Tag: amerika serikat

  • Ketum PBNU Gus Yahya Minta Maaf Undang Peter Berkowitz Akademisi Pro-Israel



    Jakarta

    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf memohon maaf telah mengundang Peter Berkowitz, akademisi Pro-Israel ke Indonesia. Pria yang akrab disapa Gus Yahya ini mengaku khilaf menjadikan Peter Berkowitz sebagai salah satu pemateri dalam Akademi Kepemimpinan Nasional yang dilaksanakan PBNU di Jakarta pada 15 Agustus 2025 lalu

    Prof Dr Peter Berkowitz merupakan Tad and Dianne Senior Fellows, Hoever Institution, Stanford University, Amerika Serikat. Peter Berkowitz dikenal sebagai akademisi yang cukup vokal membela Israel.

    “Saya mohon maaf atas kekhilafan dalam mengundang Dr. Peter Berkowitz tanpa memperhatikan latar belakang zionisnya. Hal ini terjadi semata-mata karena kekurangcermatan saya dalam melakukan seleksi dan mengundang narasumber,” kata Gus Yahya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis 28 Agustus 2025.


    Gus Yahya menegaskan bahwa hingga sekarang sikapnya dan PBNU terkait masalah Palestina tidak pernah berubah.PBNU mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk memiliki negara yang merdeka dan berdaulat.

    PBNU juga mengutuk keras agresi brutal tentara Israel ke Gaza. Gus Yahya mengajak semua pihak dan aktor internasional untuk bekerja keras
    menghentikan genosida di Gaza dan mengusahakan terciptanya perdamaian.

    Berikut ini pernyataan lengkap Ketua Umum PBNU, Gus Yahya

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Menanggapi perbincangan publik mengenai kedatangan Dr. Peter Berkowitz, saya sebagai Ketua Umum
    Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan ini menyatakan:

    1. Saya mohon maaf atas kekhilafan dalam mengundang Dr. Peter Berkowitz tanpa memperhatikan latar
    belakang zionisnya. Hal ini terjadi semata-mata karena kekurangcermatan saya dalam melakukan
    seleksi dan mengundang narasumber.

    2. Sikap saya dan PBNU dalam masalah Palestina tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.
    PBNU mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk memiliki negara yang merdeka dan berdaulat.

    3. Saya dan PBNU mengutuk tindakan-tindakan genocidal yang brutal yang dilakukan oleh pemerintah
    Israel di Gaza. PBNU mengajak semua pihak dan aktor internasional untuk bekerja keras
    menghentikan genosida di Gaza dan mengusahakan terciptanya perdamaian.

    Terima kasih.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Islamisme Obama



    Jakarta

    Barack Hussen Obama memang bukan muslim tetapi ia memahami substansi ajaran Islam secara benar. Pemahaman keislaman Obama, yang dalam artikel ini diistilahkan dengan Islamisme Obama, sama dengan yang dianut oleh mainstream muslim. Obama memahami Islam sebagai agama kemanusiaan, directions di dalam menjalani kehidupan yang bermartabat, dan agama yang menjunjung tinggi keadilan, keharmonisan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan demokrasi. Pemahaman keislaman seperti ini yang membuat Obama tak pernah gentar untuk memberi ruang bagi Islam dan umat Islam di AS, karena menurutnya, Islam dalam pemahaman yang demikian sesuai dengan Piagam Deklarasi Kemerdekaan AS yang dulu pernah diredaksikan oleh Presiden Thomas Jefferson.

    Obama tidak pernah bergeming sedikitpun ketika ia disorot oleh warganya sebagai Presiden yang member angin terhadap terorisme dengan cara memberi ruang bebas kepada umat Islam di AS. Ia sangat yakin, terorisme dan kekerasan lainnya tidak sejalan dengan substansi ajaran Islam dan agama manapun. Ia tetap kosisten membedakan antara Islam sebagai ajaran universal dan perilaku tertentu umatnya yang melakukan kesalahan dengan menggunakan baju agama (Islam). Obama sekaligus menjawab tantangan yang pernah dipopulerkan Hungtington yang terkenal dengan diksi “conflict of civilization”-nya.


    Obama adalah pemimpin As pertama yang berani berbicara tentang Islam di depan ribuan umat Islam yang diliput secara langsung oleh media-media internasional. Ia seperti tak punya beban menyampaikan pidato itu. Ia mengawali pidatonya dengan menyatakan: “Saya datang ke Kairo untuk mencari sebuah awal baru antara Amerika Serikat dan Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling menghormati – dan didasarkan kenyataan bahwa Amerika dan Islam tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Justru keduanya bertemu dan berbagi prinsip-prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip keadilan dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia.

    Sebagaimana kitab suci Al Qur’an mengatakan, “Ingatlah kepada Allah dan bicaralah selalu tentang kebenaran.”). “Saya penganut Kristiani, tapi ayah saya berasal dari keluarga asal Kenya yang mencakup sejumlah generasi penganut Muslim. Sewaktu kecil, saya tinggal beberapa tahun di Indonesia dan mendengar lantunan adzan di waktu subuh dan maghrib. Ketika pemuda, saya bekerja di komunitas-komunitas kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan martabat dan kedamaian dalam keimanan Islam mereka”.

