Tag: budi

  • 4 Komponen Biaya Balik Nama Sertifikat Tanah dan Simulasi Hitungannya



    Jakarta

    Balik nama sertifikat tanah adalah hal wajib yang dilakukan setelah membeli properti baik tanah ataupun bangunan. Dengan melakukan balik nama sertifikat, maka pembelian tersebut telah dianggap legal secara hukum.

    Proses balik nama sertifikat tidak gratis. Bahkan ada beberapa komponen biaya balik nama sertifikat yang harus kamu lalui. Komponen tersebut semuanya harus diurus agar kepemilikan atas properti tersebut absolut di mata hukum.

    Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa biaya balik sertifikat tanah yang harus dikeluarkan saat proses pengurusan.


    Komponen Biaya Balik Nama Sertifikat Tanah

    1. Biaya Penerbitan AJB

    Biaya pertama yang harus disiapkan adalah untuk mengurus penerbitan akta jual beli atau AJB. Harga untuk pengurusan AJB ternyata berbeda tiap kantor pejabat pembuat akta tanah (PPAT). Namun, biasanya nilainya ditetapkan sekitar 0,5-1 persen dari total transaksi. Semakin besar nilai transaksi, maka semakin besar biaya penerbitan AJB.

    2. Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

    BPHTB merupakan pengenaan pajak oleh masing-masing daerah. Besarannya sekitar 5% dari Dasar Pengenalan Pajak (NPOP-NPOPTKP). Namun, ada beberapa rumah yang tidak mengenakan BPHTB.

    3. Biaya Pengecekan Keabsahan Sertifikat Tanah

    Saat membuat sertifikat tanah, kantor pertanahan akan mengukur luas tanah properti untuk menghindari dari kekeliruan. Pengecekan ini termasuk untuk memastikan status tanah sah dan bebas sengketa. Adapun biayanya sekitar Rp 50 ribu.

    4. Biaya Balik Nama

    Kemudian, dilansir dari situs resmi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) ada pula biaya untuk balik nama. Cara menghitung biaya balik nama sertifikat tanah/rumah dilakukan berdasarkan nilai tanah yang dikeluarkan oleh Kantor pertanahan.

    Adapun rumusnya (nilai tanah (per m2) x luas tanah (m2)) / 1000 + biaya pendaftaran

    Simulasi Perhitungan

    Sebagai gambaran biaya yang harus dikeluarkan saat mengurus balik nama sertifikat rumah, detikcom berikan simulasi penghitungannya.

    Sebagai catatan, biaya pengecekan keabsahan tanah memiliki besaran yang pasti yakni Rp 50 ribu. Maka, dalam simulasi ini akan berpatokan pada nilai biaya tersebut. Sementara itu, besaran biaya untuk komponen biaya lainnya tidak berpatokan pada nilai di lapangan.

    Misalnya, Budi membeli tanah seluas 66 m2 dengan luas bangunan 30 m2. Harga tanah per meter Rp 2.500.000 dan nilai bangunan per meternya Rp 800.000. Nilai transaksi atas jual beli tanah dan bangunan adalah Rp 280.000.000. Maka, biaya balik nama sertifikat yang harus dibayar yaitu:

    1. Biaya AJB

    Anggap saja kesepakatan dengan kantor PPAT adalah 1% dari nilai transaksi. Berarti untuk penerbitan AJB yaitu 1% x 280.000.000 = Rp 2.800.000.

    2. Biaya BPHTB

    Bphtb yaitu sekitar 5% dari Dasar Pengenalan Pajak (NPOP-NPOPTKP). Maka perhitungannya:

    Harga tanah: 66 m2 x Rp 2.500.000 = Rp 165.000.000
    Harga bangunan: 30 m2 x Rp 800.000 = Rp 24.000.000

    Jumlah pembelian rumah: Rp 280.000.000

    NJOPTKP Jakarta (2024): Rp 60.000.000

    Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak: Rp 220.000.000

    Nilai untuk BPHTB: 5% x Rp 220.000.0000 = Rp 11.000.000

    3. Biaya Pengecekan Sertifikat Tanah

    Untuk biaya pengecekan sertifikat tanah akan dibayarkan ke BPN. Biayanya sebesar Rp 50.000.

