Tag Archives: btc

Harga Bitcoin Makin Anjlok, Ini Biang Keroknya


Jakarta

Pasar aset kripto kembali melemah setelah harga bitcoin (BTC) dan ether turun tajam sepanjang perdagangan Senin (1/12) kemarin. Penurunan nilai dua aset kripto paling berharga diakibatkan gelombang aksi jual dari para investor, turut memicu pelemahan harga aset-aset kripto lainnya.

Melansir CNBC, Selasa (2/12/2025), hingga pukul 16:19 ET (23.00 WIB) Senin kemarin harga bitcoin berada di level US$ 85.894,03, atau turun 6%. Sementara aset kripto ether juga tercatat turun hingga 8,4% dan berada di level US$ 2.776,39.

Selain itu, ada juga aset kripto Solana yang jatuh lebih dari 9%, dan terakhir terlihat di bawah US$ 125. Sementara untuk aset kripto lainnya banyak yang berada di zona merah selama perdagangan kemarin.


Pendiri dan CIO Fedwatch Advisors, Ben Emons, mengatakan pasar kripto saat ini memang masih dalam kondisi rapuh usai aksi jual besar-besaran yang berlangsung selama beberapa pekan sejak awal Oktober kemarin.

Menurutnya keraguan pasar ini menjadi penting mengingat banyak investor kripto yang menggunakan leverage alias berutang untuk membeli aset investasi. Membuat mereka sangat rentan terhadap aksi jual besar-besaran, karena secara langsung akan menjatuhkan harga.

“Masih banyak leverage dalam Bitcoin di luar sana. Kita bisa memperkirakan akan ada lebih banyak likuidasi seperti ini jika harga bitcoin tidak turun dari titik terendahnya,” kata Emons.

“Itu adalah sesuatu yang perlu diperhitungkan ke depan, karena semakin banyak leverage yang digunakan di bidang ini” sambungnya.

Lebih lanjut, kekhawatiran ekonomi makro, termasuk ketidakpastian atas kemungkinan pemangkasan suku bunga AS, terus membebani pikiran investor. Alhasil mereka akan beralih ke investasi yang lebih aman, menjadikan nilai aset kripto semakin lemah imbas penurunan minat.

Simak juga Video: BNN Ungkap Sulitnya Lacak Transaksi Narkoba Lewat Bitcoin-Kripto

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Mulai Bangkit, Ini Pemicunya


Jakarta

Harga bitcoin (BTC) kembali naik dan menembus level US$ 92.000 pada Selasa malam hingga Rabu pagi waktu Indonesia. Hal ini didorong penguatan minat institusi keuangan global terhadap aset digital, serta pemulihan sentimen pasar setelah penurunan tajam akhir pekan lalu.

Lonjakan harga bitcoin ini tejadi setelah sebelumnya mengalami tekanan pasar yang memicu likuidasi lebih dari US$ 250 juta pada pekan lalu. Beberapa keputusan strategis dari institusi besar menjadi katalis penting dalam penguatan harga bitcoin kali ini.

“Penerimaan institusi besar menjadi faktor utama dalam kenaikan bitcoin. Langkah Goldman Sachs, Vanguard, hingga Bank of America membuka akses lebih luas terhadap produk berbasis bitcoin telah meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset kripto,” kata Vice President Indodax Antony Kusuma, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (4/12/2025).


Adapun keputusan strategis yang dimaksud antara lain kabar Goldman Sachs akan mengakuisisi Innovator Capital Management dalam kesepakatan senilai sekitar US$ 2 miliar. Innovator menerbitkan ETF yang memungkinkan investor tradisional mendapatkan akses bitcoin melalui instrumen yang terkelola dan sesuai aturan pasar. Akuisisi ini memperkuat posisi Goldman dalam ekosistem ETF, khususnya ketika permintaan produk terkait bitcoin terus meningkat.

Di saat yang sama, Vanguard yang selama bertahun-tahun menolak aset digital, resmi membuka akses perdagangan ETF Bitcoin di platformnya. Keputusan ini memberi puluhan juta klien mereka berkesempatan untuk mendapatkan eksposur terhadap bitcoin melalui instrumen yang diatur.

