Tag Archives: coinmarketcap

Setoran Pajak Kripto Tembus Rp 1,61 T dari 2022


Jakarta

Penerimaan negara dari aset kripto mencapai Rp 1,61 triliun hingga Agustus 2025. Angka ini menunjukkan tren kenaikan yang sangat baik sejak regulasi pajak kripto diberlakukan pada 2022.

Penerimaan tersebut berasal dari Rp 246,45 miliar pada 2022, Rp 220,83 miliar pada 2023, Rp 620,4 miliar pada 2024, dan Rp 522,82 miliar selama delapan bulan pertama 2025. Adapun total penerimaan terdiri dari Pajak Penghasilan (PPh) 22 sebesar Rp 770,42 miliar serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri sebesar Rp 840,08 miliar.

Penerimaan negara itu dinilai sebagai cerminan tingkat adopsi masyarakat yang semakin luas terhadap industri kripto.


Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, ketika regulasi pajak selaras dengan karakteristik aset digital, dampaknya bukan hanya pada meningkatnya kepercayaan investor, tetapi juga pada pertumbuhan volume transaksi yang lebih sehat dan transparan di bursa lokal. Ia menekankan penerimaan pajak kripto harus dilihat sebagai indikator legitimasi industri kripto.

“Semakin tinggi kontribusinya ke kas negara, semakin jelas bahwa investasi kripto bukan lagi sekadar tren, melainkan bagian resmi dari sistem keuangan digital Indonesia. Regulasi yang konsisten akan menjadikan Indonesia salah satu pusat perdagangan aset digital terbesar di kawasan,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/10/2025).

“Bagi kami, pajak kripto adalah jembatan yang mempertemukan kepentingan negara dan industri. Selama sinergi ini terjaga, kontribusi kripto terhadap perekonomian Indonesia akan semakin besar,” tambahnya.

Seiring dengan meningkatnya kontribusi pajak kripto, pasar global juga menunjukkan dinamika positif. Harga Bitcoin (BTC) menembus US$ 120 ribu atau sekitar Rp 2 miliar menurut data CoinMarketCap dan TradingView.

Lonjakan ini didorong oleh volume perdagangan ETF Bitcoin spot yang mencapai US$ 5 miliar dalam sehari serta arus masuk institusional senilai US$ 676 juta, dengan BlackRock iShares Bitcoin Trust (IBIT) menyerap US$ 405 juta dan Fidelity menambah 1.570 BTC senilai US$ 179 juta.

Secara teknikal, Bitcoin kini memasuki fase price discovery dengan potensi kenaikan menuju US$ 128.000-US$ 135.000 (Rp2,1-Rp2,3 miliar). Meski demikian, analis mengingatkan adanya zona support penting di US$ 110.000-US$ 112.000 (Rp 1,8 miliar).

Kombinasi antara penerimaan pajak kripto nasional yang solid dan tren kenaikan harga Bitcoin global menegaskan bahwa industri kripto kini memainkan peran strategis, baik dalam menopang fiskal negara, memberikan potensi investasi yang baik, dan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital dunia.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin cs Rontok Usai Terbang Tinggi


Jakarta

Aset digital kripto kembali mengalami tekanan hebat beberapa hari terakhir. Bahkan, koin kripto dengan kapitalisasi terbesar seperti Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level US$ 109.200-an usai diramal menguat hingga US$ 130.000 beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, BTC sempat menyentuh level US$ 109.219 atau sekitar Rp 1,80 miliar (asumsi kurs Rp 16.564) pada perdagangan Sabtu (11/10/2025). Kemudian hari ini, Senin (13/10/2025) BTC melemah 7,06% pada perdagangan sepekan terakhir ke harga US$ 115.123 atau sekitar Rp 1,90 miliar.

Pelemahan juga diikuti oleh koin kripto Ethereum (ETH) yang turun sejak perdagangan Sabtu. ETH sempat terperosok ke harga US$ 3.504 per koin sebelum akhirnya menguat ke harga US$ 4.171 pada perdagangan Senin. ETH tercatat melemah hingga 8,72% pada perdagangan sepekan terakhir.