    4. Biaya Balik Nama

    Untuk biaya ini rumusnya (nilai tanah (per m2) x luas tanah (m2)) / 1000 + biaya pendaftaran (Rp 50.000). Maka perhitungannya:

    Rp 280.000.000:1.000 = Rp 280.000 + Rp 50.000 = Rp330.000

    Total biaya balik nama sertifikat rumah yang harus dibayarkan yaitu Rp 2.800.000 + Rp 11.000.000 + Rp 50.000 + Rp 330.000 = Rp 14.180.000

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir Pagi Asmaul Husna, Lengkap 99 Nama Terindah Allah SWT


    Jakarta

    Dalam Islam, salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk mengawali hari adalah dzikir pagi. Dzikir ini tidak hanya menguatkan jiwa dan menenangkan hati, tetapi juga menjadi benteng dari berbagai gangguan dan kesulitan.

    Setiap pagi adalah anugerah baru dari Allah SWT. Bangun dari tidur dalam keadaan sehat, diberi kesempatan hidup, dan memiliki waktu untuk memperbaiki diri adalah nikmat yang tak terhingga.

    Salah satu bentuk dzikir pagi yang penuh makna dan kekuatan adalah membaca Asmaul Husna nama-nama Allah SWT yang indah dan agung. Asmaul Husna bukan hanya rangkaian kata, melainkan sifat-sifat Allah SWT yang mencerminkan kemahakuasaan-Nya.


    Menyebut nama-nama ini di pagi hari berarti mengakui keagungan-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh harap dan keyakinan.

    Pengertian Dzikir da Asmaul Husna

    Mengutip buku Dzikir Pagi & Petang karya Ust. Fadli Ramadhan, dzikir secara bahasa adalah mengingat, sedangkan secara istilah adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada Allah SWT. Secara etimologi, dzikir berasal dari akar kata dzakara yang berarti menyebut,mensucikan, menggabungkan, menjaga, mengerti, mempelajari, memberi dan nasihat.

    Dzikir juga dapat diartikan mensucikan dan mengagungkan, juga dapat diartikan menyebut dan mengucapkan nama Allah atau menjaga dalam ingatan.

    Asmaul Husna adalah istilah yang merujuk pada nama-nama Allah SWT yang indah dan agung. Secara bahasa, Asmaul Husna berasal dari bahasa Arab, Al Asma yang berarti nama-nama, dan kata Al Husna yang berarti terbaik, terindah atau sebaik-baiknya.

    Jadi, Asmaul Husna berarti “nama-nama Allah yang paling indah”.

    Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman melalui surat Al-A’raf ayat 180

    وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    Artinya: Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

    Surat Al-Ahzab ayat 41-42,

    وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.

    Dzikir Asmaul Husna juga memiliki banyak keutamaan, apalagi hal ini juga dianjurkan. Berdzikir dengan menyebut nama-nama Allah atau Asmaul Husna juga telah dianjurkan dalam Al-Quran surat Al-A’raf ayat 180.

    وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ

    Artinya: “Hanya milik Allah asmaul husna (nama-nama yang terbaik). Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