Langkah ini menyusul perubahan kebijakan Bank of America yang mulai memperbolehkan 15.000 penasihat keuangannya memberikan rekomendasi alokasi bitcoin sebesar 1-4% kepada nasabah mereka.

Di samping itu, Antony menambahkan, pemulihan harga bitcoin kali ini juga dipengaruhi oleh dinamika pasar jangka pendek. Setelah terkoreksi ke area US$ 83.800-84.000 dan memicu likuidasi besar, pasar langsung menunjukkan minat beli yang kuat.

“Volume perdagangan global meningkat signifikan dalam 24 jam. Rebound ini menunjukkan respons cepat pasar terhadap level support yang cukup kuat,” jelasnya.

Sentimen makro turut memberi warna pada pergerakan harga. Berakhirnya program Quantitative Tightening (QT) pada Senin (1/12) oleh Federal Reserve (The Fed) juga menjadi salah satu katalis utama yang memperkuat likuiditas pasar.

The Fed menutup QT dengan menyuntikkan sekitar US$ 13,5 miliar melalui operasi repo harian, salah satu injeksi likuiditas terbesar sejak masa pandemi. Peningkatan likuiditas ini biasanya mendukung aset berisiko, termasuk kripto, karena tekanan kebijakan moneter mulai mereda.

Di samping itu, saat ini pasar global tengah menanti keputusan The Fed pada pertemuan 9-10 Desember 2025 terkait kebijakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar secara historis menjadi pendorong utama minat terhadap aset berisiko termasuk bitcoin.

Meskipun volatilitas masih tinggi, Antony mengatakan, perkembangan terbaru menunjukkan adopsi institusional yang semakin kuat. Langkah institusi besar masuk ke aset digital memberikan sinyal positif mengenai penerimaan jangka panjang terhadap bitcoin.

“Namun investor kripto tetap perlu berhati-hati, tidak FOMO, serta menggunakan strategi investasi jangka panjang seperti dollar-cost averaging (DCA) dan manajemen risiko yang disiplin,” kata Antony.

Simak Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Lompat ke Rp 1,5 M Usai AS Serang Venezuela


Jakarta

Harga bitcoin (BTC) menguat sejak konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memanas pada Sabtu (3/1/2026). Saat ini harga BTC sendiri ada di level US$ 92.328 atau sekitar Rp 1,5 miliar (asumsi kurs Rp 16.750).

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, harga BTC menguat di 24 jam terakhir sebesar 0,8%. Kemudian sepanjang perdagangan sepekan terakhir, harga BTC bergerak menguat hingga 2,63%.

Founder dan CEO TRIV Gabriel Rey, menyebut kenaikan harga BTC di tengah memanasnya konflik AS-Venezuela merupakan hal yang wajar. Pasalnya, hal serupa juga terjadi kala memanasnya perang Iran-Israel beberapa bulan lalu.


“Kenaikan ini selalu terjadi ketika terjadi perang, mereka (investor) mencari aset yang dianggap aman untuk parkir uangnya. Ini sudah kejadian juga ketika kemarin Iran berperang dengan Israel, harga bitcoin naik juga,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Senin (5/1/2026).

Secara historis, terang Gabriel, masyarakat Venezuela juga cenderung mengalihkan asetnya ke BTC di tengah terkoreksinya mata uang lokal. Menurutnya, kondisi mencerminkan kepercayaan publik terhadap BTC. Ia bahkan menyebut, harga BTC masih dapat naik hingga US$ 95.000.

“Ketika terjadi devaluasi mata uang yang besar maka parkirnya kalau nggak ke emas, ya ke bitcoin untuk saat ini. Saya rasa untuk kita di atas US$ 90.000 sangat possible apalagi kita sempat turun US$ 80.000 dan cukup lama ranking di sini dan naik lagi ke US$ 90.000. Menurut saya kita akan sideways di sini antara US$ 90.000 sampai US$ 95.000 sampai terjadinya redcard oleh the Fed,” imbuhnya.

