Tag: adab

  • Begini Posisi Kasur yang Disarankan dalam Islam yang Jarang Orang Tahu


    Jakarta

    Dalam Islam, terdapat beberapa adab yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang baik untuk diikuti. Salah satunya adalah adab saat hendak tidur. Nabi Muhammad SAW menerapkan cara tidur yang baik dari awal hendak tidur hingga bangun kembali, termasuk posisi kasur yang disarankan.

    Arah tidur ini bukan didasarkan pada kebiasaan Nabi Muhammad SAW, melainkan ada pengaruh baiknya bagi kesehatan. Mengingat saat tidur, tubuh kita juga beristirahat. Berikut beberapa aturan terkait posisi kasur mengutip dari Sakti Desain, Senin (22/7/2024).

    1. Posisi Kasur Menghadap ke Selatan

    Posisi kasur yang baik menurut Islam adalah dengan mengarah ke selatan. Cara mengetahui posisi selatan adalah menyamping dari arah kiblat. Seluruh daerah di Indonesia saat Salat semuanya akan menghadap ka’bah yang berada di barat.


    2. Tidak Disarankan Menghadap ke Arah Barat

    Dalam ajaran Islam terdapat larangan tidur menghadap ke barat karena pusat gerakan bumi dan pusat gravitasi. Jika posisi tempat tidur bagian atas menghadap ke arah barat, hal ini dipercaya akan menimbulkan masalah fisik dan mental. Maka dari itu, saat mendesain interior hunian, pilih posisi rumah atau posisi pintu yang paling tepat menurut Islam.

    Selain itu, posisi kasur dilarang menghadap barat juga berlaku untuk posisi kepala. Ada beberapa alasan yang mendasari pantangan ini, diantaranya tidur menjadi tidak nyenyak, tidak baik untuk kesehatan anak-anak, mempengaruhi emosi, dan bisa mengalami mimpi buruk. Jadi selain, harus membaca doa sebelum tidur, posisi tidur juga berpengaruh.

    3. Posisi Tempat Tidur Mengarah ke Utara

    Jika tadi meletakkan kasur harus menghadap selatan, posisinya adalah kepala tidak mengarah ke Utara, tetapi hanya berada di utara. Kemudian badan kamu arahkan ke kanan, ke arah kiblat.

    Dalam Islam disarankan menerapkan posisi ini karena tulang rusuk akan berada di sebelah kanan sehingga baik untuk kesehatan. Jika posisi telah menghadap utara, disarankan pula agar kamu tidak tidur dengan posisi badan miring ke kiri.

    Menurut berbagai sumber, kasur yang berada di utara akan membuat posisi tidur miring ke kiri sehingga tidak baik untuk kesehatan. Dalam posisi ini, paru-paru bakal menekan jantung sehingga tidak bekerja normal ketika tidur. Hal ini juga yang sering Nabi Muhammad SAW anjurkan di dalam sunahnya.

    Mau tahu berapa cicilan rumah impian kamu? Cek simulasi hitungannya di kalkulator KPR.

    Nah kalau mau pindah KPR, cek simulasi hitungannya di kalkulator Take Over KPR.

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Wajib Tahu! Begini Adab Bertamu yang Dianjurkan dalam Islam


    Jakarta

    Saat mengunjungi rumah kerabat, teman, atau orang yang baru dikenal kamu tidak boleh melupakan adab bertamu. Hal ini merupakan bagian dari sopan santun antara tamu dengan pemilik rumah agar sama-sama nyaman selama bertemu.

    Dalam Islam juga diatur mengenai adab bertamu untuk menjaga hubungan baik antar sesama dan silahturahmi. Beberapa ada yang disebut dalam Al-Quran, selebihnya berasal dari perilaku Rasulullah SAW sehari-hari.

    Dikutip dari buku Pelajaran Adab Islam 1 (2022:73-76) oleh Sehendri dan Syukri, bertamu merupakan cara untuk menyambung tali silaturahmi dalam Islam. Terdapat beberapa ketentuan yang bisa diterapkan, di antaranya sebagai berikut.


