Tag: alergi

  • 4 Posisi Kipas Angin yang Harus Dihindari, Bisa Picu Ruangan Tambah Panas


    Jakarta

    Kipas angin merupakan perangkat elektronik yang dapat mengusir hawa panas dan bisa ditempatkan di mana saja. Kipas angin juga tidak ada aturan ruangan harus dipakai di ruangan tertutup atau terbuka.

    Meski begitu, ada beberapa posisi pemakaian kipas angin yang harus dihindari. Hal ini dikarenakan kipas bisa mendorong hawa panas ke dalam ruangan apabila salah meletakkannya. Dilansir Ideal Home, berikut posisi yang harus dihindari ketika memakai kipas.

    1. Permukaan Tinggi

    Biasanya kita meletakkan kipas yang memiliki kaki di lantai dan tingginya tidak lebih dari tinggi manusia dewasa. Ada pula kipas yang diletakkan di atas. Ternyata meletakkan kipas di permukaan tinggi kurang disarankan karena bisa mengeluarkan udara panas. Hal ini tentunya bisa membuat ruangan terasa makin panas.


    Sebaiknya, letakkan kipas angin di posisi yang lebih rendah ke untuk membantunya mengambil udara dingin yang telah turun dan mendorongnya ke penghuni ruangan.

    Namun, menurut arsitek Denny Setiawan, tidak masalah jika ingin memakai kipas angin di plafon. Model kipas angin tersebut seperti baling-baling helikopter. Model kipas angin seperti ini justru dapat menggerakkan udara panas keluar sehingga rumah jadi lebih adem.

    2. Dekat Jendela

    Lokasi selanjutnya yang harus dihindari adalah meletakkan kipas angin di dekat jendela karena bisa membawa udara yang panas dari luar rumah. Penempatan yang tepat apabila ingin lokasi di dekat jendela adalah terdapat dua kipas angin di dekat jendela. salah satunya menghadap luar jendela dan yang satunya menghadap ke dalam ruangan untuk mendapatkan udara sejuk. Selain itu, meletakkan kipas angin di dekat jendela juga bisa membawa masuk serbuk sari sehingga memicu risiko terjadinya alergi.

    3. Tempat Berdebu

    Jangan mencoba meletakkan kipas angin di area yang berdebu, kamar yang jarang dibersihkan, atau area yang sedang dibersihkan dan penuh debu. Angin dari kipas angin hanya akan menerbangkan debu dan bisa terhirup oleh penghuni rumah. Bagi yang alergi debu bisa menyebabkan mereka bersih sepanjang hari dan hidung gatal.

    Aturan ini juga berlaku untuk kipas angin yang sudah mulai berdebu, sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu agar angin yang dikeluarkan lebih banyak dan terasa lebih adem.

    4. Dekat Tanaman

    Terakhir, kipas angin sebaiknya tidak dihidupkan di dekat tanaman karena bisa membuat daun-daun kering dan merusak daun yang rapuh. Tanaman cukup mendapat hembusan dari angin yang alami.

    Itulah beberapa area yang sebaiknya dihindari untuk menyalakan kipas angin. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kapan Bantal Harus Diganti? Ini 4 Tandanya


    Jakarta

    Bantal merupakan salah satu perlengkapan tidur yang pasti ada di kasur. Keberadaannya tidak bisa dipisahkan sebagai alas kepala agar tidur jauh lebih nyaman.

    Banyak yang belum tau nih kalau pemakaian bantal juga ada waktu kedaluwarsanya lho. Bantal nggak bisa dipakai selamanya apalagi tanpa pernah dicuci. Apabila dibiarkan justru bisa memicu penyakit, seperti alergi.

    Umur pemakaian bantal memang tidak tertera jelas pada kemasan. Namun, ada ciri-ciri yang bisa jadi alat ukur apakah bantal yang digunakan masih layak atau tidak.


    Dilansir dari Daily Mail, disebutkan umumnya waktu pemakaian bantal berbeda-beda tergantung bahan yang digunakan. Bantal sintetis misalnya, biasanya dipakai sampai 6-12 bulan. Sementara untuk bantal berbulu jangka waktu pemakainya jauh lebih lama, yakni 2-3 tahun. Untuk bahan busa memori dapat bertahan 2-3 tahun, busa poli bertahan 2-3 tahun, bahan poliester bisa bertahan sekitar 2-4 tahun.

    Tanda-tanda Bantal Harus Segera Diganti

    1. Terdapat Noda

    Pada bahan apa pun, permukaan bantal seiring waktu bisa berubah warna. Perubahan ini akan terlihat jelas pada bantal berwarna putih. Penyebabnya bisa karena bekas air atau cairan, banyaknya debu yang menempel hingga pemudaran alami.

    Jika terdapat noda coklat, kemungkinan adanya pertumbuhan jamur pada bantal. Sedangkan jika noda bantal berwarna kuning, kemungkinan hal itu terjadi karena keringat malam. Pertumbuhan jamur ini berkembang karena lingkungan yang lembab akibat dari iklim, air liur, hingga keringat.

    Cara mencegah pertumbuhan jamur dengan dikeringkan secara alami di bawah sinar matahari atau mencuci dengan cuka. Pastikan membaca dulu petunjuk perawatan karena sebagian jenis bantal tidak memiliki penanganan yang sama.

    Setelah bersih pakai pelindung bantal atau ekstra sarung bantal agar tetap awet dan terhindar dari keringat atau air liur, tumpahan yang tidak disengaja, serangga, debu, dan kotoran.