Dihubungi terpisah, Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, mengatakan pergerakan positif harga BTC terjadi karena kembalinya optimisme pelaku pasar kripto. Hal ini terjadi karena siklus empat tahunan BTC yang berhasil dipatahkan pelaku pasar.

“Saat ini kelihatannya memang muncul kembali optimisme dari para pelaku pasar, yang mana ada banyak perkiraan bahwa siklus empat tahunan bitcoin telah patah. Sehingga, muncul optimisme akan adanya potensi perpanjangan tren naik,” ungkap Christopher.

Meski begitu, Christopher mengingatkan adanya ruang pelemahan harga BTC dalam waktu dekat. Pelemahan ini terjadi akibat dorongan aksi ambil untung di tengah meningkatnya harga BTC.

“Menurut saya, tren secara sepenuhnya belum patah, sehingga masih ada peluang terjadi pelemahan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Terlebih lagi apabila pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga ini untuk mengambil untung ataupun minimal meminimalisasi kerugian yang sudah mereka tahan untuk beberapa waktu ini,” pungkasnya.

Tonton juga video “Presiden Kuba Sebut 32 Rakyatnya Tewas Saat Maduro Ditangkap AS”

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Saldo Simpanan Tokocrypto Tembus Rp 5,8 T, Terbanyak dari Bitcoin


Jakarta

Bursa perdagangan aset kripto Indonesia, Tokocrypto mencatat Bukti Cadangan/Saldo Simpanan (Proof of Reserves/PoR) mencapai US$ 345.379.785 atau Rp 5,8 triliun (kurs Rp 16.869) per 1 Januari 2026. Angka tersebut tumbuh hampir dua kali lipat dibanding periode awal peluncuran pada tahun 2023 silam.

Aset utama dalam PoR berasal dari token berkapitalisasi besar yang mapan secara global, termasuk yang paling aktif diperdagangkan. Token-token tersebut di antaranya, Bitcoin (BTC) sebesar 1.246,79999263 BTC, Ethereum (ETH) 10.005,61888101 ETH, BNB sebesar 12.272,89562512 BNB, dan Tether (USDT) sebesar 75.520.184,47678899 USDT.

“Pertumbuhan nilai aset pengguna dalam PoR hingga sekitar US$ 345 juta per 1 Januari 2026 menunjukkan minat investasi kripto pengguna yang tetap tinggi. Kami melihat potensi pertumbuhan ini masih bisa berlanjut seiring meningkatnya partisipasi investor dan semakin matangnya ekosistem aset kripto di Indonesia,” ungkap CEO Tokocrypto, Calvin Kizana dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (13/1/2026).


Calvin menjelaskan, transparansi menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan pengguna, terutama di tengah dinamika industri kripto yang terus berkembang. Tokocrypto sendiri mengadopsi teknologi Merkle Tree dan zk-SNARKs (Zero-Knowledge Succinct Non-Interactive Argument of Knowledge) untuk memastikan proses verifikasi yang akurat sekaligus menjaga privasi data pengguna.

Melalui sistem Merkle Tree, setiap pengguna dapat melakukan verifikasi mandiri untuk memastikan saldonya tercatat sebagai bagian dari total kewajiban Tokocrypto. Teknologi zk-SNARKs juga digunakan untuk membuktikan total saldo pengguna yang dihitung setara atau lebih kecil dari total aset cadangan yang dimiliki perusahaan, tanpa membuka informasi sensitif ke publik.

Tokocrypto juga menerapkan sistem keamanan berlapis yang mencakup enkripsi data, proteksi API, serta teknologi deteksi intrusi dan firewall. Sejalan dengan itu, Tokocrypto membukukan nilai transaksi sebesar Rp 150 triliun hingga Desember 2025.

“Kami menerapkan verifikasi berbasis Merkle Tree dan zk-SNARKs untuk memastikan audit cadangan aset lebih akurat sekaligus menjaga privasi. Pengguna juga bisa melakukan self-verification untuk memastikan saldo mereka tercatat dalam perhitungan, dengan prinsip
cakupan aset 1:1,” pungkas Calvin.

Tonton juga video “Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?”

