Tag Archives: bitcoin

Siapa Pemilik Indodax yang Diduga Kena Hack dan Kehilangan Rp 280 M?


Jakarta

Platform pertukaran mata uang kripto milik PT Indodax Nasional Indonesia (Indodax) diduga mengalami peretasan atau hacking. Akibatnya perusahaan itu disebut-sebut kehilangan dana hingga Rp 280,37 miliar yang sudah dikonversi dalam bentuk kripto.

Buntut dugaan peretasan pada sistem transaksi Aset Kripto itu, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) juga sudah memanggil Indodax untuk melakukan pemeriksaan. Siapa pemilik Indodax yang diduga terkena hacking hingga kehilangan uang miliaran rupiah ini?

Profil Pemilik Indodax

Melansir dari situs resmi Indodax, Kamis (12/9/2024), platform marketplace aset kripto pertama di RI itu didirikan oleh Oscar Darmawan dan William Sutanto pada 2013 lalu yang kala itu masih bernama Bitcoin.co.id atau Bitcoin Indonesia.


Dijelaskan, Oscar Darmawan merupakan lulusan dari Monash University Singapura pada tahun 2006 dengan gelar tanda Teknologi dan Sistem Informasi serta memegang sertifikat Keamanan Internet dari EC-Council USA (Certified Ethical Hacker).

“Menjadi pendiri sekaligus CEO PT Indodax Nasional Indonesia, ia bertanggung jawab atas operasional perusahaan dan turut mengedukasi masyarakat mengenai perkembangan teknologi blockchain di Indonesia, serta menjaga hubungan baik antara masyarakat dengan Indodax,” tulis perusahaan dalam situsnya.

Kemudian dalam situs Darmawan Capital, Oscar Darmawan merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ia lahir di Semarang, 15 Desember 1985.

Karena keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan sewaktu kecil, Oscar disebut-sebut sudah gemar berbisnis seperti menjual mainan kepada teman sebaya saat masih SD. Masuk bangku SMP, ia menjual peralatan sekolah kepada teman-temannya.

Dikatakan uang yang didapat Oscar, ia pergunakan untuk membeli keperluan sekolah. Bahkan saat Oscar kuliah di Singapura, dirinya juga bisa menghasilkan uang sendiri.

Meski begitu, ternyata ia juga pernah menjadi salah satu korban perdagangan lewat Forex dan e-money. belajar dari kesalahan, Oscar sempat bekerja di perusahaan internet teknologi security setelah lulus dari Monash University.

Meskipun tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya, setelahnya Oscar nekat mendirikan usaha bergerak di bidang web development, penyedia hosting, dan internet marketing pada awal tahun 2007 yang bernama Pondok Media.

Perusahaan itu ia dirikan dengan modal Rp 5 juta. Modal tersebut digunakan Oscar untuk belanja promosi seperti iklan sebesar Rp 1 juta, dan menyewa 4 komputer di sebuah warnet untuk dijadikan kantor operasionalnya.

Setelah sukses dengan Pondok Media, Oscar kemudian membangun forum bisnis internet di Indonesia bersama William Sutanto bernama ads-id.com. Selain itu Oscar juga bermitra dengan istrinya, Yenni, dengan membuka bisnis online hobihouse.com yang merupakan situs e-commerce peralatan kebutuhan bayi handmade.

Indodax Dilaporkan Kena Hack

Informasi terkait dugaan peretasan ini pertama kali disampaikan oleh perusahaan keamanan Web3, Cyvers Alerts, melalui akun sosial media X milik mereka.

Cyver Alerts mencatat terdapat alamat yang dilaporkan menampung aset senilai sekitar US$ 14,4 juta atau sekitar Rp 221,83 miliar (kurs Rp 15.405/dolar AS) yang kemudian ditukarkan menjadi Ether.

“Peringatan, hey @indodax, sistem kami telah mendeteksi beberapa transaksi mencurigakan yang melibatkan dompet Anda di berbagai jaringan. Alamat mencurigakan tersebut sudah menampung US$ 14,4 juta dan menukar token tersebut ke Ether,” tulis perusahaan itu di akun X-nya.

Namun setelah itu Cyvers merevisi angka potensi kerugian menjadi US$ 18,2 juta atau setara sekitar Rp 280,37 miliar. Kerugian ini didapat dari transaksi sebanyak lebih dari 150 kali. “Kami telah mendeteksi lebih dari 150 transaksi dan total kerugian US$ 18,2 juta, @indodax mohon ambil tindakan,” tambah Cyvers.

Namun jumlah kehilangan yang dialami perusahaan ini belum bisa dipastikan. Sebab hingga berita ini diterbitkan, pihak Indodax belum memberikan konfirmasi terkait laporan kehilangan ini.

