Tag: banjir

  • Mending Beli Rumah Baru atau Renovasi Rumah Second? Ini Plus Minusnya



    Jakarta

    Dari tahun ke tahun harga rumah semakin mahal. Banyak orang yang akhirnya berfikir untuk membeli rumah bekas agar tabungan mereka cukup untuk membeli rumah daripada membeli rumah baru.

    Hal tersebut biasanya hanya bayangan mereka dari melihat fenomena membeli barang bekas, harganya lebih murah dari barang baru. Namun, sebelum memutuskan lebih baik membeli rumah baru atau rumah bekas, harus diperhitungkan dengan matang.

    Pengamat Properti Steve Sudijanto mengatakan jika tabungan terbatas, lebih baik membeli rumah bekas atau second karena lebih terjangkau daripada membeli rumah baru. Sebab, banyak penjual rumah ingin menjual rumah mereka secara cepat sehingga terkadang harganya di bawah pasaran.


    “Orang yang menjual rumah pasti membutuhkan uang atau mau pindah ke luar kota. Pasti mendambakan uang cash. Kalau nggak kan nggak dijual. Atau mereka mau naik pangkat, mau pindah rumah yang lebih besar, butuh uang juga kan untuk nombokin,” kata Steve kepada detikcom, Rabu (3/7/2024).

    Keuntungan dari membeli rumah bekas adalah lokasi bisa saja di tengah kota atau cukup dengan perkotaan. Berbeda dengan rumah baru yang sudah sulit untuk dibangun di tengah kota karena lahannya yang terbatas atau karena biaya bangunnya yang mahal.

    Ia sangat menyarankan untuk mengambil rumah bekas di dekat perkotaan atau bahkan di dalam perkotaan jika tawaran tersebut ada dan sesuai dengan jumlah tabungan. Selain soal lokasi, ia juga meminta calon pembeli untuk membeli rumah dengan melihat fasilitas dan akses menuju rumah tersebut.

    “Kita bisa beli rumah di fasilitas yang sudah matang, yang sudah mapan. Sektor 1-5 itu biasanya sudah lengkap, dekat stasiun kereta (dan) dekat jalan tol. Sudah matang, buahnya sudah manis, tinggal renovasi,” katanya.

    Di balik kelebihan dari membeli rumah bekas, ada hal yang harus diperhatikan bahwa rumah bekas bisa saja kondisinya ada kerusakan. Kerusakan juga ada beberapa macam ada yang kerusakan secara struktural dan bagian permukaannya saja. Kerusakan yang membutuhkan perbaikan besar dan bisa saja hampir sama dengan membangun ulang adalah kerusakan pada struktur bangunan. Jadi sebelum tergiur, alangkah baiknya memeriksa kondisi rumah terlebih dahulu.

    “Jangan sampai membeli rumah kita harus merobohkan struktur, itu rugi. Karena kalau mendapat rumah yang strukturnya sudah nggak baik, itu akhirnya kita kayak bangun baru, akhirnya ya mahal,” imbuhnya.

    Ia menyebut kerusakan permanen pada rumah yang perlu dihindari seperti berkaitan dengan struktur, rayap, hingga pernah banjir. Oleh karena itu penting untuk datang langsung untuk survei rumah second untuk memilih properti yang tidak banyak masalah.

    “Untuk membeli rumah second itu yang paling utama mesti dilakukan kita harus survei. Melihat dari rumah tersebut dalam arti kondisi bangunan, struktur, mechanical electric, plafon, genteng, struktur genteng, air, listrik, (dan) rayap,” pungkasnya.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
    ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason
  • Catat! Ini Hal yang Wajib Dilakukan Kalau Rumah Kamu Rawan Banjir


    Jakarta

    Hujan deras mulai terjadi di berbagai daerah, tak jarang hal ini memicu terjadinya banjir. Sebelum banjir melanda rumah kamu, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan.

    Seperti diketahui, banjir bisa terjadi karena beberapa penyebab contohnya hujan deras hingga saluran pembuangan aur yang tersumbat. Jika saluran air tersumbat bisa membuat air sungai tidak mengalir dengan baik dan justru meluap keluar. Sumbatan tersebut biasanya terjadi karena sampah-sampah yang dibuang sembarangan.

    Nah, ketika banjir melanda rumah bisa saja merusak rumah bahkan menghanyutkan beberapa barang berharga. Dilansir dari Buku Pengetahuan dan Aktivitas Tentang Bencana Alam, Sabtu (6/1/2024), berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum dan saat terjadi banjir.


    Sebelum Terjadi Banjir

    Kamu bisa menyimpan barang berharga dan surat penting seperti sertifikat tanah, akta lahir, ijazah, dan lainnya di tempat yang kedap air, lalu letakkan di tempat yang aman.