(ahi/ara)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Sempat Tembus US$ 97.000, Ini Pemicunya


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) menguat dan sempat menembus level US$ 97.000 atau sekitar Rp 1,63 miliar (kurs Rp 16.800) pada Kamis (15/1). Apa pemicunya?

Meskipun pada akhirnya BTC terkoreksi tipis ke level US$ 95.000-96.000 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat Desember 2025 yang cenderung sesuai dengan ekspektasi pasar.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), inflasi AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan, sementara inflasi inti (core inflanon rate) tetap terkendali di level 0,2% m/m dan 2,6% yy. Kenaikan inflasi tersebut terutama didorong oleh sektor perumahan (shelter) yang naik 0,4% m/m.


Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai stabilnya inflasi tersebut memberi ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih leluasa setelah periode konsolidasi yang cukup panjang.

“Angka inflasi Desember 2025 masih sejalan dengan ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang alam kondisi seperti ini, investor global biasanya mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026).

Antony menjelaskan, selain faktor makro, penguatan Bitcoin juga terjadi di tengah aksi pembelian oleh institusi besar. Strategy Inc. mengumumkan penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari US$ 1 miliar di awal 2026, yang menjadi pembelian terbesarnya sejak pertengahan 2025.

Langkah tersebut memperkuat posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar dan turut memberi dorongan sentimen pasar, meskipun permintaan ritel global masih cenderung terbatas.

Menurut Antony, konsistensi akumulasi oleh institusi besar memperkuat pandangan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset dengan fundamental yang kuat.

“Institusi tidak masuk karena momentum sesaat Akumulasi yang dilakukan secara berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang masih terjadi,” ujarnya.

(hrp/ara)



Sumber : finance.detik.com

Inflasi AS Jinak Bikin Bitcoin Ngacir Dekati Harga Rp 1,69 Miliar


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) bergerak menguat pada perdagangan sepekan terakhir. Pada Kamis (14/1) kemarin, harga BTC diketahui sempat menembus US$ 96.232 atau sekitar Rp 1,62 miliar (asumsi kurs Rp 16.909). Pergerakan harga BTC ini kuat ditopang sentimen data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dianggap moderat.

Kemudian berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap hari ini, Minggu (18/1), harga BTC tetap menguat sepekan terakhir meski secara harga terkoreksi sebesar 4,88% ke level US$ 95.020 atau sekitar Rp 1,60 miliar pukul 14.57 WIB. Selain BTC, token Ethereum (ETH) juga ikut menguat 6,92 ke level US$ 3.305 atau sekitar Rp 55,88 juta.

Pergerakan harga ini disebut terjadi menyusul pengumuman posisi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Desember, yang menunjukkan inflasi inti lebih terkendali. Capaian ini memperkuat ekspektasi pasar, yang memprediksi langkah The Fed menahan suku bunga dalam waktu dekat.


Adapun CPI AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Sementara untuk inflasi inti AS hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Kondisi ini diyakini berdampak positif bagi aset berisiko seperti kripto.

Sementara dari sisi industri, regulasi aset kripto di AS juga turut mendorong pergerakan harga menyusul draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Digital Asset Market CLARITY Act. Aturan ini memperjelas klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memberikan kewenangan lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar spot kripto.

“Pasar melihat adanya sinyal yang semakin jelas bahwa tekanan kebijakan moneter mulai mereda, sementara regulasi kripto di AS bergerak ke arah yang lebih konstruktif. Kepastian regulasi adalah faktor krusial bagi masuknya modal institusional, dan ini yang saat ini mulai diantisipasi oleh pasar,” ungkap Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (18/1/2026).

Peluang Harga Bitcoin Ngacir ke US$ 100.000

Secara teknikal, terang Fyqieh, BTC telah keluar dari fase konsolidasi sejak akhir 2025. Menurutnya, harga BTC masih berpeluang menguat ke level US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar sepanjang dapat bertahan di atas level support pada US$ 94.000.

Pasalnya, arus dana institusional masih berpeluang menjadi salah satu sentimen positif pergerakan harga BTC ke depan. Saat ini, arus dana institusi di ETF Bitcoin spot AS tercatat lebih dari US$ 750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025.

