Tag Archives: bitcoin

Harga Bitcoin Cetak Rekor Dekati Rp 2 M


Jakarta

Harga Bitcoin mencapai rekor tertinggi pada Kamis (14/8) mencapai US$ 124.000 atau setara Rp 1,99 miliar (kurs Rp 16.091). Kenaikan juga terjadi pada Ether mencapai US$ 4.780,04, melampaui level tertinggi sejak akhir 2021.

Capaian ini didorong oleh pasar yang memproyeksikan bank sentral AS, Federal Reserve memangkas suku bunga acuan. Menurut Analis Pasar IG Tony Sycamore, kenaikan ini juga dipicu karena pembelian besar-besaran oleh investor institusi, dan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mempermudah investasi kripto.

“Secara teknis, jika harga di atas US$ 125.000 dapat mendorong BTC ke US$ 150.000,” ujarnya dikutip Reuters, Kamis (14/8/2025).


Harga Bitcoin telah melonjak hampir 32% sejak awal 2025 berkat aturan Trump. Trump menyebut dirinya Presiden Kripto dan keluarganya telah terjun ke sektor ini selama setahun terakhir.

Selain itu, Trump juga telah meneken perintah eksekutif yang mengizinkan aset kripto dimasukkan ke akun pensiun 401(k). Di sisi lain, regulasi stablecoin juga sudah disahkan tahun ini semakin mempermudah investasi kripto di AS.

Melonjaknya Bitcoin juga telah memicu reli panjang dalam beberapa aset kripto selama beberapa bulan terakhir. Menurut data dari CoinMarketCap, kapitalisasi pasar sektor kripto secara keseluruhan telah melonjak menjadi lebih dari US$ 4,18 triliun, naik dari US$ 2,5 triliun pada November 2024 saat Trump memenangkan pemilihan presiden AS.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(rea/ara)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Tembus Rekor, Apa Pemicunya?


Jakarta

Bitcoin mencatatkan rekor tertinggi baru (All Time High) di level US$ 124.000 atau sekitar Rp 1,99 miliar (kurs Rp 16.100) pada Kamis pagi (14/8), melampaui puncak pertengahan Juli. Stabilnya inflasi Amerika Serikat (AS) pada level 2,7% memicu arus modal ke aset berisiko, termasuk kripto.

Investor global menilai bahwa pelonggaran kebijakan moneter akan meningkatkan likuiditas, yang berpotensi mendorong valuasi aset digital.

Selain faktor makro, penguatan ini juga didorong oleh meningkatnya pembelian korporat dalam beberapa pekan terakhir, di tengah semakin banyaknya perusahaan yang mengadopsi strategi treasury berbasis Bitcoin, seperti yang dipopulerkan oleh MicroStrategy Incorporated.


Langkah korporasi ini tidak hanya memperkuat permintaan pasar, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap Bitcoin. Dari sekadar instrumen spekulasi, Bitcoin kini mulai diposisikan sebagai aset treasury jangka panjang oleh pelaku usaha berskala global.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, memandang kondisi saat ini sebagai titik kritis yang menggabungkan kekuatan sentimen makro dan fundamental pasar kripto.

“Kita sedang melihat pertemuan dua faktor besar: inflasi yang mulai terkendali di bawah ekspektasi pasar, dan peluang pemangkasan suku bunga yang sangat tinggi. Kombinasi ini menciptakan kondisi di mana modal global lebih berani bergerak ke aset berisiko, termasuk kripto,” ujar Antony, dalam keterangan tertulis, Jumat (15/8/2025).

Menurut Antony, rekor baru Bitcoin di level US$ 124.000 bukan hanya hasil dari optimisme jangka pendek, tetapi juga akumulasi kepercayaan pasar terhadap peran Bitcoin di masa depan.

“Institusi besar, termasuk korporasi publik, kini mulai menempatkan Bitcoin sebagai bagian dari strategi treasury. Ini bukan sekadar spekulasi, ini adalah reposisi Bitcoin dari aset alternatif menjadi aset strategis,” ujarnya.

Antony melihat langkah perusahaan seperti MicroStrategy dan beberapa raksasa keuangan lainnya sebagai sinyal yang mengubah lanskap.

“Ketika korporasi mengalihkan sebagian kas mereka ke Bitcoin, itu bukan hanya mempengaruhi harga hari ini. Mereka mengirimkan pesan bahwa Bitcoin bisa berfungsi sebagai lindung nilai terhadap kebijakan moneter dan inflasi dalam jangka panjang,” tambahnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa euforia pasar tidak boleh mengaburkan risiko inheren di aset kripto. “Reli besar sering kali diikuti oleh koreksi tajam. Ini adalah hukum alam di pasar berisiko tinggi. Investor yang hanya mengejar kenaikan tanpa strategi keluar sama saja dengan masuk ke arena dengan mata tertutup,” tegasnya.

Menurut Antony, tren harga Bitcoin sering kali menjadi cermin psikologi pasar secara keseluruhan, di mana saat ini terlihat optimisme tinggi karena The Fed diperkirakan akan melonggarkan kebijakan. Namun narasi pasar bisa berubah hanya karena satu data ekonomi yang tidak sesuai harapan, sehingga investor perlu disiplin mengelola eksposur.