    2. Kendur atau Rata

    Selain warna, perubahan pada bentuk juga tanda yang jelas bantal harus segera diganti. Bantal berguna untuk menopang otot seperti area leher dan bahu agar tidak sakit, perubahan pada bentuk bantal akan berpengaruh pada tubuh ditandai dengan nyeri dan pegal.

    3. Bantal Berbau

    Sebagai perlengkapan tidur, bantal harus bersih dan tidak berbau. Apabila tercium bau apek, bau keringat, atau bau tak sedap lainnya ada dua cara mengatasinya yaitu dibersihkan atau langsung ganti.

    Jika dua tanda sebelumnya ditambah bantal tersebut juga berbau, mau tidak mau bantal harus diganti. Jika bentuk dan warnanya masih aman, coba bersihkan. Caranya dengan mencuci dicampur detergen dan dikeringkan di bawah sinar matahari.

    4. Bantal Tak Kembali ke Bentuk Semula Setelah Ditekuk

    Cara selanjutnya adalah coba menekuk bantal ke sisi yang sama sehingga luasnya jadi setengah. Bantal yang kondisinya masih bagus akan kembali ke bentuk semula. Sementara, jika kondisinya sudah menurun, biasanya akan tetap menekuk.

    Hal ini disebabkan oleh berkurangnya massa di dalam bantal tersebut. Tampilannya jadi lebih kempes. Ketika ditekuk bagaimana pun akan mudah dilakukan. Hal ini berbeda dengan bantal baru yang masih penuh sehingga ketika ditekuk akan kembali ke bentuk semula.

    Cara untuk mengujinya bisa dengan menekuk bantal selama 30 detik, kemudian lepas. Apabila bisa kembali ke bentuk semula yakni rata kembali, berarti bantal tersebut masih layak digunakan. Namun, apabila bentuknya tetap menekuk, segera ganti dengan bantal baru.

    Itulah beberapa tanda bantal harus segera diganti. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Tanaman Indoor yang Mudah Dirawat dan Cocok Jadi Hiasan Kamar Tidur


    Jakarta

    Hiasan kamar tidur tidak harus berupa barang mahal. Tanaman hidup juga bisa mengubah tampilan kamar jauh lebih indah, sejuk, dan tentunya bermanfaat bagi kesehatan.

    Tanaman yang harus diletakkan di kamar tidur sebaiknya yang bisa tumbuh tanpa sering terpapar sinar matahari. Bagi yang tidak punya waktu untuk menyiram tanaman setiap hari, tidak perlu khawatir, banyak sekali jenis tanaman yang tetap bisa hidup tanpa perlu disiram setiap hari.

    Dilansir dari Good Housekeeping, berikut daftar tanaman yang cocok diletakkan di kamar.


    1. Lidah Mertua

    Potted plant and beautiful picture on grey chest of drawers in room, space for text. Interior designPotted plant and beautiful picture on grey chest of drawers in room, space for text. Interior design Foto: Getty Images/iStockphoto/Liudmila Chernetska

    Tanaman satu ini pasti sudah tidak asing dari penglihatan kita. Tanaman berwarna hijau dengan pinggiran kuning ini disebut dengan lidah mertua. Perawatan tanaman satu ini juga tidak sulit karena lidah mertua tidak butuh sering terpapar sinar matahari dan tidak perlu disiram terlalu sering.

    Manfaat lidah mertua salah satunya adalah bisa menyerap polusi, membuat udara jauh lebih bersih, meningkatkan kualitas tidur, hingga menyerap bau tak sedap.

    2. Lidah Buaya

    Aloe vera indoor plant in pink pot white room with small cactus plantsAloe vera indoor plant in pink pot white room with small cactus plants Foto: Getty Images/iStockphoto/Tanya Paton

    Masih dengan bentuk yang runcing-runcing, lidah buaya cocok untuk diletakkan di kamar tidur. Tanaman ini memiliki banyak sekali manfaat baik untuk kesehatan dan kecantikan. Untuk dipajang juga tidak masalah karena tampilan yang unik cocok untuk diletakkan di sekitar kamar.

    Soal perawatannya, juga sama mudahnya dengan lidah mertua. Sukulen tropis dengan daun berdaging dan tepi runcing ini tidak perlu sering disiram cukup diletakkan di area yang terdapat cahaya terang seperti jendela.

    3. Anggrek

    Ilustrasi tanaman hias anggrek di ruang tamuIlustrasi tanaman hias anggrek di ruang tamu Foto: Getty Images/iStockphoto/Aleksandra Zlatkovic

    Bagi yang mencari tanaman hias yang lebih cantik, tinggi, dan mudah dirawat, pilihannya adalah anggrek. Tempat yang cocok untuk meletakkan anggrek adalah di atas meja di samping tempat tidur atau meja belajar. Manfaat dari tanaman ini adalah mencegah terjadinya alergi dan membersihkan udara.

    Cara perawatannya adalah dengan meletakkan anggrek di lokasi yang sejuk, disiram secukupnya jangan sampai terlalu becek, dan sering berikan pupuk khusus anggrek.

    4. Spider Plant

    cat playing in spider plantcat playing in spider plant Foto: Getty Images/iStockphoto/kodachrome25

    Tanaman satu ini memiliki bentuk daun panjang ramping yang daunnya seperti membentuk janur, melengkung ke bawah. Warnanya hijau, tetapi ada beberapa yang pinggirannya berwarna putih. Spider plant dapat menghasilkan oksigen di malam hari sehingga baik untuk kesehatan karena tidur bisa jauh lebih nyenyak.