    Saat Terjadi Banjir

    – Jauhi benda-benda listrik dan kabel

    – Hindari berenang di air karena air banjir yang kotor menyebabkan penyakit

    – Jika perlu keluar saat banjir, gunakan alat untuk memandu jalan seperti kayu panjang, sapu, tiang payung, dan lainnya agar tidak tersandung atau terperosok di lubang

    – Jika banjir sudah tinggi, segera mengungsi ke tempat uang aman

    – Dikutip dari detikEdu, jika sudah siap untuk evakuasi, amankan rumah atau tempat tinggal terlebih dahulu. Misalnya, Tempatkan perabot di luar rumah atau di tempat yang aman banjir. Barang yang lebih berharga diletakkan pada bagian yang lebih tinggi di dalam rumah

    – Matikan semua jaringan listrik, terlebih jika ada instruksi dari pihak berwenang

    – Cabut alat-alat yang masih tersambung dengan listrik

    – Bersihkan dan siapkan penampungan air untuk berjaga-jaga jika kehabisan air bersih

    Sesudah Terjadi Banjir

    – Hindari air banjir karena ada kemungkinan kontaminasi zat-zat berbahaya dan ancaman kena setrum

    – Waspada dengan instalasi listrik

    – Hindari air yang bergerak

    – Hindari area yang airnya baru saja surut karena jalan berisiko keropos dan amblas

    – Hindari lokasi yang masih terkena bencana, kecuali jika pihak yang berwenang membutuhkan sukarelawan dengan pengetahuan terkait banjir

    – Kembali ke rumah sesuai dengan perintah dari pihak yang berwenang

    – Tetap di luar gedung atau rumah yang masih dikelilingi air

    – Hati-hati saat memasuki gedung karena ada risiko kerusakan yang tidak terlihat seperti kerusakan pada fondasi

    – Perhatikan kesehatan dan keselamatan keluarga dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih jika terkena air banjir

    – Buang makanan yang terkontaminasi air banjir

    – Dengarkan berita atau informasi mengenai kondisi air, serta di mana mendapatkan bantuan perumahan/shelter mengungsi, pakaian, dan makanan

    – Dapatkan perawatan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat

    – Bersihkan tempat tinggal dan lingkungan rumah dari sisa-sisa kotoran setelah banjir

    – Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

    – Jika ada sumur gali di sekitar, ikut kaporitisasi sumur gali

    – Jika ada jamban dan saluran pembuangan air limbah (SPAL) di sekitar, ikut perbaikan jamban dan SPAL

    Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum, saat, dan sesudah banjir melanda rumah. Semoga bermanfaat!

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Biaya Meninggikan Rumah Biar Nggak Kena Banjir Lagi



    Jakarta

    Belakangan ini mulai turun hujan yang sangat deras sehingga memicu terjadinya banjir di berbagai daerah. Jika kamu memiliki rumah di wilayah yang rawan banjir, salah satu cara hal yang bisa kamu lakukan adalah meninggikan rumah.

    Akan tetapi, meninggikan rumah tidak bisa asal dilakukan. Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Kontruksindo Utama, Panggah Nuzhul Rizki memberikan beberapa tips untuk meninggikan rumah supaya terhindar dari banjir. Berikut ini tipsnya.

    1. Perkirakan Tinggi Air Ketika Banjir

    Hal itu karena jika langsung meninggikan rumah tanpa tahu tinggi permukaan air maka tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab, rumah bisa saja tetap kebanjiran.


    2. Gunakan Bahan Material yang Baik

    Dengan menggunakan bahan material dengan kualitas rendah, bisa saja cepat rusak. Maka dari itu, perlu menggunakan bahan material yang baik dan kokoh agar tahan lama.

    3. Pakai Jasa Profesional

    Meninggikan rumah bukanlah suatu hal yang mudah. Sebaiknya, gunakan jasa profesional untuk perencanaan dan pelaksanaan supaya hasilnya sesuai harapan.

    Untuk meninggikan rumah tentunya memerlukan biaya. Kira-kira berapa ya biaya renovasi untuk meninggikan rumah?

    Biaya Meninggikan Rumah

    Panggah mengatakan, untuk meninggikan seluruh bagian rumah diperkirakan membutuhkan biaya Rp 150-200 juta untuk rumah tipe 36. Namun, tergantung juga dari rencana level ketinggian rumah. Adapun lama pengerjaannya sekitar 3-4 bulan.

