Tag: akhirat

  • Kisah Syahidnya Masyithah, Tukang Sisir Putri Fir’aun yang Pertahankan Islam


    Jakarta

    Seluruh perbuatan manusia selama di dunia menjadi penentu mereka di akhirat kelak. Mereka yang rugi dan banyak berbuat buruk akan diganjar siksa kubur.

    Dalil tentang siksa kubur tercantum dalam Al-Qur’an, salah satunya pada surah Al An’am ayat 93:

    وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ قَالَ اُوْحِيَ اِلَيَّ وَلَمْ يُوْحَ اِلَيْهِ شَيْءٌ وَّمَنْ قَالَ سَاُنْزِلُ مِثْلَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَاسِطُوْٓا اَيْدِيْهِمْۚ اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ اٰيٰتِهٖ تَسْتَكْبِرُوْنَ ٩٣


    Artinya: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya dan orang yang berkata, “Aku akan mendatangkan seperti yang diturunkan Allah.” Seandainya saja engkau melihat pada waktu orang-orang zalim itu (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sembari berkata), “Keluarkanlah nyawamu!” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”

    Berkaitan dengan siksa akhirat, ada sebuah kisah yang didasarkan dari riwayat Imam Ahmad yang berasal dari Abu Dharir, dari Hammad bin Salamah, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas. Dikutip dari Karamat Al-Auliya’ susunan Abul Fida’ Abdurraqib bin Ali bin Hasan Al-Ibi yang diterjemahkan oleh Abdurrosyad Shidiq, diceritakan Rasulullah pada malam Isra mencium aroma harum.

    Bertanyalah dia kepada Malaikat Jibril, “Wahai Jibril, aroma apakah ini?”

    “Itu adalah aroma wanita yang menyisir putri Fir’aun dan anak-anaknya,” jawab Jibril.

    Mendengar hal itu, sang rasul kembali bertanya, “Apa yang terjadi padanya?”

    Malaikat Jibril lalu menceritakan, “Pada suatu hari ketika Masyithah sedang menyisir putri Fir’aun, sisirnya jatuh dari tangannya. Lalu, secara spontan ia berkata, ‘Dengan nama Allah’.

    Putri Fir’aun bertanya, ‘Itu ayahku?’

    Sang wanita lalu menjawab, ‘Bukan. Tetapi Tuhanku dan Tuhan ayahmu. Dialah Allah.’

    Putri Fir’aun kembali bertanya, ‘Bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada ayahku?’

    Tanpa ragu, wanita tersebut mengiyakan pertanyaan sang putri Fir’aun itu. Setelahnya, wanita tersebut dipanggil oleh Fir’aun dan ditanyai, ‘Hai pelayan, apakah kamu punya Tuhan selain aku?’

    ‘Punya. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.’

    Kemudian, Fir’aun menyuruh mengambilkan sebuah wajan besar. Setelah diisi dengan air mendidih, wanita tersebut beserta anak-anaknya dilemparkan ke dalamnya.

    Sebelum dilempar, wanita itu berkata, ‘Aku punya satu permintaan kepadamu,’

    ‘Apa permintaanmu?’ tanya Fir’aun.

    ‘Aku ingin kamu mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku pada selembar kain, lalu kamu kubur kami dalam satu liang lahat.’ jawabnya.

    Fir’aun mengiyakan permintaan sang wanita. Ia lalu menggiring wanita tersebut dan anaknya satu per satu ke dekat wajan.

    Ketika tiba giliran seorang ibu dan bayinya yang masih menyusu, bayi itu lalu melihat ke arah ibunya yang seakan-akan ragu untuk memasuki bejana. Sang bayi secara tiba-tiba berkata, ‘Hai ibu, masuklah. Sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan daripada siksa akhirat.’

    Lalu, wanita itu memasukinya.”

