Tag: al-quran

  • 3 Bacaan Doa Iftitah, Lengkap dengan Maknanya


    Jakarta

    Doa Iftitah adalah doa yang dibaca setelah takbiratul ihram sebagai pembukaan dalam salat. Meskipun tidak wajib, doa ini sangat dianjurkan karena maknanya yang mendalam.

    Sebagaimana diterangkan Rasulullah SAW dalam sabdanya,

    “Tidak sempurna shalat seseorang sebelum dia bertakbir, memuji Allah azza wa jalla, menyanjungnya, dan membaca ayat-ayat Al-Quran yang dihafalnya.” (HR. Abu dawud dan Hakim.)


    Doa iftitah bukan hanya sekadar lafaz yang dihafal dan dibaca setiap kali setelah takbiratul ihram, tetapi juga harus dipahami kedalaman maknanya, sebagai renungan dalam setiap ibadah salat. Berikut adalah bacaan doa iftitah dan artinya.

    Bacaan Doa Iftitah

    Dikutip dari kitab Khasiat Zikir dan Doa karya Imam Nawawi terjemahan Bahrun Abu Bakar, berikut beberapa bacaan doa iftitah dan artinya.

    Doa Iftitah Versi 1

    اللهُ أَكْبَرَ كَبِيراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِماً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَالِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

    Arab Latin: Allaahu akbar kabiiraw wal hamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanal- laahi bukrataw wa ashiilaa, wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardla haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin, inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaati lillaahi rabbbil ‘aalamiin, laa syariikalahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimiin.

    Artinya: “Allah Mahabesar dengan sebesar-besarnya, dan segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya. Mahasuci Allah pagi dan petang. Aku menghadapkan diriku kepada Tuhan Yang telah menciptakan langit dan bumi dengan meluruskan ke- taatan kepada-Nya dan berserah diri, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya salatku, semua ibadahku, hidup dan matiku hanyalah bagi Allah, Rabb semesta alam; tiada sekutu bagi-Nya. Dan dengan demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah termasuk orang-orang yang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau adalah Rabbku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah segala dosaku; tiada seorang pun yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, tiada seorang pun yang dapat memberikan petunjuk kepada akhlak yang paling baik kecuali Engkau, dan palingkanlah diriku dari akhlak yang buruk, tiada seorang pún yang dapat memalingkan dari akhlak yang buruk kecuali Engkau. Aku penuhi seruan-Mu dan aku merasa bahagia dengan menjalankan seruan-Mu. Semua kebaikan berada di tangan kekuasaan-Mu, dan kejahatan itu bukan bersumber dari-Mu, aku memohon pertolongan kepada-Mu dan berserah diri kepada-Mu, Mahaagung lagi Mahatinggi Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”

    Doa Iftitah Versi 2

    Seorang muslim juga bisa membaca doa iftitah berikut.

    اللهم باعد بينِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَا عَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ تقْنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنقى الثوبُ الْأَرْضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

    Arab Latin: Allahumma baa’id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii minal khathaayaa kamaa yunaqqatsawbul abyadlu minaddanasi. Allahummaghsil khathaayaaya bil maai watstsalji walbaradi.

    Artinya: Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan dosa-dosaku, seba- gaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotorannya. Ya Allah, cucilah diriku dari dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun.”

    Doa Iftitah Versi 3

    Selain doa iftitah dan artinya tersebut, ada pula doa iftitah lain yang dapat dibaca berdasarkan hadits riwayat Imam Baihaqi, dari Umar RA, yang mengatakan bahwa,

    انَّهُ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ.

    “Beliau SAW melakukan takbiratul ihram, lalu mengucapkan doa berikut, ‘Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada-Mu, Maha Agung asma-Mu dan Maha Tinggi keagungan-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau’.”

    Disunnahkan untuk menggabungkan semua bacaan doa iftitah bagi orang yang salat sendirian, juga bagi imam, apabila para makmum menyetujuinya. Jika para makmum tidak menyetujui membaca gabungan semua doa iftitah, imam tidak boleh memperpanjang salat bersama mereka, melainkan cukup dengan sebagian dari doa iftitah tersebut.

    Tetapi sudah cukup baik jika ia meringkas bacaannya hanya pada, “Aku menghadapkan diriku hingga termasuk orang-orang muslim.” Demikian pula bagi orang yang salat sendirian, jika ia memilih memperpendek bacaan iftitahnya.

    Makna Doa Iftitah

    Doa Iftitah, menurut buku Berdzikirlah! Pasti Hatimu akan Tenang karya Nurul Qamariyah, mengandung beberapa makna yang bisa direnungkan oleh umat Islam. Salah satunya adalah pujian kepada Allah SWT.

    Doa yang dibaca setelah takbiratul ihram ini dimulai dengan pujian yang mengagungkan-Nya, yakni “Allaahu akbar kabiiraw wal hamdu lillaahi katsiraw wa subhaanallaahi bukrataw wa ashilaa” (Allah Mahabesar dengan sebesar-besarnya, dan segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya.)

    Dengan memuji Allah SWT melalui kalimat ini, seorang muslim senantiasa mengagungkan-Nya.

    Selain itu, doa ini juga menunjukkan penyerahan sepenuhnya kepada Allah SWT. Ini adalah janji seorang muslim dengan tulus untuk mengikuti petunjuk-Nya. Kalimat “Wamaa ana minal musrykiin” (dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya) menunjukkan ketundukan dan kepatuhan yang mendalam kepada Allah SWT.

    Dengan mengucapkan kalimat ini, muslim menegaskan bahwa dia telah sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya, sehingga tidak ada kekhawatiran dalam menjalani kehidupan.

    Selanjutnya, seorang muslim menegaskan kembali penyerahan dirinya dengan kalimat, “Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin” (Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya bagi Allah semata, Tuhan Penguasa Semesta Alam). Kalimat ini menggambarkan penyerahan total yang jarang direnungkan dalam salat.

    Terakhir, setelah menyerahkan diri sepenuhnya, muslim berjanji untuk tidak menyekutukan Allah SWT dengan ucapan: “Laa syariikalahu” (Tiada sekutu bagi-Nya). Kalimat ini adalah seorang muslim untuk hanya mengabdi dan berserah diri kepada Allah SWT.

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Doa agar Rezeki Tidak Terputus, Yuk Amalkan Tiap Hari!



