Tag: diare

  • Mengenal Bahaya Keracunan Makanan, Penyebab dan Cara Mencegahnya


    Jakarta

    Tingginya kasus keracunan makanan masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Kasus keracunan makanan sepanjang tahun 2025 ramai diberitakan korbannya telah mencapai jumlah ribuan orang. Angka ini menunjukkan bahwa isu keamanan pangan (food safety) masih perlu mendapat perhatian serius, terutama karena sebagian besar kasus disebabkan oleh makanan yang tidak diolah atau disimpan dengan benar.

    Keracunan makanan dapat terjadi kepada siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa. Gejalanya pun sering mirip dengan penyakit pencernaan lain, seperti mual, muntah, diare, dan kram perut. Perlu diperhatikan bahwa banyak bahan makanan sehari-hari ternyata termasuk kategori rawan keracunan jika tidak ditangani dengan hati-hati.

    Jenis Makanan yang Rawan Menyebabkan Keracunan

    Beberapa makanan sehari-hari yang rawan menyebabkan keracunan jika tidak ditangani dengan hati-hati di antaranya sebagai berikut:


    Seafood (ikan, kerang, udang, kepiting)

    Produk laut merupakan sumber protein hewani yang bergizi tinggi, namun juga sangat mudah rusak. Ikan tertentu seperti tuna, tongkol, dan cakalang dapat menghasilkan histamin bila dibiarkan terlalu lama di suhu ruang, sehingga menyebabkan keracunan scombroid.

    Belum lama ini terdapat kasus keracunan dikarenakan konsumsi ikan cakalang. Ikan cakalang adalah keluarga Scombridae, yang mengandung histidin (asam amino) yang tinggi. Jika tidak langsung disimpan dengan benar akan terjadi pengubahan histidin menjadi bersifat racun. Menurut penelitian terbaru pada tahun 2022 dalam Jurnal Analisis Kesehatan Sains, ikan cakalang yang terpapar suhu ruang menunjukkan peningkatan kadar histamin.

    Telur dan daging ayam

    Telur mentah atau setengah matang bisa terkontaminasi bakteri Salmonella. Begitu pula dengan daging ayam yang kurang matang berisiko membawa Campylobacter. Kedua bakteri ini sering menjadi penyebab utama kasus diare dan keracunan pangan.

    Daging sapi dan produk olahan daging

    Produk daging giling, sosis, atau daging mentah bisa tercemar Escherichia coli (E. coli) strain berbahaya. Jika masuk ke tubuh, bakteri ini bisa menimbulkan diare berdarah hingga komplikasi serius seperti gagal ginjal (hemolytic uremic syndrome).

    Susu dan produk susu mentah

    Mengonsumsi susu segar yang belum dipasteurisasi meningkatkan risiko infeksi Listeria monocytogenes, Salmonella, dan E. coli. Infeksi Listeria terutama berbahaya bagi ibu hamil, bayi, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.

    Sayur dan buah mentah

    Meskipun menyehatkan, sayur dan buah bisa terkontaminasi pestisida, kotoran, atau bakteri dari tanah dan air irigasi. Konsumsi tanpa dicuci bersih dapat menimbulkan masalah pencernaan. Wabah E. coli pada sayuran mentah pernah dilaporkan di berbagai negara, termasuk Jerman pada tahun 2011.

    Nasi dan makanan bertepung lain

    Nasi yang disimpan terlalu lama di suhu ruang bisa menjadi tempat berkembang biak Bacillus cereus. Spora bakteri ini tahan panas, sehingga meskipun nasi dipanaskan ulang, toksin yang sudah terbentuk bisa tetap menimbulkan mual dan muntah.

    Jadi sebenarnya hampir semua bahan makanan berpotensi menyebabkan keracunan kalau cara penanganan, pengolahan, dan penyimpanannya salah. Bedanya, beberapa bahan memang lebih rentan dikarenakan kondisi alaminya (misalnya lebih cepat busuk, mengandung racun alami, atau mudah terkontaminasi).

    Mengapa Makanan Bisa Menjadi Berbahaya?

    Keracunan makanan umumnya disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur) atau racun yang diproduksi dalam makanan. Faktor penyebab utamanya antara lain:

    Suhu penyimpanan tidak tepat

    Jurnal Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety menunjukkan bahwa bakteri berkembang sangat cepat di suhu ruang (5-60 derajat celcius), yang dikenal sebagai “danger zone”. Pada suhu ini, mikroba bisa menggandakan diri dalam hitungan menit.

    Hal itu juga disinggung ahli gizi masyarakat dr Tan Shot Yen dalam rapat audiensi dengan Komisi IX DPR RI, Senin (22/9/2025). Saat membahas beberapa kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini, dr Tan menyinggung penyimpanan makanan tanpa pemanas.

    “Suhu ruangan 5-60 derajat Celsius adalah suhu kritis. Jadi tidak heran makanan bisa basi, ditumbuhi jamur, maupun bakteri jika dibiarkan terlalu lama,” terangnya.

    Kontaminasi silang

    Dikutip dari Jurnal Teknologi tahun 2015, peralatan masak yang dipakai bergantian untuk bahan mentah dan matang berisiko memindahkan patogen.

    Higiene tidak terjaga

    Tangan yang tidak dicuci sebelum mengolah makanan dan tempat atau lokasi mengolah makanan yang kurang bersih bisa membawa kuman masuk ke bahan makanan.

    Proses memasak tidak sempurna

    Daging atau telur setengah matang tidak cukup panas untuk membunuh bakteri berbahaya.

    Solusi Sederhana Mencegah Keracunan Makanan

    Beberapa makanan favorit sehari-hari ternyata bisa jadi sumber masalah kesehatan kalau nggak diolah dengan benar. Contohnya telur. Telur yang dikonsumsi setengah matang bisa membawa bakteri Salmonella yang bikin mual hingga diare. Supaya aman, telur sebaiknya dimasak sampai matang sempurna. Jika telur tidak langsung dimakan, boleh disimpan terlebih dahulu di kulkas. Perlu diperhatikan juga telur retak atau kotor sebaiknya langsung disingkirkan.

    Hal yang sama juga berlaku pada daging dan ayam mentah. Bahan makanan ini rentan terkontaminasi bakteri seperti E. coli dan Campylobacter. Tips amannya, pastikan daging dimasak hingga suhu dalamnya di atas 75 derajat celcius. Hindari memakai talenan dan pisau yang sama untuk daging mentah dan makanan siap saji agar terhindar dari kontaminasi silang. Letakkan di dalam freezer dengan suhu -18 derajat celcius saat ingin disimpan lama. Menurut Jurnal Meat Science, penyimpanan beku pada suhu yang stabil dapat menekan tumbuhnya bakteri.

    Seafood seperti ikan, udang, dan kerang bisa membawa bakteri Vibrio atau bahkan menghasilkan racun alami kalau sudah tidak segar. Jadi, pilih yang masih berbau segar dan teksturnya kenyal, lalu masak hingga matang. Konsumsi kerang mentah sebaiknya dihindari.