Ia juga menyoroti bahwa volatilitas bukanlah masalah yang harus dihindari, melainkan faktor yang harus dikelola. Dalam hal ini, banyak investor baru ingin volatilitas hilang, padahal justru di sanalah peluang berada.

“Yang diperlukan adalah kemampuan membaca pola dan menetapkan batas risiko yang jelas,” ujarnya.

Antony menambahkan, strategi investasi yang matang harus mempertimbangkan diversifikasi. Meski Bitcoin sedang menjadi magnet perhatian, menaruh seluruh modal di satu aset adalah bentuk konsentrasi risiko yang sangat tinggi.

Ia mengingatkan, investor yang bijak akan memadukan aset berisiko dengan instrumen yang lebih stabil untuk menjaga keseimbangan portofolio. Antony sendiri memandang, periode menjelang keputusan suku bunga The Fed akan menjadi ujian bagi kedewasaan investor.

“Mereka yang mampu memisahkan sinyal dari kebisingan pasar akan mampu mengambil keputusan yang tepat. Yang terjebak pada FOMO (fear of missing out) justru berisiko membeli di puncak,” kata dia.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Cs Melempem Jelang Pidato Jerome Powell


Jakarta

Pasar aset mata uang kripto menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (19/8) pagi. Tekanan umumnya dialami oleh mata uang Bitcoin, Ethereum, hingga Dogecoin terpantau berada di zona merah.

Mengutip data perdagangan Coinmarketcap, Bitcoin (BTC) terkoreksi lebih dari 1,12% dalam 24 jam terakhir dan melemah 2,27% sepanjang sepekan. Saat ini, harga BTC menyentuh level US$ 113,000 atau sekitar Rp 1,83 miliar (asumsi kurs Rp 16.218).

Sementara untuk mata uang Ethereum (ETH) berada di harga US$ 4,200 atau sekitar Rp 68,24 juta. Cardano (ADA) tercatat anjlok 3,84% di harga US$ 0,92, Solana (SOL) di harga US$ 179, XRP di harga US$ 3, dan Dogecoin (DOGE) di harga US$ 0,21.


Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global turun menjadi US$ 3,8 triliun atau sekitar Rp 61,74 kuadriliun, melemah dalam 24 jam terakhir. Indeks Sentimen Pasar Kripto (Crypto Fear and Greed Index) tercatat berada pada level 53, menunjukkan kondisi netral dengan kecenderungan waspada.

Indodax menilai, pelemahan harga kripto terjadi akibat sentimen pasar yang cenderung melemah jelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang diperkirakan memberi sinyal arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Selain itu, regulator keuangan Korea Selatan baru saja memerintahkan bursa kripto lokal untuk menghentikan layanan pinjaman kripto.

Dua sentimen ini dinilai meningkatkan kecemasan investor terkait stabilitas pasar regional. Sementara dari sisi on-chain, tercatat adanya pergerakan signifikan dari investor whale dan institusi.

Data menunjukkan sebanyak 12.000 BTC dikirim ke bursa, indikasi aksi ambil untung oleh pemegang besar. Namun, akumulasi tetap terjadi di sisi treasury: Di sisi lain, Metaplanet menambah 775 BTC senilai sekitar US$ 93 juta, sementara MicroStrategy membeli tambahan 430 BTC.

Vice Presiden Indodax, Antony Kusuma menyebut, kombinasi sentimen ini menunjukkan dinamika pasar yang kompleks. Menurutnya, jika deposit whale terus meningkat, potensi kepanikan investor ritel bisa muncul.

Sebaliknya, akumulasi oleh perusahaan publik menjadi faktor penopang jangka panjang, meskipun efek jangka pendeknya terbatas. “Pasar kripto sering kali bergerak lebih cepat dalam merespons sinyal kebijakan makroekonomi dibanding instrumen lain. Tekanan harga yang terjadi saat ini mencerminkan sikap investor yang menahan posisi sambil menunggu kejelasan dari bank sentral Amerika,” jelas Antony dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/8/2025).

Antony menjelaskan, deposit besar ke bursa dari whale seringkali memicu volatilitas jangka pendek. Jika tren ini berlanjut, ia menilai investor ritel bisa terdorong melakukan aksi jual.

Namun, Antony menyebut akumulasi yang dilakukan institusi justru mencerminkan kuatnya keyakinan terhadap nilai BTC dalam jangka panjang. Perbedaan perilaku antara trader jangka pendek dan strategi perbendaharaan jangka panjang membuat dinamika pasar BTC semakin unik.

Antony menambahkan, meski pembelian oleh institusi memberikan fondasi jangka panjang, dampaknya terhadap harga tidak serta-merta langsung terasa dibandingkan dengan tekanan jual dari whale.

“Saat ini pasar berada di titik keseimbangan antara aksi ambil untung whale dan strategi akumulasi institusi. Investor perlu berhati-hati dalam jangka pendek, namun tetap melihat adanya struktur penopang yang terbentuk untuk jangka panjang,” ujarnya.

Meski demikian, Antony menekankan kondisi pasar saat ini justru bisa menjadi momentum bagi investor jangka panjang. Strategi seperti dollar-cost averaging dinilai dapat membantu menghadapi volatilitas yang tinggi. Menurutnya, pelemahan altcoin seperti ETH, ADA, maupun SOL saat ini bagian dari pola rotasi pasar.