Lihat juga Video: Aftech Soroti soal Indodax yang Diduga Alami Kebocoran Data

[Gambas:Video 20detik]

(fdl/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Ini Alasan Mengapa Supply yang Terbatas Bisa Pengaruhi Harga Bitcoin


Jakarta

Bitcoin dikenal sebagai salah satu aset digital paling revolusioner dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu karakteristik uniknya adalah supply atau pasokan yang terbatas, yaitu hanya 21 juta koin yang dapat ditambang.

Berbeda dengan mata uang tradisional yang bisa dicetak atau diatur oleh bank sentral, jumlah Bitcoin yang tersedia tidak akan pernah melebihi batas tersebut. Hal ini membawa dampak signifikan terhadap harga bitcoin, dan berikut ini pembahasan yang akan mengupas mengapa supply yang terbatas bisa memengaruhi harga Bitcoin secara signifikan.

Konsep Supply dan Demand dalam Ekonomi

Untuk memahami bagaimana supply Bitcoin yang terbatas memengaruhi harganya, kita perlu melihat pada konsep dasar ekonomi, yaitu supply (penawaran) dan demand (permintaan). Ketika penawaran suatu barang terbatas sementara permintaan terhadap barang tersebut tetap bahkan meningkat, harga akan cenderung naik. Ini berlaku di pasar apapun, termasuk pasar cryptocurrency seperti Bitcoin.


Dalam kasus Bitcoin, dengan supply yang terbatas dan semakin banyak orang yang ingin memilikinya, mekanisme ini mulai berlaku. Jika permintaan terus bertambah tetapi ketersediaan Bitcoin tetap stagnan atau bahkan menurun, harga secara alami akan terdorong naik.

Bitcoin, Aset dengan Supply Terbatas

Bitcoin didesain dengan jumlah maksimum yang sudah ditentukan dari awal. Sejak pertama kali diciptakan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009, aturan utama Bitcoin adalah bahwa hanya akan ada 21 juta Bitcoin yang dapat ditambang. Saat ini, lebih dari 19 juta Bitcoin sudah beredar di pasar, dan setiap empat tahun sekali, jumlah Bitcoin yang ditambang melalui proses yang disebut halving akan semakin berkurang.

Halving adalah mekanisme pengurangan reward untuk penambang yang terjadi setiap 210.000 blok atau kira-kira setiap empat tahun. Artinya, semakin sedikit Bitcoin yang akan diterbitkan di masa depan, sehingga proses ini secara bertahap memperketat penawaran Bitcoin yang baru.

Pengaruh Halving pada Supply dan Harga

Setiap kali terjadi halving, jumlah Bitcoin baru yang bisa ditambang per blok berkurang setengahnya. Misalnya, pada awalnya, penambang menerima 50 Bitcoin per blok. Namun, setelah beberapa kali halving, reward saat ini hanya sebesar 6,25 Bitcoin per blok.

Penurunan pasokan Bitcoin yang masuk ke pasar ini menciptakan ketidakseimbangan antara supply dan demand. Sebagai contoh, ketika halving terakhir terjadi pada tahun 2020, harga Bitcoin melonjak dalam waktu beberapa bulan setelahnya. Mengapa demikian? Karena meskipun penawaran baru Bitcoin berkurang, permintaan dari investor dan pengguna tetap ada, bahkan cenderung meningkat seiring dengan adopsi yang lebih luas.

Inilah mengapa banyak analis pasar berpendapat bahwa setiap kali terjadi halving, harga Bitcoin akan mengalami kenaikan jangka panjang, meskipun mungkin tidak langsung terlihat. Seiring waktu, dengan semakin sedikit Bitcoin yang tersedia untuk ditambang, nilai Bitcoin yang sudah ada menjadi semakin berharga.

Bitcoin sebagai “Emas Digital”

Banyak orang menyebut Bitcoin sebagai “emas digital” karena karakternya yang mirip dengan emas dalam hal kelangkaan. Sama seperti emas yang terbatas di bumi, Bitcoin pun memiliki jumlah yang terbatas. Kelangkaan inilah yang menciptakan nilai bagi kedua aset tersebut.

Namun, perbedaan utama antara Bitcoin dan emas adalah bahwa supply Bitcoin sudah pasti, sementara jumlah emas yang ada di dunia mungkin akan terus bertambah seiring ditemukannya tambang-tambang baru. Ini membuat Bitcoin semakin langka seiring berjalannya waktu, sehingga memengaruhi persepsi nilai di kalangan investor.

Mengapa Investor Tertarik dengan Supply yang Terbatas?

Investasi pada aset yang langka atau memiliki keterbatasan supply biasanya lebih menarik bagi para investor. Mereka melihat potensi kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan di masa depan. Karena Bitcoin memiliki batasan supply yang jelas dan tak dapat diubah, banyak investor yakin bahwa harga Bitcoin akan terus naik seiring dengan meningkatnya permintaan global, terutama ketika adopsi institusional dan pemerintah semakin meluas.

