Tag: bsd

  • Jenis-Jenis Pipa di Rumah dan Cara Pilih yang Tepat


    Jakarta

    Sistem perpipaan di rumah meski tak terlihat memiliki peran penting untuk kehidupan penghuni. Mulai dari sistem air, pembuangan, hingga kabel listrik akan memerlukan pipa.

    Nggak sembarangan, setiap jenis pipa memiliki karakteristik dan fungsi tersendiri. Lalu, kualitas pipa juga perlu diperhatikan agar berfungsi dengan baik.

    Quality Control dari Lesso, Rokan yang ditemui detikProperti pada pameran IndoBuildTech Expo 2024 di ICE BSD CITY membagikan tips memilih pipa yang berkualitas berdasarkan jenis dan fungsinya. Simak penjelasannya berikut ini.


    “Secara umum, pipa yang dibutuhkan untuk perumahan dibagi menjadi tiga, satu pipa PVC AW sama D, dua pipa PP-R, tiga pipa conduit,” ujar Rokan saat ditemui di IndoBuildTech Expo 2024, beberapa waktu lalu.

    Cara Pilih Pipa Berkualitas

    Jenis-Jenis pipaPipa PVC AW dan PVC D Foto: Danica Adhitiawarman

    Pipa PVC AW

    Pipa yang terbuat dari polyvinyl chloride ini berfungsi untuk mengalirkan air bersih seperti ke wastafel dapur dan shower kamar mandi. Salah satu ciri pipa ini memiliki garis berwarna biru.

    “AW ini harus kuat karena dia harus mampu menahan tekanan dan juga anti korosi,” katanya.

    Selain itu, kemurnian bahan PVC pada pipa juga mempengaruhi kekuatan pipa. Semakin tinggi kadar PVC, maka akan pipa akan lebih kuat.

    “PVC kalau dikurangi dia akan rapuh,” imbuhnya.

    Rokan menyarankan untuk memilih pipa dengan tekanan setidaknya 10 bar. Angka tersebut sudah cukup bagus dan aman mengalirkan air.

    Pipa PVC D

    Sedangkan pipa ini berfungsi untuk drainase atau saluran pembuangan air kotor. Berbeda dari pipa PVC AW, garis di pipa ini berwarna merah.

    Meski tidak memiliki spesifikasi khusus, Rokan menyarankan untuk memilih pipa yang bisa menahan tekanan yang tinggi.

    “Kami merekomendasikan untuk (pipa dengan daya tekanan) 15 bar,” tuturnya.

    Pipa PP-R

    Pipa berwarna hijau ini terbuat dari bahan polypropylene random. Gunanya untuk mengalirkan air panas dan air dingin di kamar mandi.

    Rokan menyebutkan pipa dengan garis berwarna biru mengalirkan air dingin, warna merah air panas, dan warna kuning untuk kedua tipe suhu air.

    Ia menyarankan memilih pipa PP-R yang kuat dan mampu bertahan lama. Bahkan, daya tahan pipa ini bisa sampai 50 tahun.

    Jenis-Jenis pipaPipa Conduit dan PP-R Foto: Danica Adhitiawarman

    Pipa Conduit

    Pipa conduit berfungsi untuk menyimpan aliran kabel listrik di dalam tembok rumah misalnya kabel lampu. Pipa satu ini bisa elastis, sehingga dapat ditekuk untuk menyesuaikan aliran kabel.

    “Keistimewaannya dia bisa ditekuk jadi tidak pecah,” katanya.

    Saat membeli pipa conduit, sebaiknya memilih yang elastis dan tahan api.

    “Conduit ada spesifikasinya harus bisa ditekuk karena kan tidak mungkin rumah kabelnya lurus terus. Kedua ini harus tahan api karena kalau dia korslet apinya akan menyebar ke mana-mana,” pungkasnya.

    (abr/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Konon Toren Air Warna Terang Lebih Cepat Lumutan, Ini Kata yang Bikin



    Jakarta

    Ada anggapan bahwa warna toren yang cerah dapat membuat pertumbuhan lumut lebih cepat daripada yang berwarna gelap. Hal ini dikarenakan warna yang cerah dapat ditembus oleh cahaya matahari, sementara toren warna gelap tidak.

    Namun, saat ini banyak sekali terlihat rumah-rumah warga yang justru memakai toren air warna oranye cerah. Lantas, anggapan itu benar nggak ya?