    Susu, pilihlah yang sudah dipasteurisasi. Kalau beli susu segar, rebus dulu hingga mendidih sebelum diminum, agar bakteri berbahaya mati.

    Pada sayuran mentah, penyimpanan juga perlu diperhatikan. Meski terlihat segar, bisa saja terdapat bakteri atau sisa pestisida. Paling aman, cuci di bawah air mengalir, lalu rendam sebentar dengan larutan garam atau baking soda. Simpan di kulkas supaya tetap segar. Sementara itu, nasi sisa jangan dibiarkan lebih dari dua jam di suhu ruang. Jika ingin dimakan lagi, simpan dulu di dalam kulkas atau biarkan panas di dalam rice cooker. Dalam studi ilmiah terbaru tahun 2024, Journal of Microbiology, Biotechnology and Food Sciences, penyimpanan nasi pada suhu ruang dapat meningkatkan perkembangan Bacillus Cereus dan penyimpanan dingin sekitar 4°C dapat menghambat pertumbuhannya. Hal ini penting untuk mencegah pertumbuhan Bacillus cereus yang dapat menyebabkan perut mulas.

    Kasus keracunan makanan yang masih tinggi menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran masyarakat soal keamanan pangan. Menjadi konsumen cerdas bukan hanya soal memilih bahan makanan segar, tapi juga memperhatikan cara menyimpan dan mengolahnya. Ingat, makanan yang tampak biasa aman bisa jadi berbahaya kalau tidak ditangani dengan benar. Dengan langkah sederhana tadi, makanan yang rawan keracunan tetap bisa aman dikonsumsi. Kuncinya ada di cara memilih, mengolah, dan menyimpan makanan agar tidak menjadi sarang bakteri penyebab penyakit.

    (mal/up)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Makan Rebusan-Kukusan yang Keburu Dingin? Hati-hati, Ini Risikonya


    Jakarta

    Makanan rebusan-kukusan begitu nikmat disantap ketika masih hangat. Selain sensasi memakannya akan berbeda, jika terlalu lama didiamkan di suhu ruang, maka bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri.

    Spesialis gizi klinis, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK mengatakan, makanan kukusan-rebusan yang didiamkan di suhu ruang bisa menimbulkan risiko. Salah satunya adalah pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan, seperti mual, muntah, dan diare.

    “Ini karena makanan rebus atau kukus punya kadar air tinggi, yang membuatnya rentan terhadap bakteri jika dibiarkan di “danger zone” suhu, yaitu antara 4°C hingga 60°C. Di rentang suhu ini, bakteri seperti Salmonella, E. coli, atau Bacillus cereus bisa berkembang biak dengan cepat, bahkan dua kali lipat setiap 20 menit,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/12/2025).


    dr Ardian menuturkan, ada studi yang menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama dari penyakit akibat makanan adalah pendinginan yang tidak benar setelah dimasak.

    “Jadi, kalau makanan masak yang panasnya dibiarkan dingin perlahan di suhu ruang, bakteri di makanan itu bisa menghasilkan toksin yang tahan panas, artinya, meski dipanaskan ulang, toksinnya tetap ada dan ini yang menyebabkan infeksi,” tuturnya.

    “Khusus untuk makanan karbohidrat tinggi seperti singkong atau kentang, Bacillus cereus sering jadi masalah karena bisa tumbuh di makanan yang didinginkan lambat,” tambahnya.

    Namun, jika makanan sudah dingin karena disimpan disimpan dengan benar di kulkas dengan suhu

    “Jadi risiko muncul kalau dibiarkan dingin di meja atau suhu ruang terlalu lama,” katanya.

    Oleh karena itu, disarankan untuk mengonsumsi makanan rebus atau kukus seperti ubi, singkong, kentang, atau jagung secara langsung setelah matang. Hal ini untuk memaksimalkan manfaat nutrisi dan meminimalisir risiko keracunan.

    “Tapi, kalau nggak bisa langsung habis, nggak masalah kok, asalkan dinginkan cepat dan simpan langsung di kulkas, terus durasi maksimal 2 jam di suhu ruang, lalu masukkan kulkas, terus bisa dimakan dingin atau dipanaskan ulang sebelum dikonsumsi,” tuturnya.

    Menurut dr Ardian, yang terpenting adalah jangan sering-sering memanaskan dan mendinginkan makanan secara berulang, Hal ini bisa menurunkan kualitas kandungan nutrisinya.

    (elk/up)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com / Demi DeHerrera
  • Makanan Rebusan-Kukusan Basi Bikin Keracunan? Ini Tips dari Dokter Gizi


    Jakarta

    Banyak orang yang menyukai makanan rebusan atau kukusan seperti singkong, ubi, dan kentang, tak kerkecuali gen Z. Namun, saat memakannya, pastikan makanan rebusan tidak basi dan masih layak dimakan.

    Menurut spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK keracunan dari makanan basi bisa menebabkan mual, muntah, diare, bahkan infeksi serius. Terutama, bagi mereka yang tidak mengetahui cara menyimpan makanan dengan benar.

    Ada empat langkah keamanan makanan, yaitu clean, separate, cook, dan chill untuk mencegah keracunan dari makanan, seperti makanan kukusan atau rebusan. Dalam hal ini, dr Ardian memberikan tips aplikatifnya. Pertama, pastikan sudah membersihkan bahan makanan dengan benar sebelum memasaknya.


    “Cuci umbi-umbian mentah di air mengalir sebelum kukus dan gunakan peralatan bersih,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/11/2025).

    Kedua, hindari kontaminasi silang dengan daging merah. Masak bahan makanan sampai matang dengan sempurna.

    “Kukus atau rebus sampai empuk setidaknya internal minimal 74°C atau di air mendidih dengan suhu 100°C untuk bunuh bakteri tapi jangan overcook agar nutrisi tidak hilang, dan untuk kukus kita pake uap panas dari didihan air suhu 100°C minimal 15-20 menit,” katanya.

    Selanjutnya, konsumsi segera setelah dikukus atau direbus. Jika tidak, simpan di kulkas dengan suhu

    “Jangan biarkan di suhu ruang lebih dari 2 jam, apalagi di cuaca panas Indonesia yang mempercepat pembusukan,” tambahnya.

    Kemudian, periksa makanan sebelum dikonsumsi. Selalu cek tanda-tanda makanan kukusan atau rebusan yang sudah basi, seperti adanya perubahan warna, bau tidak sedap, perubahan pada tekstur makanan, muncul jamur, dan rasa yang aneh, seperti asam atau pahit tidak wajar.

    “Jika ragu, buang saja, lebih baik aman daripada sakit,” tuturnya.

    Saat membeli bahan makanan untuk dikukus atau direbus, pilih yang masih segar dan dari tempat yang terpercaya. Hindari memilih bahan makanan yang lembek atau berbau.

    “Dengan mengikuti ini, risiko keracunan bisa diminimalisir. Jika ada gejala setelah makan, segera ke dokter,” pungkasnya.