Selain itu, karena Bitcoin tidak diatur oleh entitas sentral atau pemerintah, hal ini menambah daya tariknya sebagai aset yang tidak rentan terhadap inflasi. Dengan supply yang terbatas, investor merasa lebih aman menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk Bitcoin daripada uang fiat yang dapat dengan mudah dicetak dan mengakibatkan inflasi.

Faktor-Faktor Lain yang Memengaruhi Harga Bitcoin

Tentu saja, supply bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi harga Bitcoin. Ada beberapa faktor lain yang juga harus dipertimbangkan:

1. Adopsi Institusional

Ketika perusahaan besar seperti Tesla, MicroStrategy, atau institusi keuangan lainnya membeli Bitcoin dalam jumlah besar, hal ini dapat meningkatkan permintaan, yang pada akhirnya mendorong harga naik.

2. Peraturan Pemerintah

Kebijakan regulasi di berbagai negara juga memiliki dampak besar terhadap harga Bitcoin. Ketika regulasi yang mendukung cryptocurrency diberlakukan, hal ini sering kali menyebabkan kenaikan harga, sebaliknya kebijakan yang membatasi dapat menurunkan harga.

3. Sentimen Pasar

Pergerakan harga Bitcoin juga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Berita tentang peretasan, penipuan, atau kemajuan teknologi blockchain dapat memengaruhi harga dalam jangka pendek.

Supply Terbatas, Potensi Besar

Jadi, mengapa supply Bitcoin yang terbatas bisa memengaruhi harganya? Jawabannya terletak pada prinsip ekonomi dasar. Ketika supply terbatas dan demand terus tumbuh, harga akan naik.

Dengan hanya 21 juta Bitcoin yang pernah ada, supply terbatas ini memberikan Bitcoin karakteristik yang mirip dengan aset langka lainnya, seperti emas. Namun, dengan teknologi yang mendasarinya dan potensi untuk adopsi global yang terus meningkat, Bitcoin memiliki potensi pertumbuhan yang jauh lebih besar di masa depan.

Jika Anda tertarik untuk mulai berinvestasi dalam Bitcoin atau ingin menjelajahi dunia cryptocurrency lebih dalam, platform Tokocrypto adalah tempat yang tepat untuk memulai. Tokocrypto menawarkan cara yang mudah dan aman untuk membeli, menjual, dan menyimpan Bitcoin serta berbagai altcoin lainnya. Sebagai salah satu platform cryptocurrency terkemuka di Indonesia, Tokocrypto membantu Anda memasuki dunia investasi digital dengan lebih siap.

(Content Promotion/TKO)



Sumber : finance.detik.com

Proyeksi Inflasi AS Melambung, Begini Dampaknya ke Bitcoin cs


Jakarta

Laporan inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index atau CPI) untuk bulan September menunjukkan hasil yang melebihi ekspektasi. Data tersebut menunjukkan kenaikan inflasi sebesar 2,4% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dari proyeksi pasar yang diperkirakan sebesar 2,3%. Selain itu, inflasi inti, yang mengabaikan harga energi dan makanan, juga mencatat peningkatan menjadi 3,3%, melampaui prediksi yang sebesar 3,2%.

Federal Reserve AS telah menetapkan target inflasi sebesar 2% dalam jangka panjang, dan angka inflasi saat ini yang lebih tinggi dari target tersebut mengisyaratkan tantangan lebih lanjut bagi ekonomi AS, serta pasar kripto.

Inflasi yang lebih tinggi dari prediksi dapat mempengaruhi berbagai kelas aset, misalnya aset berisiko seperti Bitcoin. Sementara penurunan suku bunga biasanya dianggap sebagai sinyal positif bagi aset digital dan komoditas lainnya, kenyataannya efek dari kebijakan moneter ini belum terasa dalam jangka pendek.


“Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memberikan tekanan tambahan pada aset berisiko seperti Bitcoin. Langkah Federal Reserve menurunkan suku bunga memang diharapkan mampu memberikan angin segar bagi pasar kripto. Namun, kenyataannya, pasar masih merespons dengan hati-hati,” kata CEO INDODAX, Oscar Darmawan dalam keterangannya, Selasa (15/10/2024).

Oscar menekankan bahwa ketidakpastian ekonomi global, ditambah dengan perkembangan geopolitik yang terus berubah, turut mempengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

Pada bulan September 2024, Federal Reserve telah menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin sebagai langkah untuk meredam inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, langkah tersebut belum cukup memberikan dorongan signifikan bagi harga Bitcoin untuk mengalami lonjakan yang lebih tinggi.

Banyak pelaku pasar memperkirakan adanya potensi pemangkasan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan November 2024. Akan tetapi, setelah data inflasi terbaru yang lebih tinggi dari ekspektasi, potensi untuk adanya pemangkasan suku bunga tambahan semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa langkah pelonggaran moneter yang terlalu dini bisa memicu lonjakan inflasi lebih lanjut, yang pada gilirannya dapat mengganggu kestabilan ekonomi secara keseluruhan.

