Tag: adzan

  • Doa Masuk dan Keluar Masjid Arab-Latin Versi Panjang-Pendek



    Jakarta

    Doa masuk dan keluar masjid menjadi amalan yang bisa dibaca setiap muslim. Doa ini berisi ucapan salam yang penuh kebaikan.

    Banyak aktivitas ibadah yang bisa dikerjakan di masjid, seperti salat, tadarus ataupun berkumpul dalam majelis ilmu.

    Mengutip buku Masjid karya Teguh Purwantari, masjid merupakan istilah yang ditujukan untuk menyebut tempat ibadah umat Islam. Kata masjid berasal dari bahasa Arab, sajada yang artinya bersujud. Dengan demikian masjid berarti tempat bersujud.


    Seorang muslim yang hendak masuk ke area masjid ataupun hendak meninggalkan masjid dianjurkan untuk membaca doa.

    Menurut buku Doa dan Adab di Masjid Serta Tata Cara Azan dan Iqamah: Seri Doa dan Zikir oleh Imam Nawawi yang diterjemahkan Abu Firly Bassam Taqiy, ada hadits yang berisi anjuran mengucapkan salam dan doa saat masuk dan keluar masjid. Hadits tersebut bersumber dari Abu Humaid atau Abu Usaid yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

    “Apabila seseorang di antara kalian memasuki masjid, hendaklah mengucapkan salam kepada Nabi SAW, kemudian mengucapkan, ‘Ya Allah, bukakanlah untukku semua pintu rahmat-Mu.’ Dan apabila ia keluar, hendaknya mengucapkan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu sebagian dari kemurahan-Mu’.” (HR. Muslim)

    Doa Masuk dan Keluar Masjid Sesuai Sunnah

    Merangkum buku Zikir dan Doa Penghuni Surga oleh Supriyadi, berikut bacaan doa masuk masjid.

    1. Doa Masuk Masjid agar Terbuka Pintu Rahmat

    اللَّهُمَّ افْتَحْ لي أبْوَابَ رَحْمَتِكَ

    Latin: Allahummaftha lii abwaaba rahmatik

    Artinya: “Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.” (HR Muslim)

    2. Doa Masuk Masjid Versi Panjang

    أعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

    Latin: A’ûdzu billâhil ‘azhîm wa biwajhihil karîm wa sulthânihil qadîm minas syaithânir rajîm. Bismillâhi wal hamdulillâh. Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ âli sayyidinâ muhammadin. Allâhummaghfirlî dzunûbî waftahlî abwâba rahmatik.

    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Besar, kepada Dzat-Nya Yang Maha Mulia, dan kepada kerajaan-Nya Yang Sedia dari setan yang terlontar. Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah. Hai Tuhanku, berilah shalawat dan sejahtera atas Sayyidina Muhammad dan atas keluarga Sayyidina Muhammad. Hai Tuhanku, ampuni untukku segala dosaku. Bukakan lah bagiku segala pintu kemurahan-Mu.”

    Ketika hendak keluar masjid maka disunnahkan untuk membaca doa berikut:

    1. Doa Memohon Ampunan saat Keluar Masjid

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

    Latin: Allaahumma innii as’aluka min fadhlik

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon fadilah kepada-Mu.” (HR Muslim)

    2. Doa Keluar Masjid Versi Panjang

    أعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

    Latin: A’ûdzu billâhil ‘azhîm wa biwajhihil karîm wa sulthânihil qadîm minas syaithânir rajîm. Bismillâhi wal hamdulillâh. Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ âli sayyidinâ muhammadin. Allâhummaghfirlî dzunûbî waftahlî abwâba fadhlik.

    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Besar, kepada Dzat-Nya Yang Maha Mulia, dan kepada kerajaan-Nya Yang Sedia dari setan yang terlontar. Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah. Hai Tuhanku, berilah shalawat dan sejahtera atas Sayyidina Muhammad dan atas keluarga Sayyidina Muhammad. Hai Tuhanku, ampuni untukku segala dosaku. Bukakan lah bagiku segala pintu kemurahan-Mu.”

