Tag Archives: as

Harga Bitcoin Diramal Terbang Tinggi di Kuartal IV, Ini Pemicunya


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) melemah tajam. Berdasarkan laporan ketenagakerjaan ADP, tercatat penurunan 32.000 lapangan kerja pada September, terendah sejak Maret 2023.

Hal ini dianggap dapat memperbesar keyakinan pasar terkait langkah Federal Reserve System atau The Fed untuk memangkas suku bunga pada Oktober. Berdasarkan data Polymarket, ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga hanya tersisa 6%. Banyak analis yang memperkirakan pemangkasan sebesar 25 basis poin (bps) akan terjadi pada Oktober dan kembali di Desember.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga ini memicu arus modal masuk ke aset alternatif seperti emas dan kripto. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, BTC menguat 9,77% ke harga US$ 120.309,39 atau sekitar Rp 1,99 miliar (asumsi kurs Rp 16.610) pada perdagangan sepekan terakhir.


Tokocrypto menilai, capaian ini memperpanjang tren positif BTC. Koin kripto ini mengakhiri perdagangan di kuartal III dengan kenaikan sekitar 5% di kisaran US$ 114.000. Secara historis, kuartal IV cenderung menghasilkan reli besar, dengan rata-rata menguat lebih dari 50% seperti yang terjadi pada 2015, 2016, 2023, dan 2024.

Berdasarkan data Tokocrypto, kenaikan harga rata-rata BTC sebesar 21,8% bulan Oktober 2015. Jika tren historis ini kembali berulang, BTC berpeluang menembus level US$ 150.000 atau sekitar Rp 2,49 miliar sebelum pergantian tahun.

Prospek ini ditopang arus masuk modal institusional dan meningkatnya partisipasi investor ritel. Kedua faktor ini dinilai kerap menjadi pemicu lonjakan harga besar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan secara teknikal grafik harian BTC membentuk pola double bottom di kisaran US$ 113.000 dengan menembus batas atas atau neckline di US$ 117.300. Jika breakout terkonfirmasi, target kenaikan menuju US$ 127.500 terbuka. Selain itu, pola segitiga simetris memberi proyeksi target lebih tinggi hingga US$ 137.000, yang berdekatan dengan level Fibonacci extension di US$ 134.700.

“Data on-chain dari Glassnode menunjukkan BTC masih berada di bawah zona panas, dengan level resistensi kritis di US$122.000 dan US$138.000. Artinya, ruang reli masih terbuka sebelum potensi koreksi besar terjadi,” jelas Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (3/10/2025).

Berdasarkan data Coinglass, terang Fyqie, transaksi berjangka BTC tercatat hampir mencapai US$ 100 miliar per hari, atau naik lebih dari 18%. Institusi besar juga terpantau aktif. Sementara BlackRock mentransfer BTC lebih dari US$ 130 juta ke Coinbase.

Aksi ini menambah keyakinan arus dana institusional akan terus mendukung reli BTC di kuartal terakhir tahun ini. Fyqieh menilai kombinasi faktor teknikal, fundamental, dan historis menempatkan BTC pada momentum yang positif.

“Data tenaga kerja yang lemah memperbesar peluang pemangkasan suku bunga The Fed, dan itu menjadi katalis utama lonjakan harga Bitcoin. Selama BTC mampu bertahan di atas US$118.000, target ke US$122.000 hingga US$137.000 realistis dicapai dalam waktu dekat,” tuturnya.

Di sisi lain, penutupan pemerintahan AS setelah hasil Kongres yang gagal mengesahkan anggaran mendorong investor beralih ke aset safe haven. Harga emas melonjak ke rekor di atas US$ 3.900 per ons, sementara BTC diuntungkan sebagai aset lindung nilai.

Dengan kombinasi data makro yang melemah, peluang pemangkasan suku bunga, faktor musiman bullish, dan dukungan investor institusional, BTC akan berada dalam posisi yang sangat kuat di kuartal IV 2025.