Saat ini, pasar kripto secara keseluruhan sedang berada dalam fase konsolidasi, dengan banyak investor yang masih mengadopsi pendekatan wait and see. Menurut Oscar, potensi pemangkasan suku bunga yang biasanya menjadi katalis positif bagi Bitcoin, belum mampu mengatasi tekanan negatif dari kondisi ekonomi global yang tidak stabil.

“Banyak investor yang masih menunggu kejelasan lebih lanjut dari arah kebijakan Federal Reserve sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif,” tambahnya.

Meskipun begitu, Oscar tetap optimis bahwa dalam jangka menengah hingga panjang, Bitcoin memiliki peluang untuk kembali menguat, terutama jika inflasi berhasil ditekan dan kebijakan moneter mulai melonggar. “Dibalik tekanan jangka pendek ini, saya melihat peluang yang cukup besar untuk Bitcoin dapat pulih, terutama jika kondisi ekonomi global membaik dan pelonggaran moneter terjadi lebih lanjut,” jelasnya.

Faktor politik juga mulai memainkan peran yang penting dalam menentukan arah pasar kripto ke depan. Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2024, spekulasi mulai muncul terkait kemungkinan terpilihnya pemimpin yang lebih ramah terhadap aset digital, yang pada gilirannya bisa menjadi katalis positif bagi harga Bitcoin dan aset kripto lainnya.

“Investor tetap optimis bahwa Bitcoin dapat mengalami pemulihan pada kuartal terakhir tahun ini, terutama jika kebijakan ekonomi global lebih mendukung sektor kripto,” ujar Oscar.

(das/das)



Sumber : finance.detik.com

Katalis Positif Kripto Jelang Akhir Tahun, Bitcoin Bisa Cetak ATH Baru?


Jakarta

Seiring dengan memasuki kuartal terakhir (Q4) 2024, ada sejumlah faktor positif yang diprediksi akan mendorong pasar kripto, khususnya Bitcoin (BTC).

Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha menjelaskan Bitcoin telah diperdagangkan dalam kisaran US$ 52.000 hingga US$73.750 dalam tujuh bulan terakhir. BTC juga telah kembali ke tren bullishnya di mana mendekati level US$ 70.000.

“Walaupun sempat stagnan di kuartal ketiga dengan kenaikan moderat 0,96%, tren historis menunjukkan bahwa kuartal keempat biasanya menjadi periode bullish bagi Bitcoin,” ujar Panji, dalam keterangan tertulis, Kamis (24/10/2024).


Beberapa katalis positif yang berperan penting mendorong pasar kripto adalah:

1. ETF Bitcoin

Salah satu perkembangan signifikan yang mendukung pasar Bitcoin adalah perdagangan Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin Spot yang mengalami lonjakan besar. Dikutip dari SoSo Value, total net asset dari seluruh ETF Bitcoin Spot di AS mencapai US$ 65,12 miliar, atau 4,88% dari kapitalisasi pasar Bitcoin.

“Meski baru mulai diperdagangkan pada 11 Januari 2024, ETF BTC spot ini menjadi alat penting yang memperkuat sentimen bullish ke depan, memperluas akses investor institusional ke Bitcoin,” kata Panji.

2. Pemilu Presiden AS

Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang akan berlangsung pada 4 November 2024 mendatang juga menjadi faktor penting. Kedua kandidat besar, baik Donald Trump maupun Kamala Harris, mendukung perkembangan aset kripto. Oleh karena itu, hasil pemilu diharapkan tidak akan berdampak negatif pada regulasi kripto.

3. Kebijakan Suku Bunga Federal Reserve (FED)

Kebijakan moneter AS dengan pemangkasan suku bunga oleh FED membawa dampak positif bagi aset kripto seperti Bitcoin. Setelah penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin pada bulan September, spekulasi pasar memperkirakan pemotongan tambahan sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC di bulan November. Hal ini berpotensi mendukung tren bullish Bitcoin hingga akhir tahun 2024.

Akankah Bitcoin Berpotensi New ATH Menjelang Akhir Tahun?

Banyak investor optimistis bahwa Bitcoin bisa mencapai US$ 100.000 di penghujung 2024. Dilihat secara historis, pada Q4 periode 2013-2023, secara rata-rata Bitcoin ditutup di angka 81%. Pada kuartal keempat 2023, BTC ditutup naik sebesar 56,9%.

“Jika pola serupa terjadi, ada potensi Bitcoin mencapai level tertinggi baru atau All-Time High (ATH), di atas US$ 73.750 dengan target kami di kisaran US$ 90.000-US$100.000 menjelang akhir tahun 2024,” pungkasnya.

Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Kripto membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli aset kripto.