    Adab ketika di Masjid

    Mengutip buku Ringkasan Kitab Adab oleh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, terdapat beberapa adab yang perlu diperhatikan ketika berada di masjid. Berikut beberapa diantaranya:

    1. Dianjurkan Bersegera Pergi ke Masjid

    Semasa hidup, Rasulullah SAW memotivasi umatnya untuk bersegera pergi ke masjid. Abu Hurairah RA meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

    “Seandainya manusia tahu keutamaan yang ada pada adzan dan barisan pertama shalat, kemudian mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara diundi, maka mereka pasti akan mengundinya. Dan seandainya manusia tahu keutamaan yang ada pada salat Dzuhur, mereka pasti akan berlomba untuk datang lebih awal. Dan seandainya mereka tahu keutamaan yang terdapat pada salat Isya dan salat Subuh, mereka pasti akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.”

    Hadits ini menerangkan tentang pahala orang yang datang lebih awal ke masjid.

    2. Berjalan ke Masjid dengan Khusyuk dan Tenang

    Dianjurkan bagi orang yang pergi ke masjid untuk berjalan dengan tenang dan khusyuk. Karena itu akan membuatnya lebih konsentrasi ketika shalat dan menghadirkan hati ketika menghadap Allah SWT.

    Dari Abu Qatadah RA, dia berkata,

    “Ketika kami sedang salat bersama Nabi SAW, terdengar suara gerakan dan keterburuan beberapa lelaki yang tergesa-gesa untuk salat. Setelah salat selesai, Rasulullah SAW bertanya, ‘Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, ‘Kami buru-buru ya Rasulullah.’

    Rasulullah SAW bersabda, “Jangan lakukan itu. Jika kalian mendatangi masjid, kalian harus tenang, yang kalian dapatkan, maka ikutlah salat, dan yang tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ad-Darimi)

    3. Salat Dua Rakaat

    Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan salat dua rakaat seperti hadits Abu Qatadah As-Sulami RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

    “Apabila salah seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, maka salatlah dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR Bukhari, Muslim)

    4. Dibolehkan Duduk Menjulurkan Kaki

    Di masjid, umat Islam diperbolehkan menjulurkan kaki dengan maksud beristirahat. Rasulullah SAW pernah melakukannya, beliau duduk menjulurkan kakinya dan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki lainnya.

    Meskipun diperbolehkan, namun tetap harus menjaga sopan santun dan menjaga aurat agar tetap tertutup.

    5. Dibolehkan Tidur di Masjid

    Diperbolehkan tidur di dalam masjid bagi orang yang ingin istirahat. Para sahabat yang tinggal di masjid, mereka tidur di dalam masjid.

    Dan Ibnu Umar RA juga pernah tidur di masjid sebelum dia berkeluarga. Dari Nafi, dia menceritakan, “Abdullah bin Umar memberitahukan kepadaku bahwasanya dia pernah tidur di Masjid Nabawi ketika dia masih remaja dan belum berkeluarga.”

    Namun, harus diperhatikan, apabila seorang muslim mengalami mimpi basah di dalam masjid, secepatnya dia harus keluar dari masjid untuk mandi junub.

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Setelah Adzan: Arab, Latin, dan Artinya


    Jakarta

    Adzan yang dikumandangkan lima kali sehari merupakan tanda masuk waktu salat bagi umat Islam. Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya adab yang baik ketika mendengarkan adzan dan membaca doa sesudahnya.

    Malik bin Al Huwairits menyatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila waktu salat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian adzan (untuk sholat waktu itu). Dan hendaklah yang tertua di antara kalian yang bertindak sebagai imam bagi kalian.” (HR. Ahmad, Bukhori, dan Muslim).