    Jakarta

    Ada doa yang dapat dibaca untuk mengharapkan agar rezeki tidak terputus. Doa ini tentu saja dipanjatkan dan ditujukan kepada Allah SWT semata.

    Setiap makhluk memiliki rezekinya masing-masing yang telah ditetapkan Allah SWT. Namun, rezeki itu harus dijemput melalui usaha dan juga doa.

    Mengutip buku Seni Menikmati Hidup : Perspektif Al-Quran, Hadis, dan Ulama’ karya Abdul Aziz, rezeki dianggap sebagai bagian dari ketentuan ilahi yang telah ditetapkan sejak awal penciptaan. Setiap makhluk memiliki takdir rezekinya masing-masing yang telah diputuskan oleh Allah SWT. Takdir ini mencakup segala aspek kehidupan, termasuk harta, kesehatan dan kesuksesan.


    Rezeki setiap orang telah ditentukan oleh Allah SWT dengan porsi takarannya masing-masing. Meskipun seseorang berusaha dengan sekuat tenaga, jika itu bukan bagian dari rezekinya, maka hasilnya tidak akan diperoleh.

    Imam Syafi’i mengatakan, “Aku mengetahui bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka menjadi tenanglah hatiku.”

    Selain berusaha, umat Islam juga diperintahkan untuk berdoa. Doa menjadi tanda keimanan seorang muslim karena menjadi perintah Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’min ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

    Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

    Kumpulan Doa agar Rezeki Tak Terputus dan Mendapat Berkah

    Berdoa menjadi bentuk ikhtiar dalam menjemput rezeki. Berikut beberapa doa yang dapat dibaca agar rezeki tidak terputus dan mendapat keberkahan. Dirangkum dari buku 5 Shalat Pembangun Jiwa karya Abdul Rohim, berikut doa yang dapat dibaca:

    1. Doa agar Rezeki Tak Terputus Versi Pertama

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَزَقَنِي هَذَا مِنْ خَيْرٍ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ، اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ.

    Arab latin: Alhamdu lillaahil ladzii rozaqonii haadzaa min ghoiri haulin minnii wa laa quwwatin. Alloohumma baarik fiihi.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberi rezeki kepadaku dengan tidak ada daya dan kekuatan bagiku. Ya Allah, semoga Engkau berkahi rezekiku.”

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَعِيمًا مُقِيمًا الَّذِي لَا يَحُولُ وَلَا يَزُولُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ.

    Arab latin: Alloohuma innii as-alukan naʼiimal muqiimal ladzii laa yahuulu wa laa yazuulu. Alloohumma innii as- alukal amna yaumal khouf.

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu nikmat yang kekal, yang tidak berpindah dan hilang. Ya Allah, aku memohon kepada- Mu keamanan pada hari ketakutan.”

    2. Doa agar Rezeki Tak Terputus Versi Kedua

    اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مَا يَكْفِينِي وَامْنَعْنِي مَا يُطْعِيْنِي.

    Arab latin: Alloohummarzuqnii maa yakfiinii wamna’ ‘annii maa yuthghiinii.

    Artinya: “Ya Allah, berikanlah aku rezeki yang cukup dan baik, cegahlah diriku dari rezeki yang mencelakakan aku.”

    3. Doa agar Rezeki Tak Terputus Versi Ketiga

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقًا حَلَالاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلَا مَشَقَّةٍ وَلَأَضَيْرٍ وَلَا نَصَبِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

    Arab latin: Alloohumma innii as-aluka an tarzuqonii rizqon halaalan waasi’an thoyyiban min ghoiri ta’abin wa laa masyaqqotin wa laa dhoirin wa laa nashobin innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir.

    Artinya: “Ya Allah, aku minta pada Engkau rezeki yang halal, luas, baik, tanpa kerepotan, kemelaratan, dan tanpa keberatan. Sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu.”

    4. Doa agar Rezeki Tak Terputus Versi Keempat

    رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

    Arab latin: Rabbi innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiir

    Artinya: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku

    5. Doa agar Rezeki Tak Terputus Versi Kelima

    اللهم رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

    Arab latin: Allaahumma rabbanaa anzil ‘alainaa maa’idatam minas samaa’i takunu lana ‘iidal li’awwalinaa wa aakhirinaa wa aayatam mingka warzuqnaa wa anta khairur raaziqiin.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rezeki dan Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki.”

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Azab bagi Kaum Madyan, Hawa Panas dan Petir Menggelegar



    Yogyakarta

    Dalam Al-Qur’an disebutkan kaum Madyan adalah golongan yang mengingkari Allah dan mengabaikan peringatan dari Nabi Syuaib AS. Kaum Madyan kemudian ditimpa azab yang mengerikan berupa badai petir dan hawa panas sebagai hukuman.

    Penduduk negeri Madyan adalah umat Nabi Syuaib AS. Disebutkan dalam buku Pemahaman Terjemahan Ayat Suci Al Qur’an oleh Zen Muhammad Al Hadi, nama Madyan diambil dari salah seorang putra Nabi Ibrahim AS, yang kemudian menjadi nama bagi anak keturunan dan pengikutnya, yakni kaum Madyan.

    Kota Madyan (Yordania) adalah kota yang makmur dan memiliki padang rumput yang luas. Terletak di sebelah timur daerah Sinai berdekatan dengan Teluk Aqabah. Di zaman sekarang, daerah tersebut berada di sebelah selatan Palestina.


    Kaum Madyan, Golongan Orang yang Ingkar

    Mayoritas kaum Madyan berprofesi sebagai pedagang, tetapi tidak jujur dalam timbangan dan sering melakukan penipuan. Kaum Madyan juga dikenal sebagai penyembah berhala dan suka mengurangi timbangan serta menumpuk harta.

    Sementara itu dalam beberapa sumber, Madyan adalah negeri yang sangat korup dalam aktivitas dagangnya. Jika ada kafilah yang datang ke negeri itu untuk menjual barang, mereka segera mengeluarkan timbangan yang beratnya sudah dikurangi.

    Allah pun mengutus Nabi Syuaib AS kepada mereka. Nabi Syuaib memerintahkan mereka untuk menyembah Allah semata. Ia pun melarang mereka berbuat kezaliman yakni dengan berhenti mengurangi takaran dan timbangan.

    Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 84 yang berbunyi:

    وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗوَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ اِنِّيْٓ اَرٰىكُمْ بِخَيْرٍ وَّاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيْطٍ

    Artinya: Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan! Sesungguhnya Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang meliputi (dan membinasakanmu, yaitu hari Kiamat).”