Harga aset kripto berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

(hnu/ega)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Tembus Rp 1 M, Masih Bisa Ngegas Lagi?


Jakarta

Bitcoin tembus US$ 70.000 atau Rp 1,09 miliar (kurs Rp 15.700) untuk pertama kalinya sejak Juni 2024. Investor bersiap menyambut pemilihan umum Amerika Serikat (AS) dan data ekonomi yang akan mempengaruhi keputusan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) berikutnya.

Dilansir dari CNBC, Selasa (29/10/2024), harga bitcoin terakhir naik sekitar 3% ke level US$ 69.925, menurut Coin Metrics. Sekitar pukul 6:00 sore waktu setempat pada Senin (28/10), harganya menyentuh US$ 70.207 dan terus berfluktuasi sejak saat itu.

Saham yang terkait dengan harga kripto juga sedikit berubah. Dalam perdagangan reguler pada Senin (28/10), platform bursa kripto Coinbase naik 5% dan proksi bitcoin MicroStrategy melonjak hampir 9%.


“Optimisme meningkat menjelang pemilihan presiden AS minggu depan. Bitcoin telah dibatasi pada kisaran ketat antara US$ 55.000 dan US$ 70.000, namun Bitcoin mungkin siap untuk menembus level tertinggi baru bulan ini,” tulis pemberitaan tersebut.

Sebagai informasi, hari pemilihan presiden AS akan jatuh pada 5 November 2024. Kemudian disusul keputusan kebijakan suku bunga The Fed pada 7 November 2024.

Calon presiden dari Partai Republik Donald Trump telah merayu industri kripto tahun ini dan menampilkan dirinya sebagai kandidat pro-kripto. Sementara calon presiden dari Partai Demokrat Kamala Harris lebih bungkam tentang kripto dan industri terpecah tentang bagaimana potensi kepresidenannya dapat memengaruhi perusahaan kripto.

Di tempat lain, investor mengamati laporan keuangan dari Coinbase dan MicroStrategy, di mana keduanya dijadwalkan akan mengumumkan pada Rabu (29/10). Pada Senin (28/10), saham MicroStrategy mencatat penutupan tertinggi sejak 15 Maret 2000.

(aid/das)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Mendekati All Time High, Pakar Sebut Ini Faktor Penyebabnya


Jakarta

Menjelang penutupan bulan Oktober 2024, bitcoin (BTC) melanjutkan kenaikannya, mendekati level all-time high di sekitar US$73.750. Pada hari ini, harga BTC mencapai US$72.785 sebelum sedikit turun dan bertengger di angka US$72.290 pada pukul 08.00 WIB.

Bahkan dalam 24 jam terakhir, bitcoin mengalami penguatan sebesar 2,80% dan naik 7,5% dalam seminggu terakhir. Secara Year to Date (YTD) kenaikan bitcoin tercatat sekitar 66%.

Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengatakan momentum penguatan ini muncul di tengah optimisme pasar menjelang pemilihan umum di Amerika Serikat pada 5 November mendatang. Diperkirakan Pemilu Amerika Serikat akan berdampak pada kebijakan ekonomi dan sektor keuangan AS, termasuk pasar kripto.


Kenaikan ini juga dapat dikaitkan dengan sentimen ‘risk-on’ di tengah ekspektasi bahwa suku bunga The Fed mungkin akan kembali memotong suku bunganya sebesar 25 bps pada FOMC 7 November, yang memberikan ruang bagi Bitcoin untuk terus bergerak naik.

“Dari perspektif teknikal, Bitcoin telah berhasil breakout dari resistance trendline descending broadening wedge pattern hingga sempat mencapai US$72.785. Saat ini, terdapat potensi pelemahan terlebih dahulu yang dapat membawa BTC untuk menguji ulang area resistance trendline sebelumnya, yang kini juga menjadi area support di level US$ 69.000. Jika berhasil rebound maka besar peluang BTC untuk mencetak new All Time High dalam beberapa hari kedepan,” kata Panji dalam keterangan tertulis, Rabu (30/10/2024).

Dia mengatakan dalam beberapa bulan terakhir, produk ETF ini berhasil menarik miliaran dolar ke pasar kripto, terutama setelah penundaan persetujuan di awal tahun.

“ETF kripto memberikan cara baru bagi investor institusi untuk masuk ke pasar kripto yang sebelumnya dianggap terlalu berisiko,” ujar Panji.

Hingga kini, momentum positifETFbitcoin spot masih berlanjut terbukti bahwa adanyainflow sebesar US$479 juta pada perdagangan Senin (28/10/2024). Hal itu melanjutkan tren positif minggu lalu dengan lonjakan arus masuk hingga US$997 juta dalam periode perdagangan 21-25 Oktober 2024, dikutip dariSoSo Value.