“Sejarah menunjukkan bahwa ketika September ditutup positif, kuartal keempat hampir selalu diikuti reli besar. Jika pola itu berulang, Bitcoin bisa mendekati US$ 150.000 sebelum akhir tahun, terutama dengan dukungan arus dana institusional,” tutupnya.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Cetak Rekor! Harganya Tembus Rp 2 Miliar!


Jakarta

Mata uang kripto terbesar di dunia, Bitcoin mengalami kenaikan harga pagi ini hingga menyentuh rekor tertinggi. Bitcoin hari ini sempat tercatat naik hingga 2,7% ke level US$ 125.245,57 atau sekitar Rp 2,06 miliar (pada kurs Rp 16.500).

Rekor Bitcoin sebelumnya adalah di harga US$ 124.480 atau sekitar Rp 2,05 miliar pada pertengahan Agustus.

Dilansir dari Reuters, Minggu (5/10/2025), kenaikan harga ini didorong oleh peraturan yang lebih longgar dari pemerintahan Amerika Serikat (AS). Diketahui Presiden Donald Trump memang sempat menjanjikan akan memberikan bekingan untuk aset kripto saat kampanye.


Di sisi lain, permintaan yang kuat dari investor institusional juga mendorong harga Bitcoin kembali memuncak. Aset kripto satu ini telah menguat sejak hari Jumat.

Sebaliknya, dolar AS melemah pada hari Jumat, mencatat kerugian selama beberapa minggu terhadap mata uang utama, karena ketidakpastian seputar penutupan pemerintah AS mengaburkan prospek investor.

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Makin Melambung


Jakarta

Harga Bitcoin tembus rekor tertinggi baru ke level US$ 125.000 atau Rp 2,07 miliar (kurs Rp 16.531) untuk pertama kalinya pada Senin (6/10). Mata uang kripto terbesar di dunia itu terus mendapatkan keuntungan dari permintaan investor yang meningkat.

Dilansir dari Reuters, Selasa (7/10/2025), Bitcoin mencapai rekor tertinggi hingga US$ 125.835. Bitcoin telah naik lebih dari 33% tahun ini dan diperkirakan harganya akan terus naik ke depan.

“Bitcoin level tertinggi. Anda harus membelinya dan saya pikir 12 minggu ke depan akan sangat menyenangkan bagi para pemegang Bitcoin,” kata CEO Professional Capital Management Anthony Pompliano.


Reli sejak awal tahun ini didorong oleh kebijakan yang lebih bersahabat di bawah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan meningkatnya hubungan Bitcoin dengan sistem keuangan global.

Kenaikan Bitcoin ini bertepatan dengan melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama lainnya. Pasalnya tarif Trump yang tinggi telah menyebabkan ketidakpastian dan mendorong investor melakukan diversifikasi aset.

“Bitcoin telah melonjak sejak sempat menembus di bawah US$ 110.000 lebih dari seminggu yang lalu. Reli saat ini berarti Bitcoin telah naik sekitar 13% sejak 28 September,” ujar David Morrison, Analis Pasar Senior di penyedia layanan keuangan dan teknologi finansial yang teregulasi FCA, Trade Nation.

“MACD (Moving Average Convergence Divergence) hariannya telah meningkat tajam. Bitcoin mungkin perlu berkonsolidasi sebelum memiliki kesempatan untuk naik lebih lanjut,” tambahnya.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Diramal Bisa Tembus Rp 2,15 Miliar


Jakarta

Pergerakan harga Bitcoin (BTC) terpantau terus menguat. Beberapa waktu lalu, salah satu aset kripto ini sempat menembus level tertinggi mingguan di harga US$ 126.198 atau sekitar Rp 2,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.588) sebelum akhirnya turun di level US$ 121.382 atau sekitar Rp 2,01 miliar per hari ini, Jumat (10/10/2025).

Berdasarkan analisis Tokocrypto, BTC masih memiliki potensi penguatan atau bullish dengan area support berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%. Sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi sinyal potensi kenaikan ke level US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,15 miliar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. Adapun saat ini, ia menilai dinamika pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat.


“Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/10/2025).