    Peringatan dari Nabi Syuaib AS

    Atas segala kemungkaran dan perbuatan tercela yang diperbuat oleh kaum Madyan, Allah SWT memerintahkan Nabi Syuaib AS untuk memberi peringatan bagi kaum tersebut. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 89:

    وَيٰقَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِيْٓ اَنْ يُّصِيْبَكُمْ مِّثْلُ مَآ اَصَابَ قَوْمَ نُوْحٍ اَوْ قَوْمَ هُوْدٍ اَوْ قَوْمَ صٰلِحٍ ۗوَمَا قَوْمُ لُوْطٍ مِّنْكُمْ بِبَعِيْدٍ

    Artinya: “Wahai kaumku, janganlah sekali-kali pertentanganku (denganmu) menyebabkan apa yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud, atau kaum Saleh juga menimpamu, sedangkan (tempat dan masa kebinasaan) kaum Lut tidak jauh dari kamu.”

    Kemudian, kaum Madyan justru berkata, “Wahai Syuʻaib, Kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu, sedangkan kami sesungguhnya memandang engkau sebagai seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah melemparimu (dengan batu), sedangkan engkau pun bukan seorang yang berpengaruh atas kami.”

    Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri dalam bukunya Hikmah Kisah Nabi dan Rasul, menyebutkan bahwa Nabi Syuaib berhasil menyadarkan sebagian kecil dari kaumnya. Akan tetapi sebagian besar kaum Madyan masih tertutup hatinya terhadap Allah.

    Mereka malah menuduh Nabi Syuaib sebagai tukang sihir yang ulung dan menentang Nabi Syuaib untuk membuktikan kebenaran dari risalahnya dengan mendatangkan bencana dari Allah.

    Mendengar tantangan tersebut, Nabi Syuaib pun berdoa dan memohon kepada Allah untuk menurunkan azab bagi kaum Madyan sebagai peringatan bagi generasi di masa yang akan datang.

    Azab bagi Kaum Madyan

    Allah mengabulkan permohonan Nabi Syuaib dan menurunkan udara yang sangat panas. Udara tersebut dapat mengeringkan kerongkongan karena menimbulkan dahaga yang tidak dapat dihilangkan oleh air.

    Udara tersebut juga membakar kulit dan tidak dapat dihindari dengan berteduh di bawah atap rumah atau rerimbunan pohon.

    Kaum Madyan yang ingkar berada dalam kebingungan dan kepanikan. Mereka berlari ke sana ke mari mencari perlindungan dari panasnya terik matahari yang membakar.

    Kemudian terlihat gumpalan awan hitam tebal di atas kepala mereka, lalu mereka berbondong-bondong lari untuk berteduh di bawah awan tersebut.

    Namun, setelah mereka berada di bawah awan hitam sembari berdesakan, jatuhlah percikan api dari awan hitam itu ke kepala mereka diiringi dengan suara petir dan gemuruh ledakan yang sangat dahsyat.

    Pada saat itu bumi di bawah mereka bergoyang dengan kuatnya sehingga mereka berjatuhan, saling tertimbun satu sama lain, dan selesailah sudah riwayat mereka. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an Surat Hud ayat 94.

    وَلَمَّا جَاۤءَ اَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَّالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّاۚ وَاَخَذَتِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دِيَارِهِمْ جٰثِمِيْنَۙ

    Artinya: Ketika keputusan Kami (untuk menghancurkan mereka) datang, Kami selamatkan Syuʻaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Adapun orang-orang yang zalim, mereka dibinasakan oleh suara yang menggelegar sehingga mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka.

    Ahmad Fatih, S.Pd. dalam buku Menengok Kisah 25 Nabi dan Rasul menyebutkan bahwa ketika datang azab, Allah menyelamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman. Dalam Al-Qur’an Surat Al Araf disebutkan gempa yang dahsyat, sedangkan di dalam Surat Asy-Syura disebutkan azab pada hari mereka dinaungi oleh awan.

    Fakta tersebut diperkuat dan diperjelas dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 95.

    كَاَنْ لَّمْ يَغْنَوْا فِيْهَا ۗ اَلَا بُعْدًا لِّمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُوْدُ

    Artinya: (Negeri itu tak berbekas) seolah-olah mereka tidak pernah tinggal di sana. Ingatlah, (penduduk) Madyan binasa sebagaimana juga (kaum) Samud.

    Dalam hal ini, tempat tinggal orang-orang Madyan bertetangga dengan orang-orang Samud. Berdasarkan sejarah, mereka kurang lebih berbuat kekufuran yang sama, yakni suka merampas yang bukan haknya.

    Demikian azab yang menimpa kaum Madyan . Azab dan hukuman yang dilimpahkan pada kaum Madyan merupakan balasan yang setimpal atas kedurhakaan yang telah mereka lontarkan kepada Nabi Syuaib AS sebagai utusan Allah.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Darda, Sahabat Nabi yang Merupakan Ahli Hikmah



    Jakarta

    Abu Darda merupakan satu dari sekian banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang kisahnya menginspirasi. Ia merupakan seorang ahli hikmah yang memiliki pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari Al-Qur’an.

    Menurut buku Ibrah Kehidupan yang disusun oleh Mahsun Djayadi, nama lengkap Abu Darda adalah Abu Darda’ Uwaimir bin Amir bin Malik bin Zaid bin Qais bin Umayyah bin Amir bin Adi bin Ka’ab bin Khazraj bin al-Harits bin Khazraj. Sementara Abu Darda atau Uwaimir merupakan panggilan populernya.

    Masuk Islamnya Abu Darda bermula ketika berhalanya dirusak oleh temannya sendiri. Kala itu ia langsung berpikir, jika saja berhala tersebut memang berkuasa tentu dia mampu menyelamatkan dirinya sendiri saat dirusak.


    Dari situlah mulai timbul benih-benih keimanan kepada Allah. Akhirnya, Abu Darda menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW.

    Khalid Muhammad Khalid dalam buku yang bertajuk Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW mengisahkan Abu Darda sebagai seseorang yang tidak pernah berhenti belajar. Dia selalu merenung, berpikir, dan berguru kepada Nabi Muhammad SAW hingga menjadi ahli hikmah.

    Di masa Rasulullah, pendapat Abu Darda sebagai ahli hikmah bahkan menjadi pegangan umat Islam karena ia selalu menyeru kepada kebaikan.

