Category: Tips Properti

  • 4 Bahan Efektif Bersihkan Sela-sela Keramik Lantai di Rumah


    Jakarta

    Lantai di rumah adalah tempat yang paling mudah kotor di rumah karena sering dilewati dan diinjak. Cara membersihkannya sebenarnya mudah dengan disapu atau dipel sudah kembali bersih. Namun, jika kamu perhatikan lantai yang sering dipel ternyata tidak membuat sela-sela ubin juga ikut menjadi bersih.

    Hal ini dikarenakan bahan yang berbeda. Keramik memiliki permukaan yang mengkilap dan mudah dibersihkan. Sementara sela-selanya terbuat dari campuran semen, pasir, dan air sehingga cara membersihkannya perlu digosok.

    Membersihkan sela-sela ubin juga membutuhkan waktu lama apalagi untuk rumah yang luas. Kamu bisa mencobanya pada area kamar mandi atau dinding dapur yang memakai keramik.


    Mengutip dari Ideal Homes, Rabu (27/3/2024), berikut bahan-bahan yang efektif membersihkan sela-sela ubin agar tampilannya seperti baru lagi.

    1. Pakai Baking Soda dan Cuka

    Campurkan dua sendok makan baking soda ke dalam air secukupnya. Jika noda susah dihilangkan, tambahkan dengan cuka. Namun jika menggunakan larutan cuka, kamu perlu menambahkan pasta gigi agar tidak merusak keramik. Gosok kembali sela-sela keramik, bilas permukaannya dengan kain lembap agar lantai rumah kamu tidak becek.

    Namun, dua bahan ini tidak untuk digunakan terlalu sering karena dapat merusak keramik. Efeknya ubin tidak terlihat berkilau lagi karena lapisan pelindungnya rusak.

    2. Pasta Gigi

    Pasta gigi mengandung soda bikarbonat yang merupakan bahan ampuh yang mampu mengangkat noda. Kamu cukup mengoleskan pasta gigi ke nat atau sela keramik menggunakan sikat gigi bekas. Kemudian bilas dengan air hangat dan keringkan dengan handuk bersih.

    3. Lemon

    Asam dari lemon bisa membersihkan noda pada sela-sela keramik. Caranya dengan mengiris lemon dan mengoleskan airnya ke sepanjang sela-sela keramik. Diamkan selama 15 menit lalu gosok dengan sikat gigi. Setelah itu, bilas dengan air hangat dan keringkan dengan handuk bersih.

    4. Pemutih

    Pemutih bisa menghilangkan jamur dan kotoran yang membandel dari nat tetapi dengan batas pemakaian yang cukup. Jika berlebihan dapat memudarkan warna sela keramik yang asli.

    Cara membersihkannya bisa menuangkan sedikit pemutih ke dalam wadah dan mencelupkan sikat gigi bekas ke dalamnya sebelum digosok. Bisa pula mencampurkan pemutih dengan pasta gigi. Setelah dioleskan ke sela keramik harus ditunggu selama 15 menit baru bisa digosok.

    Sehabis dibilas, keringkan dengan cara ditunggu atau kipas angin. Hindari menggunakan kertas atau kain karena seratnya dapat menempel di lantai yang telah bersih.

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Pernah Jemur Pakaian di Depan Rumah, Beneran deh Jangan!


    Jakarta

    Menjemur baju di depan rumah merupakan kegiatan yang sudah sangat umum terjadi di masyarakat kita. Meskipun terlihat sebagai tindakan yang biasa dilakukan, nyatanya, ada beberapa pertimbangan penting yang mungkin belum kamu pikirkan.

    Memang, menjemur baju di halaman depan mungkin terasa nyaman dan praktis, tetapi beberapa alasan ini bisa jadi membuat kamu meninggalkan kebiasaan jemur baju di depan rumah. Dilansir dari laman The Spruce, berikut adalah alasan untuk tidak menjemur baju di depan rumah.

    Alasan Jangan Jemur Baju di Depan Rumah

    Merusak Estetika

    Bagi sebagian orang, tali jemuran dianggap merusak pemandangan lingkungan dan menurunkan nilai estetika dari rumah itu sendiri. Tumpukan baju yang terlihat di halaman depan atau tergantung di pagar bisa memberikan kesan berantakan dan kurang teratur, terutama jika tidak dilakukan dengan rapi.


    Selain itu, baju-baju yang menjuntai di pagar atau tergantung di tali pengering juga dapat memberikan kesan kurang terawat dan tidak ramah lingkungan. Dengan mempertimbangkan hal ini, kamu bisa memilih untuk menjemur baju di belakang rumah atau membuat area jemuran sendiri.

    Membuat Baju Menjadi Bau

    Terpapar langsung dengan udara luar yang tidak selalu segar dan terkontrol, serta paparan sinar matahari yang intens, dapat menyebabkan bau yang tidak sedap pada baju. Selain itu, lingkungan luar yang kotor atau berdebu juga dapat menyebabkan baju menyerap bau yang tidak diinginkan. Jika kamu menjemur baju berada di area yang kurang baik, baju bisa menyerap bau dari sekitar, seperti bau asap kendaraan, bau kandang, atau bau material bangunan.