    (elk/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Gaduh Klaim Gluten Free Palsu di Jakarta, Ini Tips Pilih-pilih Bakery


    Jakarta

    Pekan ini, jagat maya Indonesia kembali diramaikan oleh masalah keamanan pangan. Sebuah bakery online di Jakarta, Bake n Grind, yang selama ini mengusung label gluten-free,dairy free, vegan, egg free, dan stevia & plant-based, ketahuan menjual produk yang ternyata masih mengandung gluten.

    Ironisnya, korbannya bukan orang dewasa yang sedang diet, melainkan seorang balita yang punya alergi gluten. Terlihat reaksi alergi yang cukup parah pada balita tersebut setelah memakan produk yang diklaim oleh bakery online tersebut bebas gluten.

    Unggahan sang ibu viral di media sosial, dan hasil uji laboratorium kemudian membenarkan dugaan publik yaitu positif mengandung gluten pada produk tersebut. Sang pemilik akhirnya meminta maaf dan berjanji akan bertanggung jawab.


    Kasus Bake n Grind berawal dari unggahan seorang ibu yang membagikan pengalaman anaknya mengalami reaksi alergi di sekujur badan setelah makan roti gluten free. Setelah viral, sampel produk diujikan oleh salah seorang influencer di PT Saraswanti Indo Genetech, dan hasilnya menunjukkan positif mengandung gluten.

    Lebih mengejutkan lagi, dikatakan produk tersebut ternyata tidak diproduksi sendiri, melainkan hasil repackaging dari toko lain.

    Apa Itu Gluten?

    Banyak orang mengenal makanan yang mengandung gluten adalah “zat yang bikin gemuk” atau “yang harus dihindari kalau ingin diet”. Pemahaman ini kurang tepat, sebab sebenarnya gemuk ditentukan oleh seberapa banyak kalori yang masuk dan kalori yang digunakan oleh tubuh. Sedangkan gluten adalah campuran dua protein alami yaitu gliadin dan glutenin yang terkandung dalam biji-bijian seperti gandum, jelai (barley), dan gandum hitam.

    Saat tepung dicampur air dan diuleni, gluten membentuk jaringan elastis yang membuat adonan roti menjadi mengembang, kenyal, dan lembut. Tanpa gluten, tekstur roti akan padat dan mudah hancur. Sebab itu banyak produk bebas gluten terasa kurang empuk dibanding roti biasa.

    Di industri pangan, gluten punya fungsi penting: menjaga bentuk, tekstur, dan kekenyalan makanan. Tapi bagi sebagian orang, terutama yang punya kelainan sistem imun atau alergi, gluten justru bisa memicu reaksi berbahaya bagi tubuh.

    Produk gluten-free sendiri didefinisikan sebagai makanan yang mengandung kurang dari 20 ppm (part per million) gluten, sesuai regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ambang ini dianggap aman bagi pengidap alergi gluten, karena tubuhnya masih bisa mentoleransi jumlah yang sangat kecil.

    Siapa yang Benar-Benar Butuh Gluten Free?

    Tak semua orang perlu diet bebas gluten. Bagi kebanyakan orang sehat, gluten tidak menimbulkan bahaya apa pun. Namun bagi kelompok tertentu, gluten bisa menjadi pemicu penyakit serius. Berikut di antaranya.

    1. Pengidap Celiac Disease

    Celiac adalah penyakit autoimun kronis dimana sistem imun tubuh menyerang jaringan usus halus setiap kali gluten masuk ke saluran cerna. Dampak yang ditimbulkan berat seperti perut kembung, diare berkepanjangan, berat badan turun, hingga gangguan penyerapan nutrisi.

    2. Pengidap Non-Celiac Gluten Sensitivity (NCGS)

    Tidak menyebabkan kerusakan usus seperti pengidap celiac, tapi pengidap NCGS bisa mengalami gejala mirip seperti nyeri kepala, kembung, nyeri sendi, dan kelelahan setiap kali mengonsumsi gluten.

    3. Pengidap Alergi Gandum

    Kondisi ini berbeda dari dua di atas. Tubuh bereaksi terhadap protein gandum, termasuk gluten, sehingga bisa menimbulkan ruam, gatal, hingga anafilaksis yaitu reaksi alergi berat yang bisa mengancam nyawa.

    Bagi anak-anak, terutama balita, paparan gluten dapat memicu reaksi lebih cepat dan lebih berat. Inilah yang membuat kasus bakery online asal Jakarta begitu sensitif karena korbannya adalah anak kecil dengan sistem imun yang belum begitu matang.

    Tips Aman Pilih Produk Gluten Free

    Belajar dari kasus bakery yang viral, konsumen dapat mengecek dengan teliti hal berikut agar tidak tertipu dengan label palsu saat memilih produk gluten free:

    1. Cek sertifikat resmi

    Label “gluten-free” seharusnya didukung oleh sertifikasi resmi dari lembaga kredibel atau izin edar yang jelas. Produsen yang serius biasanya mencantumkan nomor uji laboratorium atau logo sertifikasi Certified Gluten-Free di kemasan.

    2. Cek komposisi produk

    Produk yang benar-benar bebas gluten tidak akan mencantumkan bahan seperti gandum, jelai (barley), gandum hitam, atau malt. Jika menemukan istilah samar seperti modified starch atau flour blend tanpa penjelasan, sebaiknya waspada karena bisa saja terdapat kandungan gluten yang tersembunyi.

    3. Waspadai klaim berlebihan

    Klaim yang berlebihan justru patut dicurigai ketika tidak disertai dokumen pendukung atau hasil uji laboratorium yang terbuka untuk publik. Label gluten-free, dairy free, vegan, egg free, dan stevia & plant-based memang terlihat menarik, tapi seringkali hanya sebatas penarik perhatian tanpa bukti yang valid.

    4. Pilih produsen yang transparan

    Produsen yang jujur biasanya menyertakan alamat pabrik, izin edar, kontak layanan konsumen, bahkan hasil uji lab di situs atau media sosial. Transparansi seperti ini menandakan komitmen dan kejujuran produsen.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Mengenal Senyawa Nitrit, Pemicu Keracunan MBG di Bandung Barat


    Jakarta

    Kasus keracunan massal yang menimpa 1.315 siswa di Bandung Barat bikin geger publik. Dari hasil investigasi Badan Gizi Nasional (BGN), ditemukan kadar nitrit yang sangat tinggi pada hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disantap para siswa.

    Senyawa ini ditemukan terutama pada sampel melon dan lotek, dengan kadar mencapai 3,91 mg/L dan 3,54 mg/L. Padahal menurut US Environmental Protection Agency (EPA), batas aman nitrit dalam minuman hanya 1 mg/L. Artinya, kadar dalam sampel makanan itu nyaris empat kali lipat dari batas maksimum yang disarankan.

    Temuan ini memunculkan pertanyaan besar: sebenarnya seberapa berbahaya nitrit bagi tubuh, dan dari mana zat ini bisa muncul dalam makanan?


    Apa Itu Nitrit dan Kenapa Bisa Berbahaya?

    Nitrit adalah senyawa kimia turunan nitrogen yang sering terbentuk dari hasil reduksi nitrat yaitu senyawa yang banyak ditemukan di tanah, air, dan tanaman. Dalam kondisi tertentu, seperti penyimpanan yang tidak higienis atau pengolahan yang kurang tepat, nitrat bisa berubah menjadi nitrit akibat aktivitas bakteri.