    1. Tidak Mengintip

    Saat ingin memastikan apakah penghuni rumah sedang ada di rumah atau tidak, sebaiknya tidak dengan cara mengintip. Hal ini ternyata dilarang oleh Rasulullah SAW, bahkan ada ancaman kepada para pengintip sebagaimana disebutkan dalam hadits.

    لو أنّ امرأ اطلع عليك بغير إذن فخذفته بحصاة ففقأت عينه لم يكن عليك جناح

    “Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan).

    2. Jangan Berdiri Tepat di Depan Pintu

    Biasanya saat bertamu, kamu sering berdiri di depan pintu, tetapi dalam Islam posisi ini dianggap tidak pantas. Mengutip dari Ustaz Khalid Basalamah dalam siaran berjudul Adab Bertamu di Rumah Orang di YouTube Siiquote Channel, lebih baik tamu berdiri di sisi kanan pintu, bukan tepat di depannya. Adab ini tertulis dalam hadits berikut.

    كان رسول الله إذا أتى باب قوم لم يستقبل الباب من تلقاء و جهه و لكن ركنها الأيمن أو الأيسر و يقول السلام عليكم السلام عليكم

    Artinya: “Adalah Rasulullah SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…”

    3. Mengucap Salam dan Mengetuk Pintu

    Sebagai seorang muslim mengucapkan salam adalah sesuatu yang dianjurkan. Bahkan bukan hanya pada saat bertamu sekali pun, saat bertemu dengan seseorang di tempat umum, kita diperbolehkan untuk menyapa dengan salam.

    Selain mengucapkan salam saat bertamu, kamu juga perlu mengetuk pintu tiga kali. Apabila tidak ada jawaban, maka batalkan niat untuk bertamu. Bisa saja pemilik rumah sedang tidak ingin diganggu.

    Adab bertamu mengucapkan salam telah dijelaskan dalam QS An Nur ayat 27 sebagai berikut.

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا۟ وَتُسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

    Bacaan latin: “Yā ayyuhallażīna āmanụ lā tadkhulụ buyụtan gaira buyụtikum ḥattā tasta`nisụ wa tusallimụ ‘alā ahlihā, żālikum khairul lakum la’allakum tażakkarụn.”

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.”

    Sementara adab mengetuk pintu Rasulullah SAW menyebutkannya dalam hadits berikut.

    عن أبى موسى الاشعريّ رضي الله عمه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلم: الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع

    Dari Abu Musa Al-Asy’ary RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,

    “Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!” (HR Bukhari dan Muslim).

    4. Tunggu Hingga Dipersilakan Masuk dan Duduk

    Adab bertamu selanjutnya yang diajarkan adalah tamu tidak boleh asal masuk ke rumah seseorang sebelum dipersilahkan. Ustaz Khalid mengatakan adab ini juga berlaku bagi seorang tamu muslim saat dihidangkan makanan. Tamu harus menunggu hingga dipersilahkan baru boleh menyentuh makanannya.

    5. Tidak Terlalu Lama Bertamu

    Islam memang mengajarkan kita untuk tidak memutus silahturahmi. Namun, bukan berarti kamu bisa berlama-lama di rumah seseorang tanpa ada tujuan khusus. Apabila urusan sudah selesai di rumah tersebut, maka segera pulang sebagaimana disebutkan dalam Surat An-Nur Ayat 28.

    فَإِن لَّمْ تَجِدُوا۟ فِيهَآ أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ ۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرْجِعُوا۟ فَٱرْجِعُوا۟ ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

    Bacaan latin: “Fa il lam tajidụ fīhā aḥadan fa lā tadkhulụhā ḥattā yu`żana lakum wa ing qīla lakumurji’ụ farji’ụ huwa azkā lakum, wallāhu bimā ta’malụna ‘alīm.”

    Artinya: “Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Keluar dan Masuk Kamar Mandi Beserta Adabnya



    Jakarta

    Umat Islam diajarkan untuk berdoa ketika menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Hal ini juga termasuk ketika hendak masuk dan keluar kamar mandi.

    Dikutip dari detikHikmah, kamar mandi merupakan tempat yang kotor dan disukai oleh jin dan setan. Maka dari itu, muslim dianjurkan buat membaca doa agar terhindar dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.