    Cara Berlindung dari Siksa Kubur

    Sebagaimana yang diketahui, siksa kubur menjadi sesuatu yang menakutkan bagi setiap orang. Meski demikian, ada sejumlah cara untuk berlindung dari siksa kubur.

    Mengutip dari buku 1001 Siksa Kubur oleh Abdul Rahman, berikut beberapa caranya.

    • Rutin berdzikir
    • Membaca surah Al Mulk
    • Memperbarui taubatnya
    • Menjauhi sebab yang menjerumuskan ke dalam azab kubur
    • Mengevaluasi diri sendiri atas apa yang telah dilakukan, baik perkara yang dirugikan maupun perkara yang menguntungkan
    • Ada juga doa dari siksa kubur yang dapat dipanjatkan,

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

    Arab latin: Allaahumma innii ‘auudzu bika min ‘adzaabi al-qabri wa min ‘adzaabi jahannama wa min fitnati al-mahyaa wa al-mamaati wa min syarri fitnati al-masiihi ad-dajjaali.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR Bukhari & Muslim)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketika Nabi Adam dan Nabi Musa Berdebat di Hadapan Tuhan



    Jakarta

    Nabi Adam dan istrinya Hawa pernah tinggal di surga sebelum akhirnya Allah menurunkannya ke bumi. Setelah peristiwa ini, semua keturunan Nabi Adam tinggal di bumi. Hal ini menjadi penyebab Nabi Musa pernah menyalahkan Nabi Adam.

    Pertemuan Nabi Adam dan Musa mempersoalkan alasan dikeluarkannya Adam dari surga karena dosa yang ia perbuat.

    Dalam hadits riwayat Imam Bukhari berkata, “Qutaibah menceritakan kepada kami, Ayyub bin an-Najjar menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salah dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Adam dan Musa berdebat. Musa berkata kepada Adam, “Wahai Adam engkau adalah bapak kami, engkau telah menyia-nyiakan kami dan telah mengeluarkan kami dari surga’. Adam berkata kepada Musa, ‘Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya, dan menuliskan (taurat) untukmu dengan tangan-Nya. Apakah engkau mencelaku atas perkara yang telah Allah tetapkan atasku empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku?” Maka Adam mengalahkan argumentasi Musa. Maka Adam mengalahkan argumentasi Musa,” (Tiga kali).


    Sufyan berkata: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami dari Al A’raj dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW dengan redaksi seperti itu.

    Dikutip dalam Kisah Para Nabi: Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi Sejak Adam hingga Isa yang ditulis Ibnu Katsir. disebutkan bahwa Imam Ahmad berkata, “Abu Kamil menceritakan kepada kami, dari hamid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Adam dan Musa pernah berdebat. Musa berkata kepada Adam: ‘Engkau adalah Adam yang dikeluarkan dari surga karena suatu kesalahan yang dilakukan oleh dirimu sendiri.’ Adam berkata kepada Musa: ‘Engkau adalah Musa yang dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya. Engkau mencela diriku terhadap suatu persoalan yang telah ditakdirkan kepadaku sebelum aku diciptakan.’ Selanjutnya, Rasulullah SAW bersabda, “Maka Adam dapat membantah argumentasi Musa.” Rasulullah mengucapkan kata-kata tersebut sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari).

    Saya (Ibnu Katsir) berkata, “Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis ini dari az-Zuhri, dari hamid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dari Nabi SAW dengan riwayat hadis seperti yang telah disebutkan.”

