merupakan orang-orang yang mendapat kabar gembira dari Allah SWT, sebagaimana ditafsirkan dalam surat Al Baqarah ayat 155.

    Sementara itu, pada surat Al Baqarah ayat 156 ditafsirkan bahwa Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk memberi tahu terkait ciri-ciri orang yang mendapat kabar gembira. Mereka merupakan orang yang mengucap inna lillahi wa inna ilaihi raji’un saat tetimpa musibah.

    Ibnu Katsir melalui tafsirnya menyebut hadits berkaitan dengan kalimat istirja yang diucap ketika tertimpa musibah. Dari Abu Salamah pernah mendengar langsung dari Rasulullah SAW ucapan yang membuatnya gembira.

    Nabi SAW bersabda,

    “Tidak sekali-kali seorang muslim tertimpa suatu musibah, lalu ia membaca istirja’ ketika musibah menimpanya, kemudian mengucapkan, “Ya Allah, berilah daku pahala dalam musibahku ini, dan gantikanlah buatku yang lebih baik daripadanya,” melainkan diberlakukan kepadanya apa yang dimintanya itu.” (HR Ahmad) Redaksi hadits ini cukup panjang.

    Selain itu, terdapat pula hadits dari Ummu Salamah yang tercantum dalam Shahih Muslim mengenai keutamaan kalimat istirja. Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidak sekali-kali seorang hamba tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan, ‘Inna lillahi wainna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nyalah dikembalikan). Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan gantikanlah kepadaku yang lebih baik daripadanya,’ melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya itu dan menggantikan kepadanya apa yang lebih baik daripadanya.”

    Turut dijelaskan dalam buku Merajut Asa di Tengah Ketidak Mungkinan oleh Nur Ahmad Fauzi bahwa Ibnu Katsir menafsirkan surat Al Baqarah ayat 155-156 membahas tentang Allah SWT yang memberitahukan tentang cobaan dan ujian terhadap seluruh hamba-Nya.

    Ada kalanya Allah SWT memberikan ujian berupa kesenangan, banyak harta, kedudukan dan kebahagiaan. Namun, Allah SWT juga bisa memberikan ujian berupa kesengsaraan, rasa takut, kelaparan dan sebagainya.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Contoh Susunan Acara Tirakatan Kemerdekaan RI, Lengkap dengan Doanya


    Jakarta

    Malam tirakatan jelang 17 Agustus merupakan salah satu tradisi yang masih lestari di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam menjelang 17 Agustus, tepatnya tanggal 16 Agustus malam, dan dihadiri oleh warga masyarakat setempat. Tradisi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat makna spiritual, kebersamaan, dan penghormatan terhadap jasa para pahlawan.


    Susunan Acara Malam Tirakatan HUT RI ke-80 Tahun

    Berikut contoh susunan acara malam tirakatan HUT RI ke-80 tahun:

    Tanggal: 16 Agustus 2025
    Waktu: 19.00 – 22.00 WIB
    Tempat: Balai Warga / Lapangan RT/RW / Aula RT/RW

    19.00 – 19.15 | Persiapan dan Pra-Acara

    Warga berdatangan dan menempati tempat duduk.
    Panitia memeriksa perlengkapan acara.
    Pemutaran lagu-lagu perjuangan untuk membangun suasana.

    19.15 – 19.20 | Pembukaan Acara

    MC membuka acara dan mengucapkan salam.
    Menyampaikan tema Malam Tirakatan tahun ini.
    Menjelaskan rangkaian acara secara singkat.

    19.20 – 19.30 | Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

    Seluruh peserta berdiri.
    Lagu dipandu dirigen dan diiringi musik (rekaman atau live).

    19.30 – 19.40 | Mengheningkan Cipta

    Dipimpin oleh MC atau tokoh masyarakat.
    Mengenang jasa pahlawan dan pejuang kemerdekaan.

    19.40 – 19.50 | Sambutan Ketua Panitia

    Laporan singkat persiapan kegiatan HUT RI.
    Ucapan terima kasih kepada seluruh warga yang berpartisipasi.

    19.50 – 20.00 | Sambutan Ketua RT/RW

    Pesan tentang makna kemerdekaan.
    Ajakan untuk menjaga persatuan, gotong royong, dan kebersamaan.

    20.00 – 20.15 | Pembacaan Teks Proklamasi & Renungan Kemerdekaan

    Pembacaan teks proklamasi oleh tokoh yang ditunjuk.
    Renungan singkat perjuangan kemerdekaan oleh tokoh masyarakat/veteran.