    Selain muncul secara alami, nitrit juga sengaja ditambahkan dalam industri pangan sebagai bahan pengawet, terutama pada produk seperti sosis, kornet, ham, dan daging asap. Tujuannya adalah untuk mencegah pertumbuhan bakteri berbahaya dan menjaga warna serta rasa daging tetap menarik.

    Namun, jika kadarnya berlebihan, nitrit bisa berbalik jadi racun. Dalam tubuh, nitrit mampu mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin, yaitu bentuk hemoglobin yang tidak bisa mengikat oksigen dengan baik. Kondisi ini disebut methemoglobinemia dan bisa membuat tubuh kekurangan oksigen.

    Dalam jangka panjang, nitrit juga bisa membentuk nitrosamin yaitu senyawa yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker, terutama jika makanan yang mengandung nitrit dipanaskan berulang kali atau dibakar pada suhu tinggi.

    Sumber Nitrit dan Makanan yang Mudah Tercemar

    Senyawa nitrit memang bisa terbentuk secara alami di beberapa jenis makanan, terutama dari bahan yang mengandung nitrat tinggi. Tapi, ada juga pangan yang rawan mengalami cemaran nitrit tambahan akibat proses pengolahan, penyimpanan, atau kontaminasi mikroba.

    Menurut beberapa penelitian, nitrit bisa berasal dari banyak sumber, baik alami maupun akibat kontaminasi. Ini beberapa di antaranya:

    1. Daging olahan dan produk pengawet

    Penelitian dari Jurnal Food Additives & contaminants, tahun 2020 menunjukkan bahwa nitrit digunakan sebagai bahan tambahan untuk mencegah bakteri dan menjaga warna daging tetap merah muda. Karena itu, sosis, bacon, atau kornet bisa mengandung nitrit dalam batas tertentu.

    2. Sayuran berdaun hijau seperti bayam, selada, dan sawi

    Sayuran ini kaya nitrat secara alami. Dalam kondisi penyimpanan yang lembab atau tidak higienis, bakteri di permukaan daun bisa mengubah nitrat menjadi nitrit. Menurut penelitian, kadar nitrit meningkat signifikan bila sayur disimpan lebih dari 48 jam pada suhu ruang.

    3. Buah-buahan seperti melon dan semangka

    Meski jarang disangka, buah berair juga bisa jadi media tumbuh bakteri pengubah nitrat menjadi nitrit, terutama bila sudah dikupas, dipotong, lalu dibiarkan terbuka terlalu lama. Hal inilah yang juga ditemukan pada kasus Bandung Barat, di mana sisa buah melon mengandung nitrit tinggi.

    4. Air yang terkontaminasi

    Menurut Journal Water and Health tahun 2023, Air tanah atau sumur di area pertanian kadang mengandung nitrat tinggi dari pupuk. Bila air ini digunakan mencuci atau memasak makanan tanpa pengolahan memadai, nitrit bisa ikut masuk ke dalam tubuh.

    5. Penyimpanan dan kontaminasi silang

    Kondisi dapur yang lembab, suhu ruang tinggi, serta alat masak yang tidak bersih bisa mempercepat konversi nitrat menjadi nitrit.

    Gejala Keracunan Nitrit, Tidak Selalu Diare

    Gejala yang muncul akibat keracunan nitrit bisa berbeda dari keracunan makanan biasa. Dalam kasus Bandung Barat, sebagian besar siswa justru mengalami mual, muntah, dan nyeri lambung dibandingkan diare.

    “Sekitar 36 persen korban mengalami gangguan di saluran cerna bagian atas, sementara diare hanya 3 persen,” jelas Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Dra Karimah Muhammad Apt.

    Selain itu, gejala pusing dan kepala terasa ringan juga banyak dilaporkan. Hal ini disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah akibat paparan nitrit. Sekitar 29 persen korban mengalami gejala ini.

    Dalam beberapa kasus, lemas dan sesak napas juga bisa muncul karena kadar oksigen di darah menurun. Ini terjadi saat nitrit mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin. Gejala beratnya bisa berupa kulit kebiruan, jari-jari terasa kram, bahkan penurunan kesadaran.

    Penanganan Keracunan Nitrit: Fokus pada Oksigen dan Cairan Tubuh

    Meski terdengar menakutkan, sebagian besar kasus keracunan nitrit bisa ditangani dengan baik jika segera mendapat pertolongan medis.

    Menurut laporan BGN, 93 persen korban di Bandung Barat langsung diperbolehkan pulang setelah mendapat observasi dan obat oral, seperti paracetamol, ondansetron, atau omeprazol. Hanya 7 persen yang perlu rawat inap untuk infus cairan dan observasi lanjutan.

    Penanganan medis umumnya meliputi:

    • Pemberian oksigen bagi pasien yang tampak sesak atau kadar oksigennya turun.
    • Terapi cairan intravena (seperti Ringer Laktat atau Dextrose) untuk menjaga keseimbangan tubuh.
    • Methylene blue dapat diberikan pada kasus berat yang disertai methemoglobinemia, di bawah pengawasan dokter.
    • Jika gejala ringan, seperti mual atau nyeri lambung, cukup diberikan terapi suportif dan observasi ketat.

    Bisa Ditangani, Asal Pengolahan Pangan Tepat

    Kasus ini jadi pengingat penting bahwa sumber keracunan makanan tak selalu berasal dari bakteri. Senyawa kimia seperti nitrit pun dapat menjadi penyebab serius.

    Agar hal serupa tidak terulang, berikut langkah pencegahan yang disarankan menurut beberapa penelitian:

    • Pastikan bahan makanan disimpan dalam suhu dingin dan tidak terlalu lama sebelum diolah.
    • Gunakan air bersih yang sudah melalui proses filtrasi atau perebusan.
    • Hindari penggunaan bahan pengawet nitrit berlebihan pada produk olahan.
    • Perhatikan kebersihan alat masak dan hindari kontaminasi silang.
    • Terapkan sistem keamanan pangan seperti HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) di dapur sekolah, katering, atau penyedia makanan massal.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Mengenal Senyawa Nitrit, Pemicu Keracunan MBG di Bandung Barat


    Jakarta

    Kasus keracunan massal yang menimpa 1.315 siswa di Bandung Barat bikin geger publik. Dari hasil investigasi Badan Gizi Nasional (BGN), ditemukan kadar nitrit yang sangat tinggi pada hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disantap para siswa.

    Senyawa ini ditemukan terutama pada sampel melon dan lotek, dengan kadar mencapai 3,91 mg/L dan 3,54 mg/L. Padahal menurut US Environmental Protection Agency (EPA), batas aman nitrit dalam minuman hanya 1 mg/L. Artinya, kadar dalam sampel makanan itu nyaris empat kali lipat dari batas maksimum yang disarankan.

    Temuan ini memunculkan pertanyaan besar: sebenarnya seberapa berbahaya nitrit bagi tubuh, dan dari mana zat ini bisa muncul dalam makanan?


