Tag Archives: as

Harga Bitcoin Anjlok, Ini Biang Keroknya


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) melemah pada perdagangan Senin (23/2/2026) siang. Pelemahan disebut imbas rencana penetapan tarif global yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebesar 15%.

Adapun saat ini, harga BTC tercatat melemah sepanjang perdagangan 24 jam terakhir sebesar 4,04% pukul 13.13 WIB ke level US$ 65.266 atau sekitar Rp 1,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.807). Sementara sepanjang perdagangan sebulan terakhir, harga BTC terkoreksi sebesar 4,47%.

Dikutip dari CNBC, pelemahan harga BTC hari ini memperpanjang koreksi token tersebut sejak bulan Oktober 2025. Diketahui saat itu, BTC melemah setelah menyentuh level tertinggi pada harga US$ 125.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar.


Kemudian secara kumulatif sejak bulan Oktober 2025, BTC tercatat telah melemah lebih dari 47% hingga hari ini. Sementara secara kumulatif sepanjang tahun 2026, BTC tercatat melemah 26%.

COO BTSE Jeff Mei mengatakan pelemahan hari ini terjadi akibat aksi jual bersih investor menyusul pengumuman tarif AS sebesar 15%. Selain itu, kekhawatiran investor juga dipicu oleh naiknya tensi geopolitik AS-Iran.

“Kami yakin bahwa kenaikan tarif yang tiba-tiba ini menyebabkan investor menjual aset kripto sebagai antisipasi penurunan pasar yang lebih serius,” ujar Jeff Mei dikutip dari CNBC, Senin (23/2/2026).

Sementara itu, Kepala Riset 10x Research, Markus Thielen, mengatakan pelemahan harga BTC terjadi karena rendahnya kepercayaan dan likuiditas pasar kripto. Secara teknikal, BTC berada pada fase bearish yang ditandai rendahnya volume transaksi dan ketidakpastian di AS. BTC juga disebut berpotensi melemah hingga ke harga US$ 50.000.

Sebagai informasi, pelemahan juga terjadi pada altcoin seperti Ethereum (ETH) yang terkoreksi hingga 5,25% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.872 atau sekitar Rp 31,45 juta. Kemudian pelemahan tercatat pada koin BNB dan Solana (SOL) di perdagangan 24 jam terakhir, yang masing-masing terkoreksi sebesar 3,88% dan 7,78%.

Untuk harga BNB tercatat di level US$ 597,10 dari US$ 624,38. Sedangkan SOL tercatat melemah ke US$ 78,52 dari US$ 85,28. Memecoin juga bernasib serupa pada perdagangan hari ini. DOGE misalnya, tercatat melemah hingga 3,22% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09398.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Biang Kerok Bitcoin Babak Belur


Jakarta

Bitcoin (BTC) bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (23/2/2026). Pelemahan terjadi bahkan hampir pada seluruh token kripto yang dipicu penerapan tarif global yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebesar 15%.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 18.10 WIB, harga BTC tercatat melemah 2,77% sepanjang 24 jam terakhir ke harga US$ 66.309 atau sekitar Rp 1,11 miliar (asumsi kurs Rp 16.816).

Harga BTC turun dari level US$ 68.193 atau sekitar Rp 1,14 miliar pada perdagangan pagi sekitar pukul 06.05 WIB.


Dikutip dari CNBC, pelemahan harga BTC hari ini memperpanjang koreksi token tersebut sejak bulan Oktober 2025. Diketahui saat itu, BTC melemah setelah menyentuh level tertinggi pada harga US$ 125.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar.

Kemudian secara kumulatif sejak bulan Oktober 2025, BTC tercatat telah melemah lebih dari 47% hingga hari ini. Sementara secara kumulatif sepanjang tahun 2026, BTC tercatat melemah 26%.

COO BTSE, Jeff Mei, mengatakan pelemahan hari ini terjadi akibat aksi jual bersih investor menyusul pengumuman tarif AS sebesar 15%. Selain itu, kekhawatiran investor juga dipicu oleh naiknya tensi geopolitik AS-Iran.

“Kami yakin bahwa kenaikan tarif yang tiba-tiba ini menyebabkan investor menjual aset kripto sebagai antisipasi penurunan pasar yang lebih serius,” ujar Jeff Mei dikutip dari CNBC, Senin (23/2/2026).