    Rawan Terkena Serangga dan Kotoran

    Menjemur baju di depan rumah atau area yang benar-benar terbuka rentan terhadap serbuan serangga seperti lalat, nyamuk, atau bahkan burung yang bida meninggalkan kotoran di sana. Selain serangga, baju yang dijemur di depan rumah juga rawan terkena kotoran yang terbawa oleh angin, seperti debu, dedaunan, atau polusi udara.

    Hal ini bisa membuat baju terlihat kotor dan memerlukan pencucian ulang. Tentunya kamu tidak akan menghemat energi harus mencuci ulang cucian Anda setelah menjemurnya di luar ruangan hingga kering karena serangga dan burung. Maka dari itu, kamu bisa berpikir dua kali untuk menjemur baju di depan rumah.

    Kondisi Cuaca Buruk

    Cuaca cerah dan kering biasanya dianggap ideal untuk mengeringkan pakaian secara alami. Tapi, cuaca yang terlalu terik juga bisa membuat warna pakaian menjadi luntur dan membuat debu menempel. Lebih buruk lagi, jika tiba-tiba hujan. Hujan bisa membuat pakaian yang tadinya sudah kering menjadi basah dan harus dicuci lagi untuk menghilangkan noda yang muncul akibat hujan tersebut. Jadi, meskipun cuaca cerah merupakan waktu yang baik untuk mengeringkan pakaian di luar, penting untuk memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Jika udara terlalu kering atau ada kemungkinan hujan mendadak, lebih baik mencari alternatif lain untuk mengeringkan pakaian agar menghindari masalah yang tidak diinginkan.

    (zlf/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Beli Rumah Atas Nama Anak di Bawah Umur, Bisa Nggak Sih?



    Jakarta

    Syarat utama untuk membeli tanah atau rumah adalah KTP. Dengan kata lain pemiliknya harus sudah berusia 17 tahun ke atas. Namun, ada segelintir orangtua yang membeli tanah mengatasnamakan anaknya yang masih di bawah umur. Memangnya bisa?

    Ternyata hal ini tidak diperbolehkan dalam hukum. Hal ini sesuai dengan aturan yang tertuang dalam Pasal 10, Pasal 19 dan Pasal 34 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (PMNA/KaBPN) Nomor 19 Tahun 1999 yang menyebutkan pembuat sertifikat tanah harus melampirkan fotokopi identitas Kartu Tanda Penduduk atau KTP yang berarti berusia 17 tahun ke atas seperti yang dikutip dari InsertLive, Selasa (26/3/2024).

    Hal serupa juga dikatakan oleh Notaris PPAT dan Pejabat Lelang Kelas II Bima, Fitri Khairunnisa, S.H.M.Kn sertifikat tanah mengatasnamakan anak di bawah umur tidak sah di dalam hukum.


    “Secara legalitas anak yang di bawah umur ini tidak bisa naik di sertifikat,” kata Fitri saat dihubungi oleh detikProperti pada Rabu (27/3/2024).

    Hal ini dikarenakan syarat untuk balik nama pada sertifikat tanah di BPN (Badan Pertahanan Nasional) adalah KTP.

    Alasan yang memungkinkan menggunakan nama anak di bawah umur di sertifikat tanah atau rumah, apabila aset tersebut adalah warisan dan ahli warisnya adalah anak tersebut.

    Namun dalam kasus ini, anak tersebut perlu didampingi oleh seorang wali yang diajukan terlebih dahulu ke Pengadilan Negeri untuk mendapatkan penetapan.

    “Untuk pewarisan misalnya diisyaratkan ada perwalian. Nah kita mintakan ke pengadilan. Dalam praktek jual beli atau praktek apa pun anak di bawah 18 tahun tidak boleh jadi subjek hukum langsung. Jadi harus ada perwalian yang mendapat persetujuan dari Pengadilan Negeri,” ungkap Fitri.

    Dokumen yang harus diserahkan saat mengajukan perwalian ini diantaranya sebagai berikut.

    • KTP orangtua anak
    • Kartu Keluarga
    • Akta nikah orangtua anak
    • Akta kelahiran anak
    • KTP dari saksi 2 orang yang sudah dewasa (wali)
    • Sertifikat Tanah
    • PBB (Pajak Bumi dan Bangunan)

    Selain itu, Fitri menyebutkan jika dalam praktiknya jika ada yang mengatasnamakan anak di bawah umur pada saat jual dan beli tanah atau rumah, notaris tersebut perlu membuat perjanjian tambahan subsider (tambahan). Menurut Kamus Bahasa Indonesia

    Perjanjian tambahan ini berisi pernyataan sertifikat tanah tersebut akan dibaliknamakan setelah anak tersebut masuk ke usia legal dan mendapatkan KTP.

    “Ada semacam perjanjian, misalnya, nanti ketika anaknya sudah berumur 18 tahun bahwa properti ini akan dibaliknamakan kepada namanya,” jelasnya.

