Tag: contoh

  • Simulasi Hitung-hitungan Biaya Listrik Barang Elektronik di Rumah


    Jakarta

    Saat punya rumah baru, ada banyak hal yang harus dipersiapkan salah satunya adalah daya listrik. Sebab, saat pindahan rumah baru, pasti akan banyak barang elektronik yang dipasang dan belum diperhitungkan total daya yang akan terpakai. Dengan mengetahui daya per barang elektronik, kamu dapat membayangkan biaya listrik per bulan di rumah.

    Oleh sebab itu, hal pertama saat kamu membeli rumah atau membangun rumah adalah mengetahui besaran daya listriknya. Melansir dari situs resmi PLN, Jumat (20/9/2024) berikut ini rincian daya listrik dan biayanya per September 2024.

    1. Golongan R-1/TR daya 900 VA, seharga Rp 1.352,00 per kWh.


    2. Golongan R-1/TR daya 1.300 VA, seharga Rp 1.444,70 per kWh.

    3. Golongan R-1/TR daya 2.200 VA, seharga Rp 1.444,70 per kWh.

    4. Golongan R-2/TR daya 3.500 – 5.500 VA, seharga Rp 1.699,53 per kWh.

    5. Golongan R-3/TR daya 6.600 VA ke atas, seharga Rp 1.699,53 per kWh.

    Setelah kamu mengetahui besaran listrik di rumah beserta biaya pemakaiannya, kamu bisa mengecek besaran daya yang dibutuhkan oleh masing-masing barang elektronik. Apabila totalnya melebihi daya listrik di rumah kamu, maka perlu menambah daya agar semua barang elektronik dapat berfungsi.

    Apabila kamu tidak ingin menambah daya listrik, maka kamu perlu mengurangi pemakaian beberapa barang elektronik tersebut atau tidak menggunakannya di waktu bersamaan. Jika memaksakan justru akan menyebabkan listrik di rumah mati karena saklar turun atau biasa disebut dengan jeglek atau byarpet.

    Cara Hitung Kebutuhan Biaya Listrik Barang Elektronik Per Bulan

    Sebagai contoh kamu ingin pasang AC 1/2 PK di rumah. Menurut Quality Technic, kira-kira daya yang dibutuhkan adalah 400 Watt. Besaran daya di sini merupakan listrik yang digunakan untuk pemakaian satu jam. Kemudian, kapasitas daya listrik di rumah sekitar 1.300 VA.

    Kamu menghidupkan AC tersebut setelah pulang kerja sekitar pukul 18.00 WIB hingga pagi hari pukul 05.00 WIB, berarti pemakaiannya sekitar 11 jam. Maka, penghitungan biaya pemakaian AC ½ PK per bulannya sebagai berikut.

    Besaran daya barang elektronik x Lama pemakaian x Jumlah hari pemakaian

    400 Watt x 11 jam x 30 hari = 132.000 Wh

    Besaran Watt Hour (Wh) ini harus diubah dahulu ke Kilowatt Hour (kWh). Di mana 1 kWh sama dengan 1.000 Wh.

    132.000 Wh : 1.000 = 132 kWh.

    Kemudian jumlah daya listrik yang digunakan sebulan tadi yakni 132 kWh dikalikan dengan harga listrik per kWh. Tadi daya listrik di rumah sekitar 1.300 VA, maka harga listriknya Rp 1.444,70 per kWh. Berikut cara hitungannya.

    132 kWh x Rp 1.444 = Rp 190.608/bulan.

    Dapat disimpulkan, untuk pemakaian AC ½ PK selama 11 jam per hari dan dinyalakan selama 1 bulan, besaran biaya listrik yang harus dibayar sekitar Rp 190.608 per bulannya. Ini baru hitungan 1 barang elektronik saja. Kamu bisa menggunakan rumus serupa pada barang elektronik lainnya. Cara mengetahui berapa besaran daya dalam satu barang elektronik biasanya tertera di bagian belakang barang tersebut.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Tips Simpan Harta Benda di Rumah Biar Nggak Dicuri Saat Ditinggal Liburan


    Jakarta

    Rumah bukan cuman buat ditinggali, tapi juga tempat untuk menyimpan barang penghuninya. Sayangnya, maling suka mengincar harta benda saat rumah kosong ditinggal penghuninya yang sedang berlibur.

    Ada saja kasus orang pulang dari berlibur melihat rumahnya dibobol maling dan barang-barangnya hilang. Sebagai langkah pencegahan, kamu bisa coba menyembunyikan barang berharga agar nggak ketahuan sama maling.

    Lalu, bagaimana cara menyimpan harta benda dengan aman di rumah? Simak caranya berikut ini dikutip dari Cekaja.


    Tips Aman Simpan Harta Benda di Rumah

    Inilah cara menyimpan harta benda di rumah biar aman dari maling.

    1. Jangan Simpan di Dalam Lemari

    Sebaiknya jangan simpan harta benda di dalam lemari. Dari beberapa contoh kasus yang telah terjadi, menyimpan barang berharga, seperti emas atau surat-surat tanah di dalam lemari lebih berisiko diambil oleh pencuri saat terjadi perampokan.