    Pidato Obama itu sesungguhnya mencerminkan kepribadian dan karakter sejati AS. Ia mempunyai obsesi untuk kembali jalan bagi era Kebangkitan dan Pencerahan di Eropa yang pernah dirintis sejumlah ilmuan muslim. Sebagai mantan mahasiswa jurusan sejarah, ia mengungkapkan: “Prestasi umat Islam di masa lampau menemukan aljabar, kompas, magnet, alat navigasi, optik, keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya. Budaya Islam telah memberikan kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Dan sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin”.

    Selama dekade terakhir ini AS menganggap Islam sebagai bagian penting dari Amerika. Ia mencontohkan ketika warga Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini, ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan menggunakan Al-Qur’an yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami, Thomas Jefferson, di perpustakaan pribadinya”. Lebih lanjut ia meyakinkan bahwa: “Jadi janganlah ada keraguan: Islam adalah bagian dari Amerika. Dan saya percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa terlepas dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki aspirasi yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk memperoleh pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk mengasihi keluarga kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita. Ini adalah hal-hal yang sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan”.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Faktor Indonesia



    Jakarta

    Seperti apapun Indonesia di mata AS, kultur dan moderasi Islam Indonesia menjadi factor yang diperhitungkan di dalam penataan dan pembinaan umat Islam di AS. Semenjak Indonesia merdeka yang dipelopori oleh tokoh prokmator Indonesia Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta, Indonesia di mata AS sangat luar biasa.

    Tidak ada Presiden AS setelah Indonesia merdeka yang tidak pernah menyebut Indonesia. AS sangat tahu keberadaan Islam di Indonesia sebagai salahsatu kekuatan bangsa Indonesia. Yang menarik di mata AS, sebagaimana diwakili oleh para ilmuan AS yang meneliti Indonesia, berkesimpulan bahwa antara Islam dan kebangsaan Indonesia berjalan parallel. Kenyataan ini sulit ditemukan di negara-negara lain.

    Puluhan bahkan ratusan islamolog dari AS meneliti dan menulis tentang Islam dan Indonesia, termasuk di antaranya Clifford Geertz, yang pernah di daulat sebagai mbahnya antropolog di AS, menakjubi keindahan konfigurasi antara Islam, adat istiadat, dan kearifan lokal di Indonesia. Di antara imam paling berpengaruh di AS juga berasal dari Indonsia.


    Di AS bagian selatan (Seatle) sampai ke bagian tengah (Huston) di situ ada Ust. Jobhan, orang Jawa barat alumni UIN Jakarta, ia memiliki reputasi keluar masuk penjara berdakwah. Di AS bagian utara (NY) sampai ke tengah (Texas) ada Ust Syamsi Ali, orang Makassar yang memiliki Pesantren pertama di AS). Indonesian Islamic Center di berbagai tempat di AS ramai dikunjungi orang karena dianggap lebih compatible dengan keseharian AS.

    Para Kepala Negara AS mengakui keberadaan Islam di Indonesia bukan sebagai penghalang untuk menjadi negara demokrasi. Bahkan Presiden Obama paling ekslusif memuji Indonesia sebagai sebuah negara model untuk persemaian antara agama dan nasionalisme. Indonesia disebutkan berkali-kali di dalam pidato Obama dalam pidatonya di Cairo University tgl. 4 Juni 2009. Selain karena negeri ini telah memberikan warna tersendiri di dalam memori kepribadiannya, dimana ia pernah hidup selama empat tahun di tengah perkampungan masyarakat muslim di Menteng Jakarta pusat, Indonesia juga menurutnya adalah negara muslim terbesar dan terluas penduduknya dan merupakan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Ia mengagumi Indonesia karena pada satu sisi negara muslim terbesar tetapi pada sisi lain Indoneisia juga menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi dengan segala keunikan-keunikannya.

    Obama menegaskan: “Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya. Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegang kekuasaan, Butir ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus hak-hak orang lain. Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua pihak yang memegang kekuasaan.”
    Kebebasan beragama dan kedudukan perempuan juga disinggung Obama. Ia berpendapat bahwa: “Islam memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini. Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan berbagai cara”.

    Dalam pendidikan, Obama menyatakan akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di seluruh dunia; dan menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo. Inilah saat dan momentum yang paling tepat Indonesia memainkan peran di Timur-Tengah dan AS. Keterlibatan Indonesia di dalam menyelesaikan berbagai persoalan global sangat diharapkan. Kebijakan AS tentang Islam di AS sering dijadikan Indonesia sebagai model untuk sebuah keharmonisan dan keselarasan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Populasi Muslim di AS



    Jakarta

    Agak sulit memastikan berapa angka pasti populasi muslim di AS karena sensus di sana jarang melibatkan agama sebagai postulat yang harus diobyektifasi, karena agama dianggap wilayah yang sangat privat. Namun demikian, akhir-akhir ini sudah mulai ada kelompok yang berkepentingan untuk mengukur kekuatan dan potensi umat Islam di AS, termasuk data-data kuantitatif umat Islam di AS. Konon saat ini pemerintah AS sedang mempelajari kemungkinan adanya sensus populasi setiap penganut agama dan non beragama di AS. Tentu kita akan menunggu hasilnya.