    Meskipun ada perjanjian tambahan, nama yang tercantum pada sertifikat tanah saat ini tetap menggunakan nama orangtuanya, bukan nama sang anak yang masih di bawah umur.

    “Untuk kasus seperti ini, tidak mungkin BPN mau menerbitkan sertifikat untuk orang yang belum memiliki KTP karena itu syarat utama balik nama dari proses jual beli itu,” pungkas Fitri.

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Pilih CCTV Kabel atau Wireless? Ini Perbandingannya


    Jakarta

    Saat ini, CCTV sudah menjadi pilihan yang paling mudah untuk menjaga keamanan rumah. CCTV bekerja sebagai kamera pengawas yang biasa dipasang di area rumah untuk menjaga keamanan. Dengan menggunakan CCTV, kamu bisa memantau rumah kapan pun dan dimana pun, termasuk saat berlibur atau bekerja. Ada dua jenis CCTV yang paling sering digunakan, yaitu CCTV berkabel (wired) dan CCTV nirkabel (wireless).

    CCTV berkabel memerlukan lebih banyak waktu dan pengaturan yang lebih rumit, tapi menawarkan keandalan yang lebih baik. Sedangkan CCTV nirkabel tidak mahal dan dapat dipasang dengan cepat. Namun, karena CCTV nirkabel mengandalkan jaringan internet, kegagalan jaringan dan gangguan di tempat menjadi kendala yang sering kali terjadi.

    Untuk penjelasan yang lebih detail, simak perbandingan CCTV Berkabel dan Nirkabel yang penting kamu ketahui sebelum mutuskan untuk memilih salah satunya. Dilansir dari laman Forbes Home, inilah perbandingannya.


    CCTV Kabel (wired CCTV)

    1. Transmisi dan Daya

    CCTV berkabel mengirimkan sinyal video dan audio melalui kabel ke hub pusat. Rekaman tersebut bisa disimpan secara lokal di hub untuk dilihat nanti atau dapat dikirim ke luar rumah ke jaringan. Kamera keamanan berkabel menerima daya listriknya melalui kabel dari stopkontak.

    2. Keuntungan

    – Sinyal video dan audio yang jernih

    – Sinyal yang dapat diandalkan, tidak mudah terganggu

    – Daya konstan ke kamera

    – Sulit dan memiliki kemungkinan yang rendah untuk diretas

    3. Kekurangan

    – Tidak portabel; sistem tetap ada di rumah jika kamu pindah

    – Memiliki kabel yang panjang, jadi harus disembunyikan

    – Pengkabelan harus dijalankan ke berbagai lokasi

    – Jumlah kamera dibatasi oleh jumlah jack pada DVR

    CCTV Nirkabel (wireless CCTV)

    1. Transmisi dan Daya

    CCTV nirkabel mengirimkan rekaman dari kamera yang ditempatkan di sekitar rumah ke Wi-Fi rumah. Transmisinya sepenuhnya nirkabel (wireless). Setelah Wi-Fi menerima sinyal, sinyal tersebut dikirim ke server cloud, tempat rekaman dapat dilihat secara real-time atau diarsipkan untuk dilihat nanti. Beberapa kamera memiliki kartu micro SD internal yang menyimpan rekaman dalam jumlah terbatas.

    CCTV nirkabel bertenaga baterai. Karena terbatasnya daya, kamera ini menghemat daya dengan hanya merekam saat mendeteksi sinyal. Sebaliknya, CCTV berkabel menerima daya konstan dari rumah dan mampu merekam secara konstan. CCTV ini juga bisa diatur untuk merekam hanya ketika gerakan terdeteksi.

    2. Keuntungan

    – Instalasi bersih

    – Sistem fleksibel, mobile

    – Mudah untuk ditingkatkan dan menambahkan lebih banyak kamera

    – Penyusup tidak dapat memotong kabel karena tidak ada

    3. Kekurangan

    – Jangkauan sinyal terbatas

    – Dinding, lantai, dan elemen bangunan lainnya dapat menghalangi sinyal

    – Gangguan dengan sistem lain yang bergantung pada Wi-Fi mungkin terjadi

    – Rentan terhadap pengintaian digital atau peretasan

    – Baterai perlu sering diganti

    CCTV Berkabel vs Nirkabel, Mana yang Harus Dibeli?

    Seiring dengan kemajuan teknologi, CCTV berkabel dan nirkabel menjadi lebih baik dari sebelumnya. Keputusan kamu sebelum memilih harus didasarkan pada kebutuhan dan preferensi kamu.

    CCTV Berkabel

    Cocok jika kamu mencari keandalan jangka panjang dan tidak keberatan dengan instalasi kabel yang rumit. Ideal bagi pemilik rumah yang berencana tinggal lama dan tidak keberatan dengan pekerjaan instalasi yang detail.