    Ketika hal itu terjadi, biasanya pencuri akan langsung tertuju ke kamar tidur dan mencari benda-benda berharga korbannya di dalam lemari.

    Maka dari itu, menyimpan barang berharga maupun benda berharga lainnya di dalam lemari sangat tidak disarankan. Apalagi di dalam celah-celah kecil atau lainnya. Sebaliknya, cobalah simpan barang berharga yang dimiliki di tempat-tempat yang sekiranya sulit untuk ditemukan oleh pencuri.

    2. Simpan di Tempat yang Sulit Dijangkau

    Simpan barang berharga kamu di tempat yang sulit dijangkau. Tempat yang sulit dijangkau ini maksudnya tempat yang sekiranya tak akan terpikirkan oleh pencuri. Misalnya di celah-celah laci dapur ataupun ruang makan.

    Pokoknya, jangan sampai tempat yang disiapkan untuk menyimpan barang berharga, mudah ditebak oleh pencuri.

    Kamu harus mengakalinya dengan sebaik mungkin. Jika memungkinkan, selalu ganti posisi penyimpanannya tiap tiga hingga enam bulan sekali. Terlebih lagi jika rumah sering didatangi oleh tamu.

    Perpindahan posisi ini dimaksudkan untuk menghindari segala risiko kehilangan, yang terkadang bisa dialami jika kita terlalu percaya dengan orang lain, apalagi yang baru dikenal.

    3. Simpan di Dalam Brankas Unik

    Selain itu, coba simpan barang di dalam brankas. Untuk keamanan yang lebih lagi sebaiknya jangan gunakan brankas biasa, tetapi yang bentuk unik.

    Kamu bisa saja pakai brankas yang menyerupai buku. Bentuk yang tidak mencolok itu tentu saja akan mengecoh pandangan pencuri.

    Selain itu, hal lainnya yang harus diperhatikan adalah tempat penyimpanan brankas tersebut. Hindari menyimpan brankas atau barang berharga secara langsung di dalam lemari maupun lacinya.

    Sebab, seperti yang sebelumnya sudah dibahas, lemari selalu menjadi sasaran utama pencuri saat mencari barang berharga korbannya. Ada baiknya untuk menyimpan brankas tersebut di ruangan yang lebih aman dan tidak terpikirkan oleh pencuri.

    4. Gunakan Perlindungan Ganda

    Selanjutnya, selalu gunakan perlindungan ganda. Meski sudah menggunakan brankas yang terbuat dari material besi, namun ada baiknya lagi bila kamu menambah perlindungannya.

    Caranya? Tentu saja dengan menyimpannya dalam kotak berlapis. Misal, masukkan brankas ke dalam kotak yang lebih besar dan menggunakan gembok maupun kata sandi. Dengan begitu, pencuri tidak akan mudah untuk bisa membuka kotak tersebut.

    5. Gunakan Trik Menipu Pencuri

    Terakhir, kamu bisa menggunakan trik menipu pencuri. Nah, di sini, kamu bisa menggunakan lemari untuk mengecoh pencuri.

    Misalnya kamu bisa menggunakan brankas untuk menyimpan barang berharga. Di dalam brankas itu, kamu dapat menyimpan berbagai benda yang tidak berguna, namun dalam jumlah yang cukup banyak.

    Dengan begitu, pencuri tentu akan mengira bahwa sebagian besar hartamu ada di dalam brankas tersebut, sehingga pencuri tak perlu lagi mencari ke ruangan lainnya untuk menemukan barang berharga lainnya.

    Itulah cara menyimpan barang berharga di rumah agar tidak dicuri maling. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Pilih Waktu Terbaik Bangun Rumah Menurut Tradisi Jawa


    Jakarta

    Dalam tradisi Jawa, proses pembangunan rumah tidak bisa dilakukan sembarangan. Terdapat anjuran dan pantangan yang dibuat berdasarkan budaya dan spiritual atau kepercayaan masyarakat Jawa.

    Salah satu aturan tersebut mengenai cara memilih waktu yang baik jika ingin membangun rumah. Aturan tersebut muncul dari pengalaman orang terdahulu dan diharapkan dapat memberikan kelancaran, keberkahan, serta keharmonisan dalam pengerjaannya.

    Dilansir dari detikJateng yang mengutip dari buku Arsitektur Tradisional terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI serta artikel ilmiah berjudul Persepsi Masyarakat Desa Jiwan Terhadap Kalender Jawa dalam Membangun rumah oleh Berti Fitri Permatasari dan Novi Triana Habsari, berikut penjelasannya.


    1. Hindari Bangun Rumah Saat Musim Hujan

    Indonesia hanya memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan hujan. Dalam tradisi Jawa, terdapat 12 musim dalam setahun, seperti Kasa, Karo, Ketiga, hingga Kasada. Namun, 12 musim tersebut dibagi dalam dua kategori besar, yaitu musim kemarau dan musim penghujan.

