Category: Khazanah

  • Kenapa Surat Yasin Disebut Jantung Al-Qur’an?


    Jakarta

    Yasin adalah salah satu surat dalam kitab suci Al-Qur’an. Surat ini berada di urutan ke-36 dalam mushaf Al-Qur’an dan terdiri dari 83 ayat.

    Biasanya, surat Yasin dibacakan untuk orang yang mendekati ajal. Selain itu, surat Yasin juga bisa diamalkan untuk orang yang sudah meninggal dunia.

    Menukil dari Al Itqan fi Ulumil Qur’an susunan Jalaluddin As Suyuthi yang diterjemahkan Muhammad Halabi, banyak keistimewaan yang terkandung dari surat Yasin. Salah satu keistimewaan itu adalah surat Yasin disebut sebagai Jantung Al-Qur’an.


    Lantas, apa alasan surat Yasin dianggap sebagai jantung Al-Qur’an?

    Alasan Surat Yasin Disebut Jantung Al-Qur’an

    Yasin disebut sebagai jantung Al-Qur’an sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

    “Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki jantung, dan jantung Al-Qur’an adalah surat Yasin. barang siapa membaca surat Yasin maka Allah SWT akan mencatat pahala untuknya seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (HR Tirmidzi dan Darimi)

    Sementara itu, Imam Al Ghazali mengatakan bahwa Yasin disebut sebagai jantung Al-Qur’an karena inti dari isinya membahas tentang keimanan yang baru dapat dinilai benar dengan pengakuan terhadap Hari Akhir. Sama halnya dengan peran jantung dalam kesehatan, keimanan seseorang baru dinilai benar apabila disertai dengan keimanan terhadap hari kebangkitan.

    Keutamaan Mengamalkan Surat Yasin bagi Muslim

    Mengutip buku Surat Yasin dan Tahlil susunan Muhammad Abdul Karim, berikut sejumlah keutamaan surat Yasin.

    1. Membaca surat Yasin di malam hari akan diberi ampunan oleh Allah SWT
    2. Meninggal dalam keadaan syahid
    3. Dikabulkan hajatnya
    4. Diberikan rasa aman dan kesembuhan
    5. Mendapat kemudahan
    6. Dosanya diampuni oleh Allah SWT
    7. Sakaratul mautnya diringankan

    Wallahu a’lam.

    Kapan Waktu Dianjurkan Membaca Surat Yasin?

    Terkait waktu membaca surat Yasin diterangkan dalam sebuah hadits. Berikut bunyinya,

    “Dari al-Hasan (diriwayatkan), barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mengharap wajah Allah atau mengharap keridaan Allah niscaya ia akan diampuni. Ia berkata lagi; Telah sampai berita kepadaku bahwa surat itu menyamai Al-Qur’an seluruhnya.” (HR Ad Darimi)

    Pada riwayat lainnya juga disebutkan sebagai berikut:

    “Dari Abu Hurairah (diriwayatkan) Rasulullah saw bersabda, barangsiapa di malam Jumat membaca ad-Dukhan dan Yasin, maka ia diampuni di pagi harinya” (HR Al Baihaqi)

    Menurut buku 5 Amalan Penyuci Hati yang disusun Ali Akbar bin Aqil dan Abdullah Chris, anjuran membaca surah Yasin pada malam hari juga disebutkan dalam hadits dari Ibnu Sunni dan Ibnu Hibban. Nabi SAW bersabda,

    “Siapa yang membaca surah Yasin pada suatu malam karena Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR Ibnu Sunni dan Ibnu Hibban)

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Tak Hanya Panas, Ini Azab Neraka yang Sangat Dingin dan Menyiksa



    Jakarta

    Biasanya, neraka digambarkan sebagai tempat yang sangat panas. Namun, ada juga neraka dengan suhu sangat dingin. Maksud dari dingin di sini bukan berarti sejuk, melainkan dingin yang menyiksa.

    Menukil dari kitab Al Umm oleh Imam Syafi’i yang ditahqiq dan takhrij Dr Rif’at Fauzi Abdul Muththalib terbitan Pustaka Azzam, terkait neraka dengan suhu dingin disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA.


    Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika panas menyengat, maka tangguhkanlah salat hingga cuaca agak dingin, sebab sengatan panas berasal dari tiupan neraka Jahannam. Neraka mengadu kepada Tuhannya untuk berkata, “Wahai Tuhanku, sebagian dariku memakan sebagian yang lain.” Lalu Dia (Allah) mengizinkannya untuk bernafas dua kali setiap tahun, yaitu satu nafas di musim dingin dan satu nafas lagi di musim panas.

    Jadi, panas paling menyengat yang kalian rasakan adalah berasal dari panasnya neraka Jahannam, dan dingin paling menyengat yang kalian rasakan adalah berasal dari zamharir (dingin yang berlebihan)nya.” (HR Bukhari)

    Selain itu diterangkan dalam Latha ‘If Al Ma’arif Fi Ma Li Mawasim Al-‘Am Min Al-Wazha ‘If susunan Al Imam Al Hanbali terjemahan Mastur Ihram dan Abidun Zuhri, dinginnya neraka Zamharir membuat tulang seseorang remuk hingga terdengar suara hancurnya.

    Dari Mujahid berkata, “Mereka lari ke Zamharir. Namun ketika mereka telah tiba di sana, tulang-tulang remuk hingga terdengar suara gemeretaknya.”

    Lalu, dari Ka’ab juga menyebut hawa dari neraka Zamharir merontokkan tulang. Dia berkata,

    “Sesungguhnya di neraka Jahannam ada hawa dingin, yaitu zamharir. Hawa dingin ini bisa merontokkan tulang sehingga mereka meminta tolong dengan panasnya neraka Jahannam.”