    Berikut ini doa masuk dan keluar kamar mandi seperti yang dilansir dari buku Kumpulan Doa Mustajab Sepanjang Hajat karya Drs Nurdin Hasan, MAg.


    Doa Masuk Kamar Mandi

    اَللّٰهُمَّ اِنّىْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَآئِثِ

    “Allahumma innii a’uudzubika minal khubutsi wal khabaaitsi.”

    Artinya: “Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari (godaan) setan laki-laki dan setan perempuan.”

    Doa Keluar Kamar Mandi

    غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِى الْأَذَىوَعَافَانِي

    “Ghufraanaka alhamdu lillaahi alladzii adzhaba ‘anniy al-adzaa wa ‘aafaanii.”

    Artinya: “Dengan mengharap ampunan-Mu, segala puji milik Allah yang telah menghilangkan kotoran dari badanku dan yang telah menyejahterakan.”

    Adab di Kamar Mandi

    Saat hendak masuk dan keluar kamar mandi, kamu perlu memperhatikan beberapa adab berikut ini.

    1. Mulailah dengan kaki kiri saat masuk ke kamar mandi
    2. Jangan menghadap ke arah kiblat saat berada di kamar mandi
    3. Jangan membuang air kecil atau besar sembarangan atau di lantai toilet. Buanglah di tempat yang telah disediakan
    4. Duduk atau jongkok saat buang air kecil atau besar
    5. Tuntaskan pengeluaran kotoran
    6. Melakukan istinja atau cebok dengan tangan kiri
    7. Jangan bernyanyi di dalam kamar mandi
    8. Mulailah dengan kaki kanan saat keluar dari kamar mandi

    Itulah doa masuk dan keluar kamar mandi beserta adabnya. Semoga bermanfaat!

    Artikel ini sudah tayang di detikHikmah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Begini Cara Berhentiin Tukang Bangunan yang Banyak Drama



    Jakarta

    Ada kalanya kendala pada saat pembangunan rumah bukan datang dari desain dan material yang dipilih, melainkan tukang yang mengerjakan. Kendala tersebut bisa disebabkan karena cara kerja mereka yang tak sesuai dengan keinginan arsitek atau pemilik rumah dan ada kesalahan yang terjadi.

    Apabila menemukan tukang seperti ini, cara yang paling tepat untuk menyelesaikannya adalah dengan menegur. Namun, ada tukang yang tetap melakukan hal yang sama bahkan setelah ditegur. Bekerjasama dengan orang seperti itu tentu menyebalkan kan? Rasanya ingin segera mengganti dengan tukang yang baru.

    Namun, profesi apa pun itu, terdapat adab untuk memberhentikan tukang dan tidak boleh asal sesuai kemauan pemilik rumah.


    Kontraktor sekaligus CEO SobatBangun Taufiq Hidayat mengatakan jika terjadi hal yang tidak menyenangkan dan sudah tidak cocok lagi, pemilik rumah boleh-boleh saja memutuskan kontrak. Namun, agar tidak sama-sama rugi, alangkah baiknya sebelum mulai membangun rumah dan terikat kerjasama, membuat sebuah kontrak yang jelas. Apa saja tugasnya, lama pengerjaannya, dan upahnya. Dengan begitu terdapat panduan dan batasan dalam bekerja.

    “Tukang itu harus diikat kontrak, ‘Ini Pak mau bangun sampai jadi, saya mau sampai jadi’. Kecuali kalau ‘Pak enggak usah jadi pak, cuma temboknya aja’. Ya jadi tembok gitu ya. Nah itu juga jelas, harus diikat kontrak,” kata Taufiq kepada detikProperti pada Kamis (5/9/2024) lalu.

    Sebelum memberhentikan tukang, pemilik rumah juga harus melihat apakah sudah ada desain bangunan yang menjadi acuan bagi tukang, apakah sudah ada cek sertifikasi tukang tersebut, dan apakah material yang digunakan sesuai.

    Pembangunan rumah bukan pekerjaan yang singkat dan instan sehingga berproses. Waktu paling singkat untuk membangun rumah minimal 3 bulan. Kemudian, apabila tukangnya sedikit, pasti pembangunannya akan memakan lebih banyak waktu.