Nasib serupa juga dialami koin Solana (SOL) yang jatuh lebih dalam pada perdagangan sepekan terakhir, yakni sebesar 16.07% ke harga US$ 196,68 per koin. SOL juga sempat jatuh ke level terendah di harga US$ 173,94 per koin pada perdagangan Minggu (12/10).

Namun begitu, koin BNB tercatat menjadi satu-satunya yang masih menguat di perdagangan sepekan terakhir kendati sempat ambur pada perdagangan Sabtu ke harga US$ 1.043. Pada perdagangan hari ini, BNB tercatat di level US$ 1.339 dengan penguatan sebesar 9,72% di perdagangan sepekan terakhir.

Diketahui sebelumnya, pergerakan harga BTC sempat menunjukan optimisme dengan menembus level tertinggi sepanjang sejarah di level US$ 126.198 atau sekitar Rp 2,09 miliar sebelum akhirnya turun di level US$ 121.382 atau sekitar Rp 2,01 miliar per hari ini, Jumat (10/10/2025).

Berdasarkan analisis Tokocrypto, BTC masih memiliki potensi penguatan atau bullish dengan area support berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%. Sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi sinyal potensi kenaikan ke level US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,15 miliar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. Adapun saat ini, ia menilai dinamika pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat.

“Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/10/2025).

Lihat juga Video: Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Perang Dagang Makin Panas, Harga Bitcoin Ikut Kebakaran


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan imbas memanasnya tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. CoinMarketCap mencatat koreksi harga BTC hingga 8,86% di perdagangan sepekan terakhir.

Harga BTC tergelincir ke level US$ 110.743 atau sekitar Rp 1.83 miliar (asumsi kurs Rp 16.583). Pada perdagangan sepekan terakhir, BTC mengalami volatilitas tinggi yang dipicu oleh isu perang tarif AS-China. Kondisi tersebut menempatkan BTC pada rentang US$ 107.318 hingga US$ 123.535.

Tokocrypto menyebut, kapitalisasi pasar BTC berada di angka Rp 36.629 triliun dengan volume perdagangan 24 jam terakhir tercatat turun 24% menjadi Rp 1.136 triliun. Penurunan terjadi setelah China menjatuhkan sanksi terhadap suku cadang buatan AS yang digunakan perusahaan pelayaran Korea Selatan.


Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan ketegangan dagang AS-China mendorong penurunan tajam kapitalisasi pasar kripto dari US$ 3,96 triliun menjadi US$ 3,75 triliun. Penurunan tersebut terjadi lebih dari US$ 210 miliar dalam sehari.

Sementara altcoin utama relatif cepat pulih, harga BTC masih bertahan di zona pelemahan. Presiden AS, Donald Trump, bahkan menegaskan pihaknya secara aktif terlibat dalam perang dagang dengan China setelah sebelumnya mengancam tarif 100% pada semua impor dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Selama hubungan AS-China masih goyah, kripto akan kesulitan pulih karena aset berisiko seperti ini biasanya hanya menguat saat kondisi global stabil,” ujarnya.

Fyqieh menyebut, kondisi pasar saat ini berada dalam fase badai yang dipicu oleh faktor eksternal makroekonomi. Ia menjelaskan, fase yang sama sempat melanda BTC pada tahun 2022 kala China dihadapkan dengan era suku bunga The Fed yang tinggi.

“Setiap fase bear market kripto punya pemicunya sendiri. Di 2018-2019 ada larangan Bitcoin di China, di 2022 kita menghadapi kenaikan suku bunga The Fed, dan kini di 2025 pemicunya adalah perang dagang AS-China. Ini fase yang tidak bisa dihindari, tapi pada akhirnya selalu diikuti pemulihan,” jelasnya.

Namun, ia menyebut volatilitas tinggi ini merupakan kekhawatiran jangka pendek investor terhadap ketidakpastian kebijakan dagang global. Sementara di sisi teknikal, BTC kini tengah terkonsolidasi di kisaran US$ 110.000-US$ 116.000 dengan dominasi penjual (bear).

Level US$ 110.000 menjadi area support penting, sementara US$ 116.000 menjadi batas resistensi utama. Jika BTC berhasil menembus level tersebut, peluang untuk kembali menguji US$ 120.000 terbuka lebar.

