Tag: dada

  • Tips Pilih Bantal yang Pas Berdasarkan Posisi Tidur


    Jakarta

    Memilih bantal yang pas perlu dilakukan agar kualitas tidur tetap terjaga. Kamu bisa juga lho memilih bantal yang tepat sesuai dengan posisi tidur.

    Bantal dirancang untuk menyangga kepala, leher, dan bahu agar tulang belakang tetap sejajar saat tidur. Posisi tulang belakang memengaruhi postur tubuh, yang merupakan bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    Tidur di atas bantal yang tidak memadai dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk nyeri leher dan kualitas tidur yang buruk. Bantal yang tepat dapat membantu Anda mendapatkan tidur malam yang lebih baik.


    Nah, ada bantal yang cocok untuk posisi tidur tertentu. Dilansir dari sleepdoctor dan sleepopolis, berikut ini informasinya.

    Posisi Tidur Telentang

    posisi tidurposisi tidur telentang. Foto: iStock

    Jika kamu sering tidur dalam posisi telentang, penting untuk menggunakan bantal yang dapat menyangga lekuk leher kamu. Biasanya bantal yang diperlukan sepertiga lebih tinggi dari bagian bawah.

    Orang yang tidur telentang juga memerlukan bantal dengan kekencangan sedang yang memungkinkan kepala sejajar dengan tulang belakang. Bantal ini juga mencegah bantal menjadi terlalu datar saat dipakai tidur. Untuk bahannya, kamu bisa mempertimbangkan memakai memory foam karena bahan tersebut dapat menyesuaikan tekanan.

    Posisi Tidur Miring

    Posisi Tidur agar Cepat HamilPosisi tidur miring. Foto: Getty Images/EmirMemedovski

    Nah, untuk kamu yang senang tidur dengan posisi miring butuh bantal yang tinggi. Kamu bisa memilih bantal dengan tinggi 4-6 inci untuk menjaga hidung tetap sejajar dengan tulang dada, mengisi ruang antara telinga dan bahu luar.

    Posisi ini mencegah ketegangan leher dan membantu Anda mempertahankan postur tubuh yang tepat saat tidur. Selain itu, penggunaan guling juga cocok untuk posisi tidur miring untuk menopang panggul dan pinggul.

    Untuk bahan bantal yang cocok untuk posisi tidur ini bisa menggunakan memory foam maupun lateks yang lebih padat.

    Posisi Tidur Tengkurap

    posisi tidurposisi tidur tengkurap. Foto: iStock

    Orang yang tidur tengkurap mungkin perlu mempertimbangkan bagian tubuh mana yang membutuhkan dukungan untuk menjaga keselarasan tulang belakang saat mereka tidur. Posisi tidur tengkurap dapat memberi tekanan pada tulang belakang atau otot-otot punggung dan bahu. Dalam beberapa kasus, para ahli menyarankan orang dengan nyeri punggung untuk tidak tidur tengkurap.

    Namun, kalau kamu merasa paling nyaman tidur tengkurap, pilih bantal yang lembut dan tidak terlalu tinggi. Kamu bisa pilih bantal yang tidak terlalu padat dan bisa disesuaikan ketinggiannya agar tidur lebih nyaman.

    Itulah beberapa cara untuk memilih bantal yang pas berdasarkan posisi tidur. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pembelahan Dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat mulia dan menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Hati beliau sangat suci, bebas dari segala sifat buruk seperti kesombongan, iri, dengki, dan syirik.

    Sejak kecil, Allah SWT telah membersihkan hati Nabi Muhammad SAW dengan cara yang luar biasa. Salah satunya melalui kisah pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril berikut ini.

    Kisah Pembelahan Dada Nabi Muhammad SAW

    Diceritakan dalam buku Kisah Manusia Paling Mulia yang disusun oleh Neti S, pada masa kecilnya, Nabi Muhammad SAW menghabiskan waktunya di pedalaman Bani Sa’ad ikut ibu sepersusuannya. Beliau tumbuh menjadi anak yang sehat, berhati baik, dan fasih dalam berbahasa.