    Ibnu Abi Hatim berkata, “Yunus bin Abdul A’la menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Anas bin Iyadh telah memberi kabar kepada kami, dari al-Haris bin Abi Diyyab, dari Yazid bin Hurmuz: ‘Saya pernah mendengar Abu Hurairah berkata: ‘Rasulullah SAW bersabda: ‘Adam dan Musa pernah berdebat di hadapan Tuhan mereka lalu Adam membantah argumentasi Musa. Musa berkata: ‘Engkaulah yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya lalu Dia meniupkan ruh-Nya di dalam dirimu; Dia juga memerintahkan malaikat untuk bersujud kepadamu; Dia juga menempatkan dirimu di dalam surga-Nya dan engkau pula yang menyebabkan manusia diturunkan ke bumi karena kesalahanmu?’ Adam menjawab: ‘Engkaukah yang dipilih Allah dengan risalah-Nya dan kalam-Nya? Dia telah menurunkan lembaran-lembaran (al-Alwah) yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang segala sesuatu dan Dia mendekatkan diri-Nya untuk menyelamatkan dirimu? Berapa lama engkau mendapati Kitab Taurat yang telah ditulis oleh Allah?’

    Musa menjawab: ‘Empat puluh tahun.’
    Adam berkata:’Apakah engkau menemukan di dalamnya ayat yang berbunyi: ‘Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.’ (QS. Thaha: 121).

    Musa menjawab: ‘Ya’
    Adam bertanya kembali,” Kalau begitu, mengapa engkau mencela diriku atas perbuatan yang telah ditetapkan oleh Allah bagiku untuk mengerjakannya, (yaitu) ketetapan yang sudah tertulis empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?’ Ia (Abu Hurairah) berkata, “Rasulullah bersabda: ‘Akhirnya, Adam dapat mengalahkan argumentasi Musa.” (HR. Muslim).

    Sikap Nabi Musa mempermasalahkan Nabi Adam pun cukup beralasan. Karena kehidupan dunia melelahkan dan berat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Balad ayat 4:

    لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

    Bacaan latin: Laqad khalaqnal-insāna fī kabad
    Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.

    “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Siapa pun, termasuk Nabi, dalam masa hidupnya pasti menemui kepayahan, sejak dalam kandungan sampai masa dewasa. Manusia mesti bersusah payah mencari nafkah, mengalami sakit, dan mati. Dalam alam kubur menuju alam mahsyar pun manusia menghadapi kepayahan. Manusia harus mengisi kehidupannya di dunia dengan amal saleh agar tidak menemukan kepayahan lagi di akhirat,” tulis tafsir Al-Balad ayat 4 dalam Qur’an Online detikHikmah.

    Wallahu a’lam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kehidupan Utsman bin Affan Bersama Al-Qur’an sampai Akhir Hayat



    Jakarta

    Kecintaan Utsman bin Affan pada Al-Qur’an berawal ketika ia mendengar Rasulullah SAW membacanya. Ayat-ayat Al-Qur’an tersebut telah menyucikan kalbu Utsman bin Affan.

    Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya Biografi Utsman bin Affan menjelaskan bahwa Abu Abdirrahman As-Sulami meriwayatkan, dia berkata, “Orang-orang yang membaca Al-Qur’an kepada kami- seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud dan selainnya- bercerita kepada kami bahwa ketika mereka belajar Al-Qur’an kepada Nabi SAW sepuluh ayat, mereka tidak melanjutkannya ke ayat berikutnya kecuali mereka telah mempelajari kandungannya dari ilmu dan praktiknya.

    Mereka berkata, “Karena faktor inilah, mereka membutuhkan waktu yang lama untuk menghafal satu surat dalam Al-Qur’an.”


    Allah SWT berfirman dalam surah Sad ayat 29:

    كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

    Artinya: “(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

    Utsman bin Affan adalah manusia yang senantiasa memelihara Kitab Allah (Al-Qur’an) dengan membacanya. Ketika sedang di kamar, dia hampir tidak lepas dari mushaf Al-Qur’an. Ketika ditanya mengenai hal tersebut, maka Utsman menjawab, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu penuh berkah dan ia datang banyak membawa berkah.”

    Dikisahkan bahwa Utsman bin Affan membaca Al-Qur’an pada suatu malam dalam satu rakaat, dia tidak salat selain salat itu. Dalam kasus ini, telah terbukti apa yang difirmankan Allah SWT, dalam surah Az-Zumar ayat 9:

    اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

    Artinya: “(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ulul albab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.”