    Menurut Marketing Communication Supervisor PT Penguin Indonesia Mega anggapan tersebut kurang tepat. Warna bukan penyebab utama pertumbuhan lumut di dalam toren air. Penyebab utama munculnya lumut di dalam toren adalah faktor ketebalan pada dinding toren air.


    “Warnanya kedap cahaya, itu dijamin nggak akan lumutan. Yang penting pokoknya nggak ada sinar matahari yang masuk ke dalam tangki. Jadi yang penting itu dindingnya kedap cahaya,” kata Mega saat ditemui di Indonesia Building Technology (IndoBuildTech) Expo 2025, ICE BSD City, pada Jumat (4/7/2025).

    Ia menjelaskan produk toren saat ini, terutama milik Pinguin sudah dilengkapi dengan 4 lapisan sehingga cahaya matahari tidak akan masuk ke dalam toren.

    Cara untuk mengetes ada kebocoran cahaya ke dalam toren adalah dengan memasukkan kamera ke dalam toren. Kemudian, tutup rapat-rapat beberapa saat. Cek hasil rekaman, apakah ada cahaya yang terekam atau justru gelap gulita setelah toren ditutup. Apabila gelap, berarti toren tersebut sudah kedap cahaya dan pemiliknya tidak perlu khawatir akan pertumbuhan lumut.

    “Sekarang kan kayak gini, misalnya warnanya cerah-cerah. Tapi nggak akan masuk cahaya karena sebenarnya itu cerah bagian depannya doang. Jadi memang kita udah rancang supaya cahaya nggak tembus. Terus supaya dia kuat selama bertahun-tahun, berpuluh puluh tahun,” jelasnya.

    Mega mengungkapkan saat ini warna toren air pun sudah beragam, tidak terbatas pada oranye cerah dan biru tua. Untuk mengikuti pasar, warna yang hadir justru warna-warna pastel dan earth tone. Konsumen juga tidak perlu khawatir karena warna tersebut tidak akan memicu pertumbuhan lumut.

    Mengenai banyaknya pemakaian toren warna oranye dan biru tua daripada warna-warna lainnya, Mega mengatakan dua warna tersebut merupakan warna yang paling banyak diambil oleh supplier seperti toko bahan bangunan. Selain itu, warna oranye dan biru tua merupakan warna-warna awal yang telah ada sejak produk toren air rilis.

    “Karena memang kalau di distributor toko, kan kita ada distribusi ke toko-toko. Biasanya mereka ambil warnanya yang oranye sama biru tua. Biasanya mereka nyetok torenya yang 2 warna ini,” ungkapnya.

    Kemudian, faktor lain yang membuat toren air cepat berlumut adalah kondisi air di rumah tersebut. Jadi bukan hanya karena cahaya matahari yang menembus ke dalam toren air, melainkan kualitas air rumah tersebut.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Segini Tinggi Ideal Pasang Toren di Atas Rumah



    Jakarta

    Toren air adalah tabung khusus untuk menampung air yang akan digunakan untuk keperluan sehari-hari keluarga. Jika diperhatikan, ada toren air yang diletakkan di atas rumah, ada pula yang sejajar dengan tanah.

    Banyak yang mengatakan toren diletakkan di atas rumah lebih baik untuk memudahkan air turun karena tekanan air mengikuti gravitasi. Marketing Communication Supervisor PT Penguin Indonesia Mega membenarkan hal tersebut. Dengan posisi toren air di atas, air tetap bisa mengalir meskipun tidak ada pompa pendorong. Rumah dalam keadaan dialiri listrik ataupun tidak, air tetap bisa keluar lewat keran-keran di rumah.

    “Sebenarnya lebih ke tekanan air sih. Jadi kalau misalnya pengen aliran airnya kencang, deras (toren harus di atas). Kadang ada orang yang pengen nggak usah pakai pompa deh, biar kalau mati lampu, airnya tetap bisa ngalir,” kata Mega saat ditemui di Indonesia Building Technology (IndoBuildTech) Expo 2025, ICE BSD City, pada Jumat (4/7/2025).


    Mega mengatakan ketinggian toren maksimal untuk di rumah-rumah adalah 7 meter dari lokasi keran paling bawah. Sementara jarak minimalnya adalah 3 meter. Jarak ini memudahkan air turun, meski tidak dibantu pompa pendorong.