    Semasa kekhalifahan Utsman bin Affan, beliau mengangkat Abu Darda sebagai hakim di Syam. Ia merupakan seseorang dengan penuh pesona, hatinya berisi perasaan cinta pada akhirat, bahkan sehari-harinya beliau membuka majelis-majelis taklim.

    Mengutip dari buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul tulisan Ummu Akbar, Abu Darda berkata,

    “Bila Anda menghendaki saya pergi ke Syam, saya mau pergi untuk mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah kepada mereka serta menegakkan sholat bersama-sama mereka,”

    Utsman lantas menyetujui maksud Abu Darda. Selanjutnya ia berangkat ke Damsyiq dan di sana ternyata masyarakat tenggelam dalam kenikmatan dunia serta hidup bermewah-mewah.

    Keadaan tersebut lantas membuat Abu Darda sedih, ia kemudian memperingati mereka agar tidak melupakan kehidupan akhirat. Sayangnya, masyarakat Damsyiq tidak menyukai sifat Abu Darda, terlebih dengan nasihat-nasihatnya.

    Agar tidak berlarut-larut, Abu Darda lalu mengumpulkan orang-orang di masjid untuk berpidato di hadapan mereka.

    “Wahai penduduk Damsyiq! Kalian adalah saudaraku seagama, tetangga senegeri, dan pembela dalam melawan musuh bersama. Wahai penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah yang menyebabkan kalian tidak menyenangi saya? Padahal, saya tidak mengharapkan balas jasa dari kalian. Nasihatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian,” kata Abu Darda.

    Ia berpidato cukup panjang hingga membuat orang-orang yang mendengar menangis. Isak tangisnya bahkan terdengar hingga ke luar masjid.

    “Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orang-orang bodoh tetap saja bodoh. Saya hanya mengharapkan kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah Taala dan menghentikan segala larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan banyak-banyak, tetapi tidak kalian pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung yang mewah, tetapi tidak kalian tempati,” beber Abu Darda.

    Sejak hari itu, Abu Darda mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Dia akan menjawab pertanyaan orang yang lalai.

    Suatu hari, ketika Abu Darda sedang berjalan-jalan ia melihat sekelompok orang yang memaki seorang laki-laki. Melihat hal itu, Abu Darda segera menghampiri mereka.

    “Apa yang terjadi?” tanyanya

    “Orang ini jatuh ke dalam dosa besar,” jawab mereka.

    “Seandainya dia jatuh ke dalam sumur, apakah kalian akan membantunya keluar dari sumur itu?” ujar Abu Darda.

    “Tentu saja!” sahut sekelompok orang tersebut.

    “Karena itu, janganlah kalian mencaci dia, tapi ajari dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari dosa,” kata Abu Darda menanggapi.

    Orang yang bersalah itu lantas menangis dan bertobat.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi yang Memiliki Kekayaan dan Mampu Berkomunikasi dengan Hewan, Ini Sosoknya



    Jakarta

    Nabi Sulaiman adalah nabi yang memiliki kekayaan dan mampu berkomunikasi dengan hewan. Beliau adalah salah satu putra Nabi Daud yang diangkat menjadi raja bagi Bani Israil untuk menggantikan ayahnya.

    Nabi Sulaiman juga dikenal memiliki kekayaan berupa kerajaan yang sangat luas dan kekuasaan yang besar. Ia mampu menaklukkan bangsa jin dengan izin Allah SWT. Melalui bantuan jin inilah beliau mampu membangun istana yang megah dan benteng yang tinggi. Namun, kekayaan ini tidak membuatnya menjadi sosok yang angkuh dan sombong.

    Allah SWT telah mengajarkan Nabi Sulaiman bahasa burung dan semua bahasa hewan. Hal ini membuat Nabi Sulaiman mampu berkomunikasi dengan hewan dan mengerti pembicaraan hewan yang umumnya tidak diketahui oleh manusia.


    Kekayaan Nabi Sulaiman

    Dikisahkan dalam buku Cara Kaya Seperti Nabi Sulaiman karya Ahmad Zainal Abidin, dari catatan sejarah, Nabi Sulaiman adalah orang yang paling kaya seantero dunia. Ia menguasai seluruh dunia selama 40 tahun dan memiliki istana yang terbuat dari kayu gaharu serta memiliki bau harum emas. Bagian dari istananya juga ada yang terbuat dari kristal berkilau.

    Bisa dikatakan, Nabi Sulaiman menjadi satu-satunya nabi memiliki teknologi yang maju di masanya. Di istananya, banyak karya seni dan benda berharga yang mengesankan bagi semua orang yang menyaksikannya. Pintu gerbang istananya terbuat dari gelas sehingga tidak heran jika istana Nabi Sulaiman menjadi istana paling besar di dunia.

    Namun, meski Nabi Sulaiman memiliki kekayaan berupa kerajaan yang megah dan luas, ia tetap menunjukkan sikap berserah diri dan rendah diri kepada Allah SWT dan manusia.

    Nabi Sulaiman menyadari bahwa seluruh kekuasaan yang dimilikinya tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Ia menggunakan semua kekayaannya hanya untuk menegakkan kebaikan. Sebagaimana ayahnya yang selalu bertasbih, Nabi Sulaiman juga kerap memuji Allah SWT.

    Tujuan Nabi Sulaiman meminta diberikan kerajaan dan kekayaan kepada Allah SWT tidak terlepas dari tujuan luhur untuk berdakwah.

    Dalam salah satu riwayat, Rasulullah SAW berkata, “Permintaan yang diajukan oleh Nabi Sulaiman AS untuk mendapatkan pemerintahan yang besar dan meluas bertujuan agar ia bisa mengalahkan kefasikan dan kerusakan para setan.” (HR Bukhari).

    Karunia Allah SWT kepada Nabi Sulaiman berupa kekayaan yang melimpah juga menjadi teladan bagi orang-orang yang memiliki kekayaan. Dalam kondisi sekaya apapun, seseorang tidak boleh melampaui batas atau bahkan merasa sombong atas kekayaannya.