    Sesungguhnya Al-Qur’an telah mengakar kuat dalam jiwa Utsman, karena ia telah menimba Al-Qur’an secara langsung dari Rasulullah SAW. Dan dari Al-Qur’an inilah Utsman mengetahui siapakah Tuhan yang sebenarnya wajib disembah.

    Detik-detik wafatnya Utsman bin Affan juga diceritakan dalam Kisah 10 Pahlawan Surga oleh Abu Zein, suatu hari terjadi fitnah pada masa pemerintahan Utsman. Fitnah ini menyebabkan lelaki Yahudi berpura-pura masuk Islam, padahal ia membencinya.

    Lelaki tersebut bernama Abdullah bin Saba. Akhirnya para pemberontak terpengaruh dengan fitnah dan rumah Utsman dikepung. Pengepungan terjadi selama 40 hari hingga akhirnya penyusup berhasil masuk ke rumah Utsman.

    Utsman pun tetap membaca Al-Qur’an dan tidak menghiraukan si penyusup. Hal ini menyebabkan seseorang memukul Utsman hingga terjatuh dan wafat.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Syuaib AS yang Diutus Berdakwah kepada Penduduk Madyan



    Jakarta

    Nabi Syuaib AS diutus untuk berdakwah kepada kaum Madyan. Penduduk ini termasuk bangsa Arab yang menempati kota Madyan di salah satu Ma’an, perbatasan Syam yang berbatasan langsung dengan Hijaz.

    Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya terjemahan Umar Mujtahid menyebutkan bahwa Madyan adalah kabilah yang terkenal. Mereka berasal dari bani Madyan bin Madyan bin Ibrahim Al-Khalil.

    Sementara itu, mengenai nasab Nabi Syuaib AS terdapat perbedaan pendapat. Ada yang menyebut nama lengkap Syuaib AS adalah Syuaib bin Yasykhar bin Lawi bin Ya’qub, kemudian pendapat lain mengatakan namanya Syuaib bin Nuwaib bin Aifa bin Madyan bin Ibrahim. Yang lain mengatakan namanya Syuaib bin Shaifur bin Aifa bin Tsabit bin Madyan bin Ibrahim.


    Penduduk Madyan adalah orang-orang musyrik yang gemar merampok, meneror serta menyembah Aikah; yaitu sebuah pohon di dalam hutan dengan semak-semak rindang di sekitarnya. Mereka juga kerap berperilaku curang dalam kegiatan berbisnis, mengurangi takaran dan timbangan hingga meminta lebih tetapi mengurangi saat memberi.

    Allah SWT mengutus Nabi Syuaib AS untuk memperbaiki akhlak penduduk Madyan. Sebagai seorang nabi dan rasul, Syuaib AS terus menyerukan kebenaran dan meminta kaum Madyan untuk beribadah kepada Allah SWT.

    Sebagian dari penduduk Madyan mempercayai Nabi Syuaib AS dan kembali ke jalan yang benar. Tetapi, tak sedikit juga dari kaum Madyan yang tetap ingkar.

    Allah SWT berfirman dalam surat Al A’raf ayat 85,

    وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ قَدْ جَآءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

    Artinya: “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”

    Nabi Syuaib AS berdakwah kepada umatnya agar berlaku adil dan melarang berbuat lalim. Ia juga mengancam penduduk Madyan yang melanggar hal tersebut.

    Ishaq bin Bisyr meriwayatkan dari Juwaibir dari Dhahhak dari Ibnu Abbas, ia mengatakan:

    “Mereka adalah kaum yang melampaui batas, duduk di setiap jalan, berbuat curang pada sesamanya yaitu memungut pajak, dan mereka adalah orang pertama yang memberlakukan ketentuan seperti itu.”

    Meski terus diperingati oleh Nabi Syuaib AS, penduduk Madyan yang ingkar masih saja berbuat kecurangan dalam timbangan. Sang nabi mengingatkan mereka bahwa Allah SWT akan mencabut nikmat yang diberikan dan menyiksanya dengan azab pedih di akhirat kelak.