    Musim hujan terjadi pada musim Kapitu, Kawolu, dan Kasanga. Umumnya pada tiga musim tersebut curah hujan sedang tinggi sehingga bisa menghambat proses pembangunan dan berisiko mengancam keselamatan tukang maupun penghuni awal rumah, serta bisa mengakibatkan rumah bahan bangunan rusak.

    Selain ketiga musim tadi, tradisi Jawa disebut menghindari musim Kalima karena dianggap masa peralihan yang cuacanya masih tidak menentu sehingga masih kurang ideal untuk membangun rumah.

    2. Cari Hari Baik untuk Bangun Rumah

    Selain musim, hari pembangunan pun harus diperhitungkan. Ada beberapa hari yang sebaiknya dihindari, ada juga hari yang baik.

    Uniknya, penentuan waktu ini berdasarkan hitungan hari lahir dan pasaran orang yang akan menempati rumah. Dalam tradisi Jawa, cara ini punya nilai khusus dan disebut dengan neptu. Sebagai contoh hari Ahad nilainya 5, Senin 4, dan seterusnya. Pasaran seperti Pahing, Kliwon, Legi juga punya nilai sendiri. Jumlah dari nilai hari dan pasaran ini kemudian dihitung untuk menentukan hari yang tepat dalam pembangunan.

    Setelah didapatkan total neptu, angka ini akan dihitung lagi menggunakan rumus Panca Suda, yaitu sistem pembagian lima jenis bagian rumah berdasarkan urutan pembangunan. Hasil dari perhitungan ini akan menjadi panduan untuk membangun rumah berdasarkan ruangan, begini pembagiannya.

    Sri: untuk membangun lumbung padi

    Werdi: untuk kandang atau gandhok

    Naga: untuk dapur atau pawon

    Kencana (emas): untuk rumah utama (omah jero)

    Salaka (perak): untuk bagian depan seperti pendhapa

    Sebagai contoh seseorang ingin membangun bagian utama rumah, yang disebut ‘omah jero’, maka harinya harus menghasilkan sisa Kencana (yaitu angka 4) setelah dihitung. Misalnya memilih hari Ahad Pahing (Ahad = 5, Pahing = 9), maka totalnya 14. Angka ini dikurangi dua kali jumlah unsur Panca Suda (2 x 5 = 10), sisa 4. Karena sisa 4 berarti Kencana, maka hari itu dianggap cocok untuk membangun rumah utama.

    Contoh lain, kalau ingin membangun lumbung padi, perlu mencari hari yang hasil akhirnya jatuh pada Sri, misalnya Selasa Kliwon (Selasa = 3, Kliwon = 8, total 11). Setelah dikurangi 10, sisa 1, yang berarti Sri. Maka hari itu cocok untuk mendirikan lumbung.

    Aturan ini berlaku untuk semua bagian rumah. Pemilik rumah perlu menghitung masing-masing ruangan kemudian, menyusun jadwal pembangunannya. Cara pemilihan hari ini dipercaya dapat membawa berkah dan ketenteraman bagi penghuninya.

    Itulah cara menentukan waktu yang tepat untuk membangun rumah berdasarkan tradisi Jawa, semoga membantu.

    Artikel ini sudah tayang di detikJateng

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Khutbah Jumat Bulan Muharram Bahasa Jawa Tema Amaliah Suro


    Jakarta

    Pekan depan umat Islam sudah memasuki Tahun Baru Islam 1446 H yang jatuh pada 1 Muharram. Ini menjadi momen yang tepat bagi khatib Jumat untuk menyampaikan khutbah Jumat bulan Muharram bahasa Jawa pekan ini.

    Masyarakat muslim Jawa menyebut Muharram sebagai bulan Suro. Muharram atau Suro adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah/Jawa.

    Muharram termasuk satu bulan haram atau bulan yang disucikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,


    “Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun ada dua belas bulan, darinya ada empat bulan haram, tiga di antaranya adalah Zulkaidah, Zulhijah dan Muharram, sedangkan Rajab adalah bulan Mudhar yang di antaranya terdapat Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari Muslim)

    Khutbah Jumat Bulan Muharram Bahasa Jawa

    Berikut empat contoh naskah khutbah bulan Muharram bahasa Jawa yang bisa menjadi referensi khatib Jumat pekan ini.

    1. Miwiti Wulan Muharram Kanthi Amal Kasaenan

    أَلْخُطْبَةُ الْأُوْلَى

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُصَرِّفِ الْأَوْقَاتِ وَالدُّهُوْرِ. وَمُدَبِّرِ الْأَحْوَالِ فِى الْأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ. وَمُسَهِّلِ الصِّعَابِ وَمُيَسِّرِ الْأُمُوْرِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الرَّحِيْمُ الْغَفُوْرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهَ وَرَسُوْلُهُ الشَّكُوْرُ الصَّبُوْرُ.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَضَاعِفِ اللَّهُمَّ لَهُمُ الْأُجُوْرَ.

    أمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ, فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى.