    Kemampuan Nabi Sulaiman yang Berkomunikasi dengan Hewan

    Selain menjadi nabi yang memiliki kekayaan, Nabi Sulaiman juga memiliki kemampuan berkomunikasi dengan hewan. Disebutkan dalam buku Sulaiman: Raja Segala Makhluk karya Humam Hasan Yusuf Salom, Nabi Sulaiman dapat memahami bahasa burung dan saling berbincang satu sama lain atas izin Allah SWT. Hal ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 16, sebagaimana Allah SWT berfirman:

    وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ

    Artinya: “Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia, kami telah diajari (untuk memahami) bahasa burung dan kami dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.” (QS An-Naml: 16).

    Terdapat pula kisah Nabi Sulaiman berkomunikasi dengan semut yang diceritakan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya H. Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri.

    Suatu hari ketika Nabi Sulaiman berpergian dalam rombongan kafilah yang terdiri dari manusia, jin, dan binatang-binatang, Nabi Sulaiman mendengar seekor semut berkata kepada kawanannya.

    “Hai semut-semut, masuklah kamu semuanya ke dalam sarangmu agar kamu selamat dan tidak menjadi binasa diinjak oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya tanpa sadar dan sengaja.”

    Nabi Sulaiman tersenyum tertawa setelah mendengar suara semut yang ketakutan itu. Beliau kemudian memberitahukan hal tersebut kepada pra pengikutnya untuk tidak menginjak jutaan semut dan sarangnya yang ada di depan mereka.

    Nabi Sulaiman sangat mensyukuri karunia yang diberikan Allah SWT kepadanya sehingga menjadikan dirinya dapat mendengar dan menangkap maksud suara semut. Kisah ini juga dikisahkan dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 17-19

    وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ

    حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

    فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

    Artinya: (17) Untuk Sulaiman di kumpulkanlah bala tentara dari (kalangan) jin, manusia, dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib. (18) hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” (19) Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An-Naml: 17-19).

    Keistimewaan Nabi Sulaiman yang mampu berkomunikasi dengan semut mengajarkan kepada umat manusia agar peduli terhadap semua makhluk ciptaan Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW pun pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menyelamatkan semut yang sedang berada di tengah air dan akan tenggelam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ahli Ibadah Sahur di Dunia, Buka Puasa di Surga



    Jakarta

    Ada suatu kisah dari salah seorang ahli ibadah yang sahur di dunia dan buka puasa di surga. Ia merupakan sosok yang kedatangannya dinantikan bidadari surga.

    Adalah Sa’id bin al-Harits. Ia merupakan salah satu pejuang muslim dalam perang melawan Kekaisaran Romawi pada 38 H. Perang tersebut dikenal dengan Perang Yarmuk, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Al-Buldan Futuhuha wa Ahkamuha karya Syaikh Al-Baladzuri.

    Kisah Sa’id bin Al-Harits yang berbuka puasa di surga ini diceritakan oleh Hisyam bin Yahya al-Kinani dalam buku Qiyam Al-Lail wa Al-Munajat ‘inda Al-Sahr karya Sallamah Muhammad Abu Al-Kamal. Kisah ini turut dinukil oleh Ahmad Zacky El-Syafa dalam buku Ia Hidup Setelah Mati 100 Tahun.


    Diceritakan, Hisyam bin Yahya al-Kinani dan rombongannya melakukan peperangan di negeri Romawi. Pemimpin mereka saat itu bernama Maslamah bin Abdul Malik. Mereka berteman dengan penduduk Bashrah.

    Selama di sana, mereka saling bergiliran melayani pasukan, berjaga, mencari bekal, dan mempersiapkan makanan dalam satu tempat. Di antara rombongan mereka ada Sa’id bin al-Harits.

    Selama di medan jihad, Sa’id bin al-Harits berpuasa pada siang hari dan mengerjakan salat pada malam harinya. Hisyam bin Yahya al-Kinani mengaku setiap siang maupun malam melihat Sa’id bin al-Harits sangat sabar dalam beribadah. Di luar waktu salat atau ketika sedang dalam perjalanan, ia tidak pernah berhenti berzikir dan membaca Al-Qur’an.

    Hisyam pun mengatakan kepada Sa’id agar menyayangi dirinya. Namun, Sa’id menjawab, “Saudaraku, napas bisa dihitung, umur ada batasnya, dan hari-hari pun akan berakhir. Aku sedang menunggu kematian, dan tak lama lagi nyawaku akan dicabut.”

    Jawaban tersebut membuat Hisyam menangis dan ia berdoa kepada Allah SWT agar menganugerahkan pertolongan dan keteguhan kepada Sa’id. Ia lalu meminta Sa’id untuk istirahat di kemah dan ia yang berjaga.

    Saat tidur tersebut, Sa’id berbicara dan tertawa dengan mata tetap terlelap. Ia mengatakan ‘Aku tidak ingin kembali.’ Kemudian, ia mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu. Kemudian, ia menarik kembali tangannya dengan pelan sambil tertawa. Ia lalu berkata, “Malam ini saja!”

    Setelah itu ia terbangun dengan tubuh gemetar. Ia menengok ke kanan dan kiri, lalu diam hingga kesadarannya pulih. Dia kemudian bertahlil, bertakbir, dan memuji Allah SWT. Hisyam kemudian memintanya menceritakan apa yang tengah dialaminya.

    Sa’id menceritakan didatangi oleh dua orang laki-laki dengan wajah rupawan. Mereka berkata, “Bangunlah agar kami bisa memperlihatkan nikmat yang Allah sediakan untukmu.”

    Sa’id lalu menceritakan, dalam tidurnya, ia melihat istana dan bidadari-bidadari yang menyambutnya. Ia berjalan-jalan dalam istana itu sampai ke sebuah kasur yang di atasnya terdapat satu bidadari yang seolah-olah ia adalah permata yang disimpan.

    Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah cukup lama aku menantimu.”

    Sa’id bertanya, “Siapa kamu?”

    Bidadari menjawab, “Aku adalah istrimu yang abadi.”

    Sa’id kemudian mengulurkan tangan kepadanya, namun bidadari itu menampiknya dengan lembut seraya berkata, “Hari ini belum bisa. Sebab engkau masih harus kembali ke dunia.”

    Sa’id lalu berkata kepadanya, “Aku tidak ingin kembali.”

    Bidadari itu menjawab, “Engkau harus kembali. Engkau masih harus tinggal di dunia selama tiga hari. Pada malam ketiga, engkau akan berbuka bersama kami. Insya Allah.”

    Sa’id kemudian berkata, “Malam ini saja!” Namun bidadari itu menjawab, “Perkara ini telah ditetapkan.” Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan saat itulah Sa’id terbangun dari tidurnya dengan tubuh gemetar. Ia kemudian keluar kemah untuk mandi dan bersuci lalu memakai kain kafannya.