    Ada juga riwayat dari Abdul Malik yang berasal dari Umair bahwa saking dinginnya neraka Zamharir, para penghuni neraka bisa terbunuh dengan hawa dingin yang dirasakan dari sana.

    “Saya mendengar kabar bahwa penghuni neraka meminta kepada penjaganya untuk membawa mereka keluar ke sisi-sisi neraka, lalu mereka pun dibawa keluar. Namun mereka terbunuh oleh dingin dan zamharir hingga mereka kembali ke neraka dan memasukinya dari hawa dingin yang mereka rasakan.”

    Naudzubillah min zaalik.

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Membaca Yasin dan Mendoakan Orang Meninggal Menurut Sunnah


    Jakarta

    Surah Yasin bisa dibaca untuk orang yang sudah meninggal dunia. Terkait hal ini diterangkan dalam sebuah hadits yang berasal dari Mu’aqqal bin Yasar Ash-Shalabiy RA.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Bacalah surah Yasin untuk orang-orang yang meninggal dunia!” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)


    Ibnu Qayyim Al Jauziyyah melalui karyanya Ar Ruh li Ibnil-Qayyim yang diterjemahkan Kathur Suhardi menyebut bahwa surah Yasin juga bisa dibaca saat seseorang mendekati ajalnya. Dalam surah Yasin sendiri terkandung makna kegembiraan bagi orang-orang yang wafat sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Yasin ayat 27-28,

    بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ ٢٧ ۞ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى قَوْمِهٖ مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ جُنْدٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ ٢٨

    Artinya: “(bagaimana) Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan. Setelah dia (dibunuh), Kami tidak menurunkan satu pasukan pun dari langit kepada kaumnya dan Kami tidak perlu menurunkannya.”

    Lantas bagaimana cara mengirim doa yasin untuk orang yang sudah meninggal?

    Cara Mengirim Doa Yasin untuk Orang yang Meninggal Dunia

    Mengutip dari buku Tuntunan Tanya Jawab Aqidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji oleh Syaikh Muhammad bin Shalih At-Utsaimin, sebelum mengirim doa Yasin untuk orang yang sudah meninggal hendaknya muslim membaca hadroh terlebih dahulu. Hadroh ini terdiri dari istighfar, tawassul, dan Al Fatihah. Setelahnya, maka muslim bisa mengikuti tata cara berikut:

    1. Membaca istighfar tiga kali
    2. Membaca tawasul kepada Rasulullah SAW,

    اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهِ وإِخْوَانِهِ مِنَ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ، ثُمَّ اِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ القُبُوْرِ مِنَ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا إِلَى آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنْ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

    Ilaa hadhratin nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasallama wa aalihi wa ikhwanihi wa minal anbiya-i wal mursalin wal auliyaa-i wasy syuhada-i wash shalihin wash shabati wat tabi’in wal ‘ulamaa-i wal mushonnifinal mukhlashiin wa jami’il malaa-ikatil muqarrabin. Tsumma ilaa jamii’il ahlil kubur minal muslimiina wal muslimati wal mu’minina wal mu’minati min masyariqil ardhi ilaa magharibiha barrihaa wa bahriha khushuushon ila aaabaa-inaa wa ummahaatinaa wa ajdaadinaa wa jaddaatina wa masyaayikhana wa masyaayikhi masyaayikhinaa wa asatidzatina wa asatidzati asatidzatina wa liman ahsana ilaina wa limanij tama’naa hahunaa bisababihi, syaiul lillahi lahum Al-Fatihah.

    Artinya: “Untuk yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, dan saudaranya dari kalangan pada nabi dan rasul, para wali, para syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi’in, ulama al-amilin, ulama penulis yang ikhlas, semua malaikat Muqarrabin, kemudian semua ahli kubur Muslimin, Muslimat, Mukminin, Mukminat dari Timur ke Barat, baik di laut dan di darat, khususnya bapak kami, ibu kami, kakek kami, nenek kami, guru kami, pengajar dari guru kami, ustadz kami, pengajar ustadz kami, mereka yang telah berbuat baik kepada kami, dan bagi ahli kubur atau arwah yang menjadi sebab kami berkumpul di sini. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua, Al-Fatihah.”

    3. Membaca surah Al Fatihah
    4. Barulah muslim bisa mengamalkan surah Yasin

    Bacaan Doa Lainnya untuk Orang yang Meninggal Dunia

    Mengacu dari sumber yang sama, terdapat pula doa lainnya yang bisa dibaca bagi orang yang meninggal dunia. Berikut doanya,

    اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارً اخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَادْخِلْهُ الجَنَّةَ وَاعِذْهُ مِنْ عَدَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

    Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil maa i wats-tsalji walbaradi wa naqqihii minal khathaa ya kamaa yunaqqats- tsawbul abyadhu minad danas, wa abdilhu daaran khairan min daarihii wa ahlan khairan min ahlihii wa zawjan khairan min zawjihi, wa adkhilhul jannata wa a ‘idzhu min ‘adzaabil qabri wa fitnatihi wa min ‘adzaabin naar.

    Artinya : “Wahai Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan seperti baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan siksa api neraka.”

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Negara Islam Ini Tak Pernah Dijajah Bangsa Asing



    Jakarta

    Banyak negara di dunia mengalami penjajahan oleh kekuatan asing. Meski demikian, sejarah mencatat ada negara Islam yang tak pernah merasakan penjajahan sama sekali.

    Adalah Arab Saudi. Negara di Timur Tengah yang menjadi pusat lahirnya Islam ini diketahui tak pernah menjadi koloni negara mana pun meski menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah selama ratusan tahun dan berhubungan dekat dengan Inggris.