    Nabi Muhammad SAW hidup dengan rukun dan penuh kasih sayang bersama saudara sepersusuannya. Kesehariannya, mereka bermain dan menggembala kambing bersama di padang penggembalaan Bani Sa’ad.

    Pada suatu ketika, saat Nabi Muhammad SAW menggembala kambing bersama saudara sepersusuannya, datanglah Malaikat Jibril menghampiri Nabi Muhammad SAW dalam wujud manusia. Malaikat Jibril lantas memegang tangan mungil Nabi Muhammad SAW, hingga membuat beliau terkejut dan pingsan.

    Malaikat Jibril kemudian meletakkan Nabi Muhammad SAW yang tak sadarkan diri di atas batu. Di saat ini pula, Jibril mulai membelah dada Nabi SAW. Jibril mengeluarkan segumpal darah hitam dari hati beliau yang telah dibelah, kemudian membuangnya.

    Setelah itu, hati Nabi Muhammad SAW dibersihkan dengan air zamzam yang disimpan dalam wadah emas. Setelah hati Nabi Muhammad SAW bersih, Jibril meletakkannya kembali ke tempat semula.

    Melihat kejadian ini, para saudara persusuan Nabi Muhammad SAW sangat ketakutan. Mereka kemudian berlari pulang dan menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya, Halimah.

    “Ibu…ibu…Muhammad….dibunuh! Muhammad dibunuh!” kata mereka dengan menjerit-jerit.

    “Ada apa dengan saudaramu?” tanya Halimah cemas.

    “Muhammad…. ada orang yang ingin melukainya,” jawab mereka dengan terbata-bata.

    Halimah yang terkejut dan cemas setelah mendengarnya, segera mendatangi padang gembalaan tempat Nabi Muhammad SAW berada.

    Sesampainya di sana, Halimah melihat Nabi Muhammad SAW sedang menggembalakan kambing dalam kondisi yang baik-baik saja dan tidak ada luka atau goresan yang mengkhawatirkan pada diri anak susuannya itu. Bahkan, wajah Nabi Muhammad SAW terlihat lebih cerah dari biasanya.

    “Apa yang telah terjadi padamu, wahai anakku?” tanya Halimah.

    “Dua orang laki-laki berjubah putih telah mengambil sesuatu dari tubuhku,” Nabi Muhammad SAW menjawab dengan polosnya.

    “Apa itu?” tanya Halimah dengan wajah khawatir. “Aku tidak tahu,” jawab Nabi Muhammad SAW.

    “Kamu tidak apa-apa?” tanya Halimah sambil memeriksa tubuh Nabi Muhammad SAW untuk memastikan kembali keadaan anak susuannya itu. Namun, ia tetap tidak menemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan pada diri Nabi Muhammad SAW.

    Halimah pun segera membawa Nabi Muhammad SAW dan anak-anaknya pulang dengan rasa waswas akan keselamatan anak susuannya tersebut. Peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW di padang gembalaan itu benar-benar telah mengganggu pikiran Halimah.

    Dalam beberapa riwayat, yang dikutip dari buku The 10 Habits of Rasulullah karya Rizem Aizid, air yang digunakan untuk membersihkan hati Rasulullah SAW tersebut bukan air zamzam, melainkan air dari surga. Peristiwa pembelahan dada ini pun terjadi dua kali, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW berusia empat tahun dan sepuluh tahun.

    Dalam buku Meneladani Rasulullah melalui Sejarah karya Sri Januarti Rahayu disebutkan bahwa, tidak lama setelah kejadian pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril, Halimah mengembalikan beliau kepada sang ibu, Aminah.

    Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW merasakan kebahagiaan karena bisa hidup bersama ibunda. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama, karena sang ibu, Aminah, meninggal dunia saat Nabi Muhammad SAW berusia enam tahun.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com