    CCTV Nirkabel

    Lebih sesuai untuk orang yang menginginkan sistem yang mudah dipasang, berjalan cepat, dan lebih fleksibel. Cocok untuk penyewa atau pemilik yang ingin sistem yang dapat dipindahkan dengan mudah ke rumah baru tanpa perlu instalasi ulang yang rumit.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Bukan Cuma Karena Pinjol, Ternyata Ini 4 Penyebab KPR Kamu Ditolak


    Jakarta

    Ketika kamu hendak membeli rumah baik berupa rumah tapak atau apartemen, kamu bisa membayar lunas di awal dan bisa pula menggunakan KPR atau cicilan dengan bank.

    Membayar rumah lunas di awal berarti kamu memerlukan modal yang besar karena harganya yang cukup mahal. Anak muda yang baru pertama kali membeli rumah biasanya akan memilih untuk mengambil KPR di bank.

    Tentunya dengan pertimbangan adanya suku bunga per tahun yang tidak sedikit, tenor atau waktu pencicilan yang cukup lama, dan jaminan yang harus diajukan.


    Namun, tidak setiap pengajuan KPR dapat diterima oleh bank. Menurut Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran, Arianto Muditomo ada beberapa penyebab KPR seseorang ditolak, diantaranya sebagai berikut.

    1. Karakter (Character)

    Calon debitur (peminjam) memiliki riwayat kredit yang buruk sebelumnya, memiliki tunggakan atau kredit macet saat ini, pekerjaan atau penghasilan tidak stabil, hingga usianya terlalu muda atau terlalu tua.

    Bank juga tidak memberikan KPR kepada calon debitur yang memiliki pinjaman online atau pinjol. Mereka bisa melihatnya melalui BI Check. Batas utang seseorang seharusnya hanya sekitar 30-40%.

    “Batas rule of thumb-nya (biasanya) tidak lebih dari 30-40% penghasilan, cukup untuk mengangsur bulanan,” kata Arianto saat dihubungi detikProperti pada Rabu (27/3/2024).

    2. Kemampuan (Capacity)

    Debitur memiliki kemampuan bayar kredit yang rendah. Bisa pula kreditur (bank) melihat pinjaman yang diajukan debitur terlalu tinggi rasionya dibandingkan dengan pendapatannya.

    3. Jaminan (Collateral)

    Setiap pinjaman, kreditur tentu akan meminta sebuah jaminan atau nilai agunan untuk berjaga-jaga jika di tengah jalan debitur kesulitan melunasi cicilannya. Jaminan ini tentu harus cukup untuk mengganti nilai uang kredit yang telah diberikan kepada debitur.

    4. Keadaan (Condition)

    Bank ragu untuk menyetujui KPR kepada debitur yang kondisi ekonomi yang tidak stabil. Namun ada pula yang kondisinya cukup stabil tetapi tidak disetujui KPR-nya karena berbagai alasan lain.

    Cara Lolos Pengajuan KPR

    Agar kamu lolos saat mengajukan KPR ke bank, menurut Arianto, kamu perlu mempelajari bagaimana bank melakukan analisis kredit seperti yang disebutkan sebelumnya menggunakan rumus 4C.

    1. Tepat Waktu Membayar Pinjaman

    Hal terpenting adalah perbaiki cara membayar cicilan tersebut. Misalnya jika sering melakukan pinjaman, baik pinjol atau KPR di bank lain, kamu harus membayar lunas terlebih dahulu agar tidak kesulitan. Baru setelah itu, mengajukan cicilan lain, sehingga tidak ada pinjaman yang macet di tengah jalan. Setelah melunasi utang, kamu juga perlu minta bukti pelunasannya.

    “Kalau melakukan pelunasan, pihak kreditur akan mengeluarkan bukti pelunasan. Dan bagi debitur sebaiknya selalu minta bukti pelunasan pada saat menyelesaikan kewajibannya,” ujarnya.

    2. Cicilan Tidak Boleh Lebih dari 30% dari Penghasilan

    Untuk meyakinkan bank untuk mengambil KPR, atur keuanganmu agar bisa mengambil cicilan. Pastikan alokasi penghasilan yang dipakai untuk cicilan atau KPR tidak lebih dari 30% jumlah penghasilan.

    Kamu juga bisa meningkatkan penghasilan misalnya dengan membuka usaha sampingan sehingga sumber pendapatan tidak hanya dari satu pintu.

    3. Memilih Jaminan yang Tepat

    Siapkan jaminan yang tepat yakni yang cukup nilai dan likuidnya. Likuid adalah jaminan yang mudah untuk dikonversikan menjadi uang tunai atau mudah dijual.

    “Jaminan yang tepat adalah cukup nilainya bila dibandingkan dengan pinjaman yang diterima dan likuid untuk dapat ‘dijual’ sewaktu gagal bayar,” jelas Arianto.

    4. Perkirakan Momen yang Tepat

    Kamu perlu memahami kondisi ekonomi saat ini dan kebijakan bank terkait KPR yang diajukan. Sebelum mengajukan KPR kamu bisa melakukan riset antar bank, mana yang cocok dengan kondisi keuangan saat ini.