    “Harganya berkisar Rp 150-200 juta yang meliputi biayanya peninggian struktur, peninggian dinding, pembongkaran rangka dan atap, pemasangan kembali rangka dan atap, pengurukan lantai, pemasangan keramik lantai baru, pembongkaran rangka plafon dan pemasangan kembali, pemasangan instalasi air dan listrik, plester acian dinding, pengecatan rumah,” jelasnya kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

    Senada, CEO Sobat Bangun Taufiq Hidayat menuturkan, biaya meninggikan seluruh bagian rumah untuk tipe 36 bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun, masih tidak semahal ketika membangun rumah baru.

    “Yang jelas, nggak seperti bikin rumah baru. Kalau bangun rumah baru sekitar Rp 4 juta (per meter), kalau ninggiin (rumah) itu per meter sekitar Rp 2,5 juta,” tuturnya.

    “Pengurugan itu didatangin dari luar, 1 kubik (tanah urugan) sudah Rp 500 ribu itu 1 mobil kijang, kalau tipe 36 (mau tinggiin) tinggi setengah meter aja butuh 18 kubik itu bisa 20 mobil kijang datengin. Belum dinding dinaikkan, kalau dinding bata kalau sudah diplester aci itu sekitar Rp 170 ribu per meter, belum plafonnya kalau diganti. Kalau plafon diganti, 1 plafon sekitar Rp 250 ribu, belum kalau atapnya diganti, ya lumayan lah kalau mau ninggiin rumah,” paparnya.

    Jika hanya meninggikan lantainya saja untuk rumah tipe 36 diperkirakan sekitar Rp 10-12 juta. Itu sudah termasuk dengan biaya tukang, tanah urugan, dan keramik.

    “Ya sekitar Rp 10-12 juta kalau tinggiinnya cuma 30 cm. Nggak usah bongkar plafon, (tanpa) bongkar atap,” ujar Taufiq.

    Untuk lama pengerjaannya pun relatif, tergantung dari luas rumah dan desain elevasi rumah yang dilakukan. Jika meninggikan rumah secara total, bisa sekitar 3 bulan tetapi jika hanya meninggikan lantai bisa lebih cepat.

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Tinggikan Rumah Demi Cegah Banjir, Perlu Bongkar Fondasi?



    Jakarta

    Meninggikan rumah memang bisa menjadi solusi untuk menghindari banjir di wilayah yang rawan banjir. Apalagi saat ini hujan deras melanda berbagai daerah di Indonesia.

    Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika meninggikan rumah. Misalnya, apakah fondasi rumah perlu dibongkar ketika meninggikan rumah?

    CEO SobatBangun, Taufiq Hidayat mengatakan, perlu dibongkar atau tidaknya fondasi rumah tergantung dari ketinggian air banjir. Maka dari itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat ketinggian air banjir, baru menentukan desain elevasi lantai rumah.


    Nah, ternyata meninggikan rumah nggak selalu harus bongkar fondasi rumah. Jika jarak ketinggian antara plafon dengan lantai cukup tinggi, maka tidak perlu membongkar fondasi rumah.

    “Misalnya tinggi plafon rumah 4 meter, kalau naiknya (lantai) cuma 80 cm, itu atap nggak perlu dibongkar juga, itu lebih cepat (selesai meninggikan rumah),” tuturnya kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

    Akan tetapi, jika jarak tinggi plafon dengan lantai cukup dekat, maka rumah perlu dibongkar.

    “Misalnya (lantai rumah) ditinggiin 1 meter, berartikan mesti diurug 1 meter, lantainya berubah naik 1 meter, itu harus diurug, dipasang keramik lagi. Selama dipasang keramik kan ada plafon, tinggi plafon yang misalnya 3 meter jadi sisa 2 meter, mentok nanti kepalanya. Ya mesti ditinggiin juga plafonnya,” tuturnya.

    “Kalau plafon ditinggikan, itu cukup nggak keadaan atap, kuda-kuda rumahnya? Kalau misalnya nggak cukup, ya mesti dibongkar atasnya, dimodifikasi,” tambahnya.

    Tak hanya bagian dalam rumah saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga bagian garasi. Menurutnya, jika meninggikan rumah, garasi juga perlu ditinggikan agar mobil tidak terkena banjir. Namun, perlu dilihat juga apakah carport tersebut bisa ditinggikan atau tidak.

    “Memungkinkan nggak carport-nya ditinggiin? Kalau kondisi jalannya tetap kan malah susah masuk mobilnya, karena curam (jalan dari garasi ke jalan depan rumah),” ujar Taufiq.

    Maka dari itu, ia kembali menegaskan sebelum meninggikan rumah sebaiknya mencatat ketinggian air banjir yang masuk ke dalam rumah. Setelahnya, baru merencanakan desain elevasi rumahnya seperti apa.

