Tag Archives: detikcom

Davina Karamoy Ngomongin Cheating Day, Sah-sah Saja Tapi Ada Syaratnya


Jakarta

Punya body yang ideal, aktris cantik Davina Karamoy ternyata tidak ketat-ketat amat soal diet. Termasuk soal cheating day, ia ternyata tidak terlalu membatasi diri.

“Kalo cheating day aku kadang selama masih dalam hal proses yang baik, itu gapapa sih,” katanya kepada detikcom, ditemui di Jakarta Utara, Sabtu (11/10/2026).

“Boleh untuk kita mensupport untuk diet, untuk menurunkan berat badan, itu ga masalah,” lanjutnya, masih soal cheating day.


Cheating day merupakan salah satu kelonggaran yang dibuat untuk mengatasi rasa jenuh saat diet. Jika sehari-hari pola makan diatur ketat, saat cheating day seseorang bisa sedikit melonggarkan supaya tidak jenuh.

Namun demikian, Davina punya catatan soal cheating day. “Aku rasa, cheating day itu better untuk dikonsul dulu,” sarannya.

Meski tidak ketat-ketat amat soal urusan makan, Davina dikenal cukup aktif berolahraga. Menurutnya, hal itu juga menjadi penyeimbang.

Saat ini, ia dikenal tengah menggeluti olahraga padel. Bahkan di beberapa kesempatan, ia juga mengikuti event kompetitif bersama rekan sesama selebritis.

Soal olahraga, padel bukan satu-satunya yang dilakukan Davina. Selain masih tenis, yang membuatnya tertarik menjajal padel, ia juga menekuni olahraga lain.

“Aku masih tenis, pilates, terus olahraga banyak sebenarnya, padel, banyak lagi,” katanya.

(up/up)

Sumber : health.detik.com

Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
image : unsplash.com / Jonas Weckschmied

Tren Viral ’10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat’: Kenyang Doang, Gizi Aman?


Jakarta

Tren viral ’10 ribu di tangan istri yang tepat’ memantik polemik di media sosial. Banyak yang menganggapnya sebatas lelucon, tapi harus diakui ada sindiran sosial yang perlu direnungkan.

Untuk sekadar kenyang, anggaran Rp 10 ribu mungkin masih bisa mengenyangkan bagi individu atau hitungan satu orang. Itupun mungkin dengan menu yang alakadarnya, masih menyisakan pertanyaan apakah nutrisinya seimbang.

Salah satu hal yang harus jadi pertimbangan saat bicara menu makanan adalah angka kecukupan gizi (AKG). Praktisi gizi klinis dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK mengatakan, orang dewasa umumnya membutuhkan AKG harian 1.500-2.000 kalori, dengan 15-20 persen protein, 50-60 persen karbohidrat, dan sisanya lemak sehat dan mikronutrien.


“Sehingga jika pola makan dengan budget Rp 10.000 sehari berlangsung terus menerus, ada risiko malnutrisi yang signifikan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, atau balita,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Kamis (9/10/2025).

Sementara itu, Nida Adzilah Auliani, Project Lead for Food Policy Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengaitkan fenomena ini dengan masalah malnutrisi yang dihadapi Indonesia saat ini. Setidaknya ada 3 masalah yang dihadapi, yakni overweight, underweight, dan hidden hunger.

Dalam kondisi hidden hunger atau kelaparan tersembunyi, seseorang tidak mendapat asupan mikronutrien yang dibutuhkan. Di saat yang sama, orang tersebut tidak benar-benar merasa lapar.

“Bisa jadi dia sudah merasa kenyang karena mengonsumsi banyak karbohidrat, tetapi tidak mendapatkan asupan vitamin dan mineral yang sesuai,” jelas Nida.

Pada beberapa individu, anggaran Rp 10 ribu mungkin bisa-bisa saja mencukupi kebutuhan nutrisi. Namun secara umum, hal itu sulit direalisasikan. Maraknya konten di media sosial tentang belanja Rp 10 ribu untuk makan bisa jadi refleksi, tentang masalah gizi yang perlu diatasi.