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Tips agar Rumah Bebas Serangga saat Musim Hujan


    Jakarta

    Saat musim hujan, serangga-serangga bagaikan tamu tak diundang. Nyamuk, semut, rayap, hingga kecoak dapat masuk dan menetap di dalam rumah untuk berlindung.

    Jika sudah begini, serangga yang berdatangan bisa menyebabkan infeksi dan penyakit bagi penghuni rumah. Seperti nyamuk dapat membawa virus dengue, penyebab penyakit demam berdarah (DBD).

    Lantas, adakah cara agar rumah tetap terjaga dari serangga selama musim hujan?


    Tips Rumah Bebas Serangga di Musim Hujan

    Ada sejumlah cara yang dapat kamu lakukan agar rumah terbebas dari serangga saat musim hujan. Dikutip dari catatan detikProperti dan laman BornGood, berikut tipsnya:

    1. Rapikan Area Rumah

    Pertama-tama, tentunya kamu harus merapikan lingkungan dalam maupun luar rumah terlebih dahulu ketika musim hujan datang.

    Periksa seluruh area rumah dan singkirkan hal-hal yang mungkin mengundang hadirnya serangga. Seperti membersihkan genangan air, merapikan tumpukan barang-barang, hingga membuang sampah dan benda bekas yang sudah tidak terpakai.

    2. Perbaiki Kerusakan Struktural

    Ukuran serangga yang kecil memungkinkannya untuk masuk ke dalam rumah lewat celah-celah yang tidak kita sadari. Karena itu, periksa jendela, pintu, saluran air, hingga dinding. Jika ada kerusakan atau celah bisa segera perbaiki agar serangga tidak bisa masuk ke rumah.

    3. Pasang Jaring Anti Serangga

    Kalau sudah memastikan jendela hingga pintu tidak ada celah, jangan lupakan juga bagian ventilasi. Kamu dapat memasang jaring anti serangga pada ventilasi agar sirkulasi udara di dalam rumah tetap baik.

    Dengan pemasangan ini, memungkinkan serangga jadi tersangkut di jaring. Di sisi lain, aliran keluar masuk udara tetap lancar.

    4. Jaga Kebersihan Rumah

    Kebersihan rumah tentunya harus dijaga secara rutin. Seiring musim hujan, kamu juga perlu menjadwalkan untuk membersihkan lingkungan sekitar rumah agar tidak terdapat genangan air maupun sampah yang menumpuk.

    Selain itu, area dalam rumah juga mesti diperhatikan dengan rajin menyapu dan mengepel, membersihkan kamar mandi, dapur, hingga area yang sulit dijangkau. Rawat juga furnitur kayu yang dimiliki karena musim hujan menjadikannya cenderung lembap dan bisa saja dihinggapi rayap.

    Jika kamu memiliki hewan peliharaan, jangan malas pula untuk membersihkan kotoran maupun air pipisnya ya.

    5. Tutup Rapat Wadah Makanan

    Selama musim hujan, makanan dan persediaan makanan juga mesti diperhatikan. Usahakan untuk menyimpannya di wadah tertutup rapat dan di tempat yang bersih. Ini agar tidak mengundang semut dan kecoak datang untuk mengacak-acak makananmu.

    6. Semprotkan Produk Anti Serangga

    Kamu dapat menyemprotkan area yang kerap didatangi nyamuk hingga rayap dengan produk anti serangga untuk mencegahnya berdatangan. Produk ini biasanya tersedia di toko, warung, maupun minimarket.

    Jika tidak ingin semprotan berbahan kimia, kamu bisa membuat sendiri produk anti serangga dengan minyak esensial lavender hingga peppermint. Aroma yang kuat dapat mengusir serangga sekaligus menjadikan udara di rumah tercium segar.

    Kalau tidak ada, rempah beraroma menyengat seperti cengkih dan kayu manis juga dapat digunakan. Kamu bisa meletakkan wadah berisi beberapa cengkih atau kayu manis di sudut-sudut rumah yang sering dilalui serangga.

    7. Tanam Tanaman Pengusir Serangga

    Selain itu, kamu dapat pula menanam tanaman alami seperti lavender, sereh, rosemary, hingga citronella di pekarangan rumah. Sejumlah tanaman ini bisa bantu mengusir serangga-serangga yang berdatangan.

    Kamu juga bisa menanam tanaman ini dalam pot dan meletakkannya di area dalam rumah.

    Nah, itu dia sejumlah tips agar rumah terbebas dari serangga selama musim hujan. Dengan mengikuti tips di atas, kamu dan keluarga juga bisa tinggal nyaman di rumah dan terhindar dari penyakit atau infeksi yang mungkin dibawa serangga-serangga.

    (azn/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Tidak Boleh Boros! Rasul Anjurkan Menghemat Air dari Hal Kecil Ini



    Jakarta

    Dalam Islam, selain harus menjaga kebersihan rumah, penghuninya juga harus hemat saat menggunakan air. Anjuran ini diajarkan oleh Rasulullah SAW saat hendak mengambil wudhu.