Ia menjelaskan, harga BTC naik 0,64% dalam 24 jam terakhir pada 9 Oktober 2025, menjadi sekitar US$ 122.273 atau sekitar Rp 2,0 miliar, melanjutkan tren positif mingguan sebesar +3,07% dan bulanan +9,22%.

Penguatan harga BTC ini didorong peningkatan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, meningkatnya permintaan institusional melalui ETF, dan kekuatan teknikal harga di atas level support. Berdasarkan risalah rapat FOMC yang dirilis beberapa waktu lalu, tercermin sinyal dovish dari para pejabat The Fed.

Sebagian besar peserta menilai pelonggaran kebijakan moneter tepat dilakukan untuk sisa tahun ini. Data CME FedWatch menunjukkan adanya peluang 92,5% pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 29 Oktober.

Investor menilai pelonggaran moneter ini akan melemahkan daya tarik dolar AS dan mendorong minat pada aset langka seperti BTC. Fyqieh menyebut, kebijakan ekspansif Amerika Serikat (AS), termasuk injeksi dana US$ 2,5 triliun melalui program Reverse Repo, menjadi sinyal bullish BTC.

“Kebijakan moneter longgar mengurangi daya tarik aset berbasis fiat dan memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS. Seperti tahun 2020-2021, penurunan imbal hasil riil biasanya diikuti lonjakan permintaan kripto, khususnya BTC,” jelasnya.

Sementara adopsi BTC bagi investor institusi juga turut meningkat. Berdasarkan data Bitwise, total inflow mencapai US$ 22,5 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Angka ini diproyeksikan meningkat hingga US$ 30 miliar pada akhir tahun.

Fyqieh memperkirakan arus masuk ETF akan mencetak rekor baru di kuartal IV karena meningkatnya perhatian investor ritel dan institusi terhadap BTC. Namun, ia tetap memperingatkan risiko eksternal.

“Kunci penggerak Bitcoin ke depan ada pada keseimbangan antara kebijakan The Fed dan kekuatan inflow ETF. Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga, arus masuk ETF harus tetap kuat agar tren bullish tidak kehilangan momentum,” tutupnya.

Lihat juga Video: Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Anjlok Kena Imbas Kebijakan Trump, Saatnya Beli?


Jakarta

Harga bitcoin mengalami penurunan usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif terhadap produk China. Harga bitcoin sempat merosot hingga US$ 105.000 dalam satu jam, sebelum kembali di atas US$ 111.000.

Data dari CoinGlass menunjukkan dalam waktu kurang dari satu jam, lebih dari US$ 8 miliar posisi long terlikuidasi, termasuk bitcoin senilai US$ 1,83 miliar dan ethereum US$ 1,68 miliar. Kapitalisasi pasar kripto menyusut sekitar 13% menjadi US$ 3,78 triliun.

Koreksi bitcoin menunjukkan, aset digital bereaksi terhadap ketegangan geopolitik dan sentimen risiko global.


“Bitcoin sering disebut sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan moneter, tetapi dalam kondisi ekstrem, ia bergerak layaknya aset berisiko tinggi. Pasar global yang terguncang, likuiditas tipis, dan aksi jual berantai pada posisi leverage memicu penurunan cepat yang kemudian diikuti aksi beli algoritmik,” kata Vice President Indodax, Antony Kusuma dalam keterangannya, Minggu (!2/10/2025).

Ia menambahkan, situasi ini memperlihatkan pentingnya pemahaman konteks makro bagi investor kripto. “Para investor harus melihat lebih dari sekadar harga saat ini. Koreksi ini bukan pertanda fundamental bitcoin melemah, melainkan reaksi pasar terhadap eskalasi ketegangan dagang dan risiko makro. Mereka yang mampu menjaga perspektif jangka panjang dapat memanfaatkan momen volatilitas ini untuk membangun posisi strategis,” ujar Antony.

Antony menekankan, meskipun pasar bergejolak, skenario jangka menengah tetap positif bagi bitcoin. Menurutnya, masih ada peluang bitcoin menguat.