Bitcoin mencapai rekor tertinggi baru di angka US$73,737 pada bulan Maret tepat dua bulan setelah ETF ini diluncurkan. Namun, aset ini mengalami tekanan pasca ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian mengenai suku bunga yang masih tinggi. Namun, keputusan bank sentral untuk menurunkan suku bunga bulan lalu kembali meningkatkan minat investor pada aset berisiko seperti bitcoin.

Dia pun optimistis hal itu bisa membuat bitcoin dan altcoin akan naik signifikan dalam beberapa waktu ke depan.

“Lingkungan suku bunga rendah memungkinkan investasi berisiko seperti kripto lebih menarik karena biaya pinjaman yang lebih rendah,” jelasnya.

Altseason 2024: Momentum bagi Altcoin?

Tidak hanya bitcoin yang mengalami kenaikan, altcoin diprediksi akan kembali bersinar layaknya altcoin season di tahun 2021 di mana ketika itu DeFi dan NFT menjadi sorotan. Saat ini, dominasi bitcoin (BTC.D) di pasar kripto telah mencapai angka 59,52%, mendekati 60%, angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Namun, kondisi ini juga membuka spekulasi mengenai datangnya ‘altseason’ atau periode di mana altcoin seperti Ethereum dan Solana cenderung mencatatkan performa yang lebih baik dibandingkan bitcoin.

“Pola ini sering kali terjadi setelah Bitcoin mencapai puncaknya, di mana investor mulai beralih ke aset kripto lain atau altcoin,” ungkapnya.

Pola teknikal rising wedge wedge yang terlihat dalam BTC.D menandakan potensi koreksi BTC.D yang bisa membuka jalan bagi altseason.

“Jika dominasi Bitcoin menurun, ini bisa menjadi sinyal awal altseason, di mana altcoin memiliki peluang untuk tumbuh dengan cepat,” lanjut Panji.

Beberapa altcoin utama seperti Ethereum, Solana, hingga meme coin dapat menjadi pilihan menarik bagi trader.

BTC Siap Cetak Rekor Tertinggi Baru?

Dia mengatakan dengan dukungan ETF dan tren peningkatan minat investor institusi membuat bitcoin berada di jalur untuk mencapai rekor tertinggi baru. Potensi untuk menembus level rekor baru tentu ada, terutama jika bitcoin berhasil bertahan di atas level US$70,000.

“Namun, investor juga harus berhati-hati terhadap potensi koreksi yang bisa terjadi kapan saja, terutama di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. Dengan demikian, kombinasi antara faktor teknikal dan sentimen pasar menjelang pemilu akan menjadi penentu apakah bitcoin mampu bertahan atau bahkan mencetak rekor baru dalam waktu dekat,” tutupnya.

Lihat Video: Elon Musk Dinyatakan Tak Bersalah Atas Tudingan Manipulasi Dogecoin

[Gambas:Video 20detik]

(anl/ega)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Tembus Rp 1,1 Miliar di Tengah Pilpres AS


Jakarta

Harga Bitcoin melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah atau all time high (ATH) pada Rabu pagi. Harga Bitcoin sempat tercatat berada di US$ 75.100 atau sekitar Rp 1,18 miliar (kurs Rp 15.800).

Isyarat pasar yang positif selama 24 jam terakhir disebut-sebut jadi sentimen besar terhadap kenaikan tersebut, meskipun Bitcoin menghadapi tren yang umumnya melemah dalam beberapa minggu terakhir.

Dilansir dari laman beincrypto, Rabu (6/11/2024), Pemilu AS yang sedang berlangsung jadi faktor utama dalam lonjakan harga Bitcoin. Investor dengan penuh semangat menunggu hasil pemilu, dengan tanda-tanda yang mendukung Donald Trump akan kembali menang jadi presiden.


Popularitas Trump yang terus meningkat, dinilai bisa ikut meningkatkan kepercayaan pasar. Pasar kripto sendiri telah berspekulasi tentang dampak pemilu AS terhadap Bitcoin selama beberapa waktu.

CoinShares baru-baru ini menyoroti sentimen ini dalam sebuah laporan, mencatat bahwa arus masuk institusional minggu lalu mencapai US$ 2,2 miliar. Laporan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar investasi ini kemungkinan berasal dari optimisme seputar potensi kemenangan Partai Republik.

Pada platform prediksi Polymarket, peluang kemenangan Trump melonjak, yang menunjukkan pergeseran ekspektasi pasar. Peluang Trump untuk menang meningkat tajam dari 58% menjadi 93,3%.

Latar belakang politik ini telah memicu minat beli yang signifikan terhadap Bitcoin. Sentimen investor terhadap Bitcoin cukup baik sejak pertengahan Agustus. Exchange Net Position Change menunjukkan bahwa, selama tiga bulan terakhir, bursa kripto sebagian besar mencatat arus keluar Bitcoin yang menandakan sinyal peningkatan aktivitas pembelian.