“Investor cenderung mengalihkan likuiditas ke aset yang dianggap lebih aman ketika volatilitas meningkat. Pola ini bukan berarti altcoin kehilangan potensi, melainkan refleksi dari sikap konservatif sementara,” jelasnya.

Secara historis, menurut Antony, volatilitas kripto yang tinggi justru membuka ruang bagi inovasi. Di tengah tekanan harga, ia mengingatkan pentingnya disiplin manajemen risiko. Ia juga menekankan bahwa transparansi bursa menjadi kunci menjaga kepercayaan publik

“Setiap fase koreksi biasanya diikuti oleh lahirnya tren baru. Investor yang mampu melihat peluang di balik volatilitas akan lebih siap menghadapi perubahan siklus berikutnya,” ujar dia.

Tonton juga video “Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?” di sini:

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

5 Aplikasi Trading Terbaik di Dunia


Jakarta

Tahun 2025 menjadi periode menarik bagi pasar keuangan global. Meski sempat dibayangi ketidakpastian tarif dan kebijakan makroekonomi, kinerja bursa saham Amerika Serikat dan aset crypto justru tetap menguat.

Berdasarkan data dari TradingView hingga 14 Agustus 2025, indeks S&P 500 sudah melesat 9,5% sejak awal tahun. Sementara itu, Bitcoin (BTC) melonjak 30,3% dan Ethereum (ETH) melesat 42,5%. Bitcoin bahkan empat kali menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pada tahun ini.

Tak hanya pasar global, bursa saham domestic juga menunjukkan tren serupa. Hingga 20 Agustus 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 10,36% sejak awal tahun, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi domestik.


Optimisme investor semakin terdukung oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve pada 17 September mendatang. Saat ini, suku bunga acuan berada di level 4,25%-4,5%. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan sebesar 25 basis poin mencapai 81,9% per 21 Agustus 2025. Langkah ini dipandang sebagai katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi, bisnis, dan investasi secara internasional.

Momentum ini menjadi periode menarik bagi para trader untuk memanfaatkan peluang pasar, salah satunya melalui strategi diversifikasi portofolio ke berbagai kelas aset seperti aset crypto , saham Amerika Serikat dan ETF (Exchange Traded Fund), reksa dana, hingga emas. Perkembangan positif di pasar global dan domestik ini membuka peluang baru bagi investor Indonesia. Namun, untuk memanfaatkan momentum tersebut, pemilihan aplikasi trading yang tepat menjadi semakin penting agar investor dapat bertindak cepat dan efisien.

Di Indonesia, pilihan aplikasi trading semakin beragam, namun integrasi antar-aset masih menghadapi kendala. Perpindahan dana antar-aplikasi sering membutuhkan transfer ke rekening bank terlebih dulu. Proses ini bisa membuat investor kehilangan momentum saat peluang pasar muncul. Tak hanya itu, memilih aplikasi trading yang aman dan teregulasi juga menjadi aspek penting untuk diperhatikan.

Artikel ini membandingkan lima aplikasi trading terbaik yang banyak digunakan di Indonesia untuk memberikan gambaran menyeluruh bagi para investor sekaligus trader. Ulasan ini menyajikan fitur, keunggulan, serta aspek keamanan setiap platform sehingga pembaca dapat menentukan aplikasi mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tujuan investasi mereka.

1. Pluang

Pluang menegaskan posisinya sebagai salah satu aplikasi trading terbaik di Indonesia dengan ekosistem investasi yang lengkap dan basis pengguna lebih dari 12 juta. Aplikasi ini sudah berlisensi, berizin dan diawasi Bappebti serta OJK, menghadirkan akses ke lebih dari 1.000 produk investasi-mulai dari aset crypto, saham Amerika dan ETF, emas, serta reksa dana, hingga crypto futures dan options saham Amerika-dengan fee dan spread yang kompetitif.

Fitur & Keunggulan

– Fitur trading 24 jam penuh dari Senin hingga Sabtu untuk saham Amerika. Investor tak perlu begadang menunggu Wall Street, dan bisa merespons pergerakan saham-saham populer seperti Nvidia, Google, dan Microsoft, serta 650 saham dan ETF AS lainnya secara real time.

– USD Yield hingga 4,13% per tahun: Saldo USD Anda tetap tumbuh meski belum digunakan, sehingga dana tetap likuid dan siap dipakai kapan saja.

– Leverage hingga 25X pada produk crypto futures seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Solana (SOL). Fitur yang memungkinkan trader mengontrol nilai transaksi lebih besar dari modal yang dimiliki.

Transaksi crypto futures di Pluang berlisensi dan diawasi Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi), dimana semua transaksi difasilitasi oleh CFX (Central Finansial X), serta diverifikasi oleh KKI (Kliring Komoditi Indonesia). Pluang juga menjadi salah satu aplikasi pertama yang resmi memegang izin PAKD (Pedagang Aset Keuangan Digital) dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

– Leverage hingga 4x untuk saham dan ETF Amerika: Potensi keuntungan yang lebih besar melalui daya ungkit perdagangan

– Pro Features: advanced order, take profit, dan stop loss, plus akses web trading berbasis TradingView gratis untuk analisis teknikal yang lebih presisi.