    Pada 1915, Kerajaan Inggris menandatangani Perjanjian Darin dengan Abdulaziz Al Saud yang menetapkan Arab Saudi sebagai protektorat Inggris tetapi bukan koloni. Sebagai imbalannya, Inggris membantu Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya mengakhiri kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah dan Arab Saudi resmi berdiri pada 1932, demikian menurut World Atlas.

    Abdulaziz Al Saud yang juga dikenal dengan Ibnu Saud pada saat itu melakukan sejumlah peperangan untuk menaklukkan wilayah di Jazirah Arab. Menurut Encyclopedia Britannica, pada 23 September 1932, Ibnu Saud mengeluarkan dekrit untuk menyatukan wilayah Najd dan Hijaz dalam Kerajaan Arab Saudi. Kerajaan ini mendapat pengakuan internasional penuh sebagai negara merdeka sejak tanggal tersebut.

    Pendapatan negara sebelumnya bergantung pada ziarah, bea cukai, dan pajak. Namun, hal itu terus menurun hingga Ibnu Saud memprakarsai eksplorasi minyak. Ia menandatangani konsesi pertamanya dengan perusahaan minyak Amerika, Standard Oil Company of California. Produksi minyak mogok dan hampir berhenti beroperasi selama Perang Dunia II, membuat Ibnu Saud hampir bangkrut.

    Selama Perang Dunia II, Arab Saudi berada di posisi netral, tak ikut perang. Namun, menjelang akhir perang, eksploitasi minyak kembali berlanjut.

    Sebagai bangsa yang tak pernah dijajah, masyarakat Arab Saudi tak pernah mengalami kekejaman dan penghinaan lazimnya negara terjajah. Menurut sebuah tulisan yang terbit di Arab News pada 1 April 2003 lalu, warga Arab Saudi membenci penjajahan dan memandang perang melawan Irak sebagai perang kolonial.

    Selain Arab Saudi, Iran dan Afghanistan juga tercatat sebagai negara yang tak pernah dijajah. Barat, termasuk Inggris dan Rusia, pernah berupaya masuk tapi tak bisa menaklukkannya.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ulama Dunia Gelar Konferensi di Turki, Suarakan Penyelamatan Gaza



    Jakarta

    Ratusan ulama dari berbagai negara berkumpul di Istanbul, Turki, dalam Konferensi Ulama Dunia tentang Gaza: Tanggung Jawab Islam dan Kemanusiaan. Forum internasional ini diikuti 150 ulama dari lebih 50 negara, termasuk perwakilan organisasi Islam besar Indonesia.

    Dari Tanah Air, hadir perwakilan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga Ikatan Dai Indonesia (IKADI) yang diwakili langsung Ketua Umum IKADI, KH Ahmad Kusyairi Suhail MA.


    Dalam keterangan pers yang diterima detikcom, Sabtu (23/8/2025), konferensi ini diselenggarakan International Union for Muslim Scholars (IUMS) bersama Foundation for Islamic Scholars Turki pada 22-29 Agustus 2025. Rangkaian acara dibuka dengan konferensi pers di halaman Masjid Eyup Sultan, Istanbul, usai salat Jumat (22/8).

    Dalam momen itu, hadir Kepala Urusan Islam Turki, Prof Dr Ali Erbas, serta Ketua IUMS, Prof Dr Ali Muhyiddin Al Qaradaghi. Para ulama menyerukan protes keras atas tragedi kemanusiaan di Gaza yang disebut sebagai salah satu pembantaian terbesar dalam sejarah umat manusia.

    Forum internasional ini digelar dengan semangat meningkatkan tekanan sosial dan politik, termasuk mendesak dibukanya jalur perbatasan serta penyaluran bantuan darurat bagi warga Gaza yang terjebak dalam kepungan.

    Sepanjang konferensi, dijadwalkan ada 18 seminar paralel yang membahas isu-isu utama seputar Palestina. Gelaran ini akan ditutup dengan deklarasi akhir pada Jumat (29/8) di Masjid Agung Hagia Sophia, Istanbul.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Niat Sholat Fajar: Arab, Latin dan Terjemahannya


    Jakarta

    Sholat sunnah fajar, atau sering juga disebut sholat qobliyah Subuh, merupakan amalan yang sangat dianjurkan dan senantiasa dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Keutamaan sholat ini begitu besar, bahkan melebihi nilai dunia dan seisinya.

    Seperti yang diriwayatkan dalam hadits dari Aisyah RA yang berkata, “Nabi SAW tidaklah menjaga sholat sunnah yang lebih daripada menjaga sholat sunnah dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Muslim)

    Hadits lain bahkan menyebutkan, “Dua rakaat fajar (sholat sunnah qobliyah Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim)


    Untuk mendapatkan keutamaan tersebut, mari simak bacaan niat sholat sunnah fajar yang tepat.

    Niat Sholat Sunnah Fajar

    Berikut adalah niat sholat sunnah fajar dua rakaat yang bisa dibaca di dalam hati:

    أصَلِّي سُنَّةٌ قَبْلِيَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Latin: Ushallii sunnatan qabliyatash shubhi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku niat sholat sunnah sebelum Subuh dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

    Surah yang Dianjurkan untuk Dibaca

    Dalam pelaksanaannya, sholat sunnah fajar dikerjakan seperti sholat pada umumnya. Namun, ada surah-surah tertentu yang dianjurkan untuk dibaca agar keutamaannya semakin sempurna.

    Menurut buku Tuntunan Mudah Menghafal Bacaan Shalat Plus Juz Amma karya Adi Tri Eka, pada rakaat pertama dianjurkan membaca surah Al-Fatihah dan Al-Kafirun, sementara pada rakaat kedua membaca Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.

    Selain itu, sebagian ulama juga menganjurkan bacaan yang berbeda. Berdasarkan Kitab I’aanah ath Tholibiin, Imam al-Ghazali menyampaikan membaca surah Al-Insyirah pada rakaat pertama dan surah Al-Fil pada rakaat kedua memiliki keutamaan luar biasa.