“Penembusan area US$ 94.000 yang kini menjadi support kuat menunjukkan dominasi pembeli semakin solid. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali area psikologis US$ 100.000 tetap terbuka,” jelas Fyqieh.

Jika BTC mampu menembus dan bertahan stabil di atas US$ 100.000, Fyqieh menilai level psikologis tersebut berpotensi berubah menjadi pijakan baru. Dalam skenario ini, peluang terjadinya percepatan price discovery atau penemuan harga menuju area yang lebih tinggi terbuka lebih lebar.

Namun jika harga BTC cenderung melemah di bawah US$ 100.000, ia menyebut pelaku pasar masuk menyesuaikan diri terhadap peningkatan likuiditas dan aksi ambil untung. Karenanya, ia mengingatkan agar investor bisa lebih peka terhadap volatilitas pasar.

“Karena itu, dalam jangka pendek investor perlu mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi, pergerakan yang sensitif terhadap berita, serta tarik-menarik harga di sekitar US$ 100.000 sampai permintaan benar-benar melampaui tekanan jual atau pasar membutuhkan waktu untuk membangun momentum,” pungkasnya.

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Rencana Trump Caplok Greenland Bikin Harga Bitcoin Melorot!


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis US$ 90.000 atau sekitar Rp 1,52 miliar (kurs Rp 16.900) pada perdagangan Rabu (21/1). Penurunan bitcoin terjadi seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko.

Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$ 87.000 sebelum bergerak fluktuatif. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global.


Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai. Menanggapi kondisi ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.

“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).

Menurut Antony, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.

“Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam seringkali beriringan dengan guncangan makro, terutama ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional.

“Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” sebut Antony.

Meski demikian, Antony menekankan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek.

“Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” tutup Antony.

Antony menekankan bahwa volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

Tonton juga Video: Trump Kumpulkan Juragan Kripto di Gedung Putih, Apa Tujuannya?

(ily/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Ambyar, Tapi Para ‘Pemain Besar’ Malah Borong


Jakarta

Bitcoin (BTC) bergerak di zona merah sepanjang perdagangan sepekan terakhir. Berdasarkan data CoinMarketCap harga BTC tercatat sempat terjun ke level terendahnya pada perdagangan Kamis (22/1) di posisi US$ 87.563,4 atau sekitar Rp 1,4 miliar (asumsi kurs Rp 16.777).

Kemudian hari ini, Sabtu (24/1), harga aset kripto itu kembali naik kendati terkoreksi 5,94% ke harga US$ 89.479,88 atau sekitar Rp 1,5 miliar. Kondisi ini terjadi seiring meredanya tekanan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait Greenland serta penundaan ancaman tarif.

Saat itu, Indeks Fear & Greed kripto juga naik tipis ke level 34 meski berada di area fear. Sejalan dengan hal tersebut, tercatat juga aksi borong BTC yang dilakukan oleh individu beraset besar atau whale dalam jumlah besar, yakni sebanyak 1.000 BTC pada saat koreksi.


Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan pola ini kerap terjadi menjelang fase rebound di tengah aksi jual investor ritel. Menurutnya, akumulasi whale memberikan sinyal kepercayaan terhadap BTC di tengah volatilitas jangka pendek masih tinggi.

“Ketika whale aktif membeli di bawah US$ 90.000, itu biasanya mengindikasikan area tersebut dianggap menarik untuk akumulasi. Namun rebound ini masih perlu konfirmasi lanjutan karena tekanan dari sisi makro dan arus dana institusional belum sepenuhnya mereda,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Dari sisi teknikal, BTC masih menghadapi resistensi jangka pendek di area rata-rata pergerakan sepekan pada level US$ 92.864. Fyqieh menilai, harga BTC kembali menguat jika mampu bertahan dan menembus level tersebut.

