Tag Archives: analisis pasar

Harga Bitcoin Tiba-tiba Terjun Bebas!


Jakarta

Pasar keuangan digital kripro kompak terkoreksi pada perdagangan hari ini, Selasa (16/12/2025). Penurunan harga terjadi pada Bitcoin (BTC) yang diikuti beberapa altcoin lainnya, seperti Ethereum, BNB, hingga Solana.

Mengutip dari data perdagangan Coinmarketcap hari ini, harga BTC melemah 4,44% selama 24 jam terakhir. BTC turun signifikan dari harga tertingginya di level US$ 89.945 atau sekitar Rp 1,50 miliar (asumsi kurs Rp 16.692) ke posisi US$ 85.595 atau sekitar Rp 1.42 miliar.

Jika ditarik pada perdagangan sepekan terakhir, pergerakan harga BTC turun signifikan setelah mencapai level US$ 94.350 atau sekitar Rp 1,54 miliar. Dalam sepekan, harga BTC tercatat melemah sebesar 4,79%.


Berdasarkan analisa Coinmarketcap, para investor BTC masih menanti laporan inflasi AS. Data inflasi ini disebut dapat menentukan tren harga BTC di sisa bulan Desember 2025. Adapun data yang dinanti mencakup penjualan ritel, klaim pengangguran, Indeks Harga Konsumen, hingga konsumsi rumah tangga.

Meski begitu, koreksi harga ini tidak hanya terjadi untuk mata uang BTC. Pelemahan yang sama juga terjadi pada Ethereum (ETH) yang melemah 6,88% selama 24. ETH melemah dari harga tertingginya di level US$ 3.171 atau sekitar Rp 52,93 juta ke harga US$ 2.909 atau Rp 48,55 juta.

Kemudian untuk BNB melemah 4,16% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. BNB turun dari harga tertingginya US$ 892,44 ke level US$ 852,34. Sementara untuk Solana (SOL) melemah 4,61% sepanjang 24 jam terakhir, dari harga tertinggi di posisi US$ 134,58 ke level US$ 125,91.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Babak Belur Jelang Akhir Tahun, Bitcoin Masih Kuat Nanjak?


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan hebat jelang akhir tahun 2025. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap hari ini (18/12/2025), BTC terkoreksi 4,04% pada perdagangan sepekan terakhir ke harga US$ 86.611 atau sekitar Rp 1,44 miliar (asumsi kurs Rp 16.733) pukul 12.45 WIB.

Angka ini tercatat menurun drastis dari level tertingginya di harga US$ 92.900 atau sekitar Rp 1,55 miliar pada Jumat (12/12/2025). Tekanan ini terjadi akibat ketidakpastian pasar, arus dana ETF, dan faktor makroekonomi global, yang membuat pelaku pasar mencermati level teknikal.

Pada 15 Desember 2025, BTC sendiri mengalami tekanan jual tajam dan memicu likuidasi posisi long senilai sekitar US$ 200 juta hanya dalam waktu satu jam. Namun, rendahnya volume jual mengindikasikan penurunan lebih menyerupai koreksi sehat dibandingkan perubahan tren besar.


Kemudian dari sisi fundamental, investor institusional tercatat menarik dana dari spot Bitcoin ETF. Akan tetapi terjadi akumulasi korporasi yang terus berlangsung dan menopang optimisme jangka panjang terhadap Bitcoin.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan BTC memiliki area krusial di level US$ 88.000-US$ 89.000. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, BTC berpotensi melanjutkan penguatan menuju area US$ 90.000 hingga US$ 95.000.

Kondisi ini dianggap dapat mengembalikan sentimen bullish dan membuka peluang uji ulang level psikologis US$ 100.000 sebelum akhir tahun. “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas US$86.000, peluang pemulihan masih terbuka,” ungkap Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/12/2025).