“Jika ketegangan AS-China mereda atau pembicaraan baru muncul, Bitcoin bisa berkonsolidasi di kisaran US$ 112.000-118.000. Namun jika isu perdagangan terus mendominasi, harga bisa bergerak di antara US$ 105.000-120.000. Penurunan di bawah US$ 105.000 membuka peluang bagi pembeli jangka panjang,” paparnya.

Ia menambahkan, volatilitas global juga menjadi momentum bagi investor untuk menegakkan disiplin dan strategi portofolio yang matang. “Pasar yang sehat tidak hanya naik, tetapi mampu bertahan dalam gejolak. Mereka yang memahami mekanisme likuidasi, level support psikologis, dan perilaku pasar global akan menemukan peluang yang tersembunyi saat sebagian pelaku investasi kripto panik,” terang Antony.

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Gara-gara Trump, Aset Kripto Terjun Bebas & Bitcoin Melorot 14%


Jakarta

Aset kripto mengalami penurunan terbesar pada perdagangan Jumat lalu. Investor kini bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dan penurunan lebih lanjut pada aset Bitcoin dan Ether.

Dilansir dari Reuters, Selasa (14/10/2025), pelaku pasar mengatakan sektor kripto pada hari Jumat mengalami likuidasi atau penjualan lebih dari US$ 19 miliar, karena aksi jual panik dan likuiditas yang rendah. Pada akhirnya hal ini memicu fluktuasi tajam aset-aset kripto.

Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada Jumat malam mengumumkan tarif 100% untuk impor barang dari China dan mengancam kontrol ekspor pada perangkat lunak penting.


Para analis kripto mengatakan ini adalah penurunan terbesar dalam periode 24 jam dalam sejarah perdagangan kripto. Sembilan kali lebih besar dari kejatuhan kripto Februari 2025 dan 19 kali lebih besar dari kejatuhan Maret 2020, serta hancurnya bursa FTX pada November 2022.

Bitcoin jatuh hingga ke level terendah US$ 104.782,88 selama periode 10-11 Oktober, turun lebih dari 14% dari level tertingginya di US$ 122.574,46 pada hari Jumat.

Harga terakhir naik 0,6% ke US$ 115.718,13. Padahal, mata uang kripto terbesar di dunia ini mencapai rekor tertinggi di atas US$ 126.000 pada 6 Oktober.

Sementara itu, aset Ether, mata uang digital terbesar kedua setelah Bitcoin turun 12,2% ke level terendah US$ 3.436,29 pada hari Jumat. Harga terakhir diperdagangkan di US$ 4.254, naik 2,4% pada hari yang sama.

Trump sendiri nampan melunakkan pernyataannya terhadap China di akhir pekan. Hal itu membantu pemulihan kripto. Sementara itu, China pada hari Minggu menyalahkan AS atas eskalasi tersebut, tetapi tidak mengambil tindakan pencegahan lebih lanjut.

“Jumat lalu, volatilitas melonjak secara signifikan, tidak hanya untuk obligasi berjangka pendek, tetapi juga untuk obligasi berjangka panjang. Sentimen seputar volatilitas berjangka pendek adalah semakin banyak orang khawatir tentang penurunan harga,” kata Sean Dawson, kepala riset di Derive.xyz di Canberra.

Lihat juga Video: Nilai Transaksi Kripto September 2025 Turun 14,53 Persen

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Perang Dagang Makin Panas, Harga Bitcoin Ikut Kebakaran


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan imbas memanasnya tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. CoinMarketCap mencatat koreksi harga BTC hingga 8,86% di perdagangan sepekan terakhir.

Harga BTC tergelincir ke level US$ 110.743 atau sekitar Rp 1.83 miliar (asumsi kurs Rp 16.583). Pada perdagangan sepekan terakhir, BTC mengalami volatilitas tinggi yang dipicu oleh isu perang tarif AS-China. Kondisi tersebut menempatkan BTC pada rentang US$ 107.318 hingga US$ 123.535.

Tokocrypto menyebut, kapitalisasi pasar BTC berada di angka Rp 36.629 triliun dengan volume perdagangan 24 jam terakhir tercatat turun 24% menjadi Rp 1.136 triliun. Penurunan terjadi setelah China menjatuhkan sanksi terhadap suku cadang buatan AS yang digunakan perusahaan pelayaran Korea Selatan.


Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan ketegangan dagang AS-China mendorong penurunan tajam kapitalisasi pasar kripto dari US$ 3,96 triliun menjadi US$ 3,75 triliun. Penurunan tersebut terjadi lebih dari US$ 210 miliar dalam sehari.

Sementara altcoin utama relatif cepat pulih, harga BTC masih bertahan di zona pelemahan. Presiden AS, Donald Trump, bahkan menegaskan pihaknya secara aktif terlibat dalam perang dagang dengan China setelah sebelumnya mengancam tarif 100% pada semua impor dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Selama hubungan AS-China masih goyah, kripto akan kesulitan pulih karena aset berisiko seperti ini biasanya hanya menguat saat kondisi global stabil,” ujarnya.

Fyqieh menyebut, kondisi pasar saat ini berada dalam fase badai yang dipicu oleh faktor eksternal makroekonomi. Ia menjelaskan, fase yang sama sempat melanda BTC pada tahun 2022 kala China dihadapkan dengan era suku bunga The Fed yang tinggi.

“Setiap fase bear market kripto punya pemicunya sendiri. Di 2018-2019 ada larangan Bitcoin di China, di 2022 kita menghadapi kenaikan suku bunga The Fed, dan kini di 2025 pemicunya adalah perang dagang AS-China. Ini fase yang tidak bisa dihindari, tapi pada akhirnya selalu diikuti pemulihan,” jelasnya.

Namun, ia menyebut volatilitas tinggi ini merupakan kekhawatiran jangka pendek investor terhadap ketidakpastian kebijakan dagang global. Sementara di sisi teknikal, BTC kini tengah terkonsolidasi di kisaran US$ 110.000-US$ 116.000 dengan dominasi penjual (bear).

Level US$ 110.000 menjadi area support penting, sementara US$ 116.000 menjadi batas resistensi utama. Jika BTC berhasil menembus level tersebut, peluang untuk kembali menguji US$ 120.000 terbuka lebar.

“Jika ketegangan tarif terus berlanjut, pasar kripto akan tetap choppy dengan pergerakan harga yang liar. Namun, bila dalam beberapa minggu ke depan ada sinyal positif seperti kesepakatan dagang atau penundaan tarif, badai ini bisa mulai mereda,” tambahnya.

Tonton juga video “Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin” di sini:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Ditahan Otoritas China, Ant & JD Group Batal Terbitkan Stablecoin


Jakarta

Raksasa teknologi China, Ant Group dan raksasa e-commerce JD.com dilaporkan menunda rencana penerbitan stablecoin di Hong Kong. Penundaan dilakukan usai adanya kekhawatiran dari pemerintah China soal mata uang digital stablecoin.

Dilansir dari Reuters, Minggu (19/10/2025), berdasarkan laporan Financial Times, perusahaan-perusahaan China ini telah menunda ambisi mereka untuk menerbitkan stablecoin setelah menerima instruksi dari regulator China.

Instruksi yang dimaksud datang dari Bank Rakyat China (People Bank of China/PBOC) dan Administrasi Ruang Siber China (Cyberspace Administration of China/CAC) untuk tidak melanjutkan rencana tersebut.


Stablecoin sendiri merupakan sejenis mata uang kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai konstan, biasanya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS, umumnya digunakan oleh pedagang kripto untuk memindahkan dana antar token.

Sebelumnya, Badan Legislatif Hong Kong baru saja mengesahkan RUU soal stablecoin pada bulan Mei. Rancangan undang-undang menetapkan perizinan bagi penerbitan stablecoin yang merujuk pada mata uang fiat di Hong Kong.

Siapa pun yang menerbitkan stablecoin di Hong Kong, atau menerbitkan stablecoin yang didukung oleh Dolar Hong Kong harus mendapatkan lisensi dari Otoritas Moneter Hong Kong (Hong Kong Monetary Authority/HKMA).