    Spider plant tidak hanya bagus saat diletakkan di meja, melainkan bagus juga jika dipajang dengan cara digantung. Perawatannya pun tidak susah, cukup siram saat tanah terlihat agak kering, arahnya ke sumber cahaya, letakkan di ruangan dengan suhu yang sejuk.

    5. Anthurium

    Ilustrasi anthuriumIlustrasi anthurium Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrey Bukreev

    Anthurium merupakan tanaman hias yang bagian bunganya memiliki warna berbeda dengan daun. Bagian bunga ini sering dijual per tangkai untuk dipakai sebagai bunga hias bouquet.

    Letakkan anthurium di tempat yang terang dan lembap. Semakin banyak cahaya yang diterimanya, semakin sering harus menyiramnya. Jeda antara jadwal menyiram adalah saat melihat tanahnya agak kering.

    6. Pohon Dolar atau Tanaman ZZ

    Zamioculcas is a tropical perennial plant native to eastern Africa.Zamioculcas is a tropical perennial plant native to eastern Africa. Foto: Getty Images/iStockphoto/OleseaV

    Tanaman pohon dolar bisa menjadi referensi jenis tanaman yang terlihat kokoh dan elegan. Tanaman ini sangat cocok tumbuh di dalam ruangan dan bisa bertahan di lingkungan yang kering.

    Itulah deretan tanaman hias yang cocok diletakkan di dalam kamar, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Toren Air Harus Sering Dibersihkan Agar Tak Berlumut, Ini Waktu Idealnya



    Jakarta

    Lumut merupakan ancaman bagi toren air atau tangki air yang jarang dibersihkan. Lumut bukan hanya berpengaruh pada kebersihan air, melainkan dapat menyumbat saluran sehingga air yang keluar dari keran sering kali sedikit dan tidak deras.

    Selain jarang dibersihkan, lumut pada toren disebabkan karena kualitas dinding toren air yang terlalu tipis sehingga cahaya mudah sekali menembus. Selama dinding toren air tebal, tidak ada celah untuk cahaya masuk pagi dan malam, air bisa tetap bersih dan pertumbuhan lumut dapat dicegah.

    Penyebab lainnya toren air sering kotor adalah kondisi airnya tidak jernih, warnanya kekuningan, dan mengandung kapur. Kondisi air seperti ini bisa memicu gatal-gatal hingga alergi kulit. Oleh karena itu, ketahui waktu yang tepat untuk membersihkan toren air.


    Waktu Ideal Bersihkan Toren Air

    Berdasarkan informasi yang dibagikan Instagram resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pengurasan toren air bisa dilakukan setidaknya 6 bulan sekali.

    Jangka waktu tersebut dapat membantu menghambat pertumbuhan lumut di tangki air. Munculnya lumut biasanya disebabkan karena toren sering terpapar sinar matahari langsung.

    Jika pertumbuhan lumutnya cepat, maka frekuensi pengurasan juga harus dipercepat. Misalnya, menjadi 3-4 bulan sekali.

    Cara Agar Toren Air Tidak Berlumut

    Supaya air selalu dalam keadaan bersih, berikut cara agar toren air tidak berlumut.

    • Rutin dibersihkan
    • Toren air harus ditutup rapat, agar tidak ada sinar matahari yang masuk
    • Membuat pelindung di atas tangki dengan warna cerah, agar meminimalisir cahaya matahari yang masuk
    • Melakukan pengecatan ke toren air agar cahaya tidak mudah menembus dinging tangki

    Itulah waktu yang tepat untuk membersihkan toren air, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Buat yang Punya Alergi, Jangan Pernah Taruh Tanaman Ini di Rumah!


    Jakarta

    Menaruh tanaman hias di dalam rumah bisa menjadi pilihan dekorasi sekaligus membuat ruangan tampak asri. Namun harus hati-hati ya saat memilih tanaman hias karena bisa menjadi alergen bagi penghuni rumah yang memiliki alergi.

    Ya, beberapa tanaman memang bisa memicu reaksi alergi pada seseorang. Jangan sampai niat hati ingin membuat rumah tampak indah tapi malah bikin susah.

    Nah, berikut ini ada beberapa tanaman yang sebaiknya tidak ditanam di rumah karena bisa memicu alergi. Ini informasinya.


    1. English Ivy

    Ivy, Flower Pot, Indoors, Plant, Potted PlantEnglish ivy Foto: Getty Images/Haizhan Zheng

    Tanaman rambat yang satu ini kerap menjadi pilihan bagi pemilik rumah untuk mempercantik halaman. Walau demikian, penderita alergi sebaiknya hindari tanaman ini karena bisa menyebabkan bersin-bersin.

    Selain itu, dilansir dari Real Simple, ahli tanaman dan pendiri blog The Houseplant Guru, Lisa Eldred Steinkopf menyarankan untuk menggunakan sarung tangan saat mengurus English ivy. Hal itu karena tanaman tersebut mengandung falcarinol yaitu suatu kandungan yang bisa menyebabkan iritasi kulit.

    2. Rubber Plant

    Peperomia raindrop plant stand on concrete wall background. Home gardening. Banner with copy space.Rubber plant. Foto: Getty Images/iStockphoto/Anna Ostanina

    Tanaman hias yang satu ini juga menjadi langganan yang ada di rumah karena mudah beradaptasi. Tapi, tanaman ini bisa jadi bukan pilihan yang tepat bagi penderita alergi.