    “Orang yang membaca surah Al-Insyirah dan Al-Fil pada sholat sunnah qobliyah Subuh, maka terjagalah dia dari kejahatan orang yang jahat,” ujar Imam Ghazali dalam kitab tersebut, seperti yang dikutip oleh Syekh Ali.

    “Orang yang membaca surah Al Insyirah dan Al Fil pada sholat sunnah qobliyah Subuh, maka terjagalah dia dari kejahatan orang yang jahat. Allah SWT tidak memberi jalan kepada orang jahat untuk menyakiti seseorang tadi dan ini adalah benar lagi sudah teruji tanpa syarat keraguan,” disampaikan oleh Imam Ghazali di dalam kitab tersebut karya Syekh Ali.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 13 Rukun Salat yang Wajib Dilakukan agar Ibadah Sah


    Jakarta

    Sebagai ibadah yang wajib dilakukan, salat menjadi fondasi utama bagi seorang muslim. Ibadah ini harus dikerjakan dalam kondisi apa pun, bahkan saat sakit sekalipun.

    Allah SWT telah menegaskan kewajiban salat dalam firman-Nya di surat An-Nisa ayat 103,

    اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ….


    Artinya: “… Sesungguhnya, salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Daftar Lengkap 13 Rukun Salat

    Agar salat kita sah di mata Allah SWT, penting untuk mengetahui dan melaksanakan semua rukunnya dengan benar. Merujuk pada buku Fiqh Salat karya Abu Abbas Zain Musthofa al-Basuruwani, berikut adalah 13 rukun salat yang harus Anda pahami.

    1. Niat

    Niat menjadi rukun pertama dan paling fundamental. Niat harus ada di dalam hati, berisi tujuan spesifik, seperti salat fardhu atau sunnah.

    2. Takbiratul Ihram

    Mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan setinggi bahu. Gerakan ini menandai dimulainya salat.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdulullah bin Umar, beliau berkata:

    “Aku melihat Rasulullah SAW membuka takbir dalam salat, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga menjadikan keduanya sejajar dengan kedua bahunya. Bila Rasulullah SAW bertakbir untuk rukuk, beliau melakukan hal yang sama. Jika beliau mengatakan ‘Sami’allaahu liman hamidah’, beliau melakukan hal yang sama kemudian mengatakan ‘Rabbanaa lakal hamdu’. Namun, beliau tidak melakukan hal itu ketika bersujud, dan tidak pula ketika bangun dari bersujud.” (HR Bukhari, Nasa’i dan Baihaqi)

    3. Berdiri bagi yang Mampu

    Jika tidak memiliki halangan, salat wajib dilakukan dalam posisi berdiri tegak. Namun, jika sakit, diperbolehkan salat sambil duduk, berbaring, atau bahkan hanya dengan isyarat.

    4. Membaca Surat Al-Fatihah

    Wajib membaca surat Al-Fatihah secara lengkap, termasuk basmalah dan 13 huruf bertasydid di dalamnya.

    5. Rukuk

    Membungkukkan badan dengan posisi punggung lurus dan kedua telapak tangan menyentuh lutut. Gerakan ini harus dilakukan dengan tuma’ninah (tenang dan tidak terburu-buru).

    Berikut beberapa bacaan rukuk yang bisa diamalkan:

    سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

    Latin: Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wabihamdihi (3x)

    Artinya: Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

    Latin: Subhānakallāhumma rabbanā wa bi hamdik. Allāhummaghfir lī

    Artinya: Mahasuci Engkau ya Allah, Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu wahai Tuhanku. Ampunilah dosaku

    6. I’tidal

    Kembali berdiri tegak dari posisi rukuk dengan tuma’ninah sambil mengangkat kedua tangan diiringi bacaan berikut:

    سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

    Latin: Sami Allahu liman hamidah.

    Artinya: “Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.”

    Kemudian dilanjutkan membaca:

    رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

    Latin: rabbana wa laka al-hamdu.

    Artinya: “Wahai Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian”.

    7. Sujud Dua Kali

    Melakukan dua kali sujud dengan menempelkan dahi, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung telapak kaki ke lantai. Posisi sujud juga harus dilakukan dengan tuma’ninah.

    Berikut beberapa bacaab sujud yang bisa diamalkan:

    سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

    Latin: Subḥana rabbiyal a’lā wa biḥamdihi

    Artinya: “Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi dan segala puji hanya bagi-Nya.”

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

    Latin: Subhānakallāhumma rabbanā wa bi hamdik. Allāhummaghfir lī

    Artinya: Mahasuci Engkau ya Allah, Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu wahai Tuhanku. Ampunilah dosaku

    8. Duduk di Antara Dua Sujud

    Duduk sejenak di antara dua sujud dengan tuma’ninah. Duduk ini dinamakan duduk iftirasy.

    رب اغْفِرلي وَارْحَمْنِى واجبرني وَارْفَعْنِيى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَارْزُقْنِي

    Latin: Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii wahdinii wa’aafinii war zukni

    Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah aku petunjuk dan anugerahilah aku rizki”.

    Atau bisa juga membaca doa singkat ini:

    رب اغْفِرلي رب اغْفِرلي

    Latin: Robbighfirlii Robbighfirlii

    Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, ampunilah aku

    9. Membaca Tasyahud (Tahiyat)

    Membaca bacaan tasyahud saat duduk di antara dua sujud. Mulai dari tasyahud awal dan tasyahud akhir.

    Bacaan tasyahud awal:

    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِاَ . للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ

    Arab latin: At tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thoyyibaatulillaah. as salaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wabarakaatuh, assalaamu’alaina wa’alaa ibaadillaahishaalihiin. asyhaduallaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammad rasuulullaah. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad.

    Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad.”