Sementara itu, Kepala Riset 10x Research, Markus Thielen, mengatakan pelemahan harga BTC terjadi karena rendahnya kepercayaan dan likuiditas pasar kripto. Secara teknikal, BTC berada pada fase bearish yang ditandai rendahnya volume transaksi dan ketidakpastian di AS. BTC juga disebut berpotensi melemah hingga ke harga US$ 50.000.

Sebagai informasi, pelemahan juga terjadi pada altcoin seperti Ethereum (ETH) yang terkoreksi hingga 3,16% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.917 atau sekitar Rp 32,23 juta. Kemudian pelemahan tercatat pada koin BNB dan Solana (SOL) di perdagangan 24 jam terakhir, yang masing-masing terkoreksi sebesar 2,74% dan 5,91%.

Untuk harga BNB tercatat di level US$ 607,09, sedangkan SOL tercatat melemah ke harga US$ 80,32. Memecoin juga bernasib serupa pada perdagangan hari ini. DOGE misalnya, tercatat melemah hingga 1,03% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09652.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com

Pasar Kripto Loyo, Stablecoin Keluarga Trump Ikut Melorot


Jakarta

Sejumlah token kripto kompak terkoreksi pada perdagangan hari ini, Selasa (24/2/2026). Pelemahan juga terjadi pada token stablecoin yang didukung keluarga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, USD1.

Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap pukul 10.57 WIB, token USD1 tercatat bergerak di zona merah dengan koreksi 0,3% ke harga US$ 0.9987. Sebelumnya USD1 bahkan sempat terjun lebih dalam ke harga US$ 0.9951 pada perdagangan Senin (23/2) kemarin.

Pemilik produk stablecoin USD1, World Liberty Financial, mengatakan tokennya aman di tengah ketidakpastian global, sebagaimana dikutip dari Reuters. Bahkan, mereka memgklaim dapat pulih dengan cepat kala token USD1 runtuh kemarin.


Selain itu, token WLFI juga diklaim aman dan terlindungi di tengah isu peretasan akun sosial media para pendirinya. Diketahui, World Liberty Financial didirikan pada tahun 2024 oleh keluarga Trump dan sejumlah mitra kerja sama. World Liberty Financial kemudian luncurkan token kripto WLFI dan USD1.

“Tidak ada kontrak pintar yang terpengaruh. Semua dana USD1 tetap sepenuhnya aman, terlindungi, dan dijamin sepenuhnya. Infrastruktur dan tim kami beroperasi persis seperti yang dirancang,” bunyi unggahan tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (24/2/2026).

Untuk diketahui, USD1 merupakan stablecoin berbasis dolar AS yang miliki harga seusai dengan mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Sementara WLFI adalah token berbasis Ethereum.

WLFI sendiri hari ini tercatat melemah 5,03% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.1080 dari level tertingginya di posisi US$ 0.117 para perdagangan pagi tadi. Secara kumulatif pada perdagangan sepekan terakhir, WLFI masih tercatat menguat 7,41%.

Simak juga Video ‘Belajar dari Gegernya Dugaan Penipuan Trading Timothy Ronald, Kita Bisa Apa?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Diramal Anjlok Makin Dalam, Ini Pemicunya


Jakarta

Aset kripto kompak melemah hingga perdagangan siang hari ini, Selasa (24/2/2026). Koreksi tajam yang terjadi pada sejumlah token utama kripto bahkan disebut masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah.

Dikutip dari data perdagangan Coinmarketcap pukul 13.00 WIB, pergerakan harga Bitcoin (BTC) melemah 3,02% sepanjang 24 jam terakhir ke level US$ 63.056 atau sekitar Rp 1,06 miliar (asumsi kurs Rp 16.837). Harga BTC turun dari US$ 66.451 atau sekitar Rp 1,11 miliar pada perdagangan pagi tadi.

Sementara Ether (ETH), tercatat melemah 2,28% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.824 atau sekitar Rp 30,71 juta. Secara kumulatif pada perdagangan seminggu terakhir, ETH bergerak melemah 7,76% dari harga US$ 1.973 atau sekitar Rp 33,22 juta.