    20.15 – 20.30 | Doa Bersama

    Doa untuk keselamatan bangsa dan negara.
    Sesuai tradisi setempat (misalnya membaca Yasin & Tahlil).

    20.30 – 21.00 | Pemotongan Tumpeng & Makan Bersama

    Pemotongan tumpeng oleh Ketua RT/RW.
    Simbol rasa syukur atas kemerdekaan dan persatuan warga.
    Dilanjutkan dengan makan bersama.

    21.00 – 21.30 | Hiburan Warga

    Pentas seni oleh warga (puisi kemerdekaan, lagu nasional, tarian tradisional).
    Diselingi kuis ringan bertema kemerdekaan.

    21.30 – 21.45 | Pengumuman Pemenang Lomba & Penyerahan Hadiah

    Pengumuman hasil lomba 17 Agustus tingkat RT/RW.
    Penyerahan hadiah kepada para pemenang.

    21.45 – 22.00 | Penutup & Ramah Tamah

    MC menutup acara dengan ucapan terima kasih.
    Ramah tamah dan foto bersama warga.

    Doa Malam Tirakatan 17 Agustus 2025

    Berikut ini beberapa contoh doa yang dapat dibaca pada malam tirakatan 17 Agustus yang dapat dibacakan jelang peringatan Hari Kemerdekaan RI:

    1. Doa Malam Tirakatan 17 Agustus dalam Bahasa Arab

    اللَّهُمَّ يَا رَبَّنَا الرَّحْمَنَ الرَّحِيمَ، نَحْمَدُكَ وَنَشْكُرُكَ عَلَى نِعْمَةِ الْحُرِّيَّةِ وَالِاسْتِقْلَالِ الَّتِي أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَى بَلَدِنَا إِنْدُونِيسْيَا. فِي لَيْلَةِ التِّرَاكَاتَانِ هَذِهِ، نَجْتَمِعُ دُعَاءً وَتَضَرُّعًا، سَائِلِينَكَ أَنْ تَجْمَعَ قُلُوبَنَا عَلَى الْمَحَبَّةِ وَالْإِخْلَاصِ، وَأَنْ تُدِيمَ عَلَى شَعْبِنَا الْوَحْدَةَ وَالسَّلَامَ.

    اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي قَادَتِنَا وَرَعَايَاكَ، وَأَلْهِمْنَا حِكْمَةً وَقُوَّةً لِنَبْنِيَ هَذَا الْوَطَنَ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالْإِيمَانِ. وَارْحَمْ شُهَدَاءَنَا وَمُنَاضِلِينَا، وَاجْعَلْهُمْ فِي مَقَامٍ كَرِيمٍ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

    Arab-Latin:

    Allahumma ya Rabbanaa ar-Rahmaana ar-Rahiima, nahmaduka wa nasykuruka ‘alaa ni’matil-hurriyyah wal-istiqlal allatii an’amta bihaa ‘alaa baladinaa Induunisyaa. Fii laylati at-tiraakaataan haadzihi, najtami’u du’aa-an wa tadarru’an, saa-iliinaka an tajma’a quluubanaa ‘alal-mahabbati wal-ikhlaashi, wa an tudii-ma ‘alaa sya’binaa al-wahdata was-salaam.

    Allahumma baarik fii qaadatina wa ra’aayaaka, wa alhimnaa hikmatan wa quwwatan linabniya haadzaa al-wathana bil-‘ilmi wal-‘amali wal-iimaan. Warham syuhadaaa-anaa wa munaadhiliinaa, waj’alhum fii maqaamin kariimin fii jannaatin-na’iim.

    Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar. Wa shallallaahu wa sallama ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iina, wal-hamdu lillaahi Rabbil-‘aalamiin.

    Ya Allah, Tuhan kami Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami memuji dan bersyukur kepada-Mu atas nikmat kemerdekaan dan kebebasan yang telah Engkau anugerahkan kepada negeri kami, Indonesia. Pada malam tirakatan ini, kami berkumpul untuk berdoa dan memohon kepada-Mu, agar Engkau mempersatukan hati kami dalam cinta dan keikhlasan, serta senantiasa menjaga persatuan dan kedamaian bangsa kami.

    Ya Allah, berkahilah para pemimpin kami dan seluruh rakyat-Mu, ilhamkanlah kepada kami kebijaksanaan dan kekuatan untuk membangun negeri ini dengan ilmu, kerja keras, dan iman. Limpahkan rahmat-Mu kepada para syuhada dan pejuang kami, tempatkan mereka pada kedudukan yang mulia di surga yang penuh kenikmatan.

    Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

    2. Doa Malam Tirakatan 17 Agustus Memohon Persatuan Indonesia

    Bismillahirrahmanirrahim.
    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Esa,
    Dengan penuh rasa syukur, kami bangsa Indonesia memanjatkan puji dan syukur ke hadirat-Mu. Engkaulah Pencipta dan Pengatur seluruh alam semesta. Hanya kepada-Mu kami berserah diri dan memohon pertolongan.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah,
    Atas rahmat dan karunia-Mu, malam ini kami memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Bimbinglah kami agar semakin dewasa dalam berpolitik, berdemokrasi, dan memajukan pembangunan. Jadikanlah negeri ini aman, bersatu, adil, dan sejahtera.

    Ya Allah, Tuhan Maha Pemersatu,
    Jadikan peringatan kemerdekaan ini sebagai momentum untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Jauhkan kami dari perpecahan, fitnah, dan permusuhan. Limpahkanlah rahmat-Mu dari langit dan bumi bagi kemaslahatan negeri ini.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana,
    Perjalanan bangsa kami masih panjang. Lindungilah kami dari segala bencana dan marabahaya. Kokohkan tekad kami untuk membangun negeri ini menjadi bangsa yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, adil, makmur, dan sejahtera.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun,
    Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, para pemimpin, dan para pejuang bangsa ini. Terimalah amal dan perjuangan mereka sebagai amal saleh di sisi-Mu.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih,
    Kabulkanlah doa kami, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang beruntung di dunia dan di akhirat.

    Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-nar.
    Shalallahu ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    3. Doa Malam Tirakatan 17 Agustus tentang Rasa Syukur atas Kemerdekaan

    أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    الحمد لله رب العالمين
    اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

    (A’ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm. Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
    Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma’īn)

    Allahumma ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    Puji syukur kami panjatkan ke hadirat-Mu atas nikmat tak terhingga yang Engkau anugerahkan kepada kami. Atas kuasa dan pertolongan-Mu, kami dapat menjadi bangsa yang merdeka, yang telah kami nikmati hingga hari ini, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa,
    Kami menyadari sepenuhnya bahwa kemerdekaan yang Engkau anugerahkan kepada bangsa kami adalah nikmat yang telah ditebus dengan pengorbanan jiwa dan raga para pahlawan kusuma bangsa. Terimalah amal bakti mereka, ampuni dosa dan kesalahan mereka, dan muliakanlah mereka di tempat terbaik di sisi-Mu.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mulia,
    Jadikanlah kami bangsa yang pandai bersyukur, yang senantiasa menghargai dan berterima kasih atas jasa para pahlawannya. Berikanlah kekuatan lahir dan batin untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kami. Semoga kami mewarisi semangat juang para pahlawan dan meneruskan perjuangan mereka demi terwujudnya cita-cita bangsa: menjadi bangsa yang maju, adil, dan makmur.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Melindungi,
    Perjuangan bangsa kami belum usai. Perjalanan sejarah kami masih panjang. Satukan tekad kami, padukan langkah kami, tingkatkan kesadaran dan kewaspadaan kami agar tetap utuh dan bersatu. Jauhkanlah kami dari perpecahan dan permusuhan, serta lindungilah dari segala marabahaya dan bencana.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun,
    Ampunilah dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan kedua orang tua kami, para guru kami, para pahlawan, dan para pendahulu kami. Terimalah doa dan permohonan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
    وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    (Rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā ‘adhāban-nār. Wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn)

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Keutamaan Meninggal pada Hari Jumat, Benarkah Istimewa?


    Jakarta

    Dalam ajaran Islam, ada waktu-waktu yang memiliki kemuliaan dan keberkahan tersendiri. Hari Jumat termasuk di antaranya. Selain menjadi hari istimewa bagi umat Islam, Jumat juga memiliki berbagai keutamaan.

    Ada beberapa hadits yang menjelaskan bahwa orang yang meninggal pada hari Jumat akan mendapatkan keistimewaan, di antaranya terhindar dari fitnah kubur.


    Keutamaan Meninggal pada Hari Jumat

    Dikutip dari buku Aktivasi Mukjizat Hari Jum’at karya Rizem Aizid, disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Baihaqi)

    Pandangan Ulama tentang Hadits Keutamaan Meninggal Hari Jumat

    Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai status hadits tentang meninggal pada hari Jumat. Mayoritas menyatakan hadits tersebut hasan dan dapat diamalkan.

    Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini termasuk kabar gembira (busyra) bagi hamba yang beriman.