    Jamaah sholat Jumat hafidhakumullah,

    Monggo sareng-sareng ningkataken taqwalloh, ajrih dumateng ngarsonipun Alloh, kanti nindaaken sedoyo printah-printah-Ipun soho nebihi sedoya awisan-awisan-Ipun. Sepados kitho sedoyo manggehaken kawilujengan soho kebahagiaan wonten ing dunyo ngantos akhiratipun.

    Gilir-gumantinipun dinten, wulan soho tahun estu cepet sanget. Mboten krahos, kita sampun lumebet wonten tahun hijriyah engkang enggal, 1446. Kanthi datengipun tahun enggal, ateges soyo caket kita dateng ajal utawi kematian. Kontrak gesang kita wonten ngalam dunyo ugi soyo telas.

    Subhanallah, Alloh Subhanahu wa Ta’ala andadosaken awal tahun hijriyyah dipun wiwiti kalian wulan haram, lan ugi dipun pungkasi kalian wulan haram. Tahun hijriyyah dipun wiwiti wulan Muharram lan dipun pungkasi kaliyan wulan Dzulqo’dah. Dipun wastani wulan Muharram, kranten Alloh swt ngararamaken peperangan lan konflik wonten ing wulan mulyo meniko. Wulan Muharram meniko ugi kalebet wulan-wulan harom, inggih meniko Muharram, Dzulhijjah, Dzulqo’dah, lan Rojab.

    Imam Fakhruddin ar-Razi wonten Tafsiripun anjelasaken bilih saben-saben penggawe maksiat wonten wulan harom bade kawales sikso engkang aurat, semanten ugi, nindaaken ibadah dateng Alloh bade dipun lipatgandaaken ganjaranipun. Panjenenganipun ngendiko:

    وَمَعْنَى الْحَرَمِ: أَنّ الْمَعْصِيَّةَ فِيْهَا أَشَدُّ عِقَاباً وَالطَّاعَةَ فِيْهَا أَكْثَرُ ثَوَاباً

    “Maksud tembung haram inggih meniko, estu nindaaken maksiat wonten wulan kasebat kabales sikso engkang berat, lan nindaaken taat wonten wulan kasebat ganjaranipun langkung kathah.”

    Jamaah sholat Jumat hafidhakumullah,

    Wulan Muharram meniko momentum sae kangge ningkataken kesaenan soho ketakwaan dateng Allah. Kita kedah ngoptimalaken wulan meniko kanthi nindaaken macem-macem amal kesaenan, hinggo wulan-wulan candakipun kita bade gampil nindaken soho ningkataken macemipun amal kesaenan. Paro ‘ulomo andawuhaken:

    مَنْ كَانَتْ بِدَايَتُهُ مُحْرِقَةً كَانَتْ نِهَايَتُهُ مُشْرِقَةً

    “Sopo wae kang kawitan e ngobong (tenanan), mongko pungkasane dadi padang (gampang).”

    Kita kedah anggadahi tekat kuat nindaaken amal kesaenan wonten awal tahun meniko, sami ugi amalan umum utawi amalan khusus wonten wulan Muharram meniko. Amalan-amalan khusus engkang dipun perintahaken kagem kita wonten wulan Muharram antawisipun:

    Ngthah-ngathahaken poso sunnah mutlak

    Poso mutlak inggih puniko poso engkang kita tindaaken kanthi niyat nambah ganjaran soho ngeparek dateng ngarso Alloh. Kita pareng nindaaken siyam wonten sebagian besar dinten wulan Muharram meniko. Sami ugi wonten dinten-dinten awal, pertengahan utawi dinten-dinten akhir. Hal meniko dipun dasaraken kaliyan dawuh pangandikonipun Kanjeng Nabi SAW:

    أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ. (رواه مسلم)

    “Poso paling utami sak ba’dane wulan Romadhon inggih puniko poso wonten wulanipun Alloh engkang nami Muharram.” (HR Muslim)

    Nindaaken poso ‘Asyuro’

    Poso Asyura’ inggih puniko poso tanggal sedoso Muharram. Keutamaanipun poso Asyuro’ meniko saget anglebur doso-doso setahun ingkang sampun kalampah. Abu Qotadah al-Anshori RA ngendiko:

    سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ. (رواه مسلم)

    “Rosul SAW nate dipun dangu poso dinten ‘Asyura’, lajeng panjenenganipun njawab: “Ngebur doso-doso setahun engkang klewat.” (HR Muslim)

    Nyampurnaaken kanthi poso Tasu’a

    Poso Tasu’a’ inggih meniko poso tanggal songo wulan Muharram. Arikolo sugengipun Rasulalloh saw dereng sempat nindaaken siyam meniko. Mung kemawon, setunggal tahun sak derengipun wafat panjeneganipun bertekat bade nindaaken poso Tasu’a’ meniko kanthi dawuh:

    لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ. (رواه مسلم)

    “Yekti lamun aku menangi urip tahun ngarep, aku arep poso dino kaping songo (Muharrom).” (HR Muslim)

    Sampun kita maklumi, bilih tyang-tyang Yahudi lan tyang-tyang Arab jahiliyyah sami nindaaken siyam tanggal sedoso Muharram. Kranten meniko, Rosul saw nambahaken siyam tanggal songo Muharram supados kaum muslimin mbenteni kaliyan tyang-tyang Yahudi soho kaum musyrikin, serto mboten nyeruponi ritual ibadahipun.

