Blog

  • 5 Contoh Naskah Khutbah Idul Adha 2024, Singkat dan Bermanfaat


    Jakarta

    Sebentar lagi, umat Islam akan merayakan hari raya Idul Adha. Tahun ini, Idul Adha dirayakan pada tanggal 17 Juni 2024.

    Salah satu kegiatan yang dilakukan pada Idul Adha adalah menunaikan salat id. Setelah sembahyang, biasanya khatib akan menyampaikan khutbah Idul Adha.

    Contoh Khutbah Idul Adha 2024

    Dirangkum detikHikmah, berikut contoh khutbah Idul Adha yang bisa dibaca sebagai referensi untuk Idul Adha:


    1. Judul: Makna Kurban dan Kemanusiaan

    Khutbah 1

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ،ـ الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَـخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَـخْتَارُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ الْوَاحِدُ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَقُدْوَةُ الْأَبْرَارِ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، صَلَاةً دَائِمَةً مَّا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ

    مَّا بَعْدُ، فَيَا إِخْوَةَ الْإِسْلَامِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَـرُ

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, adalah salah satu momen paling penting dalam agama Islam. Pada hari tersebut, umat Muslim di seluruh dunia merayakan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan menghormati tradisi ibadah kurban

    Kurban adalah ibadah yang dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu, seperti sapi, kambing, atau domba, sebagai penghormatan kepada Allah SWT. Ibadah kurban ini dilakukan sebagai tindakan ibadah yang menggambarkan kesediaan dan pengabdian seorang Muslim kepada Allah. Kurban juga mencerminkan kesadaran dan rasa syukur umat Muslim terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah dalam kehidupan mereka. Sebagaimana firman dalam Q.S Al-Kautsar Ayat 2:

    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

    Artinya: “Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Ibadah kurban memiliki dasar hukum yang kuat dalam Islam. Hal ini didasarkan pada Al-Quran, di mana Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk mengurbankan putranya, Ismail AS, sebagai ujian kepatuhan dan pengabdian. Namun, sebagai pengganti yang diterima Allah, Nabi Ibrahim AS diberi domba untuk dikurbankan. Kisah ini mencerminkan kesetiaan Nabi Ibrahim AS kepada Allah dan menegaskan pentingnya kurban sebagai ibadah yang dianjurkan dalam agama Islam.

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

    Artinya: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

    Profesor Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, Volume 11, halaman 281 mengatakan term “اَرٰى” [saya melihat] , اَذْبَحُكَ [saya menyembelihmu] dan تُؤْمَرُۖ [diperintahkan], dalam gramatika bahasa Arab menggunakan bentuk fiil mudhari yang berarti menunjukkan masa kini dan akan datang. Ayat ini mengisyaratkan bahwa apa yang Nabi Ibrahim lihat seakan-akan masih terlihat hingga saat penyampaian itu.

    Sedangkan penggunaan bentuk tersebut untuk kata “menyembelihmu” untuk mengisyaratkan bahwa perintah Allah yang dikandung mimpi ini belum selesai dilaksanakan, tetapi hendaknya segera dilaksanakan. Karena itu pula jawaban sang anak kata kerja masa kini juga, untuk mengisyaratkan bahwa Nabi Ismail siap untuk melaksanakan perintah Allah yang sedang maupun yang akan ia terimanya. [Profesor Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, Volume 11, [Ciputat, Penerbit Lentera Hati, 2017], halaman 281].

    Ibadah kurban memiliki makna dan simbolisme yang mendalam dalam Islam. Dalam melakukan kurban, umat Muslim menunjukkan ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan diri kepada Allah. Kurban juga mengingatkan kita tentang nilai-nilai seperti kesederhanaan, berbagi, dan kepedulian sosial. Selain itu, kurban mengajarkan kita tentang arti penting memberikan yang terbaik dari yang kita miliki untuk kepentingan umat manusia dan menghormati nilai-nilai kasih sayang dan belas kasihan. Ini sebagaimana dikatakan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili, dalam Kitab Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Jilid III, halaman 595;

    والحكمة من تشريعها: هو شكر الله على نعمه المتعددة, وعلى بقاء الإنسان من عام لعام, ولتكفير السيئات عنه: إما بارتكاب المخالفة, أو نقص المأمورات, وللتوسعة على أسرة المضحي وغيرهم

    Artinya: “Hikmah disyariatkan kurban ialah sebagai upaya mensyukuri nikmat Allah atas limpahan banyaknya nikmat, dan juga untuk rasa syukur manusia karena masih dianugerahkan umur yang panjang sabn tahun, dan untuk melebur dosa dari orang yang berkurban, ada kalanya dosa tersebut karena melaksanakan larangan Allah atau lalai dalam melakukan ketaatan, serta bertujuan untuk melapangkan rezeki atas keluarga orang yang berkurban dan selainnya.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, selanjutnya ibadah kurban merupakan bentuk solidaritas sosial yang kuat terhadap sesama umat manusia. Saat seseorang melaksanakan kurban, mereka tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Hewan kurban yang disembelih akan dibagikan pada yang membutuhkan, termasuk fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang terpinggirkan dalam masyarakat. Melalui tindakan ini, ibadah kurban memperkuat ikatan sosial antara sesama manusia dan membantu mengurangi kesenjangan sosial.

    Selanjutnya, ibadah kurban mengajarkan nilai kebersamaan dan berbagi. Saat umat Muslim melaksanakan ibadah kurban, mereka melakukan tindakan tersebut bersama-sama sebagai komunitas. Ini menciptakan ikatan sosial yang erat dan memperkuat rasa persaudaraan antara sesama Muslim.

    Tidak hanya itu, melalui pembagian daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan, ibadah kurban juga mengajarkan pentingnya berbagi dan membantu mereka yang kurang beruntung. Hal ini mengingatkan kita untuk tidak egois dan memperhatikan kebutuhan orang lain di sekitar kita, sehingga mampu menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan adil.

    Di sisi lain, pelbagai nilai empati dan perhatian, bukan saja pada manusia, tetapi juga hewan. Dalam Islam ditanamkan doktrin untuk menghormati hewan. Pasalnya, ada adab yang harus dijaga dan diamalkan. Saat kita mengikuti ibadah kurban, kita harus memahami bahwa hewan kurban tersebut adalah makhluk ciptaan Allah yang juga memiliki hak-haknya. Islam mengajarkan bahwa hewan harus diperlakukan dengan baik dan disembelih dengan cara yang humanis.

    Dalam tataran ini, melalui ibadah kurban, manusia belajar untuk memahami rasa sakit dan penderitaan makhluk lain, sehingga dapat merasakan kebutuhan dan kepedulian terhadap mereka. Ini mengembangkan sifat empati dalam diri kita dan mendorong kita untuk berperilaku dengan bijaksana terhadap lingkungan dan makhluk di sekitar kita. Simak hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Abu Ya’la, Rasulullah bersabda;

    إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدَكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu. Apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Apabila kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik dan hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.”

    Terakhir, ibadah kurban memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Selain tujuan sosial dan humanisnya, ibadah kurban juga bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan ketakwaan. Ia mengingatkan kita tentang kewajiban kita untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki sebagai ungkapan syukur atas nikmat-nikmat Allah yang melimpah.

    Dalam kurban, kita mengorbankan sesuatu yang berharga bagi kita sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan kita pada Allah. Dengan melakukan ibadah kurban dengan niat yang tulus dan ikhlas, kita memperoleh pahala dan mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Saw dalam sabda;

    مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

    Artinya: “Tidak ada amalan yang dilakukan oleh manusia pada hari Nahr yang lebih dicintai oleh Allah selain daripada mengucurkan darah (hewan kurban). Sesungguhnya, ia (hewan kurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya.”

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
    (Sumber: NU Online )

    Khutbah 2

    اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

    أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللَّهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

    2. Judul: Dua Dimensi Ibadah dalam Kurban

    Khutbah 1

    اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. الحَمْدُ للهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاه. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَانَبِيّ بعدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Kautsar ayat 1-3:

    إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

    Ayat ini menjadi renungan bagi kita, betapa banyak nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita sampai dipastikan tidak akan bisa kita menghitungnya satu persatu. Kenikmatan ini harus kita syukuri dalam wujud menggunakannya untuk ibadah, mendekatkan diri kepada Allah. Pendekatan diri kepada Allah bisa dilakukan dengan mengerjakan salat dan menyembelih hewan kurban sebagaimana ditegaskan dalam ayat kedua surat ini.

    Selain sebagai ibadah yang memiliki dimensi vertikal yakni mendekatkan diri kepada Allah, kurban juga memiliki dimensi horizontal atau sosial yakni berbagi rezeki dengan orang lain. Jika dalam Hari Raya Idul Fitri, kita membahagiakan orang lain dengan zakat, maka saatnya di Idul Adha ini kita gembirakan hati orang lain dengan ibadah kurban.

    Hadirin wal Hadirat Jamaah Salat Idul Adha Rahimakumullah. Semoga kita memiliki kepekaan sosial untuk saling berbagi dan mampu memberikan manfaat banyak bagi orang di sekitar kita, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Amin.
    (Sumber: NU Online)

    بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ َأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

    Khutbah 2

    اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وأشهدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَانَبِيّ بعدَهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ . اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
    (Sumber: NU Online)

    3. Judul: Hikmah Kurban Ikhlas di Dunia dan Akhirat

    Di akhir khutbah ini, dengan penuh khusyu’ dan tadharru’, kita berdoa kepada Allah SWT semoga perjalanan hidup kita senantiasa terhindar dari segala keburukan yang menjerumuskan umat Islam. Semoga dengan doa ini pula, kiranya Allah SWT berkenan menyatukan kita dalam kebenaran agama-Nya dan memberi kekuatan untuk memtaati perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Amin Ya Rabbal ‘Alamain.
    (Sumber: Situs MUI Digital oleh KH M Cholil Nafis, Ph D, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah)

    4. Judul: Keutamaan Kurban bagi Orang Beriman

    لحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ الْعَظِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا أَفْضَلُ الْمُرْسَلِيْنَ، اللّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ذِي الْقَلْبِ الْحَلِيْمِ وَآلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْمَمْدُوْحِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُطِيْعُوْنَ.

    فَقَالَ الله تَعَالىٰ :يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

    فَـصَـلِّ لـِرَّبِّـكَ وَانْـحَـرْ.

    اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah.

    Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan limpahan nikmat-Nya kepada kita. Di antara limpahan nikmat tersebut adalah nikmat umur panjang dan nikmat kesehatan. Ini adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah. Kita yakin dan percaya tanpa adanya dua nikmat ini, kita pasti tak akan bisa atau mampu melangkahkan kaki, mengayunkan tangan datang ke tempat ini untuk bersujud kepada Allah SWT.

    Maka, selagi Allah SWT memberikan dua nikmat ini kepada kita, maka jangan sia-siakan untuk meningkatkan ibadah kita kepada Allah SWT.

    Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada Rasulullah SAW.

    اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah, wujud dari rasa syukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan adalah dengan bertakwa kepada Allah SWT, yaitu dengan menjalankan segala yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

    Kemudian menjalankan segala yang diperintahkannya itu, juga mesti diiringi dengan rasa keimanan yang tinggi, bahwa tiada satu pun yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Kemudian juga diiringi dengan rasa diawasi oleh Allah sehingga diri ini merasa malu ketika enggan menjalankan segala yang diperintahkan. Kemudian rasa takut, karena di balik perintah tersebut pasti ada yang akan ditimpakan ketika kita enggan menjalankan perintah tersebut.

    Jika ketakwaan ini sudah tertanam dan mendarah daging dalam diri kita, yakinlah terhadap janji yang Allah berikan kepada kita berupa kelapangan dan keberkahan rezeki, kemudahan dalam segala urusan. Serta, jalan keluar atau kemudahan terhadap persoalan kehidupan yang kita jalani akan kita dapatkan.