– Pluang Academy: Materi edukasi trading dan investasi yang disajikan melalui video dan artikel yang ringkas, akurat, dan relevan dengan perkembangan terkini untuk mendukung perjalanan investasi para trader dan investor.

Dari sisi keamanan dan kepatuhan, seluruh transaksi di Pluang berlisensi dan diawasi Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi), dimana semua transaksi difasilitasi oleh CFX (Central Finansial X), serta diverifikasi oleh KKI (Kliring Komoditi Indonesia). Pluang juga menjadi salah satu aplikasi pertama yang resmi memegang izin PADK (Pedagang Aset Keuangan Digital) dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Catatan Risiko

Diawasi regulator Indonesia, namun tetap ada risiko pasar dan volatilitas aset.

2. Coinbase

Coinbase adalah crypto exchange global yang tercatat resmi di NASDAQ dan menyediakan akses ke ribuan aset digital, mulai dari Bitcoin, Ethereum, hingga token DeFi dan NFT.

Fitur & Keunggulan

– User experience yang ramah

– Crypto staking, memungkinkan aset crypto yang para trader miliki bisa berbunga

– Portfolio tracking, memungkinkan trader untuk melacak portofolionya

– Akses Coinbase Pro untuk trader berpengalaman

Kekuatan utama Coinbase terletak pada ekosistem global dan likuiditas tinggi yang memudahkan jual beli aset digital.

Catatan Risiko

Coinbase tidak berizin di Indonesia dan belum berada di bawah pengawasan Bappebti maupun OJK, sehingga memiliki risiko yang sama seperti yang dimiliki OctaFX.

3. Nanovest

Nanovest adalah aplikasi investasi Indonesia yang menyediakan akses ke berbagai aset, mulai dari saham global, crypto, hingga emas digital, dengan klaim 0% commission.

Fitur & Keunggulan

– NanoShield Security: sistem enkripsi yang digunakan untuk menjadikan data pengguna tetap aman dan rahasia

– Kirim aset digital gratis

– Investasi mulai dari Rp 5.000

– Dana yang diasuransikan Sinarmas

Platform ini cocok bagi pemula maupun investor berpengalaman yang mencari aplikasi investasi multi-aset terpercaya di Indonesia.

Catatan Risiko

Pengguna tetap perlu memperhatikan biaya tambahan seperti exchange fee atau broker fee dari platform ini yang dijelaskan di Pusat Bantuan.

4. Mandiri Sekuritas (MOST)

Mandiri Sekuritas adalah perusahaan sekuritas Indonesia yang menghadirkan aplikasi MOST (Mobile Online Securities Trading) dan merupakan bagian dari Bank Mandiri.

Fitur & Keunggulan

– Layanan SMSay (Share Order via SMS) untuk akses mudah ke pasar saham Indonesia. ● Didukung tim riset berpengalaman: Pengguna mendapatkan laporan harian, panduan IPO, serta analisis investasi yang komprehensif.

– Kredibilitas tinggi dan integrasi erat dengan layanan perbankan

– Fleksibilitas order saham baik melalui aplikasi online maupun SMS

Opsi ini cocok bagi investor yang mencari platform trading saham terpercaya di Indonesia.

Catatan Risiko

Tidak semua saham likuid, sehingga ada risiko sulit menjual saham pada harga yang diinginkan. Risiko operasional seperti gangguan aplikasi atau keterlambatan eksekusi order bisa terjadi.

5. OctaFX

OctaFX adalah broker internasional yang menyediakan akses trading forex, komoditas, dan indeks saham.

Fitur & Keunggulan

– Spread rendah

– Akun tanpa swap

– Leverage tinggi hingga 1:500

– Akun demo untuk latihan

– Promosi kompetitif, termasuk cashback deposit dan bonus trading

– Fitur-fitur ini membuatnya populer di kalangan trader global maupun domestik.

Catatan Risiko

OctaFX hanya diatur oleh regulator luar negeri (CySEC, Cyprus dan FSCA, Afrika Selatan). Karena tidak teregulasi di Indonesia, trader lokal tidak bisa melaporkan masalah ke otoritas dalam negeri jika terjadi sengketa.

Tips Memilih Aplikasi Trading

– Pastikan aplikasi berizin dan diawasi regulator seperti OJK atau Bappebti.

– Pertimbangkan biaya transaksi, minimum deposit, dan fitur yang sesuai kebutuhan.

– Pilih aplikasi dengan keamanan data dan dana yang jelas.

– Manfaatkan akun demo atau fitur edukasi sebelum mulai investasi riil. Sesuaikan pilihan dengan profil risiko dan tujuan investasi Anda.

Di tengah pertumbuhan pesat teknologi finansial Indonesia, setiap aplikasi trading menawarkan proposisi nilai berbeda, mulai dari kelengkapan aset investasi hingga fitur yang bervariasi. Keputusan investor pun bergantung pada kebutuhan dan strategi masing-masing. Coba bandingkan fitur, biaya, dan regulasi setiap aplikasi sebelum mengambil keputusan investasi. Coba fitur demo atau pelajari lebih lanjut melalui materi edukasi yang disediakan masing-masing platform.