    Kontrak kerja tidak hanya yang tertulis di atas kertas, melalui ucapan pun bisa. Namun, untuk menjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak menyenangkan, kontrak di atas kertas dapat menjadi bukti yang kuat di mata hukum. Apabila ingin lewat ucapan setidaknya memiliki saksi yang menyaksikannya.

    “Ada juga di kontraknya itu bahwa kalau misalnya tidak mampu menyelesaikan progres tepat waktu, maka pihak pertama berhak memutus kontrak. Ada kontraknya. Kalau nggak ada kontraknya, yaudah gentlement agreement aja (perjanjian tidak tertulis dan tidak mengikat secara hukum),” ungkapnya.

    Taufiq menyarankan saat membuat kontrak, pemilik rumah bisa meminta bantuan kepada tenaga ahli seperti arsitek, konsultan, atau orang lainnya di bidang ini. Dengan begitu saat pembangunan dimulai, tidak ada kesalahpahaman.

    “Rencana itu harus jelas dan disepakati. Nah, untuk bikin rencana jelas dan disepakati mesti ada ahli, tukang ahli, atau pemimpin proyek ahli. Kalau meragukan, bisa panggil pihak tiga, konsultan namanya,” sebutnya.

    Kemudian, ia mengingatkan untuk rajin mengawasi pembangunan. Tidak harus datang langsung ke lokasi, bisa juga melalui video call atau meminta arsitek untuk mengecek.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengapa Nabi Muhammad SAW Melarang Meniup Makanan dan Minuman?


    Jakarta

    Islam tidak hanya mengatur hal-hal besar dalam kehidupan, tetapi juga memperhatikan perkara kecil yang berdampak besar, termasuk adab ketika makan dan minum. Salah satu adab yang diajarkan Rasulullah SAW adalah larangan meniup makanan atau minuman. Larangan ini bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari syariat yang menanamkan kebersihan, etika sosial, dan kesehatan.

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 222:

    اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ


    Arab latin: Innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn(a).

    Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.

    Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dan menjauhi hal-hal yang kotor merupakan perbuatan yang dicintai oleh Allah. Oleh karena itu, adab seperti tidak meniup makanan atau minuman termasuk bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kesucian diri.

    Alasan Nabi Muhammad SAW Melarang Meniup Minuman atau Makanan

    Dalam Sunan Ibnu Majah Jilid 3 karya Imam al-Hafizh Abi Abdillah (Imam Ibnu Majah), disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA:

    “Rasulullah SAW melarang meniup ke dalam tempat air minum.” (Shahih: al-Irwaa’ no. 1977 dan al-Misykaat no. 4277)

    Hadits ini menunjukkan bahwa larangan tersebut datang langsung dari Nabi SAW sebagai bentuk adab yang perlu diperhatikan umatnya. Lalu, apa alasan di balik larangan ini?

    1. Menjaga Kebersihan dan Kesehatan

    Syaikh Muhammad Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa udara yang keluar dari mulut seseorang ketika meniup bisa saja mengandung kuman atau virus yang membahayakan.

    Dengan demikian, meniup makanan atau minuman, apalagi ketika panas, dapat menjadi sarana penyebaran penyakit, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Apalagi ketika makan atau minum dilakukan bersama-sama atau di hadapan orang lain. Udara dari mulut bisa mengkontaminasi makanan atau minuman, terlebih jika digunakan secara bergantian.

    2. Mencegah Bau Tak Sedap dan Gangguan Sosial

    Dalam buku Ringkasan Kitab Adab oleh Syaikh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, disebutkan bahwa meniup minuman bisa menyebabkan gangguan bagi orang di sekitar karena mulut seseorang mungkin mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Ini tentu mengurangi kenyamanan bersama, terutama saat makan atau minum dalam kebersamaan.

    3. Menghindari Kontaminasi Benda Asing

    Kadang kala seseorang meniup air atau makanan karena ada kotoran kecil yang masuk. Namun, Rasulullah SAW memberikan solusi yang lebih bersih dan elegan. Dalam sebuah riwayat, ketika ada sahabat yang bertanya perihal kotoran kecil seperti serbuk kayu yang biasa ditiup agar keluar, Nabi SAW bersabda:

    “Tuangkanlah.”