    Namun, para ulama juga menegaskan bahwa kemuliaan meninggal di hari Jumat bukan berarti jaminan masuk surga, tetapi salah satu tanda baik (husnul khatimah) jika diiringi dengan iman, amal saleh, dan ketaatan.

    Meskipun meninggal di hari Jumat memiliki keutamaan, hal yang paling penting adalah meninggal dalam keadaan husnul khatimah, yaitu wafat dalam keadaan beriman dan menjalankan ketaatan.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya (akhir hayatnya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Artinya, seseorang yang wafat pada hari Jumat namun tidak membawa iman dan amal saleh tidak akan mendapatkan kemuliaan ini.

    Dilansir dari laman Muhammadiyah, Jumat (15/8/2025) para ulama hadis berbeda pendapat tentang status hadis ini. Imam at-Tirmidzi (w. 360 H) sendiri yang meriwayatkan hadis ini dalam kitab Sunan at-Tirmidzi menilainya sebagai hadis gharib (karena diriwayatkan oleh satu orang saja) dan munqathi’ karena sanadnya tidak bersambung (laisa bi muttashil).

    Menurutnya, tokoh yang bernama Rabiah bin Saif (w. 120 H) dari generasi tabiut tabiin yang meriwayatkan hadis ini tidak pernah bertemu dengan sahabat Nabi Abdullah bin Amr bin Ash (w. 63 H), sehingga ada satu perawi dari tingkatan tabiin yang hilang. Status gharib yang diberikan oleh at-Tirmidzi ini kemudian diteruskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) seorang ulama hadis yang wafat di Mesir dengan label dhaif dalam kitabnya Fathul-Bari (vol. IV/hal. 467).

    Mengenai status munqathi (terputus perawi dari kalangan tabiin) pada hadis ini, berdasarkan penelitian kami ditemukan bahwa sesungguhnya Imam at-Tirmidzi dalam kitabnya yang lain, Nawadir al-Ushul (sebuah kitab hadis yang mengkompilasi hadis-hadis dhaif), meriwayatkan hadis ini secara muttashil (bersambung). Nama tokoh dari generasi tabiin yang bertemu dengan Rabiah bin Saif dan meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash yang sebelumnya hilang dalam Sunan at-Timidzi adalah Iyadh bin Aqabah al-Fihri dan Ali bin Ma’badh (at-Tirmidzi, Nawadir al-Ushul, vol. IV, hal. 161). Imam al-Qurtubhi (w. 671 H) dalam at-Tadzkirah (hal. 167) dan Ibnu Qayyim (w. 751 H) dalam ar-Ruh (hal. 161) demikian juga membantah status munqathi untuk hadits ini.

    Meninggal pada hari Jumat adalah salah satu tanda kemuliaan dan kabar gembira bagi seorang muslim, sebagaimana disebut dalam hadits Nabi SAW. Keistimewaan ini berupa perlindungan dari fitnah kubur dan menjadi isyarat husnul khatimah.

    Namun, kemuliaan ini tidak otomatis diraih tanpa iman dan amal saleh. Oleh karena itu, setiap muslim perlu mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah, menjaga tauhid, dan menjauhi maksiat, sehingga kapan pun Allah memanggil, kita dalam keadaan terbaik.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Seorang Muslim Meninggal di Hari Jumat, Benarkah Husnul Khatimah?



    Jakarta

    Meninggal di hari Jumat jadi salah satu tanda-tanda husnul khatimah sebagaimana yang disebutkan para ulama. Bahkan ada yang menyebut bahwa, orang yang meninggal pada hari Jumat akan terbebas dari fitnah kubur. Begini penjelasannya.

    Ust. Ahmad Zacky ElSyafa dalam buku Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun menyebutkan wafat pada hari Jumat merupakan tanda meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

    مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ


    Artinya: “Setiap muslim yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat pastilah dilindungi oleh Allah dari cobaan pertanyaan di alam kubur.” (HR Ahmad). Dalam redaksi lain dikatakan, “Allah akan melindunginya dari fitnah kubur”.