Sepanjang 2025, Pluang terlihat menonjol sebagai salah satu platform investasi terdepan berkat kombinasi produk yang luas, fitur relevan, serta biaya transaksi kompetitif. Komitmen Pluang terhadap literasi finansial dan dukungan riset internal juga memperkuat posisinya dalam peta persaingan aplikasi trading Indonesia, sekaligus merefleksikan arah perkembangan industri investasi digital di Tanah Air.

Evaluasi kebutuhan dan profil risiko Anda sebelum memilih aplikasi trading. Manfaatkan fitur edukasi atau akun demo untuk mencoba sebelum berinvestasi riil.

Tonton juga video “IHSG Dibuka Anjlok 9,19%, Langsung Trading Halt” di sini:

(ega/ega)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Melejit, Sentuh Rp 1,9 M!


Jakarta

Mata uang kripto, Bitcoin (BTC), mulai merangkak naik pada perdagangan Minggu (14/9). Pergerakan harga ini terjadi menjelang keputusan FOMC Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed seiring naiknya ekspektasi pemangkasan suku bunga.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap hari ini, harga BTC tembus US$ 115.772,86 atau sekitar Rp 1,90 miliar (asumsi kurs Rp 16.416) per koin. Meski naik, harga BTC terpantau melemah pada perdagangan harian, yakni sebesar 0,18% dan menguat sebesar 4.61 sepekan terakhir.

Kenaikan harga juga terjadi pada koin jenis Ethereum (ETH) yang menguat ke harga US$ 4.680,95 atau sekitar Rp 76,84 juta kendati terkoreksi secara harian sebesar 0,58%. Namun berdasarkan data perdagangan sepekan, harga ETH menguat 8,92%.


Kemudian harga koin BNB yang tercatat menguat sepanjang perdagangan harian maupun sepekan terakhir. Harga BNB naik menjadi US$ 937,16 atau sekitar Rp 15,38 juta dengan penguatan harian sebesar 1,09% dan 8,24% sepanjang perdagangan sepekan.

Sementara untuk harga Solana (SOL), menguat 2,64% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. Kemudian menguat pada perdagangan sepekan sebesar 22,85% ke harga US$ 248,60 atau sekitar Rp 4,08 juta per koin.

Diketahui sebelumnya, BTC sempat menembus US$ 114.000 atau sekitar Rp 1,87 miliar pada Jumat (12/9). Kenaikan ini terjadi setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat untuk Agustus turun lebih besar dari perkiraan, sehingga memperkuat harapan pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan September.

Sebelumnya BTC sempat menyentuh US$ 113.953 sebelum akhirnya menembus US$ 114.000, level tertingginya sejak akhir Agustus. PPI utama turun menjadi 2,6% secara tahunan (perkiraan 3,3%), sedangkan PPI inti turun ke 2,8%. Data ini membuat proyeksi inflasi melemah hingga kuartal IV 2025.

Secara historis, harga BTC biasanya sempat bergejolak ketika The Fed memangkas suku bunga, lalu diikuti reli kuat dalam jangka panjang. Indikator Market Value to Realized Value (MVRV) dan Rasio Whale mendukung pola ini, di mana aksi jual dari investor besar sering memicu volatilitas sebelum pasar masuk ke fase akumulasi.

“Penurunan data inflasi produsen Amerika menjadi katalis kuat yang membuat investor kembali percaya diri terhadap prospek bullish Bitcoin. Namun, kita tetap harus mewaspadai volatilitas jangka pendek menjelang keputusan Fed minggu depan,” jelas Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (14/9/2025).

(rrd/rrd)



Sumber : finance.detik.com

Tembus Rp 1,94 M, Harga Bitcoin Diramal Masih Bisa Menguat


Jakarta

Bitcoin (BTC) kembali menembus level US$ 117.000 atau sekitar Rp 1,94 miliar (asumsi kurs Rp 16.626) usai The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Penguatan harga ini juga didorong arus dana institusional yang masuk melalui ETF.

Pada perdagangan hari ini, Jumat (19/9), BTC berada di harga US$ 117.182. Harga BTC juga masih berpeluang menembus level psikologis di angka US$ 120.000 atau sekitar Rp 1,99 miliar jika level support berada di posisi US$ 117.000.

“Investasi kripto, terutama Bitcoin, saat ini tidak hanya bergantung pada sentimen ritel, tetapi sudah masuk ke dalam kerangka investasi institusi global. Arus masuk ETF menjadi bukti nyata bahwa aset digital semakin diterima sebagai instrumen keuangan utama,” ujar Vice President Indodax Antony Kusuma dalam keterangan tertulis, Jumat (19/9/2025).


Antony menilai, level psikologis harga BTC US$ 120.000 merupakan tonggak penting. Pasalnya, harga tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan investor, melainkan juga berpotensi masuknya likuiditas baru dari institusi.

Sementara dari sisi ritel, Antony menyebut mayoritas investor masih menunjukkan sikap hati-hati. Berdasarkan data on-chain, terjadi penurunan pada New Address Momentum atau menurunnya alamat baru yang masuk ke pasar.