    Artinya, cukup dengan menuangkan sebagian air atau mengambil kotoran dari makanan, tanpa perlu meniupnya.

    4. Adab dan Keteladanan Rasulullah SAW

    Islam adalah agama yang memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan untuk membentuk pribadi yang bersih dan beradab. Larangan meniup makanan atau minuman ini merupakan bagian dari adab Rasulullah SAW yang mengajarkan umatnya agar tidak bersikap sembarangan, bahkan dalam hal yang tampaknya ringan.

    (inf/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Adab



    Jakarta

    Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun berdasarkan nilai-nilai budaya atau aturan agama. Norma tentang adab seringkali digunakan dalam pergaulan yang terjadi antar manusia, antar tetangga, dan antar kaum bahkan dalam organisasi. Oleh karena itu adab juga digunakan oleh para pendiri negeri ini masuk dalam dasar negara kita pada sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.”

    Dalam sila kedua ini mengandung pengertian bahwa merupakan makhluk yang beradab yaitu manusia memiliki keadilan yang setara di mata Tuhan. Dalam kata lain, hakikatnya manusia harus adil baik dalam hubungan dengan diri sendiri, adil kepada manusia lain, adil kepada masyarakat, bangsa dan negara, serta adil kepada lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa. Nilai yang terkandung dalam sila kedua Pancasila ini yaitu persamaan derajat ataupun kewajiban dan hak, saling mencintai, saling menghormati, keberanian membela kebenaran dan keadilan, toleransi dan gotong royong.

    Nilai-nilai diharapkan menjadi pedoman atau diterapkan di kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, karena dengan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dapat memberikan manusia pemahaman dan pandangan terhadap manusia sebagai makhluk sosial pada hakikatnya.


    Sebutan orang beradab sesungguhnya berarti bahwa orang itu mengetahui aturan tentang adab atau sopan santun yang ditentukan dalam agama Islam. Tetapi seiring berkembangnya waktu, kata beradab dan tidak beradab dikaitkan dengan segi kesopanan secara umum. Dalam agama Islam, adab berasal dari dua sumber utama, yaitu Al-Qur’an dan sunah yang merupakan perbuatan serta kata-kata Nabi Saw. Keduanya merupakan panduan bagi umat Muslim dalam menjalankan aktivitas sehari-hari agar menjadi orang yang beriman dan berakhlak.

    Kedudukan adab dalam Islam lebih tinggi dari ilmu. Imam Malik pernah berkata kepada muridnya, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Begitu pula yang diperintahkan ulama-ulama lainnya.
    Islam lebih meninggikan dan memuliakan orang-orang yang memiliki adab/akhlak daripada mereka yang berilmu. Ini juga yang menjadi misi utama kenabian Rasulullah Saw. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlakul karimah.” (HR. Bukhari).

    Adab menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan, baik kehidupan sendiri, keluarga, maupun sosial. Dengan adab, seorang Muslim yang sejati akan menjadi mulia di hadapan Allah Swt. dan Rasul-Nya serta sesama manusia. Kehidupan berpolitik pun tentu ada adabnya, sehingga dalam kontestasi pileg, pilkada dan pilpres tentu tetap mengedepankan kesantunan untuk menghindari terjadinya polarisasi yang tajam. Bagaimana adab dalam bersikap ?terhadap perbedaan pendapat seperti di organisasi sosial, organisasi perusahaan dan organisasi sosial politik. Perbedaan pendapat merupakan hal yang sering terjadi, jika itu terjadi maka lakukan pendekatan dengan menyampaikan argumentasi yang melandasinya, tentu dengan cara yang santun. Jika tetap terjadi perbedaan maka diamlah karena kita bagian dari organisasi itu, atau dirasa tidak nyaman dan merasa tidak bisa berkontribusi maka putuskan dengan sikap kesatria untuk mundur.