    Rubber plant menghasilkan zat putih yang disebut lateks yang merupakan sumber utama karet. Kalau terkena getahnya, bisa membuat tubuh gatal-gatal.

    “Saat memangkas tanaman ini, berhati-hatilah agar getahnya tidak mengenai kulit Anda, terutama jika Anda alergi lateks. Getahnya dapat menyebabkan iritasi kulit, gatal-gatal, dan kesulitan bernapas,” ujar ahli tanaman dan pendiri Plants with Krystal, Krystal Duran, dikutip dari Real Simple, Kamis (25/9/2025).

    3. Lili Perdamaian

    Peace Lily in white flower pot on wood with black background. spathiphyllum houseplant for Valentines DayPeace Lily atau lily perdamaian. Foto: Dok. Istock

    Bunga cantik ini langganan menjadi pilihan banyak orang untuk ditanam di rumah. Namun, tanaman ini ternyata bisa memicu alergi.

    4. Geranium

    Selective focus on Geranium flowers pot with blurred background of light interior of open work space office with desks, chairs and green plants. Coworking. Minimalism business style. Copy spaceGeranium Foto: iStock

    Bunga geranium yang beraroma (scented geranium) bisa memicu alergi dari aromanya yang cukup kuat. Sebaiknya penderita alergi pikir-pikir lagi kalau mau tanam ini di rumah.

    “Hindari penggunaan geranium beraroma (pelargonium) sebagai tanaman hias jika Anda memiliki alergi, aromanya yang kuat dapat berpotensi mengiritasi dan menyebabkan gatal-gatal atau dermatitis kontak,” kata ahli alergi bersertifikat dan juru bicara Yayasan Asma dan Alergi Amerika (AAFA) Dr. John James, M.D., dikutip dari Martha Stewart.

    5. Pakis

    Jenis tanaman hias pakis-pakisanJenis tanaman hias pakis-pakisan Foto: Instagram @airy_garden_official

    Pakis adalah tanaman hias yang indah dengan dedaunan yang rimbun, tetapi bisa mengganggu penderita alergi karena adanya spora.

    “Akhirnya, spora kecil di bagian belakang daun pakis akan pecah, atau terbuka, dan melepaskan partikel kecil serbuk sari yang tidak menyenangkan ke udara, yang merupakan agitator,” tutur pemilik Mosaic Home & Garden Center, Joe Moussa.

    Tips Memilih Tanaman untuk Penderita Alergi

    Masih dilansir dari Martha Stewart, bagi penderita alergi yang masih ingin merawat tanaman, sebaiknya tanyakan dulu ke ahlinya, misalnya ahli tanaman atau ahli alergi. Beri tahu mereka kondisi penderita alergi, nantinya para ahli tersebut akan menyarankan tanaman yang aman untuk ditanam.

    Selanjutnya, pastikan tanaman bebas debu untuk mencegah alergi kambuh. Lalu, rawat agar tanaman tidak ditumbuhi jamur yang bisa memicu alergi juga.

    Untuk menghindari atau mengurangi masalah terkait jamur, Dr. James menyarankan untuk memperhatikan jenis tanaman hias yang dimiliki dan kondisi tempat penyimpanannya. Pembersihan rutin dan ventilasi yang baik dapat mencegah masalah tersebut.

    “Jamur tumbuh subur dalam kondisi lembap dan basah, dan sporanya dapat menyebar di udara,” ujarnya.

    Ia menambahkan, mengurangi kelembapan dengan menggunakan pembersih udara juga bisa membantu mencegah pertumbuhan jamur.

    Itulah beberapa tanaman yang sebaiknya tidak ditanam di rumah terlebih bagi penderita alergi.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Jendela Rumah Bisa Ditumbuhi Black Mold, Ini Cara Atasinya!


    Jakarta

    Black mold atau jamur berwarna hitam dapat muncul di dalam rumah. Pada umumnya, black mold kerap ditemukan pada ruangan yang lembap.

    Selain menempel di dinding, black mold juga bisa menyerang jendela rumah. Kondisi ini membuat jendela rumah jadi terlihat kusam dan menghilangkan kesan estetis.

    Untuk mengatasi black mold yang menempel di jendela tidak bisa sembarangan. Jika sengaja menghirup jamur hitam bisa memicu gangguan pernapasan. Sementara jika disentuh dengan tangan kosong dapat memicu alergi.


    Ingin tahu cara mengatasi black mold di jendela rumah? Lalu kenapa black mold bisa muncul di jendela? Simak penjelasannya dalam artikel ini.

    Penyebab Munculnya Black Mold di Jendela

    Dilansir dari situs BobVila, Russell Vent selaku wakil presiden Paul Davis Restoration mengatakan jamur dapat tumbuh karena udara yang sangat lembap. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan munculnya kotoran dan debu di jendela yang menjadi sumber makanan bagi jamur.

    “Spora jamur terdapat di hampir setiap lingkungan, lalu debu serta kotoran yang menumpuk di ambang jendela membuat jamur bisa tumbuh karena mendapatkan sumber makanannya,” kata Vent.

    Kelembapan yang terjadi di jendela bisa disebabkan karena kondensasi. Ketika suhu di luar ruangan turun, udara di dalam ruangan justru hangat sehingga memicu udara lembap mengembun di kaca jendela dan ambang jendela.

    Jendela juga bisa mengalami kelembapan akibat adanya celah atau keretakan di sekitar ambang dan sudut jendela. Hal itu membuat kelembapan masuk ke sela-sela jendela yang retak, sehingga menciptakan black mold.