Namun penguatan BTC masih dibatasi beberapa faktor, utamanya tekanan arus keluar ETF Bitcoin yang mencapai sekitar US$ 707,3 juta atau sekitar Rp 11,8 triliun pada 21 Januari lalu. Selain itu, hambatan teknikal lebih besar pada pergerakan 200 hari sekitar US$ 105.541 yang masih jauh dari harga saat ini.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah akumulasi whale dan spot exchange outflows sebagai sinyal suplai yang kian ketat. Sementara dari pasar global, sentimen positif datang dari pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang memuji penasihat ekonominya, Kevin Hassett.

Akan tetapi, sentimen ini disebut akan tertahan data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mundur hingga sekitar Juni 2026 meski pelaku pasar memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

“Hal ini dinilai meredakan kekhawatiran pasar karena menutup potensi Hassett menjadi Ketua The Fed. Hassett sebelumnya dipandang sebagai figur yang paling tidak independen dan cenderung dovish, sejalan dengan keinginan Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif,” pungkasnya.

(ahi/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Tertekan Isu Geopolitik, Bursa Kripto RI Dilanda Krisis Kepercayaan


Jakarta

Aset digital kripto bergerak penuh tantangan pada perdagangan sepekan terakhir, baik secara global maupun domestik. Sejumlah token kripto juga masih bergerak di zona merah usai terimbas tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait Greenland.

Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga Bitcoin (BTC) tercatat sempat terjun ke level terendahnya pada perdagangan Kamis (22/1) di posisi US$ 87.563,4 atau sekitar Rp 1,4 miliar (asumsi kurs Rp 16.777). Kemudian pada Sabtu (24/1), harga aset kripto itu kembali naik kendati masih terkoreksi 5,87% ke harga US$ 89.481,87 atau sekitar Rp 1,5 miliar.

Pelemahan harga BTC juga diikuti sejumlah altcoin lainnya. Ethereum (ETH) misalnya, melemah 10,28% ke harga US$ 2.957,46 atau sekitar Rp 49,61 juta. Kemudian token BNB juga turut melemah 5,28% ke harga US$ 891,24 atau sekitar Rp 14,9 juta. Kedua token ini juga perlahan bangkit meski koreksi sana-sini.


Sentimen Konflik Mereda

Kondisi ini terjadi seiring meredanya tekanan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait Greenland serta penundaan ancaman tarif. Saat itu, Indeks Fear & Greed kripto juga naik tipis ke level 34 meski masih berada di area fear. Sejalan dengan hal tersebut, tercatat juga aksi borong BTC yang dilakukan oleh individu atau whale dalam jumlah besar, yakni sebanyak 1.000 BTC pada saat koreksi.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan pola ini kerap terjadi menjelang fase rebound di tengah aksi jual investor ritel. Menurutnya, akumulasi whale memberikan sinyal kepercayaan terhadap BTC di tengah volatilitas jangka pendek masih tinggi.

“Ketika whale aktif membeli di bawah US$ 90.000, itu biasanya mengindikasikan area tersebut dianggap menarik untuk akumulasi. Namun rebound ini masih perlu konfirmasi lanjutan karena tekanan dari sisi makro dan arus dana institusional belum sepenuhnya mereda,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Dari sisi teknikal, BTC masih menghadapi resistensi jangka pendek di area rata-rata pergerakan sepekan pada level US$ 92.864. Fyqieh menilai, harga BTC kembali menguat jika mampu bertahan dan menembus level tersebut.

Namun penguatan BTC masih dibatasi beberapa faktor, utamanya tekanan arus keluar ETF Bitcoin yang mencapai sekitar US$ 707,3 juta atau sekitar Rp 11,8 triliun pada 21 Januari lalu. Selain itu, hambatan teknikal lebih besar pada pergerakan 200 hari sekitar US$ 105.541 yang masih jauh dari harga saat ini.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah akumulasi whale dan spot exchange outflows sebagai sinyal suplai yang kian ketat. Sementara dari pasar global, sentimen positif datang dari pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang memuji penasihat ekonominya, Kevin Hassett.

Akan tetapi, sentimen ini disebut akan tertahan data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mundur hingga sekitar Juni 2026 meski pelaku pasar memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

“Hal ini dinilai meredakan kekhawatiran pasar karena menutup potensi Hassett menjadi Ketua The Fed. Hassett sebelumnya dipandang sebagai figur yang paling tidak independen dan cenderung dovish, sejalan dengan keinginan Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif,” jelasnya.