(up/up)

Sumber : health.detik.com

Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
image : unsplash.com / Jonas Weckschmied

‘Dikukus’ di Kelas Inferno Hot Pilates, Benarkah Efektif Pangkas BB?


Jakarta

Inferno hot pilates belakangan mulai memiliki banyak peminat. Variasi dari olahraga pilates dan high intensity interval training (HIIT) ini dianggap mampu memberikan banyak manfaat, salah satunya menurunkan berat badan.

Sesuai namanya, inferno hot pilates dilakukan di ruangan yang panas, sekitar 33 hingga 35 derajat celsius. Latihan ini berfokus pada penguatan otot inti dan seluruh tubuh dengan gerakan low-impact (aman untuk sendi), namun intens.

Salah satu instruktur di Minna Pilates, Mindy mengatakan inferno hot pilates ini diklaim lebih banyak membakar kalori.


“Terus after workout-nya, kalori yang terbakar dalam tubuh itu katanya bisa sampai 24. Tergantung sama tubuh masing-masing,” kata Mindy saat ditemui detikcom di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sabtu (22/11/2025).

Namun, Mindy yang telah memiliki sertifikasi STOTT ini menambahkan bahwa untuk mereka yang ingin menurunkan berat badan secara optimal, menjaga pola makan tetaplah kunci utama.

“Tetap itu pasti dari mulut, jadi from our kitchen. Jadi ada yang bilang 60 persen itu dari makanan, 40-nya dari kita workout. Jadi nggak ada yang namanya kurus kalau nggak jaga makan,” katanya.

Memang, inferno hot pilates ini sedang booming di Tanah Air, setidaknya mulai tahun 2024. Mindy menambahkan bahwa muridnya yang mengikuti kelasnya beragam, mulai dari Gen Z hingga lansia.

“Hasilnya tuh lebih maksimal daripada kita cuman pilates di ruangan yang biasa,” kata Mindy.

“(Pilates) biasa kan ber-AC nih, nah ini di ruangan panas. Jadi lebih cepat untuk cewek-cewek itu jadi lebih toned, lebih jadi badannya, lebih lean,” tutupnya.

(dpy/suc)

Sumber : health.detik.com

Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
image : unsplash.com / Jonas Weckschmied

Viral Semangka Bikin Testpack Positif, Dokter Gizi Bilang Begini


Jakarta

Sebuah postingan di media sosial menunjukkan hasil testpack ‘positif’ saat ditancapkan ke buah semangka. Dalam video yang beredar, disampakan bahwa buah ini bisa membuat hasil positif, sehingga para pria perlu waspada.

“Untuk teman-teman cowok di luar sana hati-hati, karena sekarang semangka sudah bisa bikin tespek garis dua seperti ini. Jangan sampai semangkanya yang positif, kamu yang menikahi orang yang salah,” ujar narasi dalam video tersebut.

Menurut spesialis gizi klinis, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, video tersebut merupakan hoax yang beredar di media sosial. Sebab, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa menyentuhkan semangka ke testpack bisa menyebabkan hasil positif palsu (false positive).


“Testpack kehamilan bekerja dengan mendeteksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin) dalam urine, yang hanya diproduksi tubuh saat hamil atau pada kondisi medis langka seperti tumor tertentu,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/11/2025).

Semangka adalah buah yang kaya air, vitamin A, C, dan likopen. Akan tetapi, buah ini tidak mengandung hCG atau zat kimia yang mirip. Jadi, kemungkinan yang tersebar di media sosial adalah rekayasa video.

Senada dengan dr Ardian, spesialis gizi klinis dr Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, SpGK, AIFO-K FINEM membantah bahwa semangka bisa membuat testpack positif. dr Raissa juga memastikan video tersebut hoax.

“Tidak, karena semangka tidak mengandung hormon hCG,” kata dr Raissa.