Nah Ant Group dan JD.com dari China sempat mengatakan pada bulan Juni mereka akan berpartisipasi dalam program percontohan stablecoin tersebut.

Hanya saja kabarnya pejabat PBOC menyarankan untuk tidak berpartisipasi dalam peluncuran awal stablecoin karena kekhawatiran otoritas keuangan itu mengenai memungkinkan grup teknologi dan broker menerbitkan mata uang digital.

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Trump Beri Penangguhan Hukuman ke Bos Binance


Jakarta

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi penangguhan hukuman kepada salah satu tokoh terkaya dan paling berpengaruh dalam industri mata uang kripto, Changpeng Zhao. Namun penangguhan hukuman ini memperbarui kekhawatiran publik dengan asumsi pihak berkantong tebal mampu membeli jalan keluar dari masalah Trump 2.0.

Dikutip dari CNN, Zhao memiliki platform perdagangan aset kripto secara global bernama Binance sejak tahun 2017. Platform ini memungkinkan US$ 100 dari rekening bank dengan membeli-menjual mata uang kripto secara virtual di mana pun.

Binance juga menawarkan layanan keuangan yang lebih kompleks seperti perdagangan margin dan staking, yakni sebuah cara bagi investor untuk mendapatkan imbal hasil pasif atas aset kripto.


Binance bukan hanya menjadi bursa kripto terbesar di dunia dengan jumlah pengguna 280 juta secara global dan volume perdagangan lebih dari US$ 217 miliar setiap harinya, tetapi juga menguasai 40% pangsa pasar di antara bursa kripto terpusat.

Duduk Perkara Hukuman Trump

Meski begitu, Binance kerap tidak mematuhi aturan tentang penjualan layanan keuangan di berbagai yurisdiksi, termasuk di AS, yang secara efektif melarang versi global platform tersebut pada tahun 2019. Kemudian Binance meluncurkan layanan yang lebih terbatas di AS, yakni Binance.US.

Namun pada praktiknya, banyak pengguna di kawasan perbatasan AS mengakali larangan tersebut. Kemudian jaksa federal AS mengatakan pada tahun 2023, Binance telah menjadi pusat bagi pelaku kejahatan yang memuat praktik pelecehan seksual anak, narkotika, pendanaan teroris, dan pencucian uang.

Binance juga tidak memiliki protokol atau standar bagi perusahaan jasa keuangan untuk melaporkan transaksi terkait risiko pencucian uang, menurut Departemen Kehakiman, dan para karyawan menyadari pengawasan semacam itu mengundang penjahat ke platform tersebut.

“Kami membutuhkan spanduk ‘apakah mencuci uang narkoba terlalu keras akhir-akhir ini – datanglah ke Binance, kami punya kue untuk Anda,” kata seorang staf kepatuhan, menurut dokumen pengadilan, dikutip dari CNN, Minggu (26/10/2025).

Binance pun mengaku bersalah di AS atas pelanggaran pencucian uang. Sebagai bagian dari penyelesaian dengan pemerintah, Zhao mengundurkan diri sebagai CEO, membayar denda US$ 50 juta, dan menjalani hukuman empat bulan penjara federal.

Meski begitu, Zhao masih memiliki sekitar 90% saham perusahaan, sehingga kekayaan bersihnya diperkirakan lebih dari US$ 80 miliar. Kemudian hingga kini, Zhao menjadi ikon Binance, dan mempertahankan pengaruhnya di industri bahkan setelah dipenjara.

Pada hari Jumat lalu, Zhao merenungkan pasang surut kariernya baru-baru ini. Menurutnya, karir di dunia kripto hanya sedikit tercoreng.

“Rekam jejak resmi saya memang sedikit tercoreng, tetapi reputasi saya tetap kuat. Tak seorang pun, tak seorang pun, berhenti berbisnis dengan saya,” jelasnya.

Akhirnya Trump Luluh

Pengampunan Trump terhadap Zhao merupakan contoh masalah etika tersebut karena Binance memiliki hubungan finansial langsung dengan bisnis kripto keluarga orang nomor 1 di AS.