    Cara Mengatasi Black Mold di Jendela

    Selain menggunakan cairan pembasmi jamur yang dijual bebas, Vent menyarankan agar memakai bahan alami seperti cuka putih untuk membasmi black mold. Sebab, sifat asam yang dimiliki cuka dinilai efektif membasmi jamur dan bakteri hingga 80%.

    Untuk membasmi black mold di jendela dengan cuka putih, simak langkah-langkahnya di bawah ini:

    1. Tuang cuka putih secukupnya ke dalam botol semprot
    2. Tambahkan sedikit air hangat ke dalam botol, lalu kocok agar cuka dan air tercampur rata
    3. Setelah itu, semprotkan cairan cuka ke jendela yang terdapat black mold
    4. Diamkan selama 10-15 menit agar cuka meresap ke black mold
    5. Setelah itu, bersihkan black mold dengan kain atau spons secara perlahan.

    Cek kembali bagian ambang dan sudut jendela rumah untuk memastikan tidak ada lagi black mold. Jika masih menemukan ada jamur, lakukan cara di atas secara perlahan.

    Agar lebih aman, pastikan penghuni rumah menggunakan masker medis dan sarung tangan saat membersihkan jamur di jendela. Lakukan secara hati-hati saat membersihkan jamur.

    Itulah penyebab muncul black mold di jendela dan cara mengatasinya. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Penyebab Suhu di Rumah Terasa Panas Banget dan Bikin Gerah


    Jakarta

    Beberapa hari terakhir cuaca di Indonesia lagi panas-panasnya. Suhu udara di sejumlah kota bisa mencapai 37,6 derajat Celcius. Kondisi ini tentu bikin tidak nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan.

    Maka dari itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk tidak berada di luar ruangan dari pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Sebab, di rentang waktu tersebut suhu udara sangat panas.

    Meski dianjurkan berada di dalam ruangan, terkadang suhu ruangan juga ikut menjadi panas. Hal ini menyebabkan tubuh terasa gerah dan udara menjadi pengap.


    Kalau suhu di dalam rumah terasa panas dan bikin gerah, sebaiknya segera diatasi agar penghuni kembali merasa nyaman. Ketahui penyebab udara panas di rumah dalam artikel ini.

    Penyebab Suhu Rumah Panas dan Bikin Gerah

    Ada sejumlah penyebab suhu di dalam rumah jadi terasa panas dan bikin gerah. Dilansir situs Southern Living, berikut penyebabnya.

    1. Terlalu Banyak Sinar Matahari

    Faktor yang pertama karena terlalu banyak sinar matahari yang masuk ke rumah. Pada dasarnya, cahaya matahari dapat membantu menerangi rumah sekaligus mencegah kelembapan.

    Namun, di kondisi cuaca panas esktrem seperti sekarang ini, sebaiknya hindari menyerap sinar matahari terlalu banyak. Hal itu yang membuat suhu di dalam rumah jadi terasa sangat panas.

    “Ketika sinar matahari bersinar langsung melalui jendela, ia memanaskan semua yang terpapar olehnya, seperti lantai, furnitur, dan dinding. Hal ini dikenal sebagai pemanas surya pasif,” kata Owner Air Treatment Company Dan Simpson.

    Simpson mengatakan jendela besar yang menghadap matahari langsung dan tanpa gorden jadi pemicu udara terasa panas di dalam rumah. Pada waktu tertentu, terutama saat siang hari, suhu di dalam ruangan terasa jauh lebih panas karena sinar matahari terlalu banyak masuk ke dalam ruangan tersebut.

    “Ruangan dengan jendela besar tanpa penutup yang menghadap matahari dapat menjadi sangat panas dalam waktu singkat sehingga terasa sangat panas daripada bagian rumah lainnya,” jelasnya.

    2. Retakan di Jendela dan Pintu

    Munculnya retakan di jendela dan pintu rumah ternyata jadi pemicu suhu di dalam ruangan terasa sangat panas. CEO A. Fagundes Plumbing & Heating Al Fagundes menyebut retakan kecil sekalipun tetap memungkinkan udara panas dan lembap dari luar masuk ke dalam rumah.

    “Suhu udara yang sangat panas itu dapat menghambat kinerja AC dan menyebabkan pendinginan yang tidak merata. Untuk itu, segera tutup retakan dengan didempul demi menjaga udara dingin tetap masuk dan udara panas tetap keluar,” tutur Fagundes.

    3. Warna Atap Rumah Hitam Gelap

    Banyak hunian modern yang kini menggunakan atap rumah berwarna hitam gelap. Meski terlihat estetis, tapi warna ini bisa menjadi faktor utama meningkatnya suhu panas di dalam rumah.

    “Jika atap Anda berwarna gelap, kemungkinan besar atap tersebut menyerap banyak sinar matahari dan memancarkan panasnya ke loteng,” ungkap Fagundes.

    4. Tidak Ada Ventilasi Udara

    Faktor berikutnya karena rumah tidak memiliki ventilasi udara yang memadai atau bahkan sama sekali tidak memilikinya. Kondisi ini tentu bisa menimbulkan suhu udara panas di dalam rumah yang bikin penghuni terasa gerah dan pengap, terutama saat siang hari.

    Di sisi lain, ventilasi udara yang buruk bisa memicu masalah kesehatan karena udara kotor di dalam rumah tidak bisa keluar, sedangkan udara bersih tidak bisa masuk ke dalam rumah. Sejumlah penyakit yang berisiko terjadi di antaranya gangguan pernapasan, alergi, hingga TBC.

