Tag: al-habib

  • Kota Kuno Dumat al-Jandal Jadi Saksi Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad



    Jakarta

    Sebuah kota kuno di jantung Al-Jouf, Arab Saudi menjadi saksi penting perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW dan perjuangan kaum muslimin. Kota itu bernama Dumat al-Jandal atau dulunya disebut Adumato.

    Seorang arkeolog Saudi, Hussain Al-Khalifah, mengatakan peradaban dan kerajaan telah berkembang di Dumat al-Jandal selama ribuan tahun. Wilayah ini diyakini telah dihuni sekitar milenium kedua sebelum masehi.

    “Saat itu sedang musim hujan dengan sungai dan hutan, kemudian berubah menjadi sabana, kemudian memasuki musim dengan sedikit hujan, kemudian pemukiman berpindah ke lokasi lain di dekatnya seperti situs Al-Jamal dan situs Al-Rajajil,” jelas Hussain dilansir Arab News.


    “Setelah itu, Jazirah Arab berubah menjadi gurun seperti yang kita lihat saat ini. Pada zaman dahulu, manusia berpindah ke tempat-tempat yang memiliki tanah dan sumber air yang subur. Oleh karena itu, Dumat Al-Jandal merupakan salah satu kota tertua yang dihuni sekitar milenium kedua SM,” lanjut arkeolog dengan pengalaman lebih dari 30 tahun itu.

    Dumat al-Jandal, kata Hussain, merupakan salah satu titik penting di jalur perdagangan bagi orang-orang yang datang dari selatan Jazirah Arab. Hal tersebut menjadikan wilayah ini kuat dan kaya.

    Ada beberapa kerajaan dan kekaisaran yang mencoba menguasai Dumat al-Jandal. Salah satunya bangsa Asyur. Akan tetapi, pada waktu yang sama muncul Kerajaan Qedar Arab yang tidak hanya menghalau bangsa Asyur tapi juga memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga mencapai Palestina.

    Dumat al-Jandal sudah ada jauh sebelum era Islam. Pada saat Islam datang, wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Diceritakan dalam Hadza al-Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb karya Abu Bakar Jabir al-Jaziri yang diterjemahkan Iman Firdaus, pada tahun kelima Hijriah, Nabi Muhammad SAW mendengar berita sejumlah musyrikin di Dumat al-Jandal melakukan pencurian, perampokan, dan sering mengganggu kafilah di sana.

    Nabi SAW lantas ingin memberi pelajaran kepada mereka agar daerah itu jauh dari kejahatan dan kezaliman. Selain itu, beliau ingin menggentarkan bangsa Romawi dan penduduk sekitarnya supaya tidak berpikir memerangi beliau dan tak lupa beliau juga ingin berdakwah di sana.

    Rasulullah SAW bertolak ke Dumat al-Jandal bersama seribu pasukan. Setibanya di negeri tersebut, beliau tak menemukan siapa-siapa. Ternyata para musyrikin itu telah kabur dan bercerai-berai karena ketakutan saat mendengar kabar Nabi Muhammad SAW menuju ke sana.

    Nabi Muhammad SAW menginap di Dumat al-Jandal selama beberapa hari. Beliau mengutus pasukannya ke berbagai tempat untuk mencari kaum musyrikin. Namun, nihil. Pasukan Nabi SAW hanya menemukan beberapa ekor unta dan kambing.

    Rasulullah SAW dan kaum muslimin akhirnya kembali ke Madinah tanpa peperangan.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Hanya 1 dari 73 Golongan Umat Nabi yang Akan Selamat, Ini Alasannya


    Jakarta

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW akan terbagi menjadi 73 golongan (firqoh). Namun, hanya 1 di antaranya yang selamat dari ancaman siksa neraka.

    Imam Turmudzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya meriwayatkan hadits tentang penggolongan umat Islam menjadi 73 golongan.