    Sepanjang berdakwah kepada kaumnya, Syuaib AS menyampaikan dalam tutur kata yang lembut. Mulanya ia berdakwah dengan metode yang berisi anjuran.

    Lama kelamaan, metode dakwahnya berubah menjadi peringatan. Namun, tetap saja kaum Madyan enggan mendengarkan dan tetap berada dalam kesesatan.

    Akhirnya, Nabi Syuaib AS memohon kepada Allah SWT untuk memberi siksaan kepada kaumnya yang tidak mau beriman.

    Saat matahari terbenam, dan hari menjadi gelap. Tiba-tiba tanah berguncang dengan hebat akibat gempa bumi dan diiringi dengan petir yang menyambar. Keadaan semakin mengerikan ketika semua rumah di Madyan runtuh hingga membinasakan kaum Madyan.

    Azab tersebut mulanya diturunkan dalam beberapa tahap, seperti hembusan udara panas yang kering dan membuat mereka dahaga, terjadinya gempa dahsyat, hingga akhirnya membinasakan kaum Madyan. Ini dikisahkan dalam buku Kisah-kisah Terbaik Al-Qur’an susunan Kamal as-Sayyid.

    Para mufassir menyebut penduduk Madyan tertimpa panas hebat. Allah SWT menahan angin agar tidak berhembus selama tujuh hari, begitu pula dengan air.

    Akhirnya mereka lari meninggalkan tempat menuju dataran luas. Di sana, mereka berkumpul dengan awan hitam.

    Ketika semuanya sudah berada di sana, Allah SWT mengirimkan kobaran api bersama awan hitam tersebut. Bumi diguncang dengan hebat hingga suara menggelegar datang dari langi mencabut nyawa mereka.

    Nabi Syuaib AS dan pengikutnya yang beriman diselamatkan oleh Allah SWT. Ini disebutkan dalam surat Hud ayat 94-95,

    “Ketika putusan Kami tiba, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sementara orang-orang yang berbuat zalim dihancurkan oleh suara yang menggelegar, sehingga mereka mati berserakan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah tinggal di sana. Ingatlah, begitulah binasa penduduk Madyan, dan seperti yang telah terjadi pada kaum Tsamud juga.” (QS Hud: 94-95)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Orang Masuk Surga dan Neraka gegara Seekor Lalat


    Jakarta

    Ada sebuah kisah menarik yang menjadi bahan renungan banyak orang tentang bagaimana tindakan kecil bisa membawa dampak besar dalam kehidupan akhirat. Kisah ini menceritakan tentang dua orang yang mendapatkan nasib berbeda, satu masuk surga dan yang lain masuk neraka hanya karena seekor lalat.

    Meskipun lalat terlihat sebagai makhluk kecil dan sepele, kisah ini mengajarkan bahwa keputusan manusia dalam menghadapi ujian, sekecil apa pun, dapat menentukan masa depannya di akhirat.

    Masuk Surga dan Neraka karena Lalat

    Dikutip dari buku Keindahan Surga dan Kengerian Siksa Neraka oleh Abu Utsman Kharisman, seekor lalat bisa menjadi penyebab masuknya seseorang ke dalam surga, bisa juga menjadi penyebab masuknya seseorang ke neraka.


    Dikisahkan ada dua orang yang melewati suatu kaum yang sedang beribadah kepada berhala. Kaum ini tidak memperbolehkan seorang pun untuk lewat di hari itu kecuali dengan memberikan persembahan untuk berhala, walaupun hanya seekor lalat.

    Satu orang tetap menjaga tauhidnya dengan tidak mau memberikan persembahan apa pun kepada berhala tersebut. Karena keteguhannya, ia akhirnya dimasukkan ke dalam surga.