    Berikut ini bacaan Doa Setelah Adzan


    Jabir bin Abdulla ra. mengabarkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa setelah mendengar adzan mengucapkan doa: ‘Al-loohumma robba haadzihid da’watit taammah, wash sholaatil goo imah, aati sayyidana Muhammadanil wasiilata wal fadlilah, wasy syarofa wadd- arojatal ‘aaliyatar rofii’ah, wab’atshul maqoomal mahmuudanil ladzii wa’adtah, innaka laa tukhliful mii’aad’ (Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini dan pemilik sholat yang didirikan, berilah junjungan kami Nabi Muhammad wasilah, keutamaan, kemuliaan, derajat yang tinggi, dan tempatkanlah beliau pada tempat yang terpuji yang telah engkau janjikan. Sesungguhnya Engkaulah ya Allah, Dzat yang tidak akan mengubah janji), maka wajib baginya syafa’at pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

    Bacaan Doa Setelah Adzan Lengkap

    Mengutip buku Dahsyatnya Adzan karya M. Syukron Maksum disebutkan contoh bacaan doa setelah adzan adalah:

    اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ اِنَكَ لاَ تُخْلِفُ اْلمِيْعَاد

    Arab-latin: Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah. Wash shalaatil qaa-imah. Aati muhammadal wasiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqoomam mahmuudal ladzii wa’adtahu innaka la tukhliful mi’ad.

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan memiliki sholat yang didirikan. Berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah dia ke tempat yang terpuji sebagaimana yang Engkau telah janjikan.”

    Ada doa khusus yang dibacakan saat adzan Maghrib dan Subuh. Berikut ini adalah tambahan bacaan untuk adzan Maghrib:

    اللّٰهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وإدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ ليْ

    Arab-latin: Allahumma hadza iqbalu lailika wa idbaru naharika wa ashwatu du’aika faghfir lii.

    Artinya: “Ya Allah, ini menjelang datang malam-Mu, dan telah berlalu siang-Mu, telah diserukan seruan-Mu, maka ampunilah aku.”

    Sementara itu, bacaan doa adzan Subuh berbunyi:

    اللهم هَذَا إِقْبَالُ هَارِنَكَ وَإِدْبَارُ لَيْلِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فاغْفِرْ لِي

    Arab-latin: Allahumma hadza iqbaalu nahaarika wa idbaaru lailika wa ashwaatu du’aaika faghfir lii.

    Artinya: “Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya siang-Mu, dan perginya malam-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku.”

    Berdoa antara Adzan dan Iqamah

    Mengutip buku Fikih Sunnah – Jilid 1 karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa berdoa diantara adzan dan iqamah adalah waktu-waktu terkabulnya doa. Maka pada waktu tersebut dianjurkan untuk memperbanyak membaca doa.

    “Doa yang dipanjatkan di antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak..” (HR Abu Daud, Nasai dan Tirmidzi).

    Dia menyatakan bahwa hadits ini hasan dan shahih. Anas menambahkan, para sahabat bertanya, apa yang mesti kami ucapkan, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab, “Mintalah kepada Allah kesehatan dan keselamatan di dunia dan akhirat.”

    Dari Abdulah bin Umar, bahwasanya seseorang berkata kepada Rasulullah, sesungguhnya orang yang mengumandangkan adzan memiliki kelebihan daripada antara kami. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Ucapkan sebagaimana yang dia ucapkan. Dan jika telah selesai, mintalah, maka permintaanmu akan dikabulkan.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

    Sahal bin Sa’ad berkata, Rasulullah SAW. bersabda, “Ada dua perkara yang tidak akan ditolak; doa ketika (selesai) adzan, dan doa dalam keadaan terjepit, yaitu ketika sebagian orang saling menyerang antara yang satu dengan yang lain.” (HR Abu Daud dengan sanad yang shahih).

    Demikian pembahasan mengenai doa setelah adzan. Bahwasanya berdoa sesudah mendengar dan menjawab adzan merupakan anjuran dari Rasulullah SAW yang baik untuk diikuti oleh umat Islam, karena pada waktu tersebut diharapkan doa akan terkabul.