Meski begitu, terdapat risiko penurunan masih membayangi. Level support penting berada di US$ 85.000. Jika area ini gagal dipertahankan, BTC berpotensi turun lebih dalam ke US$ 83.000 bahkan hingga US$ 80.500.

Pasalnya, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi BTC, seperti kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan. Pengetatan moneter Jepang kerap kali memicu volatilitas di aset berisiko seperti BTC yang berakibat kurangnya likuiditas dari yen carry trade.

“Kegagalan mempertahankan level tersebut bisa memicu fase konsolidasi lebih panjang dan menunda potensi reli hingga awal 2026,” jelasnya.

Fyqieh menjelaskan, level US$ 100.000 dipandang sebagai resistance kuat. Analis global seperti CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, menilai area tersebut menjadi zona jual bagi investor yang sebelumnya membeli di harga tinggi. Dengan begitu, terdapat potensi menahan laju kenaikan dalam jangka pendek.

Dengan kondisi saat ini, ungkap Fyqieh, proyeksi harga BTC berada pada fase netral ke bullish. Bertahan di atas US$ 86.000 menjaga skenario pemulihan tetap valid, sementara penembusan di atas US$ 92.000 berpotensi menggeser outlook pasar kembali ke arah bullish menjelang akhir tahun.

“Pasar masih membutuhkan katalis yang kuat untuk menembus resistance besar. Selama belum ada dorongan volume dan sentimen yang signifikan, pergerakan Bitcoin cenderung bergerak sideways dengan volatilitas tinggi,” tutupnya.

Simak juga Video BNN Ungkap Sulitnya Lacak Transaksi Narkoba Lewat Bitcoin-Kripto

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin cs Rontok, Investor Waspadai Ekonomi AS


Jakarta

Pasar kripto melemah usai Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga beberapa waktu lalu. Sejumlah koin kripto terpantau melemah di luar ekspektasi investor.

Berdasarkan analisis Tokocrypto, pemangkasan suku bunga The Fed justru meningkatkan kehati-hatian karena dianggap menandakan adanya indikasi pelemahan ekonomi di Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data perdagangan Kamis (25/9/2025), Bitcoin (BTC) bergerak di harga US$ 111.548 atau sekitar Rp Rp 1,87 miliar (asumsi kurs Rp 16.798). BTC melemah lebih dari 4,7% dalam sepekan terakhir.


Tren pelemahan juga dialami Ethereum (ETH) yang merosot tajam ke US$ 3.990, terkoreksi sekitar 11% dibanding pekan sebelumnya. Kemudian XRP melemah 6% ke US$ 2,89, sedangkan Solana (SOL) mencatat penurunan terdalam, anjlok lebih dari 15% ke US$ 203. BNB juga turun ke level US$ 988.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyebut tekanan ini terjadi akibat likuidasi besar-besaran di pasar derivatif dan melemahnya arus masuk ke ETF BTC spot. Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbas hasil obligasi juga mendorong investor beralih ke emas, yang saat ini mendekati harga US$ 3.800 per ons.

Berdasarkan data The Block, nilai ETF BTC hanya tumbuh sekitar 2% sejak awal Agustus. Sebaliknya, ETF ETH mencatatkan lonjakan 33% dalam periode yang sama.

Pertumbuhan disebut melampaui kenaikan harga ETH 13% di dua bulan terakhir. Hal ini dianggap mencerminkan minat terhadap produk ETH. Meski begitu, Fyqieh menyebut pelemahan pasar pasca-pemangkasan suku bunga merupakan kondisi umum.

“Pasar biasanya cenderung lesu lebih dulu sebelum menemukan titik stabil, lalu memasuki fase pertumbuhan baru beberapa bulan kemudian,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/9/2025).

Fyqieh menilai BTC saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan support kuat di sekitar US$ 111.000 kendati menghadapi tekanan jual yang masif.

“Tekanan jual memang besar, tapi data on-chain menunjukkan cadangan BTC di bursa turun ke level terendah tahun ini, yaitu 2,4 juta BTC. Ini artinya, kepercayaan holder jangka panjang masih terjaga,” jelasnya.