    Maringi tambahan nafkah kagem anak istri

    Rasulalloh Muhammad SAW dawuh:

    مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سّنَتَهُ كُلَّهَا. (رواه الطبراني)

    “Sopo wonge pareng kajembaran nafkah kanggo keluwargane ono dino ‘Asyura’, Alloh bade pareng jembare rizki sepanjang tahun.” (HR ath-Thabrani)

    Mboten wonten lepatipun wenawi kita nambah arto belanjo kagem keluwargo wonten wulan Muharram lan wulan-wulan sak candakipun. Kejawi mergi kebetahan pokok saben tahun pancen mindak reginipun, ugi ganjaran pareng nafkah dateng keluwargo langkung ageng. Ibnu Uyainah ngendiko: “Aku wes buktikake selami seket tahun utawi suwidak tahun, aku ora ningali kejobo keapikan.”

    Jamaah sholat Jumat hafidhakumullah,

    Sebab menopo tanggal sedoso Muharram dipun sebat dinten ‘Asyuro’? Badaruddin al-‘Aini wonten kitabipun Umdatul Qari’ anjelasaken setunggal pendapat bilih wonten dinten ‘Asyura’ Alloh pareng kemulyaan soho kehormatan dateng sedoso nabi-Nipun. Inngih meniko: (1) kemenangan Nabi Musa dateng Fir’aun, (2) pendaratan kapal Nabi Nuh, (3) keselamatan Nabi Yunus medal saking perut ikan, (4) ampunan Alloh dateng Nabi Adam AS, (5) keselamatan Nabi Yusuf medal saking sumur pembuangan, (6) kelahiran Nabi Isa AS, (7) ampunan Alloh kagem Nabi Dawud, (8) kelahiran Nabi Ibrahim AS, (9) Nabi Ya’qub saget mersani malih, lan (10) ampunan Alloh kagem Nabi Muhammad, sami ugi kesalahan engkang sampun klewat utawi engkang bade katindaaken.

    Kejawi meniko, poro ulomo ugi anjelasaken keistimewaan-keistimewaan poro nabi wonten dinten ‘Asyura’, kados minggahipun Nabi Idris dateng panggenan wonten langit, sembuhipun Nabi Ayub saking penyakit, lan pengangkatan Nabi Sulaiman dados raja.

    Saking kedodosan-kedadosan wonten nginggil, dinten ‘Asyuro’ meniko dinten engkang sanget istimewa. Kranten meniko, dinten ‘Asyura’ dados momentum sae kagem nulodoni akhlak poro nabi, akhlak engkang mulyo, lemah lembut, soho menjunjung tinggi kasih sayang, bebagi dateng anak-anak yatim, tuwin kerukunan. Ngedohi keawonan, penghinaan, kekerasan, permusuhan, lan adu domba. Imut, kesaenan wonten wulan meniko dipun lipatgandaaken ganjaranipun. Keawonan wonten wulan meniko dipun lipatgandaaken dosa lan malapetakanipun.

    Jamaah sholat Jumat hafidhakumullah,

    Mugi-mugi kanti ngoptimalaken wulan Muharrom meniko kanthi nindaaken amal-amal kesaenan, Alloh pareng kemudahan kita ngoptimalaken wulan-wulan candakipun kanti amal-amal kesaenan hinggo kita saget anggayuh kebahagiaan wonten dunyo lan keselamatan wonten akhirat. Aamiin.

    وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ. وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ. إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

    باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

    أَلْخُطْبَةُ الثَّانِيَّةُ

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى. وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ. أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ارْفَعْ وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْن وّفِرُوسْ قَرَنَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ،عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيأ حَسَنَةً, وَفِى ألآخِرَةِ حَسَنَةً, وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعّالّمِيْنَ.

    عِبَادَ اللهِ. إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُؤْتِكُمْ. وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

    Naskah khutbah Jumat bulan Muharram bahasa Jawa ini ditulis Wakil Katib PCNU Ponorogo seperti dilansir NU Ponorogo.

    2. Makno Hijroh Wulan Muharram

    Khutbah I:

    اَلْحَمْدُ للّٰه الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه ، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين

    أَمَّا بَعْدُ: فَياَ اَيُّهاَ الْحَاضِرُوْنَ ، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ: إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَٰهَدُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أُولَٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللهِۚ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Jamaah Jumat ingkang minulyo

    Monggo kito tansah netepi lan ningkataken takwo dumateng Gusti Allah kanti ngelampahi sedoyo perintahipun soho nebihi sedoyo awisanipun ngantos kito mbenjing pejah kelawan netepi agomo Islam. Gusti Allah dawuh wonten surat Ali Imran, 102:

    يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    “Hei wong-wong kang podo iman, takwoho siro kabeh marang Gusti Allah kanti saktemene takwo, lan ojo mati kejobo netepi Islam.”