    Ada sejumlah survei yang pernah berusaha menghitung populasi warga AS berdasarkan agama dan kepercayaan, tetapi sekali lagi ini bukan angka resmi dari pemerintah AS. Meskipun bukan angka resmi tetapi survey-survey di AS memiliki ketentuan tersendiri, yang tidak boleh asal-asalan karena bisa diprotes bahkan bisa diproses hukum kalau ternyata hasil surveinya salah lalu menimbulkan kegaduhan di dalam masyarakat.

    Sejumlah hasil survey menunjukkan pertumbuhan populasi muslim paling cepat perkembangannya di AS. Jika saat ini masih berkisar 4-7 juta jiwa, dan diperkirakan tahun 2050 akan melewati 8,1 juta jiwa. Sejumlah pengamat masa depan AS akan dipadati oleh populasi muslim, sebagaimana halnya di sejumlah negara di Eropa. Hillary Clinton sendiri mengakui bahwa “Islam is the fastest growing religion in the world”. Sangat masuk akan karena pola migrasi muslim saat ini sedang menyerbu negara-negara yang aman untuk berinvestasi, perfect untukmendidik anak, aman untuk meminta suaka politik, dan syurga bagi para expertist yang disukai di AS. Soal bagaimana menyeleksi agar yang masuk di AS bukan kelompok keras, apalagi teroris, AS sudah punya system proteksi yang berlapis. Itulah sebabnya dalam sebuah data survey menunjukkan, populasi muslim di AS tidak didominasi oleh para pencari kerja kasar seperti di Eropa tetapi di AS lebih didominasi oleh imigran muslim professional. Adalah wajar juga jika pendapatan perkapita komunitas muslim di AS setara dengan warga AS lainnya, karena mereka terdiri atas para pekerja professional.


    Data terakhir (bulan Maret 2009, 10 tahun lalu) dari State Department of US memerinci asal usul etnik muslim sbb: African American 25%, Arab 26%, Asia Selatan 34%, dan lainnya 15%. Dibandingkan dengan panganut agama lain: Christian 78.5%, dengan perincian Protestant 51.3%, Katolik Roma 23.9%, Mormon 1.7%, Kristen lainnya 1.6%, tidak berafiliasi (unaffiliated) 12.1%, tidak beragama tertentu 4%, lain-lain yang belum teridentifikasi agamanya (unspecified) 2.5%, Yahudi 1.7%, Budha 0.7%, dan Islam 0.6%.

    Data dari PEW Research Cebter mengungkapkan klasifikasi imigran muslim didominasi oleh negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, Banglades 35%, Timur Tengah dan Afrika 25%, Asia lainnya dan Pasifik 3%, Subsahara Afrika 9%, Iran 11%, Eropa 4%, Amerika 4%, dll kurang dari 1%. Dari asal usul kelahiran 23% jumlah populasi muslim lahir di Asia Pasifik, seperti Iran, Indonesia, dll, 25% dating dari Timur Tengah dan Afrika bagian utara, 9% datang dari sub-Sahara Afrika, 4% lahir di Eropa, dan 4% lahir dari sekitar Amerika. Imigran paling besar datang dari Pakistan (15%), Iran (11%), India (7%), Afganistan (6%), Iraq (5%), Kuwait (3%), Syiria (3%), dan Mesir (3%).

    Kecenderungan populasi muslim di AS dekade terakhir menunjukkan angka peningkatan yang sangat signifikan. Agak ironis, justru pertumbuhan populasi besar itu terjadi pasca peristiwa 11/9. Komunitas muslim di AS menurut survey terakhir bukan hanya populasinya bertambah secara kuantitatif tetapi berbanding lurus dengan perkembangan kualitas dan tingkat kesejahteraan mereka. Populasi muslim di AS didominasi oleh kaum profesional. Berbeda dengan populasi muslim di Eropa didominasi para pekerja upah rendah. Komunitas muslim di AS menunjukkan kecenderungan sebagai warga yang lebih taat hukum.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Estimasi Populasi Muslim di AS Tahun 2050



    Jakarta

    Estimasi PEW Research Center tentang pertumbuhan populasi muslim di AS tahun 2050 akan melejit menjadi 73%, jauh melampaui pertumbuhan populasi Kristen (35%), Hindu (34%), Yahudi (15%), agama dan kepercayaan lokal (11%), tidak berafiliasi (9%), Budha (0,3%), dan lainnya (6%). Saat ini diprediksi populasi total umat Islam di AS antara 6-7 juta jiwa. Yang menarik ialah 2,5 juta jiwa terlahir non muslim tetapi saat ini menjadi bagian dari penganut agama Islam.

    Bukan hanya di AS tetapi juga di negara-negara lain akan terjadi ledakan penduduk muslim terbesar dan jauh melampaui agama-agam dan kepercayaan agama lain. PEW RC juga mengungkapkan umat Islam India akan menjadi penganut agama Islam di duninia, menggeser posisi Indonesia yang sudah berjumlah lebih dari 130 juta jiwa. Penganut agama Hindu di India sekitar 80,5 persen atau 857 juta jiwa, dan pemeluk Islam sebanyak 16,4 persen atau 174 juta jiwa. PEW RC juga menyebutkan pertumbuhan pemeluk agama Islam di dunia diprediksi akan lebih banyak dibandingkan dengan jemaat Kristen. Bahkan, pada 2070, jumlah umat muslim diperkirakan paling besar di dunia.