    Dalam buku Taudhihul Adillah 5 tulisan M. Syafi’i Hadzami dijelaskan sebuah keterangan yang ada dalam kitab Tanqihu al-Qauli Hadits Fi Syarhi Lubabi al-Hadits karangan al-‘Allamah Muhammad bin ‘Umar Nawawî al-Bantanî sebagai berikut,

    وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : مَنْ مَاتَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَتِهَا رَفَعَ عَنْهُ عَذَابُ الْقَبْرِ. وَفِي الْإِحْيَاءِ لِلْغَزَلِيِّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : مَنْ مَاتَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْزَءَ شَهِيْدٍ وَوُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ أَيْ وَذَلِكَ بِشَرْطِ الْإِيْمَانِ

    Artinya: Dan telah bersabda Rasulullah, “Barang siapa yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malamnya. Diangkatlah padanya dari adzab kubur.” Dan tersebut di dalam kitab Ihya’ ‘Ulûmu ad-Din, karya Imam Ghazali, telah bersabda Rasûlullah, “Barang siapa yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, niscaya Allah menulis baginya pahala Syahid, dan dia dipelihara dari adzab kubur. Dan yang demikian itu dengan Syarat Iman.”

    Mengutip dalam Al-Maut wa ‘Alam Al-Barzakh tulisan Mahir Ahmad Ash-Shufiy yang diterjemahkan oleh Badruddin dkk, syarat orang yang meninggal dunia pada hari Jumat akan husnul khatimah adalah apabila ia beriman dan beramal saleh. Ini merupakan jawaban atas pertanyaan mengenai orang kafir yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat.

    “Meskipun meninggal dunia pada malam atau hari Jumat, tanpa keimanan dan amal saleh, ia tetap mendapat siksa kubur,” jelas Mahir Ahmad Ash-Shufiy dalam bukunya.

    Keutamaan Hari Jumat

    Jumat adalah hari spesial dan ada banyak keutamaan yang dapat diraih di hari Jumat. Hari Jumat adalah hari yang paling utama dari hari-hari lainnya, dan hari ini disebut sebagai sayyid al-ayyam (penghulu hari). Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang dikutip dari buku Aktivasi Mukjizat Hari Jum’at karya Rizem Aizid,

    “Hari Jumat adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jumat seperti waktu mustajab pada malam lailatul qadar di bulan Ramadan.”

    Imam Nawawi mengungkapkan dalam kitabnya bahwa seseorang yang memohon sesuatu kepada Allah SWT pada hari Jumat, maka Allah SWT akan memberinya.

    Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW menyebutkan hari Jum’at, lalu beliau bersabda,

    “Pada hari Jumat ada waktu yang mana tidak ada seorang muslim pun yang berdiri melaksanakan salat pada saat itu, memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti memberinya. Beliau mengisyaratkan dengan tangannya dan menunjukkan sedikitnya saat itu. (HR Muttafaq ‘Alaih)

    Dalam buku Fiqih Sunah 2 disebutkan pula bahwa hari Jumat memiliki waktu khusus dikabulkannya doa seorang muslim, yaitu saat akhir setelah asar. Rasulullah SAW bersabda,

    “Hari Jumat terdiri dari dua belas saat, di antaranya terdapat satu saat di mana tidaklah seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah SWT melainkan Allah memberikan sesuatu yang dimohonnya itu kepadanya. Berusahalah untuk menggapai saat itu di saat akhir setelah asar.” (HR an-Nasa’i, Abu Daud, dan Hakim)

    Wallahu a’lam.

    (lus/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sunnah-sunnah Hari Jumat yang Bisa Diamalkan Muslim


    Jakarta

    Hari Jumat disebut memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Bahkan, Jumat dikatakan sebagai penghulu segala hari atau Sayyidul Ayyam.

    Menukil dari buku Rahasia & Keutamaan Hari Jumat oleh Komarudin Ibnu Mikam, Jumat adalah hari raya bagi muslim. Jumat juga menjadi rajanya hari di sisi Allah SWT.

    Dari Sa’ad bin Ubadah RA berkata,


    “Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya Fitri. Di dalam Jumat ada lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkan dari surga ke bumi. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturahmi. Hari Kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit dan bumi, angin, gunung dan batu, kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat.” (HR Imam Syafi’i dan Ahmad)

    Jumat juga menjadi hari disyariatkannya pria muslim untuk mengerjakan salat Jumat. Hal ini tertuang dalam surah Al Jumu’ah ayat 9,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

    Berkaitan dengan itu, ada sejumlah sunnah Rasulullah SAW yang bisa diamalkan muslim pada hari Jumat. Apa saja itu? Berikut bahasannya yang dikutip dari buku Panduan Amalan Hari Jumat susunan Mahmud Ahmad Mustafa.

    Sunnah Rasulullah SAW pada Hari Jumat

    1. Mengamalkan Surah Al Kahfi

    Sunnah yang dapat dikerjakan pada hari Jumat adalah mengamalkan surah Al Kahfi. Terdapat keutamaan dibaliknya sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dari Abu Sa’id Al Khudri RA,

    “Barang siapa yang membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat, maka akan ada cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.” (HR Al Hakim dan Baihaqi)

    2. Perbanyak Amal Kebaikan

    Mengerjakan amal kebaikan pada hari Jumat akan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karenanya, muslim dianjurkan untuk perbanyak mengerjakannya.