CEO Triv, Gabriel Rey, menjelaskan harga BTC masih berpotensi terkoreksi. Menurutnya, level support harga BTC saat ini berada di US$ 59.000 atau sekitar Rp 993,2 juta untuk memastikan ruang untuk kembali menguat. Namun jika level tersebut tembus lebih rendah, ruang koreksi harga BTC disebut mencapai US$ 53.000 atau sekitar Rp 892,14 juta.

“Support terkuat harusnya ada di angka sekitar US$ 59.900 atau sekitar US$ 60.000, itu kita harusnya akan melihat bounce. Kalau memang itu sampai tembus, berarti kita akan melihat angka US$ 53.000. Tapi saya yakin harusnya US$ 60.000 tidak akan back down,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Selasa (24/2/2026).

Gabriel menjelaskan, melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” jelasnya.

Dihubungi terpisah Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, menjelaskan pelemahan pasar kripto terjadi imbas banyaknya ketidakpastian global yang memaksa pelaku pasar cenderung menghindari risiko atau risk off. Kemudian dominasi dari investor awam pada pasar kripto juga menjadi sentimen aksi jual bersih pada sejumlah token utama.

“Dengan dominasi dari investor awam (mainstream) di pasar crypto saat ini, tentunya ini akan memberikan ketidakpastian untuk mereka, yang membuat mereka akan cenderung terdesak menjual posisi mereka,” jelasnya.

Christopher menambahkan, kekhawatiran pelaku pasar kripto juga meningkat menyusul ancaman quantum computing. Imbas kombinasi sentimen tersebut, pasar kripto disebut masih akan terkoreksi dalam jangka pendek hingga menengah.

“Dalam waktu dekat ini, peluang harga untuk memulai kembali akan cenderung lebih kecil. Menurut saya, dalam waktu jangka pendek hingga menengah, bursa crypto secara keseluruhan akan cenderung terkonsolidasi,” jelasnya.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Diramal Makin Anjlok Gara-gara Trump


Jakarta

Aset kripto kompak tertekan pada perdagangan beberapa hari terakhir. Pelemahan pasar kripto ini disinyalir terjadi imbas ketidakpastian geopolitik dan pengumuman tarif impor yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Pelemahan terbesar terjadi pada token Bitcoin (BTC). Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 19.18 WIB, pergerakan harga BTC melemah 4,5% sepanjang 24 jam terakhir ke level US$ 63.225 atau sekitar Rp 1,06 miliar (asumsi kurs Rp 16.833). Harga BTC turun dari US$ 66.359 atau sekitar Rp 1,11 miliar pada perdagangan pagi tadi.

Sementara Ether (ETH), tercatat melemah 4,72% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.825 atau sekitar Rp 30,72 juta. Secara kumulatif pada perdagangan seminggu terakhir, ETH bergerak melemah 7,37% dari harga US$ 1.966 atau sekitar Rp 33,09 juta.


CEO Triv, Gabriel Rey, menjelaskan harga BTC masih berpotensi terkoreksi. Menurutnya, level support harga BTC saat ini berada di US$ 59.000 atau sekitar Rp 993,2 juta untuk memastikan ruang untuk kembali menguat. Namun jika level tersebut tembus lebih rendah, ruang koreksi harga BTC disebut mencapai US$ 53.000 atau sekitar Rp 892,14 juta.

“Support terkuat harusnya ada di angka sekitar US$ 59.900 atau sekitar US$ 60.000, itu kita harusnya akan melihat bounce. Kalau memang itu sampai tembus, berarti kita akan melihat angka US$ 53.000. Tapi saya yakin harusnya US$ 60.000 tidak akan back down,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Selasa (24/2/2026).

Gabriel menjelaskan, melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” jelasnya.

Dihubungi terpisah Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, menjelaskan pelemahan pasar kripto terjadi imbas banyaknya ketidakpastian global yang memaksa pelaku pasar cenderung menghindari risiko atau risk off. Kemudian dominasi dari investor awam pada pasar kripto juga menjadi sentimen aksi jual bersih pada sejumlah token utama.

“Dengan dominasi dari investor awam (mainstream) di pasar crypto saat ini, tentunya ini akan memberikan ketidakpastian untuk mereka, yang membuat mereka akan cenderung terdesak menjual posisi mereka,” jelasnya.