    PBB juga pernah merelist jumlah penduduk pada 2010 dengan total 6,9 miliar jiwa. Pada tahun itu, agama Kristen menjadi mayoritas dengan total 31,4 persen atau sekitar 2,2 miliar jiwa. Agama Islam berjumlah 1,6 miliar (23,2%), Orang-orang yang tidak meiliki agama sekitar 1,1 miliar (16,4%), agama Hindu sekitar 1 miliar (15%), agama Budha 487,8 (7,1%), agama lokal di sekitar 404,6 juta (5,9%), agama Yahudi sekitar 13,8 juta jiwa (0,2%), dan agama-agama lainnya sekitar 58,1 juta jiwa (0,8%). Bandingkan juga pertumbuhan total populasi manusia pada tahun 2050 diprediksi mencapai 9,3 miliar, agama Kristen diimbangi umat Islam di angka 2,9 miliar (31,4%). Agama Islam dengan angka 2,8 miliar (29,7%). Tidak beragama sekitar 1,2 miliar jiwa. Agama Hindu 14,9 (13,2%) atau sekitar 1,4 miliar jiwa. Agama Buddha 487 juta jiwa (5,2%), agama lokal sekitar persen atau 450 juta jiwa (4,8%). Yahudi 16 juta jiwa (0,2%), dan agama lainnya sekitar 61,4 (0,8).


    Lebih lanjut PEWRS menjelaskan bahwa pertumbuhan umat Islam di dunia mengalami perkembangan pesat terutama disebabkan karena perkembangan umat Islam terbesar datang dari India dan Benua Afrika. Seperti di India, walau mayoritas penduduknya beragama Hindu, jumlah pemeluk Islam pada 2050 atau 2070 akan menjadi paling besar di dunia. Jumlah penganut Islam di India melebihi umat muslim di Indonesia.

    Negara-negara sub-Sahara juga akan menyumbangkan populasi muslim baru terbesar selama tiga dekade mendatang. Selanjutnya beberapa negara seperti Inggris, Australia, Benin, Bosnia-Herzegovina, Prancis, Belanda, Selandia Baru, dan Republik Makedonia, tingkat populasi umat Kristen berkurang dari 50 persen. Di Eropa, jumlah muslim mencapai 10 persen dari total populasi pada 2050. Islam pun menjadi agama mayoritas di 51 negara. Hal lain membuat agama Islam cepat berkembang karena pertumbuhan agama Kristen di Amerika Serikat turun lebih dari tiga perempat dari populasi pada 2010 dan menjadi dua pertiga pada 2050. Agama Yahudi pun tidak akan menjadi terbesar setelah Kristen.

    “Umat muslim lebih banyak di Amerika dibandingkan orang yang mengaku Yahudi sebagai dasar agama,” ujar laporan Pew. Tentu saja secara global, umat Islam di dunia juga memiliki tingkat kesuburan tinggi. Rata-rata, 3,1 anak per perempuan. Sedangkan, jemaat Kristen memiliki rata-rata 2,7 anak per perempuan dan Yahudi rata-rata 2,3 anak per perempuan. Jika angka tersebut tidak banyak berubah, jumlah seluruh pemeluk muslim di dunia akan setara dengan jumlah jemaat Kristen atau sekitar 32,3 persen pada 2070.

    Sedangkan, jumlah umat muslim akan terus bertambah dan diprediksi akan meningkat menjadi 35 persen dari populasi manusia tahun 2100. Diprediksi pada tahun 2100, umat muslim akan lebih banyak daripada jemaat Kristen. Karena dari seluruh populasi di dunia maka sekitar 35% akan memeluk agama Islam, sedangkan 34 persen menjadi jemaat Kristen. Sisanya, pemeluk agama Hindu, Buddha, agama kepercayaan, Yahudi, dan tidak.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kekompakan Sunny dan Syi’ah



    Jakarta

    Hal yang menarik untuk dikaji di AS ialah kekompakan antara Islam Sunny dan Islam Syi’ah, yang di negara-negara lain seringkali tidak harmonis. Di AS dalam banyak tempat kedua aliran ini amat kompak di dalam mengelola umatnya masing-masing di dalam satu masjid atau dalam satu center bersama.

    Di negara bagian Virginia, di sana ada Masjid yang disebut Masjid ADAMS Center, diklaim oleh pengurusnya sebagai Masjid terbesar kedua di AS, kami berdiskusi dengan pengurus Masjid yang dihadiri para imam di lingkungan kota Virginia dipimpin oleh Imam Muhammad Magid, Executive Director ADAMS Center sekaligus merangkap Imam Besar kota Virginia.

    Kami berdiskusi tentang peran umat Islam AS di dalam memperkenalkan Islam di AS, terutama pasca kejadian 9/11. Kami belajar banyak terhadap mereka dan mereka juga mengaku banyak belajar dari pengalaman kami di Indonesia. Kami sama-sama mengembangkan Islam moderat (tawassuthiyyah). Kami jiga mendengarkan peran ADAMS Centerdi dalam mendekati pemerintah dan komunitas masyarakat non-muslim yang begitu mengesankan.