“Jika ketegangan tarif terus berlanjut, pasar kripto akan tetap choppy dengan pergerakan harga yang liar. Namun, bila dalam beberapa minggu ke depan ada sinyal positif seperti kesepakatan dagang atau penundaan tarif, badai ini bisa mulai mereda,” tambahnya.

Tonton juga video “Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin” di sini:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Shutdown Pemerintah AS Berakhir, Bitcoin Masih Terkapar di Zona Merah


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan hebat pada perdagangan beberapa pekan belakangan. Hari ini, BTC masih menunjukkan koreksi tajam meski sinyal perbaikan makroekonomi global terlihat seiring penandatanganan rancangan undang-undang yang mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat (AS).

Namun, kabar tersebut nampaknya belum menjadi sentimen kuat untuk kembalinya euforia BTC. Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga BTC masih bergerak di zona merah yakni sebesar US$ 99.707 atau sekitar Rp 1,66 miliar (asumsi kurs Rp 16.706).

Angka tersebut melemah 11.84% sepanjang perdagangan sebulan terakhir. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai pergerakan harga BTC masih belum mencerminkan perubahan tren yang solid.

“Sentimen global memang mulai pulih setelah shutdown AS berakhir, tapi kekuatan fundamental Bitcoin belum cukup kuat untuk menembus resistensi di atas US$ 106.000 atau sekitar Rp 1,77 miliar,” jelas Fyqieh dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (14/11/2025).


Fyqieh menilai, berakhirnya shutdown AS membuat sejumlah lembaga seperti SEC dan CFTC kembali beroperasi. Hal ini mengindikasikan proses persetujuan ETF spot BTC bisa kembali berjalan. Namun, efeknya tidak akan langsung terasa.

“Investor masih menunggu kepastian dari SEC soal ETF kripto dan arah kebijakan fiskal AS ke depan. Dengan DXY (Indeks Dolar AS) yang terus menguat, banyak pelaku pasar justru memilih menahan posisi di aset berisiko seperti Bitcoin,” jelasnya.

Dolar AS yang menguat biasanya menekan minat terhadap aset alternatif seperti kripto. Hal ini tercermin dari inflow ke ETF BTC senilai US$ 524 juta belum mampu mendongkrak harga secara signifikan.

Meskipun berakhirnya shutdown AS membawa kabar baik bagi stabilitas ekonomi global, Fyqieh menilai investor kripto untuk tidak cepat optimistis. Pasalnya, euforia berakhirnya shutdown belum cukup untuk menghidupkan kembali pasar BTC. Perlu katalis kuat, baik dari sisi makro maupun dari industri kripto.

“Selama Bitcoin gagal menembus area US$ 106.000-US$ 108.000 dengan volume kuat, arah jangka pendek masih sideways to bearish. Area support kuat saat ini ada di kisaran US$ 98.000, sementara target kenaikan baru bisa terbuka jika BTC menutup harian di atas US$ 110.000,” pungkasnya.

(ara/ara)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Anjlok Usai Trump Ancam Mitra Dagang Rusia


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) sempat terkoreksi dan menyentuh level US$ 89.000 yang merupakan level terendah dalam tujuh bulan terakhir pada Selasa (18/11). Penurunan ini terjadi karena arus keluar dari ETF Bitcoin di Amerika Serikat (AS), serta kekhawatiran investor terhadap rencana tarif Presiden AS Donald Trump sebesar 500% kepada negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Rusia.

Selama empat hari berturut-turut, ETF Bitcoin di AS mencatat arus keluar dari total kepemilikan 441.000 BTC menjadi sekitar 271.000 BTC. Puncaknya, terjadi redemption lebih dari US$ 800 juta dalam satu hari. Situasi ini menambah tekanan jual, terutama setelah harga Bitcoin gagal bertahan di atas area US$ 92.000 dan turun melewati batas psikologis US$ 90.000.

Meski begitu, pelemahan ini tidak disebabkan oleh penurunan fundamental aset kripto. Pada Rabu (19/11) Bitcoin mulai menunjukkan tanda penguatan seiring ekspektasi likuiditas yang membaik di AS, terutama setelah The Fed berencana menghentikan penurunan neracanya dan membuka opsi operasi repo yang bisa menambah cadangan dana ke sistem keuangan.