Christopher menambahkan, kekhawatiran pelaku pasar kripto juga meningkat menyusul ancaman quantum computing. Imbas kombinasi sentimen tersebut, pasar kripto disebut masih akan terkoreksi dalam jangka pendek hingga menengah.

“Dalam waktu dekat ini, peluang harga untuk memulai kembali akan cenderung lebih kecil. Menurut saya, dalam waktu jangka pendek hingga menengah, bursa crypto secara keseluruhan akan cenderung terkonsolidasi,” jelasnya.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin cs Mulai Bangkit


Jakarta

Pasar kripto kembali pulih pada perdagangan Rabu (2/25) siang. Diketahui sebelumnya, aset digital kripto kompak terkoreksi imbas meningkatnya tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Selain itu, pengumuman tarif global baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga ikut menekan harga aset digital.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 11.15 WIB, token Bitcoin (BTC) tercatat kembali menguat 3,8% sepanjang 24 jam terakhir ke harga US$ 65.445 atau sekitar Rp 1,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.804). Harga BTC mulai bangkit dari level terendahnya pada harga US$ 62.694 atau sekitar Rp 1 miliar pada perdagangan pagi tadi.


Kemudian untuk token Ether (ETH) tercatat menguat 4,86% ke harga US$ 1.904 atau sekitar Rp 31,99 juta sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. ETH bangkit dari level terendahnya di harga US$ 1.813 atau sekitar Rp 30,46 juta.

Secara teknikal, pelemahan harga BTC sebelumnya terjadi karena gagal bertahan di area US$ 64.000 hingga US$ 65.000. Ruang koreksi juga masih terbuka secara jangka pendek, mengingat BTC masih bergerak di bawah level psikologis US$ 70.000.

“Data dari Standard Chartered, karena area US$ 64.000-US$ 65.000 gagal dipertahankan, memperingatkan potensi penurunan lanjutan hingga US$ 50.000 sebelum harga stabil. Saat ini, Bitcoin masih bergerak di bawah level psikologis US $70.000, menandakan tekanan jangka pendek masih membayangi pasar,” ungkap
Vice President Indodax, Antony Kusuma, kepada detikcom, Rabu (25/2/2026).

Meski begitu, Antony menjelaskan koreksi yang terjadi pada BTC cenderung lebih teratur dibanding siklus krisis sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan matangnya struktur pasar kripto dengan ruang pemulihan harga yang terbuka.

“Peluang rebound tetap terbuka. Saat ini pasar masih berada dalam fase konsolidasi atau pembentukan dasar harga (bottoming). Jika sentimen makro membaik dan terjadi aliran dana segar (inflow) kembali ke pasar, Bitcoin berpeluang keluar dari tekanan bearish,” jelasnya.

Antony menambahkan, investor saat ini biasanya menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau membeli secara bertahap. Langkah ini dilakukan untuk menekan dampak fluktuasi harga jangka pendek.

“Pendekatan ini dianggap lebih disiplin dibanding mencoba menebak titik terendah pasar di fase konsolidasi,” imbuhnya.

Sebelumnya, CEO Triv Gabriel Rey, menjelaskan melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” ujarnya kepada detikcom, Selasa (25/2).

Sebagai informasi, penguatan harga aset kripto juga terjadi pada sejumlah altcoin lainnya. BNB misalnya, tercatat menguat 0,79% sepanjang perdagangan 24 jam ke harga US$ 595,43. Nasib serupa juga terjadi pada token Solana (SOL) yang menguat 7,29% ke harga US$ 82,24.

Sementara untuk stablecoin Tether (USDT) bergerak stabil pada harga US$ 0.9998 dan USDC menguat 0,1% ke harga US$ 1. Penguatan juga dialami oleh memecoin seperti DOGE yang tercatat menguat 1,32% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09261.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Terbang Lagi, Jadi Segini Sekarang


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan hari ini, Kamis (26/2/2026). Bitcoin bergerak mendekati level US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,17 miliar (asumsi kurs Rp 16.752) dari harga US$ 64.867.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 13.18 WIB hari ini, Kamis (26/2), harga BTC bergerak menguat sebesar 5,24% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke level US$ 68.335 atau sekitar Rp 1,14 miliar. BTC Sempat menyentuh harga tertingginya pada level US$ 69.512 atau sekitar Rp 1,16 miliar pada perdagangan pagi tadi.