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah SAW bertemu Sa’ad pada waktu berwudhu, lalu Rasulullah bersabda:

    “Alangkah borosnya wudhumu itu hai Sa’ad.” Sa’ad berkata, “Apakah di dalam berwudhu ada pemborosan?” Rasulullah SAW bersabda, “Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir.” (HR Ibnu Majah).


    Mengutip dari detikHikmah, pada Rabu (27/3/2024), melalui Hadits tersebut, Rasulullah mengajarkan agar seorang muslim tidak boleh boros pada saat menggunakan air meskipun berada di sumber air yang berlimpah.

    Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari, dikatakan Nabi Muhammad SAW hanya mandi dengan 2,5 liter air. Dengan hitungan satu mud setara dengan sekitar 625 mililiter.

    “Nabi Muhammad SAW mandi besar dengan air satu sha’ hingga empat mud dan berwudhu dengan air satu mud.” (HR. Bukhari).

    NU Online juga menyebutkan kutipan dari Syekh M Nawawi Banten dalam Qûtul Habibil Gharib, Tausyih ‘ala Fathil Qaribil Mujib mengenai hukum mengambil hukum mengambil air wudhu yang berlebihan.

    “Adapun hal-hal yang dimakruhkan dalam mengambil air sembahyang adalah berlebihan dalam menggunakan air, mendahulukan anggota tubuh kiri dibanding yang kanan, menambah lebih dari tiga basuhan secara yakin, mengurangi basuhan kurang dari tiga basuhan meskipun ragu.”

    Rasulullah SAW mencontohkan cara menghemat air dari tindakan kecil yakni berwudhu. Dalam Islam, apabila masih ditemukan air, cara menyucikan diri sebelum Salat adalah menggunakan air. Apabila tidak ditemukan air, maka boleh dengan cara tayamum yakni dengan debu. Dari sini terlihat, kebutuhan air sangat penting sangat penting.

    Merincikan jumlah air yang dipakai danmempelihatkan tata cara wudhu yang baik adalah contoh pemakaian air yang bijak dari Rasulullah SAW. NU Online juga menambahkan saat menggunakan air, gunakan aliran air yang kecil agar air tidak terbuang banyak, lalu pastikan meninggalkan keran dalam keadaan tertutup rapat.

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Cuci Gorden yang Kusam, Bikin Rumah Indah Saat Lebaran


    Jakarta

    Menjelang Lebaran, sebagian keluarga mulai mempersiapkan berbagai hal. Bukan hanya hati yang harus bersih untuk menyambut hari raya. Rumah pun sebaiknya bersih untuk menyambut kerabat yang datang bersilaturahmi.

    Salah satu furnitur rumah yang sebaiknya bersih adalah gorden. Bukan hanya untuk estetika semata, mengutip Mr. Timesaver, gorden yang kotor juga bisa menjadi sarang debu dan alergen. Tak hanya itu, gorden yang kotor meningkatkan risiko tumbuhnya jamur.

    Saat rumah kita dikunjungi oleh kerabat saat Lebaran, tentunya gorden perlu bersih untuk mencegah datangnya penyakit atau reaksi alergi.


    Oleh karena itu, menjelang Lebaran ini, penting untuk membersihkan gorden yang sudah mulai kusam. Mengutip The Spruce, gorden sebaiknya dibersihkan 3 sampai 6 bulan sekali. Berikut beberapa tips membersihkan gorden agar bersih kembali.

    Tips Mencuci Gorden

    Berikut tips mencuci gorden agar bersih kembali.

    1. Pisah Gorden dengan Cucian Lainnya

    Gorden sebaiknya dicuci terpisah dari cucian lainnya. Sebab, gorden memiliki risiko luntur.

    Jika detikers memiliki lebih dari 1 gorden dengan warna yang berbeda-beda, sebaiknya pisah juga gorden berwarna terang dari yang berwarna gelap.

    2. Bersihkan Gorden dengan Vacuum Cleaner

    Membersihkan gorden dengan vacuum cleaner tidak wajib, tapi hal ini dapat membantu mengurangi kotoran pada gorden sebelum dicuci. Saat membersihkan gorden menggunakan vacuum cleaner, sebaiknya gorden diletakkan di permukaan horizontal yang rata.

    3. Kenali Karakteristik Kain Gorden

    Proses perawatan dan pembersihan gorden berbeda-beda tergantung bahan kainnya. Misalnya, gorden dari bahan sintetis seperti nilon dan polyester boleh dicuci menggunakan mesin cuci, tetapi gorden berbahan sutra sebaiknya dicuci dengan tangan.

    4. Rendam Gorden dengan Deterjen

    Sebelum masuk ke mesin cuci, gorden sebaiknya direndam dulu di dalam air deterjen. Hal ini dilakukan untuk membersihkan kotoran dan debu yang menempel pada gorden. Gunakan larutan deterjen yang aman untuk gorden.

    Apakah sebaiknya menggunakan detergen bubuk atau cair untuk mencuci gorden? Mengutip Varvara Home, detergen cair cocok untuk tipe kain yang halus dan mode mesin cuci pelan. Akan tetapi, detergen cair tidak membersihkan noda bandel sebaik detergen bubuk.