    10. Duduk Iftirasy saat Tasyahud

    Duduk iftirasy ketika tasyahud awal. Caranya adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan membentangkan kaki kiri, kemudian menduduki kaki kiri tersebut.

    Sedangkan duduk tawarruk dilakukan di tasyahud akhir. Tawarruk adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri ke depan (di bawah kaki kanan), dan duduknya di atas tanah/lantai.

    11. Membaca Sholawat Nabi Muhammad SAW

    Membaca sholawat Nabi Muhammad SAW pada tasyahud akhir adalah wajib, sementara membacanya pada tasyahud awal hukumnya sunnah.

    Pada tasyahud akhir kita perlu membaca bacaan tasyahud awal dan kemudian dilanjutkan dengan bacaan tambahan sebagai berikut:

    اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي مُحَمّدْ وعلى آلِ مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلعَلَي مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

    Arab latin: Allaahumma shalli’alaa muhammad, wa’alaa aali muhammad. kamaa shallaita alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim. wabaarik’alaa muhammad wa alaa aali muhammad. kamaa baarakta alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim, fil’aalamiina innaka hamiidum majiid.

    Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia.”

    12. Salam

    Mengucapkan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri setelah selesai tasyahud akhir. “Assalamualaikum warrahmatullah”.

    13. Tertib

    Semua rukun di atas harus dikerjakan secara berurutan dan tidak boleh terbalik.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Makan Bangkai Haram, Bolehkah Makan Ikan yang Sudah Mati?



    Jakarta

    Memakan bangkai hukumnya haram. Binatang-binatang darat yang jinak yang halal dimakan, kehalalannya melalui penyembelihan atau pemotongan secara syar’i.

    Jika kerbau, sapi atau kambing yang mati tanpa penyembelihan syar’i, hukumnya sebagai bangkai dan haram untuk dimakan. Adapun ikan atau hewan yang hidup di air semata-mata, tidak disyaratkan untuk disembelih, hanya jika ikan itu termasuk ikan besar sunah disembelih.

    Menurut penjelasan dalam Taudhihul Adillah 6 Penjelasan tentang Dalil-dalil Muamalah karya KH. M. Syafi’i Hadzami, hal tersebut karena ikan termasuk binatang yang halal bangkainya, seperti halnya juga belalang. Dan Allah telah sembelihkan ikan untuk para hamba-Nya. Maka halallah ikan, walaupun kita jumpai sudah terapung menjadi bangkai.


    Dalam sebuah hadits dikatakan,

    ثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالصِّحَالُ

    (رواه احمد وابن ماجه والدارقطني)

    Artinya: Telah bercerita kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslâm dari ayahnya dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Rasûlullah bersabda, “Dihalalkan bagi kamu dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua macam bangkai, ialah ikan dan belalang. Sedangkan dua macam darah yang dimaksud adalah hati dan limpa.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan ad-Dâruqutnî)

    Dalam riwayat lain,

    عَنْ عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَالَ بَلْغَنِي : إِنَّ اللَّهَ ذَبَحَ مَا فِي الْبَحْرِ لِبَنِي آدَمَ (رواه الدار قطني)

    Artinya: Dari Amru bin Dînâr, ia berkata, “Sampaikanlah padaku, Sesungguhnya Allah telah sembelihkan apa-apa yang ada di laut untuk anak-anak Adam.” (HR ad-Dâruqutnî)

    Menurut al-Bukhârî dari Abû Syuraih, hadits tersebut sebagai mauqûf. Dan diriwayatkan dari Abû Bakar as-Siddiq ia berkata,

    الطَّافِي حَلَالٌ

    Artinya: “Yang terapung itu halal”

    Sehingga hanya ada dua bangkai yang dihalalkan dan boleh dikonsumsi muslim yaitu belalang dan ikan.

    (lus/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Minim Anak Muda di Masjid, Ini Siasat Kemenag



    Jakarta

    Minimnya kehadiran anak muda di masjid menjadi perhatian serius Kementerian Agama (Kemenag). Banyak masjid di Indonesia, terutama di daerah yang didominasi oleh jemaah lanjut usia, sementara anak muda justru jarang terlihat.

    Kemenag punya siasat untuk mengubah fungsi masjid agar lebih relevan dan menarik bagi generasi muda. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsyad Hidayat.

    “Kita ingin mencoba memberikan inspirasi ke masjid-masjid yang lain. Anak-anak muda ini harus kita berikan kesadaran pentingnya masjid,” ungkap Arsyad, saat ditemui di Konferensi Pers Blissful Mawlid di Jakarta, Jumat (22/8/2025).


    Contohnya seperti zaman nabi. Pada masa itu, di zaman Rasulullah SAW, masjid menjadi pusat segala aktivitas, mulai dari komunikasi, diskusi, hingga strategi perang.

    Kini, Kemenag pun ingin mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Salah satu langkah konkretnya adalah menjadikan masjid sebagai tempat yang punya fungsi sosial.

    “Jangan masjid itu jauh dari orang-orang miskin. Kita ingin masjid punya kekuatan, punya daya untuk memberikan fungsi sosial kepada masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.

    Selain itu, beberapa masjid sudah mulai berinovasi dengan memberikan pinjaman lunak kepada masyarakat. Hal ini dinilai sangat positif karena bisa membantu masyarakat menghindari jeratan pinjaman online (pinjol) dan mengatasi kemiskinan.

    “Ini menurut saya positif sekali, membantu program pemerintah kaitan dengan mengatasi kemiskinan,” kata Arsyad.

    Dengan berbagai program ini, Kemenag berharap masjid tidak lagi sepi dari anak muda. Masjid harus menjadi pusat kegiatan yang relevan, dinamis, dan memberdayakan umat.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Al-Waqiah Surat ke Berapa? Ini Penjelasannya


    Jakarta

    Surat Al-Waqiah adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang memiliki makna mendalam dan sering diamalkan oleh umat Islam. Isi surat ini mengingatkan tentang dahsyatnya peristiwa hari kiamat serta kebesaran Allah SWT yang tercermin dalam penciptaan manusia, api, dan tumbuhan.