    Dalam Islam telah memberikan penjelasan tentang adab/akhlak yang ada dalam Al-Qur’an lebih dari 1.400 ayat. Adab izin masuk rumah, adab menuntut ilmu, adab menundukkan pandangan, adab bicara dengan Wali Allah dan lain-lain. Artinya seluruh kehidupan manusia telah diatur rinci dalam Islam dan menjadi pegangan hidup. Bagi orang beriman adab yang sesuai ajaran Islam akan selalu menjadi pedomannya, hingga terbentuknya masyarakat yang beradab dan harmonis. Satu contoh tentang berbicara dengan Wali Allah, kita tidak diperkenankan berbicara kepada para wali Allah dengan nada yang tinggi karena mereka seperti Nabi Muhammad Saw. sebagaimana ilmu mereka adalah ilmu Nabi dan juga mereka adalah pewarisnya. Adapun firman-Nya tentang tersebut diatas dalam surah al-Hujurat ayat 2 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya ( suara ) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti ( pahala ) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.”

    Adab menjadi salah satu amal yang bisa ditanamkan kepada diri sendiri sebagai bekal pahala di akhirat kelak. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Nabi Saw bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.”

    Jika adab ditinggalkan, maka seorang muslim akan merugi karena hidupnya kurang bermakna di dunia dan tidak menambahkan timbangannya saat di hisab. Saat kontestasi tahun depan, maka pilihlah pemimpin yang bisa berlaku adil dan beradab. Semoga Allah Swt. selalu memberikan hidayah agar kita selalu ingat dan menjalankan adab sesuai tuntunan-Nya.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Setelah Sedekah Subuh, Dibaca agar Mendapat Keberkahan



    Jakarta

    Meski sedekah dapat dilakukan kapan saja tanpa batasan waktu, sedekah di waktu Subuh menjadi salah satu amalan yang paling dianjurkan. Sesuai dengan namanya, sedekah dilakukan pada waktu Subuh tepatnya usai mengerjakan salat Subuh hingga terbit fajar.

    Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

    “Setiap awal pagi matahari terbit, Allah SWT menurunkan dua malaikat ke bumi. Lalu, salah satu berkata, “Ya Allah, berilah karunia orang yang menginfakkan hartanya. Ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya karena Allah SWT.” Malaikat yang satu berkata, “Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil,” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).


    Dianjurkannya sedekah Subuh bukan tanpa sebab, karena amalan ini mengandung banyak keutamaan. Salah satunya membuat doa-doa yang dipanjatkan lebih cepat terkabul sebagaimana disebutkan dalam buku Saat Jalur Langit Diusahakan Allah Mudahkan Segalanya karangan Salwa Shalihah.

    Selain itu, sedekah Subuh juga dapat melancarkan rezeki. Muhammad Khalid dalam Shalat Subuh dan Shalat Dhuha menuturkan bahwa menunaikan sedekah, rajin berinfak, dan memberikan zakat termasuk ke dalam sebuah ‘bisnis’ yang dilakukan dengan Allah SWT. Maksudnya, bisnis tersebut sebagai janji seseorang yang dengan ikhlas menyedekahkan harta demi kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan, tentunya Allah SWT akan mengganjar gantinya berkali-kali lipat.

    Doa Setelah Sedekah Subuh

    Setelah memberikan sedekah Subuh, ada sebuah doa yang dapat dipanjatkan untuk mendapat keutamaannya. Menukil dari buku Ajaibnya Bangun Pagi, Subuh, Dhuha, & Mengaji di Pagi Hari susunan Muhammad Ainur Rasyid, berikut bacaannya.

    رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Arab latin: Rabbana taqabbal minna innaka antas sami’ul alim.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”

    Selain doa setelah sedekah Subuh, ada juga niat yang bisa dibaca sebelum mengerjakannya. Berikut bunyi niatnya:

    نَوَيْتُ التَّقَرُّبَ اِلَى اللهِ تَعَالَى وَاتِّقَاءَ غَضَبِ الرَّبِّ جل جلاله وَاتِّقَاءَ نَارِ جَهَنَّمَ وّالتَّرَحُّمَ عَلَى الاخْوَانِ وَصِلَةَ الرَّحِمِ وَمُعَاوَنَةَ الضُّعَفَاءِ وَمُتَابَعَةَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَاِدْخَالَ السُّرُوْرِ عَلَى اْلاِخْوَانِ وَدَفْعِ البَلاَءِ عَنْهُ وَعَنْ سَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلاِنْفاَقَ مِمَّا رَزَقَهُ الله وَقَهْرَ النَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ

    Arab latin: Nawaitut taqoruba ilallahi ta’ala wattiqoaa ghadlabir rabbi jalla jalaluhu wattiqoa nari jahannama wattarakhkhuma ‘ala ikhwani wa shilatur rahimi wa mu’awanatadh dlu’afai wa mutaba’atan nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallama wa idkholas sururi ‘alal ikhwani wa daf’il balai ‘anhu wa ‘an sairil muslimina wal infaqo mimma razaqohullahu wa qohran nafsi wasy syaithoni.