    Allah berfirman dalam surat At-Talaq:

    وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا.

    “Barang siapa betakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.”

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

    وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ…

    “Dan Dia memberikan rezekinya dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)

    Allah SWT tidak memandang dan menilai seseorang dari suku dia berasal, atau dari kepemilikan harta, kedudukan, pangkat, dan jabatan. Begitu pula dari rupa dan paras seseorang. Tapi Allah SWT menilai dari ketakwaan kita.

    Tanpa disangka-sangka Allah SWT kembali mempertemukan kita di hari Idul Adha atau dalam istilah lainnya juga dikenal dengan udhiyah yang artinya hewan yang disembelih pada hari raya Idul Adha.

    Idul Adha merupakan ibadah sembelihan hewan kurban yang kita laksanakan sebagai bentuk wujud rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita, yang diawali dengan salat dua rakaat yang telah kita kerjakan barusan ini.

    Allah SWT berfirman:

    فَـصَـلِّ لـِرَّبِّـكَ وَانْـحَـرْ.

    “Maka dirikanlah salat dan berkurbanlah.” (QS.Al-kautsar: 2).

    Selain dari ayat di atas, syariat Idul kurban juga dapat kita lihat dalam surat Al-Hajj ayat 36

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    وَا لْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَـكُمْ مِّنْ شَعَآئِرِ اللّٰهِ لَـكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖفَا ذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَآ فَّۚفَاِ ذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَ طْعِمُوا الْقَا نِعَ وَا لْمُعْتَـرَّۗكَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَـكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.

    “Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Hajj :36)

    Selain Al-Quran seperti yang disebutkan dua ayat di atas, tata pelaksanaan ibadah kurban juga didasari oleh hadis dari Rasulullah. Bahkan salah satu dari hadisnya memberikan peringatan bagi kita yang enggan menjalankan ibadah kurban.

    Dari Abi Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih kurban, janganlah mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

    Hadis di atas, setidaknya memberikan sinyal yang menunjukan kepada kita betapa pentingnya ibadah kurban itu kita laksanakan.

    Oleh karena itu khatib mengajak kita semua kalau pada saat kita tidak mampu untuk berkurban, maka setelah ini kita mulai meniatkan dan membulatkan tekat kita untuk melaksanakan kurban di tahun besok. Kita harus menargetkan dan memaksakan diri kita, “Tahun depan saya harus berkurban.”

    Kalau tidak bisa kita lakukan secara tunai, maka dapat kita lakukan dengan cara membayarnya secara berangsur-angsur. Sebab dia merupakan ibadah yang paling dicintai Allah. Di hari kiamat nanti Allah syafaat bagi mereka yang berkurban.

    Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut, dan bulunya. Dan darah itu di sisi Allah SWT segera menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah.” (HR. Tirmizy 1493 dan Ibnu Majah 3126).

    Selain daripada itu, ibadah kurban termasuk merupakan ibadah yang utama. Sisi keutamaannya pada kita adalah dengan bersandingnya dua perintah yaitu salat dan berkurban sekaligus dalam surat Al-Kautsar ayat 2.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menafsirkan ayat ini menguraikan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih kurban. Hal ini menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah SWT, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah SWT, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.

    Oleh sebab itulah, dalam surat lain Allah SWT menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    *قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ.*

    “Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam’,” (QS. Al-An’am: 162)

    Walhasil, salat dan menyembelih kurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih kurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah salat.”

    Wahai orang-orang beriman yakinlah ibadah kurban yang kita kerjakan ini, tidak akan membuat kita rugi. Karena Allah pasti memberikan balasan, kebaikan, serta keselamatan dan keberkahan bagi kita yang selalu menjalankan segala yang diperintahkannya.

    Khutbah II

    *اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.*

    *اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا*

    *أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ*

    *اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ*
    (Sumber: laman Muhammadiyah)

    5. Judul: Kurban dan Perwujudan Kesalehan Sosial

    الخطبة الأولى
    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    الله اكبر 9×
    الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا، لاإله إلا الله، هو الله اكبر، الله اكبر ولله الحمد.
    الحمد لله الذي جعل هذا اليوم عيدا للمسلمين وجعل عبادة الحج وعيد الأضحى من شعائر الله وإحيائَها من تقوى القلوب.
    أشهد أن لا إله إلاالله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين بشيرا ونذيرا وداعيا إلى الله وسراجا منيرا.
    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين.
    أما بعد… فيا عباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.
    قال الله تعالى بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (الحج/22: 32) صدق الله العظيم

    Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah SWT,

    Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang segala rahmat dan nikmat-Nya senantiasa dilimpahkan kepada kita. Sehingga pada hari ini, tanggal 10 Żulhijjah kita dapat merayakan Idul Adha dengan tenang dan khidmat dan melaksanakan salat id dengan khusu’, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin.

    Salah satu dari bulan-bulan yang dimuliakan Allah adalah bulan Żulhijjah yang berarti “bulan yang di dalamnya terdapat pelaksanaan ibadah haji” atau dalam bahasa kita sering disebut dengan “bulan besar”, karena di dalam bulan ini terdapat peristiwa besar. Kebesaran peristiwa itu ditandai dengan berkumpulnya jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia di padang Arafah untuk melakukan wukuf, sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji. Para hujjāj (orang yang berhaji) berkumpul dalam “Muktamar/Kongres Akbar” untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam menyempurnakan Rukun Islam.

    Bagi kita yang tidak melaksanakan Haji disunahkan berpuasa. Karena puasa sunnah yang kita laksanakan itu dapat menghapus dosa-dosa kita satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Tidak hanya ibadah puasa yang sangat dianjurkan, bahkan ibadah apapun sangat dianjurkan dilaksanakan pada 10 hari pertama di bulan Żulhijjah ini, misalnya sedekah, salat, dan lain-lain sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

    ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

    “Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah, daripada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian kembali tanpa membawa apa-apa.” (HR Bukhari)

    Kemudian pada tanggal 10 Żulhijjah, hari ini dan 3 hari berikutnya 11, 12 dan 13 Żulhijjah, yang dikenal dengan hari Tasyriq, kita merayakan dan berada dalam suasana Idul Adha yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban seperti sapi dan kambing. Gema takbir, tahlil, tahmid, dan taqdis membahana di jagad raya menyuarakan rasa syukur kita kepada Allah empat hari ke depan.

    Telah banyak hikmah yang disampaikan oleh para khatib dan dai terkait dengan Idul Adha ini, mulai dari tentang ibadah haji, ibadah kurban, kesabaran dan ketaatan seorang ayah dan anaknya, dan lain-lain. Pada kesempatan khutbah ini khatib akan menyampaikan tema khutbah Idul Adha yaitu “Kurban dan Perwujudan Kesalehan Sosial”.

    Pemahaman umum di masyarakat kita selama ini yang hanya mengaitkan ibadah kurban sebagai kesalehan ritual yang sifanya personal-transendental tentu tidak salah. Bagi kita umat Islam, berkurban dengan menyembelih hewan ternak merupakan salah satu bentuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) di samping ibadah lainnya.

    Namun, kalau hanya memahami kurban sampai di dimensi ini maka pesan Islam sebagai agama yang peduli kepada sesama, sebagaimana disebutkan dalam hadis nabi “sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”, tidak akan terwujud.

    Padahal sebenarnya ibadah kurban juga memiliki dimensi lain yaitu dimensi kesalehan sosial yang sifatnya komunal-konkret. Pemaknaan akan dimensi sosial ini tergambar dari komponen pembagian daging hewan kurban kepada fakir miskin. Di sini ditujukan untuk menimbulkan nuansa kepedulian kepada sesama. Sayangnya pesan kedua ini tidak banyak dipikirkan oleh kebanyakan kaum Muslim.

    Barangkali, kebanyakan kaum Muslim hanya terpaku pada pemberdayaan keimanan diri sendiri. Seolah-olah menjadi orang yang religius atau paling agamis, sudah dirasa cukup baginya. Namun sebagaimana hadis di atas “bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang dapat bermanfaat bagi orang lain,” maka pemberdayaan masyarakat menjadi sebuah kata kunci disini.

    Maka Idul Adha ini sejatinya tak hanya sekedar untuk menyembelih hewan kurban, namun ia juga merupakan momentum untuk memberi dan berbagi sebagai simbol ketakwaan dan penerapan kesalehan sosial. Terlebih di masa pandemi yang belum betul-betul berakhir, ditambah keadaan perkenomian global yang tidak stabil sebagai dampak dari konflik di berbagai belahan dunia yang ikut berdampak terhadap perkenomian Indonesia yang mengakibakan harga komoditas menjadi lebih mahal.

    Idul Adha (Hari Raya Kurban) sejatinya merupakan kesinambungan jalan kesalehan spiritual dan sosial dari Idul Fitri. Jika Idul Fitri merupakan manifestasi kemenangan atas nafsu yang kemudian dipungkasi dengan membayar zakat fitrah, maka Idul Adha merupakan manifestasi dari bukti cinta, patuh, takwa, ketulusan berkorban, dan kerendahan hati yang kemudian dipungkasi dengan menyembelih hewan kurban dan membagi-bagikannya kepada yang berhak menerimanya.

    Dalam konteks yang lebih luas, kesalehan sosial menunjuk pada perilaku yang peduli kepada sesama. Sejatinya mereka yang saleh secara individual berarti beriman dan bertakwa kepada Allah. Wujud dari keberimanan dan ketakwaan kepada Allah otomatis akan merefleksikan kesalehan sosial, yaitu peduli kepada mereka yang miskin, bodoh dan terbelakang. Wujud dari itu, maka mereka akan selalu berpikir, berikhtiar, dan berjuang untuk mengubah nasib mereka yang belum beruntung dalam hidupnya.

    Kesalehan sosial bisa diwujudkan dengan mengubah nasib orang-orang yang belum beruntung tadi dan dapat dikatakan belum menikmati kemerdekaan. Menurut hemat kami, yang paling penting dan utama ialah dalam bidang pendidikan dengan menghimpun dana untuk menyediakan beasiswa yang cukup kepada anak-anak miskin untuk melanjutkan pendidikan di dalam dan luar negeri.

    Selain itu, memberi skill (keahlian) kepada para pemuda yang karena satu dan lain hal tidak bisa melanjutkan pendidikan. Maka walaupun mereka tidak memiliki pendidikan yang tinggi, tetapi untuk survive dalam hidup, mereka mesti diberi keahlian kerja dan bisnis.

    Wujud lain dari kesalehan sosial, bisa dilakukan oleh mereka yang memegang kedudukan di pemerintahan dan parlemen, untuk terus berpikir dan membuat kebijakan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Dengan demikian, iman dan taqwa kepada Allah melahirkan kesalehan individual dalam bentuk ibadah haji, salat Idul Adha dan penyembelihan kurban. Itu belum cukup, harus ditindaklanjuti dengan mewujudkan kesalehan sosial sesuai dengan peran kita masing-masing.

    Oleh karena itu kepada umat Islam yang mampu sangat dianjurkan berkurban. Bahkan Nabi memperingatkan secara keras bagi orang yang mampu tapi tidak berkurban untuk tidak mendekati tempat salat orang Islam. Nabi bersabda:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا»

    “Barangsiapa yang pada saat Idul Adha mempunyi kemampuan tetapi ia tidak mau berkurban maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (Hadis riwayat Ahmad).

    Hadis Nabi ini seolah-olah ingin menyampaikan pesan bahwa salatmu akan sia-sia saja, jika kamu tidak berkurban sementara kamu mampu untuk itu. Inilah salah satu manifestasi atau bentuk konkrit agar umat Islam memiliki kesadaran atau kesalehan sosial yang tinggi dan peduli kepada sesama. Seluruh ibadah kita memiliki aspek vertikal atau hablum minallah, berhubungan dengan Allah, dan aspek horizontal atau hablum minannas, berdampak kepada manusia.

