Tag Archives: bitcoin cs

Jangan Asal Beli Bitcoin cs! Ini 4 Risiko Investasi Aset Kripto


Jakarta

Aset uang kripto saat ini telah menjadi salah satu instrumen investasi yang cukup banyak diminati, terutama dari kaum muda semisal Gen Z. Meski begitu jenis investasi yang satu ini tergolong memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi, karenanya penting untuk berhati-hati sebelum membeli aset ini.

Agar terhindar dari potensi kerugian besar saat bertransaksi kripto, ada baiknya para investor memahami terlebih dahulu risiko dari kepemilikan aset digital tersebut. Melansir dari unggahan Instagram @ojkndonesia, Jumat (24/1/2025), berikut beberapa risiko berinvestasi di aset kripto.

1. Risiko Fluktuatif

Harga aset kripto dapat mengalami kenaikan ataupun penurunan dengan cepat dan tidak terduga. Kondisi ini membuat calon investor yang ingin memiliki aset digital tersebut harus siap dengan risiko kehilangan uang yang cukup besar.


2. Risiko Kejahatan Siber dan Penipuan

Aset kripto juga rentan terhadap kejahatan siber seperti peretasan dan skema phising. Terlebih mengingat aset ini hanya diperdagangkan secara digital.

Selain itu, banyaknya asumsi bahwa aset kripto merupakan investasi dengan potensi keuntungan tinggi juga menarik banyak skema penipuan, termasuk skema pump-and-dump yang dapat mengakibatkan kerugian besar bagi pengguna.

3. Risiko Pasar

Pasar kripto sangat dipengaruhi oleh sentimen investor, berita global, atau perubahan ekonomi, yang semuanya dapat menyebabkan fluktuasi harga. Sehingga nilai dari aset ini bisa seketika jatuh dan membuat kerugian yang sangat besar tanpa terduga.

4. Risiko Likuiditas

Tidak semua aset kripto memiliki likuiditas yang tinggi. Terdapat beberapa jenis aset kripto yang sulit untuk dijual kembali ketika membutuhkan uang tunai. Hal ini bisa sangat menyulitkan saat membutuhkan dana mendesak.

Demikian sejumlah risiko dari investasi kripto. Semoga detikers bisa berinvestasi dengan bijak dan nggak cuma ikut-ikutan alias FOMO.

(fdl/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Cs Melempem Jelang Pidato Jerome Powell


Jakarta

Pasar aset mata uang kripto menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (19/8) pagi. Tekanan umumnya dialami oleh mata uang Bitcoin, Ethereum, hingga Dogecoin terpantau berada di zona merah.

Mengutip data perdagangan Coinmarketcap, Bitcoin (BTC) terkoreksi lebih dari 1,12% dalam 24 jam terakhir dan melemah 2,27% sepanjang sepekan. Saat ini, harga BTC menyentuh level US$ 113,000 atau sekitar Rp 1,83 miliar (asumsi kurs Rp 16.218).

Sementara untuk mata uang Ethereum (ETH) berada di harga US$ 4,200 atau sekitar Rp 68,24 juta. Cardano (ADA) tercatat anjlok 3,84% di harga US$ 0,92, Solana (SOL) di harga US$ 179, XRP di harga US$ 3, dan Dogecoin (DOGE) di harga US$ 0,21.


Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global turun menjadi US$ 3,8 triliun atau sekitar Rp 61,74 kuadriliun, melemah dalam 24 jam terakhir. Indeks Sentimen Pasar Kripto (Crypto Fear and Greed Index) tercatat berada pada level 53, menunjukkan kondisi netral dengan kecenderungan waspada.

Indodax menilai, pelemahan harga kripto terjadi akibat sentimen pasar yang cenderung melemah jelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang diperkirakan memberi sinyal arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Selain itu, regulator keuangan Korea Selatan baru saja memerintahkan bursa kripto lokal untuk menghentikan layanan pinjaman kripto.

Dua sentimen ini dinilai meningkatkan kecemasan investor terkait stabilitas pasar regional. Sementara dari sisi on-chain, tercatat adanya pergerakan signifikan dari investor whale dan institusi.

Data menunjukkan sebanyak 12.000 BTC dikirim ke bursa, indikasi aksi ambil untung oleh pemegang besar. Namun, akumulasi tetap terjadi di sisi treasury: Di sisi lain, Metaplanet menambah 775 BTC senilai sekitar US$ 93 juta, sementara MicroStrategy membeli tambahan 430 BTC.

Vice Presiden Indodax, Antony Kusuma menyebut, kombinasi sentimen ini menunjukkan dinamika pasar yang kompleks. Menurutnya, jika deposit whale terus meningkat, potensi kepanikan investor ritel bisa muncul.

Sebaliknya, akumulasi oleh perusahaan publik menjadi faktor penopang jangka panjang, meskipun efek jangka pendeknya terbatas. “Pasar kripto sering kali bergerak lebih cepat dalam merespons sinyal kebijakan makroekonomi dibanding instrumen lain. Tekanan harga yang terjadi saat ini mencerminkan sikap investor yang menahan posisi sambil menunggu kejelasan dari bank sentral Amerika,” jelas Antony dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/8/2025).

Antony menjelaskan, deposit besar ke bursa dari whale seringkali memicu volatilitas jangka pendek. Jika tren ini berlanjut, ia menilai investor ritel bisa terdorong melakukan aksi jual.

Namun, Antony menyebut akumulasi yang dilakukan institusi justru mencerminkan kuatnya keyakinan terhadap nilai BTC dalam jangka panjang. Perbedaan perilaku antara trader jangka pendek dan strategi perbendaharaan jangka panjang membuat dinamika pasar BTC semakin unik.

Antony menambahkan, meski pembelian oleh institusi memberikan fondasi jangka panjang, dampaknya terhadap harga tidak serta-merta langsung terasa dibandingkan dengan tekanan jual dari whale.

“Saat ini pasar berada di titik keseimbangan antara aksi ambil untung whale dan strategi akumulasi institusi. Investor perlu berhati-hati dalam jangka pendek, namun tetap melihat adanya struktur penopang yang terbentuk untuk jangka panjang,” ujarnya.

Meski demikian, Antony menekankan kondisi pasar saat ini justru bisa menjadi momentum bagi investor jangka panjang. Strategi seperti dollar-cost averaging dinilai dapat membantu menghadapi volatilitas yang tinggi. Menurutnya, pelemahan altcoin seperti ETH, ADA, maupun SOL saat ini bagian dari pola rotasi pasar.

“Investor cenderung mengalihkan likuiditas ke aset yang dianggap lebih aman ketika volatilitas meningkat. Pola ini bukan berarti altcoin kehilangan potensi, melainkan refleksi dari sikap konservatif sementara,” jelasnya.

Secara historis, menurut Antony, volatilitas kripto yang tinggi justru membuka ruang bagi inovasi. Di tengah tekanan harga, ia mengingatkan pentingnya disiplin manajemen risiko. Ia juga menekankan bahwa transparansi bursa menjadi kunci menjaga kepercayaan publik

“Setiap fase koreksi biasanya diikuti oleh lahirnya tren baru. Investor yang mampu melihat peluang di balik volatilitas akan lebih siap menghadapi perubahan siklus berikutnya,” ujar dia.

Tonton juga video “Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?” di sini:

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com