    “Jadi kalau misalnya pengen aliran airnya kencang, deras, itu memang ada ketentuannya 7 meter dari titik keran. Dia (toren) harus 7 meter itu (terutama) kalau pakai shower. Kalau dia pakai keran biasa, itu 3 meter cukup,” sebutnya.

    Namun, toren juga tidak masalah jika ingin diletakkan sejajar dengan tanah. Namun, perlu dibantu dengan pompa pendorong.

    “Jadi misalnya kalau udah pakai pompa pendorong, berarti mau ditaruh di ketinggian berapapun, dia akan tetap bisa alir ke dalam rumah,” ungkapnya.

    Kemudian, toren juga sekarang ada yang memiliki bukaan di bagian bawah sehingga perlu memakai kaki penyangga dan tidak langsung bersentuhan dengan permukaan atap rumah atau tanah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Waktu yang Tepat Kuras Toren Biar Nggak Berlumut



    Jakarta

    Toren air harus dibersihkan secara berkala. Sebab, toren air mudah sekali berlumut, muncul endapan pasir, hingga kapur. Kotoran-kotoran tersebut dapat mempengaruhi kualitas air dan menyumbat pipa.

    Marketing Communication Supervisor PT Penguin Indonesia Mega menyarankan untuk secara teratur membersihkan toren air, sekitar 6 bulan sekali.

    “Kalau kita anjurannya 3 sampai 6 bulan sekali. Tapi balik lagi tergantung kualitas air. Kan ada yang pakai air tanah, terus misalnya banyak andapan pasir. Nah itu mungkin bisa lagi sering dikuras supaya nggak ada kotoran,” kata Mega saat ditemui di Indonesia Building Technology (IndoBuildTech) Expo 2025, ICE BSD City, pada Jumat (4/7/2025).


    Apabila kualitas air kurang bagus seperti warnanya kekuningan, banyak sendimen di dalamnya, atau bahkan berlumpur, disarankan untuk menguras toren sebulan sekali. Selain itu, untuk kualitas airnya yang kurang bagus, bisa menambahkan filter di tempat air masuk ke toren.

    “Kita sarankan lagi pakai filter air. Jadi setelah toren dipasang, nanti pasang filter air buat nyaring sedimen,” terangnya.

    Kemudian, untuk cara mengurasnya sebenarnya sama seperti membersihkan wadah biasa sehingga bisa dilakukan sendiri. Sebab, beberapa toren air saat ini sudah dilengkapi pipa pembuangan di bawah toren sehingga mudah untuk membuang air tanpa harus memindahkan letak toren tersebut.

    Untuk mencegah pertumbuhan lumut berlebih, Mega menyarankan untuk mencari jenis toren yang memang kedap cahaya. Sebab, cahaya juga bisa memicu munculnya jamur di dalam toren. Ia juga menegaskan jika warna bukan alasan toren bisa berlumut, melainkan ketebalan dindingnya. Semakin tebal dinding toren, maka cahaya juga akan sulit untuk masuk.

    “Warnanya kedap cahaya, itu dijamin nggak akan lumutan. Yang penting pokoknya nggak ada sinar matahari yang masuk ke dalam tangki. Jadi yang penting itu dindingnya kedap cahaya,” ujarnya.

    Cara untuk mengetes ada kebocoran cahaya di dalam toren adalah dengan memasukkan kamera ke dalam toren. Kemudian, tutup rapat-rapat beberapa saat. Cek hasil rekaman, apakah ada ada cahaya yang terekam atau justru gelap gulita setelah toren ditutup. Apabila gelap, berarti toren tersebut sudah kedap cahaya dan pemiliknya tidak perlu khawatir pertumbuhan lumut.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Masih Banyak yang Salah Gunakan Pipa, PVC Bukan untuk Air Panas!



    Jakarta

    Masalah salah pilih jenis pipa ternyata masih sering terjadi di masyarakat. Banyak yang menggunakan satu jenis pipa untuk semua kebutuhan, padahal setiap jenis pipa punya fungsi yang berbeda.

    Salah satu kesalahan paling umum adalah penggunaan pipa PVC untuk air panas, padahal pipa tersebut tidak dirancang untuk tahan suhu tinggi. Hal ini menjadi perhatian serius dari produsen sistem perpipaan Rucika dalam ajang IndoBuildTech 2025 yang digelar di ICE BSD, Tangerang.