Ia menambahkan, potensi pemulihan tetap terbuka jika BTC mampu menembus level psikologis US$ 114.000. Dalam jangka pendek, volume perdagangan BTC disebut masih rendah. Namun, jika Bitcoin mampu menembus harga psikologis di level US$ 118.000, peluang menuju US$ 125.000 akan terbuka.

Bahkan, target optimistis hingga US$ 140.000 sebelum akhir tahun dinilai masih realistis, meski ada kemungkinan koreksi lebih dalam hingga US$ 108.000. Ke depan, Bitcoin diperkirakan tetap menjadi penentu arah pasar kripto secara keseluruhan.

“Kenaikan kecil yang terlihat bisa menyembunyikan potensi lonjakan lebih besar, terutama jika sentimen institusional lewat ETF kembali menguat. Namun, jika support utama gagal bertahan, BTC bisa kembali ke bawah US$ 110.000, dan itu berpotensi menyeret altcoin lebih dalam,” tutupnya.

Simak juga Video: Trump Kumpulkan Juragan Kripto di Gedung Putih, Apa Tujuannya?

(hns/hns)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Diramal Bisa Tembus Rp 2,15 Miliar


Jakarta

Pergerakan harga Bitcoin (BTC) terpantau terus menguat. Beberapa waktu lalu, salah satu aset kripto ini sempat menembus level tertinggi mingguan di harga US$ 126.198 atau sekitar Rp 2,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.588) sebelum akhirnya turun di level US$ 121.382 atau sekitar Rp 2,01 miliar per hari ini, Jumat (10/10/2025).

Berdasarkan analisis Tokocrypto, BTC masih memiliki potensi penguatan atau bullish dengan area support berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%. Sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi sinyal potensi kenaikan ke level US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,15 miliar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. Adapun saat ini, ia menilai dinamika pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat.


“Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/10/2025).

Ia menjelaskan, harga BTC naik 0,64% dalam 24 jam terakhir pada 9 Oktober 2025, menjadi sekitar US$ 122.273 atau sekitar Rp 2,0 miliar, melanjutkan tren positif mingguan sebesar +3,07% dan bulanan +9,22%.

Penguatan harga BTC ini didorong peningkatan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, meningkatnya permintaan institusional melalui ETF, dan kekuatan teknikal harga di atas level support. Berdasarkan risalah rapat FOMC yang dirilis beberapa waktu lalu, tercermin sinyal dovish dari para pejabat The Fed.

Sebagian besar peserta menilai pelonggaran kebijakan moneter tepat dilakukan untuk sisa tahun ini. Data CME FedWatch menunjukkan adanya peluang 92,5% pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 29 Oktober.

Investor menilai pelonggaran moneter ini akan melemahkan daya tarik dolar AS dan mendorong minat pada aset langka seperti BTC. Fyqieh menyebut, kebijakan ekspansif Amerika Serikat (AS), termasuk injeksi dana US$ 2,5 triliun melalui program Reverse Repo, menjadi sinyal bullish BTC.

“Kebijakan moneter longgar mengurangi daya tarik aset berbasis fiat dan memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS. Seperti tahun 2020-2021, penurunan imbal hasil riil biasanya diikuti lonjakan permintaan kripto, khususnya BTC,” jelasnya.

Sementara adopsi BTC bagi investor institusi juga turut meningkat. Berdasarkan data Bitwise, total inflow mencapai US$ 22,5 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Angka ini diproyeksikan meningkat hingga US$ 30 miliar pada akhir tahun.

Fyqieh memperkirakan arus masuk ETF akan mencetak rekor baru di kuartal IV karena meningkatnya perhatian investor ritel dan institusi terhadap BTC. Namun, ia tetap memperingatkan risiko eksternal.