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Membersihkan Kasur Setelah Terendam Banjir


    Jakarta

    Banjir yang melanda rumah bisa saja merusak berbagai perabotan. Jika banjir cukup tinggi, ada kemungkinan merendam kasur.

    Saat banjir mulai surut, biasanya penghuni rumah mulai membersihkan rumah dari lumpur dan sampah sisa banjir. Salah satu perabotan yang dibersihkan termasuk kasur.

    Dikutip dari detikHealth, Sabtu (6/1/2024), CEO dari penyedia jasa layanan bersih-bersih KliknClean, Hendra memiliki tips untuk membersihkan beberapa furnitur setelah banjir seperti kasur, sofa, dan bantal. Berikut ini tipsnya.


    1. Cuci Kasur di Luar Ruangan

    Lakukan pencucian di luar ruangan. Apabila ingin dilakukan di dalam ruangan, pastikan memiliki ventilasi yang baik.

    2. Cuci dengan Cairan Pembersih

    Cuci kasur dengan cairan pembersih atau disinfektan pada seluruh permukaan kasur dengan cara dimiringkan dan disandarkan pada dinding.

    3. Keringkan Kasur

    Lakukan pengeringan pada seluruh permukaan kasur dan sofa. Bila memungkinkan keringkan dengan mesin ekstraktor (vakum).

    4. Jemur di Bawah Sinar Matahari

    Hasil pencucian akan lebih maksimal jika setelah pengerjaan kasur atau sofa dijemur di luar ruangan terkena sinar matahari dan sirkulasi udara yang baik.

    Selain itu, ada juga tips untuk membersihkan kasur sesuai dengan jenisnya untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Masih dikutip dari detikHealth, Petugas Kesehatan Lingkungan dari Puskesmas Kecamatan Ampang Jessica Ader Lina membagikan tips membersihkan kasur sesuai dengan jenisnya.

    A. Kasur Kapur

    – Campurkan 5 sendok makan sabun cuci piring cair, cairan disinfektan, dan air bersih dalam 1 wadah

    – Gosokan campuran cairan pada permukaan kasur kapuk menggunakan sikat halus

    – Angkat kasur dan jemur di bawah sinar matahari

    – Pastikan kasur terjemur hingga benar-benar kering agar tidak menyisakan bau apek ketika dipakai kembali

    – Jika sudah kering, angkat kasur dan tebas kasur dengan penebah atau sapu lidi untuk memastikan kotoran dan debu terangkat

    B. Kasur Lateks

    – Semprotkan cuka putih pada kain lap, kemudian gosok kasur dengan lap tersebut

    – Gosokan baking soda pada permukaan kasur sampai berbusa

    – Semprotkan disinfektan pada permukaan kasur, bisa gunakan botol spray

    – Jemur kasur lateks di bawah sinar matahari, pastikan kasur benar-benar kering

    – Angkat kasur, bersihkan dengan penyedot debu untuk mengangkat sisa kotoran

    C. Spring Bed

    – Semprotkan air dingin ke permukaan kasur

    – Gosok dengan kain microfiber

    – Untuk mengangkat noda membandel, terus gosok dan tekan-tekan permukaan kasur dengan kain microfiber

    – Jika ingin kasur yang sudah apek harum kembali, air dingin dalam botol spray bisa dicampurkan dengan cairan pewangi

    – Setelah cairan terserap oleh kasur, jemur spring bed di bawah sinar matahari

    – Untuk membasmi jamur, semprotkan cairan disinfektan pada kasur, kemudian jemur kembali di bawah matahari

    – Setelah kering, bersihkan spring bed dengan alat penyedot debu agar debu dan kotoran pada spring bed benar-benar terangkat

    Setelah dibersihkan, tentunya kasur bisa kembali digunakan. Semoga tipsnya bermanfaat ya detikers!

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Wajib Baca! Tips Meninggikan Rumah buat Tangkal Banjir di Musim Hujan



    Jakarta

    Punya rumah di daerah yang rawan banjir tentu was-was ketika musim hujan sudah mulai rutin mengguyur seperti saat ini. Tingginya air bukan tidak mungkin masuk ke dalam rumah dan merendam apapun yang ada di dalamnya.

    Salah satu cara yang bisa dilakukan ketika memiliki rumah di daerah rawan banjir adalah meninggikan rumah. Tapi tak semudah itu meninggikan rumah.

    Profesional Kontraktor dari PT.Gaharu Kontruksindo Utama, Panggah Nuzhul Rizki memberikan beberapa tips untuk meninggikan rumah supaya terhindar dari banjir. Berikut ini tipsnya.