    Qurban juga bisa merupakan solusi praktis bagaimana Islam memberikan obat bagi penyembuhan masalah sosial berupa kemiskinan. Karena dari kemiskinanlah lahir beragam penyakit sosial lainnya dan kriminalitas. Daging hewan kurban tersebut kemudian dibagi-bagikan terutama kepada fakir miskin. Dalam Al-Quran surat al-Hajj ayat 28 Allah berfirman:

    لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

    “…maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang sengsara lagi fakir.”

    Yang diterima Allah sebenarnya bukanlah daging dan darah hewan kurban itu. Namun ketakwaan dan niat ikhlas kita lah yang sampai kepada Allah dan ia yang akan menjadi bekal dan amal saleh kita. Allah berfirman dalam surat Al-Hajj (22) ayat 37:

    لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ…

    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…”

    Betapa besar ganjaran pahala bagi orang yang berkurban sampai-sampai Nabi mengatakan bahwa pada setiap helai hewan yang kita kurbankan terdapat kebaikan, sebagaimana sabda Beliau:

    عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، قَالَ: قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ؟ قَالَ: «سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ» قَالُوا: فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «بِكُلِّ شَعَرَةٍ، حَسَنَةٌ» قَالُوا: ” فَالصُّوفُ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنَ الصُّوفِ، حَسَنَةٌ»

    “Sahabat bertanya Ya Rasulallah, apakah kurban itu? Rasulullah menjawab: Itu suatu sunah ayahmu Ibrahim. Mereka bertanya lagi: Apa yang akan kita peroleh dari kurban itu? Beliau menjawab: Pada setiap helai bulunya terdapat kebaikan.” (Hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

    Semoga khutbah yang singkat ini bermanfaat dalam mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas amal kesalehan ritual kita dalam melaksanakan semua ibadah, serta mendorong penguatan kepekaan kesalehan sosial kita berupa kepedulian, perhatian, solusi, kebijakan, dan aksi nyata kepada mereka-mereka yang membutuhkan, amin.
    (Sumber: dokumen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta oleh Dr. Ismail Yahya, S. Ag., MA, Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta)

    Itu dia beberapa contoh naskah khutbah Idul Adha 2024. Semoga khutbah-khutbah di atas bisa membantu kita mempersiapkan diri menyambut Idul Adha 2024 yang akan datang.

    (khq/khq)



    Sumber : www.detik.com

  • Walau Nakalnya Sungguhan, Hajinya Mabrur Betulan



    Jakarta

    Nakal yang Tergantikan

    Pemuda tampan berbadan tinggi itu memiliki kulit halus putih bersih. Sayang beberapa waktu yang lalu ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung.
    Ayahnya termasuk orang berpengaruh di kota itu. Usahanya cukup banyak, setidaknya untuk ukuran kabupaten yg produktif. Pendapatan daerah kabupaten (PAD)nya cukup tinggi. Jarang ada orang yang memiripinya.

    Dia punya usaha; toko emas, minimarket, bengkel mobil, rumah makan, pompa bensin, dan toko pakaian. Dari sisi ekonomi sangat lumayan.
    Pemuda tampan tadi, beberapa hari sebelum ayahnya meninggal, pamit ke Bali. Membawa mobil sedan, serta truk yang berisi penuh muatan bahan dagangan. Pamit berdagang.


    Sesampainya di tujuan, ternyata ia balapan. Berpacu mobil dengan kawan sepantaran. Truk yg penuh berisi barang dagangan. Barang dagangannya habis sempurna berikut truknya. Sedannya pun habis dilelang.

    Bukan sekali ini saja dia berpetualang melakukan kegiatan keremajaan. Namun sayang, sekali ini ayahnya tak tahan lagi dengan kenakalannya. Sakit jantungnya mendadak kambuh. Nyawanya tak bisa dipertahankan. Dia meninggal.

    Bagai halilintar menyambar. Segera saja dia terbang pulang. Seolah kesadarannya sontak terbangunkan. Dia menangis, meratap. Sampai tak mudah dibayangkan. Penyesalan akibat perbuatan buruknya, dirasakannya sangatlah sulit bisa dimaafkan.

    Dalam kesadaran yang mengagumkan setiap orang. Setelah itu tak ada lagi bayang kenakalan remaja yg dulu pernah ia sandang. Pandangannya sering tertunduk. Pertanda penyesalannya begitu mendalam. Hari-harinya diisi dengan melanjutkan usaha dagang ayahnya.

    Beberapa waktu berselang, ia mengikuti haji reguler pemerintah. Pada waktu itu pergi berhaji tidak perlu antri sesuai urut kacang. Langsung diberangkatkan.

    Sesampainya di Makkah, perilakunya sangat menakjubkan. Ia menjadi pemuda tampan. Berjalan selalu tudukkan pandangan. Tak lupa menjadi penggendong para jemaah yang memerlukan pertolongan. Karena sakit untuk diperiksakan. Dia dikenal dengan sebutan haji tampan pembawa jemaah sakit di gendongan.

    Haji Mabrur yang Kenyataan

    Berhaji mabrur boleh jadi menjadi impian para jemaah calon haji. Baik bagi yg baru pertamakali berhaji. Atau yang telah berulang-ulang.

    Boleh jadi setiap orang merasa paling berpeluang. Atau banyak juga yang merasa amalnya masih jauh dari ukuran wajar. Jika saja pemuda tampan itu menjadi acuan. Betapa bisa setiap orang menjadi haji mabrur sesuai impian.

    Jejak nakal bisa diganti. Rekam buruk kegiatan di masa lalu InsyaAllah pasti selalu bisa diobati. Boleh jadi syaratnya gampang. Ganti total seluruh pekerti terlarang. Diganti dengan perbuatan indah yang boleh jadi belum mudah dilakukan orang. Pastikan ikhlash karena Allah. Bukan mengharap pujian.

    Petunjuk perilaku pemuda tampan itu. Berjalan menunduk tanda penyesalan mendalam. Upaya nyata berbelok dari balapan kepada usaha sungguhan. Berdagang melanjutkan peluang sukses betulan. Merombak total perilaku nakal melalui berhaji sambil total menolong orang.

    Membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Tampa melihat status sosial apalagi hubungan kekerabatan.
    Mendahulukan kepentingan orang lain, padahal dirinya pemuda tampan yang berkelimpahan fasilitas keuangan. Contoh perilaku mulia yang bisa ditauladankan.

    Walau dulunya bekas nakal yang sulit dibandingkan.
    Tapi sekarang bisa dibilang mabrur tak terkalahkan.

    Boleh jadi perilaku menuju mabrur bisa beragam. Tidak harus setiap orang memanggul jemaah yang sakit ke perubatan.
    Perilaku mengantri makan, mendahulukan orang lain yang lebih butuh untuk ke lift, dan ke sekian peruntukan yang memerlukan ke-akuan diminimalkan.
    Lalu, menjaga pandangan adalah petunjuk utama perubahan.

    Menjaga lisan merupakan indikator jalan terang menuju mabrur betulan. Berusaha selalu dzikrullah dan berucap sopan merupakan keutamaan yang tak bisa dibilang gampang.

    Sikap dermawan bukan hal yang mudah dilakukan. Tapi setidaknya bisa dijadikan petanda bahwa ibadah yang dilakukan berbuah manfaat sosial.
    Menghindar dari perdebatan merupakan peluang dikabulkannya pahala haji. Mengganti kata-kata jorok dengan kalimat pujian yang disunnahkan, adalah suatu kemuliaan yang dituntunkan.

    Rasa angkuh yang tertundukkan, merupakan prestasi yang meminta ulungnya sikap penghambaan. Pemuda tampan yang dulunya nakal. Sanggup mengikis bersih keangkuhan dan kesombongan. Walau dirinya berfisik gagah, tampan, berlimpah keuangan.

    Aduh.., andai saja setiap jemaah calon haji berikhtiar melakukan setiap kebaikan itu secara total. Boleh diyakinkan hajinya mabrur betulan.

    Perilaku pemuda tampan, berpredikat insyaAllah haji mabrur betulan. Boleh jadi sebagai tanda diterimanya amal-amal shaleh ayah dan bundanya. Ayahnya telah berusaha mendidiknya dengan baik, walau berakhir dengan nyawa sebagai taruhan.
    InsyaAllah ayahnya diampunkan. Antara lain karena putranya berhasil menjadi haji mabrur betulan.

    Allaahumma ij’alnaa hajjan mabruura wa sya’yan masykuura wa dzanban maghfuuraa wa tijaaratan lan tabuuraa wa amalan shaalihan maqbuulaa aamiin.

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Khutbah Jumat Singkat Menyambut Idul Adha


    Jakarta

    Idul Adha 2024 akan tiba awal pekan depan. Menyambut datangnya hari raya umat Islam itu, khatib Jumat bisa menyampaikan khutbah Jumat tentang Idul Adha untuk meningkatkan keimanan muslim.

    Idul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah. Ini termasuk waktu yang penuh keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam hadits nabi. Rasulullah SAW bersabda,

    “Tiada amalan yang dilakukan pada hari lain yang lebih baik daripada amalan pada 10 hari ini. Para sahabat bertanya, ‘Walaupun jihad?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Tidak juga jihad, kecuali jika seseorang keluar dengan nyawa dan hartanya dan tidak kembali lagi’.” (HR Bukhari)


    Oleh karena itu, para khatib Jumat dapat mengingatkan muslim tentang keutamaan bulan Dzulhijjah tersebut dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha yang diperingati setiap 10 Dzulhijjah.

    3 Contoh Teks Khutbah Jumat Menyambut Idul Adha

    Contoh Teks Khutbah Jumat Menyambut Idul Adha 1

    Dilansir dari laman resmi Kementerian Agama (Kemenag RI), berikut teks khutbah Jumat dengan tema “Memupuk Niat dan Semangat Pergi Haji ke Tanah Suci”.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

    Di antara lima rukun Islam yang harus dikerjakan oleh umat Islam adalah ibadah haji. Ibadah ini memiliki kekhususan waktu dan tempat karena harus dikerjakan pada bulan Dzulhijjah di Tanah Suci Makkah. Untuk bisa menjalankannya, diperlukan niat dan komitmen kuat karena ibadah ini memerlukan waktu dan syarat-syarat khusus di antaranya adalah mampu mengerjakannya.

    Artinya, ketika seseorang sudah mampu untuk melaksanakannya, maka wajib baginya untuk berhaji. Jika ia menghindar dari kewajiban dalam kondisi mampu mengerjakannya maka ia berdosa.

    Allah SWT menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

    وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

    Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah,” (QS Ali Imran 97).

    Lalu apa yang disebut dengan syarat mampu dalam berhaji? Para ulama menjelaskan bahwa seseorang bisa disebut mampu melaksanakan ibadah haji di antaranya adalah mampu secara fisik dan dalam kondisi jasmani dan rohani yang sehat. Disebut mampu juga adalah adanya sarana transportasi yang memadai untuk bisa bisa digunakan pergi haji.

    Dalam konteks umat Islam yang berada di Indonesia, adanya sarana transportasi ini diartikan sebagai kemampuan untuk membayar biaya sarana dan dan prasarana transportasi termasuk akomodasi yang dibutuhkan selama menjalani proses haji.

    Sisi kesehatan dan biaya inilah yang sering menjadi permasalahan umum yang dihadapi umat Islam di Indonesia. Tak jarang faktor inilah yang mengendurkan semangat umat Islam, khususnya yang jauh dari negara Makkah seperti Indonesia, untuk pergi haji. Ditambah lagi saat ini, antrean untuk bisa berangkat haji terus bertambah panjang dan lama hingga ada yang harus menunggu giliran berangkat sampai dengan puluhan tahun.

    Lalu apakah kendala-kendala ini akan semakin mengendurkan semangat kita untuk berhaji? Tentu saja jawabannya kita harus menjawabnya dengan kata ‘tidak’. Kita harus terus menanamkan dan memupuk semangat dan niat kita berhaji sebagai upaya menyempurnakan keislaman kita.