“Kehati-hatian ritel ini wajar, karena volatilitas Bitcoin memang tinggi. Namun, di sisi lain, aksi dari institusi justru menjadi fondasi utama reli kali ini,” jelasnya.

Namun begitu, Antony menilai arah jangka panjang Bitcoin tetap positif, khususnya di tengah perubahan kebijakan moneter global menyusul pemangkasan suku bunga yang berpeluang menambah likuiditas pasar. Menurutnya, momentum ini selalu menjadi katalis bagi pasar kripto.

Arus masuk ke ETF Bitcoin sepanjang pekan ini mencatat tren positif, meskipun sempat melambat saat keputusan FOMC belum diumumkan. Data ini memperkuat pandangan bahwa investor besar tidak terpengaruh gejolak jangka pendek, berbeda dengan investor ritel.

“Institusi berinvestasi dengan visi jangka panjang. Sementara ritel masih sering terjebak dalam pola fear and greed. Perbedaan perilaku ini yang membuat tren harga saat ini lebih stabil,” terangnya.

Ia menambahkan, fenomena ini juga menjadi pelajaran penting bagi investor kripto domestik untuk menyiapkan strategi akumulasi jangka panjang. Pasalnya jika tren arus masuk institusional terus berlanjut, pasar berpotensi melihat kapitalisasi BTC mendekati level tertinggi baru.

Indodax mencatat minat pengguna lokal tetap tinggi disusul peningkatan jumlah investor perseroan yang tumbuh hingga 9 juta lebih. Meskipun sebagian investor ritel masih menunggu konfirmasi tren, Antony menyebut aktivitas transaksi di Indodax tetap stabil.

“Pasar akan terus memantau langkah The Fed berikutnya. Jika siklus pemangkasan suku bunga berlanjut, maka ruang pertumbuhan Bitcoin semakin terbuka,” tegasnya.

“Investor Indonesia harus memahami bahwa volatilitas adalah bagian dari perjalanan Bitcoin. Dengan pemahaman yang benar, risiko bisa dikelola dan peluang bisa dimaksimalkan,” pungkasnya.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin cs Rontok, Investor Waspadai Ekonomi AS


Jakarta

Pasar kripto melemah usai Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga beberapa waktu lalu. Sejumlah koin kripto terpantau melemah di luar ekspektasi investor.

Berdasarkan analisis Tokocrypto, pemangkasan suku bunga The Fed justru meningkatkan kehati-hatian karena dianggap menandakan adanya indikasi pelemahan ekonomi di Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data perdagangan Kamis (25/9/2025), Bitcoin (BTC) bergerak di harga US$ 111.548 atau sekitar Rp Rp 1,87 miliar (asumsi kurs Rp 16.798). BTC melemah lebih dari 4,7% dalam sepekan terakhir.


Tren pelemahan juga dialami Ethereum (ETH) yang merosot tajam ke US$ 3.990, terkoreksi sekitar 11% dibanding pekan sebelumnya. Kemudian XRP melemah 6% ke US$ 2,89, sedangkan Solana (SOL) mencatat penurunan terdalam, anjlok lebih dari 15% ke US$ 203. BNB juga turun ke level US$ 988.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyebut tekanan ini terjadi akibat likuidasi besar-besaran di pasar derivatif dan melemahnya arus masuk ke ETF BTC spot. Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbas hasil obligasi juga mendorong investor beralih ke emas, yang saat ini mendekati harga US$ 3.800 per ons.

Berdasarkan data The Block, nilai ETF BTC hanya tumbuh sekitar 2% sejak awal Agustus. Sebaliknya, ETF ETH mencatatkan lonjakan 33% dalam periode yang sama.

Pertumbuhan disebut melampaui kenaikan harga ETH 13% di dua bulan terakhir. Hal ini dianggap mencerminkan minat terhadap produk ETH. Meski begitu, Fyqieh menyebut pelemahan pasar pasca-pemangkasan suku bunga merupakan kondisi umum.

“Pasar biasanya cenderung lesu lebih dulu sebelum menemukan titik stabil, lalu memasuki fase pertumbuhan baru beberapa bulan kemudian,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/9/2025).

Fyqieh menilai BTC saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan support kuat di sekitar US$ 111.000 kendati menghadapi tekanan jual yang masif.

“Tekanan jual memang besar, tapi data on-chain menunjukkan cadangan BTC di bursa turun ke level terendah tahun ini, yaitu 2,4 juta BTC. Ini artinya, kepercayaan holder jangka panjang masih terjaga,” jelasnya.

Ia menambahkan, potensi pemulihan tetap terbuka jika BTC mampu menembus level psikologis US$ 114.000. Dalam jangka pendek, volume perdagangan BTC disebut masih rendah. Namun, jika Bitcoin mampu menembus harga psikologis di level US$ 118.000, peluang menuju US$ 125.000 akan terbuka.

Bahkan, target optimistis hingga US$ 140.000 sebelum akhir tahun dinilai masih realistis, meski ada kemungkinan koreksi lebih dalam hingga US$ 108.000. Ke depan, Bitcoin diperkirakan tetap menjadi penentu arah pasar kripto secara keseluruhan.