    5. Dinding Bata

    CEO Chris Heating & Cooling Jon Gilbertsen mengatakan rumah yang menggunakan dinding bata ternyata bisa meningkatkan udara panas di dalam ruangan. Sebab, bata dikenal sebagai material yang dapat menyerap panas matahari dan melepaskan panas tersebut saat malam hari.

    “Jika Anda tinggal di rumah dari bata tanpa sekat termal seperti celah udara, panas yang terkumpul di dalam bata akan menghangatkan ruangan sampai malam hari, bahkan setelah suhu di luar ruangan mulai turun,” imbuhnya.

    6. Terlalu Banyak Peralatan Elektronik yang Menyala

    Selain kulkas, beberapa barang elektronik lainnya yang menyala seperti oven dan mesin cuci juga dapat meningkatkan suhu di dalam ruangan sehingga terasa panas. Lampu yang terus dibiarkan menyala saat siang juga menciptakan hawa panas.

    “Di ruangan berukuran 10×10 meter dengan pintu tertutup, kondisi ini dapat meningkatkan suhu ruangan, terutama jika aliran udara buruk dan perangkat elektronik yang terus menyala sepanjang hari,” tutur Gilbertsen.

    Itulah enam hal yang bikin suhu ruangan di dalam rumah jadi terasa panas dan bikin gerah. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Penyebab Laron Muncul di Rumah dan Cara Mengatasinya


    Jakarta

    Anai-anai atau yang lebih dikenal dengan sebutan laron merupakan serangga jenis rayap yang seringkali terbang bergerombol dan masuk ke dalam rumah saat musim hujan berlangsung. Serangga bersayap ini sering kali muncul di malam hari dan beterbangan masuk ke dalam rumah, mengerumuni lampu dan memenuhi sayapnya memenuhi lantai.

    Dilansir dari detikJogja, laron keluar dari sarangnya saat musim hujan karena udara menjadi lebih lembap setelah hujan reda. Mereka biasanya muncul pada sore hingga malam hari dan terbang bergerombol mengerumuni sumber cahaya seperti lampu untuk mencari pasangan dan berkembang biak. Setelah bertemu pasangan, laron akan melepaskan sayapnya dan membentuk koloni baru.

    Lalu, apa sebenarnya penyebab utama laron muncul saat musim hujan dan mengerumuni lampu dalam rumah?


    Penyebab Laron Masuk Rumah

    Mencari Kehangatan dan Cahaya

    Laron akan muncul saat memasuki musim hujan, terutama pada malam hari. Hewan yang terbang secara berkoloni ini muncul karena mencari kehangatan sehingga mereka tertarik pada cahaya seperti lampu rumah.

    Sarang Basah Terkena Air Hujan

    Saat masih menjadi rayap, mereka hidup di tempat yang kering seperti kayu ataupun tanah. Ketika musim hujan tiba, sarang mereka menjadi lembap atau tergenang air sehingga laron keluar untuk bertahan hidup dan mencari tempat baru.

    Mencari Pasangan untuk Reproduksi

    Selain mencari Kehangatan, laron juga akan keluar untuk mencari pasangan. Apabila gagal menemukan pasangan, mereka akan mati. Jika berhasil, mereka akan menggugurkan sayap dan membangun koloni baru.

    Mencari Sumber Makanan Baru

    Sebagai bagian dari koloni rayap, laron tertarik pada sumber makanan seperti kayu, pohon mati, kayu bakar, ataupun tanaman di halaman rumah. Jika rumah memiliki material berbahan kayu, mereka bisa menjadikan itu sebagai sasaran utamanya.

    Bahaya Laron Bila Dibiarkan di Rumah

    Meskipun terlihat remeh, laron akan berbahaya jika dibiarkan saja dan tidak diatasi dengan baik. Sisa sayap yang mereka gugurkan dan bangkai dari rayap-rayap yang mati, dapat menimbulkan bau tidak sedap.

    Selain itu, juga bisa menjadi pertanda adanya koloni rayap yang berpotensi merusak perabotan berbahan kayu. Bagi kesehatan, bangkai laron dan sisa-sisa sayap dapat memicu alergi dan gangguan pernapasan pada sebagian orang.

    Cara Mengatasi dan Mencegah Laron Masuk ke Dalam Rumah

    Laron yang masuk ke dalam rumah saat musim hujan bukan hanya mengganggu, tetapi juga bisa menjadi tanda awal adanya aktivitas rayap.

    Kemunculan laron perlu segera diatasi agar tidak berkembang menjadi koloni baru yang merusak struktur rumah. Karena itu, penting mengetahui cara mencegah dan mengatasinya.

    Dilansir dari Orkin, Rabu (22/10/2025), berikut merupakan cara mengatasi dan mencegah laron untuk masuk ke dalam rumah.

    Matikan Lampu yang Tidak Diperlukan

    Laron sangat tertarik pada cahaya karena memang mereka muncul untuk mencari kehangatan. Maka dari itu, mematikan lampu menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengusir laron masuk ke dalam rumah.

    Matikan lampu teras ataupun ruangan yang dekat dengan area terbuka. Bisa juga mengganti lampu putih terang menjadi lampu kuning yang lebih redup.

    Pasang Jaring pada Ventilasi dan Jendela

    Memasang jaring pada ventilasi ataupun jendela dapat menahan laron masuk ke dalam rumah. Khususnya di ruangan-ruangan yang memiliki penerangan maksimal. Cara ini digunakan untuk mencegah laron masuk ke dalam rumah

    Bersihkan Rumah dari Sisa Kayu atau Tanaman Mati

    Buang kayu bekas, ranting mati, atau tumpukan daun basah di sekitar rumah karena ini bisa menjadi sumber makanan rayap dan laron.