Secara ilmiah, hasil positif palsu pada testpack lebih mungkin disebabkan karena faktor obat-obatan, misalnya obat kesuburan yang mengandung hCG dan kesalahan penggunaan testpack, misalnya expired atau terkontaminsai. Selain itu, bisa juga disebabkan karena kondisi kesehatan seperti kehamilan etopik, bukan dari makanan seperti semangka.

(elk/up)

Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com / Demi DeHerrera

Makan Rebusan-Kukusan yang Keburu Dingin? Hati-hati, Ini Risikonya


Jakarta

Makanan rebusan-kukusan begitu nikmat disantap ketika masih hangat. Selain sensasi memakannya akan berbeda, jika terlalu lama didiamkan di suhu ruang, maka bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri.

Spesialis gizi klinis, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK mengatakan, makanan kukusan-rebusan yang didiamkan di suhu ruang bisa menimbulkan risiko. Salah satunya adalah pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan, seperti mual, muntah, dan diare.

“Ini karena makanan rebus atau kukus punya kadar air tinggi, yang membuatnya rentan terhadap bakteri jika dibiarkan di “danger zone” suhu, yaitu antara 4°C hingga 60°C. Di rentang suhu ini, bakteri seperti Salmonella, E. coli, atau Bacillus cereus bisa berkembang biak dengan cepat, bahkan dua kali lipat setiap 20 menit,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/12/2025).


dr Ardian menuturkan, ada studi yang menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama dari penyakit akibat makanan adalah pendinginan yang tidak benar setelah dimasak.

“Jadi, kalau makanan masak yang panasnya dibiarkan dingin perlahan di suhu ruang, bakteri di makanan itu bisa menghasilkan toksin yang tahan panas, artinya, meski dipanaskan ulang, toksinnya tetap ada dan ini yang menyebabkan infeksi,” tuturnya.

“Khusus untuk makanan karbohidrat tinggi seperti singkong atau kentang, Bacillus cereus sering jadi masalah karena bisa tumbuh di makanan yang didinginkan lambat,” tambahnya.

Namun, jika makanan sudah dingin karena disimpan disimpan dengan benar di kulkas dengan suhu

“Jadi risiko muncul kalau dibiarkan dingin di meja atau suhu ruang terlalu lama,” katanya.

Oleh karena itu, disarankan untuk mengonsumsi makanan rebus atau kukus seperti ubi, singkong, kentang, atau jagung secara langsung setelah matang. Hal ini untuk memaksimalkan manfaat nutrisi dan meminimalisir risiko keracunan.

“Tapi, kalau nggak bisa langsung habis, nggak masalah kok, asalkan dinginkan cepat dan simpan langsung di kulkas, terus durasi maksimal 2 jam di suhu ruang, lalu masukkan kulkas, terus bisa dimakan dingin atau dipanaskan ulang sebelum dikonsumsi,” tuturnya.

Menurut dr Ardian, yang terpenting adalah jangan sering-sering memanaskan dan mendinginkan makanan secara berulang, Hal ini bisa menurunkan kualitas kandungan nutrisinya.

(elk/up)

Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com / Demi DeHerrera

Jadi Sering Kentut usai Makan Ubi-Singkong Rebus? Ini Saran Dokter Pencernaan


Jakarta

Tren sarapan makanan rebusan dan kukusan yang sehat, seperti ubi kini banyak digemari kalangan gen Z. Tapi, kenapa setelah memakannya malah jadi sering kentut dan perut terasa begah?

Menurut spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, di dalam makanan kukusan atau rebusan seperti ubi terdapat karbohidrat kompleks dan oligosakarida yang larut. Hal tersebut membuat usus besar sulit mencernanya.

“Akibat dia sulit dicerna, maka dia akan diolah oleh kuman-kuman usus besar dan menjadi gas, gas nitrogen, sulfur, dan sebagainya. Dan akibatnya adalah menjadi banyak gas di dalam perut yang mengakibatkan orang itu menjadi kembung dan kemudian menimbulkan flatus atau kentut,” kata dr Aru kepada detikcom, Rabu (12/11/2025).