    Apa Itu Nitrit dan Kenapa Bisa Berbahaya?

    Nitrit adalah senyawa kimia turunan nitrogen yang sering terbentuk dari hasil reduksi nitrat yaitu senyawa yang banyak ditemukan di tanah, air, dan tanaman. Dalam kondisi tertentu, seperti penyimpanan yang tidak higienis atau pengolahan yang kurang tepat, nitrat bisa berubah menjadi nitrit akibat aktivitas bakteri.

    Selain muncul secara alami, nitrit juga sengaja ditambahkan dalam industri pangan sebagai bahan pengawet, terutama pada produk seperti sosis, kornet, ham, dan daging asap. Tujuannya adalah untuk mencegah pertumbuhan bakteri berbahaya dan menjaga warna serta rasa daging tetap menarik.

    Namun, jika kadarnya berlebihan, nitrit bisa berbalik jadi racun. Dalam tubuh, nitrit mampu mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin, yaitu bentuk hemoglobin yang tidak bisa mengikat oksigen dengan baik. Kondisi ini disebut methemoglobinemia dan bisa membuat tubuh kekurangan oksigen.

    Dalam jangka panjang, nitrit juga bisa membentuk nitrosamin yaitu senyawa yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker, terutama jika makanan yang mengandung nitrit dipanaskan berulang kali atau dibakar pada suhu tinggi.

    Sumber Nitrit dan Makanan yang Mudah Tercemar

    Senyawa nitrit memang bisa terbentuk secara alami di beberapa jenis makanan, terutama dari bahan yang mengandung nitrat tinggi. Tapi, ada juga pangan yang rawan mengalami cemaran nitrit tambahan akibat proses pengolahan, penyimpanan, atau kontaminasi mikroba.

    Menurut beberapa penelitian, nitrit bisa berasal dari banyak sumber, baik alami maupun akibat kontaminasi. Ini beberapa di antaranya:

    1. Daging olahan dan produk pengawet

    Penelitian dari Jurnal Food Additives & contaminants, tahun 2020 menunjukkan bahwa nitrit digunakan sebagai bahan tambahan untuk mencegah bakteri dan menjaga warna daging tetap merah muda. Karena itu, sosis, bacon, atau kornet bisa mengandung nitrit dalam batas tertentu.

    2. Sayuran berdaun hijau seperti bayam, selada, dan sawi

    Sayuran ini kaya nitrat secara alami. Dalam kondisi penyimpanan yang lembab atau tidak higienis, bakteri di permukaan daun bisa mengubah nitrat menjadi nitrit. Menurut penelitian, kadar nitrit meningkat signifikan bila sayur disimpan lebih dari 48 jam pada suhu ruang.

    3. Buah-buahan seperti melon dan semangka

    Meski jarang disangka, buah berair juga bisa jadi media tumbuh bakteri pengubah nitrat menjadi nitrit, terutama bila sudah dikupas, dipotong, lalu dibiarkan terbuka terlalu lama. Hal inilah yang juga ditemukan pada kasus Bandung Barat, di mana sisa buah melon mengandung nitrit tinggi.

    4. Air yang terkontaminasi

    Menurut Journal Water and Health tahun 2023, Air tanah atau sumur di area pertanian kadang mengandung nitrat tinggi dari pupuk. Bila air ini digunakan mencuci atau memasak makanan tanpa pengolahan memadai, nitrit bisa ikut masuk ke dalam tubuh.

    5. Penyimpanan dan kontaminasi silang

    Kondisi dapur yang lembab, suhu ruang tinggi, serta alat masak yang tidak bersih bisa mempercepat konversi nitrat menjadi nitrit.

    Gejala Keracunan Nitrit, Tidak Selalu Diare

    Gejala yang muncul akibat keracunan nitrit bisa berbeda dari keracunan makanan biasa. Dalam kasus Bandung Barat, sebagian besar siswa justru mengalami mual, muntah, dan nyeri lambung dibandingkan diare.

    “Sekitar 36 persen korban mengalami gangguan di saluran cerna bagian atas, sementara diare hanya 3 persen,” jelas Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Dra Karimah Muhammad Apt.

    Selain itu, gejala pusing dan kepala terasa ringan juga banyak dilaporkan. Hal ini disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah akibat paparan nitrit. Sekitar 29 persen korban mengalami gejala ini.

    Dalam beberapa kasus, lemas dan sesak napas juga bisa muncul karena kadar oksigen di darah menurun. Ini terjadi saat nitrit mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin. Gejala beratnya bisa berupa kulit kebiruan, jari-jari terasa kram, bahkan penurunan kesadaran.

    Penanganan Keracunan Nitrit: Fokus pada Oksigen dan Cairan Tubuh

    Meski terdengar menakutkan, sebagian besar kasus keracunan nitrit bisa ditangani dengan baik jika segera mendapat pertolongan medis.

    Menurut laporan BGN, 93 persen korban di Bandung Barat langsung diperbolehkan pulang setelah mendapat observasi dan obat oral, seperti paracetamol, ondansetron, atau omeprazol. Hanya 7 persen yang perlu rawat inap untuk infus cairan dan observasi lanjutan.

    Penanganan medis umumnya meliputi:

    • Pemberian oksigen bagi pasien yang tampak sesak atau kadar oksigennya turun.
    • Terapi cairan intravena (seperti Ringer Laktat atau Dextrose) untuk menjaga keseimbangan tubuh.
    • Methylene blue dapat diberikan pada kasus berat yang disertai methemoglobinemia, di bawah pengawasan dokter.
    • Jika gejala ringan, seperti mual atau nyeri lambung, cukup diberikan terapi suportif dan observasi ketat.

    Bisa Ditangani, Asal Pengolahan Pangan Tepat

    Kasus ini jadi pengingat penting bahwa sumber keracunan makanan tak selalu berasal dari bakteri. Senyawa kimia seperti nitrit pun dapat menjadi penyebab serius.

    Agar hal serupa tidak terulang, berikut langkah pencegahan yang disarankan menurut beberapa penelitian:

    • Pastikan bahan makanan disimpan dalam suhu dingin dan tidak terlalu lama sebelum diolah.
    • Gunakan air bersih yang sudah melalui proses filtrasi atau perebusan.
    • Hindari penggunaan bahan pengawet nitrit berlebihan pada produk olahan.
    • Perhatikan kebersihan alat masak dan hindari kontaminasi silang.
    • Terapkan sistem keamanan pangan seperti HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) di dapur sekolah, katering, atau penyedia makanan massal.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • 4 Makanan-Minuman Ini Dipercaya Bisa Atasi Keracunan, Faktanya Belum Ada Bukti Ilmiah


    Jakarta

    Kasus keracunan makanan kembali menjadi sorotan di Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang tahun 2025 sempat diwarnai sejumlah kasus keracunan di berbagai daerah. Menurut laporan Badan Gizi Nasional (BGN), hingga September 2025 sudah tercatat lebih dari 4.700 penerima manfaat mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut faktor penyebab utamanya antara lain kualitas bahan mentah yang kurang baik, penyimpanan makanan di suhu yang tidak aman, serta proses pengolahan yang tidak sesuai standar.