    Sementara itu, satu orang lagi ingin selamat dari kaum tersebut sehingga bersedia untuk mempersembahkan seekor lalat untuk berhala. Dia pun menjadi masuk neraka hanya karena seekor lalat.

    Dikutip dari kitab Ad-Daa’ wad Dawaa’ karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang ditahqiq Ali bin Hasan Abul Harits al-Halabi al-Atsari, kisah mengenai dua orang yang masuk surga dan neraka karena seekor lalat diceritakan dalam sebuah riwayat.

    Al-Imam Ahmad berkata: “Kami diberitahu Abu Mu’awiyah; kami diberitahu al-A’masy; dari Salman bin Maisarah, dari Thariq bin Syihab, ia me-marfu-kannya, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

    ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ , ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺫَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﺭَﺟُﻼَﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻟَﻬُﻢْ ﺻَﻨَﻢٌ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺮِّﺏَ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻴْﺲَ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃُﻗَﺮِّﺏُ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻗَﺮِّﺏْ ﻭَﻟَﻮْ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ، ﻓَﻘَﺮَّﺏَ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻓَﺨَﻠُّﻮْﺍ ﺳَﺒِﻴْﻠَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟِﻶﺧَﺮِ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻷُﻗَﺮِّﺏَ ﻷﺣَﺪٍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻀَﺮَﺑُﻮْﺍ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ

    “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat pula.”

    Para sahabat bertanya: “Bagaimana itu bisa terjadi ya Rasulullah?

    Rasul menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorang pun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu, maka mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi: “Persembahkanlah sesuatu untuknya!”

    Ia menjawab: “Saya tidak mempunyai apa pun yang akan saya persembahkan.”

    Mereka berkata lagi: “Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!” Maka ia pun mempersembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka membiarkan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan ia pun masuk ke dalam neraka.

    Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain: “Persembahkalah untuknya sesuatu!” Ia menjawab: “Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apa pun untuk selain Allah, maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga.” (HR Ahmad)

    Dari kisah tersebut diketahui setiap tindakan sekecil apa pun memiliki dampak yang sangat besar di mata Allah SWT. Orang yang mempersembahkan lalat menunjukkan bahwa kompromi dalam hal prinsip dan tauhid, bahkan dalam bentuk kecil, bisa membawa seseorang pada kesesatan dan hukuman.

    Sebaliknya, orang yang menolak mempersembahkan sesuatu kepada selain Allah SWT menunjukkan keteguhan iman dan keberanian dalam mempertahankan keyakinan. Meskipun harus mengorbankan nyawa, kesetiaan kepada Allah SWT justru membawanya ke surga, menunjukkan bahwa keimanan sejati akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenapa Kebanyakan Penghuni Neraka Adalah Wanita?


    Jakarta

    Sebuah hadits menyebut kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita. Rasulullah SAW menjelaskan alasannya.

    Hadits yang menyebut wanita menjadi penghuni neraka terbanyak berasal dari riwayat Ibnu Abbas dan Imran RA. Dikatakan, Rasulullah SAW bersabda,

    اطلعتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ ، وَاطَّلَعْتُ في النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ


    Artinya: “Aku menengok ke dalam surga, maka kulihat kebanyakan isinya orang miskin. Dan aku menengok ke dalam neraka, maka kulihat kebanyakan isinya kaum wanita.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Hadits tersebut terdapat dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi.

    Alasan Wanita Jadi Penghuni Neraka Terbanyak

    Imam Bukhari pada kitab Haidh bab ke-6 mengeluarkan riwayat yang menerangkan alasan wanita menjadi penghuni neraka terbanyak. Diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata, “Rasulullah SAW keluar musala untuk salat Idul Fitri atau Adha, maka ia berjalan ke arah jemaah wanita dan bersabda, ‘Hai kaum wanita, bersedekahlah kalian, sebab aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.’

    Mereka bertanya, ‘Mengapa demikian ya Rasulullah?’