Karenanya, banyak orang mengeluhkan sering kentut setelah makan ubi dan singkong. Komposisi dari karbohidrat ubi lah yang menyebabkan seseorang begah dan pada akhirnya gampang kentut. Selain ubi, kacang-kacangan dan asparagus juga bisa memicu gas di perut.

“Tetapi yang paling bermakna adalah ubi,” kata dr Aru.

Untuk menghindari kembung karena konsumsi ubi rebus atau kukus, dr Aru menyarankan untuk membatasi konsumsinya. Jangan sampai berlebihan.

Soal berapa banyak batasannya, setiap orang bisa bereaksi berbeda-beda saat mengonsumsi umbi-umbian ini. Jadi, sebaiknya, ketahui batasan tubuh masing-masing.

“Ada yang satu saja sudah bikin sering kentut, tergantung jumlah kuman di usus. Jadi, biasanya kita sudah punya batasan diri sendiri berapa banyak ubi yang bisa kita konsumsi,” kata dr Aru.

Satu hal yang tak kalah penting adalah menyeimbangkan karbohidrat, lemak, protein dan serat dalam pola makan sehari-hari. Menurut dr Aru, seringkali orang hanya mengonsumsi karbohidrat dalam sekali makan.

“Jadi yang penting adalah keseimbangan. Baik dia mau dalam bentuk rebusan, mau dalam bentuk yang lain, gorengan, bakaran. Dalam bentuk keseimbangan, maka makanan itu akan menjadi makanan sehat,” kata dr Aru.

(elk/up)

Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com / Demi DeHerrera

Makanan Rebusan-Kukusan Basi Bikin Keracunan? Ini Tips dari Dokter Gizi


Jakarta

Banyak orang yang menyukai makanan rebusan atau kukusan seperti singkong, ubi, dan kentang, tak kerkecuali gen Z. Namun, saat memakannya, pastikan makanan rebusan tidak basi dan masih layak dimakan.

Menurut spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK keracunan dari makanan basi bisa menebabkan mual, muntah, diare, bahkan infeksi serius. Terutama, bagi mereka yang tidak mengetahui cara menyimpan makanan dengan benar.

Ada empat langkah keamanan makanan, yaitu clean, separate, cook, dan chill untuk mencegah keracunan dari makanan, seperti makanan kukusan atau rebusan. Dalam hal ini, dr Ardian memberikan tips aplikatifnya. Pertama, pastikan sudah membersihkan bahan makanan dengan benar sebelum memasaknya.


“Cuci umbi-umbian mentah di air mengalir sebelum kukus dan gunakan peralatan bersih,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/11/2025).

Kedua, hindari kontaminasi silang dengan daging merah. Masak bahan makanan sampai matang dengan sempurna.

“Kukus atau rebus sampai empuk setidaknya internal minimal 74°C atau di air mendidih dengan suhu 100°C untuk bunuh bakteri tapi jangan overcook agar nutrisi tidak hilang, dan untuk kukus kita pake uap panas dari didihan air suhu 100°C minimal 15-20 menit,” katanya.

Selanjutnya, konsumsi segera setelah dikukus atau direbus. Jika tidak, simpan di kulkas dengan suhu

“Jangan biarkan di suhu ruang lebih dari 2 jam, apalagi di cuaca panas Indonesia yang mempercepat pembusukan,” tambahnya.

Kemudian, periksa makanan sebelum dikonsumsi. Selalu cek tanda-tanda makanan kukusan atau rebusan yang sudah basi, seperti adanya perubahan warna, bau tidak sedap, perubahan pada tekstur makanan, muncul jamur, dan rasa yang aneh, seperti asam atau pahit tidak wajar.

“Jika ragu, buang saja, lebih baik aman daripada sakit,” tuturnya.

Saat membeli bahan makanan untuk dikukus atau direbus, pilih yang masih segar dan dari tempat yang terpercaya. Hindari memilih bahan makanan yang lembek atau berbau.