Namun, tekanan makro masih menahan langkah Bitcoin untuk naik lebih jauh. Sentimen pasar tetap rapuh akibat inflasi yang belum jinak, sektor properti dan otomotif yang melemah, serta ketidakpastian menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 10 Desember 2025 mendatang.

Vice President Indodax, Antony Kusuma menekankan bahwa kondisi pasar seperti ini merupakan bagian dari dinamika alami siklus kripto. Ia mengatakan kondisi ini pun bersifat sementara.

“Pergerakan harga yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan sentimen global dalam jangka pendek. Fundamental aset digital tetap kuat, dan di situasi seperti ini penting bagi investor untuk mengambil keputusan secara tenang dan terukur,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Kamis (20/11/2025).

Antony melanjutkan bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah pandangan jangka panjang para pelaku pasar berpengalaman. Ia juga yakin aset digital tetap kuat, meskipun harga sedang berada dalam tekanan.

“Bagi investor jangka panjang, momen seperti ini sering dianggap sebagai peluang untuk menambah posisi secara bertahap,” tambah Antony.

Di tengah volatilitas yang meningkat, pihaknya mengimbau seluruh investor untuk tetap mengutamakan manajemen risiko dan tidak melakukan keputusan emosional. Koreksi seperti ini dinilai wajar terjadi setelah Bitcoin sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa pada awal Oktober 2025 lalu.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin berada pada level US$ 92.381 pada pukul 11.00. Bitcoin mulai menguat sebanyak 0,67%.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Ray Dalio Bikin Harga Bitcoin Betah di Zona Merah, Kenapa?


Jakarta

Konglomerat asal Amerika Serikat (AS), Ray Dalio, disebut memicu kecemasan terhadap investor kripto. Kecemasan itu bermula dari sebuah wawancara Ray Dalio yang menyebut Bitcoin (BTC) tidak akan menjadi mata uang cadangan karena mudah diretas oleh komputasi kuantum.

Hal ini kemudian memicu kepanikan investor yang melakukan aksi jual besar-besaran mencapai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 21,72 triliun (kurs Rp 16.710). Alhasil, harga BTC anjlok pada perdagangan hari ini, Jumat (21/11).

Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga BTC berada di level US$ 85.970,36 atau sekitar Rp 1,43 miliar, melemah sekitar 11,72% pada perdagangan sepekan terakhir. Angka tersebut turut merosot dari hari sebelumya, Kamis (20/11), di mana BTC berada di level US$ 87.000 atau sekitar Rp 1,45 miliar.


Berdasarkan analisis Tokorypto, penurunan tajam harga BTC memicu gelombang likuidasi lebih dari US$ 220 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun untuk posisi long. Selain itu, kondisi ini mendorong volatilitas pasar yang telah meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Namun begitu, sejumlah analis pasar menilai kekhawatiran Ray Dalio terlalu berlebihan dan dianggap mengesampingkan kriptografi Bitcoin yang berbasis SHA-256. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai narasi quantum panic Ray Dalio bersifat psikologis daripada teknis.

“Risiko komputasi kuantum terhadap Bitcoin masih berada pada level teoretis dan belum mendesak. Justru, jika benar-benar ada terobosan yang mampu mendekripsi Bitcoin, maka sistem perbankan global yang menggunakan RSA akan jauh lebih rentan. Jadi, kepanikan ini lebih dipicu persepsi, bukan realita teknologinya,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/11/2025).

Selain itu, tekanan terhadap BTC juga muncul kala Owen Gunden menjual seluruh kepemilikan asetnya sebanyak 11.000 coin. Aksi ini dianggap sebagai kapitulasi besar yang menambah suplai di pasar, memperkuat tekanan jual, dan membuat harga BTC menjauh dari level US$ 90.000.

Meski begitu, aksi jual bersih ini tidak cukup menjadi indikator arah pasar BTC. Menurut Fyqieh, masih banyak investor jangka panjang mengambil keputusan berdasarkan portofolio individual, bukan kondisi fundamental Bitcoin.

Ia tak menampik adanya panic selling dan ketidakpastian pasar menyebabkan lebih dari 222.000 pedagang terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Data Coinglass menunjukkan likuidasi long mencapai lebih dari US$ 264 juta hanya dalam satu jam di awal sesi AS.