    Banyak umat Islam menjadikan Surat Al-Waqiah sebagai amalan harian karena diyakini memiliki berbagai keutamaan. Selain memberikan peringatan tentang kehidupan akhirat, surat ini juga mengajarkan pesan-pesan yang dapat menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia.


    Al-Waqiah Surat ke Berapa?

    Surat Al-Waqi’ah merupakan surat ke-56 dalam Al-Qur’an dan termasuk ke dalam golongan surat Makkiyah. Surat ini memiliki kandungan yang kuat tentang keimanan dan kehidupan akhirat.

    Terdiri dari 96 ayat, nama Al-Waqi’ah diambil dari kata pada ayat pertamanya yang berarti “Hari Kiamat”. Pemilihan nama ini sesuai dengan tema utama surat yang menggambarkan peristiwa besar tersebut.

    Bacaan Surat Al-Waqiah

    Bacaan Surat Al-Waqiah menjadi salah satu amalan yang sering dibaca oleh umat Islam, baik dalam rangka ibadah maupun sebagai doa memohon keberkahan. Membacanya dengan penuh penghayatan dapat membantu kita memahami pesan-pesan penting yang terkandung di dalamnya.

    Berikut ini adalah bacaan surat Al-Waqiah lengkap dalam tulisan Arab, Latin, dan juga artinya.

    إِذَا وَقَعَتِ ٱلْوَاقِعَةُ

    iżā waqa’atil-wāqi’ah

    1. Apabila terjadi hari kiamat,

    لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ

    laisa liwaq’atihā kāżibah

    2. tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.

    خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ

    khāfiḍatur rāfi’ah

    3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),

    إِذَا رُجَّتِ ٱلْأَرْضُ رَجًّا

    iżā rujjatil-arḍu rajjā

    4. apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,

    وَبُسَّتِ ٱلْجِبَالُ بَسًّا

    wa bussatil-jibālu bassā

    5. dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya,

    فَكَانَتْ هَبَآءً مُّنۢبَثًّا

    fa kānat habā`am mumbaṡṡā

    6. maka jadilah ia debu yang beterbangan,

    وَكُنتُمْ أَزْوَٰجًا ثَلَٰثَةً

    wa kuntum azwājan ṡalāṡah

    7. dan kamu menjadi tiga golongan.

    فَأَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ مَآ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ

    fa aṣ-ḥābul-maimanati mā aṣ-ḥābul-maimanah

    8. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu.

    وَأَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ مَآ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ

    wa aṣ-ḥābul-masy`amati mā aṣ-ḥābul-masy`amah

    9. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

    وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلسَّٰبِقُونَ

    was-sābiqụnas-sābiqụn

    10. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu,

    أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلْمُقَرَّبُونَ

    ulā`ikal-muqarrabụn

    11. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.

    فِى جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

    fī jannātin-na’īm

    12. Berada dalam jannah kenikmatan.

    ثُلَّةٌ مِّنَ ٱلْأَوَّلِينَ

    ṡullatum minal-awwalīn

    13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,

    وَقَلِيلٌ مِّنَ ٱلْءَاخِرِينَ

    wa qalīlum minal-ākhirīn

    14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian

    عَلَىٰ سُرُرٍ مَّوْضُونَةٍ

    ‘alā sururim mauḍụnah

    15. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata,

    مُّتَّكِـِٔينَ عَلَيْهَا مُتَقَٰبِلِينَ

    muttaki`īna ‘alaihā mutaqābilīn

    16. seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.

    يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَٰنٌ مُّخَلَّدُونَ

    yaṭụfu ‘alaihim wildānum mukhalladụn

    17. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,

    بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ

    bi`akwābiw wa abārīqa wa ka`sim mim ma’īn

    18. dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir,

    لَّا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنزِفُونَ

    lā yuṣadda’ụna ‘an-hā wa lā yunzifụn

    19. mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,

    وَفَٰكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ

    wa fākihatim mimmā yatakhayyarụn

    20. dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,

    وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ

    wa laḥmi ṭairim mimmā yasytahụn

    21. dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.

    وَحُورٌ عِينٌ

    wa ḥụrun ‘īn

    22. Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,

    كَأَمْثَٰلِ ٱللُّؤْلُؤِ ٱلْمَكْنُونِ

    ka`amṡālil-lu`lu`il-maknụn

    23. laksana mutiara yang tersimpan baik.

    جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    jazā`am bimā kānụ ya’malụn

    24. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.

    لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا

    lā yasma’ụna fīhā lagwaw wa lā ta`ṡīmā

    25. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,

    إِلَّا قِيلًا سَلَٰمًا سَلَٰمًا

    illā qīlan salāman salāmā

    26. akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.

    وَأَصْحَٰبُ ٱلْيَمِينِ مَآ أَصْحَٰبُ ٱلْيَمِينِ

    wa aṣ-ḥābul-yamīni mā aṣ-ḥābul-yamīn

    27. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.

    فِى سِدْرٍ مَّخْضُودٍ

    fī sidrim makhḍụd

    28. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,

    وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ

    wa ṭal-ḥim manḍụd

    29. dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),

    وَظِلٍّ مَّمْدُودٍ

    wa ẓillim mamdụd

    30. dan naungan yang terbentang luas,

    وَمَآءٍ مَّسْكُوبٍ

    wa mā`im maskụb

    31. dan air yang tercurah,

    وَفَٰكِهَةٍ كَثِيرَةٍ

    wa fākihating kaṡīrah

    32. dan buah-buahan yang banyak,

    لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ

    lā maqṭụ’atiw wa lā mamnụ’ah

    33. yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.