“Dengan mengikuti ini, risiko keracunan bisa diminimalisir. Jika ada gejala setelah makan, segera ke dokter,” pungkasnya.

(elk/up)



Sumber : health.detik.com

Awas Basi! Kenali Tanda-tanda Rebusan dan Kukusan Sudah Tak Layak Konsumsi


Jakarta

Makanan rebusan maupun kukusan seperti ubi, singkong, kentang kini digemari oleh kalangan Gen Z. Jenis makanan ini memang sehat sebab rendah lemak dan mempertahankan nutrisi yang lebih baik daripada dengan gorengan.

Kendati demikian, dibandingkan dengan gorengan, makanan rebusan maupun kukusan cenderung lebih cepat basi. Menurut spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, hal ini karena gorengan memiliki minyak yang bertindak sebagai pengawet alami dan mengurangi kadar air, berbeda dengan kukusan.

“Kukusan punya kadar air tinggi yang memudahkan bakteri, jamur, atau ragi berkembang biak,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/11/2025).


Karenanya, penting untuk mengetahui tanda-tanda rebusan atau kukusan yang sudah tidak layak konsumsi. Menurut dr Ardian, tanda-tanda pembusukan pada umbi-umbian kukus biasanya muncul dalam 1-3 hari di suhu ruang atau lebih lama jika di kulkas.

“Jangan konsumsi jika ada gejala berikut, karena bisa menandakan kontaminasi bakteri seperti Salmonella atau E. coli yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan (food poisoning),” ungkapnya.

Adapun beberapa gejala atau tanda pada umbi-umbian tak layak konsumsi yang dimaksud yaitu:

  1. Perubahan warna: Kulit atau dagingnya menghitam, kecoklatan, atau muncul bintik hitam atau hijau. Misalnya, ubi atau kentang yang mulanya oranye/kuning jadi gelap dan lembek.
  2. Bau tidak sedap: Aroma asam, busuk, atau seperti alkohol, bukan bau alami makanan segar. Ini sering disebabkan oleh fermentasi bakteri.
  3. Tekstur berubah: Menjadi lembek, berlendir (slimy), atau berair berlebih. Jagung kukus yang biasanya kenyal bisa jadi lembab dan berjamur, sementara singkong atau kentang bisa berubah jadi seperti bubur.
  4. Muncul jamur atau gelembung: Bercak putih/hijau (mold) atau gelembung gas di permukaan, tanda aktivitas mikroba yang menghasilkan gas.
  5. Rasa aneh: Jika dicicipi (tapi sebaiknya jangan jika sudah curiga), rasanya asam atau pahit tidak wajar.

Sementara, untuk singkong khususnya, pastikan sudah direbus lalu dikukus dengan matang sempurna. Umbi-umbian ini mengandung senyawa sianida alami yang bisa beracun jika kurang matang.

“Tapi ini bukan persoalan kondisi basi, melainkan persiapan awal,” tuturnya.

(elk/up)



Sumber : health.detik.com

Awas Basi! Kenali Tanda-tanda Rebusan dan Kukusan Sudah Tak Layak Konsumsi


Jakarta

Makanan rebusan maupun kukusan seperti ubi, singkong, kentang kini digemari oleh kalangan Gen Z. Jenis makanan ini memang sehat sebab rendah lemak dan mempertahankan nutrisi yang lebih baik daripada dengan gorengan.

Kendati demikian, dibandingkan dengan gorengan, makanan rebusan maupun kukusan cenderung lebih cepat basi. Menurut spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, hal ini karena gorengan memiliki minyak yang bertindak sebagai pengawet alami dan mengurangi kadar air, berbeda dengan kukusan.

“Kukusan punya kadar air tinggi yang memudahkan bakteri, jamur, atau ragi berkembang biak,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/11/2025).


Karenanya, penting untuk mengetahui tanda-tanda rebusan atau kukusan yang sudah tidak layak konsumsi. Menurut dr Ardian, tanda-tanda pembusukan pada umbi-umbian kukus biasanya muncul dalam 1-3 hari di suhu ruang atau lebih lama jika di kulkas.