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Amal-amal kebaikan itu akan berlipat ganda (pahalanya) pada hari Jumat.” (HR At Thabrani)

    3. Membaca Surah Ad Dukhan

    Selain surah Al Kahfi, muslim juga bisa membaca surah Ad Dukhan. Dengan mengamalkannya, niscaya akan diampuni dosanya.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa membaca Há mim Ad-Dukhan (surah Ad Dukhan) pada malam Jumat, maka ia terampuni.” (HR Tirmidzi)

    4. Menghadiri Majelis Taklim

    Diterangkan dalam Ihya Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali terjemahan Purwanto, salah satu sunnah lainnya pada hari Jumat adalah menghadiri majelis taklim atau ilmu agama. Hendaknya, majelis dihadiri pada pagi sebelum atau sesudah salat Jumat.

    5. Sedekah

    Pada hari Jumat, muslim juga dianjurkan bersedekah. Ini disebabkan pahala kebaikan pada Jumat berlipatganda, sehingga sayang jika tidak dimanfaatkan dengan cara bersedekah.

    6. Ziarah Kubur ke Makam Orang Tua

    Ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja. Namun, dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah RA disebutkan bahwa mengunjungi makam orang tua pada Jumat akan diampuni dosanya. Nabi SAW bersabda,

    “Siapa yang ziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jumat, Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan ia dicatat sebagai orang yang berbakti kepada orang tuanya.” (HR Hakim, At Tirmidzi, dan At Thabrani)

    7. Mengamalkan Sayyidul Istighfar

    Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa pada hari Jumat masuk ke dalam masjid, lalu dia salat empat rakaat (salat sunnah), dan pada setiap rakaatnya ia membaca Al-Fatihah dan Qul huwallahu ahad (surah Al- Ikhlas) lima puluh kali hingga menjadi dua ratus kali dalam empat rakaat, maka ketika datangnya ajal dia akan melihat tempatnya di dalam surga atau (tempat itu) akan diperlihatkan kepadanya.” (HR Daraqutni Al-Khattab)

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kapan Batas Waktu Membaca Surah Al Kahfi pada Hari Jumat?


    Jakarta

    Membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat dinilai memiliki keutamaan yang luar biasa. Anjuran ini bahkan disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

    Beliau bersabda,

    “Barang siapa yang membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR Hakim)


    Sebagaimana diketahui, Al Kahfi merupakan surah Makkiyah yang terdiri dari 110 ayat. Dalam Al-Qur’an, surah Al Kahfi berada di urutan mushaf ke-18.

    Lantas, kapan batas waktu membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat?

    Batas Waktu Membaca Surah Al Kahfi pada Jumat

    Mengutip buku Aktivasi Mukjizat Hari Jumat yang ditulis Rizem Aizid, surah Al Kahfi dapat dibaca sejak malam Jumat. Tepatnya pada hari Kamis setelah terbenamnya matahari atau ba’da Maghrib hingga Jumat setelah Ashar.

    Anjuran membaca pada malam Jumat disebutkan dalam hadits dari Abu Said al Khudri RA. Nabi SAW bersabda,

    “Barang siapa yang membaca surah Al Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka’bah.” (HR Ad Darimi)

    Selain itu, hadits anjuran membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat merujuk pada riwayat yang berasal dari Hakim. Berdasarkan kedua hadits itu, surah Al Kahfi dapat dibaca selama 24 jam pada hari Jumat sebagaimana diterangkan dalam buku Kita Terkadang Lupa oleh Munifah Ahmad Bagis.

    Selain itu, Al Munawi dalam keterangan Al Hafidz Ibnu Hajar pada kitab Al-‘Amali mengatakan sebagai berikut,

    “Anjuran membaca surah Al Kahfi ada di beberapa riwayat, ada yang menyatakan hari Jumat, dalam riwayat lain malam Jumat. Bisa kita kompromikan bahwa waktu yang dimaksud adalah siang dan malam Jumat.”

    Kemudian, dianjurkan pula membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat atau di malam harinya. Hal ini, menurut Al Munawi, ditegaskan oleh Asy-Syafi’i.