    Diskusi kami dipotong oleh azan yang menggema di Masjid itu lalu kami shalat berjamaah Bersama dengan komunitas Islam yang kebetulan juga dihadiri sejumlah masyarakat Indonesia yang berdomisili di sana. Komunitas masyarakat Indonesia yang selalu mengiringi kami di sejumlah tempat kunjungan sampai ke Air Port, dalam menempuh perjalan kami menuju Detroit.

    Pukul 15.10 Menjelang Magrib, Rabu tanggal 13 April 2019, kami tiba di Detroit dijemput dengan panitia yang sudah mempersiapkan hotel indah, Doubletree Hotel Dearborn, yang terletak agar di pinggir kota di tengah komunitas Islam. Keesokan harinya kami langsung berkunjung di sejumlah tempat.

    Pertama kami berkunjung ke sebuah Masjid yang berpekerangan luas. Di kompleks masjid ini berdiri Gedung sekolah dan perkantoran yang melayani komunitas muslim di Dertroit. Para pengurusnya memperkenalkan Islam di Kawasan itu dengan istilam Islam Susyi. Kami tidak faham apa yang dimaksud dengan Islam Susyi, ternyata yang dimaksudkannya ialah Islam Sunny-Syi’ah, karena fifty-fifty persen Sunny dan Syi’ah mendiami Kawasan ini.
    Mereka menggunakan satu masjid secara damai Pengurusnya pun kombinasi dari kalangan Sunny dan Syi’ah. Di masjid ini kami berdiskusi dengan pengurus masjid dan tokoh-tokoh masyarakat muslim Detroit. Pagi itu agak ramai karena ada orang meninggal yang sedang dishalatkan di masjid itu. Ia diupacarakan dengan cara Syi’ah karena kebetulan yang meninggal orang Syi’ah. Meskipun demikian yang bertakziyah adalah juga dari kalangan sunny.

    Agak siang kami pindah ke masjid yang didominasi Syi’ah. Meskipun ornament Syi’ah mendominasi kompleks masjid yang juga dilengkapi dengan ruang-ruang madrasah tetapi Imamnya mengklaim tidak ada jarak diri dan komunitasnya dengan komunitas Sunny.

    Mereka juga mengulangi istilah pengurus masjid pertama dengan mengklaim diri mereka sebagai Muslim Susy. Kami menayakan apakah pernah terjadi gesekan antara kedua komunitas ini? Para jamaah menjawab tidak pernah, mungkin disebabkan karena kami di sini minoritas muslim maka kami kompak. Kami bersatu di dalam memberikan pelayanan maksimum terhadap umat Islam. Mereka seperti memiliki komitmen Bersama untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan sebagai umat Islam daripada kelompok subyektifitas mereka sebagai Syiah atau Sunny. Indah sekali kelihatannya mereka duduk berdamai dengan penuh kehangatan satu sama lain dengan kami.

    Malam harinya, kami diundang dalam sebuah acar khusus, Interfaith Dinner. Kami beridiskusi dengan tokoh-tokoh berbagai agama. Diskusi itu juga sangat mengesankan karena bagaimana Imam Masjid bisa sedemikian akrab dengan para Rabi, Pendeta, Pastor, dan Biksu. Satusama lain berdiskusi membicarakan masa depan kemanusiaan di tengah tantangan internal dan eksternal agama masing-masing. Problem teknologi modern yang amat sofiticated, tak lupa juga menjadi agenda pembicaraan. Misalnya, bagaimana menghadapi era artificial intelligent, era milenial, dan dampak social media dan kaitannya dengan peran agama.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Muslim Amerika: Komunitas Profesional



    Jakarta

    Komunitas muslim di AS berbeda dengan komunitas muslim di daerah minoritas lain di negara-negara barat. Di Eropa komunitas muslim masih lebih didominasi oleh kaum pekerja kasar, misalnya pedangang kaki lima, buruh kasar, dan pekerja serabutan. Akan tetapi komunitas muslim di AS lebih terdidik, intelektual, dan kaum profesional. Umumnya mereka masuk dalam kategori kelas menengah (middle class) dan masuk lagi masuk sebagai kaum pinggiran (pheriperial) tetapi sudah masuk di dalam kelas utama (mainstream).

    Komunitas muslim banyak bekerja di sektor formal dan profesional seperti dokter, insinyur, konsultan, guru, dosen, militer, diplomat, pengusaha, pemilik toko, supir taksi, atletis olahragawan, seniman, artis, dan bekerja di sektor jasa profesional lainnya. Mereka juga bertempat tinggal di apartemen dan perumahan yang lebih layak sebagaimana halnya warga masyarakat AS lainnya. Mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dan perguruan tinggi terbaik di AS. Bahkan mengirimnya ke kota-kota lain yang lebih mutu pendidikannya lebih baik.