    Terpecahnya umat Islam ke dalam 73 golongan, salah satunya termaktub dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi berikut:


    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: افْتَرَقَ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثَ وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة ، قالوا : ومَن هم يا رسول الله ؟ قال : هم الذي أنا عليه وأصحابي

    Artinya:
    “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan.’”

    Golongan yang Selamat

    Dari 73 golongan tersebut, satu golongan yang selamat adalah golongan orang yang mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan para sahabat (Jama’ah).

    Sebagaimana lanjutan hadits sebelumnya, para sahabat bertanya, “siapakah satu golongan itu?”

    Rasulullah SAW kemudian menjawab, “(Yaitu) siapa saja yang berada di atas apa (ajaran) yang diriku dan (juga) para sahabatku pernah berpegang pada (ajaran) itu.”

    Pandangan Ulama

    Dalam Hadza al-Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mengatakan prediksi Rasulullah SAW tentang terpecahnya umat Islam ke 73 golongan itu benar adanya.

    Menurut para ulama, golongan umat Nabi Muhammad SAW yang selamat maksud dalam hadits adalah golongan ahlu sunnah wal jamaah.

    Sebagaimana disebut dalam buku Teologi Islam Klasik dan Kontemporer karya Achmad Muhibin Zuhri. Dalam hal ini, Ibnu Abbas RA berkata:

    “Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.’ (QS Ali Imran: 106) Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlu sunnah wal Jama’ah, orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan sesat.”

    Di sisi lain, Imam al-Ghazali dalam salah satu kitabnya betajuk Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah menyebutkan dua pendapat, yang salah satunya berlawanan.

    Ia menyebut, bahwa umat yang 73 golongan akan selamat kecuali satu saja yang masuk neraka, yakni kaum kafir zindiq atau kaum yang tidak mempercayai keberadaan Rasulullah SAW.

    Respon para ulama kalam terhadap hadits tentang penggolongan umat Islam menjadi 73 golongan ternyata tidak sama. Dilansir laman Islam NU, setidaknya ada 3 respon dari para ulama yakni:

    1. Hadits-hadits tersebut digunakan sebagai pijakan yang nilainya cukup kuat, untuk menggolongkan umat Islam menjadi 73 firqa, serta di antaranya hanya satu golongan yang selamat dari neraka, yakni Ahlussunnah wal Jama’ah. Kelompok tersebut antara lain Imam Abdul Qahir al-Baghdadi (Al-Farq bainal-Firaq), Imam Abu al-Muzhaffar al-Isfarayini (at-Tabshir fid Din), Abu al-Ma’ali Muhammad Husain al-‘Alawi (Bayan al-Adyan), Adludin Abdurrahman al-Aiji (al-Aqa’id al-Adliyah) dan Muhammad bin Abdulkarim asy-Syahrastani (al-Milal wan Nihal). Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (vol-3) menilai bahwa hadits tersebut bisa diakui kesahihannya.
    2. Hadits-hadits tersebut tidak digunakan sebagai rujukan penggolongan umat Islam, namun juga tidak dinyatakan penolakannya atas hadits tersebut. Di antara kelompok ini yaitu Imam Abu al-Hasan Ali bin Isma’il al-Asy’ari (Maqalatul Islamiyyin wa ikhtilaful Mushollin) dan Imam Abu Abdillah Fakhruddin ar-Razi (I’tiqadat firaqil Muslimin wal Musyrikin). Kedua pakar ilmu kalam ini telah menulis karya ilmiahnya, tanpa menyebut-nyebut hadits-hadits mengenai Iftiraq al-Ummah tersebut. Padahal al-Asy’ari disebut sebagai pelopor Ahlussunnah wal Jama’ah.
    3. Hadits Iftiraqul Ummah tersebut dinilai sebagai hadits dla’if (lemah). Hal ini membuatnya tidak bisa dijadikan rujukan. Di antara mereka adalah Ali bin Ahmad bin Hazm adh-Dhahiri, (Ibn Hazm, al-Fishal fil-Milal wal-Ahwa’ wan-Nihal).

    Wallahu a’lam.

    (khq/fds)



    Sumber : www.detik.com