    Artinya: “Aku niat (bersedekah) untuk mendekatkan diri kepada Allah, menghindari murka Tuhan, menghindari api neraka jahannam, berbelas kasih kepada saudara dan menyambung silaturrahmi, membantu orang-orang yang lemah, mengikuti Nabi Saw, memasukkan kebahagiaan pada saudara, menolak turunnya dari mereka dan semua kaum muslimin, menafkahkan rizki yang diberikan oleh Allah, dan untuk mengalahkan nafsu dan setan,”

    Adab Bersedekah yang Perlu Diketahui

    Dalam bersedekah, ada juga adab yang perlu diperhatikan. Apa saja? Berikut pembahasannya seperti dijelaskan oleh Reza Pahlevi Dalimuthe dalam buku 100 Kesalahan dalam Sedekah.

    • Niatkan dengan tulus untuk mencari ridha kepada Allah, bukan riya atau pujian manusia
    • Menggunakan harta yang halal
    • Dari hasil usaha yang terbaik
    • Merahasiakan saat mengeluarkan sedekah
    • Mewakilkan penyerahan untuk menghindari riya
    • Mendoakan agar sedekahnya bermanfaat bagi penerima
    • Mendahulukan orang saleh, orang yang sedang menuntut ilmu, dan fakir miskin yang tidak meminta-minta
    • Tidak menunda-nunda sedekah
    • Tidak perlu dibahasakan secara lugas kepada penerima sedekah untuk menjaga perasaannya

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Pembuka Majelis beserta Adab ketika Menghadirinya


    Jakarta

    Doa pembuka majelis dibaca ketika acara hendak dimulai. Umumnya, majelis ilmu diawali dan diakhiri dengan doa.

    Abdul Hamid melalui bukunya yang berjudul Memaknai Kehidupan menjelaskan terkait definisi majelis. Secara bahasa, majelis berasal dari bahasa Arab majlis yang artinya tempat duduk. Namun, dalam konteks ini yang dimaksud majelis ialah majelis ilmu atau majelis taklim.

    Majelis juga disebut sebagai acara Islam yang mana menjadi ajang bertemunya orang-orang dengan tujuan tertentu. Sejak zaman Rasulullah SAW berbagai kegiatan majelis ilmu telah digelar.


    Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam Sirah Nabawiyyah bahwa majelis ilmu pertama beliau sejak diangkat menjadi Rasulullah adalah di rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Kala itu, majelis ilmu tidak hanya berfungsi untuk menyebarkan ilmu, tetapi sekaligus tempat kaderisasi para sahabat Rasulullah.

    Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

    “Jika kalian melewati taman surga, maka berhentilah. Mereka bertanya, apakah taman surga itu? Beliau menjawab, halaqah dzikir (majelis ilmu)” (HR Tirmidzi)

    Mengenai doa pembuka majelis sendiri tercantum dalam surat Al A’raf ayat 43 seperti dikutip dari buku Doa Para Nabi dan Rosul karya Nurul Huda.

    Doa Pembuka Majelis: Arab, Latin dan Arti

    … الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَننَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِهْتَدِى لَوْلَا أَنْ هَدَيْنَا اللَّهُ …

    Arab latin: “Alḥamdu lillāhil-lażī hadānā lihāżā, wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh”

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk,”

    Selain itu, ada juga doa pembuka majelis versi lainnya yang lebih panjang, berikut bunyinya:

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . أَمَّا بَعْدُ

    Arab Latin: “Innal hamdalillaah, nahmaduhuu, wa nasta’iinuhu, wa nastagh-firuh. Wa na’uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyi-aati a’maalinaa. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa man yudh-lil falaa haadiya lah. Wa asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Ammaa ba’du.”