    (lus/aeb)



    Sumber : www.detik.com

  • Muadzin Terbaik di Zaman Rasulullah yang Dijamin Masuk Surga



    Jakarta

    Muadzin terbaik di zaman Rasulullah SAW adalah Bilal Bin Rabah, seorang budak berkulit hitam. Ia menjadi muadzin pertama yang diperintahkan untuk mengumandangkan adzan sebagai seruan sholat.

    Dikisahkan dalam buku Sejarah Ibadah karya Syahruddin El-Fikri, Bilal bin Rabah termasuk salah seorang yang pertama kali masuk Islam sehingga dijuluki sebagai as-sabiqun al-Awwalun.

    Awalnya, Bilal merupakan budak milik keluarga bani Abduddar yang diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir. Ketika keislamannya diketahui oleh sang majikan, Bilal mendapat siksaan yang sangat berat.


    Ia pernah dicambuk, dijemur di bawah terik matahari, bahkan tubuhnya ditindih dengan batu agar meninggalkan agama Islam. Meskipun demikkian, Bilal tetap tak goyah dan teguh menyatakan keimanannya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

    Penderitaan yang dialami Bilal baru berakhir setelah Abu Bakar As-Shiddiq RA membelinya dan memerdekakannya. Ia kemudian menjadi muslim yang taat dan ikut dalam rombongan hijrah ke Madinah.

    Turunnya Perintah Adzan dan Ditunjuknya Bilal Sebagai Muadzin

    Melansir dari buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, pada awal-awal Rasulullah SAW tinggal di Madinah, kaum muslimin mengerjakan sholat lima waktu bersama beliau tanpa adanya panggilan atau seruan.

    Nabi SAW pernah bermaksud membuat terompet besar seperti terompet orang Yahudi untuk memanggil para sahabat menunaikan sholat, tetapi beliau tidak menyukainya.

    Abdullah bin Zaid bin Tas’alabah menjadi orang yang mendengar seruan adzan dalam mimpinya, lantas bergegas mendatangi Rasulullah SAW dan berkata,

    “Wahai Rasulullah, tadi malam aku bermimpi didatangi oleh seseorang. lalu seorang lelaki yang mengenakan dua potong baju berwarna hijau melintasiku dengan membawa lonceng. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng ini?’

    Orang itu bertanya, ‘Untuk apa lonceng ini?’ Aku menjawab, ‘Untuk memanggil orang supaya sholat.’ Kemudian orang itu berkata, ‘Maukah kutunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada lonceng ini?’ Aku balik bertanya, ‘Apa itu?’ Orang itu kembali menjawab, ‘Ucapkanlah:

    Allahu Akbar, Allahu Akbar.

    Allahu Akbar, Allâhu Akbar.

    Asyhadu an lâ ilâha illallah. Asyhadu an lâ ilâha illallâh. Asyhadu anna Muhammadan Rasûlullah. Asyhadu anna Muhammadan Rasûlullah.

    Hayya ‘alash shalah, hayya ‘alash shalâh.

    Hayya ‘alal falah, hayya ‘alal falah.

    Allahu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ ilâha illallâh.’”

    Mengetahui hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Insya Allah ini mimpi yang benar. Temui Bilal dan sampaikan kepadanya seruan itu, lalu suruh ia mengumandangkannya. Sesungguhnya, suaranya lebih merdu darimu.”

    Berdasarkan riwayat tersebut, Bilal menjadi muadzin terbaik di zaman Rasulullah SAW sebab ia memiliki suara merdu dibandingkan dengan sahabat lainnya.

    Bilal bin Rabbah Muadzin Terbaik Rasulullah SAW

    Disebutkan dalam buku The Great Sahaba karya Rizem Aizid, Bilal bin Rabah dikenal sebagai muadzin pertama umat islam yang diberi gelar Muadzin ar-Rasul. Sebagai muadzin Rasulullah SAW, nama Bilal diabadikan untuk selama-lamanya.

    Hingga saat ini, muadzin di masjid-masjid juga dipanggil dengan julukan ‘bilal’. Sosok Bilal bin Rabah memang seorang berkulit hitam, tetapi ia memiliki suara yang sangat nyaring dan jernih hingga mampu menjangkau seluruh negeri Madinah.