    1. Perkirakan tinggi air ketika banjir

    Hal itu karena jika langsung meninggikan rumah tanpa tahu tinggi permukaan air maka tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab, rumah bisa saja tetap kebanjiran.

    2. Gunakan bahan material yang baik

    Sebab, jika menggunakan bahan material dengan kualitas rendah, bisa saja cepat rusak. Maka dari itu perlu menggunakan bahan material yang baik dan kokoh agar tahan lama.

    3. Gunakan jasa profesional

    Meninggikan rumah bukanlah suatu hal yang mudah. Sebaiknya, gunakan jasa profesional untuk perencanaan dan pelaksanaan supaya hasilnya sesuai harapan.

    Berapa biaya meninggikan rumah?

    Panggah mengatakan, untuk meninggikan seluruh bagian rumah diperkirakan membutuhkan biaya Rp 150-200 juta untuk rumah tipe 36. Namun, tergantung juga dari rencana level ketinggian rumah. Adapun lama pengerjaannya sekitar 3-4 bulan.

    “Harganya berkisar Rp 150-200 juta yang meliputi biayanya peninggian struktur, peninggian dinding, pembongkaran rangka dan atap, pemasangan kembali rangka dan atap, pengurukan lantai, pemasangan keramik lantai baru, pembongkaran rangka plafon dan pemasangan kembali, pemasangan instalasi air dan listrik, plester acian dinding, pengecatan rumah,” jelasnya.

    Senada, CEO Sobat Bangun Taufiq Hidayat menuturkan, biaya meninggikan seluruh bagian rumah untuk tipe 36 bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun, masih tidak semahal ketika membangun rumah baru.

    “Yang jelas, nggak seperti bikin rumah baru. Kalau bangun rumah baru sekitar Rp 4 juta (per meter), kalau ninggiin (rumah) itu per meter sekitar Rp 2,5 juta,” tuturnya.

    “Pengurugan itu didatangin dari luar, 1 kubik (tanah urugan) sudah Rp 500 ribu itu 1 mobil kijang, kalau tipe 36 (mau tinggiin) tinggi setengah meter aja butuh 18 kubik itu bisa 20 mobil kijang datengin. Belum dinding dinaikkan, kalau dinding bata kalau sudah diplester aci itu sekitar Rp 170 ribu per meter, belum plafonnya kalau diganti. Kalau plafon diganti, 1 plafon sekitar Rp 250 ribu, belum kalau atapnya diganti, ya lumayan lah kalau mau ninggiin rumah,” paparnya.

    Jika hanya meninggikan lantainya saja untuk rumah tipe 36 diperkirakan sekitar Rp 10-12 juta. Itu sudah termasuk dengan biaya tukang, tanah urugan, dan keramik.

    “Ya sekitar Rp 10-12 juta kalau tinggiinnya cuma 30 cm. Nggak usah bongkar plafon, (tanpa) bongkar atap,” ujar Taufiq.

    Untuk lama pengerjaannya pun relatif, tergantung dari luas rumah dan desain elevasi rumah yang dilakukan. Jika meninggikan rumah secara total, bisa sekitar 3 bulan tetapi jika hanya meninggikan lantai bisa lebih cepat.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Posisi Rumah Lebih Rendah dari Jalan Rawan Kotor dan Banjir, Begini Cegahnya


    Jakarta

    Saat ini posisi rumah berada lebih rendah daripada jalan di depannya. Posisi rumah seperti ini sebenarnya tidak bagus untuk kebersihan dan keamanan rumah terutama area halaman dan teras.

    Ketika kondisi jalan lebih tinggi daripada rumah, debu dan air dengan cepat menyasar ke area rumah. Debu yang beterbangan karena terbawa angin atau dari kendaraan yang melintas bisa masuk ke halaman.

    Kemudian saat hujan, kondisi ini akan jauh lebih buruk jika tidak diimbangi dengan drainase atau selokan yang baik di depan rumah. Tanpa drainase yang cukup, air akan langsung menuju ke rumah dan bisa membuat banjir.


    Menurut Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Kontruksindo Utama, Panggah Nuzhulrizky, penyebab jalanan lebih tinggi daripada rumah adalah adanya peremajaan jalan. Setiap tahun pemerintah daerah akan memperbaiki jalan dengan cara melakukan pengecoran. Namun dalam prosesnya tidak jalan tersebut hanya ditambah lapisan baru di atasnya tanpa pengerukan bagian bawah jalan. Selain itu, posisi jalan yang lebih tinggi dari rumah juga bisa disebabkan karena kontur tanah yang menurun.

    Terdapat beberapa cara untuk mencegah rumah kebanjiran saat hujan berdebu dengan posisi rumah seperti itu. Mulai dari cara paling sederhana dengan memaksimalkan drainase atau selokan hingga melakukan peninggian level lantai rumah.