    Pada pagi harinya, ia menyerang musuh dengan sangat hebat dalam kondisi berpuasa. Ia mencari kematian di jalan Allah SWT. Setelah tiba waktu sore ia berbuka. Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama. Hingga tibalah pada hari ketiga.

    Ketika matahari hampir terbenam, salah seorang prajurit Romawi melemparkan anak panah dan mengenai Sa’id. Ia pun tersungkur. Hisyam lalu berlari mendekatinya seraya berkata, “Selamat berbahagia! Engkau akan berbuka di istana itu pada malam hari ini. Aduhai, andai saja aku bisa ikut bersamamu.”

    Mendengar itu Sa’id pun tertawa. Kemudian ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kita.”

    Sa’id pun syahid dalam keadaan masih berpuasa. Petang itu, ia berbuka bersama bidadari di surga. Wallahu a’lam.

    (kri/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Peristiwa Pasukan Gajah di Balik Surat Al-Fiil, Bagaimana Kisahnya?



    Jakarta

    Surat Al-Fiil terdiri dari lima ayat, berada di urutan ke-105 dalam susunan mushaf Al-Qur’an, dan termasuk kelompok surat Makkiyah. Kata ‘Al-Fiil’ yang artinya “gajah” diambil dari ayat pertama surat ini, dan dinamakan demikian pula karena menceritakan riwayat pasukan bergajah. Bagaimana kisahnya?

    M. Quraish Shihab melalui Tafsir Al-Mishbah Jilid 15 menjelaskan tema utama Surat Al-Fiil mengenai uraian atas kegagalan upaya perluasan wilayah oleh Abrahah al-Asyram al-Habasyi bersama pasukan bergajahnya yang dikerahkan dari Yaman menuju Makkah untuk menghancurkan Kakbah.

    Tafsir Tahlili Kementerian Agama (Kemenag) Jilid 10 turut menyebut isi kandungan Surat Al-Fiil terkait kisah pasukan bergajah yang diazab oleh Allah SWT dengan mengirimkan sejenis burung yang menyerang mereka hingga binasa.


    Seperti apa riwayat tentang pasukan bergajah ini? Simak berikut ini!

    Kisah Abrahah dan Pasukan Gajah yang Ingin Hancurkan Kakbah

    Masih dari Tafsir Tahlili Kemenag Jilid 10, peristiwa ini diketahui terjadi pada tahun 570 M, bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengatakan, kejadian ini berlangsung tak lebih dari dua bulan sebelum lahirnya beliau SAW.

    Para ahli tafsir dan sejarawan Arab mengemukakan bahwa peristiwa itu bermula ketika terjadi pembunuhan besar-besaran ata orang Nasrani oleh Zu Nuwaz, raja Himyar terakhir yang beragama Yahudi.

    Mendengarnya, raja Abisinia segera mengirim pasukan besar setelah dihubungi untuk minta bantuan. Bala tentara itu dipimpin oleh dua orang pangeran, Aryat dan Abrahah sebagai wakil raja, dan pasukan ini dikirim untuk menaklukkan Yaman.

    Tapi tak lama, percekcokan mencuat sampai memuncaknya pertarungan antara Aryat dan Abrahah. Pertengkaran berakhir dengan terbunuhnya Aryat. Dengan begitu, Yaman berada di bawah pengawasan Abrahah sebagai wakil raja dan gubernurnya.

    Kemudian Abrahah mendirikan sebuah katedral besar Sa’an. Dan konon dibangun dengan barang-barang mewah, pualam dibawa dari peninggalan istana Ratu Saba’, ornamen salib dari emas dan perak, serta mimbar dari gading dan kayu hitam.

    Tujuannya didirikan dengan megah dan hebat itu dengan maksud mengambil hati raja atas tindakannya itu. Sekaligus ia ingin agar perhatian masyarakat Arab yang setiap tahun berziarah ke Kakbah di Makkah, berganti menjadi ke gereja besar Sa’an itu.

    Lantaran harapannya tak pernah terwujud dengan berbagai cara, maka ia tak punya jalan lain selain harus menghancurkan Kakbah.

    Didorong oleh ambisi dan fanatisme agama, Abrahah mengerahkan dan memimpin sebuah pasukan besar disertai pasukan gajah-yang kala itu orang Arab masih asing sekali-menuju Makkah. Ia ingin sekali menyerang Kakbah, dan bahkan Abrahah berada paling depan dan di atas seekor gajah besar.

    Singkatnya, setelah Abrahah dan bala tentaranya masuk wilayah Hijaz dan sudah hampir dekat dengan Makkah, ia lalu mengirim pasukan berkuda sebagai kurir. Dalam perjalanan itu, mereka merampas harta kaum Quraisy, di antaranya 200 ekor unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Nabi SAW. Melihat banyaknya gerombolan Abrahah, Quraisy tak mungkin mampu melawan.

    Lalu Abrahah mengirim seorang Himyar pengikutnya untuk mendatangi Abdul Muthalib, yang kala itu merupakan pembesar di Makkah. Utusan Abrahah itu meruntuhkan Kakbah, sehingga pihak Makkah tak perlu mengadakan perlawanan.

    Mendengar itu, konon Abdul Muthalib mendatangi markas pasukan itu, diantar oleh utusan Abrahah, dengan diikuti anak-anaknya dan beberapa tokoh pemuka Makkah lain.

    Sesampainya Abdul Muthalib, Abrahah yang melihat figurnya bertubuh tegap besar dan tampan, lalu ia turun dari singgasananya untuk menyambut dengan hormat, dan duduk bersama-sama dengan tamunya itu.

    Menjawab pertanyaan Abrahah melalui penerjemahnya apa yang diperlukan Abdul Muthalib dengan kedatangannya itu, konon dijawab bahwa ia mau meminta 200 ekor yang dirampas pasukannya dikembalikan.

    Yang sebelumnya Abrahah hormat dan kagum kepada Abdul Muthalib saat melihatnya, ia menjadi tidak lagi setelah mengetahui kedatangannya yang hanya membicarakan 200 ekor unta miliknya yang dirampas anak buahnya. Bukan perihal rumah suci yang mendasari agamanya dan agama nenek moyangnya. Adapun Kedatangannya akan menghancurkan Kakbah tidak disinggung sama sekali.