    Saat Bilal mengumandangkan adzan, kaum muslimin yang tinggal di Madinah langsung datang ke Masjid. Rizem Aizid dalam bukunya menyebutkan, tidak ada satupun sahabat yang memiliki kemampuan dalam mengumandangkan adzan melebihi Bilal bin Rabbah.

    Salah satu keistimewaan Bilal bin Rabah, yaitu derap langkahnya telah terdengar di surga sehingga ia termasuk orang yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT.

    Hal ini sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat, dari Abu Hurairah RA, ia bercerita bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal bin Rabah setelah menunaikan sholat Subuh:

    “Wahai Billa, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam islam. Sebab, sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.”

    Bilal menjawab, “Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan sholat (sunnah) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna pada waktu siang ataupun malam.” (HR Muslim).

    Itulah sepenggal kisah Bilal bin Rabbah, seorang sahabat yang menjadi muadzin terbaik di zaman Rasulullah SAW. Semoga dapat menjadi teladan dan menambah wawasan ya, detikers!

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Adzan Terakhir Bilal bin Rabah dan Kesedihan setelah Wafatnya Rasulullah



    Jakarta

    Adzan adalah panggilan suci yang mengajak umat Islam untuk menjalankan ibadah. Mengenai adzan, pasti umat Islam teringat akan kisah Bilal bin Rabah.

    Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal karena adzannya. Berikut kisah tentang adzan terakhir Bilal bin Rabah.

    Kisah Bilal Bin Rabah

    Dirangkum dari buku Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW oleh Khalid Muhammad Khalid, Bilal bin Rabah adalah seorang lelaki berkulit hitam, kurus, tinggi jangkung, berambut lebat, dan bercambang tipis. Ia merupakan seorang budak dari Habasyah milik beberapa orang dari Bani Jumah di Mekah.


    Bilal bin Rabah sering mendengar Umayah membicarakan Rasulullah SAW, hingga mengeluarkan kata-kata buruk yang penuh kebencian. Melalui pembicaraan mereka yang keras penuh kecaman itu, Bilal bin Rabah menangkap pengakuan mereka akan kemuliaan, kejujuran, dan amanah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW.

    Bilal bin Rabah kagum dan penasaran terhadap agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Pada suatu hari, Bilal bin Rabah melihat cahaya Allah SWT dan mendengar suara-Nya di dalam relung jiwanya yang bersih. Ia pun bergegas menemui Rasulullah SAW dan memeluk Islam.

    Kabar keislaman Bilal terdengar hingga ke telinga majikannya dari Bani Jumah. Majikan Bilal merasa bahwa keislaman Bilal merendahkan kehormatan mereka semua.

    Mereka menyiksa Bilal dengan membaringkannya dalam keadaan telanjang di atas bara api agar ia melepaskan agamanya. Namun Bilal menolak keluar dari Islam dan tetap teguh menerima berbagai siksaan.

    Bilal bin Rabah mendapatkan siksaan yang kejam berulang setiap hari, hingga beberapa algojo kasihan kepada Bilal. Hingga pada akhirnya, Bilal pun dilepas dengan syarat agar ia menyebut nama-nama Tuhan mereka dengan sebutan yang baik.

    Bilal pun tetap menolak untuk mengucapkannya. Alih-alih mengucapkannya, Bilal menggantinya dengan senandung abadi yang ia ulang-ulang, “Ahad… Ahad…”.

    Ketidakmauan Bilal menyebut Tuhan mereka menyebabkan Bilal mendapatkan siksaan yang tiada henti. Saat Bilal sedang disiksa, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang dan menawarkan harga pemerdekaan Bilal. Setelah menemukan kesepakatan, Bilal pun dijual kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan segera memerdekakannya saat itu juga.

    Abu Bakar kemudian membawa Bilal menghadap Rasulullah SAW sambil menyampaikan kabar gembira tentang kemerdekaan Bilal.