    Artinya: “Segala puji hanya kepada Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,”

    Adab Menghadiri Majelis

    Berikut sejumlah adab yang dapat diperhatikan saat menghadiri majelis seperti dinukil dari buku Kuliah Adab susunan ‘Aabidah Ummu ‘Aziizah dan buku Penuntun Doa Beserta Tata Caranya oleh Abu Ihsan.

    1. Memilih Tempat Duduk yang Paling Depan

    Adab lainnya dalam menghadiri majelis ialah memilih tempat duduk yang paling depan. Jangan memilih tempat duduk yang jauh, hendaknya duduk dengan sambil menyimak majelis.

    2. Jangan Berputus Asa

    Maksudnya, dalam menghadiri majelis hendaknya seorang muslim tidak berputus asa saat merasa sulit mencerna ilmu yang disampaikan. Hal-hal itu disebut sebagai rintangan dan ujian yang Allah berikan, seperti merasa bosan, tidak ada teman kajian, dan lain sebagainya.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga,” (HR Muslim)

    3. Ikhlas karena Allah SWT

    Saat menghadiri majelis, hendaknya seseorang merasa ikhlas untuk menuntut ilmu. Luruskan niat hanya kepada Allah SWT agar dapat menerima ilmu dengan mudah.

    4. Perhatikan Ilmu yang Disampaikan

    Dikisahkan oleh Imam az-Zahabi dalam Takzirah al Huffadz, Ahmad bin Sinan mengatakan tidak ada seorang pun yang mengobrol di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Bahkan, pena pun tidak bersuara.

    Dengan menerapkan hal ini, maka ilmu yang diperoleh dari majelis dapat lebih dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

    5. Tidak Makan dan Minum

    Ketika menghadiri majelis, hendaknya seseorang fokus memperhatikan majelis yang berlangsung. Jangan makan ketika menghadiri majelis.

    Demikian doa pembuka majelis dan adab ketika menghadirinya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Masuk WC dan Adabnya yang Harus Diperhatikan Muslim


    Jakarta

    Doa masuk WC dibaca termasuk ke dalam amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Bacaan tersebut bertujuan meminta kepada Allah SWT agar dihindari dari segala kejahatan yang ada di dalam kamar mandi.

    Bahkan, Nabi SAW sendiri mengatakan bahwa batas antara jin dan manusia ialah sebelum memasuki WC. Dari Sayyidina Ali, Nabi SAW bersabda:

    “Pembatas antara jin dengan aurat bani Adam (manusia) manakala seorang di antara mereka masuk ke WC, adalah agar ia mengucapkan ‘Bismillah’,” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)


    Lantas, bagaimana doa masuk WC yang bisa dipanjatkan kaum muslimin? Berikut bacaannya yang dinukil dari buku Doa dan Dzikir Sepanjang Tahun susunan Adi Tri Eka.

    Doa Masuk WC: Arab, Latin dan Arti

    اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك من الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

    Arab latin: Allahumma innii a’uudzubika minal khubutsi wal khabaaitsi

    Artinya: “Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari (godaan) setan laki-laki dan setan perempuan.”

    Adab Masuk WC

    Selain doa masuk WC, ada juga sejumlah adab yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin. Menukil Buku Pintar 50 Adab Islam susunan Arfiani.

    1. Membaca Niat

    Pertama ialah membaca niat dengan benar. Bunyi niatnya seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

    2. Awali dengan Basmalah

    Ketika masuk WC, awali dengan membaca basmalah. Menyebut nama Allah sebelum masuk ke kamar mandi termasuk ke dalam adab. Dengan bacaan tersebut maka pandangan jin untuk melihat aurat kita akan terhalang.

    3. Dahului Kaki Kiri

    Saat masuk ke dalam WC, dahului kaki kiri. Dalam sebuah riwayat, disebutkan Rasulullah SAW menggunakan kaki kiri ketika masuk ke dalam kamar mandi.

    “Nabi Muhammad SAW lebih suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik)” (HR Bukhari dan Muslim)

    5. Tidak Berlama-lama di WC

    Jangan berlama-lama di dalam WC. Jika sudah selesai, sebaiknya langsung keluar.

    Itulah doa masuk WC beserta adabnya. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com