    Akan tetapi, Abdul Muthalib menjawab bahwa ia pemilik unta, bukan pemilik Kakbah. Rumah suci itu milik Allah SWT, dan Dialah yang akan melindunginya. Abdul Muthalib dan beberapa pemuka Makkah lalu menawarkan sepertiga kekayaan Tihamah untuk Abrahah asal tidak mengganggu Kakbah.

    Tetapi tawaran itu ditolak. Kemudian Abdul Muthalib kembali ke Malkah setelah 200 untanya dikembalikan, dan yakin bahwa mereka tidak perlu mengadakan perlawanan, karena mereka percaya bahwa Kakbah sudah ada yang menjaganya.

    Kembalinya Abdul Muthalib di Makkah, lalu ia memerintahkan suku Quraisy keluar dari kota Makkah agar tidak menjadi korban pasukan Abrahah. Setelah keluar, kemudian mereka mereka berdoa untuk memohon perlindungan kota Makkah.

    Setelah semuanya keluar dan kota Makkah menjadi sunyi, datanglah Abrahah bersama pasukannya yang siap menghancurkan Kakbah. Setelah meruntuhkan Kakbah, ia berencana untuk kembali ke Yaman. Namun rencananya gagal.

    Harapannya sia-sia lantaran pada saat itu bala tentaranya secara tiba-tiba dihujani batu yang dibawa oleh sekelompok burung besar. Kawanan burung itu menyebarkan virus wabah sangat berbahaya dan mematikan berupa bisul dan letupan-letupan kulit, yang diduga sejenis campak ganas.

    Mereka sebelumnya tak pernah mengalami kejadian seperti itu, dan mengira wabah itu terbawa oleh angin laut. Sesudahya, tak sedikit dari pasukan Abrahah yang binasa. Dan Abrahah sendiri pun mati dalam perjalanan pulang ke Yaman.

    Riwayat lain menceritakan bahwa Abrahah ketakutan melihat wabah yang mengganas yang menyebabkan banyak anggota pasukannya mati. Kemudian ia bersegera pulang ke Yaman, tetapi nyatanya badan ia sendiri telah terkena penyakit itu. Dan tidak selang lama ia pun binaa seperti pasukannya yang lain.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Uzair yang Dicabut Nyawanya oleh Allah Selama 100 Tahun



    Jakarta

    Uzair dikisahkan adalah sebagai seseorang yang merasakan hidup dan mati dalam 100 tahun atas kuasa Allah SWT. Kisah Uzair dalam Al Quran sendiri terdapat pada surah Al Baqarah ayat 259.

    اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    Artinya: “Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah kehancurannya?” Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali). Dia (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Sebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, (tetapi) lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang) dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging (sehingga hidup kembali).” Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Aku mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 259)


    Begitulah bagaimana Allah SWT memberikan kita contoh nyata bagaimana mukjizat-Nya yang dahsyat untuk menambah iman manusia. Selanjutnya, dikutip dari 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Quran karya Ridwan Abqary, lebih lanjut kisah Uzair adalah sebagai berikut.

    Kisah Uzair dalam Al Quran, Mati Hidup dalam 100 Tahun

    Pada suatu hari, Uzair bermaksud pergi ke kebun. Dia ingin sekali memetik buah-buahan yang sudah tumbuh lebat di kebunnya.

    Akhirnya, Uzair pun berangkat dengan mengendarai keledainya dan pergi menuju kebun. Di sana, dia memetik buah anggur dan buah lainnya sampai dua buah keranjang yang dibawanya penuh tanpa ruang tersisa.

    Uzair yang telah selesai memanen buah-buahan pun kemudian pulang dengan menaiki keledainya. Siang itu, rasanya matahari bersinar sangat terik.

    Matahari kala itu memancarkan sinarnya yang menyengat ke seisi alam. Keledai yang ditumpangi Uzair pun nampaknya juga terdampak dari panas itu, keledai berjalan perlahan dan tampak keletihan.

    Tanpa disadari, keledai itu ternyata membawa Uzair ke sebuah tempat yang sangat jauh dari rumah. Ketika sampai di sebuah makam atau kuburan, keledai itu tampak sangat kelelahan sehingga Uzair bermaksud beristirahat dahulu di sana.

    Ketika sedang melihat-lihat pekuburan yang sudah hancur itu, tiba-tiba Uzair teringat bahwa semua yang sudah meninggal akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali oleh Allah SWT di akhirat nanti. Setelah tubuh manusia yang sudah meninggal, hancur, dan menjadi tanah seperti ini, bagaimana cara Allah SWT menghidupkan mereka kembali?

    Pikiran itu kemudian mengusik hati Uzair. Allah SWT Maha Mengetahui. Untuk menjawab rasa penasaran Uzair, Allah SWT mengutus Malaikat ‘Izrail mencabut nyawa Uzair. Uzair pun meninggal saat itu juga di tengah pekuburan yang sangat sepi dan jauh dari mana-mana.

    Keledainya yang terikat pun tidak bisa bergerak ke mana-mana sehingga lambat laun, karena kehausan dan kelaparan keledai itu pun akhir mati.

    Keluarga Uzair yang merasa kehilangan kemudian mencoba mencari ke mana-mana. Namun, semua usaha mereka berakhir sia-sia karena Uzair tidak bisa lagi mereka temukan.

    Setelah sekian lama, mereka pun mengikhlaskan kepergian Uzair yang mungkin saja sudah meninggal di suatu tempat yang tidak pernah mereka ketahui. Setahun, dua tahun, puluhan tahun, berlalu, sampai akhirnya seratus tahun sejak Uzair meninggal, Allah SWT pun menghidupkan kembali Uzair.

    Sekarang, kuburan tempat Uzair meninggal sudah berubah menjadi sangat hancur, lebih dari 100 tahun lalu. Bahkan, keledainya yang mati pun sudah tinggal tulang belulang.

    Tubuh Uzair yang sudah hancur pun perlahan dikembalikan secara utuh seperti sediakala oleh Allah SWT. Uzair yang terbangun kembali dari kematiannya merasa bingung dengan keadaan yang dilihatnya.

    Dia tidak mengetahui yang sudah terjadi pada dirinya. Dia hanya merasa sudah tertidur di tempat itu tapi tidaklah begitu lama. Namun ketika bangun, semuanya sudah sangat berubah. Allah SWT mengutus malaikat untuk bertanya kepada Uzair.

    “Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?”