    Mereka umumnya terpelajar dan mengerti soal hukum. Tidak sedikit di antara mereka memiliki lawyer sendiri, dokter pribadi atau dokter keluarga. Hidup mereka lebih tenang karena memiliki asuransi, bahkan memiliki beberapa jenis asuransi. Mereka juga memiliki kesadaran untuk hidup sehat sehingga pintar memanfaatkan hak-hak dan kewajibannya sebagai warga AS. Tidak sedikit di antara mereka memiliki posisi penting di kantor atau di perusahaan mereka bekerja karena profesionalitasnya. Di samping itu juga memiliki tingkat ketekunan bekerja di atas rata-rata sejumlah komunitas minoritas lainnya. Mungkin itulah sebabnya dekade terakhir survey-survey menunjukkan tingkat penerimaan akseptabilitas umat Islam di AS semakin baik. Bandingkan dua dekade sebelumnya, terutama beberapa saat pasca peristiwa 9/11 sekitar 60% warga AS tidak mau bertetangga dengan komunitas muslim. Survey terakhir semakin menunjukkan angka lebih baik, bahkan melebihi komunitas minoritas lainnya.


    Penghasilan komunitas muslim di AS sudah masuk papan menengah. Sekitar 45% di antara mereka penghasilannya rata-rata di atas 50.000 USD pertahun. Tidak heran jika akhir-akhir ini komunitas muslim menimbulkan kecemburuan dari komunitas minoritas lainnya, seperti kelompok Black American, Spanish, dan imigran non muslim lainnya. Komunitas muslim juga sudah bisa mengatur hidupnya sesuai dengan warga AS lainnya. Mereka mempunyai jadwal rekreasi dan treveling secara teratur, dengan manajemen keuangan terencana. Termasuk mengirim shadaqah, jariyah, waqaf, dan zakat mal, yang merupakan tuntutan tersendiri bagi umat Islam selain tax dan berbagai pajak lainnya.

    Komunitas muslim juga banyak mengakses kegiatan politik. Tidak sedikit di antara mereka yang berhasil menduduki jabatan-jabatan publik di instansi pemerintahan. Bahkan seperti tahun ini kita bisa menyaksikan dua orang senator yang beragama Islam. Belum lagi jabatan-jabatan birokrasi pemerintahan di tingkat state dan kabupaten. Jika komunitas muslim menjadi pejabat publik, mereka cukup diperhitungkan karena mereka berkeyakinan harus sukses di tengah stigma negatif yang pernah melekat pada diri komunitas muslim.

    Soal loyalitas kepada negara dan pemerintah AS tidak lagi diragukan. Polling yang pernah dilakukan oleh a Gallup poll found menunjukkan 93% komunitas muslim AS menunjukkan loyalitas tinggi kepada negara dan pemerintah AS. Bahkan komunitas muslim di AS terakhir sudah dikenal sebagai “The Role Models both as Americans and as Muslims”, loyalitas kepada agama mereka berbanding lurus dengan loyalitasnya terhadap bangsa dan negara AS.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • The Council on American-Islamic Relations (CAIR)



    Jakarta

    Salah satu ormas Islam cukup besar di AS ialah The Council on American-Islamic Relations (CAIR). Organisasi ini didirikan pada bulan Juni 1994 di Washington DC. Salah seorang pendirinya ialah Nihad Awad. Tujuan pendiriannya ialah untuk memberikan pembelaan (advocacy) komunitas muslim yang sering tidak memahami hak dan kewajiban civilnya sebagai warga AS. CAIR juga bermaksud untuk memperkenalkan prestasi umat Islam di dalam mendukung tujuan umum dan ideologi AS. Dengan adanya wadah ini maka dengan mudah komunitas Islam di AS khususnya di DC untuk diajak terlibat untuk mendukung program-program positif, baik pembinaan sebagai umat maupun sebagai warga AS. Jika ada anggota atau warga muslim yang terkena kasus hukum atau musibah maka dengan mudah mereka bisa mendapatkan pertolongan dan bantuan dari dan untuk komunitas muslim.

    Masih ingat kita dengan isu diskriminasi jilbab di AS pada tahun 1995, beberapa orang ditolak dan bahkan ada yang dikeluarkan jadi karyawan karena menggunakan jilbab (vail). Pada saat itu CAIR hampir membela mereka dengan mengusung isu Hak Asasi Manusia (HAM). CAIR juga memberikan advokasi terhadap keluarga pembom (bomber) di Oklahoma tahun 1995, sekaligus melakukan program deradikalisasi pemahaman agama Islam kepada umat Islam, khususnya keturunan Arab di AS. Banyak lagi kasus yang ditangani CAIR di AS, yang intinya memberikan advokasi terhadap warga muslim sekaligus menyampaikan harapan-harapan pemerintah AS terhadap umat Islam.

    Kehadiran CAIR juga membantu pemerintah AS untuk melakukan pembinaan warga dengan menggunakan bahasa agama seperti yang dianut oleh warganya. Kelompok agama-agama lain juga dibiarkan tumbuh dan berkembang di bawah organisasi-organisasi paguyuban mereka, karena keberadaannya justru lebih menguntungkan dan lebih memudahkan pemerintah AS menjalin komunikasi untuk sesuatu yang positif untuk semuanya. Sebaliknya dengan adanya wadah paguyuban ini umat Islam lebih mudah menyalurkan aspirasi mereka ke pemerintah dibanding menyampaikannya secara personal. Lagi pula, jika sudah terbentuk organisasi yang anggotanya kongkrit by names dan bay address otomatis akan memiliki harga politik yang mahal, karena siapa pun yang akan menjadi calon pemimpin eksekutif dan legislatif pasti akan memperhatikan mereka karena memiliki hak suara.