    Nabi SAW menjawab, ‘Karena kalian sering bergunjing dan melupakan kebaikan suami. Tak pernah aku melihat orang yang kurang akal dan agama yang bisa menawan hati lelaki pandai selain kalian.’

    Mereka bertanya, ‘Apakah kekurangan agama dan akal kami ya Rasulullah?’

    Nabi SAW menjawab, ‘Bukankah persaksian wanita separuh dari persaksian laki-laki?’

    Jawab mereka, ‘Benar.’

    Nabi SAW bersabda, ‘Itu tanda kekurangan akalnya. Tidakkah di waktu haid seorang wanita tidak menjalankan salat dan puasa?’

    Mereka menjawab, ‘Benar.’

    Maka Nabi SAW bersabda, ‘Itulah kekurangan agamanya’.”

    Wanita Menjadi Pengikut Dajjal Terbanyak

    Kaum wanita juga disebut-sebut menjadi pengikut Dajjal terbanyak. Menurut sejumlah hadits, Dajjal adalah pembawa fitnah terbesar di akhir zaman dan kemunculannya menjadi tanda-tanda kiamat.

    Keterangan bahwa wanita adalah pengikut terbanyak Dajjal dijelaskan buku Armageddon: Peperangan Akhir Zaman Menurut Al-Qur’an, Hadits, Taurat dan Injil karya Wisnu Sasongko yang mengacu pada sabda Rasulullah SAW, “Mayoritas pengikut Dajjal adalah Yahudi dan wanita.” (HR Ahmad)

    Kondisi wanita pengikut Dajjal turut digambarkan dalam hadits Ibnu ‘Umar, Rasulullah SAW bersabda,

    يَنْزِلُ الدَّجَّالُ فِى هَذِهِ السَّبَخَةِ بِمَرِّ قَنَاةَ فَيَكُونُ أَكْثَرَ مَنْ يَخْرُجُ إِلَيْهِ النِّسَاءُ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لِيَرْجِعُ إِلَى حَمِيمِهِ وَإِلَى أُمِّهِ وَابْنَتِهِ وَأُخْتِهِ وَعَمَّتِهِ فَيُوثِقُهَا رِبَاطاً مَخَافَةَ أَنْ تَخْرُجَ إِلَيْهِ

    Artinya: “Dajjal akan turun ke Mirqonah (nama sebuah lembah) dan mayoritas pengikutnya adalah kaum wanita, sampai-sampai ada seorang yang pergi ke istrinya, ibunya, putrinya, dan saudarinya, dan bibinya kemudian mengikatnya karena khawatir keluar menuju Dajjal.” (HR Ahmad)

    Wallahu a’lam.

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Dampak Negatif bagi Pelaku Zina di Akhirat, Mendapat Siksa yang Pedih!



    Jakarta

    Zina termasuk bagian dari dosa besar yang paling dibenci oleh Rasulullah SAW. Bahkan, Allah SWT telah melarang hamba-hamba-Nya untuk mendekati segala hal yang dapat menjerumuskannya ke jurang perzinaan.

    Syaikh Abu Bakar Jabar al-Jazairi dalam Kitab Minhajul Muslim menerangkan, zina adalah perbuatan haram dengan melakukan hubungan badan, baik melalui kemaluan atau dubur oleh dua orang yang bukan pasangan suami istri.

    Sementara dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa zina merupakan suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. Orang yang melakukan zina berarti telah mengotori jiwanya dengan sifat-sifat yang buruk, baik di mata sesama manusia maupun di sisi Allah SWT.


    Melalui surat Al-Isra ayat 32, Allah SWT telah menegaskan larangan berbuat zina melalui firmannya:

    وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

    Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32).

    Turut disebutkan dalam buku Wanita-wanita yang Dimurkai Nabi oleh Muhammad Masykur, pelaku zina akan mendapatkan dampak negatif, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak.

    Wanita yang sudah berumah tangga dan masih melakukan perzinaan akan membuat hancurnya kehormatan rumah tangga. Selain itu, pelaku zina juga dapat keluarga dan nama baik orang tua sehingga termasuk perbuatan dosa besar.