“Jangan konsumsi jika ada gejala berikut, karena bisa menandakan kontaminasi bakteri seperti Salmonella atau E. coli yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan (food poisoning),” ungkapnya.

Adapun beberapa gejala atau tanda pada umbi-umbian tak layak konsumsi yang dimaksud yaitu:

  1. Perubahan warna: Kulit atau dagingnya menghitam, kecoklatan, atau muncul bintik hitam atau hijau. Misalnya, ubi atau kentang yang mulanya oranye/kuning jadi gelap dan lembek.
  2. Bau tidak sedap: Aroma asam, busuk, atau seperti alkohol, bukan bau alami makanan segar. Ini sering disebabkan oleh fermentasi bakteri.
  3. Tekstur berubah: Menjadi lembek, berlendir (slimy), atau berair berlebih. Jagung kukus yang biasanya kenyal bisa jadi lembab dan berjamur, sementara singkong atau kentang bisa berubah jadi seperti bubur.
  4. Muncul jamur atau gelembung: Bercak putih/hijau (mold) atau gelembung gas di permukaan, tanda aktivitas mikroba yang menghasilkan gas.
  5. Rasa aneh: Jika dicicipi (tapi sebaiknya jangan jika sudah curiga), rasanya asam atau pahit tidak wajar.

Sementara, untuk singkong khususnya, pastikan sudah direbus lalu dikukus dengan matang sempurna. Umbi-umbian ini mengandung senyawa sianida alami yang bisa beracun jika kurang matang.

“Tapi ini bukan persoalan kondisi basi, melainkan persiapan awal,” tuturnya.

(elk/up)



Sumber : health.detik.com

Jangan Karbo Semua! Pesan Dokter, Rebusan-Kukusan Nutrisinya Tetap Harus Seimbang


Jakarta

Makanan rebus dan kukus belakangan jadi andalan bagi banyak orang yang ingin hidup lebih sehat. Meski demikian, Spesialis Gizi Klinik dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, mengingatkan tetap penting untuk menambahkan sumber nutrisi lain, seperti protein dan sayuran, agar kebutuhan gizi harian tetap terpenuhi secara seimbang.

“Menu rebusan dan kukusan yang tampaknya dominan karbohidrat kompleks yang memang baik sebagai sumber energi, tapi kurang seimbang jika tanpa tambahan sumber lainnya,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (12/11/2025).

“Agar optimal, fokus pada variasi bahan untuk hindari kebosanan dan pastikan nutrisi lengkap. Perhatikan porsi: jangan berlebihan karena meski sehat, karbohidrat berlebih bisa naikkan berat badan atau gula darah,” lanjutnya.


dr Ardian menjelaskan untuk mendapatkan nutrisi yang lebih lengkap, masyarakat dapat mengikuti pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan RI. Komposisinya terdiri dari 1/3 piring karbohidrat (misalnya umbi-umbian rebus), 1/3 piring protein, serta 1/2 piring sayur dan buah. Ia pun menyarankan beberapa kombinasi berikut:

  • Tambah protein: Telur rebus (1-2 butir untuk 12 gram protein dan rendah kalori), tahu atau tempe kukus, ikan kukus (seperti pepes tanpa minyak), atau kacang rebus (edamame, kacang tanah). Ini untuk bangun dan menjaga massa otot serta menjaga imunitas.
  • Tambah sayur dan buah: Sayur rebus seperti bayam, wortel, atau brokoli untuk vitamin dan serat tambahan. Buah segar seperti pepaya atau apel untuk antioksidan.
  • Lemak sehat: Sedikit kacang atau alpukat jika perlu.

Contoh menu seimbang: Ubi rebus + telur rebus + bayam kukus + pisang. Ini bisa penuhi sekitar 300-500 kkal sarapan dengan gizi lengkap, termasuk protein untuk perbaikan sel dan serat untuk kesehatan usus juga mengenyangkan dan memberikan energi yang lama hingga siang.

(suc/up)



Sumber : health.detik.com