Pola arus keluar BTC ini menunjukkan bahwa investor telah mempertahankan minat yang kuat. Namun nampaknya kenaikan harga ini tidak bertahan lama, karena dengan kenaikan harga Bitcoin, pasar pun jadi melambat. Bitcoin kini telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa membuat investor berpikir dua kali untuk menaruh investasinya di Bitcoin.

Harga Bitcoin telah melonjak sebesar 7% hari ini. Sekarang berada di dekat titik kritis, dengan US$ 73.773 dan US$ 71.367 sebagai support potensial langsung. Jika investor mulai membukukan keuntungan dengan menjual Bitcoin-nya maka harga dapat stabil di sekitar level tersebut.

Jika momentum penguatan berlanjut, yang didukung lebih lanjut oleh kondisi ekonomi makro yang menguntungkan, Bitcoin dapat mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 75.100.

Simak juga video: Jokowi Kaget Ada yang Belajar Robotik, Bitcoin hingga AI di UNU Yogya

[Gambas:Video 20detik]

(hal/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Cetak Rekor Baru di Tengah Pemilu AS, Harga Bitcoin Tembus $75.000


Jakarta

Bitcoin (BTC) kembali mencetak All Time High (ATH) di level $75.000 pada Rabu (6/11) di tengah proses penghitungan suara pemilihan presiden Amerika Serikat (AS). Analisis memperkirakan tren kenaikan ini masih berpotensi berlanjut meskipun volatilitas tinggi di pasar kripto tetap perlu diwaspadai.

Sebelumnya BTC bertengger di level $71.300 pada pagi hari pukul 08:00 WIB, dan mengalami kenaikan sebesar 4,80% dalam 24 jam terakhir. Selain BTC, Ethereum (ETH) juga mengalami peningkatan sebesar 3,00%, mencapai $2.500. Total kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan naik 4,50% dan mencapai angka $2,322 triliun.

Kenaikan harga aset kripto saat ini dipengaruhi oleh pemilu AS yang sedang berlangsung dan tengah dalam proses penghitungan suara popular vote, yang akan menentukan electoral college.


Pada pukul 15.30 WIB, Donald Trump sementara unggul atas Kamala Harris dalam popular vote dan electoral college. Menurut Apnews, Trump telah memperoleh 267 dari 270 suara elektoral yang dibutuhkan untuk menang, dan unggul di negara bagian penting seperti Michigan dan Wisconsin yang hasilnya belum diumumkan.

“Dari sisi teknikal, BTC baru saja mencetak harga tertinggi baru di angka $75.000, kami masih melihat potensi lanjut reli untuk mencetak rekor baru hingga $77.875,” ujar Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha dalam keterangan tertulis, Rabu (6/11/2024).

Dukungan Trump terhadap BTC serta minat politisi pada aset digital memberikan sinyal positif bagi pasar kripto. Namun, regulasi yang diusung oleh Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) diprediksi akan menentukan arah perkembangan kripto di masa depan, dengan SEC di bawah Gary Gensler kerap dinilai menerapkan aturan ketat terhadap industri ini.

Panji juga mengingatkan para investor untuk tetap waspada terhadap fluktuasi harga BTC yang sedang tinggi saat ini. “Namun, perlu diperhatikan volatilitas BTC saat ini sedang tinggi, tetap antisipasi jika terjadi pembalikan arah yang diakibatkan oleh aksi profit taking dan sell on news,” tutup Panji.

Berdasarkan data historis, harga BTC sering mengalami kenaikan menjelang dan sesudah pemilu AS. Seperti yang terjadi pada pemilu 2020 harga BTC naik sebesar 28,24% sebelum pemilihan dan melonjak hingga 42,06%. Dan pada pemilu 2016 kenaikan tercatat sebesar 14,99% sebelum dan 8,43% setelah pemilu.

Sebagai platform investasi yang terus berinovasi, Ajaib Kripto berharap dapat memberikan edukasi dan akses yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia terhadap aset digital, terutama dalam menghadapi dinamika pasar kripto yang terus berkembang.

Dengan peningkatan minat masyarakat pada kripto dan layanan investasi yang semakin mudah diakses, Ajaib Group berkomitmen untuk menjadi mitra terpercaya dalam perjalanan finansial para investor. Untuk informasi lebih lanjut, segera kunjungi website Ajaib Kripto.

(akn/ega)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Pecah Rekor Lagi Jadi US$ 76.000, Ini Penyebabnya


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali mencapai rekor tertinggi atau All Time High (ATH) pada harga US$76.000, atau sekitar Rp1,2 Miliar yang didorong oleh beberapa faktor. Di antaranya, kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden AS, serta meningkatnya minat dari kalangan institusional.

Hal ini disebabkan oleh sentimen positif yang menguat di pasar kripto. Ekspektasi investor terkait hasil Pilpres AS di mana Donald Trump mengungguli Kamala Harris.