Dikutip dari Bloomberg, menguatan harga BTC ini dipicu oleh kembalinya likuiditas pasar kripto usai tekanan jual bersih beberapa waktu lalu. Lonjakan harga BTC ini bahkan terjadi sejalan dengan pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mengklaim kembalinya ekonomi Negeri Paman Sam.


“Kenaikan harga kemungkinan mencerminkan perilaku pembelian saat harga turun setelah aksi jual yang berkepanjangan,” kata salah satu pendiri Orbit Markets, Caroline Mauron, dikutip dari Bloomberg, Kamis (26/2/2026).

Selain BTC, altcoin lainnya juga tercatat menguat pada perdagangan hari ini. Token Ether (ETH) misalnya, menguat 4,15% pada perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 2.063 atau sekitar Rp 34,56 juta. Kemudian token BNB menguat 2,33% ke harga US$ 627,16 dan Solana (SOL) menguat 6,39% ke level US$ 87,55.

Stablecoin pada perdagangan siang hari ini juga terpantau menguat, sebagaimana yang terjadi pada Tether (USDT) yang naik 0,03% ke US$ 1. Sementara memecoin seperti DOGE menguat 8,3% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.1000.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Masih Rawan Longsor, Ini Sebabnya


Jakarta

Bitcoin kembali bergerak menguat ke level US$ 68.060 pada perdagangan hari ini, Kamis (26/2). Namun secara fundamental, kenaikan harga yang terjadi pada Bitcoin dianggap masih rapuh lantaran sejumlah indikator pasar kripto masih belum sepenuhnya pulih.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan investor jangka pendek masih melakukan aksi jual dalam kondisi rugi sejak akhir Januari. Selain itu, arus dana institusional juga belum pulih sepenuhnya di produk ETF Bitcoin. Bahkan banyak manajer investasi yang mengurangi eksposur terhadap kripto pada akhir 2025.

Fyqieh menilai, kenaikan harga Bitcoin cenderung bersifat sementara setelah periode penurunan tajam di akhir tahun lalu. Menurutnya, struktur pasar kripto saat ini berada dalam kondisi negative gamma atau pergerakan harga yang lebih agresif ke dua arah.


“Beberapa sinyal memang menunjukkan potensi pembentukan dasar, seperti tekanan jual yang mulai mereda dan RSI yang keluar dari area oversold. Namun selama arus masuk institusional belum konsisten dan investor jangka pendek masih dominan jual rugi, reli ini masih rentan koreksi,” jelas Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, Bitcoin saat ini berada pada persimpangan penting. Kenaikan harga menuju US$ 70.000 akan bergantung pada kombinasi sentimen makroekonomi yang membaik dan arus dana institusional.

Adapun kenaikan harga Bitcoin hari ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) memastikan tidak ada menaikkan tarif terhadap barang China. Pernyataan tersebut diungkap oleh U.S. Trade Representative, Jamieson Greer, yang dianggap meredakan kekhawatiran perang dagang AS-China.

Dalam sebuah wawancara, Greer mengatakan AS tidak berencana mengerek tarif di atas kisaran 35%-50% dan akan tetap berpegang pada kesepakatan sebelumnya. Fyqieh mengatakan, sentimen ini menandakan sensitivitas pasar kripto terhadap isu makro global.

“Pasar kripto sangat sensitif terhadap isu makro global, terutama yang berkaitan dengan likuiditas dan stabilitas geopolitik. Kejelasan bahwa AS tidak akan mengeskalasi tarif memberikan sentimen risk-on jangka pendek, sehingga aset seperti Bitcoin kembali diminati,” ujarnya.

Di samping itu, pelaku pasar kripto juga mencermati pertumbuhan keuangan Nvidia yang mencatatkan pendapatan kuartalan US$ 68,1 miliar atau sekitar Rp 1.141 triliun (asumsi kurs Rp 16.766) dengan laba per saham (EPS) sebesar US$ 1,62, lebih tinggi dari perkiraan konsensus.

Pada saat yang sama, saham Nvidia sempat menguat signifikan ke harga US$ 200 usai mengumumkan laporan keuangan. Capaian ini mempertegas posisi Nvidia sebagai pemasok utama perangkat keras komputasi AI untuk kebutuhan cloud, startup, hingga implementasi AI di perusahaan besar.