    Kejadian ini memicu keresahan publik. Tak sedikit yang kemudian mencari cara cepat untuk mengatasi keracunan makanan, misalnya dengan minum air kelapa, makan kacang hijau, minum susu, hingga ramuan jahe madu. Informasi semacam ini cepat menyebar dan banyak dipercaya, seolah bisa menjadi solusi darurat di rumah.

    Namun, apakah benar makanan dan minuman tersebut mampu mencegah atau mengatasi keracunan makanan? Berikut ini ulasannya.


    1. Air Kelapa

    Air kelapa merupakan minuman yang paling sering didengar dapat mengatasi keracunan makanan. Faktanya, air kelapa tidak mampu mengatasi atau menyembuhkan keracunan makanan secara langsung.

    Air kelapa dikenal sebagai minuman alami yang menyegarkan dan membantu mengembalikan cairan tubuh. Kandungan elektrolit seperti kalium dan natrium bermanfaat menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat muntah atau diare.

    Memang ada studi yang menemukan air kelapa memiliki sifat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare yaitu Shigella sp., tetapi belum ada penelitian lanjut apakah efektif membunuh bakteri yang sudah berlimpah di saluran pencernaan atau mengatasi toksin yang dikeluarkan oleh bakteri.

    Klaim bahwa air kelapa bisa menetralisir racun secara langsung belum terbukti dalam penelitian klinis. Jadi, air kelapa lebih tepat dipandang sebagai minuman pendukung hidrasi, bukan untuk mengatasi keracunan makanan.

    2. Jahe + Madu

    Ramuan jahe madu kerap digunakan secara tradisional untuk “mengobati keracunan. Faktanya, jahe memang terbukti efektif mengurangi mual dan muntah. Sebuah meta-analisis pada International Journal of Food Science and Nutrition tahun 2024 menyimpulkan konsumsi jahe dapat meredakan mual dan muntah. Sedangkan, madu mengandung antioksidan alami dan dapat memberikan energi yang cepat, karena biasanya orang yang keracunan makanan mengalami lemas.

    Meski bermanfaat, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan jahe dan madu bisa mengikat atau menetralisir racun dalam tubuh. Ramuan ini lebih tepat digunakan sebagai pereda gejala, misalnya mengurangi rasa mual saat keracunan, tetapi tidak bisa dianggap sebagai penangkal keracunan makanan.

    3. Susu

    Ada anggapan bahwa susu dapat membantu mengatasi keracunan makanan. Sayangnya, hal ini justru berbahaya dalam beberapa kasus. Pemberian susu pada keracunan makanan tertentu malah bisa memperburuk kondisi, misalnya mempercepat penyerapan zat toksin dari bakteri atau malah mempercepat pertumbuhan bakteri.

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laktosa yang terkandung di dalam susu dapat digunakan oleh bakteri sebagai sumber energi. Jadi, kalau sudah keracunan makanan, ada indikasi kuat disebabkan oleh bakteri. Jika diatasi dengan minum susu, malah akan memungkinkan bakteri jahat berkembang lebih banyak di dalam saluran pencernaan.

    4. Kacang Hijau

    Kacang hijau kaya protein nabati, vitamin, mineral, dan antioksidan. Beberapa orang percaya bubur kacang hijau dapat menetralkan racun dalam tubuh. Faktanya, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyebutkan kacang hijau bisa mengikat racun dari makanan.

    Kandungan serat dan antioksidannya memang mendukung kesehatan pencernaan dan sistem imun, tetapi tidak berfungsi sebagai penawar keracunan yang disebabkan oleh makanan atau minuman yang terkontaminasi.

    Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?

    Dari berbagai pilihan makanan dan minuman yang beredar, belum ada satupun yang terbukti secara ilmiah mampu menangkal atau menyembuhkan keracunan makanan. Klaim tersebut sebagian besar adalah mitos.

    Yang dapat dilakukan ketika terjadi keracunan adalah:

    • Menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi (misalnya dengan air putih atau oralit).
    • Menghindari makanan dan minuman yang justru bisa memperparah kondisi.
    • Segera mencari pertolongan medis bila gejala berat muncul, seperti muntah hebat, diare terus-menerus, atau demam tinggi.

    Kasus keracunan massal, termasuk dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), menunjukkan bahwa keamanan pangan adalah isu krusial yang harus mendapat perhatian serius. Dengan memahami fakta ini, kita dapat lebih bijak dalam memilah informasi. Alih-alih bergantung pada makanan atau minuman yang dapat menyembuhkan keracunan makanan yang belum terbukti, langkah yang lebih bijak adalah segera mencari pertolongan medis jika gejala keracunan muncul.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Keracunan MBG Jadi Sorotan, 5 Bakteri Ini Bisa Jadi Pemicu


    Jakarta

    Kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) belakangan ini ramai jadi sorotan. Program yang dimaksudkan untuk memperbaiki status gizi anak sekolah justru berbalik menimbulkan masalah kesehatan. Ribuan siswa di beberapa daerah mengalami gejala mual, muntah, hingga diare setelah menyantap makanan yang seharusnya menyehatkan.

    Angkanya pun tidak sedikit. Data terbaru dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan, hanya dalam dua pekan terakhir, sebanyak 3.289 anak mengalami keracunan makanan. Sejak program MBG berjalan sampai saat ini, sudah 8.649 anak yang dilaporkan mengalami keracunan makanan.

    Fenomena ini jadi pengingat penting bahwa makanan bergizi tidak cukup hanya kaya nutrisi. Jika tidak higienis dan aman dari bakteri, ia bisa berubah menjadi sumber penyakit. Lalu, bakteri apa saja yang paling sering jadi biang kerok keracunan makanan?


    1. Bacillus cereus

    Nama bakteri ini sering dikaitkan dengan istilah “fried rice syndrome“. Sesuai namanya, kasus banyak ditemukan pada nasi goreng, mi, atau makanan kotak yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Kasus terbaru yang disebabkan oleh bakteri ini terjadi di Kabupaten Bandung Barat sebanyak 1.333 orang lebih.

    Sebuah buku yang terbit tahun 2023 pada National Library of Medicine mengungkapkan bahwa B. cereus menghasilkan dua tipe racun, yang pertama memicu muntah cepat dan yang kedua menimbulkan diare. Gejala muntah bisa muncul hanya 30 menit setelah makan, sementara gejala diare biasanya baru terasa 6-15 jam kemudian. Meski jarang berakibat fatal, keracunan ini sering membuat pasien lemas seharian.

    2. Salmonella

    Bakteri ini mungkin yang paling sering terdengar. Bakteri ini sering ditemukan pada telur, ayam, daging, serta produk susu. Kontaminasi Salmonella bisa terjadi sejak di peternakan, proses pengolahan, hingga penyajian.

    Menurut World Health Organization (WHO), gejala biasanya timbul 6-72 jam setelah konsumsi. Pasien mengalami diare, demam, kram perut, mual, dan muntah. Pada kebanyakan orang, gejala berlangsung 2-7 hari, tetapi bisa lebih berat pada anak kecil atau lansia.