    Setelah Rasulullah SAW dan kaum Muslimin hijrah ke Madinah dan menetap di sana, beliau mensyariatkan adzan sebelum salat. Rasulullah SAW kemudian memilihnya menjadi muadzin Islam pertama dengan suara yang merdu dan indah.

    Perang Badar pun pecah. Pasukan Quraisy datang menyerang Madinah, dan Bilal berjuang dengan keras.

    Di tengah pertempuran yang hebat, Bilal melihat Umayah yang pernah menyiksa tubuhnya. Sekelompok kaum Muslimin mengepung Umayah dan putranya. Umayah pun meninggal karena tebasan pedang-pedang kaum Muslimin. Peperangan pun dimenangkan oleh kaum Muslimin.

    Tibalah saatnya Mekah ditaklukkan. Rasulullah SAW memasuki Mekah sambil bersyukur dan mengumandangkan takbir dengan puluhan ribu kaum Muslimin.

    Rasulullah SAW menyuruh Bilal bin Rabah untuk naik ke atas masjid dan mengumandangkan adzan. Bilal pun melaksanakan perintah Rasulullah SAW tersebut. Seluruh masyarakat pun terkejut dan terpukau dengan suara adzan Bilal.

    Adzan Terakhir Bilal bin Rabah

    Beberapa saat kemudian, Rasulullah SAW wafat. Urusan kaum Muslimin dipegang oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq.

    Bilal bin Rabah datang kepada Abu Bakar Ash-Shidiq dan berkata dengan air mata yang berlinang, “Sungguh aku tidak akan lagi mengumandangkan adzan untuk siapa pun sesudah Rasulullah.”

    Singkat cerita, Bilal bin Rabah bertekad untuk berjuang di jalan Islam. Suaranya yang merdu, lebut, dan menyentuh itu tidak lagi mengumandangkan adzan seperti biasa. Sebab, ketika ia mengucap kalimat “Asyahu anna Muhammadarrasulullah”, maka ia akan sedih karena ingat kepada Rasulullah SAW.

    Adzan terakhir yang ia kumandangkan adalah ketika Amirul Mukminin Umar berkunjung ke Syam. Ketika itu, kaum Muslimim meminta Umar agar membujuk Bilal untuk mengumandangkan adzan bagi mereka.

    Amirul Mukminin Umar pun memanggil Bilal ketika waktu salat tiba. Umar berharap kepada Bilal agar dirinya mau mengumandangkan adzan.

    Hingga pada akhirnya, Bilal bin Rabah naik ke menara dan segera mengumandangkan adzan. Para sahabat dan orang-orang yang mendengar suara adzan Bilal pun menangis. Umar adalah orang yang paling keras tangisannya di antara mereka.

    Wafatnya Bilal bin Rabah

    Bilal wafat di Syam sebagai seorang pejuang di jalan Allah SWT. Merujuk pada buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, eberapa sejarawan memiliki perbedaan pendapat mengenai wafatnya Bilal bin Rabah.

    Sebagian mengatakan bahwa Bilal bin Rabah wafat di Damaskus dan dimakamkan di Bab al-Saghir. Sebagian lain mengatakan bahwa Bilal bin Rabah wafat di Halb Aleppo dan dimakamkan di Bab al-Arba’in.

    Bilal bin Rabah wafat tanpa meninggalkan keturunan seorang pun. Semoga Allah SWT merahmatinya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Seorang Muadzin yang Didoakan Rasulullah SAW



    Jakarta

    Di zaman Rasulullah SAW terdapat seorang pemuda yang membenci beliau karena diperintahkan untuk mengumandangkan adzan. Pemuda ini kemudian diajarkan adzan oleh Rasulullah SAW hingga pandai.

    Setelah mampu mengumandangkan adzan dengan baik, Rasulullah SAW memujinya seraya mendoakan pemuda itu.

    Kisah pemuda yang menjadi muadzin ini dikutip dari Kitab Umm Jilid 2 karya Imam Syafi’i.