    Salah setunggale tindak lampah ingkang kalebet takwo nggih meniko noto niat hijroh tumuju maring Gusti Allah lan Rasulullah. Kanjeng Nabi dawuh:

    إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

    “Anging pestine piro-piro amal niku diukur saking niyate lan saben awak-awakan niku dipun tingali saking nopo-nopo ingkang diniati, sopo wonge hijrohe marang Gusti Allah lan Rasule, mongko hijrohe marang Gusti Allah dan Rasule, lan sopo wonge hijrohe krono dunyo utawi tiyang istri kang bakal dinikahi, mongko hijrohe tumuju marang perkoro kang diniati.” (HR Bukhari, Muslim)

    Wonten Syarah Arbain anggitanipun Ibnu Daqiq mertelaaken bilih hadits meniko salah setunggale punjere Islam. Imam Syafii lan Imam Baihaqi dawuh bilih hadits kasebat kalebet sepertelune ilmu. Amergi pitung puluh bab fikih melebet wonten hadits niki.

    Hadirin ingkang dipun rahmati Allah

    Saking hadits meniko, kito tiyang muslim kedah noto niat sae anggenipun hijroh, keranten sedoyo tindak lampah ingkang angsal ganjaran agung meniko saking niatipun piyambak-piyambak. Kanjeng Nabi dawuhaken maknone hijroh nggih meniko:

    الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

    “Tiyang muslim niku tiyang ingkang nyelametaken muslim lintu saking lisan lan tangane, tiyang hijroh niku tiyang ingkang ninggal larangane Gusti Allah.” (HR. Bukhari)

    Sakmangke wulan Dzulhijjah bade telas lan melebet wulan Muharram, setunggale wulan ingkang mulyo lan dados tahun barune umat Islam, tahun baru hijriah. Kito sedoyo dipun sunnahaken nindakaken amal kesaenan kados dene wulan mulyo lintu. Gusti Allah dawuh:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

    “Saktemene itungane wulan mungguhe Gusti Allah iku rolas wulan, miturut pepesten Gusti Allah ingdalem nalikane nitahaken langit bumi. Ing antawisipun wonten sekawan wulan mulyo (harom). Meniko pepesten agomo kang lurus.” (At Taubat: 36)

    Wulan-wulan harom dipun tafsiri Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah. Imam Fakhruddin Arrazi ing tafsir Arrazi juz 16, halaman 53 mertelaaken makno “harom” niku saben tindak lampah maksiat ing wulan harom bakal dipun wales sikso gede, ugi tindak lampah kesaenan lan ibadah maring Gusti Allah bakal dipun wales ganjaran ingkang agung.

    وَمَعْنَى الْحَرَمِ: أَنّ الْمَعْصِيَةَ فِيْهَا أَشَدُّ عِقَاباً ، وَالطَّاعَةُ فِيْهَا أَكْثَرُ ثَوَاباً

    “Makno harom niku tegese maksiat ing wulan meniko merkoleh sikso ingkang abot lan taat ing wulan meniko bakal merkoleh ganjaran ingkang agung.”

    Jamaah Jumat rahimakumulLah

    Pramilo, ing wulan meniko monggo sami ningkataken amal kesaenan lan njungkung ibadah dumateng Gusti Allah, keranten wulan Muharram nggadah kautaman ingkang katah sanget. Ampun ngantos kito angguraken mboten wonten kesaenan babar pisan.

    Abu Na’im ing kitab Hilyatul Auliya’ juz 9 halaman 269 negesaken:

    مَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ فِي نُقْصَانٍ

    Artosipun: Sopo wonge dino iki kahanane podo karo dino wingi, mongko piyambake wonten kekirangan

    Monggo, hijroh ing wulan Muharram kedah dipahami ninggalaken perkawis ingkang awon, penggawe maksiat tumuju marang perkawis ingkang dipun perintah Gusti Allah lan nderek pituduh saking Kanjeng Nabi serto njagi guyub lan rukun. Mugi kito tansah pinaringan rohmat lan maunah saking Gusti Allah.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II:

    اَلحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ. وَأَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالبَشَرِ. اَللَّهُمُّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ

    أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبادَ الله إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَخُضُوْرِ الجُمُعَةِ وَالجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ المُسَبِّحَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيَّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وِسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

    اللَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَهلِكِ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اَمِنَّا فِى دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمَوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالوَبَاءَ والرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بِلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ المُسلِمِينَ العَامَّةً يَارَبَّ العَالَمِينَ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبادَ الله ! إِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى القُربَى وَيَنْهَى عَنِ الفَخْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرُوْنَ, فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكبَرُ

    3. Ngusap Sirahe Bocah Yatim ing Wulan Muharram

    Khutbah I:

    اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    Hadirin Jamaah Jumat rahimakumulLah

    Monggo kito sami netepi lan ningkataken takwo dumateng Gusti Allah kanti tansah nindakaken sedoyo perintahipun soho nebihi sedoyo awisanipun ing panggenan pundi kemawon, rame utawi sepi. Amergi kelawan takwo kito sedoyo bakal pikantuk kabegjan lan selamet dunyo akherat, kempal kaliyan tiyang-tiyang ingkang temen anggenipun taat dumateng perintahe Gusti Allah.