    Gunakan Aroma yang Tidak Disukai Laron

    Letakkan bahan-bahan alami seperti serai wangi, cengkih, atau daun mint di dekat lampu atau sudut rumah. Aromanya dapat mengusir laron secara alami.

    Gunakan Perangkap Air atau Baskom Berisi Sabun

    Letakkan baskom berisi air dan sedikit sabun di bawah lampu. Ketika laron mendekat, mereka akan jatuh ke air dan tenggelam.

    Tutup Celah Kecil di Rumah

    Periksa celah-celah di jendela, pintu, atau langit-langit rumah. Tutup menggunakan sealant, plester, atau dempul agar laron tidak mudah masuk.

    Cara Membersihkan Laron yang Masuk ke Dalam Rumah

    – Gunakan sapu atau vacuum cleaner untuk membersihkan bangkai dan sayap laron.
    – Segera pel lantai agar tidak licin dan tetap steril.
    – Buang sampah ataupun bangkai laron keluar rumah agar tidak memicu kedatangan serangga lainnya.

    Laron bermunculan saat musim hujan karena beberapa faktor, seperti mencari kehangatan, sarang yang rusak akibat air hujan, mencari pasangan, dan menemukan sumber makanan. Meski terlihat remeh, keberadaan laron bisa jadi tanda awal potensi serangan rayap yang merusak rumah.

    Dengan langkah pencegahan seperti mengatur pencahayaan, memasang jaring, menjaga kebersihan dan menggunakan bahan alami, bisa menghindari serangan laron di rumah dengan efektif.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Bolehkah Pakai Kipas Angin Semalaman Saat Tidur? Ini Kata Pakar


    Jakarta

    Penggunaan kipas angin di rumah berguna untuk menyejukkan ruangan apabila tidak ada AC. Saat cuaca panas atau gerah, sering kali penghuni rumah menggunakannya semalaman ketika tidur.

    Namun, boleh nggak sih memakai kipas angin semalaman saat tidur?

    Ternyata hal itu tidak disarankan oleh para ahli. Memang, menggunakan kipas angin bisa membuat rumah terasa sejuk tapi juga bisa memperparah gejala alergi dalam semalam.


    Bahaya Pakai Kipas Angin Semalaman Saat Tidur

    Berikut ini bahaya pakai kipas angin semalaman.

    Bikin Sakit Leher

    Siapa sangka memakai kipas angin semalaman bisa membuat leher kaku? Hal itu bisa saja terjadi apalagi kalau kipas angin dipanjar langsung mengarah ke badan.

    “Kipas angin yang mengarah langsung ke badan bisa mendinginkan otot secara berlebihan, menyebabkan kekakuan atau kram terutama pada leher dan bahu. Hal ini dapat membuat Anda terbangun dengan perasaan pegal dan tegang,” ujar Martin Seeley, CEO dan pakar tidur di MattressNextDay, dikutip dari Tom’s Guide, Senin (27/10/2025).

    Selain itu, mengarahkan kipas langsung ke badan juga bisa membuat mata dan kulit kering. Hal ini bisa menyebabkan iritasi, sakit tenggorokan dan memicu tubuh menghasilkan lendir berlebih sehingga terasa tidak nyaman.

    Ia menyarankan untuk tidak memanjar kipas angin langsung ke badan, sebaiknya dibiarkan berputar agar ruangan terasa sejuk.

    Tubuh Jadi Overcooling

    Efek lainnya adalah tubuh menjadi overcooling atau terlalu dingin. Hal ini bisa menyebabkan tidur kurang nyenyak.

    “Tubuh Anda secara alami menurunkan suhunya untuk memulai tidur, tetapi pendinginan berlebihan dari kipas angin dapat mengganggu proses ini,” kata Seeley.

    “Gangguan ini dapat menyebabkan tidur yang terfragmentasi dan mengurangi jumlah istirahat nyenyak dan restoratif yang Anda dapatkan,” tambahnya.

    Seeley menyarankan untuk menggunakan kipas angin dalam waktu singkat saja. Misalnya, 30 menit sebelum tidur dan bisa menggunakan timer untuk 60 menit setelah tidur.

    “Ini akan membantu Anda mendinginkan diri untuk tidur tanpa membuat diri Anda terpapar risiko aliran udara sepanjang malam,” tuturnya.

    Picu Alergi

    Bahaya selanjutnya adalah memicu alergi. Hal itu karena tungau debu maupun alergen lain yang sebelumnya menempel di furnitur tertiup angin dan memicu gejala alergi.

    “Tidur dengan kipas angin menyala memang dapat memperparah alergi Anda, karena kipas angin tidak membersihkan udara, melainkan memindahkannya,” jelas Katie Lilywhite, pakar pengolahan udara di AO.com, dikutip dari Ideal Home.

    Hal yang Harus Dilakukan Jika Ingin Pakai Kipas Angin

    Tapi jangan khawatir jika penghuni rumah ingin tetap memakai kipas angin. Katie menyarankan untuk membersihkan kipas dengan lap basah setiap beberapa hari untuk meminimalisir debu.

    Selain itu, bisa juga dengan menggunakan air purifier untuk memfilter udara agar tidur bisa lebih nyenyak.

    Itulah informasi mengenai penggunaan kipas angin saat tidur menurut pakar. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Udara Lembap di Musim Hujan, Jangan Sembarangan Gunakan Humidifier di Rumah!