“Kunci penggerak Bitcoin ke depan ada pada keseimbangan antara kebijakan The Fed dan kekuatan inflow ETF. Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga, arus masuk ETF harus tetap kuat agar tren bullish tidak kehilangan momentum,” tutupnya.

Lihat juga Video: Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin cs Rontok Usai Terbang Tinggi


Jakarta

Aset digital kripto kembali mengalami tekanan hebat beberapa hari terakhir. Bahkan, koin kripto dengan kapitalisasi terbesar seperti Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level US$ 109.200-an usai diramal menguat hingga US$ 130.000 beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, BTC sempat menyentuh level US$ 109.219 atau sekitar Rp 1,80 miliar (asumsi kurs Rp 16.564) pada perdagangan Sabtu (11/10/2025). Kemudian hari ini, Senin (13/10/2025) BTC melemah 7,06% pada perdagangan sepekan terakhir ke harga US$ 115.123 atau sekitar Rp 1,90 miliar.

Pelemahan juga diikuti oleh koin kripto Ethereum (ETH) yang turun sejak perdagangan Sabtu. ETH sempat terperosok ke harga US$ 3.504 per koin sebelum akhirnya menguat ke harga US$ 4.171 pada perdagangan Senin. ETH tercatat melemah hingga 8,72% pada perdagangan sepekan terakhir.


Nasib serupa juga dialami koin Solana (SOL) yang jatuh lebih dalam pada perdagangan sepekan terakhir, yakni sebesar 16.07% ke harga US$ 196,68 per koin. SOL juga sempat jatuh ke level terendah di harga US$ 173,94 per koin pada perdagangan Minggu (12/10).

Namun begitu, koin BNB tercatat menjadi satu-satunya yang masih menguat di perdagangan sepekan terakhir kendati sempat ambur pada perdagangan Sabtu ke harga US$ 1.043. Pada perdagangan hari ini, BNB tercatat di level US$ 1.339 dengan penguatan sebesar 9,72% di perdagangan sepekan terakhir.

Diketahui sebelumnya, pergerakan harga BTC sempat menunjukan optimisme dengan menembus level tertinggi sepanjang sejarah di level US$ 126.198 atau sekitar Rp 2,09 miliar sebelum akhirnya turun di level US$ 121.382 atau sekitar Rp 2,01 miliar per hari ini, Jumat (10/10/2025).

Berdasarkan analisis Tokocrypto, BTC masih memiliki potensi penguatan atau bullish dengan area support berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%. Sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi sinyal potensi kenaikan ke level US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,15 miliar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. Adapun saat ini, ia menilai dinamika pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat.

“Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/10/2025).

Lihat juga Video: Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Terjun Bebas Usai Shutdown AS Berakhir, Kok Bisa?


Jakarta

Pasar aset kripto kembali bergerak melemah setelah harga Bitcoin (BTC) turun ke bawah level support di kisaran US$ 96.000. Hal ini terjadi saat shutdown atau penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) berakhir.

Presiden AS Donald Trump telah menandatangani rancangan anggaran yang mengakhiri shutdown selama 43 hari pada Rabu malam (13/11) waktu setempat. Penandatanganan ini mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah AS dan memulihkan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026.

Dengan beroperasinya pemerintah secara penuh, lembaga-lembaga yang memegang peran penting dalam ekosistem kripto, termasuk Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), dapat melanjutkan agenda regulasinya.


Kondisi pasca shutdown kali ini berbeda. Meski pemerintah AS telah kembali beroperasi, reaksi pasar kripto relatif datar, bahkan Bitcoin masih berada di bawah tekanan.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyampaikan bahwa fluktuasi harga saat ini harus dilihat sebagai konsolidasi pasar menuju fase pematangan. Selebihnya, ketidakpastian kebijakan suku bunga masih menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga Bitcoin.

“Kebijakan suku bunga The Fed memiliki imbas terhadap pergerakan harga Bitcoin. Selain itu, selama arah kebijakan masih belum pasti, volatilitas pasar akan tetap tinggi karena investor cenderung menunggu kejelasan sebelum kembali masuk,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (14/11/2025).