Pada bulan Maret, World Liberty Financial milik keluarga Trump meluncurkan token dipatok pada dolar yang dikenal sebagai stablecoin. Altcoin ini menjadi aset populer dalam kripto karena nilainya tetap konstan, sementara sebagian besar harga token lainnya rentan terhadap volatilitas.

Menurut Bloomberg, Binance menulis kode dasar untuk mendukung stablecoin World Liberty yakni USD1. Koin ini telah dipromosikan kepada 280 juta penggunanya di seluruh dunia.

Kemudian perusahaan asal UEA mengumumkan akan menggunakan USD1 untuk mengambil alih saham Binance senilai US$ 2 miliar menggunakan USD1. Kesepakatan ini diharapkan menghasilkan keuntungan jutaan dolar bagi World Liberty, yang dikendalikan bersama oleh Trump dan keluarga Steve Witkoff.

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Rontok, Apa Pemicunya?


Jakarta

Harga aset kripto termasuk bitcoin turun dari US$ 116.400 menjadi US$ 109.200. Harga bitcoin rontok saat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga 25 basis poin ke level 3,75%-4%.

Kondisi dianggap mencerminkan fenomena ‘buy the rumor, sell the news’ di mana investor yang telah membeli sebelumnya melakukan realisasi keuntungan pasca pengumuman resmi.

Di sisi lain, ketegangan dagang AS-China menambah risiko dan menahan aliran modal ke aset berisiko. Meski kesepakatan parsial sebagian tercapai, riwayat negosiasi antara kedua negara menunjukkan bahwa hasil akhir sering kali tidak sesuai ekspektasi pasar.


Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan konsolidasi harga saat ini sejatinya mencerminkan mekanisme adaptasi pasar digital terhadap kondisi makroekonomi global yang berubah cepat.

“Investor tidak lagi hanya bereaksi terhadap angka-angka suku bunga atau kebijakan moneter, tetapi mulai menilai konteks keseluruhan-dari geopolitik, arus modal institusional, hingga psikologi pasar. Koreksi yang terjadi setelah pengumuman The Fed adalah contoh nyata dari perilaku pasar yang semakin rasional,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (2/10/2025).

Ia menambahkan, pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa faktor geopolitik masih menjadi salah satu penggerak utama sentimen investor. Kesepakatan tarif dan penyelesaian isu rare earth memberikan sinyal positif, tetapi pasar cenderung menunggu implementasi nyata sebelum benar-benar bereaksi.

Menurutnya, investor kripto yang bijak akan memanfaatkan volatilitas ini untuk melakukan akumulasi, bukan sekadar ikut tren harga. Dia mengatakan, investor kripto harus melihat volatilitas sebagai peluang strategis.

“Pasar digital tidak seperti pasar tradisional; perubahan harga yang tajam menciptakan momen bagi investor untuk mengoptimalkan portofolio. Kuncinya adalah disiplin, diversifikasi, dan pemahaman fundamental aset. Mereka yang mampu membaca konteks ekonomi global dan perilaku institusional akan lebih siap menghadapi ketidakpastian jangka pendek, sekaligus memaksimalkan potensi keuntungan jangka panjang,” terangnya.

Sementara, Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menerangkan, penurunan bitcoin terjadi setelah Ketua The Fed Jerome Powell, menyampaikan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember ‘bukan hal yang pasti’. Komentar ini mengguncang pasar keuangan global dan memicu pelarian modal ke aset aman seperti emas dan dolar AS.

Pernyataan Powell tersebut datang di tengah meningkatnya kekhawatiran atas penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown) yang telah berlangsung 30 hari dan berpotensi memecahkan rekor 35 hari. Investor pun semakin ragu dengan arah kebijakan moneter, meski pasar sebelumnya menilai ada peluang 70% pemangkasan suku bunga pada Desember mendatang.

“Ketidakpastian arah suku bunga dan tensi politik di AS menekan minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” ujarnya.

“Saat dolar menguat dan investor mencari perlindungan di aset tradisional, bitcoin kehilangan daya tarik jangka pendeknya,” imbuhnya.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com