“Namun benar bahwa suplai tambahan dalam kondisi pasar rapuh dapat mempercepat koreksi,” jelasnya.

Bitcoin Loyo

Berdasarkan laporan CryptoQuant, BTC memasuki fase paling bearish dalam siklus bull 2023-2025. Indeks Bull Score bahkan turun ke level 20/100 dengan harga BTC kini berada di bawah MA 365 hari. Meski begitu, Fyqieh menilai hal tersebut merupakan kondisi wajar.

“Penurunan hingga 25-30% adalah hal yang wajar dalam market bullish. Bahkan dalam bearish sekalipun, Bitcoin sering membentuk rebound kuat. Level teknikal seperti area US$ 84.000 hingga US$ 90.000 menjadi penting untuk memantau potensi pembalikan,” jelasnya.

Mengutip dari Data Santiment, mayoritas trader ritel BTC mulai memprediksi harga akan turun ke bawah US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,17 miliar. Menurutnya, kondisi ini biasanya menandai pergerakan pasar yang berlawanan. Indeks Fear and Greed juga turun ke level ekstrem 15/100, kondisi yang secara historis sering diikuti pemulihan signifikan dalam beberapa bulan berikutnya.

Kondisi panic selling, kekhawatiran komputasi kuantum, aksi jual whale, dan dinamika ETF menciptakan badai volatilitas yang belum mereda. Fyqieh menilai, harga BTC akan ditentukan oleh dukungan institusional mampu menstabilkan harga atau pasar masih akan mencari titik dasar baru.

Pasalnya, ETF Bitcoin di AS masih mencatat arus masuk sebesar US$ 75 juta dan mengakhiri tren arus keluar selama lima hari berturut-turut. BlackRock IBIT menjadi pendorong utama arus masuk tersebut.

“Volatilitas seperti ini adalah bagian dari karakter Bitcoin. Investor jangka panjang tidak fokus pada gejolak harian, tetapi pada struktur jangka panjang yang masih solid. Yang penting adalah manajemen risiko, bukan mengejar harga,” pungkasnya.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ara/ara)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Lompat ke Rp 1,5 M Usai AS Serang Venezuela


Jakarta

Harga bitcoin (BTC) menguat sejak konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memanas pada Sabtu (3/1/2026). Saat ini harga BTC sendiri ada di level US$ 92.328 atau sekitar Rp 1,5 miliar (asumsi kurs Rp 16.750).

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, harga BTC menguat di 24 jam terakhir sebesar 0,8%. Kemudian sepanjang perdagangan sepekan terakhir, harga BTC bergerak menguat hingga 2,63%.

Founder dan CEO TRIV Gabriel Rey, menyebut kenaikan harga BTC di tengah memanasnya konflik AS-Venezuela merupakan hal yang wajar. Pasalnya, hal serupa juga terjadi kala memanasnya perang Iran-Israel beberapa bulan lalu.


“Kenaikan ini selalu terjadi ketika terjadi perang, mereka (investor) mencari aset yang dianggap aman untuk parkir uangnya. Ini sudah kejadian juga ketika kemarin Iran berperang dengan Israel, harga bitcoin naik juga,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Senin (5/1/2026).

Secara historis, terang Gabriel, masyarakat Venezuela juga cenderung mengalihkan asetnya ke BTC di tengah terkoreksinya mata uang lokal. Menurutnya, kondisi mencerminkan kepercayaan publik terhadap BTC. Ia bahkan menyebut, harga BTC masih dapat naik hingga US$ 95.000.

“Ketika terjadi devaluasi mata uang yang besar maka parkirnya kalau nggak ke emas, ya ke bitcoin untuk saat ini. Saya rasa untuk kita di atas US$ 90.000 sangat possible apalagi kita sempat turun US$ 80.000 dan cukup lama ranking di sini dan naik lagi ke US$ 90.000. Menurut saya kita akan sideways di sini antara US$ 90.000 sampai US$ 95.000 sampai terjadinya redcard oleh the Fed,” imbuhnya.

Dihubungi terpisah, Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, mengatakan pergerakan positif harga BTC terjadi karena kembalinya optimisme pelaku pasar kripto. Hal ini terjadi karena siklus empat tahunan BTC yang berhasil dipatahkan pelaku pasar.