Trump dikenal memiliki sikap mendukung kebijakan yang pro terhadap aset digital dan sektor teknologi, sehingga memberikan pengaruh positif terhadap pasar kripto.


Selain itu, Trump juga berencana untuk membentuk cadangan Bitcoin nasional dan menjadikan Amerika sebagai pemimpin global dalam hal aset Bitcoin. Selain faktor politik, pergerakan dana institusional di pasar juga menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga Bitcoin belakangan ini.

Data dari Farside Investors menunjukkan bahwa pada 6 November 2024, ETF Bitcoin mencatat arus masuk sebesar US$621,9 juta pasca kemenangan Trump meningkat. CEO Indodax, Oscar Darmawan, menilai bahwa fenomena ini mencerminkan betapa kuatnya pengaruh peristiwa politik AS terhadap harga Bitcoin.

“Ketika Bitcoin mencapai rekor harga tertingginya, ini menunjukkan kepercayaan dan harapan yang besar dari para investor. Faktor politik, seperti kemenangan Trump yang pro kripto pada Pilpres AS, memberikan dorongan psikologis yang signifikan di pasar,” ungkap Oscar. Oscar juga menggarisbawahi peran penting institusi besar dalam adopsi Bitcoin.

“Adopsi Bitcoin bukan hanya didorong oleh para investor ritel, tetapi juga semakin kuat di kalangan institusi keuangan, terutama setelah adanya pengajuan ETF Spot Bitcoin dari perusahaan besar seperti BlackRock. Hal ini menunjukkan perubahan persepsi institusi terhadap aset kripto yang kini dilihat sebagai instrumen investasi jangka panjang,” tambah Oscar.

Oscar menguraikan bahwa permintaan dari kalangan institusional, yang cenderung lebih stabil dan berjangka panjang, memberikan dampak terhadap keberlanjutan harga Bitcoin di level tinggi. “Ketika institusi mulai berinvestasi dalam Bitcoin, mereka membawa likuiditas yang lebih besar dan legitimasi ke pasar kripto. Ini menjadi bukti bahwa Bitcoin semakin diterima di kalangan mainstream dan bukan sekadar aset spekulatif semata,” jelas Oscar.

Sebagai platform perdagangan aset digital terbesar di Indonesia, Indodax mengingatkan para investor untuk tetap berhati-hati dalam berinvestasi dan mempertimbangkan risiko yang ada akibat volatilitas pasar kripto. Indodax terus berkomitmen untuk menyediakan akses mudah ke aset digital serta memastikan keamanan dan transparansi dalam setiap transaksi bagi para pengguna

Simak juga video: Elon Musk Dinyatakan Tak Bersalah Atas Tudingan Manipulasi Dogecoin

[Gambas:Video 20detik]

(kil/rrd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Tembus Rp 1,25 M Usai Donald Trump Menang Pilpres AS


Jakarta

Harga Bitcoin menyentuh level US$ 80.000 atau Rp 1,25 miliar (kurs Rp 15.619) untuk pertama kalinya setelah Donald Trump mengalahkan Kamala Harris dalam pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS).

Harga Bitcoin melonjak ke rekor tertinggi karena dukungan Donald Trump terhadap aset digital dan kemungkinan adanya anggota parlemen pro-kripto di Kongres.

“Trump telah berjanji untuk menjadikan Amerika sebagai ‘ibu kota kripto dunia’ dan timnya dipenuhi dengan pendukung kripto yang kuat. Sifat pro-kripto dari tim, keluarga dan donaturnya meningkatkan kemungkinan Trump menepati janji kampanyenya kepada industri,” kata Kepala Penelitian di Galaxy Digital, Alex Thorn dikutip dari CNBC, Senin (11/11/2024).


Mata uang Kripto tersebut terakhir kali naik 4,5% menjadi US$ 79.800,19 menurut Coin Metrics. Token yang lebih kecil seperti Cardano dan Dogecoin juga naik masing-masing 40% dan 17%.

Donald Trump telah membuat pernyataan besar tentang Bitcoin, seperti mempertimbangkan gagasan cadangan Bitcoin nasional yang strategis dan berbicara tentang perlunya menjaga semua Bitcoin yang ditambang di AS.

Hal itu membuat Ether dan mata uang kripto lainnya akan memperoleh lebih banyak keuntungan. Sejauh ini Bitcoin dan Ether masing-masing telah naik 18% dan 32% sejak hari pemilihan pilpres AS, di mana Coinbase naik 48% minggu lalu.

“Dalam lingkungan ini, selama dua tahun ke depan kami perkirakan Bitcoin dan aset digital lainnya akan diperdagangkan jauh lebih tinggi dari rekor tertinggi saat ini,” ucap Thorn.

Lihat juga Video: Donald Trump Menangi Pilpres AS 2024!

[Gambas:Video 20detik]

(aid/ara)



Sumber : finance.detik.com