    Maksimalkan Drainase di Depan Rumah

    Posisi rumah yang lebih rendah dari jalan bisa diantisipasi dengan drainase yang dapat menjadi area pembuangan pertama sebelum masuk ke area rumah.

    “Salurannya harus baik, optimal. Jadi di depannya itu harus ada saluran. Jadi strukturnya itu kan, jalan, terus lalu saluran ke bawah, baru gerbangnya. Itu salurannya harus optimal bekerjanya, jangan mampet atau buruk drainasenya,” kata Panggah saat dihubungi oleh detikProperti pada Senin (5/3/2024).

    Dia juga menyebutkan untuk rumah yang terletak di pinggir jalan raya, seharusnya desain pembangunan jalan tersebut harus dibuatkan drainase sebelum rumah warga. Ketentuan ini disebut dengan Daerah Milik Jalan (Damija).

    Membuat Tanggul

    Pembuatan tanggul kecil dapat menahan derasnya air yang turun. Panggah menyarankan lokasi tanggul ini berada jauh dari pintu utama.

    “Biasanya pake hebel (bata ringan) atau bata merah dibuat tanggul, untuk biaya yang murah. Kalau mau lebih kuat lagi misalnya dicor,” jelas Panggah.

    Meninggikan Lantai Rumah

    Jika drainase dan tanggul tidak berpengaruh untuk mencegah air masuk, maka perlu adanya peninggian level lantai rumah.

    Dia menyebutkan untuk menaikkan lantai rumah agar sejajar atau lebih tinggi yang perlu diperhatikan adalah ketinggian plafon dengan lantai. Idealnya tinggi plafon rumah adalah 3 meter. Jika lebih tinggi lebih bagus untuk sirkulasi udara dan cahaya di dalam rumah.

    Apabila tinggi plafon tersebut lebih dari 3 meter, maka menaikkan lantai beberapa sentimeter bisa dilakukan lebih mudah.

    “Bagian yang ditinggikan dari depan, carport, halaman, terus baru dinaikkan keramik ruangan utama,” sebutnya.

    Lain halnya jika tinggi atap kurang dari 3 meter, maka atap perlu dibongkar. Untuk rumah dua lantai, peninggian lantai juga akan berefek pada lantai atasnya.

    “Biasanya kita lihat di plafon itu kan masih ada sisa untuk dinaikkan atau nggak. Kalau masih bisa dinaikkan, kita naikkan. Kalau nggak bisa dinaikkan kita lihat modelnya beton ekspos, kalau di lantai atas udah lantai 2. Kita ubah konsep rumah,” ujarnya.

    Perbanyak Sumur Resapan

    Membuat biopori atau sumur resapan dapat dilakukan setelah lantai rumah dinaikkan. Pembuatan lubang sumur resapan jika kondisinya air tetap masuk ke halaman rumah.

    “Kalau tetap masuk ke halaman rumah atau carport, itu nggak masalah. Nanti solusinya buat biopori, bikin sumur-sumur resapan. Jadi ketika air itu limpah ke arah rumah, cepet kering. Tetapi rumahnya tetap clear (aman dari banjir),” pungkasnya.

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Tips Meninggikan Rumah yang Lebih Rendah dari Jalan, Segini Kisaran Biayanya



    Jakarta

    Penyebab banjir bukan hanya berasal dari drainase mampet atau kurangnya daerah resapan. Lokasi bangunan yang berada di jalan menurun juga bisa membuat rumah kebanjiran karena sifat air yang mengalir menuju permukaan terendah.

    Antisipasi yang bisa dilakukan agar rumah tidak terkena limpasan air adalah dengan meninggikan fondasi rumah sejajar atau lebih tinggi dari jalan.

    Menurut Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Kontruksindo Utama, Panggah Nuzhulrizky, ketinggian carport dengan jalan itu idealnya 20-30 cm. Carport dibuat menurun untuk memudahkan akses keluar masuk terutama saat mengeluarkan kendaraan.


    Proses meninggikan rumah bukan hanya pada bagian carport saja, melainkan pada bagian lantai atau keseluruhan bangunan. Jika fondasi rumah sudah terlanjur dibuat lebih rendah dari jalan maka meninggikan rumah bisa dilakukan dari lantai dengan mempertimbangkan ketinggian plafon.

    “Naikin keramik, lihat plafonnya, kalau misalkan masih 3 meter masih aman, bawahnya kita tinggiin. Tapi kalau nggak bisa, mau nggak mau dibongkar atapnya, bongkar daknya,” kata Panggah saat dihubungi tim detikProperti.