    Manfaat Mengamalkan Surah Al Kahfi ketika Jumat

    Berikut sejumlah manfaat yang dapat diraih muslim dari mengamalkan surah Al Kahfi seperti dikutip dari buku Misteri Ashabul Kahfi: Menguak Kebenaran 7 Sosok Pemuda yang Tertidur Selama 309 Tahun yang ditulis Yanuar Arifin.

    1. Menenangkan hati dan membuat jiwa tenteram
    2. Terlindung dari fitnah Dajjal pada akhir zaman
    3. Diterangi di antara dua Jumat

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Apa Makna Kemerdekaan Menurut Islam?


    Jakarta

    Kemerdekaan adalah salah satu nikmat yang patut disyukuri, terutama bagi umat Islam di Indonesia. Namun, apa sebenarnya makna kemerdekaan dari sudut pandang Islam?

    Memahami hal ini akan membuka wawasan kita tentang batas-batas kebebasan yang sejalan dengan syariat.


    Arti Kemerdekaan

    Secara umum, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kemerdekaan sebagai kebebasan, kemampuan untuk berdiri sendiri, dan tidak lagi berada di bawah penjajahan. Dalam bahasa Arab, kemerdekaan disebut sebagai al-Hurriyah.

    Makna Kemerdekaan dalam Al-Qur’an dan Syariat

    Dalam Islam, kemerdekaan atau al-Hurriyah memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Islam sangat menghargai kemerdekaan individu, termasuk kebebasan berpikir, berbicara, bahkan kebebasan dalam memilih agama, sebagaimana dijelaskan dalam buku Al Qur’an sebagai Sumber Hukum susunan Alik Al Adhim.

    Hal ini diperkuat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 256, yang artinya:

    “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Dalam buku Pemikiran dan Filsafat Hukum Islam karya Prof. Dr. Izomiddin MA, kemerdekaan adalah salah satu prinsip penting dalam penerapan hukum Islam. Agama Islam disebarkan bukan dengan paksaan, melainkan melalui penjelasan, demonstrasi, dan argumentasi yang kuat. Ini menunjukkan bahwa esensi kemerdekaan dalam Islam adalah kebebasan yang bertanggung jawab, baik secara individu maupun kelompok.

    Selain al-Hurriyah, ada juga istilah al-Istiqla yang berarti “bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain.” Namun, secara syariat, kemerdekaan bagi seorang Muslim adalah kondisi di mana ia sepenuhnya sadar dan berjuang untuk memposisikan dirinya sebagai hamba Allah SWT semata. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia tunduk hanya kepada Sang Pencipta, bukan kepada selain-Nya.

    Dalam buku Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah karya Dr. Yusuf Qardhawi terjemahan Abdus Salam Masykur Lc, dijelaskan bahwa kemerdekaan dalam aspek kemanusiaan mencakup beberapa hal, yaitu:

    • Kebebasan Beragama: Setiap individu memiliki hak untuk memilih keyakinannya tanpa paksaan.
    • Kebebasan Berpikir: Islam mendorong umatnya untuk menggunakan akal dalam mencari kebenaran.
    • Kebebasan Berpolitik: Warga negara memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik.
    • Kebebasan Bertempat Tinggal: Setiap orang bebas menentukan tempat tinggalnya.
    • Segala bentuk kebebasan hakiki dalam kebenaran: Kemerdekaan yang diberikan Islam adalah kemerdekaan yang tidak melanggar syariat dan bertujuan untuk kebaikan bersama.

    Dengan demikian, makna kemerdekaan dalam Islam tidak sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga kemerdekaan dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah. Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang Muslim mampu menjalankan kehidupannya sesuai dengan syariat, dengan akal dan hati yang merdeka.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Surat Maryam Ayat 30-35 tentang Mukjizat Nabi Isa AS: Arab, Latin, Arti


    Jakarta

    Surat Maryam Ayat 30-35 menceritakan tentang mukjizat yang diberikan kepada Nabi Isa AS. Di antaranya tentang kelahirannya yang tanpa ayah, serta kemampuannya berbicara saat masih bayi. Mukjizat tersebut menegaskan kemuliaan Nabi Isa AS sekaligus membuktikan kebesaran Allah SWT.

    Hal ini dijelaskan dalam buku Dua Puluh Lima Nabi Banyak Bermukjizat Sejak Adam AS hingga Muhammad SAW karya Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams,

    Selengkapnya, simak kandungan yang terdapat pada Surat Maryam ayat 30-35 berikut ini.


    Bacaan Surat Maryam 30-35 Arab, Latin dan Artinya

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ ٣٠

    Arab latin: Qāla innī ‘abdullāh, ātāniyal-kitāba wa ja’alanī nabiyyā

    Artinya: “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia (akan) memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang nabi.”

    وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ ٣١

    Arab latin: Wa ja’alanī mubārakan aina mā kuntu wa auṣānī biṣ-ṣalāti waz-zakāti mā dumtu ḥayyā

    Artinya: “Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada dan memerintahkan kepadaku (untuk melaksanakan) salat serta (menunaikan) zakat sepanjang hayatku,”

    وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا ٣٢

    Arab latin: Wa barram biwālidatī wa lam yaj’alnī jabbāran syaqiyyā

    Artinya: “dan berbakti kepada ibuku serta Dia tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka.”

    وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا ٣٣

    Arab latin: Was-salāmu ‘alayya yauma wulittu wa yauma amụtu wa yauma ub’aṡu ḥayyā

    Artinya: “Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan hidup (kembali).”

    ذٰلِكَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚقَوْلَ الْحَقِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ ٣٤

    Arab latin: żālika ‘īsabnu maryam, qaulal-ḥaqqillażī fīhi yamtarụn

    Artinya: “Itulah (hakikat) Isa putra Maryam, perkataan benar yang mereka ragukan.”

    مَا كَانَ لِلّٰهِ اَنْ يَّتَّخِذَ مِنْ وَّلَدٍ سُبْحٰنَهٗ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۗ ٣٥

    Arab latin: Mā kāna lillāhi ay yattakhiża miw waladin sub-ḥānah, iżā qaḍā amran fa innamā yaqụlu lahụ kun fa yakụn

    Artinya: “Tidak patut bagi Allah mempunyai anak. Mahasuci Dia. Apabila hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.”

    Kandungan Surat Maryam Ayat 30-35

    Berdasarkan Tafsir Al-Azhar susunan Buya Hamka, Surat Maryam ayat 30-35 menceritakan bahwa ketika Nabi Isa masih bayi dalam gendongan ibunya, beliau tiba-tiba berbicara sehingga membuat semua orang terkejut. Menurut riwayat yang dikutip Al-Qurthubi, setelah mendengar ucapan orang-orang, Isa yang masih menyusu melepaskan mulutnya dari susu ibunya, mengangkat telunjuk kanan, lalu berkata, “Aku adalah hamba Allah.”

    Ucapan pertama beliau adalah pengakuan bahwa dirinya hamba Allah, sama seperti makhluk lainnya. Isa melanjutkan bahwa Allah telah memberinya Al-Kitab (Injil) dan menjadikannya Nabi. Allah menetapkan baginya kebahagiaan di mana pun berada, baik bagi dirinya maupun bagi orang yang mengikuti seruannya.

    Beliau juga diwajibkan melaksanakan salat dan menunaikan zakat selama hidup, serta berbakti kepada ibunya yang saleh, yang telah banyak menderita karena kelahirannya yang luar biasa. Isa menegaskan bahwa ia tidak diciptakan sebagai orang yang sombong atau berbuat kerusakan.

    Isa memohon keselamatan pada tiga waktu, yaitu ketika dilahirkan, ketika wafat, dan ketika dibangkitkan kembali. Setelah itu, beliau kembali seperti bayi pada umumnya. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah disebutkan bahwa hanya tiga bayi yang dapat berbicara di masa buaian, salah satunya Nabi Isa.

    Allah menegaskan, “Itulah Isa putra Maryam.” Kelahirannya adalah ketetapan Allah yang pasti, bukan hasil hubungan manusia, dan merupakan kebenaran yang tak terbantahkan. Namun, manusia kemudian berselisih paham.

    Menurut riwayat Abdurrazzaq dari Ma’mar, dari Qatadah, ada empat macam perselisihan tentang Isa.

    Pertama, golongan yang mengatakan Isa adalah Allah yang turun ke bumi lalu kembali ke langit (pendapat kaum Ya’qubiyah).
    Kedua, yang mengatakan Isa adalah anak Allah (pendapat kaum Nasturiyah).
    Ketiga, yang mengatakan Isa adalah yang ketiga dari yang bertiga, yaitu Allah, anak Allah, dan Ruhul Qudus.
    Ada pula yang meyakini oknum ketiga itu adalah Maryam.

    Ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa tidak pantas bagi Allah mempunyai anak. Allah Mahasuci dari anggapan itu. Dia hidup kekal, tanpa awal dan akhir, dan tidak memerlukan keturunan. Jika Dia menetapkan sesuatu, Dia hanya berfirman, “Jadilah!”, maka terjadilah hal tersebut.

    (inf/kri)



    Sumber : www.detik.com