    وَفُرُشٍ مَّرْفُوعَةٍ

    wa furusyim marfụ’ah

    34. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

    إِنَّآ أَنشَأْنَٰهُنَّ إِنشَآءً

    innā ansya`nāhunna insyā`ā

    35. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung

    فَجَعَلْنَٰهُنَّ أَبْكَارًا

    fa ja’alnāhunna abkārā

    36. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.

    عُرُبًا أَتْرَابًا

    ‘uruban atrābā

    37. penuh cinta lagi sebaya umurnya.

    لِّأَصْحَٰبِ ٱلْيَمِينِ

    li`aṣ-ḥābil-yamīn

    38. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan,

    ثُلَّةٌ مِّنَ ٱلْأَوَّلِينَ

    ṡullatum minal-awwalīn

    39. (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu.

    وَثُلَّةٌ مِّنَ ٱلْءَاخِرِينَ

    wa ṡullatum minal-ākhirīn

    40. dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.

    وَأَصْحَٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصْحَٰبُ ٱلشِّمَالِ

    wa aṣ-ḥābusy-syimāli mā aṣ-ḥābusy-syimāl

    41. Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?

    فِى سَمُومٍ وَحَمِيمٍ

    fī samụmiw wa ḥamīm

    42. Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih,

    وَظِلٍّ مِّن يَحْمُومٍ

    wa ẓillim miy yaḥmụm

    43. dan dalam naungan asap yang hitam.

    لَّا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ

    lā bāridiw wa lā karīm

    44. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.

    إِنَّهُمْ كَانُوا۟ قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ

    innahum kānụ qabla żālika mutrafīn

    45. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan.

    وَكَانُوا۟ يُصِرُّونَ عَلَى ٱلْحِنثِ ٱلْعَظِيمِ

    wa kānụ yuṣirrụna ‘alal-ḥinṡil-‘aẓīm

    46. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar.

    وَكَانُوا۟ يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبْعُوثُونَ

    wa kānụ yaqụlụna a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamab’ụṡụn

    47. Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali?

    أَوَءَابَآؤُنَا ٱلْأَوَّلُونَ

    a wa ābā`unal-awwalụn

    48. apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (juga)?”

    قُلْ إِنَّ ٱلْأَوَّلِينَ وَٱلْءَاخِرِينَ

    qul innal-awwalīna wal-ākhirīn

    49. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian,

    لَمَجْمُوعُونَ إِلَىٰ مِيقَٰتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ

    lamajmụ’ụna ilā mīqāti yaumim ma’lụm

    50. benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.

    ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا ٱلضَّآلُّونَ ٱلْمُكَذِّبُونَ

    ṡumma innakum ayyuhaḍ-ḍāllụnal-mukażżibụn

    Artinya: 51. Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan,

    لَءَاكِلُونَ مِن شَجَرٍ مِّن زَقُّومٍ

    la`ākilụna min syajarim min zaqqụm

    52. benar-benar akan memakan pohon zaqqum,

    فَمَالِـُٔونَ مِنْهَا ٱلْبُطُونَ

    fa māli`ụna min-hal-buṭụn

    53. dan akan memenuhi perutmu dengannya.

    فَشَٰرِبُونَ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْحَمِيمِ

    fa syāribụna ‘alaihi minal-ḥamīm

    54. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.

    فَشَٰرِبُونَ شُرْبَ ٱلْهِيمِ

    fa syāribụna syurbal-hīm

    55. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum.

    هَٰذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ ٱلدِّينِ

    hāżā nuzuluhum yaumad-dīn

    56. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan”.

    نَحْنُ خَلَقْنَٰكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُونَ

    naḥnu khalaqnākum falau lā tuṣaddiqụn

    57. Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan?

    أَفَرَءَيْتُم مَّا تُمْنُونَ

    a fa ra`aitum mā tumnụn

    58. Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.

    ءَأَنتُمْ تَخْلُقُونَهُۥٓ أَمْ نَحْنُ ٱلْخَٰلِقُونَ

    a antum takhluqụnahū am naḥnul-khāliqụn

    59. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?

    نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ ٱلْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

    naḥnu qaddarnā bainakumul-mauta wa mā naḥnu bimasbụqīn

    60. Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,

    عَلَىٰٓ أَن نُّبَدِّلَ أَمْثَٰلَكُمْ وَنُنشِئَكُمْ فِى مَا لَا تَعْلَمُونَ

    ‘alā an nubaddila amṡālakum wa nunsyi`akum fī mā lā ta’lamụn

    Artinya: 61. untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.

    وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ ٱلنَّشْأَةَ ٱلْأُولَىٰ فَلَوْلَا تَذَكَّرُونَ

    wa laqad ‘alimtumun-nasy`atal-ụlā falau lā tażakkarụn

    62. Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?

    أَفَرَءَيْتُم مَّا تَحْرُثُونَ

    a fa ra`aitum mā taḥruṡụn

    63. Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.

    ءَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُۥٓ أَمْ نَحْنُ ٱلزَّٰرِعُونَ

    a antum tazra’ụnahū am naḥnuz-zāri’ụn

    64. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?

    لَوْ نَشَآءُ لَجَعَلْنَٰهُ حُطَٰمًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ

    lau nasyā`u laja’alnāhu huṭāman fa ẓaltum tafakkahụn

    65. Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang.

    إِنَّا لَمُغْرَمُونَ

    innā lamugramụn

    66. (Sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian”,

    بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

    bal naḥnu mahrụmụn

    67. bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.

    أَفَرَءَيْتُمُ ٱلْمَآءَ ٱلَّذِى تَشْرَبُونَ

    a fa ra`aitumul-mā`allażī tasyrabụn

    68. Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.

    ءَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ ٱلْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ ٱلْمُنزِلُونَ

    a antum anzaltumụhu minal-muzni am naḥnul-munzilụn

    69. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?

    لَوْ نَشَآءُ جَعَلْنَٰهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

    lau nasyā`u ja’alnāhu ujājan falau lā tasykurụn

    70. Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?

    أَفَرَءَيْتُمُ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى تُورُونَ

    a fa ra`aitumun-nārallatī tụrụn

    Artinya: 71. Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu).

    ءَأَنتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَآ أَمْ نَحْنُ ٱلْمُنشِـُٔونَ

    a antum ansya`tum syajaratahā am naḥnul-munsyi`ụn

    72. Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?

    نَحْنُ جَعَلْنَٰهَا تَذْكِرَةً وَمَتَٰعًا لِّلْمُقْوِينَ

    naḥnu ja’alnāhā tażkirataw wa matā’al lil-muqwīn

    73. Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.

    فَسَبِّحْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلْعَظِيمِ

    fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm

    74. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.

    فَلَآ أُقْسِمُ بِمَوَٰقِعِ ٱلنُّجُومِ

    fa lā uqsimu bimawāqi’in-nujụm

    75. Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.

    وَإِنَّهُۥ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

    wa innahụ laqasamul lau ta’lamụna ‘aẓīm

    76. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.

    إِنَّهُۥ لَقُرْءَانٌ كَرِيمٌ

    innahụ laqur`ānung karīm

    77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,

    فِى كِتَٰبٍ مَّكْنُونٍ

    fī kitābim maknụn

    78. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),

    لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلْمُطَهَّرُونَ

    lā yamassuhū illal-muṭahharụn

    79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

    تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

    tanzīlum mir rabbil-‘ālamīn

    80. Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.

    أَفَبِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ أَنتُم مُّدْهِنُونَ

    a fa bihāżal-ḥadīṡi antum mud-hinụn

    81. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?

    وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ

    wa taj’alụna rizqakum annakum tukażżibụn

    82. kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.

    فَلَوْلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلْحُلْقُومَ

    falau lā iżā balagatil-ḥulqụm

    83. Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,

    وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ

    wa antum ḥīna`iżin tanẓurụn

    84. padahal kamu ketika itu melihat,

    وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ

    wa naḥnu aqrabu ilaihi mingkum wa lākil lā tubṣirụn

    85. dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat,

    فَلَوْلَآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ

    falau lā ing kuntum gaira madīnīn

    86. maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)?

    تَرْجِعُونَهَآ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

    tarji’ụnahā ing kuntum ṣādiqīn

    87. Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?

    فَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلْمُقَرَّبِينَ

    fa ammā ing kāna minal-muqarrabīn

    88. adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),

    فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ

    fa rauḥuw wa raiḥānuw wa jannatu na’īm

    89. maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan.

    وَأَمَّآ إِن كَانَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلْيَمِينِ

    wa ammā ing kāna min aṣ-ḥābil-yamīn

    90. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,

    فَسَلَٰمٌ لَّكَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلْيَمِينِfa

    salāmul laka min aṣ-ḥābil-yamīn

    91. maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan.

    وَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلْمُكَذِّبِينَ ٱلضَّآلِّينَ

    wa ammā ing kāna minal-mukażżibīnaḍ-ḍāllīn

    92. Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat,

    فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيمٍ

    fa nuzulum min ḥamīm

    93. maka dia mendapat hidangan air yang mendidih,

    وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ

    wa taṣliyatu jaḥīm

    94. dan dibakar di dalam jahannam.

    إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ حَقُّ ٱلْيَقِينِ

    inna hāżā lahuwa ḥaqqul-yaqīn

    95. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.

    فَسَبِّحْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلْعَظِيمِ

    fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm

    96. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.

    Keutamaan Membaca Surat Al-Waqiah

    Dalam buku Mau Hartamu Berlimpah? Yuk Baca Al-Waqiah (2020) dijelaskan bahwa Surat Al-Waqiah memiliki sejumlah keutamaan, di antaranya sebagai berikut:

    1. Terhindar Dari Kemiskinan

    Mengamalkan Surah Al-Waqiah diyakini dapat melindungi seseorang dari kemiskinan dan kesulitan hidup.

    “Barang siapa membaca surah Al-Waqiah setiap malam, dia tidak akan mengalami kefakiran [kemelaratan].” HR Al- Baihaqi.

    Berdasarkan hadis Rasulullah serta pandangan para ulama, dapat disimpulkan bahwa membaca Surah Al-Waqiah dengan memahami maknanya akan membuat seseorang terhindar dari kefakiran.

    2. Lancar Rezekinya

    Selain melindungi dari kemiskinan, Surah Al-Waqiah juga diyakini mampu menjadi wasilah untuk membuka pintu rezeki.

    “Ajarkan surah Al-Waqiah kepada istri-istrimu, karena sesungguhnya Al-Waqiah merupakan surat kekayaan.” HR Ibnu Ady.

    3. Dijauhkan dari Kesusahan

    Surah Al-Waqiah diyakini mampu melindungi kita dari berbagai kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupan.

    “Barang siapa membaca Surah Al-Waqiah di malam Jum’at, dia akan dicintai oleh Allah dan manusia, dia tidak akan melihat kesengsaraan, kefakiran, kebutuhan serta penyakit dunia.” Imam Ja’far Al Shadiq.

    4. Dimudahkan Pekerjaannya

    Di samping tiga keutamaan tersebut, Surah Al-Waqiah juga memiliki manfaat lain, yaitu mempermudah urusan karier dalam kehidupan. Misalnya, bagi seorang pebisnis atau pedagang yang rutin mengamalkannya, urusan usahanya akan dipermudah dan bisnisnya berkembang dengan baik serta pesat.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com