    Niat dan semangat harus terus dipupuk dengan cara tetap berikhtiar, melakukan upaya memenuhi syarat-syarat kemampuan dan setelah itu bertawakal kepada Allah karena Dialah yang maha penentu segala-galanya. Niat menjadi hal yang penting, karena banyak orang yang mampu, baik secara fisik, kesempatan maupun biaya, namun mereka belum tergerak hatinya untuk berhaji.

    Selama kita mau berusaha, Insyaallah, Allah akan memberi jalan kemudahan. Kita harus optimis bahwa kita mampu berhaji karena kita yakin bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Pemurah kepada hamba-Nya yang bertakwa. Ketakwaan menjadi jalan keluar dari masalah dan membukakan pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

    Untuk memupuk semangat berhaji, kita perlu terus mengingat keutamaan-keutamaan ibadah ini. Dalam hadits yang masyhur, Rasulullah SAW menyebutkan balasan bagi mereka yang menunaikan ibadah haji.

    عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ،

    Artinya, “Dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, dari Rasulullah saw, ia bersabda, ‘Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga’.” (HR Ahmad)

    Ikhtiar dan tawakal ini seperti sepasang dayung yang kita gunakan untuk menyeberang sungai menggunakan perahu. Jika hanya satu dayung sebelah kanan atau kiri saja yang kita gunakan, maka otomatis perahu yang kita gunakan akan berputar-putar saja di tengah sungai. Namun jika kita menggunakan kedua-duanya dengan baik, maka perahu akan dapat berjalan dengan maksimal dan akan sesuai dengan arah dan tujuan kita.

    Begitu juga ketika kita memiliki azam atau niat yang kuat untuk bisa berhaji, maka kita tentu harus berusaha melalui berbagai cara seperti mengawalinya dengan mendaftarkan diri agar mendapatkan nomor porsi haji dan kemudian kita bertawakal.

    Semoga kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah dan ditakdirkan untuk dapat pergi haji ke Baitullah. Mudah-mudahan Allah SWT membukakan pintu rezeki selebar-lebarnya mulai dari dibukakan pintu niat, kemampuan, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita bisa menikmati ibadah yang menjadi mimpi dan keinginan semua umat Islam.

    Contoh Teks Khutbah Jumat Menyambut Idul Adha 2

    Dirangkum dari buku Kumpulan Khutbah Jum’at & Hari Raya (Aktual, Praktis, Dan Populer) karya Dr. Khairul Hamim, MA, berikut contoh teks khutbah Jumat mengenai keutamaan bulan Dzulhijjah.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita, serta dengan menjauhi segala larangan-Nya. Dan marilah kita senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita tempati ini bukanlah tempat tinggal selamanya. Bahkan sebenarnya kita sedang dalam suatu perjalanan menuju tempat tinggal yang sesungguhnya di alam akhirat nanti.

    Telah banyak orang yang dulunya bersama kita atau bahkan dahulu tinggal satu rumah dengan kita, telah melewati dan meninggalkan dunia ini. Mereka telah meninggalkan tempat beramal di dunia ini menuju tempat perhitungan dan pembalasan amalan.

    Marilah kita manfaatkan dunia ini sebagai tempat mencari bekal untuk kehidupan akhirat kita. Sungguh seseorang akan menyesal ketika pada hari perhitungan amal nanti dia datang dalam keadaan tidak membawa amal saleh. Allah SWT berfirman:

    يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى. يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

    “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku (di akhirat) ini.” (Al-Fajr: 23-24)

    Hadirin yang dirahmati,

    Allah SWT, Di dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita akan menjumpai hari-hari yang Allah SWT berikan keutamaan di dalamnya. Yaitu dengan dilipatgandakannya balasan amalan dengan pahala yang berlipat, tidak seperti hari-hari biasanya. Di antara hari-hari tersebut adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam sabda Nabi SAW,

    “Tidaklah ada hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari tersebut (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah tidak lebih utama?”

    Rasulullah SAW bersabda , “Tidaklah jihad lebih utama (dari beramal di hari-hari tersebut), kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan keduanya (karena mati syahid).” (HR Al-Bukhari)

    Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT,

    Pada sepuluh hari yang pertama ini, kita juga disyariatkan untuk banyak berdzikir kepada Allah SWT, baik itu berupa ucapan takbir, tahmid, maupun tahlil.

    Allah SWT masih memberikan kesempatan bagi orang yang belum mampu menjalankan ibadah haji untuk mendapatkan keutamaan yang besar pula, yaitu beramal saleh pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Sehingga sudah semestinya kaum muslimin memanfaatkan sepuluh hari pertama ini dengan berbagai amalan ibadah, seperti berdoa, dzikir, sedekah, dan sebagainya.

    Apalagi ketika menjumpai hari Arafah, yaitu hari kesembilan di bulan Dzulhijjah, sangat ditekankan bagi kaum muslimin untuk berpuasa yang dikenal dengan istilah puasa Arafah, kecuali bagi jemaah haji yang sedang wukuf di Arafah.

    Adapun bagi para jemaah haji, mereka tidak diperbolehkan untuk berpuasa, karena pada hari itu mereka harus melakukan wukuf. Karena mereka memerlukan cukup kekuatan untuk memperbanyak dzikir dan doa pada saat wukuf di Arafah.

    Sehingga pada hari tersebut kita semua berharap untuk mendapatkan keutamaan yang sangat besar serta ampunan dari Allah SWT. Karena Nabi SAW menyebutkan bahwa hari itu adalah hari pengampunan dosa-dosa dan hari dibebaskannya hamba-hamba yang Allah SWT kehendaki dari api neraka. Sebagaimana dalam sabda beliau SAW,

    “Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka, lebih banyak daripada di hari Arafah.” (HR Muslim)

    Hadirin rahimakumullah,

    Pada bulan Dzulhijjah juga ada hari yang sangat istimewa yang dikenal dengan istilah hari nahr. Yaitu hari kesepuluh di bulan tersebut, di saat kaum muslimin merayakan Idul Adha dan menjalankan salat Id serta memulai ibadah penyembelihan kurbannya, sementara para jemaah haji menyempurnakan amalan hajinya.

    Marilah kita berusaha memanfaatkan hari-hari yang penuh dengan keutamaan untuk menambah dan meningkatkan amal saleh kita. Begitu pula kita manfaatkan waktu yang ada untuk memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Sehingga kita akan menjadi orang yang mendapatkan kelapangan hati, senantiasa takut kepada-Nya dan terjaga dari gangguan setan, serta terhindar dari segala macam bala’ dan musibah. Amin ya rabbal alamin.

    Contoh Teks Khutbah Jumat Menyambut Idul Adha 3

    Dilansir laman NU Kediri, berikut contoh teks khutbah menyambut Idul Adha mengenai ibadah kurban.

    Hadirin Jemaah Jumat yang dirahmati Allah…

    Pada kesempatan khutbah Jumat ini, setelah memuji kepada Allah SWT bersholawat kepada Baginda Nabi Agung Muhammad SAW, keluarga, serta sahabatnya, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan saudara-saudara Khutbah Bulan Dzulhijjah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT

    Hadirin Jemaah Jumat yang dirahmati Allah…

    Bulan ini merupakan bulan yang agung bagi kita semua, bulan di mana umat Islam menunaikan ibadah haji di Baitullah dan berkurban. Seluruh umat Islam berkumpul untuk menjalani sunah Nabi Ibrahim AS, menyembelih kurban, serentak mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, mendekatkan diri kepada Allah SWT Kita ingat sebuah peristiwa suci pada bulan ini, yakni Nabi Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail AS.

    Nabi Ibrahim AS mengalami konflik batin, menghadapi perintah Allah SWT tersebut. Siapakah yang lebih disayang, Allah atau Ismail? Inilah keputusan yang paling sulit diambil.

    Hadirin Jemaah Jumat yang dirahmati Allah…

    Nabi Ibrahim AS dihadapkan kepada dua pilihan, mengikuti perasaan hatinya dengan menyelamatkan Ismail yang paling disayang atau mentaati perintah Allah SWT dengan mengorbankan Ismail. Ia harus memilih satu di antara keduanya, cinta atau kebenaran. Cinta merupakan tuntutan hidupnya dan kebenaran merupakan tuntutan agamanya.

    Sadar bahwa Allah SWT adalah Yang Maha Penguasa dan Pemilik segala-galanya di alam ini, dan yakin bahwa Allah Tuhan Yang Maha Bijaksana, tidak akan menyengsarakan hambanya, maka Nabi Ibrahim AS memilih taat dan patuh terhadap perintah Allah SWT siap menyembelih anaknya, Ismail. Allah SWT berfirman:

    Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS.Al Baqarah: 216)

    Demikianlah betapa besar pengorbanan Nabi Ibrahim AS, dalam kondisi konflik batinnya dan pertempuran hebat tadi. Nabi Ibrahim AS tampil sebagai pemenang, ia dengan rela mengorbankan yang sangat ia cintai, yaitu Ismail. Meskipun setan al-khannas menggoda dengan membisik bisikkan dan membuat was-was dalam hatinya, untuk tidak melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, Nabi Ibrahim AS berketetapan untuk melaksanakan perintah Allah SWT Maka dipanggillah anaknya, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku. Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS ASh-Shaffat: 103-105)

    Ismail pun dengan tabah dan sabar memberikan kepatuhan terhadap ayahnya, dan siapa pula menerima perintah Allah SWT Demikian pula ibunya, Sayyidah Hajar, tabah dan sabar menerima perintah Allah SWT dengan keyakinan bahwa Allah SWT tak akan menzalimi hamba-Nya. Allah SWT memang Maha Bijaksana, perintah tersebut rupanya hanya untuk menguji keimanan dan keteguhan Nabi Ibrahim AS, dan akhirnya diganti dengan seekor kambing gibas yang gemuk. Peristiwa tersebut kini disyariatkan bagi kita sekalian baik dalam ibadah haji maupun ibadah kurban.

    Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…

    Allah Maha Besar telah memberikan sebuah pelajaran, dan pada hari yang mulia ini marilah kita ambil pelajaran dari kisah suci tersebut.

    Pertama, bahwa Allahlah Tuhan Yang Maha Agung, Penguasa dan Pemilik alam ini. Sedangkan kita manusia adalah hamba Allah SWT yang sangat kecil di hadapan-Nya. Karena itu, sudah selayaknya kita taat dan patuh kepadanya, serta siap melaksanakan perintah Allah SWT dan mampu mengorbankan kepentingan sendiri

    Kedua, untuk menjadi orang yang patuh dan taat kepada Allah SWT atau untuk melaksanakan perintah Allah SWT tentu banyak godaan dan gangguan, setan akan membisik-bisikkan dalam hati kita sehingga menjadi was was dan ragu-ragu. Bulan Dzulhijjah ini mengingatkan kita agar jangan sampai kita kalah terus, sebaliknya kita harus mampu menang sebagaimana Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

    Ketiga, kita perlu terus berupaya untuk menjadikan keluarga kita sebagaimana keluarga Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS sebagai ayah yang sangat patuh dan taat kepada Allah SWT namun tidak otoriter, diajaknya Nabi Ismail AS berdialog terlebih dahulu, “Bagaimana pendapatmu, wahai anakku, terhadap perintah Allah ini?” Ternyata hasil didikan Nabi Ibrahim AS luar biasa, yaitu Ismail memiliki keimanan yang tinggi.

    Demikian khutbah yang singkat ini, semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Fatwa MUI Tentang Salam Lintas Agama, Sudah Tepatkah?



    Jakarta

    Pada 28-31 Mei 2024 yang lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Kegiatan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, dengan mengangkat tema “Fatwa: Panduan Keagamaan untuk Kemaslahatan Umat”. Kegiatan tersebut diikuti oleh 654 peserta dari berbagai unsur dalam MUI, ormas-ormas Islam, para peneliti dari berbagai universitas, dan lain sebagainya.