Ekosistem Kripto Domestik Krisis Kepercayaan

Pada ekosistem domestik, bursa kripto sendiri masih menghadapi tantangan kepercayaan pasar. Sepanjang tahun 2025, transaksi kripto sendiri mengalami koreksi yang cukup dalam, yakni menjadi Rp 482,23 triliun dari Rp 650 triliun di tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 72% dari 29 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) atau bursa kripto di Indonesia masih merugi sepanjang tahun 2025. Hal ini terjadi karena investor domestik memilih transaksi di sejumlah platform bursa kripto global.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai kondisi ini terjadi karena rendahnya kepercayaan investor yang berdampak pada minimnya volume transaksi di platform domestik. Menurutnya, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri kripto dalam negeri.

“Masih banyaknya PAKD yang merugi menunjukkan industri ini masih berada pada fase pertumbuhan yang menuntut skala, efisiensi operasional, dan penguatan kepercayaan pasar. Ke depan kami berharap ada ruang untuk mendorong efisiensi biaya, termasuk melalui skema insentif yang tepat seperti insentif pajak, maupun struktur pendapatan yang lebih berimbang misalnya penerapan komponen biaya ekosistem seperti bursa fee, agar pelaku usaha bisa berinvestasi lebih besar pada kepatuhan dan perlindungan pengguna,” kata Calvin dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Calvin juga menyebut perlu adanya penguatan perlindungan konsumen. Pasalnya, mayoritas investor kripto di Indonesia berpendapatan di bawah Rp 8 juta per bulan berdasarkan riset LPEM FEB UI. Para investor juga didominasi usia di bawah 35 tahun yang mayoritas berpendidikan SMA.

Sebagai upaya memperkuat praktik pasar yang sehat, ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antar pihak untuk memberantas bursa kripto ilegal. Karena menurutnya, kehadiran platform ilegal berpotensi memangkas kontribusi pajak industri hingga Rp 1,7 triliun per tahun.

“Penegakan terhadap platform ilegal harus tegas, tapi juga perlu dibarengi literasi dan kolaborasi regulator, industri, komunitas, dan akademisi. Targetnya bukan hanya pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang aman dan berkelanjutan,” pungkas Calvin.

(ahi/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Investor Kakap Serok Bitcoin Saat Harga Anjlok


Jakarta

Pasar aset kripto mengalami gonjang-ganjing usai Bitcoin (BTC) mengalami koreksi tajam ke kisaran level US$ 74.000 sebelum akhirnya rebound ke level US$ 77.000. Kombinasi antara eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS pasca-nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve menjadi pemicunya.

Vice President INDODAX Antony Kusuma menjelaskan saat ini Bitcoin sering kali menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap kepanikan global karena sifat pasarnya yang beroperasi 24/7.

Meski begitu, data on-chain Glassnode menunjukkan anomali yang menarik. Terdapat perbedaan perilaku yang kontras antara kelas investor kripto, kelompok Mega-Whales atau investor pemegang 1.000 Bitcoin ke atas justru terpantau membeli Bitcoin secara bertahap untuk menyerap pasokan pasar yang panik.


“Meskipun pasar saat ini berada dalam fase ketakutan yang ekstrem, fundamental industri dinilai jauh lebih kokoh dibandingkan siklus serupa di tahun 2022,” ujar Antony dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

Kehadiran institusi besar seperti BlackRock dan JPMorgan yang telah terintegrasi dalam ekosistem melalui ETF dan infrastruktur perbankan memberikan bantalan yang lebih kuat terhadap risiko sistemik jangka panjang.

INDODAX mengimbau para investor kripto di Indonesia untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan impulsif berdasarkan emosi sesaat. Penting bagi investor untuk mengevaluasi kembali manajemen risiko mereka.

Investor disarankan untuk tetap disiplin pada strategi investasi jangka panjang, mencermati dinamika pasar secara proporsional, serta terus membekali diri dengan riset mandiri.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(hal/ara)



Sumber : finance.detik.com