    Bacaan Dzikir 99 Asmaul Husna

    1. Ar-Rahman (Maha Pengasih)
    2. Ar-Rahim (Maha Penyayang)
    3. Al-Malik (Maha Merajai)
    4. Al-Quddus (Maha Suci)
    5. As-Salam (Maha Penyelamat)
    6. Al-Mu’min (Maha Mengamankan)
    7. Al-Muhaimin (Maha Pembela)
    8. Al-Aziz (Maha Mulia)
    9. Al-Jabbar (Maha Pemaksa)
    10. Al-Mutakabbir (Maha Besar)
    11. Al-Khaliq (Maha Pencipta)
    12. Al-Bari’ (Yang Maha Melepaskan)
    13. Al-Mushawwir (Yang Maha Membentuk Rupa)
    14. Al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun)
    15. Al-Qahhar (Yang Maha Menundukkan)
    16. Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi Karunia)
    17. Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki)
    18. Al-Fattaah (Yang Maha Pembuka Rahmat)
    19. Al-‘Aliim (Yang Maha Mengetahui)
    20. Al-Qaabidh (Yang Maha Menyempitkan)
    21. Al-Baasith (Yang Maha Melapangkan)
    22. Al-Khaafidh (Yang Maha Merendahkan)
    23. Ar-Raafi’ (Yang Maha Meninggikan)
    24. Al-Mu’izz (Yang Maha Memuliakan)
    25. Al-Mudzil (Yang Maha Menghinakan)
    26. Al-Samii’ (Yang Maha Mendengar)
    27. Al-Bashiir (Yang Maha Melihat)
    28. Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)
    29. Al-‘Adl (Yang Maha Adil)
    30. Al-Lathiif (Yang Maha Lembut)
    31. Al-Khabiir (Yang Maha Mengenal)
    32. Al-Aliim (Yang Maha Penyantun)
    33. Al-‘Azhiim (Yang Maha Agung)
    34. Al-Ghafuur (Yang Maha Memberi Pengampunan)
    35. As-Syakuur (Yang Maha Pembalas Budi)
    36. Al-‘Aliy (Yang Maha Tinggi)
    37. Al-Kabiir (Yang Maha Besar)
    38. Al-Hafizh (Yang Maha Memelihara)
    39. Al-Muqiit (Yang Maha Pemberi Kecukupan)
    40. Al-Hasiib (Yang Maha Membuat Perhitungan)
    41. Al-Jaliil (Yang Maha Luhur)
    42. Al-Kariim (Yang Maha Pemurah)
    43. Ar-Raqiib (Yang Maha Mengawasi)
    44. Al-Mujiib (Yang Maha Mengabulkan)
    45. Al-Waasi’ (Yang Maha Luas)
    46. Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana)
    47. Al-Waduud (Yang Maha Mengasihi)
    48. Al-Majid (Yang Maha Mulia)
    49. Al-Baa’its (Yang Maha Membangkitkan)
    50. As-Syahiid (Yang Maha Menyaksikan)
    51. Al-Haqq (Yang Maha Benar)
    52. Al-Wakiil (Yang Maha Memelihara)
    53. Al-Qawiyyu (Yang Maha Kuat)
    54. Al-Matiin (Yang Maha Kokoh)
    55. Al-Waliyy (yang Maha Melindungi)
    56. Al-Hamiid (Yang Maha Terpuji)
    57. Al-Muhshii (Yang Maha Menghitung Segala Sesuatu)
    58. Al-Mubdi’ (Yang Maha Memulai)
    59. Al-Mu’iid (Yang Maha Mengembalikan Kehidupan)
    60. Al-Muhyii (Yang Maha Menghidupkan)
    61. Al-Mumiitu (Yang Maha Mematikan)
    62. Al-Hayyu (Yang Maha Hidup)
    63. Al-Qayyum (Yang Maha Mandiri)
    64. Al-Waajid (Yang Maha Penemu)
    65. Al-Maajid (Yang Maha Mulia)
    66. Al-Wahid (Yang Maha Tunggal)
    67. Al-Ahad (Yang Maha Esa)
    68. As-Shamad (Yang Maha Dibutuhkan)
    69. Al-Qaadir (Yang Maha Menentukan)
    70. Al-Muqtadir (Yang Maha Berkuasa)
    71. Al-Muqaddim (Yang Maha Mendahulukan)
    72. Al-Mu’akkhir (Yang Maha Mengakhirkan)
    73. Al-Awwal (Yang Maha Awal)
    74. Al-Aakhir (Yang Maha Akhir)
    75. Az-Zhaahir (Yang Maha Nyata)
    76. Al-Baathin (Yang Maha Ghaib)
    77. Al-Waali (Yang Maha Memerintah)
    78. Al-Muta’aalii (Yang Maha Tinggi)
    79. Al-Barru (Yang Maha Penderma)
    80. At-Tawwab (Yang Maha Penerima Taubat)
    81. Al-Muntaqim (Yang Maha Pemberi Balasan)
    82. Al-Afuww (Yang Maha Pemaaf)
    83. Ar-Ra’uuf (Yang Maha Pengasih)
    84. Malikul Mulk (Yang Maha Penguasa Kerajaan)
    85. Dzul Jalaali Wal Ikraam (Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan)
    86. Al-Muqsith (Yang Maha Pemberi Keadilan)
    87. Al-Jamii’ (Yang Maha Mengumpulkan)
    88. Al-Ghaniyy (Yang Maha Kaya)
    89. Al-Mughnii (Yang Maha Pemberi Kekayaan)
    90. Al-Maani (Yang Maha Mencegah)
    91. Ad-Dhaar (Yang Maha Penimpa Kemudharatan)
    92. An-Nafii’ (Yang Maha Memberi Manfaat)
    93. An-Nuur (Yang Maha Bercahaya)
    94. Al-Haadii (Yang Maha Pemberi Petunjuk)
    95. Al-Badii’ (Yang Maha Pencipta Tiada Bandingannya)
    96. Al-Baaqii (Yang Maha Kekal)
    97. Al-Waarits (Yang Maha Pewaris)
    98. A Rasyid (Yang Maha Pandai)
    99. As-Shabuur (Yang Maha Sabar)

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com