    Di antara hal yang diputuskan dalam pertemuan tersebut adalah larangan penggabungan ajaran berbagai agama, termasuk pengucapan salam dengan menyertakan salam berbagai agama. Hal demikian karena mengucapkan salam merupakan doa yang bersifat ibadah. Penggabungan salam lintas agama yang dilakukan sementara ini bukan merupakan toleransi yang dibenarkan. (MUI.OR.ID, 04/06/2024).

    Setelah rumusan dari hasil pertemuan itu di-share ke publik, MUI segera mendapatkan reaksi dari mereka dan menuding fatwa itu sebagai fatwa kontroversial. Laman kemenag.go.id menurunkan opini bertajuk “Menimbang Fatwa Larangan Salam Lintas Agama: antara Agama dan Harmoni” karya Zaenal Mustakim, Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, (Senin, 3 Juni 2024). Sebagian Ketua PBNU dan Komisi VIII DPR juga memberikan tanggapan yang kurang lebih sama.


    Sebenarnya, apa yang diputuskan oleh MUI pada pertemuan tersebut bukan hal yang baru sama sekali. Sebab pada tahun 2019 yang silam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur telah mengeluarkan tausiyah atau himbauan dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019, agar tidak melakukan salam lintas agama, karena dinilai syubhat yang dapat merusak kemurnian dari akidah umat Islam. Bahkan, persoalan ini adalah hal klise yang terjadi setiap saat, terutama pada momen-momen perayaan agama di luar Islam, seperti Natal dan semacamnya.

    Sebetulnya, para ulama melarang umat Islam mengucapkan salam keagamaan secara campur aduk itu dalam rangka menjaga kemurnian akidah umat Islam sendiri. Jadi di sini tak ada kaitannya dengan keharusan kita bertoleransi dan berbuat baik kepada siapa saja, termasuk mereka yang berbeda agama. Lalu kenapa ulama melarang menyampaikan salam lintas agama? Setidaknya hal ini karena dua faktor berikut:

    Pertama, karena isi dari salam versi Islam itu adalah doa, sedangkan doa bagian dari ibadah, bahkan dalam sebuah hadis ditegaskan doa adalah inti dari ibadah itu sendiri. Jadi tentu sangat maklum jika kita sebagai umat Islam memiliki ibadah-ibadah khas dengan tata cara yang khas pula, sehingga tidak boleh dicampur adukkan dengan unsur-unsur ibadah atau tradisi dari agama lain. Sebagai gantinya, dalam sebuah forum yang plural, kita bisa menyapa hadirin dengan salam yang netral, seperti “salam sejahtera untuk kita semua”, dan sebagainya.

    Kedua, sebagai umat Islam kita juga tidak diperkenankan menyampaikan salam versi agama lain kepada pemeluk agama itu, karena jelas akan terjadi berserupa (tasyabbuh) yang dilarang dalam syariat Islam. Tentu sudah maklum salam suatu agama merupakan ciri khas dari agama itu, dan umat Islam dilarang berserupa dengan melakukan berbagai hal yang menjadi ciri khas suatu agama, baik berupa perkataan, perbuatan, aksesoris, tradisi, dan sebagainya.

    Itulah sebabnya dalam masalah salam, Bagian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan agar kita menyampaikan salam kepada non-Muslim dengan salam versi Islam ataupun versi agama mereka. Karena menyampaikan salam versi Islam berarti mendoakan mereka dengan doa yang khusus umat Islam, dan ini tidak diperkenankan. Sementara menyampaikan salam dengan versi non-Muslim berarti berserupa dengan non-Muslim, dan ini juga tidak diperkenankan dalam agama.

    Ketika membahas tentang hadis-hadis yang berkenaan dengan salam antara Muslim dan non-Muslim, al-Imam al-Mawardi dalam al-Hawi al-Kabir (XIV/319) memberikan rincian sebagai berikut: Pertama, jika non-Muslim mendahului menyampaikan salam kepada kita, maka kita harus menjawabnya dengan “wa alaikas-salam” tanpa tambahan “warahmatullahi wabarakatuh” karena itu adalah doa khusus umat Islam, atau dijawab dengan “wa alaika” saja.

    Kedua, jika umat Islam yang memulai mengucapkan salam terlebih dahulu, maka boleh dengan ungkapan “Assalamualaika”, bukan dengan “Assalamu’alaikum” yang memang khas untuk umat Islam. Bahkan dalam sebuah hadis, kita dilarang memulai menyampaikan salam kepada non-Muslim, dan jika mereka yang memulai terlebih dahulu, maka kita dianjurkan menjawab “Wa alaikum” saja.

    Jadi sederhananya larangan-larangan atau aturan-aturan ini ditetapkan karena terkait dengan adanya unsur ibadah, doa, dan aspek-aspek keagamaan yang khas dalam Islam. Adapun jika sapaan kita tidak ada kaitannya dengan ciri khas keagamaan, maka tentu kita bebas-bebas saja menggunakannya, baik untuk memulai menyapa maupun dalam menjawabnya, apakah itu dengan sapaan “Hey”, “Halo”, “Apa kabar?”, dan sebagainya.

    Sementara untuk urusan bertoleransi dengan non-Muslim, maka umat Islam tidak perlu diajari soal itu semua, dan harmoni umat Islam bersama non-Muslim di Indonesia selama ratusan tahun adalah fakta yang tak terbantahkan untuk itu. Di dalam ajaran Islam, dalil-dalil toleransi tidak terhitung jumlahnya. Bahkan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sirah hidup beliau penuh dengan toleransi kepada non-Muslim, yang berarti umat Islam sepanjang masa harus senantiasa meneladani beliau.

    Moh. Achyat Ahmad

    Penulis adalah Direktur Annajah Center Sidogiri

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kusembah Engkau Karena Kucinta



    Jakarta

    Cerita cinta. Cerita yang tak pernah ditutup bukunya. Ia dinovelkan, ia dilagukan, ia disyairkan.

    Tak terhitung jumlah judul lagu yang selalu hits, jika bertemakan cinta. Begitu juga judul film, judul novel, termasuk judul-judul puisi. Bahkan, berbagai perusahaan jasa, termasuk layanan perbankan dan perhotelan. Meninggikan kalimat cinta. Kalimat umum sebagai isyarat pelayanan unggulan. Kalimat itu bisa berujar, “Kami melayani dengan cinta”.

    Cinta, menguatkan siapa saja. Kekuatan yang bahkan di luar logika. Cinta, sulit dinarasikan dengan kata-kata!


    Orang yang sedang dimabuk cinta, tampak baginya keindahan dalam segala. Jika yang dicinta seorang wanita atau pria, maka dari seluruh detailnya, semuanya tampak memesona. Dari rasa cinta, muncul ungkapan kekaguman, pujian, ingatan tak berkesudahan, kerinduan, dan perasaan berbunga-bunga ketika berjumpa.
    Bukankah setiap kita pernah merasakannya?

    Rabi’ah al-Adawiyah. Siang itu Rabi’ah al-Adawiyah berlari-lari di Kota Baghdad. Di tangan kanannya ada setimba air. Tangan kirinya memegang obor api. Melihat yang tak biasa masyarakat betanya-tanya, ada apa?

    Tak mereka duga, Rabi’ah menjawab ‘sekenanya’, “mau membakar surga dan menyiram neraka”.
    Andai saja kita di sana, boleh jadi kita menduga Rabi’ah berbicara tanpa logika?

    Rupanya Rabi’ah mengikuti kata hatinya. Agar siapa pun yang menyembahNya bukan mengharap surga, atau sekedar takut dari siksa neraka. Menurutnya, karena itu membuat umat Islam menyembahNya tanpa dasar cinta.

    Menyembah demi cinta, pasti tak kan pernah dibutakan atas keinginan surga, atau ketakutan akan neraka.

    Sangat mungkin suasana hati Rabi’ah sesuai dengan informasi dalam Zabur, kitab yang diwahyukan Allah swt. kepada Nabi Daud as. “Siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka. Apakah jika Aku tidak membuat surga dan neraka, maka Aku tidak berhak untuk disembah.”

    Cinta hamba, dalam lirik lagu. “Jika surga dan neraka tak pernah ada”.
    Lebih sepuluh tahun lalu. Lagu tentang cinta tulus hamba kepada Tuhannya menempati papan atas tangga lagu hits di Indonesia. Perhatikanlah sebagian liriknya:

    “Apakah kita semua
    Benar-benar tulus
    Menyembah padaNya
    Atau mungkin kita hanya
    Takut pada neraka
    Dan inginkan surga

    Jika surga dan neraka tak pernah ada

    Masihkan kau bersujud kepadaNya
    Jika surga dan neraka tak pernah ada
    Masihkah kau menyebut namaNya”.

    Di hati seorang hamba. “Sungguh tak peduli aku. Ke manakah yang Engkau rela. Yang kuberatkan jika aku masuk neraka, karena aku durhaka. Betapa nestapanya?

    Bukankah perintahMu adalah nikmat. Bukankah melanggarmu adalah kerugian yang fakta. Bagaimana bisa memilih celaka daripada bahagia, jika aku memiliki logika.

    Betapa maksiyat kepadaMu adalah pengkhianatan kasat mata. Atas sejati cintaMu kepadaku. Tidak tahu malu, jauh dari kata setia. Tak pantas menjadi manusia!

    Andai memilih taat daripada durhaka tak pernah ada pahalanya. Logika sehatku pasti memaksa untuk memilih taat kepadaMu. Betapa tidak, karena taat itu keuntungan yang sangatlah berbukti fakta.

    Maha Suci Engkau dari memerintahkan untuk celaka. Pastilah perintahMu untuk selamat dan bahagia. Maha Suci Engkau dari melarang untuk bahagia. Pastilah laranganMu untuk menghindar dari bahaya nyata. Celaka tak ada duanya.

    Lalu apa kepentinganku terhadap pahala. Kecuali itu hanya karena anugerah rahmatMu saja kepada siapa pun hambaMu. Duh, hanyalah Dia yang benar-benar haq untuk dicinta, dengan segala puja.

    Kalimat Maha Puja Menandai Puncaknya Cinta. Kalimat puja

    dan puji untuk hamba-hambaNya. Diuntai berjalin dalam kekaguman tak berhingga. Inikah dia?

    1. Bismillaahirrahmaanirraahiim
    Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
    2. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin
    Segala puji hanya bagi Engkau Tuhan seru sekalian alam
    3. Ar-Rahmaanirraahiim
    Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
    4. Maaliki yaumiddiin
    Maha Raja di hari pembalasan

    Nabi Daud as. menerima wahyu dalam Zabur, “Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasihi adalah orang yang beribadah bukan karena imbalan. Tapi semata, karena Aku berhak untuk disembah.”

    Duhai Allah. Hamba berdoa dan berdoa. Agar setiap masa yang sedang dan akan tiba. Tak ada secelah pun padanya. Kecuali hamba menyembahMu sedang hati selalu dimabuk cinta. Cinta hanya kepadaMu saja.
    Kabulkanlah Rabb!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • AlQuran Adalah Cermin, alFurqan dan Shafa’ah



    Jakarta

    Cermin, ‘pasti’ selalu bersama para kaum hawa. Sulit para mereka hidup tanpa cermin. Di kamar mandi, kamar rias, kamar tidur, dalam mobil, kaca spion. Bahkan kaca spion mobil orang yang belum tentu ia kenal, entah mobil siapa. Satu fungsi utamanya agar bisa tampil prima.

    Dalam bahasa Inggris cermin adalah mirror. Bahasa Arab cermin adalah mir-ah. Dan bahasa Arab nya kaum hawa adalah mar-ah. Dalam bahasa Arab, cermin dan wanita memiliki kesamaan huruf penyusunnya, mim, ra, alif, ta’.

    Cermin membuat seseorang bisa mengevaluasi dirinya secara mandiri. Tidak harus di depan umum. Bahkan cermin lebih baik dilihat di kala sendiri. Tampil menawan adalah harapan setiap insan. Lega rasanya bisa tampil percaya diri di mana pun.