“Kenaikan kecil yang terlihat bisa menyembunyikan potensi lonjakan lebih besar, terutama jika sentimen institusional lewat ETF kembali menguat. Namun, jika support utama gagal bertahan, BTC bisa kembali ke bawah US$ 110.000, dan itu berpotensi menyeret altcoin lebih dalam,” tutupnya.

Simak juga Video: Trump Kumpulkan Juragan Kripto di Gedung Putih, Apa Tujuannya?

(hns/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin cs Rontok Sejak The Fed Pangkas Suku Bunga


Jakarta

Pasar aset kripto kembali berada di bawah tekanan pada Jumat (26/9/), dengan total likuidasi posisi perdagangan mencapai lebih dari US$ 1,13 miliar atau sekitar Rp 19 triliun dalam 24 jam terakhir. Mayoritas likuidasi berasal dari posisi long, menandakan investor optimistis harus menutup posisinya akibat penurunan harga.

Data CoinGlass mencatat total likuidasi long senilai US$ 1,01 miliar, dengan Ethereum (ETH) dan Bitcoin (BTC) masing-masing US$ 365 juta dan US$ 262 juta. Harga BTC turun 2% dalam sehari terakhir, sempat diperdagangkan di bawah US$ 109.400, sementara ETH melemah ke level US$ 3.900.

Aset kripto lain juga mengalami koreksi. Dogecoin (DOGE) turun lebih dari 4%, XRP melemah 4%, dan Solana (SOL) ambles 5%, sehingga kapitalisasi pasar kripto turun hampir 3% menjadi US$ 3,7 triliun.


“Volatilitas saat ini memang tinggi, namun investor dapat memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan akumulasi strategis, terutama bagi yang berfokus pada investasi kripto jangka panjang,” ujar VP Indodax Antony Kusuma dalam keterangan tertulis, Senin (29/9/2025).

Antony menegaskan, likuidasi besar-besaran bukan hanya risiko, tetapi juga peluang membeli di level harga rendah. “Data on-chain menunjukkan cadangan BTC di bursa turun ke level terendah tahun ini, 2,4 juta BTC. Ini menandakan kepercayaan investor jangka panjang tetap solid,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa penurunan harga pasca-pemangkasan suku bunga Federal Reserve merupakan fenomena normal, dan pasar biasanya memasuki fase konsolidasi sebelum pertumbuhan baru.

Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan risiko secara disiplin di tengah fluktuasi pasar. Menurutnya, investor harus memantau pergerakan harga dan memanfaatkan data on-chain untuk strategi investasi kripto yang tepat.

“Tekanan jual memang besar, tetapi dukungan institusional dan regulasi yang jelas memberikan fondasi kuat bagi pertumbuhan jangka panjang pasar kripto,” tambah Antony.

Menurut Antony, peluang jangka menengah tetap terbuka dengan potensi BTC mencapai US$ 125.000 jika sentimen institusional kembali menguat. Antony menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan manajemen risiko untuk menghadapi tekanan pasar saat ini. Ia menambahkan, kondisi ini menjadi kesempatan bagi

investor untuk menerapkan strategi beli bertahap (DCA), memanfaatkan harga rendah secara konsisten. “Investor yang fokus pada strategi jangka panjang dapat melihat volatilitas ini sebagai peluang, bukan sekadar risiko,” tutup Antony.

Simak Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Diramal Terbang Tinggi di Kuartal IV, Ini Pemicunya


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) melemah tajam. Berdasarkan laporan ketenagakerjaan ADP, tercatat penurunan 32.000 lapangan kerja pada September, terendah sejak Maret 2023.

Hal ini dianggap dapat memperbesar keyakinan pasar terkait langkah Federal Reserve System atau The Fed untuk memangkas suku bunga pada Oktober. Berdasarkan data Polymarket, ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga hanya tersisa 6%. Banyak analis yang memperkirakan pemangkasan sebesar 25 basis poin (bps) akan terjadi pada Oktober dan kembali di Desember.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga ini memicu arus modal masuk ke aset alternatif seperti emas dan kripto. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, BTC menguat 9,77% ke harga US$ 120.309,39 atau sekitar Rp 1,99 miliar (asumsi kurs Rp 16.610) pada perdagangan sepekan terakhir.


Tokocrypto menilai, capaian ini memperpanjang tren positif BTC. Koin kripto ini mengakhiri perdagangan di kuartal III dengan kenaikan sekitar 5% di kisaran US$ 114.000. Secara historis, kuartal IV cenderung menghasilkan reli besar, dengan rata-rata menguat lebih dari 50% seperti yang terjadi pada 2015, 2016, 2023, dan 2024.

Berdasarkan data Tokocrypto, kenaikan harga rata-rata BTC sebesar 21,8% bulan Oktober 2015. Jika tren historis ini kembali berulang, BTC berpeluang menembus level US$ 150.000 atau sekitar Rp 2,49 miliar sebelum pergantian tahun.

Prospek ini ditopang arus masuk modal institusional dan meningkatnya partisipasi investor ritel. Kedua faktor ini dinilai kerap menjadi pemicu lonjakan harga besar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan secara teknikal grafik harian BTC membentuk pola double bottom di kisaran US$ 113.000 dengan menembus batas atas atau neckline di US$ 117.300. Jika breakout terkonfirmasi, target kenaikan menuju US$ 127.500 terbuka. Selain itu, pola segitiga simetris memberi proyeksi target lebih tinggi hingga US$ 137.000, yang berdekatan dengan level Fibonacci extension di US$ 134.700.