“Laporan Nvidia yang melampaui ekspektasi membantu menjaga mode risk-on di pasar global, sehingga kripto ikut mendapat dorongan sentimen. Namun reaksi yang campuran menunjukkan pasar tetap sensitif terhadap isu valuasi dan outlook. Dampaknya ke Bitcoin cenderung sebagai katalis jangka pendek, sementara arah berikutnya tetap ditentukan kombinasi faktor makro, arus institusional, dan kondisi permintaan spot,” pungkasnya.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Anjlok Usai AS & Israel Serang Iran


Jakarta

Harga Bitcoin kembali terkoreksi usai Israel menyerang Iran hari ini, Sabtu (28/2/2026). Sepanjang perdagangan hari ini, token utama kripto itu tercatat bergerak di zona merah.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 14.50 WIB, harga Bitcoin terkoreksi 5,66% ke level US$ 63.840 (asumsi kurs Rp 16.802). Bitcoin juga tercatat sempat turun pada level terendah di harga US$ 63.245 sekitar pukul 14.00 WIB.

Pelemahan harga juga terjadi pada altcoin seperti Ether (ETH) yang terkoreksi sebesar 7,77% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke level US$ 1.870 atau sekitar Rp 31,42 juta. Kondisi ini memperdalam pelemahan ETH secara kumulatif dalam perdagangan sepekan terakhir, yakni sebesar 4,7%.


Altcoin lainnya juga kompak terkoreksi, seperti BNB yang melemah 4,52% ke harga US$ 598,42. Sedangkan untuk token Solana (SOL) terkoreksi lebih dalam sebesar 9,56% ke harga US$ 78,85.

Pelemahan harga juga terjadi pada memecoin seperti DOGE yang terkoreksi hingga 10,49% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.08952. Namun begitu, stablecoin masih tercatat stabil dengan penguatan 0,03% ke harga US$ 1 untuk token Tether (USDT).

Dikutip dari CNBC, operasi militer AS-Israel terhadap Iran telah dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump melalui unggahan resmi Truth Social miliknya. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku tujuan penyerangan itu untuk membela rakyat Amerika.

“Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman nyata dari rezim Iran, sebuah kelompok kejam yang terdiri dari orang-orang yang sangat keras dan mengerikan,” kata Trump dalam pesan video di akun Truth Social miliknya, dikutip dari CNBC, Sabtu (28/2/2026).

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Aset Kripto Dunia Babak Belur, Transaksi di RI Ikut Turun


Jakarta

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terjadi penurunan jumlah investor dan transaksi aset kripto di Indonesia. Hal ini seiring dengan tren pelemahan harga sejumlah aset kripto utama di pasar global.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi mengatakan jumlah konsumen aset kripto mencapai 20,7 juta konsumen per Januari 2026. Jumlah itu sedikit menurun dibandingkan posisi Desember 2025 yang mencapai 20,19 juta.

“Terkait perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per Januari 2026 jumlah konsumen mencapai 20,7 juta konsumen atau tumbuh 2,56% month to date,” kata Hasan dalam konferensi pers bulanan di Gedung OJK Menara Radius Prawiro, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).


Kemudian nilai transaksi aset kripto tercatat Rp 29,24 triliun dan nilai transaksi derivatif dari aset keuangan digital Rp 8,01 triliun. Jumlah tersebut juga turun jika dibandingkan transaksi pada Desember 2025 yang sebesar Rp 32,68 triliun.

“Tentu ini sejalan dengan tren penurunan harga sejumlah aset kripto utama di kawasan global,” jelas Hasan.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah aset kripto utama dalam tren penurunan sejak beberapa waktu terakhir. Terbaru, penurunan terjadi usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Khusus Bitcoin, harganya telah merosot ke bawah level US$ 64.000 seiring intensitas aksi jual karena keraguan investor tentang kripto meningkat. Bitcoin telah turun hampir 30% selama setahun terakhir.

“Penjualan yang stabil ini menurut pandangan kami menandakan bahwa investor kehilangan minat dan pesimisme secara keseluruhan tentang kripto semakin meningkat,” kata analis Deutsche Bank, Marion Laboure dalam catatan kepada kliennya, dikutip dari CNBC.

(aid/fdl)



Sumber : finance.detik.com