    5. Proses Mencuci Gorden

    Jika gorden detikers terbuat dari bahan yang bisa dicuci menggunakan mesin, atur mode mesin cuci ke mode putaran yang tidak terlalu kencang.

    Sementara jika gorden hanya bisa dicuci dengan tangan, detikers bisa mengucek gorden secara lembut atau menggunakan sikat berbulu halus untuk menghilangkan noda.

    6. Keringkan Gorden dengan Benar

    Langkah terakhir adalah mengeringkan gorden dengan benar. Ketika memeras air dari gorden, jangan memelintir kainnya terlalu kuat agar tidak merusak tekstur gorden. Lalu, jemurlah gorden di tempat yang tidak terkena matahari langsung untuk menghindari warna yang memudar.

    Beberapa jenis kain gorden bisa disetrika, misalnya gorden dari kain katun atau sutra. Jika perlu, detikers bisa menyetrika gorden yang masih lembap. Gunakan alas kain agar setrika tidak langsung menyentuh kain gorden untuk menghindari gorden terkena noda bakar. Lalu, gantung gorden untuk menjemurnya agar kering sempurna.

    Itu dia tips membersihkan gorden yang kotor dan kusam agar bersih kembali. Semoga artikel ini membantu detikers yang sedang mempersiapkan rumah untuk menyambut Lebaran, ya!

    (fds/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Sampai Diserobot Orang! Begini Cara Jaga Properti Kosong



    Jakarta

    Terkadang ada saja rumah yang dibiarkan kosong selama bertahun-tahun, bahkan sampai rusak dan diambil alih oleh orang lain. Seperti halnya yang pernah terjadi dimana oknum-oknum mengambil alih rumah kosong untuk dijual.

    Direktur FWA Law Office Febrian Willy Atmaja menyampaikan agar orang yang mempunyai aset tidak membiarkan rumah kosong terlalu lama tanpa pengelolaan. Pasalnya, rumah atau tanah kosong berpotensi jadi incaran oknum-oknum tak bertanggungjawab untuk menempati, bahkan memiliki aset tersebut.

    “Memang banyak sekali saudara-saudara kita, khususnya masyarakat Indonesia, terkadang karena memang banyaknya aset yang dia (pemilik) punya, jadi sampai lupa di mana tempat-tempat tanah-tanah yang dia beli ataupun tanah-tanah yang dulu sempat diberikan orang tuanya,” ujar Willy kepada detikcom, Rabu (27/3/2024).


    Alhasil, rumah dan tanah yang terlupakan dan terbengkalai diambil alih oleh pihak lain. Oleh karena itu, Willy menekankan agar pemilik rumah atau tanah kosong untuk segera mengurus asetnya baik dengan cara administratif maupun fisik.

    “Jangan sampai adanya oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab ini memanfaatkan situasi dan kondisi sehingga apa yang kita miliki ini diambil oleh orang lain,” ucapnya.

    Cara Menjaga Properti Kosong

    Miliki Dokumen Kepemilikan

    Pastikan untuk menyimpan bukti kepemilikan rumah maupun tanah berupa Surat Hak Milik (SHM). Apabila sewaktu-waktu ada oknum yang menggunakan properti tersebut, maka bisa diambil kembali dengan bukti kepemilikan itu.

    “Kalau masuk ke rumah orang yang memang menempati rumah orang kosong terbengkalai, si pemilik misalkan mau mengambil rumah itu sah kalau dia memang mempunyai dokumen yang resmi dibuktikan daripada SHM,” kata Willy.

    Kunjungi Secara Berkala

    Sebagai langkah pencegahan, kunjungi dan rawat rumah atau tanah secara berkala supaya tidak dipertanyakan kepemilikan.

    “Adapun kalau memang pemilik rumah ataupun tanah itu sudah dibiarkan sampai dengan 21 tahun, ya mengacu pada undang-undang agraria tadi (Pasal 27 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960), maka bisa juga diusulkan untuk kepemilikannya. Karena kalau lama dibiarkan, ya itu memang sudah bisa memenuhi unsur untuk diajukan kepemilikan,” jelasnya.

    Mengutus Pengelola Rumah

    Jika rumah atau tanah tidak ditempati, maka sebaiknya mengutus seseorang untuk tinggal atau mengelola properti tersebut. Tentunya dengan membuat surat pernyataan

    “Buatkan surat berkaitan dengan pernyataan bahwasannya dia (pengelola) menempati rumah itu kita yang kasih, dan kita pun juga sewaktu-waktu kalau kita butuh kita bisa ambil kembali (rumahnya),” papar Willy.

    “Nah, adapun kalau tanah kosong, itu pun juga kita buatkan surat pernyataan, apakah itu kita suruh orang untuk garap, apakah kita suruh orang itu untuk menempati, mengelola tanah kita, untuk menanam tumbuh di tanah kita, itu harus kita suruh orang lain,” sambungnya.