    Jakarta

    Musim hujan identik dengan udara yang lebih dingin, basah, dan lembap. Pada saat inilah terkadang rumah menjadi kurang nyaman baik karena udara yang terlalu lembap, ruangan terasa dingin dan pengap, atau bahkan sebagian orang merasa kulit dan saluran napas menjadi kering akibat sering menutup ventilasi. Kondisi ini membuat orang mencari cara agar udara tetap nyaman, salah satunya dengan menggunakan humidifier.

    Humidifier atau pelembab udara merupakan alat yang berfungsi untuk menambah kelembaban udara di dalam ruangan. Alat ini bekerja dengan cara menyemprotkan uap air dalam bentuk kabut halus. Penggunaannya saat suhu udara di dalam ruangan terasa kering atau di ruangan ber-AC, karena mampu membantu meredakan bibir dan kulit kering.

    Namun, ketika musim hujan tiba dan kelembaban alami ruangan sedang tinggi, apakah humidifier tetap bermanfaat atau malah memperburuk keadaan? Dilansir melalui Medical News Today, berikut penjelasan lengkapnya.


    Musim Hujan dan Kegunaan Humidifier Saat Hujan

    Pada dasarnya, humidifier memang berfungsi sebagai penambah kadar uap air yang akan disemprotkan ke dalam ruangan melalui kabut halus. Sehingga, alat ini memang berguna saat udara terlalu kering. Tidak hanya membantu mengatasi bibir dan kulit kering, humidifier juga dapat membantu meringankan iritasi mata, kekeringan pada tenggorokan, hingga saluran napas yang terganggu.

    Akan tetapi, saat musim hujan seringkali kita mendapati kondisi sebaliknya. Udara akan semakin lembab, suhu menjadi dingin, dan ventilasi semakin minim karena dibatasi untuk mencegah air hujan masuk ke dalam ruangan. Lantas, keputusan untuk menggunakan humidifier saat musim hujan tidak dapat langsung dianggap perlu, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi udara di dalam rumah.

    Kondisi Rumah yang Masih Membutuhkan Humidifier Meskipun Saat Hujan

    Meskipun terkesan kontradiktif, ternyata terdapat kondisi khusus di mana penggunaan humidifier bisa sangat membantu. Ketika tinggal di rumah yang sangat rapat ventilasi udaranya, ditambah dengan penggunaan AC atau pemanas ruangan, hal itu akan membuat udara menjadi kering, meskipun sedang hujan.

    Selain itu, saat musim hujan di Indonesia yang beriklim tropis, terkadang ruangan tetap terasa kering walaupun udara luar menjadi lembap. Karena jendela sebagai ventilasi ini ditutup, humidifier dapat membantu menjaga kelembapan dalam ruangan agar tetap ideal.

    Namun, perlu diingat bahwa penggunaan humidifier bukan berarti dapat digunakan kapan saja. Penempatan, jenis humidifier, serta kondisi lingkungan harus diperhatikan agar humidifier tidak malah membahayakan keadaan.

    Kondisi Saat Penggunaan Humidifier Perlu Dihindari

    Ada banyak kondisi yang tidak menganjurkan penggunaan humidifier saat musim hujan. Kondisi ini akan berpotensi membahayakan kesehatan dan bisa merusak lingkungan rumah jika diteruskan. Ketika kelembapan dalam ruangan sudah tinggi, di atas 50%-60% menggunakan humidifier hanya akan memperbesar risiko jamur, tungau debu, dan kondensasi.

    Berdasarkan artikel dari Medical News Today, penggunaan humidifier di ruangan yang sudah lembap dapat meningkatkan kadar kelembapan secara berlebihan. Kondisi ini tidak hanya memicu pertumbuhan jamur, tetapi juga dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan memperburuk gejala alergi.

    Selain itu, jika ruangan sudah terlihat memiliki dinding yang berembun atau dapat terlihat noda jamurnya, penggunaan humidifier juga tidak disarankan. Karena hal tersebut membuat kelembapan udara dalam ruangan menjadi tidak terkontrol. Kelembapan yang tidak terkontrol ini dapat mengundang banyak permasalahan seperti bau, kerusakan kayu, hingga gangguan pernapasan.

    Tips Aman Penggunaan Humidifier di Musim Hujan

    Agar penggunaan humidifier di musim hujan tetap aman dan efektif, berikut beberapa tips praktis yang dapat diterapkan.

    • Selalu pantau kelembapan udara dalam ruangan menggunakan hygrometer. Idealnya berada di kisaran 40%-50% di dalam rumah. Kelembapan yang terlalu tinggi justru bisa berbahaya.
    • Gunakan air yang tepat, seperti air suling atau demineralisasi. Kandungan mineral air yang terlalu tinggi dapat memicu pertumbuhan bakteri dan jamur.
    • Memperhatikan jenis dan penempatan humidifier juga penting untuk dilakukan. Model humidifier yang menghasilkan uap panas, dapat berbahaya untuk anak kecil. Tempatkan humidifier yang menggunakan air panas, jauh dari jangkauan anak kecil.
    • Jika ruangan terasa lembap atau ada tanda munculnya embun dan jamur, matikan humidifier dan pertimbangkan dengan menggunakan dehumidifier (pengering udara) atau dengan meningkatkan sirkulasi melalui ventilasi sebagai alternatif.

    Dengan memahami kapan humidifier bermanfaat dan kapan harus dihentikan, kita dapat menjaga kualitas udara di rumah tetap sehat selama musim hujan berlangsung.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com