    Gusti Allah dawuh:

    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

    “Hei wong-wong kang podo iman, takwoho siro kabeh marang Allah, lan kumpulo sertane wong-wong kang temen. ” (At Taubah: 119)

    Sholawat serto salam keaturaken dumateng Kanjeng Nabi Muhammad ingkang sampun nuduhaken kito marang dalan ingkang jejeg, sehinggo kito paham iman, islam lan ihsan. Ugi saking Kanjeng Nabi Muhammad, kito sedoyo ngajeng syafaatipun mbenjang dinten kiamat.

    Wonten wekdal meniko, wulan Muharram katah tiyang ingkang sami cancut taliwondo nindaaken amal ibadah kranten ganjaranipun ageng sanget. Ing antawisipun amal kesaenan ingkang masyhur nggih puniko ngusap sirahe bocah yatim

    Setunggale hadis bab ngusap sirah bocah yatim dipun riwayataken Imam Ahmad saking Abi Umamah:

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ اُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

    “Saktemene Rasulullah dawuh, sopo wonge ngusap sirahe bocah yatim krono Allah, mongko saben rambut kang diusap bakal dipun wales kelawan sepuluh kesaenan, lan sopo wonge tumindak bagus marang bocah yatim; wadon utowo lanang onok sandinge, mongko ingsun lan wong kolowau ingdalem suwargo koyo dene driji loro iki. Kanjeng Nabi aweh isyarat driji telunjuk lan tengah.”

    Hadis niki pertelo sanget, bilih tiyang ingkang ngusap sirahe bocah yatim, estri utowo jaler, mongko bakale mlebet suwargo saget gandeng kaliyan Kanjeng Nabi Muhammad.

    Jamaah Jumat ingkang minulyo

    Tumindak bagus dumateng bocah yatim niku saget dipun wiwiti kaliyan wigati, perhatian. Langkung-langkung ngusap sirahe. Kranten saking hadis wonten inggil dipun pertelaaken bilih ngusap sirah bocah yatim bakal pikantuk ganjaran ageng.

    Saklintune pikantuk ganjaran, ngusap sirah bocah yatim nggadah kautaman ingkang dipun sebataken:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ

    “Diriwayataken saking Abu Hurairah, saktemene onok wong lanang wadul marang Kanjeng Nabi babakan atose ati, lajeng Nabi ngendikan: ngusapo sirahe bocah yatim lan aweho daharan marang wong miskin.” (HR Ahmad)

    Hadis meniko negesaken bilih tumindak bagus dumateng bocah yatim lan aweh daharan tiyang miskin niku kautamane saget nyebabaken ati ingkang atos dados empuk. Sinten kimawon ingkang atine peteng lan atos obate arupi ngelampahi ngusap sirah bocah yatim lan aweh daharan fakir miskin, kranten saget dados tombo ati, ugi nukulaken raos welas asih lan trisno.

    Hadirin ingkang sami pinaringan kabegjan

    Ngusap sirah bocah yatim niku saget dipun maknani dados lambange welas asih antawisipun tiyang sepuh dumateng bocah alit lan trisnane bocah marang bopo. Leres nopo ingkang dipun dawuhaken ing setunggale hadis riwayat saking Ibn Abbas:

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَ عَنْ الْمُنْكَرِ

    “Diriwayataken saking Ibn Abbas, piyambake dawuh, Rasulullah ngendiko: Ora kelebu golongan ingsun, wong kang ora welas marang bocah cilik, ora ngajeni wong sepuh, ora ngajak marang kebagusan, lan ora nyegah kemungkaran.” (HR Tirmidzi)

    Pramilo, monggo kito sami njagi, mbudidayaaken welas asih dumateng bocah yatim, fakir miskin. Lan mugi-mugi kelawan lantaran welas asih, penggalih kito sedoyo dados empuk lan tansah pikantuk ridone Gusti Allah. Amiin.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II:

    اَلحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ. وَأَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالبَشَرِ. اَللَّهُمُّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ

    أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبادَ الله إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَخُضُوْرِ الجُمُعَةِ وَالجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ المُسَبِّحَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيَّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وِسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

    اللَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَهلِكِ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اَمِنَّا فِى دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمَوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالوَبَاءَ والرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بِلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ المُسلِمِينَ عَامَّةً يَارَبَّ العَالَمِينَ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبادَ الله ! إِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى القُربَى وَيَنْهَى عَنِ الفَخْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرُوْنَ, فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكبَرُ

    Dua contoh naskah khutbah Jumat di atas dilansir dari NU Jatim.

    4. Amaliah Sasi Suro

    Contoh naskah khutbah Jumat selanjutnya berjudul Amaliah Sasi Suro Syekh Abdul Hamid. Khutbah ini disusun Tim al-‘Imaroh Lembaga Pelatihan Manajemen Keta’miran dan Waqaf.