Ia menambahkan bahwa sinyal pemangkasan suku bunga di bulan Desember nantinya bisa menjadi titik balik penting, sebab perubahan arah kebijakan moneter berpotensi membuka ruang pemulihan harga di pasar kripto global.

Selain itu, di tengah tekanan jangka pendek ini, Antony menegaskan bahwa pergerakan harga yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital di era ketidakpastian global.

“Penurunan harga Bitcoin di bawah US$ 100.000 dipengaruhi oleh beberapa faktor makro yang bersifat eksternal. Dengan berakhirnya shutdown dan operasional regulator kembali berjalan, pasar memiliki ruang untuk menata ulang arah dalam beberapa minggu ke depan,” jelas Antony.

Ia menjelaskan bahwa volatilitas saat ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Antony menyebut seluruh investor bisa tetap tenang dan fokus pada prinsip manajemen risiko.

“Koreksi semacam ini adalah bagian dari mekanisme pasar, dan setiap investor perlu meninjau kembali strategi investasi jangka panjang sesuai profil risiko masing-masing,” tambahnya.

Ia menjelaskan, Shutdown yang berkepanjangan menyebabkan gangguan pada proses pengumpulan data ekonomi penting, termasuk Consumer Price Index (CPI) dan laporan pekerjaan (nonfarm payrolls) untuk bulan Oktober 2025 yang seharusnya dirilis pada bulan November 2025.

Terkait sentimen inflasi, data terakhir menunjukkan adanya tekanan harga yang masih membayangi. Tingkat inflasi tahunan di AS naik menjadi 3% pada September 2025, tertinggi sejak Januari, dari 2,9% pada Agustus, meskipun angka ini sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 3,1%.

Data CPI terakhir ini masih menjadi acuan utama bagi The Fed karena perilisan data terbaru yang tertunda akibat shutdown. Adapun dengan kembalinya regulator utama seperti SEC dan CFTC bekerja penuh, perhatian pasar mulai bergeser dari urusan politik ke arah kejelasan regulasi kripto yang lebih terarah,

Misalnya, proses persetujuan ETF Kripto dan lanjutan pembahasan regulasi stablecoin. Kondisi ini bisa menjadi pondasi penting bagi perkembangan industri kripto dalam jangka panjang, meskipun tekanan inflasi masih perlu dicermati.

(ily/hns)



Sumber : finance.detik.com

Mengenal Trading Tool, Solusi Pemula agar Keputusan Trading Makin Terukur


Jakarta

Sebelum bicara soal profit dalam dunia trading, diperlukan pula bekal pengetahuan mengenai alat bantu yang dirancang untuk mendukung pemahaman pasar dan pengambilan keputusan trading. Trading tools pada dasarnya adalah fitur atau sistem yang membantu trader menganalisa pergerakan pasar dan mendeteksi peluang transaksi serta memberi peringatan perubahan harga secara real-time.

Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Valbury menghadirkan berbagai trading tools yang memungkinkan pengguna belajar memahami pasar sambil membangun kepercayaan diri sebelum turun dengan modal besar.

Valbury menyediakan berbagai fitur yang melatih sense trader dalam melakukan trading. Trader bisa belajar trading dengan mudah dan gratis dengan akun demo Valbury dan dapat dana virtual $10,000, sehingga bisa latihan analisa sepuasnya


Berikut fitur trading central Valbury yang bisa kamu manfaatkan.

1. Trading signal secara real time

Dapatkan trading signal secara langsung di perangkat anda ketika Trading Central mendeteksi peluang trading.

2. Analisa teknikal secara instan

Trading Central secara otomatis memindai market dan mengenali semua peluang trading yang muncul.

3. Prediksi dengan akurasi tinggi

Peluang trading dan prediksi harga dari algoritma AI divalidasikan kembali oleh tim riset Trading Central; memastikan bahwa anda akan menerima analisis terbaik.