    3. Staphylococcus aureus

    Bakteri ini hidup alami pada kulit dan saluran pernapasan manusia. Saat orang yang sedang menyiapkan makanan tidak mencuci tangan atau memiliki luka terbuka, S. aureus bisa masuk ke makanan. Bahayanya, bakteri ini menghasilkan enterotoksin yang tahan panas. Sekalipun makanan sudah dimasak, racunnya tetap bisa memicu keracunan.

    Gejala biasanya muncul sangat cepat, mulai dari 30 menit hingga 8 jam setelah konsumsi. Pasien mengalami mual, muntah hebat, kram perut, dan diare. Walau umumnya berlangsung singkat, keracunan ini bisa berbahaya pada anak-anak maupun lansia.

    4. Eschericia coli

    Tidak semua E. coli berbahaya, tapi ada strain ganas seperti Shiga toxin-producing E. coli (STEC). Strain ini dapat merusak lapisan usus dan menimbulkan komplikasi serius.

    Data dari WHO menemukan bahwa gejala khasnya adalah diare berdarah, kram perut hebat, muntah, dan demam ringan. Masa inkubasi lebih lama dibanding bakteri lain, yakni 2-5 hari setelah makan makanan terkontaminasi. Pada kasus berat, terutama anak-anak, infeksi dapat berujung pada sindrom gagal ginjal atau hemolytic uremic syndrome (HUS).

    Daging sapi giling setengah matang, susu mentah, sayuran segar yang tercemar kotoran hewan, hingga air minum yang tidak layak sering jadi media penularannya.

    5. Clostridium perfringens

    Pernah dengar istilah “food service germ“? Julukan ini melekat pada C. perfringens karena sering muncul di makanan yang disajikan massal. Bakteri ini mudah berkembang biak pada daging, ayam, atau saus yang dimasak banyak lalu dibiarkan di suhu ruang terlalu lama.

    Pada penelitian dalam jurnal Animals tahun 2020, spora C. perfringens tahan panas, jadi tidak mati saat dimasak. Begitu kondisi memungkinkan, spora kembali aktif dan melepaskan racun di usus. Akibatnya, diare dan kram perut muncul 6-24 jam setelah makan. Walau biasanya sembuh dalam 1-2 hari, pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, gejalanya bisa lebih parah.

    Kesimpulan

    Maraknya kasus keracunan MBG menunjukkan bahwa keamanan pangan tidak bisa dipandang sebelah mata. Lima bakteri utama yang sering menjadi penyebab – Bacillus cereus, Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, Clostridium perfringens – punya potensi besar menimbulkan masalah, terutama saat makanan disiapkan massal tanpa standar ketat.

    Program Makan Bergizi Gratis memang bermanfaat. Tapi tanpa pengawasan yang baik, ia justru bisa berbalik menjadi ancaman kesehatan bagi anak sekolah. Nutrisi penting, tapi keamanan pangan adalah pondasi yang tak kalah krusial.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kenapa Makanan Basi Keluar Lendir? Kenali Juga Tanda Bahaya Lainnya


    Jakarta

    Hingga September 2025, tercatat 6.517 kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama DPR-RI Komisi IX mengusulkan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) untuk membantu mengawasi keamanan dalam program Makanan Bergizi (MBG).

    Selain itu, Menkes juga usulkan mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah mengenai keamanan pangan dan gizi. Menurutnya, usulan ini adalah upaya agar anak sekolah memahami makanan yang disajikan dalam program MBG masih layak dikonsumsi atau tidak.

    Meski biasanya makanan yang sudah dimasak aman dikonsumsi, makanan yang disimpan terlalu lama atau tidak sesuai standar penyimpanan makanan akan memberi kesempatan terjadinya kontaminasi bakteri atau rentan basi. Karena itu, menurut Menkes penting untuk tahu ciri-ciri makanan yang sudah tidak layak konsumsi.


    Beberapa ciri makanan tidak layak konsumsi yang bisa dikenali antara lain sebagai berikut.

    Bau dan Rasa Berubah

    Indra penciuman dan perasa menjadi cara paling cepat untuk mendeteksi keamanan makanan yang akan dikonsumsi. Nasi basi akan beraroma asam yang menusuk, sayur bening yang rusak akan berbau masam, sementara lauk bersantan cenderung langu atau tengik.

    Perubahan ini terjadi karena pertumbuhan bakteri pembusuk. Misalnya, Bacillus cereus yang sering muncul pada nasi menghasilkan asam organik saat memecah pati, sehingga muncul aroma kecut. Begitu pula pada sayur berkuah, bakteri fermentatif memecah kandungan karbohidrat sayuran menjadi asam, membuat rasanya berubah. Minyak dalam santan yang teroksidasi juga menghasilkan bau tengik.

    Menurut penelitian yang terbit di Jurnal Foods (2025), senyawa volatil hasil metabolisme mikroba inilah yang memunculkan bau dan rasa tak sedap, meski secara kasat mata makanan kadang masih terlihat normal.

    Tekstur Tidak Normal

    Perubahan tekstur pada makanan juga dapat mengindikasikan makanan tidak layak. Nasi yang pulen bisa berubah menjadi kering, menggumpal, bahkan berlendir jika sudah basi. Pada sayur berkuah, kuah yang semula jernih bisa menjadi kental atau berbusa. Lauk bersantan biasanya mengalami pecah santan, yaitu minyak terpisah dan terlihat mengambang di permukaan.

    Penyebabnya bisa datang dari tiga faktor yaitu aktivitas mikroba, enzim alami makanan yang masih aktif meski sudah dimasak, serta suhu penyimpanan yang tidak tepat. Kombinasi faktor ini mempercepat kerusakan makanan matang, bahkan sebelum ada tanda lain seperti bau menyengat.

    Warna Berubah

    Warna juga bisa menjadi indikator. Sayur bening yang biasanya jernih bisa berubah keruh, sop ayam yang cerah bisa menjadi keabu-abuan, dan lauk bersantan bisa tampak cokelat kusam.

    Menurut penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Food Science & Technology tahun 2024, perubahan warna ini umumnya dipicu oleh oksidasi lemak, pemecahan pigmen alami bahan makanan, serta pertumbuhan mikroba. Pada santan misalnya, oksidasi membuat warnanya berubah gelap, sementara aktivitas bakteri pada sayur bisa membuat kuahnya menjadi keruh.

    Tidak Selalu Gampang Dikenali

    Namun perlu diingat, tidak semua makanan matang yang terkontaminasi akan menunjukkan tanda-tanda perubahan. Ada kalanya makanan tetap tampak normal, tapi sebenarnya berbahaya.

    Contohnya, nasi goreng atau mie goreng yang disimpan di suhu ruang bisa terkontaminasi Staphylococcus aureus, meski bau dan rasanya masih sama. Lauk berkuah juga bisa mengandung Salmonella atau E. coli tanpa perubahan fisik yang jelas.