    Dikisahkan dari Ar Rabi yang mengabarkan kepada kami, dia berkata: Asy Syafi’i mengabarkan kepada kami, dia berkata: Muslim bin Khalid mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dia berkata: Abdul Aziz bin Abdul Malik bin Abu Mahdzurah mengabariku, bahwa Abdullah bin Muhairiz, seorang anak yatim yang diasuh Abu Mahdzurah mengabarinya ketika dia akan mengirimnya ke Syam.

    Dia berkata: Aku berkata kepada Abu Mahdzurah, “Wahai paman, aku keluar ke Syam, dan aku ingin bertanya bagaimana caramu adzan?” Lalu dia mengabarkan kepadaku, dan dia berkata, “Baik.”

    Dia berkata, “Saya keluar bersama beberapa orang menuju ke Hunain, lalu Rasulullah SAW kembali dari Hunain dan bertemu kami di jalan. Lalu seorang muadzin Rasulullah mengumandangkan adzan untuk suatu salat di hadapan beliau.

    Kami mendengar suara muadzin sambil bersandar, lalu kami berteriak menirukannya sambil mencelanya.

    Rasulullah SAW mendengar suara kami, lalu beliau mengutus seseorang kepada kami agar kami menghadap beliau. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa di antara kalian yang tadi saya dengar suaranya sedemikian tinggí?” Semua orang menunjuk ke arahku. Beliau lantas melepas mereka dan menahanku.

    Rasulullah SAW pun bersabda, “Berdiri dan adzanlah untuk salat!” Lalu aku berdiri, dan ketika itu tidak ada yang lebih aku benci daripada Rasulullah SAW, dan tidak pula apa yang beliau perintahkan kepadaku. Aku berdiri di hadapan Rasulullah, lalu beliau sendiri yang menyampaikan cara adzan kepadaku.

    Beliau bersabda, “Bacalah: Allahu Akbar, Alaahu Akbar. Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, Asyhadu allaa ilaaha ilaallah. Asyhadu anna Muhamnadan Rasulullah, Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.”

    Kemudian beliau bersabda kepadaku, “Ulangi dan panjangkan suaramu!” Lalu beliau membaca, Asyhadu alla ilaaha illallaah, Ashadu allaa laaha llallaah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayya Alas Sholaah, Hayya ‘Alas Sholah, Haya Alal Falaah, Hayya Alal Falaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Laa laaha llaAllah.

    Lalu beliau memanggilku setelah aku mengumandangkan adzan, dan memberiku kantong yang berisi perak.

    Rasulullah SAW kemudian meletakkan tangannya pada ubun-ubun Abu Mahdzurah, lalu mengusapkannya pada wajahnya, lalu bagian di antara kedua tangannya, lalu jantungnya, hingga tangan Rasulullah sampai pada pusar Abu Mahdzurah.

    Sesudah itu Rasulullah berdoa, “Semoga Allah menjadikan keberkahan pada dirimu, dan mengaruniakan keberkahan kepadamu.”

    Lalu aku berkata kepada Rasulullah, “Perintahkanlah kepadaku untuk membaca adzan di Makkah.” Beliau menjawab, “Aku perintahkan engkau untuk adzan.”

    Sejak saat itu hilanglah setiap kebencianku kepada Rasulullah dan semua itu berbalik menjadi rasa cinta kepada Nabi SAW.

    Aku lantas menemui Attab bin Usaid, pekerja Rasulullah di Makkah, lalu aku mengumandangkan adzan untuk salat atas perintah Rasulullah SAW.

    Asy Syafii berkata: Adzan dan iqamat itu seperti yang saya ceritakan dari keluarga Abu Mahdzurah. Barangsiapa yang mengurangi sedikit saja darinya, atau mendahulukan yang akhir, maka dia harus mengulangi hingga membaca apa yang dia kurangi, dan hingga ia membaca setiap kalimat pada tempatnya. Muadzin pertama dan muadzin kedua sama dalam membaca kalimat adzan. Saya tidak menyarankan tatswib dalam shalat Shubuh atau dalam shalat lain, karena Abu Mahdzurah tidak menuturkan dari Nabi bahwa beliau menyuruhnya melakukan tatswib.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com