    Pasang Tanda

    Namun, kalau tidak ada pengelola rumah atau tanah, kamu bisa memasang plang sebagai tanda kepemilikan. Sertakan nomor SHM dan nama pemilik pada plang. Dengan begitu, oknum akan lebih sungkan mengganggu properti kosong itu.

    Perlawanan Hukum

    Apabila rumah kosong ditempati tanpa izin maka bisa digugat secara pidana berdasarkan Pasal 167 Ayat 1 KUHP. Adapun ancaman pidananya bisa selama sembilan bulan. Berbeda halnya dengan tanah yang diambil alih dan mempunyai SHM juga, maka bisa melakukan upaya Derden Verzet.

    “Apabila dia (pemilik) baru mengetahui tanahnya atau bangunan dia, tetapi dia tidak masuk dalam objek sengketa, dia bisa melakukan upaya derden verzet, karena dia tidak masuk dalam gugatan orang yang berperan sengketa. Tetapi dia mempunyai legal standing dan juga mempunyai keabsahan berkaitan dengan legalitas, yaitu SHM-nya,”

    Sementara denda dan ganti rugi memang tidak termaktub di dalam KUHP, tetapi pemilik rumah bisa melihat kerugian apa yang dialami. Kerugian materil atau memang kerugian immaterilnya seperti selama orang itu menempati rumah ada yang dilakukan atau memang ada kerusakan.

    “Kalau untuk perdatanya, perbuatan melawan hukum yang di mana di Pasal 1365-nya, yang di mana berbunyi tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti kerugian tersebut,” pungkasnya.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Jemur Baju di Depan Rumah, Pokoknya Jangan!


    Jakarta

    Menjemur baju di depan rumah merupakan kegiatan yang sudah sangat umum terjadi di masyarakat kita. Meskipun terlihat sebagai tindakan yang biasa dilakukan, nyatanya, ada beberapa pertimbangan penting yang mungkin belum kamu pikirkan.

    Memang, menjemur baju di halaman depan mungkin terasa nyaman dan praktis, tetapi beberapa alasan ini bisa jadi membuat kamu meninggalkan kebiasaan jemur baju di depan rumah. Dilansir dari laman The Spruce, berikut adalah alasan untuk tidak menjemur baju di depan rumah.

    Alasan Jangan Jemur Baju di Depan Rumah

    Merusak Estetika

    Bagi sebagian orang, tali jemuran dianggap merusak pemandangan lingkungan dan menurunkan nilai estetika dari rumah itu sendiri. Tumpukan baju yang terlihat di halaman depan atau tergantung di pagar bisa memberikan kesan berantakan dan kurang teratur, terutama jika tidak dilakukan dengan rapi.


    Selain itu, baju-baju yang menjuntai di pagar atau tergantung di tali pengering juga dapat memberikan kesan kurang terawat dan tidak ramah lingkungan. Dengan mempertimbangkan hal ini, kamu bisa memilih untuk menjemur baju di belakang rumah atau membuat area jemuran sendiri.

    Membuat Baju Menjadi Bau

    Terpapar langsung dengan udara luar yang tidak selalu segar dan terkontrol, serta paparan sinar matahari yang intens, dapat menyebabkan bau yang tidak sedap pada baju. Selain itu, lingkungan luar yang kotor atau berdebu juga dapat menyebabkan baju menyerap bau yang tidak diinginkan.

    Jika kamu menjemur baju berada di area yang kurang baik, baju bisa menyerap bau dari sekitar, seperti bau asap kendaraan, bau kandang, atau bau material bangunan.

    Rawan Terkena Serangga dan Kotoran

    Menjemur baju di depan rumah atau area yang benar-benar terbuka rentan terhadap serbuan serangga seperti lalat, nyamuk, atau bahkan burung yang bida meninggalkan kotoran di sana.

    Selain serangga, baju yang dijemur di depan rumah juga rawan terkena kotoran yang terbawa oleh angin, seperti debu, dedaunan, atau polusi udara. Hal ini bisa membuat baju terlihat kotor dan memerlukan pencucian ulang.

    Tentunya kamu tidak akan menghemat energi harus mencuci ulang cucian Anda setelah menjemurnya di luar ruangan hingga kering karena serangga dan burung. Maka dari itu, kamu bisa berpikir dua kali untuk menjemur baju di depan rumah.

    Kondisi Cuaca Buruk

    Cuaca cerah dan kering biasanya dianggap ideal untuk mengeringkan pakaian secara alami. Tapi, cuaca yang terlalu terik juga bisa membuat warna pakaian menjadi luntur dan membuat debu menempel.

    Lebih buruk lagi, jika tiba-tiba hujan. Hujan bisa membuat pakaian yang tadinya sudah kering menjadi basah dan harus dicuci lagi untuk menghilangkan noda yang muncul akibat hujan tersebut. Jadi, meskipun cuaca cerah merupakan waktu yang baik untuk mengeringkan pakaian di luar, penting untuk memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

    Jika udara terlalu kering atau ada kemungkinan hujan mendadak, lebih baik mencari alternatif lain untuk mengeringkan pakaian agar menghindari masalah yang tidak diinginkan.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com