    Pembongkaran atap juga berlaku untuk rumah dua lantai. Jika ketinggian atap di lantai pertama kurang dari 3 meter maka lantai dua perlu dibongkar untuk menaikkan atapnya.

    “Biasanya kita lihat di plafon itu kan masih ada sisa untuk dinaikkan atau nggak. Kalau masih bisa dinaikkan (lantainya), kita naikkan. Kalau nggak bisa dinaikkan kita lihat modelnya beton ekspos, kalau di lantai atas sudah lantai 2. Kita ubah konsep rumah,” tambahnya.

    Perlu diketahui dengan meninggikan rumah maka berpengaruh pada perubahan komposisi ruangan. Biaya yang dibutuhkan untuk meninggikan rumah menurut Panggah sekitar Rp 150-200 juta untuk rumah tipe 36. Sementara untuk waktu pengerjaannya membutuhkan 3-4 bulan.

    “Sebenarnya ninggiin lantai itu nggak terlalu mahal, tapi efek dari pekerjaan nambah level itu kemana-mana. Plafon jadi lebih pendek, kalau mentok harus bongkar atap, ninggiin dinding sekeliling termasuk luar, pasang atap lagi untuk meninggikan plester dan aciannya,” jelasnya.

    Biaya meninggikan rumah Rp 150-200 juta tersebut merupakan kisaran untuk biaya peninggian struktur, peninggian dinding, pembongkaran rangka dan atap, pemasangan kembali rangka dan atap, pengurugan lantai, pemasangan keramik lantai baru, pembongkaran rangka plafon dan pemasangan kembali, pemasangan instalasi air dan listrik, plester acian dinding, hingga pengecatan rumah.

    Tetapi jika rumah memungkinkan untuk meninggikan bagian lantai saja tanpa bongkar plafon, maka biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 10-12 juta untuk rumah tipe 36. Biaya tersebut sudah termasuk dengan biaya tukang, tanah urugan, dan keramik, menurut CEO SobatBangun Taufiq Hidayat.

    “Bagian lantai yang ditinggikan dari depan, carport, halaman, terus baru dinaikkin keramik ruangan utama,” sebut Panggah.

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Jakarta Diterjang Banjir, Ini 5 Tips Agar Rumah dan Listrik Aman


    Jakarta

    Hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Jumat (22/3/2024) sejak pukul 04.00 WIB telah menyebabkan banjir di 14 rukun tetangga (RT) dan 15 ruas jalan menurut pantauan Pusdatin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.

    “BPBD mencatat genangan saat ini terdiri dari 14 RT atau 0,045 persen dari 30.772 RT dan 15 ruas jalan tergenang yang ada di wilayah DKI Jakarta,” kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji kepada wartawan seperti yang dikutip dari detikNews pada Jumat (22/3/2024).

    Sebanyak 13 RT yang tergenang banjir berada di wilayah Jakarta Barat, dengan ketinggian air berkisar 30-55 cm. Sementara itu, satu RT lainnya berada di wilayah Rawa Terate, Jakarta Timur.


    Ketinggian air 30-55 cm ini setara dengan tinggi betis dari orang dewasa. Kondisi ini tentu menyulitkan penghuni rumah untuk bergerak dan akan berbahaya jika air semakin tinggi.

    Sebelum meninggalkan rumah untuk mengungsi sebaiknya pastikan rumah dan listrik dalam keadaan aman dengan cara berikut. Berikut ini tipsnya.

    1. Matikan Listrik di Rumah

    Saat air sudah masuk ke dalam rumah, langsung matikan listrik melalui Meter Circuit Breaker (MCB) karena ditakutkan ada stopkontak terjadi korsleting listrik.

    Mengutip dari situs Perusahaan Listrik Negara (PLN), peralatan listrik yang masih tersambung dengan stopkontak dan alat elektronik sebaiknya dinaikkan ke tempat yang lebih aman. Selain itu, cabut barang elektronik yang masih tersambung ke listrik.

    Apabila terjadi banjir dan belum sempat mematikan listrik, kamu bisa melaporkan melalui PLN Mobile, Contact Center PLN 123 atau hubungi kantor PLN terdekat.

    2. Pakai Lampu Darurat

    Selama listrik mati, otomatis rumah dalam keadaan gelap atau kurang pencahayaan, kamu bisa menerangi rumah dengan cahaya dari senter, ponsel, atau lampu darurat yang tersedia di rumah. Hindari menggunakan lilin karena permukaan rumah yang tidak stabil akibat pergerakan air.

    Jika perlu keluar saat banjir atau berjalan di dalam rumah bisa gunakan alat untuk memandu jalan seperti kayu panjang, tiang payung, sapu, dan atau barang panjang lainnya agar tidak tersandung atau terperosok di lubang.