    Hanya saja, karena para anggota dan pengurus yang aktif di dalam organisasi ini kebanyakan dari komunitas muslim Timur Tengah, khususnya yang bersentuhan langsung secara emosional dengan persoalan yang dihadapi di Palestina. Bahkan di antara anggotanya berasal dari keluarga Hamas yang hijrah ke AS. Mereka masih mempunyai anggota keluarga di Palestina atau di Libanon. Begitu Israel melakukan tekanan dan gempuran terhadap negara-negara tetangganya maka secara emosional anggota CAIR juga angkat bicara, mungkin di antaranya ada yang sangat vokal, sehingga mengundang perhatian banyak orang. Akibatnya ketenangan warga AS lain mungkin ada yang terusik, apalagi keluarga Yahudi yang juga banyak di AS. Seperti halnya oraganisasi muslim yang anggota-anggotanya berasal dari Timur-Tengah sering dianggap organisasinya berafiliasi dengan kelompok hard liner seperti kelompok Ikhanul Muslimin (Muslim Brotherhood). Mungkin memang ada segelintir orang yang berhaluan keras tetapi lebih merupakan inisiatif personal yang mungkin anggota keluarganya korban dari kekerasan Israel di Timur Tengah. CAIR dan ormas-ormas Islam lainnya di AS sangat berperan di dalam memperbaiki citra umat Islam yang dirusak oleh segelitir orang yang melakukan kekerasan atas nama agama Islam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Imam sebagai Mediator Umat



    Jakarta

    Sebagai agama dan umat minoritas Islam di AS, keberadaan Imam di sana menjadi sangat penting. Bukan hanya panting karena terus-menerus harus memberikan pelayanan kepada warga muslim yang umumnya mereka adalah orang awam, tetapi juga penting karena menjadi mediator, negosiator, dan moderator dengan para pihak yang ada di lingkungan umat Islam.

    Pemerintah AS seringkali mengundang tokoh-tokoh agama, dan untuk umat Islam seringkali diwakili oleh Imam, untuk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Sebagai negara demokrasi, AS selalu mendialogkan setiap persoalan untuk diselesaikan secara adil dan fair. Jika ada kunjungan tokoh-tokoh agama dunia, pemerintah AS sering mengundang para imam untuk hadir dalam jamuan makan tamu penting itu. Yang paling tepat menjadi representasi umat Islam di AS ialah para imam.

    Keberadaan imam di AS bukan bentukan pemerintah, karena pemerintah tidak berhak mengintervensi urusan kepemimpinan internal umat beragama. Nanti jika muncul persoalan khusus, misalnya muncul konflik yang bisa mempengaruhi ketenangan dan keamanan warga masyarakat barulah negara terlibat di dalamnya. Penunjukan imam sepenuhnya ditentukan oleh komunitas muslim. Berapa lama periodenya menjadi imam, juga ditentukan oleh persepakatan warga lokal muslim setempat.


    Ada yang tidak ditentukan masa jabatannya, sampai imam itu masih sehat saja dan ada ditentukan lama masa jabatannya berdasarkan periode tententu, misalnya per lima tahunan. Mereka masih bisa dipilih lagi jika masih memenuhi syarat dan belum ada orang yang lebih capable dari imam sebelumnya. Ada imam uang diimpor dari luar AS seperti sejumlah tenaga imam dari Mesir, Saudi Arabia, dan dari negara-negara mayoritas muslim lainnya yang fasih bacaan Al-Qur’annya serta bisa berdakwah ke dalam bahasa Inggris.

    Jika ada kasus keagamaan terjadi di lingkungan komunitasnya maka imam selalu harus hadir sebagai mediator atau negosiator dengan para pihak. Misalnya ada kasus pembangunan rumah ibadah yang diprotes oleh masyarakat setempat atau ada rumah ibadah (masjid) sulit mendapatkan izin pembangunan, maka biasanya imam tampir sebagai faktor penting untuk menyelesaikan persoalan itu.

    Pihak pemerintah, khususnya pihak keamanan (police) selalu berkomunikasi dengan imam jika ada masalah di lingkungan keberadaan mereka. Pemerintah juga secara rutin mengundang para imam untuk memberikan ceramah dan pencerahan untuk narapidana muslim di penjara yang jumlahnya tidak sedikit. Demikian pula jika ada di antara narapidana itu yang ingin pindah agama (Islam), kalangan imam juga diminta hadir untuk mengislamkan mereka.

    Pemerintah AS, khususnya pemerintah di tingkat negara bagian (states) mempunyai struktur sendiri dimana tokoh-tokoh agama untuk berbagai agama termasuk Islam, diberi ruang atau forum antar para tokoh lintas agama untuk bersidang secara periodik guna membahas persoalan-persoalan yang berhubungan dengan agama. Terkadang huga diinisiatifi oleh kelompok agama-agama lain. Seperti kelompok agama Protestan atau Katolik mengundang tokoh-tokoh agama lain untuk berdiskusi tentang persoalan kemanusiaan yang sedang menjadi sorotan atau isu dalam masyarakat.