“Data on-chain dari Glassnode menunjukkan BTC masih berada di bawah zona panas, dengan level resistensi kritis di US$122.000 dan US$138.000. Artinya, ruang reli masih terbuka sebelum potensi koreksi besar terjadi,” jelas Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (3/10/2025).

Berdasarkan data Coinglass, terang Fyqie, transaksi berjangka BTC tercatat hampir mencapai US$ 100 miliar per hari, atau naik lebih dari 18%. Institusi besar juga terpantau aktif. Sementara BlackRock mentransfer BTC lebih dari US$ 130 juta ke Coinbase.

Aksi ini menambah keyakinan arus dana institusional akan terus mendukung reli BTC di kuartal terakhir tahun ini. Fyqieh menilai kombinasi faktor teknikal, fundamental, dan historis menempatkan BTC pada momentum yang positif.

“Data tenaga kerja yang lemah memperbesar peluang pemangkasan suku bunga The Fed, dan itu menjadi katalis utama lonjakan harga Bitcoin. Selama BTC mampu bertahan di atas US$118.000, target ke US$122.000 hingga US$137.000 realistis dicapai dalam waktu dekat,” tuturnya.

Di sisi lain, penutupan pemerintahan AS setelah hasil Kongres yang gagal mengesahkan anggaran mendorong investor beralih ke aset safe haven. Harga emas melonjak ke rekor di atas US$ 3.900 per ons, sementara BTC diuntungkan sebagai aset lindung nilai.

Dengan kombinasi data makro yang melemah, peluang pemangkasan suku bunga, faktor musiman bullish, dan dukungan investor institusional, BTC akan berada dalam posisi yang sangat kuat di kuartal IV 2025.

“Sejarah menunjukkan bahwa ketika September ditutup positif, kuartal keempat hampir selalu diikuti reli besar. Jika pola itu berulang, Bitcoin bisa mendekati US$ 150.000 sebelum akhir tahun, terutama dengan dukungan arus dana institusional,” tutupnya.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Setoran Pajak Kripto Tembus Rp 1,61 T dari 2022


Jakarta

Penerimaan negara dari aset kripto mencapai Rp 1,61 triliun hingga Agustus 2025. Angka ini menunjukkan tren kenaikan yang sangat baik sejak regulasi pajak kripto diberlakukan pada 2022.

Penerimaan tersebut berasal dari Rp 246,45 miliar pada 2022, Rp 220,83 miliar pada 2023, Rp 620,4 miliar pada 2024, dan Rp 522,82 miliar selama delapan bulan pertama 2025. Adapun total penerimaan terdiri dari Pajak Penghasilan (PPh) 22 sebesar Rp 770,42 miliar serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri sebesar Rp 840,08 miliar.

Penerimaan negara itu dinilai sebagai cerminan tingkat adopsi masyarakat yang semakin luas terhadap industri kripto.


Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, ketika regulasi pajak selaras dengan karakteristik aset digital, dampaknya bukan hanya pada meningkatnya kepercayaan investor, tetapi juga pada pertumbuhan volume transaksi yang lebih sehat dan transparan di bursa lokal. Ia menekankan penerimaan pajak kripto harus dilihat sebagai indikator legitimasi industri kripto.

“Semakin tinggi kontribusinya ke kas negara, semakin jelas bahwa investasi kripto bukan lagi sekadar tren, melainkan bagian resmi dari sistem keuangan digital Indonesia. Regulasi yang konsisten akan menjadikan Indonesia salah satu pusat perdagangan aset digital terbesar di kawasan,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/10/2025).

“Bagi kami, pajak kripto adalah jembatan yang mempertemukan kepentingan negara dan industri. Selama sinergi ini terjaga, kontribusi kripto terhadap perekonomian Indonesia akan semakin besar,” tambahnya.

Seiring dengan meningkatnya kontribusi pajak kripto, pasar global juga menunjukkan dinamika positif. Harga Bitcoin (BTC) menembus US$ 120 ribu atau sekitar Rp 2 miliar menurut data CoinMarketCap dan TradingView.

Lonjakan ini didorong oleh volume perdagangan ETF Bitcoin spot yang mencapai US$ 5 miliar dalam sehari serta arus masuk institusional senilai US$ 676 juta, dengan BlackRock iShares Bitcoin Trust (IBIT) menyerap US$ 405 juta dan Fidelity menambah 1.570 BTC senilai US$ 179 juta.

Secara teknikal, Bitcoin kini memasuki fase price discovery dengan potensi kenaikan menuju US$ 128.000-US$ 135.000 (Rp2,1-Rp2,3 miliar). Meski demikian, analis mengingatkan adanya zona support penting di US$ 110.000-US$ 112.000 (Rp 1,8 miliar).

Kombinasi antara penerimaan pajak kripto nasional yang solid dan tren kenaikan harga Bitcoin global menegaskan bahwa industri kripto kini memainkan peran strategis, baik dalam menopang fiskal negara, memberikan potensi investasi yang baik, dan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital dunia.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com