“Saat ini kelihatannya memang muncul kembali optimisme dari para pelaku pasar, yang mana ada banyak perkiraan bahwa siklus empat tahunan bitcoin telah patah. Sehingga, muncul optimisme akan adanya potensi perpanjangan tren naik,” ungkap Christopher.

Meski begitu, Christopher mengingatkan adanya ruang pelemahan harga BTC dalam waktu dekat. Pelemahan ini terjadi akibat dorongan aksi ambil untung di tengah meningkatnya harga BTC.

“Menurut saya, tren secara sepenuhnya belum patah, sehingga masih ada peluang terjadi pelemahan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Terlebih lagi apabila pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga ini untuk mengambil untung ataupun minimal meminimalisasi kerugian yang sudah mereka tahan untuk beberapa waktu ini,” pungkasnya.

Tonton juga video “Presiden Kuba Sebut 32 Rakyatnya Tewas Saat Maduro Ditangkap AS”

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Disebut Bisa Cuan 500%, Koin Manta yang Dijanjikan Timothy Ronald Anjlok 96%

Jakarta

Influencer kripto, Timothy Ronald dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas kasus dugaan penipuan trading. Dalam surat laporan tersebut, korban mengklaim diberikan sinyal untuk membeli koin Manta dengan janji kenaikan hingga 300-500% pada awal 2024.

Dikutip dari unggahan @cryptoholic, tercatat dana investasi untuk membeli koin Manta ini sebesar Rp 3 miliar. Namun hingga saat ini, koin Manta justru anjlok meski sempat menyentuh nilai tertingginya di awal tahun 2024 silam.

Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, koin Manta resmi diperdagangkan pada platform tersebut pada 18 Januari 2024. Koin ini menjadi bagian dari ekosistem Manta Network, sebuah proyek blockchain yang diluncurkan pada 2020.


Koin Manta

Berdasarkan data perdagangannya, koin Manta sempat naik beberapa bulan setelah peluncurannya. Manta sempat berada di harga US$ 3.915 pada 13 Maret 2024 atau sekitar Rp 65,99 juta (asumsi kurs Rp 16.856). Namun hingga kini, koin Manta justru melemah 96,51% ke level US$ 0,0789 atau sekitar Rp 1.330.

Komposisi pemegang koin Manta berdasarkan data token unlocks, alokasi terbesar ditempatkan pada ekosistem dan komunitas yang mencapai sekitar 21,19% dari total suplai. Selain itu, Foundation Treasury memegang sekitar 13,50%.

Di sisi investor, kepemilikan terbesar berasal dari private investors dengan porsi 12,94%, diikuti oleh tim pengembang sebesar 10%, kemudian advisor menguasai sekitar 8,10% token, disusul public investors sebesar 8%, strategic investors sebesar 6,17%, dan institutional investors sebesar 5%.

Kemudian dari sisi peredaran token, lebih dari separuh suplai koin Manta atau sekitar 56% telah beredar di pasar, setara dengan 560 juta token. Sisanya, sekitar 44% atau hampir 440 juta token, masih berada dalam status terkunci dan akan dilepas secara bertahap.

Timothy Ronald Dilaporkan

Dikutip dari detikNews, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto membenarkan adanya laporan yang menyeret pendiri Akademi Crypto, Timothy Ronald. Namun, terlapor dalam hal ini masih dalam penyelidikan.

Dugaan penipuan ini dilaporkan oleh pria berinisial Y. Budi menuturkan pelapor berinisial Y itu akan dipanggil untuk dimintai keterangan. Polisi, kata Budi, juga anak menganalisa barang bukti laporan tersebut.

“Penyelidik akan mendalami laporan tersebut dengan mengundang klarifikasi pelapor dan menganalisa barang buktinya,” kata Budi kepada wartawan, dikutip dari detikNews, Minggu (11/1/2026).

Tonton juga video “Desain Koin Spesial Edisi Freddie Mercury”

(ahi/ara)



Sumber : finance.detik.com

Inflasi AS Jinak Bikin Bitcoin Ngacir Dekati Harga Rp 1,69 Miliar


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) bergerak menguat pada perdagangan sepekan terakhir. Pada Kamis (14/1) kemarin, harga BTC diketahui sempat menembus US$ 96.232 atau sekitar Rp 1,62 miliar (asumsi kurs Rp 16.909). Pergerakan harga BTC ini kuat ditopang sentimen data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dianggap moderat.