    “Masih banyak masyarakat yang belum paham fungsi masing-masing pipa. Misalnya, PVC digunakan untuk air panas, padahal itu berisiko karena tidak tahan suhu tinggi,” ujar Reynard Natamihardja, Corp. Brand Management & Activation Dept. Head Rucika, dalam keterangannya Senin (7/7/2025).


    Rucika menyebut, edukasi soal pemilihan pipa yang tepat masih menjadi PR besar dalam industri konstruksi dan properti. Sebab, kesalahan memilih pipa bisa berdampak pada kebocoran, kerusakan sistem air, hingga biaya perbaikan yang membengkak.

    Untuk menjawab tantangan itu, Rucika tak hanya pamer produk, tapi juga menyelenggarakan sejumlah sesi edukatif di booth mereka selama pameran. Mulai dari talkshow bersama arsitek Atelier Riri, hingga diskusi santai dengan para content creator.

    Di IndoBuildTech 2025, Rucika juga memperkenalkan sejumlah produk terbaru yang dirancang khusus sesuai kebutuhan proyek modern. Salah satunya adalah Rucika Kelox PE-RT Multilayer, sistem pipa untuk air panas dan dingin bertekanan yang dikembangkan bersama Ke Kelit dari Austria.

    “Pipa ini sudah menggunakan teknologi PUSH FIT, sistem sambungan tanpa las atau lem yang lebih cepat dan efisien saat pemasangan,” jelas Reynard.

    Selain itu, ada juga Fosetpol, tiang keran berdesain estetis hasil kerja sama dengan Maezawa dari Jepang. Fosetpol cocok digunakan di area luar rumah seperti taman atau carport, dan diklaim tahan cuaca hingga 30 tahun.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Cat Dinding Gelembung Saat Musim Hujan? Begini Cara Cegah dan Atasinya



    Jakarta

    Memasuki musim hujan, salah satu bagian rumah yang harus diperhatikan adalah kondisi cat dinding. Meningkatnya intensitas hujan dapat menyebabkan rumah lebih lembap yang dapat menyebabkan muncul gelembung pada cat dinding.

    Cat menggelembung ini ada yang berukuran kecil dan besar tergantung pada isinya. Setiap gelembung biasanya berisi udara atau air. Gelembung ini bisa dipecahkan, tetapi bisa merusak cat dinding.

    Menurut Ketua Tim Bekasi PT ICI Paints Indonesia (Dulux) Rahman Wijaya penyebab utama cat dinding menggelembung adalah adanya penggumpalan garam alkali. Pengkristalan atau pengumpulan garam alkali (efflorescence) adalah munculnya bubuk kapur putih pada permukaan dinding beton atau bata. Bubuk kapur ini merupakan kumpulan kapur dari semen, bata, hingga mortar.


    Masalah ini harus diatasi sebelum dinding dicat karena tidak ada cara memperbaiki penggumpalan garam alkali pada cat yang sudah menempel pada dinding.

    Cara mencegah terjadi penggumpalan garam alkali adalah dengan memakai cat dasar yang mengandung anti garam alkali. Setelah itu baru bisa memakai cat dinding bagian atas atau disebut pula dengan top coat.

    “Makanya pangkal penyakitnya itu mesti kita perbaiki dulu. Dari cat dasarnya dari awal, dari temboknya bisa kalau misalkan tembok lama sih. Itu ada namanya alkali killer ya itu berbahan solvent. Itu bisa benar-benar menahan. Itu cat dasar juga cuma untuk tembok atau pengecatan ulang ya (pemakaiannya),” kata Rahman saat ditemui detikcom di Indonesia Building Technology (IndoBuildTech) Expo 2025, ICE BSD City, pada Jumat (4/7/2025) lalu.

    Sementara itu, untuk memperbaiki cat dinding yang sudah terlanjur menggelembung adalah dengan melakukan pengecatan ulang. Namun, Rahman tidak menyarankan dengan cara ditimpa. Sebelum dicat ulang, cat-cat lama harus dibersihkan dengan cara dikeruk menggunakan alat bernama kape.

    “Dikeruk aja semuanya, jangan langsung ditimpa ya karena semahal apa pun cat misalkan langsung ditimpa, kita kan nggak tahu daya lekat antara cat lamanya dengan yang sekarang,” ungkap Rahman.