4. Kompatibilitas tinggi

Mencakup semua produk Valbury seperti forex, emas, oil dan index saham.

Bagi kamu yang mencari tools untuk meningkatkan peluang, manfaatkan tools dari Valbury dan coba demo gratis di https://valbury.co.id/trading-tools/

(akn/ega)



Sumber : finance.detik.com

Rencana Trump Caplok Greenland Bikin Harga Bitcoin Melorot!


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis US$ 90.000 atau sekitar Rp 1,52 miliar (kurs Rp 16.900) pada perdagangan Rabu (21/1). Penurunan bitcoin terjadi seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko.

Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$ 87.000 sebelum bergerak fluktuatif. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global.


Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai. Menanggapi kondisi ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.

“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).

Menurut Antony, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.

“Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam seringkali beriringan dengan guncangan makro, terutama ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional.

“Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” sebut Antony.

Meski demikian, Antony menekankan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek.

“Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” tutup Antony.

Antony menekankan bahwa volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

Tonton juga Video: Trump Kumpulkan Juragan Kripto di Gedung Putih, Apa Tujuannya?

(ily/hns)



Sumber : finance.detik.com

Waspada! 5 Analis Peringatkan Harga Bitcoin Bisa Anjlok Sedalam Ini


Jakarta

Mata uang kripto terbesar di dunia, Bitcoin, anjlok lebih dari 12% dan sempat turun ke bawah level US$ 64.000. Penurunan ini membuat nilai Bitcoin hampir terpangkas setengahnya sejak mencapai puncak harga sekitar empat bulan lalu.

Mengutip Business Insider, Jumat (6/2/2026), sejumlah analis dan pengamat kripto menilai tekanan di pasar belum berakhir. Bahkan, ada kekhawatiran kondisi akan makin memburuk.

Kekhawatiran akan pelemahan yang lebih panjang mulai mencuat di kalangan investor setelah aksi jual besar-besaran menyeret Bitcoin ke level terendah dalam 15 bulan terakhir.


Selama beberapa bulan terakhir, pasar bearish Bitcoin telah memangkas hampir 50% harga aset kripto tersebut sejak mencetak rekor tertinggi di kisaran US$ 126.000. Para analis memperingatkan potensi penurunan lanjutan.

Analis Coin Bureau, Nic Puckrin, memperkirakan harga Bitcoin bisa turun hingga US$ 55.700 jika gagal bertahan di atas level US$ 70.000. Ia menilai penurunan ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran dari pemilik Bitcoin bermodal besar (whales), serta penjualan oleh investor institusional.

“Ketika Bitcoin terus melorot menembus batas psikologis US$ 70.000, terlihat jelas pasar kripto kini masuk fase kapitulasi penuh,” tulis Puckrin dalam catatannya.

Menurut Puckrin, jika melihat pola siklus sebelumnya, kondisi ini bukan sekadar koreksi jangka pendek, melainkan fase transisi menuju penyesuaian ulang pasar yang biasanya berlangsung berbulan-bulan, bukan hitungan minggu.

Sementara itu, Kepala Kebijakan Bitcoin Policy Institute, Zack Shapiro, menilai prospek jangka panjang Bitcoin sebenarnya masih cukup kuat, terutama karena mulai banyak dipakai investor besar. Namun dalam waktu dekat, ia memperkirakan harga Bitcoin masih bisa turun hingga mendekati US$ 58.000 sebelum akhirnya stabil. Jika itu terjadi, penurunan dari harga saat ini bisa mencapai sekitar 15%. Banyak penjual merupakan investor awal Bitcoin yang mulai merealisasikan keuntungan.

“Ini jelas ada unsur panic selling. Ada juga aksi ambil untung. Saat ini, jumlah penjual masih lebih banyak daripada pembeli,” katanya.

Analis teknikal senior, Katie Stockton, juga memperkirakan Bitcoin bisa turun sampai US$ 57.800 jika tekanan jual berlanjut.