    Lantas, seperti apa dampak negatif bagi pelaku zina di akhirat kelak? Ini penjelasannya.

    Dampak Negatif bagi Pelaku Zina di Akhirat

    Berikut ini di antara siksaan bagi pelaku zina di akhirat, dirangkum dari buku Ternyata Kita Tak Pantas Masuk Surga karya H. Ahmad Zacky El Syafa & Dosa-dosa Jariah karya Rizem Aizid.

    1. Hisab yang Berat dan Dimurkai Allah SWT

    Pelaku zina di akhirat kelak akan mendapatkan balasan berupa hisab yang berat serta dimurkai Allah SWT. Dalam suatu riwayat hadits telah diterangkan dampak negatif bagi pelaku zina di akhirat, Rasulullah SAW bersabda:

    “Hai kamu muslimin, takutlah kamu terhadap perbuatan zina, karena didalamnya ada enam perkara, yaitu hilangnya cahaya di wajah, umur pendek, dan akan terus berada dalam keadaan fakir. Sedang tiga perkara di akhirat, mendapat kemurkaan Allah, siksa yang jelek, dan azab neraka.” (HR Baihaqi).

    2. Hidup Kekal di Neraka Jahanam

    Di akhirat kelak, pelaku zina akan hidup kekal di Neraka Jahanam. Muka pelaku zina akan ditarik dengan rantai ke jurang neraka paling dahsyat. Hal ini turut digambarkan dalam hadits, sebagaimana dikatakan melalui sabda Rasulullah SAW:

    “Di Jahanam, ada sebuah lembah ada suatu lembah yang dipenuhi oleh ular berbisa. Ukurannya sebesar leher unta dan akan mematuk orang yang meninggalkan sholat. Bisanya akan menggerogoti tubuh selama 70 tahun hingga terkelupas daging-dagingnya.

    Di sana juga terdapat lembag bernama Jubb al-Huzn. Di dalamnya dipenuhi ular dan kalajengking. Ukuran kalajengkingnya sebesar bighal (peranakan keledai atau kuda) dan memiliki 70 sengat. Masing-masing kalajengking memiliki kantung bisa untuk menyengat pezina dan memasukkan isi kantong bisanya ke dalam tubuh pezina itu.

    Pelaku zina akan merasakan kepedihan selama 1000 tahun. Kemudian terkelupaslah daging-dagingnya dan akan mengalir dari kemaluannya nanah dan darah busuk.” (HR Baihaqi).

    3. Dibakar dengan Api yang Berkobar

    Pelaku zina di akhirat nantinya akan dibakar dengan api yang menyala-nyala. Dalam sebuah hadits dari Samurah bin Jundub RA, ia berkata Rasulullah SAW bermimpi didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail, lalu bercerita:

    “Kamu berjalan hingga kami tiba di sebuah dapur yang mulutnya kecil, tetapi di bawahnya luas. Dari dalam lubang itu terdengar suara berisik. Kami pun melongok ke dalamnya. Di sana, kami melihat para lelaki dan wanita telanjang dan dibakar api yang berkobar di bawahnya.

    Saat lidah api menyentuhnya, mereka pun berteriak dengan histeris karena panasnya. Aku lantas bertanya kepada malaikat, ‘Siapakah gerangan itu?’ Malaikat menjawab, ‘Mereka adalah para pezina. Ini azab mereka hingga hari kiamat.’” (HR Bukhari).

    Meskipun hadits tersebut didasarkan pada sebuah mimpi, tetapi mimpi para nabi dapat dikatakan sebagai wahyu yang haq atau benar.

    Demikian dampak negatif bagi pelaku zina di akhirat, yaitu akan mendapat siksaan yang pedih dan kekal. Semoga dapat menjadi renungan untuk selalu menjauhi perbuatan zina ya, detikers!

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com