    Setelah tidak ada cat yang menempel, pastikan dinding tidak lembap. Setelah itu baru bisa mulai dicat dengan cat dasar. Pastikan cat tersebut sudah dilengkapi dengan komposisi anti garam alkali. Setelah cat dasar kering, lapisi lagi dinding dengan cat luar atau top coat sebanyak 2 lapis agar warnanya terlihat dan rata.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Ngecat Dinding Saat Hujan Berapa Lama Keringnya? Ini Kata Produsen



    Jakarta

    Ketika mengecat dinding yang harus dipastikan adalah setiap lapisan yang telah menempel di dinding benar-benar kering. Namun, jika mengecat saat hujan, kira-kira hasilnya akan lembap atau tetap bisa kering ya?

    Menurut Ketua Tim Bekasi PT ICI Paints Indonesia (Dulux) Rahman Wijaya tidak ada masalah mengecat ketika hujan atau di tengah musim hujan yang lembap. Cat tetap bisa kering.

    “Nggak harus, nggak harus panas yang penting tahu antara pengeringan awalnya dengan lamanya maksimal 2 jam bisa harusnya top coat (pengecatan bagian atas),” kata Rahman saat ditemui detikcom di Indonesia Building Technology (IndoBuildTech) Expo 2025, ICE BSD City, pada Jumat (4/7/2025) lalu.


    Rahman mengatakan idealnya satu lapisan cat dapat kering dalam 1-2 jam. Apabila udara tengah lembap minimal 2 jam untuk kering.

    Hasil akhir cat bukan hanya dipengaruhi pada suhu udara di sekitarnya, melainkan kualitas cat yang digunakan dan teknik pengecatannya.

    Salah satu cara agar kualitas cat tetap bagus dan tahan lama meskipun dicat saat hujan adalah dengan memakai cat dasar. Hal ini merupakan senjata utama saat mengecat dinding. Rahman menjelaskan cat dasar atau cat primer merupakan jenis cat yang berbeda dengan bagian luar yang biasa terlihat pada dinding. Bagian yang terlihat paling atas pada dinding merupakan top coat.

    Cat dasar merupakan fondasi utama untuk melindungi bagian atas atau permukaan tetap terlihat bagus dan tidak gampang rusak.

    “Yang kedua itu (cat dasar) dia untuk menahan garam alkali. Kenapa? bidang tembok itu kan semen acian. Acian itu kan dari semen dan mengandung panas, biasanya sehari dua hari akan timbul garam alkali. Gunanya cat dasar itu untuk menahan garam alkali keluar ke top coat-nya. Jadi hasil top coat-nya bisa jadi maksimal,” jelas Rahman.

    Cat dasar biasanya berwarna putih. Rahman menjelaskan untuk produk Duluxe terdapat 2 warna cat dasar bagian dalam atau interior berwarna putih dan bagian luar atau exterior berwarna cat dasarnya berwarna abu-abu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Dinding Berjamur dan Lembap Jangan Asal Dicat Ulang, Begini Solusinya



    Jakarta

    Memasuki musim hujan masalah yang kerap ditemui di rumah adalah dinding lembap. Tandanya adalah muncul noda-noda putih hingga hitam di beberapa area. Selain itu, jika dipegang, dinding akan terasa seperti berkapur.

    Apabila sudah seperti ini, apa solusinya dengan pengecatan ulang?

    Ketua Tim Bekasi PT ICI Paints Indonesia (Dulux) Rahman Wijaya menjelaskan dinding yang sudah berjamur karena lembap atau bocor memang harus dicat ulang. Namun, pengecatan ulang bukan cara untuk mengatasi jamur tersebut.


    Pemilik rumah harus mengatasi kebocoran atau celah-celah di mana udara dan air masuk ke dinding. Mengutip BBC, salah satu penyebab dinding berjamur adalah terjadinya kondensasi atau pengembunan. Hal ini merupakan fenomena alami terjadi. Biasanya disebabkan adanya perbedaan suhu pada dinding dengan lingkungan sekitarnya. Namun, risikonya memang tidak baik untuk tampilan ruangan dan kesehatan penghuninya.

    “Kita perbaikin dulu, kenapa dia berjamur temboknya ya kalau dia berjamur, ya mau nggak mau, kalau mau hasilnya maksimal, harus dikerok dulu,” kata Rahman saat ditemui detikcom di Indonesia Building Technology (IndoBuildTech) Expo 2025, ICE BSD City, pada Jumat (4/7/2025).