    الْحَمْدُ لِلهِ … الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الزَّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيُعَظَّمُ فِيهَا الْأَجْرُ والحَسَنَاتُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ فِي أَنْحَاءِ البلاد.

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ . قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةً حُرُمُ [التوبة/٣٦]

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumulLah

    Saka ndhuwur mimbar meniko, dalem paring piweling marang kito sedoyo, khususe khotib kiyambak, supados tansah ngupaya nambahi taqwa marang Allah subhanahu wa ta’ala kanthi nindakake sedanten kuwajiban kanthi tekad lan mantep e manah, lan ngedohi sedanten larangan ipun Allah kanthi kebak tabah lan sabar. Sebab kanthi mangkono, gesang kito bakal cocok kalian tujuan kito dipun ciptaaken Allah.

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

    “Lan Ingsun ora nitahake jin lan manungsa kajaba mung supaya padha nyembah marang Ingsun.” (Az Zariyat: 56)

    Jamaah Jumat rahimakumullah..

    Mboten dangu maleh kita bakdene ninggalake Dzulhijjah, wulan pungkasan tahun 1445 H lan lumebet wonten sasi Muharram, wulan awal taun anyar 1446 H. Wong Jawa nyebutake wulan Muharram “Sasi Suro” lan wonten acara gedhe sing diarani ” Bodo Suro”. Tumrap umat Islam, Muharram pancen mujudake momen sing mulya amargi wulan meniko minangko wulan pertama taun anyar. Wajar menawi ing kawontenan punika dipun wastani “Hari Raya Kaum Muslimin” sebab wonten ing wulan Muharram kathah kenang-kenangan lan ing salebetipun punika wonten amalan-amalan sunnah ingkang dipun anjuraken sanget.

    Jamaah Jumat rahimakumullah..

    Ing antarane amalan ing wulan Muharram yaiku: Kapisan, ngatah-ngatah aken siyam kados ingkan sampun dipangandikakake dening Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    أَفْضَلُ الصَّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ (رواه مسلم)

    “Poso sing paling apik sawise Ramadhan yaiku poso ing wulan Muharram lan paling apik shalat sawise shalat fardhu yaiku shalat wengi.” (HR Muslim)

    Nalika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ditakoni babagan pasa ‘Asyura’, panjenengan ipun mangsuli:

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامُ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. سنن ابن ماجه – (ج ٥ ص ٢٧٣)

    “Puasa ing dina Asyura, sejatine aku mikir yen Allah bakal ngilangi kesalahane taun kepungkur.” (HR Ibnu Majah)

    Kapindho, sunnah kanggo kita nambahi belanja kanggo kulawarga kita ing dina kaping sepuluh Muharram. Iki adhedhasar pangandikane Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ . شعب الإيمان – البيهقي – (ج ٣ ص ٣٦٦)

    “Sing sapa nambahi belanja kanggo nafkah kulawargane (garwane, anak lan wong kang dikaruniai) ing dina Asyura, Allah bakal nambahi rezekine ing salawase taun.” (HR al-Baihaqi)

    Jamaah Jumat rahimakumullah..

    Para ulama nggolongake jinis-jinis amalan inggkang sahe ditindakake ing wulan Muharram, yaiku: sholat, siyam, njagi silaturahmi, sedekah, adus, nganggo celak moto, ziarah marang ulama (urip lan mati), ziarah wong lara, nambah blonjo / nafkah keluarga, ngetok i kuku, ngusap sirah anak yatim lan maca surat al-Ikhlas kaping 1000 ambalan.

    Mula Syekh Abdul Hamid ing kitab Kanzun Naja was Surur Fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur nyimpulake amalan sing disaranake ing wulan Muharrom:

    فِي يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ بِهَا اثْنَتَانِ وَلَهَا فَضْلُ نُقِلْ صُمْ صَلِّ صَلِّ زُرْ عَالِماً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ وَسَّعْ عَلَى العِيَالِ قَلِمْ ظُفْرَا وَسُوْرَةَ الْإِخْلَاصِ قُلْ أَلْفَ تَصِلْ

    “Ing wulan Asyura iku ana sepuluh amalan, ditambah karo amalan loro sing luwih sampurna. Puasa, sholat, terus silaturahmi, ziarah wong solehah, ziarah wong sing lara lan nyelak i mripat, usap sirah bocah yatim, sedekah, lan adus, nambah nafkah e keluarga, ngethok kuku, maca surat Al-Ikhlas kaping sewu.”

    Jamaah Jumat rahimakumullah..

    Muga-muga pergantian taun hijriyah nggawa berkah kanggo umur kita kanthi sinau lan ngisi nilai-nilai positif ing njerone, yaiku amliyah ala ahli sunnah wal jawmaah. Amin Ya Robbal Alamin

    Tahun dalam naskah khutbah Jumat bulan Muharram bahasa Jawa yang bertema amaliah Suro tersebut telah disesuaikan.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com