    3. Taruh Perabotan di Tempat Tinggi

    Pindahkan perabotan yang ringan dan kecil ke atas dan kering agar tidak terendam banjir terutama yang berbahan kain atau besi yang mudah berkarat dan timbul jamur. Untuk barang-barang berharga, simpan ke tempat yang kering dan aman sehingga saat meninggalkan rumah tidak ada barang yang hilang dan rusak.

    4. Jangan Tutup Saluran Air

    Biarkan saluran air tetap terbuka untuk mempercepat air surut. Namun, tetap gunakan semacam penyaring agar hewan seperti ular tidak keluar dari lubang di dalam rumah.

    5. Kunci Rumah

    Saat listrik dimatikan tidak ada barang elektronik yang berfungsi termasuk alat keamanan di rumah seperti smart door atau CCTV. Dengan demikian kamu perlu menggunakan sistem keamanan manual. Sebelum meninggalkan rumah untuk mengungsi pastikan sudah mengunci pintu, jendela, pagar, menutup gorden, dan akses lainnya agar tetap aman.

    Itulah tips supaya rumah dan listrik aman saat terjadi banjir. Semoga bermanfaat!

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Cara Membersihkan Kasur yang Terendam Banjir Tanpa Dijemur


    Jakarta

    Saat terjadi banjir, barang yang berat di rumah seperti kasur, sulit untuk dipindahkan ke tempat aman. Kasur yang memiliki kerangka dari besi dan kayu dengan tambahan busa atau lateks pada bagian atasnya tidak bisa terkena air terlalu lama apalagi seperti banjir yang airnya menggenang.

    Air dapat menyebabkan korosi pada besi dan keropos pada kayu. Selain itu, bekas air bisa meninggalkan bekas pada permukaan kasur. Langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi kerusakan adalah dengan melapisi dengan plastik saat air masih rendah dari kaki sampai ke bagian atas.

    Namun jika kamu tidak memiliki waktu untuk memasang plastik pelindung, kamu tetap bisa membersihkannya setelah air surut. Berikut ini tipsnya.


    Cara Membersihkan Kasur yang Terendam Banjir

    1. Keringkan Kasur

    Kasur yang permukaannya lembap perlu dikeringkan terlebih dahulu. Kamu bisa keringkan pakai handuk, kain bersih, atau penyedot kotoran cair untuk mengurangi air yang terserap. Mengutip dari detikHealth pada Sabtu (23/4/2023), kamu juga bisa menggunakan soda kue yang ditabur di permukaannya. Tunggu hingga beberapa jam hingga terlihat permukaannya lebih kering.

    Campuran baking soda dan cuka juga ampuh untuk kasur berbahan lateks. Masukan cairan tersebut ke botol spray dan semprot ke kain bersih. Gosok pada permukaan kasur.

    Pasang kipas atau dehumidifier untuk membantu pengeringan. Pastikan kipas angin tetap menyala selama beberapa jam atau bahkan semalaman untuk memastikan kasur benar-benar kering.

    2. Hindari Sumber Panas

    Menurut situs Ameri Sleep, kasur yang basah karena terendam banjir sebaiknya tidak langsung dijemur di bawah sinar matahari. Panas dapat menyebabkan busa dan bahan lain di dalam kasur melengkung atau berubah bentuk.

    Penggunaan pengering rambut atau setrika untuk mengeringkan kasur juga dapat merusak bahan. Selain itu, sinar matahari juga dapat mengubah warna kain kasur.

    3. Semprot Disinfektan

    Jika takut permukaan kasur berjamur, kamu bisa semprotkan disinfektan ke seluruh permukaannya sembari menunggu kasur kering. Untuk menghilangkan bau apek pada kasur, kamu bisa semprotkan pengharum pakaian.

    4. Bersihkan Kasur dengan Penyedot Debu

    Setelah kering, kamu perlu membersihkan kasur sekali lagi dengan penyedot debu. Lalu pastikan semua permukaan telah kering dan tidak bau apek. Pasang seprai seperti biasa agar tidur lebih nyaman dan bersih.

    5. Pindahkan Posisi Kasur

    Jika tahu rumahmu sering terjadi banjir, kamu bisa memindahkan posisi kasur ke tempat yang lebih tinggi atau buat lantai di bawah kasur lebih tinggi dari sekelilingnya. Kamu juga bisa mengganti kaki kasur menjadi lebih tinggi sekitar 50 cm dan jangan lepaskan plastik di kaki kasur agar tetap aman.

    Itulah beberapa cara mengeringkan kasur tanpa dijemur di bawah sinar matahari. Semoga bermanfaat!

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com