    Setelah cat lama dihapus atau dibersihkan hingga hanya tersisa dinding acian, ambil cairan khusus untuk mencegah jamur tumbuh di dinding. Lalu, pakai cat dasar yang mengandung alkali killer atau pencegah pertumbuhan garam alkali. Tunggu selama 1-2 jam hingga mengering.

    Apabila sudah kering, bisa pasang top coat sebanyak 2 lapis. Setiap lapisan harus ditunggu selama 1-2 jam hingga mengering.

    Rahman mengatakan dinding yang rentan muncul jamur berada di tempat yang lembap seperti kamar mandi. Bisa juga di rumah tua, dapur, dan sekitar jendela rumah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Toren Berlumut Bukan Karena Warnanya Cerah, Begini Faktanya



    Jakarta

    Jika diperhatikan warna toren yang paling banyak dipakai di rumah-rumah antara oranye dan biru tua. Namun saat ini lebih banyak orang memakai warna biru tua atau gelap karena beranggapan warna cerah dapat memicu pertumbuhan lumut di dalam.

    Warna cerah dinilai lebih mudah ditembus matahari. Cahaya yang tembus ke dalam toren dapat memicu pertumbuhan fotosintetik lumut. Lantas, apakah anggapan itu benar nggak ya?

    Menurut Marketing Communication Supervisor PT Penguin Indonesia Mega anggapan tersebut tidak benar. Penyebab toren cepat berlumut bukan karena warna yang dipakai, melainkan ketebalan dindingnya. Dinding yang tipis dan transparan membuat cahaya tembus ke dalam. Apabila material dinding yang dipakai tebal dan tidak tembus cahaya, warna cerah atau gelap akan aman dari lumut.


    “Warnanya kedap cahaya, itu dijamin nggak akan lumutan. Yang penting pokoknya nggak ada sinar matahari yang masuk ke dalam tangki. Jadi yang penting itu dindingnya kedap cahaya,” kata Mega saat ditemui di Indonesia Building Technology (IndoBuildTech) Expo 2025, ICE BSD City, pada Jumat (4/7/2025).

    Ia menjelaskan produk toren saat ini, terutama milik Pinguin sudah dilengkapi dengan 4 lapisan sehingga cahaya matahari tidak akan masuk ke dalam toren.

    Cara untuk mengetahui dinding toren tebal adalah dengan meletakkan ponsel ke dalam toren yang kering dengan fitur video aktif. Setelah itu, tutup rapat. Ambil ponsel tersebut semenit kemudian untuk melihat hasil rekaman ada kebocoran cahaya atau tidak. Apabila hasil rekamannya gelap tidak ada cahaya yang masuk setelah toren ditutup, berarti toren tersebut tidak mudah ditumbuhi lumut.

    “Sekarang kan kayak gini, misalnya warnanya cerah-cerah. Tapi nggak akan masuk cahaya karena sebenarnya itu cerah bagian depannya doang. Jadi memang kita udah rancang supaya cahaya nggak tembus. Terus supaya dia kuat selama bertahun-tahun, berpuluh puluh tahun,” jelasnya.

    Selain karena ketebalan toren, faktor lain yang membuat toren air cepat berlumut adalah kondisi air di rumah tersebut. Jadi bukan hanya karena cahaya matahari yang menembus ke dalam toren air, melainkan kualitas air rumah tersebut.

    Mega mengungkapkan saat ini warna toren air pun sudah beragam, tidak terbatas pada oranye cerah dan biru tua. Untuk mengikuti pasar, warna yang hadir justru warna-warna pastel dan earth tone. Konsumen juga tidak perlu khawatir karena warna tersebut tidak akan memicu pertumbuhan lumut.

    Mengenai banyaknya pemakaian toren warna oranye dan biru tua daripada warna-warna lainnya, Mega mengatakan dua warna tersebut merupakan warna yang paling banyak diambil oleh supplier seperti toko bahan bangunan. Selain itu, warna oranye dan biru tua merupakan warna-warna awal yang telah ada sejak produk toren air rilis.

    “Karena memang kalau di distributor toko, kan kita ada distribusi ke toko-toko. Biasanya mereka ambil warnanya yang oranye sama biru tua. Biasanya mereka nyetok torenya yang 2 warna ini,” ungkapnya.

    Itulah penjelasan mengenai penyebab toren banyak lumut yang ternyata bukan karena warnanya.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com