    Jika raga kita butuh cermin untuk evaluasi. Maka jiwa pun butuh. Bahkan jiwa ini lebih butuh dievaluasi untuk bisa tampil menawan. Iya, karena jiwa yang menawan melahirkan raga yang menarik.

    Bertebaran informasi di media sosial yang menghubungkan kekuatan hafalan alQuran para penghafal dengan perilakunya. Perilaku taat mengokohkan hafalan, perilaku keliru memudarkannya. Jangankan keliru besar seperti ghibah dengan mulut. Bahkan baru terlintas ghibah (menduga orang lain buruk) dalam hati saja sudah bisa membuat penghafal alQuran luntur hafalannya, sedikit atau banyak.

    Jika dikaitkan dengan cermin, maka alQuran berfungsi mirip dengan cermin, yang segera akan memberitahu para penghafalnya jika wajah batinnya keliru. Ialah berbuat dosa.

    Tidak hanya bagi penghafal alQuran, bagi Muslim yang biasa membaca alQuran, kekeliruan atau dosa akan segera membuatnya merasa malas membacanya.

    Ibnu Abbas pernah berkata: “Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada keburukan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada hati, gulita di alam kubur, dan kelemahan pada badan (malas membaca alQuran), kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.”

    AlQuran sebagai cermin jiwa mengevaluasi wajah batin. Demi peran alQuran yang demikian itu, maka alQuran menjadi petunjuk, penerang agar pembacanya tidak keliru jalan. Gelapnya keadaan membuat siapa pun kesulitan memilih, yang mana pisau yang mana penggaris. Bahkan kegelapan yang sangat, menyebakan orang tidak hanya kesulitan memilih, bergerak pun sulit.

    Fungsi alQuran sebagai nur, penerang membuat orang mudah memilah mana yang manfaat dan mana yang membahayakan. Kemampuan demikian adalah kemampuan cerdas untuk tepat memilih mana yang benar, mana mana yang keliru.

    Kemampuan cerdas alQuran agar si pembaca mampu membedakan yang benar dan yang keliru dengan jelas adalah fungsi alQuran sebagai alFurqan. Pembeda dengan jelas mana yang diperlukan dan mana yang membahayakan.

    Kemampuan ini antara lain penting bagi para hakim. Pada waktu kesulitan memutuskan kasus hukum karena berbagai keadaan.

    Pada saat Nabi Daud as. menjadi raja, datang dua perempuan yang sedang berperkara. Satu orang bayi diakui oleh dua orang ibu. Masing-masing tidak mau mengalah. ”Itu adalah bayiku, seorang ibu selalu tahu dan mengenal bayinya,” ujar perempuan muda.
    ”Tidak! Ini bayiku. Bayimu telah tewas dimakan serigala,” ujar yang lain.

    Nabi Daud pun kesulitan memutuskan. Hampir saja Nabi Daud as. percaya bahwa Ibu yang kedua adalah orang tua asli bayi itu. Nabi Sulaiman as. putra beliau yang masih sangat belia mencoba membantu sang ayah. ”Ambilkan aku pedang untuk membelah dua bayi ini untuk kalian berdua,” ujar Sulaiman.

    Sontak perempuan muda berteriak, ”Tidak jangan, tolong jangan lakukan itu. Kau akan membunuhnya. Oh rajaku, berikan saja bayi itu padanya,” teriak sang ibu muda dengan deraian air mata.

    Teriakan tersebut mengantar Nabi Sulaiman mengerti bahwa pemilik bayi sebenarnya adalah Ibu muda itu.

    Nabi Daud as. adalah seorang raja yang juga hakim agung. Masih kesulitan memutuskan perkara yang pelik, samar, dan tidak bisa diselesaikan hanya berdasar perasaan dan hasil rekayasa perdebatan.

    Inilah contoh kasus di bidang hukum. Kasus ini memerlukan kecerdasan dan ketelitian yang tinggi, agar hakim mampu membedakan dengan tegas mana yang ibu asli, mana yang sekedar mengaku-ngaku.

    Kebijakan metode Sulaiman as. memintas jalan adil. Itulah makna furqan. Memisah mana yang benar dan mana yang keliru betapa pun tipisnya perbedaan.

    Bagi dosen, alFurqan adalah kemampuan untuk menuntun mahasiswa kepada obyektifitas ilmu. Bagi para ibu-ibu yang sedang bereblanja di mall, adalah kemampuan mudah menentukan pilihan baju kesayangan. Sehingga para suami yang mengantarnya bisa senang, karena baju lekas terbeli, bisa segera pulang. Bagi para remaja, mudah memilih pasangan yang ‘pasti’ membahagiakan.

    AlQuran sebagai alFurqan pasti sangat diperlukan para mahasiswa terutama untuk menggapai nilai tinggi dalam evaluasi ujian.
    Pernah ketika masih di Jerman, pak Habibie merasa kewalahan mengejar prestasi kawannya yang keturunan Yahudi. Laki dan perempuan. Mereka selalu berada di peringkat atas. Habibie ingin sekali menempati prestasi puncak.
    Lalu Habibie dengan rasa kepo bertanya,”Dengan cara apa kalian belajar sehingga sulit bagi saya untuk menduduki posisi kalian?”
    Mereka berdua menjawab singkat,”kami membaca alQuran”.

    Jawaban mereka seolah menampar wajah Habibie. Bagaimana tidak, bukankah alQuran merupakan kitab suci Muslim. Mengapa teman Yahudi yang justru memilihnya sebagai jalan menuju puncak? Serentak dia mencontoh laku mereka itu. Terbukti setelah ia membaca alQuran, dia benar-benar menggapai puncak teratas prestasi mahasiswa, menggeser dua orang kawan Yahudinya.

    Keunggulan Habibie di peringkat tertinggi ini, membawanya pada prestasi fenomenal. Dia mampu mengatasi masalah retaknya ekor pesawat Boeing ketika naik pada ketinggian tertentu. Belakangan, atas keberhasilannya itu ia sangat terkenal dengan sebutan Mr. Crack, berkat alQuran.

    Itulah sekelumit syafa’ah alQuran!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Rahasia 100.000 Pahala di Masjidil Haram



    Jakarta

    Salat itu ibadah unggulan. Begitu tinggi maqamnya, hingga banyak ibadah lain “sepertinya” bersifat derivatif dari salat. Nyaris semua kegiatan harian kita, ada “penawarnya” lewat salat. Selain salat sunah rawatib, ada banyak ibadah maknawiyah yang menggandeng salat.

    Contoh; wudhu ada salatnya, hajat ada salatnya, mohon petunjuk ada salatnya, safar ada salatnya. Ada salat sunah ihram, salat tawaf, minta hujan, salat gerhana, salat taubat, dan salat lainnya.

    Bahkan, ada salat yang tidak bergantung pada momentum apa pun. Kapan saja (selain waktu terlarang) dan di mana saja, kita bisa langsung salat. Namanya salat mutlaq.


    Dus, salat adalah fasilitas paling formal yang didisain oleh agama agar umat dapat setiap saat berasyik masyuk dengan Tuhan. Konon, salat pula yang pertama-tama akan dihitung di Yaumil Hisab sebelum jenis ibadah lain. Jika salatnya baik, ibadah lain diyakini akan beroleh “syafaat” dari salat.

    Nah, salat juga merupakan salah satu peluang investasi terbesar kita. Ia menampung keuntungan sangat besar. Keuntungan berupa pahala. Pahala adalah manfaat dari perbuatan yang bisa dipetik. Ibarat perusahaan, agama Islam menyediakan dua formula untuk menghitung benefit.

    Ia menyediakan pahala bagi yang amal ibadahnya baik dan menyiapkan dosa bagi yang sebaliknya. Pahala berupa manfaat, sedang dosa memberinya mudarat. Inilah reward dan punishment.

    Pahala dan dosa berimplikasi pada wujudnya manfaat dan mudarat bagi kita. Bukan bagi Allah. Setiap amar-Nya akan mendatangkan manfaat dan tiap nahyun–larangan-Nya, jadi penyebab kemudaratan bagi kita.

    Maka, siapa yang salatnya baik, memenuhi rukun, syarat wajib, syarat sah dan syarat diterimanya, maka ia akan beroleh manfaat, yaitu selalu ingat Allah dan jauh dari mungkar serta fakhsya’. Yang lalai akan beroleh sebaliknya; lupa kepada Allah dan diancam dengan kenistaan hidup.

    Meditasi Energi

    Kini, mari mencoba menyimak “dalil” alam semesta lewat postulat fisika. Dengan rumus ini, kita berharap dapat memandang salat dari sisi lain. Yaitu salat sebagai sebuah meditasi energi. Kenapa disebut meditasi, karena salat yang “benar” akan meniscayakan suasana khusyu’.

    Persis meditasi. Khusyu’ (dalam salat) dan meditasi adalah safar hati. Kian sublim hati seseorang, akan kian jernih hatinya. Jika mencapai kejernihan tertentu, hati akan mampu beresonansi.

    “Dalil” lain dari ilmu pengetahuan alam menyebutkan bahwa jika sebuah benda mengandung listrik–dan begitu juga tubuh manusia, bergerak-gerak dengan cara berputar, dalam waktu tertentu akan bisa memproduksi energi.

    Dan kaifiyat salat terdiri atas gerakan berputar yang dimaksud. Takbiratul ihram adalah gerakan tangan dari pinggang hingga telinga. Ia bergerak 180 derajat. Rukuk juga gerakan berputar 90 derajat. I’tidal ke sujud bergerak 180 derajat. Dan sujud ke duduk juga gerakan 90 derajat.

    Lebih dari itu, salat adalah kegiatan yang tidak pernah berhenti hingga Hari Kiamat. Siang ini salat duhur di Makkah, semenit lalu duhur yang sama di tempat lain. 9 jam lalu duhur itu juga di Jakarta. 10 jam sebelumnya di Bali. Sejam lalu di Papua.

    Demikianlah sepanjang 24 jam, duhur berputar berganti asar, lalu salat maghrib, lalu isya, dan akhirnya subuh. Kondisi ini akan terus berlanjut, sebab matahari tak pernah berhenti mengitari bumi. Miliaran orang melakukan salat.

    “Waktu” bertambah padat dan tebal jika banyak orang melengkapinya dengan salat sunnah. Kini kita dapat membayangkan, betapa telah terjadi ketegangan medan elektromagnetik pada satu titik.

    Di mana ‘kah titik itu? Di ka’bah. Mengapa? Sebab semua gerakan salat mengarah pada satu titik, yaitu ka’bah. Rumah Tuhan itu membara karena menjelma konduktor raksasa. Titik itu menjadi kiblat hati dari miliaran manusia.

    Dalam satu waktu, miliaran hati berkirim resonansi cahaya. Sebab, hati yang yang menampung doa, ayat-ayat Alquran, selawat, wirid, dzikir, bacaan talbiyah dan bersatu dalam susunan kalimah tayyibah yang sakral, akan memunculkan cahaya/nur.

    Allah juga menyebut Alquran sebagai “nuron mubina”–cahaya yang nyata. Nur itu adanya di hati yang lembut. Jika sampai pada kejernihan tertentu, hati akan menularkan cahaya ke sekitar. Sebab, hati yang yang lembut, mengandung frekuensi tinggi dan amplitudo rendah.

    Dari mana rumusnya? Saat mengisi pengajian di kantor daerah kerja (daker) Makkah tempo hari, konsultan ibadah di PPIH Arab Saudi, KH Abdul Moqsith Ghazali berkisah soal Nabi Ibrahim.

    Katanya, sangat bisa jadi tempat “ngaji” itu adalah jalan-jalan yang dulu pernah dilalui Nabi Ibrahim As. Dan Ibrahim As dikonstatasi Allah sebagai nabi berhati jernih dan lembut. “Inna Ibraahima La’awwaahun haliim–Sungguh (Nabi) Ibrahim itu lembut hati dan penyantun.”