    Uzair mengerutkan keningnya. Hari sudah senja dan dia masih ingat ketika sampai di pemakaman ini hari masih siang.

    “Saya tinggal di sini sehari atau mungkin hanya setengah hari,” jawabnya.

    “Kamu sudah tinggal di sini selama seratus tahun,” kata malaikat.

    Uzair yang mendengar jawaban tersebut terlihat bingung. Mana mungkin dia tinggal di sini selama seratus tahun, sementara buah-buahan yang ada di dalam keranjangnya masih terlihat segar dan tidak busuk sama sekali.

    Namun, alangkah terkejutnya Uzair ketika melihat keledainya justru hanyalah tinggal tulang belulang.

    “Demikianlah, sesungguhnya kekuasaan Allah SWT Sekarang kamu perhatikan dengan baik, Allah SWT dapat menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dan mengembalikan jasad yang sudah hancur dengan mudahnya. Demikianlah, Allah SWT akan menghidupkan dan mengembalikan jasad manusia yang sudah meninggal di akhirat nanti dengan begitu mudahnya.” Wallahua’lam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Mulutnya Keluar Cahaya



    Jakarta

    Sahabat nabi adalah orang-orang terpilih yang memiliki beragam kisah dan tentunya dekat dengan Rasulullah SAW. Salah satu kisah yang diabadikan ini adalah sebuah kisah sahabat nabi yang mulutnya keluar cahaya.

    Kisah ini banyak dituliskan, salah satunya adalah bersumber dari buku Beli Surga dengan Al Qur’an karya Ridhoul Wahidi dan M. Syukron Maksum. Sahabat nabi yang dimaksud adalah Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah, Qatadah bin Nu’man, dan Qois bin Ashim.

    Kisah Sahabat Nabi yang Mulutnya Keluar Cahaya

    Kisah ini sejatinya diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Ia bercerita, saat itu, Rasulullah SAW mengirim pasukan untuk menyerang suatu kaum yang memusuhi kaum muslimin.


    Ketika Rasulullah tidak mendapatkan berita perkembangan keadaan pasukannya tersebut, lalu beliau bersabda, “Andaikan ada orang yang dapat mencari kabar tentang mereka dan memberitahukannya kepada kami.”

    Beberapa saat kemudian datanglah seseorang dan mengabarkan bahwa muslim utusan beliau telah meraih kemenangan dalam penyerangan itu. Setelahnya, saat pasukan kaum muslimin pulang dari peperangan menuju Madinah, Rasulullah SAW dan para sahabat menyambut mereka di dekat Madinah.

    Sesampai dekat Madinah, pemimpin pasukan, Zaid bin Haritsah turun dari untanya dan mencium tangan Rasulullah. Rasulullah SAW kemudian merangkul dan seraya mencium kepalanya.

    Lalu, Zaid diikuti oleh Abdullah bin Rawahah dan Qois bin Ashim. Nabi Muhammad SAW merangkul mereka berdua.

    Selanjutnya, seluruh pasukan berkumpul di depan Rasulullah SAW. Mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dan beliau menjawab salam mereka. Kemudian Rasulullah SAW bersabda,

    “Ceritakanlah apa yang terjadi selama bepergian kepada saudara-saudara kalian yang berada di sini, agar Aku memberikan kesaksian dari apa-apa yang kalian ucapkan, karena Jibril telah memberitahukan kepadaku tentang kebenaran yang kalian ucapkan.”

    Salah seorang pasukan kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, ketika kami berada di dekat pasukan lawan, kami mengutus seorang mata-mata dari pihak mereka agar memberitahukan kepada pasukan kami mengenai kondisi dan jumlah mereka. Kemudian mata-mata tersebut menemui kami dan berkata, ‘Jumlah mereka seribu orang’, sedangkan jumlah kami dua ribu orang.”

    “Namun yang seribu pasukan lawan itu hanya menunggu di luar benteng kota. Sedangkan yang tiga ribu menunggu di jantung kota. Mereka sengaja menggunakan tipu daya dengan berbohong bahwa kekuatan mereka hanya seribu tentara supaya kami berani melawan mereka dan memenangkan pertempuran.”

    Cerita itu pun berlanjut, pasukan musuh di dalam kota kemudian menutup pintu gerbangnya, pasukan muslim kemudian menanti di luar. Ketika malam telah tiba, mereka tiba-tiba membuka pintu gerbang di kala pasukan muslim lelap tidur.

    Namun, hal itu terkecuali Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah, Qatadah bin Nu’man, dan Qois bin Ashim yang sedang sibuk mengerjakan salat malam dan membaca Al-Qur’an di empat sudut perkemahan.

    Di dalam kondisi yang gelap gulita itu, para musuh menyerang kaum muslim dan mereka menghujani mereka dengan panah hingga mereka tidak mampu menghalau karena gelapnya malam. Di tengah kekacauan tersebut, tiba-tiba kaum muslim tersebut melihat cahaya yang datangnya dari pembaca Al-Qur’an.

    Cahaya seperti api mereka saksikan keluar dari mulut Qais bin Ashim, dan keluar cahaya seperti bintang kejora keluar dari mulut Qatadah bin Nu’man. Lalu, dari mulut Abdullah bin Rawahah keluar sinar seperti cahaya rembulan dan keluar sinar seperti cahaya Matahari dari mulut zaid bin Haritsah.

    Keempat cahaya itulah yang menerangi muslim dan membuat gelapnya malam berubah seperti hari masih siang. Akan tetapi musuh kaum muslim tetap melihat seakan masih dalam keadaan kegelapan.

    Sang panglima perang, Zaid bin Haritsah, kemudian memimpin pasukan muslim memasuki daerah lawan. Pasukan muslim dapat mengepung, membunuh sebagian mereka dan menawan mereka. Selanjutnya mereka mampu memasuki jantung kota dan mengumpulkan ghanimah perang.

    “Wahai Rasulullah, yang membuat kami sangat heran adalah cahaya yang keluar dari keempat sahabat tersebut, dan kami tidak melihatnya sebelumnya. Cahaya dari mulut mereka itu mampu menerangi kami sehingga kami menang dan menebarkan kegelapan bagi musuh-musuh.” terang salah satu pasukan itu.

    Begitulah kisah sahabat nabi yang mulutnya keluar cahaya yang diduga karena keempat sahabat tersebut adalah pembaca Al-Qur’an yang taat beribadah kepada Allah SWT. Wallahua’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com