Kemudian berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap hari ini, Minggu (18/1), harga BTC tetap menguat sepekan terakhir meski secara harga terkoreksi sebesar 4,88% ke level US$ 95.020 atau sekitar Rp 1,60 miliar pukul 14.57 WIB. Selain BTC, token Ethereum (ETH) juga ikut menguat 6,92 ke level US$ 3.305 atau sekitar Rp 55,88 juta.

Pergerakan harga ini disebut terjadi menyusul pengumuman posisi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Desember, yang menunjukkan inflasi inti lebih terkendali. Capaian ini memperkuat ekspektasi pasar, yang memprediksi langkah The Fed menahan suku bunga dalam waktu dekat.


Adapun CPI AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Sementara untuk inflasi inti AS hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Kondisi ini diyakini berdampak positif bagi aset berisiko seperti kripto.

Sementara dari sisi industri, regulasi aset kripto di AS juga turut mendorong pergerakan harga menyusul draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Digital Asset Market CLARITY Act. Aturan ini memperjelas klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memberikan kewenangan lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar spot kripto.

“Pasar melihat adanya sinyal yang semakin jelas bahwa tekanan kebijakan moneter mulai mereda, sementara regulasi kripto di AS bergerak ke arah yang lebih konstruktif. Kepastian regulasi adalah faktor krusial bagi masuknya modal institusional, dan ini yang saat ini mulai diantisipasi oleh pasar,” ungkap Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (18/1/2026).

Peluang Harga Bitcoin Ngacir ke US$ 100.000

Secara teknikal, terang Fyqieh, BTC telah keluar dari fase konsolidasi sejak akhir 2025. Menurutnya, harga BTC masih berpeluang menguat ke level US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar sepanjang dapat bertahan di atas level support pada US$ 94.000.

Pasalnya, arus dana institusional masih berpeluang menjadi salah satu sentimen positif pergerakan harga BTC ke depan. Saat ini, arus dana institusi di ETF Bitcoin spot AS tercatat lebih dari US$ 750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025.

“Penembusan area US$ 94.000 yang kini menjadi support kuat menunjukkan dominasi pembeli semakin solid. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali area psikologis US$ 100.000 tetap terbuka,” jelas Fyqieh.

Jika BTC mampu menembus dan bertahan stabil di atas US$ 100.000, Fyqieh menilai level psikologis tersebut berpotensi berubah menjadi pijakan baru. Dalam skenario ini, peluang terjadinya percepatan price discovery atau penemuan harga menuju area yang lebih tinggi terbuka lebih lebar.

Namun jika harga BTC cenderung melemah di bawah US$ 100.000, ia menyebut pelaku pasar masuk menyesuaikan diri terhadap peningkatan likuiditas dan aksi ambil untung. Karenanya, ia mengingatkan agar investor bisa lebih peka terhadap volatilitas pasar.

“Karena itu, dalam jangka pendek investor perlu mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi, pergerakan yang sensitif terhadap berita, serta tarik-menarik harga di sekitar US$ 100.000 sampai permintaan benar-benar melampaui tekanan jual atau pasar membutuhkan waktu untuk membangun momentum,” pungkasnya.

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Rencana Trump Caplok Greenland Bikin Harga Bitcoin Melorot!


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis US$ 90.000 atau sekitar Rp 1,52 miliar (kurs Rp 16.900) pada perdagangan Rabu (21/1). Penurunan bitcoin terjadi seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko.

Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$ 87.000 sebelum bergerak fluktuatif. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global.


Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai. Menanggapi kondisi ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.

“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).

Menurut Antony, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.

“Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam seringkali beriringan dengan guncangan makro, terutama ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional.

“Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” sebut Antony.

Meski demikian, Antony menekankan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek.

“Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” tutup Antony.

Antony menekankan bahwa volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

Tonton juga Video: Trump Kumpulkan Juragan Kripto di Gedung Putih, Apa Tujuannya?

(ily/hns)



Sumber : finance.detik.com