    Maka, kata Kiai Moqsith, salat di tanah suci (di mana pun di Makkah) berarti salat di Tanah Haram. Salat di tanah haram juga berarti salat di Masjidil Haram. Salat di Masjidil Haram berarti salat di sekitar ka’bah. Sebuah locus yang menapaktilasi jejak Ibrahim, Ismail, Siti Sarah.

    Disinari Multazam, hijir dan maqam, diselimuti jejak spiritual jutaan orang tawaf berputar, miliaran kaum muslimin salat di seluruh punggung bumi, maka miliaran hati itu berkirim cahaya ke satu titik, yakni ka’bah. Dan, terbentuklah Gelombang Cahaya!

    Cahaya itu sudah tertanam dalam waktu sangat panjang, puluhan ribu tahun lamanya. Cahaya itu membilas hati jemaah haji, pelaku salat, jemaah tawaf. Jiwa dan hati yang lembut dan jernih, akan berkonsekuensi pada terciptanya batin yang tenang.

    Cahaya itu akan mengantarkan bisikan jiwa, suara batin, dan munajat menuju Robbil Izzati. Secepat cahaya. Secepat 300.000 km perdetik. Itulah batas kecepatan cahaya. Kecepatan tercepat di alam semesta ini. Mengalahi kecepatan suara.

    100.000 Pahala

    Doa yang tiba cepat. Super ekspres. Secepat kilat. Tahu-tahu sudah di tangan malaikat. Tahu-tahu malaikat sudah menyerahkannya kepada Tuhan YME.

    Jika Baginda Rasul diriwayatkan pernah bersabda bahwa salat di Masjidil Haram akan beroleh pahala berkelipatan 100.000 kali, itu amat ma’qul alias masuk akal. Bahkan, kita bisa meyakini itu cara Nabi menjelaskan betapa besar nilai dan derajatnya sehingga beliau sampai pada angka 100.000. Amboooi!!!

    Seratus ribu kali lipat pahala adalah 100.000 lipat manfaat. Manfaat sebagai akibat dari pahala salat. Manfaat itu berupa kesempatan “ingat Allah” selama 100.000 kali dalam sekali salat. Dan salat kita adalah 5 kali sehari semalam plus salat sunnah rawatib dan salat-salat sunnah pelengkap lainnya.

    Maka, siapa gerangan yang tidak merasa beruntung ingat dan diingat Allah sepanjang usia di dunia menuju akhiratnya? Ia akan dijaga agar terhindar dari munkar-fakhsya’.

    100.000; deretan angka yang tak akan mampu dilampaui ukuran usia manusia mana pun!!!

    Ishaq Zubaedi Raqib

    Petugas PPIH Arab Saudi sublayanan MCH Daker Makkah Al Mukarramah

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Saatnya Memperbarui Fikih Haji


    Jakarta

    Saya memulai mendiskusikan tema di atas dengan sebuah “disclaimer” bahwa saya bukan ahli fikih. Saya pernah belajar fikih di madrasah, tetapi tidak membuat saya menjadi “faqih”. Saya tidak mengambil jurusan hukum Islam dan tidak pernah duduk khusus mengaji kitab-kitab fikih.

    Ketertarikan saya pada tema di atas dasarnya adalah pengalaman saya menyelami proses dan dinamika penyelenggaraan haji pada tahun 2024 dengan menjadi anggota Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) penyelenggaraan haji yang dibentuk oleh Kementerian Agama. Dengan menjadi Tim Monev, saya memiliki kesempatan berharga untuk menyelami ragam dinamika haji di lapangan.

    Jadi diskusi tema di atas dipicu oleh kesadaran empirik saya sebagai petugas haji, bukan sebagai “specialist” dalam dunia fikih. Karenanya saya hanya ingin mencermati tataran sosiologisnya, bukan membedah fikih haji secara substantif.


    Setelah saya menyerap informasi dari berbagai pihak yang terkait dengan haji, saya mengajukan sebuah klaim bahwa penyelenggaraan haji tahun ini sangat baik dan diyakini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, atau lebih ekstremnya, yang terbaik sepanjang sejarah penyelenggaraan haji.

    “Murur” untuk “Hifzh al-Nafs”

    Salah satu isu penting yang menjadi pendorong bagi suksesnya pelaksanaan haji tahun ini adalah keputusan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag), untuk memaksimalkan ikhtiar bagi keselamatan jiwa para jemaah.

    Yang melatari ikhtiar kuat pemerintah adalah kesadaran bahwa untuk mendapatkan “ruang gerak” yang lebar bagi jemaah di Tanah Suci adalah sebuah kemustahilan. Misalnya, untuk mendapatkan ruang yang lebih di Muzdalifah sebagai tempat “mabit” tidak mungkin karena Muzdalifah adalah tempat yang kondisinya yang tidak bisa lagi diperluas.

    Demikian pula Mina sebagai tempat mabit malam-malam “tasyriq,” juga tidak mungkin lagi diperluas. Dibuatnya kawasan baru, “Mina Jadid” yang masih menjadi bagian dari kawasan Muzdalifah tidak bisa menyelesaikan tumpukan jemaah dari seluruh dunia yang akan menempuh proses mabit.

    Atas kesadaran itu, Kementerian Agama mengambil kebijakan bahwa hal yang perlu dilonggarkan untuk mengurai sesaknya Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) bukan dari ruang-ruang fisiknya tetapi dilonggarkannya pemahaman fikih yang terkait dengan proses haji di Armuzna. Pelonggaran ini tujuannya adalah untuk mewujudkan cita tertinggi dari hadirnya hukum Islam, yakni “hifzh al-nafs” (terjaganya jiwa).

    Yang pertama ditelisik adalah titik krusial terpenting dari Armuzna, yaitu mabit di Muzdalifah, karena tempat itu di samping sempit, waktunya juga sangat terbatas. Pengalaman tahun sebelumnya juga memberi pelajaran penting bahwa Muzdalifah adalah titik yang sangat rawan bagi para jemaah.

    Atas dasar itu, penyelenggara haji mengambil kebijakan “murur” bagi jemaah yang memiliki uzur atau halangan tertentu (lansia, resiko tinggi, dan disabilitas). Murur adalah melintaskan kendaraan para jemaah di Muzdalifah menuju ke Mina bagi yang sudah terdata memiliki uzur. Jumlahnya sangat signifikan untuk melonggarkan ruang jemaah yang mengambil mabit secara normal.

    Tentu keputusan murur ini didasari oleh kajian fikih yang sangat serius dari ulama-ulama otoritatif kita. Terurainya jemaah secara lancar dari Muzdalifah menuju ke Mina faktor penentunya adalah kebijakan murur.

    Formalisasi “Tanazul”

    Pertanyaannya adalah bagaimana dengan Mina, karena semua jemaah, baik yang mabit secara normal maupun murur tentu semua menuju ke Mina.

    Mina adalah kawasan yang tidak cukup luas meskipun sudah termasuk Mina Jadid. Berbeda dengan kawasan Arafah yang selama ini masih relatif bisa menampung seluruh jemaah, dan masih bisa terkondisikan dengan baik. Saya berkeyakinan bahwa kesesakan yang terjadi di Mina, termasuk keterbatasan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang dikeluhkan jemaah, faktornya karena keterbatasan ruang.

    Dari situasi ini, saya melihat bahwa penyelenggara perlu berikhtiar kuat untuk memberlakukan sebuah langkah solutif penguraian jemaah yang didasari oleh pelonggaran tafsiran fikih. Sekali lagi tujuannya adalah untuk keselamatan jiwa jemaah.

    Salah satu yang telah diinisiasi oleh penyelenggara haji–dan saya duga memberi pengaruh terhadap berkurangnya kesesakan di tenda Mina–adalah banyaknya jemaah yang mengambil “tanazul” setelah dari Muzdalifah. Tanazul di sini bermakna jemaah tidak tinggal di tenda Mina, namun pulang-pergi dari hotel mereka untuk melakukan lontaran di Jamarat. Namun, aktivitas tanazul ini masih bersifat imbauan dan dilakukan secara mandiri oleh para jemaah yang memiliki kesanggupan.

    Saya berasumsi bahwa bila murur bisa dijadikan dasar bagi kelancaran pengaturan jemaah, maka sebaiknya tanazul juga perlu dipertimbangkan untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan haji pada tahun depan. Adapun yang mengiringi diskusi tentang tanazul ini adalah dua hal, yaitu tanazul bagi yang sehat seperti gambaran di atas, dan tanazul bagi yang memiliki uzur.

    Apakah diskusi bisa dikembangkan pada bisa atau tidaknya jemaah yang mengambil murur, langsung saja di-tanazul-kan. Artinya, mereka dilewatkan di Mina dan tidak perlu lagi tinggal di sana karena mereka memiliki uzur. Dan ketika mereka ingin melakukan lontaran, mereka bisa diwakilkan (badal). Karena menempatkan mereka di Mina untuk ikut melontar, risikonya juga cukup tinggi.

    Diskusi berikutnya adalah bila tanazul dijadikan kebijakan, perlu diikuti oleh kebijakan lainnya, bagaimana menentukan syarat mabit bagi orang sehat yang mengambil tanazul, dan berapa lama mereka berdiam di kawasan Mina? Bisakah mereka melontar jumrah dengan rentetan waktu yang saling berdekatan dengan pertimbangan pergantian waktu untuk memudahkan pergerakan mereka?

    Interpretasi Kreatif

    Hal yang bersifat fiqhiyah di atas sebenarnya sudah dipraktikkan oleh beberapa jemaah sebagai bagian dari langkah nyata mereka untuk meminimalisasi potensi kerawanan. Namun untuk bisa menjadi panduan bagi jemaah ke depan, perlu ada kebijakan resmi dari penyelenggara yang didasari oleh pandangan fikih dari ulama seperti yang dilakukan terhadap lahirnya kebijakan murur.

    Saya optimis, bahwa kesuksesan pelaksanaan haji tahun ini yang didasari pada interpretasi kreatif tentang fikih haji, akan semakin memotivasi penyelenggara lebih memaksimalkan celah untuk menemukan interpretasi fikih yang memastikan bahwa “hifzh al-nafs” adalah segalanya. Saya meyakini, dua hal yang saling menopang untuk hadirnya kebijakan baru berhaji dari interpretasi fikih: keseriusan pemerintah dan kepatuhan para jemaah.

    *) Hamdan Juhannis
    Anggota Tim Monev Haji 2024, Rektor UIN Alauddin Makassar

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Pasti Ditolong Asal Mau Menolong



    Jakarta

    Malam masih menyelimuti siang, matahari masih senyap di peraduan. Seorang ibu sepuh mengirim WA audio kepada adiknya yang dirasa memiliki kedudukan nyaman di suatu instansi. Ia bercerita tentang pejabat yang menjadi atasan dari anaknya. Putra pejabat itu hendak masuk suatu institusi pendidikan tertentu. Pendidikan dokter spesialis dalam bidang yang banyak diminati.

    “Kalau seandainya harus menghadap, ia akan menghadap kepadamu”. Itu sekelumit permohonan yang dimajukannya di suatu akhir malam.

    Beraneka bentuk pengharapan dan permohonan model seperti ini. Entah di negeri ini atau entah di mana saja. Boleh jadi menggunakan kalimat yang sedikit berbeda. Tapi maksudnya sama, ingin ditolong.


    Sejak jaman dahulu sudah beruntun kisah tentang bagaimana pertolongan kepada seseorang menghadirkan pertolongan serupa kepada si penolong.

    Di masa bepergian jauh masih lebih umum menggunakan kapal laut daripada pesawat udara. Pada masa itu, beberapa Kyai yang menerima banyak santri di pondoknya, memberangkatkan putra penerus mereka ke Arab Saudi, Yaman, maupun Mesir.