“Untuk jangka panjang, tembusnya indikator teknikal mingguan menunjukkan tren kenaikan siklikal mulai kehilangan kekuatan, yang berpotensi memicu volatilitas tinggi dalam beberapa bulan ke depan,” tulis Stockton.

Bahkan, proyeksi yang lebih suram juga mulai bermunculan. Dalam catatan kepada klien, Stifel memperkirakan Bitcoin masih berpotensi turun hingga 45% dari level saat ini, atau ke kisaran US$ 38.000, berdasarkan analisis pola pasar bearish Bitcoin selama 15 tahun terakhir.

Sementara itu, Kepala Strategi Ekuitas Zacks Investment Research, John Blank, memperkirakan harga Bitcoin bisa melorot hingga US$ 40.000 dalam enam hingga delapan bulan ke depan. Ia menilai tekanan tersebut bisa dipicu oleh lamanya siklus musim dingin kripto serta potensi aksi jual dari pembeli korporasi.

Analis sekaligus investor legendaris Michael Burry, yang dikenal lewat film The Big Short, juga memperingatkan kemungkinan Bitcoin masuk ke fase kematian jika tekanan harga terus berlanjut.

(fdl/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Biang Kerok Bitcoin Babak Belur


Jakarta

Bitcoin (BTC) bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (23/2/2026). Pelemahan terjadi bahkan hampir pada seluruh token kripto yang dipicu penerapan tarif global yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebesar 15%.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 18.10 WIB, harga BTC tercatat melemah 2,77% sepanjang 24 jam terakhir ke harga US$ 66.309 atau sekitar Rp 1,11 miliar (asumsi kurs Rp 16.816).

Harga BTC turun dari level US$ 68.193 atau sekitar Rp 1,14 miliar pada perdagangan pagi sekitar pukul 06.05 WIB.


Dikutip dari CNBC, pelemahan harga BTC hari ini memperpanjang koreksi token tersebut sejak bulan Oktober 2025. Diketahui saat itu, BTC melemah setelah menyentuh level tertinggi pada harga US$ 125.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar.

Kemudian secara kumulatif sejak bulan Oktober 2025, BTC tercatat telah melemah lebih dari 47% hingga hari ini. Sementara secara kumulatif sepanjang tahun 2026, BTC tercatat melemah 26%.

COO BTSE, Jeff Mei, mengatakan pelemahan hari ini terjadi akibat aksi jual bersih investor menyusul pengumuman tarif AS sebesar 15%. Selain itu, kekhawatiran investor juga dipicu oleh naiknya tensi geopolitik AS-Iran.

“Kami yakin bahwa kenaikan tarif yang tiba-tiba ini menyebabkan investor menjual aset kripto sebagai antisipasi penurunan pasar yang lebih serius,” ujar Jeff Mei dikutip dari CNBC, Senin (23/2/2026).

Sementara itu, Kepala Riset 10x Research, Markus Thielen, mengatakan pelemahan harga BTC terjadi karena rendahnya kepercayaan dan likuiditas pasar kripto. Secara teknikal, BTC berada pada fase bearish yang ditandai rendahnya volume transaksi dan ketidakpastian di AS. BTC juga disebut berpotensi melemah hingga ke harga US$ 50.000.

Sebagai informasi, pelemahan juga terjadi pada altcoin seperti Ethereum (ETH) yang terkoreksi hingga 3,16% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.917 atau sekitar Rp 32,23 juta. Kemudian pelemahan tercatat pada koin BNB dan Solana (SOL) di perdagangan 24 jam terakhir, yang masing-masing terkoreksi sebesar 2,74% dan 5,91%.

Untuk harga BNB tercatat di level US$ 607,09, sedangkan SOL tercatat melemah ke harga US$ 80,32. Memecoin juga bernasib serupa pada perdagangan hari ini. DOGE misalnya, tercatat melemah hingga 1,03% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09652.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com