    Meskipun AS sering disebut negara sekuler tetapi kehidupan dan nuansa agama bagi para penduduknya sangat kuat. Simbol-simbol keamaan sering ditampilkan. Doa bersama sering dilaksanakan dalam beberapa acara dan upacara. Hari-hari besar agama-agama juga sering diperingati. Termasuk hari-hari besar Islam seperti hari raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Anak-anak saya ketika masih duduk dibangku sekolah dasar di Masryland diharuskan melantunkan lagu yang bernuansa keislaman, seperti lagi “Happy Idul Fthr”, yang dinyanyikan bukan hanya anak-anak muslim tetapi seluruh murid yang dipimpin oleh gurunya.

    Nasaruddin Umar
    Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Mitos tentang Muslim Amerika



    Jakarta

    Menurut Imam Faisal Abdur Rauf, pengarang buku: What’s Right With Islam Is What’s Ringht With America, ada lima mitos tentang muslim Amerika. Yang dimaksud mitos menurut beliau bukan fakta. Sebaliknya muslim AS tidak berbeda dengan warga AS lainnya. Bahkan sebagian besar muslim AS paling taat hukum, anti kriminal, dan disiplin dan jujur membayar pajak.

    Kelima mitos tersebut ialah, Pertama, muslim AS diimejkan sebagai pendatang dari luar negeri (foreigners). Ini tidak benar karena lebih banyak warga muslim yang hidup di AD adalah penduduk asli AS (citizens) yang dapat dibuktikan kartu-kartu identitas dan paspor. Warga muslim AS bukan hanya dari kulit berwarna tetapi juga kulit putih dan kulit hitam. Apalagi saat ini sudah banyak sekali yang tadinya orang tuanya poregners tetapi anak-anaknya lahir dan besar di AS, ahkan di antaranya sudah banyak berkiprah di pemerintahan dan militer AS. Bagaimana mereka bisa dikesankan foreignes?

    Kedua, muslimAS ersifat etnik, berbudaya khusus, dengan gaya politik monolitik. Ini juga tidak sepenuhnya benar, karena seperti umat beragama lainnya di AS, muslim AS tidak menonjolkan etnik dan budaya secara ekslusif. Mereka bergaul bebas tanpa beban etnik dan budaya serta tidak juga membebani orang lain dengan ciri khasnya. Seorang muslim sulit dibedakan antara non muslim American dan non-American, terutama di musim dinigin, umumnya orang menggunakan penutup kepala untuk mencegah hawa dinginn yang menyengat. Aliran politik muslim AS juga menyebar ke berbagai partai politik, tidak berkumpun pada satu partai. Jadi tidak benar muslim AS pandangan politiknya monolitik.


    Ketiga, muslim AS menekan perempuan (oppress women). Faktanya kaum perempuan muslim AS lebih otonom dan lebih mandiri. Soal resspek terhadap suami memang ia karena kultur Islam memang menganjurkan suami isteri harus saling menghargai dan bersama-sama memelihara anak dan bertanggung jawab di dalam urusan rumah tangga. Jika perempuan menunjukkan begitu loyal terhadap suami dan keluarga itu bukan karena ditekan oleh kaum laki-laki tetapi perempuan shalehah ditandai dengan respektifnya terhadap keluarga. Keunggulan masyarakat Islam terletak pada terciptanya harmonisasi di dalam keluarga. Pembagian kerja secara seksual terkadang memang tidak bisa dihindari, tetapi itu bukan berarti oppressed women. Ada sebuah kerelaan yang tulus yang dilakukan kaum perempuan melakukan hal demikian itu karena pada saat yang bersamaan anggota keluarga laki-lakinya, apakah itu suami, atau ayah, juga melakukan hal yang sama dalam bidang lain. Dengan demikian, terjadi relasigender yang paralel antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga Islam. Hanya saja kita sering melihatnya secara sepihak, tidak komperhensif, sehingga kelihatan ada bias gender dalam lingkungan keluarga muslim.

    Keempat, muslim AS sering menjadi alamat kelompok teroris (homegrown terrorists), ini juga tidak sepenuhnya benar. Bahkan yang umat Islam seringkali menjadi sasaran korban kelompokm teroris. Soal ada teroris beralamat di alamat yang sama dengan orang-orang Islam secara sosiologis itu wajar, karena memang mungkin anggota keluarga mereka di sana. Namun tidak identik antara komunitas muslim dengan kelompok teroris. Yang paling aktif bahkan pro-aktif terlibat dalam pencegahan teroris adalah komunitas muslim AS. Umat Islam AS paling tidak nyaman terhadap aksi teroris di mana-mana, karena pasti sasaran opini publik adalah umat Islam, termasuk dirinya.

    Kelima, muslim AS selalu membawa-bawa hokum Syari’ah. Ini juga tidak sepenuhnya benar. Syari’ah yang bersifat hukum privat dan Fikih Ibadah, memang ia tetapi Syari’ah dalam aspek Fikih Siyasah (politik) tidak pernah digagas di AS. Muslim AS tahu diri sebagai kelompok minoritas, secara logika dan secara demokratis sulit mengusung Fikih Siyasah Ifikih Politik) di AS. Bagi umat Islam di AS, hukum positif AS tidak menghalangi umat Islam untuk menjadi muslim sejati.

    Nasaruddin Umar
    Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com