    Selain bakteri, ada pula risiko dari histamin. Pada lauk berbahan ikan laut seperti tongkol atau cakalang, bakteri tertentu bisa memecah histidin menjadi histamin. Masalahnya, histamin bisa bertahan meski ikan sudah dimasak. Akibatnya, makanan tampak normal namun bisa memicu gejala keracunan seperti wajah memerah, sakit kepala, mual, hingga diare. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety (2020) menyebut fenomena ini sebagai scombroid poisoning, yang kerap luput terdeteksi.

    Dampak Mengonsumsi Makanan Tidak Layak

    Mengonsumsi makanan matang yang sebenarnya sudah tidak layak bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Gejalanya bisa muncul cepat, beberapa jam setelah makan, atau tertunda hingga sehari kemudian, tergantung jenis mikroba maupun toksin yang terbentuk.

    1. Gangguan saluran cerna

    Gejala paling umum adalah mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Bacillus cereus pada nasi basi, misalnya, dikenal memicu muntah dan diare akibat toksin yang tahan panas.

    2. Keracunan bakteri berbahaya

    Jika makanan terkontaminasi Salmonella atau E. coli, gejalanya bisa lebih berat, seperti demam, kram perut, diare berdarah, bahkan dehidrasi parah. Kondisi ini butuh penanganan medis cepat, terutama pada anak-anak.

    3. Reaksi mirip alergi

    Pada ikan yang menghasilkan histamin, gejala muncul menyerupai alergi: wajah dan tubuh memerah, sakit kepala, jantung berdebar, hingga rasa panas di kulit. Kondisi ini dikenal sebagai scombroid poisoning, yang sering tidak disadari karena makanan terlihat normal.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kenapa Makanan Basi Keluar Lendir? Kenali Juga Tanda Bahaya Lainnya


    Jakarta

    Hingga September 2025, tercatat 6.517 kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama DPR-RI Komisi IX mengusulkan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) untuk membantu mengawasi keamanan dalam program Makanan Bergizi (MBG).

    Selain itu, Menkes juga usulkan mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah mengenai keamanan pangan dan gizi. Menurutnya, usulan ini adalah upaya agar anak sekolah memahami makanan yang disajikan dalam program MBG masih layak dikonsumsi atau tidak.

    Meski biasanya makanan yang sudah dimasak aman dikonsumsi, makanan yang disimpan terlalu lama atau tidak sesuai standar penyimpanan makanan akan memberi kesempatan terjadinya kontaminasi bakteri atau rentan basi. Karena itu, menurut Menkes penting untuk tahu ciri-ciri makanan yang sudah tidak layak konsumsi.


    Beberapa ciri makanan tidak layak konsumsi yang bisa dikenali antara lain sebagai berikut.

    Bau dan Rasa Berubah

    Indra penciuman dan perasa menjadi cara paling cepat untuk mendeteksi keamanan makanan yang akan dikonsumsi. Nasi basi akan beraroma asam yang menusuk, sayur bening yang rusak akan berbau masam, sementara lauk bersantan cenderung langu atau tengik.

    Perubahan ini terjadi karena pertumbuhan bakteri pembusuk. Misalnya, Bacillus cereus yang sering muncul pada nasi menghasilkan asam organik saat memecah pati, sehingga muncul aroma kecut. Begitu pula pada sayur berkuah, bakteri fermentatif memecah kandungan karbohidrat sayuran menjadi asam, membuat rasanya berubah. Minyak dalam santan yang teroksidasi juga menghasilkan bau tengik.

    Menurut penelitian yang terbit di Jurnal Foods (2025), senyawa volatil hasil metabolisme mikroba inilah yang memunculkan bau dan rasa tak sedap, meski secara kasat mata makanan kadang masih terlihat normal.

    Tekstur Tidak Normal

    Perubahan tekstur pada makanan juga dapat mengindikasikan makanan tidak layak. Nasi yang pulen bisa berubah menjadi kering, menggumpal, bahkan berlendir jika sudah basi. Pada sayur berkuah, kuah yang semula jernih bisa menjadi kental atau berbusa. Lauk bersantan biasanya mengalami pecah santan, yaitu minyak terpisah dan terlihat mengambang di permukaan.

    Penyebabnya bisa datang dari tiga faktor yaitu aktivitas mikroba, enzim alami makanan yang masih aktif meski sudah dimasak, serta suhu penyimpanan yang tidak tepat. Kombinasi faktor ini mempercepat kerusakan makanan matang, bahkan sebelum ada tanda lain seperti bau menyengat.

    Warna Berubah

    Warna juga bisa menjadi indikator. Sayur bening yang biasanya jernih bisa berubah keruh, sop ayam yang cerah bisa menjadi keabu-abuan, dan lauk bersantan bisa tampak cokelat kusam.

    Menurut penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Food Science & Technology tahun 2024, perubahan warna ini umumnya dipicu oleh oksidasi lemak, pemecahan pigmen alami bahan makanan, serta pertumbuhan mikroba. Pada santan misalnya, oksidasi membuat warnanya berubah gelap, sementara aktivitas bakteri pada sayur bisa membuat kuahnya menjadi keruh.

    Tidak Selalu Gampang Dikenali

    Namun perlu diingat, tidak semua makanan matang yang terkontaminasi akan menunjukkan tanda-tanda perubahan. Ada kalanya makanan tetap tampak normal, tapi sebenarnya berbahaya.

    Contohnya, nasi goreng atau mie goreng yang disimpan di suhu ruang bisa terkontaminasi Staphylococcus aureus, meski bau dan rasanya masih sama. Lauk berkuah juga bisa mengandung Salmonella atau E. coli tanpa perubahan fisik yang jelas.

    Selain bakteri, ada pula risiko dari histamin. Pada lauk berbahan ikan laut seperti tongkol atau cakalang, bakteri tertentu bisa memecah histidin menjadi histamin. Masalahnya, histamin bisa bertahan meski ikan sudah dimasak. Akibatnya, makanan tampak normal namun bisa memicu gejala keracunan seperti wajah memerah, sakit kepala, mual, hingga diare. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety (2020) menyebut fenomena ini sebagai scombroid poisoning, yang kerap luput terdeteksi.

    Dampak Mengonsumsi Makanan Tidak Layak

    Mengonsumsi makanan matang yang sebenarnya sudah tidak layak bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Gejalanya bisa muncul cepat, beberapa jam setelah makan, atau tertunda hingga sehari kemudian, tergantung jenis mikroba maupun toksin yang terbentuk.

    1. Gangguan saluran cerna

    Gejala paling umum adalah mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Bacillus cereus pada nasi basi, misalnya, dikenal memicu muntah dan diare akibat toksin yang tahan panas.

    2. Keracunan bakteri berbahaya

    Jika makanan terkontaminasi Salmonella atau E. coli, gejalanya bisa lebih berat, seperti demam, kram perut, diare berdarah, bahkan dehidrasi parah. Kondisi ini butuh penanganan medis cepat, terutama pada anak-anak.

    3. Reaksi mirip alergi

    Pada ikan yang menghasilkan histamin, gejala muncul menyerupai alergi: wajah dan tubuh memerah, sakit kepala, jantung berdebar, hingga rasa panas di kulit. Kondisi ini dikenal sebagai scombroid poisoning, yang sering tidak disadari karena makanan terlihat normal.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com