    Sementara putra-putra para Kyai itu mengikuti pendidikan agama di negara-negara teluk, sementara orang tua mereka berada di Indonesia. Sering terjadi uang kiriman belanja bulanan, baik untuk biaya pendidikan maupun biaya belanja harian mengalami kendala. Entah karena cuaca yang bertepatan dengan banyak angin kencang, atau orang yang akan dititipi uang belum ada yang bepergian ke arah negara tujuan.

    Lalu apa yang mereka para Kyai itu lakukan. Mereka sengaja memberikan santunan kepada para santri di pondoknya. Dengan keyakinan bahwa apa yang mereka perbuat akan dibalas Tuhan.

    Lalu apa yang mereka ceritakan selanjutnya. Entah dari mana datangnya. Entah siapa yang berkenan membantu. Tapi yang jelas para putra beliau di negeri nun jauh di sana ditolong orang (baca ditolong Tuhan) melalui jalan yang bukan perlu logika normal.

    Kisah di atas sebenarnya terjadi berulang, acak dan tersebar bahkan di seluruh dunia. Sering orang memberikan stigma kebetulan. Padahal, ada beberapa periset yang membuktikan bahwa hal itu terjadi melalui proses. Bukan sekedar kebetulan.

    Tentang hal itu, ada dua orang periset terkenal (Stephen Post dan Jill Neimark) yang menemukan jawaban dari hal-hal yang sering diberi stigma kebetulan di atas. Hasil temuan mereka dinarasikan dalam bentuk buku. Buku tersebut sangat terkenal. Buku itu menjadi best seller internastional. Ia menjadi sumber inspirasi sangat baik selama beberapa tahun bahkan sampai sekarang. Buku itu berjudul “Why Good Things Happen to Good People”. Mengapa hal-hal baik selalu mengejar orang-orang yang baik.

    Dalam buku itu dipaparkan mengenai fakta bahwa mereka yang hidup panjang umur. Hidup lebih bahagia. Hidup lebih sehat. Hidup berkah. Mereka meninggal setelah sempurna melakukan pengabdian. Mereka hanya memerlukan satu modal saja. Apakah satu modal utama itu? Ialah hidup dengan cara suka menolong!

    Dr. Stephen G. Post dan Jill Neimark telah melakukan riset dengan mengumpulkan penelitian di universitas-universitas terbaik di negara Amerika Serikat untuk membuktikan manfaat hidup yang meningkat dari perilaku suka menolong. Penelitian menarik ini menunjukkan bahwa ketika siapa pun kita, yang menyiapkan diri untuk selalu memberikan pertolongan. Apalagi dilakukan sejak muda. Maka hidup akan serasa mudah. Gampang puas, gampang bahagia, segar fisiknya, berbeda secara signifikans daripada hidupnya orang yang enggan memberikan pertolongan.

    Orang-orang yang suka menolong orang lain, diri mereka menjadi panjang umur. Tidak mudah depresi. Kesehatan fisik menjadi prima. Kesuksesan mudah diraih.

    Post dan Niemark melakukan riset ini selama 50 tahun. Risetnya menemukan bukti bahwa orang-orang yang biasa memberikan pertolongan, apalagi sudah dimulai sejak SMA, mereka memiliki kesehatan fisik dan mental prima sepanjang hidup mereka. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang tua yang menyediakan diri untuk menolong orang lain, mereka panjang umur.

    Perilaku suka menolong orang lain telah menunjukkan dukungan kualitas kesehatan kepada para penolong. Hasil ini lebih tampak nyata pada para penderita penyakit kronis, termasuk HIV AIDS, multipel sclerosis, dan penderita penyakit jantung. Riset juga menunjukkan bahwa orang-orang dari semua usia yang senang menolong orang lain secara teratur, bahkan dalam cara-cara kecil, mereka memiliki kehidupan paling bahagia.

    Nabi Muhammad SAW memberikan konsep dasar tentang bagaimana cara, agar seseorang bisa memperoleh pertolongan dengan mudah. Ialah menolong orang lain.
    Sabda beliau, “Wallahu fii aunil abdi maakaanal abdu fii auni akhiihi” (Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya).

    Bahkan di dalam Islam, orang yang enggan menolong orang lain masuk dalam kriteria orang yang tidak pantas menyebut diri sebagai orang yang beragama (QS al-Ma’uun 107:7). Mereka yang termasuk pendusta agama adalah mereka yang enggan melakukan pertolongan kepada orang lain, walau hanya sekedar menolong hal-hal yang remeh-temeh.

    Pertolongan yang pasti bisa hanyalah pertolongan Tuhan. Dan Tuhan berjanji akan menolong siapa pun yang suka memberikan pertolongan kepada orang lain.

    Mulai sekarang hayo siapkan diri untuk senantiasa siap menolong siapa pun di jalan Tuhan. Setidaknya agar hidup panjang umur, sulit sakit, mudah sukses, hidup bahagia sejahtera! Itu setidaknya sudah dibuktikan melalui riset ilmiah, di samping fakta empiris yang jumlahnya sulit dihitung.

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Masuklah Surga, Mengapa Enggan?



    Jakarta

    Surga biasa dibayangkan baru bisa dinikmati setelah mati. Nanti jauh di alam sana. Benarkah?

    Boleh jadi sebagian orang, atau bahkan sebagian besar orang melihat surga dari sisi pandang seperti itu. Apa sebenarnya hakikat surga? Bukankah surga suatu perlambang kebahagiaan sempurna? Di surga orang tidak perlu gaduh-gelisah, semua kebutuhan sempurna terpenuhi. Surga menyiratkan gambaran teduh, sejuk, semilir angin, kicau burung, gemericik suara air , pepohonan rindang, taman-taman bunga dan para pelayan yang santun dan good looking.

    Ada dipan-dipan sofa berkasur empuk, berbantal tebal, tempat duduk, tempat bertelekan dan bersandar. Ruang pertemuan dilapisi permadani tebal. Mereka yang di dalam surga memakai pakaian yang serba mewah serta perhiasan serba mahal. Di hadapan mereka ada minuman yang tidak pernah memabukkan. Termuat dalam gelas-gelas indah yang harganya sulit dirupiahkan. Tersedia berbagai makanan yang lezat dan tidak pernah membuat kekenyangan.


    Duduk di sana dalam perjumpaan yang saling berhadapan. Beradu pandang membicarakan percakapan yang berisikan pujian, syukur dan kepuasan. Ridlo atas setiap keputusan Tuhan. Sungguh suasana kehidupan yang setiap orang pasti inginkan.

    Apakah yang demikian hanya di surga akhirat sana? Tidakkah kebahagiaan itu justru dibutuhkan sejak di dunia ini? Sejatinya surga yang sebenarnya memang menunggu pergantian alam. Setelah alam dunia ini berganti dengan alam akhirat nanti. Tapi itu surga akhirat.

    Namun, bukankah hakikat surga itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan kebahagiaan fatamorgana akibat psikotropika dan yang sejenisnya. Gambaran surga dunia mestinya mendekati gambaran surga sesungguhnya di akhirat nanti. Ialah kehidupan yang menyenangkan. Sukses gampang diraih. Kebutuhan serba tersedia secara lapang. Hidup tenang dan selalu senang. Kebahagiaan yang sungguh menjadi idaman setiap insan.

    Kalau begitu mengapa harus nanti menunggu di akhirat, bukankah kebahagiaan itu dibutuhkan di dunia ini. Sebelum kebahagiaan yang kekal nanti di akhirat sana?

    Lalu bagaimana caranya supaya seorang mampu memperoleh kehidupan surga di dunia ini? Seberapa mahal, seberapa sulit?

    Semestinya tidak mahal, juga tidak sulit jika mau. Kecuali enggan. Lalu bagaimana caranya? Gampang! Sempurnakan bakti siapa pun kepada orang tuanya. Kepada mereka berdua Ayah-Ibu kalau mereka masih lengkap. Atau salah satunya jika satunya sudah wafat.

    Bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua itu? Gampang, lakukan kebalikan dari sikap durhaka, itulah sikap bakti kepada orang tua!

    Bertumpuk fakta empiris menyediakan bukti nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Siapa pun di antara sejumlah saudara seayah-seibu yang paling bagus bakti kepada orang tuanya, dialah yang paling nyaman hidupnya. Kalau dia masih pelajar atau mahasiswa, maka prestasi di sekolahnya bagus. Mudah menangkap materi kuliah, gampang lulus. Kalau dia pebisnis. Maka bisnisnya lancar, untung berlipat, usahanya melesat sesuai dengan kualitas baktinya kepada orang tuanya. Beberapa perusahaan nomor satu di Indonesia dikendalikan oleh orang-orang yang bakti kepada orang tuanya sulit ditandingi.

    Akan tetapi, bisa jadi ada beberapa anak yang malah durhaka, tetapi terlihat seperti cemerlang, bisa dipastikan kecemerlangannya hanyalah nisbi. Boleh jadi tampilan fisik kelihatan bagus, sedang jiwanya parah menderita.

    Sikap durhaka bisa meliputi:
    Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.
    Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
    Membentak atau menghardik orang tua.
    Bakhil (pelit), lebih mementingkan yang lain dari pada orang tuanya.
    Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
    Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, merendahkan orang tua.
    Mencaci atau menjadi sebab orang tua dicaci orang.
    Membelalakkan mata.

    Kesulitan yang mereka peroleh di dunia sebenarnya hanyalah sedikit, sebagai pengantar kesulitan yang akan menyambutnya di akhirat. Mereka yang durhaka: shalatnya tidak diterima, dibenci Allah, diharamkan masuk surga, segala amal perbuatannya dihapus, dosa-dosanya tidak diampuni, bahkan mendapatkan azab di dunia”

    Fakta empiris anak-anak yang berbakti kepada orang tuanya.
    Tak kurang sejumlah besar konglomerat Indonesia menempati papan atas nama-nama terkenal. Mereka memiliki dan memimpin perusahaan-perusahaan ternama bukan karena bekal kuliahan. Bukan karena produk pendidikan Universitas Paman Sam. Tapi lebih karena mereka memuliakan para orang tuanya melebihi siapa pun. Kisah mereka bertebaran di kanal You Tube atau media sosial yang lain.

    Sikap mereka kepada para karyawan pun terkenal menawan. Akibat santun dan sopan kepada para orang tuanya, berimbas kepada kebaikan sikapnya pada para karyawan.

    Tokoh-tokoh dunia internasional yang serupa dengan mereka pun tak kurang hitungan. Di seluruh dunia, global. Mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat berbakti kepada para orang tuanya. Bakti itu menjadi pemantik sukses siapa pun di seluruh dunia. Tidak terkait suku, ras atau tidak terkait atribut apa pun.

    Ada bimbingan Rasulullah yang memang bersifat universal, bimbingan kepada siapa pun yang menginginkan hidup di dunia ini laksana hidup di surga. Hidup bahagia sejahtera, selalu mendapat kemudahan menuju sukses, sukses berlimpah, hati tenang dan selalu senang. Selalu puas dalam ridlo Tuhan.

    “Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga [berkehidupan surgawi-terjemah].” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA.

    Melalui hadits ini, rupanya bakti anak kepada orang tua merupakan indikator apakah dia termasuk orang yang benar shalih atau hanya fatamorgana. Bagaimana tidak, jika kepada orang yang paling berjasa saja di dalam hidupnya dia tidak mampu berterimakasih, kepada siapa lagi yang dia pantas melakukannya. Andai dia mendahulukan berterimakasih selain kepada orang tuanya, maka di manakah letak logika sehatnya? Mendahulukan yang bukan pantas daripada yang pantas.

    Wajar kalau Rasulullah mengingatkan dosa besar durhaka kepada orang tua itu nomor dua setelah dosa syirik, menyekutukan Allah. “Maukah kalian kuberi tahu tentang dosa paling besar? Yaitu, syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Hadits diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Bakar RA

    Semoga setiap kita berebut menikmati kehidupan surgawi dunia-akhirat. Buktikan bahwa kita bukan yang enggan, melalui menyempurnakan bakti kepada orang tua!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com